0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
756 tayangan139 halaman

RKS Baru PDF

Dokumen ini menjelaskan lingkup pekerjaan renovasi dan perluasan gedung kantor Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. Pekerjaan ini meliputi persiapan, bongkaran, pondasi, struktur, dinding, lantai, plafon, pengecatan, instalasi elektrikal dan mekanikal, serta sarana luar gedung. Kontraktor harus mematuhi peraturan teknis pembangunan dan menyerahkan laporan harian, rencana kerja,

Diunggah oleh

faisal
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
756 tayangan139 halaman

RKS Baru PDF

Dokumen ini menjelaskan lingkup pekerjaan renovasi dan perluasan gedung kantor Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. Pekerjaan ini meliputi persiapan, bongkaran, pondasi, struktur, dinding, lantai, plafon, pengecatan, instalasi elektrikal dan mekanikal, serta sarana luar gedung. Kontraktor harus mematuhi peraturan teknis pembangunan dan menyerahkan laporan harian, rencana kerja,

Diunggah oleh

faisal
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENJELASAN

PERSYARATAN TEKNIS DAN BAHAN

Pasal 1
LINGKUP PEKERJAAN

1.1 Nama Pekerjaan


Nama Pekerjaan yang dilaksanakan adalah Pekerjaan Renovasi Dan Perluasan Gedung Kantor Direktorat
Perlindungan Tanaman Pangan.

1.2 Lokasi Pekerjaan


Jl. AUP Pasar Minggu Kotak Pos 7236/ Jks PSM Jakarta Selatan

1.3 Lingkup Pekerjaan

- Pekerjaan Persiapan
- Pekerjaan Bongkaran
- Pekerjaan Galian, Urugan Tanah dan Pondasi Batu Kali
- Pekerjaan Struktur Beton dan Baja
- Pekerjaan Beton Praktis dan Balok Lintle
- Pekerjaan Dinding dan Plesteran
- Pekerjaan Kusen Allumunium dan Railling
- Pekerjaan Lantai
- Pekerjaan Plafond
- Pekerjaan Pengecatan dan Laburan
- Pekerjaan Elektrikal
- Pekerjaan Elektronika
- Pekerjaan Mekanikal - Plumbing
- Pekerjaan Renovasi Gedung BPMPT
- Pekerjaan Sarana Luar Gedung

dan Lain-lain sesuai gambar kerja

Pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh pemborong termasuk pula pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan,
peralatan, pengurusan berikut pembiayaan izin mendirikan bangunan (IMB), biaya umum (overhead)
pelaksana konstruksi, asuransi BPJS ketenagakerjaan, inflasi, pajak sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan dan segala keperluan yang berhubungan dengan pekerjaan pembangunan yang
dilaksanakan.

1.4 Acuan Pelaksanaan Pekerjaan

a. Syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang tercantum di dalam RENCANA KERJA DAN


SYARAT-SYARAT dan Bill Of Quantity pekerjaan ini ;

b. Gambar-gambar yang dilampirkan pada RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT


pekerjaan ini ;

c. Keterangan-keterangan dan gambar-gambar yang diberikan oleh Konsultan kepada pelaksana pada
waktu Rapat Penjelasan Pekerjaan/Rapat Aanwijzing Pekerjaan /Risalah Aanwijzing.
Pasal 2
PERATURAN TEKNIS PEMBANGUNAN YANG DIGUNAKAN

1. Dalam melaksanakan Pekerjaan, kecuali bila ditentukan lain dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat ini
berlaku dan mengikat ketentuan-ketentua dibawah ini termasuk segala perubahan dan tambahannya :
- Perpres No. 16 Tahun 2018 serta perubahannya dan lampiran-lampirannya.
- Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 22 Tahun 2018 tentang
Pembangunan Bangunan Gedung Negara.
- Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 28 / PRT / M / 2016 tentang
Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum.
- Keputusan-keputusan dari Majelis Indonesia untuk Arbitrasi Teknik dari Dewan Teknik Pembangunan
Indonesia.
- Peraturan Umum dari Dinas Keselamatan Kerja Departemen Tenaga Kerja.
- Peraturan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung SNI 03-2847 tahun 2002.
- Peraturan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung SNI 1726 tahun 2012
- Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia PPBI 1984.
- Peraturan Muatan Indonesia PMI.
- Peraturan Umum Bahan Bangunan Indonesia NI-3 PUBI 1970.
- Peraturan Umum Listrik Indonesia PUIL 1979 dan Peraturan PLN setempat.
- SK SNI No. T-15-1991-03.
- Peraturan Umum Instalasi Penangkal Petir Indonesia PUIPP.
- Pedoman Plumbing Indonesia PPI 1979.
- Persyaratan Cat Indonesia NI-4.
- Peraturan Semen Portland Indonesia NI-8.
- Peraturan Bata merah sebagai bahan bangunan NI-10.
- Peraturan dan ketentuan lain yang dikeluarkan oleh Jawatan/Instansi Pemerintah setempat yang
bersangkutan dengan masalah bangunan.

2. Untuk melaksanakan pekerjaan ini, berlaku dan mengikat pula :


a. Gambar Kerja yang dibuat oleh Konsultan Perencana dan disahkan oleh Pemberi Tugas termasuk pula
Gambar Detail Pelaksanaan (Shop Drawing) yang diselesaikan oleh Kontraktor dan sudah disyahkan dan
disetujui oleh Konsultan Pengawas.
b. Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) dan BoQ.
c. Gambar dan Berita Acara Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing).
d. Surat Keputusan Kuasa Pengguna Anggaran tentang Penetapan Kontraktor.
e. Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK).
f. Jadwal Pelaksanaan (Tentative Time Schedule) yang telah disetujui oleh Pengawas Lapangan dan
Pemberi Tugas.

Pasal 3
PENJELASAN RKS DAN GAMBAR

1. Kontraktor wajib meneliti semua Gambar Kerja, Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS); termasuk
tambahan dan perubahannya yang dicantumkan dalam Berita Acara Penjelasan Pekerjaan.

2. Ukuran :
a. Pada dasanya semua ukuran utama yang tertera dalam Gambar Kerja meliputi :
As - As
Luar - Luar
Dalam - Dalam
Luar - Dalam
b. Khusus ukuran dalam Gambar Kerja Arsitektur pada dasarnya ukuran yang tertulis adalah ukuran jadi
terpasang atau dalam keadaan selesai/finished.

3. Perbedaan Gambar.
a. Bila suatu Gambar tidak cocok dengan Gambar yang lain dalam satu disiplin kerja, maka Gambar yang
mempunyai skala yang lebih besar yang berlaku / mengikat.
b. Bila ada perbedaan antara Gambar Kerja Arsitektur dengan Struktur, maka yang berlaku / mengikat
adalah Gambar Kerja Arsitektur sepanjang tidak mengurangi segi Konstruksi dan kekuatan Struktur.
c. Bila ada perbedaan antara gambar Kerja Arsitektur dengan Sanitasi/Mekanikal, maka Gambar Kerja yang
dipakai adalah ukuran fungsional dalam Gambar Kerja Arsitektur.
d. Bila ada perbedaan antara Gambar Kerja Arsitektur dengan Elektrikal, maka yang dipakai sebagai
pegangan adalah ukuran fungsional dalam Gambar Arsitektur.
e. Bila ada perbedaan - perbedaan itu, ketidakjelasan, maupun kesimpangsiuran menimbulkan keragu-raguan
sehingga dalam pelaksanaan dapat menimbulkan kesalahan, maka Kontraktor diwajibkan melaporkan
kepada Pengawas Lapangan, dan mengadakan pertemuan dengan Konsultan Perencana, untuk
mendapatkan keputusan dari Konsultan Perencana Gambar mana yang akan dijadikan pegangan.
f. ketentuan diatas tidak dapat dijadikan alasan oleh Kontraktor untuk memperpanjang waktu pelaksanaan
maupun mengajukan claim biaya pekerjaan tambah.

4. Gambar Detail Pelaksanaan (Shop Drawing).


a. Gambar Detail pelaksanaan atau Shop Drawing adalah Gambar Kerja yang wajib dibuat Kontraktor
berdasarkan Gambar Kerja Dokumen yang telah disesuaikan dengan keadaan lapangan.
b. Kontraktor wajib membuat Shop Drawing untuk Detail-detail khusus yang belum tercakup lengkap dalam
Gambar Kerja Dokumen, maupun yang diminta oleh Konsultan Pengawas dan atau Konsultan Perencana.
c. Dalam Shop Drawing ini harus jelas dicantumkan dan digambarkan semua data yang diperlukan termasuk
pengajuan contoh jadi dari semua bahan, keterangan produk, cara pemasangan dan atau spesifikasi /
persyaratan khusus sesuai dengan spesifikasi pabrik yang belum tercakup secara lengkap dalam Gambar
Kerja Dokumen maupun Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS).
d. Kontraktor wajib mengajukan Shop Drawing kepada Konsultan Pengawas dan Konsultan Perencana untuk
mendapatkan persetujuan tertulis bagi pelaksanaan.

5. Gambar Hasil Pelaksanaan (As Built Drawings)


Kontraktor wajib membuat gambar-gambar yang sesuai dengan hasil pelaksanaan (As Built Drawings) yang
selesai sebelum serah terima ke 1, dan telah disetujui oleh konsultan Pengawas dan diketahui oleh konsultan
Perencana.
6. Kontraktor tidak dibenarkan mengubah atau mengganti ukuran-ukuran yang tercantum dalam Gambar Kerja
Dokumen tanpa sepengetahun Konsultan Pengawas. Segala akibat yang terjadi adalah tanggung jawab
Kontraktor, baik dari segi biaya maupun waktu pelaksanaan.

Pasal 4
JADWAL PELAKSANAAN

1. Sebelum memulai pekerjaan di lapangan, Kontraktor wajib membuat rencana kerja pelaksanaan dan bagian-
bagian pekerjaan berupa Bar Chart dan S-Curve Bahan dan Tenaga dan mengkoordinasikan hasilnya kepada
Pengawas Lapangan, sehingga pelaksanaan pekerjaan terkendali dan tidak menggangu kelancaran proyek
secara keseluruhan dan kelancaran kegiatan disekitar lokasi pekerjaan.
2. Rencana Kerja tersebut harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Pengawas Lapangan, paling
lambat dalam waktu 7 (tujuh) hari kalender setelah SPK diterima Kontraktor. Rencana Kerja yang telah
disetujui oleh Konsultan Pengawas, akan disyahkan oleh Pemberi Tugas.
3. Kontraktor wajib memberikan salinan Rencana Kerja 4 (empat) rangkap kepada Pengawas Lapangan, 1
(satu) salinan Rencana Kerja harus ditempel pada bangsal Kontraktor di lapangan yang selalu diikuti dengan
grafik kemajuan pekerjaan/prestasi kerja.

Pasal 5
LAPORAN - LAPORAN

1. Pelaksana Lapangan setiap hari akan membuat laporan harian mengenai segala hal yang berhubungan
dengan pelaksanaan pembangunan / pekerjaan, baik teknis maupun administratif.
2. Dalam pembuatan laporan tersebut pihak pemborong harus memberikan data-data yang diperlukan menurut
data dan keadaan sebenarnya.
3. Laporan tersebut harus diserahkan kepada Pemberi Tugas/Pengawas Lapangan sebagai bahan monitoring.

Pasal 6
KUASA KONTRAKTOR DILAPANGAN

1. Dilapangan pekerjaan Kontraktor wajib menunjuk seorang kuasa Kontraktor atau biasa disebut Pelaksana
yang cakap untuk memimpin pelaksanaan pekerjaan dilapangan dan mendapat kuasa penuh dari Kontraktor.
2. Dengan adanya Pelaksana, tidak berarti bahwa Kontraktor lepas tanggung jawab sebagian maupun
keseluruhan terhadap kewajibannya.
3. Kontraktor wajib memberi tahu kepada Tim Pengelola Teknis dan Konsultan Pengawas, nama dan jabatan
Pelaksana untuk mendapatkan persetujuan.
4. Bila dikemudian hari menurut Tim Pengelola Teknis dan Konsultan Pengawas, Pelaksana kurang mampu
atau tidak cukup cakap memimpin pekerjaan, maka akan diberitahu kepada Kontraktor secara tertulis untuk
mengganti Pelaksana.
5. Dalam waktu 7(tujuh) hari kalender setelah dikeluarkan Surat Pemberitahuan, Kontraktor harus sudah
menunjuk Pelaksana baru atau Kontraktor sendiri (Penanggung jawab/ Direktur Perusahaan) yang akan
memimpin pelaksanaan.

Pasal 7
TEMPAT TINGGAL (DOMISILI) KONTRAKTOR

1. Untuk menjaga kemungkinan kerja diluar jam kerja apabila terjadi hal-hal yang mendesak, Kontraktor dan
Pelaksana wajib memberitahukan secara tertulis alamat dan nomor telepon di lokasi kepada Tim pengelola
Teknis setempat dan Konsultan Pengawas.
2. Kontraktor wajib memasukan identifikasi dan alamat Bengkel kerja (Workshop) dan peralatan yang dimiliki
dimana pekerjaan pemborongan akan dilaksanakan.
3. Alamat Kontraktor dan pelaksana diharapkan tidak berubah selama pekerjaan. Bila terjadi perubahan alamat
Kontraktor, Pelaksana wajib memberitahukan secara tertulis.

Pasal 8
PENJAGA KEAMANAN LAPANGAN
1. Kontraktor diwajibkan menjaga keamanan lapangan terhadap barang-barang milik Proyek, Pengawas
Lapangan dan milik Pihak Ketiga yang ada dilapangan.
2. Bila terjadi kehilangan bahan-bahan bangunan yang telah disetujui Pengawas Lapangan/ Konsultan
Perencana, baik yang telah dipasang maupun yang belum, adalah tanggung jawab Kontraktor dan tidak akan
diperhitungkan dalam biaya pekerjaan tambah.
3. Apabila terjadi kebakaran, Kontraktor bertanggungjawab atas akibatnya, baik yang berupa barang-barang
maupun keselamatan jiwa. Untuk itu Kontraktor diwajibkan menyediakan alat-alat pemadam kebakaran yang
siap dipakai yang ditempatkan di tempat-tempat yang akan ditetapkan kemudian oleh Konsultan Pengawas.

Pasal 9
JAMINAN DAN KESELAMATAN KERJA

1. Kontraktor diwajibkan menyediakan obat-obatan menurut Syarat-syarat Pertolongan Pertama Pada


Kecelakaan (PPPK) yang selalu dalam keadaan siap digunakan di lapangan, untuk mengatasi segala
kemungkinan musibah bagi semua petugas dan pekerja dilapangan.
2. Kontraktor wajib menyediakan air minum yang cukup bersih dan memenuhi syarat-syarat kesehatan bagi
semua Petugas dan Pekerja yang ada dibawah kekuasaan Kontraktor.
3. Kontraktor wajib menyediakan air bersih, Kamar Mandi dan WC yang layak dan bersih bagi semua Petugas
dan pekerja.
4. Tidak diperkenankan membuat penginapan didalam lapangan pekerjaan untuk Pekerja, kecuali untuk Penjaga
Keamanan.
5. Segala hal yang menyangkut jaminan sosial dan keselamatan para pekerja wajib diberikan oleh Kontraktor
sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Pasal 10
ALAT-ALAT PELAKSANAAN

Semua alat-alat untuk pelaksanaan pekerjaan harus disediakan oleh Kontraktor, sebelum pekerjaan fisik dimulai,
dalam keadaan baik dan siap pakai, antara lain :
a. Beton Molen yang jumlahnya minimal 2 Buah dalam kondisi yang baik.
b. Theodolit dan Waterpass yang telah diijinkan oleh Pengawas Lapangan.
c. Perlengkapan penerangan untuk kerja lembur.
d. Pompa air sesuai kebutuhan untuk sistem pengeringan, jika diperlukan.
e. Scafolding
f. Mesin Pemadat.
g. Alat-alat besar sesuai dengan besaran (magnitude) pekerjaan tanah.
h. Alat Megger, alat ukur listrik, dan alat ukur lainnya.
i. Mesin Pemotong keramik
j. Mesin Pemotong Allumunium
k. dan lain-lain disesuaikan dengan lingkup pekerjaannya.

Pasal 11
SITUASI

11.1 Hal mana pembangunan akan diserahkan kepada pelaksana sebagaimana adanya pada waktu rapat
penjelasan, untuk itu para calon Pemborong wajib meneliti situasi medan terutama kondisi tanah
bangunan, sifat dan luasnya pekerjaan dan hal lain yang berpengaruh terhadap harga penawaran.
11.2 Kelalaian dan kekurang telitian dalam hal ini tidak dapat dijadikan alasan untuk klaim dikemudian hari.
11.3 Dalam rapat penjelasan akan ditunjukan dimana pembangunan akan dilaksanakan.

Pasal 12
PEKERJAAN PERSIAPAN TAPAK

Pekerjaan Persiapan Tapak meliputi :


12.1 Pembuatan jalan masuk sementara untuk lalu-lintas orang dan bahan.
Peletakan jalan masuk sementara, diatur sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu lalu lintas kerja.
12.2 Pembuatan saluran pembuangan sementara untuk menjaga agar areal pekerjaan selalu dalam keadaan
kering.
12.3 Pengadaan air untuk keperluan pekerja dan pekerjaan, kualitas air harus baik dan memenuhi
persyaratan kerekatan.
Pengadaan listrik kerja dan pembuatan tempat pembuangan air kotor sementara.

Pasal 13
PEKERJAAN PERSIAPAN BANGUNAN

1. Lingkup Pekerjaan.
a. Pekerjaan pagar konstruksi/pengaman.
b. Pekerjaan pembuatan bangsal kerja
c. Pekerjaan penyediaan air dan daya listrik untuk bekerja.
d. Pekerjaan penyediaan alat pemadam kebakaran.
e. Pekerjaan Drainage tapak sementara.
f. Pekerjaan jalan masuk dan jalan konstruksi sementara.
g. Pekerjaan pembongkaran, pengamanan dan pembersihan sebelum pelaksanaan.
h. Administrasi dan lain lain.

2. Pekerjaan Pagar Konstruksi/Pengaman.

a. Kontraktor harus membuat pagar konstruksi/pengaman pada batas sekeliling tapak pekerjaan untuk
kelancaran pelaksanaan pembangunan, serta untuk pengaman terhadap barang-barang milik Proyek,
Konsultan Pengawas maupun Pihak Ketiga.
b. Pagar konstruksi/pengaman dibuat dari bahan kayu atau bahan lain.

3. Pekerjaan Bangsal Kerja / Direkskeet.

a.Kontraktor harus membuat bangsal kerja dan gudang material/bahan diatas tapak pekerjaan.
Bangsal Kerja terdiri dari :
- Bangsal Konsultan Pengawas
- Bangsal Kontraktor
- Los - los kerja untuk Pekerja.

b. Bangsal/Direkskeet dengan spesifikasi :


- Lantai plesteran 1 PC : 5 pasir
- Rangka bangunan : kayu kelas II
- Dinding : panel tripleks/multipleks tebal 4 mm, dengan rangka kayu kelas II
- Atap : Asbes semen gelombang, seng gelombang, dengan rangka kayu kelas II
- Jendela : kayu kelas II, dengan jumlah secukupnya
- Pintu : kayu kelas II, jumlah secukupnya dan dapat dikunci dengan baik.
- Dilengkapi dengan sebuah kamar mandi/WC dan tempat cuci tangan dengan persediaan air yang cukup
c. Perlengkapan Bangsal Konsultan Pengawas :
- Meja tulis + kursi
- Papan tulis ukuran 90 x 180 cm (White Board)
- Komputer (PC) Ram 4GB 1 Unit
- Printer A3 1 Unit
- Alat-alat tulis (spidol,tipp ex) dan mesin tik
- Papan untuk menempelkan gambar
- Meja besar / meja rapat ukuran 100 x 200 cm
- Kursi untuk perlengkapan meja besar kapasitas minimal 8 Orang
- Peti untuk contoh bahan.
- 1 (satu) buah almari yang dapat dikunci
- 6 (enam) buah Helm Proyek untuk Team Konsultan Pengawas
- 6 (enam) buah Safetyshoes SNI Kings / Krisbow untuk Team Konsultan Pengawas
- 6(enam) buah Helm Proyek untuk Direksi / Tamu
- 6 (enam) buah Safetyshoes untuk Direksi / Tamu

d. Kontraktor harus pula membuat Bangsal Los kerja (workshop) untuk para pekerja dan gudang penyimpan
bahan/material yang dapat dikunci.

e. Lokasi tempat bangsal kerja, khususnya gudang penyimpanan bahan/material harus sedemikian rupa
sehinggga :
- Mudah dicapai oleh truk pengangkut bahan/material dari luar tapak.
- Tidak mengganggu pelaksanaan pekerjaan pembangunan
Lokasi tempat Bangsal kerja dan gudang penyimpanan bahan/material akan ditentukan oleh Konsultan
Pengawas.

4. Pekerjaan Penyediaan Air dan Daya Listrik untuk Bekerja

a. Air untuk bekerja harus disediakan oleh Kontraktor dengan membuat sumur pompa di tapak atau
didatangkan dari luar tapak dan disediakan pula tempat penampungannya.
Air harus bersih bebas dari bau, bebas dari lumpur, minyak dan bahan kimia lain yang merusak.
Penyediaan air harus sesuai dengan petunjuk dan persetujuan Konsultan Pengawas.
b. Kontraktor harus membuat tempat penampungan air yang senantiasa terisi penuh untuk sarana kerja
dengan kapasitas minimal 3,5 m3, dibuat dari pasangan bata merah setengah bata dengan spesi 1 PC : 3
pasir dan diplester, atau dari drum-drum.
c. Listrik untuk bekerja harus disediakan Kontraktor dan diperoleh dari sambungan sementara PLN setempat
selama masa pembangunan berlangsung dan pemasangan diesel untuk pembangkit tenaga listrik
hanya diperkenankan untuk penggunaaan sementara atas persetujuan Konsultan Pengawas.

5. Pekerjaan Penyediaan Alat Pemadam Kebakaran

Selama pembangunan berlangsung, Kontraktor wajib menyediakan tabung alat pemadam kebakaran (fire
Extinguiser) lengkap dengan isinya sehingga siap digunakan, minimal 1 buah kapsitas 5 kg.

6. Pekerjaan Drainase Tapak Sementara

a. Dipersyaratkan tidak boleh ada genangan air didalam tapak selama pekerjaan berlangsung. Untuk itu
Kontraktor wajib membuat saluran sementara yang berfungsi untuk pembuangan air dengan memperhatikan
dan mempertimbangkan kontur tanah yang ada di tapak.
b. Disarankan sebaiknya saluran drainase tapak sementara sesuai dengan rencana tapak dalam gambar kerja
dokumen dan petunjuk Konsultan Pengawas.

7. Pekerjaan Jalan Masuk dan Jalan Konstruksi/Sementara

a. Jalan masuk dan jalan konstruksi/sementara harus diadakan oleh Kontraktor menurut petunjuk pada
Gambar Kerja Dokumen atau petunjuk dan persetujuan Konsultan Pengawas.
b. Disarankan sebaiknya posisi, letak dan jalur masuk dan jalan konstruksi/sementara sesuai dengan rencara
jalan jalan aspal dalam Gambar Kerja Dokumen.
c. Sewa jalan masuk, mengingat lahan yang berkontur cukup besar, maka perlu ada jalan masuk lagi untuk
memudahkan mobilisasi barang, tempatnya akan ditunjukkan langsung oleh Konsultan Pengawas.

8. Pekerjaan Pembongkaran, Pembersihan dan Pengamanan sebelum Pelaksanaan

a. Pembongkaran dan Pembersihan.


Kontraktor harus membongkar/membersihkan/memindahkan keluar dari tapak segala sesuatu yang tidak
akan dipakai selama pembangunan yang mungkin akan mengganggu pelaksanaan pekerjaan baik diatas
maupun tertanam dalam tanah tapak, sesuai dengan petunjuk dan persetujuan Konsultan Pengawas.

c. Pengamanan
1). Kontraktor harus melindungi dan mengamankan dari segala kerusakan selama pelaksanaan pekerjaan
terhadap segala sesuatu yang dinyatakan oleh Konsultan Pengawas tidak boleh dibongkar, baik
berupa bangunan, bagian dari bangunan, jaringan listrik, gas, saluran air minum, drainase, maupun
pepohonan yang telah ada. Khusus untuk pepohonan yang dipertahankan, harus dilindungi selama
pelaksanaan pembangunan agar tidak mati.

2). Apabila terjadi kerusakan atas segala sesuatu yang dinyatakan dipertahankan, Kontraktor wajib
memperbaiki hingga keadaan semula.
Dalam hal ini, biaya adalah tanggungjawab Kontraktor, tidak dapat diajukan sebagai "claim" biaya
pekerjaan tambah.
3). Apabila segala sesuatu yang dinyatakan dipertahankan mengganggu pelaksanaan pekerjaan, maka
Kontraktor harus memindahkannya atas persetujuan Konsultan Pengawas.

d. Biaya untuk pekerjaan pembongkaran, pembersihan, pengamanan menjadi tanggungjawab Kontraktor,


tidak dapat diajukan sebagai "claim" biaya pekerjaan tambah.

9. Administrasi dan lain lain

01. Papan Nama Proyek.


Kontraktor diwajibkan memasang Papan Nama Proyek sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
02. Papan Reklame
Kontraktor tidak diperkenankan menempatkan papan reklame dalam bentuk apapun dalam lingkungan
halaman tapak pekerjaan atau pada pagar halaman pekerjaan.
03. Administrasi Lapangan dikerjakan tiap harinya
04. setiap Kemajuan Pekerjaan harus didokumentasikan dari mulai kondisi eksisting sampai pekerjaan
selesai 100%.

Pasal 14
PEKERJAAN GALIAN, URUGAN, dan LANTAI KERJA

1. Lingkup Pekerjaan.
Pekerjaan yang dimaksud meliputi penyediaan tenaga, bahan-bahan, peralatan, dan alat bantu lainnya yang
diperlukan untuk pekerjaan ini, yaitu dan tidak terbatas pada :
Pekerjaan Galian, Urugan Pasir, dan Lantai Kerja.

2. Persyaratan Pelaksanaan.
Sebelum pelaksanaan pekerjaan ini, Kontraktor harus mempelajari dengan seksama gambar Kerja,
Kontraktor harus sudah memperhitungkan segala kondisi dilapangan.
a. Pekerjaan Galian
- Pekerjaan galian tanah adalah pekerjaan pembuatan lubang/galian ditanah yang diperlukan untuk:
 Pondasi, meliputi: Pile Cap, Batu kali , Plat Setempat dan Sloop
 Galian lain seperti yang ditujukan dalam Gambar Kerja dan atau oleh Pengawas.
- Pekerjaan galian ini baru boleh dilaksanakan setelah papan Patok Ukur terpasang lengkap dengan
penandaan sumbu, ketinggian dan bentuk telah diperiksa disetujui oleh Pengawas.
- Galian untuk kontruksi harus sesuai dengan Gambar kerja dan bersih dari tanah urug bekas serta
sisa bahan bangunan.
- Urutan penggalian ini harus diatur sedemikian rupa dengan mengikuti petunjuk-petunjuk Pengawas
sehingga tidak menimbulkan gangguan pada lingkungan tapak atau menyebabkan timbulnya
genangan air untuk waktu lebih dari 24 jam.
- Jika pada galian terdapat akar kayu, kotoran dan bagian tanah yang tidak padat atau longgar maka
bagian ini harus dikeluarkan seluruhnya, kemudian lubang yang terjadi harus ditutup urugan pasir
yang dipadatkan dan disiram air setiap ketebalan 5 cm lapis demi lapis sampai jenuh sehingga
mencapai ketinggian yang diinginkan. Biaya pekerjaan ini menjadi tanggung jawab Kontraktor tidak
dapat diklaim sebagai pekerjaan tambah.
- Bila pada galian terdapat instalasi existing, kontraktor harus mengikuti prosedur seperti terurai dalam
pasal 1.5
- Bila Kontraktor melakukan pengalian yang melebihi kedalaman yang ditentukan dalam Gambar
Kerja, maka Kontraktor wajib untuk menutup kelebihan dengan urugan pasir yang dipadatkan dan
disiram air setiap ketebalan 5 cm lapis demi lapis jenuh sehingga mencapai ketinggian yang
diinginkan.
- Biaya pekerjaan ini ditanggung oleh Kontraktor tidak dapat diklaim sebagai pekerjaan tambah.
- Dasar galian harus dikerjakan dengan teliti, datar sesuai dengan Gambar kerja dan harus di
bersihkan dari segala macam kotoran.
- Galian Pondasi Sloof harus dilakukan dengan lebar lantai kerja Pondasi atau seperti yang tercantum
dalam Gambar Kerja, denga penampang Lereng galian kiri dan kanan dimiringkan 10 o kearah luar
pondasi, dan sumbu, ketinggian serta bentuk selesai sesuai Gambar Kerja, diperiksa seta disetujui
Pengawas.
- Kelebihan tanah galian harus dibuang keluar dan dalam Tapak Konstruksi. Area antara Papan Patok
Ukur dengan Galian harus bebas dari timbunan tanah.
- Untuk menjaga lereng-lereng lubang galian agar tidak longsor atau runtuh, maka apabila dianggap
perlu oleh Perencana, Kontraktor harus menahan kontruksi penahan / casing sementara dari bahan
seng Gelombang BJLS 50 . Atau dari papan – papan tebal 3 cm diperkuat denga kayu-kayu
dolken, minimal 8 cm sehingga kontrusi tersebut dapat manjamin kesetabilan lereng.
Apabila dan atau permukaan Air Tanah tinggi, Kontraktor harus menyediakan pompa Air
secukupnya untuk mengeringkan air yang menggenang galian. Di syaratkan bahwa seluruh
permukaan galian, terutama lantai galian, harus kering untuk pekerjaan-pekerjaan selanjutnya,
khususnya untuk pekerjaan
 Pondasi Pile Cap dan Sloop
- Biaya untuk lingkup yang terurai pada butir 1.10 s. d. 1.12 diatas ditanggung oleh kontraktor, tidak
dapat diklaim sebagai pekerjaan tambah.
-
b. Pekerjaan Pengurugan dan Pemadatan
- Pekerjaan pengurugan dan pemadatan ini untuk :
 Semua Galian sampai permukan yang ditentukan atau sebagai Gambar kerja
 Semua Tanah lantai bangunan sampai permukan yang ditentukan atau sesuai Gambar Kerja.
- Kontraktor diwajibkan melakukan tes kepadatan tanah apabila diminta oleh Owner / Pengawas
minimal 3 titik sebagai titik yang ditentukan oleh pengawas.
- Sebelum pelaksanaan pekerjaan ini, seluruh area pembangunan harus sudah bersih dari humus, akar
tanaman, benda-benda organis, sisa bongkaran dan bahan lain yang dapat mengurangi kualitas
pekerjaan ini.
- Sebelum pelaksanaan pemadatan, seluruh area pemadatan harus dikeringkan terlebih dahulu.
- Urugan harus terbebas dari segala bahan yang membusuk, sisa bongkaran dan atau yang
mempengaruhi kepadatan urugan. Tanah urug dapat diambil dari bekas galian atau tanah yang
didatangkan dari luar yang tidak mengandung bahan-bahan seperti tersebut diatas atau telah disetujui
Pengawas.
- Penghamparan tanah urugan dilakukan lapis demi lapis langsung dipadatkan dengan cara
mekanis/alat berat/alat pemadat lainnya yang disesuaikan dengan kondisi area yang dipadatkan
sampai mencapai permukaan atau peil yang diinginkan. Ketebalan perlapis setelah dipadatkan tidak
boleh melebihi 15 cm atau 20 cm. Setiap kali penghamparan harus dapat persetujuan dari Pengawas
yang menyatakan bahwa lapisan dibawahnya telah memenuhi kepadatan yang disyaratkan dan
seluruh prosedur pemadatan ini harus ditulis dalam berita acara yang disetujui Pengawas.
- Pelaksanaan pemadatan harus dilaksanakan dalam cuaca baik. Apabila hari hujan, pemadatan harus
dihentikan. Selama pekerjaan ini, kadar air harus dijaga agar tidak lebih besar dari 2% kadar air
optimum.

c. Pekerjaan Urugan Pasir


- Urugan pasir harus dilaksanakan pada bagian-bagian dasar/bawah pondasi plat setempat, Sloop dan
pasangan keramik atau lainnya sesuai yang ditunjukkan pada gambar kerja.
- Ketebalan urugan pasir ditentukan Tebal minimum 5 cm atau sesuai gambar kerja untuk pondasi plat
setempat, Sloop, dan pasangan keramik atau lainnya sesuai yang ditunjukkan pada gambar kerja.
- Ketebalan ukuran pasir tersebut, adalah ketebalan padat dengan cara ditimbris sambil disiram air.
- Pasir urug yang digunakan harus bersih dari kotoran-kotoran/humus-humus..
d. Pekerjaan Lantai Kerja
- Pekerjaan Lantai Kerja ini untuk :
Semua galian sampai permukaan yang ditentukan atau sesuai Gambar kerja.
Semua Tanah lantai bangunan sampai permukaan yang ditentukan atau sesuai Gambar kerja.
- Campuran dalam adukan yang dimaksud adalah campuran dalam volume. Cara pembuatannya
menggunakan Concrete Mixer selama 3 (tiga) menit
- Lantai kerja adalah Beton Mutu K-100, Slump 3-6 cm, w/c = 0,87 diletakan diatas permukaan
tanah dan atau diatas urugan pasir dengan ketebalan minimum 5 cm atau sesuai gambar kerja.
- Pekerjaan Lantai Kerja ini baru boleh dilaksanakan setelah papan Patok Ukur terpasang lengkap
dengan penandaan sumbu,
- Lantai kerja untuk Kontruksi harus sesuai dengan gambar kerja dan bersih dari tanah bekas serta
sisa bahan bangunan.

Pasal 15
PEKERJAAN DINDING, PLESTERAN

1. Yang termasuk lingkup pekerjaan ini, meliputi ;

a. Pasangan dinding bata ringan


b. Plesteran Dry Mix
c. Acian Plesteran dan Acian Beton
d. Pasangan dinding bata ringan tebal 10 cm
e. Pelapis Dinding Keramik
f. Alumunium Composit Panel Coating PVDF Bhn Alloy 0.3- 4 Alcobond,Seven

2. Persyaratan Bahan

a. Bata Ringan
Bata Ringan harus mempunyai rusuk-rusuk yang tajam dan siku, bidang-bidang sisinya harus datar, ukuran
seragam, pembakaran seragam dan merata, bebas dari cacat, retak cat, atau adukan pada waktu akan
dipasang. Dipakai Bata Ringan mutu yang baik, Kontraktor harus menyerahkan contoh bahan/meterial ke
Konsultan Pengawas untuk mendapatkan persetujuan tertulis bagi pemakaian. Adapun spesifikasi mengenai
Bata Ringan diantaranya :
• Ukuran : Panjang 60cm , Lebar 20cm , Tebal 7.5 cm
• Berat jenis kering : 520 kg/m3
• Berat jenis normal : 650 kg/m3
• Kuat tekan : > 4,0 N/mm2
• Konduktifitas termis : 0,14 W/mK
• Tebal spesi : 3 mm
• Ketahanan terhadap api : 4 jam

c.Semen Portland/PC, pasir, air harus memenuhi persyaratan bahan untuk pekerjaan beton yang terurai
dipasal lain dalam buku RKS ini.

d. Keramik
Keramik Tile yang digunakan Roman, Asia Tile, Mulia.
Sudut - sudutnya harus siku. Kontraktor harus memberikan contoh bahannya untuk mendapatkan
persetujuan dari Pengawas Lapangan.
d. Pekerjan pelapis dinding

1). Pelapis dinding yang akan ditempel harus sudah diseleksi dengan baik sehingga bentuk dan warna
masing-masing keramik sama tidak ada bagian yang retak, pecah-pecah, sudut atau tepi atau cacat
lainnya serta telah disetujui secara tertulis dari Konsultan Pengawas.
2). Aduk yang dipakai adalah campuran 1Pc:3Ps tebal 10-15 mm untuk daerah kedap air, dan 1Pc:5Ps
daerah kering.
3). Seluruh rongga pada bagian belakang keramik/batu alam harus berisi dengan adukan pada waktu
pemasangan
4). Awal pemasangan dan pola pemasangan harus sesuai dengan Gambar Kerja atau atau petunjuk
Pengawas Lapangan.
5). Pada prinsipnya pemotongan harus dihindarkan, kecuali ditentukan dengan pola Gambar, jika perlu
diadakan pemotongan hatus dikerjakan dengan hati- hati, rapi, lurus atau bersudut sesuai dengan
kebutuhan, kemudian bidang potong harus diperhalus dengan gerinda atau kikir.
6). Persiapan sebelum pemasangan
Semua pemipaan maupun sparing-sparing SA&EL telah telahterpasang pada jalur dan tempatnya
sesuai dengan Gambar dan telah disetujui oleh Konsultan Pengawas.
7). Setelah bidang keramik/Keramik/andesit terpasang permukaannya harus dibersihkan dengan lap/kain
basah sehingga bersih dari noda-noda semen. Bidang keramik/batu alam ini harus dijaga tetap basah
untuk menghindarkan pengeringan terlalu cepat dengan pembasahan minimal 3(tiga) hari pertama setelah
keramik terpasang.
8). Bila ditemui retak, kerusakan bergelombang, garis-garis tepi dan siar tidak rata dan lurus, maka
Kontraktor harus membongkar dan memperbaiki hingga sesuai dengan yang disyaratkan. Biaya untuk
hal ini adalah tanggung jawab Kontraktor, tidak dapat diajukan sebagai biaya pekerjaan tambah.
9) Pelapis dinding yang telah terpasang harus dilindungi dari benturan dan atau gesekan.

e. PEKERJAAN PASANGAN BATU BATA RINGAN

1. UMUM
1.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan dari Bab ini termasuk semua tenaga kerja, material, peralatan dan layanan yang diperlukan
untuk menyelesaikan pekerjaan pasangan batu sebagaimana diindikasikan dalam gambar-gambar,
termasuk, tetapi tidak terbatas pada hal berikut :
1. Pasangan bata ringan untuk pemisah ruang 2. Pekerjaan pasangan lainnya (sebagai bagian yang
diintegralkan dari dinding bata dengan menggunakan unit-unit bata yang diproduksi lokal, dan untuk
aplikasi non- struktural lainnya dan yang berhubungan dengan elemen pendukung arsitektural.
1.2. Jaminan Kualitas
a. Karakteristik ketahanan terhadap api: Jika diindikasikan, sediakan material dan konstruksi yang identik
dengan yang dirakit memiliki ketahanan terhadap api yang telah ditentukan oleh pengetesan dalam
pemenuhan persyaratan ASTM E119 oleh organisasi pengetesan dan pemeriksaan atau cara lain, yang
dapat diterima oleh yang berkuasa secara juridis atau telah memperoleh pembakuan setempat.
b. Tanggung jawab tunggal untuk material adukan: Menyediakan bahan-bahan dari kualitas yang uniform,
termasuk warna untuk pasangan batu terbuka, dari satu pabrikan untuk setiap komponen yang
mengandung semen dan dari satu sumber dan produsen untuk setiap agregat.
c. Test prakonstruksi oleh metode test untuk unitnya: Ujilah bahan-bahan berikut dengan metode yang
dinyatakan:
1) Batu bata: Ujilah setiap tipe dan tingkat batu bata per SII 0021-78 apabila dipandang perlu oleh
Direksi Pengawas.
2) Test adukan: Ujilah setiap tipe adukan per SNI-15-3758-1995-Semen aduk pasangan.
1.3. Ajuan
a. Data produk : ajukan data produk dari pabrikan untuk setiap tipe unit pasangan, kelengkapan dari
produk yang dihasilkan lainnya, termasuk sertifikasi setiap tipe yang memenuhi persyaratan yang
dispesifikasikan.
b. Gambar-gambar kerja: Ajukan gambar-gambar penyetelan dan pemotongan lembaran batu yang
memperlihatkan ukuran, profil dan lokasi setiap unit yang disyaratkan. Jika hal serupa tidak umum
dalam praktek setempat. Dan juga mengirimkan pemasangan lengkap pendukung beton lainnya untuk
dinding batu yang termasuk posisi, layout dan penulangan kolom praktis, balok pengikat, ring balok,
balok pengaku yang persyaratkan dengan kualitas dan standardaya sudah dinyatakan dalam RKS ini.

1.4. pengiriman, penyimpanan dan penanganan pemeliharaan


a. Kirimlah bahan untuk pasangan batu bata ke proyek dalam keadaan tidak rusak.
b. Simpanlah dan peliharalah unit-unit pasangan batu untuk menghindari penurunan kualitas atau
kerusakan karena kelembaban perubahan temperatur, kontaminasi, korosi atau kasus lain.
c. Simpanlah bahan yang mengandung semen jauh di atas tanah, dengan penutup dan dalam lokasi yang
kering.
d. Simpanlah agregat dalam hal penentuan tingkat dan karakteristik lain yang disyaratkan dapat dijaga.
e. Simpanlah kelengkapan pasangan batu bata termasuk item-item logam untuk mencegah penurunan
kualitas akibat korosi/pengkaratan dan akumulasi kotoran / debu.

1.5. Kondisi Proyek


a. Perlindungan pekerjaan: Selama pemasangan, tutuplah bagian atas dinding dengan lembaran penutup
yang kedap air pada saat setiap pekerjaan harian selesai. Tutuplah struktur yang telah selesai sebagian
jika pekerjaan tidak sedang dikerjakan, agar tidak terkena pengaruh cuaca.
b. Perluaslah penutup ke bawah minimum 600 mm pada kedua sisinya dan ikatlah penutup dengan aman
di tempatnya.
c. Jangan kenakan beban atap dan atau lantai sekurang-kurangnya 12 jam setelah pembuatan dinding dan
kolom pasangan batu.
d. Jangan kenakan beban terpusat sekurang-kurangnya 3 hari setelah pembuatan dinding dan kolom
pasangan batu.
e. Cacat/Noda : Cegahlah grout atau adukan atau tanah dari noda pada permukaan pasangan batu yang
terbuka atau dicat. Buanglah dengan segera sisa-sisa grout atau adukan yang berhubungan dengan
pasangan batu tersebut.
f. Lindungi dasar dinding dari lumpur bekas percikan air hujan dan percikan adukan dengan cara penutup
yang dibentangkan pada tanah dan sepanjang permukaan dinding.
g. Lindungi ambang (sills), birai (ledges) dan bentuk-bentuk proyeksi lain dari percikan adukan
(dropping montar).
h. Perlindungan terhadap cuaca basah : untuk unit pasangan batu bata dari tanah liat dengan tingkat awal
absorbsi (pengisapan) yang mensyaratkan mereka untuk direndam sebelum ditempatkan.
2. PRODUK
2.1. Bata Ringan
a. Umum : Bata harus dipress secara manual atau oleh mesin dengan penekanan (pressure) yang sama
dengan memenuhi standard dan persyaratan lain yang diindikasikan/dinyatakan dibawah untuk setiap
bentuk bata yang disyaratkan.
1) Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia (PUBI-1982/NI-3).
2) Standard Industri Indonesia (SII)-0021-78
3) Ukuran : Menyediakan bata yang diproduksi dengan dimensi nyata sebagai berikut : Modul
Standard :
Bata Ringan ( CITICON/LEIBEL/HEBEL) 75 x 200 x 600
Berat jenis kering : 520 kg/m3
Berat jenis normal : 650 kg/m3
Kuat tekan : > 4,0 N/mm2
Konduktifitas termis : 0,14 W/mK
Tebal spesi : 3 mm
4) Semua bata yang akan digunakan pada daerah tahan api harus dilengkapi dengan sertifikat tahan
api yang disyaratkan seperti dinyatakan pada gambar kompartemen kebakaran.

2.2. Material Adukan (Mortar) Dan Grout


Semen Portland : SNI 15-2049-1994 atau Type I/PBI/PUBI-1982. Menyediakan warna natural / alamiah
atau semen putih seperti disyaratkan untuk menghasilkan warna adukan yang disyaratkan.

2.3. Campuran Adukan Dan Grout (Mortar And Grout Mixes)


a. Umum : Jangan menambah bahan campuran tambahan termasuk pigmen pewarna, bahan-bahan anti
udara (air-entraining agents), akselerator, penghambat, bahan-bahan penolak/anti air, bahan
tambahan lain dan atau, kecuali dinyatakan lain.
b. Pencampuran/Pengadukan (Mixing) : Campur dan aduk dengan rata material-material yang
mengandung semen, air dan agregat dalam pengaduk mekanis (mollen), yang memenuhi standard SNI
yang direferensikan untuk waktu pengadukan dan kadar air.

3. PELAKSANAAN
3.1. Pemasangan, Umum
a. Bata tanah kuat basah : Bata basah yang dibuat dari tanah liat atau serpihan (shale) yang memiliki
tingkat awal absorpsi (daya hisap) yang lebih besar dari 30 gram per 1,94 meter persegi per menit.
Gunakan metode pembasahan yang menjamin setiap unit pasangan batu bata/tanah liat hampir
terjenuhi tetapi permukaannya kering pada saat ditempatkan.
b. Pembersihan Tulangan : Sebelum penempatan, buanglah karat-karat, kotoran dan lapisan-lapisan
lainnya dari tulangan.
c. Ketebalan : Buatlah dinding "single-sythe" (jika ada) dengan ketebatan sebenarnya dari unit pasangan
batu bata dengan menggunakan unit dari ketebalan nominal yang diindikasikan.
d. Buatlah bukaan untuk peralatan yang akan dipasang sebelum penyelesaian pekerjaan pasangan.
Setelah pemasangan peralatan, lengkapi pekerjaan pasangan untuk menyelesaikannya segera
pembukaan tersebut.
e. Potonglah unit pasangan dengan menggunakan gergaji mesin untuk menghasilkan sisi-sisi ujung yang
rata, tajam dan bersih. Potonglah unit-unit seperti yang disyaratkan untuk menghasilkan pola yang
kontinu dan untuk menyesuaikan dengan pekerjaan sekitarnya. Gunakan unit berukuran penuh tanpa
pemotongan jika mungkin.

3.2. Perletakan Dinding Pasangan Batu


a. Rencanakan perletakan dinding segera untuk pembuatan spasi yang akurat dari pola ikat permukaan
dengan lebar sambung yang uniform dan penempatan bukaan yang tepat, sambungan tipe pergerakan,
belokan dan pengakhirannya. Hindarkan penggunaan unit-unit yang kurang dari setengah pada sudut-
sudut, jamb dan tempat manapun yang memungkinkan.
b. Buatlah dinding untuk memenuhi toleransi konstruksi yang dispesifikasikan, dengan bagian-bagian yang
diberi jarak dengan akurat dan dikoordinasikan dengan pekerjaan lain.

3.3. Memperbaiki, Membatasi (Pointing) Dan Pembersihan


a. Singkirkan/Buanglah dan gantikan unit pasangan yang tercecer, terkikis, pecah, cacat atau kerusakan
lainnya, atau jika unit tidak cocok dengan unit yang berhubungan tersebut. Sediakan unit baru untuk
menyesuaikan unit yang berhubungan dan pasanglah dengan adukan baru atau grout baru, dibatasi
untuk mengeliminasi bekas penggantian.
b. Pembatasan : Selama perapihan sambungan, perbesarlah setiap lubang atau void, kecuali lubang pipa,
dan isilah sepenuhnya dengan adukan. Pembatasan semua sambungan termasuk sudut-sudut, bukaan
dan pekerjaan yang berbatasan dengannya untuk menghasilkan aplikasi sealant yang disediakan, hasil
yang uniform dan rapih.
c. Pembersihan Terakhir : Setelah adukan telah dipasang dan dicure dengan teliti, bersihkan pasangan
batu sebagai berikut :
1. Buanglah partikel-partikel adukan yang besar dengan tangan dibantu dengan tongkat kayu
(wooden paddles) dan pahat atau alat pengerik non-metal (bukan logam).
2. Lembabkan permukaan dinding dengan air sebelum aplikasi pembersihan: buanglah alat pembersih
dengan segera dengan membilasnya dengan air bersih.
d. Perlindungan : Menyediakan perlindungan terakhir dan memelihara keadaan yang dapat diterima oleh
pemasang, yang menjamin pekerjaan unit pasangan ini tanpa kerusakan dan penurunan mutu pada saat
serah terima.

Pasal 16
PEKERJAAN METAL / BAJA

1. Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan ini meliputi seluruh pekerjaan metal/logam seperti tercantum dalam Gambar Kerja antara lain ;

- PEKERJAAN BAJA

2. Persyaratan Umum
a. Semua persyaratan pekerjaan ini harus memenuhi persyaratan Normalisasi di Indonesia dan memenuhi
persyaratn dari AISC "Specification for fabrication & erection" 12 januari 1981, untuk pabrikasi dan
pemasangannya di lapangan(Erection).
b. Semua pekerjaan baut(bolt) harus memenuhi persyaratan AISC "Specification For Structural Joint Bolt"
c. Semua pekerjaan las harus mengikuti "American Welding Society For Arc Welding in Building
Construction Section"
d. Kontraktor bertanggung-jawab terhadap keamanan, kerusakan barang, sampai ke tempat tujuan. egala
kehilangan dan atau kerusakan adalah tanggungjawab Kontraktor.
3. Persyaratan Bahan
a. Metal untuk pekerjaan struktural

1) Semua bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini harus disetujui oleh konsultan Pengawas. Semua
bahan tersebut harus lurus, rata permukaan, tidak cacat, bebas karat, noda-noda lain yang dapat
mengurangi mutunya.

2) Batang baja maupun bahan lain yang digunakan harus sesuai penampangnya, bentuk, tebal, ukuran,
berat, dan detail-detail lainnya dengan yang tercantum dalam Gambar Kerja.

3) Kontraktor harus sudah mempersiapkan dan menyediakan segala komponen penyambungan yaitu :
- Pelat besi, mur/baut, alat dan bahan lain untuk pengikat/,menyambung sesuai dengan Gambar Kerja.
- Pengadaan tersebut harus sudah dimasukkan dalam anggaran biaya.

4) Semua bahan yang akan dipakai dalam pekerjaan ini terlebih dahulu harus disetujui secara tertulis oleh
konsultan Pengawas.

b. Metal untuk pek erjaan Non struktural


Persyaratan bahan mengikuti ketentuan pekerjaan baja struktural, bebas dari karatan.

4. Persyaratan Teknis

a. Kontraktor wajib meneliti kebenaran dan bertanggungjawab terhadap semua ukuran - ukuran yang
tercantum dalam Gambar Kerja. Pada prinsipnya ukuran pada Gambar Kerja adalah ukuran jadi/finish

b. Pekerjaan bertaraf kelas satu. Semua pekerjaan ini harus dilaksanakan dan diselesaikan bebas dari
puntiran dan tekukan.

c. Setiap bagian yang buruk tidak memenuhi persyaratan yang tertulis disini yang diakibatkan oleh kurang
teliti dan kelalaian Kontraktor akan ditolak dan harus diganti kewajiban yang sama juga berlaku untuk
ketidakcocokan kesalahan maupun kekurangan lain akibat Kontraktor tidak teliti dan cermat dalam
koordinasi dengan Gambar pelengkap dari AR, SA, ME dan EL. Pekerjaan perubahan dan pekerjaan
tambah dalam hal ini harus dikerjakan atas biaya Kontraktor dan tidak dapat diclaim sebagai biaya
tambah.

d. Pemotongan baja Konstruksi harus dengan mesin pemotong Mekanik (Mechanical Cutting Machine)
kecuali ditunjukkan lain dalam Gambar Kerja.

e. Semua bagian yang dilubangi sesuai dengan Gambar Kerja dan sudah dibersihkan dari karat harus
diperiksa dan berada dalam keadaan tidak cacat sebelum pemasangan.

f. Kontraktor wajib memuat Shop Drawing sebelum pelaksanaan dilapangan berdasarkan:


- Ukuran-ukuran sesungguhnya di tempat pekerjaan, khususnya yang berhubungan dengan konstruksi
yang telah berdiri.
- Bagian-bagian yang tidak terhalang oleh benda/komponen Shop Drawing ini harus berisikan semua
data yang diperlukan untuk pedoman pelaksanaan (Fabrikasi dan Erection) dengan melengkapi
keterangan produksi bahan, keterangan pemasangan dan lain sebagainya. Shop Drawing ini harus
diserahkan ke konsultan Pengawas, dan Konsultan Perencana untuk disetujui dan disahkan

g. Perubahan bahan/detail karena alasan tertentu harus diajukan ke konsultan Pengawas, dan Konsultan
Perencana untuk mendapatkan persetujuan secara tertulis. Semua perubahan yang disetujui dapat
dilaksanakan tanpa adanya biaya tambahan yang memepengaruhi kontrak, kecuali untuk perubahan yang
mengakibatkan pekerjaan kurang akan diperhitungkan sebagai pekerjaan kurang.
h. Sebaiknya sebanyak mungkin bahan unuk konstruksi baja difabrikasi di Workshop. Kontraktor bertanggung
jawab atas semua kesalahan detail, pabrikasi dan ketepatan penyetelan/pemasangan semua bagian
konstruksi baja. Kekurang tepatan pemasangan karena kesalahan pabrikasi harus dibetulkan, diperbaiki
dan atau diganti yang baru dan semua ini atas biaya Kontraktor.

5. Persyaratan Pelaksanaan

a. Dudukan Plat Baja


Penempatan plat dudukan rangka baja harus rapi, rata waterpass dan semua lubang baut harus terletak
tepat pada jarak masing- masing baut maupun tepi kolom kaki pedestal. Pemasangan Pelat baja tidak
boleh bergeser lebih dari 2 mm dari as-nya.
Angker dan atau elemen-elemen vertikal lainnya harus tegak lurus terhadap permukaan bidang tempatnya
tertanam dan atau lantai.

b. Penyambungan dan Pemasangan


1). Pengelasan
a). Pengelasan harus dilakukan hati-hati dan cermat.
Logam yang akan dilas harus bersih dari retak dan cacat lain yang mengurangi kekuatan
sambungan dan permukaannya harus halus. Juga permukaan yang di las harus sama, rata dan
kelihatan teratur.
b). Pekerjaan las sedapat mungkin dikerjakan di bengkel/pabrik, dan atau dalam ruangan yang beratap,
bebas angin dan dalam keadaan kering. Benda pekerjaan ditempatkan sedemikian rupa sehingga
pekerjaan las dapat dilakukan dengan baik dan teliti. Pekerjaan las harus dilakukan oleh orang yang
akhli ( mempunyai sertifikat ) dan harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam spesifikasi
dan Gambar Kerja.

c). Las Perapat/Pengendap


Dalam setiap posisi dimana dua bagiam (dari satu benda) saling berdekatan, harus digunakan las
perapat/pengendap guna mencegah masuknya lengas terlepas apakah diberikan detailnya atau
tidak dalam Gambar Kerja apakah barang tersebut terkena cuaca luar atau tidak dan Kontraktor
tidak dapat meng claim pekerjaan ini sebagai pekerjaan tambah.

d). Macam dan Tebal Las


* Macam las yang dipakai adalah las lumer(las dengan busur listrik)
* Ukuran las harus sesuai dengan Gambar Kerja dan atau tebal untuk konstruksi minimum
1/2 tV2 dimana adalah tebal bahan terkecil.
* Panjang las minimum 8 x tebal bahan atau 40 mm
* Panjang las maksimum adalah 40 x tebal bahan.
* Kekuatan dari bahan las yang dipakai paling kecil sama dengan kekuatan baja yang dipakai.

e). Perbaikan las


Bila pekerjaan las ternyata memerlukan perbaikan, maka harus dilakukan oleh Kontraktor
sebagaimana yang diperintahkan oleh konsultan Pengawas, dan tidak dapat di claim sebagai
pekerjaan tambah. Las yang menunjukan cacat harus dipotong dan dilas kembali atas biaya
Kontraktor.

2). Mur Baut


a). Baut yang digunakan harus mempunyai ukuran yang sesuai dengan yang tercantum dalam
Gambar Kerja
b). Pemasangan Mur dan Baut harus benar - benar kokoh serta mempunyai kekokohan yang
merata antara satu dengan yang lainnya.
3). Pengujian sambungan Baut dan Las
a). Untuk sambungan baut dan las dilakukan pemeriksaan visual.
b). konsultan Supervisi, berhak mengadakan test terhadap hasil pengelasan di balai penelitian bahan
menurut standard yang berlaku di Indonesia.

c. Memotong dan finish pinggiran bekas irisan, Gilingan, Maratakan dan lain-lain.
1). Bagian bekas irisan harus benar-benar datar, lurus dan bersih sama sekali tidak diperbolehkan ada
bekas jalur dan lain-lain.

2). Bila bekas pemotongan/pembakaran dengan mesin menghasilkan pinggiran bekas irisan, maka
bagian tersebut harus dibuang sekurang-kurangnya selebar 2,5 mm. Terkecuali kalau keadaan sebelum
dibuang setebal 2,5 mm sudah tidak tampak lagi jalur-jalur tersebut diatas.

d. Menembus, Mengebor dan Meluaskan Lubang


1). Pada keadaan akhir diameter lubang untuk baut dan sebuah baut hitam yang tepat, boleh berbeda
masing-masing 1 mm dari diameter batang baut tersebut.
2). Semua lubang harus di bor.
3). Untuk lubang pada bagian konstruksi yang disambung dan yang harus dijadikan satu dengan
alat/komponen penyambaung, di bor sekaligus sampai diameter sepenuhnya. Apabila ternyata tidak
sesuai, lubang diubah dengan di bor atau diluaskan atau penyimpangannya tidak boleh melebihi 0,5 mm
4). Semua lubang harus bulat sempurna berdiri siku pada bidang dan konstruksi yang akan disambung dan
harus dibersihkan.

e. Pemasangan (Erection)
1). Pada waktu akan pemasangan (Erection) rangka, semua angker dan plat dudukan harus sudah
terpasang tepat dan tegak lurus pada tempatnya seperti yang tercantum dalam Gambar Kerja.
Kontraktor harus meminta persetujuan konsultan Manajemen Konstruksi (MK) untuk ketepatan semua
angker dan pelat dudukan.
2). Untuk konstruksi kap/rangka kuda-kuda sebelumnya harus diberikan lawan lendut (Kontra Seeg)
sebesar 1/600 kali panjang bentangan.
3). Bagian-bagian profil baja harus diangkat sedemikian rupa sehingga tidak terjadi puntiran-puntiran. Bila
perlu digunakan ikatan-ikatan sementara untuk mencegah timbulnya tegangan yang melewati
tegangan yang diijinkan, dan ikatan tersebut dibiarkan terpasang sampai pemasangan seluruh
konstruksi selesai.
4). Pengelasan diatas harus dilaksanakan pada saat konstruksi telah dalam keadaan diam.

Pasal 17
PEKERJAAN LANGIT-LANGIT
1. Lingkup Pekerjaan.

Langit-langit bangunan yang dipasang adalah Gypsum 9 mm dan GRC 5mm (Area basah/luar) Jayaboard
dengan rangka besi hollo Galvanis 4/4+2/4 t.0.5 mm lkp accessories.

2. Persyaratan Pelaksanaan
a) Diminta perhatian Pelaksana dalam meneliti gambar-gambar detail rencana langit-langit, dimana list harus
dipasang, sesuai dengan syarat-syarat konstruksi, penyelesaian pada sudut-sudut atau bidang pertemuan
antara langit-langit dengan dinding, kosen, kolom, listplank, atap dan sebagainya.
b) Kesalahan memasang sehingga merusak keindahan yang diinginkan sepenuhnya menjadi tanggung jawab
Pemborong. Apabila pekerjaan itu mesti diulangi harus atas perintah Direksi.
c) Permukaan bahan plafond harus dibersihkan dari pinggiran yang kurang rata dan kurang tajam, harus diserut
atau diampelas, kemudian dipasang dengan penuh ketelitian / keahlian menurut garis-garis seperti
dicantumkan dalam gambar rencana. Penyelesaian harus memberikan tampak rapi, rata dengan alur yang
lurus dan sama besarnya.
d) Langit-langit gypsum , dipasang memakai list profil gypsum yang dipasang dengan rapi
e) Semua resiko pembongkaran atas perintah Direksi, akibat ketidak mampuan dan ketidak telitian Pelaksana
dalam menjalankan tugasnya adalah tanggung jawab Pemborong.
f) Penyelesaian pengecatan dan warna akan ditentukan kemudian.
g) Ketinggian langit-langit dan penempatannya, harus mengikuti gambar kerja, dan sebelum permukaan bawah
rangka langit-langit rata (water pass) dan lurus, maka pemasangan penutup langit-langit tidak boleh dipasang
terlebih dahulu, dan baru boleh dipasang setelah mendapat persetujuan dari pihak pengawas dan monitoring
proyek (direksi).
h) Hasil pekerjaan yang tidak rata / bergelombang / retak-retak, harus dibongkar dan diperbaiki kembali atas
biaya pemborong.

Pasal 18
PEKERJAAN KUSEN, PINTU, JENDELA
ALUMUNIUM DAN PARTISI

18.1. KETERANGAN
Pekerjaan ini mencakup seluruh pekerjaan pembuatan dan pemasangan kusen, daun pintu dan jendela
dengan bahan-bahan dari Aluminium, termasuk menyediakan bahan, tenaga dan peralatan untuk
pekerjaan ini, meliputi seluruh pekerjaan kusen, pintu dan jendela.

18.2. BAHAN
Bahan yang dipakai untuk kusen dan daun jendela secara umum adalah menggunakan alumunium 4 inch,
produk dalam negeri Alexindo, Alcomexindo lengkap accesoriesnya.

a. Karet sealer harus sesuai ukuran dan bentuknya dengan pintu, jendela dan kaca dengan
menggunakan karet sealer atau sealant yang berkualitas baik
b. Seluruh kelengkapan perapat/penutup celah/penahan benturan harus terpasang sesuai rekomendasi
produsen alumunium

Bahan untuk kusen Aluminium dan teknis pemasangan harus sesuai persyaratan yang dikeluarkan oleh
pabrik pembuat.

Rangka Aluminium dari Type yang di tunjukkan dalam gambar-gambar adalah merupakan ide dasar
Perencana, yang selanjutnya harus dilengkapi dengan gambar kerja oleh Kontraktor sesuai dengan
petunjuk oleh pabrik penghasil dari jenis yang akan dipergunakan.

18.3. PELAKSANAAN

a. Semua pekerjaan pembuatan dan pemasangan kusen, pintu dan jendela Aluminium harus dilakukan
oleh pabrik penghasil dari bahan yang dipergunakan dengan memperoleh persetujuan pengawas
lapangan.

b. Semua bahan kusen, daun pintu dan jendela aluminium, boleh dibawa kelapangan/ halaman
pekerjaan jikalau pekerjaan konstruksi benar-benar mencapai tahap pemasangan kusen, pintu dan
jendela.
c. Pemasangan sambungan harus tepat tanpa celah sedikitpun.

d. Semua detail pertemuan daun pintu dan jendela harus runcing (adu manis) halus dan rata, serta
bersih dari goresan-goresan serta cacat-cacat yang mempengaruhi permukaan.

e. Detail Pertemuan Kusen Pintu dan Jendela harus lurus dan rata serta bersih dari goresan-goresan
serta cacat yang mempengaruhi permukaan.
f. Pemasangan harus sesuai dengan gambar rancangan pelaksanaan dan brosur serta persyaratan
teknis yang benar.

g. Setiap sambungan atau pertemuan dengan dinding atau benda yang berlainan sifatnya harus diberi
“sealent”.

h. Penyekrupan harus tidak terlihat dari luar dengan skrup kepala tanam galvanized sedemikian rupa
sehingga hair line dari tiap sambungan harus kedap air.

i. Semua alumunium yang akan dikerjakan maupun selama pengerjaan harus tetap dilindungi dengan
“Lacquer Film”.

j. Ketika pelaksanaan pekerjaan plesteran, pengecatan dinding dan bila kosen; alumunium telah
terpasang maka kosen tersebut harus tetap terlindungi oleh Lacquer Film atau plastic tape agar
kosen tetap terjamin kebersihannya.

k. Sebelum memulai pelaksanaan, Kontraktor diwajibkan meneliti gambar dan kondisi lapangan serta
membuat gambar Shop Drawing.

l. Tipe Pintu/Jendela dan dinding partisi yang terpasang harus sesuai Daftar tipe yang tertera dalam
Gambar dengan memperhatikan ukuran-ukuran, Bentuk Profil, Material, Detail Arah Bukaan dan
lain-lain, dengan petunjuk sbb :

GAMBAR URAIAN
* Denah Lokasi, jenis bukaan, Engsel-Engsel
* Daftar Jenis Pintu/ Merk, kualitas, bentuk, ukuran, jendela material finish, tipe,
anti corrosive treatment, glass hardware dan lain-lain.

* Shop Drawing Detail Tipe/jenis ukuran,lokasi dan kedudukan pintu dan jendela,

m. Setiap bagian dari pekerjaan ini yang buruk, tidak memenuhi persyaratan seperti yang tertulis dalam
Buku ini maupun tidak sesuai dengan Gambar Kerja, ketidak cocokan, kesalahan maupun
kekurangan lain akibat kelalaian dan ketidak telitian Kontraktor dalam Gambar Pelelangan; dan
atau perbaikan finish yang tidak memuaskan akan ditolak dan harus diganti hingga disetujui
Pengawas Lapangan Perbaikan, Perubahan dan Penggantian harus dilaksanakan atas biaya
Kontraktor dan tidak dapat di claim sebagai pekerjaan tambah, maupun penambahan waktu.

n. Perubahan bahan/material karena alasan tertentu harus diajukan kepada Konsultan Pengawas
untuk mendapatkan persetujuan secara tertulis.Semua perubahan yang disetujui dapat dilaksanakan
tanpa adanya biaya tambahan yang mempengaruhi kontrak, kecuali untuk perubahan yang
mengakibatkan pekerjaan kurang akan diperhitungkan sebagai Pekerjaan Kurang.

o. Semua pekerjaan yang telah dikerjakan dan atau telah terpasang harus segera dilindungi terhadap
pengaruh cuaca dengan cara yang memenuhi syarat.

18.4. Pengukuran Hasil Kerja.


Pengukuran hasil kerja dapat dilakukan dengan unit untuk pekerjaan kusen pintu, jendela, daun pintu, daun
jendela, yang telah selesai dikerjakan dengan dimensi, kedudukan, bentuk, yang sesuai dengan Gambar
Rencana dan Spesifikasi ini, serta dapat diterima oleh Pengawas, hasil ini dapat dinilai sebagai kemajuan
pekerjaan.
Kontraktor wajib menyelesaikan seluruh pekerjaan sesuai dengan Dokumen Kontrak, biarpun terjadi
kesalahan dalam menghitung volume, dan hal ini Kontraktor tidak dibenarkan mengajukan Claim.

18.5. PARTISI
1.01. Lingkup Pekerjaan
1. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya
untuk pelaksanaan pekerjaan sehingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang baik dan sempurna.
2. Meliputi seluruh pekerjaan dinding partisi, sesuai yang ditunjukan dalam gambar dan disetujui Direksi
Pengawas.
3. Pekerjaan partisi gypsum ini dikerjakan meliputi :
a. Ruang-ruang kerja (penyekat antar ruang) dan ruang lainnya seperti yang ditunjukkan dalam
gambar
Seluruh area dikerjakan sesuai yang tertera dalam gambar perencanaan dan
disetujui oleh Direksi Pengawas.
1.02. Persyaratan Bahan
1. Gypsum:
Ketebalan yang dipakai 12 mm tidak retak atau pecah/melengkung mempunyai lapisan luas Paver
Coved dipasang sesuai dengan gambar teknis dengan mempergunakan rangka metal hollow dan
sekrup, sambungan antara gypsum board memakai compound .
Penutup Gypsum Board 12 mm double
Gypsum yang digunakan Jayaboard, Elephant.

2. Rangka Partisi
Rangka Partisi menggunakan Rangka Metal Stud
Bahan-bahan pelengkap seperti sekrup, baut, mur, paku metal fittings yang akan berhubungan
dengan udara luar dibuat dari besi yang digalvanisasi.
Berkas-berkas pekerjaan harus dikikir sampai halus dan rata permukaan.
Untuk unit yang dipasang harus diberi tanda agar tidak terjadi kesalahan pemasangan.
Pekerjaan sambungan dilakukan dengan baut dan di las sesuai gambar.
Pekerjaan pengelasan harus dikerjaan dengan rapi, tanpa menimbulkan kerusakan pada bahan
bajanya.
Pemberhentian pengelasan harus pada tempat yang ditentukan dan dijamin tidak akan berputar atau
membengkok. Setelah pengelasan, sisa-sisa/kerak las harus dibersihkan dengan baik.
Dinding Partisi menggunakan double gypsum board 12 mm rangka metal furing ex. Boral dan
disetujui Direksi Pengawas.

1.03. Syarat-syarat Pelaksanaan


A. Contoh-contoh barang atau bahan harus ditunjukan kepada Konsultan Perencana dan Direksi
Pengawas untuk disetujui sebelum memulai pelaksanaan.
B. Bahan dan barang harus tersedia di lapangan/site sesuai dengan jadwal pelaksanaan,
semua barang dan bahan harus disimpan ditempat yang kering memakai alas dan
dijauhkan dari tempat-tempat yang lembab dan air hujan.
C. Harus diperhatikan terhadap disiplin lain diantaranya pekerjaan elektrikal dan
perlengkapan instalasi yang diperlukan. Bila pekerjaan-pekerjaan tersebut diatas tidak
tercantum digambar rencana partisi dan harus diteliti terlebih dahulu pada gambar- gambar
instalasi yang lain (Elektrikal, AC dan lain-lain). Untuk detail pemasangan harus konsultasi
dengan Direksi Pengawas.
D. Pada sambungan gypsum digunakan semen pengisi sesuai rekomendasi pabrik, yang
sebelumnya ditutup dengan non fabric material minimum lebar 5 cm.
E. Semua barang pekerjaan yang telah selesai dan diperiksa tapi belum diserahkan harus
dijaga, dipelihara keutuhannya oleh pelaksana. Apabila terjadi kerusakan barang akibat
pelaksana, maka kerusakan tersebut harus diperbaiki tanpa menjadi beban tambahan
kepada pemilik.

18.6 DINDING PARTISI CUBIKALTOILET


Pekerjaan dinding partisi untuk Cubikal toilet harus dikerjakan oleh tenaga aplikator yang
berpengalaman dan specialis dibidang ini serta direkomendasi oleh principal dari material yang akan
dipakai. Pelaksanaan dinding partisi ini harus dengan full system dari pabrik penghasilnya. Pihak principal
harus menyediakan tenaga teknis yang berpengalaman sebagai tenaga superfisi teknis pada masa
pelaksanaannya yang minimal datang ke lapangan dalam dua minggu sekali dan ketika dibutuhkan
pendapat teknis karena suatu permasalahan atau kondisi tidak normal di lapangan.

a. Bahan yang dipakai untuk dinding partisi cubical adalah panel phenolix standar tebal 12 mm, tinggi
partisi cubical adalah 2.00 dengan pesdestal 15 cm dari lantai.
b. Rangka dinding partisi cubikal yang digunakan adalah pipa mill steel ukuran sesuai dengan pabrik
penghasil. Semua engsel dan kunci adalah stainles steel dengan indikator lecth dari sisi luar.
c. Cubikal toilet boleh dipasang setelah pekerjaan dinding bata dan dinding partisi serta pekerjaan
pelapis dinding selesai dikerjakan.
d. Sebelum melaksanakan pekerjaan ini kontraktor harus mengajukan gambar shop drawing kepada
konsultan MK untuk mendapatkan persetujuan.

Spesifikasi Bahan :
o Pintu dan Dinding Pembatas Phenolic 12 mm
o Bahan HPL dipress Resin
o Head Rell,Profile U, Door Stopper, Corner Alumunium
o Aksesoris Pintu Phenolic :
 Pivot Stainless Steel 304
 Pivot Standar Engsel Kupu-kupu
 Nylon

Pasal 19
PEKERJAAN KACA

19.1. KETERANGAN
Pekerjaan kaca meliputi pengisian bidang-bidang kusen (kaca mati), daun pintu dan jendela, jendela
bovenlicht. Contoh kaca yang akan dipakai harus diperlihatkan kepada Pengawas paling lambat 2 (dua)
minggu sebelum dipasang.
19.2. BAHAN
a. Kaca Bening
Kaca polos (clear float glass) yang dipakai adalah buatan dalam negeri dengan ketebalan 5 mm
atau sesuai gambar. Bahan kaca harus utuh dan jernih, tidak boleh bergelombang, berbintik-bintik
atau cacat lainnya.
Kaca ASAHI
b. Kaca Tempered 12 mm

19.3. PERSYARATAN TEKNIS

a. Syarat Mutu
1). Dimensi
Toleransi Tebal kaca lembaran tidak boleh melebihi toleransi tebal 0,3 mm. Toleransi Lebar dan
panjang Kaca adalah 1,5 mm sampai 2 mm.
2). Kaca lembaran harus mempunyai sudut siku, tepi potongan rata dan lurus, bebas dari cacat dan noda.

19.4 PERSYARATAN PELAKSANAAN

a. Pemotongan harus rapih dan lurus dan harus menggunakan alat Pemotong Kaca khusus. Sisi kaca yang
tampak maupun yang tidak tampak akibat pemotongan harus digurinda dan dihaluskan.

b. Kaca yang telah terpasang harus dilindungi dari kerusakan dan benturan dan diberi tanda agar mudah
diketahui

c. Pekerjaan Kaca
1). Kaca harus dipotong menurut ukuran kaca dengan kelonggaran cukup, sehingga pada waktu kaca
mengembang tidak pecah.
2). Sepanjang alur kaca "sponing" dan list kayu harus dibersihkan, diplamur dan dicat sebelum kaca
dipasang.
3). Tepi kaca pada sambungan dan antara kaca dengan kayu, harus diberi "Sealant" tipe "Silicone Glass
Sealant". Tidak diperkenankan "Sealant" mengenai kaca terpasang lebih dari 0,5 cm dari batas garis
sambungan dengan kaca.
4) Sebagian kaca terpasang menggunakan stiker Sanblast

d. Pekerjaan Cermin
1). Cermin dalam pekerjaan harus dipasang pada rangka kayu dibuat khusus seuai ukuran, walaupun
rangka kayu tersebut tidak disajikan dalam gambar kerja.
2). Pemasangan cermin diatas rangka kayu dengan memakai seke- rup. Jarak pemasangan sekrup
maksimal 60 cm, kepala sekrup yang timbul di permukaan kaca ditutup oleh penutup yang di
verchroom.

e. Kwalitas Pekerjaan.
1). Tidak boleh terjadi retak tepi pada semua kaca akibat pemasangan list, maupun sekrup.
2). Kaca dan cermin harus telah terkunci dengan baik, sempurna dan tidak bergeser dari Sponing.

3). Semua kaca dan cermin pada saat terpasang tidak boleh bergelombang. Apabila masih terlihat adalah
gelombang, maka kaca dan cermin tersebut harus dibongkar dan diperbaiki/diganti. Biaya untuk hal ini
adalah tanggung jawab Kontraktor, tidak dapat di "claim" sebagai pekerjaan tambah.
f. Kaca yang telah terpasang harus dilindungi dari kerusakan dan benturan dan harus diberi tanda agar
mudah diketahui.

Pasal 20
PEKERJAAN ALAT PENGGANTUNG DAN PENGUNCI

1. Lingkup Pekerjaan.

Pekerjaan ini meliputi : pengadaan dan pemasangan semua bahan perlengkapan pintu dan jendela seperti :
Kunci, Engsel, Sloot dan hardware lainnya yang dipergunakan di dalam pekerjaan ini :
- Pekerjaan perlengkapan pintu dan jendela.
- Pekerjaan perlengkapan pintu rangka alumunium
- Pekerjaan perlengkapan pintu rangka kayu
- Dan lain-lain seperti yang tercantum dalam Gambar Kerja

2. Persyaratan Bahan.

a. Semua hardware yang digunakan harus sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Buku Spesifikasi
ini.
b. Kontraktor wajib mengajukan contoh bahan untuk mendapatkan persetujuan dari Konsultan
Pengawas.
c. Pemilihan hardware pintu dan jendela disesuaikan dengan jenis bahan pintu.

d. Bahan
1. Engsel Casement Dekson, Solid
2. Rambucis Dekson, Solid
3. Lever Handle Dekson, Solid
4. Body Kunci + Cylinder Dekson, Solid
5. Engsel Pintu Dekson, Solid
6. Flush Bolt Dekson, Solid
7. Door Closer Dekson, Solid
8. Full Handle Dekson, Solid
9. Dan lain-lain sesuai gambar kerja

3. Persyaratan Teknis

Seluruh perangkat perlengkapan : pintu dan jendela ini harus bekerja dengan baik sebelum dan sesudah
pemasangan. untuk itu, harus dilakukan pengujian secara kasar dan halus.

4. Persyaratan Pelaksanaan

 Pasangan alat penggantung harus rapih benar, sehingga pintu / jendela dapat ditutup / dibuka dengan
mudah. Pintu harus dalam posisi tegak / tidak miring.
 Pemborong wajib mengajukan contoh-contoh alat penggantung dan pengunci untuk mendapat persetujuan
Direksi.
 Sebelum menyerahkan pekerjaan, semua hardware diberi minyak hingga dapat bekerja dengan baik,
lancar serta memuaskan.
1.1 Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja pemasangan/ penyetelan, bahan-bahan, perlengkapan
daun pintu/daun jendela dan alat - alat bantu lainnya untuk melaksanakan pekerjaan hingga
tercapainya hasil pekerjaan yang baik dan sempurna.
1.2 Pemasangan alat penggantung dan pengunci dilakukan meliputi seluruh pemasangan pada daun pintu
seperti yang ditunjuk /disyaratkan dalam detail gambar.
1.3 Semua kunci-kunci tanam terpasang dengan kuat pada rangka daun pintu. Dipasang setinggi 1050
cm dari lantai, atau sesuai petunjuk Perencana dan Pengawas.
1.4 Pekerjaan Engsel
Untuk pintu -pintu panel pada umumnya menggunakan engsel pintu, dipasang sekurang - kurangnya
tiga buah untuk setiap daun dengan menggunakan sekrup kembang dengan warna yang sama
dengan warna engsel, jumlah engsel yang dipasang harus diperhitungkan menurut beban berat daun
pintu, tiap engsel memikul maksimal 20 kg..
1.5 Engsel atas dipasang + 28 cm (as) dari permukaan atas pintu.
Engsel bawah dipasang + 32 cm (as) dari permukaan bawah pintu.
Engsel tengah dipasang di tengah - tengah antara kedua engsel tersebut.
Pintu/ Jendela dipasang sedemikian rupa sehingga pada akhirnya daun pintu/ jendela mempunyai
celah yang sama/ merata dengan kusen sisi atas, samping, bawah jendela adalah minimal 2 mm
maksimal 3 mm dan untuk bawah pintu pempunyai celah minimal 4 mm dan maksimal 6 mm.
1.6 Penarik pintu (door pull) dipasang 1050 mm (as) dari permukaan lantai.
1.7 Pemasangan lockease, handle serta door closer harus rapi, lurus dan sesuai dengan letak posisi yang
telah ditentukan oleh Perencana dan Pengawas Apabila hal tersebut tidak tercapai, kontraktor wajib
memperbaiki tanpa tambahan biaya.
1.8 Seluruh perangkat kunci harus bekerja dengan baik, untuk itu harus dilakukan pengujian secara
kasar dan halus.
1.9 Tanda pengenal anak kunci harus dipasang sesuai dengan pintunya

Pasal 21
PEKERJAAN LANTAI

21.1 Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan lantai KM/WC menggunakan lantai keramik antislip 20x20 cm


Pekerjaan lantai menggunakan lantai Homogenius tile 60x60 cm
Pekerjaan tangga (Keramik 30x60 cm + Stair Noizing Pabrikasi.
Dan lain lain sesuai dengan gambar kerja.

Granit yang digunakan China / Lokal

21.2 Adukan
Adukan untuk pemasangan lantai keramik adalah :
- 1 PC : 3 PS untuk pemasangan lantai daerah basah (KM/WC).
- 1 PC : 5 PS untuk pemasangan seluruh lantai selain ketentuan di atas.

21.3 Pelaksanaan Pekerjaan


a. Seluruh rongga pada bagian belakang Keramik harus berisi dengan adukan pada waktu pemasangan.
b. Bila ada pemotongan tidak boleh kurang dari setengah ukuran Keramik.
c. Pada sisi yang berbatasan dengan saluran di buat pasangan pembatas terbuat dari pasangan bata
daerah dengan adukan 1 PC : 5 PS, diplester pada bagian yang terlihat, kemudian diaci.
d. Pekerjaan lantai yang tidak lurus/waterpass, siar yang tidak lurus/berombak, retak dan cacat lainnya,
harus dibongkar dan diperbaiki atas biaya pemborong.
e. Pola pemasangan dan awal pemasangan harus sesuai dengan Gambar Kerja atau dimintakan kepada
konsultan perencana, dengan mengikuti pola corak masing-masing Keramik yang dipakai awal
pemasangan dan pemotongan harus disetujui oleh Pengawas Lapangan
f. Bila ditemui kerusakan, permukaan lantai bergelombang, Kontraktor harus membongkar dan
memperbaikinya hingga sesuai dengan yang disyaratkan.
g. Keramik yang akan ditempel harus sudah diseleksi dengan baik sehingga bentuk dan warna masing-
masing keramik sama tidak ada bagian yang retak, pecah-pecah, sudut atau tepi atau cacat lainnya
serta telah disetujui secara tertulis dari Konsultan Pengawas.
h. Aduk yang dipakai adalah campuran 1Pc:2Ps tebal 10-15 mm untuk daerah kedap air, dan 1Pc:3Ps
daerah kering.
i. Seluruh rongga pada bagian belakang Keramik harus berisi dengan adukan pada waktu pemasangan
j. Awal pemasangan dan pola pemasangan harus sesuai dengan Gambar Kerja atau atau petunjuk
Pengawas Lapangan.
k. Pada prinsipnya pemotongan keramik harus dihindarkan, kecuali ditentukan dengan pola Gambar, jika
perlu diadakan pemotongan hatus dikerjakan dengan hati- hati, rapi, lurus atau bersudut sesuai dengan
kebutuhan, kemudian bidang potong harus diperhaluss dengan gerinda atau kikir.
l. Persiapan sebelum pemasangan
Semua pemipaan maupun sparing-sparing SA&EL telah telahterpasang pada jalur dan tempatnya
sesuai dengan Gambar dan telah disetujui oleh Konsultan Pengawas.
m. Setelah bidang Keramik terpasang permukaannya harus dibersihkan dengan lap/kain basah sehingga
bersih dari noda-noda semen. Bidang Keramik ini harus dijaga tetap basah untuk menghindarkan
pengeringan terlalu cepat dengan pembasahan minimal 3(tiga) hari pertama setelah terpasang.
n. Bila ditemui retak, kerusakan bergelombang, garis-garis tepi dan siar tidak rata dan lurus, maka
Kontraktor harus membongkar dan memperbaiki hingga sesuai dengan yang disyaratkan. Biaya untuk
hal ini adalah tanggung jawab Kontraktor, tidak dapat diajukan sebagai biaya pekerjaan tambah.
o. Keramik yang telah terpasang harus dilindungi dari benturan dan atau gesekan.
p. Pekerjaan Lantai Dasar Beton Bertulang
Persyaratan dan Penjelasan teknis untuk Pekerjaan ini diuraikan pada pasal beton

Pasal 22
WATERPROFING

1. UMUM

1.01 LINGKUP PEKERJAAN


A. Pekerjaan dari Bab ini termasuk semua tenaga kerja, bahan, peralatan dan layanan yang
diperlukan untuk menyelesaikan pemasangan waterproofing Polygum Membrane sebagaimana
tertera di dalam gambar-gambar dan ditentukan dalam spesifikasi ini, tetapi tidak termasuk
pekerjaan plester / jika diperlukan.

POLYGUM Membrane adalah waterproofing asal belgia yang di buat dari bahan aspal terbaik
dengan teknologi dan tenaga ahli yang handal menjadikan waterproofing yang kuat, tahan lama dan
merekat sempurna pada seluruh area yang memerlukan perlindungan dari rembesan air baik itu
dak beton, basement, kolam renang dll.

B. Spesifikasi
Lebar :1M
Panjang : 10 M
Tebal : 3 mm
Warna : Hitam

Keunggulan :

- Perkuatan Tri-Laminsai Polyester, membuat membran jauh lebih kuat dan tahan terhadap
gaya tarik
- Bisa mengatasi dan mencegah kebocoran diatas dak atap rumah
- Bisa mecegah kelembaban di dinding, diaplikasikan untuk kolam yang memiliki sifat
waterproof sehingga terjaga dari kebocoran
- Ketebalan yang terjamin karena dibuat di pabrik dengan mesin khusus. Sehingga mengurangi
resiko ketidak teraturan akibat aplikasi di lapangan
- Cepat dan praktis dalam pemasangannya
- Flexibel : Dapat menutup celah keretakan yg terjadi pada bangunan
- Lifetime yang jauh lebih lama ketimbang waterproofing coating

1.02. JAMINAN KUALITAS

A. Kualifikasi pemasang
1. Untuk pelaksanaan pemasangan atap, gunakan hanya tukang pasang yang kompeten dan ahli
yang benar-benar sudah terbiasa dengan produk dan metode pemasangan yang
direkomendasikan oleh pabrikan.
2. Pemasang : Sebuah perusahaan yang dapat menunjukkan bukti pengalaman yang berhasil
sebelumnya untuk pemasangan Waterprofing Polygum membrane

B. Syarat-Syarat pelaksanaan

1. Pengujian
a. Bila diperlukan Kontraktor wajib mengadakan test bahan sebelum dipasang, pada
laboratorium yang ditunjuk pengawas. Dan sebelum dimulai pemasangannya
Kontraktor harus menunjukkan sertifikat keaslian barang dari supplier disertai data-data
teknis komposisi unsur material pembentuknya.
b. Sewaktu penyerahan hasil pekerjaan, kontraktor wajib memberikan jaminan atas
produk yang digunakan terhadap kemungkinan bocor, pecah dan cacat lainnya,
termasuk mengganti dan memperbaiki segala jenis kerusakan yang terjadi. Jaminan
yang diminta adalah jaminan dari pihak pabrik untuk mutu material berupa polis
asuransi, serta jaminan dari pihak pemasang (applicator) untuk mutu pelaksanaan
pemasangannya.
c. Kontraktor diwajibkan melakukan percobaan/pengujian dengan melakukan
penyemprotan langsung dengan air serta menggenanginya dengan air di atas
permukaan yang diberi lapisan composite membrane.

2. Pengiriman dan Penyimpanan Bahan

a. Bahan harus didatangkan ke tempat pekerjaan dalam keadaan utuh (belum dibuka) dan
masih tersegel dan berlabel sesuai pabriknya.
b. Bahan harus disimpan di tempat yang terlindung, tertutup, tidak lembab, kering dan
bersih.
c. Kontraktor bertanggungjawab atas kerusakan bahan-bahan yang disimpannya, baik
sebelum atau selama pelaksanaan.

3 SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN

a. Semua bahan sebelum dikerjakan harus ditunjukkan kepada pengawas, lengkap dengan
ketentuan / persyaratan pabrik yang bersangkutan untuk mendapatkan persetujuan
Pengawas.
b. Material yang tidak disetujui harus diganti segera tanpa biaya tambahan. Jika dipandang
perlu diadakan penukaran/penggantian maka bahan-bahan pengganti harus telah
mendapat persetujuan dari pengawas.
c. Sebelum pekerjaan ini dimulai permukaan bagian yang akan diberi lapisan harus
dibersihkan sampai kondisi yang dapat disetujui oleh pengawas. dan ukuran harus
sesuai dengan gambar.
d. Cara-cara dan pelaksanaan pekerjaan harus mengikuti petunjuk dan ketentuan dari
pabrik yang bersangkutan serta petunjuk dari pengawas.
e. Bila ada perbedaan dalam hal apapun antara gambar, spesifikasi dan lainnya,
kontraktor harus segera melaporkan kepada pengawas sebelum pekerjaan dimulai.
f. Kontraktor tidak dibenarkan memulai pekerjaan dalam hal terdapat
kelainan/perbedaan ditempat itu.

4 GAMBAR DETAIL PELAKSANAAN / SHOP-DRAWING

a. Kontraktor wajib membuat shop drawing (gambar detail pelaksanaan) berdasarkan


gambar dokumen kontrak dan keadaan lapangan, untuk memperjelas detai-detail
khusus yang diperlukan pada saat pelaksanaan di lapangan.
b. Shop drawing harus mencantumkan semua data termasuk tipe bahan keterangan
produk, cara pemasangan atau persyaratan khusus.
c. Shop drawing belum dapat dilaksanakan sebelum mendapatkan persetujuan dari
pengawas.

5 CONTOH

a. Kontraktor wajib mengajukan contoh dari semua bahan, disertai brosur lengkap dan
jaminan keaslian material dari pabrik.
b. Contoh bahan harus diserahkan minimal sebanyak 2 (dua) buah yang mutunya.
c. Keputusan bahan jenis, warna, tekstur dan merk akan diberitahukan oleh pengawas
dalam jangka waktu tidak lebih dari 7 (tujuh) hari kalender terhitung sejak penyerahan
contoh-contoh bahan tersebut.
d. Pengawas mempunyai hak untuk meminta kontraktor mengadakan mock-up guna
memperjelas usulan material yang diajukannya.

1.03 PENGUJIAN TERHADAP KEBOCORAN/TES RENDAM

Setelah waterproofing terpasang dengan sempurna,maka akan dilakukan pengujian tes rendam selama
2X24 jam dengan tahap pengujian sebagai berikut:
1. Cek kondisi Polygum Membrane pada detail sambungan,corner,drinase apakah sudah tertutup
sempurna
2. Isi air Hingga menggenangi permukaan dak beton setinggi 18cm.
3. Biarkan air menggenangi permukaan dak beton selama 2X24 jam
6. Periksa kondisi langit-langit dak beton dari dalam gedung apakah ada rembesan air yang timbul
dari langit-langit dak beton tersebut.
7. Jika ada timbul rembesan maka dilakukan pengecekan pengerjaan dan di cari/di periksa penyebab
terjadinya rembesan.kemudian di perbaiki bagian yang bocor tersebut lalu dilakukan tes rendam
lagi.
8. Jika tidak ada kebocoran/rembesan maka dibuat berita acara tes rendam yang di tanda tangani
oleh supervisor kontraktor
Pasal 23
PEKERJAAN BETON BERTULANG DAN TIDAK BERTULANG

24.1 Lingkup Pekerjaan meliputi :

a. Pekerjaan Beton Bertulang terdiri dari :


Plat beton tangga, Kolom Beton, Tiang Kolom, kolom praktis, lintel, latei, dan lain-lain sesuai dengan
gambar kerja.

b. Pekerjaan Beton tidak bertulang terdiri dari :


Lantai kerja, dan segala sesuatu yang nyata termasuk dalam pekerjaan ini sesuai gambar.

24.2 Semua pekerjaan beton harus mengikuti persyaratan ketentuan yang tercantum pada :
a. Tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan gedung SNI 03 – 2847 - 2002
b. Peraturan Beton terutama mengenai :
1. Syarat-syarat bahan untuk semua pekerjaan beton (SNI 03 – 2847 - 2002)
2. Syarat-syarat pelaksanaan pekerjaan beton (SNI 03 – 2847 - 2002).
3. Syarat-syarat pekerjaan tulangan (SNI 03 – 2847 - 2002).

24.3 Persyaratan Beton :

Penjelasan Mutu Beton


a. Untuk beton bertulang yang bersifat struktur mutu beton yang digunakan Beton Site MIX K-300
dimana beton harus mempunyai kekuatan tekan dan kareakteristik sebesar 26,4 Mpa (minimal).
Untuk mendapatkan mutu beton seperti yang disyaratkan, maka Pemborong harus membuat MIX
DESIGN di Laboratorium Beton milik Pemerintah atau yang ditunjuk oleh Direksi, untuk
mendapatkan komposisi campuran dari bahan-bahan yang digunakan

b. Untuk beton bertulang yang bersifat praktis, seperti kolom praktis, balok lintel dll, campuran beton
yang digunakan adalah K-175 atau campuran 1PC : 2 PS : 3 KR.

c. Untuk beton tidak bertulang, adukan dibuat dengan campuran : 1PC : 3PS : 5KR, seperti untuk neut
kusen, rabat beton, lantai kerja dan lain-lain sesuai dengan gambar kerja.

24.4 Persyaratan Bahan


a. Semen Portland / PC
Semen Portland yang dipakai harus dari jenis I menurut peraturan Semen Portland Indonesia 1972 (NI-8)
atau British Standard No. 12 tahun 1965 Semen harus sampai di tempat kerja dalam kondisi yang baik
serta dalam kantong asli dari Pabrik. Merek PC dianjurkan produksi dalam negeri seperti, Tiga Roda, atau
yang f dipersyaratkan satu merek PC yang disetujui Konsultan Pengawas untuk seluruh pekerjaan. Semen
harus disimpan dalam gudangyang kedap air, cukup ventilasi di atas lantai setingi 30 cm dari atas tanah.
Penyimpanan harus berurutan dan terpisah menurut menurut pengiriman. Kantong-kantong semen tidak
boleh ditumpuk lebih dari 10 lapis.

b. Pasir
1). Semua pasir yang akan dipakai harus pasir alam tidak di perkenankan memakai pasir laut.
2). Pasir harus halus bersih dan bebas dari tanah liat, mika dan substansi lain yanjg merugikan, beratnya
tidak boleh lebih dari 5 %.
3). Kontraktor harus menyerahkan contoh pada Konsultan Pengawas sebagai bahan pemeriksaan
pendahuluan dan persetujuan, contoh seberat 15 kg dari pasir alam yang diusulkan untuk dipakai
sedikitnya 14 (empat belas) hari sebelum diperlukan.
4). Timbunan pasir alam harus dibersihkan semua dari tumbuh-tumbuhan, kotoran dan bahan-bahan lain
yang tidak dapat dipakai harus disingkirkan. Bahan harus diayak dan dicuci sebagaimana diperlukan
untuk mengahasilkan

c. Agregat (Kerikil atau Batu Pecah)


Agregat dapat dipakai agragat alami ata buatan memenuhipersyaratan PBI 1971 (NI-2) pasaln 3.3,
3.4, dan 3.5 Agragat tidak boleh mengandung bahan yang dapat merusak beton dan ketahanan tulangan
terhadap karat. Untuk itu Kontraktor harus mengajukan contoh yang memenuhi syarat dari berbagai
sumber terlebih dahulu.

d. Air
Air untuk campuran dan pemeliharaan beton spesui/mortar dan speci injeksi harus dari aiar yang bersih dan
tidak mengandung zat-zat yang dapat merusak beton. Air tersebut harus memenuhi syarat-syarat menurut
PBI 1971 (NI-2) pasal3.6.

e. Baja tulangan
1). Baja tulangan yang dipakai adalah mutu baja U-32 (Ulir) untuk baja diameter lebih besar dan sama
dengan 16mm serta mutu baja U-24 untuk baja diameter lebih kecil atau sama dengan 12mm, sesuai
dengan PBI 1971. JIS SR 24 British Standard No. 785. 1938 atau ASTM Designation A-15.
2). Ukuran baja tulangan tersebut harus sesuai dengan gambar kerja, penggantian dengan diameter lain
harus dengan persetujuan tertulis dari direksi. Segala biaya yang diakibatkan oleh penggantian tulangan
terhadap gambar sejauh Gambar Kerja adalah Kontraktor.
3). Semua baja tulangan harus disimpan pada tempat yang bebas lembab disesuaikan diameter serta asal
pembelian.
4). Semua baja tulangan harus dilindungi terhadap semua macam kotoran dan lemak serta sejauh mungkin
terhadap karat.

f. Bahan campuran (additives)

1). Pemakaian bahan tambahan kimiawi (Konkret admixtures additives) kecuali yang disebut tegas dalam
Gambar Kerja (RKS) harus seijin tertulis dari Konsultan Pengawas.
2). bahan tambahan yang mempercepat pengerasan awal (initial set) tidak boleh dipakai. Sedangkan untuk
beton kedap air dalam tanah hidrostatik pressure tidak boleh bahan kedap air yang mengandung bahan
stearate. bahan campuran tambahan beton harus sesua dengan iklim tropis AS 1978 & ASTM C 494
Type B & D sekaligus sebagai pengurang air adukan dan penunda pengerasan awal.
3). Semua admixture yang akan digunakan ditentukan berdasarkan hasil pekerjaan benda uji/contoh-
contoh yang dibuat dan telah mendapat persetujuan Konsultan Pengawas.
4). Untuk penyambungan kembali akibat terhentinya suatu pengecoran beton dipakai bahan perekat
CALBOND sebelum dicor dengan beton baru serta permukaannya harus dikasarkan. Jumlah
pemakaian untuk 1 M2 adalah 0,3 liter CALBOND dicampur dengan larutan semen/PC sekitar 25
%nya dengan cara ditaburkan.

g. Bekisting

1). Bekisting untuk PileCap dan Tie Beam digunakan pasangan Bata / Bataco
2). Bekisting untuk Plat lantai digunakan Bekisting Metaldeck / Bondek.
3). Bekisting Kolom dibuat dari panel multiplex 12 mm atau papan borneo tebal minimal 2 cm dengan
rangka penguat penyokong dan penyangga dibuat dari kayu borneo 5/7, 5/10 secukupnya, sehingga
mampu mendapatkan kekakuan dan kekuatan mendukung beton sampai selesai proses ikatan beton.
Untuk kolom struktur dipakai papan borneo tebal 3/20.
4). Steger cetakan/bekisting dipakai kayu borneo dengan ukuran minimum 5/10 cm atau pipa besi
(scaffolding). Tidak diperkenankan mempergunakan bambu.
5). Khusus cetakan bekisting untuk beton pracetak harus dibuat lebih kokoh dan lebih kaku, permukaan
panel lurus, halus sehingga menghasilkan bidang yang rata dan halus.

24.5 Persyaratan teknis

a. Komposisi campuran beton

1). Beton dibentuk dari semen portland/PC, pasir, kerikil, batu pecah, air seperti yang ditentukan ;
semuanya dicampur dalam perbandingan yang sesuai dan diolah sebaik-baiknya sehingga sampai
didapat kekentalan yang tepat.

1). Untuk mengetahui karakteristik dari beton tersebut, harus memenuhi syarat mutu beton menurut PBI
1971, disertai sertifikat hasil pengujian laboratorium pengujian beton dilaksanakan 4 (empat) kali
tahapan.

2). Ukuran maksimum dari agragat kasar dalam beton tidak boleh melampaui ukuran yand ditetapkan
dalam persyaratan bahan beton dan harus memperhitungkan celah lubang anatar tulang agar tidak
terjadi rongga-rongga beton.

3). Perbandingan antara bahan-bahan pembentuk beton yang dipakai untuk berbagai pekerjaan (sesuai
kelas mutu) harus ditetapkan dari waktu ke waktu selama berjalannya pekerjaan demikian juga
pemeriksaan terhadap agrqgat dan beton yang dihasilkan. Pebandingan campuran dan faktor air semen
yan tepat akan ditetapkan atas dasar beton yang dihasilkan yang mempunyai kekedapan, keawetan, dan
kekuatan yang dikehendaki. Faktor air semen dari beton tidak terhitung air yang dihisap oleh agregat
dan tidak boleh melebihi 0,55 (dari beratnya). Pengujian beton akan dilakukan oleh Kontraktor dan
perbandingan-perbandingan campuran harus diubah jika perlu untuk tujuan-tujuan seperti di atas dan
Kontraktor tidak berhak claim atas perubahan-perubahan yang demikian.

b. Pengujian dari Konsistensi Beton dan benda-benda uji Beton

1). Banyaknya air yang dipakai untuk beton harus diatur menurut keprluan untuk menjamin beton dengan
Konsistensi yangn baik dan untuk penyesuaian variasi kandungan lembab atau gradasi (perbutiran) dari
agregat waktu masuk dalam mesin pengaduk (mixer). Penambahan air untuk mencairkan kembali beton
padat hasil pengadukan yang terlalu lama atau yang menjadi kering sebelum dipasang tidak
diperkenankan. Keseragaman konsistensi beton untuk setiap kali pengadukan sengat perlu. Nilai slump
dari beton (pengujian kerucut slump) tidak boleh kurang dari 8 cm dan tidak melampaui 12 cm untuk
segala beton yang dipergunakan.

2). Kekuatan tekan dari beton harus ditetapkan melaui pengujian biasa dengan silinder berukuran 15 x 30
cm atau kubus 15 x 15 x 15 cm atau kubus 20 x 20 x 20 cm dibuat dan diuji sesuai dengan NI-2 PBI
1971. Pengujian slump disesuaikan dengan NI-2 PBI 1971 dan Kontraktor harus menyediakan fasilitas
yang diperlukan untuk mengerjakan contoh-contoh pemeriksaan yang erpresetatif, frekuensi akan
ditetapkan oleh Pengawas Lapangan (Pengawas Lapangan).

c. Benda uji
Selama pengecoran beton harus terdapat benda-benda uji sebagai berikut :
- Minimum 1 benda uji setiap hari
- Minimum 20 benda uji pada akhir pelaksanaan
- Setiap pengecoran 5 m3 dibuat 1 benda uji
- Yang terbesar menentukan

d. Persyaratan pelaksanaan

1). Rencana Cetakan


- Cetakan harus sesuai dengan bentuk dan ukuran yang diinginkan pada Gambar Kerja.
bahan yang akan dipakai untuk rencana cetakan harus mendapat persetujuan dari Konsultan
pengawas sebelum pembuatan cetakan dimulai.
- Panel cetakan hanya boleh dipergunakan 2 (dua) kali bolak-balik, atau setiap
permukaan hanya 1 (satu) kali.
- Semua cetakan harus kokoh
Konstruksi untuk cetakan harus diperkuat dengan kaso secukupnya sehingga menghasilkan beton
yang lurus rata. Dipersyaratkan untuk beton tampak (Exposed) adalah semi exposed aratinya
setelah cetakan dibongkar memberikan bidang yang rata dan hanya memerlukan sedikit
penghalusan.
- Sebelum beton dicor permukaan panel cetakan diminyaki secara merata untuk cegah
lekatnya beton pada cetakan.
- Celah - celah antara papan atau panel cetakan harus rapat sehingga pada waktu
pengecoran tidak ada air adukan yangkeluar.

2). Baja Tulangan

a). Baja tulangan beton sebelum dipasang harus bersih dari serpih-serpih, karat minyak gemuk
dan lapisan lain yang merusak atau mengurangi daya lekat dalam beton. Bentuk baja
tulangan sesuai dengan bentuk dan ukuran yang tertera pada gambar.
b). Baja tulangan harus dipasang dengan teliti sesua dengan Gambar Kerja.
Agar tulangan tetap tepat di tempatya maka tulangan harus diikat kuat dengan dengan kawat
beton (bindraat) dengan bantalan blok-blok beton cetak/beton decking atau kursi- kursibesi/cakar
ayam, perenggang, specer atau logam gantung (metal hanger) sesuai dengan kebutuhan. Dalam
segala hal untuk baja tulangan yang horizontal harus digunakan penunjang yang tepat sehingga
tidak akan ada batang yang turun.
c). Penempatan besi beton di dalam cetakan tidak boleh menyinggung dinding atau dasar
cetakan serta harus mempunyai jarak tetap untuk setiap bagian - bagian konstruksi
tertentu seperti : kolom dan balok 2,5 cm, plat beton 1,5 cm.
d). Penyambungan Jika diperlukan untuk menyambung tulangan Overlap pada sambungan untuk
tulang - tulangan dinding tegak (vertikal) dan kolom sedikitnya harus 40 (empat puluh)
diameter batang.

3). Pengadukan, pengangkutan, pengecatan, pemadatan dan perawatan beton harus dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan di dalam PBI 1971 pasal 6.1. sampai dengan pasal 6.6.

4). Mengaduk
Bahan-bahan pembentuk beton harus dicampur dan diaduk dalam “Mesin Pengaduk Beton” yaitu Bath
Mixer atau Portabel Continues Mixer, dalam hal ini hars dujaga adukan plastis merata danntidak boleh
ada bagian air yang tidak terikat oleh bahan beton. Truk Pengaduk (Truck Mixer) diatur sedemikian
rupa, sehingga beton dari adukan ke adukan mempunyai konsistensi dan mutu yang sama. Pengaduk
yang sewaktu-waktu memproduksi dengan hasil yang tidak memuaskan harus diperbaiki. Mesin
pengaduk yang disentralisir (Batching Mixing Plant) harus diatur, sehingga pekerjaan mengaduk dapat
dapat diawasi dengan mudah dari station operator. Tiap mesin pengaduk diperlengkapi dengan alat
mekanis untuk mengatur waktu dan jumlah adukan.
5). Suhu
Suhu beton waktu di Cor/dituang tidak boleh lebih dari 32 derajat dan biula suhu dari beton yang ditaruh
berada anatara 27 sampai 32 derajat celciuis, beton harus diaduk di tempat pekerjaan untuk kemudian di
Cor.

6). Pengangkutan Beton


Cara-cara dan alat-alat yang digunakan untuk pengangkutan beton harus sedemikian rupa sehingga
beton dengan komposisi dan kekentalan yang diinginkan dapat dibawa ke tempat pekerjaan tanpa
adanya pemisahan dan kehilangan nilai slump.

7). Pengecoran

- Beton tidak boleh di cor sebelum semua pekerjaan cetakan bekisting selesai, Ukuran dan letak baja
tulangan baja tulangan beton sesuai dengan Gambar Pelaksanaan pemasangan instalasi - instalasi
yang harus ditanam, besi penggantung plafond sesuai pola kerangka langit -langit, besi
penggantung, cable tray dan stek-stek penyokong dan pengikatan serta lain-lain telah selesai
dikerjakan. Sebelum pengecoran dimulai permukaan - permukaan yang berhubungan telah disetujui
Pengawas Lapangan.

- Sebelum pengecoran beton semua permukaan pada tempat pengecoran beton (cetakan)
harus bersih dari air yang tergenang, reruntuhan dan barang lepas. Permukaan bekisting
dari bahan - bahan yang menyerap pada tempat-tempat yang akan di cor harus dibasahi
dengan merata sehingga kelembaban air dari beton yang baru di cor tidak akan diserap.

- Pada pengecoran, beton baru ke permukaan beton yang telah di cor terlebih dahulu
permukaan beton lama tersebut harus bersih, dilembabkan dan dikasarkan. Pada
sambungan pengecoran ini harus dipakai perekat beton yang disetujui oleh Pengawas Lapangan.

- Perlu diperhatikan letak jarak/sudut untuk setiap penghentian pengecoran yang


akan masih berlanjut terhadap sistem struktur/penulangan yang ada.

- Koordinasi dengan pekerjaan elektrikal, sanitasi dan mekanikal harus dilakukan sebelum
pengecoran dimulai. Terutama yang menyangkut pipa-pipa sparing yang menembus/tertanam
dalam beton untuk keprluan setiap disiplin kerja.

- Beton boleh dicor hanya waktu Konsultan Pengawas serta Kontraktor ada di tempat kerja dan
persiapan betul-betul memadai.

- Dalam semua hal, beton yang akan dicor harus diusahakan agar pengangkutannya ke posisi terakhir
harus sependek mungkin, sehingga tidak terjadi pemisahan antar kerikil dan spesi pada waktu
pengecoran.

- Pengecoran beton untuk bagian yang vertikal seperti kolom, harus menggunakan tremie dengan
tinggi jatuh tidak boleh lebih dari 2 (dua) m. Pengecoran beton untuk bagian horizontal seperti :
plat, balok, parapet harus dicor lapis demi lapis horizontal menyeluruh dengan ketebalan perlapis <
50 cm. Konsultan Pengawas mempunyai hak untuk mengurangi tebal tersebut apabila
pengecoran dengan tebal lapisaan 50 cm tidak dapat memenuhi spesifikasi.

- Pengecoran beton tidak diperkenankan selama hujan deras atau lama sehingga
sedemikian rupa sehinggga speci/mortal terpisah dari agregat kasar. Suatu pengecoran
yang sudah dimulai pada suatu bagian tidak boleh terputus sebelum bagian itu selesai.
- Setiap lapisan beton harus dipadatkan sepadat mungkin sehingga ia bebas dari kantong -
kantong kerikil dan menutup rapat-rapat semua permukaan dari cetakan dan material yang
diletakan. Dalam pemadatan setiap lapisan dari beton kepala alat penggetar (Vibrator)
harus dapat menembus dan menggetarkan beton pada bagian atas dari lapisan
yang terletak di bawah. Lamanya penggetaran tidak boleh menyebabkan terpisahnya
bahan beton dengan airnya.

- Untuk pengecoran kolom, plat lantai ataupun balok, agar dalam pelaksanaannnya lebih efektif
diwajibkan menggunakan tremie yang disediakan oleh Pengusaha “beton ready mix”.

8. Waktu dan Cara-cara Pembukaaan Cetakan


Waktu dan cara-cara pembukaan dan pemindahan cetakan, harus dilakukan dengan hati-hati untuk
menghindarkan kerusakan pada beton. Beton baru dapat diijinkan dibebani setelah berumur 28 (dua
puluh delapan) hari, kecuali beton yang menggunakan bahan additives. Permukaan beton harus
diperiksa dengan teliti, permukaan yang tidak rata, berongga dan tidak rata/rapi harus segera
diperbaiki sampai disetujui oleh Pengawas Lapangan.

9. Perawatan (Curing)
Semua beton harus dirawat (cured) dengan air seperti ditentukan dibawah ini. Beton yang
dirawat (cured) dengan air harus tetap basah paling sedikit 14 (empat belas) hari secara terus menerus
sesudah beton cukup keras, untuk mencegah kerusakan dengan cara menutupnya dengan bahan yang
dibasahi air atau dengan pipa berlubang. Pengawas Lapangan berhak menentukan cara/sistem
perawatan yang harus dilaksanakan pada tiap bagian pekerjaan beton.

10. Perlindungan (Protection)


Kontraktor harus melindungi semua beton terhadap kerusakan-kerusakan sebelum dapat diterima
oleh Pengawas Lapangan. Permukaan beton yang terbuka harus dilindungi dari sinar matahari
yang langsung paling sedikit 3 (tiga) hari sesudah pengecoran. Perlindungan seperti itu harus
dibuat efektif secepatnya setelah pengecoran dilaksanakan.

11. Perbaikan permukaan beton


- Jika hasil pembukaan cetakan terdapat beton yang tidak tercetak dengan baik
menurut gambar atau diluar garis permukaan atau ternyata ada permukaan yang
rusak, hal itu dianggap tidak sesuai dengan spesifikasi dan harus dibuang/dibongkar dan diperbaiki
atas biaya pemborong. Apabila kerusakan tersebut dapat diperbaiki atas izin Pengawas
Lapangan dengan cara ditambal pada tempat yang rusak, maka teknik penambalan harus
dilaksanakan sebagai berikut.

- Kerusakan yang memerlukan pembongkaran dan perbaikan ialah yang terdiri dari ; sarang
kerikil, kerusakan - kerusakan karena cetakan, lubang - lubang baut, ketidakrataan
dan bengkok kecil, maka dilaksanakan dengan pemahatan kemudian digosok dengan
gurinda. Lubang-lubang pahatan harus diberi pinggiran tajam dan dicor sedemikian rupa sehingga
pengisian akan terkunci rapat ditempatnya. Semua lubang harus terus menerus dibasahi
selama 24 (dua puluh emapat) jam sebelum dicor.

12. Pipa sparing listrik


Pipa sparing untuk listrik digunakan dengan pipa PVC sekwalitas AW dengan alur sesuai gambar
kerja yang dilengkapi dengan doos dan kawat penarik kabel didalam sparing pipa. Untuk posisi pipa
sparing ini, kontraktor harus memperhatikan dan meneliti gambar kerja elektrikal.

13. Beton tumbuk


Semua beton tumbuk untuk rabat atau lantai harus mempunyai kemiringan agar air tidak menggenang
pada permukaan tanpa ada cekungan.
14. Gambar Detail Pelaksanaan (Shop Drawing)
- Semua gambar detail pelaksanaan (shop drawing) harus memenuhi persyaratan
seperti yang terurai dalam RKS ini.
- Pembuatan cetakan beton (bekisting) yang menyangkut detail prinsif harus di buat Shop Drawing
untuk dimintakan persetujuan tertulis dari Pengawas Lapangan.

15. Pipa-pipa instalasi


- Semua pipa-pipa (air hujan, elektrikal, gas dan lain-lain) serta bagian-bagian yang tertanam
didalam atau bersinggungan dengan beton harus dibuat dari bahan yang tidak merusak beton.
- Pipa-pipa yang ditanam didalam plat, balok beton dan kolom tidak boleh mempunyai diameter lebih
dari 1/3 tebal plat atau balok tempat pipa tersebut tertanam, dan jarak dari pusat ke pusat pipa tidak
boleh lebih kecil dari 3 kali diameter pipa.

- Semua pipa serta serta bagian - bagian yang menembus lantai, balok dan kolom harus
mempunyai ukuran dan letak yang tidak mengurangi kekuatan konstruksi (harus dipilih tempat
momen = 0) atau sesuai petunjuk Pengawas Lapangan.

PASANGAN PONDASI TIANG PANCANG

Lingkup Pekerjaan
1. Scope pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh Kontraktor adalah:
Menyediakan semua perlengkapan kerja, tenaga kerja, peralatan pancang, bahan-bahan
dan melaksanakan semua pekerjaan sehubungan dengan pembuatan dan pemancangan tiang pancang mini serta test
pembebanan. Semua peralatan dan bahan-bahan ini harus diajukan terlebih dahulu kepada Pengawas sebelum
pekerjaan dimulai untuk dapat disetujui.
2. Pelaksanaan pekerjaan tiang pancang mini memerlukan ketepatan, ketelitian dan pengetahuan pelaksanaan
yang cukup tinggi. Kontraktor harus mampu menyediakan peralatan yang baik lengkap dengan pekerja-
pekerja / pengawas ahli yang trampil dan berpengalaman

Penyerahan Dokumen
1. Umum: Serahkan yang berikut ini sesuai dengan persyaratan Kontrak.
2. Laporan pengujian material beton.
3. Laporan pengujian beton, mencatat informasi yang perlu dan sertifikat kesesuaian dengan persyaratan proyek.
4. Laporan sertifikasi tiang pancang untuk setiap tiang, mencatat panjang tiang dan puncak aktual, penyimpangan
kemiringan shaft, nilai kalendering / final set dan keadaan khusus.
5. As-built drawing pekerjaan tiang harus diserahkan kepada Pengawas setelah pekerjaan pemancangan tiang.
6. Laporan Test Beban dan hal lain yang berkaitan.

1. Kualifikasi pelaksana tiang pancang: Tidak kurang dari tiga kontrak pekerjaan yang dilaksanakan secara
sukses dengan kondisi dan volume pekerjaan yang sedikitnya dengan proyek ini.
2. Agen pengujian beton: Gunakan laboratorium pengujian untuk melakukan pengujian evaluasi bahan dan
merencanakan adukan beton yang digunakan untuk pembuatan tiang pancang.
3. Bahan dan pekerjaan terpasang dapat memerlukan pengujian dan pengujian ulang setiap saat selama
berlangsungnya pekerjaan. Sediakan jalan ke tempat penimbunan dan fasilitas bahan. Pengujian yang tidak secara
spesifik dinyatakan untuk dikerjakan atas biaya Pemberi Tugas, termasuk pengujian ulang atas bahan yang ditolak
dan atas pekerjaan terpasang, adalah tanggung jawab Kontraktor.
4. Sertifikat material, yang menyatakan kesesuaian sifat material terhadap persyaratan, dapat diserahkan untuk
menggantikan pengujian jika diijinkan olel Pengawas. Sertifikat harus ditanda-tangani oleh produsen bahan dan
kontraktor.
Proteksi Pekerjaan
1. Kontraktor harus bertanggung jawab penuh untuk semua kerusakan pada bangunan yang berdekatan yang
disebabkan oleh pemancangan tiang. Kerusaka harus diperbaiki atas beban biaya Kontraktor.
2. Lindungi struktur, utilitas bawah tanah dan konstruksi lainnya dari kerusakan yang disebabkan operasi
pemancangan.
3. Atur urutan pekerjaan dan pekerjaan lainnya (penggalian, shoring system dll) untuk menghindari kelongsoran.

Syarat Bahan
A. Tiang pancang mini segi empat (Square) dengan ukuran 300x300 mm.
B. Mutu beton minimal K-450.
C. Tulangan beton tiang pancang : 4 D 16 (U.39) + sengkang  12 .
D. Batang tulangan dan Dowel: Sll, batang baja ulir dengan tegangan leleh 2262 Kg/cm2 untuk tulangan utama.
E. Tulangan spiral: Sll, batang baja polos dengan tegangan leleh 2262 Kg/Cm2
F. Sambungan tiang pancang dengan las pada plat baja setebal 8 mm.
G. Panjang tiap segmen tiang pancang adalah 6.0, 6.0, 6.0, 5.0 M
H. Daya dukung ijin 1 tiang Uk. 300x300 mm adalah minimal 810 kN (81 ton)

Pelaksanaan Pemancangan
i. Driving Cap
Selama pekerjaan pemancangan, kepala tiang harus dilindungi dengan suatu bantalan / driving cap.
ii. Pengikat
Selama pekerjaan pemancangan, tiang pancang harus diikat sedemikian sehingga tiang tidak dapat bergerak pada
arah horizontal.
iii. Sistem tekan (jawsystem)
 Semua tiang harus dipancang/ditekan secara kcntinu tanpa berhenti sampai mencapai lapisan yang
diperlukan dengan kalendering sesuai dengan daya dukung tiang yang disyaratkan.
 Tiang pancang harus dipancang sampai suatu kedalaman yang dipersyaratkan(+/- 23 meter) dengan cara
system tekan (jaw system)
iv. Tiang pancang tambahan
Suatu tiang pancang yang rusak pada saat pemancangan atau pengangkatan / pengangkutan, yang
mengakibatkan kebutuhan struktur tiang tidak dapat dipertanggung-jawabkan, harus diganti atau dipakai
tiang pancang tambahan dengan persetujuan Pengawas tanpa tambahan biaya.
v. Toleransi pelaksanaan: Tempatkan sumbu pusat tiang dalam batas toleransi sebagai berikut:
 Penyimpangan maksimum yang diijinkan tidak boleh lebih dari 75 mm.
 Untuk kelompok dengan 2 tiang atau lebih maka toleransi pergeseran jarak satu tiang dengan yang lainnya
tidak boleh lebih dari 100 mm.
 Kemiringan shaft antar ujung-ujungnya menyimpang tidak lebih dari 1.5 persen panjang tiang atau 150
mm, mana yang lebih kecil.
Jika toleransi tersebut terlampaui, maka buat konstruksi perkuatan pada bagian struktur bangunan tertentu untuk
mengimbangi eksentrisitas yang berlebihan. Serahkan metode konstruksi perkuatan yang diusulkan kepada
Pengawas untuk direview sebelum dilaksanakan.
Paling lambat 5 hari setelah pemancangan selesai dengan sepengetahuan Pengawas, Kontraktor mengirim data
kemiringan dan letak akhir tiang pancang terhadap as bangunan kepada Pengawas.
vi. Perubahan Poer
Perubahan poer akibat penambahan tiang dan / atau toleransi jarak antar tiang< yang tidak terpenuhi, maka biaya
tambahan pekerjaan poer menjadi tangguni jawab Kontraktor Pondasi Tiang.
Test Beban
A. Kontraktor akan melakukan test uji beban vertikal tekan skala penuh dengan jumlah sebagai berikut :
Test beban vertikal atas 1 (satu) dari setiap 100 tiang pancang atau minimal: (dua) buah atas tiang pancang
mini segi empat ukuran 300 mm.
B. Jika suatu test beban gagal, maka tambahan 2 test beban lagi harus dilakukan dan tidak boleh gagal, semuanya
atas beban biaya Kontraktor. Kontraktor harus menyediakan tambahan tiang dalam kelompok tiang yang gagal,
tanpa tambahan pembayaran.
C. Percobaan beban pertama diadakan setelah pekerjaan pemancangan .menyelesaikan ± 5 0 % titik dengan
mengevaluasi hasil pemancangan yang ada. Percobaan beban terakhir dilakukan setelah pekerjaan pemancangan
selesai 100%.
D. selama test beban, tidak boleh ada pemancangan tiang yang dikerjakan. Tiang yang akan ditest, harus dipilih
oleh Pengawas/Perencana secara random berdasarkan data pemancangan.
E. Kontraktor harus mencatat semua kejadian pada tiang pancang selama test beban dan membuat laporan yang
harus disetujui oleh Pengawas.
F. Sekalipun test beban dilakukan hanya atas tiang-tiang tertentu, Kontraktor harus bertanggung jawab dan menjamin
bahwa semua tiang memenuhi syarat dalam batas toleransinya. Penerimaan beberapa tiang tidak melepas
tanggung jawab Kontraktor atas semua pekerjaan pondasi dan atas akibat penurunan pada struktur atas
bangunan.

Panjang Tiang Pancang dan Daya Dukungnya


A. Panjang tiang diperkirakan 20 meter di bawah pile cap dan harus disesuaikan dengan hasil penyelidikan
tanah. Tiang akan dipancang pada lapisan tanah sampai mencapai kedalaman tanah keras. Dalam segala
hal panjang tiang minimum adalah 10 kali ukuran/diameter penampang.
B. Berdasarkan hasil penyelidikan tanah, daya dukung tiang untuk ukuran 300x300 mm adalah 810 kN (81 Ton) .
Prosedur test beban dan peralatanya
Metode test beban harus mencakup:
Prosedur pembebanan vertikal atas tiang tunggal, untuk mengukur hubungan antara pembebanan vertikal dan
panurunan kepala tiang. Prosedur pembebanan dan peralatan untuk test harus sesuai dengan ASTM D-1143-81
cyclic loading procedure.
Peralatan untuk test terdiri dari:
Tiang test.
Hydraulic jack.
Balok transfer baja dan blok beton (atau beban pengganti lainnya).
Dial gauge.
Alat water level.
Alat pembebanan :
Beban vertikal (tekan) akan ditransfer ke tiang dengan mengoperasikan hydraulic jack, yang
disangga oleh balok baja dan beban blok beton (atau penggantinya), yang lebih berat dari
beban test (sistem Kentledge).
Dial gauge: Dial Gauge harus dapat mengukur pergerakan minimal 50 mm dan mempunyai ketelitian pembacaan sampai
0.01 mm. Dial gauge harus sudah dikalibrasi oleh lembaga yang berwenang sebelum digunakan. Kontraktor
bertanggung jawab menyediakan dan memasang dial gauge di sekeliling kepala tiang di atas pendukung balok
baja yang cukup kaku sedikitnya sebanyak 4 gauge untuk test beban vertikal tekan.
Bagian tiang diatas batas level pengalian yang akan datang harus dibebaskan dari tahanan skin
friction tanah dengan, melepas tiang dari tanah pada bagian ini (misalnya dengan pemboran sekeliling
tiang).
Beban test (tekan) yang digunakan harus berdasarkan prosedur pembebanan cyclic sebesar:
 200 % kali beban kerja rencana untuk tiang permanen.
Peningkatan beban harus dilakukan secara gradual bertahap sebesar 50°/ 100%, 150% dan 200% dari beban kerja
rencana, berdasarkan schedul ASTM D-1143-81 section 5.2 (cyclic loading procedure)
Kriteria penerimaan adalah sebagai berikut:
Rate of settlement maksimum 1.27 mm/ton.

 Total settlement maksimum 25.4 mm


 Permanent settlement (rebound) maksimum 6.35 mm
A. Prosedur pembacaan settlement (penurunan)
Untuk setiap pembebanan (termasuk beban nol), pembacaan dicatat untuk pembacaan awal, pembacaan akhir dan pada interval maksimum
1 menit.
Jika kegagalan terjadi, pembacaan dicatat segera sebelum beban mulai menurun.
B. Laporan: Laporan harus berisi
Deskripsi keadaan tanah pada lokasi tiang yang ditest.
Data peralatan bor.
Data tiang dan catatan pemboran.
Data alat test beban termasuk jack, manometer, dial gauge beserta sertifikat kalibrasinya.
Pembacaan penurunan (settlement) dan pergeseran (displacement) pada interval waktu tertentu untuk setiap
peningkatan/pengurangan beban.
Grafik waktu-beban-penurungan atau waktu-beban-pergeseran.
Catatan atas setiap keadaan khusus selama test beban.
Evaluasi dan perhitungan perkiraan daya dukung dengan menggunakan beberapa metode (Chin, Davisson,
De Beer, Mazurkiewics).
Pasal 24
PEKERJAAN LABURAN DAN PENGECATAN

1. Lingkup Pekerjaan

a. Pekerjaan ini meliputi :

1). Pekerjaan Pengecatan besi semua pekerjaan besi yang di ekspose.


2). Pekerjaan pengecatan dinding, beton dan plafond.
3). Pekerjaan pengecatan, Polituran, Melamic kayu,
4). Pekerjaan pengecatan lain seperti tercantum dalam Gambar

b. Pekerjaan Pengecatan Metal

Semua metal seperti tersebut di atas seperti tercantum dalam Gambar Kerja dengan ketentuan sebagai
berikut :

1). Semua bagian/permukaan yang tampak/"esposed" di cat sampai dengan cat :”finish".
2). Semua bagian / permukaan yang tidak ditampakkan/ "un exposed" menempel ke bahan /material lain,
tertutup oleh bahan/material lain di cat hanya sampai dengan cat anti karat atau cat dasar/primer.

c. Pekerjaan Pengecatan dinding/permukaan pasangan batu bata, beton dan plafond.


Semua dinding/permukaan pasangan batu beton & plafond yang tampak/"exposed" seperti tercantum
dalam Gambar Kerja.

d. Pekerjaan Pengecatan Kayu


Semua kayu yang terpasang baik yang termasuk pekerjaan kayu halus maupun kayu kasar seperti
tercantum dalam Gambar Kerja dengan ketentuan sebagai berikut :
1). Semua bagian/permukaan yang tampak/"esposed" di cat sampai dengan cat "finish" yang diperinci lebih
lanjut sebagai berikut :
* Cat "finish" warna untuk permukaan yang tidak ditonjolkan serat kayunya.
* Cat "finish" jenis "clear" untuk permukaan yang ditonjolkan serat kayunya sesuai dengan
ketentuan di Gambar Kerja.
2). Semua permukaan yang tidak ditampakkan /"Unexposed" dicat hanya sampai dengan cat dasar.
3). Khusus untuk konstruksi dan rangka atap yang tidak ditampakkan dilakukan dengan residu
ketentuan ini tidak berlaku.

e. Pekerjaan Pengecatan Pipa PVC


Semua pipa talang dari bahan/material PVC yang dalam Gambar Kerja ditampakkan.

2. Persyaratan Umum

a. Seluruh pekerjaan ini harus memenuhi persyaratan dalam Standard dan normalisasi di Indonesia dan atau
sesuai dengan Spesifikasi pabrik pembuat.

b. Pabrik dan Kontraktor harus memberi jaminan minimal selama lima (5) tahun terhitung dari waktu
penyerahan atas semua pekerjaan ini terhadap kemungkinan cacat, warna yang berubah dan kerusakan cat
lainnya.
3. Persyaratan Bahan

a. Bahan dari kualitas utama, tahan terhadap udara dan garam. Produk Cat :

- Pengecatan Dinding menggunakan cat Dulux ICI , Jotun (interior), Jotun Dulux ICI
Weathershild (exterior),Mowilex, jotun
- Pengecatan Plafond menggunakan cat Vinilex, Jotun, Dulux
- Cat Minyak Lisplank menggunakan cat SEIV
- Pengecatan Besi menggunakan cat DUCO

b. Bahan didatangkan langsung dari pabrik.


Tiba di Tapak/Site konstruksi harus masih tersegel baik dalam kemasannya dan tidak cacat,serta disetujui
Pengawas Lapangan.

4. Persyaratan Teknis

a. Peralatan seperti: Kuas, Roller, Sikat kawat,Kape, dan sebagainya; harus tersedia dari kualitas baik dan
jumlahnya cukup untuk pekerjaan ini.
b. Semua cat dasar harus disapukan dengan kuas. Pelaksanaan pekerjaan pengecatan cat dasar untuk
komponen bahan metal,harus dilakukan sebelum komponen tersebut terpasang.

5. Persyaratan Pelaksanaan
a. Hasil pekerjaan yang tidak disetujui Konsultan Pengawas harus diulang dan diganti. Kontraktor harus
melakukan pengecatan kembali bila ada cat dasar atau cat finish yang kurang menutupi atau lepas,
sebagaimana ditunjukkan oleh Konsultan Pengawas. Biaya untuk hal ini ditanggung Kontraktor, tidak
dapat di "claim" sebagai pekerjaan tambah.

b. Pekerjaan Pengecatan Dinding, Plafond dan beton

1). Sebelum pelaksanaan pengecatan seluruh permukaan harus dibersihkan dari debu, lemak,
kotoran atau noda lain, bekas cat yang terkelupas dan dalam kondisi kering.
2). Untuk meratakan permukaan dinding atau beton digunakan plamir tembok sampai rata, kemudian
dihaluskan dengan hampelas dan dibersihkan dari debu. Dan Khusus untuk pengecatan dinding bagian
luar untuk meratakannya tanpa menggunakan plamir , cukup dengan menghaluskan dengan amplas
saja.
3). Pengecatan dilakukan berulang-ulang sampai 3 (tiga) lapisan. Pengecatan lapisan pertama dan
lapisan berikutnya harus diberi jarak waktu selama 24 jam agar cat cukup kering dan meresap
pada bidang pengecatan.
4). Untuk pengecatan langit-langit karena sulit dijangkau dengan kuas dapat menggunakan roller.
5). Hasil pengecatan yang belang dan tidak rata harus diperbaiki dan diulang kembali.

c. Pekerjaan Pengecatan Kayu

1). Sebelum pelaksanaan pengecatan seluruh kayu harus sudah diberi lapisan anti rayap.

2). Pekerjaan persiapan sebelum pengecatan


- Kayu harus dalam keadaan kering,
- Gosok dengan batu kambang, kemudian digosok dengan hampelas No. 0
- Beri wood filler untuk menutupi pori-pori dan celah kayu. Setelah 1/2 jam gosok dengan hampelas
halus. Wood filler / dempul kayu harus dilakukan secara merata sehingga menutupi pori-pori kayu
sehingga permukaan kayu hasil hampelas benar-benar halus.
3). Pelaksanaan pengecatan.
- Setelah bidang permukaan kayu halus dan rata (lapisan pertama), maka penge-catan dapat
dilaksanakan dengan kuas dengan ketebalan lapisan 30 mikron atau daya sebar 15 - 17 m2 per liter.
- Pengecatan lapisan terakhir / finish dapat dilakukan setelah lapisan kedua kering betul yaitu + 24
Jam.
- Hasil pengecatan harus selalu dijaga dan dilindungi dari kotoran dan goresan
benda tajam agar tetap bersih dan rapih.

d. Pekerjaan Pengecetan Metal

Seluruh metal harus dicat dasar dengan zincrhomate, baik yang ekspos (tampak) ataupun yang tidak
tampak.
1). Persiapan sebelum pengecatan.
Bersihkan permukaan dari kulit giling (kerak/"Millscale"), karat, minyak,lemak dan kotoran
lainsecaratelitiseksama dan menyeluruh ; sehinggapermukaan yang dimaksud menampilkan tampak
metal yang halus dan mengkilap. Pekerjaan ini
dilaksanakan dengan Sikat Kawat mekanik/ "Mechaical Wire Brush". Akhirnya permukaan
dibersihkan dengan sikat.
2). Pekerjaan Cat Primer / Dasar dilaksanakan sebelum komponen bahan / material
Metal terpasang.

e PEKERJAAN MELAMIC

e.1 LINGKUP PEKERJAAN


Pekerjaan yang dimaksud meliputi pekerjaan pengecatan kayu untuk permukaan yang dinyatakan
ditampakkan serat kayunya atau seperti ditunjukkan dalam gambar kerja.

e.2 PERSYARATAN BAHAN

e.2.1 Bahan didatangkan langsung dari pabrik. Tiba di tapak konstruksi harus masih tersegel baik
dalam kemasannya dan tidak cacat.
Kontraktor wajib membuktikan keaslian cat dari produk tersebut diatas mengenai kemurnian
cat yang akan digunakan. Pembuktian berupa segel kaleng, test BD, test laboratorium dan
hasil akhir pengecatan.
Biaya untuk pembuktian ini dibebankan kepada kontraktor. Hasil test kemurnian harus
mendapat rekomendasi tertulis dari produsen dan diserahkan kepada direksi/perencana untuk
persetujuan pelaksanaan.

e.3 PERSYARATAN PELAKSANAAN

e.3.1 Lapisan Pertama


Bahan Wood Filler
Kayu/sungkai plywood diberikan bahan wood filler secara merata dan menutupi pori-pori
dihaluskan/diratakan dengan ampelas halus.

e.3.2 Lapisan Kedua.


Bahan pewarna/woodstain.
Pelaksanaan pekerjaan dengan spray gun.
Setelah kondisi 75% - 90% kering, permukaan dibersihkan dengan kain lap hingga bersih.
Untuk mendapat warna yang lebih tua, pekerjaan woodstain harus berulang kali atau
minimum 3 kali. Warna ditentukan kemudian, tunggu hingga lapisan kering betul sebelum
pelapisan selanjutnya.
e.3.3 Lapisan Ketiga.
Cat dasar dari jenis Sanding Sealer.
Tujuannya untuk lebih menutupi pori-pori atau celah kayu sehingga terbentuk dasar yang
halus. Pelaksanaan pekerjaan dengan spray gun, disemprotkan tipis dahulu agar warna
woodstain tidak larut dan urat kayu tidak tertutup (open pore).
Pengencer adalah thinner dengan perbandingan 1 : 1. Tunggu hingga lapisan kering betul
sebelum pekerjaan selanjutnya.

e.3.4 Lapisan Keempat, Kelima dan Keenam.


Cat akhir/top coat finish jenis melamic clear dof. Pelaksanaan pekerjaan dengan spray
gun, pengencer adalah thinner super. Bila musim hujan dengan kelembaban sangat tinggi
harus ditambahkan 5% retarder RD 02 pada thinner. Tenggang waktu antara pelapisan
minimum 12 jam. Warna ditentukan kemudian dalam colour scheme material.

e.3.5 Hasil akhir finishing melamic harus rata, permukaannya halus dan intensitas warna untuk
setiap bagian interior - furniture harus sama (disesuaikan colour scheme material).

Pasal 25
PEKERJAAN ATAP

1. Lingkup Pekerjaan

a. Pekerjaan ini meliputi :

1). Pekerjaan rangka atap.


2). Pekerjaan penutup atap.

1. Pekerjaan Rangka Atap

1.1 Persyaratan Bahan dan pelaksanaan


Rangka Atap menggunakan rangka atap baja ringan dengan menggunakan profil S sebagai frame, frofil kapsul
sebagai WEB, Baut+mur sebagai sambungan dan aksesories sebagai pendukung kekuatan struktur.

Gerakan yang terjadi akibat Gempa lebih besar kearah Gerak Horizontal, hal ini besar pengaruhnya terhadap kekuatan ikat
struktur atap khususnya dan bangunan umumnya.
Ada beberapa poin penting dalam struktur atap baja ringan yang perlu diperhatikan agar dapat meminimalisir bahaya gempa
disamping balok struktur penopang atap kuda kuda baja ringan itu sendiri, yaitu :
1. Ikatan antara frame dan Web harus kuat maka dari itu untuk konektor sambungan 1.2 Truss memakai sistem
konektor baut

2. Fisik sambungan mengarah ke pusat ( Web mengarah dan sejajar pada titik pusat ) untuk system jenis kuda –
kuda baja ringan 1.2 Truss lebih menekan kan pada pengoptimalan kekuatan web secara simetris sebagai pengaku
struktur kuda kuda tersebut
3. Aksesoris dan sambungan pada struktur kuda-kuda (baik struktur sambungan truss ketemu truss ataupun
truss ketemu struktur balok bangunan) harus kuat, Maka dari itu 1.2 truss menciptakan beberapa aksesoris sebagai
pendukung kekuatan bagi keseluruhan kuda-kuda tersebut agar kokoh, kuat, dan kaku .(lihat daftar dan fungsi
aksesoris)

4. Pengikat kuda-kuda terhadap balok struktur harus kuat (Angkur ) dalam hal ini 1.2 Truss menciptakan
aksesoris yang wajib dipakai yaitu T01 sebagai pengaku dudukan kuda -kuda baja ringan terhadap balok struktur
(lihat daftar dan fungsi aksesoris)
 Merek dagang One Two Truss /1.2 TRUSS by Atap-Indonesia (Roofing Spesialities)
 Hight Tensile Steel G550 (Hi-Ten)
 Minimum Yield Strength : 550 MPa
 Modulus Elasticity : 2,1 x 105 MPa
 Shear Modulus 4
: 8 x 10 MPa
 Lapis dasar material baja ringan dilapis dengan zinc, aluminium and silikon alloy
 Rangka
Profil berbentuk S dan Web bentuk Capsule dengan pengiktat Baut-Mur
a. Frame : bentuk S 85.50 (Tinggi profil 85 mm dan tebal 0.75 - 08mm BMT)
b. Web : Capsule 62.27 (Tinggi 62 mm dan tebal 045 - 0,5 mm BMT)
c. Baut-Mur : Hexagonal Bolt, diameter 12mm
2. Pekerjaan Penutup Atap
Atap Genteng Metal Spanroof berpasir plus rubber coating Insulasi
2.1Produk
Atap Genteng Metal Spanroof bplus ruber coating insulasi Insulasi Harus memiliki
Uji Sertifikat kemampuan meredam panas sebesar 30% dan suara sebesar
6.5dByang dikeluarkan oleh badan uji material Sucofindo
Atap Genteng Spanroof berpasir plus rubber coating insulasi
Atap Genteng Spanroof berpasir plus coating insulasi berbahan dasar Metal Zinkalum
ZinkCoatid G550 serta pada bagian atasnya dilapisi Peredam Panas dan Suara yang
berbahan dari Rubber Powder dimana lapisan peredam ini menjadi satu kesatuan material
utuh dengan metal zinkalaum
Atap Genteng Metl Maha longspan Insulasi dapat di supply dengan ketentuan sebagai
berikut :
- Panjang Material : 1000 mm – 6000 mm
- Lebar material : 1040 mm
- Tinggi Gelombang : 35 mm
- Tebal : 0.35 mm
- Finishing metal atas : granules/ batuan
- Peredam dibagian bawah : rubber powder coating insulasi
- Garansi Material : 3 Tahun (perubahan warna )

- Sertifat Sucofindo : Kemampuan meredam panas 30% dan suara 6.5 dB

1. Garansi Produk
Material Atap Genteng Maha Longspan Insulasi adalah satu kesatuan sistem antara penutup atap
asesorisnya dimana Sistem ini harus diaplikasikan bersama sma sehingga menjadi satu kesatuan utuh
untuk memberikan jaminan produk selama 3 tahun

PASAL 26
PEKERJAAN ELEKTRIKAL
C. LINGKUP PEKERJAAN

1.1. Syarat Umum


1. Pekerjaan yang dimaksud disini adalah pekerjaan Pengadaan, Pemasangan (Instalasi) dan Pengujian
Sistem secara keseluruhan sesuai dengan gambar dan Rencana Kerja dan Syarat-syarat sehingga
dapat bekerja dan berfungsi dengan baik.
Adapun pekerjaan yang dimaksud diatas adalah sebagai berikut:
 Pekerjaan instalasi distribusi listrik Tegangan Rendah (220/380V) secara menyeluruh sehingga
instalasi berfungsi sesuai gambar rencana.
 Pekerjaan distribusi sistem Pengindera Kebakaran (Addressable sesuai dengan sistem yagg
sedang berjalan) serta pengembangan sistem MCFA yang terpasang sehingga kapasitas
terpenuhi.
 Pekerjaan instalasi LAN berikut kelengkapannya sehingga sistem tersebut dapat bekerja dengan
baik.
 Pekerjaan pemasangan Rak Kabel sesuai gambar rencana.
 Pekerjaan pemasangan Penangkal Petir sesuai gambar rencana.
 Pekerjaan pemasangan sistem telepon sesuai gambar rencana.
 Pekerjaan pemasangan sistem public address dan tata suara sesuai gambar rencana.
 Pekerjaan pemasangan sistem close circuit television sesuai gambar rencana.
 Pekerjaan pemasangan isolation transformer sesuai gambar rencana.
 Pemasangan sistem pembumian secara lengkap dan benar sesuai gambar perencanaan dan
persyaratan-persyaratan yang berlaku.
2. Syarat-syarat Umum merupakan bagian dari Persyaratan Teknis. Apabila ada beberapa klausul dari
Syarat-syarat Umum yang dituliskan dalam Persyaratan Teknis, berarti menuntut perhatian khusus
pada klausul-klausul tersebut dan bukan berarti menghilangkan klausul-klausul lainnya dari Syarat-
syarat Umum. Klausul-klausul dari Syarat-syarat Umum hanya dianggap tidak berlaku bila
dinyatakan secara tegas dalam Persyaratan Teknis.
3. Persyaratan Teknis dimaksudkan untuk menjelaskan dan menegaskan segala pekerjaan, bahan-
bahan dan peralatan-peralatan yang diperlukan untuk pemasangan, pengujian dan penyetelan
(adjusting) dari seluruh sistem, agar lengkap dan dapat bekerja dengan baik.
4. Persyaratan Teknis merupakan satu kesatuan dengan Gambar-Gambar Teknis yang menyertainya.
Bila ada suatu bagian pekerjaan yang hanya disebutkan di dalam salah satu dari kedua dokumen
tersebut, maka Pemborong wajib melaksanakannya dengan baik dan lengkap.
5. Yang menjadi dasar utama sehingga suatu pekerjaan berhasil dalam mencapai target, mutu, waktu
dan biaya, maka pelaksana lapangan harus menguasai
 Sistem pekerjaan secara menyeluruh.
 Gambar kerja yang akan dilaksanakan.
 Spesifikasi teknis yang telah ditentukan.
 Standar dan peraturan yang berlaku.
 Petunjuk dan ketentuan pemasangan yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat, baik untuk peralatan
maupun material.
 Koordinasi dengan pekerjaan terkait lainnya seperti struktur, arsitektur mekanikal dan elektrikal
sendiri.
6. Pemborong harus menggunakan tenaga-tenaga yang ahli dalam bidangnya, agar dapat memberikan
jaminan hasil kerja yang baik dan rapi, yang memenuhi kriteria sebagai berikut :
 Mengerti dan menguasai lingkup pekerjaan yang akan dikerjakan.
 Mempunyai alat kerja yang memadai.
 Mudah diberi pengarahan.
 Dapat melakukan koordinasi dengan tenaga kerja lain.
 Terampil.
 Mempunyai sertifikat untuk tenaga kerja spesialis penyambungan kabel tegangan menengah.

7. Pemborong bertanggung jawab dalam pengawasan yang ketat terhadap jadwal atau urutan
pekerjaan, sehingga tidak mengganggu penyelesaian proyek secara keseluruhan pada waktu yang
telah ditetapkan.
8. Pemborong harus menyatakan secara tertulis bahwa bahan-bahan dan peralatan-peralatan yang
diserahkan oleh Pemborong harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan, dan pelaksanaan
pekerjaan dilakukan dengan cara yang wajar dan terbaik. Dan bahwa instalasi yang dilakukan adalah
lengkap dan dapat bekerja dengan baik dalam kondisi yang terjelek sekalipun, tanpa mengurangi atau
menghilangkan bahan-bahan/peralatan-peralatan yang seharusnya disediakan, walaupun tidak
disebutkan secara nyata dalam Persyaratan Teknis ataupun tidak dinyatakan secara tegas dalam
Gambar-Gambar Teknis.
9. Pemborong harus dapat menunjukkan surat pernyataan dari pihak pemasok barang/komponen yang
akan terpasang kepada Konsultan, bahwa barang tersebut merupakan barang “original” dan bukan
barang produksi tiruan dengan menggunakan merek yang sama.
10. Semua peralatan dan bahan-bahan yang digunakan dan diserahkan untuk penyelesaian pekerjaan
harus dalam keadaan baru dan dari kualitas terbaik.
11. Pemborong harus mempelajari dan memahami kondisi tempat yang ada, agar dapat mengetahui hal-
hal yang akan mengganggu/mempengaruhi pekerjaan. Apabila timbul persoalan, Pemborong wajib
mengajukan saran penyelesaian kepada Konsultan, paling lambat satu minggu sebelum bagian
pekerjaan ini seharusnya dilaksanakan.
12. Pemborong harus memeriksa dengan teliti ruangan-ruangan dan syarat-syarat yang diperlukan
dengan Pemborong lainnya, sehingga peralatan-peralatan Elektrikal dapat dipasang pada tempat dan
ruang yang telah disediakan.
13. Sebelum memulai pekerjaan, Pemborong harus memeriksa dan memahami pekerjaan pelaksanaan
dari pihak lain yang ikut menyelesaikan proyek ini, apabila pekerjaan pelaksanaan dari pihak lain
tersebut dapat mempengaruhi kualitas pengerjaan Pemborong itu sendiri.
14. Sebelum memulai pekerjaan, Pemborong harus membuat Rencana Kerja dengan jadwal yang
disesuaikan dengan Pemborong yang lain. Apabila terjadi sesuatu perubahan, Pemborong wajib
memberitahukan secara tertulis kepada Konsultan dan mengajukan saran-saran
perubahan/perbaikan.
15. Pada waktu akan memulai pelaksanaan, Pemborong wajib menyerahkan Gambar-Gambar Kerja
(Shop Drawing) terlebih dahulu untuk memperoleh persetujuan dari Konsultan. Gambar-gambar
tersebut harus diserahkan kepada Konsultan minimal dalam waktu 2 (dua) minggu sebelum instalasi
dilaksanakan.
16. Pemasangan peralatan harus dilakukan sesuai dengan rekomendasi dari pabrik pembuat peralatan
tersebut. Untuk itu, Pemborong harus membuat dan menyerahkan gambar-gambar rencana instalasi
secara rinci sebelum melaksanakan pekerjaan.
17. Apabila terjadi sesuatu keadaan dimana Pemborong tidak mungkin menghasilkan kualitas pengerjaan
yang terbaik, maka Pemborong wajib memberitahukan secara tertulis kepada Konsultan dan
mengajukan saran-saran perubahan / perbaikan. Apabila hal ini tidak dilakukan, Pemborong tetap
bertanggung jawab atas kerugian-kerugian yang mungkin ditimbulkannya.
18. Selama pelaksanaan instalasi berlangsung, Pemborong harus memberi tanda-tanda (misalnya dengan
pensil atau tinta merah) pada dua set gambar pelaksanaan, atas segala perubahan pada rancangan
instalasi semula.
1.2. Standarisasi dan Aturan Yang Harus Diikuti
Seluruh pekerjaan yang dilaksanakan oleh kontraktor yang harus mengikuti segala aturan dan standar
yang berlaku dan dilengkapi dengan segala peralatan untuk kesempurnaan operasi, kemudahan
pengaturan dan perawatan, keamanan operasi sistem sesuai dengan salah satu atau lebih dari peraturan-
peraturan yang tertulis dibawah ini.
1. Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) Edisi terbaru
2. Standar Nasional Indonesia ( SNI )
3. Standar Konnstruksi / Normalisasi PLN
4. Peraturan-peraturan PLN/Jawatan Keselamatan Kerja Setempat.
5. Memenuhi persyaratan DIN Standar
6. Memenuhi Standar yang dikeluarkan oleh International Electro-Technical Commision I.E.C.
7. SII, Standar Industri Indonesia
8. SKBI, Standar Kontruksi Bangunan Indonesia
9. Peraturan Depnaker tentang Keselamatan tenaga kerja
10. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum
11. Peraturan dari Pemerintah Daerah
12. Data teknis dari produk dibidang Peralatan Tata Suara, Telepon, LAN (Line Area Network) dan
Fire Alarm yang dibuat oleh pabrik–pabrik di berbagai Negara.
13. Seluruh pekerjaan instalasi telepon harus dilaksanakan mengikuti standar dan peraturan dari ITU-T
atau PT. TELKOM.
14. Spesifikasi teknis juga harus memenuhi VDE Standar atau persyaratan internasional lain yang
ekifalen.
Kontraktor diwajibkan mentaati dan mengikuti tata cara pelaksanaan sesuai dengan yang tertulis pada
peraturan- peraturan tersebut dan disesuaikan dengan bahan, unit mesin atau peralatan yang
dipasangnya.
Bila terjadi kesimpang-siuran dalam hal standar yang harus diikuti, kontraktor harus melapor pada
Konsultan untuk mendapat kejelasan tentang hal tersebut.
Bila konsultan tidak dapat memutuskan hal tersebut maka pengambil keputusan akan diserahkan kepada
Instansi / Badan yang berwenang (local Authority Having Jurisdiction).
Penentuan standar yang :
a. Dalam penentuan dan persetujuan untuk standar yang diikuti atau standar yang disebut oleh material,
peralatan, unit mesin dan lainya, kontraktor harus dapat menunjukkan dan menyerahkan copy dari
standar yang dianut / disebut oleh material, peralatan, unit mesin dan lainnya untuk diperiksa dan
diteliti oleh konsultan sebelum dikeluarkan persetujuan.
b. Apabila standar yang diikuti ternyata memberikan persyaratan yang lebih ringan atau lebih rendah
maka standar tersebut dinyatakan sebagai standar yang tidak f dengan standar yang ditentukan oleh
persyaratan teknis ini.
c. Segala sesuatu yang diperlukan untuk pembuktian dan pemeriksaan ini menjadi tanggung jawab
kontraktor yang bersangkutan.
d. Apabila perlu pengujian oleh lembaga lain diluar proyek, kontraktor harus menyelesaikan segala
sesuatu yang diperlukan untuk mendapatkan hasil dari lembaga penguji tersebut dalam waktu
secepatnya sehingga tidak menghambat jadwal pelaksanaan proyek.

1.3. Jaringan Listrik Utama


Karakteristic catu daya adalah sebagai berikut:
a. Tegangan Rendah (Low Voltage)
400 volts-3 phase, 4 wire, 50 Hz plus earth protection
Short circuit capacity hingga 100 kA untuk bus bar rating 3000A dan short circuit capacity setiap
bagian harus dihitung berdasarkan hirarki posisi di diagram sistem. Semua Short circuit capacity
harus diajukan terlebih dahulu oleh kontraktor untuk mendapat persetujuan Konsultan berdasarkan
kapasitas dari power transformer.
Voltage ± 5%.
Frequency ± 1%.
1.4. Polaritas
Polaritas dari semua peralatan pada pekerjaan ini diatur berdasarkan persyaratan teknis sebagai berikut:
a. Untuk semua peralatan yang terdiri dari kutub “fasa/bertegangan” harus diposisikan “diatas/disisi
kiri” dan untuk kutub “netral/pembumian” diposisikan “dibawah/disisi kanan”. Pada alat Kotak
kontak dan soket untuk polaritasnya harus mengikuti standard dari IEC dan VDE.
Tabel Pengenal inti/rel (PUIL 2000, tabel 7.2-1)
Pengenal
Inti atau Rel Dengan Dengan
Dengan warna
Huruf lambang
1 2 3 4

i. Instalasi arus bolak balik


1. Fase satu L1/R Merah
2. Fase dua L2/S Kuning
3. Fase tiga L3/T Hitam
4. netral N Biru
ii. Instalasi perlengkapan listrik
1. Fase satu U/X Merah
2. Fase dua V/Y Kuning
3. Fase tiga W/Z Hitam
iii. Instalasi arus searah
1. Positif L+ Tidak ditetapkan
2. Negatif L- Tidak ditetapkan
3. Kawat tengah M Biru
iv. Penghantar netral N Biru
v. Penghantar pembumian PE Loreng hijau-kuning

Urutan tata letak instalasi kabel pada peralatan listrik dilihat dari sisi muka peralatan.
Semua kabel yang terhubung mulai dari panel utama hingga panel penerangan, daya, kotak-kontak,
penerangan dan peralatan lainnya, urutan warna dari fungsi fasa harus sama hingga titik akhir.

1.5. Gambar - Gambar


1. Gambar-gambar desain dan persyaratan - persyaratan ini merupakan suatu kesatuan yang
melengkapi dan sama mengikatnya.
2. Gambar-gambar sistem ini menunjukan secara umum tata letak dari peralatannya, sedangkan
instalasinya harus dikerjakan dengan memperhatikan kondisi dari bangunan yang ada dan
mempertimbangkan juga kemudahan dalam perawatan dan maintance jika peralatan tersebut sudah
dioperasikan.
3. Gambar instalasi menunjukan secara teknis pekerjaan instalasi yang harus dilaksanakan dimana
dicantumkan ukuran dan bahan serta keterangan lain yang diperlukan.
4. Gambar-gambar Arsitektur dan Struktur Sipil, harus dipakai Referensi untuk pelaksanaan maupun
detail finishing dari instalasi.
5. Setiap pekerjaan yang disebutkan dalam spesifikasi ini, tetapi tidak ditunjukan dalam gambar atau
sebaliknya harus dipasang atas beban kontraktor, seperti halnya pekerjaan lain yang disebut oleh
spesifikasi dan ditunjukan dalam gambar.
6. Kontraktor pelaksana diwajibkan memeriksa gambar terhadap kemungkinan adanya kesalahan atau
ketidakcocokan dalam hal yang berhubungan dengan fabrikasi maupun pelaksanaan pemasangan.
Hal tersebut harus dibuat List Daftar Kesalahan /Ketidak-cocokan dan diajukan sebelum pemasukan
penawaran. Apabila hal tersebut tidak dilaksanakan, maka kontraktor dianggap sudah memahami
sistem secara keseluruhan. Bila dikemudian hari diadakan penyesuaian oleh Konsultan yang
mengakibatkan perubahan dalam pelaksanaan, maka menjadi kewajiban untuk melaksanakannya
tanpa adanya biaya tambahan.
7. Sebelum pekerjaan dimulai, Kontraktor Pelaksana harus mengajukan gambar kerja dan detail kepada
Konsultan untuk dapat diperiksa dan disetujui terlebih dahulu.
8. Gambar kerja harus termasuk catalog/literature data dari Pabrikan, data ukuran dimensi, data
pembuatan dan nama serta alamat dari perusahaan yang memberi pelayanan pemeliharaan dan
mempunyai jaminan ketersediaan suku cadangnya.
9. Kontraktor Pelaksana harus membuat gambar-gambar instalasi terpasang dengan disertai dengan
buku cara pengoperasian dan instruksi perawatan, serta harus diserahkan kepada Konsultan.
10. Untuk pekerjaan Sistem Distribusi Listrik dan pekerjaan lainnya yang sifatnya memerlukan
persetujuan dari instansi terkait, Kontraktor wajib menyiapkan gambar sistem dan instalasi yang
diperlukan untuk diperiksa dan disahkan oleh Instansi terkait sesuai dengan peraturan yang berlaku.
11. Data dari setiap sistem harus menunjukan pemasangan yang lengkap dari seluruh koordinasi
komponen untuk peninjauan keseluruhan system yang sebenarnya, penyerahan yang sebagian-
sebagian tidak akan diperhatikan. Gambar Shop Drawing harus dibuat sebanyak 3 (tiga) set.
12. Hal-hal yang menyangkut perubahan gambar pelaksanaan di lapangan baik ukuran/konstruksi
kontraktor wajib mengajukan pertanyaan dan alternative penyelesaian atau Shop Drawing yang
dikehendaki untuk mendapat persetujuan dari Konsultandan dilakukan setidaknya 2 (dua) minggu
sebelum pelaksanaan sehingga tidak berakibat pada kesalahan dalam pelaksanaan.
13. Kontraktor wajib membuat gambar pelaksanaan instalasi terpasang (As Built Drawing) yang
disetujui oleh Konsultan serta kelengkapan yang harus disertai kepada Konsultan pada saat
penyerahan pertama dalam bentuk Soft Copy (CD/ Cad Drawing) dan Hard Copy masing-masing
rangkap 3 (tiga) dijilid dan dilengkapi dengan daftar isi dan data notasi.

1.6. Bahan dan Contoh


1. Bahan/meterial/peralatan yang digunakan dan dipasang pada pekerjaan harus dalam keadaan baru
dan tanpa cacat.
2. Semua bahan yang dipergunakan diusahakan produksi dalam negeri, sejauh mana masih memenuhi
persyaratan teknis dan standar yang ditentukan.
3. Kelambatan pekerjaan dan segala akibatnya, yang terjadi akibat keterlambata pengajuan maupun
pengajuan ulang menjadi tanggung jawab dan beban kontraktor.
4. Kesalahan pemilihan ukuran dan kapasitas equipment menjadi tanggung jawab kontraktor.
1.7. Jaminan dan Garansi
1. Jaminan atas material/bahan peralatan dan unit mesin.
Material yang diserahkan oleh kontraktor harus bebas dari kerusakan baik atas kesalahan pabrik,
kerusakan akibat kesalahan bahan, kerusakan akibat kesalahan dalam pengiriman mapun kerusakan
selama jangka waktu 1 (satu) tahun kalender terhitung sejak material tersebut dibeli.
2. Jaminan atas hasil pekerjaan dan masa pemeliharaan.
Kontraktor harus menjamin atas hasil pekerjaan dengan membuat surat jaminan secara
tertulis dengan uraian sebagai berikut :
a. Cara pelaksanaan dan pekerjaan dilakukan sesuai prosedur dan manual dari QMS (Quality
Management System)
b. Instalasi yang diserahkan dapat bekerja dengan baik tanpa mengurai atau menghilangkan bahan -
bahan atau peralatan - peralatan yang seharusnya disediakan walaupun tidak disesuaikan secara
nyata dalam buku ini atau tidak dinyatakan secara tegas dalam gambar-gambar yang menyertai
buku ini.
c. Jaminan Instalasi & Material Instalasi menjadi Tanggung Jawab Kontraktor.
d. Masa Pemeliharaan untuk seluruh pekerjaan instalasi ditetapkan selama 6 (enam) bulan setelah
barang diserahkan kepada Konsultan, yang meliputi :
 Performance sistem secara keseluruhan.
 Pelatihan secara Cuma-cuma terhadap User/Pengguna (Tenaga Teknik) terkait Cara
Pengoperasian Peralatan dan Maintenance Praktis sehingga menjadi operator yang terampil.
e. Dalam masa pemeliharaan apabila ditemukan instalasi yang rusak atau berfungsi kurang baik
maka Pemborong harus segera memperbaiki atau mengganti peralatan tersebut sampai dapat
berfungsi dengan baik.
f. Selama masa pemeliharaan ini, Kontraktor diwajibkan mengatasi segala kerusakan yang akan
terjadi tanpa adanya biaya tambahan biaya.
g. Selama masa pemeliharaan ini, seluruh instalasi yang telah dilaksanakan masih merupakan
tanggung jawab Kontraktor sepenuhnya.
h. Apabila selama masa pemeliharaan Kontraktor tidak melaksanakan teguran dari Konsultanatas
perbaikan/penggantian/penyetelan yang diperlukan, maka pihak Konsultanberhak menyerahkan
perihal tersebut kepada pihak lain atas biaya Kontraktor pelaksana.
3. Klaim atau tuntutan.
a. Untuk segala macam pengadaan barang dan cara pemasangannya, Konsultan harus bebas dari
segala tuntutan/klaim atas hak-hak khusus seperti hak patent, lisensi dan sebagainya.
b. Bila ada hal - hal seperti tersebut diatas, kontraktor wajib mengurus dalam arti menyelesaikan
segala sesuatu perijinan/biaya/lisensi yang berhubungan dengan hal tersebut diatas beban biaya
ditanggung kontraktor.
4. Untuk pekerjaan/pengadaan barang Kontraktor harus dapat menunjukkan :
a. Sertifikat Keaslian Barang (Original)
b. Sertifikat Mutu dan Kualitas Barang (Quality)
c. Sertifikat Keamanan (Safety Inspector)
d. Sertifikat Welding Inspector
e. Garansi material, Service dan Sparepart serta Surat Dukungan dari Agen Tunggal di Indonesia
(bermeterai cukup)
5. Hal - hal yang berkaitan tersebut diatas harus disertakan bukti data (1 kopi dilampiri Data Asli)

1.8. Kelengkapan Yang Harus Diserahkan


Harus diserahkan sebelum dimulai pekerjaan, sebagai berikut :
1. Selambat - lambatnya 2 (dua) minggu sebelum dimulai pelaksanaan dalam arti pemesanan barang
atau pembuatan barang / instalasi atau pemasangan, kontraktor harus menyerahkan barang-barang
yang diuraikan, antara lain :
a. Katalog, Data teknis dan test Report untuk persetujuan material.
b. Instalasi Instruction (Buku Petunjuk manual Pengoperasian) untuk persetujuan terhadap cara -
cara pemasangan.
c. Shop drawing untuk persetujuan terhadap rencana instalasi dan cara - cara peasangan yang
akan dilakukan / dikerjakan / dilaksanakan.
d. Contoh - contoh bahan dan barang - barang untuk persetujuan terhadap bahan dan barang-
barang yang diperoleh / didapat secara lokal seperti misalnya armature lampu, tabung lampu,
starter, saklar, kabel, pipa, pompa dan lain sebagainya sesuai dengan ketentuan dari Konsultan.
e. Yang selanjutnya kepada Konsultan untuk mendapat persetujuan.
2. Apabila tidak diperoleh persetujuan oleh suatu dan lain hal, maka kontraktor harus segera mengganti
barang-barang tersebut dan diserahkan kepada Konsultan untuk mendapat persetujuan.

1.9. Sistem Koordinasi


1. Kontraktor harus mengkoordinasikan pekerjaannya dengan pekerjaan Kontraktor lain (Struktur &
Arsitektur) untuk menghindari pekerjaan pembongkaran / pekerjaan ulang dan gangguan yang dapat
memperlambat jalannya pekerjaan.
2. Untuk memudahkan komunikasi teknis, kontraktor harus menempatkan seorang atau lebih
pemimpin lapangan perpengalaman, dapat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan
benar, serta mewakili kontraktor, menerima perintah dan petunjuk Konsultan dan segera
melaksanakannya bila diperlukan.
3. Kontraktor diwajibkan membuat laporan berkala (harian/mingguan) yang memberikan gambaran
tentang kegiatan proyek. Misalnya :
a. Jadwal waktu pelaksanaan
b. Kegiatan pelaksanaan
c. Prestasi kegiatan fisik
d. Catatan perintah / petunjuk Konsultan yang disampaikan secara lisan maupun tertulis.
e. Dan kegiatan pekerjaan yang dianggap perlu.
4. Kontraktor juga harus membuat dokumentasi pekerjaan yang berupa foto-foto pelaksanaan
pekerjaan, dibuat berwarna, minimal ukuran postcard dan disusun dalam album. Foto-foto yang
menggambarkan kemajuan pelaksanaan pekerjaan hendaknya dibuat berdasarkan petunjuk dari
Konsultan dan minimal dilakukan sebanyak 4 (empat) kali setiap peristiwa selama berlangsungnya
pelaksanaan pekerjaan.
5. Kontraktor harus menempatkan seorang Penanggung jawab Pelaksanaan yang ahli dan
berpengalaman serta yang bertanggung jawab penuh dalam menerima segala instruksi yang akan
diberikan serta harus selalu berada di Site Proyek.
6. Apabila dalam pelaksanaan pekerjaan ini menghalangi pekerjaan lain, maka sesuai akibatnya menjadi
tanggung jawab kontraktor.

1.10. Pembobokan, Pengelasan dan Pengeboran


1. Pembobokan tembok, lantai, dinding dan sebagainya yang dilakukan dalam rangka pemasangan
Instalasi ini maupun pengembaliannya seperti keadaaan semula adalah termasuk tanggung jawab
pekerjaan Pemborong Instalasi ini.
2. Pembobokan hanya dapat dilaksanakan setelah mendapat ijin tertulis dari Konsultan.
3. Pengelasan, Pengeboran dan sebagainya pada Konstruksi Bangunan hanya dapat dilaksanakan
setelah memperoleh ijin / persetujuan tertulis dari Konsultan.

1.11. Pencapaian Peralatan Untuk Service


1. Semua peralatan utama ataupun bantu dalam prinsip pemasangannya harus mudah untuk bisa
diamati, termasuk juga accessories pipa dan duct seperti valve, clean out, damper, filter, venting dll.
2. Untuk itu Kontraktor dalam pemasangannya wajib memperhatikan posisi yang terbaik dari peralatan
dan accessories yang berada dalam shaft atau ceiling yang memerlukannya, beserta ukuran dan
lokasi yang tepat.
3. Disamping itu kontraktor harus mengusulkan kepada Pihak Owner (bila ditunjukkan pada gambar)
pintu-pintu service (access panel) untuk setiap peralatan dan asessories yang berada dalam shaft
atau ceiling yang memerlukannya, beserta ukuran dan lokasi yang tepat.
4. Bila dalam gambar rencana sudah ditunjukkan ada access panel yang diperlukan, maka penggeseran
untuk posisi yang tepat dari access panel tersebut sehubungan dengan letak peralatan / accessories
dan kaitannya dengan arsitek interior, perlu dibicarakan dengan pihak Owner untuk disetujui.

1.12. Proteksi
1. Semua bahan dan peralatan sebelum dan sesudah pemasangan harus dilakukan proteksi yang baik
terhadap cuaca dan harus diusahakan agar selalu dalam keadaan bersih.
2. Semua ujung-ujung pipa konduit dan bagian-bagian peralatan yang tidak dihubungkan harus diberi
pelindung, disumbat, atau ditutup dengan baik untuk mencegah masuknya kotoran.
3. Menjadi tanggung jawab dan keharusan bagi kontraktor untuk melindungi peralatan-peralatan, bahan-
bahan baik yang sudah, maupun belum terpasang bila diperkirakan bisa rusak atau cacat karena tidak
dilakukan perlindungan yang benar adalah merupakan bagian instalasi yang tidak bisa diterima (serah
terima belum 100%)
4. Sebelum penyerahan, instalasi dibersihkan atau ditest dan di adjust kembali untuk membuktikan
bahwa peralatan dan bahan beroperasi dengan baik. Peralatan dan bahan yang rusak atau cacat
karena tidak dilakukan perlindungan yang benar adalah merupakan bagian instalasi yang tidak bisa
diterima (serah terima belum 100%).
1.13. Pengecatan
1. Semua peralatan dan bahan yang dicat, yang menjadi lecet karena pengangkutan / pengapalan atau
pemasangan harus segera diperbaiki dan dicat dengan warna aslinya sehingga nampak seperti baru
kembali.
2. Semua bagian-bagian pekerjaan yng menyangkut carbon steel atau seng yang di galvanis harus dicat
dasar dan cat finish.
3. Sebelum pengecatan dilakukan, bagian-bagian harus bebas dari grease, minyak dan segala kotoran
yang melekat.
4. Urut-urutan pengecatan adalah cat dasar anti karat (zincromate) dan cat finish terdiri atas 2 lapis cat
copolymer.
5. Untuk peralatan-peralatan yang cat pabriknya rusak/cacat dalam pengangkutan, penyimpanan dan
lain sebagainya harus dicat kembali sesuai aslinya atau sesuai dengan warna yang ditentukan Pihak
Owner.
6. Untuk jalur-jalur pipa, code warna disesuaikan dengan standart.

1.14. Sleeve, Peralatan Yang Tertanam di Dinding


1. Peralatan Bantu, Sleeve dan lain-lain yang diperlukan tertanam atau menembus concrete atau
tembok harus dipasang dan dilengkapi sesuai petunjuk dagang. Untuk itu ukuran, posisi yang
disiapkan untuk keperluan tersebut harus dikonsultasikan dengan Konsultan dan disertai gambar
detail.
2. Semua ducting atau pipa tembus dinding harus menggunakan sleeve dengan clearance 20 mm (3/4”)
jika duct atau pipa berisolasi, clearance tetap dibutuhkan 20 mm (3/4”) antara isolasi dan sleeve.
Sleeve yang menembus atap lantai.
3. Setelah pemasangan pipa atau duct clearance harus diisi dengan sealant tahan api.
1.15. Penomoran, Nama Peralatan / Assesories
Semua peralatan terpasang dan asesoriesnya harus diberi kode nama peralatan dan nomor, sesuai seperti
yang dicantumkan pada daftar peralatan atau data sheet atau sebagai tercantum pada gambar rencana.
Bila ada peralatan atau asesories yang belum mempunyai kode nama dan nomer, kontraktor wajib
mengusulkan kepada Konsultan dan ini semua sudah harus tercantum dalam as-built drawing.

1.16. Penjagaan
1. Kontraktor wajib mengadakan penjagaan dengan baik serta terus menerus selama berlangsungnya
pekerjaan atas bahan peralatan, mesin dan alat-alat kerja yang disimpan di tempat kerja (gudang
lapangan).
2. Kehilangan yang diakibatkan oleh kelalaian penjagaan atas barang-barang tersebut diatas, menjadi
tanggung jawab pemborong.

1.17. Kebersihan, Ketertiban dan Keamanan


1. Pemborong harus selalu menjaga keadaan ruang kerja mereka dalam keadaan bersih dan baik
selama tahap konstruksi.
2. Semua sampah dan bahan yang tidak berguna lagi harus diangkut ke luar site.
3. Pada saat penyelesaian pekerjaan, Pemborong harus memeriksa seluruh pekerjaan,
meninggalkannya dalam keadaan rapih, bersih dan siap pakai.
4. Selama Pelaksanaan Pekerjaan berlangsung, Kantor, Gudang, los kerja dan tempat pekerjaan sekitar
bangunan, harus selalu dalam keadaan bersih.
5. Penimbunan / penyimpanan barang, bahan dan peralatan baik dalam gudang maupun di luar
(halaman), harus diatur sedemikian rupa agar memudahkan jalannya pemeriksaan dan tidak
mengganggu pekerjaan dari bagian lain.
6. Peraturan-peraturan yang lain tentang ketertiban akan dikeluarkan oleh Konsultan pada waktu
pelaksanaan.
7. Guna semua keamanan pekerjaan, peralatan dan bahan / material di proyek, Kontraktor harus
menempatkan petugas keamanan secukupnya disekitar proyek.
8. Penjagaan keamanan termasuk juga penanggulangan terhadap bahaya kebakaran yang mungkin
terjadi.
9. Kontraktor harus memperhatikan hubungan dengan lingkungan proyek, antara lain tidak akan
menyebabkan gangguan lalu lintas umum, tidak akan mengganggu ketenangan penduduk /
masyarakat disekitarnya dan tidak akan mengganggu pekerjaan dari Rekanan lain.
10. Selama peralatan dan material disimpan di lapangan, kontraktor harus:
a. Bertanggung jawab sepenuhnya terhadap semua peralatan dan material yang ada di site.
b. Memisahkan material yang mudah terbakar dengan material yang tidak mudah terbakar.
c. Menyediakan alat pemadam api ringan minimal 2 x 10 kg di Kit Konsultan dan Gudang
Penyimpanan.

1.18. Perbaikan dan Pembersihan


Kontraktor harus melakukan dan menyediakan tenaga kerja untuk pekerjaan perbaikan dan
pemberisihan, antara lain :
1. Perbaikan kembali akibat adanya pembobokan.
2. Pengangkutan bekas galian dan penimbunan kembali.
3. Melaksanakan pembersihan lapangan dan lain-lainya serta tempat pembuangannya akan ditentukan
oleh Konsultan.

1.19. Asuransi
Kontraktor harus mengasuransikan secara total semua peralatan dan material mulai dari pabrik
pembuatnya, pengiriman ke lapangan, selama di gudang penyimpanan, sampai peralatan tersebut
terpasang. Kontraktor juga harus mengasuransikan seluruh tenaga yang melaksanakan pekerjaan di
lapangan.

1.20. Penyimpangan di Lapangan


1. Pelaksanaan pekerjaan yang menyimpang dari rencana yang disesuaikan dengan kondisi lapangan,
harus mendapat persetujuan tertulis dahulu dari pihak Konsultan.
2. Kontraktor harus menyerahkan gambar setiap perubahan yang ada kepada pihak Konsultan.
3. Perubahan material dan lainnya harus diajukan kontraktor kepada Konsultan secara tertulis dan
akibat tersebut (pekerjaan tambah/kurang) harus disetujui oleh Konsultan secara tertulis.
1.21. Pengujian di Pabrik
Semua peralatan harus melalui pengujian di pabrik sebelum dikirim serta kontraktor harus menyerahkan
sertifikat pengujiannya kepada Konsultan sebanyak 3 (tiga) rangkap.
1.22. Kecelakaan dan Kotak PPPK
1. Jika terjadi kecelakaan yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan ini, maka Kontraktor
diwajibkan segera mengambil segala tindakan guna kepentingan si korban atau para korban, serta
melaporkan kejadian tersebut kepada Instansi dan Departemen yang bersangkutan / berwenang
(dalam hal ini Polisi dan Departemen Tenaga Kerja) dan mempertanggung jawabkan sesuai dengan
peraturan yang berlaku.
2. Kotak PPPK dengan isinya yang selalu lengkap, guna keperluan pertolongan pertama harus selalu
ada di tempat pekerjaan.

1.23. Testing & Comissioning


1. Petunjuk Umum
a. Prosedur Pengujian
 Kontraktor harus mengajukan rencana dan prosedur pengujian kepada Konsultan untuk
mendapat persetujuan.
 Metode pengetesan dan pengujian harus mengikuti standar teknis yang berlaku
 Sebelum Testing & Comissioning dilaksanakan, Kontraktor wajib mengajukan terlebih dahulu
Program (Jadwal) Testing & Comissioning.
 Kontraktor harus menentukan jadwal dan cara pengujian yang akan dilakukan 2 (dua)
minggu sebelum pelaksanaan pengujian, Pemborong menyerahkan jadwal dan cara pengujian
tersebut kepada Konsultan untuk disetujui.
b. Pencatatan
 Kontraktor harus melakukan pencatatan yang baik terhadap pengetesan dan pengujian.
Kontraktor harus menyerahkan hasil pengetesan dan pengujian kepada Konsultan.
 Kontraktor harus melakukan semua pengujian dan pengukuran yang dianggap perlu dan/atau
yang dimintai oleh pihak Konsultanuntuk mengetahui apakah keseluruhan instalasi dapat
berfungsi dengan baik dan dapat memenuhi semua persyaratan yang diminta.
c. Saksi dan Tenaga Ahli
 Semua pengetesan dan pengujian yang dilakukan oleh kontraktor harus disaksikan oleh
Konsultan.
 Jika diperlukan Testing & Comissioning harus dilakukan oleh Tenaga Ahli yang ditunjuk oleh
Pabrikan perangkat tersebut atau oleh tenaga ahli yang pernah mendapat pendidikan dan
sertifikat khusus untuk maksud tersebut maka pihak Konsultanberhak menyerahkan perihal
tersebut merupakan tanggung jawab Kontraktor Pelaksana.
d. Peralatan, material dan Alat pengujian
 Kontraktor harus menyediakan semua alat ukur yang diperlukan untuk pengetesan dan
pengujian. Alat-alat tersebut harus sudah dikalibrasi oleh institusi yang berwenang.
 Peralatan, material dan cara bekerjanya peralatan yang mengalami kerusakan/cacat/salah
harus diganti/diperbaiki dan testing comissioning diulangi untuk operasi sesungguhnya secara
tepat dari seluruh sistem.
 Semua bahan, perlengkapan dan instalasi lain yang diperlukan untuk mengadakan Testing
dan Commissioning tersebut merupakan tanggung jawab Kontraktor Pelaksana.
 Semua bahan yang kurang baik atau pemasangan yang kurang sempurna yang diketahui
pada saat Pemeriksaan/Pengujian harus segera diganti dengan yang baru/disempurnakan
sampai dapat berfungsi dengan baik dan sesuai Standar Uji yang ada.
e. Biaya
Kontraktor harus bertanggung jawab terhadap semua biaya dan fasilitas yang diperlukan untuk
pengetesan dan pengujian.
f. Pengujian Ulang
Apabila terjadi kegagalan dalam pengujian, kontraktor harus memperbaiki bagian-bagian yang
rusak dan kekurangan-kekurangan yang ada, kemudian melakukan pengujian berhasil dengan
baik.
2. Pemborong harus menyerahkan laporan pengujian/sertifikat test untuk peralatan sistem kepada
Konsultan.
3. Pekerjaan akan dinyatakan selesai bila seluruh pengujian berhasil dengan baik dan dapat diterima
oleh Konsultan.
4. Untuk mengetahui bahwa semua pekerjaan yang telah dilaksanakan dapat berfungsi baik dan telah
sesuai dengan persyaratan teknis yang dimana, maka Kontraktor diwajibkan menguji seluruh
pekerjaannya dengan standrad uji masing-masing yang telah ditetapkan dalam peraturan/Spesifikasi
Peralatan.
5. Pengujian ini dilaksanakan dibawah Pengawasan Konsultan yang ditunjuk Jadwal Pelaksanan
Pengujian dapat diatur seminggu sebelumnya atau atas persetujuan bersama.

1.24. Masa Pemeliharaan


1. Semua pekerjaan elektrikal termasuk bahan dan peralatan harus dipelihara Kontraktor Pelaksana
selama masa pemeliharaan, sejak penyerahan pertama dari pekerjaan.
2. Selama masa pemeliharaan tersebut semua peralatan dan pekerjaan yang tidak baik harus
secepatnya diganti atau diperbaiki oleh Kontraktor Pelaksana atas biaya sendiri.
3. Selama masa pemeliharaan ini kontraktor pelaksana pekerjaan instalasi ini diwajibkan untuk
mengatasi segala kerusakan-kerusakan dari pada instalasi yang dipasangnya tanpa ada tambahan
biaya.
4. Selama masa pemeliharaan tersebut kontraktor pekerjaan instalasi ini masih harus menyediakan
tenaga-tenaga yang diperlukan. Dalam masa pemeliharaan kontraktor masih bertanggung jawab
penuh terhadap seluruh instalasi yang dilaksanakan.
5. Pekerjaan baru dapat diterima setelah dilengkapi dengan bukti-bukti hasil pemeriksaan baik (good
keuring) yang ditanda tangani bersama oleh instalatir yang melaksanakan pekerjaan tersebut juga
Konsultan serta perlu disyaratkan juga oleh jawatan keselamatan kerja.
6. Jika dalam masa pemeliharaan tersebut, kontraktor pekerjaan instalasi ini tidak melaksanakan
teguran-teguran atau perbaikan-perbaikan terhadap kekurangan selama masa pemeliharaan, maka
Konsultan berhak menyerahkan pekerjaan perbaikan/kekurangan tersebut kepada pihak lain atas
biaya kontraktor pekerjaan instalasi tersebut.
7. Selama masa pemeliharaan pekerjaan, kontraktor harus mendidik/melatih karyawan/petugas dari
Pengguna/User mengenai sistem instalasi dan dapat menjalankan serta melaksanakan
pemeliharaannya.
8. Pemeriksaan rutin selama masa pemeliharaan ini, dilaksanakan tidak kurang dari 2 (Dua) minggu
sekali.
1.25. Petunjuk Pengoperasian dan Perawatan & As Build Drawing
1. Sebelum melakukan serah terima pekerjaan instalasi, kontraktor harus membuat dan menyerahkan
dokumen secara detail dan lengkap. Petunjuk Pengoperasian dan Perawatan (Operation & Manual /
„OM‟) dalam format bahasa Indonesia dan gambar terlaksana (As Build Drawing), terdiri dari 1
(satu) set asli dan 3 (tiga) set copy dokumen tersebut harus diserahkan kepada Konsultan sebelum
tanggal serah terima pekerjaan instalasi.
2. Operation & Manual setidaknya harus berisi sebagai berikut :
a. Tulisan pada cover :
 Judul dokumen
 Nama Proyek
 Nama Paket Pekerjaan
 Nama dan alamat kontraktor.

b. Pada lembar pertama halaman dalam harus tertulis sama dengan tulisan pada cover tetapi
ditambahkan Nama „contact person‟ dan nomor telepon yang mudah dihubungi pada saat
emergency.
c. Daftar Isi
d. Penjelasan ringkas instalasi
e. Daftar peralatan lengkap peralatan instalasi yang dipasang
f. Petunjuk pemakaian secara detail
g. Petunjuk perawatan dan pelacakan kerusakan secara detail untuk seluruh instalasi, termasuk
rekomendasi skedul periode perawatan
h. Hasil Test and Commissioning
i. Daftar peralatan lengkap dengan alamat, nomor telepon dan contact person supliernya.
j. Data data teknis peralatan dalam ukuran maksimum A-3 misalnya, gambar dan wiring diagram,
kurva karakteristik / performance dari peralatan dll.
k. Daftar gambar „as build drawing‟.
3. Operation & Manual harus dibuat pada format kertas A-4 kecuali jika berupa gambar bisa ukuran
lain, mudah dibaca, susunan halaman dukumen harus konsisten terhadap urutan daftar isi. Operation
& Manual yang telah disetujui harus dijilid dengan „hard cover‟ dengan kualitas warna, tulisan dan
tinta copy yang baik untuk disimpan dalam jangka panjang.
4. Untuk gambar terlaksana harus termasuk gambar gambar diagram. Gambar yang berukuran diatas
A-3 harus diserahkan dalam bentuk 3 (tiga) copy ukuran A-3 dan 1 (satu) set asli sesuai ukuran.
Untuk ukuran besar harus digulung didalam tabung gambar dan dilengkapi dengan label gambar.
5. Digital file sebanyak 2 copy pada Compact Disk, dokumen yang berupa foto lengkap dengan
negative film / digital file nya harus termasuk yang harus disertakan pada Operation & Manual.
1.26. Penyerahan, Pemeliharaan, Pelatihan dan Jaminan
Penyerahan, Pemeliharaan, Jaminan dan Pelatihan harus dilakukan sebagaian dari rangkaian
penyelesaian pekerjaan.
1. Petunjuk Operasi, Pemeliharaan dan Pendidikan.
a. Pada saat penyerahan pekerjaan, Kontraktor harus:
Menyerahkan gambar-gambar jadi (as built drawing), dalam bentuk gambar cetak sebanyak 3
(tiga) set dan dalam bentuk soft copy (dalam media Compack Disk/Cad Drawing) kepada
Konsultan dan 2 (dua) set gambar jadi, bila gambar dan data-data tersebut belum lengkap
diserahkan maka pekerjaan Kontraktor belum bisa diprestasikan 100 %.
b. Training
 Kontraktor harus memberikan training (teori dan praktek) mengenai cara pengoperasian
dan perawatan peralatan kepada minimal 3 orang petugas teknik yang ditunjuk oleh pemilik
sampai cakap menjalankan tugasnya.
 Kontraktor harus mengajukan rencana training tersebut terlebih dahulu kepada Konsultan
dan mengajukan rencana pendidikan/training ini kepada Konsultan selambat-lambatnya 2
(dua) minggu sebelum waktu pelaksanaan.
 Kontraktor harus bertanggung jawab atas segala biaya yang diperlukan untuk training
tersebut.
c. Gambar Terpasang, Petunjuk Operasi dan Pemeliharaan serta Katalog Suku Cadang
 Kontraktor harus menyerahkan gambar terpasang kepada Konsultan sebagai berikut :
- 1 (satu) set Kertas Kalkir dan 5 (lima) set Cetak Biru, ukuran A1
- 1 (satu) set soft copy
 Kontraktor harus menyerahkan 2 (dua) set buku petunjuk operasi dan perawatan
peralatan yang dibuat dalam bahasa Indonesia kepada Konsultan.
 Kontraktor harus pula memberikan 2 (dua) set buku petunjuk operasi dan perawatan
peralatan yang terpasang yang dibuat dalam bahasa Indonesia kepada Konsultan, dan
sebuah singkatan dari buku petunjuk harus dipasang dalam suatu kaca berbingkai dan
ditempatkan pada dinding dalam ruang mesin utama atau tempat lain yang ditunjuk
Konsultan.
d. Gambar Terpasang, Petunjuk Operasi dan Pemeliharaan serta Katalog Suku Cadang
 Kontraktor harus menyerahkan gambar terpasang kepada Konsultan sebagai berikut :
- 1 (satu) set Kertas Kalkir dan 5 (lima) set Cetak Biru, ukuran A1
- 1 (satu) set soft copy
 Kontraktor harus menyerahkan 2 (dua) set buku petunjuk operasi dan perawatan peralatan
yang dibuat dalam bahasa Indonesia kepada Konsultan.
 Kontraktor harus menyerahkan 2 (dua) set buku catalog suku cadang dari peralatan yang
dipasang kepada Konsultan.
e. Pemeliharaan dan Garansi:
 Kontraktor harus menggaransi semua peralatan dan instalasi yang dipasang selama 1 (satu)
tahun setelah serah terima pertama.
 Kontraktor harus bertanggung jawab atas seluruh peralatan yang rusak selama masa
garansi, termasuk penyediaan suku cadang. Segala biaya penggantian perawatan selama
masa garansi merupakan tanggung jawab Kontraktor.
 Memberikan garansi terhadap seluruh peralatan yang disupply dan juga terhadap sistem,
minimal selama 1 (satu) tahun sejak serah terima kedua.
 Pemilik dibebaskan dari segala bentuk pembayaran atas segala kerusakan untuk selama 1
(satu) tahun sesudah serah terima.
 Kontraktor harus bertanggung jawab untuk tetap dapat melakukan garansi dengan
memperhitungkan kedalam harga satuan sebagai resiko keterlambatan dalam
menyelesaikan pembangunan.
 Kontraktor wajib mengganti atas biaya sendiri setiap kelompok barang-barang atau sistem
yang tidak sesuai dengan persyaratan spesifikasi, akibat kesalahan pabrik atau pengerjaan
yang salah selama jangka waktu 180 (seratus delepan puluh) hari setelah proyek ini
diserahkan terimakan.
 Kontraktor wajib menempatkan 2 (dua) orang pada setiap hari kerja selama masa
perawatan untuk mengoperasikan / merawat peralatan dan mendatangkan 1 (satu) orang
supervisor sekali seminggu untuk melakukan pemeriksaaan selama masa pemeliharaan.
 Apabila terjadi gangguan dan atau kerusakan selama masa garansi, maka selambat-
lambatnya dalam waktu 2 x 24 jam Pemborong harus dapat mendatangkan tenaga ahlinya
untuk mengatasi gangguan tersebut setelah mendapatkan laporan / konfirmasi dari
Konsultan.
2. Perijinan.
a. Semua ijin-ijin dan persyaratan-persyaratan yang mungkin diperlukan untuk melaksanakan
instalasi ini harus dilakukan oleh Kontraktor atas tanggungan dan biaya Kontraktor.
b. Kontraktor harus bertanggung jawab atas penggunaan alat-alat yang dipatenkan serta
kemungkinan tututan ganti rugi dan biaya-biaya yang diperlukan untuk ini. Untuk hal ini
Kontraktor wajib menyerahkan Surat Pernyataan mengenai hal tersebut diatas.
c. Kontraktor harus menyerahkan semua perijinan atau keterangan resmi yang diperoleh mengenai
instalasi proyek ini kepada Konsultan atau pihak ditunjuk, sebelum penyerahan dilakukan.
d. Kontraktor harus memperoleh ijin terlebih dahulu dari Konsultan setiap akan memulai suatu
tahapan pekerjaan, demikian pula bila akan melaksanakan pekerjaan di luar jam kerja (kerja
lembur).
e. Kontraktor harus mendapatkan ijin-ijin yang berhubungan dengan pajak, pemerintahan setempat,
badan yang berwenang terhadap instalasi yang dikerjakan. Dalam hal ini, semua biaya yang
dikeluarkan sehubungan dengan permintaan ijin tersebut.
Pasal 2
INSTALASI PENERANGAN DAN DAYA

2.1. Lingkup Pekerjaan


Pekerjaan instalasi listrik adalah pemasangan dan pengadaan termasuk testing dan comissioning peralatan
dan bahan, bahan-bahan utama, bahan-bahan pembantu dan lain-lainnya seperti yang diterangkan dalam
Bab terdahulu, sehingga diperoleh instalasi listrik yang lengkap dan baik serta diuji dengan seksama siap
untuk digunakan, baik instalasi tenaga maupun instalasi penerangan pengadaan dan pemasangan yang
terdiri dari :
1. Panel
a. Panel Tegangan Utama / Main Panel
b. Panel Penerangan (LP)
c. Panel Power (PP)
2. Kabel
a. Pemasangan kabel daya dari Panel Utama/Main Panel.
b. Kabel daya dari Genset ke Panel Utama/Main Panel.
c. Kabel daya dari Panel Utama ke seluruh Panel Pembagi (LP, CP & PP).
d. Kabel pembagi dari Panel Pembagi Lantai ke masing - masing jaringan instalasi.
e. Pemasangan kabel instalasi penerangan dan tenaga.
3. Pemasangan Kabel Rak ( Kabel Tray ).
4. Instalasi kabel & konduit dari sub panel ke titik-titik beban yang dilayaninya atau dari panel
penerangan titik lampu atau dan outlet - outlet penerangan (saklar) dan tenaga (stop kontak) seperti
yang tercantum pada gambar perencanaan.
5. Pemasangan titik lampu atau armature lampu (Lighting Fixtures) termasuk yang dilengkapi
emergency baterai dan outlet - outlet penerangan (saklar) serta tenaga (stop kontak) seperti yang
tercantum pada gambar perencanaan.
6. Perawatan dan peralatan dari panel kepemakaian .
7. Pengadaan dan pemasangan instalasi grounding instalasi listrik.
8. Pemasangan instalasi lain yang belum tercantum didalam spesifikasi ini tetapi ada di gambar
perencanaan.
2.2. Ijin Kerja Instalatir/Kontraktor
Instalatir/sub Kontraktor yang akan mengerjakan Pekerjaan ini diharuskan :
1. Mempunyai surat ijin kerja Instalatir Listrik (SIKA) tahun kerja yang berlaku dengan Pas. Instalatir
Kelas C. dari Instansi terkait.
2. Mempunyai Tanda Lulus Prakualifikasi (Tanda Daftar Rekanan) untuk tahun kerja yang berlaku,
sesuai dengan KEPPRES No.80 Tahun 2003.
3. Sudah berpengalaman dan dapat menunjukkan Surat Kemampuan Pengalaman Kerja dalam
mengerjakan pekerjaan yang sejenis.

2.3. Gambar–Gambar Instalasi


1. Gambar-gambar dan spesifikasi adalah merupakan bagian yang saling melengkapi dan sesuatu yang
tercantum dalam gambar dan spesifikasi bersifat mengikat.
2. Gambar- gambar instalasi menunjukkan secara teknis pekerjaan instalasi yang harus dilaksanakan
dimana dicantumkan ukuran bahan-bahan instalasi serta keterangan lain yang diperlukan.
3. Pelaksanaan dilapangan selain yang tertera pada gambar disesuaikan dengan kondisi lapangan atas
petunjuk Konsultan secara tertulis/lisan.
4. Bila kontraktor menganggap perlu adanya perubahan ukuran/konstruksi dalam pelaksanaan,
kontraktor diwajibkan mengajukan alternatif atau Shop drawing yang dikehendaki dan mendapat
persetujuan dari Konsultan.
5. Segala perubahan yang disengaja dilakukan kontraktor tanpa ijin Konsultan adalah resiko Kontraktor.
6. Bila nantinya tidak disetujui oleh Konsultan maka terpaksa harus dibongkar. Kontraktor hal ini tidak
diperkenankan menuntut ganti rugi.
7. Seluruh pola pemasangan armatur/fixture dan soket & outlet disesuaikan dengan gambar desain
arsitektur atau sesuai petunjuk Konsultan.
2.4. Pelaksanaan Pekerjaan
1. Semua pekerjaan harus dilaksanakan dengan baik oleh tenaga ahli yang sudah berpengalaman.
2. Pelaksana yang dianggap tidak cukup ahli/perpengalaman oleh Konsultan, harus segera diganti
dengan orang lain setelah mendapat persetujuan Konsultan.
3. Kontraktor harus menempatkan seorang Supervisor yang ahli, berpengalaman dan profesional untuk
masing-masing bidang yang bertanggung jawab untuk menjadi supervisi, management proyek.
4. Tenaga kerja harus berpengalaman dan ahli di bidangnya, bila tidak berpengalaman & ahli harus
diganti. Bila tidak dihiraukan Konsultan akan mengambil tindakan untuk mengatasi permasalahan
yang ada.
5. Segala sesuatu yang diperlukan guna kesempurnaan pekerjaan harus, dilengkapi sesuai permintaan
Konsultan dengan biaya dibebankan kepada Kontraktor.
2.5. Persyaratan Bahan
1. Kontraktor diwajibkan menyerahkan contoh bahan/barang yang disebut dalam lingkup pekerjaan
kepada Konsultan untuk mendapat persetujuan sebelum dipasang. Apabila hal tersebut tidak
memungkinkan, minimal brosur spesifikasi teknis harus ditunjukkan dan disetujui oleh Konsultan.
2. Kontraktor harus membuat tempat penyimpanan bahan/material serta peralatan kerja (gudang) agar
rapi aman dan memudahkan pemeriksaan.
3. Jika bahan/material dan peralatan kerja tersebut harus melewati jalanan umum, Kontraktor harus
menjaga ketertiban dan kelancaran serta mengganggu lalu lintas.
4. Konsultan berhak menambah peralatan yang dipergunakan atau menolak peralatan yang tidak
memenuhi syarat.
5. Bila pelaksanaan pekerjaan telah selesai, maka kontraktor harus segera mengeluarkan atau
memindahkan peralatan tersebut, kerusakan akibat penggunaan peralatan kerja tersebut harus
diperbaiki kembali atas beban biaya Kontraktor.
6. Semua material yang terbuat dari besi (Armatur) dan pipa yang dipergunakan untuk konstruksi,
penyangga, penggantung dan lain-lain harus diproses sebagai berikut :
a. Disikat dengan sikat kawat / dibersihkan hingga mengkilat dan bebas dari karat.
b. Dicat dasar / meni anti karat (Zincromate) kualitas baik 2 kali.
c. Dicat akhir dengan cat berkualitas baik 2 kali dengan warna yang akan ditentukan kemudian /
sesuai dengan penggunaan.
d. Kecuali material yang terbuat dari plastik, Stainless stell dan alumunium tidak perlu dicat, cukup
dibersihkan saja.
2.6. Konstruksi Panel Listrik
1. Panel harus terbuat dari plat baja, dengan rangka yang terbuat dari besi siku atau besi plat yang
dibentuk dan diberi cat dasar dengan meni tahan karat serta difinish dengan cat bakar powder
coating warna abu-abu.

2. Ketebalan plat baja harus mengikuti ketentuan dibawah ini :


Panel Dinding Pintu
Panel Utama 2.0 mm 3.0 mm
Sub. Distribusi Panel 1.6 mm 2.0 mm
Panel Pembagi & Sub. Panel 1.6 mm 2.0 mm

3. Karakteristik panel :
a. Tegangan kerja : 220-415 Volt
b. Tegangan Uji : 3.000 Volt
c. Tegangan Uji impuls : 20 kV
d. Frekuensi : 50 Hz.
4. Panel harus dilengkapi dengan master key.
5. Setiap panel harus dilengkapi dengan label, yang memberi nama pada setiap panel, misalnya Main
Panel (Panel Utama Tegangan Rendah dan sebagainya).
6. Untuk Panel Distribusi harus dilengkapi dengan peralatan ukur dan meter ukur Type “Moving Iron
Type” dengan ukuran yang proporsional dan peralatan lain misalnya lampu Indikator dan Minifuse.
7. Pada dinding panel bagian sisi kiri dan kanan, harus disediakan lubang ventilasi dengan dibagian
dalamnya diberi plat / lapisan pelindung, sehingga dapat dicegah kemungkinan terjadinya tusukan
secara langsung terhadap bagian-bagian dalam panel yang bertegangan.
8. Konstruksi dalam panel-panel serta tata letak komponen harus diatur sedemikian sehingga, apabila
perlu dilaksanakan perbaikan perbaikan, penyambungan kabel ke terminal CB dapat dilakukan
dengan mudah tanpa mengganggu komponen yang lain.
9. Pengaturan komponen panel, posisi dan ukuran ventilasi harus tidak menyebabkan temperatur
didalam panel 5 derajat lebih tinggi dari urara diluar panel.
10. Untuk pemasangan kabel incoming dan outgoing harus disediakan terminal penyambung yang disusun
rapi dan ditempatkan pada lokasi yang tepat dalam arti kata pada bagian panel dimana kabel
incoming itu datang dan kabel outgoing itu meninggalkan panel.
11. Panel jenis Free Standing dipasang pada lantai kerja dengan lokasi seperti pada gambar
perencanaan. Pemasangan panel harus menggunakan dudukan konstruksi baja dan harus diperkuat
dengan mur baut atai dinabolt sehingga tidak akan berubah posisi oleh gangguan mekanis.
12. Panel jenis wall mounting dipasang flush mouting pada dinding tembok dengan lokasi sesuai Gambar
perencanaan. Pemasangan panel pada dinding harus diperkuat dengan baut tanah (anchor bolt)
sehingga tidak tidak akan rusak oleh gangguan mekanis.
13. Box panel dan semua material yang bersifat konduktif yang berada disekitar panel harus
dihubungkan ke sistem pengaman pentanahan gambar skema rangkaian listrik panel harus dilengkapi
dengan gambar-gambar skema rangkai listrik, lengkap dengan keterangan mengenai bagian - bagian
intalasi yang diatur oleh panel tersebut. Gambar skema rangkai listrik dibuat dengan baik dan
dilaminasi plastik. Ditempatkan pada panel bagian dalam.
14. Panel mempunyai tutup bagian dalam dan pintu luar yang dilengkapi dengan kunci dan handle pintu.
Handle itu dipasang baik untuk tutup bagian dalamnya panel maupun tutup bagian luar (pintu) panel.
15. Pada bagian diatas panel (dari ambang atas sampai dengan 12 cm dibawah ambang atas panel)
harus disediakan tempat untuk pemasangan lampu, indikator, fuse dan alat-alat ukur. Bagian tersebut
merupakan bagan terpisah dari pintu panel dan kedudukannya menetap (fixed). Ukuran panel tidak
mengikat dan dapat disesuaikan dengan ukuran komponen yang dipilih dan standard pabrik pembuat.
16. Pada bagian dalam pintu panel harus digambarkan diagram sistim instalasi panel tersebut secara
lengkap dan baik serta harus dilaminasi.
17. Ukuran panel disesuaikan dengan kebutuhan sirkit atau disesuaikan dengan lapangan.
18. Perletakan komponen didalam panel harus mudah dilihat, mudah dilepas dan dipasang pada saat
penggantian komponen. Setiap kabel harus dipasang tanda warna phasa (marking colour end cup).
19. Pembuat panel harus memperhitungkan kemampuan panel menahan arus hubung singkat
berdasarkan level arus hubung singkat yang mungkin terjadi (short circuit prospective).
20. Setiap pintu panel harus disediakan tempat untuk menyimpan gambar/diagram panel. Gambar
diagram panel harus dibundel rapi dalam sampul plastik atau dilaminating.
21. Persyaratan Pemasangan :
a. Konstruksi, penempatan peralatan dan kabel harus rapi, kuat terpasang, aman dan mudah
diperbaiki.
b. Tiap–tiap panel harus ditanahkan dengan kawat BC / NYA dengan ukuran sesuai dengan
gambar perencanaan.
c. Panel-panel listrik baru adalah jenis In-door / outdoor type, terbuat dari plat baja.
d. Untuk type out-door ditambahkan konstruksi yang dibentuk sedemikian rupa sehingga air hujan
tidak dapat masuk.
e. Panel dipasang pada dinding dengan menggunakan Dynabolt 8 mm, konstruksi ini disesuaikan
dengan perlatan/komponen yang terpasang.
f. Semua bagian perlatan yang bertegangan harus mempunyai jarak yang cukup dengan bagian
peralatan yang lain. Apabila perlu harus diberi tambahan Isolator untuk menghindari adanya
hubung singkat.
g. Panel di cat dengan cat dasar (meni) tahan karat 2 kali cat akhir dari jenis cat bakar 2 kali yang
tahan gores. Sebelum di cat, panel termasuk rangkanya harus dibersihkan dari karat, bila perlu
digunakan bahan kimia penghilang karat (RUST REMOVER).
h. Panel harus dilengkapi mur-baut untuk terminal pentanahan, baut terminal harus dilas penuh
pada rangka panel. Ukuran mur-baut 3/8”.
i. Pintu Panel harus dihubungkan dengan rangka panel menggunakan kawat tembaga Flexible
(NYMHY 1 x 6 mm²) untuk pentanahan pintu panel.
j. Untuk masuk dan keluarnya kabel ke dan dari panel menggunakan wartel mur sesuai ukuran
kabel.

2.7. Bus-Bar / Rel Tembaga


1. Dalam box panel harus disediakan sarana pendukung kabel yang diketanahkan (grounding) dan
busbar pengetanahan, yang berfungsi untuk dudukan ujung kabel pertanahan.
2. Busbar dan terminal penyambung panel harus sesuai untuk sistim 3 phase, 4 kawat dan mempunyai 5
busbar dimana busbar pentanahan terpisah yang terdiri dari 3 busbar untuk phase R-S-T, 1 busbar
untuk Neutral, dan 1 busbar unbtuk grounding. Kapasitas busbar harus mampu mengalirkan arus
minimal sebesar 2 kali dari rating pengaman utama. Setiap busbar harus diselubungi bahan isolatif
dengan warna standar untuk identifiksi phasa.
3. Busbar dari bahan tembaga yang digalvanisasi dengan perak. Galvanisasi ini, termasuk pula bagian
yang menempel pada busbar, seperti sepatu kabel dan lain-lain.
4. Pemasangan kabel pada busbar dan terminal penyambung harus disusun dan dipegang oleh isolator
dengan baik, sehingga mampu menahan elektron mekanikal force akibat arus hubungan singkat
terbesar yang mungkin terjadi.
5. Penyusunan busbar diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan dalam perawatan, penambahan
breaker dan kegiatan lainnya dimasa yang akan datang.
6. Busbar harus memiliki kemurnian tembaga diatas 95%, dan harus tidak menyebabkan keretakan
permukaan jika ditekuk 90°.
7. Bus-bar terbuat dari tembaga dengan kemurnian tinggi dengan kemampuan arus minimum 1,5 kali
kapasitas / kemampuan pengaman utamanya, kecuali Bus-bar PE yang ukurannya lebih kecil dan
disesuaikan kawat tanahnya. Dimensi dan kemampuan rel dapat dilihat pada gambar.
8. Semua Bus-bar harus ditopang kokoh pada rangka Konstruksi dengan menggunakan penyangga atai
dijepit partinax pada beberapa tempat sehingga Konstruksi Bus-bar cukup kuat dan tidak lentur /
bergetar. Tahanan isolasi terhadap Body / rangka minimum 50 M Ohm.
9. Bus-bar untuk pertanahan/penghantar pembumian / di klem dengan baik ke rangka panel, cat pada
bagian rangka yang menempel Bus-bar pentanahan harus dihilangkan.

2.8. Circuit Breaker


1. Peralatan pengaman / Circuit Breaker (MCCB / MCB) / ELCB (Eath Leakage Circuir Breaker /
RCD (Residual Current Devices) yang dipasang pada Base Plate atau plat dasar yang terpasang
kuat pada rangka panel.
2. Untuk memudahkan pengenalan distribusi beban pada setiap MCCB / MCB /ELCB / RCD dan
peralatan penting yang lain harus diberi nama / nomor saluran yang dapat dibaca dengan jelas /
mudah.
3. Circuit breaker yang digunakan dari type MCCB dan MCB yang dilengkapi dengan thermal
overcurrent release dan electromaghnetic overcurrent release yang rating ampere trip dapat disetel
(adjustable) untuk jenis MCCB. Komponen Panel produksi ex. ABB, Schneider, Klockner Moeller,
Siemens.
4. Circuit breaker harus mampu mengamankan beban apabila terjadi arus lebih, hubung singkat,
tegangan sangat rendah, tegangan sangat tinggi, hilang salah satu fasa. Circuit breaker harus
dilengkapi dengan kendali motor (motorized) seperti pada gambar perencanaan.

5. Setiap circuit breaker harus dilengkapi dengan proteksi arus lebih dan proteksi arus hubung singkat.
Untuk Panel penerangan dan daya kecil harus dapat bekerja pada sistem tegangan 230/400V, 3 fasa,
4 kawat, 50Hz serta dilengkapi dengan busbar untuk fasa, netral, pembumian dan peralatan
pengaman jaringan berupa MCB/ELCB/RCD/MCCB/FUSE dengan kapasitas sesuai kebutuhan.
Setiap panel harus dilengkapi dengan CB/MCCB utama 4 kutub dan untuk circuit cabang
mengunakan 2 kutub untuk satu fasa (MCB/ELCB/RCD) atau 4 pole untuk 3 fasa (MCB), jumlah
dan ukuran sesuai dengan kebutuhan. Circuit breaker cabang harus dilengkapi dengan pengaman
arus bocor dengan arus penala sebesar 30 mA dan diindikasikan berupa code atau tulisan. Panel
dapat dilengkapi dengan sikring pengaman utama sesuai kebutuhan serta telah di test dan disetujui
pabrik yang menyatakan test arus pemutusan hingga 50 kA RMS.
6. Pada circuit breaker dan terminal penyambung harus diberi indikasi / label / sign plates mengenai
nama beban atau kelompok beban yang dicatat daya listriknya. Label itu harus harus dibuat dari plat
aluminium atau standar DIN 4070.
7. Sekering/Fuse (jika ada) harus tipe HRC/HHC dan mampu menahan arus hubung singkat diatas 100
kA. Fuse harus dilengkapi dengan dudukan dan rumah sekering (Safety Fuse Holder).
8. Magnetik Kontaktor harus memiliki kemampuan sesuai dengan daya beban dan tidak kurang dari
yang tercantum pada gambar perencanaan.
9. Magnetik kontaktor harus mampu menahan arus gangguan sebelum peralatan pengaman gangguan
bekerja.
10. Outgoing circuit breaker dari Main Distribution Switch Board harus dilengkapi dengan proteksi
kehilangan arus satu phase.
11. Cirkuit Breaker untuk proteksi motor - motor listrik harus menggunakan Cirkuit Breaker yang
dirancang khusus untuk pengamanan.
12. Breaking Capacity dan rating Cicuit Breaker yang digunakan harus sebesar yang tercantum dalam
gambar Perencanaan.
13. Semua Circuit Breker harus diidentifikasi dengan jelas. Identifikasi ini meliputi Breaking Capacity-
nya, Voltage Rating dan Ampera Trip-nya sesuai dengan dinyatakan dalam gambar perencanaan.
14. Pemasangan MCB harus menggunakan omega rail sedangkan MCCB dan komponen-komponen lain
seperti relay contractor, time switch lain harus menggunakan dudukan plat.
15. Pemasangan komponen-komponen tersebut harus rapi dan kokoh sehingga tidak akan lepas oleh
gangguan mekanis dan thermis.
16. Jika dalam gambar perencanaan dinyatakan ada spare tersebut harus terpasang secara lengkap.
Semua CB harus diberi label / sign plate yang terbuat dari bahan yang sudah disetujui oleh
Konsultan.
2.9. Alat Ukur / Indikator
1. Panel Utama dilengkapi dengan alat – alat ukur seperti :
a. Volt meter
b. Ampere meter pada masing – masing phase
c. Frekuensi Meter
d. KW meter
e. Cos Phi Meter
f. RPR Meter
g. Selector switch
h. Trafo arus
i. Indicator lamp. & Fuse
2. Tidak semua panel dilengkapi peralatan diatas melainkan harus disesuaikan dengan gambar
perencanaan. Voltmeter dilengkapi dengan selector switch yang mempunyai mode 7 posisi.
a. 3 Kali phase terhadap netral
b. 3 Kali phase terhadap phase
c. Posisi Off
3. Alat ukur / metering yang digunakan adalah jenis „semi flush mounting‟ didalam kotak tahan getaran
ukuran 96x96mm dengan ketelitian skala 1% dan bebas dari pengaruh induksi serta memiliki
sertifikat tera dari LMK / PLN (minimum satu buah untuk setiap jenis alat ukur).
4. Ukuran peralatan ukur adalah 9 cm, surface mounted dilengkapi dengan pengaman arus lebih dan
arus hubung singkat.
5. Ampere meter yang digunakan mempunyai range pengukur sesuai dengan ranting incoming CBnya.
6. Lampu indikator yang digunakan adalah dari tipe LED :
a. Warna merah untuk phase R
b. Warna Kuning untuk phase S
c. Warna hijau untuk phase T
d. Lampu-lampu indikator harus diproteksi dengan menggunakan fuse jenis diazed.

2.10. Sistem Pentanahan


1. Penghantar Pengaman yang biasa digunakan adalah : kawat tembaga telanjang atau BC (Bare
Conductor).
2. Pembumian biasanya dilakukan pada :
- Titik pembumian sistem listrik pada generator atau transformator.
- Bagian konduktif terbuka perlengkapan (peralatan listrik) dan isolasi listrik.
3. Sistem pentanahan panel listrik yang digunakan pada Instalasi ini adalah sistem PNP (Pentanahan
Netral Pengaman), sesuai aturan yang digunakan pada PUIL 2000.
4. Elektroda pentanahan menggunakan “Elektroda Batang Tembaga” dengan ground rod 5/8” yang
ditanam sedalam minimal 6 (enam) meter hingga dicapai tahanan pentanahan minimal 1 Ohm.
Apabila tidak tercapai keadaan 1 Ohm, maka harus diusahakan dengan memparalelkan beberapa
ground rod hingga tercapai keadaan yang diinginkan.
5. Bila perlu elektroda pentanahan untuk badan peralatan dan panel harus dipisahkan penanamannya
sejauh minimum 3 meter satu dengan yang lain.
6. Saluran pentanahan dari elektroda pentanahan sampai ketinggian manusia (minimal setinggi +/-
2.500 mm) harus dilindungi dengan pipa PVC High Impact (HI) 20 mm.
7. Saluran ini tidak boleh ada sambungan hanya diperbolehkan pada terminal yang disediakan dengan
menggunakan sambungan mur baut dan sepatu kabel yang sesuai.
8. Penampang kawat pentanahan dari masing-masing panel dapat dilihat pada gambar masing-masing
panel.
9. Titik pentanahan panel ini harus dipisahkan dengan system pentanahan penangkal petir dan peralatan
lain (peralatan kontrol, MCFA, PABX, dll) minimal sejauh 10 meter.
10. Penyambungan dipanel harus pada rek pentanahan atau mur baut yang telah di las ke badan panel.
2.11. Capasitor Bank
1. Capacitor Bank yang dipergunakan adalah type H-Range yang dapat dioperasikan secara manual
maupun otomatis.
2. Sebagai pemutus dipergunakan peralatan yang direkomendasi oleh pabrik untuk capacitor, sedangkan
contactor sebagai switching mempunyai rating 1,42 x arus nominal capacitor sesuai dengan prinsip
hitungan pabrik sehingga mampu mengkoreksi power faktor secara baik (sampai didapat Cos µ
sebesar minimum 0,95).

2.12. Kabel Instalasi


1. Persyaratan teknis ini berlaku untuk :
a. Kabel daya
 Yang dimaksud dengan kabel daya adalah kabel yang menghubungkan antara panel satu
dengan panel yang lainnya termasuk peralatan bantu dibutuhkannya.
 Setiap kabel daya ujungnya harus diberi end cup marking colour, untuk mengidentifikasi
warna phasa. Warna tanda harus tidak boleh berubah atau pudar karena temperatur kabel.
 Setiap tarikan kabel / sirkit harus tidak diperbolehkan adanya sambungan kecuali untuk kabel
instalasi penerangan.
 Kabel Tegangan Rendah
1) Kabel Tegangan Rendah (0,6 / 1 KV) mulai digunakan dari Meter PLN ke Panel
Tegangan Utama Tegangan Rendah/Main Panel dan seterusnya hingga kesetiap titik
beban.
2) Kabel Tegangan Rendah ( 1 KV ) digunakan pada instalasi yang langsung berhubungan
dengan tanah.
3) Untuk kabel jenis NYFGBY, metal armournya harus digunakan sebagai grounding body.
4) Kabel Tegangan Rendah (500 Volt) digunakan pada instalasi penerangan.
5) Kabel tahan api digunakan khusus untuk melayani beban-beban seperti : Lift, Pemadam
Kebakaran, Motor Pressurize Fan.
b. Instalasi penerangan
Yang dimaksud dengan instalasi penerangan adalah kabel-kabel menghubungkan antara panel-
panel penerangan dengan fixture penerangan. Dalam instalasi penerangan ini harus termasuk
juga peralatan-peralatan bantu instalasi seperti conduit, sparing, doos penyambung, doos
pemasangan dan lain-lain yang dibutuhkan untuk kesempurnaan instalasi penerangan.
c. Instalasi tenaga
- Yang dimaksud dengan instalasi tenaga adalah kabel yang menghubungkan panel-panel
daya dengan beban-beban stop kontak, peralatan tata udara (exhaust fan, air conditioning)
pompa–pompa listrik (pompa air bersih, pompa bahan bakar), panel control (CP-IN dan CP
RAD) dan lain-lainnya sesuai dengan gambar perencanaan. Dalam instalasi daya ini harus
sudah termasuk outlet daya, conduit, sparing, doos penyambung, doos pemasang, dan
peralatan–peralatan bantu lainnya yang dibutuhkan untuk kesempurnaan instalasi daya.
- Untuk pengabelan instalasi tenaga (Kabel Utama) :
a. Pemasangan kabel harus memenuhi persyaratan dari pabrik kabel dan persyaratan
umum yang berlaku.
b. Semua penarikan kabel harus menggunakan sistem roll untuk memudahkan pekerjaan
dan kabel tidak rusak karena tekukan dan puntiran.
c. Sebelum penarikan kabel dimulai, pemborong harus menunjukkan kepada Konsultan
alat roll tersebut serta alat-alat lainnya.
2. Kabel–kabel listrik yang digunakan harus sesuai dengan standard yang berlaku yang diakui di negara
Republik Indonesia. Ukuran kabel untuk instalasi listrik yang digunakan minimal harus sesuai dengan
gambar Perencanaan dan sudah direkomendasi oleh LMK produksi ex. Supreme, Kabelindo,
Kabelmetal
a. Inti Tembaga
b. Ukuran minimum 2.5 mm2 kecuali untuk kabel control
c. Kabel harus dalam keadaaan baru, tanpa cacat dan bila perlu harus ada surat keterangan dari
distributor/pabrik.
d. Semua kabel di kedua ujungnya harus diberi tanda dengan cable mark yang jelas dan tidak
mudah hilang untuk mengidentifikasi arah beban.
e. Ketentuan pemberian tanda harus mengacu pada SNI 04-0225-2000 pasal 7.2.
f. Penyambungan :
- Penyambungan kabel ke terminal panel/peralatan di semua bangunan adalah tanggung
jawab kontraktor.
- Sambungan harus dilaksanakan dengan baik, cukup kuat/erat sesuai dengan model terminal
peralatan yang terpasang.
- Penyambungan kabel kotak kontak atau kabel penerangan harus dilakukan didalam kotak
sambung. Kotak sambung harus terbuat dari bahan yang sama dengan conduit dipasang
tutup dengan skrup. Tutup kotak dengan cara clip tidak diijinkan. Setiap sambungan harus
memakai alat penyambung berupa las dop.
- Tidak diperkenankan melakukan penyambungan di dalam tanah ditengah perjalanan kecuali
apabila panjang kabel/saluran melebihi standard panjang yang telah ditentukan oleh pabrik,
kecuali memang ada pekerjaan penyambungan kabel.
- Apabila terpaksa dilakukan pernyambungan karena saluran lebih panjang dari standar
pangjang pabrik maka sistem/cara penyambungan harus dibicarakan dengan Konsultan
untuk mendapatkan persetujuan.
- Semua penyambungan kabel pada kotak sambung menggunakan sambungan puntir dengan
lasdop tidak boleh menggunakan isolasi.
g. Pada setiap jarak maksimum 25 meter dan setiap belokan sepanjang jalur penanaman kabel
harus di pasang patok beton dengan tulisan „TR/TM‟.
h. Semua kabel yang dipasang menembus dinding harus dipasang sleeve pipa galvanized minimum
2,5 kali penampang kabel.
3. Pemipaan (conduit)
a. Konduit digunakan untuk melindungi kabel yang ada didalamnya, yang umum digunakan pada
bangunan tinggi adalah “Isolasi PVC High Impact (HI)” yang khusus digunakan untuk instalasi
penerangan saja.
b. Pipa PVC HI yang dipergunakan produksi ex. CLIPSAL, EGA yang sudah direkomendasi oleh
LMK, bila diperlukan kontraktor harus dapat menunjukkan bukti rekomendasi tersebut.
c. Berhubung untuk instalasi penerangan hanya terdapat 1 (satu) kabel untuk 1 (satu) konduit, maka
sesuai Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL 2000) berlaku faktor pengisian maksimum = 50
%.

Luas penampang luar kabel


Faktor pengisian : --------------------------------------- x 100%
Luas penampang dalam konduit

d. Pasangan kabel dalam pipa PVC HI pada jarak maksimum 100 cm harus diberi klem.
e. Klem dibuat dari bahan plat logam digalvanis atau allumunium, pemasangan pada tembok harus
menggunakan vicher dan sekrup, pemasangan dengan menggunakan paku tidak dibenarkan.
Untuk kabel berpenampang 16 mm2 atau lebih harus dilengkapi dengan sepatu kabel untuk
terminasinya.
f. Pemasangan sepatu kabel untuk kabel berukuran 70 mm2 atau lebih harus menggunakan
hydraulic press kemudian di solder dengan timah pateri.
g. Sepatu kabel yang dipergunakan harus sesuai dengan besarnya kabel dan harus yang berkualitas
baik, standart produksi ex. GAE, 3M.
4. Tahanan Isolasi
a. Tahanan isolasi kabel yang dipersyaratkan sesuai pasal 213 sub pasal 213.B.2 PUIL 1987 adalah
minimum 1000OHM per satu volt tegangan nominal.
b. Tahanan isolasi kabel yang digunakan harus sedemikian rupa sehingga arus bocor yang terjadi
tidak melebihi 1 mA untuk setiap 100 m panjang kabel. Kecuali untuk instalasi yang harus
beroperasi pada keadaan darurat.
5. Kabel-kabel yang digunakan adalah kabel yang sesuai dengan fungsi dan lokasi pemasangannya
seperti table dibawah ini / sesuai dengan gambar Perencanaan :

Pemakaian Jenis Kabel


Instalasi penerangan didalam bangunan NYA
Instalasi penerangan diluar bangunan NYY, NYFGbY
Instalasi kabel tenaga didalam bangunan NYA, NYY
Instalasi kabel daya didalam bangunan NYY
Instalasi kabel daya diluar bangunan didalam NYFGbY
tanah

Sebagai pengenal untuk inti kabel atau rel digunakan warna, lambang atau huruf seperti yang terdapat
dalam tabel Tabel PUIL 2000.

P engenal
Pengganti Inti Dengan Dengan Dengan warna
huruf lambang
Atau Rel
1 2 3 4
A. Instalasi arus bolak-balik :
Fase Satu L 1/R Merah
Fase Dua L 2/S Kuning
Fase Tiga L 3/T Hitam
Netral N Biru
B. Instalasi perlengkapan listrik :
Fase satu U/X Merah
Fase dua V/Y Kuning
Fase tiga W/Z Hitam
C. Instalasi arus searah :
Positif L+ + Tidak ditetapkan
Negatif L- - Tidak ditetapkan
Kawat tengah M Biru
D. Penghantar Pembumian HB Loreng hijau - kuning
Tabel Pengenal inti kabel atau rel

Warna kabel yang mengikat (harus ada) adalah biru (untuk netral) dan kuning / hijau (untuk ground).
Bila warna tersebut tidak ada maka pada ujung-ujung kabel harus diberi isolasi dengan warna yang
bersesuaian seperti butir di atas.
6. Pelaksanaan penanaman galian pada kondisi khusus dimana penanaman kabel tidak dapat
dilaksanakan dengan kedalaman  1,20 meter, maka pelaksanaannya sebagai berikut :
a. Minimum 0,80 meter di bawah permukaan tanah, pada jalan-jalan yang dilewati kendaraan .
b. Minimum 0,60 meter di bawah permukaan tanah, pada jalan-jalan yang tidak dilewati kendaraan
(pedestrian) dan diberi pelindung pipa galvanized dengan penampang minimum 2,5 kali
penampang kabel.
c. Pada kondisi dimana terdapat kabel PLN tegangan menengah/tinggi dan kabel telekomunikasi
maka kabel tanah harus ditempatkan di atas kabel PLN dengan jarak minimum 50 cm.
d. Pada persilangan antara kabel tanah dan kabel lainnya harus diambil salah satu tindakan
pengamanan, kecuali jika salah satu kabel tanah yang bersilangan itu terletak di dalam saluran
pasangan batu, beton atau semacam itu yang mempunyai tebal dinding sekurang-kurangnya 6
cm.
 Di atas kabel tanah yang terletak di bawah, harus dipasang tutup pelindung dari lempengan
beton (concrete tile) atau pipa beton atau sekurang-kurangnya dari bahan tahan lama atau
yang sederajat.
 Di atas kabel yang terletak di atas, dipasang pelindung beton, pipa beton belah atau dari
bahan lain yang cukup kuat tanah lama dan tahan api. Pipa belah ini harus dipasang
menjorok keluar sekurang-kurangnya 0,5 meter dari kabel yang terletak di bawah diukur
kabel sisi luar.
e. Pada tempat persilangan dengan kabel tanah telekomunikasi, kabel tanah harus dilindungi pada
bagian atasnya dengan pipa belah, plat atau pipa dari bahan bangunan yang tidak dapat terbakar.
 Jika kabel tanah menyilang di atas kabel tanah telekomunikasi dengan jarak lebih kecil dari
0,3 meter maka pada bagian yang menghadap ke kabel tanah telekomunikasi dipasang alat /
pipa dari bahan bangunan yang tidak dapat terbakar. Perlindungan ini harus menjorok keluar
paling sedikit 0,5 meter dari kedua sisi persilangan.
 Pelindung kabel tanah tersebut baik pada kabel tanah tersebut maupun pada kabel tanah
telekomunikasi harus menjorok keluar paling sedikit 0,5 meter dari kedua ujung tempat
persilangan dan pendekatan itu.
 Kabel tanah telekomunikasi yang diletakkan di dalam jalur kabel dianggap telah terlindung.
f. Kontraktor wajib mengembalikan galian tanah dalam keadaan semula dengan seluruh biaya
menjadi kewajiban kontraktor.
7. Rak Kabel
a. Rak kabel digunakan untuk menunjang kabel-kabel utama (feeder cable), atau kabel lainnya yang
berada dalam jumlah yang cukup banyak.
b. Rak kabel umumnya buatan pabrik yang telah digalvanized dan dalam pemasangannya harus
dibumikan.
c. Dimensi rak kabel harus mencukupi kebutuhan kabel yang akan dilayaninya. Seluruh kabel yang
ada diatas rak kabel harus diikat dengan pengikat kabel (cable ties).
d. Penyusunan kabel didalam rak harus secara rapi dan tidak saling menyilang.
8. Seluruh bahan metal tidak bertegangan (rak kabel, panel dll) harus ditanahkan secara sempurna,
pada sambungan rak kabel dimana sambungan tersebut tidak menggunakan las maka kedua bagian
rak harus „jumper‟ dengan konduktor tembaga minimal berpenampang 2,5mm2.
9. Untuk galian kabel yang melalui jalur kabel existing/lama harus dikerjakan dengan extra hati-hati.
Bila terjadi kerusakan pada kabel existing karena terkena peralatan gali (pacul, ganco, dsb),
kontraktor harus mengganti kabel tersebut tanpa adanya tambahan biaya, termasuk biaya perawatan
pekerja yang mengalamai kecelakaan hingga sembuh benar.
10. Pengurusan Ijin Instalasi Listrik kepada Instansi yang berwenang (PLN) merupakan Pekerjaan dan
Tanggung Jawab dari Kontraktor.
11. Motor
a. Motor dengan kapasitas sama atau lebih kecil 5,5 Kw yang distart secara langsung atau Direct
On Line (DOL) starters.
b. Motor dengan kapasitas lebih besar 5.5 KW distart secara star delta (Y-) starters.
2.13. Armatur Lampu
1. Lampu dan armaturnya harus sesuai dengan yang dimaksudkan, seperti yang dilukiskan dalam
gambar-gambar detail Elektrikal.
a. Semua rumah lampu khususnya untuk kebutuhan penerangan general harus produksi di pabrik
yang berada di dalam negeri serta mempunyai jaringan distribusi penjualan atau kantor cabang
resmi yang berada disetiap wilayah kota di Indonesia.
b. Pabrikan rumah lampu bersedia memberi jaminan atas tersedianya barang dalam jangka waktu
minimal 5 tahun kedepan sehingga apabila ada beberapa produk membutuhkan sperpat
pengganti maka barang tersebut masih tersedia dan terjamin kontinuitasnya.
c. Pabrikan rumah lampu yang digunakan adalah pabrikan yang dapat memberikan garansi atas
produk yang dikeluarkanya minimal 1 tahun sejak barang terpasang di proyek.
d. Semua armatur lampu yang terbuat dari metal harus mempunyai terminal pentanahan
(grounding).
e. Semua lampu flourescent dan lampu discharge lainnya harus dikompensasi dengan kapasitor
yang cukup untuk mencapai faktor daya 90% - 95%.
f. Diffuser/reflector lampu-lampu harus terbuat dari bahan yang cukup kuat terhadap kenaikan
temperatur dan beban mekanis dari diffuser itu sendiri.
g. Reflektor harus mempunyai lapisan pemantul kualitas baik.
h. Box tempat ballast, kapasitor, dudukan starter dan terminal block harus cukup besar dan dibuat
sedemikian rupa sehingga panas yang ditimbulkan tidak mengganggu kelangsungan kerja dan
umur teknis komponen lampu. Ventilasi dalam box harus cukup.
i. Kabel-kabel dalam box harus diberikan saluran atau klem-klem tersendiri sehingga tidak
menempel pada ballast atau kapasitor.
j. Ballast harus mempunyai dudukan yang kuat dalam box lampu, tetapi mudah dibuka untuk
diperiksa atau diangkat.
2. Jenis dan type yang diperkenankan adalah sebagai berikut :
a. Armatur Lampu produksi ex. Artholite, Spectra, Phillips dan Interlite.
b. Type lampu tabung TLD, PLC, Halogen, PAR & SON produksi ex. Osram, Philips.
c. Ballast produksi ex. Osram, Philips, Schwabe .
Ballast harus leak proof, mempunyai temperatur kerja rendah, noiseless, rumahan dari bahan
polyester. Ballast harus dilengkapi dengan connection terminal.
d. Starter produksi ex. Osram, Philips.
Starter switch, terminal dan tube fitting, dengan sistem rotary lock. Stater untuk lampu
fluorescent mempunyai reability tinggi, terbuat dari high quality white polycarbonate. Rating
stater disesuaikan dengan rating lampu TL.
e. Kapasitor produksi ex. Phillips / Vosloh / Cambridge. Yang digunakan harus Kapasitor yang
dapat menghasilkan p.f. 0.95 (kapasitas + 3.25 s/d 4.5 micro farad).
f. Fitting/Lamp Holder dan starter holder ( sockets ) produksi ex. Vossloh. Material dari white
plastic polycarbonate dengan proteksi Uncorosive dan Touchproof. Lamp holder dan starter
holder anti vibrator contact.
3. Pemasangan Out-Bouw / Surface / Permukaan menempel plafond.
a. Armature terbuat dari plat baja putih dengan ketebalan minimal 0,6 mm atau ketebalan total
setelah finis sekitar +- 0,7 mm, pembuatan harus dengan mesin peralatan lampu Built-in dan
dengan proses melalui sistem Pre Treatment dengan penyempurnaan finishing cat powder
coating.
b. Konstruksi armature harus kuat dan kokoh serta dibuat sedemikian rupa agar dapat dibuka /
dilepas untuk perbaikan / penggantian komponen yang berada di dalamnya. Armature dan
reflektor harus dilengkapi dengan sekrup, agar dapat dilepas pada waktu memerlukan perbaikan.
Seluruh armature harus lengkap dengan rangka dudukan / gantungan.
4. Persyaratan pemasangan titik lampu dan Peralatannya :
a. Seluruh instalasi pekerjaan lampu dan peralatan pada dasarnya dilaksanakan dengan
menggunakan kabel jenis NYA, dengan luas penampang penghantar sekurang-kurangnya 2.5
mm2 dan pipa conduit PVC HI dengan diameter sekurang-kurangnya 20 mm².
b. Kontraktor diwajibkan mengkoordinasikan rencana kerjanya dengan disiplin lainnya, sehingga
kemungkinan timbulnya persilangan lintasan antar instalasi yang berlebihan dapat dihindarkan.
c. Pemasangan instalasi lampu dan peralatan tidak dibenarkan membebani kerangka ceilling yang
ada, melainkan harus dipasang pada cable tray yang tersedia atau dilekatkan langsung pada
bagian bawah dari plat dan, dengan menggunakan klem dan concrete fastener yang sesuai,
sekali-kali penggunaan paku sangat dilarang dalam pengerjaan ini.
d. Jarak pemasangan klem-klem pengikat pipa conduit tidak diperkenankan melebihi 100 cm.
e. Pekerjaan pencabangan, splicing dan lain sebagainya harus dilaksanakan dalam junction boxes
(Tdoos, Xdoos, dsb), yang terbuat dari bahan yang sejenis dengan pipa conduit yang dipakai,
dengan menggunakan sambungan puntir dengan lasdop, yang ukuran-ukuranya sesuai dengan
ukuran dan jumlah kabel yang ada. Penggunaan insulation tape sama sekali tidak diperbolehkan.
f. Kabel penghantar yang menghubungkan fixtures lampu dengan instalasi yang ada, harus
dilindungi dengan menggunakan flexibel conduit yang terbuat dari bahan (dan memiliki ukuran)
yang sama dengan pipa conduit yang dipakai.
g. Untuk membedakan instalasi lampu dan peralatan dengan instalasi yang lain, pipa conduit yang
terpasang harus diberi tanda (label) berwarna pada setiap jarak 2 meter. (dapat dengan
menggunakan insulation tape). Warna tanda/label yang dipakai harus dikonsultasikan terlebih
dahulu dengan Konsultan.
h. Untuk pemasangan armature lampu jenis (surface mounted), tidak dibenarkan dipasang pada
plafond secara langsung, harus dipasang pada rangka plafond yang diperkuat dengan konstruksi
tambahan (bisa terbuat dari kayu yang di cat meni 2 kali yang sesuai atau dengan menggunakan
hanger / penggantung.
i. Semua pekerjaan perbaikan bekas bobokan dilaksanakan oleh Kontraktor Bangunan yang beban
biayanya menkadi tanggung jawab dari Kontraktor Listrik.

2.14. Emergency Battery


1. Komponen lampu Emergency yang dilengkapi Battery charger harus dipasang pada rumah lampu
jenis TL dan PLC yang diletakan pada daerah yang membutukan penerangan atau area evakuasi bila
terjadi lampu mati atau kebakaran dan berfungsi sebagai penerangan darurat serta berfungsi
sebagai penunjuk jalan pada saat terjadi pemadaman listrik.
2. Lampu Emergency harus berfungsi menyala minimal 2 jam saat terjadi pemadaman listrik.
3. Tegangan input pada komponen Emergency adalah 220 V, n 10 % 50 Hz, phase, dilenkapi dengan
indicator LED dan peralatan push to Check battery.

2.15. Soket & Outlet


1. Saklar dan kotak-kotak.
a. Socket Outlet
Outlet daya dan plug yang digunakan Produksi ex. ABB, Clipsal/Schneider indonesia,
Legrand dan harus memenuhi standard SII dan PLN atau standart lain yang berlaku dan diakui
di Indonesia.
b. Outlet daya dan plug harus mempunyai spesifikasi minimal sebagai berikut :
Rated Voltage : 250 volt
Rated Cutled : 10 A, 13A, 16A
c. Switches / Saklar
Saklar yang digunakan Produksi ex. ABB, Clipsal/Schneider indonesia, Legrand dan sesuai
dengan standard PLN atau SII atau standard lain yang berlaku dan diakui di Indonesia. Saklar
harus mempunyai spesifikasi :
Rated Voltage : 250 volt
Rated Current : minimal 10 / 16 A
2. Persyaratan pemasangan saklar dan stop kontak :
a. Saklar dipasang setinggi 150 cm dari lantai dengan pasangan terpendam (In-Bow) rata dengan
permukaan plesteran dinding atau didalam partisi dengan konstruksi tersendiri / khusus.
b. Kotak kontak yang dipergunakan adalah jenis in-bow / rata dengan permukaan plesteran dinding
atau didalam partisi dengan konstruksi tersendiri / khusus dengan menggunakan In-Bow doos
yang terbuat dari bahan yang sama dengan kotak kontaknya. Pemasangan kotak kontak pada
doosnya menggunakan sekrup.
c. Kotak kontak 1 phase dipasang setinggi 40 cm dari lantai / sesuai permintaan user (disesuaikan
dengan alat) dengan pasangan terpendam (In-Bouw) rata dengan permukaan plester dinding
atau didalam partisi dengan konstruksi khusus sesuai petunjuk dari Konsultan.
d. Kotak kontak 1 phase Khusus untuk Televisi Posisi Atas dipasang setinggi 210 cm dari lantai /
sesuai permintaan user (disesuaikan dengan alat) dengan pasangan terpendam (In-Bouw) rata
degnan permukaan plester dinding atau didalam partisi dengan konstruksi khusus sesuai petunjuk
dari Konsultan.
e. Kotak kontak 3 phase dipasang setinggi 40 cm dari lantai atau disesuaikan dengan kondisi ruang
dan perlatan terpasang dengan pasangan menempel dinding ( out-bouw ) dan harus terpasang
kuat, tidak boleh goyang/miring sesuai petunjuk Konsultan.
f. Kotak kontak 3 phase harus mempunyai terminal pentanahan (3 P + N + PE) tegangan 250 V.
g. Semua pemasangan out-bouw doos dan kotak kontak 3 phase pada dinding harus menggunakan
vischer dan sekrup, pemasangan pada kayu/meja harus menggunakan sekrup. Penggunaan paku
pada pekerjaan ini sangat dilarang.
h. Untuk kotak kontak yang dipasang untuk daerah basah harus memakai type tertutup (Water
Proof Type).
i. Kotak kontak 1 phase harus mempunyai terminal pentanahan (P + N + PE) tegangan 250 V.

2.16. Persetujuan Pabrik Pembuat

a. Component manufacturer : Schneider Indonesia, Siemens, GE, ABB.


b. Component Motor control Manufacturer : Schneider Indonesia, GE, Siemens.
c. Pembuat Panel : Sinar Metrindo Perkasa (Simetri), Sinar Inti Electrindo Raya
(SIER) dan ABB
d. Lighting Fixture : Philips, National, Interlite, Spectra, Artholite.
e. Panel control arus bocor : Bender (Pengsulindo)

Pasal 3
PEKERJAAN INSTALASI KOMUNIKASI DATA/LAN
3.1. Spesifikasi Umum
a. Kontraktor menawarkan seluruh lingkup pekerjaan yang sudah dijelaskan dalam spesifikasi dan
Gambar Rencana, dengan bahan-bahan, peralatan dan pengerjaan yang sesuai dengan yang tertera
dalam spesifikasi ini. Bila ternyata terdapat perbedaan antara spesifikasi bahan atau peralatan yang
dipasang dengan spesifikasi yang disyaratkan dalam pasal ini, maka Kontraktor wajib untuk
mengganti bahan atau peralatan tersebut sesuai ketentuan dengan tanpa adanya tambahan biaya.
b. Perencanaan dan pemasangan untuk structured cabling ini harus dilakukan oleh kontraktor spesialis
yang mempunyai tenaga ahli bersertifikasi Network Design and Installer dari pemegang merk
(principle), copy sertifikat harus dilampirkan pada saat penawaran tender dengan membawa aslinya
untuk ditunjukkan
3.2. Lingkup Pekerjaan
a. Kontraktor wajib memberikan alternatif sistem yang simple dalam hal maitenance dan mempunyai :
 Performance minimal 100 Mbps untuk jalur data horizontal.
 Performance mencapai 1000 Mbps untuk jalur data riser backbone.
b. Sebagaimana yang tertera pada Gambar Rencana, Kontraktor pekerjaan Jaringan Komputer harus
melakukan pengadaan, pemasangan dan pengujian sistem secara keseluruhan. Garis besar lingkup
pekerjaan Jaringan Komputer yang dimaksud adalah sebagai berikut :
c. Pengadaan, pemasangan dan pengujian perangkat Jaringan Komputer (network devices) yang
meliputi: Gigabit Ethernet Switch, Fast Ethernet Switch, Media transmisi, konektor dan aksesoris
tambahan lainnya.
d. Pengadaan, pemasangan dan pengujian jaringan kabel distribusi antar perangkat jaringan atau
perangkat jaringan ke konektor komputer di ruang-ruang yang ditentukan dengan menggunakan Alat
uji untuk UTP Cable Channel Link Category 6 (Microtest Omniscanner dengan firmware minimal
versi 6.10).
e. Pengesetan atau pemrograman perangkat Jaringan Komputer inti (Gigabit Ethernet Switch, Fast
Ethernet Switch) sesuai dengan feature-feature yang ditentukan.
f. Pemberian paket training kepada sekelompok Engineer/Teknisi pemilik dengan materi: pengesetan,
pemrograman serta trouble shooting sederhana dari Jaringan Komputer yang dipasang.
3.3. Bahan dan Peralatan
Bahan dan peralatan yang akan dipakai harus memenuhi atau mendekati persyaratan teknis sebagai
berikut:
a. Semua peralatan dan instalasi yang dipasang haruslah baru sama sekali dan tidak terdapat cacat
sedikitpun. Terhadap ketidak-sempurnaan/kekurangan-baikan barang/peralatan yang dikirim,
Konsultan berhak untuk menolak dan Kontraktor harus mengganti dengan yang baru sesuai
persyaratan.
b. Untuk alasan kompatibilitas dan keseragaman dalam pengesetan, seluruh perangkat jaringan inti
(Gigabit Ethernet Core Switch dan Fast Ethernet Edge Switch) harus memiliki standarisasi yang
sama.
c. Perangkat jaringan inti beserta dengan pengkabelan, konektor dan asesoris lainnya yang dibutuhkan
haruslah kompatibel satu sama lainnya, sehingga dapat menghasilkan unjuk kerja yang maksimum.
d. Kabel-kabel distribusi horizontaln Jaringan Komputer di dalam gedung menggunakan jenis UTP
Category-5e yang dijamin bekerja pada kecepatan sampai 100 MBPS. Kabel ditempatkan dalam
conduit dan diterminasi pada konektor Modular Jack yang dipasang secara inbow dan patch-panel
dalam rack 19”. Konektor Modular Jack yang digunakan harus memenuhi spesifikasi Category -5e.
e. Konduit: Jenis konduit yang dipakai adalah PVC conduit dengan diameter dalam minimum 20mm
high impact. Pipa, elbow, socket, junction box dan accessories lainnya haruslah sesuai satu dengan
lainnya.
f. Peralatan Active yaitu Active Switch dengan 12/24/48 port 10/100Base-TX dan 2 port 10/100/100
Base-T.
g. Perlengkapan lain yang belum disebutkan disini, namun merupakan kebutuhan pokok agar sistem
tersebut bisa beroperasi secara sempurna, harus dilengkapi oleh Kontraktor dan diinformasikan
kepada Konsultan.

3.4. Spesifikasi Teknis


a. Spesifikasi peralatan yang dipilih harus memenuhi spesifikasi yang ditetapkan. Untuk peralatan
jaringan inti (Gigabit Core Switch dan Fast Ethernet Edge Switch) ex. 3COM, Allied Telesyn
International.
b. Vendor Structure Cabling System :
 AMP Netconnect
 Belden IBDN
c. UTP Category 5e / 6:
 AMP Cat-5e / cat-6
 Belden IBDN Cat-5e or Cat-6
d. Patch panel, patch cord, modular outlet:
 AMP Cat-5e / Cat-6
 Belden IBDN Cat-5e / cat-6
e. Rack:
 ABBA Series Rack
 Fortuna Series Rack.
 V Series Rack.
f. Pemipaan ( Konduit )
 Konduit digunakan untuk melindungi kabel yang ada didalamnya, yang umum digunakan pada
bangunan tinggi adalah “Isolasi PVC High Impact (HI)” yang khusus digunakan untuk instalasi
penerangan saja.
 Pipa PVC HI yang dipergunakan produksi ex. CLIPSAL, EGA yang sudah direkomendasi oleh
LMK, bila diperlukan kontraktor harus dapat menunjukkan bukti rekomendasi tersebut.
 Berhubung untuk instalasi penerangan hanya terdapat 1 (satu) kabel untuk 1 (satu) konduit,
maka sesuai Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL 1987) berlaku faktor pengisian maksimum
= 50 %.
Luas penampang luar kabel
Faktor pengisian : --------------------------------------- x 100%
Luas penampang dalam konduit
 Pasangan kabel dalam pipa PVC HI pada jarak maksimum 100 cm harus diberi klem.
 Klem dibuat dari bahan plat logam digalvanis atau allumunium, pemasangan pada tembok harus
menggunakan vicher dan sekrup, pemasangan dengan menggunakan paku tidak
dibenarkan.Untuk kabel berpenampang 16 mm2 atau lebih harus dilengkapi dengan sepatu kabel
untuk terminasinya.

3.5. Pemasangan dan Pengetesan


a. Semua kabel yang dipergunakan harus ditempatkan dalam konduit PVC high impact dan dipasang
tertanam. Konduit harus diklem pada struktur bangunan dengan sadle klem. Bila diperlukan (mis.
pada lintasan melingkar) konduit PVC bisa dikombinasikan dengan pipa fleksibel. Untuk setiap 3 titik
menggunakan 1 pipa conduit ¾” Clipsal, dilengkapi dengan klem untuk pipa lurus setiap 1 meter.
Untuk sambungan sudut diberi pipa flexibel Clipsal.
b. Semua peralatan Jaringan Komputer harus dipasang pada tempat-tempat yang sesuai seperti
ditunjukkan dalam Gambar Rencana, dimana koordinat yang tepat dapat dilihat lebih jelas dalam
Gambar rencana titik komputer. Bagi penempatan perangkat jaringan yang belum jelas atau pada
penempatannya mengakibatkan masalah dengan armature penerangan atau peralatan yang terdapat
di plafon lainnya, agar dibicarakan dengan Konsultan.
c. Pemasangan Fast Ethernet Edge Switch yang tersebar harus berdekatan dengan supply listrik
(koordinasi dengan pemasang jaringan listrik).
3.6. Testing & Commissioning
a. Pemeriksaan
Pemeriksaan dilakukan setelah instalasi kabel dan pemasangan peralatan utama telah dilaksanakan.
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat dan memastikan bahwa pekerjaan instalasi telepon telah
dikerjakan sesuai spesifikasi dan peraturan yang berlaku. Hasil pemeriksaan direkam pada format
daftar simak (check list). Beberapa hal yang harus dilakukan pemeriksaan meliputi :
 Pemasangan unit Server dan terminasi kabelnya.
 Pemasangan Patch Panel.
 Instalasi kabel data / LAN dan konduit.
 Instalasi rak kabel.
 Pemasangan outlet-outlet data / LAN pada dinding atau lantai.
b. Pengujian
 Setelah semua telah selesai terpasang, dengan persetujuan dan disaksikan oleh Konsultan
dilakukan pengujian dengan cara mencoba sistem yang telah diprogram pada Server sampai ke
setiap unit komputer yang dipakai.
 Pengujian yang berhasil dan dapat diterima oleh Konsultan yang bertindak mewakili pemberi
tugas (Owner), harus dilengkapi dengan berita acara yang telah ditanda tangani oleh pihak-pihak
yang berkepentingan. Setelah ini dilanjutkan dengan pemberian buku petunjuk pengoperasian dan
pemeliharaan serta melaksanakan training kepada pengelola gedung. Sesudah semua ini
dilaksanakan maka dapat diadakan serah terima pertama dari kontraktor ke Pemberi Tugas.
 Pengujian sistem harus dilakukan sekurang kurangnya sebagai berikut:
 Pengujian simulasi komunikasi data system.
 Integrasi jaringan komputer dengan sistem yang ada (existing network).
 Uji pengesetan feature-feature perangkat jaringan sesuai spesifikasi yang ditentukan,
misalkan: VLAN, dll.
 Uji koneksi pada tiap-tiap titik komputer : untuk cable UTP menggunakan Microtest
Omniscanner dengan Module Channel Link Category 6 dan minimum firmware versi 6.10.
 Uji aplikasi berbasis Netware, Windows Network, dan Internet
 Uji Network Management system untuk seluruh perangkat jaringan: (configuring, monitoring
dan traffic analysis).
 Pengujian harus dilakukan oleh spesialis vendor sebagai authorized dealer penjualan
peralatan tersebut dan harus menyiapkan sertifikat pemasangan yang baik dari instansi yang
berwenang.
c. Kontraktor harus menyerahkan kepada Konsultan dalam rangkap 3 (tiga) mengenai hal – hal
sebagai berikut :
 Hasil pengetesan kabel – kabel.
 Hasil pengetesan peralatan – peralatan.
 Hasil pengetesan semua persyaratan operasi dan instalasi
 Hasil pengukuran – pengukuran dan lain - lain
 Semua pengetesan dan atau pengukuran tersebut harus disaksikan oleh Konsultan.

Pasal 4
PEKERJAAN INSTALASI PENGINDERA KEBAKARAN
4.1. Umum
Pekerjaan ini mencakup penyediaan, pemasangan sistem system fire alarm, pengujian dan pemeliharaan
peralatan sistem deteksi dan alarm kebakaran yaitu seluruh detector, Junction Box Fire Alarm, Bell,
Break Glass / Manual Call Point, Indicator Lamp dll.
4.2. Ketentuan Umum
1. Yang diinginkan dalam instalasi alarm kebakaran adalah sistim / rangkaian alarm kebakaran yang
menggunakan detector panas ( Rate of Rise and Fixed Temperature Heat Detector ), detector asap (
Smoke Detector ) dan titik panggil secara manual (Break Glass) dan Alarm Bell serta perlengkapan
lainnya yang dipasang secara baik dan aman dan bekerja secara otomatis mendeteksi pada saat awal
kebakaraan dan lokasi kebakaran dapat langsung diketahui dari Control Panel Fire Alarm.
2. Sistem yang dapat digunakan harus dapat diperluas misalnya secara otomatis dapat memonitor
pompa kebakaran , mematikan AC termasuk instalasi dry contact di panel listrik / AC (Tripping
System AC), mematikan supply fan.
3. Sistim yang ditawarkan harus modular dapat mengarah ke Zone expantion (pengembangan) dan
dengan Sistem Semi Addressable dan Full Addressable.

4.3. Lingkup Pekerjaan


1. Lingkup pekerjaan ini termasuk pengadaan semua material, peralatan dan lain-lain, pengiriman ke site
pemasangan, pengujian (comissioning) dan pemeliharaan seluruh Pekerjaan Fire Alarm seperti
disyaratkan sampai berfungsi dengan baik.
2. Pengadaan serta pemasangan unit pemberitahuan (annunciator unit).
3. Pengadaan dan pemasangan unit deteksi (detection unit), termasuk manual station yang dipasang di
hydrant box tiap lantai dan dekat pintu darurat.
4. Pengadaan serta pemasangan kabel terminal box.
5. Pengkabelan system Fire Alarm dari sentral Fire Alarm sampai unit deteksi.
6. Mengadakan pengujian menyeluruh sehingga system tersebut dapat berfungsi dengan baik dan benar.

4.4. Kemampuan Operasi


1. Jenis fire alarm yang digunakan adalah presignal alarm yang diberikan hanya pada lantai tersebut.
Dengan system 4 (empat) kawat yang berguna untuk menambah keandalan kerja dari alarm ini
seandainya ada bagian yang terputus (Class A)
2. Kemampuan dari fire detector mempunyai daerah diteksi kurang lebih 36 m² sehingga untuk bagian-
bagian ruangan yang luas hanya dibutuhkan beberapa fire ditector.
3. Semua system instalasi, detector, annunciator, master control, dan lain-lain pada pekerjaan fire alarm
ini, harus ter-supervisi dengan system instalasi Class A.
4.5. Mutu Peralatan dan Bahan
1. Peralatan dan bahan yang diajukan haarus bermutu tinggi produksi ex. Nohmi, Notifier,.
2. Peralatan dan bahan yang diajukan harus dalam keadaan baru 100%.
3. Barang – barang yang diajukan harus disertai dengan data teknis.

4.6. Daftar Bahan & Contoh


1. Sebelum pekerjaan ini dimulai kontraktor harus menyerahkan kepada Konsultan daftar bahan–bahan
yang dipakai dalam rangkap 4 (empat).
2. Kontraktor harus menyerahkan kepada Konsultan, contoh bahan–bahan yang akan dipakai dan semua
biaya berkenaan dengan penyerahan dan pengembalian contoh-contoh ini adalah tanggungan
kontraktor.
3. Kontraktor diwajibkan untuk mengadakan pemeriksaan kembali (recheck) atas segala ukuran–ukuran
/ kapaistas peralatan (equipment) yang akan dipasang. Dalam hal terjadi keraguan–keraguan harus
menghubungi Konsultan.
4. Pengambilan ukuran atau pemilihan kapasitas equipment yang keliru akan menjadi tanggung jawab
kontraktor. Untuk itu pemilihan equipment dan material harus mendapat persetujuan dari Konsultan.

4.7. Penjelasan & Persyaratan Sistem


1. Umum
a. Fire Alarm Sistem ini berfungsi untuk mengetahui adanya kebakaran pada tahap awal serta
menerima isyarat kebakaran
b. yang diberikan, baik secara otomatis yaitu melalui detector maupun secara manual yaitu push
button (break glass).
c. Jaringan sistem fire alarm ini direncanakan dengan menampung seluruh jaringan detector dan
manual push button, melalui TBFA kemudian diteruskan ke Control Panel. Control Panel tersebut
menerima isyarat otomatis maupun manual dan memberikan isyarat yang dapat dilihat (visible)
dan juaga isyarat yang dapat didengar (audible).
d. Pekerjaan instalasi Fire Alarm Sistem ini pada dasarnya harus memenuhi peraturan–peraturan.
Pekerjaan Instalasi Fire Alarm sistem ini harus dipasang oleh perusahaan yang biasa mengerjakan
pemasangan system ini. Suatu daftar referensi pemasangan harus diajukan kepada Kosultan.
e. Untuk gedung ini diperlukan satu system dengan zone dan line. Detector yang dipergunakan
adalah type heat detector kombinasi rate of rise dan fixed temperatur dan smoke detector. Pada
tiap zone dipasang sebuah atau lebih alarm bell dan manual pull station. Jika salah satu zone
memberikan sinyal kebakaran, maka alarm bell pada zone tersebut harus berbunyi, demikian pula
alarm bell pada tempat control station. Sistim ini dilengkapi dengan fasilitas tambahan untuk
mengerjakan beberapa fungsi seperti memberikan indikasi kebakaran main control panel fire
alarm serta bekerja secara interkoneksi dan otomatis dengan Fire Suppression Sistem Gedung.
f. Seluruh ruangan menggunakan fire detector sesuai dengan fungsi dan kebutuhan masing-masing
ruangan menurut peraturan dan standar yang berlaku. Diantaranya jenis heat detector 135O
Fahrenheit, smoke detector tipe foto electric.
g. Menggunakan Vibrating Bell kekuatan 90 db pada tiap zone.
h. Manual station dipasang pada setiap hydrant box yang dilengkapi dengan sebuah lampu yang
menyala terus.
2. Komponen-komponen
Seluruh ruangan menggunakan fire detector sesuai dengan fungsi dan kebutuhan masing-masing
ruangan menurut peraturan dan standar yang berlaku sesuai dengan gambar perencanaan.
Komponen-komponen yang termasuk dalam deteksi unit adalah manual station serta fire deteksi.
a. Jenis fire deteksinya adalah
 Fixed Heat Detector
 Smoke Detector
 ROR ( Rate Of Rise ) Heat Detector
Ketiga jenis ini mempunyai berbagai tipe yang dirancang sesuai dengan keperluan. Dipilih
detector yang sesuai untuk masing-masing ruangan tersebut yaitu untuk bagian perkantoran
digunakan heat detector dan untuk ruangan computer digunakan detector yang lebih peka,
misalnya smoke detector tipe photo electric.
b. Fixed Heat Detector
Harus dapat bekerja apabila ada temperatur ruangan naik sampai 135 Fahrenheit. Combination
rate of rise dan fixed temperature atau rate of rise temperature saja. Dimana untuk fixed
temperature akan memberikan sinyal-sinyal apabila temperature disekitarnya mencapai 136
Fahrenheit.
c. Smoke Ditector
Ditektor ini harus dapat bekerja dengan adanya asap ataupun gas diruangan yang didetecsi.
Harus dapat bekerja apabila ada temperatur naik sampai 135O Fahrenheit. Atau apabila timbul
asap sebanyak 1-2% perfeet.
d. ROR ( Rate Of Rise ) Heat Detector
Rate of Rise Detector akan bekerja apabila ada temperatur ruangan naik dengan 5 F per 20
detik Combination rate of rise dn fixed temperature yaitu dengan sifat-sifat yang merupakan
kombinasi dari keduanya. Yang digunakan dalam bangunan ini adalah combination tipe untuk heat
detector.
e. Manual Station
 Memberikan sinyal secara otomatis jika tuas ditekan dan ditarik kebawah.
 Untuk mereset harus digunakam kunci.
 Bahan digunakan terbuat dari metal yang tahan api dan tahan karat.
 Dipasang dekat pintu masuk pada daerah yang dilindungi dan bersebelahan dengan abort
switch setinggi 150 cm dari lantai agar mudah terlihat dan dicapai.
 Manual Station dari type break glass dengan semi flush mounting, system kerja pull down dan
tetap berada dalam posisi on sebelum diriset kembali.
 General alarm switch hanya dapat dioperasikan oleh orang yang berhak dengan
menggunakan kunci khusus.
 Untuk tujuan testing, alarm dapat dibunyikan tanpa harus memecahkan glass.
 Semua panel station harus dilengkapi dengan glass rod cadangan. Untuk menjamin operasi
yang lama, alarm contact harus terbuat dari “gold plated”
f. Alarm Bell
 Multitone strobe dipasang didalam ruangan yang diproteksi, untuk memperingati orang yang
didalam ruangan.
 Alarm Bell harus type Vibrating, seluruh bell harus bekerja pada 24 V dc polarized dengan 6
gong. Kecuali disebut lain dalam gambar. Pada saat 1 smoke detector bekerja maka bunyi
multi tone terputus pendek tapi bila 2 detector yang bekerja maka multitone berubah menjadi
terputus panjang.
 Pemasangan pada ketinggian 75 cm dibawah langit-langit dengan cara “semi flush”.
 Bekerja dengan 24VDC
 Diameter gong 6”
 Intensitas suara 90 dB pada jarak 1 meter / 10 ft per zone.
g. Multi Alert & Signal Strobe (Horn Strobe)
Sebagai indikasi alarm tahap kedua berfungsi sebagai indikasi evakuasi karena gas FIRE
SUPPRESSION segera discharge
h. Alarm Horn
Alarm horn harus cocok untuk dipakai di dalam gedung maupun diluar gedung. Semua alarm horn
bekerja pada 24 V dc polarized, level suara minimum adalah 95 db pada jarak 10 ft type
pemasangan adalah semi flush mounted.
i. Warning Light
 Saat gas discharge, pressure switch pada system pipa distribusi akan bekerja dan
mengaktifkan DNE Light yang merupakan tanda larangan memasuki ruangan, karena gas
FIRE SUPPRESSION memenuhi ruangan / sedang bekerja.
 Harus berwarna merah dan bertuliskan “ Evacuate Area Immediately” untuk yang dipasang
didalam ruangan yang diproteksi FIRE SUPPRESSION dan “ Do Not Enter, Gas Discharge”
untuk yang dipasang diluar ruangan yang diproteksi.
 Bekerja dengan 24VDC
j. Abort Switch
 Abort switch terpisah dari Manual Pull Station.
 Pada saat abort switch ditekan maka akan menahan delay time pada saat gas FIRE
SUPPRESSION akan disemburkan.
 Tombol harus berwarna kuning untuk memudahkan penglihatan dan dilengkapi tulisan yang
cukup jelas.
 Dipasang dekat pintu masuk pada daerah yang dilindungi dan bersebelahan dengan abort
switch setinggi 150 cm dari lantai agar mudah terlihat dan dicapai.
k. Unit Control
 Unit ini terdiri dari panel control serta power supply dimana pad apanel control mudah dilihat
pada masing-masing daerah proteksi bagian mana yang mengalami gangguan atau yang
mendeteksi adanya kebakaran.
 Unit control dilengkapi dengan fasilitas telepon darurat yang dapat dihubungkan dengan outlet
telepon pada box hydrant. System ini hanya digunakan untuk hubungan intern dalam gedung
pada saat terjadi kebakaran, dan system ini terlepas dari system telepon normal (PABX)
 Terdapat 3 macam warna lampu dengan kode.
 Hijau adalah AC pilot lamp (lampu power supply) yang menandakan power supply ada,
baik itu dari battery atau generator.
 Kuning adalah lampu gangguan, misalnya ada bagian dari system fire alarm ini yang
mengalami gangguan kabel putus dan sebagainya.
 Merah adalah lampu alarm (lampu kebakaran) yang menandakan terjadinya kebakaran
disuatu daerah perlindungannya (zone protection)
 Komponen-komponen harus dari semi konduktor (solid state) :
 Zone untuk detektor dan pressure switch
 Signal circuit untuk alarm bell
 Indikasi untuk kebakaran pada panel control alarm
 Tanda tiap zone detector ditampilkan di LCD display
 Tanda alarm bell setiap lantai ditampilkan di LCD display
 Indikasi untuk pada panel control alarm :
 Tanda untuk tiap zone dan tiap jenis gangguan ditampilkan di LCD display serta tanda
trouble bel / buzzer ditampilkan di LCD display
l. Panel Kontrol
 Terdapat 3 buah tombol yang masing-masing adalah :
 Tombol riset.
 Switch norma trouble atau silence.
 Tombol set.
 Pada panel Kontrol ini harus terdapat fasilitas :
 Penyambungan ke Dinas Pemadam Kebakaran setempat.
 Kontak starter pompa kebakaran, smoke fan pressurized fan, dll
 Terminal untuk pengambilan datastatus setiap zone untuk remote monitor (untuk building
automation / sound system)
m. Unit Annuncitor
Annunciator panel. Lampu indicator harus dapat bekerja agar petugas dapat mengetahui dari
mana dan dimana ada alarm atau adanya gangguna pada fire alarm. Jadi disini ada pasangan-
pasangan lampu merah dan lampu kuning, sesuai dengan keterangan diatas maka system
annunciator juga mengikuti system instalasi Class A.
n. Power Supply
Sistem fire alarm menggunakan 24 volt DC dan dapat dikombinasikan dengan alat-alat dengan
arus AC misalnya AC bell, dan harus mempunyai double power supply yaitu.
 Primer supply 220 volt Ac
 Sekunder supply 24 volt Ac
Untuk keadaan darurat harus stand-by minimum 20 jam dan terletak disuatu tempat dengan
control panel dan rechargeable.
o. Panel Cabang
Panel cabang ini harus dibuat dari plat besi setebal min. 1,2 mm dan max 2 mm warna merah
panel cabang ini harus di lengkapi dengan kabel gland sebanyak jumlah kabel keluar/masuk.
p. Kabel Instalasi
 Kabel instalasi Fire Alarm yang dipakai adalah sebagai berikut :
 Untuk wiring dari MCFA ke terminal box (TBFA) tiap lantai digunakan kabel NYM
ukuran 1.5 mm2 untuk sistem conventional dan kabel dengan jenis Twisted Shielded cable
untuk Addressable.
 Kabel yang dipergunakn untuk dari TB-FA (masing-masing lantai) menuju MCFA
(Riser) menggunakan kabel dengan jenis Twisted Shielded cable.
 Kabel yang dipergunakan untuk instalasi dari TB-FA (masing-masing lantai) menuju ke
detector menggunakan kabel dengan jenis NYM 2x1,5mm² di dalam pipa PVC conduit
untuk sistem conventional dan kabel dengan jenis Twisted Shielded cable untuk
Addressable.
 Instalasi menggunakan standard NFPA 72 class A atau B
 Kabel power (riser) yang dipergunakan untuk menghubungkan catu daya pada module
adalah jenis NYM 3x2,5 mm². dan ditarik terpisah antara module untuk detector dan
module untuk bell & indicator lamp.
 Kabel yang dipergunakan untuk interkoneksi dengan system lain adalah NYM 2 x 1,5
mm².
 Konduit yang dipakai adalah conduit PVC High Impact dengan diameter dalam minimum 1
1/2 kali ( 20 mm) diameter kabel.
q. Instalasi
 Pemasangan fire alarm harus dilakukan oleh tenaga yang berpengalaman dibidang pekjerjaan
ini dan pengerjaannya harus teratur.
 Tidak diperkenankan adanya sambungan-sambungan pada tahanan, sambungan hanya
terdapat pada box terminalnya, pengawatan harus menggunakan conduit PVC hight impact
heavy gauge, ukurn disesuaikan dengan jumlah kawatnya.
 Dari hasil pengerjaannya harus diserahkan diagram pengawatan lengkap dengan petunjuk-
petunjuk lainnya.
 Untuk masing-masing iring diberi tanda untuk daerah mana kawat tersebur, supaya
memudahkan dalam perbaikannya apabila ada kerusakan.
 Didalam pengejaan Kontraktor juga harus memperhatikan kemungkinan pemasangan fire
alarm dibagian lain.
 Kontraktor harus dapat bekerja sama atau dapat dikoordinasikan dengan pekerjaan lain
sehingga apabila ada pekerjaan tambahan karena kurang koordinasi maka menjadi tanggung
jawab kontraktor.
 Gambar-gambar secara umum menunjukkan tata letak peralatan dan instalasinya.
Penyesuaian harus dilakukan di lapangan, karena keadaan sebenarnya dari lokasi, jarak dan
ketinggian ditentukan oleh kondisi lapangan.
 Pemborong harus melakukan pemasangan instalasi sistem deteksi dan alarm kebakaran
dengan seksama, sehingga penyambungan / integrasi dengan sistem eksisiting harus dilakukan
dengan tidak menyebabkan tergangunya operasional sistem eksisting.
 Pemborong harus membuat catatan-catatan yang cermat dari pelaksanaan dan penyesuaian
di lapangan.
 Catatan tersebut harus dituangkan dalam satu set gambar lengkap (pada kertas kalkir)
sebagai gambar-gambar sesuai pelaksanaan (as built drawings).
 Untuk instalasi dipakai kabel produksi dalam negeri yang sudah mendapatkan sertikat LMK /
SPLN Produksi ex. Supreme, Kabelindo, Kabelmetal.
 Pemasangan instalasi dalam pipa pelindung 20 mm ex Clipsal, EGA.
 Sambungan kabel diatas langit–langit hanya boleh dilakukan pada unit – unit detector.
4.8. Spesifikasi Teknis
a. Power :
 Input : 220 VAC, 50/60HZ, 3.0 Amps
 Internal power : 24 VDC, 5.0 Amps
 Battery charger : 7 AH – 18 AH
 Battery backup : 2 x 12 VDC / 7 AH NiCad
1. Adressable Smoke Detector
a. Prinsip : Detector dengan optical sensing chamber
b. Sensitivitas : 3% /ft dan dapat diset secara otomatis untuk
sensitivitas pada siang & malam hari
c. Unique dual unipolar sensor:
 Provides exceptional stability.
 Factory preset at 1.9% nominal sensitivity.
 Stable operation up to 1,200 feet per minute (6 meters
per second) air velocities.
d. Ambient Temperature : 0 – 49° C
e. Ambient Humidity : 10% - 93% RH max
f. Sensitivity : 1.9 % Nominal
g. Operating Voltage : 8,5 - 35 Vdc max
h. Operating Current : 120 µA max
i. Device Check : Automatic device check
3. Addressable ROR & Fixed Heat Detector
a. Maks. Instalation Temperature : 100°F (38°C).
b. Alarm Temperature : 135°F (57°C)
c. Rate-of-rise threshold : 15°F (8.3°C) / minute
d. Operating humidity range : 5% to 95% RH noncondensing
e. Temperature rating : 135°F (57°C)
f. UL Protected Spacing, 10' (3.048 m) Ceiling50 (NFPA 72 ) for ROR 50 ft. x 50 ft. (15.24 m x
15.24 m)
g. UL Protected Spacing, 10' (3.048 m) Ceiling50 (NFPA 72 ) for Fixed 25 ft. x 25 ft. (7.62 mx7.62
m)
h. Electrical specification :
Operating Voltage Contact Ratings (Resistive)
6-125 VAC 3.0 A
6-28VDC 1.0A
125 VDC 0.3 A
250 VDC 0.1 A

4. Alarm Bell untuk yang didalam gedung dipasang pada box hydrant atau di dinding Weather proof,
Semi flush mounted, Vibrating type dan Diameter Ø 6 “
a. Nominal voltage : 24 VDC.
b. Operating voltage range : 19.2 to 26.4 VDC.
c. Average current draw : 0.03 A.
d. Sound output : 85 dB.
e. Operating temp. range : -31 °F (-35°C) to +140°F
(+60°C).
f. Protection rating : IP65
g. Housing colur : Red
5. Indicator Lamp
a. Bulb type : Luminus Bulb 30 V/2W or LED
b. Material : Lamp cover glass or fire proof plastic
c. Color : Red
6. Adressable Control Module
a. Normal operating voltage : 15 to 32 VDC
b. Maximum current draw : 5.1 mA (LED on)
c. Average operating current : 390 uA (LED flashing)
d. External supply voltage (between Terminals T3 and T4): maximum 80 volts (RMS or DC).
e. Drain on external supply : 2 mA maximum (using
internal EOL relay).
f. EOL resistance : 47K ohms.
g. Temperature range : 32°F to 120°F (0°C to 49°C).
h. Humidity range : 10% to 93% non-condensing.
7. Horn Strobe
a. Operating temp. indoor : 32°F to 120°F (0°C to 49°C)
b. ULC Canadian models : -40°C to +66° C.
c. Maximum humidity : 95% as tested per UL 464
d. Voltages : 12 or 24 VDC
8. Break Glass
a. The microswitch has silver contacts
b. Maximum contact resistance 50 milliohms
c. Minimum recommended voltage 12 volts AC or DC
d. Maks. voltages and currents for resistive loads 5.0 amp, 30 VDC resistive. 3.0 amp, 30 VDC
inductive.
9. Kabel dan Pipa lnstalasi:
a. Kabel harus cocok dan sama dengan instalasi deteksi dan alarm kebakaran lainnya (eksisting) di
proyek ini. Jenis dan tipe kabel seperti tertera pada gambar elektrikal.
b. Pipa instalasi pelindung kabel harus Flame Retardant PVC conduits.
c. Pipa, elbow, socket, junction box dan accessories lainnya harus sesuai yang satu dengan yang
lainnya, yaitu tidak kurang dari 3/4" diameter.
d. Flame retardant flexible conduits harus dipasang untuk melindungi kabel antara junction box dan
detektor.

4.9. Testing & comissioning


1. Pemborong harus menentukan jadwal dan cara pengujian yang akan dilakukan 2 (dua) minggu
sebelum pelaksanaan pengujian, Pemborong menyerahkan jadwal dan cara pengujian tersebut kepada
Konsultan untuk disetujui. Seluruh biaya pengujian ditanggung oleh Pemborong.
2. Pemborong harus menyerahkan laporan pengujian/sertifikat test untuk peralatan sistem kepada
Konsultan.
3. Pekerjaan akan dinyatakan selesai bila seluruh pengujian berhasil baik dan dapat diterima oleh
Konsultan dan Pemilik.
4. Pengujian sistem harus dilakukan sekurang kurangnya sebagai berikut:
a. Pemeriksaan Struktural.
Pada testing ini kondisi yang menyangkut bahan, konstruksi, finishing, dan kontrak harus
diperiksa dan disesuaikan dengan spesifikasi, (semua data harus sesuai dengan spesifikasi).
b. Test Ketahanan Isolasi
Tahan isolasi antar kutub dan bagian yang hidup dan yang mati, harus dites dengan tegangan
tester bertegangan 500 volt DC, hasilnya harus menunjukkan 500 mega ohm atau lebih.
c. Test Ketahanan Tegangan
Pada testing tahanan isolasi diatas harus dimasukkan sampai dengan 3000 volt.
d. Pengujian simulasi deteksi dan alarm kebakaran asap untuk Photoelectric smoke detector
e. Pengujian simulasi deteksi dan alarm kebakaran panas untuk Rate of rise heat detector
f. Pengujian simulasi Manual Call Point
g. Pengujian integrasi dengan sistem deteksi dan alarm kebakaran eksisting
h. Pengujian harus dilakukan oleh spesialis vendor sebagai authorized dealer penjualan peralatan
tersebut (menunjukkan Surat Penunjukan dari Principal) dan harus menyiapkan sertifikat
pemasangan yang baik dari instansi yang berwenang.
i. Seluruh pengujian kabel instalasi harus mengacu pada ketentuan pada PUIL terbitan terakhir.
5. Semua testing, kalibrasi dan penyetelan peralatan-peralatan dan control yang tergabung dalam sistem
ini serta penyediaan semua instrument dan tenaga kerja harus dilaksanakan oleh kontraktor.
6. Kontraktor harus menempatkan seorang ahli yang berkompeten dan berpengalaman untuk
melaksanakan pengetesan sesuai dengan keahliannya.
7. Harga-harga pengetesan harus dicatat dan harus dibuatkan berita acara pengetesan yang hasilnya
harus sesuai dengan standar-standar yang telah diuraikan diatas.
8. Kontraktor yang melakukan pekerjaan instalasi Fire alarm harus melakukan semua testing dan
pengukuran-pengukuran yang dianggap perlu untuk memeriksa/ mengetahui apakah seluruh instalasi
telah dapat berfungsi/bekerja dengan baik dan memenuhi persyaratan.
9. Semua tenaga, bahan dan perlengkapan yang diperlukan untuk testing tersebut merupakan tanggung
jawab kontraktor. Termasuk peralatan khusus yang dibutuhkan untuk melakukan testing dari seluruh
sistem ini, seperti dianjurkan oleh pabrik, harus disediakan kontraktor.
10. Kontraktor harus menyerahkan kepada Konsultan dalam rangkap 3 (tiga) mengenai hal – hal sebagai
berikut :
a. Hasil pengetesan kabel-kabel.
b. Hasil pengetesan peralatan-peralatan.
c. Hasil pengetesan semua persyaratan operasi dan instalasi
d. Hasil pengukuran-pengukuran dan lain-lain
11. Semua pengetesan dan atau pengukuran tersebut harus disaksikan oleh Konsultan.

Pasal 5
PEKERJAAN INSTALASI TELEPON
5.1 Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan instalasi telepon adalah pemasangan dan pengadaan termasuk testing dan comissioning peralatan
dan bahan, bahan-bahan utama, bahan-bahan pembantu dan lain-lainnya seperti yang diterangkan dalam
pasal terdahulu, sehingga diperoleh instalasi telepon yang lengkap dan baik serta diuji dengan seksama siap
untuk digunakan, yang terdiri dari :
1. Pemasangan Peralatan Key Telephone, material bantu, sistem yang dipasang harus mencakup :
a) Operator console lengkap dengan handset din pilihan headset tambahan yang ada.
b) Features telephone set
c) Biaya pemasangan dan semua peralatan tambahan harus mencakup pula biaya penyambungan dari
MDF.
d) Sistem proteksi terhadap petir dan tegangan surja.
e) Backup battery.
2. Pengadaan dan pemasangan Kerangka Distribusi Utama/saluran (MDF), Kerangka Distribusi
Lanjutan (IDF) dan kotak terminal.
3. Pemasangan instalasi kabel telepon dari Terminal Box (TB) ke outlet-outlet telepon seperti yang
tercantum pada gambar perencanaan.
4. Instalasi kabel dari MDF kesetiap Terminal Box (TB) yang ada disetiap lantai.
5. Pemasangan outlet–outlet telepon seperti yang tercantum pada gambar perencanaan.
6. Perawatan dan peralatan dari panel kepemakaian .
7. Pemasangan dan pengadaan soket & outlet serta kelengkapannya.
8. Pengadaan dan pemasangan instalasi grounding instalasi telepon.
9. Melakukan pengurusan izin-izin/sertifikat dengan pihak PT. Telkom setempat sehubungan dengan
pekerjaan ini.
10. Pemasangan instalasi lain yang belum tercantum didalam spesifikasi ini tetapi ada di gambar
perencanaan.
5.2 Syarat Umum
1. Keseluruhan peralatan pada system ini harus dari merk yang sama
2. Kontraktor harus merupakan dealer produk atau perusahaan yang mendapatkan Surat Dukungan dari
Dealer. Yang dimaksud Dealer adalah Perusahaan yang mendapatkan Surat Penunjukan dari
Distributor serta mendapatkan Surat Dukungan dari Principal (Agen Tunggal Pemegang Merk) di
Indonesia.

5.3 Gambar–Gambar Instalasi


1. Gambar-gambar dan spesifikasi adalah merupakan bagian yang saling melengkapi dan sesuatu yang
tercantum dalam gambar dan spesifikasi bersifat mengikat.
2. Gambar- gambar instalasi menunjukkan secara teknis pekerjaan instalasi yang harus dilaksanakan
dimana dicantumkan ukuran bahan-bahan instalasi serta keterangan lain yang diperlukan.
3. Pelaksanaan dilapangan selain yang tertera pada gambar disesuaikan dengan kondisi lapangan atas
petunjuk Konsultan secara tertulis / lisan.
4. Bila kontraktor menganggap perlu adanya perubahan ukuran / konstruksi dalam pelaksanaan,
kontraktor diwajibkan mengajukan alternatif atau Shop drawing yang dikehendaki dan mendapat
persetujuan dari Konsultan.
5. Segala perubahan yang disengaja dilakukan kontraktor tanpa ijin Konsultan adalah resiko Kontraktor.
6. Bila nantinya tidak disetujui oleh Konsultan maka terpaksa harus dibongkar. Kontraktor hal ini tidak
diperkenankan menuntut ganti rugi

5.4 Pelaksanaan Pekerjaan


1. Sebelum melaksanakan pekerjaan, pelaksana harus memeriksa kondisi lahan untuk memastikan
pekerjaan instalasi dapat dikerjakan, misalnya :
a. Pekerjaan instalasi kabel dan konduit : area yang akan dipasang harus sudah bersih dari puing-
puing, kayu-kayu bekisting bekas pengecoran, scaffolding, atau material lain yang dapat
menghalangi pekerjaan.
b. Pekerjaan pemasangan panel MDF, pekerjaan finishing dan M/E lainya didalam ruang kontrol
untuk posisi panel-panel diatas sudah selesai dan pintu ruangan sudah dipasang kunci. Hal ini untuk
mengantisipasi rusak atau hilangnya peralatan yang telah dipasang karena masih ada pekerjaan lain
dan beberapa tenaga kerja yang bekerja diruangan tersebut.
2. Menyiapkan tenaga kerja yang memenuhi kriteria sebagai berikut :
a. Mengerti dan menguasai lingkup pekerjaan instalasi telepon yang akan dikerjakan dengan baik oleh
tenaga ahli yang sudah berpengalaman.
b. Pelaksana yang dianggap tidak cukup ahli / perpengalaman oleh Konsultan, harus segera diganti
dengan orang lain setelah mendapat persetujuan Konsultan.
c. Kontraktor harus menempatkan seorang Supervisor yang ahli, berpengalaman dan profesional
untuk masing-masing bidang yang bertanggung jawab untuk menjadi supervisi, management
proyek.
d. Tenaga kerja harus berpengalaman dan ahli di bidangnya, bila tidak berpengalaman & ahli harus
diganti. Bila tidak dihiraukan Konsultan akan mengambil tindakan untuk mengatasi permasalahan
yang ada.
e. Segala sesuatu yang diperlukan guna kesempurnaan pekerjaan harus, dilengkapi sesuai permintaan
Konsultan dengan biaya dibebankan kepada Kontraktor.
f. Mempunyai alat kerja yang memadai.
g. Mudah diberi pengarahan.
h. Dapat melakukan koordinasi dengan tenaga kerja lain.
i. Terampil.

5.5 Persyaratan Bahan


1. Bahan yang dibutuhkan kwantitasnya dihitung (estimasi) sesuai jalur instalasi pada gambar kerja.
Bahan-bahan yang sudah dikirim kelapangan (on site) agar diperiksa kondisinya apakah ada kerusakan
pada saat pengangkatan, pengangkutan, atau kerusakan dari pabrik pembuat. Bahan-bahan yang
kondisinya baik dapat dipasang, sedangkan yang rusak atau cacat agar tidak dipasang dan
dikembalikan kepada pemasok / supplier.
2. Kontraktor diwajibkan menyerahkan contoh bahan / barang yang disebut dalam lingkup pekerjaan
kepada Konsultan untuk mendapat persetujuan sebelum dipasang. Apabila hal tersebut tidak
memungkinkan, minimal brosur spesifikasi teknis harus ditunjukkan dan disetujui oleh Konsultan.
3. Kontraktor harus membuat tempat penyimpanan bahan / material serta peralatan kerja (gudang) agar
rapi aman dan memudahkan pemeriksaan.
4. Jika bahan / material dan peralatan kerja tersebut harus melewati jalanan umum, Kontraktor harus
menjaga ketertiban dan kelancaran serta mengganggu lalu lintas.
5. Konsultan berhak menambah peralatan yang dipergunakan atau menolak peralatan yang tidak
memenuhi syarat.
6. Bila pelaksanaan pekerjaan telah selesai, maka kontraktor harus segera mengeluarkan atau
memindahkan peralatan tersebut, kerusakan akibat penggunaan peralatan kerja tersebut harus
diperbaiki kembali atas beban biaya Kontraktor.
5.6 Instalasi
1. Kabel Instalasi
a. Kabel intalasi telepon yang digunakan harus sesuai dengan standard Indoor Telephone Cable (ITC)
(STEEL-K-011) yang berlaku yang diakui di negara Republik Indonesia.
b. Ukuran kabel untuk instalasi telepon yang digunakan harus sesuai dengan gambar Perencanaan.
Kabel telepon yang digunakan harus sudah direkomendasi oleh TELKOM produksi ex. Supreme,
Kabelindo.
c. Kabel harus dalam keadaaan baru, tanpa cacat dan bila perlu harus ada surat keterangan dari
distributor / pabrik.
d. Sistem penyambungan didalam main distribution frame dan junction box harus mempergunakan
sistem slip (solderless) dengan alat connection / disconnection produksi ex. Krone.
e. Penyambungan kabel didalam junction box harus mempergunakan sistem slip solderless, sesuai
dengan persyaratan PT. Telkom. (Reference: Krone)
f. Kabel yang masuk keluar ke/dari MDF, junction box harus memakai kabel gland dan tanda untuk
mengindentifikasikan route kabel dan nomor pesawat dengan memakai "cable marking" merk 3 M
g. Semua kabel yang dipasang menembus dinding harus dipasang sleeve pipa galvanized minimum 2,5
kali penampang kabel.
h. Penyambungan kabel ke terminal panel / peralatan di semua bangunan adalah tanggung jawab
kontraktor.
i. Sambungan harus dilaksanakan dengan baik, cukup kuat / erat sesuai dengan model terminal
peralatan yang terpasang.
j. Kabel yang dipergunakn untuk dari Terminal Box (TB) menuju MDF ( Feeder ) menggunakn
kabel dengan jenis ITC Cable Multi pairs antara 10 pairs sampai dengan 40 pairs atau sesuai
dengan gambar perencanaan.
k. Kabel yang dipergunakan untuk instalasi dari Terminal Box (TB) menuju ke Outlet Telepon
menggunakan kabel dengan jenis ITC Cable 2 pairs ( 2 x 2 x 0.6 mm² ) di dalam pipa conduit.
l. Kabel feeder yang digunakan adalah jenis indoor telephone cable, dengan kapasitas sesuai gambar
rencana.
m. Kabel distribusi dari junction box tiap-tiap outlet memakai indoor telephone cable sebanyak 2 pair
diameter core 0,6 mm ( 1 pair dipakai untuk cadangar/spare), dan dimasukkan dalam konduit.
n. Semua kabel yang dipasang diatas langit-langit harus diletakkan pada suatu
trunking kabel/Tray.
o. Semua kabel yang dipasang di shaft secara vertikal harus dipasang pada tangga kabel.
p. Semua kabel yang dipasang diatas trunking kabel harus didalam conduit.
q. Semua outlet kabel yang penempatan instalasinya hanya sampai diceiling saja, hanis memiiiki spare
panjang minimum 10m dari titik instalasi outlet pada gambar rencana.
r. Isolasi antara urat-urat kabel, dan isolasi antara urat kabel terhadap ground
minimum 20 M ohm.
s. Pemasangan kabel dalam
Semua kabel dalam akan dipasang dengan menggunakan saluran PVC High Impact Conduit BS
6099 Fire Retardant dengan diameter dalam min 1.5 kali diameter kabel dan minimum diameter
dalam 19 mm. Untuk keperluan maintenance, wama PVC High Impact conduit yang dipasang
untuk instalasi telepon hanus berbeda dengan PVC High Impact yang dipasang untuk instalasi
listrik (wama putih atau hitam).
t. Pemasangan kabel luar.
 Secara umum pemasangan kabel luar hana sesuai dengan standar yang dapat digunakan clan
disetujui oleh engineer.
 Secara langsung kabel dikubur harus dilindungi dengan batu bata yang didesain khusus untuk
pemasangan kabel telepon bawah tanah.
 Batu bata diatas, wama merah plastik dengan ketebalan dan lebar yang sesuai harus dipasang
dengan tanda peringatan yang diperlihatkan pada pemasangan kabel telepon di bawah.
 Tanda kabel harus juga dipasang sepanjang rute kabel, sebaiknya pada setiap perubahan arah.
2. Pipa Konduit
a. Konduit yang digunakan biasanya dari type high impact conduit. Selain “high impact” dari konduit
ini harus memenuhi ketentuan dan syarat-syarat sebagai berikut :
1) Tidak mudah terbakar.
2) Tidak merambatkan api.
Bila terbakar tidak mengeluarkan gas beracun, dan api dapat padam dengan sendirinya. Kabel
yang biasa dilindungi oleh konduit ini adalah kabel dari Terminal Box (TB) ke outlet telepon.
Ukuran diameter dalam konduit adalah :
DP   DK2 / 0,5
Dimana : DP = diameter dalam konduit (mm).
DK = Diameter luar kabel (mm)
b. Konduit yang dipakai adalah conduit PVC High Impact dengan diameter dalam minimum 1 1/2
kali diameter kabel, dipergunakan produksi ex. CLIPSAL, EGA yang sudah direkomendasi oleh
LMK, bila diperlukan kontraktor harus dapat menunjukkan bukti rekomendasi tersebut.
c. Pasangan kabel dalam pipa PVC HI pada jarak maksimum 100 cm harus diberi klem.
d. Klem dibuat dari bahan plat logam digalvanis atau allumunium, pemasangan pada tembok harus
menggunakan vicher dan sekrup, pemasangan dengan menggunakan paku tidak dibenarkan.

5.7 Testing & Commissioning


1. Pemeriksaan
Pemeriksaan dilakukan setelah instalasi kabel dan pemasangan peralatan utama telah dilaksanakan.
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat dan memastikan bahwa pekerjaan instalasi telepon telah
dikerjakan sesuai spesifikasi dan peraturan yang berlaku. Hasil pemeriksaan direkam pada format
daftar simak (check list). Beberapa hal yang harus dilakukan pemeriksaan meliputi :
a. Pemasangan unit PABX dan terminasi kabelnya.
b. Pemasangan MDF dan terminal box.
c. Instalasi kabel telepon dan konduit.
d. Instalasi rak kabel.
e. Pemasangan outlet-outlet telepon pada dinding atau lantai.
f. Pemasangan pesawat telepon.
2. Pengujian
a. Setelah semua telah selesai terpasang, dengan persetujuan dan disaksikan oleh Konsultan
dilakukan pengujian dengan cara mencoba sistem yang telah diprogram pada PABX atau Key
Telephone sampai kesetiap pesawat telepon yang dipakai.
b. Pengujian yang berhasil dan dapat diterima oleh Konsultan yang bertindak mewakili pemberi
tugas (Owner), harus dilengkapi dengan berita acara yang telah ditanda tangani oleh pihak-pihak
yang berkepentingan. Setelah ini dilanjutkan dengan pemberian buku petunjuk pengoperasian
dan pemeliharaan serta melaksanakan training kepada pengelola gedung. Sesudah semua ini
dilaksanakan maka dapat diadakan serah terima pertama dari kontraktor ke Pemberi Tugas.
c. Pengujian sistem harus dilakukan sekurang kurangnya sebagai berikut:
 Pengujian simulasi telepon system.
 Pengujian harus dilakukan oleh spesialis vendor sebagai authorized dealer penjualan
peralatan tersebut dan harus menyiapkan sertifikat pemasangan yang baik dari instansi yang
berwenang.
3. Kontraktor harus menyerahkan kepada Konsultan dalam rangkap 3 (tiga) mengenai hal – hal
sebagai berikut :
a. Hasil pengetesan kabel – kabel.
b. Hasil pengetesan peralatan – peralatan.
c. Hasil pengetesan semua persyaratan operasi dan instalasi
d. Hasil pengukuran – pengukuran dan lain - lain
e. Semua pengetesan dan atau pengukuran tersebut harus disaksikan oleh Konsultan.
4. Pelatihan
a. Satu set dokumen jaminan garansi dari dealer yang ditunjuk resmi oleh distributor serta
mendapatkan surat dukungan dari Principal (ATPM) di Indonesia harus diberikan dan
diserahkan ke pihak owner.
b. Semua drawing, rancangan peralatan drawing tersebut, diagam, dan informasi yang tercetak
harus dilengkapi. Dokumen harus berisi penjelasan umum sistem itu. Penjelasan umum ini harus
memperkenalkan sistem dan harus termasuk konfigurasi sistem, kemampuan sistem lainnya, dan
spesifikasi teknis.
c. Kontraktor harus menunjukkan jumlah hari yang dipersiapkan untuk training
- Operator telepon
- Pemakai ekstension
- Pemakai ekstension features phone
- Semua pelatihan diatas harus dilakukan tanpa dipungut biaya.
-
Pasal 6
PEKERJAAN INSTALASI TATA SUARA (SOUND SYSTEM)
6.1. Umum
1. Keseluruhan peralatan utama yang membangun sound system ini harus dari merk yang sama.
Adapun merk yang boleh direferensikan adalah Philips, Toa, Bosch.
2. Kontraktor harus merupakan dealer produk atau perusahaan yang mendapatkan Surat Dukungan
dari Dealer. Yang dimaksud Dealer adalah Perusahaan yang mendapatkan Surat Penunjukan dari
Distributor serta mendapatkan Surat Dukungan dari Principal (Agen Tunggal Pemegang Merk) di
Indonesia.
3. Sistem tata suara harus memenuhi standard keselamatan evakuasi sebagaimana dipersyaratkan pada
IEC 60849 standard.

6.2. Lingkup Pekerjaan


1. Sebagaimana yang tertera dalam gambar rencana, Kontraktor pekerjaan Sistem Tata Suara ini harus
mengadakan dan memasang, serta nantinya menyerahkan seluruh hasil pekerjaan dalam keadaan
baik dan siap untuk digunakan.
Garis besar lingkup pekerjaan instalasi sistem tata suara yang dimaksud adalah sebagai berikut :
a. Pengadaan, pemasangan, dan pengujian kabel-kabel distribusi sistem tata suara antara peralatan
sentral dan sistem rak dengan kotak hubung bagi di setiap lantai.
b. Pengadaan, pemasangan, dan pengujian alat pengeras suara (loud speaker) sesuai dengan
gambar rencana.
c. Pengadaan, pemasangan, dan pengujian kabel-kabel pemakaian antara kotak hubung bagi
dengan alat-alat pengeras suara dan volume control di tempat yang ditunjuk.
d. Melaksanakan matching dan balancing atas semua speaker dan sistem secara keseluruhan,
sedemikian rupa hingga menghasilkan kualitas suara yang prima dan tingkat tekanan bunyi yang
merata di seluruh bagian lantai bangunan.
a. Ruang lingkup pekerjaan sound system meliputi pengembangan peralatan sistem tata suara
sehingga kapasitas memenuhi penambahan berikut pemasangannya.
2. Pemasangan unit sistem Tata Suara yang terdiri dari: Tata Suara dalam gedung dan Tata Suara
pemanggil kendaraan, peralatan tata suara lihat diagarm sistem Tata Suara sesuai perencanaan.
3. Pekerjaan ini dimaksudkan untuk memperkuat dan meningkatkan Kualitas suara secara merata ke
seluruh area.
Kualitas suara tidak hanya diperkuat tetapi harus mempunyai derajat pengertian atau kejelasan suara
(intelegibility) yang tinggi, bebas dari gangguan listrik tegangan tinggi dan sinyal pemancar pemancar
baik yang ada didalam gedung itu sendiri maupun diluar gedung seperti ORARI, KRAP dan
sejenisnya.
6.3. Instalasi
Dalam pelaksanaan pekerjaan Public Address (Sound System) yang perlu diperhatikan antara lain :
1. Kabel Speaker
a. Instalasi perkabelan ke semua speaker yang tersebar diseluruh gedung terdiri dari :
 Kabel jenis NYMHY 3 x 1,5 mm² digunakan dari sub-sentral sampai dengan Volume
Control
 Kabel jenis NYMHY 2 x 1.5 mm² digunakan dari Volume Control sampai dengan ceiling
speaker dan dari Mixing Amplifier ke ceiling speaker.
b. Penarikan kabel dari sentral ke seluruh volume control dan ceiling speaker harus
dibuat secara group tiap-tiap lantai (1 lantai dibuat 1 group), kecuali dari se ntral ke
coloumn speaker, penarikan kabel dibuat secara langsung dari Mixing Amplifier ke
beberapa coloumn speaker secara parallel ( dalam 1 group tersendiri ) dan
menggunakan kebal NYMHY 2 x 2.5 mm².
2. Kabel Microphone
Instalasi kabel microphone terdiri dari:
a. Kabel Microphone Stereo ( 3 core kabel ) dengan kualitas terbaik dan kabel
telephone ITC 2x10x0.6 mm² (10 pairs) ditarik dari front office sampai dengan
sentral.
3. Kabel Microphone Stereo ( 3 core kabel ) dengan kualitas terbaik dan kabel telephone ITC
2x2x0.6mm² ( 4 pairs ) ditarik dari front office tiap-tiap lantai sampai dengan sub sentral.
6.4. Persyaratan Teknis Pelaksanaan
1) Semua kabel yang keluar dari rak peralatan ini harus melalui kabel gland dan memakai flexible
conduit.
2) Kotak hubung bagi ditempatkan di tempat yang sesuai dengan gambar rencana di setiap lantai
pada ketinggian 150 cm di atas muka lantai dan diklem ke dinding dengan dynabolt 1/2" x 2"
sebanyak 4 buah. Semua kabel yang masuk/keluar kotak hubung ini harus melalui kabel gland.
3) Semua kabel yang digunakan harus ditempatkan dalam Conduit high impact, sedangkan semua
kabel distribusi harus diklem pada tangga kabel yang dipasang di shaft dengan memakai dynabolt
1/2" x 2" sebanyak 4 buah pada setiap jarak 75 cm. Conduit harus diklem pada struktur bangunan
dengan saddle klem.
4) Semua alat pengeras suara (loudspeaker) harus dipasang pada tempat-tempat yang sesuai seperti
yang ditunjukkan dalam gambar rencana, di mana koordinat yang tepat akan dapat ditentukan lebih
lanjut dalam shop drawing oleh Kontraktor sesudah dipadukan dengan perlengkapan lain yang ada.
Bagi penempatan speaker yang belum jelas akan ditentukan kemudian di lapangan.
5) Untuk semua pekerjaan yang bersifat elektrikal, Kontraktor terikat pada persyaratan dan
ketentuan sesuai dengan peraturan yang berlaku, yakni PUIL 2000.
6.5. Testing & Commissioning
1. Pemeriksaan
Pemeriksaan dilakukan setelah instalasi kabel dan pemasangan peralatan utama telah dilaksanakan.
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat dan memastikan bahwa pekerjaan instalasi sound sistem
telah dikerjakan sesuai spesifikasi dan peraturan yang berlaku.
2. Pengujian
 Pengujian yang berhasil dan dapat diterima oleh Konsultan yang bertindak mewakili pemberi
tugas (Owner), harus dilengkapi dengan berita acara yang telah ditanda tangani oleh pihak-pihak
yang berkepentingan. Setelah ini dilanjutkan dengan pemberian buku petunjuk pengoperasian dan
pemeliharaan serta melaksanakan training kepada pengelola gedung. Sesudah semua ini
dilaksanakan maka dapat diadakan serah terima pertama dari kontraktor ke Pemberi Tugas.
 Pengujian sistem harus dilakukan sekurang kurangnya sebagai berikut:
 Semua peralatan dalam sistem tata suara ini harus diuji oleh perusahaan pemegang
keagenan peralatan tersebut dengan disaksikan oleh Konsultan.
 Sebelum melakukan pengujian, Kontraktor wajib memberitahu Konsultan terlebih dahulu.
Setiap pengujian yang dilakukan tanpa disaksikan oleh Konsultan akan dinyatakan tidak sah
dan harus diulang kembali.
 Pengujian dapat dilakukan perbagian pekerjaan, namun akhirnya tetap dilakukan pengujian
sekaligus secara keseluruhan.
 Semua biaya yang diperlukan untuk dapat dilakukannya pengujian, baik untuk daya listrik
dan peralatan bantu serta peralatan ukur, sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor.
 Apabila terdapat ketidaksempurnaan ataupun kegagalan dalam pengujian, maka Kontraktor
wajib memperbaikinya dengan biaya yang sepenuhnya menjadi tanggungan Kontraktor.
 Apabila karena perbaikan yang dilakukan menyebabkan kerusakan pada bagian paket
pekerjaan Kontraktor lain, maka biaya perbaikannya tetap menjadi tanggung jawab
Kontraktor sistem tata suara.
 Pengujian harus dilakukan oleh spesialis vendor sebagai authorized dealer penjualan
peralatan tersebut dan harus menyiapkan sertifikat pemasangan yang baik dari instansi yang
berwenang.
3. Kontraktor harus menyerahkan kepada Konsultan dalam rangkap 3 (tiga) mengenai hal – hal sebagai
berikut :
a. Hasil pengetesan kabel – kabel.
b. Hasil pengetesan peralatan – peralatan.
c. Hasil pengetesan semua persyaratan operasi dan instalasi
d. Hasil pengukuran – pengukuran dan lain - lain
e. Semua pengetesan dan atau pengukuran tersebut harus disaksikan oleh Konsultan.
Pasal 7
INSTALASI CLOSE CIRCUIT TELEVISION (CCTV)
7.1. Umum
1. Kontraktor harus mendapatkan surat dukungan dari Principal dan dealer wilayah setempat untuk
menjamin peralatan dapat disuplai tepat waktu serta digunakan secara optimal.
2. Surat Jaminan Garansi dari Dealer wilayah setempat harus diserahkan pada waktu serah-terima
pekerjaan untuk menjamin kelangsungan layanan purna-jual.
3. Pengalaman minimum 10 [sepuluh] tahun dalam manufacture dan design Video Surveillance
Devices.
4. Minimum [5] tahun pengalaman instalasi Video Surveillance System
7.2. Lingkup Pekerjaan
Lingkup pekerjaan perlengkapan System CCTV ini meliputi pekerjaan pengadaan peralatan berikut
pemasangan dan instalasi kabel.
7.3. Penjelasan Sistem
1. Sistem closed circuit television, dipergunakan untuk membantu pengawasan dengan cara mengamati
kegiatan operasi suatu gedung melalui video camera. Hasil gambar dapat diamati melalui TV
monitor. Sistem CCTV ini terdiri dari Camera, Monitor, Digital Video Recorder (DVR).
2. Seluruh peralatan yang membangun system CCTV ini harus memenuhi standard industri Indonesia,
dari satu merk atau lebih dan disaat serah terima harus dilampirkan surat garansi 1 (satu) tahun dari
Authorized Dealer (agen tunggal) di Indonesia (bermaterai). Merk yang digunakan adalah produksi
ex. Hyundai, Bosch, Sony, Phillips.
3. Standard manufaktur memenuhi I.S. /ISO 9001/EN 29001, QUALITY SYSTEM.
4. Garansi pabrikan 3 tahun tahun untuk replacement dan repair defective equipment, terkecuali battery
yang bergaransi 1 tahun.
7.4. Instalasi
Sistem cabling tiap – tiap kamera CCTV menggunakan system topologi star, artinya seluruh kabel
coaxial kamera CCTV dari tiap – tiap titik ditarik menuju masing – masing sentral CCTV. Demikian juga
untuk penarikan kabel power tiap – tiap kamera CCTV menuju ke Power Suplay yang berada di Sentral.
Masing – masing kabel power dan kabel coaxial yang ditarik dimasukkan dalam pipa conduit PVC High
Impact, yang harus diperhatikan disini adalah antara kabel power dan kabel coaxial tidak diperbolehkan
ditarik dalam satu pipa conduit dan bersilangan dengan kabel power listrik lainnya. Hal ini untuk
menghindari induksi power listrik terhadap signal video.
Adapun material kabel yang dipergunakan system ini adalah :
1. Kabel Video Coaxial Cabel type 7C – 2V isyarat video dan untuk keperluan kontrol menggunakan
awg 18 pair produksi ex. Belden, Pacific, Feeder RG 6/5C
2. Kabel Power NYM 3 x 2,5 mm produksi ex. Supreme, Kabelindo.
7.5. Spesifikasi Teknis
1. Fixed camera indoor
 Scanning System : 1/3 “ Sony superhad color day & night
 Power source : 12V DC ,1A
 Scanning Method : 2 : 1 interface
 Focal Length : 2,8-10mm Autoiris varifocal
 Resolution : 700 TVL
 Min Illumination : 0,3 lux @ F1,2 ( color)
0,002 lux@F1.2 (Sens-up)
 SSNR : Off/Low/Middle/High selectable ( noise control)
2. Fixed camera outdoor
 Scanning System : 1/3 “ sony superhad color day & night
 Power source : 12V DC
 Scanning Method : 2 : 1 interface
 Focal Length : 2,8-10mm Autoiris Varifocal
 Resolution : 600 TVL
 Min Illumination : 0,3 lux @ F1,2 ( color)
0,002 lux@F1.2 (Sens-up)
 SSNR : Removed noise & ghost image
 Day & night capability
3. Dome camera indoor ( Wide angle)
 Scanning System : 1/3 “ sony superhad color
 Power source : 12V DC
 Scanning Method : 2 : 1 interface
 Focal Length : 4-9mm varifocal autoiris
 Resolution : 600 TVL
 Min Illumination : 0,3 lux @ F1,2 ( color)
0,002 lux@F1.2 (Sens-up)
 SSNR : Off/Low/Middle/High selectable ( noise control)
 Day & night capability
4. Dome camera indoor
 Scanning System : 1/3 “ sony superhad color
 Power source : 12V DC
 Scanning Method : 2 : 1 interface
 Focal Length : 3,6 mm varifocal autoiris
 Resolution : 600 TVL
 Min Illumination : 0,3 lux @ F1,2 ( color)
0,002 lux@F1.2 (Sens-up)
 SSNR : Off/Low/Middle/High selectable (noise control)
 Day & night capability
5. Speed Dome camera indoor
 Scanning System : 1/4 “ sony superhad color
 Power source : 24V AC
 Scanning Method : 2 : 1 interface
 Focal Length : 27x optical zoom ( 3,84-88,4mm) 10x digital zoom
 Resolution : 600 TVL
 Min Illumination : 0,7 lux @ F1,6 ( color)
0,005 lux@F1.6 (Sens-up)
0,1 lux@F1.6 (b/w)
 Day & night with ICR ( Infrared cutfilter removal )
 Max 240/sec pan speed & 360 continous rotation
6. Speed Dome camera indoor
 Scanning System : 1/4 “ sony superhad color
 Power source : 24V AC
 Scanning Method : 2 : 1 interface
 Focal Length : 30x optical zoom ( 3,3-99mm) 8x digital zoom
 Resolution : 600 TVL
 Min Illumination : 0,4 lux @ F1,6 ( color)
0,003 lux@F1.6 (Sens-up)
0,08 lux@F1.6
 Day & night with ICR ( Infrared cutfilter removal )
 Max 240/sec pan speed & 360 continous rotation
7. Monitor
 Screen Size : LED 22”
 Resolution : SXGA
 Power Source : 12VDC, 50-75 Hz
 Built-in Speaker
 Power Consumption : Max 42W
 Video input : 2 BNC , 1VHS
 Video output : 2BNC
8. Digital Video Recorder ( DVR)
 Input : 16 Channel Camera Input 16 Looping
 Hardisk : 2000 Gb
 Feature : Digital Action Detection
 Synhronization : 625 Line, 50 Hz
 Digital Memory : 720 H x 567 V
 Display Speed : 480 FPS
 Recording Speed : 240 FPS
9. Controller Speed dome & DVR
 Power sources : 12VDC
 PTZ Control : Joy stick ( 3axis twist zoom )
 LCD Display : 20 x 4 Character LCD
 Multiprotocol support
7.6. Testing & Commissioning
1. Pemeriksaan
Pemeriksaan dilakukan setelah instalasi kabel dan pemasangan peralatan utama telah dilaksanakan.
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat dan memastikan bahwa pekerjaan instalasi sistem CCTV
telah dikerjakan sesuai spesifikasi dan peraturan yang berlaku.
2. Pengujian
a. Pengujian yang berhasil dan dapat diterima oleh Direksi Lapangan yang bertindak mewakili
pemberi tugas (Owner), harus dilengkapi dengan berita acara yang telah ditanda tangani oleh
pihak-pihak yang berkepentingan. Setelah ini dilanjutkan dengan pemberian buku petunjuk
pengoperasian dan pemeliharaan serta melaksanakan training kepada pengelola gedung. Sesudah
semua ini dilaksanakan maka dapat diadakan serah terima pertama dari kontraktor ke Pemberi
Tugas.
b. Pengujian sistem harus dilakukan sekurang kurangnya sebagai berikut:
 Pengujian simulasi CCTV terhadap system.
 Semua peralatan dalam sistem tata suara ini harus diuji oleh perusahaan pemegang
keagenan peralatan tersebut dengan disaksikan oleh MK/Direksi.
 Sebelum melakukan pengujian, Kontraktor wajib memberitahu MK/Direksi terlebih dahulu.
Setiap pengujian yang dilakukan tanpa disaksikan oleh MK/Direksi akan dinyatakan tidak
sah dan harus diulang kembali.
 Pengujian dapat dilakukan per bagian pekerjaan, namun akhirnya tetap dilakukan pengujian
sekaligus secara keseluruhan.
 Semua biaya yang diperlukan untuk dapat dilakukannya pengujian, baik untuk daya listrik
dan peralatan bantu serta peralatan ukur, sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor.
 Apabila terdapat ketidaksempurnaan ataupun kegagalan dalam pengujian, maka Kontraktor
wajib memperbaikinya dengan biaya yang sepenuhnya menjadi tanggungan Kontraktor.
 Apabila karena perbaikan yang dilakukan menyebabkan kerusakan pada bagian paket
pekerjaan Kontraktor lain, maka biaya perbaikannya tetap menjadi tanggung jawab
Kontraktor sistem tata suara.
 Pengujian harus dilakukan oleh spesialis vendor sebagai authorized dealer penjualan
peralatan tersebut dan harus menyiapkan sertifikat pemasangan yang baik dari instansi yang
berwenang.
3. Kontraktor harus menyerahkan kepada Konsultan Pengawas dalam rangkap 3 (tiga)
mengenai hal-hal sebagai berikut :
f. Hasil pengetesan kabel-kabel.
g. Hasil pengetesan peralatan-peralatan.
h. Hasil pengetesan semua persyaratan operasi dan instalasi
i. Hasil pengukuran-pengukuran dan lain - lain
Semua pengetesan dan atau pengukuran tersebut harus disaksikan oleh Konsultan MK

Pasal 8
SISTEM ISOLATION TRANSFORMER
8.1. Umum
Sistem ini adalah bersifat memonitor dan mengamankan terhadap terjadinya arus bocor pada system
instalasi listrik untuk pelayanan ke manusia (pasien).
Unit ini secara khusus di pasang di Ruang Operasi, Ruang ICU/ICCU/PICU/NICU, Ruang melahirkan
dan Ruang Gawat Darurat (Emergency).
8.2. Modul monitor isolasi „107TD47“:
Alat monitor isolasi ini adalah alat yang vital untuk menjamin keamanan dan kelangsungan supply listrik
medik, dimana alat tersebut harus dapat memonitor nilai isolasi secara akurat dan terus-menerus. A-
Isometer “107TD47” yang memiliki sistem pengukuran AMP dapat memantau nilai isolasi secara akurat,
walaupun pada jaringan listrik yang terkontaminasi dengan tegangan kotor (tegangan dc yang ditimbulkan
oleh power supply dari peralatan listrik). A-Isometer ini juga dilengkapi alat monitor beban arus, suhu
temperature, digital display dengan nilai/ data yang jelas, key pad dan tombol uji. Untuk memenuhi standar
internasional/nasional yang ada, maka “107TD47” memiliki spesifikasi sebagai berikut:
- Internal Impedans : > 240 KOhm (IEC60364-7-710: tdk boleh kurang dari
100 KOhm)
- Tegangan uji : < 12 V AMP (IEC 60364-7-710: tidak boleh lebih dari
25 V)
- Arus uji : < 0,05 mA (IEC60364-7-710: tidak boleh lebih dari 1
mA)
- Isyarat gangguan : > 50 – 500 KOhm (IEC60364-7-710: tdk boleh kurang dari
isolasi 50 KOhm)
- Tombol Uji : Tersedia (IEC60364-7-710: disyaratkan)
- Monitor koneksi kabel : Tersedia (IEC60364-7-710: disyaratkan)
- Monitor beban arus : Tersedia (IEC60364-7-710: disyaratkan)
- Monitor Suhu Trafo : Tersedia (IEC60364-7-710: disyaratkan)
- Sistem Pengukuran : AMP Measuring (IEC 61557-8) IT AC with galvanically
Principle DC circuit
8.3. Trafo Isolasi “ES710“
Sesuai dengan standard IEC60364-7-710 bag.512.1.6, dengan spesifikasi sbb:
- Reinforced isolated
- Fixing angles are isolated
- Windings‟re galvanically isolated protection by PTC-Resistor
- Arus input : 22,5 A
- Arus Output : 21,7 A
- Inrush current : 12 x În
- Leakage Current : < 0,5 mA
- No Load Input Current Io <=2,8 %
- Tegangan input : 230 VAC
- Tegangan output : 230 VAC
- Short circuit Voltage <=2,6 %
- Induction : 1T
- Resistancy of Primary <=0,1 Ohm
- Resistancy of secondary <=0,09 Ohm
- Efficiancy ≥ 96%
- Fe Loss : 80 W
- Cu loss : 125 W
- Full-load temperature rise: 68 grd C
8.4. Modul Isyarat MK 2007
Alat isyarat ini harus terpasang di tempat-tempat yang mudah terpantau oleh staff, agar supaya gangguan
pertama dapat diketahui sedini mungkin, sebelum terjadinya gangguan kedua yang dapat mengakibatkan
terputusnya listrik dan hal-hal yang tidak diinginkan. Alat isyarat ini telah dilengkapi dengan digital display
untuk menunjukan nilai isolasi secara jelas dan nilai beban arus dalam persen pemakaian. Untuk memenuhi
standar internasional/nasional yang ada, maka “MK2007” ini memiliki spesifikasi sebagai berikut :

- Digital display untuk nilai isolasi & beban arus


- Tombol tekan uji : menguji sistem secara remote (IEC60364-7-710: disyaratkan)
- Lampu warna hijau : Sistem sedang digunakan (IEC60364-7-710: disyaratkan)
- Lampu warna kuning : Sistem sedang gangguan (IEC60364-7-710: disyaratkan)
- Isyarat bunyi yg nyala akan tetapi lampu warna kuning tdk (IEC60364-7-710: disyaratkan)
paralel dgn lampu dapat dipadamkan selama
kuning dan dapat di- gangguan masih ada.
hentikan dgn tombol

8.5. Circuit Breaker


Untuk pemutusan otomatis pada lokasi gangguan, maka selektifitas pemilihan spek MCB harus
diperhatikan. Hal ini berguna untuk menghindari terjadinya kesalahan pemutusan listrik pada lokasi yang
aman (tidak ada gangguan) yang dapat menganggu kelangsungan operasional. Selain dari pada tersebut
diatas, kententuan waktu trip (waktu pemutusan otomatis) juga harus diperhatikan sesuai dengan
persyaratan yang berlaku untuk proteksi gangguan kedua. Untuk melindungi kabel dari kelebihan arus,
maka ukuran MCB harus disesuaikan dengan ukuran penampang kabel dan diusahakan tidak ada
pencabangan.
 MCB input pada Trafo Primer : 2 pole/ 32 A/ 10 kA/ curve C
 MCB Pusat output trafo Sekunder : 2 pole/25 A/ 10 kA/ curve C
 MCB Distribusi houtput trafo : 2 pole/ 6 A/ 4,5 kA/ Curve C

8.6. Selector Switch OFF-ON-BY PASS


Untuk menjamin kelangsungan operasional di dalam ruang OK atau ICU jika terjadinya kerusakan Isolating
Transformer, maka dibutuhkan suatu selector switch yang dapat mengalikan listrik secara langsung
keruang yang bersangkutan tanpa harus lama menunggu waktu perbaikan/pengantian transformer tersebut.
Disamping itu juga selector switch tersebut dapat mempermudah dan menjamin keamanan si Maintenance
pada saat penggantian trafo tanpa ada sentuhan tegangan listrik.
8.7. Wiring & Panel Enclosure
Untuk mempermudah perawatan, maka semua kabel wiring harus diberi label/marking dgn kode yang jelas
dan diterminasi dengan Terminal Block yang anti electrolytic corrosion dan berlebel jelas.
Disamping itu dengan Panel dengan modular knock down system dapat mempermudah pekerjaan
Maintenance dalam perawatan, pengantian dan pengembangan selanjutnya.
Spesifikasi Panel:
 Indoor used
 Modular knock down system
 Material sheet steel 1,5 – 2 mm
 IP 40
 Door with Hinged Type Lochable
 Powder Coating Epoxy polyester Colour Ral 7032 Tex, thickness 80 microns
 Finishing metal surface treatment: Degreasing + Rust removing, Rinsing, Surface conditioning, rinsing,
Zins phosphating, Rinsing by spraying high pressure clean water.
Spesifikasi Terminal Block
 The screws are prevented from loosening by locking technique (Reakdyn principle)
 Metal parts of screw made of high-grade, strain-crack and corrosion-proof copper alloys
 Insulating housing of terminal block made of recyclable PA 6.6 halogen free & UV-resistant
 PA 6.6 is certified for inflammability class V0 in acc. with UL 94.
8.8. Rangkuman
Sumber Listrik untuk masing-masing ruang OK atau ICU tersebut diproteksi dengan Sistem IT-Medis yang
mengunakan trafo isolasi medis “ES710“. Untuk alasan kontinuitas suplai, maka nilai isolasi, beban dan
suhu trafo harus dipantau secara terus menerus dengan alat „107TD47“ untuk menunjukkan terjadinya
gangguan pertama. Disarankan agar gangguan pertama dihilangkan dengan penundaan sesingkat mungkin,
sebelum terjadi gangguan kedua. Sesudah terjadinya gangguan pertama dari isolasi pada bagian aktif ke
bumi, maka untuk proteksi terjadinya gangguan kedua digunakan Circuit Breaker untuk pemutusan suplai
listrik, dengan ketentuan sebagai berikut :

U0 x 3
Zs ≤ ---------- , Jika netral tidak terdistribusi
2 Ia

U0
Z‟s ≤ ---------- , Jika netral terdistribusi
1.Ia

Untuk kedepannya jika diperlukan, bahwa setiap aplikasi monitoring pada masing-masing Sumber Listrik
IT-Medis dapat diintegrasikan secara keseluruhan dengan Bender-Gateway „OPC“, sehingga
memungkinkan untuk dapat dikembangkan pada pemantauan terpusat dengan jaringan berbasis PC via
ISDN, Ethernet TCP/IP dan mengunakan standard protokol OPC dengan Software-Visualisasi yang ada
dipasaran.
8.9. Persetujuan Pabrik Pembuat
a. Power system floor standing dims; 600w x 1800h x 400d mm produk ex. Bender, termasuk isolating,
A-isometer, load monitoring & breaker dan accessories.
b. Remote alarm indicator
Pasal 9
SISTEM PENANGKAL PETIR

1. U M U M
1.1. Pemborong wajib mengikuti/memenuhi semua persyaratan yang tertulis dalam buku ini, juga wajib
mengukuti/memenuhi persyaratan umum yang dikeluarkan oleh Pemberi Tugas.
1.2. Dalam penawaran, Pemborong wajib melampirkan daftar perincian peralatan/ bahan yang akan
dipasang.
1.3. Dalam penawaran, pemborong wajib menyertakan brosur, katalog, diagram, ukuran, keterangan-
keterangan lain yang diterbitkan oleh pabrik pembuat dan menandai spesifikasi peralatan/bahan yang
akan dipasang dengan jelas.
1.4. Pemborong wajib menyertakan ahli yang ditunjuk oleh pabrik pembuat peralatan yang dipasang untuk
mengawasi, memeriksa dan menyetel peralatan-peralatan sehingga sistem tersebut dapat bekerja
dengan sempurna.
1.5. Jika pemborong menemukan kesalahan dalam gambar perencana an atau spesifikasi teknis, maka
pemborong wajib memberitahukan kepada Direksi/ pengawas lapangan secara tertulis untuk mendapat
penjelasan.
1.6. Pemborong harus membuat gambar-gambar instalasi yang diperlukan sebelum memulai pekerjaan
untuk diperiksa dan disahkan oleh Konsultan Perencana, Direksi Pemberi Tugas (Shop Drawing).
1.7. Pemborong wajib memperlihatkan peralatan/bahan yang akan dipasang kepada Direksi/Pengawas
lapangan jika diminta.
1.8. Jika contoh yang diberikan ditolak oleh Direksi, Pemborong wajib mengganti dengan yang lainnya.
1.9. Peralatan/bahan yang dipasang harus memenuhi persyaratan-persyaratan pengujian dari pabrik dan
Instansi yang bersangkutan dengan pekerjaan tersebut.
1.10. Semua peralatan/bahan instalasi semua harus baru dan dirancang khusus untuk kebutuhan instalasi
penangkal petir dan mendapat jaminan tertulis dari pabrik pembuatnya.
1.11. Jika dikarenakan pekerjaan, Pemborong harus membongkar, membobok, menggali dan lain-lain,
Pemborong berkewajiban/harus mengembalikan kekeadaan seperti semula.
1.12. Pemborong harus memperhitungkan adanya pembobokan dinding untuk pemasangan pipa instalasi.
1.13. Pemborong harus membersihkan lingkungan kerja setelah pemasangan dianggap selesai.
1.14. Pemborong wajib menyediakan tenaga ahli yang ditempatkan dilapangan secara "Full Time".
1.15. Pemborong harus melakukan koordinasi dengan pemborong lainnya (sipil, mekanikal, arsitektur, dan
sebagainya) atas petunjuk Direksi/Pengawas lapangan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan
dilapangan. Penyediaan material dan pemasangan sleeves/sparing menjadi tanggung jawab pemborong.
1.16. Jika karena kesalahan kesalahan atau kelalaian pemborong, menyebabkan instalasi berbeda dengan
"Shop Drawing" yang sudah disetujui atau peralatan-peralatan yang dipasang tidak memenuhi
persyaratan, maka pemborong berkewajiban/harus membongkar, memperbaiki, mengganti
peralatan/bahan tersebut dan mengembalikan kekeadaan semula. Biaya-biaya yang ditimbulkan oleh
hal-hal tersebut diatas, menjadi tanggung jawab pemborong.
1.17. Pemborong wajib menyerahkan gambar terpasang ("As Built Drawing") kepada Pemberi
Tugas/Direksi sebanyak 1 (satu) set gambar "Asli"/kalkir dan 3 (tiga) set gambar cetak biru (blue print)
setelah disetujui oleh Pengawas Lapangan, untuk semua pekerjaan yang telah dilaksanakan.
1.18. Pemborong harus memperbaiki dan mengganti peralatan yang dipasang bila terjadi kerusakan pada
masa pemeliharaan dan perawatan. Masa pemeliharaan/ garansi adalah 1 (satu) tahun terhitung dari
persetujuan bersama penyerahan pertama.
1.19. Pemborong harus mempunyai Surat Izin Instalasi yang sesuai dengan kelas yang dipersyaratkan pada
instala sipenangkal petir dari Instansi Pemerintah yang berkaitan dengan pekerjaannya, dan masa
berlaku dari izin tersebut harus masih berlaku hingga pekerjaan tersebut diserahkan pada akhir
pekerjaan. Ketentuan-ketentuan, peraturan-peraturan dari daerah setempat harus dipenuhi oleh pihak
pemborong dan mendapat izin tertulis dari penguasa setempat.
1.20. Pemborong Pek. Sipil, Struktur dan seluruh pemborong yang mempunyai lingkup pekerjaan diluar
bangunan, diharuskan membuat penangkal petir sementara dengan ketinggian minimum 6 m¹ dari titik
pekerjaan tertinggi dari pekerjaan yang sedang dikerjakan.

2. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan instalasi Penangkal Petir meliputi :
2.1. Pengadaan dan pemasangan titik penangkal petir type Non Radioaktip penangkal petir lengkap berikut
batang peninggi dan isolator kepala penangkal petir sesuai dengan gambar rencana lengkap dengan
peralatan penunjangnya (Reff. Penangkal Petir :LPI, EF Lightning Protector).
Radius pengamanan = 50 m.
2.2. Pengadaan dan pemasangan instalasi "Down Conductor" memakai kabel Coexial 70 mm² dalam PVC
dia 40 mm.
2.3. Pengadaan dan pemasangan pipa instalasi pelindung kabel memakai pipa PVC kelas AW (10 kg/cm²)
40 mm conduit yang biasa digunakan untuk instalasi air bersih.
Pipa, bends/elbows, sockets, clamps dan perlengkapan lainnya harus cocok satu dengan yang lainnya
yakni tidak kurang dari 40 mm.
PVC conduit harus dari merek Rucika, Wavin atau Paralon.
2.4. Pengadaan dan pemasangan peralatan penunjang yang dibutuhkan sehingga bekerjanya sistem tersebut
sekalipun tidak disebutkan pada lingkup pekerjaan ini.

3. PERSYARATAN-PERSYARATAN TEKNIS
Persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut :
3.1. Kepala Penangkal Petir
Kepala penangkal petir harus dari type Non Radioaktif dengan radius penamanan 50 m dan batang
peninggi GIP dia. 24 mm dilengkapi dengan coupling isolator antara batang penangkal petir dengan
kepala penangkal petir.
3.2. Batang Peninggi
Batang peninggi harus terbuat dari pipa GS dia. 24 mm dan dilengkapi dengan isolator berkualitas isolasi
tinggi dan menghubungkan kepala penangkal petir dengan batang penyambung yang terbuat dari metal
(t = 6.00 m).
Konstruksi batang peninggi tersebut harus kuat dan diperhitungkan terhadap tiupan angin yang kencang
(Badai/Topan).
3.3. Down Conductor
Terdiri dari kabel Coexial dengan luas penampang penghantar bagian dalam tidak kurang dari 70 mm²
yang menghubungkan secara listrik dengan sempurna antara "Air Termination" tersebut diatas dengan
sistem pentanahan penangkal petir.
3.4. Sistem Pentanahan
Sistem pentanahan terdiri dari :
a. Terminal pengukuran pentanahan.
b. Elektroda pentanahan yang terbuat dari batang tembaga massif panjang 6 m dan diameter 25 mm.
c. Tahanan/hambatan/resistansi tanah tidak boleh lebih dari 1 ohm pada musim kemarau.
Bila tahanan tanah tersebut tidak dapat dicapai dengan 1 (satu) elektroda maka harus dibuatkan
elektroda lain yang dipasang secara paralel sampai tahanan tanah yang dipersyaratkan terpenuhi.

4. INSTALASI PENANGKAL PETIR


Pemasangan instalasi penangkal petir harus sesuai dengan gambar rencana dan harus mengikuti petunjuk
pengawas dan harus mengikuti aturan dari pabrik serta memenuhi persyaratan dari standard-standard yang
dikeluarkan oleh instansi yang berwenang (Depnaker/Peratur an daerah setempat/PUIL edisi terahir).
Cara-cara pemasangan adalah sebagai berikut :
4.1. Down conductor sepanjang dinding vertikal ataupun dibawah atap harus dipasang memakai klem
dengan jarak setiap 50 cm.
4.2. Down conductor pada ketinggian 2.00 dari muka tanah harus dipasang didalam pipa PVC kelas AW.
4.3. Pada elektroda pentanahan harus dibuat terminal pentanahan dengan baut dan ring. Sambungan pada
elektroda pentanahan harus memakai bak kontrol yang dapat dibuka bilamana diperlukan.
4.4. Elektroda pentanahan dari batang tembaga 25mm dan panjang 6 meter harus dimasukkan kedalam
tanah secara vertikal, serta harus dilindungi terhadap korosi dengan serbuk arang disekitar batang
tembaga tersebut.
Pemasangan elektroda pentanahan dengan cara, tentukan dahulu letak dimana akan dipasang titik
pentanahan tersebut yang sesuai dengan gambar rencana.
Tanam secara vertikal pipa baja berdiameter 5" sampai sedalam 6 meter, kemudian pipa dicabut
kembali sehingga akan meninggalkan lubang dengan diameter kurang lebih 5" (+ 12.5 cm) sedalam 6
meter. Isi lubang tersebut dengan serbuk arang padat kemudian tanam elektroda pentanahan tersebut
ditengah-tengah bumbung serbuk arang tersebut.
Setiap elektroda pentanahan harus disediakan bak kontrol guna pengecekkan rutin tahanan pentanahan
secara berkala.

5. GAMBAR-GAMBAR RENCANA
Gambar-gambar secara umum menunjukkan, tata letak, instalasi dan lain-lain.
Penyesuaian harus dilakukan dilapangan, karena keadaan sebenarnya dari lokasi jarak-jarak dan ketinggian
ditentukan oleh kondisi lapangan.

6. GAMBAR-GAMBAR SESUAI PELAKSANAAN (AS BUILT DRAWINGS)


Pemborong harus membuat catatan yang cermat dari pelaksanaan dan penyesuaian-penyesuaian dilapangan.
Catan-catatan tersebut harus dituangkan dalam satu set gambar lengkap (kalkir) sebagai gambar-gambar
sesuai pe laksanaan (As Built Drawings).
As Built Drawings harus diserahkan kepada Pengawas sete lah pekerjaan seleai, berupa 1 set kalkir + 3 set
cetak biru.

7. STANDARD DAN PERATURAN


Seluruh pekerjaan instalasi penangkal petir harus dilaksanakan mengikuti standard dan peraturan setempat
atau PUIL atau standar-standar yang berlaku secara internasional.
Surat izin bekerja sebagai instalatir penangkal petir dengan kelas yang sesuai dengan pekerjaan ini harus di
miliki secara sah oleh Pemborong.
Satu copy dari surat izin tersebut harus diserahkan kepada Pengawas Lapangan.
Selain itu harus ditaati pula Peraturan atau Hukum setempat (State and Local Laws) yang ada hubungannya
dengan pekerjaan-pekerjaan tersebut diatas.

8. P E N G U J I A N
Pengujian instalasi sistem penangkal petir meliputi :
8.1. Pengujian instalasi yang terdiri dari :
a. Insulation resistance test
b. Continuity test
8.2. Pengujian pentanahan dengan menggunakan peralatan benar-benar penggunaannya untuk keperluan
pengukuran tahanan tanah.

9. PENYERAHAN PEKERJAAN
Pekerjaan instalasi penangkal petir dapat dinyatakan selesai dan diterima oleh Pemberi Tugas bila telah
diperiksa bersama dan diuji oleh instansi berwenang yang berkaitan dengan pekerjaan ini, semua pernyataan
ditanda tangani bersama antara Pemberi Tugas, Pengawas Lapangan, Instansi P emerintah setempat dan
Pemborong.
Penyerahan pekerjaan dapat dilaksanakan setelah masa garansi dilewati.

10. MASA PEMELIHARAAN DAN JAMINAN (GUARANTIE)


Masa pemeliharaan untuk seluruh sistem penangkal petir yang dipasang adalah selama 6 (enam) bulan terhitung
sejak pernyataan pekerjaan pemeriksaan instalasi ditanda tangani bersama dan dapat diterima. Dalam masa
pemeliharaan Pemborong wajib memperbaiki dan mengganti dari perlengkapan instalasi yang rusak akibat dari
kecerobohan pemborong, atas biaya sendiri

PASAL 27
PEKERJAAN MEKANIKAL
Pasal 1
PEKERJAAN PLUMBING

1. SYARAT-SYARAT UMUM
1.1. Syarat-syarat umum merupakan bagian dari persyaratan teknis ini. Apabila ada beberapa klausul-
klausul dari syarat umum yang dituliskan kembali dalam persyaratan teknis ini, berarti menuntut
perhatian khusus pada klausul-klausul lainnya dari syarat-syarat umum.
1.2. Klausul-klausul dari syarat umum hanya dianggap tidak berlaku apabila dinyatakan secara tegas dalam
persyaratan teknis ini.
1.3. Kontraktor harus mempelajari dan memahami kondisi tempat yang ada, agar dapat mengetahui hal-hal
yang akan mempengaruhi atau mengganggu pekerjaan Mekanikal.
1.4. Apabila timbul persoalan, Kontraktor wajib mengajukan saran penyelesaian paling lambat seminggu
sebelum bagian pekerjaan ini seharusnya dilaksanakan.
1.5. Pada waktu akan memulai pelaksanaan, Kontraktor harus menyerahkan gambar-gambar kerja (shop
drawing) terlebih dahulu untuk mendapatkan persetujuan dari Konsultan MK/Konsultan Perencana dan
gambar-gambar tersebut harus diserahkan minimal 2 minggu sebelum dilaksanakan.
1.6. Pemasangan instalasi, testing, dan desinfeksi pekerjaan plumbing mengikuti peraturan SNI 03-6481-
2000 sistem plambing 2000. dan SNI 03-7065-2005 Tata cara perencanaan sistem plumbing.

2. PERATURAN, IZIN DAN STANDAR


2.1. Instalasi yang dinyatakan dalam persyaratan ini harus sesuai dengan peraturan-peraturan dan undang-
undang yang berlaku, serta tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan dari Departemen Tenaga
Kerja (Depnakertrans).
2.2. Kontraktor harus mengurus izin-izin kepada instansi yang bersangkutan yang mungkin diperlukan untuk
menjalankan instalasi yang dinyatakan dalam spesifikasi ini atas tanggungan sendiri.
2.3. Kontraktor harus memeriksa dengan teliti ruangan-ruangan agar peralatan-peralatan, saluran-saluran
(ducts), pipa-pipa dan lain-lain dapat dipasang pada tempat-tempat dan ruangan-ruangan yang telah
disediakan.
2.4. Kontraktor sebelumnya harus mengajukan contoh bahan-bahan dan peralatan-peralatan yang akan
digunakan. Cara pelaksanaan pengerjaan harus dilakukan dengan cara yang wajar dan terbaik, dan
bahwa instalasi yang diserahkannya adalah lengkap dan dapat bekerja dengan baik, tanpa mengurangi
atau menghilangkan bahan-bahan atau peralatan-peralatan yang sewajarnya disediakan, walaupun
tidak disebutkan secara nyata dalam persyaratan ini ataupun tidak dinyatakan secara tegas dalam
gambar-gambar yang menyertai persyaratan teknis ini.
2.5. Kontraktor harus menyediakan peralatan, alat-alat pengatur dan alat-alat pengaman tambahan yang
diwajibkan oleh ketentuan-ketentuan dan peraturan-peraturan yang berlaku di Indonesia.
2.6. Gambar-gambar dan persyaratan teknis perencanaan ini merupakan suatu kesatuan dan tidak dipisah-
pisahkan. Apabila ada sesuatu bagian pekerjaan atau bahan atau peralatan yang diperlukan agar
instalasi ini dapat bekerja dengan baik, dan hanya dinyatakan dalam salah satu gambar perencanaan
atau persyaratan teknis perencanaan saja, Kontraktor harus tetap melaksanakannya tanpa ada biaya
tambahan.
2.7. Gambar-gambar perencanaan tidak dimaksudkan untuk menunjukkan semua pipa, fitting, katup-katup
dan fixtures secara terperinci. Semua bagian-bagian tersebut diatas walaupun tidak digambarkan atau
disebutkan secara spesifik, namun apabila untuk berfungsinya sistem maka harus disediakan dan
dipasang oleh Kontraktor dengan baik dan sesuai dengan pelaksanaan yang wajar dan berlaku untuk
pekerjaan plambing pada umumnya.

3. LINGKUP PEKERJAAN
3.1. Pekerjaan yang dimaksud disini adalah pengadaan material, penyimpanan, pemasangan,
penyambungan, tenaga kerja, peralatan bantu agar seluruh instalasi penyediaan air bersih dan
pembuangan dapat dipasang, diuji, dibersihkan dan siap untuk digunakan dengan kualitas bahan dan
kualitas pengerjaan pemasangan yang terbaik sesuai dengan gambar-gambar dan persyaratan yang
ditentukan dalam perencanaan ini.
3.2. Persyaratan teknis ini dan gambar-gambar yang menyertai dimaksudkan untuk menjelaskan dan
menegaskan tentang segala pekerjaan, bahan-bahan, peralatan-peralatan yang diperlukan untuk
pemasangan, pengujian dan penyetelan dari seluruh sistim agar lengkap dan siap untuk bekerja dan
dapat digunakan dengan baik.
3.3. Secara umum bagian-bagian pekerjaan utama yang termasuk dalam Persyaratan Teknis dan adalah
sebagai berikut :
3.4. Pemasangan, uji tekan, pembersihan dan disinsfeksi pipa-pipa, elbow, fitting-fiting, pemasangan support
atau gantungan, clamp pipa, pemasangan sanitary fixtures dan semua pekerjaan plambing yang
diperlukan untuk berfungsinya system distribusi air bersih.
3.5. Pemasangan, pembersihan dan uji kebocoran pipa-pipa, elbow, fitting-fitting, penyangga atau penahan
pipa air buangan, penyetelan kemiringan atau elevasi pipa buangan dan semua pekerjaan plambing
yang diperlukan untuk berfungsinya system pipa pembuangan.
3.6. Pengadaan, pemasangan sanitary fixture seperti washtafel, closet, service sink, slop sink, kitchen sink,
shower, faucet, floor drain, stop valve dan lain lain, dengan kualitas pemasangan yang baik dan benar
dari segi teknis maupun artistik.
3.7. Pengadaan, pemasangan, penyambungan, pengujian pipa-pipa, vent cup, elbow dan fiting pemipaan
vent.
4. KETENTUAN DAN PERSETUJUAN BAHAN-BAHAN DAN ALAT-ALAT
Dalam waktu yang secepat mungkin setelah Kontraktor memperoleh kontrak pekerjaan, Kontraktor harus
mengajukan contoh-contoh bahan dan alat yang lengkap dengan brosur dari pabrik-pabrik atau perusahaan-
perusahaan yang membuat bahan-bahan dan alat-alat yang akan dipasang dalam instalasi ini, untuk
memperoleh persetujuan dari Konsultan MK/ Konsultan Perencana.
Setelah daftar tersebut diatas disetujui dan sebelum melakukan pembelian atas bahan-bahan dan alat-alat,
Kontraktor harus menyerahkan kepada Konsultan daftar yang lengkap dari peralatan-peralatan dan bahan-
bahan yang akan digunakan dalam instalasi ini, lengkap dengan brosur dan atau gambar kerja dari pabrik atau
perusahaan yang membuat serta schedule pembelian, pengiriman dan pemasangannya.

4.1. INSTALASI AIR BERSIH


a. Pipa-pipa air bersih dan fittings baik yang utama maupun pipa-pipa cabang sampai ke fixture-
fixture, ditegaskan pada standard ISO 3212, ISO7279 dan DIN 8070,DIN 8078, DIN 16962
berbahan dasar Polypropylene Random Type 3 (PPR), dengan tekanan nominal 10 Bar (PN10).
b. Pemotongan pipa PPR tidak diperbolehkan menggunakan gergaji akan tetapi menggunakan alat
pemotong khusus untuk pipa jenis tersebut, penyambungan antara dua pipa harus sentris (satu
sumbu) apabila diperlukan menggunakan guider.
c. Material atau bahan-bahan yang belum digunakan atau di pasang seperti pipa, fitting dan lain-lain
harus disimpan ditempat yang terlindungi.
d. Fitting atau sambungan untuk sanitary fixtures yang menggunakan sambungan jenis ulir “metal
insert “ yang dilapisi dengan nickel-plated-brass, harus menggunakan teflon sealed yang
direkomendasikan pabrik.
e. Apabila ada keadaan lapangan memaksa dilakukannya pembengkokan dengan cara pemanasan,
maka tidak dibenarkan menggunakan api secara langsung, akan tetapi menggunakan udara panas
(hot blow air) dengan radius pembengkokan maksimum 8 kali diameter pipa.
f. Stop Valve menggunakan produk KITAZAWA /TOYO.
g. Jarak penggantung pipa di sebutkan pada Pasal 4, 4.4 Sambungan, Gantungan dan Klem.
h. Hindari pengangkutan pipa PVC dengan menggusur untuk menghidari scratch pada pipa,
pengangkutan hanya di ijinkan dengan cara diangkat.
i. Sambungan dengan material lain harus menggunakan sambungan ulir atau flange. Jangan
menyambung menggunakan proses polyfusion dengan material yang berbeda jenis misalnya PPR
dengan PVC atau PE.

4.2. INSTALASI AIR BUANGAN, VENT, TALANG AIR HUJAN


a. Pipa-pipa dan fittings instalasi air buangan, vent dan talang air hujan menggunakan pipa
unplastisized Poly-Vinyl Chloride (uPVC) sesuai standar SNI 06-0084-1987. dengan tekanan
nominal 10 kg/cm².
b. Pipa-pipa dan fittings instalasi air buangan laboratorium menggunakan pipa jenis polypropilene
rubbering joint system chemical resistant Wavin AS.
c. Semua percabangan air buangan harus mengunakan “Y” large radius buatan pabrik dengan
standar produksi JIS K-6741/2 dengan tekanan nominal 10 kg/cm2.
d. Sebelum di timbun tanah dan dipadatkan, pipa air buangan bawah tanah harus dipasang adukan
pada tiap sambungan, belokan, bentang panjang yang memungkinkan terjadinya lendutan dan
dilapisi dengan pasir bagian atas dan bawah. Penentuan elevasi harus menggunakan waterpas
untuk mendapatkan kemiringan pipa sesuai yang di rencanakan.
e. Semua floor drain harus diberi "water trap" PVC.
f. Pada setiap belokan yang mendapat gaya sentrifugal harus dipasang penahan beton atau support
atau gantungan.
g. Instalasi pipa air buangan harus di rencanakan dan di koordinasikan dengan disiplin lain sehingga
tidak terdapat pipa yang menembus ducting, kolom, kabel tray dan lain-lain kecuali yang di
sebutkan khusus.
h. Jarak antar pengantung pipa disebutkan pada Pasal 4, 4.4 Sambungan,Gantungan dan Klem.

4.3. BAHAN-BAHAN SANITARY FIXTURES


a. Semua plambing fixture berikut fittings atau kran yang akan dipasang harus f dengan fixture-
fixture buatan “TOTO”.
b. Lavatory produk TOTO type :
1. Counter lavatory (public toilet/nurse/doctor).
- Lavatory L 521V1A
- Soap dispenser TS 126AR (deck type)
- Faucet TX 109LD (cold) atau TX 108 LDN (hot/cold)
- Aksesoris pelengkap lainnya.

2. Wall fung lavatory (nurse/doctor room).


- Lavatory L 237V3
- Soap dispenser TS 125R (wall fung)
- Faucet TX 109LD (cold) atau TX 108 LDN (hot/cold).
- Aksesoris pelengkap lainnya.

3. Wall fung lavatory (patient toilet/staff toilet).


- Lavatory L 240
- Soap dispenser TS 125R (wall fung)
- Faucet TX 109LD (cold)
- Aksesoris pelengkap lainnya.

4. Counter lavatory (nurse/doctor).


c. Lavatory (wastafel type counter) stara produk TOTO type L 521V1A lengkap dengan soap
dispenser dan kran.
d. Urinal dengan buatan “TOTO” Type UW 447 JT.1M.
e. Kloset duduk type CW 420J /SW 420JP dan aksesoris pelengkap lainnya buatan “TOTO”.
f. Kloset jongkok type CE 9 / TV150NWV12J dan aksesoris pelengkap lainnya buatan “TOTO”.
g. Semua "floor drain" (FD) terbuat dari logam dilapisi nikkel chrome, dilengkapi dengan "Water
Trap" type TX 1 BN buatan TOTO.
h. Semua "Clean Out" (CO) terbuat dari pelat yang dilapisi chrome, dilengkapi dengan "slot", seperti
buatan SAN-EI .
i. Sink stainless steel minimal SUS 304 Kris/Royal dengan ukuran minimal 480 x 620 x 180 (dalam)
lengkap dengan plug dan p-trap, untuk faucet pantry TOTO type T 30AR13V7N (cold) dan TX
607KES (hot/cold).
j. Sink keramik Bromo AMSTAD KAK 4AODXX kedalaman minimal 170 mm, dan faucet San-
ei type Y952.
k. Wall Faucet yang dipasang di dinding T23B13V7 produk TOTO type T 23B13V7.
l. Tissue holder dengan bahan stainless steel type TS 116 R TOTO .
m. Cermin wastafel dengan ketebalan 5 mm type TS 119 AS5 TOTO .
n. Shower spray type TB 19 CSNCR produk TOTO.
o. Head Shower produk TOTO type TX436, dengan stop valve TX 405SP (hot/cold).
p. Slop Sink type SK 33 produk TOTO.
q. Service Sink type SKW 322 B produk TOTO.
r. Faucet/slop sink/service sink type T30ARQ13N produk TOTO.
s. Towel Ring type TS 155 S produk TOTO.
t. Soap holder TOTO type S 156N.
4.4. SAMBUNGAN, GANTUNGAN DAN KLEM
a. Setiap percabang, belokan harus dipasang gantungan atau diklem yang dilengkapi dengan dudukan
klem dengan jarak tertentu dijelaskan pada pasal ini, dan kontraktor bertanggung jawab atas
penyediaan dan lokasi pemasangan yang tepat.
b. Pipa-pipa tidak boleh menembus kolom, kaki kolom, kepala kolom, ataupun balok, tanpa mendapat
izin tertulis dari Konsultan MK.
c. Apabila digunakan baut tembus (through bolt) harus dipasang pelat penahan pada sisi yang lain dari
dinding atau lantai tersebut.
d. Insert (tempat menyekrupkan) harus tertanam dengan baik dalam dinding atau lantai dan rata
dengan permukaan akhir (finish) dari dinding atau lantai tersebut, dan setelah alat-alat tersebut
terpasang, insert harus tidak kelihatan.
e. Semua baut, mur dan sekrup yang kelihatan (exposed) harus dibuat dengan lapisan Chromium atau
Nikkel, demikian pula cincin (washer) untuk pemasangannya.
f. Sambungan ulir harus dilapisi seal teflon (teflon sealed).
g. Klem dan gantungan yang digunakan untuk pipa tembaga (copper pipe) harus dilengkapi dengan
plastik atau karet supaya tidak terjadi kontak langsung antara dua material logam.
h. Semua pipa harus diikat atau ditetapkan dengan kuat dengan penggantung atau angker yang cukup
kokoh (rigid). Pipa-pipa tersebut ditumpu untuk menjaga agar tidak berubah tempatnya, agar
iklinasinya tetap, untuk mencegah timbulnya getaran dan harus sedemikian sehingga masih
memungkinkan konstruksi dan expansi oleh perubahan temperature.
i. Semua gantungan harus bisa diatur (adjustable) dan dilapisi zinkchromat lalu dicat termasuk klem
dan dudukannya. Pipa atau penggantung tambahan harus disediakan pada perubahan-perubahan
arah, titik percabangan, beban-beban terpusat karena katup (valve), saringan, meteran dan hal lain
yang sejenis.
j. Semua gantungan dan penumpu harus dicat dengan cat dasar zinchromate sebelum dipasang.
k. Pengapit pipa baja yang digalvanis harus disediakan untuk pipa tegak.
l. Perpipaan harus ditunjang atau digantung dengan hanger bracket atau sadel dengan tepat dan
sempurna agar memungkinkan gerakan-gerakan pemakaian atau perenggangan pada jarak yang
tidak boleh melebihi jarak yang diberikan dalam tabel berikut ini :

Jarak Maximum antar Gantungan


Jenis Pipa Ukuran Pipa (mm)
Interval Mendatar (cm) pada temp 20ºC
Sampai dengan 20 1,8
GSP 25 s/d 75 2,4
100 s/d 150 3,0

PPR -PN10 20 80
25 85
32 100
40 110
50 125
63 140
75 155
90 165
110 185

4.5. RESERVOIR AIR


a. Kontraktor harus melaksanakan pemasangan Storage Tank seperti yang diminta dalam spesifikasi
maupun BoQ sesuai lokasi yang tertera dalam gambar rencana.
b. Storage tank harus dilengkapi dengan inlets, outlets, pipa overflow, soket untuk floating level
switch. Lubang-lubang overflow dan vent harus dilengkapi dengan kawat anti nyamuk yang
terbuat dari bahan anti karat
c. Storage tank harus buatan pabrik dengan perbandingan rasio FRP 35% glass, 65% resin dan resin
merupakan dari jenis orthopthalic grade yang dilengkapi dengan UV protection. Dimensi masing
masing panel 1m x 1m dilengkapi dengan pipa penguat vertikal dan horisontal dari pipa galvanized
diameter 1.25 inch dan dilapisi dengan FRP, dilengkapi dengan manhole untuk masing2
kompartement. Ukuran dan kapasitas lihat di gambar, plat penghubung panel baja galvanis
200x200x5 mm lapis FRP. Skid base UNP-150 dicat polyester resin. Celah antara panel atap
harus di isi resin dilengkapi juga dengan tangga luar dan dalam untuk tiap kompartement.
d. Kontraktor harus menyiapkan shop drawing dimana posisi dan outlet, inlet, manhole serta posisi
angkur sudah tepat.
e. Kontraktor harus melakukan test uji kebocoran (hydrostatic test) termasuk penyediaan air untuk
test kebocoran tanpa ada biaya tambahan.

4.6. PENGGANTIAN MATERIAL ATAU ALAT


a. Kontraktor bertanggung jawab atas pencegahan bahan atau peralatan untuk instalasi ini dari
pencurian dan kerusakan. Bahan dan peralatan yang hilang atau rusak harus diganti oleh
Kontraktor tanpa tambahan biaya.
b. Sesuatu bahan, peralatan yang akan digunakan dalam proyek dan tidak disebutkan dalam
persyaratan ini, hanya diperbolehkan apabila ada persetujuan secara tertulis dari Konsultan MK
dan biaya pengujian bahan atau peralatan tersebut menjadi tanggungan Kontraktor.
c. Apabila diperlukan pengujian atas bahan, peralatan, fixtures, harus dilakukan oleh bahan-bahan
atau lembaga yang ditentukan oleh Konsultan MK dengan cara pengujian standar yang berlaku
dan apabila cara-cara standar tidak ada, Konsultan MK berhak menentukan prosedur
pengujiannya.
d. Setiap bahan (satu panjang utuh), fitting, fixtures dan peralatan-peralatan yang akan dipasang pada
instalasi ini harus mempunyai tanda-tanda yang jelas dari pabrik pembuatnya. Fitting dan fixtures
yang tidak memiliki tanda-tanda tersebut harus diganti atas tanggung jawab Kontraktor.
e. Kontraktor bertanggung jawab atas pelaksanaan dan pembiayaan yang perlu karena timbulnya
perubahan-perubahan yang perlu sebagai akibat dari adanya bahan atau peralatan lain atau
pengganti yang disetujui tetapi berbeda dengan yang dinyatakan dalam gambar atau persyaratan
Konsultan Perencana.
f. Apabila peralatan dan instalasi plumbing tidak ada dipasaran dan ada usulan untuk diganti dengan
merek lain, maka harus ada keterangan tertulis dari supplier atau distributor bahwa material
dimaksud tidak diproduksi lagi.

5. TENAGA AHLI
Kontraktor harus menggunakan tenaga-tenaga yang ahli dalam bidangnya (skilled labour) agar dapat
memberikan jaminan hasil kerja yang terbaik dan rapih.
6. PEMASANGAN
6.1. Pemasangan hanya boleh dilakukan setelah ada izin tertulis dari Konsultan MK. Gambar-gambar
pemasangan instalasi secara mendetail harus dibuat oleh Kontraktor sambil melaksanakan
pembangunan struktur bangunan. Hal ini agar dapat diketahui dengan tepat letak atau ukuran lubang-
lubang pada dinding dan lantai yang diperlukan untuk lewatnya pipa-pipa.
6.2. Kontraktor bertanggung jawab atas ukuran (dimensi) dan lokasi lubang-lubang tersebut dan apabila
perlu harus melakukan pembobokan atau penambalan merupakan tanggungan Kontraktor dan tanpa
tambahan biaya.
6.3. Semua fixtures harus dipasang dengan baik dan harus bebas dari kotoran yang akan mengganggu
aliran atau kebersihan air.
6.4. Semua floor drain harus dilengkapi dengan u-trap.
6.5. Harus terpasang secara kokoh (tight) ditempatnya dengan tumpuan yang sesuai (bracket, cleat, plate,
anchor).
6.6. Kontraktor bertanggung jawab atas komponen-komponen yang perlu (misalnya: fixture fitting, seal,
elbow, cap) untuk melengkapi instalasi.
6.7. Semua sambungan yang menghubungkan pipa dengan luas penampang yang berbeda harus digunakan
"Reducer" atau "Increaser".
6.8. Sedapat mungkin harus digunakan belokan-belokan dengan "long radius". Belokan-belokan dari jenis
"short radius" hanya boleh digunakan apabila kondisi tempat tidak memungkinkan menggunaan
belokan jenis long radius, dan Kontraktor harus memberitahukan hal ini kepada Konsultan MK.
6.9. Fittings atau alat-alat yang akan menimbulkan tahanan aliran-aliran yang tidak wajar, tidak boleh
digunakan.
6.10. Pipa-pipa tidak boleh menembus kolom, kaki kolom, kepala kolom, ataupun balok, tanpa mendapat izin
tertulis dari Konsultan MK.

7. PEMBERSIHAN DAN PENGECATAN


7.1. Pembersihan.
a. Semua bagian terlindung dinding harus bebas dari lemak dan kotoran-kotoran lain.
b. Semua bagian yang dilapisi Chromium atau Nikkel harus digosok bersih dan mengkilap setelah
selesai pemasangan instalasi. Semua bagian pipa, katup-katup alat-alat lainnya harus dibersihkan
dahulu dari lemak, lumpur dan kotoran-kotoran lainnya yang telah terbawa masuk.
c. Apabila terjadi kemacetan, pengotoran atas bagian bangunan atau finishing arsitektural atau
timbulnya kerusakan lainnya yang semuanya atas kelalaian Kontraktor atau karena tidak
membersihkan sistim pemipaan dengan baik, maka semua perbaikan adalah menjadi tanggung
jawab Kontraktor.
d. Semua permukaan sanitary fixtures harus bebas dari kotoran-kotoran, lemak dan lain lain.
7.2. Pengecatan.
a. Penggantung atau penumpu pipa dan peralatan-peralatan terbuat dari logam lainnya yang akan
tertutup oleh tembok atau bagian bangunan lainnya harus dilapis dengan cat pencegah karat.
b.
Pada semua pipa baik air bersih air kotor atau vent yang tersusun di shaft diberi tanda
peruntukan dan arah aliran.
8. PENGUJIAN DAN DESINFEKSI
8.1. Pengujian Sistem Pembuangan (hydrostatic test)
a. Seluruh sistem pembuangan air harus mempunyai lubang-lubang yang dapat ditutup (plugged) agar
seluruh sistem tersebut dapat diisi dengan air sampai lubang "vent" tertinggi.
b. Sistem tersebut harus dapat menahan air yang diisikan seperti tersebut diatas minimum selama 30
menit tanpa ada kebocoran.
c. Apabila terdapat kebocoran baik di pipa, sambungan, belokan dan lain-lain maka Kontraktor wajib
untuk memperbaikinya dan dilakukan pengujian ulang.
d. Kerusakan yang ditimbulkan akibat pengujian ini menjadi tanggungan kontraktor dan tidak ada
penambahan biaya untuk hal ini.
e. Penyediaan air dan peralatan uji yang diperlukan untuk pengujian ini menjadi tanggungan
Kontraktor.
f. Pengujian ini dilakukan sebelum seluruh pipa ditimbun dan di tutup.
g. Apabila diperlukan pengujian lain disamping pengujian diatas yang diminta Konsultan MK,
Kontraktor harus melakukannya tanpa tambahan biaya.
8.2. Pengujian dan Desinfeksi Instalasi Air Bersih
a. Setelah penyambungan selesai dilakukan dan sebelum memasang "fixture" atau peralatan, seluruh
sistim distribusi air harus diuji dengan tekanan hidrostatik sebesar dua kali tekanan kerjanya
(working pressure), minimum 7 bar, tanpa mengalami kebocoran.
b. Penyediaan air dan peralatan uji yang diperlukan untuk pengujian ini menjadi tanggungan
kontraktor.
c. Apabila pada waktu pemeriksaan atau pengujian ternyata ada kerusakan atau kegagalan dari
sesuatu bagian dari instalasi atau suatu bahan dari instalasi, maka Kontraktor harus mengganti
bagian atau bahan yang rusak atau gagal tersebut dan pemeriksaan atau pengujian dilakukan lagi
sampai memuaskan Konsultan MK.
d. Penggantian atas bagian pipa atau bahan yang rusak atau gagal tersebut harus dengan pipa atau
bahan yang baru. Penambalan (caulking) dengan bahan apapun tidak diperkenankan.
e. Kontraktor harus melaksanakan pembilasan dan desinfeksi dari seluruh instalasi air sebelum
diserahkan kepada Konsultan MK.
f. Desinfeksi dilakukan dengan memasukkan larutan "Chlorine" kedalam sistem pipa, dengan cara
atau metoda yang disetujui Konsultan. Dosis chlorine adalah sebesar 50 mg/l.
g. Setelah 24 jam, seluruh sistem pipa tersebut harus dibilas dengan air bersih sehingga kadar chlorine
menjadi tidak lebih dari 0,2 mg/l.
h. Semua katup dalam sistem pipa yang sedang mengalami proses desinfeksi tersebut harus dibuka
dan ditutup beberapa kali selama jangka waktu 24 jam tersebut di atas.
i. Kontraktor harus memberikan garansi tertulis bahwa seluruh instalasi distribusi air bersih dan
instalasi pembuangan air kotor akan bekerja dengan memuaskan dan bahwa Kontraktor akan
menanggung semua biaya atas kerusakan penggantian yang perlu selama jangka waktu 1 (satu)
tahun.

9. AS-BUILT DRAWINGS
9.1. Selama pelaksanaan pemasangan instalasi ini berjalan, Kontraktor harus memberikan tanda-tanda
dengan pensil atau tinta merah pada 2 set gambar plambing, atas segala perubahan, penghapusan atau
penambahan pada rencana instalasi atau dari gambar tersebut.
9.2. Kontraktor harus menyerahkan pada Konsultan MK gambar instalasi sesungguhnya sebagaimana yang
terpasang pada bangunan, memuat lengkap semua perubahan yang telah dilakukan atau as-built
drawing atau gambar terlaksana.
9.3. Ukuran kertas untuk as-built drawing adalah sesuai dengan ukuran kertas gambar rencana.
9.4. As-built drawing yang telah disetujui diserahkan lengkap dengan soft copynya dalam compact disk
(CD) atau DVD disk.
asal 2
PEKERJAAN TATA UDARA

1. PERSYARATAN UMUM
1.1. Semua persyaratan umum maupun suplementer yang ada merupakan pula bagian dari persyaratan
sistem instalasi Tata Udara ini sejauh yang berlaku bagi pekerjaan ini. Apabila ada beberapa hal dari
persyaratan umum yang dituliskan kembali dalam spesifikasi ini, berarti hanya menghilangkan hal-hal
lainnya dari persyaratan umum maupun suplementer tidak berlaku lagi untuk sistem instalasi ini.
1.2. Kontraktor atas bebannya harus melengkapi dan memasang seluruh peralatan yang dibutuhkan untuk
melengkapi pekerjaan sehingga sistem dapat bekerja dengan baik.
1.3. Gambar-gambar rencana menunjukkan tata letak secara umum dari peralatan dan instalasi sistem.
Lokasi yang ditunjuk adalah merupakan posisi-posisi perkiraan. Kontraktor atas bebannya harus
memodifikasi tata letak tersebut sebagaimana yang dibutuhkan untuk mendapatkan pemasangan-
pemasangan yang sempurna/baik dari peralatan-peralatan sistem.
1.4. Setiap pekerjaan yang disebutkan dalam spesifikasi ini, tetapi tidak ditunjuk dalam gambar, atas beban
Kontraktor seperti pekerjaan lain yang disebut oleh spesifikasi dan ditunjukkan oleh Persyaratan umum
dari sistem Tata Udara.

2. LINGKUP PEKERJAAN

Lingkup pekerjaan disini termasuk pengadaan, pemasangan, test, garansi, sertifikasi, service, maintenance,
mempersiapkan as-built drawings, operation and maintenance manual dan training untuk para staff
engineering .

Kontraktor bertanggung jawab atas semua persyaratan yang disebutkan dalam spesifikasi, termasuk gambar-
gambar, bills of quantity, standard dan peraturan yang terkait, instruksi dari pabrik pembuat, peraturan lokal,
kondisi lapangan untuk tujuan pengangkutan unit ke dalam ruangan atau lokasi dari pemasangan dan
pengarahan dari MK Lapangan selama berlangsungnya pekerjaan.

Semua claim yang tidak memenuhi hal di atas tidak akan diterima. Jika terdapat perbedaan antara spesifikasi
dari peralatan dan material yang terpasang dan spesifikasi yang diminta, Kontraktor bertanggung jawab untuk
mengganti semua peralatan dan material sesuai dengan spesifikasi yang diminta tanpa biaya tambahan.

3. AIR COOLED PACKAGED (Split Duct DX System)


3.1. Umum
 Fan dan coil performance dari FCU Split Type harus sesuai dengan ARI Standard 441. Spesifikasi
teknis yang diuraikan dibawah adalah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Persyaratan
spesifikasi dari unit performance dapat dilihat di gambar design “ Daftar Peralatan” atau Daftar
Peralatan & Bahan yang disetujui” yang merupakan lampiran dokumen ini.
 FCU dan kelengkapannya harus di supply oleh pabrik pembuat yang ber kualifikasi dan spesialis,
yang secara rutin membuat produk ini, dimana produknya telah digunakan secara memuaskan
dalam bidang yang sama selama paling sedikit 5 (lima) tahun.
 FCU sebaiknya dari merk yang sama dengan outdoor unit
 Persetujuan FCU data harus lengkap dengan sound pressure level dalam dB atau dBA dengan Re-
10-12 Watt.
 Semua FCU dan kelengkapannya harus mempunyai low noise level, dan non-vibrating dalam
operasinya, dan dapat diterima dalam batas yang diijinkan sebagai standard terhadap noise criteria
yang ada.
 Pada dasarnya FCU yang di supply dan dipasang harus meliputi: Fan, cooling coil lengkap dengan
drain pan, driving motor, filter lengkap dengan panel, dan Diffuser, return grille.
 Memiliki effisiensi tinggi minimal KW/TR 1.2
3.2. Outdoor units
 Outdoor units yang dimaksud memiliki type, kapasitas pendinginan design tercantum dalam gambar
rencana dan rencana angaran dan biaya (RAB)
 Dudukan outdoor units merupakan bawaan pabrik dan bukan rakitan di site
 Compressor unit memiliki efisiensi tinggi dengan biaya operasional rendah
 Casing dari heavy gauge hot deep galvanised steel dengan ketebalan minimum 1.2mm dan di cat
dengan cat anti karat dan baked enamel, di isolasi di bagian dalam dengan elastomeric rubber
 Cooling coil dari bahan copper tube, dengan aluminium fins yang secara mekanis melekat dengan
tube tanpa soldering atau tinning.
 Fan dari tipe centrifugal forward curved dan dirancang untuk quiet operation.
 Fan shaft menggunakan bearing yang dapat dengan mudah diberi lubrikasi dari bagian luar
3.3. Indoor units
 Indoor unit lengkap dengan :
- Remot control yang dapat mengatur temperatur, kecepatan alir dan arah udara , pengatur
waktu, kelembaban , dan lain-lain.
 Indoor unit merupakan pasangan (compatible) dengan outdoor
 Cooling coil dari bahan copper tube, dengan aluminium fins yang secara mekanis melekat dengan
tube tanpa soldering atau tinning.
 Fan dari tipe centrifugal forward curved dan dirancang untuk quiet operation.
 Fan shaft menggunakan bearing yang dapat dengan mudah diberi lubrikasi dari bagian luar
3.4. Refrigerant Pipe dan isolasi
 Pipa refrigeran yang digunakan adalah sesuai dengan standard ASTM B.88 type L lengakp
dengan isolasi
 Pipa refrigerant dari outdoor ke indoor tidak terdapat sambungan yang dapat mempengaruhi aliran
fluida.
3.5. Testing
Lihat pasal pekerjaan testing, adjusting & balancing
3.6. Referensi Produk
Peralatan dan bahan yang dgunakan harus sesuai dengan spesifikasi. Kontraktor diijinkan untuk
mengajukan alternatif lain yang serupa dan hanya boleh menggunakan alternatif ini setelah mendapat
persetujuan resmi dan tertulis dari Konsultan.

5. PEKERJAAN TESTING, ADJUSTING & BALANCING

4.1.Umum
Pekerjaan Testing, Adjusting dan Balancing (TAB) pada dasarnya mengikuti standard/instruksi umum
seperti NEBB, ASHRAE, dan SMACNA dengan menggunakan peralatan ukur yang sesuai untuk
pekerjaan TAB.
4.2.Peralatan Ukur
Kontraktor paling tidak harus mempunyai alat ukur sbb:
a. Pengukuran air flow velocity
- Pitot tube with inclined manometer
- Anemometer
- Hood untuk mengukur air flow di diffuser
b. Pengukuran temperatur udara
- Sling psychrometric
- Thermometer
c. Pengukuran rotasi (rpm)
- Tachometer atau sejenis
d. Pengukuran listrik
- Voltmeter
- Amperemeter
e. Pengukuran tekanan
- Barometer / pressure gauge

4.3.Pelaksanaan TAB
a. TAB harus dilaksanakan secara detail terhadap seluruh sistem dan bagiannya, sehingga
pengukuran seperti yang ada dalam rencana dapat tercapai atau mendekati.
b. Dalam pelaksanaan TAB, pengukuran dilakukan tidak hanya terhadap apa yang telah disebutkan
dalam rencana, tetapi juga terhadap apa yang dibutuhkan untuk menentukan posisi dan
kemampuan peralatan, dan yang diperlukan untk pemeliharaan dan operasi.
c. Semua pelaksanaan dan pengukuran terhadap hal yang tidak disebutkan dalam gambar rencana
harus dijelaskan dalam formulir, dimana formulir ini harus telah disetujui oleh Konsultan MK
sebelumnya.
d. Pelaksanaan TAB dilakukan oleh ahli yang berpengalaman dan mempunyai keahlian dalam bidang
masing-masing.
e. Konsultan MK harus hadir pada pelaksanaan TAB, dimana hasil pengukuran harus disaksikan dan
di tanda tangani oleh Konsultan MK.
f. Sebelum pelaksanaan TAB, Kontraktor harus mempersiapkan rencana kerja dari prosedur
pelaksanaan setiap pekerjaan, dan prosedur ini harus di diskusikan dan disetujui oleh Konsultan
MK.
g. Sebelum TAB, Kontraktor harus mempersiapkan semua hal yang akan diukur dalam sebuah
daftar.

4.4.Air Distribution Sistem Balancing


Prosedur Testing dan Balancing
a. Test dan setel blower rotation dengan design condition
b. Test dan catat motor full load ampere
c. Ukur dengan pitot tube (tube reverse) untuk mendapatkan cfm dari fan seperti rencana.
d. Test dan catat static pressure pada inlet dan outlet dari fan (blower).
e. Test dan setel cfm untuk sirkulasi udara.
f. Test dan setel dengan persyaratan diluar untuk setiap FCU atau Indoor unit.
g. Test dan catat temperatur dry bulb dan wet bulb dari udara yang masuk dan keluar dari coil.
h. Setel cfm yang diperlukan oleh semua main branch.
i. Setel kebutuhan cfm untuk setiap zone (ruangan).
j. Test dan setel setiap diffuser/grille dan lakukan re checking terhadap performance dari
diffuser/register/grille.
k. Identifikasi ukuran dan tipe dari setiap diffuser/register/grille dan lakukan re-checking terhadap
performance dari diffuser/register/grille.

4.5.Air Flow Sistem Balancing


Prosedur Testing dan Balancing

a. Tahap 1
 Buka semua valve fully open, termasuk valve dalam area cooling coil
 Buka dan bersihkan semua strainer
 Periksa apakah kondisi udara didalam sistem telah bersih dan treated.
 Periksa rotasi underneath
 Periksa apakah ada gelembung udara dalam expansion tank dan apakah air sudah penuh.
 Periksa apakah ada udara yang terperangkap dalam sistem untuk seluruh ventilasi udara dalam
circuit.
 Periksa apakah ada udara yang terperangkap dalam system circuit, jika ada, pasang air vent.
 Setel semua temperature control sehingga cooling coil akan bekerja (control valve akan fully
open).
 Sebelum pelaksanaan air flow balancing system ini, yakinkan bahwa air flow sebelumnya telah
di balance dengan benar.

b. Tahap 2
 Chilled water flow sesuai design
 Setel chilled water flow yang melalui FCU.
 Lakukan balancing untuk mendapatkan jumlah aliran dalam coil.
 Jika hasil balancing sesuai design, buat marking pada setting dan catat semua data.
c. Tahap 3
Setelah Tahap 1 dan 2 selesai dikerjakan, lakukan hal berikut :
 Setelah semua adjustment pada cooling coil, periksa lagi setting di pompa. Adjust ulang jika
perlu.
 Periksa dan catat kondisi berikut pada setiap cooling coil:
- Entering dan leaving chilled water temperature.
- Entering dan leaving air temperature pada cooling coil.
- Pressure drop pada setiap coil.
- Tekanan pada suction dan discharge dari pompa dan final t.d.h.
- Rated dan running ampere dari pompa.

5. SPESIFIKASI TEKNIS

No Deskripsi Spesifikasi
1 Air Handling Unit
 Type DX System
 Frame Anodized Thermal Break Extruded Aluminum
 Finishing Precoated Galvanized/Polyester Powder Coating
 Panel Thickness 2" Double Skin Polyurethane (INJECTED) Insulated Panel
 Blower Centrifugal Backward Double Inlet/Plug Fan direct drive
(motor dan blower, dikopel secara langsung)
 Motor TEFC Motor (Belt Drive Inside Installatio)
2 Outdoor Unit
 Type Air Cooled Condensing Unit
 Compressor Hermetic Scroll Type/ M
 Fan Condensor Direct Driven Propeller
 Control System HPS, LPS, Thermal Overload, Phase Failure Protection
3 Supply Fan Centrifugal Cabinet
4 Exhaust Fan Centrifugal Cabinet
5 Variable Speed Drive Altivar 2.1 (HVAC Application)
6 Flow Measuring System Magnasense
7 Differential Pressure Gauge Magnehelic, 0 – 60 Pa for room, 0 – 500 Pa for filter
8 Indoor Unit VRF
9 Outdoor Unit Air Cooled Condensing Unit VRF
10 Pre Filter Washable, efisiensi 25 – 45 %, Alumunium Frame with guard
11 Medium filter Efisiensi 85 – 95%, disposable, plastic frame
HEPA Filter (Ceiling Type) Micro fibre media, efisiensi 99.99% DOP Test @ 0.3 micron
12
(H13). Alumunium frame, dove tail interlocking gasket
13 HEPA Filter Ceiling Module
 Body Material Zincalum 1.5 mm thickness powder coating finished
 Perforated Material Mild Steel, powder coating
 Insulation Material Laminated Foam with aluminum foil face
14 Pre/Medium Filter Housing
 Frame Anodized Thermal Break Extruded Aluminum
 Finishing Precoated Galvanized/Polyester Powder Coating
 Panel Thickness 2" Double Skin Polyurethane (INJECTED) Insulated Panel
15 Ducting
 Material Galvanized sheet
 Thickness 0.5 ~ 0.8 mm
16 Duct Insulation (Supply AC) PE Insulation 20 mm
Duct Insulation (Return &
17
Exhaust) PE Insulation 13 mm
18 Return Air Grille SS304 Area OT & Isolasi
Fresh Air Grille Alluminum Natural Anodized Corridor Clean&Corridor Semi
19
Clean
20 Volume Damper Alluminum Natural Anodized
21 Refrigerant Pipe Copper Tube (ASTM B280)
22 Refrigerant Pipe Insulation Closed-cell elastomeric
23 Drainage Pipe Poly Vinile Chloride
24 Drainage Pipe Insulation Elastomeric Nitrile Foam, 10 mm thickness
25 Filter Drier Hermetic Liquid Line Filter Drier
26 Sight glass Hermetic Moisture Indicator
27 Refrigerant Suitable
28 Power Panel Box Mild Steel Powder Coating (tekstur kulit jeruk)
29 Main Component MCB, MCCB, Contactor
30 Power Cable NYY.NYM
31 Control Cable NYMHY/ Belden
32 Thermostat Digital
33 Kabel Leader Galvanil steel

6. GARANSI, PEMELIHARAAN DAN TRAINING OPERATOR

Kontraktor harus memberikan Garansi-garansi berupa: Sertifikat of origin, jaminan ketersediaan spare part
selama minimal 10 tahun, jaminan atau garansi pabrik pembuat peralatan utama selama 5 tahun dan jaminan
masa pemeliharaan selama 1 tahun dan kontaktor harus memberikan buku buku panduan dan tata cara
standard untuk mengoperasikan (Standards Operational Procedures, SOP), tata cara standard
pengoperasian pada keadaan-keadaan emergensi atau darurat (Standards Emergency Procedures, SEP)
dan tata cara standard untuk perawatan (Standards Maintenance Procedures, SMP).

7. KONTRAKTOR
14.1. Kontraktor wajib mempelajari dan memahami semua undang-undang dan peraturan-peraturan,
persyaratan umum maupun suplementernya, persyaratan pabrik pembuat unit-unit Air Conditioning,
exhaust fan, ceiling fan, buku-buku dokumen pelelangan, bundel gambar-gambar serta petunjuk-
petunjuk tertulis yang telah dikeluarkan.
14.2. Kontraktor wajib mempelajari dan memeriksa juga pekerjaan pelaksanaan dari pihak-pihak Kontraktor
lain yang ikut mengerjakan proyek ini apabila pekerjaan pihak-pihak lain dapat mempengaruhi
kelancaran pekerjaannya. Bilamana sampai terjadi gangguan maka Kontraktor wajib memberikan
saran-saran perbaikan untuk segenap pihak.
14.3. Kontraktor harus memiliki sertifikasi iso untuk kualitas pekerjaan yang di laksanakan
8. KOORDINASI DENGAN PIHAK LAIN
9.1. Kontraktor wajib berkoordinasi dengan pihak-pihak lainnya demi kelancaran pelaksanaan pekerjaan
proyek ini. Terutama koordinasi dengan pihak kontraktor sipil, elektrikal, perlindungan terhadap
kebakaran dan interior.
9.2. Kontraktor wajib konsultasi dengan pihak-pihak lainnya agar supaya sejauh mungkin dipergunakan
peralatan-peralatan yang seragam dan merek yang sama untuk seluruh bangunan proyek ini agar
mudah pemeliharaannya, kecuali ditentukan lain oleh Konsultan MK.
9.3. Untuk semua peralatan dan mesin yang disediakan atau diselesaikan oleh pihak lain atau yang dibeli
dari pahak lain yang termasuk dalam lingkup instalasi ini, Kontraktor bertanggung jawab penuh atas
segala peralatan dan pekerjaan ini.

09.TESTING
Pekerjaan Testing, Adjusting dan Balancing (TAB) pada dasarnya mengikuti standard/instruksi umum seperti
NEBB, ASHRAE, dan SMACNA dengan menggunakan peralatan ukur yang sesuai untuk pekerjaan TAB.

10.AS-BUILT DRAWINGS
10.1.Selama pelaksanaan pemasangan instalasi ini berjalan, Kontraktor harus memberikan tanda-tanda
dengan pensil atau tinta merah pada 2 set gambar Air Conditioning system diantaranya pemipaan Chilled
water, ducting, electrical wire, BAS dan lainnya atas segala perubahan, penghapusan atau penambahan
pada rencana instalasi atau dari gambar tersebut.
10.2.Kontraktor harus menyerahkan pada Konsultan gambar instalasi sesungguhnya sebagaimana yang
terpasang pada bangunan, memuat lengkap semua perubahan yang telah dilakukan atau as-built drawing
atau gambar terlaksana.
10.3.Ukuran kertas untuk as-built drawing adalah sesuai dengan ukuran kertas gambar rencana.
10.4.As-built drawing yang telah disetujui diserahkan lengkap dengan soft copynya dalam compact disk
(CD) atau DVD disk.
11. PERSETUJUAN PABRIK PEMBUAT

Khusus Pekerjaan Air Conditioning


No Material Manufactured/Brand
1 Air Handling Unit Daikin
2 Outdoor Unit Daikin
3 Pre Filter Lokal
4 Medium filter Lokal
5 HEPA Filter (Ceiling Type) Lokal
6 Pre/Medium Filter Housing Lokal
7 Ducting Lokfom (CBM/JFK/AMI)
8 Duct Insulation (Supply AC) Meriba + AB Tape (AMI)
9 Duct Insulation (Return & Exhaust) Meriba + AB Tape (AMI)
10 Return Air Grille Lokal
11 Fresh Air Grille Lokal
12 Volume Damper Lokal
13 Refrigerant Pipe Crane/Nippon Stell/Muller
14 Refrigerant Pipe Insulation Insulflex /Superlon
15 Drainage Pipe Wavin (Indonesia)
16 Drainage Pipe Insulation Superlon (Malaysia)
17 Filter Drier Emerson Control (USA)
18 Sight glass Emerson Control (USA)
19 Refrigerant Dupont (USA)
20 Power Panel Box Local
21 Main Component Telemechanique/Merlin Gerin
22 Power Cable Supreme,Kabelindo (Indonesia)
23 Control Cable Supreme, Jembo (Indonesia)
24 Thermostat Carel Italy, digital, rail mounted
25 Kabel Leader Local

12. AS-BUILT DRAWINGS

12.1.Selama pelaksanaan pemasangan instalasi ini berjalan, Kontraktor harus memberikan tanda-tanda
dengan pensil atau tinta merah pada 2 set gambar Air Conditioning system diantaranya pemipaan Chilled
water, ducting, electrical wire, BAS dan lainnya atas segala perubahan, penghapusan atau penambahan pada
rencana instalasi atau dari gambar tersebut.
12.2.Kontraktor harus menyerahkan pada Konsultan gambar instalasi sesungguhnya sebagaimana yang
terpasang pada bangunan, memuat lengkap semua perubahan yang telah dilakukan atau as-built drawing atau
gambar terlaksana.
12.3.Ukuran kertas untuk as-built drawing adalah sesuai dengan ukuran kertas gambar rencana.
12.4.As-built drawing yang telah disetujui diserahkan lengkap dengan soft copynya dalam compact disk (CD)
atau DVD disk.

13.KONTRAKTOR
14.1. Kontraktor wajib mempelajari dan memahami semua undang-undang dan peraturan-peraturan,
persyaratan umum maupun suplementernya, persyaratan pabrik pembuat unit-unit Air Conditioning,
exhaust fan, ceiling fan, buku-buku dokumen pelelangan, bundel gambar-gambar serta petunjuk-
petunjuk tertulis yang telah dikeluarkan.
14.2. Kontraktor wajib mempelajari dan memeriksa juga pekerjaan pelaksanaan dari pihak-pihak Kontraktor
lain yang ikut mengerjakan proyek ini apabila pekerjaan pihak-pihak lain dapat mempengaruhi
kelancaran pekerjaannya. Bilamana sampai terjadi gangguan maka Kontraktor wajib memberikan
saran-saran perbaikan untuk segenap pihak.
14.3. Kontraktor harus memiliki sertifikasi iso untuk kualitas pekerjaan yang di laksanakan

14.KOORDINASI DENGAN PIHAK LAIN


15.1. Kontraktor wajib berkoordinasi dengan pihak-pihak lainnya demi kelancaran pelaksanaan pekerjaan
proyek ini. Terutama koordinasi dengan pihak kontraktor sipil, elektrikal, perlindungan terhadap
kebakaran dan interior.
15.2. Kontraktor wajib konsultasi dengan pihak-pihak lainnya agar supaya sejauh mungkin dipergunakan
peralatan-peralatan yang seragam dan merek yang sama untuk seluruh bangunan proyek ini agar
mudah pemeliharaannya, kecuali ditentukan lain oleh Konsultan MK.
15.3. Untuk semua peralatan dan mesin yang disediakan atau diselesaikan oleh pihak lain atau yang dibeli
dari pahak lain yang termasuk dalam lingkup instalasi ini, Kontraktor bertanggung jawab penuh atas
segala peralatan dan pekerjaan ini.

15.TESTING
Pekerjaan Testing, Adjusting dan Balancing (TAB) pada dasarnya mengikuti standard/instruksi umum seperti
NEBB, ASHRAE, dan SMACNA dengan menggunakan peralatan ukur yang sesuai untuk
pekerjaan TAB.

SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN PEMADAM KEBAKARAN


1. Umum
a. Setiap Kontraktor yang menangani pekerjaan ini, haruslah mempelajari seluruh Dokumen Kontrak
dengan teliti untuk mengetahui kondisi yang berpengaruh pada pekerjaan ini.
b.
c. Kontraktor harus menawarkan seluruh lingkup pekerjaan yang dijelaskan baik dalam spesifikasi
ataupun yang tertera dalam gambar-gambar, dimana bahan-bahan dan peralatan yang digunakan
harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan pada spesifikasi ini.
d. Kontraktor wajib melengkapi seluruh peralatan-peralatan yang dibutuhkan sehingga sistem berjalan
dan beroperasi dengan baik.
e. Bila ternyata ada perbedaan antara spesifikasi bahan atau peralatan yang dipasang dengan
spesifikasi yang dipersyaratkan pada pasal ini, merupakan kewajiban Kontraktor untuk mengganti
bahan atau peralatan tersebut, sehingga sesuai dengan ketentuan pada pasal ini tanpa adanya
ketentuan tambahan biaya.

2. Penjelasan Sistem
a. Sistem proteksi kebakaran untuk proyek ini terdiri atas sistem hydrant, sprinkler dan pemadam
kebakaran ringan.
b. Sistem hydrant yang diinginkan untuk proyek ini adalah menggunakan sistem pillar hydrant
(outdoor) dan fire landing valve (indoor).
c. Tipe dari sistem tersebut diatas direncanakan memakai "tipe basah" (wet system), ini berarti bahwa
semua katup penyediaan air untuk sistem harus dalam kondisi terbuka penuh dan tekanan dalam air
dalam jaringan pemipaan dijaga setiap saat.
d. Cara kerja sistem Hydrant :
 Apabila tekanan dalam pipa turun sampai ambang batas yang telah ditentukan karena adanya
kebocoran, maka jockey pump akan hidup secara otomatis dan mati secara otomatis di
ambang batas tekanan yang juga telah ditentukan atau ketika pompa utama start.
 Apabila tekanan air dalam pipa terus turun karena satu atau lebih katup hydrant dibuka maka
pompa kebakaran utama akan bekerja secara otomatis dan pompa Jockey mati secara
otomatis. Pompa kebakaran utama mati secara manual oleh operator.
 Jika kedua pompa tersebut gagal bekerja, akan segera berbunyi dengan nada yang berbeda
dengan bunyi alarm system.

3. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini adalah pengadaan dan instalasi sistem fire hydrant dan instalasi fire sprinkler sesuai dengan
gambar perancangan dan meliputi antara lain :
- Pengadaan dan instalasi peralatan utama sistem Fire Hydrant yang meliputi instalasi Engine Fire
Hydrant Pump, dan Fire Control Panel dengan standard NFPA serta fixtures kebakaran beserta
pemipaannya.
- Pengadaan dan instalasi pemipaan sprinkler dari ruang pompa sampai dengan riser.
- Pengadaan dan instalasi pemipaan dan peralatan fire hydrant yang meliputi hydrant box
lengkap dengan peralatannya, hydrant pillar, hose rail cabinet, valve-valve dan perlengkapan
lainnya.
- Pengadaan dan Pemasangan Siamese Connection untuk Fire Hydrant type sesuai standard
Dinas Pemadam Kebakaran.
- Mengadakan Testing and Commissioning terhadap seluruh sistem fire hydrant hingga berfungsi
dengan baik serta memenuhi persyaratan untuk bangunan tinggi.
- Membantu mengurus proses perijinan serta persyaratan lain yang diperlukan untuk
mendapatkan persetujuan bahwa Instalasi sistem fire hydrant dan sprinkler dapat dinyatakan
baik dan layak pakai oleh Dinas Pemadam Kebakaran serta untuk Unit Pressure Tank harus
mendapat sertificate dari DEPNAKER.
- Mengadakan Training Operasional, waktu serta kesiapannya akan ditentukan kemudian
bersama Pemberi Tugas /Konsultan Pengawas.

4. Ketentuan Bahan dan Peralatan

4.1 Fire Hydrant Pump


 Pompa pemadam kebakaran harus mampu memasok kebutuhan air pemadam kebakaran
sampai batas maksmimum kemampuan pompa pada setiap saat secara otomatis.
 Pompa pemadam kebakaran untuk proyek ini terdiri dari satu (1) pompa utama Hydrant
Listrik, 1 (satu) unit pompa utama hydrant diesel dan satu (1) pompa Jockey.
 Motor pompa harus memenuhi standar motor untuk pompa pemadam kebakaran sesuai
standar NFPA.
 Standard pompa dan kontrol panel harus mengikuti standard NFPA.
 Peralatan pompa pemadam kebakaran :
- Jockey pump dengan motor listrik
- 1 (satu) Main pump dengan motor listrik
- 1 (satu) main pump dengan diesel engine
- Automatic air release valve
- Inlet dan outlet headers
- Inlet dan outlet valves
- Check valve anti water hammer
- Inlet strainer
- Power dan kontrol panel
- Flow regulator
- Pressure switch
- Pressure gauges
- Electric connection
- Base frame
- Announciating pump status :
- Water level too low, alarm horn, indicating lamp ON.

1. Jockey Pump
 Unit pompa terdiri dari :
- Cast iron casing
- Bronze impeller
- Heavy duty steel shaft
- Mechanical seal
- Heavy duty grease lubricated bearings
- Panel kontrol dengan kelengkapan standarnya
 Data teknis pompa :
- Type : Vertical In Line
- Head : 140 M
- Debit : 50 LPM
- Power motor : ± 5.5 KW/3PH/50 Hz
- Speed : 3000 RPM
- Jumlah : 1 (Satu) Unit
- Kelengkapan : Fire Control Panel Pump NFPA Standard

2. Electric Main Fire Pump


 Unit pompa terdiri dari :
- Cast iron casing
- Bronze impeller
- Heavy duty steel shaft
- Mecanical seal
- Controller accomplie to NFPA 20.

 Data teknis pompa :


- Type : Horizontal Split Casing
- Head : 130 M
- Debit : 750 GPM
- Power motor. : ± 132 kW / 380V / 3P/ 50 Hz
- Speed : 3000 RPM
- Jumlah : 1 (satu) unit
- Kelengkapan : Fire Control Panel Pump NFPA Standard

3. Diesel Engine Fire Hydrant Pump

Type pompa : Horizontal Split Casing


Kapasitas : 750 GPM
Head pompa : 130 M
Type Engine : Diesel
P utaran : 3000 RPM
Sistem Coupling : Direct Connected (dilengkapi dengan
pelepas coupled secara manual )
J umla h : 1 (satu) unit
Kelengkapan : Fire Control Panel Pump NFPA Standard

Kelengkapan Engine :
- Accu 24 volt, 80 Amp, 2 buah type maintenance - free
- Flexible coupling
- Coupling guard
- Batteries
- Battery rack
- Battery cable
- Silencer
- Exhaust Pipe
- Flexible exhaust connector
- Pompa Hydrant Diesel merupakan back-up apabila pompa
kebakaran elektrik gagal beroperasi

4.2 Pemipaan
1. Material Pipa yang digunakan Black Steel Pipe schedule 40 untuk dalam
bangunan dan Black Steel Pipa ASTM A53 Galvanize untuk pemipaan diluar
gedung, atau SNI 07-0039-87 dan harus diusahakan semuanya berasal dari
satu merk.
2. Untuk fitting digunakan Black Steel Pipe class 16 K, Weld Type.

Valve - valve

1. Gate Valve :
 Untuk diameter valve sampai dengan 50 mm menggunakan tipe bronze
body, non rising steam, screwed bonnet, solid wedge disk, screwed end.
atau bisa digunakan tipe Butterfly untuk diameter 15 mm sampai dengan
diameter 25 mm.
 Untuk valve diameter lebih besar dari 50 mm menggunakan tipe flanged or
lugged body, stainless steel disk, stainless steel shaft, hand wheel operated
with position indicator.
 Material body : carbon steel untuk tekanan 300 psi.
2. Check Valve :
 Untuk diameter valve sampai dengan 50 mm menggunakan material
bronze body, swing type, Y pattern, screwed cup, metal disk, screwed
end.
 Material body : swing silent type dengan stainless steel disk dengan body
material carbon steel untuk tekanan 300 psi.
 Khusus untuk pompa-pompa hydrophor digunakan dual plate wafer type
check valve.

4.4 Pillar Hydrant


Pillar hydrant yang digunakan disini adalah jenis short type two way dengan main valve dan
branch valves ukuran 100 x 65 x 65 mm. Jenis coupling harus disesuaikan dengan model yang
dipergunakan oleh mobil dinas kebakaran kota. Setiap pillar hydrant harus dilengkapi dengan gate
valve untuk memudahkan maintenance.

4.5 Hydrant Boxes


Indoor Hydrant Box (class III NFPA) harus terdiri dari peralatan sbb :
Steel box recessed type, ukuran 750 mm x 1250 mm x 180 mm dicat duco warna merah dengan
tulisan warna putih HYDRANT pada tutup yang dapat dibuka 1800 dan dilengkapi stopper.
Box harus dilengkapi Alarm Push Button, Alarm Lamp dan Alarm Bell.
Hose rack untuk slang 40 mm, chromium plated bronze dengan jumlah gigi disesuaikan dengan
lebar box.
Hydrant valve 40 mm dan 65 mm, chromium plated. Sambungan dan bentuk valvedisesuaikan
dengan posisi pipa.
Fire Hose (slang kebakaran) ukuran 40 mm x panjang 30 meter lengkap couplingnya. Hydrant
nozzle variabel spray type size 40 mm. Material baja galvanized, kuningan atau perunggu.
Outdoor hydrant box (class III NFPA) harus terdiri dari peralatan sbb:
Steel box outdoor type, ukuran 660 mm x 950 mm x 200 mm dicat duco warna merah dengan
tulisan warna putih HIDRAN pada tutup yang dapat dibuka 1800 dan dilengkapi stopper.
Hose rack untuk slang 65 mm, chromium plated bronze dengan jumlah gigi disesuaikan dengan
lebar box.
Hydran valve 40 mm dan 65 mm, chromium plated. Sambungan dan bentuk valvedisesuaikan
dengan posisi pipa.
Fire Hose (slang kebakaran) ukuran 65 mm x panjang 30 meter lengkap couplingnya. Hydrant
nozzle variabel spray type size 65 mm. Material baja galvanized, kuningan atau perunggu.

4.6 Fire Brigade Connection


Fire brigade connection yang dipergunakan disini adalah two way Siamese connection untuk
pasangan free standing dengan ukuran 100 x 65 x 65 mm.
Siemese connection dibuat dari bronze lengkap dengan built-in check valve dan out coupling yang
sesuai dengan standar yang dipergunakan oleh Dinas Pemadam Kota.

4.7 Valve Box


Bak kontrol untuk valve terbuat dari konstruksi beton bertulang dengan dimensi :
panjang x lebar = 60 x 60 cm dengan kedalaman 80 cm.
Lokasi penempatan valve box adalah seperti yang terlihat dalam gambar perencanaan.
4.8 Sistem Pengoperasian
 Pelayanan hydrant pilar diluar bangunan dan pelayanan dalam bangunan digunakan satu set
pompa yang terdiri dari jockey pump, electric hydrant pump dan diesel hydrant pump
dengan tekanan kerja ± 7 kg/cm2.
 Pengaturan kerja pompa dilakukan secara automatic dengan pressure switch pump
Control, control valve serta panel-panel pengoperasian.
 Semua ketentuan-ketentuan unit pompa beserta perlengkapannya harus mengikuti NFPA
20 standard.

4.9 Panel Kontrol


 Panel kontrol merupakan kelengkapan unit sistem fire hydrant pump yang dapat mengatur
kerja pompa secara automatic baik jockey pump sebagai pompa pembantu, pompa
utama penggerak electric maupun pompa penggerak engine.
 Khusus pompa penggerak engine akan bekerja secara automatic bila saluran daya listrik
terputus pada saat terjadi kebakaran.

4.10 Fire Extinguisher


- Untuk ruangan kantor menggunakan Fire Extinguisher type Dry Chemical
Powder (ABC) 3 kg.
- Untuk ruang genset menggunakan Fire Extinguisher type Dry Chemical Powder
(ABC) 4 kg

5. Persyaratan Teknis Pemasangan

5.1 Pompa - Pompa


Pompa-pompa harus dipasang sesuai dengan petunjuk dari pabrik pembuatnya.
Pompa-pompa dipasang dalam rumah pompa diatas pondasi beton dengan kekuatan dua kali berat
pompa dan disesuaikan dengan dimensinya. Perletakan pompa-pompa adalah seperti pada gambar
perencanaan.
Pengkabelan dan alat-alat bantu harus lengkap terpasang dan dijamin bahwa sistem dapat bekerja
dengan baik.

5.2 PIPA

1. Umum
Pemasangan pipa dan perlengkapannya serta peralatan lainnya harus sesuai dengan gambar
rencana dan harus dikerjakan dengan cara yang benar untuk menjamin kebersihan serta
kerapihan.
Pekerjaan harus ditunjang dengan suatu ruang yang longgar, tidak kurang dari 50 mm diantara
pipa-pipa atau dengan bangunan & peralatan
Semua pipa dan fitting harus dibersihkan dengan cermat dan teliti sebelum dipasang /
disambung.
Pekerjaan perpipaan harus dilengkapi dengan semua katup-katup yang diperlukan, antara lain
katup penutup, pengatur, katup balik dan sebagainya, sesuai dengan fungsi sistem dan yang
diperlihatkan pada gambar.
Semua perpipaan yang akan disambung dengan peralatan, harus dilengkapi dengan union
atau flange
Sambungan lengkung, reducer dan expander dan sambungan-sambungan cabang pada
pekerjaan perpipaan harus mempergunakan fitting buatan pabrik
Katup (valves) dan saringan (strainers) harus mudah dicapai untuk pemeliharaan dan
penggantian
Sambungan – sambungan fleksibel harus dipasang sedemikian rupa dan angkur pipa
secukupnya harus disediakan guna mencegah tegangan pada pipa atau alat- alat yang
dihubungkan oleh gaya yang bekerja kearah memanjang.
Pada pemasangan alat-alat pemuaian, angkur-angkur pipa dan pengarah-pengarah pipa harus
secukupnya disediakan agar pemuaian serta perenggangan terjadi pada alat-alat tersebut,
sesuai dengan permintaan & persyaratan pabrik.
Selama pemasangan, bila terdapat ujung-ujung pipa yang terbuka dalam pekerjaan pemipaan
yang tersisa pada setiap tahap pekerjaan, harus ditutup dengan menggunakan caps atau plug
untuk mencegah masuknya kotoran / benda-benda lain.
Semua pemotongan pipa harus memakai pipa cutter dan harus rapi dan tidak tajam
(diampelas).
Semua pipa harus dipasang lurus sejajar dengan dinding / bagian dari bangunan pada arah
horizontal maupun vertikal.
Semua pemipaan yang akan disambung dengan peralatan harus dilengkapi dengan wartel mur
atau flange.
Pekerjaan pemipaan tidak boleh digunakan untuk pentanahan listrik.

5.3 Pipa Hisap & Tekan

Pipa hisap menuju pompa diperlengkapi dengan stop valve (gate valve), penyaring (strainer),
flexible connection, dan manometer hisap. Pipa tekan dari pompa diperlengkapi dengan stop valve
(gate valve), non return valve (check valve), flexible connection, dan manometer tekan.
Pipa isap dan pipa tekan dicat dasar dan cat finishing warna merah.

5.4 Pipa Induk Proteksi Kebakaran


Pemasangan pipa adalah sesuai dengan gambar perencanaan.
Pada header dipasang pressure switch yang mengatur mati / hidupnya masing-masing pompa, pipa
serta perlengkapan untuk pengetesan pompa. Pada bagian-bagian tertinggi dari pipa dipasang air
valve dia. 25 mm.

5.5 Penggantung dan Penumpu Pipa


Pemipaan harus ditumpu atau digantung dengan hanger, brackets atau sadel dengan tepat dan
sempurna agar dimungkinkan gerakan-gerakan pemuaian atau peregangan pada jarak yang tidak
boleh melebihi jarak yang diberikan dalam list berikut ini :
Pipa Black Steel Medium Class

No Ukuran Pipa Interval Interval Tegak


(mm) Mendatar (m)
(m)
1 ≤ 20 1.8 2
2 25 ~ 40 2.0 3
3 50 ~ 80 3.0 4
4 4.0 4
5 200 atau lebih 5.0 4
Bila dalam suatu kelompok pipa yang terdiri dari bermacam-macam ukuran, maka jarak interval
yang dipergunakan harus berdasarkan jarak interval pipa ukuran terkecil yang ada.
Sebelum pipa dipasang, support harus dipasang dulu dalam keadaan sempurna. Semua
pemasangan harus rapi dan sebaik mungkin.
Semua pipa dan gantungan, penumpu harus dicat dasar zinchromate dan pengecatan sesuai dengan
peraturan-peraturan yang berlaku.

5.6 Pipa Dalam Tanah


Penggalian untuk mendapatkan lebar dan kedalaman yang cukup.
Membuat tanda letak dasar pipa setiap interval 3 meter pada dasar galian dengan adukan semen.
Semua galian pipa harus dilakukan pengurugan serta pemadatan kembali seperti kondisi semula.
Kedalaman pipa minimum 80 cm dibawah permukaan tanah.
Semua pipa diberi lapisan pasir yang telah dipadatkan setebal 15 – 30 cm untuk bagian atas dan
bagian bawah pipa dan baru diurug dengan tanah tanpa batu-batuan atau benda keras lainnya.
Pipa dibalut wrapping bahan bitumen sheet.
Pipa yang ditanam pada tanah yang labil, harus dibuat dudukan beton pada jarak 2 –
2.5 m.
Untuk pipa-pipa yang menyebrangi jalan harus diberi pipa pengaman ( selubung ) baja atau beton
dengan diameter minimum 2 kali diameter pipa tersebut. celah antara selubung dengan pipa diisi
pasir.

5.7 Selubung Pipa


Selubung untuk pipa harus dipasang dengan baik setiap kali pipa tersebut menembus konstruksi
beton.
Selubung harus mempunyai ukuran yang cukup untuk memberikan kelonggaran diluar pipa ataupun
isolasi celah antara selubung dengan dinding luar pipa minimal 25 mm. Selubung untuk dinding
dibuat dari pipa besi tuang ataupun baja.

5.8 SambunganPipa
Penyambungan antara pipa dan fitting mempergunakan sambungan las berlaku untuk
las. Kawat
las atau elektrode yang dipakai harus sesuai dengan jenis pipa yang dilas.
Sebelum pekerjaan las dimulai, Pelaksana Pekerjaan harus mengajukan kepada Konsultan
Pengawas contoh hasil las untuk mendapat persetujuan tertulis.
Tukang las harus mempunyai sertifikat pengelasan dan hanya boleh bekerja sesudah mempunyai
surat ijin tertulis dari Konsultan Pengawas
Setiap bekas sambungan las harus segera dicat dengan cat khusus untuk mencegah korosi.
Alat las yang boleh dipergunakan adalah alat las listrik yang berkondisi baik menurut penilaian
Konsultan Pengawas.

Penyambungan antara pipa dan fitting mempergunakan sambungan ulir berlaku untuk ukuran

Kedalaman ulir pipa harus dibuat sehingga fitting dapat masuk pada pipa dengan
diputar tangan sebanyak 3 ulir.
Semua sambungan ulir harus mempergunakan perapat Henep dan zink white dengan campuran
minyak.
Semua pemotongan pipa harus memakai pipe cutter dengan pisau roda.
Tiap ujung pipa bagian dalam harus dibersihkan dari bekas cutter dengan reamer. Semua pipa
harus bersih dari bekas bahan perapat sambungan.

Sambungan flexible harus disediakan dengan tujuan untuk menghilangkan getaran dari sumber
getaran.
Sambungan flanged harus dilengkapi rubber set/ring, seal dari karet secara homogen.

5.9 Selubung Pipa


Selubung untuk pipa harus dipasang dengan baik setiap kali pipa tersebut menembus
konstruksi beton.
Selubung harus mempunyai ukuran yang cukup untuk memberikan kelonggaran diluar pipa
ataupun isolasi.
Selubung untuk dinding dibuat dari pipa besi tuang ataupun baja. Untuk yang kedap air
harus digunakan sayap.
Untuk pipa-pipa yang akan menembus konstruksi bangunan yang mempunyai lapisan
kedap air (water proofing) harus dari jenis “ flushing sleeves”.
Rongga antara pipa dan selubung harus dibuat kedap air dengan rubber sealed atau
“caulk”

5.10 Pemasangan Katup-katup.


Katup-katup harus disediakan dan dipasang sesuai yang diminta dalam gambar rencana
dan spesifikasi agar sistem dapat bekerja dengan baik.

6. Lingkup Pekerjaan Listrik


Lingkup pekerjaan ini adalah menyediakan dan pemasangan panel listrik berikut peralatan kontrol
seperti yang ditunjukkan pada gambar perencanaan.
Kabel feeder untuk setiap panel daya termasuk dalam skope pekerjaan listrik.

6.1 Ketentuan-ketentuan Yang Diikuti


Peraturan Umum Instalasi Listrik tahun 2000
Ketentuan-ketentuan yang dianjurkan oleh pabrik.

6.2 Material dan Teknis


Semua komponen-komponen yang digunakan untuk power, panel dan kontrol panel harus sesuai
dengan daftar material.
Panel-panel harus dibuat dari panel 2 mm dan dilengkapi dengan kunci dan dibuat oleh panel maker
yang disetujui perencana dan Konsultan Pengawas.
Tiap panel dan unit mesin harus digrounded dengan tahanan pentanahan kurang dari 2 ohm.
Pengkabelan untuk instalasi listrik dan control harus dipasang dalam conduit.
Penarikan kabel feeder dengan tidak diperbolehkan ada sambungan
Radius pembelokkan kabel minimum 15 kali diameter kabel
Starter Motor :
- Semua starter untuk pemakaian daya motor 5 HP harus memakai otomatik star – delta
starter, kurang dari 5 HP memakai DOL.
- Start – delta starter harus dilengkapi dengan thermal overload.
Panel start – delta dilengkapi dengan :
- Pilot lamp – red, green, yellow
- Ampermeter – 3 phase ( selector switch )
- Voltmeter – 3 phase
- Reset button

7. Testing
a. Seluruh sistem dilakukan percobaan sampai berfungsi dengan baik. Peralatan testing
disediakan oleh Kontraktor dan atau beban / biaya Kontraktor sendiri. Pada waktu
testing dan percobaan diawasi oleh wakil pemilik dan pengawas lapangan.
b. Kontraktor harus melaksanakan pengujian terhadap sistim instalasi yang telah
dipasang, baik secara sebagian maupun secara keseluruhan, sesuai dengan peraturan -
peraturan yang telah berlaku atau yang ditentukan oleh spesifikasi.
c. Kontraktor harus mengadakan pengujian pada waktu pihak pengawas lapangan hadir,
dan pihak pengawas lapangan akan menentukan apakah testing yang dilakukan cukup
baik atau diulang kembali. Kontraktor harus menanggung segala biaya yang timbul
dalam pengujian-pengujian ini.
d. Apabila didalam pengetesan instalasi ini menyangkut pihak lain, maka pihak lain
tersebut harus ikut menyaksikan pengetesan ini dan diminta memberikan saran-saran /
masukan agar jalannya testing aman.
e. Kontraktor harus memberikan hasil pengujian kepada pengawas lapangan. Hasil-hasil
pengujian akan dipakai untuk menentukan apakah sistim instalasi yang telah dipasang
berfungsi sebagaimana mestinya.
f. Pengujian oleh dinas kebakaran harus dilakukan sampai mendapatkan Surat Izin /
Rekomendasi untuk pengurusan IPB (Izin Penggunaan Bangunan) segala sesuatunya
merupakan tanggung jawab Kontraktor.

7.1 Instalasi Pipa


Seluruh instalasi pipa harus dilaksanakan testing dengan test pressure 15 ATM bagian per
bagian, masing-masing selama 4 jam terus menerus, tanpa ada kebocoran / penurunan
pada test pressure.
Setiap kali dilakukan penyambungan pipa pemadam kebakaran dilakukan testing ini.

7.2 Pompa
Dapat bekerja secara otomatis dan manual
Dapat berfungsi dengan sumber daya dari PLN maupun dari genset.

8. Training
a. Kontraktor harus memberikan training bagi operator minimal 3 (tiga) orang yang ditunjuk oleh
pemberi tugas, sebelum diterbitkannya surat keterangan serah terima pekerjaan pertama.
b. Materi training teori dan praktek sampai dapat mengetahui operasi dan maintenance.

9. Referensi Merk / Produk


Peralatan, bahan dan material yang dipergunakan harus memenuhi spesifikasi. Pelaksana Pekerjaan
dimungkinkan untuk mengajukan alternative lain yang f dan Pelaksana Pekerjaan baru dapat
menggantinya bila sudah ada persetujuan resmi dan tertulis dari Konsultan Pengawas.

Referensi produk yang dapat dipakai adalah sebagai berikut :

No Peralatan Spesifikasi Alternatif Merk / Produk


1 Pompa Jockey Lengkap dengan Fire - Grundfos
Control,Pressure Switch dan
aksesories

2 Pompa Electric Lengkap dengan Fire - Peterson


Control,Pressure Switch dan
aksesories

3 Pompa Diesel Lengkap dengan Fire - Peterson


Control,Pressure Switch dan
aksesories

4 Hydrant Pillar Baja Tuang type - Appron


Two Way - Ozeki
machino kopling - Yamato

-
5 Hydrant Box Indoor uk: 750 x 1250 x 180 - Appron
mm - Ozeki
Outdoor uk: 660 x 950 x 200 - Yamato
mm
Lengkap dengan fire hose,
machino coupling, variable jet
spray

6 Siamesse Concection Ukuran : 1000 x 65 x - Appron


65 mm - Ozeki
Free Standing - Yamato
Jenis coupling Vander
Heyden

7 Pipa Fire Hydrant - ASTM A53 Galvanized - Bakrie


sch 40
- Black Steel Pipe Sch 40

8 Fitting Class 20 k - Bakrie


No Peralatan Spesifikasi Alternatif Merk / Produk
9 Gate Valve Class 20 K - Kitz

10 Check Valve Class 20K - Kitz

11 Strainer Class 20K - Kitz

12 Pressure Switch 0 - 15 kg/cm² Potter electric/ Fanal

13 Pressure Gauge 0 - 15 kg/cm² - Nagano


- Wika
- VPG
- Aschroft

14 Main Alarm Valve Class 20 K - Watts


- Shurjoint
- Tyco

15 Automatic Air Vent Cast Iron - Yoshitake


- Amstrong
- Samyang

16 Flow Switch Detector - Potter Electric


- System Sensor

17 Fire Extinguisher Dry Chemical Multi Purpose - Hooseki


Standard NFPA / Dinas PMK

-
18 Expansion Joint Bahan stainless steel dengan - Yositake
flange mild steel atau ekivalen - Tozen
dengan mechanical grooved - Victaulic
coupling dengan bahan body
terbuat dari ductile iron yang
dilengkapi
EPDM grooved rubber
PASAL 28
PEKERJAAN PEMBONGKARAN, PENGAMAN & PEMBERSIHAN
SETELAH PEMBANGUNAN

1. Pembersihan Tapak konstruksi dan pada semua pekerjaan yang termasuk dalam Lingkup
Pekerjaan seperti tercantum di Gambar Kerja dan terurai dalam Buku RKS ini dari semua barang
atau bahan bangunan lainnya yang dinyatakan tidak digunakan lagi setelah pekerjaan selesai
menjadi tanggung jawab Kontraktor bersangkutan selesai.
2. Semua bekas bongkaran bangunan "Existing" pohon dan sebagainya, harus dikeluarkan dari
Tapak/Site konstruksi.
3. Selama pembangunan berlangsung, kontraktor harus menjaga keamanan bahan/ material,
barang maupun bangunan yang dilaksanakannya sampai tahap serah terima.

Pasal 29
PEKERJAAN LAIN-LAIN

1. Apabila terjadi kerusakan atas segala sesuatu yang dinyatakan dipertahankan, Kontraktor wajib
memperbaiki hingga keadaan semula atau kerusakan yang diakibatkan oleh pelaksanaan proyek ini
harus diperbaiki kembali seperti jalan atau paving yang rusak akibat alat berat yang masuk sehingga
harus diperbaiki kembali oleh kontraktor.
Dalam hal ini, biaya adalah tanggungjawab Kontraktor, tidak dapat diajukan sebagai "claim" biaya
pekerjaan tambah termasuk penyediaan direkskeet, los kerja, air kerja, listrik kerja.
2. Hal-hal yang timbul pada pelaksanaan yang memerlukan penyelesaian di lapangan akan akan
dibicarakan dan diatur oleh Konsultan Pengawas dan Kontraktor, bila diperlukan akan dibicarakan
bersama Konsultan Perencana.
3. Sebelum penyerahan pertama, kontraktor wajib meneliti semua bagian pekerjaan yang belum
sempurna, dan harus diperbaiki, semua ruangan harus bersih dipel, halaman harus ditata rapih dan
semua barang yang tidak berguna harus disingkirkan dari proyek.
4. Selama pemeliharaan, pemborong wajib merawat, mengamankan dan memperbaiki segala cacat
yang timbul, sehingga sebelum penyerahan kedua dilaksanakan pekerjaan benar-benar telah
sempurna.

Pasal 30
PENUTUP

Segala sesuatu yang belum tercantum di dalam Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS) ini, akan
ditentukan kemudian pada Rapat Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing) dan akan dimuat dalam Berita
Acara Rapat Penjelasan

Anda mungkin juga menyukai