Anda di halaman 1dari 2

Maulidya Nur A P

160342606259/Offering IL

Ayat Qauliyah, Ayat Kauniyah dan Hubungannya dengan Kontroversi di bidang Evolusi

Banyak orang mengenal teori evolusi sebatas kontroversi evolusi manusia dari kera yang banyak
ditentang kaum agamawan. Evolusi sebenarnya adalah suatu proses alami dalam waktu sangat
panjang yang dipengaruhi banyak faktor lingkungannya. Berdasarkan bukti-bukti ilmiah, evolusi di
alam benar adanya. Tidak terbatas pada evolusi hewan, tetapi juga pada seluruh alam. Ayat-ayat Al-
Qur'an yang menyatakan bahwa alam semesta dan isinya diciptakan dalam enam masa menunjukkan
adanya proses kejadian yang tidak sekaligus jadi.

Ayat-ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam Al-Qur’an.
Ayat-ayat ini menyentuh berbagai aspek, termasuk tentang cara mengenal Allah. Sedangkan ayat
kauniah adalah ayat atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah. Ayat-ayat ini
adalah dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan sebagainya yang ada di dalam alam ini. Oleh
karena alam ini hanya mampu dilaksanakan oleh Allah dengan segala sistem dan peraturanNya
yang unik, maka ia menjadi tanda kehebatan dan keagungan Penciptanya.

Alam diciptakan Allah dalam enam masa (Q.S. 41:9-12), dua masa untuk menciptakan langit sejak
berbentuk dukhan (campuran debu dan gas), dua masa untuk menciptakan bumi, dan dua masa (empat
masa sejak penciptaan bumi) untuk memberkahi bumi dan menentukan makanan bagi penghuninya.
Ukuran lamanya masa ("hari", ayyam) tidak dirinci di dalam Al-Qur'an. Belum ada penafsiran pasti
tentang enam masa itu. Namun, bedasarkan kronologi evolusi alam semesta dengan dipandu isyarat
di dalam Al-Qur-an (Q.S. 41:9-12 dan Q.S. 79:27-32) saya menafsirkan enam masa itu adalah enam
tahapan proses sejak penciptaan alam sampai hadirnya manusia. Lamanya tiap masa tidak merupakan
fokus perhatian.

Tersedianya air, oksigen, tumbuhan, dan kelak hewan-hewan pada masa ke lima dan ke enam itulah
yang agaknya dimaksudkan Allah memberkahi bumi dan menyediakan makanan bagi penghuninya
(Q.S. 41:10). Di dalam Q.S. 79:31-33 hal ini diungkapkan sebagai penutup kronologis enam masa
penciptaan, "Ia memancarkan dari padanya mata airnya, dan (menumbuhkan)
tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk
kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu".

Penempatan manusia pada silsilah evolusi seperti itulah yang memicu penolakan pada teori
evolusi. Dengan menggunakan dalil naqli dari ayat-ayat Al-Quran, sebenarnya masalah ini mudah
diselesaikan tanpa penolakan secara apriori teori yang mencoba menelusur evolusi kehidupan. Dalam
keyakinan Islam, manusia diciptakan secara khusus untuk menjadi khalifah di bumi (Q.S. 2:29).
Proses penciptaan Adam yang berbeda dengan makhluk lainnya disebutkan di dalam Q.S. 3:59
(penciptaannya serupa Nabi Isa dengan 'kun fayakun' - 'jadilah, maka jadilah') dan Q.S. 32:7-8 (Adam
dari tanah, keturunannya dari nuthfah). Kedua ayat itu menunjukkan bahwa Adam tidak diciptakan
dari proses biologis perkawinan makhluk lainnya.