Anda di halaman 1dari 52

Persyaratan Teknis - 1

PENJELASAN PERSYARATAN TEKNIS DAN BAHAN

Pasal 1
LINGKUP PEKERJAAN

1.1 Nama Pekerjaan


Nama Pekerjaan yang dilaksanakan adalah Pekerjaan Rehabilitasi Pagar UPI
kampus Setiabudhi, Tahun Anggaran 2017.

1.2 Lokasi Pekerjaan


Kota : Bandung
Propinsi : Jawa Barat

1.3 Lingkup Pekerjaan


1. Pekerjaan Pembangunan ini meliputi :
a. Pekerjaan Perbaikan pagar existing
- Pekerjaan plester dan acian
- Pekerjaan Perbaikan besi tempa
- Pekerjaan Perbaikan Pengecatan
- Pekerjaan Perbaikan plumbak tanaman
- Pemasangan tanaman
- Pekerjaan perbaikan batu alam

b. Pekerjaan Perbaikan pagar trotoar


- Pekerjaan pondasi beton pagar
- Pekerjaan pagar besi pipa galvanis
- Pekerjaan pengecatan besi pagar
- Pekerjaan plat decking beton
- Pekerjaan pemasangan paving blok
- Pekerjaan pengecatan cansteen
Persyaratan Teknis - 2

Pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh pemborong termasuk pula


pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, alat-alat dan segala keperluan yang
berhubungan dengan pekerjaan pembangunan yang dilaksanakan.

1.4 Acuan Pelaksanaan Pekerjaan


a. Syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang tercantum di dalam RENCANA
KERJA DAN SYARAT-SYARAT dan BoQ pekerjaan ini ;
b. Gambar-gamabar yang dilampirkan pada RENCANA KERJA DAN SYARAT-
SYARAT pekerjaan ini ;
c. Keterangan-keterangan dan gambar-gambar yang diberikan oleh Konsultan
kepada pelaksana pada waktu Rapat Penjelasan Pekerjaan/Rapat Aanwijzing
Pekerjaan /Risalah Aanwijzing.

Pasal 2
PERATURAN TEKNIS PEMBANGUNAN YANG DIGUNAKAN

1. Dalam melaksanakan Pekerjaan, kecuali bila ditentukan lain dalam Rencana Kerja
dan Syarat-syarat ini berlaku dan mengikat ketentuan-ketentuan dibawah ini termasuk
segala perubahan dan tambahannya :
 Perpres No. 54 Tahun 2010 serta perubahannya dan lampiran-lampirannya.
 Keputusan-keputusan dari Majelis Indonesia untuk Arbitrasi Teknik dari Dewan
Teknik Pembangunan Indonesia.
 Peraturan Umum dari Dinas Keselamatan Kerja Departemen Tenaga Kerja.
 Peraturan Beton Bertulang Indonesia NI-2 PBI 1971.
 Peraturan Umum Bahan Bangunan Indonesia
 SK SNI No. T-15-2008-03.
 Pedoman Plumbing Indonesia PPI 2008.
 Persyaratan Cat Indonesia NI-4.
 Peraturan Semen Portland Indonesia NI-8.
 Peraturan Bata merah sebagai bahan bangunan NI-10.
 Peraturan dan ketentuan lain yang dikeluarkan oleh Jawatan/Instansi
Pemerintah setempat yang bersangkutan dengan masalah bangunan.
Persyaratan Teknis - 3

2. Untuk melaksanakan pekerjaan ini, berlaku dan mengikat pula :


a. Gambar Kerja yang dibuat oleh Konsultan Perencana dan disahkan oleh Pemberi
Tugas termasuk pula Gambar Detail Pelaksanaan (Shop Drawing) yang
diselesaikan oleh Kontraktor dan sudah disyahkan dan disetujui oleh Konsultan
Pengawas.
b. Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) dan BoQ.
c. Gambar dan Berita Acara Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing).
d. Surat Keputusan Kuasa Pengguna Anggaran tentang Penetapan Kontraktor.
e. Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK).
f. Jadwal Pelaksanaan (Tentative Time Schedule) yang telah disetujui oleh
Pengawas Lapangan dan Pemberi Tugas.

Pasal 3
PENJELASAN RKS DAN GAMBAR

1. Kontraktor wajib meneliti semua Gambar Kerja, Rencana Kerja dan Syarat-syarat
(RKS); termasuk tambahan dan perubahannya yang dicantumkan dalam Berita Acara
Penjelasan Pekerjaan.
2. Ukuran :
a. Pada dasanya semua ukuran utama yang tertera dalam Gambar Kerja meliputi :
As - As
Luar - Luar
Dalam - Dalam
Luar - Dalam

b. Khusus ukuran dalam Gambar Kerja Arsitektur pada dasarnya ukuran yang tertulis
adalah ukuran jadi terpasang atau dalam keadaan selesai/finished.
3. Perbedaan Gambar.
a. Bila suatu Gambar tidak cocok dengan Gambar yang lain dalam satu disiplin kerja,
maka Gambar yang mempunyai skala yang lebih besar yang berlaku / mengikat.

b. Bila ada perbedaan-perbedaan itu, ketidakjelasan, maupun kesimpangsiuran


menimbulkan keragu-raguan sehingga dalam pelaksanaan dapat menimbulkan
kesalahan, maka Kontraktor diwajibkan melaporkan kepada Pengawas Lapangan,
Persyaratan Teknis - 4

dan mengadakan pertemuan dengan Konsultan Perencana, untuk mendapatkan


keputusan dari Konsultan Perencana Gambar mana yang akan dijadikan
pegangan.

c.ketentuan di atas tidak dapat dijadikan alasan oleh Kontraktor untuk


memperpanjang waktu pelaksanaan maupun mengajukan claim biaya pekerjaan
tambah.
4. Gambar Detail Pelaksanaan (Shop Drawing).
a. Gambar Detail pelaksanaan atau Shop Drawing adalah Gambar Kerja yang wajib
dibuat Kontraktor berdasarkan Gambar Kerja Dokumen yang telah disesuaikan
dengan keadaan lapangan.
b. Kontraktor wajib membuat Shop Drawing untuk Pekerjaan yang spesifik yang
belum tercakup lengkap dalam Gambar Kerja Dokumen, maupun yang diminta oleh
Konsultan Pengawas dan atau Konsultan Perencana.
c. Dalam Shop Drawing ini harus jelas dicantumkan dan digambarkan semua data
yang diperlukan termasuk pengajuan contoh jadi dari semua bahan, keterangan
produk, cara pemasangan dan atau spesifikasi / persyaratan khusus sesuai dengan
spesifikasi pabrik yang belum tercakup secara lengkap dalam Gambar Kerja
Dokumen maupun Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS).
d. Kontraktor wajib mengajukan Shop Drawing kepada Konsultan Pengawas dan
Konsultan Perencana untuk mendapatkan persetujuan tertulis bagi pelaksanaan.

5. Gambar Hasil Pelaksanaan (As Built Drawings)


Kontraktor wajib membuat gambar-gambar yang sesuai dengan hasil pelaksanaan
(As Built Drawings) yang selesai sebelum serah terima ke-1, dan telah disetujui oleh
konsultan Pengawas dan diketahui oleh konsultan Perencana.

6. Kontraktor tidak dibenarkan mengubah atau mengganti ukuran-ukuran yang


tercantum dalam Gambar Kerja Dokumen tanpa sepengetahun Konsultan Pengawas.
Segala akibat yang terjadi adalah tanggung jawab Kontraktor, baik dari segi biaya
maupun waktu pelaksanaan.
Persyaratan Teknis - 5

Pasal 4
JADWAL PELAKSANAAN

1. Sebelum memulai pekerjaan di lapangan, Kontraktor wajib membuat rencana kerja


pelaksanaan dan bagian-bagian pekerjaan berupa Bar Chart dan S-Curve Bahan dan
Tenaga dan mengkoordinasikan hasilnya kepada Pengawas Lapangan, sehingga
pelaksanaan pekerjaan terkendali dan tidak menggangu kelancaran proyek secara
keseluruhan dan kelancaran kegiatan disekitar lokasi pekerjaan.
2. Rencana Kerja tersebut harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari
Pengawas Lapangan, paling lambat dalam waktu 14 (empat belas) hari kalender
setelah SPK diterima Kontraktor. Rencana Kerja yang telah disetujui oleh Konsultan
Pengawas, akan disyahkan oleh Pemberi Tugas.
3. Kontraktor wajib memberikan salinan Rencana Kerja 4 (empat) rangkap kepada
Pengawas Lapangan, 1 (satu) salinan Rencana Kerja harus ditempel pada direksi kit
Kontraktor di lapangan yang selalu diikuti dengan grafik kemajuan pekerjaan/prestasi
kerja.

Pasal 5
LAPORAN HARIAN

1. Pelaksana Lapangan setiap hari akan membuat laporan harian mengenai segala hal
yang berhubungan dengan pelaksanaan pembangunan / pekerjaan, baik teknis
maupun administratif.

2. Dalam pembuatan laporan tersebut pihak pemborong harus memberikan data-data


yang diperlukan menurut data dan keadaan sebenarnya.

3. Laporan tersebut harus diserahkan kepada Pemberi Tugas/Pengawas Lapangan


sebagai bahan monitoring.
Persyaratan Teknis - 6

Pasal 6
KUASA KONTRAKTOR DILAPANGAN

1. Dilapangan pekerjaan Kontraktor wajib menunjuk seorang kuasa Kontraktor atau


biasa disebut Pelaksana yang cakap untuk memimpin pelaksanaan pekerjaan
dilapangan dan mendapat kuasa penuh dari Kontraktor.
2. Dengan adanya Pelaksana, tidak berarti bahwa Kontraktor lepas tanggung jawab
sebagian maupun keseluruhan terhadap kewajibannya.
3. Kontraktor wajib memberi tahu kepada Tim Pengelola Teknis dan Konsultan
Pengawas, nama dan jabatan Pelaksana untuk mendapatkan persetujuan.
4. Bila dikemudian hari menurut Tim Pengelola Teknis dan Konsultan Pengawas,
Pelaksana kurang mampu atau tidak cukup cakap memimpin pekerjaan, maka akan
diberitahu kepada Kontraktor secara tertulis untuk mengganti Pelaksana.
5. Dalam waktu 7(tujuh) hari kalender setelah dikeluarkan Surat Pemberitahuan,
Kontraktor harus sudah menunjuk Pelaksana baru atau Kontraktor sendiri
(Penanggung jawab/ Direktur Perusahaan) yang akan memimpin pelaksanaan.

Pasal 7
TEMPAT TINGGAL (DOMISILI) KONTRAKTOR

1. Untuk menjaga kemungkinan kerja diluar jam kerja apabila terjadi hal-hal yang
mendesak, Kontraktor dan Pelaksana wajib memberitahukan secara tertulis alamat
dan nomor telepon di lokasi kepada Tim pengelola Teknis setempat dan Konsultan
Pengawas.
2. Kontraktor wajib memasukan identifikasi dan alamat Bengkel kerja (Workshop) dan
peralatan yang dimiliki dimana pekerjaan pemborongan akan dilaksanakan.
3. Alamat Kontraktor dan pelaksana diharapkan tidak berubah selama pekerjaan. Bila
terjadi perubahan alamat Kontraktor, Pelaksana wajib memberitahukan secara tertulis.
Persyaratan Teknis - 7

Pasal 8
PENJAGA KEAMANAN LAPANGAN

1. Kontraktor diwajibkan menjaga keamanan lapangan terhadap barang-barang milik


Proyek, Pengawas Lapangan dan milik Pihak Ketiga yang ada dilapangan.
2. Bila terjadi kehilangan bahan-bahan bangunan yang telah disetujui Pengawas
Lapangan/ Konsultan Perencana, baik yang telah dipasang maupun yang belum,
adalah tanggung jawab Kontraktor dan tidak akan diperhitungkan dalam biaya
pekerjaan tambah.
3. Apabila terjadi kebakaran, Kontraktor bertanggungjawab atas akibatnya, baik yang
berupa barang-barang maupun keselamatan jiwa. Untuk itu Kontraktor diwajibkan
menyediakan alat-alat pemadam kebakaran yang siap dipakai yang ditempatkan di
tempat-tempat yang akan ditetapkan kemudian oleh Konsultan Pengawas.

Pasal 9
JAMINAN DAN KESELAMATAN KERJA

1. Kontraktor dapat menyediakan obat-obatan menurut Syarat-syarat Pertolongan


Pertama Pada Kecelakaan (PPPK) yang selalu dalam keadaan siap digunakan di
lapangan, untuk mengatasi segala kemungkinan musibah bagi semua petugas dan
pekerja dilapangan.
2. Kontraktor dapat menyediakan air minum yang cukup bersih dan memenuhi syarat-
syarat kesehatan bagi semua Petugas dan Pekerja yang ada dibawah kekuasaan
Kontraktor.
3. Kontraktor dapat menyediakan air bersih, Kamar Mandi dan WC yang layak dan bersih
bagi semua Petugas dan pekerja.
4. Tidak diperkenankan membuat penginapan didalam lapangan pekerjaan untuk
Pekerja, kecuali untuk Penjaga Keamanan.
5. Segala hal yang menyangkut jaminan sosial dan keselamatan para pekerja wajib
diberikan oleh Kontraktor sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Persyaratan Teknis - 8

Pasal 10
ALAT-ALAT PELAKSANAAN

Semua alat-alat untuk pelaksanaan pekerjaan harus disediakan oleh Kontraktor,


sebelum pekerjaan fisik dimulai, dalam keadaan baik dan siap pakai, antara lain :
a. Waterpass yang telah diijinkan oleh Pengawas Lapangan.
c. Perlengkapan penerangan untuk kerja lembur.
d. Pompa air sesuai kebutuhan untuk sistem pengeringan, jika diperlukan.
e. Scafolding
g. dan lain-lain disesuaikan dengan lingkup pekerjaannya.

Pasal 11
SITUASI

1. Hal mana pembangunan akan diserahkan kepada pelaksana sebagaimana adanya


pada waktu rapat penjelasan, untuk itu para calon Pemborong wajib meneliti situasi
medan terutama kondisi tanah bangunan, sifat dan luasnya pekerjaan dan hal lain
yang berpengaruh terhadap harga penawaran.
2. Kelalaian dan kekurang telitian dalam hal ini tidak dapat dijadikan alasan untuk klaim
dikemudian hari.
3. Dalam rapat penjelasan akan ditunjukan dimana pembangunan akan dilaksanakan.

Pasal 12
PEKERJAAN PERSIAPAN TAPAK

Pekerjaan Persiapan Tapak meliputi :

1. Pembuatan jalan masuk sementara untuk lalu-lintas orang dan bahan.


Peletakan jalan masuk sementara, diatur sedemikian rupa sehingga tidak
mengganggu lalu lintas kerja.
Persyaratan Teknis - 9

2. Pembuatan saluran pembuangan sementara untuk menjaga agar areal


pekerjaan selalu dalam keadaan kering.
3. Pengadaan air untuk keperluan pekerja dan pekerjaan, kualitas air harus baik
dan memenuhi persyaratan kerekatan.
4. Pengadaan listrik kerja dan pembuatan tempat pembuangan air kotor
sementara.

Pasal 13
PEKERJAAN PERSIAPAN BANGUNAN

1. Lingkup Pekerjaan.

a. Pekerjaan pembuatan direksi kit


b. Pekerjaan penyediaan air dan daya listrik untuk bekerja.
c. Pekerjaan jalan masuk dan jalan konstruksi sementara.
d. Pekerjaan pembongkaran, pengamanan dan pembersihan sebelum pelaksanaan.
e. Pekerjaan pemasangan papan nama proyek

2. Pekerjaan direksi kit.

a. Kontraktor dapat menyediakan direksi kit kerja dan gudang material/bahan diatas
tapak pekerjaan.
Direksi kit Kerja terdiri dari :
- Direksi kit Kontraktor
- Los - los kerja untuk Pekerja.

b. Kontraktor dapat menyediakan Direksi kit Los kerja (workshop) untuk para pekerja
dan gudang penyimpan bahan/material yang dapat dikunci.

c. Lokasi tempat direksi kit kerja, khususnya gudang penyimpanan bahan/material harus
sedemikian rupa sehinggga :
- Mudah dicapai oleh truk pengangkut bahan/material dari luar tapak.
- Tidak mengganggu pelaksanaan pekerjaan pembangunan
Persyaratan Teknis - 10

Lokasi tempat Direksi kit kerja dan gudang penyimpanan bahan/material akan
ditentukan oleh Konsultan Pengawas.

d. Setelah selesai pembangunan, semua direksi kit kerja dan gudang penyimpanan
bahan/material harus dibongkar dan disingkirkan ke luar tapak kecuali Direksi kit
Konsultan Pengawas dan peralatannya yang pemanfaatannya akan ditentukan
kemudian oleh Pemberi Tugas.

3. Pekerjaan Penyediaan Air dan Daya Listrik untuk Bekerja

a. Air untuk bekerja harus disediakan oleh Kontraktor di tapak atau didatangkan dari
luar tapak dan disediakan pula tempat penampungannya.
Air harus bersih bebas dari bau, bebas dari lumpur, minyak dan bahan kimia lain
yang merusak. Penyediaan air harus sesuai dengan petunjuk dan persetujuan
Konsultan Pengawas.

b. Listrik untuk bekerja harus disediakan Kontraktor dan diperoleh dari sambungan
sementara PLN setempat selama masa pembangunan berlangsung dan
pemasangan diesel untuk pembangkit tenaga listrik hanya diperkenankan untuk
penggunaaan sementara atas persetujuan Konsultan Pengawas.

5. Pekerjaan Jalan Masuk dan Jalan Konstruksi/Sementara

a. Jalan masuk dan jalan konstruksi/sementara harus diadakan oleh Kontraktor menurut
petunjuk pada Gambar Kerja Dokumen atau petunjuk dan persetujuan Konsultan
Pengawas.
b. Disarankan sebaiknya posisi, letak dan jalur masuk dan jalan konstruksi/sementara
sesuai dengan rencara titik pekerjaan pada Gambar Kerja.
Persyaratan Teknis - 11

6. Pekerjaan Pembongkaran, Pembersihan dan Pengamanan sebelum


Pelaksanaan

a. Pembongkaran dan Pembersihan.


Kontraktor harus membongkar/membersihkan/memindahkan keluar dari tapak segala
sesuatu yang tidak akan dipakai selama pembangunan yang mungkin akan
mengganggu pelaksanaan pekerjaan baik diatas maupun tertanam dalam tanah
tapak, sesuai dengan petunjuk dan persetujuan Konsultan Pengawas.
b. Hasil pembongkaran, pembersihan dan penebangan harus dikeluarkan dari dalam
tapak, sesuai dengan peraturan setempat
c. Pengamanan
1). Kontraktor harus melindungi dan mengamankan dari segala kerusakan selama
pelaksanaan pekerjaan terhadap segala sesuatu yang dinyatakan oleh Konsultan
Pengawas tidak boleh dibongkar, baik berupa bangunan, bagian dari bangunan,
jaringan listrik, gas, saluran air minum, drainase, maupun pepohonan yang telah
ada. Khusus untuk pepohonan yang dipertahankan, harus dilindungi selama
pelaksanaan pembangunan agar tidak mati.
2). Apabila terjadi kerusakan atas segala sesuatu yang dinyatakan dipertahankan,
Kontraktor wajib memperbaiki hingga keadaan semula.
Dalam hal ini, biaya adalah tanggungjawab Kontraktor, tidak dapat diajukan
sebagai "claim" biaya pekerjaan tambah.
3). Apabila segala sesuatu yang dinyatakan dipertahankan mengganggu
pelaksanaan pekerjaan, maka Kontraktor harus memindahkannya atas
persetujuan Konsultan Pengawas.
d. Biaya untuk pekerjaan pembongkaran, pembersihan, pengamanan menjadi
tanggungjawab Kontraktor, tidak dapat diajukan sebagai "claim" biaya pekerjaan
tambah.
7. Papan nama Bangunan (kanvas printing)

a. Isi dari Papan nama bangunan yang dipasang mencakup :


- Nama pekerjaan
- Nilai proyek
- Nama kontraktor pelaksana
- Nama konsultan pengawas
Persyaratan Teknis - 12

- Nama konsultan perencana


- Waktu pelaksanaan
b. Kontraktor harus melaporkan kepada Konsultan Pengawas untuk mendapatkan
persetujuan dari papan nama tersebut. Kontraktor harus menjaga dan
memelihara keutuhan dan ketepatan letak papan nama bangunan ini sampai
tidak diperlukan lagi.

8. Perijinan dan Dokumentasi


a. setiap Kemajuan Pekerjaan harus didokumentasikan dan terus berlanjut
sampai pekerjaan 100%
b. Papan nama Kegiatan dibuat sesuai dengan petunjuk Direksi atau Pengawas
Lapangan.

Pasal 14
PEKERJAAN PLESTERAN

1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi :
a. Pekerjaan plesteran.
 Plesteran dinding, acian beton.
 Plesteran kedap air.

2. Persyaratan Bahan
a. Semen Portland/PC, pasir, dan air harus memenuhi persyaratan bahan untuk
pekerjaan beton yang terurai di pasal lain dalam buku RKS ini.
.
3. Persyaratan Pelaksanaan
a. Adukan Perekat/Adukan Pasangan
Adukan untuk pasangan dan plesteran dibuat dengan macam–macam
perbandingan campuran seperti berikut ini :
Persyaratan Teknis - 13

Macam Perbandingan Penggunaan

Aduk semua pasangan batu bata tidak kedap


air.
M2 1 PC : 5 Ps Plesteran pasangan batu bata tidak kedap air.
Plesteran pasangan bata+plesteran kamprot
halus

Semen jenis adukan dan plesteran tersebut diatas harus


dipersiapkan sedemikian rupa sehingga selalu dalam keadaan masih
segar dan belum mengering.
Dipersyaratkan agar jarak waktu pencampuran adukan dengan plesteran
dengan pemasanganya tidak melebihi 30 menit, terutama untuk adukan
kedap air.
1. Pemakaian adukan perekat/adukan pasangan :
a. Adukan pasangan M2 dan plesteran M2 untuk semua dinding daerah
basah/toilet, dengan ketinggian ± 30 cm dari peil ± 0,00 lantai terbawah
serta semua pasangan yang masuk kedalam tanah aatau sesuai
Gambar Kerja.
b. Semua ketentuan pemakaian aduk perekat sesuai ketentuan pasal-
pasal diatas.
c. Plesteran kamprot halus adalah pekerjaan finishing untuk
mendapatkan texture permukaan dinding luar, dan dilaksanakan
setelah pekerjaan plesteran dasar cukup kering, tebal plesteran
kamprot halus ± 5 mm..

b. Pekerjaan Plesteran
1. Campuran plesteran yang dimaksud adalah campuran dalam volume.
2. Pasir yang digunakan untuk plesteran adalah pasir pasang yang harus
diayak terlebih dahulu.
3. Plesteran halus/acian halus
Plesteran halus/acian halus adalah campuran PC dengan air yang dibuat
sedemikian rupa sehingga mendapatkan campuran yang homogen.
Persyaratan Teknis - 14

Pekerjaan plesteran halus ini dilaksanakan setelah aduk plesteran


sebagai lapisan dasar minimal berumur 2 hari.
4. Sebelum pelaksanaan plesteran semua pemipaan maupun sparing-
sparing SA dan EL telah terpasang pada jalur dan tempatnya sesuai
dengan Gambar Kerja dan telah disetujui oleh Konsultan Pengawas.
5. Sebelum pelaksanaan plesteran terlebih dahulu dibuat kepala plesteran
(klabangan) dengan tebal sama dengan ketebalan plesteran yang
direncanakan kecuali untuk plesteran braven.
6. Permukaan plesteran tersebut khususnya plesteran halus/aci halus harus
rata, tidak bergelombang, penuh dan padat, tidak berongga, tidak
berlubang, tidak mengandung kerikil atau benda-benda lain yang
membuat cacat. Apabila pekerjaan tidak memenuhi yang dipersyaratkan
maka Kontraktor harus membongkar dan memperbaiki sampai disetujui
oleh Konsultan Pengawas.
7. Pekerjaan plesteran pada permukaan pasangan batu bata sebelum
diplester permukaan pasangan batu batu dibasahi terlebih dahulu dan
siar-siarnya sudah dikeruk sedalam 1 cm.
8. Pekerjaan plesteran harus pada permukaan beton. Sebelum pelaksanaan
pekerjaan ini permukaan beton harus dibersihkan dari sisa-sisa bekisting
kemudian diketrek/ scratched. Semua lubang-lubang bekas pengikat
bekisting atau form tie harus tertutup aduk plesteran.
9. Pekerjaan plesteran halus/aci halus adalah untuk semua permukaan
pasangan batu bata dan beton yang akan di-finish dengan cat.
10. Semua permukaaan yang akan menerima bahan/materai finishing
misalnya bahan/ material ubin keramik dan lainnya, maka permukaan
plesterannya harus diberi alur-alur garis horizontal untuk memberikan
ikatan yang lebih baik terhadap bahan/material finishing tersebut,
pekerjaan ini tidak berlaku apabila bahan/material finishing tersebut adalah
cat.
11. Ketebalan plesteran harus mencapai ketebalan permukaan
dinding/kolom/lantai yang dinyatakan dalam Gambar Kerja dan atau
sesuai dengan peil-peil yang diminta dalam Gambar Kerja. Tebal plesteran
adalah minimal 1 cm dan maksimal 2 cm.
Persyaratan Teknis - 15

12. Jika ketebalan melebihi 3 cm maka harus menggunakan kawat anyam


yang diikatkan/ dipakukan ke permukaan pasangan batu–bata atau beton
yang bersangkutan untuk memperkuat daya lekat plesteran.
13. Pemeliharaan
a. Kelembaban plesteran harus dijaga sehingga pengeringan berlangsung
dengan wajar dan tidak berlangsung dengan tiba–tiba. Hal ini
dilaksanakan dengan membasahi permukaan plesteran setiap kali
terlihat kering dan melindunginya dari terik panas Matahari langsung
dengan bahan penutup yang dapat mencegah penguapan air setelah
pengacian selesai, Kontraktor harus selalu menyiram dengan air
sekurang-kurangnya 2 (dua) kali sehari sampai jenuh.
b. Tidak dibenarkan pekerjaan finishing permukaan plesteran dilakukan
sebelum plesteran berumur lebih dari 2 (dua) minggu, cukup kering,
bersih dari retak, noda, dan cacat lain seperti yang diisyaratkan tersebut
diatas.

Pasal 15
PEKERJAAN METAL / BESI

1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi seluruh pekerjaan metal/logam seperti tercantum dalam
Gambar Kerja antara lain :
a. Pekerjaan Besi

2. Persyaratan Bahan
a. Semua bahan baja/besi yang digunakan diantaranya : IWF, Siku, hollow, plat
besi, pipa pelat, pipa persegi, harus baru dari jenis yang sama kwalitasnya,
dan harus memenuhi persyaratan normalisasi di Indonesia dan Standard
ASTM A-36, dengan tegangan tarik putus minimum 3700 kg/cm2.
b. Semua bahan baja harus memenuhi standard mutu baja ST 37.
c. Besi pipa BSP harus menggunakan pipa jenis terbaik, medium class dimensi
sesuai Gambar Kerja.
d. Semua bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini harus diperoleh dari
leveransir yang dikenal dan disetujui oleh Pengawas. Semua bahan tersebut
harus lurus, rata permukaan, tidak cacat, bebas karat, noda-noda lain yang
Persyaratan Teknis - 16

dapat mengurangi mutunya. Batang profil tekan tidak boleh diijinkan bengkok
lebih dari 1/400 kali panjang batang.
e. Batang baja maupun bahan lain yang digunakan harus sesuai
penampangnya, bentuk, tebal, ukuran, berat, dan detail-detail lainnya dengan
yang tercantum dalam Gambar Kerja.
f. Semua bahan yang akan dipakai dalam pekerjaan ini terlebih dahulu harus
disetujui secara tertulis oleh Pengawas.

6. Persyaratan Teknis
a. Kontraktor wajib meneliti berat dan ukuran bahan dan bertanggung terhadap
semua ukuran-ukuran yang tercantum dalam Gambar Kerja. Pada prinsipnya
ukuran pada Gambar Kerja adalah ukuran jadi/finish.
b. Setiap bagian yang buruk yang tidak memenuhi persyaratan seperti yang
dicantumkan disini, yang diakibatkan oleh kurang teliti dan kelalaian
Kontraktor dapat ditolak dan harus diganti. Kewajiban yang sama juga berlaku
untuk ketidak cocokan keabsahan maupun kekurangan lainnya akibat
Kontraktor tidak teliti dan cermat dalam koordinasi dengan Gambar Pelengkap
dari AR, SA, ME dan EL. Pekerjaan perubahan dan pekerjaan tambah dalam
hal ini harus dikerjakan atas biaya Kontraktor dan tidak dapat diklaim sebagai
biaya tambah.
c. Semua bagian yang dilubangi sesuai dengan Gambar Kerja dan sudah
dibersihkan dari karat harus diperiksa dan berada dalam keadaan tidak cacat
sebelum pemasangan.
d. Perubahan bahan/detail karena alasan tertentu harus dikoordinasikan kepada
Konsultan Pengawas dan Konsultan Perencana untuk mendapatkan
persetujuan secara tertulis.
Semua perubahan yang disetujui dapat dilaksanakan tanpa adanya biaya
tambahan yang mempengaruhi kontrak, kecuali untuk perubahan yang
mengakibatkan pekerjaaan tambah-kurang akan diperhitungkan sebagai
pekerjaan tambah-kurang.
Persyaratan Teknis - 17

e. Sebaiknya sebanyak mungkin bahan metal yang digunakan difabrikasi di


Workshop. Kontraktor bertanggung jawab atas semua kesalahan detail,
pabrikasi dan ketepatan penyetelan/ pemasangan semua bagian konstruksi.

7. Persyaratan Pelaksanaan
a. Penyambungan dan Pemasangan
1. Pengelasan
1.1. Pengelasan harus dilakukan hati-hati dan cermat. Logam yang akan
dilas harus bersih dari retak dan cacat lain yang mengurangi
kekuatan sambungan dan permukaannya harus halus. Juga
permukaan yang di las harus sama, rata dan kelihatan teratur.
1.2. Pekerjaan las sedapat mungkin dikerjakan dibengkel/pabrik, dan
atau dalam ruangan yang beratap, bebas angin dan dalam keadaan
kering. Benda pekerjaan ditempatkan sedemikian rupa sehingga
pekerjaan las dapat dilakukan dengan baik dan teliti.
Pekerjaan las harus dilakukan oleh orang yang akhli dan harus
memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam spesifikasi dan Gambar
Kerja.
1.3. Las Perapat/Pengendap
Dalam setiap posisi dimana dua bagian (dari satu benda) saling
berdekatan, harus digunakan las perapat/pengendap guna
mencegah masuknya lengas terlepas apakah diberikan detailnya
atau tidak dalam Gambar Kerja apakah barang tersebut terkena
cuaca luar atau tidak dan Kontraktor tidak dapat meng-claim
pekerjaan ini sebagai pekerjaan tambah.
1.4. Macam dan Tebal Las
 Macam las yang dipakai adalah las lumer (las dengan busur
listrik)
 Ukuran las harus sesuai dengan Gambar Kerja dan atau tebal
untuk konstruksi minimum 1/2 tV2 dimana t adalah tebal bahan
terkecil.
 Panjang las minimum 8 x tebal bahan atau 40 mm
 Panjang las maksimum adalah 40 x tebal bahan.
Persyaratan Teknis - 18

 Kekuatan dari bahan las yang dipakai paling kecil sama dengan
kekuatan baja yang dipakai.
1.5. Perbaikan las
Bila pekerjaan las ternyata memerlukan perbaikan, maka harus
dilakukan oleh Kontraktor sebagaimana yang diperintahkan oleh
Pengawas dan tidak dapat di claim sebagai pekerjaan tambah. Las
yang menunjukan cacat harus dipotong dan dilas kembali atas biaya
Kontraktor.
2. Mur Baut
2.1. Baut yang digunakan harus mempunyai ukuran yang sesuai dengan
yang tercantum dalam Gambar Kerja
2.2. Pemasangan Mur dan Baut harus benar-benar kokoh serta
mempunyai kekokohan yang merata antara satu dengan yang
lainnya.

b. Memotong dan menyelesaikan pinggiran bekas irisan, Gilingan,


Meratakan dan lain-lain.
1. Bagian bekas irisan harus benar-benar datar, lurus dan bersih sama sekali
tidak diperbolehkan ada bekas jalur dan lain-lain.
2. Bila bekas pemotongan/pembakaran dengan mesin menghasilkan
pinggiran bekas irisan, maka bagian tersebut harus
dibuangsekurang-kurangnya selebar 2,5 mm. Terkecuali kalau keadaan
sebelum dibuang setebal 2,5 mm sudah tidak tampak lagi jalur-jalur
tersebut diatas.

c. Menembus, Mengebor dan Meluaskan Lubang


1. Pada keadaan akhir diameter lubang untuk baut dan sebuah baut hitam
yang tepat, boleh berbeda masing-masing 1 mm dari diameter batang
baut tersebut.
2. Semua lubang harus di bor.
3. Untuk lubang pada bagian konstruksi yang disambung dan yang harus
dijadikan satu dengan alat/komponen penyambaung, di bor sekaligus
sampai diameter sepenuhnya. Apabila ternyata tidak sesuai, lubang
Persyaratan Teknis - 19

diubah dengan di bor atau diluaskan atau penyimpangannya tidak boleh


melebihi 0,5 mm
4. Semua lubang harus bulat sempurna berdiri siku pada bidang dan
konstruksi yang akan disambung dan harus dibersihkan.

Pasal 16
PEKERJAAN PENGECATAN

1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan yang dimaksud meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan,
peralatan dan alat bantu lainnya yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan
ini secara lengkap, meliputi :
1. Pekerjaan Pengecatan Dinding/Permukaan Pasangan Batu Bata, Beton

2. Pekerjaan pengecatan lain seperti tercantum dalam Gambar Kerja.

2. Pekerjaan Pengecatan Dinding/Permukaan


1. Lingkup pekerjaan
Pekerjaan yang dimaksud meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan,
peralatan dan alat bantu lainnya yang diperlukan untuk melaksanakan
pekerjaan ini secara lengkap, meliputi :
a. Pekerjaan pengecatan dinding pasangan, permukaan beton dan langit-
langit.
b. Pekerjaan pengecatan lainnya seperti tercantum dalam gambar kerja.
2. Persyaratan bahan
a. Bahan harus dari kualitas utama, tahan terhadap udara dan garam,
jenisnya sesuai dengan bidang permukaan yang akan diberi lapisan cat.
Seluruh bahan harus sesuai dengan standard bahan yang berlaku di
Indonesia Produk setara:
 Untuk dinding interior cat Jotun JotaPlast
 Untuk exterior cat Jotun Jotashield
b. Pengecatan Dinding Bata Plesteran, dan Beton :
Lapisan dasar : Alcali resisting primer (Interior). Water base
Persyaratan Teknis - 20

Lapisan akhir : Acrylic emulsion (Interior) dengan gradasi halus.


c. Bahan yang didatangkan harus langsung dari pabrik, masih tersegel
dalam kemasannya dan tidak cacat. Kontraktor wajib membuktikan
keaslian cat dari produk yang dipilih mengenai kemurnian cat.
3. Persyaratan Pelaksanaan
a Sebelum pelaksanaan pekerjaan, kontraktor wajib melakukan
percobaan yang akan dilaksanakan. Biaya percobaan ini ditanggung oleh
kontraktor. Hasil percobaan tersebut harus diperlihatkan/diserahkan
kepada direksi untuk mendapatkan persetujuan bagi pelaksanaan
pekerjaan.
b. Pengupasan Cat existing Dilakukan sampai terlihat muka acian existing.
c. Lakukan pengecatan dengan cara terbaik yang umum dilakukan, kecuali
apabila disyaratkan lain. Urutan pengecatan, penggunaan lapisan dasar
dan tebal lapisan penutup minimal sama dengan syarat yang dikeluarkan
pabrik.
d. Pengecatan harus rata, tidak bertumpuk, tidak bercucuran atau ada bekas
yang menunjukan tanda-tanda sapuan roller maupun semprotan. Tebal
minimum dari tiap lapisan jadi/finished minimum sama dengan syarat
spesifikasi pabrik.
e. Apabila dari cat yang dipakai ada yang mengandung bahan dasar
beracun atau membahayakan keselamatan manusia, maka kontraktor
harus menyediakan peralatan pelindung misalnya masker, sarung tangan
dan sebagainya yang harus dipakai pada waktu pelaksanaan pekerjaan.
f. Tidak diperkenankan melaksanakan pekerjaan ini saat cuaca
lembab/hujan, berdebu.
Terutama pada pelaksanaan dalam ruangan, untuk cat dengan bahan
dasar beracun atau membahayakan keselamatan manusia, maka
ruangan tersebut harus mempunyai ventilasi yang cukup agar
penggantian udara berlangsung lancar. Dalam keadaan tertentu misalnya
untuk ruangan tertutup, kontraktor harus memakai kipas angin/fan untuk
memperlancar penggantian aliran udara.
g. Peralatan seperti kipas, roller, sikat kawat, pompa udara tekan/vacuum
cleaner, semprotan dan sebagainya harus tersedia dari kualitas/mutu
terbaik.
Persyaratan Teknis - 21

h. Khusus untuk semua cat dasar harus disapukan dengan kuas.


Penyemprotan hanya boleh dilakukan apabila disetujui direksi.
i. Pemakaian ampelas, pencucian dengan air maupun pembersihan dengan
kain kering terlebih dahulu harus mendapatkan persetujuan tertulis dari
direksi terkecuali disyaratkan lain dalam spesifikasi ini.
j. Selama pelaksanaan pekerjaan, kontraktor harus diawasi tenaga
ahli/supervisi dari pabrik pembuatnya.
k. Hasil akhir pengecatan harus membentuk bidang cat yang rata tidak
berbintik-bintik atau menggelembung dan hasilnya harus dijaga terhadap
kotoran yang mungkin melekat. Bila hasil pekerjaan tidak disetujui oleh
direksi, maka pengecatan harus diulang dan diganti.
l. Kontraktor harus melakukan pengecatan kembali apabila ada cat dasar
atau cat finish yang kurang menutupi atau lepas, sebagaimana ditunjukan
oleh direksi. Biaya untuk hal ini ditanggung oleh kontraktor dan bukan
sebagai pekerjaan tambah.

5. Pekerjaan Pengecatan Metal


Seluruh metal harus dicat dasar dengan zinchromate, baik yang ekpos (tampak)
ataupun yang tidak tampak.
a. Persiapan sebelum pengecatan.
Membersihkan permukaan dari kulit giling (kerak), karat, minyak, lemak dan
kotoran lain secara teliti seksama dan menyeluruh sehingga permukaan yang
dimaksud menampilkan tampak metal yang halus dan mengkilap. Pekerjaan
ini dilaksanakan dengan sikat kawat mekanik/Mechanical Wire Brush.
b. Pekerjaan cat primer/dasar dilaksanakan sebelum komponen bahan/material
metal terpasang.
c. Pekerjaan Cat Baja/Besi
 Lapisan Pertama
Cat primer jenis QD Metal Primer Red Lead. Pelaksanaan Pekerjaan
dengan Semprot Memakai kompresor. Ketebalan 50 mikron atau daya
sebar per liter adalah 8–10 m2. Tunggu selama minimum 6 jam sebelum
pelaksanaan pelapisan berikutnya.
 Lapisan Kedua
Persyaratan Teknis - 22

Cat dasar jenis Undercoat, pelaksanaan pekerjaan dengan Semprot


menggunakan kompresor. Ketebalan 35 mikron atau daya sebar per liter
adalah 10–13 m2. Tenggang waktu antar pelapisan minimum 6 jam
sebelum pelaksanaan pelapisan berikutnya.
 Lapisan Ketiga
Cat akhir/finish/jenis synthetic super gloss. Pelaksanaan pekerjaan
dengan semprot menggunakan kompresor. Ketebalan 30 mikron atau
daya sebar per liter adalah 15–17 m2. Tenggang waktu antar pelapisan
minimum 16 jam.

Pasal 17
PEKERJAAN PONDASI BATU KALI

Lingkup pekerjaan ini meliputi :


a. Galian Tanah, Pondasi batu kali
b. Finishing siar pondasi batu kali

Pekerjaan Galian
a. Galian tanah harus sesuai dengan ukuran dalam gambar atau sampai tanah yang
dianggap cukup menahan beban bangunan. Apabila diperlukan untuk
mendapatkan daya dukung yang baik, dasar galian harus dipadatkan/ ditumbuk.
b. Untuk Galian harus mencapai Lapisan tanah keras untuk menerima beban di
atasnya dan secara detail dapat dilihat pada gambar kerja.
c. Jika galian melampaui batas kedalaman, pemborong harus menimbun kembali dan
dipadatkan sampai kepadatan maksimum.
d. Hasil galian yang dapat dipakai untuk penimbunan harus diangkat langsung ke
tempat yang direncanakan, atau tempat sementara yang disetujui Direksi.
Persyaratan Teknis - 23

Pelaksanaan Pekerjaan Pondasi Batu Kali


1) Persyaratan pekerjaan galian pondasi harus memenuhi persyaratan galian
pondasi seperti terurai dalam pasal pekerjaan tanah dalam buku RKS ini.
Galian pondasi harus dilakukan sesuai dengan lebar lantai kerja pondasi,
dimensi atau seperti tercantum dalam gambar kerja dengan penampang lereng
galian kanan dan kiri dimiringkan 10 derajat keluar pondasi.
2) Galian harus diperiksa dan disetujui oleh Pengawas Lapangan.
3) Untuk menjaga lereng lubang galian agar tidak longsor, maka apabila
dianggap perlu oleh Pengawas Lapangan, kontraktor harus memasang
(casing) sementara.
Biaya untuk pekerjaan ini sudah termasuk dalam penawaran dan tidak
dapat diajukan sebagai pekerjaan tambah.

4) Konstruksi pasangan pondasi batu kali


- Pasangan batu kali untuk pondasi menggunakan adukan dengan
campuran adukan 1 pc : 3 ps.
- Adukan harus membungkus batu kali sedemikian rupa sehingga tidak
ada dari bagian pondasi yang berongga atau tidak padat, khusus pada
bagian tengahnya.
Pemasangan batu kali/belah disusun bersilang dan bagian nat/lubang kecil
diisi batu pecahan/kricak.
- Setiap jarak 150 cm atau seperti gambar harus ditanam stek tulangan beton
diameter 10 mm sedalam + 30 - 40 cm untuk pengait sloof dan pasangan
dinding bata, ukuran panjang stek tulangan adalah 50 cm atau sesuai
gambar.
- Dalam proses pengeringan, pondasi harus selalu dibasahi atau disiram air.
Selama pondasi belum mencapai bentuk profilnya, lubang galian tidak boleh
diurug.
- Pada setiap perletakan kolom beton, kolom praktis pada pondasi harus pula
ditanam stek tulangan kolom sedalam minimal 40 D, dengan diameter dan
jumlah tulangan yang sama dengan tulangan pokok .
Persyaratan Teknis - 24

Pekerjaan Finishing siar pondasi batu kali


1. Campuran siar pondasi batu kali 1SP : 2PP.
2. Pasir yang digunakan untuk siar adalah pasir pasang yang harus diayak
terlebih dahulu.
3. Permukaan siar tersebut harus penuh dan padat, tidak berongga, tidak
berlubang, tidak mengandung kerikil atau benda-benda lain yang
membuat cacat.
4. Pekerjaan siar pada permukaan pasangan batu kali sebelum siar
permukaan dibasahi terlebih dahulu dan siar-siarnya sudah dikeruk
sedalam 1 cm..

Pasal 18
PEKERJAAN PONDASI

Lingkup Pekerjaan
Semua pekerjaan pondasi seperti tercantum dalam gambar kerja diantaranya :
a. Pondasi Beton

Persyaratan Bahan
a. Pondasi Beton
a.1. Umum
Pekerjaan Pembuatan Pondasi beton meliputi mobilisasi, demobilisasi,
pengukuran, penggalian pondasi serta pengamannya, pengeringan air tanah,
perakitan tulangan besi dan pengecoran pondasi plat beton sesuai dengan
gambar rencana serta spesifikasi lain yang berhubungan.

Kontraktor diharuskan mengusulkan rencana kerja mulai dari kelengkapan


alat-alat yang akan dipakai sampai dengan siap pengecoran pondasi plat
beton dan harus memperhatikan kedalaman serta kondisi tanah.

a.2. Pelaksanaan Pondasi beton


Sebelum penggalian tanah dilakukan maka kontraktor wajib untuk
mempersiapkan semua alat Bantu yang dibutuhkan agar tidak terjadi
Persyaratan Teknis - 25

kelongsoran tanah pada saat pengecoran. Pengeboran ini dapat dilakukan


oleh tenaga manusia atau dengan metode lain yang disetujui oleh pihak
pengawas sampai mendapatkan kedalaman tanah yang direncanakan dari
muka tanah asli.

Tahap selanjutnya yaitu, pemasangan tulangan dimana jumlah tulangan besi


utama maupun sengkang serta panjangnya dapat dilihat pada gambar kerja.

Sebelum pemasukan rakitan besi dilakukan, maka harus dilakukan lagi


pengetesan terhadap kedalaman Pondasi plat karena yang dikhawatirkan
kedalaman berkurang dari sebelumnya. Apabila hal tersebut terjadi maka
lubang harus dibersihkan kembali dari Lumpur.

Tahap terakhir yaitu, pengecoran beton pondasi plat. Sebelum pengecoran


dilakukan maka kontraktor harus sudah mendapat ijin pengecoran dari pihak
Pengawas. Adapun mutu beton yang dipakai untuk pondasi plat ini adalah K-
225 dan mutu baja tulangan < diameter 12 mm adalah dipakai U-24 dan untuk
tulangan > diameter 16 mm dipakai U-32 ulir.

Jika dalam pelaksanaan terjadi penyimpangan sehingga lebih besar dari


toleransi yang diijinkan, maka pondasi tersebut tidak memenuhi syarat dan
harus diganti degan pondasi baru dengan lokasi yang akan ditentukan oleh
Konsultan Perencana. Semua beban biaya yang timbul akibat hal tersebut
diatas menjadi tanggung jawab kontraktor. Toleransi yang diberikan adalah
sebagai berikut :
a. Toleransi kelurusan vertical dibatasi maksimum 1:200 tetapi dalam segala
hal tidak boleh lebih besar dari 10 cm.
b. Toleransi posisi Horisontal ditentukan sebesar 5 cm ke segala arah atau
1/20 x diameter tiang bor ditentukan oleh nilai terkecil.
Persyaratan Teknis - 26

Persyaratan Bahan
a Semen
Semen yang digunakan harus terdiri dari satu jenis merek KELAS SATU
sekualitas Merek “Tiga Roda” dari mutu yang baik dan disetujui oleh Direksi .
Semen yang telah mengeras sebagian atau seluruhnya tidak diperkenankan
untuk digunakan. Untuk menghindari terjadinya hal tersebut diatas. Pemborong
harus memperhatikan syarat-syarat penyimpanan semen yang baik.
b. Pasir Beton
Pasir Beton harus terdiri dari pasir dengan butiran yang bersih dan bebas dari
bahan organis, lumpur dan sebagainya, sesuai dengan persyaratan yang
tercantum.
c. Koral/Kerikil Beton
Koral/kerikil beton yang digunakan harus bersih dari segala macam kotoran serta
mempunyai gradasi dan kekerasan sesuai dengan persyaratan yang tercantum
(ukuran 2/3 dan 1/2).
d. Air
Air yang akan digunakan harus air tawar yang bersih dan bebas dari bahan-
bahan organis, minyak garam alkalis, asam yang dapat merusak beton. Apabila
diperlukan, Direksi dapat meminta kepada pemborong untuk memeriksakan air
yang akan digunakan ke Laboratorium Pemeriksaan yang resmi dan sah atas
biaya pemborong.
e. Baja Tulangan
Mutu tulangan yang digunakan untuk tulangan <d 12mm adalah U-24, yaitu
tulangan dengan tegangan leleh karakteristik sebesar 2400 kg/cm2, sedangkan
untuk tulangan dengan diameter >16mm adalah U-32 (Ulir), yaitu tulangan
dengan tegangan leleh karakteristik sebesar 3.200 Kg/Cm 2 .
Tulangan yang akan digunakan harus bebas dari kotoran-kotoran (lumpur,
lemak dan karat). Kawat pengikat tulangan harus terbuat dari baja lunak dengan
diameter minimum 1 mm yang telah dipijarkan terlebih dahulu dan tidak
bersepuh seng. Kualitas tulangan yang digunakan adalah sekualitas keluaran
Pabrik Baja Krakatau Steel.
Persyaratan Teknis - 27

Pasal 19
PEKERJAAN BETON BERTULANG DAN TIDAK BERTULANG

Lingkup Pekerjaan meliputi :


a. Pekerjaan Beton Bertulang terdiri dari :
Pondasi Plat beton, Poer Pondasi, Sloof Beton, Kolom Struktur, Balok Struktur, Plat
Lantai Cor Setempat 12 cm, dan lain-lain sesuai dengan gambar kerja.

b. Pekerjaan Beton tidak bertulang terdiri dari :


Lantai kerja dan segala sesuatu yang nyata termasuk dalam pekerjaan ini sesuai
gambar.

Semua pekerjaan beton harus mengikuti persyaratan ketentuan yang tercantum pada:

a. Tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan gedung SKSNI T-15-2008-03
b. PUBB NI-3 tahun 2008, NI-8 tahun 1971
c. PMPU NO 11/PRT/M/2013 terutama mengenai :
1. Syarat-syarat bahan untuk semua pekerjaan beton
2. Syarat-syarat pelaksanaan pekerjaan beton
3. Syarat-syarat pekerjaan tulangan

Persyaratan Beton :

a. Untuk beton bertulang yang bersifat struktur mutu beton yang digunakan K-225
dimana beton harus mempunyai kekuatan tekan dan kareakteristik sebesar 225
kg/cm2 (minimal). Untuk mendapatkan mutu beton seperti yang disyaratkan (K-
225), maka Pemborong harus membuat MIX DESIGN di Laboratorium Beton milik
Pemerintah atau yang ditunjuk oleh Direksi, untuk mendapatkan komposisi
campuran dari bahan-bahan yang digunakan
b. Untuk beton bertulang yang bersifat praktis, seperti kolom praktis, balok lintel dll,
campuran beton yang digunakan adalah K-175 atau campuran 1PC : 2 PS : 3 KR.
c. Untuk beton tidak bertulang, adukan dibuat dengan campuran : 1PC : 3PS : 5KR,
seperti untuk lantai kerja dan lain-lain sesuai dengan gambar kerja.
Persyaratan Teknis - 28

Persyaratan Bahan
a. Semen Portland / PC
Semen Portland yang dipakai harus dari jenis I menurut peraturan Semen Portland
Indonesia (NI-8) atau British Standard No. 12 tahun 1965 Semen harus sampai di
tempat kerja dalam kondisi yang baik serta dalam kantong asli dari Pabrik. Merek
PC dianjurkan produksi dalam negeri seperti, Tiga Roda, atau yang setaraf
dipersyaratkan satu merek PC yang disetujui Konsultan Pengawas untuk seluruh
pekerjaan. Semen harus disimpan dalam gudangyang kedap air, cukup ventilasi di
atas lantai setingi 30 cm dari atas tanah. Penyimpanan harus berurutan dan
terpisah menurut menurut pengiriman. Kantong-kantong semen tidak boleh
ditumpuk lebih dari 10 lapis.
b. Pasir
1). Semua pasir yang akan dipakai harus pasir alam tidak di perkenankan memakai
pasir laut.
2). Pasir harus halus bersih dan bebas dari tanah liat, mika dan substansi lain yanjg
merugikan, beratnya tidak boleh lebih dari 5 %.
3). Kontraktor harus menyerahkan contoh pada Konsultan Pengawas sebagai
bahan pemeriksaan pendahuluan dan persetujuan, contoh seberat 15 kg dari
pasir alam yang diusulkan untuk dipakai sedikitnya 14 (empat belas) hari
sebelum diperlukan.
4). Timbunan pasir alam harus dibersihkan semua dari tumbuh-tumbuhan, kotoran
dan bahan-bahan lain yang tidak dapat dipakai harus disingkirkan. Bahan harus
diayak dan dicuci sebagaimana diperlukan untuk mengahasilkan
c. Agregat (Kerikil atau Batu Pecah)
Agregat dapat dipakai agragat alami atau buatan memenuhi persyaratan (NI-2)
pasaln 3.3, 3.4, dan 3.5 Agragat tidak boleh mengandung bahan yang dapat
merusak beton dan ketahanan tulangan terhadap karat. Untuk itu Kontraktor harus
mengajukan contoh yang memenuhi syarat dari berbagai sumber terlebih dahulu.
d. Air
Air untuk campuran dan pemeliharaan beton spesui/mortar dan speci injeksi harus
dari aiar yang bersih dan tidak mengandung zat-zat yang dapat merusak beton. Air
tersebut harus memenuhi syarat-syarat menurut (NI-2) pasal3.6.
e. Baja tulangan
Persyaratan Teknis - 29

1). Ukuran baja tulangan tersebut harus sesuai dengan gambar kerja, penggantian
dengan diameter lain harus dengan persetujuan tertulis dari direksi. Segala
biaya yang diakibatkan oleh penggantian tulangan terhadap gambar sejauh
Gambar Kerja adalah Kontraktor.
2). Semua baja tulangan harus disimpan pada tempat yang bebas lembab
disesuaikan diameter serta asal pembelian.
3). Semua baja tulangan harus dilindungi terhadap semua macam kotoran dan
lemak serta sejauh mungkin terhadap karat.

f. Bahan campuran (additives)


1). Pemakaian bahan tambahan kimiawi (Konkret admixtures additives) kecuali
yang disebut tegas dalam Gambar Kerja (RKS) harus seijin tertulis dari
Konsultan Pengawas.
2). bahan tambahan yang mempercepat pengerasan awal (initial set) tidak boleh
dipakai. Sedangkan untuk beton kedap air dalam tanah hidrostatik pressure
tidak boleh bahan kedap air yang mengandung bahan stearate.
3). Semua admixture yang akan digunakan ditentukan berdasarkan hasil pekerjaan
benda uji/contoh-contoh yang dibuat dan telah mendapat persetujuan
Konsultan Pengawas.
4). Untuk penyambungan kembali akibat terhentinya suatu pengecoran beton
dipakai bahan perekat CALBOND sebelum dicor dengan beton baru serta
permukaannya harus dikasarkan. Jumlah pemakaian untuk 1 M2 adalah 0,3 liter
CALBOND dicampur dengan larutan semen/PC sekitar 25 %nya dengan cara
ditaburkan.

g. Bekisting
1). Bekisting dibuat dari panel multiplex 12 mm atau papan borneo tebal minimal 2
cm dengan rangka penguat penyokong dan penyangga dibuat dari kayu borneo
5/7, 5/10 secukupnya, sehingga mampu mendapatkan kekakuan dan kekuatan
mendukung beton sampai selesai proses ikatan beton. Untuk kolom struktur
dipakai papan borneo tebal 3/20.
2). Steger cetakan/bekisting dipakai kayu borneo dengan ukuran minimum 5/10 cm
atau pipa besi (scaffolding). Tidak diperkenankan mempergunakan bambu.
Persyaratan Teknis - 30

3). Khusus cetakan bekisting untuk beton pracetak harus dibuat lebih kokoh dan
lebih kaku, permukaan panel lurus, halus sehingga menghasilkan bidang yang
rata dan halus.

Persyaratan teknis

a. Komposisi campuran beton


1). Beton dibentuk dari semen portland/PC, pasir, kerikil, batu pecah, air seperti
yang ditentukan ; semuanya dicampur dalam perbandingan yang sesuai dan
diolah sebaik-baiknya sehingga sampai didapat kekentalan yang tepat.
2). Untuk mengetahui karakteristik dari beton tersebut, harus memenuhi syarat
mutu beton, disertai sertifikat hasil pengujian laboratorium pengujian beton
dilaksanakan 4 (empat) kali tahapan.
3). Ukuran maksimum dari agragat kasar dalam beton tidak boleh melampaui
ukuran yand ditetapkan dalam persyaratan bahan beton dan harus
memperhitungkan celah lubang anatar tulang agar tidak terjadi rongga-rongga
beton.
4). Perbandingan antara bahan-bahan pembentuk beton yang dipakai untuk
berbagai pekerjaan (sesuai kelas mutu) harus ditetapkan dari waktu ke waktu
selama berjalannya pekerjaan demikian juga pemeriksaan terhadap agrqgat
dan beton yang dihasilkan. Pebandingan campuran dan faktor air semen yan
tepat akan ditetapkan atas dasar beton yang dihasilkan yang mempunyai
kekedapan, keawetan, dan kekuatan yang dikehendaki. Faktor air semen dari
beton tidak terhitung air yang dihisap oleh agregat dan tidak boleh melebihi
0,55 (dari beratnya). Pengujian beton akan dilakukan oleh Kontraktor dan
perbandingan-perbandingan campuran harus diubah jika perlu untuk tujuan-
tujuan seperti di atas dan Kontraktor tidak berhak claim atas perubahan-
perubahan yang demikian.

b. Pengujian dari Konsistensi Beton dan benda-benda uji Beton


1). Banyaknya air yang dipakai untuk beton harus diatur menurut keprluan untuk
menjamin beton dengan Konsistensi yangn baik dan untuk penyesuaian variasi
kandungan lembab atau gradasi (perbutiran) dari agregat waktu masuk dalam
mesin pengaduk (mixer). Penambahan air untuk mencairkan kembali beton
Persyaratan Teknis - 31

padat hasil pengadukan yang terlalu lama atau yang menjadi kering sebelum
dipasang tidak diperkenankan. Keseragaman konsistensi beton untuk setiap
kali pengadukan sengat perlu. Nilai slump dari beton (pengujian kerucut slump)
tidak boleh kurang dari 8 cm dan tidak melampaui 12 cm untuk segala beton
yang dipergunakan.

2). Kekuatan tekan dari beton harus ditetapkan melaui pengujian biasa dengan
silinder berukuran 15 x 30 cm atau kubus 15 x 15 x 15 cm atau kubus 20 x 20 x
20 cm dibuat dan diuji sesuai dengan NI-2 PBI 2008. Pengujian slump
disesuaikan dengan NI-2 PBI 2008 dan Kontraktor harus menyediakan fasilitas
yang diperlukan untuk mengerjakan contoh-contoh pemeriksaan yang
erpresetatif, frekuensi akan ditetapkan oleh Pengawas Lapangan (Pengawas
Lapangan).

c. Benda uji
Selama pengecoran beton harus terdapat benda-benda uji sebagai berikut :
- Minimum 1 benda uji setiap hari
- Minimum 20 benda uji pada akhir pelaksanaan
- Setiap pengecoran 5 m 3 dibuat 1 benda uji
- Yang terbesar menentukan

d. Persyaratan pelaksanaan
1). Rencana Cetakan
- Cetakan harus sesuai dengan bentuk dan ukuran yang diinginkan
pada Gambar Kerja. bahan yang akan dipakai untuk rencana cetakan harus
mendapat persetujuan dari Konsultan pengawas sebelum pembuatan
cetakan dimulai.
- Panel cetakan hanya boleh dipergunakan 2 (dua) kali bolak-balik, atau setiap
permukaan hanya 1 (satu) kali.
- Semua cetakan harus kokoh
Konstruksi untuk cetakan harus diperkuat dengan kaso secukupnya
sehingga menghasilkan beton yang lurus rata. Dipersyaratkan untuk beton
tampak (Exposed) adalah semi exposed aratinya setelah cetakan dibongkar
memberikan bidang yang rata dan hanya memerlukan sedikit penghalusan.
Persyaratan Teknis - 32

- Sebelum beton dicor permukaan panel cetakan diminyaki secara


merata untuk cegah lekatnya beton pada cetakan.
- Celah - celah antara papan atau panel cetakan harus rapat sehingga
pada waktu pengecoran tidak ada air adukan yang keluar.

2). Baja Tulangan


a). Baja tulangan beton sebelum dipasang harus bersih dari serpih-serpih,
karat minyak gemuk dan lapisan lain yang merusak atau mengurangi
daya lekat dalam beton. Bentuk baja tulangan sesuai dengan bentuk dan
ukuran yang tertera pada gambar.
b). Baja tulangan harus dipasang dengan teliti sesua dengan Gambar Kerja.
Agar tulangan tetap tepat di tempatya maka tulangan harus diikat kuat
dengan dengan kawat beton (bindraat) dengan bantalan blok-blok beton
cetak/beton decking atau kursi- kursibesi/cakar ayam, perenggang, specer
atau logam gantung (metal hanger) sesuai dengan kebutuhan. Dalam
segala hal untuk baja tulangan yang horizontal harus digunakan penunjang
yang tepat sehingga tidak akan ada batang yang turun.
c). Penempatan besi beton di dalam cetakan tidak boleh menyinggung
dinding atau dasar cetakan serta harus mempunyai jarak tetap
untuk setiap bagian - bagian konstruksi tertentu seperti : kolom dan
balok 2,5 cm, plat beton 1,5 cm.
d). Penyambungan Jika diperlukan untuk menyambung tulangan Overlap
pada sambungan untuk tulang - tulangan dinding tegak (vertikal)
dan kolom sedikitnya harus 40 (empat puluh) diameter batang.

3). Pengadukan, pengangkutan, pengecatan, pemadatan dan perawatan beton


harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan.

4). Mengaduk
Bahan-bahan pembentuk beton harus dicampur dan diaduk dalam “Mesin
Pengaduk Beton” yaitu Bath Mixer atau Portabel Continues Mixer, dalam hal ini
hars dujaga adukan plastis merata danntidak boleh ada bagian air yang tidak
terikat oleh bahan beton. Truk Pengaduk (Truck Mixer) diatur sedemikian rupa,
sehingga beton dari adukan ke adukan mempunyai konsistensi dan mutu yang
Persyaratan Teknis - 33

sama. Pengaduk yang sewaktu-waktu memproduksi dengan hasil yang tidak


memuaskan harus diperbaiki. Mesin pengaduk yang disentralisir (Batching
Mixing Plant) harus diatur, sehingga pekerjaan mengaduk dapat dapat diawasi
dengan mudah dari station operator. Tiap mesin pengaduk diperlengkapi
dengan alat mekanis untuk mengatur waktu dan jumlah adukan.

Disarankan memakai adukan beton siap pakai “Beton Ready Mix” agar kualitas
beton lebih konsisten dan lebih cepat dalam pelaksanaannya.
5). Suhu
Suhu beton waktu di Cor/dituang tidak boleh lebih dari 32 derajat dan biula suhu
dari beton yang ditaruh berada anatara 27 sampai 32 derajat celciuis, beton
harus diaduk di tempat pekerjaan untuk kemudian di Cor.
6). Pengangkutan Beton
Cara-cara dan alat-alat yang digunakan untuk pengangkutan beton harus
sedemikian rupa sehingga beton dengan komposisi dan kekentalan yang
diinginkan dapat dibawa ke tempat pekerjaan tanpa adanya pemisahan dan
kehilangan nilai slump.
7). Pengecoran
- Beton tidak boleh di cor sebelum semua pekerjaan cetakan bekisting selesai,
Ukuran dan letak baja tulangan baja tulangan beton sesuai dengan Gambar
Pelaksanaan pemasangan instalasi - instalasi yang harus ditanam, besi
penggantung plafond sesuai pola kerangka langit -langit, besi penggantung,
cable tray dan stek-stek penyokong dan pengikatan serta lain-lain telah
selesai dikerjakan. Sebelum pengecoran dimulai permukaan - permukaan
yang berhubungan telah disetujui Pengawas Lapangan.
- Sebelum pengecoran beton semua permukaan pada tempat
pengecoran beton (cetakan) harus bersih dari air yang tergenang,
reruntuhan dan barang lepas. Permukaan bekisting dari bahan -
bahan yang menyerap pada tempat-tempat yang akan di cor harus
dibasahi dengan merata sehingga kelembaban air dari beton yang baru di
cor tidak akan diserap.
- Pada pengecoran, beton baru ke permukaan beton yang telah di cor terlebih
dahulu permukaan beton lama tersebut harus bersih, dilembabkan dan
Persyaratan Teknis - 34

dikasarkan. Pada sambungan pengecoran ini harus dipakai perekat beton


yang disetujui oleh Pengawas Lapangan.
- Perlu diperhatikan letak jarak/sudut untuk setiap penghentian pengecoran
yang akan masih berlanjut terhadap sistem struktur/penulangan yang ada.
- Koordinasi dengan pekerjaan elektrikal, sanitasi dan mekanikal harus
dilakukan sebelum pengecoran dimulai. Terutama yang menyangkut pipa-
pipa sparing yang menembus/tertanam dalam beton untuk keprluan setiap
disiplin kerja.
- Beton boleh dicor hanya waktu Konsultan Pengawas serta Kontraktor ada di
tempat kerja dan persiapan betul-betul memadai.
- Dalam semua hal, beton yang akan dicor harus diusahakan agar
pengangkutannya ke posisi terakhir harus sependek mungkin, sehingga tidak
terjadi pemisahan antar kerikil dan spesi pada waktu pengecoran.
- Pengecoran beton untuk bagian yang vertikal seperti kolom, harus
menggunakan tremie dengan tinggi jatuh tidak boleh lebih dari 2 (dua) m.
Pengecoran beton untuk bagian horizontal seperti : plat, balok, parapet harus
dicor lapis demi lapis horizontal menyeluruh dengan ketebalan perlapis < 50
cm. Konsultan Pengawas mempunyai hak untuk mengurangi tebal tersebut
apabila pengecoran dengan tebal lapisaan 50 cm tidak dapat memenuhi
spesifikasi.
- Pengecoran beton tidak diperkenankan selama hujan deras atau lama
sehingga sedemikian rupa sehinggga speci/mortal terpisah dari agregat kasar.
Suatu pengecoran yang sudah dimulai pada suatu bagian tidak boleh
terputus sebelum bagian itu selesai.
- Setiap lapisan beton harus dipadatkan sepadat mungkin sehingga ia bebas
dari kantong-kantong kerikil dan menutup rapat-rapat semua permukaan dari
cetakan dan material yang diletakan. Dalam pemadatan setiap lapisan dari
beton kepala alat penggetar (Vibrator) harus dapat menembus dan
menggetarkan beton pada bagian atas dari lapisan yang terletak di bawah.
Lamanya penggetaran tidak boleh menyebabkan terpisahnya bahan beton
dengan airnya.
Persyaratan Teknis - 35

- Untuk pengecoran kolom, plat lantai ataupun balok, agar dalam


pelaksanaannnya lebih efektif diwajibkan menggunakan tremie yang
disediakan oleh Pengusaha “beton ready mix”.
8. Waktu dan Cara-cara Pembukaaan Cetakan
Waktu dan cara-cara pembukaan dan pemindahan cetakan, harus
dilakukan dengan hati-hati untuk menghindarkan kerusakan pada beton. Beton
baru dapat diijinkan dibebani setelah berumur 28 (dua puluh delapan) hari,
kecuali beton yang menggunakan bahan additives. Permukaan beton harus
diperiksa dengan teliti, permukaan yang tidak rata, berongga dan tidak
rata/rapi harus segera diperbaiki sampai disetujui oleh Pengawas Lapangan.
9. Perawatan (Curing)
Semua beton harus dirawat (cured) dengan air seperti ditentukan
dibawah ini. Beton yang dirawat (cured) dengan air harus tetap basah paling
sedikit 14 (empat belas) hari secara terus menerus sesudah beton cukup
keras, untuk mencegah kerusakan dengan cara menutupnya dengan bahan
yang dibasahi air atau dengan pipa berlubang. Pengawas Lapangan berhak
menentukan cara/sistem perawatan yang harus dilaksanakan pada tiap bagian
pekerjaan beton.
10. Perlindungan (Protection)
Kontraktor harus melindungi semua beton terhadap kerusakan-kerusakan
sebelum dapat diterima oleh Pengawas Lapangan. Permukaan beton yang
terbuka harus dilindungi dari sinar matahari yang langsung paling sedikit 3
(tiga) hari sesudah pengecoran. Perlindungan seperti itu harus dibuat efektif
secepatnya setelah pengecoran dilaksanakan.
11. Perbaikan permukaan beton
- Jika hasil pembukaan cetakan terdapat beton yang tidak tercetak dengan baik
menurut gambar atau diluar garis permukaan atau ternyata ada permukaan
yang rusak, hal itu dianggap tidak sesuai dengan spesifikasi dan harus
dibuang/dibongkar dan diperbaiki atas biaya pemborong. Apabila kerusakan
tersebut dapat diperbaiki atas izin Pengawas Lapangan dengan cara ditambal
pada tempat yang rusak, maka teknik penambalan harus dilaksanakan
sebagai berikut.
Persyaratan Teknis - 36

- Kerusakan yang memerlukan pembongkaran dan perbaikan ialah yang terdiri


dari ; sarang kerikil, kerusakan-kerusakan karena cetakan, lubang-lubang
baut, ketidakrataan dan bengkok kecil, maka dilaksanakan dengan
pemahatan kemudian digosok dengan gurinda. Lubang-lubang pahatan
harus diberi pinggiran tajam dan dicor sedemikian rupa sehingga pengisian
akan terkunci rapat ditempatnya. Semua lubang harus terus menerus
dibasahi selama 24 (dua puluh emapat) jam sebelum dicor.
13. Gambar Detail Pelaksanaan (Shop Drawing)
- Semua gambar detail pelaksanaan (shop drawing) harus memenuhi
persyaratan seperti yang terurai dalam RKS ini.
- Pembuatan cetakan beton (bekisting) yang menyangkut detail prinsip harus
di buat Shop Drawing untuk dimintakan persetujuan tertulis dari Pengawas
Lapangan.

Pasal 20
PEKERJAAN PAVING DAN URUGAN PASIR

14.1 Lingkup pekerjaan ini meliputi :


a. Galian Tanah perataan lantai kerja
b. Urugan Pasir 5 cm dibawah Paving blok
c. dan lai-lain sesuai dengan gambar kerja.

14.2 Pekerjaan Galian

a. Galian tanah harus sesuai dengan ukuran dalam gambar atau sampai tanah
yang dianggap cukup merataan/ waterp[ass paving. Apabila diperlukan untuk
mendapatkan daya dukung yang baik, dasar galian harus dipadatkan/
ditumbuk.
b. Untuk Galian harus mencapai Lapisan tanah keras untuk menerima beban di
atasnya dan secara detail dapat dilihat pada gambar kerja.
c. Jika galian melampaui batas kedalaman, pemborong harus menimbun kembali
dan dipadatkan sampai kepadatan maksimum.
d. Hasil galian yang dapat dipakai untuk penimbunan harus diangkat langsung ke
tempat yang direncanakan, atau tempat sementara yang disetujui Direksi.
Persyaratan Teknis - 37

14.3 Pekerjaan Urugan / Timbunan dan Pemadatan

a. Tanah yang dipergunakan untuk pengurugan harus dari tanah yang baik dan
memenuhi syarat teknis, bebas dari akar, bahan-bahan organis, barang
bekas/sampah dan terlebih dahulu harus mendapat persetujuan direksi dan jika
diizinkan dapat digunakan tanah bekas galian.
b. Tanah bekas galian harus ditimbun sedemikian rupa, sehingga tidak mengganggu
bouwplank dan lobang pondasi.
c. Urugan tanah peninggian lantai, harus dilaksanakan sesuai dengan gambar kerja.
Ukuran yang tercantum dalam gambar kerja adalah ukuran tanah urugan dalam
keadaan padat.
Pemadatan tanah peninggian lantai, harus menggunakan Stamper.
d. Lapisan pasir urug, harus dipadatkan dengan cara di timbris setelah terlebih dahulu
disiram air secara merata, sehingga urugan pasir tersebut benar-benar padat.

14.4 Pembentukan Muka Tanah ( finish grading )


Muka tanah dimana bangunan akan berdiri di atasnya harus dibentuk dengan rata
dan baik, sesuai dengan garis ketinggian atau kedalaman menurut gambar
rencana.

14.5 Harga satuan yang tercantum penawaran harus sudah mencangkup semua biaya;
pekerja-pekerja, pembersihan, penimbunan / pemadatan dan pembuangan hasil
galian.

Pasal 21

PEKERJAAN PENANAMAN POHON

1. PERSYARATAN BAHAN
Pemakaian bahan yang akan digunakan harus sesuai dengan apa yang
tercantum dalam gambar lanskap, memenuhi standart spesifikasi bahan yang telah
dipilih dan disetujui oleh pimpinan proyek dan owner.Bahan yang akan dipergunakan
harus diajukan dan diserahkan kepada Konsultan Manajemen Konstruksi pelaksanaan
Persyaratan Teknis - 38

lanskap untuk disetujui. Apabila terdapat perubahan jumlah pada gambar dan daftar
tanaman, maka jumlah pada gambar yang jadi patokan. Tanaman pengganti tidak
diperkenankan, kecuali atas sepengetahuan dan seijin Konsultan Manajemen
Konstruksi pelaksanaan lanskap.

2. PERSYARATAN PERSIAPAN PELAKSANAAN

2.1. Pengadaan / Penyediaan Bibit Tanaman


2.1.2. Kwalitas dan Ukuran
Kwalitas dan ukuran tanaman yang dipakai berasal dari stok nursery yang
sudah dalam keadaan tampungan, serta tidak menunjukan gejala-gejala tanaman akan
mengering dan mati.
Tanaman yang dipakai dalam ukuran yang sesuai dengan gambar rencana
atau sesuai ukuran siap tanam, yang telah ditentukan, siap untuk dipindahkan dan bola
akar tanaman masih dalam keadaan terbungkus atau dalam container (wadah) tanaman
pada saat tanaman disimpan atau belum ditanam.
Mutu tanaman adalah yang berciri khas sesuai dengan jenis atau varietas
tanaman itu sendiri. Semua tanaman memiliki bentuk percabangan yang normal, serta
bentuk perakaran yang lebat. Batang utaman tanaman bebas dari potongan dahan atau
rantung yang membusuk, goresan pada kulit batang. Dahan atau ranting harus bebas
dari kekeringan akibat sinar matahari, hama, serangga, serta segala bentuk infeksi
batang lainnya. Tanaman yang berasal dari nursery yang baik yang telah diperiksa dan
disetujui Konsultan Manajemen Konstruksi pelaksanaan lanskap.
Seluruh tanaman khususnya pohon dan perdu yang telah dipergunakan
memiliki bola akar yang sepadan bagi pertumbuhan akar, sepadan dengan tinggi
tanaman, dan harus terbebas dari penyakit sesuai dengan penilaian Konsultan
Manajemen Konstruksi Pelaksanaan Lanskap. Bola akar yang remah (tidak padat) atau
dibuat seolah-olah padat tidak akan diterima, kecuali untuk tanaman penutup tanah.
Dimensi ukuran tanaman adalah sebagaimana tanaman tersebut berdiri pada
posisi alamiah. Tidak diperkenankan melakukan penyamaan tinggi tanaman dengan
menaikkan atau menurunkan bola akar pada lubang tanaman. Keseragaman ukuran
tanaman ditentukan berdasarkan diameter batang. Diameter batang diukur pada posisi
30 cm dari permukaan tanah, tanaman-tanaman yang
besar apabila dipangkas untuk mendapatkan ukuran yang ditentukan tidak akan.
Persyaratan Teknis - 39

2.1.2. Pengiriman Bibit Tanaman


Dalam memperhitungkan cara-cara pengangkutan yang baik untuk
mengurangi kerusakan tanaman maka beberapa hal yang perlu diperhatikan :
- Kendaraan untuk pengangkutan harus tertutup pada bagian depan dan
samping, sedangkan dibagian belakang dan bagian atas terbuka.
- Tanaman terutama pohon yang tinggi, besar , dan berat hanya dapat diterima
bila ukuran bola atau sebaran akar berbanding sesuai dengan tinggi tanaman
dan bola akarnya padat sesuai dengan penilaian Konsultan perancang dan
Konsultan Manajemen Konstruksi Pelaksanaan Lansekap.
- Dahan dan daun dikurangi dan ditinggalkan seperlunya kemudian diikat supaya
tidak rusak. Perakaran dibungkus dengan karung dan diikat dengan kuat, jika
dibungkus dengan bahan plastic maka bahan itu harus dilepas sebelum
tanaman ditanam.
- Perletakan tanaman yang berukuran tinggi tidak diperkenankan dengan posisi
berdiri pada bak kendaraan , atau posisi yang menantang arah angin, tetapi
posisi yang diperkenankan adalah posisi tidur dengan letak tumbuhnya daun
mengarah ke bibir bak kendaraan sebelah belakang, atau searah dengan arah
angin.
- Rencana kedatangan tanaman harus diberitahukan kepada Konsultan
Manajemen Konstruksi pelaksana lansekap dan / Konsultan Manajemen
Konstruksi 6 hari sebelumnya. Kontraktor harus membuat formulir kedatangan
tanaman dan diserahkan kepada Konsultan Manajemen Konstruksi Pelaksana
Lanskap dan / Konsultan Manajemen Konstruksi untuk disetujui.
- Sebelum melakukan perjalanan dilakukan penyiraman yang cukup dan
mengenai sumua bagian dari tanaman, (kalau memungkinkan\) sebaiknya
pengangkutan dilakukan malam hari.
-
bongkar tanaman dilakukan dengan hati-hati, jangan sampai rusak baik
tanaman aupun tanahnya.
- Keteledoraan dalam tatacara pengiriman yang tidak memenuhi standart umum
dapat membuat tanaman tidak ditrima di lapangan, karena dapat
memungkinkan tanaman rusak atau mati.
Persyaratan Teknis - 40

2.2. Pengujian Bibit Tanaman


Dilakukan untuk mengetahui apakah bibit tanaman tersebut memenuhi
persyaratan yang telah ditemtukan.
Pengujian dilakukan di proyek yaitu :
1. Memeriksa jumlah dan jenis tanaman
2. Memeriksa keadaan setiap bibit tanaman :

- Pembungkus tanaman masih baik atau rusak


- Batang, dahan dan ranting ada yang patah atau tidak
- Pengukuran tinggi tanaman, dan diameter bola akar
- Perhatikan bentuk dan jenis tanaman
- Tanaman harus bebas dari hama penyakit

Tanaman tidak boleh ditanam oleh kontraktor sebelum diperiksa atau disetujui oleh
Konsultan Manajemen Konstruksi Pelaksana Lansekap dan /konsultan Manajemen
Konstruksi atau wakilnya yang berada di lokasi proyek. Tanaman atau material tanaman
lain yang tidak diterima atau disetujui oleh Konsultan Manajemen Konstruksi Pelaksana
Lanskap atau Konsultan Managemen Konstruksi harus segera dikeluarkan dari proyek.
Arsitek lansekap atau wakilnya adalah penentu tunggal dalam hal kualitas barang dan
diterima atau tidak diterimanya barang tersebut.

2.3. Penyimpanan Tanaman Sementara.


- Lahan penampungan dalam pengertian lapangan terbuka disediakan oleh
proyek dalam batasan bahwa lahan tersebut tidak bersifat permanent.
Apabila lahan tersebut akan dipergunakan untuk kepentingan konstruksi
bidang pekerjaan lain, maka lahan penampung siap untuk dipindahkan.
Disyaratkan kepada kontraktor untuk memiliki nursery sendiri yang
berlokasi tiak jauh dari lokasi proyek, serta memiliki jadwal pengiriman yang
akurat
- Tanaman yang disimpan pada tempat ini dipisahkan menurut jenis dan
ukuran .
- Penyimpanan bibit tanaman di proyek ditempatkan pada tempat yang
Persyaratan Teknis - 41

dingin, teduh dan terlindung dari hujan dan angin kencang, kemudian
disusun secara teratur untuk memudahkan dalam perawatan serta
pengontrolan.

2.4. Pengadaan Peralatan Kerja


- Dilakukan bersamaan waktunya dengan persiapan pengadaan bahan
penunjang lainnya.
- Seluruh peralatan kerja adalah milik kontraktor dengan standart
pemakaian
alat yang bertujuan untuk kepentingan hidup tanaman yang optimal.

3. PERSIAPAN PEKERJAAN TANAH

3.1. Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan ini meliputi :


- Penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan
alat bantu yang dibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan ini untuk mendapat
hasil yang baik.
Pekerjaan yang dilaksanakan dalam hal ini meliputi :
- Pekerjaan persiapan tanah
- Pembentukan tanah dan penyelesaian level penanaman.

3.2. Persyaratan Pekerjaan Tanah

- Dipakai peralatan yang cukup baik dan memenuhi syarat kerja


- Semua pekerjaan tanah dilaksanakan mengikuti petunjukgambar, uraian dan
syarat pekerjaan lansekap serta petunjuk pimpinan proyek.

3.3. Pekerjaan Persiapan Tanah


- Pekerjaan persiapan tanah ini meliputi pembongkaran, pemindahan,
pembersihan tempat kerja dari benda / bekas tanah asal (tanah sub soil,
benda/bekas bangunan /struktur bangunan yang tidak berguna lagi, yang
dapat mengganggu pelaksanaan dan kelancaran kerja di tempat tersebut.
Persyaratan Teknis - 42

- Sebelum melaksanakan penanaman, perlu dilaksanakan pemeriksaan status


keasaman tanah (PH) dan kondisi hara tanah/tingkat kesuburan tanah (N, P,
K, Ca, Mg) Catatan : Jika tanah tersebut tidak sesuai dengan ketentuan diatas,
maka tidak boleh digunakan dan harus diganti dengan tanah perkebunan
/tanah hitam dan gembur.
- Tanah disiram merata diseluruh area penanaman agar dapat diketahui rata
tidaknya permukaan tanah, jika didapat permukaan tanah yang tidak rata,
segera diisi kembali tanah baru dengan olahan yang sama. Khusus untuk area
rumput atau ground cover biarkan selama seminggu untuk proses
pembasmian.
- Untuk area rumput /ground cover setelah dua minggu rumput-rumput liar
tersebut dibasmi dengan herbisida (Round up) dan dibiarkan selama seminggu
untuk proses pembasmian.

4. PEKERJAAN PERSIAPAN PENANAMAN.

Semua pekerjaan dilaksanakan dengan mengikuti petunjuk gambar, uraian dan syarat
pekerjaan lansekap yang telah ditetapkan. Semua ukuran dan posisi harus tepat sesuai
gambar.
- Tanah yang dipersiapkan untuk pekerjaan penanaman benar-benar
dibersihkan dari batu kerikil. Adukan, kapur (segala bekas bahan bangunan),
bahan plastic , dan segala sampah lainnya.
- Lubang-lubang galian dibuat sesuai dengan posisi pohon / tanaman dengan
mengikuti petunjuk gambar konsultan lansekap, dan juga pada tanaman
perdu, semak dan ground cover, pelaksanaanya sesuai dengan gambar dan
keriteria yang diberikan ( tinggi pohon dan diameter batang ) dengan
persetujuan, Konsultan Manajemen Konstruksi pelaksana lansekap dan atau
Konsultan Manajemen Konstruksi.
- Pemasangan patok - patok berikut dengan keterangan koordinat pada posisi
perlu dilaksanakan terutama untuk patokan penanaman awal setiap jenis
pohon / tanaman. Patokan diambil berdasarkan pengukuran yang ditarik dari
as-as bangunan yang terdekat atau dari patokan –patokan yang ada dalam
site.
Persyaratan Teknis - 43

- Menjelang pelaksanaan penggalian lubang tanam, atau penancapan tongkat


penyangga tanaman ke dalam tanah. Kontraktor telah mempelajari dan
menyakini dengan pihak yang terlibat, bahwa pekerjaannya tidak akan merusak
jaringan utilitas di bawah tanah, kabel-kabel listrik, system penyiraman, dan
pipa air bawah lainya. Apabila terjadi kerusakan, maka kontraktor diwajibkan
untuk memberitahukan Konsultan Manajemen Konstruksi Pelaksana Lansekap
/Konsultan Manajemen Konstruksi sedini mungkin..

- Perbedaan antara gambar dan keadaan di lapangan harus dilaporkan kepada


pimpro dan / Konsultan Manajemen Konstruksi Lansekap dan / Konsultan
Manajemen Konstruksi yang telah ditunjuk untuk di ambil keputusan
pemecahan perihal perbedaan tersebut.
- Segala perubahan letak pohon dilapangan yang menyimpang dari ketentuan
gambar lansekap disebabkan keadaan lapangan, atas sepengetahuan dan
persetujuan Konsultan Manajemen Konstruksi Pelaksana Lansekap dan /
Konsultan Manajemen Konstruksi.
- Waktu penanaman sangat dianjurkan pada musim hujan dan kondisi cuaca
yang memungkinkan. Pelaksanaan penanaman yang berlaku (pagi hari sekitar
pukul 07.00 –09.00 atau sore hari sekitar pukul 15.00 – 17.00 dan tidak pada
saat hujan), Bila penanaman dilakukan pada saat kondisi cuaca yang buruk
serta tidak memperhatikan saran-saran yang diberikan oleh Konsultan
Manajemen Konstruksi Pelaksana Lansekap, maka bila terjadi kerusakan pada
tanaman adalah menjadi tanggung jawab kontraktor.

5. PENANAMAN POHON
- Tahap awal persiapan lubang tanam dengan mengecek PH dan kesuburan
kondisi tanah.
- Tanah galian dari lubang tanam yang telah disiapkan harus dicampur dengan
pupuk kandang murni sejumlah dua kali lebih banyak dari jumlah volume
masing-masing bagian.
- Tanah dasar lubang harus digemburkan, tidak boleh padat atau licin serta diberi
pupuk organikyang ditebar diatas dasar lubang setebal 15 cm dan tanah harus
bersih dari batu- batuan atau puing.
Persyaratan Teknis - 44

- Bilamana penanaman dilaksanakan pada musim hujan tabah galian dibuat


gundukan seperti pada gambar terlampir.
- Sebelum menanam, lubang disiram air terlebih dahulu.
- Pembungkus tanaman (terutama yang terbuat dari bahan plastic) harus di
lepas dengan hati- hati di dekat lubang yang telah tersedia atau disayat-sayat
pada bagian bawah dan lingkar pembungkus.
- Bibit tanaman dimasukkan dengan hati-hati ke dalam lubang yang telah
tersedia.
- Pengembalian media tanam ke dalam lubang tanam agar dilakukan secara
cermat agar tidak merusak atau memotong akar. Media tanam yang telah
berada di dalam lubang tanam, ditekan atau diinjak perlahan untuk mencegah
penurunan muka tanah yang berlebihandi kemudian hari.
- Tanah diurug sedikit demi sedikit dengan hati-hati disekitar bola akar sambil
memegang tegak berdirinya bibit pohon, kemudian dipadatkan supaya pohon
tidak goyah.Setiap pengembalian tanah ke dalam lubang setebal maksimum 30
cm, tanah harus segera disiram air dan dibiarkan air meresap ke dalam tanah,
baru kemudian ketebalan berikutnya menyusulsampai mencapai levelyang
diinginkan.
- Pada waktu memasukan tanah ke dalam lubang, maka tanah bawah (B)
dikembalikan ke bagian bawah dan tanah atas (A) dikembalikan ke bagian atas
juga.
- Pangkal batang pohon harus tepat pada atas permukaan tanah.
- Pohon-pohon yang ditanam di terasering mempunyai ketinggian 3,0 m.
- Diatas permukaan tanah urugan diberi mulsa kurang lebih 5 cm
- Kelebihan tanah akibat penggalian lubang tanam sesegera mungkindikeluarkan
dari lahan proyek oleh kontraktor.
- Setelah pekerjaan penanaman selesai, kemudian dipasang steger (penunjang)
pada dan diikat dengan ijuk.
- Daun yang terlalu tua harus dikurangi dengan maksud untuk membantu
mengurangi penguapan.
- Kemudian disiram dengan air sebanyak 10 liter untuk setiap pohon, dan
penyiraman dilakukan setiap hari 2 kali selama dua minggu setelah
penanaman, kecuali pada saat musim hujan, pagi (7,00 – 9,00 ) dan sore (
16,00 – 18,00 ).
Persyaratan Teknis - 45

Pasal 21
PENGASPALAN

Sebelum jalan dibangun maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah
pembersihan lahan, baik pembersihan dari pohon-pohonan maupun akar-akar
pohon,dan pemerataan tanah dengan menggunakan alat-alat seperti excavator.
• Foto/Dokumentasi Awal Untuk Dokumentasi Awal (0%) Proyek.
• Base Camp Setelah survey atau survey dikerjakan,
• Peralatan & Personel
1. Pengiriman Unit-unit peralatan Perkerasan Aspal Hotmix lengkap
dengan Unit Pemecah Batu.
2. Pengiriman Unit-unit Peralatan Pekerjaan Badan Jalan & Tanah.
3. Pengiriman Peralatan yang digunakan di Kantor Kontraktor untuk
Pelaksanaan Pekerjaan Administrasi Lapangan, serta peralatan
• Pekerjaan Awal
1. Pembuatan dan Pemasangan Papan Nama Proyek
2. Pembuatan Rambu Lalulintas Sederhana yang dibuat dari papan dan
dipasang disekitar Lokasi Pekerjaan / Base Camp
3. Pembuatan As Built Drawing
4. Pembangunan dan Pemasangan Stone Crusher
5. Pembangunan dan Pemasangan Asphal Mixing Plant

DRAINASE
• Pekerjaan Drainase akan dimulai dengan melakukan pengukuran situasi
dan elevasi dasar saluran,khususnya outlet dari existing saluran untuk
menentukan ketinggian (arah dan kelandaian) saluranrencana dengan
menggunakan titik ikat yang disetujui dan diikuti dengan pemasangan
patok serta profilkemiringan galian.

• Saluran drainase yang ada, untuk sementara direlokasi agar tetap


berfungsi sebelum pekerjaan drainaseyang permanen selesai dilaksakan,
kondisi ini dimaksudkan untuk menjaga aliran air disekitar lokasiproyek
dalam mengantisipasi musim hujan. Dewatering kemudian akan dilakukan
terhadap salurandrainase lama yang dipindahkan, sebelum pekerjaan
Persyaratan Teknis - 46

pelebaran jalan dilokasi bekas saluran drainasetersebut dilaksanakan.

• Untuk menjaga kestabilan pekerjaan pelebaran jalan, maka pekerjaan


penggalian dan penimbunanuntuk membentuk saluran drainase akan
dilaksanakan secara bertahap dan disesuaikan dengan progrespekerjaan
tersebut diatas.
• Pada daerah drainase yang telah tergali dan tebentuk serta elevasi dasar
saluran telah sesuai dengandimensi gambar kerja yang disetujui dan juga
telah dipadatkan, maka sesuai lokasi yang direncanakanakan dilanjutkan
dengan pekerjaan pemasangan batu dengan mortar.

• Untuk daerah saluran yang terbentuk dengan penimbunan, maka


pekerjaan pemasangan batu kali akandikerjakan apabila pekerjaan
penimbunan tersebut telah memperhatikan sesetabilan.

• Rehabilitasi Drainase Tepi Jalan :


Pekerjaan ini mencakup pembersihan tumbuh-tumbuhan dan pembuangan
benda-benda dari saluran tepi jalan ataupun dari kanal-kanal yang ada,
memotong kembali dan membentuk ulang saluran tanah yang ada untuk
perbaikan atau peningkatan kondisi asli, dan juga perbaikan saluran yang dilapisi
dalam ha saluran pasangan batu atau beton.

• Pelaksanaan Pekerjaan
1. Semua sampah, tumbuh-tumbuhan, endapan dan bahan -bahan
yang harus disingkirkan, harus dibuang dari saluran tanah,
termasuk dari Saluran yang memotong bahu jalan dan
menyambung kepada lubang tangkapan atau gorong –gorong.
2. Saluran-saluran dilapisi yang dalam kondisi jelek atau rusak harus
diperbaiki. Pasangan batu atau beton yang pecah-pecah, rusak
atau lepas harus dipotong dan diganti dengan pasangan batu atau
beton yang baru yang dilaksanakan sesuai dengan Gambar
Rencana dan RKS.
3. Cara Pengukuran Pekerjaan :Semua pengukuran harus dilakukan
di sepanjang sumbu saluran dan harus disediakan untuk seluruh
Persyaratan Teknis - 47

• Timbunan Biasa
Pekerjaan ini meliputi Pengadaan, Pengangkutan, Penghamparan dan Pemadatan
Material Timbunan, yang diperlukan untuk Pembentukan Kelandaian dan Elevasi
Penampang Badan Jalan.

Pekerjaan ini dilakukan secara mekanik (menggunakan peralatan berat).


Peralatan yang Digunakan :
1. Wheel Loader mengangkut material ke dalam Dump Truck
2. Dump Truck mengangkut material dari quarry ke lapangan
3. Material dihampar dengan menggunakan Motor Grader
4. Hamparan material disirami air dengan menggunakan Water Tank Truck (sebelum
pemadatan dilakukan) dan dipadatkan dengan menggunakan Vibrator Roller
5. Selama pemadatan sekelompok pekerja merapihkan tepi hamparan dan level
permukaan dengan menggunakan alat bantu

REHABILITASI BAHU JALAN

- Lapisan strukur perkerasan pada pelebaran jalan, akan dimulai


dari urutan pekerjaan penghamparantimbunan pilihan, agregat kelas B,
agregat kelas A, pekerjaan pengaspalan yang terdiri dari lapis ACBase,
AC Binder dan AC WC.

- Proses pemadatan akan dilakukan untuk menyiapkan tanah dasar


sebelum timbunan pilihan,penyiapan badan jalan tersebut dilakukan
dengan menggunakan alat pemadat mekanis danperapihannyadibantu
dengan tenaga manusia.

- Pekerjaan penghamparan lapis material timbunan pilihan, lapis


pondasi bawah (agregat kelas B) danlapis pondasi atas (agregat kelas A),
pada pekerjaan pelebaran akan dilakukan dengan menggunakanmotor
grader dan dipadatkan lapis per lapis dengan menggunakan Tandem
Roller. Untuk mendapatkankepadatan yang maksimum pada kadar air
optimum yang direncanakan, maka dilapangan akanditempatkan satu unit
water tank untuk sewaktu waktu akan diperlakukan dalam mengendalikan
Persyaratan Teknis - 48

kadarair saat proses pemadatan.


- Pekerjaan penghamparan dan pemadatan aspal panas (hotmix)
diatas permukaan agregat A yang telahdiprime coat akan dilaksanakan /
dimulai dengan lapisan AC Base, dilanjutkan dengan AC Binder
danACWC.
- Tack coat sebagai bonding akan dilakukan sebelum pekerjaan
lapisan untul ACBC dan ACWC.
- Pekerjaan ini terdiri dan peningkatan kembali dan pembentukan
kembali bahu jalan yang ada, termasuk pembersihan tumbuh-tumbuhan,
pemotongan, perapihan, pengurugan dengan bahan terpilih serta
pemadatan untuk mengembalikan bahu jalan mencapai garis, kemiringan
dan dimensi yang benar yang ditunjukkan pada Gambar Rencana atau
seperti yang diperintahkan dalam RKS.
- Penyiapan Lapangan. Semua tumbuh-tumbuhan harus dibongkar
dari bahu jalan yang ada, rumput, alang -alang, semak-semak dan
tumbuhan lainnya harus dipotong ulang seperlunya sebelum
pembentukan kembali.

Pembentukan Kembali

Bahu jalan yang harus dibentuk kembali oleh tenaga kasar, Excavator
atau motor grader. Pekerjaan tersebut mencakup pembongkaran daerah-
daerah yang tinggi, pengurugan daerah-daerah rendah dengan bahan
lebihan, dan pembentukan kembali bahu jalan tersebut sampai memenuhi
kelandaian, garis batas dan ketinggian

Pemadatan

Seluruh pembentukan kembali dan peningkatan bahu jalan harus


diikuti pemadatan dengan mesin gilas roda ban atau peralatan pemadatan
lain yang cocok yang disetujui oleh Direksi Teknik. Pemadatan harus
dilaksanakan sampai memenuhi persyaratan kepadatan normal untuk
mempersiapkan tanah dasar.
Persyaratan Teknis - 49

Pelaksanaan
- Penyiapan lapangan untuk menempatkan bahan bahu Jalan, termasuk galian
bahan yang ada dan perapian ujung Jalan kendaraan yang ada, dilaksanakan seperti
ditunjukkan pada Gambar Rencana.
- Tanah Dasar atau formasi harus disiapkan dan diselesaikan sesuai dengan
pekerjaan-pekerjaan yang ditentukan
- Bahu ja!an pada kedua sisi jalan tidak boleh dibangun pada waktu yang
bersamaan, harus dibangun satu sisi dulu, baru berikutnya pada sisi yang lain.

PERKERASAN ASPAL

• Lapis Resap Pengikat

Bahan lapis resap pengikat umumnya adalah aspal dengan penetrasi 80/100
atau penetrasi 60/70 yang dicairkan dengan minyak tanah. Volume yang
digunakan berkisar antara 0,4 sapai dengan 1,3 liter/ m2 untuk lapis pondasi
agregat kelas A dan 0,2 sampai 1 liter/m2 untuk pondasi tanah semen. Setelah
pengeringan selama 4 sampai 6 jam, bahan pengikat harus telah meresap
kedalam lapis pondasi. lapis resap pengikat yang berlebih dapat mengakibatkan
pelelehan (bleeding) dan dapat menyebabkan timbulnya bidang geser, untuk itu
pada daerah yang berlebih ditabur dengan pasir dan dibiarkan agar pasir tersebut
diselimuti aspal.

Kegunaan dari lapis resap pengikat adalah untuk :


– Memberikan daya ikat antara lapis pondasi agregat dengan campuran
aspal
– Mencegah lepasnya butiran lapis pondasi agregat jika dilewati
kendaraan sebelum dilapis dengan campuran aspal.
– Menjaga lapis podasi agregat dari pengaruh cuaca, khususnya hujan.
Sehingga air tidak
masuk ke dalam lapisan pondasi agregat yang bias saja menyebabkan
kerusakan struktur jalan.
Peralatan yang digunakan :
1. Aspalht Sprayer
Persyaratan Teknis - 50

2. Compressor
3. Dump Truck
4. Alat Ukur
5. Alat Bantu

• Lapis Perekat
Lapis perekat berfungsi untuk memberikan daya ikat antara lapis lama dengan
baru, dan dipasanag pada permukaan beraspal atau beton semen yang kering
dan bersih. Bahan lapis perekat adalah aspal emulsi yang cepat menyerap atau
asapal keras pen 80/100 atau pen 60/70 yang dicairkan dengan 25 sampai 30
bgian minyak tanah per 100 bagian aspal. Pemakaiannya berkisar antar 0,15
liter/m2 samapai 0,50 liter /m2. Lebih tipis dibandingkan dengan pemakaian lapis
resap pengikat.

• Cara Pemasangan
Pemasangan lapis resap pengikat dan lapis perekat digunakan alat asphalt
distributor. Asphalt Distributor adalah truk atau kendaraan lain yang dilengkapi
dengan aspal, pompa, dan batang penyemprot. Umumnya truk dilengkapi juga
dengan pemanas untuk menjaga temperatur aspal dan juga penyemprot tangan
(hand sprayer). Hand sprayer digunakan untuk daerah – daerah yang sulit dicapai
dengan batang penyemprot.

Sebelum dilakukan pemasangan harus dipastikan bahwa daerah yang akan


disemprot bebas dari kotoran dan debu – debu. lalu asphalt distributor harus
dikalibrasikan terlebih dahulu, seperti sudut nosel, ketinggian dan kecepatan
kendaraan. Ketinggian batang penyemprot diatru sedemikian rupa disesuaikan
dengan jarak nosel agar diperoleh penyemprotan yang tumpang tindih sebanyak
2 – 3 kali. penyemprotan dilakukan secara merata sepanjang jalan. Agar tidak
menggangu pekerjaan, pastikan pelaksana mengalihkan arus lalu lintas jika
dirasa perlu.
Persyaratan Teknis - 51

FINISHING :
• Tahap finishing
Pekerjaan selanjutnya adalah finishing pemadatan dan perataan jalan raya
dengan alat peneumatic roller

Pasal 22
PEKERJAAN PEMBONGKARAN, PENGAMAN DAN PEMBERSIHAN
SETELAH PEMBANGUNAN

1. Pembersihan tapak konstruksi dan pada semua pekerjaan yang termasuk dalam
Lingkup Pekerjaan seperti tercantum di gambar kerja dan terurai dalam buku RKS
ini dari semua barang atau bahan bangunan lainnya yang dinyatakan tidak
digunakan lagi setelah pekerjaan selesai menjadi tanggung jawab Kontraktor
bersangkutan.

2. Semua bekas bongkaran bangunan “Existing” dan sebagainya, harus dikeluarkan


dari tapak/site konstruksi.

3. Selama pembangunan berlangsung, kontaktor harus menjaga keamanan bahan


/material, barang maupun bangunan yang dilaksanakannya sampai tahap serah
terima.

Pasal 23
PEKERJAAN LAIN - LAIN

1. Hal-hal yang timbul pada pelaksanaan yang memerlukan penyelesaian di


lapangan akan dibicarakan dan diatur oleh Konsultan Pengawas dan Kontraktor,
bila diperlukan akan dibicarakan bersama Konsultan Perencana.
Persyaratan Teknis - 52

2. Sebelum penyerahan pertama, kontraktor wajib meneliti semua bagian pekerjaan


yang belum sempurna, dan harus diperbaiki dan semua barang yang tidak berguna
disingkirkan dari proyek.

3. Meskipun telah ada Pengawas dan unsur-unsur lainnya, semua penyimpangan dari
ketentuan gambar kerja dan bestek menjadi tanggungan pelaksana, untuk itu
Pelaksana harus menyelesaikan pekerjaan sebaik mungkin.

4. Semua yang belum tercantum dalam peraturan ini (RKS) akan ditentukan
kemudian dalam Rapat Penjelasan (Aanwijzing).

Pasal 24
PENUTUP

Segala sesuatu yang belum tercantum di dalam Rencana Kerja dan Syarat-Syarat
(RKS) ini, akan ditentukan kemudian pada Rapat Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing)
dan akan dimuat dalam Berita Acara Rapat Penjelasan.

Bandung, Juni 2017

Konsultan Perencana

Ir. M. Sofwan
Direktur