Anda di halaman 1dari 156

1

PENJELASAN
PERSYARATAN TEKNIS DAN BAHAN
Pasal 1
LINGKUP PEKERJAAN
1.1 Nama Pekerjaan
Nama Pekerjaan yang dilaksanakan adalah Pekerjaan Pembangunan Gedung Kuliah
2
Kampus II Seluas 2.752 m UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

1.2 Lokasi Pekerjaan


Jalan : Jl. Soekarno Hatta Bandung

1.3 Lingkup Pekerjaan

Adapun Pekerjaan yang dilaksanakan meliputi :


 Pekerjaan Persiapan
 Pekerjaan Struktur
 Pekerjaan Arsitektur
 Pekerjaan Elektrikal
 Pekerjaan Mekanikal
 Pekerjaan Interior
 Pekerjaan Site Development

dan Lain-lain sesuai gambar kerja

Pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh pemborong termasuk pula pengadaan


tenaga kerja, bahan-bahan, alat-alat dan segala keperluan yang berhubungan
dengan pekerjaan pembangunan yang dilaksanakan.

1.4 Acuan Pelaksanaan Pekerjaan


a. Syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang tercantum di dalam RENCANA
KERJA DAN SYARAT-SYARAT dan Bill Of Quantity pekerjaan ini ;
b. Gambar-gambar yang dilampirkan pada RENCANA KERJA DAN SYARAT-
SYARAT pekerjaan ini ;
c. Keterangan-keterangan dan gambar-gambar yang diberikan oleh Konsultan
kepada pelaksana pada waktu Rapat Penjelasan Pekerjaan/Rapat Aanwijzing
Pekerjaan /Risalah Aanwijzing.

Pasal 2
PERATURAN TEKNIS PEMBANGUNAN YANG DIGUNAKAN

1. Dalam melaksanakan Pekerjaan, kecuali bila ditentukan lain dalam Rencana Kerja dan
Syarat-syarat ini berlaku dan mengikat ketentuan-ketentua dibawah ini termasuk segala
perubahan dan tambahannya :
- Perpres No. 16 Tahun 2018 dan aturan turunannya..
- Keputusan-keputusan dari Majelis Indonesia untuk Arbitrasi Teknik dari Dewan
Teknik Pembangunan Indonesia.
- Peraturan Umum dari Dinas Keselamatan Kerja Departemen Tenaga Kerja.
- Peraturan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung SNI 03-2847 tahun 2002.
- Peraturan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung
SNI 1726 tahun 2012
- Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia NI-5 PKKI.
- Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia PPBI 1984.
2

- Peraturan Muatan Indonesia PMI.


- Peraturan Umum Bahan Bangunan Indonesia NI-3 PUBI 1970.
- Peraturan Umum Listrik Indonesia PUIL 1979 dan Peraturan PLN setempat.
- SK SNI No. T-15-1991-03.
- Peraturan Umum Instalasi Penangkal Petir Indonesia PUIPP.
- Pedoman Plumbing Indonesia PPI 1979.
- Persyaratan Cat Indonesia NI-4.
- Peraturan Semen Portland Indonesia NI-8.
- Peraturan Bata merah sebagai bahan bangunan NI-10.
- Peraturan dan ketentuan lain yang dikeluarkan oleh Jawatan/Instansi Pemerintah
setempat yang bersangkutan dengan masalah bangunan.

2. Untuk melaksanakan pekerjaan ini, berlaku dan mengikat pula :


a. Gambar Kerja yang dibuat oleh Konsultan Perencana dan disahkan oleh Pemberi
Tugas termasuk pula Gambar Detail Pelaksanaan (Shop Drawing) yang diselesaikan
oleh Kontraktor dan sudah disyahkan dan disetujui oleh Konsultan Pengawas.
b. Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) dan BoQ.
c. Gambar dan Berita Acara Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing).
d. Surat Keputusan Kuasa Pengguna Anggaran tentang Penetapan Kontraktor.
e. Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK).
f. Jadwal Pelaksanaan (Tentative Time Schedule) yang telah disetujui oleh Pengawas
Lapangan dan Pemberi Tugas.

Pasal 3
PENJELASAN RKS DAN GAMBAR

1. Kontraktor wajib meneliti semua Gambar Kerja, Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS);
termasuk tambahan dan perubahannya yang dicantumkan dalam Berita Acara Penjelasan
Pekerjaan.

2. Ukuran :
a. Pada dasanya semua ukuran utama yang tertera dalam Gambar Kerja meliputi :
As - As
Luar - Luar
Dalam - Dalam
Luar - Dalam
b. Khusus ukuran dalam Gambar Kerja Arsitektur pada dasarnya ukuran yang tertulis
adalah ukuran jadi terpasang atau dalam keadaan selesai/finished.

3. Perbedaan Gambar.
a. Bila suatu Gambar tidak cocok dengan Gambar yang lain dalam satu disiplin kerja,
maka Gambar yang mempunyai skala yang lebih besar yang berlaku / mengikat.
b. Bila ada perbedaan antara Gambar Kerja Arsitektur dengan Struktur, maka yang
berlaku / mengikat adalah Gambar Kerja Arsitektur sepanjang tidak mengurangi segi
Konstruksi dan kekuatan Struktur.
c. Bila ada perbedaan antara gambar Kerja Arsitektur dengan Sanitasi/Mekanikal, maka
Gambar Kerja yang dipakai adalah ukuran fungsional dalam Gambar Kerja Arsitektur.
d. Bila ada perbedaan antara Gambar Kerja Arsitektur dengan Elektrikal, maka yang
dipakai sebagai pegangan adalah ukuran fungsional dalam Gambar Arsitektur.
e. Bila ada perbedaan - perbedaan itu, ketidakjelasan, maupun kesimpangsiuran
menimbulkan keragu-raguan sehingga dalam pelaksanaan dapat menimbulkan
kesalahan, maka Kontraktor diwajibkan melaporkan kepada Pengawas Lapangan, dan
mengadakan pertemuan dengan Konsultan Perencana, untuk mendapatkan keputusan
dari Konsultan Perencana Gambar mana yang akan dijadikan pegangan.
3

f. ketentuan diatas tidak dapat dijadikan alasan oleh Kontraktor untuk memperpanjang
waktu pelaksanaan maupun mengajukan claim biaya pekerjaan tambah.

4. Gambar Detail Pelaksanaan (Shop Drawing).


a. Gambar Detail pelaksanaan atau Shop Drawing adalah Gambar Kerja yang wajib
dibuat Kontraktor berdasarkan Gambar Kerja Dokumen yang telah disesuaikan dengan
keadaan lapangan.
b. Kontraktor wajib membuat Shop Drawing untuk Detail-detail khusus yang belum
tercakup lengkap dalam Gambar Kerja Dokumen, maupun yang diminta oleh
Konsultan Pengawas dan atau Konsultan Perencana.
c. Dalam Shop Drawing ini harus jelas dicantumkan dan digambarkan semua data yang
diperlukan termasuk pengajuan contoh jadi dari semua bahan, keterangan produk,
cara pemasangan dan atau spesifikasi / persyaratan khusus sesuai dengan spesifikasi
pabrik yang belum tercakup secara lengkap dalam Gambar Kerja Dokumen maupun
Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS).

d. Kontraktor wajib mengajukan Shop Drawing kepada Konsultan Pengawas dan


Konsultan Perencana untuk mendapatkan persetujuan tertulis bagi pelaksanaan.

5. Gambar Hasil Pelaksanaan (As Built Drawings)


Kontraktor wajib membuat gambar-gambar yang sesuai dengan hasil pelaksanaan (As
Built Drawings) yang selesai sebelum serah terima ke 1, dan telah disetujui oleh
konsultan Pengawas dan diketahui oleh konsultan Perencana.

6. Kontraktor tidak dibenarkan mengubah atau mengganti ukuran-ukuran yang tercantum


dalam Gambar Kerja Dokumen tanpa sepengetahun Konsultan Pengawas. Segala akibat
yang terjadi adalah tanggung jawab Kontraktor, baik dari segi biaya maupun waktu
pelaksanaan.

Pasal 4
JADWAL PELAKSANAAN

1. Sebelum memulai pekerjaan di lapangan, Kontraktor wajib membuat rencana kerja


pelaksanaan dan bagian-bagian pekerjaan berupa Bar Chart dan S-Curve Bahan dan
Tenaga dan mengkoordinasikan hasilnya kepada Pengawas Lapangan, sehingga
pelaksanaan pekerjaan terkendali dan tidak menggangu kelancaran proyek secara
keseluruhan dan kelancaran kegiatan disekitar lokasi pekerjaan.
2. Rencana Kerja tersebut harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Pengawas
Lapangan, paling lambat dalam waktu 7 (tujuh) hari kalender setelah SPK diterima
Kontraktor. Rencana Kerja yang telah disetujui oleh Konsultan Pengawas, akan
disyahkan oleh Pemberi Tugas.
3. Kontraktor wajib memberikan salinan Rencana Kerja 4 (empat) rangkap kepada
Pengawas Lapangan, 1 (satu) salinan Rencana Kerja harus ditempel pada bangsal
Kontraktor di lapangan yang selalu diikuti dengan grafik kemajuan pekerjaan/prestasi
kerja.
Pasal 5
LAPORAN HARIAN

1. Pelaksana Lapangan setiap hari akan membuat laporan harian mengenai segala hal
yang berhubungan dengan pelaksanaan pembangunan / pekerjaan, baik teknis maupun
administratif.
2. Dalam pembuatan laporan tersebut pihak pemborong harus memberikan data-data
yang diperlukan menurut data dan keadaan sebenarnya.
3. Laporan tersebut harus diserahkan kepada Pemberi Tugas/Pengawas Lapangan
sebagai bahan monitoring.
4

Pasal 6
KUASA KONTRAKTOR DILAPANGAN

1. Dilapangan pekerjaan Kontraktor wajib menunjuk seorang kuasa Kontraktor atau biasa
disebut Pelaksana yang cakap untuk memimpin pelaksanaan pekerjaan dilapangan dan
mendapat kuasa penuh dari Kontraktor.
2. Dengan adanya Pelaksana, tidak berarti bahwa Kontraktor lepas tanggung jawab
sebagian maupun keseluruhan terhadap kewajibannya.
3. Kontraktor wajib memberi tahu kepada Tim Pengelola Teknis dan Konsultan Pengawas,
nama dan jabatan Pelaksana untuk mendapatkan persetujuan.
4. Bila dikemudian hari menurut Tim Pengelola Teknis dan Konsultan Pengawas,
Pelaksana kurang mampu atau tidak cukup cakap memimpin pekerjaan, maka akan
diberitahu kepada Kontraktor secara tertulis untuk mengganti Pelaksana.
5. Dalam waktu 7(tujuh) hari kalender setelah dikeluarkan Surat Pemberitahuan, Kontraktor
harus sudah menunjuk Pelaksana baru atau Kontraktor sendiri (Penanggung jawab/
Direktur Perusahaan) yang akan memimpin pelaksanaan.

Pasal 7
TEMPAT TINGGAL (DOMISILI) KONTRAKTOR

1. Untuk menjaga kemungkinan kerja diluar jam kerja apabila terjadi hal-hal yang mendesak,
Kontraktor dan Pelaksana wajib memberitahukan secara tertulis alamat dan nomor
telepon di lokasi kepada Tim pengelola Teknis setempat dan Konsultan Pengawas.
2. Kontraktor wajib memasukan identifikasi dan alamat Bengkel kerja (Workshop) dan
peralatan yang dimiliki dimana pekerjaan pemborongan akan dilaksanakan.
3. Alamat Kontraktor dan pelaksana diharapkan tidak berubah selama pekerjaan. Bila terjadi
perubahan alamat Kontraktor, Pelaksana wajib memberitahukan secara tertulis.

Pasal 8
PENJAGA KEAMANAN LAPANGAN

1. Kontraktor diwajibkan menjaga keamanan lapangan terhadap barang-barang milik


Proyek, Pengawas Lapangan dan milik Pihak Ketiga yang ada dilapangan.
2. Bila terjadi kehilangan bahan-bahan bangunan yang telah disetujui Pengawas Lapangan/
Konsultan Perencana, baik yang telah dipasang maupun yang belum, adalah tanggung
jawab Kontraktor dan tidak akan diperhitungkan dalam biaya pekerjaan tambah.
3. Apabila terjadi kebakaran, Kontraktor bertanggungjawab atas akibatnya, baik yang
berupa barang-barang maupun keselamatan jiwa. Untuk itu Kontraktor diwajibkan
menyediakan alat-alat pemadam kebakaran yang siap dipakai yang ditempatkan di
tempat-tempat yang akan ditetapkan kemudian oleh Konsultan Pengawas.

Pasal 9
JAMINAN DAN KESELAMATAN KERJA

1. Kontraktor diwajibkan menyediakan obat-obatan menurut Syarat-syarat Pertolongan


Pertama Pada Kecelakaan (PPPK) yang selalu dalam keadaan siap digunakan di
lapangan, untuk mengatasi segala kemungkinan musibah bagi semua petugas dan
pekerja dilapangan.
2. Kontraktor wajib menyediakan air minum yang cukup bersih dan memenuhi syarat-syarat
kesehatan bagi semua Petugas dan Pekerja yang ada dibawah kekuasaan Kontraktor.
3. Kontraktor wajib menyediakan air bersih, Kamar Mandi dan WC yang layak dan bersih
bagi semua Petugas dan pekerja.
4. Tidak diperkenankan membuat penginapan didalam lapangan pekerjaan untuk Pekerja,
kecuali untuk Penjaga Keamanan.
5. Segala hal yang menyangkut jaminan sosial dan keselamatan para pekerja wajib
diberikan oleh Kontraktor sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
5

Pasal 10
ALAT-ALAT PELAKSANAAN

Semua alat-alat untuk pelaksanaan pekerjaan harus disediakan oleh Kontraktor, sebelum
pekerjaan fisik dimulai, dalam keadaan baik dan siap pakai, antara lain :
a. Beton Molen yang jumlahnya minimal 2 Buah dalam kondisi yang baik.
b. Theodolit dan Waterpass yang telah diijinkan oleh Pengawas Lapangan.
c. Perlengkapan penerangan untuk kerja lembur.
d. Pompa air sesuai kebutuhan untuk sistem pengeringan, jika diperlukan.
e. Penggetar beton (vibrator).
f. Scafolding
g. Mesin Pemadat.
h. Alat-alat besar sesuai dengan besaran (magnitude) pekerjaan tanah apabila diperlukan.
i. Alat Megger, alat ukur listrik, dan alat ukur lainnya.
j. Mesin Pemotong keramik
k. Mesin Pemotong Allumunium
l. Mesin Pemotong Baja
k. dan lain-lain disesuaikan dengan lingkup pekerjaannya.

Pasal 11
SITUASI

11.1 Hal mana pembangunan akan diserahkan kepada pelaksana sebagaimana adanya
pada waktu rapat penjelasan, untuk itu para calon Pemborong wajib meneliti situasi
medan terutama kondisi tanah bangunan, sifat dan luasnya pekerjaan dan hal lain
yang berpengaruh terhadap harga penawaran.
11.2 Kelalaian dan kekurang telitian dalam hal ini tidak dapat dijadikan alasan untuk
klaim dikemudian hari.
11.3 Dalam rapat penjelasan akan ditunjukan dimana pembangunan akan dilaksanakan.

Pasal 12
PEKERJAAN PERSIAPAN TAPAK

Pekerjaan Persiapan Tapak meliputi :


12.1 Pembuatan jalan masuk sementara untuk lalu-lintas orang dan bahan.
Peletakan jalan masuk sementara, diatur sedemikian rupa sehingga tidak
mengganggu lalu lintas kerja.
12.2 Pembuatan saluran pembuangan sementara untuk menjaga agar areal pekerjaan
selalu dalam keadaan kering.
12.3 Pengadaan air untuk keperluan pekerja dan pekerjaan, kualitas air harus baik dan
memenuhi persyaratan kerekatan.
Pengadaan listrik kerja dan pembuatan tempat pembuangan air kotor sementara.

Pasal 13
PEKERJAAN PERSIAPAN BANGUNAN

1. Lingkup Pekerjaan.
a. Pekerjaan pagar konstruksi/pengaman.
b. Pekerjaan pembuatan bangsal kerja
c. Pekerjaan penyediaan air dan daya listrik untuk bekerja.
d. Pekerjaan penyediaan alat pemadam kebakaran.
e. Pekerjaan Drainage tapak sementara.
f. Pekerjaan jalan masuk dan jalan konstruksi sementara.
g. Pekerjaan pembongkaran, pengamanan dan pembersihan sebelum pelaksanaan.
h. Pekerjaan pemasangan patok ukur dan papan bangunan (bouwplank)
i. Perijinan dan lain lain.
6

2. Pekerjaan Pagar Konstruksi/Pengaman.

a. Kontraktor harus membuat pagar konstruksi/pengaman pada batas sekeliling tapak


pekerjaan untuk kelancaran pelaksanaan pembangunan, serta untuk pengaman
terhadap barang-barang milik Proyek, Konsultan Pengawas maupun Pihak Ketiga.
b. Pagar konstruksi/pengaman dibuat dari bahan kayu atau bahan lain.

3. Pekerjaan Bangsal Kerja / Direkskeet.

a.Kontraktor harus membuat bangsal kerja dan gudang material/bahan diatas tapak
pekerjaan.
Bangsal Kerja terdiri dari :
- Bangsal Konsultan Pengawas
- Bangsal Kontraktor
- Los - los kerja untuk Pekerja.

b. Luas Bangsal/Direkskeet adalah 30 m2 (tiga puluh) meter persegi dengan spesifikasi :


- Lantai plesteran 1 PC : 5 pasir
- Rangka bangunan : kayu kelas II
- Dinding : panel tripleks/multipleks tebal 4 mm, dengan rangka kayu kelas II
- Atap : Asbes semen gelombang, seng gelombang, dengan rangka kayu kelas II
- Jendela : kayu kelas II, dengan jumlah secukupnya
- Pintu : kayu kelas II, jumlah secukupnya dan dapat dikunci dengan baik.
- Dilengkapi dengan sebuah kamar mandi/WC dan tempat cuci tangan dengan
persediaan air yang cukup

c. Perlengkapan Bangsal Konsultan Pengawas :


- Meja tulis + kursi
- Papan tulis ukuran 90 x 180 cm (White Board)
- Alat-alat tulis (spidol,tipp ex) dan mesin tik
- Papan untuk menempelkan gambar
- Meja besar / meja rapat ukuran 100 x 200 cm
- Kursi untuk perlengkapan meja besar kapasitas minimal 8 Orang
- Peti untuk contoh bahan.
- 1 (satu) buah almari yang dapat dikunci
- 6(enam) buah Helm Proyek Untuk Direksi
- 6 (enam) buah Sepatu Boot untuk Direksi

d. Kontraktor harus pula membuat Bangsal Los kerja (workshop) untuk para pekerja dan
gudang penyimpan bahan/material yang dapat dikunci.
e. Lokasi tempat bangsal kerja, khususnya gudang penyimpanan bahan/material harus
sedemikian rupa sehinggga :
- Mudah dicapai oleh truk pengangkut bahan/material dari luar tapak.
- Tidak mengganggu pelaksanaan pekerjaan pembangunan
Lokasi tempat Bangsal kerja dan gudang penyimpanan bahan/material akan
ditentukan oleh Konsultan Pengawas.

4. Pekerjaan Penyediaan Air dan Daya Listrik untuk Bekerja

a. Air untuk bekerja harus disediakan oleh Kontraktor dengan membuat sumur pompa di
tapak atau didatangkan dari luar tapak dan disediakan pula tempat penampungannya.
Air harus bersih bebas dari bau, bebas dari lumpur, minyak dan bahan kimia lain yang
merusak. Penyediaan air harus sesuai dengan petunjuk dan persetujuan Konsultan
Pengawas.
7

b. Kontraktor harus membuat tempat penampungan air yang senantiasa terisi penuh
untuk sarana kerja dengan kapasitas minimal 3,5 m3, dibuat dari pasangan bata merah
setengah bata dengan spesi 1 PC : 3 pasir dan diplester, atau dari drum-drum.
c. Listrik untuk bekerja harus disediakan Kontraktor dan diperoleh dari sambungan
sementara PLN setempat selama masa pembangunan berlangsung dan
pemasangan diesel untuk pembangkit tenaga listrik hanya diperkenankan untuk
penggunaaan sementara atas persetujuan Konsultan Pengawas.

5. Pekerjaan Penyediaan Alat Pemadam Kebakaran

Selama pembangunan berlangsung, Kontraktor wajib menyediakan tabung alat pemadam


kebakaran (fire Extinguiser) lengkap dengan isinya sehingga siap digunakan, minimal 1
buah kapsitas 5 kg.

6. Pekerjaan Drainase Tapak Sementara

a. Dipersyaratkan tidak boleh ada genangan air didalam tapak selama pekerjaan
berlangsung. Untuk itu Kontraktor wajib membuat saluran sementara yang berfungsi
untuk pembuangan air dengan memperhatikan dan mempertimbangkan kontur tanah
yang ada di tapak.
b. Disarankan sebaiknya saluran drainase tapak sementara sesuai dengan rencana tapak
dalam gambar kerja dokumen dan petunjuk Konsultan Pengawas.

7. Pekerjaan Jalan Masuk dan Jalan Konstruksi/Sementara

a. Jalan masuk dan jalan konstruksi/sementara harus diadakan oleh Kontraktor menurut
petunjuk pada Gambar Kerja Dokumen atau petunjuk dan persetujuan Konsultan
Pengawas.
b. Disarankan sebaiknya posisi, letak dan jalur masuk dan jalan konstruksi/sementara
sesuai dengan rencara jalan jalan aspal dalam Gambar Kerja Dokumen.
c. Sewa jalan masuk, mengingat lahan yang berkontur cukup besar, maka perlu ada jalan
masuk lagi untuk memudahkan mobilisasi barang, tempatnya akan ditunjukkan
langsung oleh Konsultan Pengawas.

8. Pekerjaan Pembongkaran, Pembersihan dan Pengamanan sebelum Pelaksanaan

a. Pembongkaran dan Pembersihan.


Kontraktor harus membongkar/membersihkan/memindahkan keluar dari tapak segala
sesuatu yang tidak akan dipakai selama pembangunan yang mungkin akan
mengganggu pelaksanaan pekerjaan baik diatas maupun tertanam dalam tanah tapak,
sesuai dengan petunjuk dan persetujuan Konsultan Pengawas.

b. Hasil pembongkaran, pembersihan dan penebangan harus dikeluarkan dari dalam


tapak, sesuai dengan peraturan setempat

c. Pengamanan
1).Kontraktor harus melindungi dan mengamankan dari segala kerusakan selama
pelaksanaan pekerjaan terhadap segala sesuatu yang dinyatakan oleh Konsultan
Pengawas tidak boleh dibongkar, baik berupa bangunan, bagian dari bangunan,
jaringan listrik, gas, saluran air minum, drainase, maupun pepohonan yang telah
ada. Khusus untuk pepohonan yang dipertahankan, harus dilindungi selama
pelaksanaan pembangunan agar tidak mati.

2).Apabila terjadi kerusakan atas segala sesuatu yang dinyatakan dipertahankan,


Kontraktor wajib memperbaiki hingga keadaan semula.
Dalam hal ini, biaya adalah tanggungjawab Kontraktor, tidak dapat diajukan
sebagai "claim" biaya pekerjaan tambah.
8

3).Apabila segala sesuatu yang dinyatakan dipertahankan mengganggu


pelaksanaan pekerjaan, maka Kontraktor harus memindahkannya atas
persetujuan Konsultan Pengawas.

d. Biaya untuk pekerjaan pembongkaran, pembersihan, pengamanan menjadi


tanggungjawab Kontraktor, tidak dapat diajukan sebagai "claim" biaya pekerjaan
tambah.

9. Pekerjaan Pemasangan Patok Ukur dan Papan Bangunan (Bouwplank)

a. Patok Ukur
1). Patok ukur dibuat dari beton bertulang secukupnya, berpenampang 10 x 10 cm,
tertancap kuat ke dalam tanah sedalam 100 cm dengan bagian yang muncul diatas
muka tanah cukup untuk memberikan indikasi peil +0,00, sesuai dengan gambar
kerja. Indikasi selanjutnya selain tersebut di atas agar dicantumkan pada patok ukur
sesuai petunjuk Konsultan Pengawas.
2). Pada dasarnya patok ukur ini dibutuhkan sesuai dengan patokan ketinggian atau
peil permukaan yang ada dan tercantum dalam gambar kerja.
3). Jumlah patok ukur yang harus dibuat oleh Kontraktor pada tiap bagian pekerjaan
atau bangunan adalah minimal 2(dua) buah dan lokasi penanamannya sesuai
petunjuk dan persetujuan Konsultan Pengawas, sedemikian rupa sehingga tidak
mengganggu atau terganggu selama pelaksanaan pembangunan berlangsung.
4). Patok ukur adalah permanen, tidak dapat diubah, harus diberi tanda yang jelas, dan
dijaga keutuhannya sampai pelaksanaan pembangunan selesai dan ada instruksi
dari Konsultan Pengawas untuk dibongkar.

b. Papan Bangunan (Bouwplank)


1). Papan bangunan (Bouwplank) dibuat dari Kayu Borneo dengan ukuran tebal 2 cm
dan lebar 15 cm, lurus dan diserut rata pada sisi sebelah atasnya.
Papan bangunan dipasang pada patok Kayu Borneo 5/7 cm yang jaraknya satu
sama lain adalah 150 cm, tertancap kuat di tanah sehingga tidak dapat
digerak-gerakkan atau diubah.
2). Papan bangunan dipasang minimal sejarak 200 cm dari as pondasi terluar.
3). Tinggi sisi atas bangunan harus sama satu dengan yang lain dan atau rata
"waterpass", kecuali dikehendaki lain oleh Konsultan Pengawas.
4). Setelah selesai pemasangan papan bangunan, Kontraktor harus melaporkan
kepada Konsultan Pengawas untuk mendapatkan persetujuan. Kontraktor harus
menjaga dan memelihara keutuhan dan ketepatan letak papan bangunan ini
sampai tidak diperlukan lagi.

10. Perijinan dan lain lain

01. a. Ijin Bangunan (IMB)


Ijin bangunan secara administrasi akan diurus oleh Pemberi Tugas, dalam
pelaksanaannya ijin bangunan akan diurus oleh Kontraktor.
Biaya ijin Bangunan sudah termasuk dalam pekerjaan ini dan menjadi
tanggung jawab Kontraktor

b. Papan Reklame
Kontraktor tidak diperkenankan menempatkan papan reklame dalam bentuk
apapun dalam lingkungan halaman tapak pekerjaan atau pada pagar
halaman pekerjaan.

c. Papan Nama Proyek.


Kontraktor diwajibkan memasang Papan Nama Proyek sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
9

02. Administrasi Lapangan dikerjakan tiap harinya


03. setiap Kemajuan Pekerjaan harus didokumentasikan dari mulai kondisi eksisting
sampai pekerjaan selesai 100%.
04. Mobilisasi dan Demobilisasi Tiang Pancang (Jacking Pile) 120 Ton

Pasal 14
PEKERJAAN TANAH DAN PASIR

14.1 Lingkup pekerjaan area gedung ini meliputi :

a. Galian Tanah Poer Pondasi


b. Galian Tanah Sloof
c. Galian Tanah Pondasi Batu Kali
d. Galian Tanah Pondasi Turap Batu Kali
e. Galian Tanah Pit Lift
f. Urugan Kembali
g. Urugan Pasir dibawah Pondasi Poer, Sloof 7 cm
h. Urugan Pasir dibawah pondasi batu kali 5 cm
i. Urugan Pasir dibawah Plat Lantai Dasar Bangunan dan Entrance 10 cm
j. Urugan Tanah Peninggian Lantai Bangunan 80 cm (Fill)
k. Urugan Pasir dibawah Lantai 5 cm
l. Galian Tanah Saluran
m. dan lain-lain sesuai dengan gambar kerja.

14.2 Pekerjaan Galian

a. Galian tanah harus sesuai dengan ukuran dalam gambar atau sampai tanah yang
dianggap cukup menahan beban bangunan. Apabila diperlukan untuk
mendapatkan daya dukung yang baik, dasar galian harus dipadatkan/ ditumbuk.
b. Untuk Galian Tanah Tiang Pancang harus mencapai Lapisan tanah keras dari
muka tanah asli dan secara detail dapat dilihat pada gambar kerja.
c. Jika galian melampaui batas kedalaman, pemborong harus menimbun kembali
dan dipadatkan sampai kepadatan maksimum.
d. Hasil galian yang dapat dipakai untuk penimbunan harus diangkat langsung ke
tempat yang direncanakan, atau tempat sementara yang disetujui Direksi.

14.3 Pekerjaan Urugan / Timbunan dan Pemadatan

a. Tanah yang dipergunakan untuk pengurugan harus dari tanah yang baik dan
memenuhi syarat teknis, bebas dari akar, bahan-bahan organis, barang
bekas/sampah dan terlebih dahulu harus mendapat persetujuan direksi dan jika
diizinkan dapat digunakan tanah bekas galian.

b. Tanah bekas galian harus ditimbun sedemikian rupa, sehingga tidak mengganggu
bouwplank dan lobang pondasi.

c. Urugan tanah peninggian lantai, harus dilaksanakan sesuai dengan gambar kerja.
Ukuran yang tercantum dalam gambar kerja adalah ukuran tanah urugan dalam
keadaan padat.

Untuk urugan tanah peninggian lantai dengan tinggi ukuran lebih dari 20 cm, maka
pemadatan harus dilakukan lapis demi lapis dimana tebal setiap lapisan adalah 20
cm (maksimal).
10

Pemadatan tanah peninggian lantai, harus menggunakan Stamper dan


dilaksanakan sebelum pelaksanaan pekerjaan plesteran dinding.

d. Pemadatan subgrade fill khusus termasuk pasir kerikil dan batu harus seluruhnya
dipadatkan hingga mencapai 90% kepadatan maximum. Ini meliputi semua daerah
(bangunan dan bukan bangunan) untuk jalan pengerasan aspal dan di bawah
bangunan-bangunan di dalam batas areal yang harus dilaksanakan.

e. Urugan pada lereng harus dilakukan dengan membuat bertangga pada lereng
tersebut untuk memberikan kaitan yang kokoh terhadap tanah urugan.

f. Urugan pasir dilaksanakan pada bagian-bagian ; di bawah lantai, di bawah saluran


air hujan / Grevel, serta tempat-tempat lain seperti ditunjukkan pada gambar.
Lapisan pasir urug, harus dipadatkan dengan cara di timbris setelah terlebih dahulu
disiram air secara merata, sehingga urugan pasir tersebut benar-benar padat.

14.4 Pembentukan Muka Tanah ( finish grading )


Muka tanah dimana bangunan akan berdiri di atasnya harus dibentuk dengan rata dan
baik, sesuai dengan garis ketinggian atau kedalaman menurut gambar rencana.

14.5 Harga satuan yang tercantum penawaran harus sudah mencangkup semua biaya;
pekerja-pekerja, pembersihan, penimbunan / pemadatan dan pembuangan hasil
galian.

Pasal 15
PEKERJAAN PONDASI

1. Lingkup Pekerjaan
Semua pekerjaan pondasi seperti tercantum dalam gambar kerja diantaranya :
a. Pondasi Tiang Pancang beton
b. Pondasi Poer
c. Pondasi pasangan batu kali

2. Persyaratan Bahan
a. Tiang pancang yang digunakan adalah produk pabrik yang telah memenuhi standard
SII, tiang pancang yang dipakai berbentuk segi empat dengan ukuran 25 x 25 sesuai
dengan gambar. Produk yang digunakan setaraf produk dari PT.Beton Elemenindo
Perkasa, dengan spesifikasi sebagai berikut:

Sistem pemancangan menggunakan sistem hidrolik “Jack Piling System” dimana


tiang pancang ditancapkan dengan tenaga hidrolik, dengan demikian tidak
menimbulkan kebisingan akibat pukulan ataupun getaran/ vibrasi.

Adapun jenis tiang yang dipergunakan adalah dengan dimensi segi empat dengan
panjang sisi 25 cm, untuk lebih jelasnya kami uraikan berikut ini :

Tiang Segi empat, panjang sisi : 25 cm


Mutu Beton : K – 450
Mutu Baja tulangan (Bj TD) : U – 39
Ukuran dan jumlah tulangan : 4 d 16 mm
Tulangan spiral : d 6 mm
Luas Baja Tulangan : 8,043 cm2
Luas Penampang Tiang Netto : 625 cm 2
11

Perhitungan :

Beton : K – 450
Tegangan izin Tekan Beton : 0,33 x 450 = 148,5 Kg/cm2

Baja : U – 39
Tegangan izin Tarik Baja : 0,58 x 3,900 = 2,262 Kg/cm2

P axial yang dapat dipikul oleh Square :


P = (148,5 x 625) + (2.262 x 8.043) = 11.105 Kg = 111 Ton

P izin : 45 Ton
Safety Factor : 2,47

- Mutu beton yang digunakan adalah K-450


- Mutu baja yang ddigunakan adalah BJTD 39
- Gaya yang dapat dipikul (P) minmal 40 ton
- Diameter tulangan utama 19 mm dan diameter tulangan spiral 6 mm.

b. Batu kali
Batu kali yang dipakai harus batu pecah dari jenis yang keras, bersudut runcing dan
tidak porous.

c. Batu bata (bata merah)


Batubata (bata merah) harus mempunyai rusuk-rusuk yang tajam dansiku,
bidang-bidang sisinya harus datar, ukuran seragam, pembakaran seragam dan
merata, bebas dari cacat, retak cat, atau adukan pada waktu akan dipasang.

Kontraktor harus menyerahkan contoh bahan/meterial ke Konsultan Pengawas untuk


mendapat persetujuan terlebih dahulu.

3. Persyaratan Pelaksanaan

a. Pelaksanaan Pemancangan

a.1. Driving cap


Selama pekerjaan pemancangan, kepala tiang harus dilindungi dengan suatu
bantalan/driving cap.

a.2. Alat Pancang


Menggunakan sistem hidrolik “Jack Piling System”

a.3. Pengikat
Selama pekerjaan pemancangan, tiang pancang harus diikat demikian sehingga
tiang tidak dapat bergerak pada arah horizontal.

a.4. Penetrasi
Tiang pancang harus dipancang sampai suatu kedalaman atau dipancang menurut
penetrasi yang diminta dalam dokumen. Pencatatan yang teliti dari penetrasi pada
tiap tiang pancang untuk mendapatkan data yang tidak diragukan.

Kontraktor harus mengajukan terlebih dahulu kepada Direksi untuk disetujui


Perencana, alat pancang yang akan dipakai lengkap dengan spesifikasinya untuk
dapat disetujui.

Untuk tiap tiang yang dipancang, maka grafik kalendering harus dibuat oleh
Kontraktor dan disetujui Direksi dan seterusnya dievaluasi daya dukungnya.
12

Pada keadaan pemancangan dihentikan sebelum penetrasi akhir tercapai,


pencatatan penetrasi baru boleh diambil setelah mencapai paling sedikit 30 cm dari
posisi tiang yang terhenti.

a.5. Tiang pancang tambahan


Suatu tiang pancang yang rusak pada saat pemancangan atau
pengangkatan/pengangkutan, yang mengakibatkan kebutuhan struktur tiang tidak
dapat dipertanggung jawabkan, harus dicabut dan diganti atau dipakai tiang
pancang tambahan dengan persetujuan Direksi tanpa tambahan biaya.

Tiang-tiang pancang tidak boleh menyimpang lebih dari 1,25 % kemiringan, &dan
bertengger tidak lebih dari yang dibatasi oleh daftar berikut ini :

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jumlah tiang toleransi toleransi satu toleransi kelompok
perkelompok sendiri tiang terhadap tiang ( titik berat -
( cm ) tiang lain kenyataan terhadap
(cm) beban ) ( cm )
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1 7,5 - 7,5
2,3 7,5 11 5
4,5 7,5 11 4,5
6 7,5 11 4
7 7,5 12,5 2,5
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Paling lambat 5 hari setelah pemancangan selesai dengan sepengetahuan


Direksi lapangan, Kontraktor mengirim data kemiringan dan letak akhir tiang
pencang terhadap as bangunan.
a.6. Perubahan poer
Perubahan poer akibat penambahan tiang dan/atau toleransi jarak antara tiang
yang tidak dipenuhi, maka biaya tambahan pekerjaan poer menjadi tanggung
jawab Kontraktor.
a.7. Penyambungan
- Kontraktor harus menggunakan dolly baja dengan panjang maksimum 2
meter, apabila kalendering yang disyaratkan tidak tercapai pada saat seluruh
panjang tiang masuk dalam tanah.
- Apabila tiang pancang dengan kalendering yang disyaratkan tercapai pada
kedalaman di bawah peil atau poer, semua biaya penyambungan tiang
termasuk galian, menjadi beban Kontraktor. Penyambungan tiang dilakukan
dengan sambungan overlap tulangan dengan panjang 40 kali diameter
tulangan yang disambung.
- Apabila panjang dolly telah masuk 1 meter ke dalam tanah, Kontraktor harus
mengadakan pencatatan kalendering pada sisa panjang 30 cm berikutnya,
dan apabila kalendering yang disyaratkan masih belum tercapai,
pemancangan dihentikan dan harus melaporkan pada Direksi. Dalam hal ini
semua biaya akibat perubahan tersebut, antara lain penambahan tiang
pancang, penyambungan dan lain-lain alternatif pemecahan menjadi beban
Kontraktor Pondasi.
a.8. Data-data karakteristik dari alat-alat pancang yang akan cipakai berikut usul
kalenderingnya harus diberikan kepada Perencana Konstruksi minimum 2
minggu sebelum start pemancangan dan harus mendapat persetujuan Direksi
Pengawas.
Data-data pemancangan dari semua tiang pancang harus diberikan paling
lambat hari berikutnya sesudah hari pemancangan tiang yang bersangkutan,
dan data-data ini harus disyahkan oleh Direksi Pengawas untuk diteruskan
pada Perencana.
13

a.9. Jika tiang pancang dicabut, karena kesalahan dalam pemancangan, jika tidak
[

dipancang kembali, maka ruangan yang timbul harus diisi dengan batu-batu
koral atau pasir tanpa biaya tambahan.
a.10. Bagian atas dari semua tiang-tiang harus berada disebelah atas dari elevasi
pemotongan (setelah pemancangan), dimana beton akan dipotong sampai
permukaan yang tepat 7,5 cm diatas sisi bawah pile caps dengan besi-besi
betonnya tetap diteruskan sepanjang 40 kali diameter.
a.11.Bila ada batu-batu atau gangguan-gangguan lainnya yang menyulitkan
pemancangan, Kontraktor harus mengusahakan berbagai cara dengan
persetujuan Direksi Lapangan untuk mengatasinya tanpa tambahan biaya.
a.12 Jika dibutuhkan tambahan dalam penyelidikan tanah untuk menambah
data-data mengenai stratifikasi lampisan-lapisan tanah, maka biayanya
ditanggung oleh Kontraktor.
a.13 Semua tiang harus dipancang secara kontinu tanpa berhenti sampai tiang
mencapai lapisan yang diperlukan dengan kalendering sesuai dengan daya
dukung tiang yang disyaratkan.
a.14 Penghitungan volume tiang pancang adalah sesuai dengan panjang tiang
pancang yang dikeluarkan oleh pabrik, yaitu 3 meter, dengan demikian
pemakaian pancang dihitung berdasarkan kelipatan 3 meter.
a.15. Besarnya volume pancang yang tertanam harus sesuai dengan hasil final set
di lapangan, jika terjadi kelebihan atau kekurangan berdasarkan volume
dalam penawaran, dapat dilakukan pekerjaan tambah/kurang..

b. Pelaksanaan Pekerjaan Pondasi Plat beton Setempat

1) Persyaratan pekerjaan galian pondasi harus memenuhi persyaratan galian pondasi


seperti terurai dalam pasal pekerjaan tanah dalam buku RKS ini.
2) Persyaratan pelaksanaan pekerajaan pembesian dan pengecoran beton harus
memenuhi persyaratan pelaksanaan pekerjaan beton yang tercantum dalam pasal
pekerjaan beton dalam Buku RKS ini.

Pondasi Plat beton Setempat/Poer harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :


Pondasi ini dipakai untuk Pondasi Utama dimana ukuran masing-masing pondasi
bervariasi disetiap titik kolom termasuk pondasi tangga. Pondasi plat beton
diletakkan pada kedalaman sekitar 1,5 m dari muka tanah asli yang ditunjukkan
dalam Gambar Rencana.
Dalam menentukan kedalaman dasar pondasi di lapangan, Kontraktor harus
meminta persetujuan pihak Pengawas.
Ketentuan pondasi plat beton :
 Mutu beton K.250
 Tulangan serta yang dipakai dapat dilihat pada gambar Kerja
 Menggunakan pasir dan lantai kerja sebagai dasar perletakan pondasi
 Pasir untuk bahan adukan adalah pasir beton.

Persyaratan Bahan

a Semen
Semen yang digunakan harus terdiri dari satu jenis merek KELAS SATU sekualitas
Merek “Tiga Roda” dari mutu yang baik dan disetujui oleh Direksi . Semen yang
telah mengeras sebagian atau seluruhnya tidak diperkenankan untuk digunakan.
Untuk menghindari terjadinya hal tersebut diatas. Pemborong harus memperhatikan
syarat-syarat penyimpanan semen yang baik.
14

b. Pasir Beton
Pasir Beton harus terdiri dari pasir dengan butiran yang bersih dan bebas dari
bahan organis, lumpur dan sebagainya, sesuai dengan persyaratan yang tercantum
didalam PBI 1971.

c. Koral/Kerikil Beton
Koral/kerikil beton yang digunakan harus bersih dari segala macam kotoran serta
mempunyai gradasi dan kekerasan sesuai dengan persyaratan yang tercantum di
dalam PBI 1971 (ukuran 2/3 dan 1/2).

d. Air
Air yang akan digunakan harus air tawar yang bersih dan bebas dari bahan-bahan
organis, minyak garam alkalis, asam yang dapat merusak beton. Apabila diperlukan,
Direksi dapat meminta kepada pemborong untuk memeriksakan air yang akan
digunakan ke Laboratorium Pemeriksaan yang resmi dan sah atas biaya
pemborong.

e. Baja Tulangan
Mutu tulangan yang digunakan untuk tulangan <d 12mm adalah U-24, yaitu
tulangan dengan tegangan leleh karakteristik sebesar 2400 kg/cm2, sedangkan
untuk tulangan dengan diameter >16mm adalah U-32 (Ulir), yaitu tulangan dengan
2
tegangan leleh karakteristik sebesar 3.200 Kg/Cm .
Tulangan yang akan digunakan harus bebas dari kotoran-kotoran (lumpur, lemak
dan karat). Kawat pengikat tulangan harus terbuat dari baja lunak dengan diameter
minimum 1 mm yang telah dipijarkan terlebih dahulu dan tidak bersepuh seng.
Kualitas tulangan yang digunakan adalah sekualitas keluaran Pabrik Baja Krakatau
Steel.

c. Pelaksanaan Pekerjaan Pondasi Batu Kali

1) Persyaratan pekerjaan galian pondasi harus memenuhi persyaratan galian pondasi


seperti terurai dalam pasal pekerjaan tanah dalam buku RKS ini.
Galian pondasi harus dilakukan sesuai dengan lebar lantai kerja pondasi,
dimensi atau seperti tercantum dalam gambar kerja dengan penampang lereng
galian kanan dan kiri dimiringkan 10 derajat keluar pondasi.
2) Galian harus diperiksa dan disetujui oleh Pengawas Lapangan.
3) Untuk menjaga lereng lubang galian agar tidak longsor, maka apabila
dianggap perlu oleh Pengawas Lapangan kontraktor harus memasang (casing)
sementara. Biaya untuk pekerjaan ini sudah termasuk dalam penawaran
dan tidak dapat diajukan sebagai pekerjaan tambah.
4) Dasar galian harus diurug dengan pasir urug setebal 5 -10 cm sesuai gambar,
kemudian disiram air sampai jenuh, diratakan dan dipadatkan / ditimbris.
5) Sebelum pelaksanaan pekerjaan pondasi terlebih dahulu harus dibuat profil-profil
bentuk pondasi dari bambu atau kayu pada setiap ujung sesuai ukuran gambar
dan disetujui oleh pengawas lapangan.
6) Konstruksi pasangan pondasi batu kali
- Lantai kerja pondasi adalah pasangan batu kosong (aanstamping) yang
disusun berdiri tegak, teratur dan bersilangan, diurug pasir hingga merata
dan mengisi lubang diselah-selah batu, kemudian disiram air dan ditimbris.
- Pasangan batu kali untuk pondasi menggunakan adukan dengan campuran 1
pc : 5 ps , terkecuali disyarakat pasangan kedap air / trassram dalam gambar
kerja harus dipasang dengan adukan 1 pc : 3 ps.
- Adukan harus membungkus batu kali sedemikian rupa sehingga tidak ada
dari bagian pondasi yang berongga atau tidak padat, khusus pada bagian
tengahnya. Pemasangan batu kali/belah disusun bersilang dan bagian nat/lubang
kecil diisi batu pecahan/kricak.
15

- Setiap jarak 75 cm atau seperti gambar harus ditanam stek tulangan beton
diameter 10 mm sedalam + 30 - 40 cm untuk pengait sloof dan pasangan
dinding bata, ukuran panjang stek tulangan adalah 100 cm atau sesuai gambar.
- Dalam proses pengeringan, pondasi harus selalu dibasahi atau disiram air.
Selama pondasi belum mencapai bentuk profilnya, lubang galian tidak boleh
diurug.
- Pada setiap perletakan kolom beton, kolom praktis pada pondasi harus pula
ditanam stek tulangan kolom sedalam minimal 40 D, dengan diameter dan
jumlah tulangan yang sama dengan tulangan pokok .

d. Pelaksanaan Pekerjaan Pondasi Rollagh/dinding bata

1) Bahan batu bata dan pelaksanaannya harus memenuhi persyaratan seperti


tercantum dalam pasal pekerjaan pasangan dinding bata dalam Buku RKS
ini.
2) Semua adukan yang dipakai untuk pasangan pondasi batu bata adalah adukan
kedap air.
3) Sisi/permukaan luar semua pasangan batu bata yang tertanam dalam tanah
harus diberapen adukan 1 pc : 3 ps sampai permukaan batu bata rata
permukaan atas tanah.

Jika dalam pelaksanaan terjadi penyimpangan sehingga lebih besar dari toleransi
yang diijinkan, maka pondasi tersebut tidak memenuhi syarat dan harus diganti
degan pondasi baru dengan lokasi yang akan ditentukan oleh Konsultan
Perencana. Semua beban biaya yang timbul akibat hal tersebut diatas menjadi
tanggung jawab kontraktor.

Pasal 16
PEKERJAAN BETON BERTULANG DAN TIDAK BERTULANG

16.1 Lingkup Pekerjaan meliputi :

a. Pekerjaan Beton Bertulang terdiri dari :


Poer Pondasi, Sloof, Kolom Struktur, Balok Struktur, Plat Lantai Beton, plat lantai
dan Dinding Pit Lift, Tangga utama, Beton SIrip, Plat Dak, Canopy Beton, Lisplank
Beton, Tanggul Beton, Balok Konsol, Kolom Praktis, Latei, Lintel, Kolom Praktis,
Ring Balok, dan lain-lain sesuai dengan gambar kerja.

b. Pekerjaan Beton tidak bertulang terdiri dari :


Lantai kerja, Rabat keliling bangunan, dan segala sesuatu yang nyata termasuk
dalam pekerjaan ini sesuai gambar.

16.2 Semua pekerjaan beton harus mengikuti persyaratan ketentuan yang tercantum pada :
a. Tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan gedung SKSNI T-15-1991-03

b. PUBB NI-3 tahun 1970, NI-8 tahun 1964

c. PBI NI-2 tahun 1971 terutama mengenai :


1. Syarat-syarat bahan untuk semua pekerjaan beton ( PBI 1971 NI-2, Bagian
II Bab 3 Pasal 3.1 sampai dengan Pasal 3.9)
2. Syarat-syarat pelaksanaan pekerjaan beton (PBI 1971 NI-2, Bagian II Bab 4-
5-6 seluruh pasal).
3. Syarat-syarat pekerjaan tulangan (PBI 1971 NI-2, Bagian IV Bab 8 seluruh
pasal).
16

16.3 Persyaratan Beton :

Penjelasan Mutu Beton


a. Untuk beton bertulang yang bersifat struktur mutu beton yang digunakan K-250
dimana beton harus mempunyai kekuatan tekan dan kareakteristik sebesar 250
kg/cm2 (minimal). Untuk mendapatkan mutu beton seperti yang disyaratkan,
maka Pemborong harus membuat MIX DESIGN di Laboratorium Beton milik
Pemerintah atau yang ditunjuk oleh Direksi, untuk mendapatkan komposisi
campuran dari bahan-bahan yang digunakan

Termasuk Mutu Beton K-200 dimana beton harus mempunyai kekuatan tekan dan
kareakteristik sebesar 200 kg/cm2 (minimal) dan Mutu Beton K-400 dimana beton
harus mempunyai kekuatan tekan dan kareakteristik sebesar 400 kg/cm2
(minimal)

b. Untuk beton bertulang yang bersifat praktis, seperti kolom praktis, balok lintel dll,
campuran beton yang digunakan adalah K-175 atau campuran 1PC : 2 PS : 3
KR.

c. Untuk beton tidak bertulang, adukan dibuat dengan campuran : 1PC : 3PS : 5KR,
seperti untuk neut kusen, rabat beton, lantai kerja dan lain-lain sesuai dengan
gambar kerja.

16.4 Persyaratan Bahan


a. Semen Portland / PC
Semen Portland yang dipakai harus dari jenis I menurut peraturan Semen Portland
Indonesia 1972 (NI-8) atau British Standard No. 12 tahun 1965 Semen harus sampai di
tempat kerja dalam kondisi yang baik serta dalam kantong asli dari Pabrik. Merek PC
dianjurkan produksi dalam negeri seperti, Tiga Roda, atau yang setaraf dipersyaratkan
satu merek PC yang disetujui Konsultan Pengawas untuk seluruh pekerjaan. Semen
harus disimpan dalam gudangyang kedap air, cukup ventilasi di atas lantai setingi 30
cm dari atas tanah. Penyimpanan harus berurutan dan terpisah menurut menurut
pengiriman. Kantong-kantong semen tidak boleh ditumpuk lebih dari 10 lapis.

b. Pasir
1). Semua pasir yang akan dipakai harus pasir alam tidak di perkenankan memakai
pasir laut.
2). Pasir harus halus bersih dan bebas dari tanah liat, mika dan substansi lain yanjg
merugikan, beratnya tidak boleh lebih dari 5 %.
3). Kontraktor harus menyerahkan contoh pada Konsultan Pengawas sebagai bahan
pemeriksaan pendahuluan dan persetujuan, contoh seberat 15 kg dari pasir alam
yang diusulkan untuk dipakai sedikitnya 14 (empat belas) hari sebelum diperlukan.
4). Timbunan pasir alam harus dibersihkan semua dari tumbuh-tumbuhan, kotoran dan
bahan-bahan lain yang tidak dapat dipakai harus disingkirkan. Bahan harus diayak
dan dicuci sebagaimana diperlukan untuk mengahasilkan

c. Agregat (Kerikil atau Batu Pecah)


Agregat dapat dipakai agragat alami ata buatan memenuhipersyaratan PBI 1971
(NI-2) pasaln 3.3, 3.4, dan 3.5 Agragat tidak boleh mengandung bahan yang dapat
merusak beton dan ketahanan tulangan terhadap karat. Untuk itu Kontraktor harus
mengajukan contoh yang memenuhi syarat dari berbagai sumber terlebih dahulu.

d. Air
Air untuk campuran dan pemeliharaan beton spesui/mortar dan speci injeksi harus dari
aiar yang bersih dan tidak mengandung zat-zat yang dapat merusak beton. Air tersebut
harus memenuhi syarat-syarat menurut PBI 1971 (NI-2) pasal3.6.
17

e. Baja tulangan
1). Baja tulangan yang dipakai adalah mutu baja U-32 (Ulir) untuk baja diameter lebih
besar dan sama dengan 16mm serta mutu baja U-24 untuk baja diameter lebih
kecil atau sama dengan 12mm, sesuai dengan PBI 1971. JIS SR 24 British
Standard No. 785. 1938 atau ASTM Designation A-15.
2). Ukuran baja tulangan tersebut harus sesuai dengan gambar kerja, penggantian
dengan diameter lain harus dengan persetujuan tertulis dari direksi. Segala biaya
yang diakibatkan oleh penggantian tulangan terhadap gambar sejauh Gambar
Kerja adalah Kontraktor.
3). Semua baja tulangan harus disimpan pada tempat yang bebas lembab disesuaikan
diameter serta asal pembelian.
4). Semua baja tulangan harus dilindungi terhadap semua macam kotoran dan lemak
serta sejauh mungkin terhadap karat.

f. Bahan campuran (additives)

1). Pemakaian bahan tambahan kimiawi (Konkret admixtures additives) kecuali yang
disebut tegas dalam Gambar Kerja (RKS) harus seijin tertulis dari Konsultan
Pengawas.
2). bahan tambahan yang mempercepat pengerasan awal (initial set) tidak boleh
dipakai. Sedangkan untuk beton kedap air dalam tanah hidrostatik pressure tidak
boleh bahan kedap air yang mengandung bahan stearate. bahan campuran
tambahan beton harus sesua dengan iklim tropis AS 1978 & ASTM C 494 Type B
& D sekaligus sebagai pengurang air adukan dan penunda pengerasan awal.
3). Semua admixture yang akan digunakan ditentukan berdasarkan hasil pekerjaan
benda uji/contoh-contoh yang dibuat dan telah mendapat persetujuan Konsultan
Pengawas.
4). Untuk penyambungan kembali akibat terhentinya suatu pengecoran beton dipakai
bahan perekat CALBOND sebelum dicor dengan beton baru serta permukaannya
2
harus dikasarkan. Jumlah pemakaian untuk 1 M adalah 0,3 liter CALBOND
dicampur dengan larutan semen/PC sekitar 25 %nya dengan cara ditaburkan.

g. Bekisting

1). Bekisting dibuat dari panel multiplex 12 mm atau papan borneo tebal minimal 2 cm
dengan rangka penguat penyokong dan penyangga dibuat dari kayu borneo 5/7,
5/10 secukupnya, sehingga mampu mendapatkan kekakuan dan kekuatan
mendukung beton sampai selesai proses ikatan beton. Untuk kolom struktur dipakai
papan borneo tebal 3/20.
2). Steger cetakan/bekisting dipakai kayu borneo dengan ukuran minimum 5/10 cm
atau pipa besi (scaffolding). Tidak diperkenankan mempergunakan bambu.
3). Khusus cetakan bekisting untuk beton pracetak harus dibuat lebih kokoh dan lebih
kaku, permukaan panel lurus, halus sehingga menghasilkan bidang yang rata dan
halus.

16.5 Persyaratan teknis

a. Komposisi campuran beton

1). Beton dibentuk dari semen portland/PC, pasir, kerikil, batu pecah, air seperti yang
ditentukan ; semuanya dicampur dalam perbandingan yang sesuai dan diolah
sebaik-baiknya sehingga sampai didapat kekentalan yang tepat.

1).Untuk mengetahui karakteristik dari beton tersebut, harus memenuhi syarat mutu
beton menurut PBI 1971, disertai sertifikat hasil pengujian laboratorium pengujian
beton dilaksanakan 4 (empat) kali tahapan.
18

2).Ukuran maksimum dari agragat kasar dalam beton tidak boleh melampaui ukuran
yand ditetapkan dalam persyaratan bahan beton dan harus memperhitungkan celah
lubang anatar tulang agar tidak terjadi rongga-rongga beton.

3).Perbandingan antara bahan-bahan pembentuk beton yang dipakai untuk berbagai


pekerjaan (sesuai kelas mutu) harus ditetapkan dari waktu ke waktu selama
berjalannya pekerjaan demikian juga pemeriksaan terhadap agrqgat dan beton
yang dihasilkan. Pebandingan campuran dan faktor air semen yan tepat akan
ditetapkan atas dasar beton yang dihasilkan yang mempunyai kekedapan,
keawetan, dan kekuatan yang dikehendaki. Faktor air semen dari beton tidak
terhitung air yang dihisap oleh agregat dan tidak boleh melebihi 0,55 (dari
beratnya). Pengujian beton akan dilakukan oleh Kontraktor dan perbandingan-
perbandingan campuran harus diubah jika perlu untuk tujuan-tujuan seperti di atas
dan Kontraktor tidak berhak claim atas perubahan-perubahan yang demikian.

b. Pengujian dari Konsistensi Beton dan benda-benda uji Beton

1). Banyaknya air yang dipakai untuk beton harus diatur menurut keprluan untuk
menjamin beton dengan Konsistensi yangn baik dan untuk penyesuaian variasi
kandungan lembab atau gradasi (perbutiran) dari agregat waktu masuk dalam
mesin pengaduk (mixer). Penambahan air untuk mencairkan kembali beton padat
hasil pengadukan yang terlalu lama atau yang menjadi kering sebelum dipasang
tidak diperkenankan. Keseragaman konsistensi beton untuk setiap kali pengadukan
sengat perlu. Nilai slump dari beton (pengujian kerucut slump) tidak boleh kurang
dari 8 cm dan tidak melampaui 12 cm untuk segala beton yang dipergunakan.

2). Kekuatan tekan dari beton harus ditetapkan melaui pengujian biasa dengan silinder
berukuran 15 x 30 cm atau kubus 15 x 15 x 15 cm atau kubus 20 x 20 x 20 cm
dibuat dan diuji sesuai dengan NI-2 PBI 1971. Pengujian slump disesuaikan dengan
NI-2 PBI 1971 dan Kontraktor harus menyediakan fasilitas yang diperlukan untuk
mengerjakan contoh-contoh pemeriksaan yang erpresetatif, frekuensi akan
ditetapkan oleh Pengawas Lapangan (Pengawas Lapangan).

c. Benda uji
Selama pengecoran beton harus terdapat benda-benda uji sebagai berikut :
- Minimum 1 benda uji setiap hari
- Minimum 20 benda uji pada akhir pelaksanaan
3
- Setiap pengecoran 5 m dibuat 1 benda uji
- Yang terbesar menentukan

d. Persyaratan pelaksanaan

1). Rencana Cetakan


- Cetakan harus sesuai dengan bentuk dan ukuran yang diinginkan
pada Gambar Kerja. bahan yang akan dipakai untuk rencana cetakan harus
mendapat persetujuan dari Konsultan pengawas sebelum pembuatan cetakan
dimulai.
- Panel cetakan hanya boleh dipergunakan 2 (dua) kali bolak-balik, atau
setiap permukaan hanya 1 (satu) kali.
- Semua cetakan harus kokoh
Konstruksi untuk cetakan harus diperkuat dengan kaso secukupnya sehingga
menghasilkan beton yang lurus rata. Dipersyaratkan untuk beton tampak
(Exposed) adalah semi exposed aratinya setelah cetakan dibongkar memberikan
bidang yang rata dan hanya memerlukan sedikit penghalusan.
- Sebelum beton dicor permukaan panel cetakan diminyaki secara
merata untuk cegah lekatnya beton pada cetakan.
19

- Celah - celah antara papan atau panel cetakan harus rapat sehingga
pada waktu pengecoran tidak ada air adukan yangkeluar.

2). Baja Tulangan

a). Baja tulangan beton sebelum dipasang harus bersih dari serpih-serpih,
karat minyak gemuk dan lapisan lain yang merusak atau mengurangi
daya lekat dalam beton. Bentuk baja tulangan sesuai dengan bentuk dan
ukuran yang tertera pada gambar.

b). Baja tulangan harus dipasang dengan teliti sesua dengan Gambar Kerja.
Agar tulangan tetap tepat di tempatya maka tulangan harus diikat kuat dengan
dengan kawat beton (bindraat) dengan bantalan blok-blok beton cetak/beton
decking atau kursi- kursibesi/cakar ayam, perenggang, specer atau logam
gantung (metal hanger) sesuai dengan kebutuhan. Dalam segala hal untuk
baja tulangan yang horizontal harus digunakan penunjang yang tepat sehingga
tidak akan ada batang yang turun.

c). Penempatan besi beton di dalam cetakan tidak boleh menyinggung


dinding atau dasar cetakan serta harus mempunyai jarak tetap
untuk setiap bagian - bagian konstruksi tertentu seperti : kolom dan balok
2,5 cm, plat beton 1,5 cm.

d). Penyambungan Jika diperlukan untuk menyambung tulangan Overlap


pada sambungan untuk tulang - tulangan dinding tegak (vertikal) dan
kolom sedikitnya harus 40 (empat puluh) diameter batang.

3). Pengadukan, pengangkutan, pengecatan, pemadatan dan perawatan beton harus


dilaksanakan sesuai dengan ketentuan di dalam PBI 1971 pasal 6.1. sampai
dengan pasal 6.6.

4). Mengaduk
Bahan-bahan pembentuk beton harus dicampur dan diaduk dalam “Mesin Pengaduk
Beton” yaitu Bath Mixer atau Portabel Continues Mixer, dalam hal ini hars dujaga
adukan plastis merata danntidak boleh ada bagian air yang tidak terikat oleh bahan
beton. Truk Pengaduk (Truck Mixer) diatur sedemikian rupa, sehingga beton dari
adukan ke adukan mempunyai konsistensi dan mutu yang sama. Pengaduk yang
sewaktu-waktu memproduksi dengan hasil yang tidak memuaskan harus diperbaiki.
Mesin pengaduk yang disentralisir (Batching Mixing Plant) harus diatur, sehingga
pekerjaan mengaduk dapat dapat diawasi dengan mudah dari station operator. Tiap
mesin pengaduk diperlengkapi dengan alat mekanis untuk mengatur waktu dan
jumlah adukan.

Disarankan memakai adukan beton siap pakai “Beton Ready Mix” agar kualitas
beton lebih konsisten dan lebih cepat dalam pelaksanaannya.

5). Suhu
Suhu beton waktu di Cor/dituang tidak boleh lebih dari 32 derajat dan biula suhu dari
beton yang ditaruh berada anatara 27 sampai 32 derajat celciuis, beton harus
diaduk di tempat pekerjaan untuk kemudian di Cor.

6). Pengangkutan Beton


Cara-cara dan alat-alat yang digunakan untuk pengangkutan beton harus
sedemikian rupa sehingga beton dengan komposisi dan kekentalan yang diinginkan
dapat dibawa ke tempat pekerjaan tanpa adanya pemisahan dan kehilangan nilai
slump.
20

7). Pengecoran

- Beton tidak boleh di cor sebelum semua pekerjaan cetakan bekisting selesai,
Ukuran dan letak baja tulangan baja tulangan beton sesuai dengan Gambar
Pelaksanaan pemasangan instalasi - instalasi yang harus ditanam, besi
penggantung plafond sesuai pola kerangka langit -langit, besi penggantung,
cable tray dan stek-stek penyokong dan pengikatan serta lain-lain telah selesai
dikerjakan. Sebelum pengecoran dimulai permukaan - permukaan yang
berhubungan telah disetujui Pengawas Lapangan.

- Sebelum pengecoran beton semua permukaan pada tempat


pengecoran beton (cetakan) harus bersih dari air yang tergenang, reruntuhan
dan barang lepas. Permukaan bekisting dari bahan - bahan yang
menyerap pada tempat-tempat yang akan di cor harus dibasahi dengan
merata sehingga kelembaban air dari beton yang baru di cor tidak akan diserap.

- Pada pengecoran, beton baru ke permukaan beton yang telah di cor


terlebih dahulu permukaan beton lama tersebut harus bersih,
dilembabkan dan dikasarkan. Pada sambungan pengecoran ini harus dipakai
perekat beton yang disetujui oleh Pengawas Lapangan.

- Perlu diperhatikan letak jarak/sudut untuk setiap penghentian pengecoran yang


akan masih berlanjut terhadap sistem struktur/penulangan yang ada.

- Koordinasi dengan pekerjaan elektrikal, sanitasi dan mekanikal harus dilakukan


sebelum pengecoran dimulai. Terutama yang menyangkut pipa-pipa sparing
yang menembus/tertanam dalam beton untuk keprluan setiap disiplin kerja.

- Beton boleh dicor hanya waktu Konsultan Pengawas serta Kontraktor ada di
tempat kerja dan persiapan betul-betul memadai.

- Dalam semua hal, beton yang akan dicor harus diusahakan agar
pengangkutannya ke posisi terakhir harus sependek mungkin, sehingga tidak
terjadi pemisahan antar kerikil dan spesi pada waktu pengecoran.

- Pengecoran beton untuk bagian yang vertikal seperti kolom, harus


menggunakan tremie dengan tinggi jatuh tidak boleh lebih dari 2 (dua) m.
Pengecoran beton untuk bagian horizontal seperti : plat, balok, parapet harus
dicor lapis demi lapis horizontal menyeluruh dengan ketebalan perlapis < 50
cm. Konsultan Pengawas mempunyai hak untuk mengurangi tebal tersebut
apabila pengecoran dengan tebal lapisaan 50 cm tidak dapat memenuhi
spesifikasi.

- Pengecoran beton tidak diperkenankan selama hujan deras atau


lama sehingga sedemikian rupa sehinggga speci/mortal terpisah dari
agregat kasar. Suatu pengecoran yang sudah dimulai pada suatu
bagian tidak boleh terputus sebelum bagian itu selesai.

- Setiap lapisan beton harus dipadatkan sepadat mungkin sehingga ia


bebas dari kantong - kantong kerikil dan menutup rapat-rapat semua
permukaan dari cetakan dan material yang diletakan. Dalam pemadatan
setiap lapisan dari beton kepala alat penggetar (Vibrator) harus
dapat menembus dan menggetarkan beton pada bagian atas dari
lapisan yang terletak di bawah. Lamanya penggetaran tidak boleh
menyebabkan terpisahnya bahan beton dengan airnya.
21

- Untuk pengecoran kolom, plat lantai ataupun balok, agar dalam


pelaksanaannnya lebih efektif diwajibkan menggunakan tremie yang
disediakan oleh Pengusaha “beton ready mix”.

8. Waktu dan Cara-cara Pembukaaan Cetakan


Waktu dan cara-cara pembukaan dan pemindahan cetakan, harus dilakukan
dengan hati-hati untuk menghindarkan kerusakan pada beton. Beton baru dapat
diijinkan dibebani setelah berumur 28 (dua puluh delapan) hari, kecuali beton yang
menggunakan bahan additives. Permukaan beton harus diperiksa dengan
teliti, permukaan yang tidak rata, berongga dan tidak rata/rapi harus segera
diperbaiki sampai disetujui oleh Pengawas Lapangan.

9. Perawatan (Curing)
Semua beton harus dirawat (cured) dengan air seperti ditentukan dibawah
ini. Beton yang dirawat (cured) dengan air harus tetap basah paling sedikit 14
(empat belas) hari secara terus menerus sesudah beton cukup keras, untuk
mencegah kerusakan dengan cara menutupnya dengan bahan yang dibasahi air
atau dengan pipa berlubang. Pengawas Lapangan berhak menentukan cara/sistem
perawatan yang harus dilaksanakan pada tiap bagian pekerjaan beton.
10. Perlindungan (Protection)
Kontraktor harus melindungi semua beton terhadap kerusakan-kerusakan
sebelum dapat diterima oleh Pengawas Lapangan. Permukaan beton yang
terbuka harus dilindungi dari sinar matahari yang langsung paling sedikit 3 (tiga)
hari sesudah pengecoran. Perlindungan seperti itu harus dibuat efektif
secepatnya setelah pengecoran dilaksanakan.
11. Perbaikan permukaan beton
-Jika hasil pembukaan cetakan terdapat beton yang tidak tercetak
dengan baik menurut gambar atau diluar garis permukaan atau
ternyata ada permukaan yang rusak, hal itu dianggap tidak sesuai dengan
spesifikasi dan harus dibuang/dibongkar dan diperbaiki atas biaya
pemborong. Apabila kerusakan tersebut dapat diperbaiki atas izin Pengawas
Lapangan dengan cara ditambal pada tempat yang rusak, maka teknik
penambalan harus dilaksanakan sebagai berikut.
- Kerusakan yang memerlukan pembongkaran dan perbaikan ialah yang
terdiri dari ; sarang kerikil, kerusakan - kerusakan karena cetakan,
lubang - lubang baut, ketidakrataan dan bengkok kecil, maka dilaksanakan
dengan pemahatan kemudian digosok dengan gurinda. Lubang-lubang
pahatan harus diberi pinggiran tajam dan dicor sedemikian rupa sehingga
pengisian akan terkunci rapat ditempatnya. Semua lubang harus terus
menerus dibasahi selama 24 (dua puluh emapat) jam sebelum dicor.
12. Pipa sparing listrik
Pipa sparing untuk listrik digunakan dengan pipa PVC sekwalitas AW dengan alur
sesuai gambar kerja yang dilengkapi dengan doos dan kawat penarik kabel
didalam sparing pipa. Untuk posisi pipa sparing ini, kontraktor harus
memperhatikan dan meneliti gambar kerja elektrikal.
13. Beton tumbuk
Semua beton tumbuk untuk rabat atau lantai harus mempunyai kemiringan agar
air tidak menggenang pada permukaan tanpa ada cekungan.
14. Gambar Detail Pelaksanaan (Shop Drawing)
- Semua gambar detail pelaksanaan (shop drawing) harus memenuhi persyaratan
seperti yang terurai dalam RKS ini.
22

- Pembuatan cetakan beton (bekisting) yang menyangkut detail prinsif harus di


buat Shop Drawing untuk dimintakan persetujuan tertulis dari Pengawas
Lapangan.
15. Pipa-pipa instalasi
- Semua pipa-pipa (air hujan, elektrikal, gas dan lain-lain) serta bagian-bagian
yang tertanam didalam atau bersinggungan dengan beton harus dibuat dari
bahan yang tidak merusak beton.
- Pipa-pipa yang ditanam didalam plat, balok beton dan kolom tidak boleh
mempunyai diameter lebih dari 1/3 tebal plat atau balok tempat pipa tersebut
tertanam, dan jarak dari pusat ke pusat pipa tidak boleh lebih kecil dari 3 kali
diameter pipa.

- Semua pipa serta serta bagian - bagian yang menembus lantai, balok dan
kolom harus mempunyai ukuran dan letak yang tidak mengurangi kekuatan
konstruksi (harus dipilih tempat momen = 0) atau sesuai petunjuk Pengawas
Lapangan.

16.6. BETON KEDAP AIR / WATERPROFING

16.6.1 Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan beton kedap air dan lapisan waterprofing dilaksanakan pada plat beton area
basah.

Persyaratan bahan
Cairan kedap air dari full acrylic berbasis air, tidak berbau dan tidak menggunakan
cairan berbahaya atau mudah terbakar, menghasilkan satu membrane tanpa
sambungan, daya rentang yang tingggi didukung fiberglass, mempunyai kemampuan
menahan atau menutup keretakan, mempunyai Elastisitas yang tinggi.

Jenis bahan yang dipakai setaraf Master Guard Exposed sistem Chopped Strand
Fiberglass Matt. 220 grm/m2.

Produk Spesifikasi :
> Primer : Cairan mastergurad campur air 25% sampai 35%
mecakup 150 grm/m2
> Bodycoat : Cairan mastergurad gunakan langsung / campur air 15%
mencakup 450 grm/m2
> Finish / Top Coat : Cairan mastergurad gunakan langsung / campur air 15%
mencakup 450 grm/m2
> Fiberglass 220g/m2 : Aplikasikan untuk dapat dilalui oleh pejalan kaki
> Fiberglass 300g/m2 : Aplikasikan untuk dek parkir kendaraan
> Completed System : DFT = 700 – 800 mircons
> Coverage : 2.4 kg/m2
> Coverage (Coating) : 0.6 kg/m2
> Packing : 24 kg/20kg/4kg

- Persyaratan Pelaksanaan
 Persiapan permukaan (plesteran semen).
Pastikan permukaan kokoh dan tahan tehadap pergerakan dan pemuaian, sistem
pengaliran air yang baik dan tidak membentuk genangan air. Pastikan permukaan
telah halus , bersih , bebas dari debu dan minyak serta tidak ada sisa serpihan
benda-benda yang kasar atau tajam.
23

 Persiapan permukaan (beton).


Pastikan permukaan kokoh dan tahan tehadap pergerakan dan pemuaian, sistem
pengaliran air yang baik dan tidak membentuk genangan air. Semua permukaan
beton hasru dihaluskan dengan steel trowel..
 Langkah pertama
Permukaan dibasahi untuk megurangi suhu perukaan untuk menghindari
pembentukan kantong udara atau terjadinya reaksi sewaktu proses primer. Lapisi
permukaan dengan cairan masterguard yang telah dicampur dengan air 25%
hingga 35% cakupa 150 grm/m2
 Langkah kedua
Roll / kuas satu lapisan masterguard pertama (gunakan langsung / campur air
max. 15% cakupan 450 grm/m2), segera bentangkan satu lapis fiberglass (220
grm/m2) pada lapisan dalam kondisi basah, segera lanjutkan lapisan masterguard
kedua (gunakan langsung / campur air 15 % cakupan 450 grm/m2) pada
fiberglass untuk menekan fiberglass dan pastikan tidak ada udara yang
terperangkap. Gunakan kuas untuk rataka semua kantong udara.Pastikan
Masterguard kedua benar-benar kering sebelum proses selanjutnya.
 Langkah ketiga.
Setelah fiberglass kering, cek semua permukaan. Bila terdapat kantong udara,
harus dipotong dan dihaluskan dengan ampelas dan diulang pada bagian
tersebut. Sedang untuk fiberglass berlebih dirataka dengan kapi dan lakukan
proses fiberglass pada bagian permukaan yang tidak terlapisi. Pastikan
permukaan benar-benar kering sebelum proses selanjutnya.
 Langkah keempat.
Lapiskan minimum 2 lapisan Masterguard (gunakan langsung / campur air
max.15% cakupan 450 grm/m2) dengan arah menyilang. Pastikan tidak ada pori-
pori setelah kering maka harus diulang lagi dengan arah menyilang, ulang sampai
tidak ada pori-pori setelah kering.
Kontraktor harus melaksanakan pengujian kebocoran terutama untuk
permukaan horizontal plat. Cara pengujian ini adalah dengan menuangkan air
ke area yang tertutup lapisan waterproofing hingga ketinggian air minimum 50
mm dan dibiarkan selama 3x24 jam. Beri tanda bagian-bagian yang tidak
sempurna atau bocor.
Kontraktor wajib mengadakan pengamanan dan perlindungan terhadap
pemasangan yang telah dilakukan, terhadap kemungkinan pergeseran, lecet
permukaan atau kerusakn lainnya. Apabila terdapat kerusakan yang disebabkan
oleh kelalaian kontraktor, baik waktu pekerjaan ini dilakukan / dilaksanakan
maupun pada saat pekerjaan telah selesai, maka kontraktor harus
memperbaiki/ mengganti bagian yang rusak tersebut sampai dinyatakan dapat
diterima oleh Direksi. Biaya yang timbul untuk pekerjaan perbaikan ini adalah
tanggung jawab kontraktor

Pasal 17
PEKERJAAN METAL
1. Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan ini meliputi seluruh pekerjaan metal/logam seperti tercantum dalam Gambar
Kerja antara lain ;

- Pekerjaan Atap
- Kuda-kuda baja WF.300.150.5,5.8
- Kuda-kuda baja WF.200.100.4,5.7
- Voute WF.300.150.5,5.8
24

- Voute WF.200.100.5,5.8
- Konsol WF 150.175.5.7
- Voute Plat t.8 mm
- Base T.16 mm
- Base T.12 mm
- Boud Angker dia. 16 mm
- Boud Angker dia. 12 mm
- Gordeng Baja C.150.65.20.2,3
- Besi Siku L.70.70.7
- Trekstang dia. 12 mm
- Ikatan angin dia. 19 mm
- Ikatan Tarik dia. 19 mm
- Stifneer t.8 mm
- Boud Montage dia. 19 mm (HTB)
- Rangka Atap Baja Ringan (Kaso dan Reng)

- Pekerjaan Arsitektur
- Rangka Besi Hollow

- Pekerjaan Kusen dll


- Kusen Plat

- Pekerjaan Railling

2. Persyaratan Umum

a. Semua persyaratan pekerjaan ini harus memenuhi persyaratan Normalisasi di


Indonesia dan memenuhi persyaratn dari AISC "Specification for fabrication &
erection" 12 januari 1981, untuk pabrikasi dan pemasangannya di
lapangan(Erection).
b. Semua pekerjaan baut(bolt) harus memenuhi persyaratan AISC "Specification For
Structural Joint Bolt"
c. Semua pekerjaan las harus mengikuti "American Welding Society For Arc Welding in
Building Construction Section"
d. Kontraktor bertanggung-jawab terhadap keamanan, kerusakan barang, sampai ke
tempat tujuan. egala kehilangan dan atau kerusakan adalah tanggungjawab
Kontraktor.

3. Persyaratan Bahan

a. Metal untuk pekerjaan struktural

1) Bahan baja yang digunakan diantaranya : WF “wide flange”, siku, harus baru dari
jenis yang sama kwalitasnya, dan harus memenuhi persyaratan normalisasi di
Indonesia dan Standard ASTM A- 36, dengan tegangan tarik putus minimum
3700kg/cm2.

2) Semua bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini harus disetujui oleh konsultan
Pengawas. Semua bahan tersebut harus lurus, rata permukaan, tidak cacat, bebas
karat, noda-noda lain yang dapat mengurangi mutunya.

4) Batang baja maupun bahan lain yang digunakan harus sesuai penampangnya,
bentuk, tebal, ukuran, berat, dan detail-detail lainnya dengan yang tercantum dalam
Gambar Kerja.

5) Kontraktor harus sudah mempersiapkan dan menyediakan segala komponen


penyambungan yaitu :
- Pelat besi, mur/baut, alat dan bahan lain untuk pengikat/,menyambung sesuai
dengan Gambar Kerja.
- Pengadaan tersebut harus sudah dimasukkan dalam anggaran biaya.
25

6) Semua bahan yang akan dipakai dalam pekerjaan ini terlebih dahulu harus disetujui
secara tertulis oleh konsultan Pengawas.

b. Metal untuk pekerjaan Non struktural


Persyaratan bahan mengikuti ketentuan pekerjaan baja struktural, bebas dari karatan.

4. Persyaratan Teknis

a. Kontraktor wajib meneliti kebenaran dan bertanggungjawab terhadap semua ukuran -


ukuran yang tercantum dalam Gambar Kerja. Pada prinsipnya ukuran pada Gambar
Kerja adalah ukuran jadi/finish

b. Pekerjaan bertaraf kelas satu. Semua pekerjaan ini harus dilaksanakan dan
diselesaikan bebas dari puntiran dan tekukan.

c. Setiap bagian yang buruk tidak memenuhi persyaratan yang tertulis disini yang
diakibatkan oleh kurang teliti dan kelalaian Kontraktor akan ditolak dan harus diganti
kewajiban yang sama juga berlaku untuk ketidakcocokan kesalahan maupun
kekurangan lain akibat Kontraktor tidak teliti dan cermat dalam koordinasi dengan
Gambar pelengkap dari AR, SA, ME dan EL. Pekerjaan perubahan dan pekerjaan
tambah dalam hal ini harus dikerjakan atas biaya Kontraktor dan tidak dapat diclaim
sebagai biaya tambah.

d. Pemotongan baja Konstruksi harus dengan mesin pemotong Mekanik (Mechanical


Cutting Machine) kecuali ditunjukkan lain dalam Gambar Kerja.

e. Semua bagian yang dilubangi sesuai dengan Gambar Kerja dan sudah dibersihkan
dari karat harus diperiksa dan berada dalam keadaan tidak cacat sebelum
pemasangan.

f. Kontraktor wajib memuat Shop Drawing sebelum pelaksanaan dilapangan


berdasarkan:
- Ukuran-ukuran sesungguhnya di tempat pekerjaan, khususnya yang berhubungan
dengan konstruksi yang telah berdiri.
- Bagian-bagian yang tidak terhalang oleh benda/komponen Shop Drawing ini harus
berisikan semua data yang diperlukan untuk pedoman pelaksanaan (Fabrikasi dan
Erection) dengan melengkapi keterangan produksi bahan, keterangan
pemasangan dan lain sebagainya. Shop Drawing ini harus diserahkan ke konsultan
Pengawas, dan Konsultan Perencana untuk disetujui dan disahkan

g. Perubahan bahan/detail karena alasan tertentu harus diajukan ke konsultan


Pengawas, dan Konsultan Perencana untuk mendapatkan persetujuan secara tertulis.
Semua perubahan yang disetujui dapat dilaksanakan tanpa adanya biaya tambahan
yang memepengaruhi kontrak, kecuali untuk perubahan yang mengakibatkan
pekerjaan kurang akan diperhitungkan sebagai pekerjaan kurang.

h. Sebaiknya sebanyak mungkin bahan unuk konstruksi baja difabrikasi di Workshop.


Kontraktor bertanggung jawab atas semua kesalahan detail, pabrikasi dan ketepatan
penyetelan/pemasangan semua bagian konstruksi baja. Kekurang tepatan
pemasangan karena kesalahan pabrikasi harus dibetulkan, diperbaiki dan atau diganti
yang baru dan semua ini atas biaya Kontraktor.

5. Persyaratan Pelaksanaan

a. Dudukan Plat Baja


Penempatan plat dudukan rangka baja harus rapi, rata waterpass dan semua lubang
baut harus terletak tepat pada jarak masing- masing baut maupun tepi kolom kaki
pedestal. Pemasangan Pelat baja tidak boleh bergeser lebih dari 2 mm dari as-nya.
26

Angker dan atau elemen-elemen vertikal lainnya harus tegak lurus terhadap
permukaan bidang tempatnya tertanam dan atau lantai.

b. Penyambungan dan Pemasangan

1). Pengelasan
a). Pengelasan harus dilakukan hati-hati dan cermat.
Logam yang akan dilas harus bersih dari retak dan cacat lain yang mengurangi
kekuatan sambungan dan permukaannya harus halus. Juga permukaan yang di
las harus sama, rata dan kelihatan teratur.
b).Pekerjaan las sedapat mungkin dikerjakan di bengkel/pabrik, dan atau dalam
ruangan yang beratap, bebas angin dan dalam keadaan kering. Benda
pekerjaan ditempatkan sedemikian rupa sehingga pekerjaan las dapat
dilakukan dengan baik dan teliti. Pekerjaan las harus dilakukan oleh orang yang
akhli ( mempunyai sertifikat ) dan harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan
dalam spesifikasi dan Gambar Kerja.

c). Las Perapat/Pengendap


Dalam setiap posisi dimana dua bagiam (dari satu benda) saling berdekatan,
harus digunakan las perapat/pengendap guna mencegah masuknya lengas
terlepas apakah diberikan detailnya atau tidak dalam Gambar Kerja apakah
barang tersebut terkena cuaca luar atau tidak dan Kontraktor tidak dapat meng
claim pekerjaan ini sebagai pekerjaan tambah.

d). Macam dan Tebal Las


* Macam las yang dipakai adalah las lumer(las dengan busur listrik)
* Ukuran las harus sesuai dengan Gambar Kerja dan atau tebal untuk
konstruksi minimum 1/2 tV2 dimana adalah tebal bahan terkecil.
* Panjang las minimum 8 x tebal bahan atau 40 mm
* Panjang las maksimum adalah 40 x tebal bahan.
* Kekuatan dari bahan las yang dipakai paling kecil sama dengan kekuatan baja
yang dipakai.

e). Perbaikan las

Bila pekerjaan las ternyata memerlukan perbaikan, maka harus dilakukan oleh
Kontraktor sebagaimana yang diperintahkan oleh konsultan Pengawas, dan
tidak dapat di claim sebagai pekerjaan tambah. Las yang menunjukan cacat
harus dipotong dan dilas kembali atas biaya Kontraktor.

2). Mur Baut

a). Baut yang digunakan harus mempunyai ukuran yang sesuai dengan yang
tercantum dalam Gambar Kerja
b). Pemasangan Mur dan Baut harus benar - benar kokoh serta mempunyai
kekokohan yang merata antara satu dengan yang lainnya.

3). Pengujian sambungan Baut dan Las

a). Untuk sambungan baut dan las dilakukan pemeriksaan visual.


b). konsultan Supervisi, berhak mengadakan test terhadap hasil pengelasan di
balai penelitian bahan menurut standard yang berlaku di Indonesia.

c. Memotong dan finish pinggiran bekas irisan, Gilingan, Maratakan dan lain-lain.

1). Bagian bekas irisan harus benar-benar datar, lurus dan bersih sama sekali tidak
diperbolehkan ada bekas jalur dan lain-lain.
27

2). Bila bekas pemotongan/pembakaran dengan mesin menghasilkan pinggiran


bekas irisan, maka bagian tersebut harus dibuang sekurang-kurangnya selebar 2,5
mm. Terkecuali kalau keadaan sebelum dibuang setebal 2,5 mm sudah tidak
tampak lagi jalur-jalur tersebut diatas.

d. Menembus, Mengebor dan Meluaskan Lubang

1). Pada keadaan akhir diameter lubang untuk baut dan sebuah baut hitam yang
tepat, boleh berbeda masing-masing 1 mm dari diameter batang baut tersebut.
2). Semua lubang harus di bor.
3). Untuk lubang pada bagian konstruksi yang disambung dan yang harus dijadikan
satu dengan alat/komponen penyambaung, di bor sekaligus sampai diameter
sepenuhnya. Apabila ternyata tidak sesuai, lubang diubah dengan di bor atau
diluaskan atau penyimpangannya tidak boleh melebihi 0,5 mm
4). Semua lubang harus bulat sempurna berdiri siku pada bidang dan konstruksi yang
akan disambung dan harus dibersihkan.

e. Pemasangan (Erection)

1). Pada waktu akan pemasangan (Erection) rangka dan balok kuda-kuda, semua
angker dan plat dudukan harus sudah terpasang tepat dan tegak lurus pada
tempatnya seperti yang tercantum dalam Gambar Kerja. Kontraktor harus meminta
persetujuan konsultan Manajemen Konstruksi (MK) untuk ketepatan semua angker
dan pelat dudukan.
2). Untuk konstruksi kap/rangka kuda-kuda sebelumnya harus diberikan lawan lendut
(Kontra Seeg) sebesar 1/600 kali panjang bentangan.
3). Bagian-bagian profil baja harus diangkat sedemikian rupa sehingga tidak terjadi
puntiran-puntiran. Bila perlu digunakan ikatan-ikatan sementara untuk mencegah
timbulnya tegangan yang melewati tegangan yang diijinkan, dan ikatan tersebut
dibiarkan terpasang sampai pemasangan seluruh konstruksi selesai.
4). Pengelasan diatas harus dilaksanakan pada saat konstruksi telah dalam keadaan
diam.
Pasal 18
PENUTUP ATAP

1. Lingkup Pekerjaan.

1). Rangka Atap dilaksanakan dengan pemasangan baja ringan

2). Pemasangan kaso-kaso dipakai baja ringan yang terpasang dengan jarak sesuai
gambar.

3). Penutup atap digunakan genteng keramik (full plat hitam) Kanmury

2. Persyaratan Umum.

Semua pekerjaan rangka atap, konstruksi kuda-kuda baja, pada atap harus memenuhi
persyaratan bahan dari Standar Industri Indonesia (SII).

3. Persyaratan Bahan

Keunggulan Genteng keramik FULL FLAT, terbuat dari material pilihan yang dibakar
hingga suhu 1.100 derajat Celcius.

Bukan hanya tampilan, tetapi yang terutama adalah fungsinya tidak akan bocor karena
dilengkapi dengan tanggul ganda mencegah tampias, letak lubang paku dengan tanggul
yang tinggi, overlap lebih panjang dari genteng biasa, disertai double interlocking, sehingga
dalam pengaplikasian di area karpus nok, tidak memerlukan adukan semen lagi, dimana
28

umumnya area karpus nok yang memakai material semen mudah retak, menyebabkan
bocornya atap, kotor dan sulit dibersihkan. Cement Free adalah solusi menjadikan atap
rumah bebas kebocoran, dengan penampilan bersih, rapi dan exclusive.

Description Unit
Length 348 mm
Effective Length 280 mm
Width 350 mm
Effective Width 310 mm
Weight ±3800 gram
Bending Failing Load ±175 kgf
Water Absorption < 10 %
Batten Distance 280 mm
Quantity per Sqm 11.5 pcs

Kontraktor harus menyerahkan contoh semua bahan kepada Konsultan Pengawas


untuk persetujuan tertulis bagi pemasangan.

4. Persyaratan Pelaksanaan

Pekerjaan Atap dan Bubungan

1). Persiapan

a). Rangka atap baja ringan sudah terpasang kokoh pada tempatnya sesuai gambar
kerja dan telah disetujui oleh Pengawas Lapangan.
b). Pemasangan gording dimulai dari bawah ke atas, Jarak antara gording sesuai
ukuran atap sedemikian rupa sehingga pada waktu pemasangan ujung penutup
atap mempunyai overlap antar penutup atap yang cukup.
c). Sebelum pemasangan atap
01. Listplank harus sudah terpasang dan terkunci ditempatnya sesuai
gambar.
02. Semua pekerjaan tersebut di atas telah disetujui Pengawas lapangan.

2). Pemasangan atap dimulai dari bawah, kearah atas dan kesamping searah
penampang tepi. Pemasangan atap pada gording harus benar-benar rapi dan tertutup
rapat, saling mengunci, lurus baik kearah vertikal maupun horozontal.
3). Untuk pemakaian nok, menggunakan nok dari produk yang sama sesuai dengan
spesifikasi pabrik.
4). Pemasangan genting harus benar-benar saling menutup, bila tidak, berarti bentuk /
ukuran tidak sama atau rangka tidak rata. Hal ini harus segera diperbaiki / diganti
supaya sempurna.
5). Genteng metal yang melengkung/penyok, tidak cocok bentuknya cacat atau retak
tidak boleh dipakai dan harus segera dipisahkan dan disingkirkan.
6). Untuk seluruh pekerjaan atap harus digunakan genteng metal yang sama,
dikeluarkan satu produk untuk satu type. Guna memilih kualitas, Pemborong
memberikan contoh-contoh genting untuk dimintakan persetujuannya dari Direksi.
7). Pemasangan genting metal harus benar-benar saling menutup, bila tidak, berarti
bentuk / ukuran tidak sama atau rangka tidak rata. Hal ini harus segera diperbaiki /
diganti supaya sempurna.
8). Sambungan Genteng metal sesuai aturan produsen dengan over lap yang
dipersyaratkan, dipasang dengan secara rapi dengan paku yang sesuai
29

9). Nok atap Genteng menggunakan Nok Genting keramik (tanpa semen) sekualitas
kanmury dan lisplank menggunakan kalsiplank lebar 30 mm.

Pasal 19
PEKERJAAN DINDING, PLESTERAN

1. Yang termasuk lingkup pekerjaan ini, meliputi ;


a Pasangan dinding ½ bata 1 pc : 3 ps
b Pasangan dinding ½ bata 1 pc : 5 ps
c Plesteran + Acian 1 pc : 3 ps
d Plesteran + Acian 1 pc : 5 ps
e Plesteran Opening Kusen 1 pc : 5ps
f Aferking Beton
g Pasangan Batu Tempel
h Pasangan Dinding Keramik 20/40 cm
i Pasangan bata pada saluran, bak kontrol, pondasi rabat dan segala sesuatu yang
nyata masuk dalam pekerjaan ini.

2. Persyaratan Bahan

a.Batu bata (bata merah)


Batu bata (bata merah) harus mempunyai rusuk-rusuk yang tajam dan siku, bidang-
bidang sisinya harus datar, ukuran seragam, pembakaran seragam dan merata, bebas
dari cacat, retak cat, atau adukan pada waktu akan dipasang. Dipakai batu bata (bata
merah) mutu yang baik, Kontraktor harus menyerahkan contoh bahan/meterial ke
Konsultan Pengawas untuk mendapatkan persetujuan tertulis bagi pemakaian.

b.Semen Portland/PC, pasir, air harus memenuhi persyaratan bahan untuk pekerjaan
beton yang terurai dipasal lain dalam buku RKS ini.

c. Keramik
keramik yang digunakan warna hitam sekualitas ROMAN. Sudut- sudutnya harus siku.
Kontraktor harus memberikan contoh bahannya untuk mendapatkan persetujuan dari
Pengawas Lapangan.
30

3. Persyaratan Pelaksanaan

a. Aduk Perekat/Aduk Pasangan


1). Adukan untuk pasangan dan plesteran dibuat dengan macam- macam perbandingan
campuran seperti dibawah ini :

Macam Perbandingan Penggunaan

M1 1Pc : 3 Ps 1. Aduk semua pasangan batu bata kedap air atas


maupun di bawah permukaan tanah. (dinding,bak
bungan, bak kontrol,pondasi rollag bata, tangki septic,
saluran)
2. Aduk neut, pas. keramik
3. Aduk plesteran trasram, beton dan braven

M3 1 Pc : 5 Ps 1. Aduk semua pasangan batu bata tidak kedap air.


2. Plesteran pasangan batu bata tidak kedap air.
3. Plesteran Pas. bata + Plesteran kamprot halus
(texture)

2). Semen jenis adukan dan plesteran tersebut diatas harus disiapkan sedemikian rupa
sehingga selalu dalam keadaan masih segar dan belum mengering. Dipersyaratkan
agar jarak waktu pencampuran adukan dengan plesteran dengan pemasangannya
tidak melebihi 30 menit, terutama untuk adukan kedap air (macam M1 dan M2)

3). Pemakaian aduk perekat/aduk pasangan :

- Adukan pasangan M2 dan plesteran M2 untuk semua dinding daerah basah/toilet,


dengan ketinggian 1,6 m dari muka lantai, dan +30 cm dari peil+0,00 lantai
terbawah serta semua pasangan yang masuk kedalam tanah atau sesuai
Gambar Kerja.
- Semua ketentuan pemakaian aduk perekat sesuai ketentuan ayat 3.a.01 diatas.
- Plesteran kamprot halus adalah pekerjaan finishing untuk mendapatkan texture
permukaan dinding luar, dan dilaksanakan setelah pekerjaan plesteran dasar
cukup kering, tebal plesteran kamprot halus + 5 mm.
- Plesteran beraven adalah plesteran kasar yang masuk ke dalam tanah
dengan campuran 1:3 (M2), harus pula dilaksanakan pada pasangan yang masuk
kedalam tanah.

b. Persyaratan Pekerjaan pasangan dinding

1). Dalam pelaksanaan pekerjaan ini Kontraktor harus memperhatikan detail bentuk
profil sambungan dan hubungan dengan material lain dan melaksanakannya sesuai
dengan yang tercantum dalam Gambar Kerja.

2). Sebelum pemasangan batu bata harus direndam dalam air bersih dulu sehingga
jenuh.Pada saat diletakkan tidak boleh ada genangan air diatas permukaan batu bata
tersebut.

3). Pelaksanaan pemasangan batu bata harus rapi, sama tebal, lurus, tegak (lot) dan
pola ikatan harus terjaga dengan baik. Pertemuaan sudut antara dua dinding harus
rapi dan siku, kecuali apabila pertemuan tersebut memang tidak siku seperti
tercantum dalam Gambar Kerja.

4). Untuk setiap pertemuan dinding pasangan batu bata 1/2 batu setiap luas 12 m2,
harus dipasang kolom praktis/kolom penguat beton dengan dimensi, ukuran dan
penulangan sesuai gambar Kerja.
31

5). Pada setiap pertemuan dinding pasangan batu bata dengan kolom praktis, ring balk
beton,maupun beton lainnya seperti tercantum dalam Gambar Kerja, harus
dipasang angker diameter 10 mm tiap jarak 70 cm. Bagian yang mencuat keluar
sejauh 20 cm, dan bagian yang tertanam minimal sedalam 20 cm.

6). Pemeliharaan ; Selama pasangan dinding belum difinish, Kontraktor wajib untuk
memelihara dan menjaga atas kerusakan atau pengotoran oleh bahan lain.

7) Dalam proses pengeringan harus selalu dibasahi dengan air minimal selama 7 hari.

c. Pekerjaan Plesteran

1). Campuran plesteran yang dimaksud adalah campuran dalam volume.

2). Pasir yang digunakan untuk plesteran adalah pasir pasang yang harus diayak
terlebuh dahulu.

3). Plesteran halus/aci halus adalah campuran PC dengan air yang dibuat sedemukian
rupa sehingga mendapatkan campuran yang homogen. Plesteran ini adalah
pekerjaan Finishing. Pekerjaan plesteran halus ini dilaksanakan setelah aduk
plesteran sebagai lapisan dasar minimal berumur 8 hari.

4). Sebelum pelaksanaan plesteran semua pemipaan maupun spar ing-sparing SA


dan EL telah terpasang pada jalur dan tempatnya sesuai dengan Gambar Kerja dan
telah disetujui oleh Pengawas Lapangan.

5). Sebelum pelaksanaan plesteran terlebih dahulu dibuat kepala plesteran (klabangan)
dengan tebal sama dengan ketebalan plesteran yang direncanakan, kecuali untuk
plesteran berapen.

6). Permukaan plesteran tersebut khususnya plesteran halus/aci halus harus rata, tidak
bergelombang, penuh dan padat, tidak berongga, tidak berlubang, tidak mengandung
kerikil atau benda-benda lain yang membuat cacat.
Apabila pekerjaan tidak memenuhi yang dipersyaratkan maka Kontraktor harus
membongkar dan memperbaiki sampai disetujui oleh Konsultan Pengawas.

7). Pekerjaan plesteran pada Permukaan pasangan batu bata sebelum diplester
permukaan pasangan batu bata harus dibasahi terlebih dahulu dan siar-siarnya
sudah dikeruk sedalam 1 cm

8). Pekerjaan Plesteran halus pada Permukaan Beton Sebelum pelaksanaan pekerjaan
ini permukaan beton harus dibersihkan dari sisa-sisa bekisting kemudian di
ketrek/scratched. Semua lubang-lubang bekas pengikat bekistingatau formtie harus
tertutup aduk plesteran.

9). Pekerjaan plesteran halus/aci halus adalah untuk semua permukaan pasangan batu
bata dan beton yang akan di-finish dengan cat.

10) Semua permukaan yang akan menerima bahan/material finishing misalnya bahan/
material ubin keramik dan lainnya, maka permukaan plesterannya harus diberi alur-
alur garis horizontal untuk memberikan ikatan yang lebih baik terhadap
bahan/material finishing tersebut, pekerjaan ini tidak berlaku apabila bahan/neterial
finishing tersebut adalah Cat.

11) Ketebalan plesteran harus mencapai ketebalan permukaan dinding/kolom/lantai yang


dinyatakan dalam Gambar Kerja dan atau sesuai dengan peil-peil yang diminta
dalam Gambar Kerja. Tebal plesteran adalah minimal 1 cm dan Maksimal 2,8 cm.
Jika ketebalan melebihi 3 cm maka harus menggunakan kawat ayam yang
diikatkan/dipakukan ke permukaan pasangan batu bata atau beton yang
bersangkutan untuk memperkuat daya lekat plesteran.
32

12) Untuk setiap pertemuan bahan/material yang berbeda jenisnya pada satu bidang
datar harus diberi nat dengan ukuran lebar 0,7cm dalam 0,5 cm.

13) Pemeliharaan
a). Kelembaban plesteran harus dijaga sehingga pengeringan berlangsung dengan
wajar tidak berlangsung dengan tiba-tiba. Hal ini dilaksanakan dengan membasahi
permukaan plesteran setiap kali terlihat kering dan melindunginya dari terik panas
Matahari langsung dengan bahan penutup yang dapat mencegah penguapan air
secara cepat. Pembasahan tersebut adalah sebagai berikut : Selama 7(tujuh) hari
setelah pengacian selesai, Kontraktor harus selalu menyiram dengan air
sekurang-kurangnya 2(dua) kali sehari sampai jenuh.
b). Tidak dibenarkan pekerjaan finishing permukaan plesteran dilakukan sebelum
plesteran berumur lebih dari 2(dua) minggu, cukup kering, bersih dari retak, noda
dan cacat lain seperti yang disyaratkan tersebut diatas.

d. Pekerjan keramik/ batu tempel pelapis dinding

1). Pelapis dinding yang akan ditempel harus sudah diseleksi dengan baik sehingga
bentuk dan warna masing-masing keramik sama tidak ada bagian yang retak, pecah-
pecah, sudut atau tepi atau cacat lainnya serta telah disetujui secara tertulis dari
Konsultan Pengawas.
2). Aduk yang dipakai adalah campuran 1Pc:2Ps tebal 10-15 mm untuk daerah kedap
air, dan 1Pc:3Ps daerah kering.
3). Seluruh rongga pada bagian belakang keramik/batu alam harus berisi dengan adukan
pada waktu pemasangan
4). Awal pemasangan dan pola pemasangan harus sesuai dengan Gambar Kerja atau
atau petunjuk Pengawas Lapangan.
5). Pada prinsipnya pemotongan / batu alam harus dihindarkan, kecuali ditentukan
dengan pola Gambar, jika perlu diadakan pemotongan hatus dikerjakan dengan hati-
hati, rapi, lurus atau bersudut sesuai dengan kebutuhan, kemudian bidang potong
harus diperhalus dengan gerinda atau kikir.
6). Persiapan sebelum pemasangan
Semua pemipaan maupun sparing-sparing SA&EL telah telahterpasang pada jalur
dan tempatnya sesuai dengan Gambar dan telah disetujui oleh Konsultan Pengawas.
7). Setelah bidang keramik/granite/andesit terpasang permukaannya harus dibersihkan
dengan lap/kain basah sehingga bersih dari noda-noda semen. Bidang keramik/batu
alam ini harus dijaga tetap basah untuk menghindarkan pengeringan terlalu cepat
dengan pembasahan minimal 3(tiga) hari pertama setelah keramik terpasang.
8). Bila ditemui retak, kerusakan bergelombang, garis-garis tepi dan siar tidak rata dan
lurus, maka Kontraktor harus membongkar dan memperbaiki hingga sesuai dengan
yang disyaratkan. Biaya untuk hal ini adalah tanggung jawab Kontraktor, tidak dapat
diajukan sebagai biaya pekerjaan tambah.
9) Pelapis dinding yang telah terpasang harus dilindungi dari benturan dan atau
gesekan.

Pasal 20
PEKERJAAN ALUMUNIUM COMPOSITE PANEL
(ACP)
1. UMUM

Pekerjaan ini mencakup pemasangan pelapis dinding ruangan-ruangan dalam


maupun luar bangunan sesuai dengan gambar pelaksanaan dan RKS ini, meliputi
penyediaan alat, bahan dan tenaga untuk keperluan pekerjaan ini. Ruangan yang
dilapisi keramik sesuai dengan gambar dan schedule finishing.
33

2. PELAPIS DINDING EKSTERNAL ALUMUNIUM COMPOSITE PANEL

2.1. Lingkup Pekerjaan

A. Pekerjaan ini meliputi tenaga kerja, bahan-bahan dan peralatan yang


dipergunakan untuk melaksanakan pekerjaan pemasangan panel aluminium
composite seperti yang ditunjukkan dalam gambar rencana dan spesifikasi
teknis.
B. Pekerjaan ini dilaksanakan pada tempat-tempat seperti yang ditunjukkan
dalam gambar rencana.

2.2. Pengendalian Pekerjaan

A. Semua pekerjaan yang disebutkan dalam bab ini harus dikerjakan sesuai
dengan standard dan spesifikasi dari pabrik.
B. Bahan-bahan yang digunakan harus memenuhi standard – standard antara
lain:
 AA ( The Aluminium Association )
 AAMA ( Architectural Aluminium Manufactures Association )
 Standar Nasional Indonesia (SNI)
 SNI 07 – 0603 – 1989 Produk Aluminium untuk Arsitektur
 American Society for Testing Materials (ASTM)
 Japanese Industrial Standard (JIS)
 ISO 9001

2.3. Komponen

A. Bracket / angkur dari material besi finished galvanis atau material aluminium
extrusion.
B. Rangka vertical dan horizontal dari material aluminium extrusion
C. Rangka tepi panel dan system pemasangan panel adalah dengan system infill
non sealant joint dengan reinforce pada sekeliling panel composite
menggunakan aluminium extrusion.
D. Infill dari bahan aluminium extrusion
E. Sealant
1) Untuk pekerjaan luar, lihat Bab Sealant
2) Warna akan ditentukan kemudian berdasarkan colour chart dari pabrik.
3) Lokasi sealant antara panel aluminium dengan komponen lain.

2.4. Bahan – Bahan & Produk

A. Produk : Ex.Seven, Alcomax atau setara


B. Aluminium Composite Panel tebal 4 mm (aluminium 2 x 0,5 mm, mineral core
3mm) finishing Polyvinylidene Difluoride ( PVDF ) dan berlapis coating Nano
technology anti stain/ anti noda dengan lebar panel standar 1,220 mm atau
lebar ukuran khusus 1250mm dan 1500mm
C. Berat 6-7kg/m2
D. Finished Fluorocarbond Factory Finished / PVdF Coating on sheet
E. Produk Aluminium Composite Panel terkait wajib disertai hasil test fire
retardant material dari laboratorium PSB Singapore.
34

F. Persyaratan fireproof aluminium composite panel mengikuti standard building


material dengan spesifikasi material mineral core Grade A Fire Retardant dan
klasifikasi O – sebagai berikut:
 National Fireproof Detection Organization GB/T 8624 – 2006.
 Hasil test material mengikuti standard BS 476
 Persyaratan Smoke Toxicity memenuhi standard GB / T 20285-2006
 Persyaratan Smoke Growth Rate memenuhi standard GB / T 20284 –
2006
 Persyaratan Fire Growth Rate Index memenuhi standard GB / T 20284 –
2006
 Persyaratan Total Heat Release memenuhi standard GB / T 20284 –
2006
 Persyaratan Length of Flame Spread memenuhi standard GB / T 20284 –
2006
 Persyaratan Residual Length memenuhi standard GB / T 8626 – 88
 Persyaratan Total Smoke Production memenuhi standard GB / T 20284 –
2006
 Persyaratan Flaming Droplets memenuhi standard GB / T 20284 – 2006
 Persyaratan Filter Paper Combustility memenuhi standard GB / T 8626 –
88
G. Rangka aluminium extrussion system infill non sealant joint atau mengikuti
standar fabrikan yang dipakai
H. Joint Sealer dan Back Up Rod pada kondisi – kondisi khusus apabila
ditentukan oleh konsultan perencana
I. Bahan composite harus dalam keadaan rata, warna akan ditentukan
kemudian.
J. Bahan yang digunakan harus merupakan produksi pabrikan / industry
manufaktur yang bersertifikat mutu yang diakui resmi pemerintah Negara
pembuat atau asosiasi produsen internasional terkait.
K. Kontraktor diwajibkan menyerahkan jaminan supply yang dikeluarkan oleh
distributor resmi, dan didukung oleh pihak pabrik ( principal ) yang
mencantumkan nama proyek dan perkiraan volumenya.
L. Contoh-contoh : Kontraktor diharuskan menyerahkan contoh-contoh bahan
kepada Direksi Lapangan untuk mendapatkan persetujuan Pemberi Tugas.
M. Toleransi dimensi mill finished :
a. Lebar : - 0/ + 4mm
b. Panjang s/d 4meter : -0/ + 6mm
N. Aluminium Composite Panel Type Fire Retardant / FR Grade A dan Klasifikasi
O yang digunakan harus memiliki referensi atau sudah pernah diaplikasi
pada bangunan Bandar Udara Internasional setara lainnya ( tingkat dunia )

2.5. Pelaksanaan Pekerjaan

A. Sesuai dengan standar pelaksanaan fabrikan aluminium composite panel


yang dipilih.
B. Pemasangan dilakukan oleh tenaga ahli yang khusus dalam pekerjaan ini
dengan menunjukkan surat keterangan referensi pekerjaan-pekerjaan yang
pernah dikerjakan kepada Konsultan Pengawas untuk mendapatkan
persetujuan.
C. Aluminium Composite Panel yang digunakan untuk seluruh proyek harus dari
satu macam saja.
35

D. Pelaksanaan pembuatan motif ornamen khusus pada aluminium composite


panel (motif etnik dayak dan motif khusus lainnya sesuai persyaratan
konsultan perencana) harus dilakukan di pabrik supplier dan harus
menggunakan mesin khusus dengan system CNC Cutting & Grooving (
Menggunakan mesin merk I-Groove / setara ) agar dicapai keseragaman dan
ketepatan hasil produksi motif etnik tersebut.
E. Pelaksanaan pemasangan harus lengkap dengan peralatan bantu untuk
mempermudah serta mempercepat pemasangan dengan hasil pemasangan
yang akurat, teliti dan tepat pada posisinya.
F. Rangka-rangka pemegang aluminium composite panel harus dipersiapkan
dengan teliti dan tepat posisinya sesuai gambar rencana.
G. Metode pemasangan antara lain :
H. Dijepit diantara bagian-bagian sungkup puncak ganda
I. Panel-panel baki menggantung pada rangka dan dipasang dengan sekrup
J. Dinding pelapis yang dijadikan satu unit, system ikatan pinggir.
K. Frekwensi pembersihan dan perawatan serta pemilihan bahan pembersih
yang cocok sangat tergantung pada lokasi gedung dan kondisi permukaan.
L. Pembersihan dapat dilaksanakan dengan air spons lembut.
M. Apabila pengotoran lebih berat bisa ditambahkan pembersih khusus/neutral
detergent yang direkomendasikan dari pabrik pembuat.
N. Setelah pemasangan dilakukan penutupan celah-celah antar panel dengan
infill aluminium extrussion sesuai gambar rencana.
O. Penutupan antar panel dan dinding sesuai klarifikasi dengan konsultan
perencana, dilakukan dengan bahan caulking & sealant sillicone hingga rapat
dan tidak bocor sesuai dengan uraian Bab sealant dalam persyaratan ini.
P. Kontraktor harus melindungi pekerjaan yang telah selesai dari hal-hal yang
dapat menimbulkan kerusakan. Bila hal ini terjadi, Kontraktor harus
memperbaiki tanpa biaya tambahan.
Q. Hasil pemasangan pekerjaan Aluminium Composite Panel harus merupakan
hasil pekerjaan yang rapih dan tidak bergelombang.
R. Kontraktor diharuskan membuat mock up skala 1:1 untuk disetujui Pemberi
Tugas dan Konsultan Pengawas dalam bidang yang cukup lebar.
S. Kontraktor harus dapat menyertakan jaminan mutu dalam 10 (sepuluh) tahun,
terhadap sinar matahari/ dari pabrik pembuatnya berupa sertifikat jaminan
yang mencantumkan :
1) Nama Proyek
2) Owner
3) Warna yang digunakan
4) Volume

3. PEKERJAAN CURTAINWALL DENGAN ALUMINIUM FRAME

3.1. Lingkup Pekerjaan

A. Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan dan peralatan yang
digunakan untuk melaksanakan pekerjaan pemasangan curtain wall aluminium,
window wall, komplit dengan kacanya, window stool, coping, flashing, curtain box,
aluminium composite panel, serta aluminium grille profil hollow, seperti yang
ditunjukkan dalam gambar rencana.
B. Pekerjaan ini dilaksanakan pada dinding kaca kulit luar bangunan seperti
tertera dalam gambar rencana
36

3.2. Pengendalian Pekerjaan

Seluruh pekerjaan ini harus memenuhi ketentuan standard (referensi) antara lain:
A. American Architectural Manufacturers Association (AAMA)
 AAMA 501 = Method of test for Metal Curtain Wall
 AAMA 101 = Voluntary specification for Aluminium and Polly (vinyl
chloride) (PVC) Prime window and glass Doors
B. ASTM – American Society for Testing Material :
 ASTM – B 221 = Aluminium extrusion
 ASTM – B 209 = Aluminium alloy sheets and plates
 ASTM – A 36 = Structural steel
 ASTM – B 308 = Aluminium alloy
 ASTM E 330 = Test Method for Structural Performance of Exterior Windows,
Curtain Wall, and Doors by Uniform Static Air Pressure Difference.
 ASTM E 283 = Test Methid for Rate of Air Leakage through Exterior
Windows, Curtain Walls, and Doors
 ASTM E-331 = Test Method for Water Penetration of Exterior Windows,
Curtain Wall, and Doors by Uniform Static Air Pressure Difference.
 ASTM E-1233 = Standard Test Method for Structural Performance of Exterior
Windows, Curtain Walls and Doors by Cyclic Static of Air Pressure Differential
 ASTM E-547 = Standard Method for Water Penetration of Exterior Windows,
Curtain Walls and Doors by Cyclic Static Air Pressure.
C. Japanese Insdustrial Standard (JIS)
 JIS H4100 = Aluminium and Aluminium Alloy Extruded Shape
 JIS H8602 = Combined Coating of Anodic Oxide and Organic Coating’s
on Aluminium and Aluminium Alloys
 JASS 14 = Japanese Architectural Standard Specification for Curtain Wall
 JIS A.4706 = Japanese Industrial Standard for Aluminium and Steel
Window

D. Singapore Standard (SS)


 SS 212-98 = Aluminium Alloy Window
 SS 381-97 = Aluminium Curtain Wall
E. Standar Nasional Indonesia (SNI)
SNI-03-0573-1989 = Syarat Umum Jendela Aluminium Paduan
F. Sertifikat dan garasi bahan yang digunakan agar diserahkan pada Konsultan
Pengawas.
G. Applicator/Kontraktor menyerahkan surat keterangan/jaminan supply produk pintu
dan jendela alumunium dari pabrik pembuat dan surat jaminan pelaksanaan QC
yang akan dilaksanakan oleh pabrik pembuat pada saat proses pemasangan,
apabila ada.
H. Kontraktor harus membuat mock-up untuk pengetesan, dipersiapkan bila diminta
oleh Konsultan Pengawas dengan perhitungan biaya tersendiri.

3.3. Deskripsi Sistem

A. Umum
Pekerjaan Jendela aluminium untuk eksterior dan interior termasuk pekerjaan yang
berkaitan, seperti : angkur yang ditanam, struktur penguat dan komponen pelengkap
yang lainnya.
B. Kriteria Perencanaan
 Faktor Pengaman
Kecuali disebutkan lain, bagian-bagian aluminium termasuk ketahanan kaca,
memenuhi factor keamanan tidak kurang dari 1,5 x maksimum tekanan angin
yang disyaratkan.
37

 Modifikasi
Dapat dimungkinkan tanpa merubah profil atau merubah penampilan, kekuatan
atau ketahanan dari material dan harus tetap memenuhi kriteria perencanaan
 Pergerakan karena Temperatur
Akibat pemuaian dari material yang berhubungan tidak boleh menimbulkan
suara maupun terjadi patahan atau sambungan yang terbuka, kaca pecah,
sealant yang tidak merekat dan hal-hal lain. Sambungan kedap air harus
mampu menampung pergerakan ini.

3.4. Tekanan Angin

Tekanan angin (Design Wind Load) ditentukan oleh perletakan, bentuk dan ketinggian
bangunan, bila tidak ditentukan maka tekanan angin minimum yang harus di penuhi
adalah sebesar 718 Pa dengan faktor keamanan sbb:
Positif (P+) = 1 x
Negatif (P-) = 1,5x

3.5. Persyaratan Struktur

A. Defleksi:
 AAMA = Yang diijinkan maksimum L/175 atau 2cm
 JIS = Defleksi yang diijinkan maksimum L/150 atau 2cm
 SII = Yang diijinkan maksimum L/175 untuk double glazed dan L/125
untuk single glazed.
 SS = Yang diijinkan maksimum L/175 untuk double glazed dan L/125
untuk single glazed.

B. Beban Hidup
C. Pada bagian-bagian yang menerima beban hidup terutama pada waktu perawatan,
seperti : meja (stool) dan cladding diharuskan disediakan penguat dan angkur
dengan kemampuan 62kg dengan beban terpusat, horizontal dan tanpa terjadi
kerusakan.

3.6. Kebocoran Udara


3
A. ASTM E 283 = Kebocoran udara tidak melebihi 2.06m pada setiap m unit panjang
penampang bidang bukaan pada 75 Pa tekanan differential.
B. SS 212= Untuk jendela hidup besarnya kebocoran udara tidak boleh melebihi
3
10m /h/m pada 20% dari tekanan angin (Design Wind Load) atau 200Pa. Kondisi ini
berlaku untuk gedung non air condition sedangkan untuk gedung air condition
kebocoran udara maksimum mengikuti grafik A & B

3.7. Kebocoran Air


A. 1. ASTM E 331 = Tidak terlihat kebocoran signifikan (air masuk ke dalam interior
bangunan) sampaikan tekanan 137 Pa (positif) dengan jangka
2
waktu 15 menit, dengan jumlah air minimum 3,4 L/m min.
B. SS 212 = Tidak terlihat kebocoran signifikan pada 15% dari Tekanan
angin rencana atau 180 Pa (untuk kondisi bangunan dengan
kanopi minimum 200mm overhang). Atau 30% dari tekanan
angin rencana atau 240 Pa (kondisi bangunan tanpa kanopi)
2
dengan jumlah air minimum 4,0 L/min/m
3.8. Kekedapan Suara

Faktor Pengurangan Kebisingan Suara (Sound Transmission Loss) sebesar 22,5 dB


pada frekwensi 124 – 400 Hz atau tergantung pada tipe-tipe ruangannya (hanya berlaku
untuk produk-produk khusus).
38

3.9. Bahan-Bahan Dan Produk

A. Produsen :
Alakasa, Indal Extrussion, Alexindo, atau setara

B. System: Back Mullion + Stick (sesuai gambar)


Ukuran: Memenuhi perhitungan teknis
Tebal : Minimal 1,8 mm (untuk transom) dan 2 mm (untuk mullion), atau sesuai
dengan standard pabrik & masuk dalam perhitungan teknis kekuatan
Finish : Powder Coating 50 – 70 mircron
Glossy : 70 – 80%
Warna : Ditentukan kemudian
C. Aluminium Extruded Window Stool
Ukuran : Sesuai Gambar
Tebal : 1,5mm atau sesuai dengan standard pabrik & masuk dalam perhitungan
teknis kekuatan
Finish : Powder Coating (lihat bab pengecatan)
Warna : Sesuai kosen aluminium
Lokasi : Sesuai gambar
D. Billet yang dipakai
Dari billet utama (primery) dengan standard A-6063 S-T5 dengan komposisi (%) :
Mg : 0,45 – 0,9%
Si : 0,2 – 0,6%
Ti : 0,1% max
Mn : 0,1% max
Zn : 0,1% max
Fe : 0,35% max
Cu : 0,1% max
Cr : 0,1% max
Aluminium : Sisanya

E. Kaca : Lihat bab pekerjaan kaca

F. Back-up material
 Bahan = Polyurethane Foam / Setara
 Sifat material = Tidak menyerap air
 3
Kepadatan = 65 – 96 kg/m
 Ukuran penampang = 25% - 50% lebih besar dari celah yang terjadi

G. Gasket
 Bahan = PVC, Neoprene, Santoprene, EPDM
 Sifat material = Tahan terhadap perubahan cuaca
 Kekerasan = 60 – 80 Durometer
 Jenis bahan = Extrusion

H. Setting Block untuk Kaca


 Bahan = EPDM
 Kekerasan = 80 – 90 Durometer

I. Sealant Dinding & Joint Sealer


 Single komponen
 Type = Silicone Sealant
 Sesuai bab pekerjaan caulking dan sealing
 Sambungan antara profil horizontal dengan vertical diberi sealer yang berserat
guna menutup celah sambungan profil tersebut, sehingga mencegah kebocoran
udara, air dan suara.
39

 Bahan = Butyl Sheet

J. Screw
Bahan = Galvanis

K. Angkur & Angkur Tanam


Bagian yang berhubungan dengan aluminium dilapisi Galvanised.
Bagian lain diberi lapisan anti karat, Zinc Chromate, type alkyd.

L. System spandrel (back board) apabila ada, agar menggunakan panel Calcium
Sillicate, Kalsiboard tebal 6mm dengan finishing cat (sesuai dengan uraian dalam
Bab Pekerjaan Pengecatan).

3.10. Gambar Kerja

A. Gambar kerja yang lengkap, yang menjelaskan:


 Tipe dan tampak setiap jenis jendela dan pintu aluminium / curtainwall / grill
 Detail sambungan baik exterior maupun interior
 Detail pemasangan
 Detail pertemuan aluminium dengan komponen-komponen lain yang
berhubungan
 Kelengkapan ukuran-ukuran
B. Perhitungan struktur sesuai dengan kriteria design yang ada (kalau diperlukan)

3.11. Fabrikasi Dan Assembling

A. Semua jenis jendela, pintu aluminium dan grill profil hollow di fabrikasi di Work
Shop/Pabrik, kecuali yang tidak bisa dirakit di pabrik, terpaksa dilaksanakan di job
site.
B. Semua sambungan dikerjakan dengan mesin sehingga rapi, kokoh dan dengan
bentuk sambungan yang sesuai standard toleransi. Untuk sambungan yang tahan
air harus diberi sealant dari bahan yang tidak terlihat oleh mata.
C. Perakitan jendela maupun pintu aluminium dan grill profil hollow dilaksanakan di
Workshop / pabrik sehingga selain kwalitas perakitan sesuai standard yang
diisyaratkan juga mempercepat proses pemasangan di lapangan.
D. Proses pabrikasi dan assembling harus berdasarkan data di shop drawing yang
sudah disetujui oleh pemberi tugas.
E. Hardware yang dipasang menggunakan back plate

STANDARD TOLERANSI ASSEMBLING

No Keterangan Toleransi (mm)


1 Bergesernya pemasangan kunci / engsel dan hardware + / -3
2 lain dari tempat yang ditentukan < 0,5
3 Gap (celah) antar sambungan rangka aluminium <3
4 (Vertikal dan Horizontal) + / - 1,5
5 Gap (celah) antar sambungan bahan tahan air (Gasket) <2
6 Perbedaan ukuran dalam, dari ragka aluminium dan Tidak terlihat pada bagian
7 daun jendela aluminium, baik untuk tinggi maupun lebar yang terlihat mata langsung
Perbedaan ukuran dalam, dari jendela yang Sesuai ukuran di shop
bersebelahan drawing
Sambungan las
Sealant
40

3.12. Pengiriman & Penyimpanan Di Site

A. Semua profile dilapisi PVC plastic atau polythilene film


B. Pengiriman barang-barang harus hati-hati dan tidak boleh terjadi kerusakan
C. Setiap unit pintu, jendela maupun curtain wall dan grill profile hollow yang dikirim ke
lapangan harus ada tanda / bukti sudah diperiksa kwalitasnya oleh QC Pabrik
D. Material yang disimpan di lapangan (Site) harus diatur sedemikian rupa agar tidak
terjadi kerusakan / cacat

3.13. Pelaksanaan (Pemasangan pada struktur bangunan)

A. Sebelum dimulainya pelaksanaan pekerjaan, kontraktor diwajibkan terlebih dahulu


membuat shop drawing system curtain wall lengkap dengan :
1) Tipe dari tampak / façade
2) Detail-detail anker dan sambungan aluminium
3) Pemasangan sealant, gasket dan kaca
4) Detail pertemuan aluminium dengan komponen lain
5) Ukuran-ukuran dan lain sebagainya.
B. Semua unit aluminium harus terpasang dengan hubungan siku-siku, tegak lurus dan
mengikuti patokan-patokan (bench mark) dari Kontraktor
C. Sebelum diadakan pemasangan maka perlu adanya pengukuran di lapangan dan
koordinasi dengan pekerjaan lain, sehingga ukuran lubang (opening) sesuai dengan
shop drawing
D. Pemasangan harus dilaksanakan oleh Kontraktor yang mempunyai pengalaman
spesialis di bidang pekerjaan aluminium dan mempunyai tenaga-tenaga ahli
pengalaman minimal lima tahun kerja khusus pekerjaan tersebut dengan
menunjukan surat referensi pengalaman.
E. Pekerjaan ini harus dilaksanakan pre-fabrikasinya pada workshop yang lengkap
dengan peralatan / mesin-mesin khusus untuk pekerjaan ini sehingga dapat
menghasilkan pekerjaan yang tepat dan akurat. Bila diperlukan workshop dapat
ditinjau oleh Perencana atau Direksi Lapangan.
F. Penyekrupan dipasang dengan sekrup galvanis dan tidak terlihat dari luar
G. Sambungan harus kedap air dan memenuhi syarat kekuatan terhadap angin
H. Detail-detail pada setiap pertemuan harus rapat, rapih, rata dan bersih dari goresan-
goresan / cacat
I. Pada setiap pertemuan aluminium dengan dinding dan sebagainya harus diberi
lapisan kedap air yang memakai sealant (lihat bab pekerjaan sealant)
J. Sambungan horizontal maupun vertikal, sambungan sudut maupun silang dan
kombinasi profil aluminium harus dipasang sempurna.
K. Celah-celah antara kaca dan aluminium harus dipasang/ditutup dengan weatherseal
sealant (lihat bab pekerjaan sealant). Pemasangan sealant harus dapat dijamin tidak
akan terjadi kebocoran diakibatkan air hujan maupun udara luar.
L. Perlindungan
 Semua aluminium harus dilindungi dengan “Lacquer film”, atau bahan yang lain
yang disetujui Direksi Lapangan ketika dibawa ke lapangan dan lolos inspeksi
material oleh Direksi Lapangan.
 Pelindung tersebut harus dibuka pada bagian-bagian tertentu dimana diperlukan,
ketika aluminium akan dikerjakan dan ditutup kembali setelah pengerjaan
selesai.
 Kosen harus dilindungi dengan plastik tape atau zinc chromate primer permis
transparent ketika pekerjaan plester dilaksanakan. Bagian-bagian lain dapat
tetap dilindungi dengan “Lacquer Film” sampai pekerjaan selesai.
 Penggunaan pernis pada permukaan yang akan diberikan caulking atau sealant
tidak diperkenankan
41

M. Weather Seal
Pemasangan kusen harus dilengkapi dengan weather seal sealant (lihat Bab
Pekerjaan Sealant) dan backing strip dari busa di dalam dan di luar sebagai lapisan
pengisi, sebelum sealant dipasang.
N. Apabila diminta khusus, dengan perhitungan biaya tersendiri, kontraktor harus
mengadakan dan memberikan sertifikat hasil uji/test teknis sebagai berikut :
 Test beban angin
 Test kebocoran udara
 Test kebocoran air
 Test daya serap suara
 Test coating
 Test billet
 Test sealant
 Proses pengetesan lebih lanjut ini harus disaksikan oleh Konsultan Pengawas
dengan biaya sesuai klarifikasi.
O. Jaminan
P. Kontraktor wajib memberikan jaminan pemasangan hasil pekerjaan untuk waktu
selama 1 (satu) tahun dan jaminan mutu bahan dan chemical colouring selama 10
(sepuluh) tahun, disertai sertifikat dari pabrik.

3. PEKERJAAN SEALING

2.1. Lingkup Pekerjaan


Bagian ini meliputi pengadaan bahan, peralatan, tenaga dan pekerjaan “sealing” pada
sambungan-sambungan antara panel composite aluminium dengan dinding, pekerjaan
kaca seperti tertera dalam gambar – gambar.

2.2. Pengendalian Pekerjaan


A. Seluruh pekerjaan ini harus sesuai dengan standard-standard yang disebutkan
dalam :
- ASTM-C-920-86 : Elastomeric Joint Sealant untuk kondisi-kondisi yang ditentukan
khusus oleh konsultan perencana
- ASTM-C-679
- JIS A-5758
- BS - 5889
B. Rekomendasi aplikator: 10 tahun pengalaman

2.3. Deskripsi

Sealant : untuk sambungan exterior yang bergerak dan terekspos tahan terhadap
cuaca.

2.4. Bahan-Bahan Dan Produk

A. Produk yang digunakan setara :


1) a. Dow Corning Sillicone Sealant
b. General Electric Sillicone Sealant
c. Wekker Sillicone Sealant
2) Back up material (bahan pengisi) dari batang busa polystyrene berbentuk silinder
diameter 20mm, atau bahan lain yang sejenis dan disetujui Konsultan
Pengawas.
B. Sealant untuk pasangan kaca non structural glass dengan weatherseal produksi Dow
Corning type Glass & Metal DC 688, GE Silglaze N10, Wekker Neutral Glaze atau
setara
C. Sealant untuk pasangan kaca structural glass dengan structural silicone sealant
produksi Dowcorning type DC 795, GE Ultraglaze 4000 atau setara.
42

D. Sealant untuk nat panel aluminium composite pada kondisi-kondisi khusus yang
ditentukan oleh Konsultan Perencana memakai jenis Neutral Sillicone Sealant jenis
Wekker Neutral Glaze, GE Silglaze N10 atau setara.
E. Warna sealant akan diberikan oleh pemberi tugas berdasarkan rekomendasi
Konsultan Perencana.
F. Bahan pembersih yang dapat dipakai untuk pemasangan caulking dan sealant antara
lain adalah Xylol, Xylene dan Toulene.

2.5. Pelaksanaan

A. Pekerjaan harus dilaksanakan oleh tenaga-tenaga yang terlatih untuk jenis pekerjaan
ini.
B. Pekerjaan harus rapih, teliti, bersih dan tidak menodai pekerjaan-pekerjaan lain yang
berada disekitarnya.
C. Semua permukaan yang akan menerima bahan penutup dan pengisi celah harus
bebas dari debu, air, minyak dan segala kotoran.
D. Bahan metal atau kaca yang berhubungan dengan dinding harus dibersihkan dengan
bahan pembersih yang tidak mengandung minyak seperti methyl.
E. Penggunaan bahan harus sepenuhnya mengikuti rekomendasi produsen, sesuai
kondisi daerahnya.
F. Tidak diperbolehkan ada gelembung udara, kotoran pada hasil pemasangan sealant.

2.6. Standar / Rujukan

American Society for Testing and Materials (ASTM)

2.7. Prosedur Umum

A. Contoh Bahan dan Data Teknis.


Contoh dan data teknis / brosur bahan yang akan digunakan harus diserahkan
kepada Konsultan Pengawas untuk mendapatkan persetujuan sebelum
pengadaan bahan ke lokasi proyek.
B. Pengiriman dan Penyimpanan.
Semua bahan yang didatangkan harus dalam keadaan baru, utuh / masih
disegel, bermerek jelas dan harus disimpan di tempat yang kering, bersih dan
aman, dan dilindungi dari kerusakan yang diakibatkan oleh kondisi udara

Pasal 21
PEKERJAAN LANTAI

21.1 Lingkup Pekerjaan

Untuk lantai bangunan digunakan granite tile 60/60 cm polish, Plint granite 10/60 cm,
lantai keramik 40/40 cm (WC), Step Nozing 7/60, Lantai Calcy Floor, Lantai Vinil, rabat
dan lain lain sesuai dengan gambar kerja.

Granite tile yang digunakan sekualitas Quadra.


Keramik yang digunakan sekualitas Roman.

21.2 Adukan
Adukan untuk pemasangan lantai keramik adalah :
- 1 PC : 3 PS untuk pemasangan lantai daerah basah (KM/WC).
- 1 PC : 5 PS untuk pemasangan seluruh lantai selain ketentuan di atas.
43

21.3 Pelaksanaan Pekerjaan

a. Urugan pasir bawah lantai dan dipadatkan


b. Seluruh rongga pada bagian belakang granite / keramik harus berisi dengan adukan
pada waktu pemasangan.
c. Bila ada pemotongan tidak boleh kurang dari setengah ukuran granite/keramik.
d. Pada sisi yang berbatasan dengan saluran di buat pasangan pembatas terbuat dari
pasangan bata daerah dengan adukan 1 PC : 5 PS, diplester pada bagian yang
terlihat, kemudian diaci.
e. Pekerjaan lantai yang tidak lurus/waterpass, siar yang tidak lurus/berombak, retak
dan cacat lainnya, harus dibongkar dan diperbaiki atas biaya pemborong.
f. Pola pemasangan dan awal pemasangan harus sesuai dengan Gambar Kerja atau
dimintakan kepada konsultan perencana, dengan mengikuti pola corak masing-
masing granite/keramik yang dipakai awal pemasangan dan pemotongan harus
disetujui oleh Pengawas Lapangan
g. Bila ditemui kerusakan, permukaan lantai bergelombang, Kontraktor harus
membongkar dan memperbaikinya hingga sesuai dengan yang disyaratkan.
h. Keramik dan granite yang akan ditempel harus sudah diseleksi dengan baik
sehingga bentuk dan warna masing-masing keramik sama tidak ada bagian yang
retak, pecah-pecah, sudut atau tepi atau cacat lainnya serta telah disetujui secara
tertulis dari Konsultan Pengawas.
i. Aduk yang dipakai adalah campuran 1Pc:2Ps tebal 10-15 mm untuk daerah kedap
air, dan 1Pc:3Ps daerah kering.
j. Seluruh rongga pada bagian belakang keramik / granite harus berisi dengan adukan
pada waktu pemasangan
k. Awal pemasangan dan pola pemasangan harus sesuai dengan Gambar Kerja
atau atau petunjuk Pengawas Lapangan.
l. Pada prinsipnya pemotongan keramik harus dihindarkan, kecuali ditentukan
dengan pola Gambar, jika perlu diadakan pemotongan hatus dikerjakan dengan
hati- hati, rapi, lurus atau bersudut sesuai dengan kebutuhan, kemudian bidang
potong harus diperhaluss dengan gerinda atau kikir.
m. Persiapan sebelum pemasangan
Semua pemipaan maupun sparing-sparing SA&EL telah telahterpasang pada
jalur dan tempatnya sesuai dengan Gambar dan telah disetujui oleh Konsultan
Pengawas.
n. Setelah bidang keramik atau granite terpasang permukaannya harus dibersihkan
dengan lap/kain basah sehingga bersih dari noda-noda semen. Bidang keramik /
granite ini harus dijaga tetap basah untuk menghindarkan pengeringan terlalu cepat
dengan pembasahan minimal 3(tiga) hari pertama setelah keramik terpasang.
o. Bila ditemui retak, kerusakan bergelombang, garis-garis tepi dan siar tidak rata dan
lurus, maka Kontraktor harus membongkar dan memperbaiki hingga sesuai
dengan yang disyaratkan. Biaya untuk hal ini adalah tanggung jawab Kontraktor,
tidak dapat diajukan sebagai biaya pekerjaan tambah.
p. Keramik / Granite yang telah terpasang harus dilindungi dari benturan dan atau
gesekan.

q. Pekerjaan Lantai Beton Tumbuk/Rabat


1). Diatas lapisan dasar harus dihamparkan lapisan pasir dengan tebal minimum 7-
10 cm atau sesuai Gambar Kerja, lapisan pasir ini harus padat tidak berongga.
Sebelum pemasangan lapisan akhir semua pekerjaan pipa, saluran, gorong-
gorong harus sudah ditempat sesuai dengan Gambar Kerja dan telah disetujui
oleh Pengawas Lapangan.
2). Mutu beton untuk rabat adalah 1 pc : 3 ps : 5 kr (K-125). Pelaksanaan pekerjaan
ini harus memenuhi persyaratan seperti terurai dalam pasal pekerjaan beton
dalam buku RKS ini. Tebal beton minimal adalah 7 cm sesuai dengan Gambar
Kerja.
44

3). Dipersyaratkan air tidak boleh menggenang di atas permukaan lantai, maka
lantai harus mempunyai kemiringan secukupnya ke arah selokan sehingga air
dapat mengalir.
4). Pada setiap jarak 100 cm atau seperti yang tercantum dalam Gambar Kerja
harus dibuat alur dilatasi. Lebar alur adalah 0,5 cm dan dalam 1 cm. Alur harus
lurus dan rata sesuai kemiringan.
5). Bila ditemui kerusakan, permukaan lantai bergelombang, Kontraktor harus
membongkar dan memperbaikinya hingga sesuai dengan yang disyaratkan.

r. Pekerjaan Lantai Dasar Beton Bertulang


Persyaratan dan Penjelasan teknis untuk Pekerjaan ini telah diuraikan pada pasal
beton

s. Raised Floor UFP 1000 HPL

Raised Floor UFP 1000 HPL adalah produk perangkat lantai yang difungsikan
sebagai penunjang akses kebutuhan jaringan networking dari ruang Data Center /
ruang Komputer / ruang Komunikasi / Call Center dan ruang Server / Control Room
dengan pertimbangan dapat menahan beban yang lebih baik dari benda-benda di
atasnya. Dengan kata lain Raised Floor ini dapat menahan beban volume
menengah sampai beban volume berat pada batas limit tertentu.
Raised Floor UFP 1000 HPL sendiri selain berfungsi sebagai yang disebutkan di
atas juga berfungsi sebagai perapihan interior lantai dari ruang tersebut dan juga
berfungsi sebagai alat pengaman pertama dari ruang tersebut bila terjadi bahaya
kebakaran yang di akibatkan dari terbakarnya jaringan yang ada di bawahnya.

Raised Floor tipe HPL Panelnya telah dilapisi dengan bahan vinyl anti statis
sehingga tidak perlu difinshing lagi dan siap untuk digunakan.

Keunggulan penggunaan Raised Floor adalah sebagai berikut :


1. Ruangan terlihat rapi secara estetika, karena bermacam instalasi kabel dan
pemipaan yang rumit tersembunyi di bawah raised floor
2. Ukurannya presisi dan berstandar internasional
3. Mudah dan cepat pemasangannya karena system knock down
4. Elevasi atau ketinggiannya dapat di atur sesuai kebutuhan
5. Panelnya sewaktu waktu diperlukan dapat di angkat
6. Bisa dibongkar dan dipasang kembali dilokasi yang lain
7. Selain itu juga berperan penting untuk sirkulasi udara untuk AC dengan system
down flow
45

t. Lantai Vinyl
Pekerjaan lantai Vinyl Forbo Eternal Wood Sheet 2mx25mx2.0 mm
- Klasifikasi Standar UPEC U4P3E2/3 C2 (commercial Heavy Duty) Wear Layer
0.7 mm total Thickness 2.0 mm
- Static indentation 0.05 mm, abrasive resistance group T (paling tinggi);
antistatic, anti bakteri, anti jamur, Chemical Resistance , slip resistance R10,
Reaction to fire (EN-13501-1) class Bfl-S1, wax Free (very Low Maintaenance),
Recyclable .

Alat-alat Yang Harus Disiapkan :


 Pisau Cutter
 Lem fox / aibon
 Garisan Siku
 Pensil
 Palu Karet
 Meteran
 Kape plastik / Seng
 Sapu,pelan,vakum ( jika diperlukan )

Cara Pemasangan LANTAI VINYL


 Lokasi yang akan dipasang VINYL harus rata dan halus, Jika LANTAI banyak
lobang atau tidak rata, maka setelah terpasang, VINYL terlihat bergelombang.
 Bersihkan dahulu permukaan yang akan di pasang VINYL menggunakan
sapu,lalu dipel untuk menghilangkan debu, atau menggunakan Vakum jika
lantaTerlalu banyak debu.
 Lem dahulu semua VINYL yang akan dipasang, secara merata, dan jangan
terlal Tebal karna akan merusak VINYL.
 Mulailah pemasangan VINYL dari pintu , lihat dinding yang sejajar dengan
pintu. jika dinding yang sejajar dengan pintu tidak lurus/miring maka jangan
mengikuti dinding.sisakansekitar 10cm sejajar dinding, lewati saja.
 Awal pemasangan VINYL bikinlah palaan atau pasanglah tiga baris dulu dr
dinding (kiri ke kanan) atau dari (kanan ke kiri).fungsinya untuk membuat garis
lurus agar VINYL tidak belok.
 Setelah membuat palaan lalu sekarang lem semua lantai yg akan dipasang.
jika ruangan yang akan dipasang VINYL tidak ada ventilasi udara, maka lemlah
lantai sedikit demi sedikit,karna jika lantai di lem semua maka orang yang ada
diruanga akan mabok,karna tentunya bau lem fox sangat tajam dan memang
memabokan.
 Pasanglah VINYL satu persatu mengikuti palaan atau garis lurus yang sudah
dibuat.
 Rapihkan samping dinding supaya tertutup rapih.
Sapu dan bersihkan menggunakan lap cepel atau sedikit basah.untuk hasil
maksimal lakukan pengepelan lantai setelah tiga hari VINYL terpasang

Pasal 22
PEKERJAAN KUSEN, PINTU, JENDELA
ALUMUNIUM DAN KAYU

22.1. KETERANGAN
Pekerjaan ini mencakup seluruh pekerjaan pembuatan dan pemasangan kusen,
daun pintu dan jendela dengan bahan-bahan dari Aluminium, termasuk menyediakan
bahan, tenaga dan peralatan untuk pekerjaan ini, meliputi seluruh pekerjaan kusen,
pintu dan jendela.
46

22.2. BAHAN
Bahan yang dipakai untuk kosen dan daun jendela secara umum adalah
menggunakan alumunium 4 inch, produk dalam negeri sekualitas YKK YBIC
lengkap accesoriesnya.

a. Karet sealer harus sesuai ukuran dan bentuknya dengan pintu, jendela dan kaca
dengan menggunakan karet sealer atau sealant yang berkualitas baik
b. Seluruh kelengkapan perapat/penutup celah/penahan benturan harus terpasang
sesuai rekomendasi produsen alumunium

Bahan untuk kusen Aluminium dan teknis pemasangan harus sesuai persyaratan
yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat.

Rangka Aluminium dari Type yang di tunjukkan dalam gambar-gambar adalah


merupakan ide dasar Perencana, yang selanjutnya harus dilengkapi dengan gambar
kerja oleh Kontraktor sesuai dengan petunjuk oleh pabrik penghasil dari jenis yang
akan dipergunakan.

22.3. PELAKSANAAN

a. Semua pekerjaan pembuatan dan pemasangan kusen, pintu dan jendela


Aluminium harus dilakukan oleh pabrik penghasil dari bahan yang dipergunakan
dengan memperoleh persetujuan pengawas lapangan.

b. Semua bahan kusen, daun pintu dan jendela aluminium, boleh dibawa
kelapangan/ halaman pekerjaan jikalau pekerjaan konstruksi benar-benar
mencapai tahap pemasangan kusen, pintu dan jendela.

c. Pemasangan sambungan harus tepat tanpa celah sedikitpun.

d. Semua detail pertemuan daun pintu dan jendela harus runcing (adu manis)
halus dan rata, serta bersih dari goresan-goresan serta cacat-cacat yang
mempengaruhi permukaan.

e. Detail Pertemuan Kusen Pintu dan Jendela harus lurus dan rata serta bersih dari
goresan-goresan serta cacat yang mempengaruhi permukaan.

f. Pemasangan harus sesuai dengan gambar rancangan pelaksanaan dan brosur


serta persyaratan teknis yang benar.

g. Setiap sambungan atau pertemuan dengan dinding atau benda yang berlainan
sifatnya harus diberi “sealent”.

h. Penyekrupan harus tidak terlihat dari luar dengan skrup kepala tanam
galvanized sedemikian rupa sehingga hair line dari tiap sambungan harus kedap
air.

i. Semua alumunium yang akan dikerjakan maupun selama pengerjaan harus


tetap dilindungi dengan “Lacquer Film”.

j. Ketika pelaksanaan pekerjaan plesteran, pengecatan dinding dan bila kosen;


alumunium telah terpasang maka kosen tersebut harus tetap terlindungi oleh
Lacquer Film atau plastic tape agar kosen tetap terjamin kebersihannya.

k. Sebelum memulai pelaksanaan, Kontraktor diwajibkan meneliti gambar dan


kondisi lapangan serta membuat gambar Shop Drawing.
47

l. Tipe Pintu/Jendela dan dinding partisi yang terpasang harus sesuai Daftar tipe
yang tertera dalam Gambar dengan memperhatikan ukuran-ukuran, Bentuk
Profil, Material, Detail Arah Bukaan dan lain-lain, dengan petunjuk sbb :

GAMBAR URAIAN
* Denah Lokasi, jenis bukaan, Engsel-Engsel
* Daftar Jenis Pintu/ Merk, kualitas, bentuk, ukuran, jendela material
finish, tipe, anti corrosive treatment, glass hardware
dan lain-lain.

* Shop Drawing Detail Tipe/jenis ukuran,lokasi dan kedudukan pintu dan


jendela,

m. Setiap bagian dari pekerjaan ini yang buruk, tidak memenuhi persyaratan
seperti yang tertulis dalam Buku ini maupun tidak sesuai dengan Gambar Kerja,
ketidak cocokan, kesalahan maupun kekurangan lain akibat kelalaian dan
ketidak telitian Kontraktor dalam Gambar Pelelangan; dan atau perbaikan finish
yang tidak memuaskan akan ditolak dan harus diganti hingga disetujui
Pengawas Lapangan Perbaikan, Perubahan dan Penggantian harus
dilaksanakan atas biaya Kontraktor dan tidak dapat di claim sebagai pekerjaan
tambah, maupun penambahan waktu.

n. Perubahan bahan/material karena alasan tertentu harus diajukan kepada


Konsultan Pengawas untuk mendapatkan persetujuan secara tertulis.Semua
perubahan yang disetujui dapat dilaksanakan tanpa adanya biaya tambahan
yang mempengaruhi kontrak, kecuali untuk perubahan yang mengakibatkan
pekerjaan kurang akan diperhitungkan sebagai Pekerjaan Kurang.

o. Semua pekerjaan yang telah dikerjakan dan atau telah terpasang harus segera
dilindungi terhadap pengaruh cuaca dengan cara yang memenuhi syarat.

22.4 Pengukuran Hasil Kerja.


Pengukuran hasil kerja dapat dilakukan dengan unit untuk pekerjaan kusen pintu,
jendela, daun pintu, daun jendela, yang telah selesai dikerjakan dengan dimensi,
kedudukan, bentuk, yang sesuai dengan Gambar Rencana dan Spesifikasi ini, serta
dapat diterima oleh Pengawas, hasil ini dapat dinilai sebagai kemajuan pekerjaan.
Kontraktor wajib menyelesaikan seluruh pekerjaan sesuai dengan Dokumen Kontrak,
biarpun terjadi kesalahan dalam menghitung volume, dan hal ini Kontraktor tidak
dibenarkan mengajukan Claim.

22.5 Kusen , Pintu dan Jendela kayu

Kayu
Kayu yang dipakai harus yang sudah dikeringkan, melalui proses pengawetan dan
pengeringan baik secara alami maupun mesin hingga mencapai kelembaban antara
10%-12% (WMC), dan bebas dari cacat. Demikian pula plywood yang akan digunakan
harus berkualitas baik (tidak cacat). Yang dimaksud dengan plywood adalah kayu lapis
bukan woodblock, kontraktor harus dapat menunjukkan contoh kepada pengawas
maupun pemberi tugas sebelum melaksanakan tugas.

A n g k e r.
Angker yang digunakan baik untuk neut dan untuk angker tembok agar digunakan baja
tulangan dengan diameter 12 mm dan panjang bersih 20 cm, dan untuk ujungnya agar
dibengkokan dengan panjang kurang lebih 7,5 cm.
48

Adapun jumlah, dan kedudukan dari angker pada setiap kusen agar disesuaikan
dilapangan menurut petunjuk dari Pengawas.

Kontraktor harus membuat Shop Drawing sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan


tersebut yang menyatakan kedudukan, elevasi, dimensi, Kayu yang dipakai, detail
sambungan dan lainnya untuk mendapatkan persetujuan dari pengawas berdasarkan
Gambar Rencana.

a. Pembuatan.
Kontraktor harus melaksanakan/mengerjakan semua pekerjaan-pekerjaan seperti
- Mengetam/menyerut.
- Memahat.
- Membuat lidah-lidah (pen dan lobang).
- Membuat lobang-lobang pasak.
- Memotong dan menghaluskan bahan
- Membuat sponing dan pekerjaan lainnya seperti Gambar Rencana.

Seluruh permukaan kayu yang terlihat harus diketam/diserut sehingga rata, halus dan
lurus.

Penyambungan bagian kayu yang kelihatan harus dikerjakan sedemikian rupa


sehingga menghasilkan pertemuan antara kayu yang rata, halus dan siku.
Bagian-bagian kayu yang menempel pada dinding/tembok agar terlebih dahulu diberi
cat meni setelah selesai distel/dikerjakan.

b. Kusen-kusen.
Kusen kayu
Kusen-kusen yang kokoh harus dibuat dari rangka-rangka dengan menggunakan
pasak dan lobang sedemikian rupa sehingga diperoleh rangka yang mulus dan kaku.
Kusen-kusen tersebut harus diberi angker-angker sekurang-kurangnya (n) buah untuk
setiap kusennya sesuai petunjuk Pengawas.
Semua permukaan vertikal yang berhubungan dengan dinding atau kolom harus diberi
alur-alur adukan.

c. Pintu-Pintu.
Pintu-pintu tersebut harus dibuat dengan ukuran dan detail-detail yang ditentukan
dalam Gambar Rencana.

d. Penyempurnaan.
Pintu-pintu, jendela-jendela dan kusen-kusen harus betul-betul persegi dan datar.
Permukaan-permukaan yang kelihatan harus lurus, tidak ada bekas-bekas mesin dan
siap untuk di cat atau penyelesaian lainnya.

Detail sambungan yang digunakan dalam pekerjaan dinding rangka ini dikerjakan
sesuai dengan ketentuan, sehingga didapat pertemuan-pertemuan antara rangka
vertical dan horizontal yang saling tegak lurus, rata, rapih sehingga setelah dipasang
panel hasilnya akan kelihatan rapih dan rata.
Setelah rangka terpasang semua, Penyedia Jasa Konstruksi/pengawas agar
mengecek kembali sehubungan dengan kebenaran dari cara-cara sambungan,
ketegaklurusan, kerataan dan kekokohan dari rangka tersebut. Yang selanjutnya
untuk mendapat izin pemasangan panel tersebut
49

Pasal 23
PEKERJAAN KACA

23.1. KETERANGAN

Pekerjaan kaca meliputi pengisian bidang-bidang kusen (kaca mati), daun pintu dan
jendela, jendela bovenlicht. Contoh kaca yang akan dipakai harus diperlihatkan
kepada Pengawas paling lambat 2 (dua) minggu sebelum dipasang.

23.2. BAHAN
a. Kaca Bening
Kaca polos (clear float glass) yang dipakai adalah buatan dalam negeri dengan
ketebalan 8 mm, 5 mm. Bahan kaca harus utuh dan jernih, tidak boleh
bergelombang, berbintik-bintik atau cacat lainnya.
Kaca sekualitas ASAHI

b. Kaca Tempered
Bahan kaca harus utuh, tidak boleh bergelombang, atau cacat lainnya dengan ketebalan
12 mm sekualitas ASAHI.

23.3. PERSYARATAN TEKNIS

a. Syarat Mutu
1). Dimensi
Toleransi Tebal kaca lembaran tidak boleh melebihi toleransi tebal 0,3 mm.
Toleransi Lebar dan panjang Kaca adalah 1,5 mm sampai 2 mm.
2). Kaca lembaran harus mempunyai sudut siku, tepi potongan rata dan lurus, bebas
dari cacat dan noda.

23.4 PERSYARATAN PELAKSANAAN

a. Pemotongan harus rapih dan lurus dan harus menggunakan alat Pemotong Kaca
khusus. Sisi kaca yang tampak maupun yang tidak tampak akibat pemotongan harus
digurinda dan dihaluskan.

b. Kaca yang telah terpasang harus dilindungi dari kerusakan dan benturan dan diberi
tanda agar mudah diketahui

c. Pekerjaan Kaca
1). Kaca harus dipotong menurut ukuran kaca dengan kelonggaran cukup, sehingga
pada waktu kaca mengembang tidak pecah.
2). Sepanjang alur kaca "sponing" dan list kayu harus dibersihkan, diplamur dan dicat
sebelum kaca dipasang.
3). Tepi kaca pada sambungan dan antara kaca dengan kayu, harus diberi "Sealant"
tipe "Silicone Glass Sealant". Tidak diperkenankan "Sealant" mengenai kaca
terpasang lebih dari 0,5 cm dari batas garis sambungan dengan kaca.
4) Sebagian kaca terpasang menggunakan stiker Sanblast

d. Pekerjaan Cermin
1). Cermin dalam pekerjaan harus dipasang pada rangka kayu dibuat khusus seuai
ukuran, walaupun rangka kayu tersebut tidak disajikan dalam gambar kerja.
2). Pemasangan cermin diatas rangka kayu dengan memakai seke- rup. Jarak
pemasangan sekrup maksimal 60 cm, kepala sekrup yang timbul di permukaan
kaca ditutup oleh penutup yang di verchroom.
50

e. Kwalitas Pekerjaan.
1). Tidak boleh terjadi retak tepi pada semua kaca akibat pemasangan list, maupun
sekrup.
2). Kaca dan cermin harus telah terkunci dengan baik, sempurna dan tidak bergeser
dari Sponing.

3). Semua kaca dan cermin pada saat terpasang tidak boleh bergelombang. Apabila
masih terlihat adalah gelombang, maka kaca dan cermin tersebut harus dibongkar
dan diperbaiki/diganti. Biaya untuk hal ini adalah tanggung jawab Kontraktor, tidak
dapat di "claim" sebagai pekerjaan tambah.

e. Kaca yang telah terpasang harus dilindungi dari kerusakan dan benturan dan harus
diberi tanda agar mudah diketahui.

Pasal 24
PEKERJAAN ALAT PENGGANTUNG DAN PENGUNCI

1. Lingkup Pekerjaan.

Pekerjaan ini meliputi : pengadaan dan pemasangan semua bahan perlengkapan pintu
dan jendela seperti : Kunci, Engsel, Sloot dan hardware lainnya yang dipergunakan di
dalam pekerjaan ini :

- Pekerjaan perlengkapan pintu dan jendela.


- Pekerjaan perlengkapan pintu rangka alumunium
- Pekerjaan perlengkapan pintu rangka kayu dan besi
- Dan lain-lain seperti yang tercantum dalam Gambar Kerja

2. Persyaratan Bahan.

a. Semua hardware yang digunakan harus sesuai dengan ketentuan yang tercantum
dalam Buku Spesifikasi ini.
b. Kontraktor wajib mengajukan contoh bahan untuk mendapatkan persetujuan dari
Konsultan Pengawas.
c. Pemilihan hardware pintu dan jendela disesuaikan dengan jenis bahan pintu.

d. Bahan
1. Full Handle sekualitas Dekson
2. Lock Case + Cylinder sekualitas Dekson
3. Engsel Pintu 4” sekualitas Dekson
4. Flush Bolt sekualitas Dekson
5. Door Closer sekualitas Dekson
6. Lever Handle sekualitas Dekson
7. Casement Handle sekualitas Dekson
8. Rambucis sekualitas Dekson
9. Dan lain-lain sesuai gambar kerja

3. Persyaratan Teknis

Seluruh perangkat perlengkapan : pintu dan jendela ini harus bekerja dengan baik
sebelum dan sesudah pemasangan. untuk itu, harus dilakukan pengujian secara kasar
dan halus.
51

4. Persyaratan Pelaksanaan

 Pasangan alat penggantung harus rapih benar, sehingga pintu / jendela dapat
ditutup / dibuka dengan mudah. Pintu harus dalam posisi tegak / tidak miring.
 Pemborong wajib mengajukan contoh-contoh alat penggantung dan pengunci
untuk mendapat persetujuan Direksi.
 Sebelum menyerahkan pekerjaan, semua hardware diberi minyak hingga dapat
bekerja dengan baik, lancar serta memuaskan.

Pasal 25
PEKERJAAN LANGIT-LANGIT
1. Lingkup Pekerjaan.

a) Langit-langit bangunan yang dipasang adalah Gypsum 9 mm sekualitas Jayaboard


dengan rangka besi hollo Galvanis lkp accessories.

b) Plafond Daerah basah dipakai Plafond Calciboard tebal 4 mm rangka besi hollo
Galvanis lkp accesories.

2. Persyaratan Pelaksanaan

a) Diminta perhatian Pelaksana dalam meneliti gambar-gambar detail rencana langit-


langit, dimana list harus dipasang, sesuai dengan syarat-syarat konstruksi,
penyelesaian pada sudut-sudut atau bidang pertemuan antara langit-langit dengan
dinding, kosen, kolom, listplank, atap dan sebagainya.

b) Kesalahan memasang sehingga merusak keindahan yang diinginkan sepenuhnya


menjadi tanggung jawab Pemborong. Apabila pekerjaan itu mesti diulangi harus atas
perintah Direksi.

c) Permukaan bahan plafond harus dibersihkan dari pinggiran yang kurang rata dan
kurang tajam, harus diserut atau diampelas, kemudian dipasang dengan penuh
ketelitian / keahlian menurut garis-garis seperti dicantumkan dalam gambar rencana.
Penyelesaian harus memberikan tampak rapi, rata dengan alur yang lurus dan sama
besarnya.

d) Langit-langit dipasang memakai list gypsum 7 cm yang dipasang dengan rapi dan
kemudian dicat dengan cat tembok warna langit-langit supaya kelihatan rapi.

e) Semua resiko pembongkaran atas perintah Direksi, akibat ketidak mampuan dan
ketidak telitian Pelaksana dalam menjalankan tugasnya adalah tanggung jawab
Pemborong.

f) Penyelesaian pengecatan dan warna akan ditentukan kemudian.

g) Ketinggian langit-langit dan penempatannya, harus mengikuti gambar kerja, dan


sebelum permukaan bawah rangka langit-langit rata (water pass) dan lurus, maka
pemasangan penutup langit-langit tidak boleh dipasang terlebih dahulu, dan baru boleh
dipasang setelah mendapat persetujuan dari pihak pengawas dan monitoring proyek
(direksi).

h) Hasil pekerjaan yang tidak rata / bergelombang / retak-retak, harus dibongkar dan
diperbaiki kembali atas biaya pemborong.
52

Pasal 26
PEKERJAAN LABURAN DAN PENGECATAN

1. Lingkup Pekerjaan

a. Pekerjaan ini meliputi :

1). Pekerjaan Pengecatan besi semua pekerjaan besi yang di ekspose.


2). Pekerjaan pengecatan dinding, beton dan plafond.
3). Pekerjaan pengecatan, Polituran, Melamic kayu,
4). Pekerjaan pengecatan lain seperti tercantum dalam Gambar

b. Pekerjaan Pengecatan Metal

Semua metal seperti tersebut di atas seperti tercantum dalam Gambar Kerja dengan
ketentuan sebagai berikut :

1). Semua bagian/permukaan yang tampak/"esposed" di cat sampai dengan cat


:”finish".
2). Semua bagian / permukaan yang tidak ditampakkan/ "un exposed" menempel ke
bahan /material lain, tertutup oleh bahan/material lain di cat hanya sampai dengan
cat anti karat atau cat dasar/primer.

c. Pekerjaan Pengecatan dinding/permukaan pasangan batu bata, beton dan plafond.


Semua dinding/permukaan pasangan batu beton & plafond yang tampak/"exposed"
seperti tercantum dalam Gambar Kerja.

d. Pekerjaan Pengecatan Kayu

Semua kayu yang terpasang baik yang termasuk pekerjaan kayu halus maupun kayu
kasar seperti tercantum dalam Gambar Kerja dengan ketentuan sebagai berikut :

1). Semua bagian/permukaan yang tampak/"esposed" di cat sampai dengan cat


"finish" yang diperinci lebih lanjut sebagai berikut :
* Cat "finish" warna untuk permukaan yang tidak ditonjolkan serat kayunya.
* Cat "finish" jenis "clear" untuk permukaan yang ditonjolkan serat kayunya
sesuai dengan ketentuan di Gambar Kerja.

2). Semua permukaan yang tidak ditampakkan /"Unexposed" dicat hanya


sampai dengan cat dasar.

3). Khusus untuk konstruksi dan rangka atap yang tidak ditampakkan
dilakukan dengan residu ketentuan ini tidak berlaku.

e. Pekerjaan Pengecatan Pipa PVC


Semua pipa talang dari bahan/material PVC yang dalam Gambar Kerja ditampakkan.

2. Persyaratan Umum

a. Seluruh pekerjaan ini harus memenuhi persyaratan dalam Standard dan normalisasi di
Indonesia dan atau sesuai dengan Spesifikasi pabrik pembuat.

b. Pabrik dan Kontraktor harus memberi jaminan minimal selama lima (5) tahun terhitung
dari waktu penyerahan atas semua pekerjaan ini terhadap kemungkinan cacat, warna
yang berubah dan kerusakan cat lainnya.
53

3. Persyaratan Bahan

a. Bahan dari kualitas utama, tahan terhadap udara dan garam. Produk Cat :
- Pengecatan Dinding menggunakan cat sek. ICI Dulux Weather Shield
- Pengecatan Plafond menggunakan cat sekualitas CATYLAC
- Finishing Melamik Daun Pintu Sekualitas DANAPAINT
- Cat Minyak Lisplank menggunakan cat sekualitas SEIV
- Pengecatan Besi menggunakan cat sekualitas DUCO

b. Bahan didatangkan langsung dari pabrik.


Tiba di Tapak/Site konstruksi harus masih tersegel baik dalam kemasannya dan tidak
cacat,serta disetujui Pengawas Lapangan.

4. Persyaratan Teknis

a. Peralatan seperti: Kuas, Roller, Sikat kawat,Kape, dan sebagainya; harus tersedia dari
kualitas baik dan jumlahnya cukup untuk pekerjaan ini.
b. Semua cat dasar harusdisapukandengankuas. Pelaksanaan pekerjaan pengecatan cat
dasar untuk komponen bahan metal,harus dilakukan sebelum komponen tersebut
terpasang.

5. Persyaratan Pelaksanaan
a. Hasil pekerjaan yang tidak disetujui Konsultan Pengawas harus diulang dan diganti.
Kontraktor harus melakukan pengecatan kembali bila ada cat dasar atau cat finish
yang kurang menutupi atau lepas, sebagaimana ditunjukkan oleh Konsultan
Pengawas. Biaya untuk hal ini ditanggung Kontraktor, tidak dapat di "claim" sebagai
pekerjaan tambah.

b. Pekerjaan Pengecatan Dinding, Plafond dan beton


1). Sebelum pelaksanaan pengecatan seluruh permukaan harus dibersihkan
dari debu, lemak, kotoran atau noda lain, bekas cat yang terkelupas dan dalam
kondisi kering.
2). Untuk meratakan permukaan dinding atau beton digunakan plamur tembok
sampai rata, kemudian dihaluskan dengan hampelas dan dibersihkan dari debu.
Dan Khusus untuk pengecatan dinding bagian luar untuk meratakannya tanpa
menggunakan plamur , cukup dengan menghaluskan dengan amplas saja.
3). Pengecatan dilakukan berulang-ulang sampai 3 (tiga) lapisan. Pengecatan
lapisan pertama dan lapisan berikutnya harus diberi jarak waktu selama 24
jam agar cat cukup kering dan meresap pada bidang pengecatan.
4). Untuk pengecatan langit-langit karena sulit dijangkau dengan kuas dapat
menggunakan roller.
5). Hasil pengecatan yang belang dan tidak rata harus diperbaiki dan diulang kembali.

c. Pekerjaan Pengecatan Kayu

1). Sebelum pelaksanaan pengecatan seluruh kayu harus sudah diberi lapisan anti
rayap.

2). Pekerjaan persiapan sebelum pengecatan


- Kayu harus dalam keadaan kering,
- Gosok dengan batu kambang, kemudian digosok dengan hampelas No. 0
- Beri wood filler untuk menutupi pori-pori dan celah kayu. Setelah 1/2 jam gosok
dengan hampelas halus. Wood filler / dempul kayu harus dilakukan secara merata
sehingga menutupi pori-pori kayu sehingga permukaan kayu hasil hampelas
benar-benar halus.
54

3). Pelaksanaan pengecatan.


- Setelah bidang permukaan kayu halus dan rata (lapisan pertama), maka penge-
catan dapat dilaksanakan dengan kuas dengan ketebalan lapisan 30 mikron atau
daya sebar 15 - 17 m2 per liter.
- Pengecatan lapisan terakhir / finish dapat dilakukan setelah lapisan kedua kering
betul yaitu + 24 Jam.
- Hasil pengecatan harus selalu dijaga dan dilindungi dari kotoran dan goresan
benda tajam agar tetap bersih dan rapih.

d. Pekerjaan Pengecetan Metal

Seluruh metal harus dicat dasar dengan zincrhomate, baik yang ekspos (tampak)
ataupun yang tidak tampak.
1). Persiapan sebelum pengecatan.
Bersihkan permukaan dari kulit giling (kerak/"Millscale"), karat, minyak,lemak dan
kotoran lainsecaratelitiseksama dan menyeluruh ; sehinggapermukaan yang
dimaksud menampilkan tampak metal yang halus dan mengkilap. Pekerjaan ini
dilaksanakan dengan Sikat Kawat mekanik/ "Mechaical Wire Brush". Akhirnya
permukaan dibersihkan dengan sikat.
2). Pekerjaan Cat Primer / Dasar dilaksanakan sebelum komponen bahan / material
Metal terpasang.

PASAL 27
PERSYARATAN TEKNIS BAHAN
PEKERJAAN INTERIOR

A. PEKERJAAN INTERIOR

PASAL 1
PERSYARATAN KHUSUS BAHAN-BAHAN

1. PEKERJAAN PASANGAN GRANIT/MARMER


1.1 LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan yang dimaksud meliputi pekerjaan pasangan Granit/Marmer untuk top
table, area dinding Lift serta furniture dan Pekerjaan pasangan granit/marmer
lainnya seperti yang tercantum dalam gambar kerja.

1.2 PERSYARATAN BAHAN


Spesifikasi :
- jenis : Marmer Travertine (Grey/Silver)
- Permukaan : polished
- Tebal : 2 cm
- Ukuran : disesuaikan dengan gambar kerja
- Produk : Ex. Import/Min.sekualitas
- Desain, pola dan warna sesuai dengan gambar kerja.

1.3 PERSYARATAN PELAKSANAAN


1.3.1 Adukan yang dipakai 1 PC : 3 Pasir, tebal 2 cm diberi campuran additive
calbond. Pasir yang dipakai mempunyai gradasi 2 mm, harus dicuci dan
disaring.
1.3.2 Pengisian naad digunakan resin dan diberi zat pewarna yang sesuai dengan
warna granit tile.
1.3.3 Pola pemasangan granit dan ukuran harus sesuai dengan gambar atau petunjuk
Direksi/Perencana.
55

1.3.4 Bila diperlukan pemotongan granit, maka harus dipergunakan alat pemotong
khusus sesuai dengan petunjuk pabrik.
1.3.5 Pemasangan granit harus benar-benar rata [waterpass]. Toleransi kecekungan
maximum 1.5 mm setiap 2 m2.
Garis-garis siar lurus, lebar siar harus sama [maximum 1 mm] atau sesuai
petunjuk gambar dengan kedalaman 1 mm.
1.3.6 Kotoran semen dan lain-lain yang menempel pada permukaan, khususnya pada
waktu pengisian naad, harus segera dibersihkan sebelum menjadi keras/kering
dengan lap basah dan silet yang tipis.
1.3.7 Granit yang sudah terpasang dan dinyatakan baik oleh Direksi / Perencana,
sebagai tahapan terakhir setelah pencucian dari segala macam kotoran yang
ada pada permukaan marmer tersebut, harus dipoles dengan semir khusus
sehingga warna dan kilap yang dihasilkan merata.

PASAL 2
PEKERJAAN PASANGAN HOMOGENOUS / GRANIT TILE

2.1 LINGKUP PEKERJAAN


Pekerjaan yang dimaksud meliputi pekerjaan lantai dan Pekerjaan pasangan granit tile
lainnya, seperti yang tercantum dalam gambar kerja.

2.2 PERSYARATAN BAHAN


Spesifikasi :
- Jenis : Homogenous tile
- Permukaan : polished
- Tebal : 10 mm
- Ukuran : 80 x 80 cm
- Produk : Ex.IndoGress & Roman
- Type : - Indogress : Uni Colour White Onyx series 80x80
- Roman Tile : GT635205R_dBrasilia_Bone 60x30
- ….
- Desain, pola dan warna sesuai dengan gambar kerja.

2.3 PERSYARATAN PELAKSANAAN


1.1.1. Adukan yang dipakai 1 PC : 3 Pasir, tebal 2 cm diberi campuran additive calbond.
Pasir yang dipakai mempunyai gradasi 2 mm, harus dicuci dan disaring.
1.1.2. Pengisian nat digunakan semen warna (Produk AM/ Min. Sekualitas) yang sesuai
dengan warna granit tile.
1.1.3. Pola pemasangan Homogenous tile dan ukuran harus sesuai dengan gambar atau
petunjuk Direksi/Perencana.
1.1.4. Bila diperlukan pemotongan Homogenous tile, maka harus dipergunakan alat
pemotong khusus sesuai dengan petunjuk pabrik.
1.1.5. Pemasangan Homogenous tile harus benar-benar rata [waterpass]. Toleransi
kecekungan maximum 1.5 mm setiap 2 m2.
Garis-garis siar lurus, lebar siar harus sama [maximum 1 mm] atau sesuai petunjuk
gambar dengan kedalaman 1 mm.

1.1.6. Kotoran semen dan lain-lain yang menempel pada permukaan, khususnya pada
waktu pengisian nat, harus segera dibersihkan sebelum menjadi keras/kering dengan
lap basah dan silet yang tipis.
1.1.7. Lantai Homogenous tile yang sudah terpasang dan dinyatakan baik oleh
Direksi/Perencana, sebagai tahapan terakhir setelah pencucian dari segala macam
kotoran yang ada pada permukaan Homogenous tile tersebut, harus dipoles dengan
semir khusus sehingga warna dan kilap yang dihasilkan merata.
56

PASAL 3
PEKERJAAN GLASS TREATMENT

3.1 LINGKUP PEKERJAAN


1.1.1. Pekerjaan yang dimaksud meliputi penyediaan tenaga, bahan-bahan, peralatan dan
alat bantu lainnya yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan ini secara
lengkap.

Lingkup pekerjaan tersebut adalah :


a. Partisi dinding, treatment dinding, treatment kolom, backdrop resepsionis
b. Pekerjaan lain yang tercantum dalam gambar kerja.

3.2 PERSYARATAN BAHAN


a. Kaca
- Jenis : a. Clear float glass, kaca t = 12 mm tempered
bening disandblast stiker.
b. Clear float glass, kaca t = 10 mm, bening disandblast stiker costum
printing
c. Clear float glass, kaca t = 8 mm, 6 mm
d. Back painted glass
Kaca Tempered t=10 mm finish Cat Punggung (Back Painted)
f. Kaca cermin t = 5 mm

- Produk : Ex. Asahi Mas, /Min. Sekualitas

c. Semua kaca harus bebas dari noda dan cacat, bebas sulfida maupun bercak-bercak, tidak
bergelombang dan harus memenuhi standar bahan yang berlaku di Indonesia.

3.3 PERSYARATAN PELAKSANAAN


1.1.1. Semua pekerjaan dilaksanakan dengan mengikuti petunjuk gambar kerja,
persyaratan persyaratan atau sesuai petunjuk Direksi. Pekerjaan ini harus
dilaksanakan dengan keahlian dan ketelitian.
1.1.2. Syarat dan Mutu.
a. Dimensi.
b. Toleransi ketebalan kaca lembaran tidak boleh melebihi dari 0. 3 mm.
c. Toleransi lebar dan panjang tidak boleh melebihi 2 mm.
d. Kesikuan.
1.1.3. Kaca lembaran yang berbentuk segi empat harus mempunyai sudut siku serta tepi
potongan yang rata dan lurus. Toleransi kesikuan maksimum yang diperkenankan
adalah 1.5 mm/m, kecuali disyaratkan lain oleh Direksi.
1.1.4. Ukuran, tebal warna dan jenis bahan yang dipasang sesuai dengan gambar kerja,
buku spesifikasi ini atau sesuai dengan petunjuk direksi.
1.1.5. Pemotongan harus rapi dan lurus, menggunakan alat pemotong kaca khusus, sesuai
standar pabrik.
Sisi-sisi kaca yang tampak maupun tidak akibat pemotongan harus digurinda dan
dihaluskan sampai berbentuk tembereng.
1.1.6. Pekerjaan Pemasangan Kaca.
Sebelum pemasangan kaca, semua rangka pemegang sudah terpasang sesuai dengan
gambar kerja dan persyaratan pekerjaan untuk bahan rangka pemegang tersebut.
Tepi kaca pada sambungan atau antara kaca dengan rangka pemegang harus diberi
sealant atau dempul khusus untuk menutupi celah dengan rangka seperti yang
disyaratkan dalam gambar kerja.
Tidak diperkenankan sealant mengenai kaca terpasang lebih dari 0.5 cm batas garis
sambungan dengan kaca.
3.3.7 Kualitas Pekerjaan
a. Tidak boleh terjadi retak tepi pada semua kaca akibat pemasangan lis maupun
sekrup.
57

b. Kaca harus telah terkunci dengan baik, sempurna dan tidak bergeser dari rangka
pemegang dan list yang ada.
c. Semua kaca pada saat terpasang tidak boleh bergelombang, retak dan tergores.
d. Apabila masih terlihat adanya gelombang, maka kaca tersebut harus dibongkar
dan diperbaiki/diganti. Biaya untuk hal ini menjadi tanggung jawab Kontraktor
dan tidak dapat diajukan sebagai pekerjaan tambah.
e. Kontraktor wajib memelihara dan melindungi hasil pekerjaan dari kerusakan dan
benturan, untuk itu pekerjaan kaca harus diberi tanda agar mudah
terlihat/diketahui. Semua kerusakan yang timbul menjadi tanggung jawab
kontraktor untuk memperbaiki sampai pekerjaan selesai.

3.4 APLIKASI
1.1.1. Kondisi permukaan kaca yang akan dipasang stiker dipersiapkan sebaik mungkin
(menggunakan Thinner) sehingga permukaan dalam kondisi kering, besih dari minyak
dan debu.
1.1.2. Stiker sunblast
✓ Langkah pertama adalah mempersiapkan cairan sampo. Cairan ini diperlukan
untuk membersihkan permukaan kaca dari kotoran-kotoran yang menempel.
Ambilah botol penyemprot dan isilah dengan air. Masukan sampo, lalu kocok
sampai sampo tercamur dengan air. Semprotkan cairan sampo tadi ke seluruh
permukaan kaca. Kemudian gunakan silet (dengan posisi silet miring), sampai
kotoran yang menempel hilang.
✓ Gunakan pembersi kaca untuk membersihkan sisa-sisa sampo dan kotoran yang
masih melekat. Bersihkan sampai semua sampo hilang, tapi jangan lap dengan
apa pun sesudahnya. Setelah kaca selesai dibersihkan, basahi lagi dengan
permukaan kaca dengan cairan sampo tadi sampai seluruh permukaan stiker
yang berperekat. Langkah ini bertujuan untuk melicinkan permukaan stiker agar
tidak langsung menempel. Dengan demikian bila terjadi kesalahan penempelan,
anda masih bisa memperbaikinya dengan mengeser-geser stiker tersebut.
✓ Pasang stiker pada permukaan kaca, bilaa anda kurang pas memasangnya,
perbaiki saja dengan menggeser stiker tersebut sampai terpasang sesuai
keinginan.

PASAL 4
PEKERJAAN DINDING LAPIS KAYU/HPL

4.1 LINGKUP PEKERJAAN


Pekerjaan ini dilakukan meliputi pemasangan HPL Ex. Haveel dan multiplek t=18mm

4.2 PERSYARATAN BAHAN


a. Rangka hollow 40x40 sebagai penguat struktur
b. Bahan pelapis rangka hollow adalah multiplek dengan tebal 18mm
c. Bahan lapis Finishing HPL Ex. Haveel
d. Pelapis untuk bahan ini menggunakan perekat Ex. Primade
e. Plint skirting menggunakan stainless 7cm

4.3 PERSYARATAN PELAKSANAAN


a. Alas/Backing/dasar untuk dipasangi panel, baik partisi maupun plafond/ceiling, harus
merupakan permukaan yang bersih dan rata.
b. Bahan multipleks harus dipilih motif yang rata-rata sama dan tidak ada cacat serta bebas
dari mata kayu.
c. Panel kayu/multipleks adalah di-finish dengan finishing HPL
d. Panel kayu/multipleks setelah selesai di-finish, diberi perlindungan agar tidak
rusak/cacat oleh pekerjaan lainnya.
e. Panel multipleks untuk Back-dropped harus dikerjakan oleh tenaga yang ahli dan
berpengalaman dengan finishing multiplek 18mm dan ditutup dengan HPL Ex. Havel
58

PASAL 5
PEKERJAAN GYPSUM BOARD

5.1 LINGKUP PEKERJAAN


Pekerjaan yang dimaksud meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan peralatan dan
alat bantu lainnya yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan ini secara lengkap meliputi :
a. Pemasangan ceiling gypsum board.
b. Pekerjaan lainnya seperti yang tercantum dalam gambar kerja.

5.2 PERSYARATAN BAHAN


Data performance material gypsum board.
a. Tipe : Knauff ex. lokal/min. Sekualitas.
b. Tebal : 12 mm untuk partisi dan 10 mm untuk ceiling, dengan dua tipe akhiran:
- Recesed Edge untuk penyambungan rata/flush join.
- Square Edge untuk gypsum board yang bertemu dengan bingkai kayu.
c. Penggunaan produk kelengkapan dari gypsum memakai ex. Knauf/ min. sekualitas.

5.3 PERSYARATAN PELAKSANAAN


Pekerjaan pemasangan gypsum board, antara lain :

a. Pekerjaan pemasangan gypsum board harus ditangani oleh orang yang benar-benar ahli
dalam bidang ini.
b. Pemasangan antara sambungan gypsum board harus tepat di as rangka pada masing
masing jenis pekerjaan.
c. Penempelan gypsum board pada rangka menggunakan skrup berkualitas baik.
d. Pemasangan antara sambungan gypsum board dengan gypsum board menggunakan
plester penyambungan dan metal lath serta dempul yang sesuai dengan spesifikasi
pabrik.
e. Permukaan sambungan gypsum board yang telah diberi dempul dan kering diampelas
sehingga rata dan halus.
f. Penggunaan bahan-bahan pelengkap pekerjaan gypsum sesuai peruntukkannya misal :
- untuk sudut dalam siku dipakai pita kertas (corner reinforcement tape) ex.
Jayaboard.
- untuk sudut pertemuan gypsum dipakai cornice adhesive.
- untuk sudut luar siku memakai external corner bead.
g. Hubungan antara gypsum board dengan rangka dapat dilihat pada gambar kerja.

5.4 PEKERJAAN CEILING


5.4.1 Pekerjaan yang dimaksud meliputi pemasangan ceiling gypsum board dan pekerjaan
lainya seperti tercantum dalam gambar kerja.
Pada pekerjaan ceiling langit-langit ini perlu diperhatikan adanya pekerjaan lain yang
dalam pelaksanaannya sangat erat hubungannya dengan pekerjaan langit-langit.
5.4.2 Bahan rangka yang digunakan, untuk :
Ceiling Gypsum datar/berundak, ex. Knauff beserta kelengkapannya.
5.4.3 Sebelum dilaksanakan pemasangan langit-langit pekerjaan lain yang terletak di atas
langit-langit harus sudah terpasang.
5.4.4 Disiplin lain yang terkait disini antara lain :
a. Mekanikal dan elektrikal.
b. AC dan lampu penerangan.
c. Sound system.
d. Fire alarm/fire detector.
e. Sprinkler.
f. Perlengkapan instalasi lain yang diperlukan.
5.4.5 Bila pekerjaan-pekerjaan tersebut diatas tidak tercantum dalam gambar rencana
ceiling, maka harus diteliti dahulu pada gambar-gambar instalasi yang lain (sipil,
elektrikal, mekanikal dan lain-lain).
59

5.4.6 Untuk detail pemasangan harus konsultasi dengan Direksi/Pengawas.


5.4.7 Pola rangka penggantung langit-langit sesuai dengan gambar rencana dan
diperhatikan benar-benar peilnya.

PASAL 6
PEKERJAAN PLAFOND MINERAL FIBRE CEILING BOARD

6.1 LINGKUP PEKERJAAN


Pekerjaan yang dimaksud meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan peralatan dan
alat bantu lainnya yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan ini secara lengkap meliputi :
a. Pemasangan ceiling.
b. Pekerjaan lainnya seperti yang tercantum dalam gambar kerja.

5.2 PERSYARATAN BAHAN


Data performance material.
a. Tipe : Mineral Fibre Ceiling Board (1200x2400)
ex. Armstrong/Panelux.
b. Tebal : Sesuai Pabrikan

6.3 PERSYARATAN PELAKSANAAN


Pekerjaan pemasangan, antara lain :
a. Pekerjaan pemasangan harus ditangani oleh orang yang benar-benar ahli dalam bidang
ini.
b. Pemasangan antara sambungan mineral fibre ceilng board harus tepat di as rangka pada
masing masing jenis pekerjaan.
c. Penempelan mineral fibre ceilng board pada rangka menggunakan skrup berkualitas
baik.
d. Pemasangan antara sambungan mineral fibre ceilng board dengan mineral fibre ceilng
board menggunakan penyambungan dan metal lath serta dempul yang sesuai dengan
spesifikasi pabrik.
e. Permukaan sambungan mineral fibre ceilng board yang telah diberi dempul dan kering
diampelas sehingga rata dan halus.

6.4 PEKERJAAN CEILING


6.4.1 Pekerjaan yang dimaksud meliputi pemasangan metal plafon dan pekerjaan lainya
seperti tercantum dalam gambar kerja.
Pada pekerjaan ceiling langit-langit ini perlu diperhatikan adanya pekerjaan lain yang
dalam pelaksanaannya sangat erat hubungannya dengan pekerjaan langit-langit.
6.4.2 Bahan rangka yang digunakan, untuk :
Ceiling Gypsum datar/berundak, mineral fibre ceilng board beserta kelengkapannya.
6.4.3 Sebelum dilaksanakan pemasangan langit-langit pekerjaan lain yang terletak di atas
langit-langit harus sudah terpasang.
6.4.4 Disiplin lain yang terkait disini antara lain :
a. Mekanikal dan elektrikal.
b. AC dan lampu penerangan.
c. Sound system.
d. Fire alarm/fire detector.
e. Sprinkler.
f. Perlengkapan instalasi lain yang diperlukan.
6.4.5 Bila pekerjaan-pekerjaan tersebut diatas tidak tercantum dalam gambar rencana
ceiling, maka harus diteliti dahulu pada gambar-gambar instalasi yang lain (sipil,
elektrikal, mekanikal dan lain-lain).
6.4.6 Untuk detail pemasangan harus konsultasi dengan Direksi/Pengawas.
6.4.7 Pola rangka penggantung langit-langit sesuai dengan gambar rencana dan
diperhatikan benar-benar peilnya.
60

PASAL 7
PEKERJAAN PENGECATAN

7.1 LINGKUP PEKERJAAN


Pekerjaan yang dimaksud meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan
alat bantu lainnya yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan ini secara lengkap,
meliputi :
a. Pekerjaan pengecatan dinding pasangan, permukaan beton dan langit-langit
b. Pekerjaan pengecatan lainnya seperti tercantum dalam gambar kerja.

7.2 PERSYARATAN BAHAN


7.2.1 Bahan harus dari kualitas utama, tahan terhadap udara dan garam, jenisnya sesuai
dengan bidang permukaan yang akan diberi lapisan cat.
Seluruh bahan harus sesuai dengan standard bahan yang berlaku di Indonesia
a. Untuk Pengecatan Interior :
Produk ICI Cat Emulsi Ex.Propan /Min. Sekualitas.
7.2.2 Pengecatan Dinding Bata Plesteran, Dinding Partisi Gypsum dan Beton :
Lapisan dasar : Alcali resisting primer (Interior). Water base
Lapisan akhir : Acrylic emulsion (Interior) dengan gradasi halus.
7.2.3 Bahan yang didatangkan harus langsung dari pabrik, masih tersegel dalam
kemasannya dan tidak cacat. Kontraktor wajib membuktikan keaslian cat dari
produk yang dipilih mengenai kemurnian cat.

7.3 PERSYARATAN PELAKSANAAN.


7.3.1 Sebelum pelaksanaan pekerjaan, kontraktor wajib melakukan percobaan yang
akan dilaksanakan. Biaya percobaan ini ditanggung oleh kontraktor. Hasil percobaan
tersebut harus diperlihatkan/diserahkan kepada Direksi untuk mendapatkan
persetujuan bagi pelaksanaan pekerjaan.
7.3.2 Lakukan pengecatan dengan cara terbaik yang umum dilakukan, kecuali apabila
disyaratkan lain. Urutan pengecatan, penggunaan lapisan dasar dan tebal lapisan
penutup minimal sama dengan syarat yang dikeluarkan pabrik.

7.3.3 Pengecatan harus rata, tidak bertumpuk, tidak bercucuran atau ada bekas yang
menunjukan tanda-tanda sapuan roller maupun semprotan. Tebal minimum dari tiap
lapisan jadi/finished minimum sama dengan syarat spesifikasi pabrik.
7.3.4 Apabila dari cat yang dipakai ada yang mengandung bahan dasar beracun atau
membahayakan keselamatan manusia, maka kontraktor harus menyediakan
peralatan pelindung misalnya masker, sarung tangan dan sebagainya yang harus
dipakai pada waktu pelaksanaan pekerjaan.
7.3.5 Tidak diperkenankan melaksanakan pekerjaan ini saat cuaca lembab/hujan,
berdebu. Terutama pada pelaksanaan dalam ruangan, untuk cat dengan bahan dasar
beracun atau membahayakan keselamatan manusia, maka ruangan tersebut harus
mempunyai ventilasi yang cukup agar penggantian udara berlangsung lancar. Dalam
keadaan tertentu misalnya untuk ruangan tertutup, Kontraktor harus memakai kipas
angin/fan untuk memperlancar penggantian aliran udara.
7.3.6 Peralatan seperti kipas, roller, sikat kawat, pompa udara tekan/vacuum cleaner,
semprotan dan sebagainya harus tersedia dari kualitas/mutu terbaik.
7.3.7 Khusus untuk semua cat dasar harus disapukan dengan kuas. Penyemprotan hanya
boleh dilakukan apabila disetujui Direksi.
7.3.8 Pemakaian ampelas, pencucian dengan air maupun pembersihan dengan kain kering
terlebih dahulu harus mendapatkan persetujuan tertulis dari Direksi terkecuali
disyaratkan lain dalam spesifikasi ini.
7.3.9 Selama pelaksanaan pekerjaan, kontraktor harus diawasi tenaga ahli/supervisi dari
pabrik pembuatnya.
61

7.3.10 Hasil akhir pengecatan harus membentuk bidang cat yang rata tidak berbintik-bintik
atau menggelembung dan hasilnya harus dijaga terhadap kotoran yang mungkin
melekat. Bila hasil pekerjaan tidak disetujui oleh Direksi, maka pengecatan harus
diulang dan diganti.
7.3.11 Kontraktor harus melakukan pengecatan kembali apabila ada cat dasar atau cat
finish yang kurang menutupi atau lepas, sebagaimana ditunjukan oleh Direksi. Biaya
untuk hal ini ditanggung oleh Kontraktor dan bukan sebagai pekerjaan tambah.

PASAL 8
PEKERJAAN ALUMUNIUM COMPOSITE PANEL (ACP)

8.1 LINGKUP PEKERJAAN


a. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, dan peralatan yang
dipergunakan untuk melaksanaan pekerjaan pemasangan panel aluminium composite
seperti yang ditunjukan dalam gambar perencanaan dan spesifikasi teknis sehingga
dapat tercapai hasil pekerjaan yang baik dan sempurna.
- Bracket / angkur dari material hollow tebal 1,2 mm, finished zinchromate
- Rangka vertical dan horizontal dari material hollow tebal 1,2 mm, finished
zinchromate
- Rangka tepi panel dan system pemasangan panel adalah dengan system infill non
sealant joint dengan reinforce pada sekeliling panel composite menggunakan
aluminium extrusion.
- Infill dari bahan aluminium extrusion
- Sealant Untuk pekerjaan luar, Warna akan ditentukan kemudian berdasarkan
colour chart dari pabrik, lokasi sealant antara panel aluminium dengan komponen
lain.

8.2 PERSYARATAN BAHAN


a. Aluminium Composite Panel tebal 4 mm (aluminium 2 x 0,3 mm, mineral core 3mm)
finishing Polyvinylidene Difluoride ( PVDF ) dan berlapis coating Nano technology
anti stain/ anti noda dengan lebar panel standar 1,220 mm atau lebar ukuran khusus
1000mm dan 1575mm ex alcolite/setara (treatment dinding), alumunium alloy 3003.
b. Alumunium Composite panel tebal 4mm (alumunium 2 x 0,21 mm) finishing polyester
dengan lebar standar panel 1,220 mm ex Decobond atau setara, alumunium alloy
1100.
c. Berat 6-7kg/m2
d. Finished Fluorocarbond Factory Finished / PVdF Coating on sheet
e. Persyaratan fireproof aluminium composite panel mengikuti standard building
material dengan Grade A Fire Retardant dan klasifikasi O - sebagai berikut :
- National Fireproof Detection Organization GB/T 8624 – 2006.
- Hasil test material mengikuti standard BS 476
- Persyaratan Smoke Toxicity memenuhi standard GB / T 20285-2006
- Persyaratan Smoke Growth Rate memenuhi standard GB / T 20284 – 2006
- Persyaratan Fire Growth Rate Index memenuhi standard GB / T 20284 – 2006
- Persyaratan Total Heat Release memenuhi standard GB / T 20284 – 2006
- Persyaratan Length of Flame Spread memenuhi standard GB / T 20284 – 2006
- Persyaratan Residual Length memenuhi standard GB / T 8626 – 88
- Persyaratan Total Smoke Production memenuhi standard GB / T 20284 – 2006
- Persyaratan Flaming Droplets memenuhi standard GB / T 20284 – 2006
- Persyaratan Filter Paper Combustility memenuhi standard GB / T 8626 – 88
f. Rangka aluminium extrussion system infill non sealant joint atau mengikuti standar
fabrikan yang dipakai
g. Joint Sealer dan Back Up Rod pada kondisi – kondisi khusus apabila ditentukan oleh
konsultan perencana
h. Bahan composite harus dalam keadaan rata, warna akan ditentukan kemudian.
62

i. Bahan yang digunakan harus merupakan produksi pabrikan / industry manufaktur


yang bersertifikat mutu yang diakui resmi pemerintah Negara pembuat atau
asosiasi produsen internasional terkait.
j. Kontraktor diwajibkan menyerahkan jaminan supply yang dikeluarkan oleh
distributor resmi, dan didukung oleh pihak pabrik ( principal ) yang mencantumkan
nama proyek dan perkiraan volumenya.
k. Contoh-contoh : Kontraktor diharuskan menyerahkan contoh-contoh bahan kepada
MK, Perencana untuk mendapatkan persetujuan Pemberi Tugas/Owner.
l. Toleransi dimensi mill finished :
- Lebar : - 0/ + 4mm
- Panjang s/d 4meter : -0/ + 6mm

8.3 SYARAT PELAKSANAAN


a. Sesuai dengan standar pelaksanaan fabrikan aluminium composite panel yang dipilih
b. Pemasangan dilakukan oleh tenaga ahli yang khusus dalam pekerjaan ini dengan
menunjukkan surat keterangan referensi pekerjaan-pekerjaan yang pernah dikerjakan
kepada Konsultan Pengawas untuk mendapatkan persetujuan
c. Aluminium Composite Panel yang digunakan untuk seluruh proyek harus dari satu
macam saja
d. Pelaksanaan pemasangan harus lengkap dengan peralatan bantu untuk
mempermudah serta mempercepat pemasangan dengan hasil pemasangan yang
akurat, teliti dan tepat pada posisinya
e. Rangka-rangka pemegang aluminium composite panel harus dipersiapkan dengan
teliti dan tepat posisinya sesuai gambar rencana.
f. Metode pemasangan antara lain :
- Dijepit diantara bagian-bagian sungkup puncak ganda
- Panel-panel baki menggantung pada rangka dan dipasang dengan sekrup
- Dinding pelapis yang dijadikan satu unit, system ikatan pinggir
g. Frekuensi pembersihan dan perawatan serta pemilihan bahan pembersih yang cocok
sangat tergantung pada lokasi gedung dan kondisi permukaan. Pembersihan dapat
dilaksanakan dengan air menggunakan spons lembut. Apabila pengotoran lebih berat
bisa ditambahkan pembersih khusus/neutral detergent yang direkomendasikan dari
pabrik pembuat.
h. Setelah pemasangan dilakukan penutupan celah-celah antar panel dengan infill
aluminium extrussion sesuai gambar rencana. Penutupan antar panel dan dinding
sesuai klarifikasi dengan konsultan perencana, dilakukan dengan bahan caulking &
sealant sillicone hingga rapat dan tidak bocor sesuai dengan uraian Bab sealant dalam
persyaratan ini.
i. Kontraktor harus melindungi pekerjaan yang telah selesai dari hal-hal yang dapat
menimbulkan kerusakan. Bila hal ini terjadi, Kontraktor harus memperbaiki tanpa
biaya tambahan.
j. Hasil pemasangan pekerjaan Aluminium Composite Panel harus merupakan hasil
pekerjaan yang rapih dan tidak bergelombang.
k. Kontraktor diharuskan membuat mock up skala 1:1 untuk disetujui Pemberi
Tugas/Owner dan MK dalam bidang yang cukup lebar.
l. Kontraktor harus dapat menyertakan jaminan mutu dalam 10 (sepuluh) tahun,
terhadap sinar matahari/ dari pabrik pembuatnya berupa sertifikat jaminan yang
mencantumkan :
- Nama Proyek
- Owner
- Warna yang digunakan
- Volume
63

PASAL 9
PEKERJAAN STAINLESS STEEL

9.1 LINGKUP PEKERJAAN


9.1.1 Pekerjaan yang dimaksud meliputi penyediaan bahan, alat bantu yang diperlukan
untuk melakukan pekerjaan ini secara lengkap meliputi :
pekerjaan interior melekat, pekerjaan furniture dan pekerjaan lainnya seperti yang
tercantum dalam gambar kerja.

9.2 PERSYARATAN BAHAN


9.2.1 Spesifikasi :
- Jenis : Stainless Steel Ex. Import Japan/ Min. Sekualitas
- Tebal : 0,8 mm & 1,2 mm
- Finish : hairline finish
Desain disesuaikan dengan gambar kerja.

9.3 PERSYARATAN PELAKSANAAN


9.3.1 Pemotongan bahan dari lembaran besar harus menggunakan mesin pemotong khusus
(tidak diperkenankan memakai gunting) agar hasilnya rapih.
9.3.2 Pemasangan terhadap furniture menggunakan lem jenis herferin ex. Jerman/ min.
sekualitas.
9.3.3 Kotoran bekas lem yang menempel pada kayu dan stainless steel supaya
dibersihkan.
9.3.4 Tekukan stainless steel sistem cutting V.

PASAL10
PEKERJAAN WALL PAPER

10.1 LINGKUP PEKERJAAN


Pekerjaan yang dimaksud meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan peralatan dan alat
bantu lainnya yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan ini secara lengkap untuk seluruh
ruang yang tercantum dalam gambar kerja dan kelangkapannya.

10.2 PERSYARATAN BAHAN


a. Tipe : Heavy Duty
b. Bahan dasar : Vinyl coating atau Paper backing
c. Produk : ex.Goodrich,/ Min. Sekualitas
d. Type : Custom Art Printing Wallpaper,

10.3 PERSYARATAN UMUM


a. Pengiriman material harus didalam kotak aslinya lengkap dengan label dan identitas.
b. Penyimpanan material harus pada daerah yang bersih, kering dengan temperatur yang
tetap sekitar 40 F dengan kelembaban normal.

10.4 PERSYARATAN PELAKSANAAN


10.4.1 Persiapan permukaan yang akan dilapisi wallpaper permukaannya harus rata, kering
dan bersih.
10.4.2 Harus mengikuti aturan/persyaratan pabrik dalam mencampur dan menggunakan
bahan pelapis dan perekat.
10.4.3 Sebelum pemotongan, pola dan warna harus diperiksa dan dicocokkan dengan
contoh yang telah disetujui.
64

PASAL 11
PEKERJAAN LANTAI KARPET (TILE & VINYL)

11.1 LINGKUP PEKERJAAN


1) Menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya untuk
melaksanakan pekerjaan sehingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang baik dan
sempurna.
2) Pekerjaan ini meliputi pemasangan lantai karpet seperti yang ditunjukkan dalam
gambar.

11.2 PERSYARATAN BAHAN


Pekerjaan ini dilakukan meliputi area seluruh lantai karpet Tile sesuai yang disebutkan
/ditunjukkan dalam gambar atau sesuai petunjuk Konsultan Pengawas/MK.

Bahan Carpet Tile untuk Ruang Auditorium adalah setara Ex. SMJ (Type Nylon : Plateau SQ
Platinum 1814 / Terrene Plank Dark Slate Terr70505)

11.3 SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN


1) Sebelum melaksanakan pekerjaan, kontraktor diwajibkan untuk meneliti gambar-
gambar yang ada dan kondisi di lapangan (ukuran dan lubang-lubang), termasuk
mempelajari bentuk, pola, layout/ penempatan, cara pemasangan, mekanisme dan
detail-detail sesuai gambar.
2) Sebelum pemasangan, material/bahan karpet harus ditempatkan pada ruang/tempat
dengan sirkulasi udara yang baik, tidak terkena cuaca langsung dan terlindung dari
kerusakan dan kelembaban.
3) Harus diperhatikan semua sambungan anatar karpet tile yang diperlukan hingga
terjamin kekuatannya dengan memperhatikan/menjaga kerapian terutama untuk
bidang-bidang tampak tidak boleh ada cacat bekas penyetelan.
4) Semua ukuran harus sesuai gambar dan merupakan ukuran jadi.

B. PEKERJAAN FURNITURE

PASAL 1
FURNITURE CUSTOM – MADE

1.1 LINGKUP PEKERJAAN


1.1.1 Lingkup pekerjaan yang dimaksud meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan,
peralatan dan alat bantu lainnya yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan ini
secara lengkap, meliputi :
1.1.2 Pekerjaan furniture sesuai dengan gambar kerja serta buku uraian pekerjaan, dan
persyaratan pelaksanaan teknis, dan brosur (khusus kursi fabrikan).
1.1.3 Pekerjaan pembersihan sebelum dan setelah pelaksanaan pekerjaan.
1.1.4 Pengamanan, pengawasan dan pemeliharaan terhadap alat-alat kerja, bahan-bahan,
maupun hasil pekerjaan selama masa pelaksanaan berlangsung sehingga hasil
pelaksanaan sempurna.

1.2 PERSYARATAN UMUM


1.2.1 Persyaratan umum meliputi :
1
a. Pelaksanaan pekerjaan harus dibuat sebaik-baiknya sesuai dengan gambar rencana,
baik yang ada maupun yang akan diusulkan oleh Direksi/Perencana.
b. Pelaksana harus memberi jaminan paling sedikit 1 (satu) tahun atas pekerjaannya,
terhadap kemungkinan terjadinya kerusakan akibat mutu bahan yang digunakan
maupun mutu pekerjaannya.
65

c. Semua contoh bahan-bahan lunak yang mempunyai kecenderungan terbakar seperti


fabric/upholstery yang diajukan untuk mendapat persetujuan, harus disertai dengan
spesifikasi detail yang menunjukan struktur maupun jenis serat yang digunakan.
d. Juga harus disertai jaminan tertulis dari pabrik pembuatnya, suatu keterangan yang
menunjukan bahwa bahan-bahan tersebut sudah “flame rated” dan diproses untuk
mencegah penyebaran api melalui bahan-bahan tersebut.

1.3 PERSYARATAN KHUSUS


1.3.1 Persyaratan pembuatan furniture.
1.3.2 Bersifat heavy duty dalam arti tahan untuk digunakan dalam batas maksimal pemakaian
suatu furniture mutu kerja dan bahan harus kelas 1 (satu).
1.3.3 Tidak diperbolehkan menggunakan chip board atau particle board.
1.3.4 Semua sambungan harus dibuat sekuat-kuatnya.
1.3.5 Semua moveable furniture harus dipasangi screw in glades dari platstil pada ujung
kakinya, kecuali dalam gambar detail ditentukan lain (kaki yang dibuat dari stainless
steel tube).

1.4 GAMBAR DETAIL


1.4.1 Spesifikasi dibawah ini bersifat umum dan harus digunakan bersama gambar-gambar
detail dari items furniture khusus.
1.4.2 Items yang selesai harus sesuai dengan gambar detail maupun dengan spesifikasi ini.

1.5 GAMBAR KERJA


1.5.1 Gambar rencana memperlihatkan lokasi, kontur dan dimensi (termasuk jari-jari) daun
meja, kolom-kolom yang fixed dan harus diajukan untuk disetujui oleh desainer
sebelum memulai fabrikasi dari items tersebut.
1.5.2 Skala penuh (1:1) dari gambar kerja yang telah disetujui akan diperlukan untuk
fabrikasi, yang setiap item jumlahnya lebih dari 5 (lima) buah.
Gambar kerja memperlihatkan semua ukuran detail konstruksi, pemasangan dan kondisi
setempat serta pekerjaan lain yang dipelukan untuk melengkapi pemasangan dari
masing-masing item.

1.6. CONTOH PROTOTIPE


1.6.1 Kontraktor diwajibkan membuat contoh prototipe untuk setiap item dari furniture lepas
yang totalnya 6 (enam) atau lebih.
1.6.2 Contoh prototipe ini dibuat untuk membandingkan kualitas bahan dan keahlian
pembuatnya dengan tujuan tercapai desainnya.
1.6.3 Direksi/Perencana akan melakukan pemeriksaan berkala pada waktu pengerjaan
prototipe untuk menilai metoda pengerjaan, penyambungan dan penyetelannya
sehingga dapat memastikan pekerjaan tersebut dapat dilanjutkan.
1.6.4 Setelah prototipe selesai dan disetujui secara tertulis oleh Direksi/Perencana. Prototipe
ini menjadi standar yang harus diikuti oleh kontraktor.
1.6.5 Untuk item yang diorder dan jumlahnya melebihi 25 buah, prototipe harus dibuat
sebagai bagian tambahan dan akan disimpan oleh Direksi/Perencana atau pemberi
tugas sebagai pembanding dalam pembelian.
1.6.6 Untuk item yang jumlah ordernya kurang dari 25 buah, prototipe sudah termasuk dalam
jumlah tersebut.
1.6.7 Untuk item furniture yang besar, Perencana secara bertahap akan mengunjungi bengkel
kerja Kontraktor untuk memeriksa dan menyetujui konstruksi, bahan dan kualitas
pekerjaannya.

1.7 PENYIMPANAN DAN PROTEKSI FURNITURE


1.7.1 Kontraktor bertanggung jawab untuk menyimpan dan memelihara seluruh item
furniture sebelum dilakukan penyerahan resmi kepada pemberi tugas.
1.7.2 Apabila pemberi tugas meminta kontraktor untuk tetap menyimpan barangnya setelah
tanggal penyerahan barang, maka atas persetujuan bersama biaya penyimpanan akan
dinegosiasikan.
66

1.7.3 Setiap item furniture harus dikirimkan kepada pemberi tugas masing-masing dalam
keadaan terbungkus dan berlabel yang menunjukan :
a. Nama kontraktor
b. Nomor gambar item furniture
c. Tempat tujuan
1.7.4 Adanya perbedaan suhu di bengkel dan di proyek akan mempengaruhi kadar
kelembaban dan finishing dari item furniture.
Apabila setelah furniture ditempatkan di proyek akan memerlukan finishing kembali,
maka biaya yang timbul ditanggung oleh Kontraktor.
1.7.5 Adanya kerusakan kecil dalam pengangkutan furniture dari workshop ke proyek, harus
diperbaiki kembali hingga sempurna. Timbulnya biaya karena pengerjaannya kembali,
ditanggung sepenuhnya oleh Kontraktor.

PASAL 2
PEKERJAAN KAYU

2.1 LINGKUP PEKERJAAN


1.1.1 Pekerjaan yang dimaksud meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan peralatan
dan alat bantu lainnya yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan ini secara lengkap
meliputi :
a. Pekerjaan kayu kasar (unfinished), terdiri dari rangka kayu untuk pekerjaan
furniture : counter, credenza, meja, workstation dan pekerjaan lainnya seperti
yang tercantum dalam gambar kerja.
b. Pekerjaan kayu halus (finished), terdiri dari pekerjaan furniture : meja, sofa
custom made, counter, credenza, dan pekerjaan lainnya seperti yang tercantum
dalam gambar kerja.

2.2 PERSYARATAN BAHAN


2.2.1 Mutu dan kualitas kayu adalah kayu lokal sesuai dengan persyaratan bahan yang berlaku
di Indonesia.
2.2.2 Semua kayu yang dipakai harus tua; benar-benar kering (oven), lurus, tanpa cacat mata
kayu, putih dan retak. Ukuran kayu adalah ukuran jadi seperti tertera pada gambar
kerja.
2.2.3 Sebelum pelaksanaan semua pekerjaan kayu, material yang digunakan harus sesuai
contoh yang disetujui Direksi dari setiap jenis-jenis kayu yang dipilih.
2.2.4 Jenis kayu yang dipergunakan :
a. Menggunakan kayu sungkai solid berkualitas baik dengan serat lurus.
b. Plywood/multiplex dari produk lokal yang berkualitas baik. Setiap lembar plywood
yang dipakai harus mempunyai tanda/cap dari pabrik pembuat.
c. Bahan kayu lapisan yang bersifat dekoratif (decorative veneers) dari kayu sungkai
plywood dengan pola serat lurus dan kualitas super.
d. Kayu kamper oven solid untuk rangka (unfinished), ruang lingkup sesuai gambar
kerja.
2.2.5 Harus dihindarkan adanya cacat-cacat kayu baik yang merupakan cacat bawaan, seperti
: terlalu banyaknya mata kayu, putih kayu, pecah-pecah atau cacat yang terjadi
karena kesalahan proses penebangan, pemotongan dan penyimpanan seperti melenting,
menggeliat dan kebiruan (blue stain) serta cacat lain yang tidak dapat memenuhi
standar untuk pekerjaan ini.
2.2.6 Untuk pekerjaan kayu yang bersifat dekoratif (decorative wood working), digunakan :
a. Sungkai plywood berkualitas baik.
b. Ketebalan veneer yang dipersyaratkan adalah 1 (satu) mm yang dihasilkan dengan
sistem “quarter cut slicing” (bukan rotary slicing).
c. Veneer matching sesuai dengan desain dan pola gambar dengan syarat sesuai warna
dan seratnya (colour and grain matching).
d. Kayu-kayu jenis lain yang digunakan dalam pekerjaan inlay, banding, sesuai dengan
desain dan pola yang ditunjukan dalam gambar.
67

e. Pekerjaan kayu dekoratif yang baik yang bersifat veneer matching cross, veneer
inlay, banding, harus betul-betul dikerjakan dengan sebaik mungkin sehingga
menghasilkan permukaan dekoratif yang betul-betul rata, sejajar, halus dan
menghasilkan daerah daerah pertemuan yang tidak terasa apabila diraba.
2.2.7 Khusus untuk pekerjaan finishing kayu baik yang masuk ke dalam kelompok kayu padat,
papan maupun lapisan dekoratif persyaratan finishing yang diminta adalah :
a. Pada dasarnya persyaratan finishing yang dipakai adalah natural dengan petalac
finish, syarat intensitas warna sama antara satu bagian kayu dengan lainnya.
b. Finishing bersifat “open pore” (pori-pori kayu terbuka), exposed grain (serat nyata
dan terasa apabila diraba), warna natural.
c. Bagian-bagian kayu yang telah di-finish tidak boleh menampakkan adanya paku,
skrup bekas paku maupun dempulan.
d. Finishing (top coat) yang digunakan adalah dari jenis polyurethane.
e. Bahan perekat yang dipakai dalam pre-finishing adalah perekat formaldehide.
f. Bahan perekat ini juga berlaku pada pekerjaan-pekerjaan veneer setting, inlay,
banding.
g. Pembuatan persiapan pemasangan alat-alat pengancingan yang terbuat dari logam
(iron mongery) pada kayu halus dikerjakan dengan mesin kayu sehingga tercapai
kerapihan dan ketepatan yang setinggi-tingginya.
2.2.8 Kelembaban kayu
a. Untuk ketebalan kayu < 3 cm, diisyaratkan kelembaban kayu tidak lebih 14%
terpasang.
b. Untuk ketebalan kayu > 7 cm, diijinkan kelembaban kayu maksimum 25% terpasang.
c. Untuk ketebalan kayu antara 3 cm sampai dengan 7 cm, kelembaban yang diijinkan
maksimum 18% pada saat terpasang.
2.2.9 Pengawetan kayu
Semua kayu terkecuali lembaran kayu lapis yang dipergunakan melalui proses
pengeringan/dry clean dan harus sudah diberi bahan antirayap sebelum pelaksanaan.
Pekerjaan anti rayap dilakukan dengan menggunakan bahan pengawet clorodane 960
EC dengan konsentrasi 2%.
Penggunaan dilakukan dengan kuas, minimum 200 cc larutan untuk menutupi 1 m2
permukaan.
Semua prosedur penggunaan bahan dan cara pelaksanaan sesuai dengan petunjuk
pabrik pembuat.
2.2.10 Penimbunan kayu.
Penimbunan kayu ditempat pekerjaan sebelum pelaksanaan pekerjaan harus diletakan
di satu tempat/ruangan yang kering dengan sirkulasi udara yang baik, tidak terkena
cuaca langsung dan harus dilindungi dari kerusakan.
Timbunan kayu tersebut harus diberi alas sehingga tidak langsung terhampar di lantai.
2.2.11 Semua pengikat berupa paku, skrup, baut, dinabolt, kawat dan lain-lain harus di
galvanis sesuai dengan persyaratan bahan yang berlaku di Indonesia.
2.2.12 Bahan perekat.
Jenis : lem putih untuk kayu dan harus tahan air.
Produk : Herferin atau Ponal.
2.2.13 Dempul yang dipakai adalah tipe B sesuai dengan referensi persyaratan bahan yang
berlaku di Indonesia.
2.2.14 Kontraktor wajib mengajukan contoh bahan/material untuk mendapatkan persetujuan
Direksi.

2.3 PERSYARATAN PELAKSANAAN


2.3.1 Sebelum pelaksanaan, kontraktor diwajibkan untuk :
a. Mempelajari bentuk, pola penempatan, cara pemasangan, detail-detail sambungan
dan hubungan kayu dengan material lain sesuai gambar kerja atau petunjuk Direksi,
terutama pada pekerjaan kayu halus.
b. Melakukan pengukuran keadaan lapangan untuk mendapatkan ketepatan
pemasangan di lapangan.
68

c. Khususnya untuk pekerjaan kayu halus, kontraktor harus membuat shop drawing
yang menggambarkan detail pemasangan dan sistem perkuatan yang sesuai dengan
gambar kerja dan kondisi lapangan. Shop drawing tersebut harus diajukan kepada
Direksi untuk mendapatkan persetujuan.
d. Selama pelaksanaan pekerjaan kayu ini, kontraktor harus selalu koordinasi dengan
paket pekerjaan EE, ES, ME, SA. Kontraktor harus menyediakan manhole untuk
pemeliharaan/perawatan instalasi disiplin lain tersebut yang tersembunyi dibalik
permukaan kayu yang luas.
e. Semua proses pemotongan dan pembuatan bentuk kayu dikerjakan dengan
menggunakan mesin, kecuali untuk detail tertentu atas persetujuan Direksi.
Tidak diperkenankan proses pengerjaan dilakukan di tempat pemasangan.
f. Bentuk, ukuran, profil, nat dan peil yang tercantum dalam gambar kerja adalah hasil
jadi/finish. Bila ada penyimpangan tanpa persetujuan Direksi/Perencana, maka
Kontraktor harus membongkar dan memperbaiki kembali tanpa mengurangi mutu
yang disyaratkan.
g. Pelaksanaan sambungan seperti pemasangan klos, baut, plat penggantung, anker,
dynabolt, skrup, paku dan lem perekat harus rapi serta sempurna, tidak
diperkenankan mengotori bidang-bidang tampak. Khusus pada permukaan bidang
tampak/exposed tidak diperkenankan pemasangan paku tetapi harus disekrup atau
cara lain yang disetujui Direksi/Perencana. Ukuran bahan/material sambungan
adalah baut “3/8” untuk balok kayu dengan dinding pasangan batu bata dan
permukaan beton. Paku dan sekrup sesuai keperluan, klem dari plat baja strip tebal
3 mm, lebar 4 mm.
h. Bilamana pada sistem perkuatan yang tertera dalam gambar dianggap kurang kuat
oleh Kontraktor, maka menjadi kewajiban dan tanggungan kontraktor untuk
menambahkannya setelah disetujui oleh Direksi/Perencana. Dalam hal ini Kontraktor
tidak dapat mengklaim sebagai pekerjaan tambah.
i. Semua pekerjaan pendempulan harus rapi, rata dan halus setelah dempul kering
digosok ampelas halus.
j. Untuk bahan material yang melekat pada kayu, bahan/material tersebut harus diberi
lapisan pelindung atau lapisan cat yang sesuai seperti yang disyaratkan.
k. Rangka kayu yang akan dipasang bahan penyelesaian lain harus diperhalus, rata, dan
waterpas.
l. Hasil akhir dari pemasangan harus rata, lurus dan tidak melampaui toleransi
kerataan 0.5 cm, setiap 2 m2.
m. Permukaan kayu yang terlihat atau yang akan dilapisi dengan bahan material lain
harus diserut sedemikian rupa sehingga siap menerima bahan/material tersebut.
Penggunaan meni sama sekali tidak disetujui termasuk memberi lapisan dempul
atau sejenisnya, kecuali diisyaratkan oleh Direksi.
n. Kayu harus dipotong menurut pola dan urutan pengerjaan yang ditentukan oleh
Direksi atau dalam gambar kerja. Kayu yang telah dipola tersebut diserut dengan
mesin, kemudian dengan serutan tangan untuk sambungan-sambungan. Untuk
sambungan-sambungan seperti tenon, ekor burung layang-layang (dove tail), dowel
atau tipe sambungan lain harus dikerjakan mesin dengan toleransi 0 mm.
o. Bila komponen berjumlah lebih dari 10 (sepuluh) buah, maka pemotongan menurut
pola dan pengerjaan assembling harus mengunakan jig.
p. Semua bagian kayu yang terlihat (exposed) harus di-finish, termasuk semua
permukaan yang terlihat apabila ada bagian yang tidak ditutup, dibuka, diangkat
dan lain-lainnya.
q. Jika diperlukan bahan perekat, maka Kontraktor terlebih dahulu harus mengajukan
bahan perekat tersebut baik kualitas maupun jenisnya kepada Direksi untuk
mendapatkan persetujuan.
r. Panel-panel sungkay plywood yang akan dipasang pada rangka kayu harus dengan
cara dilem.
Pengeleman harus merata, tidak ada rongga udara, rapi, permukaan harus rata dan
tidak kotor atau bernoda. Tidak diperkenankan adanya sambungan dalam satu
bidang permukaan, harus merupakan satu muka yang utuh.
69

s. Pada bidang kayu yang terlihat tidak boleh ada lubang-lubang paku bekas penyetelan
penunjang atau penyiku.
t. Pekerjaan daun pintu kayu.
Pemasangan/penyetelan semua daun pintu pada kusen harus menghasilkan celah
yang merata (2 mm) dan lurus.
u. Semua kayu yang telah terpasang harus dilindungi dari segala benturan, pecah, retak
noda dan cacat lain.
Apabila hal tersebut diatas ditemui, maka kontraktor harus membongkar dan
mengganti tanpa mengurangi mutu. Biaya untuk pekerjaan ini adalah tanggung
jawab kontraktor, tidak dapat diklaim sebagai pekerjaan tambah.
v. Bahan Penguat.
 Bahan penguat sekrup, paku dan sebagainya terbuat dari kuningan atau metal
antikarat.
 Sekrup yang terlihat harus sesuai dengan penyelesaian hardware.
 Sekrup yang terlihat harus ditanam dan lubangnya ditutup kayu dengan warna
dan serat yang sama. Lubang bekas paku pada permukaan yang terlihat, ditutup
dempul kayu warna sama.

PASAL 3
PEKERJAAN STAINLESS STEEL

3.1 LINGKUP PEKERJAAN


3.1.1 Pekerjaan yang dimaksud meliputi penyediaan bahan, alat bantu yang diperlukan
untuk melakukan pekerjaan ini secara lengkap meliputi :
pekerjaan funiture yaitu : meja counter, meja kerja, credenza, meja tamu dan
pekerjaan lainnya seperti yang tercantum dalam gambar kerja.

3.2 PERSYARATAN BAHAN


3.2.1 Spesifikasi :
- Jenis : Stainless Steel 304
- Tebal : 0,8 mm, 1,2 mm
- Finish : hairline Ex. Import Japan / min. sekualitas
Desain disesuaikan dengan gambar kerja.

3.3 PERSYARATAN PELAKSANAAN


3.3.1 Pemotongan bahan dari lembaran besar harus menggunakan mesin pemotong khusus
(tidak diperkenankan memakai gunting) agar hasilnya rapih.
3.3.2 Pemasangan terhadap furniture menggunakan lem jenis herferin ex. Jerman.
3.3.3 Kotoran bekas lem yang menempel pada kayu dan stainless steel supaya dibersihkan

PASAL 4
HARDWARE

4.1 PERSYARATAN BAHAN


4.1.1 Hardware yang terlihat di-finish sesuai dengan spesifikasi bahan dan finishing.
4.1.2 Sekrup yang disesuaikan dengan finishing barang yang terpasang dengan kepala bulat
atau datar.
4.1.3 Bahan kuningan padat atau lembaran yang dipoles, di-finish lebih lanjut dengan
lapisan polyurethane bening sebagai lapisan pelindung.
4.1.4 Hardware yang digunakan :
m.Sekrup, paku atau alat lainnya harus berkualitas terbaik.
n.Engsel sendok logam 90 merk Hafele ex. Germany/Min. Sekualitas.
o.Rel laci file single extension, merk Hafele Germany/ Min. Sekualitas.
p.Rel laci file double extension, merk Hafele Germany/ Min. Sekualitas.
q.Plastic Glider, castor roller, merk Hafele ex. Germany/ Min. Sekualitas.
r. Sliding Door Fitting, merk Hafele ex. Germany/ Min. Sekualitas.
s. Magnetic latdh model elzet, merk Blumm/Hafele ex.Germany/ Min. Sekualitas.
70

t. Kunci laci dan lemari, merk Hafele ex. Germany/ Min. Sekualitas.
u.Central lock (side mounted/front mounted), merk Hafele ex. Germany/ Min.
Sekualitas.
v. Handle, merk Hafele ex. Germany/ Min. Sekualitas.
(untuk tipe dan ukuran lihat outline specification)
4.1.5 Untuk alat-alat pegangan apabila dianggap lebih baik, dapat dipakai kayu atau bahan
lain yang dapat dipergunakan dengan persetujuan pemberi tugas.
4.1.6 Semua daun pembuka/laci harus mempunyai kunci dan menggunakan produk Hafele/
Min. Sekualitas.

4.2 PERSYARATAN UMUM


4.2.1 Pengadaan dan produksi hardware berkualitas baik dan sama dengan sample yang
diberikan. Sample ini dapat diambil dari beberapa sumber oleh supplier untuk bahan
pertimbangan desainer.
4.2.2 Biaya untuk hardware termasuk pengadaan sekrup, pemeliharaan, striking plate dan
sebagainya. Biaya pemasangan termasuk pengepasan, pemotongan, pembentukan,
mortice, pembongkaran penyetelan, pelumasan dan sebagainya.
4.2.3 Biaya pekerjaan metal dan sebagainya termasuk pemotongan, matres, pengelasan,
penyepuhan, pemboran dan sebagainya.

PASAL 5
PEKERJAAN HIGH PRESSURE LAMINATE (HPL)

5.1 LINGKUP PEKERJAAN


Pekerjaan ini dilakukan meliputi pemasangan HPL Ex. Haveel/setara dan multiplek
t=18mm/12mm/9mm pada pekerjaan backdrop, dinding, plafond dekoratif dan furniture
custom.

5.2 PERSYARATAN BAHAN


a. Plastic laminate yang digunakan ex. Heveel / minimal sekualitas.
b. Merk, nomor catalog, warna dan sebagainya, plastic laminate decorative harus sesuai
dengan bagan spesifikasi bahan dan finishing.
c. Untuk permukaan yang datar digunakan plastic laminate dengan ketebalan 1.2 mm.
d. Untuk permukaan yang melengkung digunakan plastic laminate dengan ketebalan
0.8 mm.
e. Pelapis untuk bahan ini menggunakan perekat Ex. Prima D
f. Kontraktor wajib memberikan mock up material untuk disetujui pihan Owner, MK dan
Perencana

5.2 PERSYARATAN PELAKSANAAN


a. Alas/Backing/dasar untuk dipasangi panel, baik partisi maupun plafond/ceiling, harus
merupakan permukaan yang bersih dan rata.
b. Bahan multipleks harus dipilih motif yang rata-rata sama dan tidak ada cacat serta bebas
dari mata kayu.
c. Panel kayu/multipleks adalah di-finish dengan finishing HPL
d. Panel kayu/multipleks setelah selesai di-finish, diberi perlindungan agar tidak rusak/cacat
oleh pekerjaan lainnya.
e. Panel multipleks untuk Back-dropped harus dikerjakan oleh tenaga yang ahli dan
berpengalaman dengan finishing multiplek dan ditutup dengan HPL Ex. Havel

A. PASAL 6
B. PEKERJAAN SOLID SURFACE

6.1 UMUM
6.1.1 LINGKUP PEKERJAAN
Meliputi pemakaian produk solid surface pada furniture station jaga (meja security,
meja nurse station, meja informasi, meja farmasi, dan counter kasir)
71

6.1.2 KUALIFIKASI PEKERJAAN


A. Mock Up : Kontraktor wajib membuat mock up / contoh yang akan ditentukan pada
jenis furniture berjumlah banyak (lebih dari 5 unit) sesuai dgn gambar
perencanaan.

B. Pelaksana : Pekerjaan hanya boleh dikerjakan oleh pelaksana yang berpengalaman


dan memiliki kualifikasi tinggi.

6.1.3 SUBMITTAL
A. Contoh Bahan
1. Profil solid surface sesuai tipe yang tertera dalam gambar perencanaan.
2. Bahan-bahan lain yang diperlukan untuk menunjang pekerjaan.

6.1.4 PENGIRIMAN BAHAN


Bahan dibawa ke lokasi dalam kemasan asli dari pabrik pembuat, dilengkapi dengan
identifikasi lengkap dan dengan cetakan/bentuk yang telah ditentukan.

6.1.5 PENYIMPANAN DAN PERLINDUNGAN


Simpan di tempat yang aman dan bersih Kontraktor bertanggung jawab langsung atas
kerusakan dan perlindungan dari gangguan.

6.2 PRODUK
6.2.1 MATERIAL
A. Solid Surface ex billionite atau merk lain yang setara dan disetujui Direksi ,
Pengawas atau
Manajemen Konstruksi (MK)
B. Karakteristik :
1. Density
2. Flexural modulus
3. Flexural strength
4. Elongation at break
5. Compressive strength
6. Impact resistance (spring load)
7. Impact resistance (ball drop)
8. Surface hardness
9. Resistance to surface wear
10. Resistance to bolling water-increase in weight
11. Resistance to bolling water surface change
12. Dimensional Stability at 20 ˚C
13. Temperature resistance 74 ˚C to 100 ˚C
14. Anti-slip properties –with 100 mm grit
15. Anti-slip properties-with 120 mm gri
16. Anti-slip properties-with 150 mm grit
17. Resistance to bacteria and fungi
18. Electrostatic surface behaviour
19. Fire behaviour
20. Fire tests
21. Weather resistance
22. Smoke toxicity

3. PERSYARATAN PELAKSANAAN
a. Semua solid surface harus benar – benar terpilih dan dalam kondisi tanpa cacat.
b. Semua permukaan solid surface harus rata satu dengan yang lain, lurus, dan sama
ukurannya.
72

c. Penguat–penguat tertentu dapat ditambahkan untuk memperkuat/memperkokoh kontruksi


solid surface asalkan tidak menggangu penempilan tampak luar & sepengetahuan
perencana.
d. Bahan harus disesuaikan dengan bentuk–bentuk pada furniture sehingga penggunaan material
dapat ebih effisien dan serasi.
e. Pekerjaan permukaan lengkung/bundar harus sesuai gambar perencanaan dengan hasil akhir
yang kuat dan rapih.
f. Metode pemasangan diserahkan sepenuhnya kepada kontraktor dan dapat dipertanggung
jawabkan.

PASAL 7
PEMBUATAN SIGNAGE UIN SGD BANDUNG

7.1 LINGKUP PEKERJAAN


a. Bahan huruf terbuat dari plat besi tebal 3mm yang dihubungkan satu dengan lain
dengan
las listrik sehingga huruf terlihat tebal setebal 5cm
b. Finishing huruf besi dan dudukan diberi cari pelapis anti karat berwarna putih.
Semua
bahan sebelum digunakan harus seijin Konsultan Pengawas.

7.2 PERSYARATAN BAHAN


a. Plat stainless dengan ketebalan 0.7mm
b. Finishing SS hairline
c. Perekat menggunakan double tape dengan ketebalan 3mm

7.3 PERSYARATAN PELAKSANAAN


a. Huruf dan dudukan yang terbuat dari besi harus dipasang pada tempat yang telat
ditentukan sebagaimana gambar rencana dengan penguat dan peyangga yang
direkomendasikan
b. Kontraktor pelaksana harus memeriksa dan menjamin pelaksanaan pekerjaan ini
dengan baik serta senantiasa mengadakan konsultasi/koordinasi dengan Konsultasi
Pengawas
c. Hasil akhir tulisan harus dapat terbaca dengan jelas dari kejauhan yang terpasang
dengan sempurna, tegak, lurus dan kokoh.
d. Kontraktor harus melakukan penyesuaian huruf sesuai dengan shop drawing dan
gambar harus disetujui oleh Owner, MK dan Perencana
e. Kontraktor wajib memberikan mock up huruf untuk disetujui pihan Owner, MK
dan Perencana

PASAL 8
PENGERJAAN CAT DUCO

8.1 LINGKUP PEKERJAAN


Uraian ini mencakup persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan pengecatan pada
permukaan logam/besi/kayu yang ditentukan yaitu pada daun pintu besi dan daun pintu
kayu.

8.2 KETENTUAN
8.2.1 WARNA CAT
Warna cat akan ditentukan oleh konsultan perencana berdasarkan contoh dan
katalog yang diajukan oleh pelaksana pekerjaan atau sesuai standar yang dimiliki
oleh bagian Logistik/Pemberi Tugas. Cat yang dipergunakan harus ramah lingkungan
dan tidak mengandung bahan-bahan berbahaya bagi manusia.
73

8.2.2 PERALATAN
1. Untuk pelaksanaan pekerjaan pengecatan ini, pelaksana pekerjaan harus
menggunakan peralatan dan peraturan pelaksanaan menurut ketentuan atau
rekomendasi yang dikeluarkan oleh pabriknya.
2. Pengecatan harus menggunakan alat semprot yang dilengkapi dengan kompresor
3. Tatacara pengecatan harus ramah lingkungan dan tidak boleh membahayakan
manusia.

8.2.3 PENYERAHAN
Sebelum mulai pelaksanaan, pelaksana pekerjan harus menyerahkan:
1. Contoh dan katalog, data teknis dari bahan cat dan bahan-bahan lain yang
diperlukan guna pelaksanaan pekerjaan antara lain contoh bahan-bahan secara
lengkap, kartu warna, aturan, prosedur, peralatan yang harus dipakai serta
data teknis yang berisi keterangan sifat dan ketahanan bahan cat serta
jaminan ramah lingkungan dan ramah manusia.
2. Contoh pelaksanaan pekerjaan pengecatan dalam komposisi lengkap.
Keseluruhan ini diperlukan guna pemeriksaan dan persetujuan
pelaksanaannya.
3. Surat garansi kualitas cat dan kualitas hasil pengecatan.

8.3 BAHAN – BAHAN


8.3.1 BAHAN/JENIS CAT
Bahan cat duco yang dipakai adalah dari produk NIPPE dengan warna yang akan
ditentukan kemudian oleh konsultan perencana. Pemakaian jenis cat disesuaikan
dengan ketentuan yang tercantum di masing-masing gambar rencana. Cat tidak
boleh mengandung bahan yang membahayakan manusia/lingkungan.

8.3.2 BAHAN PENGUAT SUDUT


Edging coat menggunakan PVC bening dengan prosedur tertentu sesuai dengan
aturan aplikasi.

8.3.3 BAHAN DEMPUL


Bahan dempul yang dipakai adalah jenis Polyester lengkap dengan bahan campuran
untuk pengenceran dari merk Sampolac, Danagloss, Impra atau merk lain yang setara
dan disetujui. Dempul tidak boleh mengandung bahan beracun/berbahaya seperti
timah, air raksa, dan sebagainya.

8.3.4 PERALATAN KERJA


Peralatan yang dipakai harus sesuai dengan teknis pelaksanaan pekerjaan serta yang
direkomendasikan oleh pabriknya

8.4 PELAKSANAAN
8.4.1 PERSIAPAN
1. Semua bahan, peralatan dan penunjukan pemakaian/pelaksanaan yang
dikeluarkan dan pabriknya harus dipersiapkan sebelum pelaksanaan dimulai.
2. Semua bidang permukaan yang akan dilapis cat harus dalam keadaan bersih,
kering serta rata dan datar.

8.4.2 PELAKSANAAN PENGECATAN


1. Komponen dari logam/besi/plywood yang akan dicat duco harus sudah
dibentuk/ dikerjakan permukaannya menurut ukuran, bentuk seperti tertera di
dalam gambar rencana.
2. Semua permukaan bidang yang akan dilapisi cat harus dalam keadaan halus,
bersih, kering serta rata atau datar
3. Permukaan yang tidak datar harus didempul terlebih dahulu dengan
menggunakan bahan dempul yang telah ditentukan dan dengan tatacara
menurut petunjuk dari pabriknya.
74

4. Pelaksanaan pengecatan harus sesuai dengan aturan yang dikeluarkan dari


pabriknya, baik mengenai aturan pakai, tahapan maupun kondisi permukaan
bidang pengecatannya.
5. Prinsip dasar tahapan pengecatan pada permukaan logam/besi yang
menggunakan cat adalah sebagai berikut :
- Pembersihan permukaan bidang cat.
- Dicat dasar.
- Didempul dengan sanpolac dan diampelas, epoxy.
- Dicat dasar.
- Dicat akhir minimal 3 lapisan tebal lapisan cat minimal 3 mikron.
- Hasil pengecatan harus rata dan halus serta kuat dan tahan terhadap
pengaruh cuaca atau keadaan sekelilingnya.
- Hasil terakhir pengerjaan coating anti gores, dilakukan seperti
disyaratkan pada pabrikannya dan dikerjakan ditempat tertentu saja yang
dijelaskan dalam dokumen spesifikasi ataupun gambar.
- Diperoleh permukaan yang rata, kuat dengan sisi sudut terlapisi PVC
edging.

C. PASAL 9
D. PEKERJAAN FURNITURE FABRIKAN

9.1 LINGKUP PEKERJAAN


9.1.1 Untuk pengadaan barang berupa Furniture Fabrikan/Lepas (Loose Furniture) akan
disediakan oleh pihak RS Pelni sebagai Owner sebagaimana yang tertulis dalam
keterangan Rencana Anggaran Biaya (RAB).

E. BIAYA
9.2 BIAYA-BIAYA YANG DIMASUKAN
9.2.1 Biaya pekerjaan kayu termasuk semua pekerjaan konstruksi pemasangan, pelapisan
bahan pengawet, pembuatan pola dan lain-lain.
9.2.2 Uraian pekerjaan yang menyatakan plugged to walls, maka biaya yang diajukan
termasuk biaya pekerjaan melubangi tembok/beton, pembersihan dan pemasangan,
termasuk pula biaya pembuatan sample pekerjaan.
9.2.3 Biaya untuk hardware, termasuk pengadaan, sekrup, pemeliharaan, striking plate
dan sebagainya.
9.2.4 Biaya untuk pemasangan termasuk pengepasan, pemotongan, pembentukan,
pembongkaran, penyetelan, pelumasan dan lain sebagainya.
9.2.5 Ketentuan biaya untuk furniture termasuk penempatan di lokasi dan pemeliharaan
sampai waktu penyerahan kepada pemberi tugas.
9.2.6 Biaya pembongkaran, pemindahan dan perubahan pekerjaan termasuk perbaikan
kembali lantai dinding sepenuhnya ditanggung Kontraktor.
9.2.7 Biaya pemasangan barang-barang/bahan-bahan baru dalam perubahan pekerjaan
termasuk penyesuaian dan perbaikan pekerjaan yang ada secara bersama.

9.2.8 Biaya-biaya saklar-saklar, titik lampu, stop kontak termasuk kabel dan lain-lainnya,
pembuatan lubang di lantai, dinding dan plafond serta untuk seluruh penyambungan
yang diminta dalam “Wiring Diagrams”.

SHOP DRAWING DAN AS-BUILT DRAWINGS

a. Selama pelaksanaan ini berjalan, Kontraktor harus membuat gambar Shop Drawing lalu
kemudain memberikan tanda-tanda dengan pensil atau tinta merah pada 2 set
gambar, apabila ada perubahan, penghapusan atau penambahan pada rencana
instalasi atau dari gambar tersebut untuk kemudian dibuatkan kembali gambar As-
built Drawing nya
75

b. Kontraktor harus menyerahkan pada Konsultan Pengawas gambar kerja sesungguhnya


sebagaimana yang terpasang pada bangunan, memuat lengkap semua perubahan yang
telah dilakukan atau As-built Drawing atau gambar terlaksana.
c. Ukuran kertas untuk As-built Drawing adalah sesuai dengan ukuran kertas gambar
rencana.

Shop Drawing dan As-built Drawing yang telah disetujui diserahkan lengkap dengan soft
copynya dalam compact disk (CD) atau DVD disk.

PASAL 28
PEKERJAAN SANITASI

1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi pengadaan dan pemasangan untuk antara lain
a. Pekerjaan Pengadaan dan Distribusi air bersih mencakup :
Pemipaan seluruh instalasi air bersih dari reservoar ke dalam maupun luar
bangunan/titik fixture.
b. Pekerjaan sistem drainase air hujan, lengkap dengan bak kontrol di halaman dan
jalan.
c. Pekerjaan sistem pembuangan air kotor dan sekalian lengkap dengan tangki
septikan bak rembesan bak-bak kontrol "Fixtures"
d. Pekerjaan Sanitary fixtures lengkap
e. Pekerjaan pengujian
f. Pekerjaan lainnya seperti tercantum dalam Gambar Kerja.
2. Persyaratan Umum

a. Semua pekerjaan ini harus mematuhi dan memenuhi peraturan dan normalisasi di
Indonesia diantaranya :
1) Pedoman Plumbing Indonesia
2) Standard Industri Indonesia
3) Ketentuan pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran pada Bangunan Gedung
tahun 1985
4) Peraturan PDAM tentang Instalasi Air Minum
5) Peraturan-peraturan lainnya yang berkaitan dan :
6) BS = British Standard : untuk bahan-bahan
7) JIS = untuk bahan-bahan, NFPA = untuk pencegahan kebakaran
8) Peraturan-peraturan lainnya yang berkaitan.

b. Penyediaan Bahan-bahan dan alat


1) Semua ketentuan bahan yang harus disediakan oleh Kontraktor harus sesuai
dengan Standard dan normalisasi yang tercantum dalam butir 2.a.diatas.
2) Untuk pekerjaaninstalasi pipa, fixtures dan peralatan lain yang termasuk dalam
lingkup pekerjaan ini Kontraktor wajib menyerahkan :
- Brosur/leaflet dari pabrik pembuat yang memuat spesifikasi teknis secara
lengkap.
- Instruksi pemasangan dari pabrik pembuat
- Gambar-gambar detail pemasangan yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat
Kepada Pengawas Lapangan untuk mendapatkan persetujuan bagi pemakaian.
3) Unit-unit peralatan dan material yang diserahkan oleh Kontraktor harus asli dan
buatan negara asal pabrik pembuatnya dan dilengkapi dengan tanda uji dari Badan
yang diakui sah oleh Pemerintah/Badan Internasional.
4) Kontraktor & pabrik pembuat harus memberikan kepada Pengawas Lapangan
mengenai :
- Jaminan bahwa semua bahan, peralatan yang disediakan telah bebas dari segala
kerusakan baik akibat kesalahan pabrik, akibat kerusakan bahan ataupun
kerusakan akibat pengiriman
- Garansi pemakaian.
76

- Jaminan pengadaan suku-cadang (Spare-parts).


5) Pengujian harus disaksikan oleh Tenaga Ahli yang disetujui oleh Pengawas
Lapangan.

c. Bahan/material, peralatan, yang tidak disertai data lengkap (Brochures factory drawing
specificationdiatas), tidak diijin kan untuk dipasang dan harus diganti dengan yang
memenuhi persyaratan di buku RKS ini.
d. Segala kerusakan pada disiplin pekerjaan lain seperti AR, SR, EL, yang diakibatkan
oleh pekerjaan ini harus dikembalikan seperti keadaan semula atas biaya Kontraktor.
Dalam hal ini Kontraktor tidak dapat mengajukan tuntutan biaya pekerjaan tambah.

3. Penggunaan Bahan

a. Pipa-pipa
1) Pipa PVC
Semua pipa PVC, pipa penyambung/"Joint"/ "Fitting adalah PVC kelas AW (Heavy
Duty) dengan memenuhi standard bahan sebagai berikut :
a). Harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam PUBI 1982, pasal 64; dan
memenuhi ketentuan dalam : SII-0344-82 (untuk pipa) dan SII-1448-85 (utk fitting)
Diameter dalam terhadap Tebal dinding tidak boleh kurang dari ukuran-ukuran
sebagai berikut : 50 & 75 mm = 5 mm, 100 &125 mm = 7 mm, 150 mm =7,5 mm
200 mm = 8 mm, 250 mm = 8,5 mm dan 300 mm = 9 mm.
b). Pipa dan fitting harus berasal dari pabrik yang sama. Produk WAVIN atau
setaraf, ukuran sesuai Gambar Kerja. Pipa PVC dipakai untuk pipa air kotor dan
pipa resapan, dan vent.

b. Katup dan "Strainer"


1) Katup penutup harus jenis "Gate-Valve" dipasang pada setiap titik air sebelum
masuk kebangunan atau sesuai gbr.
2) Semua Katup dan Strainer D 4“ atau lebih harus jenis CAST IRON
VALVE/STRAINER seri 150 WOG dengan sambungan flange.
3) Semua Katup dan Strainer yang lebih kecil dari D 4“ harus dari jenis BRONZE
VALVE/STRAINER seri 150 WOG dengan sambungan ulir.
4) Semua katup adalah jenis NON - RAISING STEM.
5) “Check-Valve harus dari jenis “SWING Y pattened body”
6) Katup harus dari jenis yang memiliki tahanan aliran sekecil mungkin padas saat
keadaan terbuka penuh.
7) Semua katup dan strainer harus dari satu merk (buatan pabrik yang sama). Kkatup
harus dari kwalitas yang terbaik sekualitas merek “KITAZAWA”.
2
8) “Preasure-Gauge” harus dari tipe W 4,50 dengan skala pembacaan per kg/cm /psi

c. Alat-alat saniter
1) Kloset Jongkok sekualitas TOTO
2) Kloset Duduk sekualitas TOTO
3) Jet Washer sekualitas TOTO
4) Floor Drain sekualitas TOTO
5) Urinoir sekualitas TOTO
6) Sekat Urinoir sekualitas TOTO
7) Kran Air sekualitas TOTO
8) Wastafel lkp accessories sekualitas TOTO
9) Monoblock
10) Dan lain lain sesuai gambar kerja

d. Kontraktor harus menyerahkan semua contoh bahan/material yang akan dipakai kepada
Pengawas Lapangan/Konsultan Perencana untuk disetujui secara tertulis bagi
pemakaian & pelaksanaan.
77

4. Persyaratan Teknis.

a. Gambar-gambar dan Ukuran


1) Gambar-gambar perencanaan tidak dimaksudkan untuk mencantuWaspangan
semua detail instalasi seperti "Fitting" pemipaan, alat ukur dan lain-lain. Walaupun
demikian, semua bagian/detail tersebut harus tetap disediakan dan dipasang sesuai
dengan praktek pelaksanaan terbaik dan peraturan yang berlaku, demi
kesempurnaan kerja sistem.
2) Ukuran-ukuran pokok dan pembagiannya, seluruhnya telah dicantuWaspangan dalam
Gambar Kerja. Ukuran-ukuran tersebut merupakan efektif yaitu : ukuran dalam
pelaksanaan maupun pembelian barang-barang.
3) Kontraktor harus membuat Gambar Detail Pelaksanaan ("Shop Drawing") sementara
pekerjaan lainnya (AR, SR, EL) sedang dilaksanakan yang mencakup : Dan lain-lain
yang dianggap perlu. "Shop Drawing" ini harus diserahkan ke Pengawas Lapangan
untuk disetujui secara tertulis bagi pelaksanaan.

b. Kontraktor harus melakukan pengujian setelah Sistem terpasang dan sebelum


penyerahan.
c. Di dalam seluruh pelaksanaan pekerjaan ini, Pemborong harus selalu berkoordinasi
dengan disiplin kerja lain (AR, SR, EL) di bawah petunjuk Pengawas Lapangan.

5. Persyaratan Pelaksanaan

a. Sejauh mungkin harus digunakan satu laras pipa untuk menghindari sambungan,
terkecuali jika panjang yang dibutuhkan kurang dari satu laras.
b. Perubahan arah pipa harus dilaksanakan dengan memakai "fitting" pembantu yaitu
misalnya : "elbow, bend" sesuai kebutuhan. Demikian pula dengan percabangan harus
memakai Tee atau Tee Cross sesuai kebutuhan. Membengkokan pipa tidak
diperkenankan.
c. Sambungan pipa pada umumnya digunakan sambungan ulir Screwed. Penyambungan
dengan ulir ini terlebih dahulu harus dilapisi dengan "Red Lead Cement" dan memakai
pintalan atau serat khusus.
d. Sudut sambungan antara dua pipa tidak boleh lebih besar dari yang diijinkan (maximum
deflection") oleh pabrik pembuat pipa bersangkutan.
e. Semua ujung pipa yang terakhir atau yang tidak dilanjutkan lagi harus ditutup
dop/plung.
f. Untuk katup penutup yang mempunyai diameter 2 1/2" atau lebih kecil dipergunakan
sambungan ulir.
g. Apabila ada segmen pemipaan yang menghalangi atau terhalang oleh jalur instalasi
lain; maka pemindahan, perbaikan atau pembongkaran harus dilaksanakan setelah
mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas.
h. Pemotongan pipa apabila benar-benar diperlukan dapat dilakukan oleh Kontraktor
setelah disetujui Konsultan Pengawas.

i. Pekerjaan Pemipaan Dalam Bangunan


1) Pemasangan pipa harus lurus, untuk pipa tegak harus benar- benar vertikal.
2) Semua pemipaan dalam bangunan dipasang secara "inbouw", dengan
cara pemasangan :

a). Pada dinding batu bata. Permukaan dinding batu bata diketrek hingga
kedalaman secukupnya sedemikian rupa agar pipa tertanam oleh lapisan
plesteran. Pipa harus diikat oleh "U" klem yang disekrupkan ke klos kayu yang
ditanaWaspangan ke dinding dengan aduk pengisi/ "grouting'. Pemasangan klem
setiap jarak 50 cm.
78

b).Pada dinding/kolom/balok beton lantai dasar :


Sebelum pengecoran beton harus dipasang pipa "Sparing" sepanjang kebutuhan.
Pipa "Sparing" tidak boleh menonjol dari permu-kaan beton. Diameter pipa
"Sparing" sama dengan diameter pipa yang akan disambungkan.

3) Sebelum dan sesudah pemasangan pipa-pipa dan "Accessories"-nya, terutama


bagian dalamnya, harus dijaga bersih dan harus diperiksa lagi terhadap
kerusakan/retak-retak.

j. Pekerjaan Pemipaan Luar Bangunan


1) Disekeliling pipa yang ditanam di dalam tanah harus diberi pasir urug sedemikian
rupa sehingga terdapat pasir setebal minimum 10 cm di bawah, di samping dan di
atas pipa.
2) Pada waktu pemasangan pipa harus diperhatikan benar-benar mengenai kedudukan
pipa agar betul-betul lurus serta pada peil yang benar, bebas dari benda keras yang
memungkinkan rusaknya pipa di kemudian hari.
3) Pada waktu pemasangan pipa, pasir galian harus dalam keadaan kering dan tidak
boleh ada air sama sekali dan ini dalam pipa harus diperiksa kembali kebersihannya.
4) Pipa-pipa yang ditanam harus ditumpu dengan angker blok pada jarak maksimum
250 cm.
5) Bila pipa harus menyilang ("Crossing") dengan jalan kendaraan, maka pipa tersebut
harus berada di bawah jalan minimal 60 cm serta tidak boleh menyilang saluran
drainase

k. Pekerjaan Sistem Pembuangan Air Kotor/Bekas dan Vent.

1) Pekerjaan ini meliputi :


- Pemipaan air kotor mulai dari sanitary fixtures sampai ke septic tank di luar gedung
termasuk penyambungan pipa ke sanitary fixtures
- Pembuatan bak kontrol untuk membelokkan aliran kotor/bekas dari gedung ke
septic tank.
2) Fitting harus terbuat dari bahan yang sama dengan jenis pipanya dan merupakan
cetakan pabrik.
3) Sambungan untuk pipa PVC menggunakan "solvent cement"/rubbering sesuai denga
spesifikasi pabrik.
4) Setiap sambungan arah dibuat dengan Wye (Y) 45 derajat. Tee Sanitair atau Wye
Kombination dan bend yang dilengkapi dengan lubang pembersih (clean out) kecuali
apabila dinyatakan lain dalam Gambar Pelaksanaan.
5) Pipa vent service harus dipasang sekurang-kurangnya 15 cm dari muka banjir alat
sanitair tertinggi dan dibuat dengan kemiringan minimum sebesar satu prosen (1 %)
6) Pipa vent yang menembus atap harus dipasang sekurang- kurangnya 15 cm diatas
atap dan tidak boleh digunakan untuk keperluan lain
7) Untuk pipa vent mendatar, jarak tumpuan sama dengan jarak tumpuan pada pipa air
kotor.
8) Dalam pemasangan jaringan pemipaan ini, harus mengadakan koordinasi dengan
pekerjaan-pekerjaan struktur mengingat adanya penembusan-penembusan betonan
lantai maupun dinding
9) Pengujian dari seluruh sistem pemipaan air kotor/bekas ini dilakukan setelah selesai
pemasangan dengan cara dan petunjuk Konsultan pengawas. Biaya untuk hal
ini adalah tanggungan Kontraktor.

l. Pekerjaan tangki Septik dan bak Resapan

1) Tangki Septik
a). tangki septik bahan FRP lengkap Blower dan Instalasi Listrik + Pekerjaan sipil.
b). Pelat penutup tangki septik tutup "Manhole" balok dudukan pelat penutup di buat
dari beton bertulang.
79

c). Pekerjaan ini harus memenuhi uraian dalam pasal Pekerjaan Pasangan Dinding
dan Pekerjaan Beton di buku RKS ini.

2) Bak Resapan
a).Bak serapan dibuat dari buis beton yang di isi ijuk, pasir dan kerikil sesuai dengan
Gambar Kerja.

m). Pekerjaan Unit & "Fixtures" Saniter.

1). Pemasangan harus dilakukan hati-hati, rapih, tidak ada noda percikan adukan
semen dan sebagainya.
2). Pengikat fixtures tersebut, baik di dinding maupun di lantai, disesuaikan dengan
syarat-syarat/rekomendasi dari pabrik pembuatnya.

n. Pengujian

1). Pengujian Pemipaan Air Bersih.


a). Pada prinsipnya pengetesan dilakukan dengan cara perbagian yang tidak lebih
panjang dari 100 m.
b). Pengujian dilakukan dengan memberikan tekanan hydrostatik sebesar delapan
(8) atmosfir selama 2 jam.
c). Pengujian dinyatakan berhasil dan selesai apabila selama 2 jam tidak terjadi
penurunan tekanan.

2). Pengujian Pemipaan Air Kotor dan Vent


a). Semua lubang pada pipa pembuangan di tutup.
b). Seluruh sistem pemipaan diisi air sampai ke lubang vent tertinggi.
c). Pengujian dinyatakan berhasil dan selesai bila penurunan selama 2 jam tidak
lebih dari 10 cm.

3). Desinfeksi
a). Desinfeksi dilakukan setelah seluruh sistem pemipaan air bersih dapat berfungsi
dengan baik, sebelum diserahkan pertama kali.
b). Desinfeksi dilakukan dengan memasukkan larutan chlorine ke dalam sistem pipa
dengan sistem injeksi. Dosis chlorine adalah 550 ppm.
c). Setelah 16 jam, seluruh sistem pipa harus dibilas dengan air bersih sehingga
kadar chlor tidak melebihi 0,2 ppm.

o. Perbaikan Kerusakan

1). Kontraktor harus mencari sebab-sebab kegagalan pengujian.


2). Kontraktor harus memperbaiki setiap kesalahan yang menyebabkan gagalnya
pengujian.
3). Perbaikan dilaksanakan atas biaya Kontraktor yang bersangkutan.

p. Pengadaan Air Bersih

1). Pengeboran Jet Pump lengkap casing dan instalasi.


2). Pengadaan dan Pemasangan Pompa Air Bersih lengkap panel control :

q. Pekerjaan Ground Reservoar dan Rumah Pompa + tutup plat besi


Persyaratan dan penjelasan teknis pada pekerjaan ini telah dijelaskan pada pasal pasal
sebelumnya, seperti pengukuran, bowplank, galian tanah, pasangan bata, beton
dinding, waterproofing, Kolom Struktur, Pengecatan dan lain sebagainya.
80

6. SYARAT-SYARAT TEKNIS
F. PEKERJAAN PLUMBING/SANITASI

38.1. UMUM
Syarat-syarat Teknis Pekerjaan Plumbing / Sanitasi yang diuraikan di sini adalah
persyaratan yang harus dilaksanakan oleh Kontraktor dalam hal pengerjaan instalasi
maupun pengadaan material dan peralatan, dalam hal ini Syarat-syarat Umum teknis
pekerjaan Mekanikal / Elektrikal adalah bagian dari Syarat-Syarat Teknis ini.

38.2. LINGKUP PEKERJAAN


Yang dicakup dalam pekerjaan ini adalah pengertian bekerjanya instalasi plumbing
(pembuangan air kotor, air bekas dan penyediaan air bersih) di dalam dan di luar
bangunan sampai suatu sistem keseluruhan maupun bagian-bagiannya, seperti yang
tertera pada gambar-gambar maupun yang dispesiflkasikan.
Termasuk di dalam pekerjaan ini adalah pengadaan barang / material, instalasi dan
testing terhadap seluruh material, serah terima dan pemeliharaan selama 12 (dua
belas) bulan. Ketentuan-ketentuan yang balk tercantum di dalam gambar maupun
pada spesifikasi / syarat-syarat teknis tetapi perlu untuk pelaksanaan pekerjaan
instalasi secara keseluruhan harus juga dimasukkan ke dalam pekerjaan ini.
Secara umum pokerjaan yang harus dilaksanakan pada provek ini ada!ah :
Pengadaan dan pengangkutan ke lokasi proyek, pemasangan bahan, material,
peralatan dan perlengkapan sistem plumbing / sanitasi sesuai dengan peraturan /
standar yang berlaku seperti yang ditunjuk pada syarat-syarat umum untuk
menunjang bekerjanya sistem / peralatan, walaupun tidak tercantum pada Syarat-
syarat Teknis Khusus atau gambar dokumen.
Perincian umum pekerjaan instalasi plumbing dan sanitasi ini adalah sebagai berikut
: 6. 2.1. Instalasi Air Bersih
Pengadaan, pemasangan dan pengujian sistem pemipaan di dalam dan di
luar bangunan, lengkap berikut sistem pemompaan sesuai dengan gambar
rencana dan spesifikasi tekniknya.
Pengadaan tenaga kerja yang berpengalaman dalam menangani instalasi
plumbing serta peralatan-peralatannya.
Pembersihan pipa (plushing) dengan menggunakan aliran air yang
bertekanan oleh pompa yang disediakan oleh Kontraktor.
Pengujian terhadap kebocoran pipa-pipa dengan tekanan hidrolis secara
parsial dan untuk seluruh sistem pemipaan serta mengadakan pengamatan
sampai sistem bekerja dengan balk dan aman.

Pengangkutan bekas galian dan penimbunan kembali serta pembersih site.

6.2.2. Instalasi Air Kotor / Air Buangan


2.2.1. Pengadaan dan Pemasangan pipa air kotor / air buangan Iengkap
dengan peralatan dan berada di dalam bangunan, antara lain WC,
urinoir, wastafel, floor drain, clean out dan lain sebagainya.
2.2.2. Pengadaan dan pemasangan pipa air kotor / air buangan dari dalam
bangunan menuju saluran drainnase dan septictank.
2.2.3. Pembuatan septic tank lengkap dengan pemipaan vent-out dan
filternya.
2.2.4. Pengangkutan bekas galian dan penimbunan kembali.
2.2.5. Pengujian instalasi pemipaan terhadap kebocoran dengan tekanan
hidrolis.
2.2.6. Pengadaan tenaga kerja yang berpengalaman dan alat-alat kerja yang
diperlukan.
81

38.3. UMUM

6.3.1. Pengecatan.
3.1.1. Kontraktor harus mengecat semua pipa, rangka penggantung, rangka
penyangga, semua unit yang dirakit di lapangan dan bahan-bahan
yang mudah berkarat dengan lapisan cat dasar (prime coating), cat
harus sesuai dengan persyaratan pengecetan yang sesuai dengan
bahan masing-masing.
3.1.2. Pengecetan tidak diperlukan bila alat-alat sudah dicat di pabriknya
atau dinyatakan lain dalarn spesifikasinya atau untuk bahan
alurrusnium.
3.1.3. Untuk peralatan yang tampak, maka bahan-bahan tersebut harus
dicat akhir dengan cat besari merek ICI dengan merek sebagai berikut
:
- Pipa air bersih : biru
- Pipa drain / waste : hitam
- Gantungan/supprot : hitam
- Panah pengarah : putih.
3.1.4. Kontraktor harus memberikan tanda-tanda huruf dan nomor
identifikasi bagi peralatannya dengan cat.
Sebelumnya Kontraktor wajib memberitahukan mengenai tanda-tanda
yang hendak dipasang pada peralatan-perlatan itu kepada Konsultan
Manajemen Konstruksi.

6.3.2. Peralatan.
3.2.1. Kontraktor harus menyediakan dan memasang pengumpul kotoran
pada tempat-tempat rendah tertutup.
3.2.2. Kontraktor harus menyediakan dan memasang tipe fitting untuk
penempatan alat ukur yang tidak dipasang tetap pada tempat-tempat
yang penting.
3.2.3. Semua alat ukur yang dipasang harus dalam batas ukur yang balk
dan ketelitian tinggi serta simetris.
3.2.4. Kontraktor harus menyediakan dan memasang tanda panah pada
pipa ditempat tempat tertentu untuk menunjukkan arah aliran dengan
cat.
3.2.5. Kontraktor harus menyediakan dan memasang automatic air release
valve serta penampungannya pada tempat yang memungkinkan
terjadinya pengumpulan udara.

6.3.3. Ukuran (Dimensi)


Ukuran-ukuran pokok dan ukuran-ukuran detail terdapat pada gambar harus
ditaati oleh Kontraktor.
Kontraktor harus meneliti (mempelajari) gambar perencanaan, dan bila terjadi
perbedaan antara suatu dengan yang lain, harus segera dibicarakan dengan
Konsultan Manajemen Konstruksi.
Kontraktor diwajibkan melakukan seniua pekerjaan pengukuran dan
penggambaran yang diperlukan guna memudahkan pelaksanaan.

38.4. INSTALASI AIR BERSIH


6.4.1. Pipa
Pipa dengan 0 1" s/d 3", balk pipa utarna maupun pipa cabang, termasuk
yang menuju fixtures menggunakan pipa HDPE merk Wavin

6.4.2. Fitting.
Fitting-fitting harus terbuat dari material yang sama dengan bahan pipa.
82

6.4.3. Valves.
Valve dengan 0 lebih kecil dari 3" diperkenankan menggunakan sambungan
ulir (screwed).

Valve pada fixture dari brass metal atau bahan yang tidak berkarat, khusus
dibuat untuk fixture tersebut, harus mengkilat tanpa cacat.

Semua valve harus mempunyai diameter yang sama besar dengan pipanya.

Semua valve dari merek KITAZAWA atau yang setara. Setiap penawaran
harus dilengkapi dengan brosur / katalog dari pabrik pembuat.
Kelas valve yang digunakan adalah pn 150 (150 psi).

Bak Kontrol untuk Water Meter dan Valve.


Bak kontrol untuk pipa penyambung dari jaringan utama sistem distribusi air
bersih, terbuat dari beton tulangan besi yang lengkap dengan tutup beton
yang dapat dengan mudah dibuka / diangkat serta dikunci.

6.4.5. Pemasangan Pipa.

4.5.1. Pipa Tegak


Pipa tegak yang menuju fixture harus ditanam di dalam tembok /
lantai. Kontraktor harus membuat alur-alur dan lubang-lubang yang
diperlukan pada tembok sesuai pada kebutuhan pipa. Setelah pipa
dipasang, dikiem dan diuji harus ditutup kembali sehingga tidak
keliharan dari luar.
Cara penutupan kembali harus seperti semula dan finish yang rapi
sehingga tidak terlihat bekas-bekas dari bobokan.

4.5.2. Pipa Mendatar.


Untuk pipa yang berada di atas atap dan di bawah lantai, pipa harus
dipasang dengan penyangga (support) atau penggantung (hangger).
Jarak antara pipa dengan dinding penggantungan bisa disesuaikan
dengan keadaan lapangan.

4.5.3. Penyambung Pipa.


a. Sambungan Ulir.
Penyambung an uiir antara pipa derigan fitting dilakukan untuk
pipa dengan diameter sampai 40 mm (11/2").
Kedalaman ulir pada pipa harus dibuat sedemikian rupa, sehingga
fitting dapat masuk pada pipa dengan diputar tangan sebanyak 3
uiir. Semua sambungan ulir harus nenggunakan perapatan henep
dan zinkwite dengan campuran minyak.
Semua pemotongan pipa menggunakan pipe cutter dengan pisau
roda. Tiap ujung pipa bagian dalam harus dibersihkan dari bekas
pemotongan dengan reamer.
Semua pipa harus bersih dari bekas bahan perapat sambungan.

b. Sambungan Lem.
Penyambungan antara pipa dengan fitting PVC menggunakan lem
yang sesuai dengan jenis pipa dan menurut rekomendasi pabrik.
Pipa harus masuk sepenuhnya pada fitting, dan hal ini dapat
dilakukan dengan alat press khusus.
Pemotongan pipa harus tegak lurus terhadap pipa.

c. Sambungan Las.
83

Sambungan las hanya diijinkan untuk pipa selain pipa air minum.
Sambungan las ini berlaku antara pipa baja dan fitting las, dengan
kawat las / elektrode yang sesuai.
Tukang las harus mempunyai sertifikat dan hanya boleh bekerja
sesudah mendapatkan ijin tertulis dari Konsultan Manajemen
Konstruksi.

Setiap bekas sambungan las harus segera di cat dengan cat


khusus untuk itu.

d. Sleeves.
Sleeves untuk pipa-pipa harus dipasang dengan balk setiap kali
pipa tersebut menembus beton.
Sleeves harus mempunyai ukuran yang cukup untuk memberikan
ruang longgar di luar pipa maupun isolasi.
Sleeves untuk dinding dibuat dari pipa besi tuang atau baja.
Untuk yang diinginkan kedap air harus di lengkapi dengan sayap /
flens / water stop.
Untuk pipa-pipa harus menembus kontruksi bangunan yang
mempunyai lapisan kedap air (water proofing) harus dari jenis
flushing sleeves. Rongga antara pipa dan sleeve harus dibuat
kedap air dengan rubber seal atau caulk.

4.5.4. Penanaman Pipa di Dalam Tanah.

a. Dasar dari lubang parit harus diratakan dan dipadatkan.


b. Diberi pasir urug padat setebal 10 cm
c. Pada setiap sambungan pipa harus dibuat lubang galian yang
dalamnya 50 mm untuk penempatan pipa sambungan pipa.
d. Pengadaan testing terhadap tekanan dan kebocoran.
e. Setelah hasilnya baik, ditimbun kemhali dengan pasir urug padat
setebal 15 cm dihitung dari alas pipa.
f. Di sekitar fitting dari pipa ha[-us dipasang halok / penguat dari
beton agar fitting-fitting tidak bergerak jika beban tekan diberikan..
g. Keniudian diurug dengan tanah bekas galian sampai seperti
keadaan semula

4.5.5. Pengujian Terhadap Tekanan dan Kebocoran.

a. Setelah semua pipa dan perlengkapannya terpasang, harus diuji


dengan tekanan hidrolis Kg/Cm2 selama 24 jam tanpa teijadi
perubahan / penur unan tekanan.
b. Peralatan pengujian ini harus disediakan oleh kontraktor.
c. Pengujian harus drsaksikan oleh Konsultan Manajemen Konstruksi
atau yang kuasakan untuk itu.
d. Apabila terjadi kegagalan dalam pengujian Kontraktor harus
memperbaiki bagian-bagian yang rusak dan melakukan pengujian
kembali sampai berhasil dengan balk.
e. Dalam, hal ini semua biaya ditanggung oleh Kontraktor, termasuk
biaya pemakaian air dan listrik.

4.5.6. Pengujian Sistem Kerja (Trial Run)


Setelah semua instalasi air bersih lengkap, temasuk penyambungan
ke pipa distribusi, Kontraktor diharuskan melakukan pengujian
terhadap sistem-sistem kerja (trial run) dari seluruh instalasi air bersih,
yang disaksikan oleh
84

Konsultan Manajemen Konstruksi atau yang ditunjuk untuk itu sampai


sistem bisa bekerja dengan baik.

4.5.7. Pekerjaan Lain-Lain

Termasuk di dalam pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh


Kontraktor adalah pembobokan dinding / selokan, penggalian dan
pengangkutan tanah dari hasil dan lain-lain yang ditemui di site, serta
memperbaiki kembali seperti semula.

38.5. INSTALASI AIR KOTOR / AIR BUANGAN

6.5.1. Material

5.1.1. Pipa di Dalam Bangunan.


Pipa dengan ukuran 1'/2"-4" balk pipa utama maupun pipa cabang
mengunakan PVC class AW.
Pipa PVC ex WAVIN

5.1.2. Pipa di luar Bangunan


Dari ujung pipa di dalam bangunan menuju ke saluran drainase
menggunakan pipa PVC class AW.
Pipa PVC ex Wavin

5.1.3. Accessories.
a. Fitting dari pipa PCV harus dari hahan yang sarna (PVC) yang
dibuat dengan cara injection moulding.
b. Floor drain dan clean out dari bahan stainless-steel.
c. Saringan air hujan / roof drain terbuat dari besi tulang atau fiber
class.
d. yang mempunyai benfuk badan cembung yang berflungsi sebagai
sediment bowl.

6.5.2. Cara Pemasangan Pipa.

5.2.1. Pipa di Dalam Bangunan (trmasuk pipa vent).


a. Pipa Mendatar.
Pipa dipasang dengan kemiringan (slope) 1-2 %. Perletakan pipa
harus diusahakan berada pada tempat yang tersembunyi baik di
dinding / tembok maupun pada ruang yang berada di bawah lantai.
Setiap pencabangan atau penyambungan yang merubah arah
harus menggunakan fitting dengan sudut 45° (misalnya Y branch
dan sebagainya) jenis long radius.

b. Pipa di Dalam Tanah.


Pipa dipasang dan ditanam di bawah permukaan tanah / jalan
dengan tebal / tinggi timbunan minimal 80 cm diukur dari atas pipa
sampai permukaan tanah / lantai.

Sebelum pipa ditanam pada dasar galian harus diurug dahulu


dengan pasir padat setebal 10 cm.

Selanjutnya setelah pipa diletakkan, di sekeliling dan di atas pipa


kemudian diurug dengan tanah sampai padat. Kontruksi
permukaan tanah / lantai bekas galian harus dikembalikan seperti
semula.
85

c. Penanaman Pipa.
Dasar dari lubang parit harus diratakan dan dipadatkan. Pada tiap-
tiap sambungan pipa harus dibuat galian yang dalamnya 50 mm.
Untuk mendapatkan sambungan pipa pada bagian yang
membelok ke atas (vertikal) harus diberi landasan dari beton.
Caranya seperti pada gambar perencanaan.
Dalamnya perletakan pipa disesuaikan dengan memiringan 1-2%
dari titik mula di dalam gedung sampai ke saluran drainage.

5.2.2. Pipa Saldran Luapan Septic Tank.

Pipa dipasang dan ditanam di hawah permukaan tanah / jalan


kemiringan 1-2% dari titik permulaan septic tank ke drainage kota.
Untuk perletakan pipa yang melintasi jalan kendaraan dengan
kedalaman kurang dari 90cm, pada bagian atas pipa harus dilindungi
pelat beton bertulang dengan tebal 10 cm, pelat beton tersebut tidak
tertumpu pada pipa.

5.2.3. Penyambungan Pipa


a. Pipa PVC dengan dia 3" ke atas yang dipasang di bawah pelat
lantai dasar harus disambung dengan rubber ring joint
b. Sedangkan pemipaan lainnya disambung dengan solvent cement
c. Pipa yang harus disambung dengan solvent cement harus
dibersihkan terlebih dahulu sehingga bebas dari kotoran dan
lemak.
d. Pembersihan tersebut dilakukan terhadap bagian permukaan dan
dalam dari pipa yang akan saline mclekat.
e. Pada waktu pelaksanaan penyambungan, bagian dalam dari pipa
yang akan disambung harus bebas dari benda-bcnda / kotoran
yang dapat mengganggu kelancaran air di dalam pipa.

6.5.3. Cara Pemasangan Floor Drain dan Clean Out


Floor drain dan clean out harus dipasang sesuai dengan gambar
perencanaan. Penyambungan dengan pipa harus dilakukan secara ulir
(screw) dan membentuk sudut 450 dengan pipa utamanya.

6.5.4. Pengujian

5.4.1. Seluruh sistem air kotor / buangan harus diuji terhadap kebocoran
sebelum disambung ke peralatan. Tekanan kerja maksimum adalah 8
kg/cm2 dan tekanan pengujian adalah 12,5 Kg/Cm2

5.4.2. Pengujian dilakukan dengan tekanan air setelah ujung pipa ke


peralatan ditutup rapat.

Untuk pemipaan air kotor, bekas dan air hujan, pengujian dilakukan
sebelum pemipaan disambungkan ke peralatan sanitasi, dengan jalan
mengisi pemipaan dengan air.
Pemeriksaan dilakukan setelah 24 jam kemudian dan harus tidak
terjadi pengurangan volume air.

5.4.3. Peralatan dan bahan untuk bahan pengujian disediakan oleh


kontraktor. 5.4.4. Kontraktor harus memperbaiki seqala cacat dan
kekurangan-kekurangannya.

5.4.5. Konsultan Manajemen Konstruksi berhak meminta pengulangan


pengujian bila hal ini dianggap perlu.
86

5.4.6. Dalam hal pengujian yang tidak dilakukan dengan balk atau kurang
memuaskan, maka biaya pengujian/pengulangan pengujian adalah
termasuk tanggung jawab kontraktor.

5.4.7. Peralatan toilet dapat dipasang setelah hasil pengujian dinyatakan


balk oleh Konsultan Manajemen Konstruksi.

38.6. PERSYARATAN KONSTRUKSI UMUM MOTOR-POMPA

6.6.1. Pompa Air Bersih.


6.1.1. Pompa-pompa dari jenis non-self priming denqan efisiensi minimum
70% pada sekitar + 10 % dari titik kerjanya.
6.1.2. Pompa dan motor khusus dirancang untuk mentransfer air minum.
6.1.3. Seal menggunakan jenis maintenance free-mechanical seal
6.1.4. Badan pompa menggunakan besi cor (cast iron) kualitas ductile yang
khusus untuk air minum.
6.1.5. Sudu (impeller) dan guide vane menggunakan stainless-steel atau
sejenisnya yang khusus untuk air minum.
6.1.6. Poros menggunakan baja tahan karat (stainless-steel), shaft seal
faces terbuat dari tungsten carbide.
6.1.7. Bantalan menggunakan bantalan luncur tanpa pelumasan khusus
selain air.
6.1.8. Pompa, poros dan kopling harus terbalans secara baik.
6.1.9. Pompa dikonstrusikan menyatu dengan motornya pada landasan baja
yang tunggal (base plate).
6.1.10. Setiap pompa harus dibuatkan saluran pembuangan (drainage)
bocoran air ke saluran buangan terdekat (lihat gambar rencana).
6.1.11. Secara utuh pompa dan motor tidak boleh menimbulkan getaran dan
suara di atas normal (50 dB A).
6.1.12. Pompa dan motor dihubungkan secara langsung (direct driven)
dengan kopling fleksibel.
6.1.13. Pompa dilengkapi dengan pipa priming yang diambil dari priming tank.
6.1.14. Setiap pompa harus dilengkapi dengan automatic stop stwich yang
mendapat sinyal dari water level control yang diletakan di dalam
ground reservoir.

6.6.2. Motor untuk pompa air bersih.


6.2.1. Motor adalah jenis motor induksi rotor sangkar.
6.2.2. Motor sesuai untuk bekerja pada jaringan listrik 220/380 V, 3 fasa, 50
Hz.
6.2.3. Motor diatas 2.0 kW mengunakan starter star-delta otomatis,
sedangkan untuk motor dengan daya kuranq dari 2,0 kW
menggunakan starter direct-on-line (DOL).
Perintah start otomatis berasal dari pressure switch yang diletakan d
pemipaan header.
6.2.4. Belitan motor menggunakaii isolasi kelas F.

6.2.5. Motor setidaknya dilindungi dengan :


- automatic short-circuit / over curren protector
- - automatic thermal protection relay
- automatic under voltage dan phase failure cut off relay
6.2.6. Rotor, poros dan koplinq harus terbalans secara balk
87

PASAL 29
PEKERJAAN ELEKTRIKAL

29.1 Syarat-syarat Umum Teknis Pekerjaan Elektrikal


29.1.1 Umum
Syarat-syarat instalasi Elektrikal ini berisi perincian yang memperjelas /
menambahkan hal-hal yang tercantum dalam Buku Syarat-syarat Administrasi.
Dalam hal ini Buku Syarat-syarat Administratif saling melengkapi dengan Syarat-
syarat Umum Teknis Elektrikal.

Instalasi Penerangan dan Stop Kontak menggunakan kabel NYM 3 x 2.5 mm2 +
conduit dia. 20 mm sekualitas supreme, prima, eterna
Armature Lampu sekualitas Artolite, Philip, Lampu sekualitas Osram, Philips.
Saklar, Stop Kontak sekualitas Legrand/Panasonic/Schneider
MCB Sekualitas MG/ABB/LS

29.1.2. Persyaratan Pelaksanaan


1. Instalasi yang dinyatakan di dalam spesifikasi ini harus dilaksanakan sesuai
dengan undang-undang dan peraturan-peraturan yang berlaku saat ini di
Indonesia serta tidak bertentangan dengan ketentuan dari Jawatan
Keselamatan Kerja.
2. Cara dan teknik pemasangan harus memenuhi syarat-syarat yang tercantum
dan telah ditetapkan sebagai peraturan pemasangan instalasi ini oleh Badan
yang berwenang dalam hal ini, bila tidak ada petuniuk dari Konsultan
Pengawas.
3. Pelaksanaan pekerjaan harus ditangani oleh tenaga-tenaga ahli dalam
instalasi Elektrikal, untuk dapat dipertanggung jawabkan.
4. Tenaga ahli harus ditempatkan di lapangan oleh Kontraktor sehingga dapat
berdiskusi dengan Konsultan Pengawas pada waktu pelaksanaan pekerjaan.
5. Kontraktor diharuskan melaksanakan pekerjaan test penuh di bawah
persyaratan operasionil. Testing harus dilaksanakan di hadapan Konsultan
Pengawas.
6. Penggantian material yang kurang baik atas kesalahan pemasangan adalah
tanggungjawab Kontraktor dan Kontraktor harus mengganti / memperbaiki hal
tersebut diatas.
7. Semua biaya dan pengurusan perijinan, lisensi, pengujian adalah tanggung
jawab kontraktor.
8. Semua syarat-syarat penerimaan bahan, peralatan, cara-cara pemasangan
kualitas pekerjaan dan lain-lain, untuk sistim instalasi Elektrikal ini harus
sesuai dengan standar-standar sebagai berikut :
8.1. Persyaratan Umum Instalasi Listrik th. 2000
8.2. Peraturan yang telah ditentukan PLN lainnya.
8.3. Penanggulangan Bahaya Kebakaran, Peraturan DKI No. 3 tahun
1975.
8.4. Pedoman Pengawasan Instalasi Listrik, Departemen Tenaga Kerja &
Transmigrasi No. 59/DP/1980.
Peraturan-peraturan lain yang berlaku setempat.

Semua peralatan dan mesin yang dipasang untuk sistim Elektrikal ini selain
dari persyaratan-persyaratan tersebut diatas, juga tidak boleh menyimpang
dari persyaratan yang dikeluarkan oleh pabrik pembuatnya.

9. Pekerjaan dianggap selesai apabila


9.1. Telah mendapat surat pernyataan bahwa instalasi baik dari Konsultan
Pengawas.
88

9.2 Semua persoalan mengenai kontrak dengan Pemilik telah dipenuhi,


sehingga Pemilik dapat membenarkannya.
9.3 Seluruh instalasi terpasang telah ditest, bersama-sama dengan
Konsultan Pengawas, Konsultan Perencana dan Pemilik dengan hasil
baik, sesuai dengan spesifikasi teknis.

10. Pengawasan Instalasi


10.1 Shop Drawing.
Sebelum nelaksanakan pekerjaan, Kontraktor harus rnembuat gambar
kerja / shop drawing. Gambar kerja tersebut haruslah gambar yang
telah dikoordinasikan dengan semua disiplin pekerjaan pada proyek
ini dan disesuaikan dengan koordinasi lapangan yang ada. Pekerjaan
baru dapat dimulai bila gambar kerja telah di.periksa dan disetujui oleh
Konsultan Pengawas
10.2 Kontraktor harus memberikan contoh semua bahan yang akan
digunakannya kepada Konsultan ManPengawas atau pihak yang
ditunjuk untuk dimintakan persetujuannya secara tertulis untuk dapat
dipasang.
10.3 Kontraktor harus membuat jadwal / skedul waktu pelaksanaan, skedul
tenaga kerja, skedul pengadaan peralatan dan net-work planning yang
terinci untuk setiap pekerjaannya dan diserahkan kepada Konsultan
Manajemen Konstruksi atau pihak lain yang ditunjuk untuk
mendapatkan persetujuannya.
10.4 Kontraktor harus mendapakan
a. Laporan Kegiatan pekerjaan harian.
b. Laporan prestasi pekerjaan dan pengadaan material mingguan.
c. Laporan prestasi pekerjaan bulanan beserta foto-foto
dokumentasi.
10.5 Untuk setiap tahap pekerjaan sistem Elektrikal yang telah selesai
dikerjakan, Kontraktor harus mendapatkan pernyataan tertulis dari
pihak Konsultan Manajemen Konstruksi atau pihak yang ditunjuk yang
menerangkan bahwa setiap pekerjaan sistem Elektrikal telah selesai
dikerjakan sesuai dengan persyaratan yang ada.
Tahap-tahap pekerjaan sistem ini ditentukan kemudian, berdasarkan
pada jadwal perincian waktu yang diserahkan oleh kontraktor.
10.6 Di dalam setiap pelaksanaan pengujian dan trial-run pekerjaan sistim
Elektrikal ini harus dihadiri pihak Konsultan Pengawas, Konsultan
Perencana, ahli atau pihak-pihak lain yang ditunjuk. Untuk ini harus
dibuatkan berita acaranya bersama pemegang merk peralatan yang
diuji dan dari Kontraktor yang bersangkutan peralatan unutk pengujian
harus berkualitas baik dan sudah tertera.

Semua biaya pada waktu pengetesan sepenuhnya menjadi tanggung


jawab Kontraktor.

11. Bahan
11.1 Kontraktor harus menyerahkan pada waktu tender, brosur teknis asli
peralatan utama Elektrikal juga brosur asli, kabel, pipa konduit,
detektor, sensor dan lainnya beserta data-data teknis dan mengisi
daftar skedul dari peralatan tersebut. Pada bosur-brosur peralatan /
bahan yang ditawarkan harus diberi tanda dengan warna yang jelas.
11.2 Apabila ada tanda-tanda serta bahan yang diajukan menyimpang dari
yang disebutkan di dalam gambar-gambar dan spesifikasirlya, maka
nilai evaluasi penawaran Kontraktor tersebut akan dikurangi dan
Kontraktor tetap harus mengantinya sesuai dengan gambar dan
spesifikasinya.
89

11.3 Semua Pelaksanaan instalasi yang berbeda dengan spesifikasi dan


gambar, tanpa persetujuan tertulis dari pihak yang berwenang harus
diperbaiki dan diubah sesuai dengan spesifikasi dan gambar yang
telah disepakati bersama, atas tanggungan biaya Kontraktor.

11.4 Semua bahan yang digunakan dalam instalasi ini harus baru, dalam
keadaan baik, tidak bercacat, sesuai dengan spesifikasi dan gambar.
Kontraktor harus menjaga kebersihan serta melindungi semua bahan-
bahan yang digunakan dalam instalasi ini sebelum dipasang.
11.5 Bilamana ternyata dipakai / digunakan bahan / peralatan sama, bekas
dipergunakan bercacat atau rusak, Kontraktor harus menggantinya
dengan bahan-bahan atau peralatan yang baru dan tetap sesuai
dengan spesifikasi dan gambar, atas biaya tanggungan Kontraktor.
11.6 Tidak diperkenankan mendatangkan bahan / peralatan masuk ke site
sebelum contoh atau brosur disejujui oleh Konsultan Pengawas.
Semua bahan yang telah masuk di site dan menyimpang dari
ketentuan dalam spesifikasi, contoh ataupun brosur yang telah
disejutui, maka bahan / peralatan tersebut harus dikeluarkan dari site
dalam waktu 3 x 24 jam sejak diketahuinya penyimpangan itu oleh
Konsultan Pengawas.

29.1.3. Lingkup Pekerjaan

Penyetelan seluruh sistim agar lengkap dan dapat bekerja dengan baik sesuai
dengan persyaratan dokumen pelelangan dan gambar-gambar yang ada.
Pengadaan pemasangan seluruh sistim instalasi Elektrikal sesuai gambar dokumen,
spesifikasi dan lainnya sesuai dengan kontrak.
Segala sesuatu mengenai lingkup pekerjaan ini yang masih kurang jelas, kontraktor
dapat menanyakan lebih lanjut kepada Konsultan Manajemen Konstruksi, Konsultan
atau pihak lain yang ditunjuk untuk ini.
Apabila sampai terjadi kelalaian dan kekurangan, Kontraktor harus bertanggung
jawab atas kerugian-kerugian yang mungkin terjadi.
Semua pengadaan, pemasangan dan pengujian pekerjaan instalasi Elektrikal harus
berdasarkan gambar dokumen lengkap dan sesuai dengan spesifikasi teknik, serta
adendum lainnya.
Bila ada spesifikasi ini terdapat klausul-klausul / butir-butir yang ditulis / disebutkan
kembali, hal ini bukan berarti klausalnya dihilangkan, akan tetapi malah
mempertegas spesifikasinya.

29.2 Syarat-syarat Teknis Pekerjaan Instalasi Listrik

1.0 UMUM
Syarat-syarat Khusus Teknis yang diuraikan disini adalah persyaratan yang harus
dilaksanakan oleh Kontraktor dalam hal pengerjaan instalasi maupun pengadaan
material dan peralatan untuk seluruh pekerjaan listrik di dalam maupun diluar
bangunan gedung. Dalam hal ini Syarat-syarat Teknis Umum Pekerjaan Elektrikal
adalah bagian dari Syarat-syarat Khusus Teknis ini.

2.0 PRINSIP PENYEDIAAN DAYA LISTRIK


Sumber daya listrik bagi-gedung diperoleh dari jaringan tegangan rendah PLN
dengan daya terpasang sebesar 164 kVA.'
Daya dari PLN tersebut disalurkan ke transformer dengan kapasitas 200 KVA sampai
dengan panel ukur (kwh meter). Selanjutnya didistribusikan ke panel-panel utama
(LVMDP), sub-distribusi dan panel daya / penerangan gedung secara radial.
Sistim distribusi tegangan rendah yang digunakan adalah distribusi tiga fase - empat
kawat 220/380 V mengikuti sistim PP (Pentanahan Pengaman).
90

Sebagai sumber daya cadangan digunakan 1 (satu) unit diesel-generator


berkapasitas 200 kVA antara sumber daya PLN dengan diesel-genset yang bekerja
secara manual.

3.0 LINGKUP PEKERJAAN


Yang dicakup dalam pekerjaan ini adalah pengertian bekerjanya sistem listrik
sebagai suatu sistem keseluruhan maupun bagian-bagiannya, seperti yang tertera
pada gambar-gambar maupun yang dispesifikasikan.

Termasuk pekerjaan ini adalah pengadaan barang / material, instalasi, testing /


pengujian, pengesahan terhadap seluruh material berikut pemasangan / instalasinya
oleh badan resmi PLN, LMK dan / atau Badan Keselamatan Kerja, serta serah terima
dan pemeliharaan / garansi selama 12 bulan. Ketentuan-ketentuan yang tidak
tercantum dalam gambar maupun pada spesifikasi / syarat-syarat teknis tetapi perlu
untuk pelaksanaan pekerjaan instalasi secara keseluruhan harus juga dimasukkan
ke dalam pekerjaan ini.
Secara umum pekerjaan yang harus dilaksanakan pada proyek ini adalah :
Pengadaan dan pengangkutan ke lokasi proyek, pemasangan bahan, material,
peralatan dan perlengkapan sistem listrik sesuai dengan peraturan / standar yang
berlaku seperti yang ditunjuk pada syarat-syarat umum untuk menunjang bekerjanya
sistem / peralatan, walaupun tidak tercantum pada syarat-syarat Khusus Teknik atau
gambar dokumen.

Pekerjaan inl meliputi :

3.1. Pekerjaan di Ruang Genset

3.1.1 Pengadaan dan pemasangan seluruh kabel daya tegangan rendah


jenis NYY dan NYFGbY yang menghubungkan
a. Dari KWH Meter ke panel daya / penerangan bangunan
b. Dan kabel daya lainnya.
Kabel penghubung tersebut lengkap dengan terminasi (sepatu kebel)
yang diperlukan.
3.1.2 Pengadaan dan pemasangan seluruh instalasi penerangan dan daya
(stop kontak), lengkap dengan armatur, power receptacle outlet,
panel-penel daya / penerangan dan alat-alat bantu yang diperlukan.
3.1.3 Pengadaan dan pemasangan seluruh instalasi pentanahan, balk
pentanahan sistim listrik maupun badan (body) peralatan listrik.

3.2. Pekerjaan di dalam Gedung


3.2.1 Pengadaan dan pemasangan serta penyetelan panel-panel daya /
penerangan termasuk di dalam pekerjaan ini adalah penarikan
kebel / konduktor pentanahan netral / badan panel.
3.2.2 Pengadaan dan pemasangan kebel-kabel jenis NYY, untuk
penghubung antar panel daya / penerangan dan kabel-kabel daya
menuju peralatan (mesin AC, pompa-pompa dll).
3.2.3 Pengadaan dan pemasangan seluruh instalasi penerangan dan stop
kontak. Termasuk pekerjaan ini adalah pengadaan dan pemasangan
armatur penerangan, balk penerangan normal maupun darurat.
3.2.4 Pengadaan dan pemasangan instalasi cable tray Iengkap dengan
material bantu yang dibutuhkan
3.2.5 Pengadaan dan pemasangan instalasi underfloor duct lengkap
dengan material bantu yang dibutuhkan.
91

3.3. Pekerjaan di luar Gedung


3.3.1 Pengadaan dan pemasangan instalasi pentanahan untuk instalasi
daya.
3.3.2 Pengadaan dan pemasangan instalasi penerangan luar / taman,
termasuk lampu sorot bangunan.

4.0 GAMBAR-GAMBAR
Gambar-gambar elektrikal menunjukkan secara khusus teknik pekerjaan listrik yang
di dalamnya dicantumkan besaran-besaran listrik dan mekanis serta spesifikasi
tertentu.Iainnya. pengerjaan dan pemasangan peralatan-peralatan harus disesuaikan
dengan kondisi lapangan.
Gambar-gambar arsitektur, struktur, elektrikal dan kontrak lainnya haruslah menjadi
referensi untuk koordinasi dalam pekerjaan secara keseluruhan.
Kontraktor harus menyesuaikan peralatan terhadap perencanaan dan memeriksanya
kembali. Setiap kekurangan / kesalahan perencanaan harus disampaikan kepada
Konsultan Manajemen Konstruksian atau pihak lain yang ditunjuk untuk itu.

5.0 KETENTUAN-KETENTUAN INSTALASI


5.1. Peralatan Instalasi Tegangan Rendah
Meliputi pengadaan dan pemasangan power receptacle outlet (stop
kontak), saklar, kontak-kontak tarik (pull box), cabinet / penel daya,
kebel, alai-alai bantu dan semua peralatan lain yang diperlukan untuk
mendapatkan penyelesaian yang memuaskan dari sistern instalasi daya
tegangan rendah 220 / 380 V dan penerangan.

5.1.1. Kotak-kotak(doos) Outlet.


a. Jenis
Kotak-kotak outlet harus sesuai dengan persyaratan VDE, PULL, AVE
atau standar lain. Kotak-kotak ini bisa berbentuk single / multi gang box
empat persegi atau segi delapan.
Ceiling box dan kotak-kotak lainnya yang tertutup rapi harus dipasang
dengan balk dan benar.

b. Ukuran
Setiap kotak outlet harus diberi bukaan untuk kondulit hanya di tempat
yang diperlukan.
Setiap kotak harus cukup besar unutk menampung jumlah dan ukuran
condulit, sesuai dengan persyarata, tetapi kurang dad ukuran yang
ditunjuk atau dipersyaratkan.

c. Tipe Tahan Cuaca (Weatherproof Type)


Kotak-kotak outlet di tempat-tempat tersebut dibawah ini harus dari tipe
yang diberi gasket tahan cuaca :
 tempat-tempat yang kena matahari,
 tempat-tempat yang kena hujan,
 tempat-tempat yang kena minyak,
 tempat-tempat yang kena udara lembab,
 tempat-tempat yang ditunjuk di dalam gambar.

d. Outlet Pada Permukaan Khusus.


Kotak outlet untuk stop kontak dan saklar-saklar yang dipasang pada
partisi, blok beton, mamer, frame besi, bata atau dinding kayu harus
berbentuk persegi dan harus mempunyai sudut dan sisi-sisi tegak.
92

5.1.2. Saklar dan Stop Kontak.

a. Bahan Doos.
Kecuali tercatat atau disya atkan lain, maka kotak-kotak outlet untuk
saklar dinding dan receptaI les outlet harus (alvani stee dan tidak boleh
berukuran lebih dari 10,1 cm x 10,1 cm un uk peralatan tunggal dan 11,9
cm x 11,9 cm untuk dua peralatan dan kotak-kotak multi gang untuk lebih
dari dua peralatan.

b. Cara Pemasangan.
Saklar-saklar harus dari jenis rocker mechanis dengan rating minimum
10A / 250 V. Saklar pada umumnya dipasang rata terhadap permukaan
tembok, kecuali ditentukan lain pada gambar. Jika tidak ditentukan lain,
bingkai saklar harus dipasang pada ketinggian 140 cm di atas lantai yang
sudah selesai. Saklar-saklar tersebut harus di pasang doos (kotak) yang
sesuai. Sambungan hanya diperbolehkan antara kotak yang berdekatan.
Stop kontak harus dipasang rata terhadap permukaan dinding dengan
ketinggian 110 cm atau 30 cm dari permukaan lantai yang sudah selesai
sesuai petunjuk Konsultan Manajemen Konstruksi. Saklar dan stop kontak
ex MK, Clipsal atau setara.

c. Jumlah Kutub.
Stop kontak satu fasa harus dari jenis tiga kutub (fasa, netral dan
pentanahan) dengan ranting minimum 10 A / 220 V. Cara pemasangan
harus disesuaikan dengan peraturan PUIL dan diberi saluran pentanahan.

d. Pendukung dan Pengikat.


Kotak-kotak pelat baja didukung atau diikat dengan cukup supaya
mempunyai bentuk yang tetap.

e. Untuk stop kontak PLN dan UPS warna dibedakan, dimana stop kontak
PLN warna biasa dan stop kontak UPS warna orange.

5.1.3. Kabel-Kabel
Kabel pada instalasi daya dan penerangan bertegangan rendah meliputi
kabel tegangan rendah, kabel kontrol, accessories, peralatan-peralatan
dan barang-barang lain yang diperlukan untuk melengkapi dan
menyempurnakan pemasangan serta operasi dari semua sistem dan
peralatan.

a. Syarat Kabel Instalasi Tegangan Rendah (sampai 600 V)


Kabel tegangan rendah yang digunakan harus memenuhi persyaratan
PUIL, IEC, VDE, SPLN dan LMK untuk pengganguan sebagai kabel
instalasi dan peralatan (mesin), kecuali untuk peralatan khusus seperti
disyaratkan atau dianjurkan oleh pebrik pembuatnya.

Ukuran kabel daya / instalasi terkecil yang diizinkan adalah 2,5 mm2
kecuali untuk pemakaian kontrol pada sistem remote control yang kurang
dari 30 meter panjangnya bisa menggunakan kabel dengan ukuran 1,5
mm2.

Kecuali disyaratkan lain, kabel tanah harus jenis NYFGbY dan kabel
instalasi di dalam bangunan dari jenis NYY, NYM dan NYMHY (untuk
kebel kontrol).
Semua kabel instalasi di dalam bangunan harus berada didalam konduit
atau dipasang di atas cable tray / cable rack dan diklem / diikat dengan
pengikat kabel (cable tie) sesuai dengan kebutuhannya.
93

Semua konduit, kabel-kabel dan sambungan elektrikal untuk instalasi di


dalam bangunan harus diadakan secara lengkap.

Faktor pengisian konduit oleh kabel-kabel maksimum adalah 40 %. Kabel


merek SUPREME, Kabelindo, Kabelmetal & Tranka.

b. Kabel Tanah Tegangan Rendah


Kabel tegangan rendah yang digunakan harus memenuhi persyaratan
PUIL, IEC, VDE, SPLN, dan LMK untuk penggunaan sebagai kabel
instalasi yang ditanah langsung di dalam tanah.
Semua kabel dengan luas penympung 16 mm2 keatas harus berurat
banyak dan dipilin (stranded)
Ukuran kabel daya / instalasi terkecil adalah 2,5 mm2, kecuali untuk
pemakaian kontrol pada sistem yang perakaian kontrol pada sistem
remote yang kurang dari 30 meter panjangnya (bisa-menggunakan kabel
dengan ukuran 1,5 mm2).

Cara penanaman kabel secara langsung didalam tanah (direct burial)


harus sesuai dengan gambar rencana, termasuk cara persilangan dengan
pipa air dan kabel telekomunikasi dan kebel teyangan menengah 2U kV.
Apabila diperlukan penyambungan kabel dalam tanah, harus dilakukan
dengan alat penyambung khusus (jointing kit) tegangan rencah jenis
epoxy resin-cold pour system.

Penyambungan kabel di dalam tanah harus dilakukan oleh tenaga yang


benar-benar ahli dengan cara dan metode penyambungan mengikuti
anjuran.

Pabrik pembuat jointing kit yang digunakan sehingga diperoleh hasil


penyambungan yang andal, tahan terhadap lembab, mempunyai sifat
isolasi yang tinggi dan mempunyai kekuatan mekanis yang tinggi. Kabel
merek SUPREME atau setara (4 besar), jointing kit ex RAYCHEM atau
setara.

c. Instalasi Kabel Penerangan dan Stop Kontak.


Kabel-kabel listrik untuk penerangan dan stop kontak untuk extension dan
daya harus diadakan dan dipasang lengkap, mulai dari sambungan panel
daya ke sakiar dan titik cahaya serta stop kontak, sebagaimana
ditunjukkan di dalam gambar.

Kabel yang digunakan sebagai kabel instalasi penerangan dan stop


kontak harus dari jenis NYM dan diletakkan di dalam PVC high-impact
heavy gauge.

Luas penampang kabel NYM yang digunakan minimum 2,5 mm2, kecuali
tercatat lain.

d. Splice/ Pencabangan
Tidak diperkenankan adanya pencabangan (splice) ataupun sambungan-
sambungan di dalam pipa konduit.
Sambungan atau pencabangan harus dilakukan didalam kotak-kotak
cabang atau kotak sambung yang mudah dicapai serta kotak saklar dan
stop kontak.
Sambungan pada kabel harus di buat secara mekanis dan harus kuat
secara elaktris dengan solderless connector jenis tekan, jenis
compression atau soldered. Dalam membuat pencabangan atau
94

sambungan, koncktor harus dihubungkan pada konduktor-konduktor


dengan balk sedemikian rupa, sehingga semua konduktor tersambung
dan tidak ada konduktor telanjang yang kelihatan dan tidak bisa lepas
oleh getaran.

e. Kabel Kontrol
Di tempat-tempat yang ditunjuk pada garnbar atau disyaratkan, kabel
kontrol motor, starter dan peralatan-peralatan lain harus terbuat dari
tembaga jenis standed annealed copper yang fleksibel.
Isolasi harus dari PVC, tanah lembab dan ozon dengan rating teganyan
sampai 600 V.
Ukuran konduktor harus sesuai dengan yang diperlukan (minimum 2,5
sqmm untuk panjang lebih dari 30 m) untuk mendapatkan operasi yang
mernuaskan dari peralatan yang di kontrol, dengan pertimbangan-
pertimbangan mengenai panjang circuit dan sebagainya. Kabel merek
SUPREME, Kabelindo, Kabel Metal dan Tranka.

f. Bahan Isolasi
Semua bahan isolasi untuk splin, conection dan lain-lain seperti karet,
PVC, vernished carnbric, asbes, gelas, tape sintetis, splice case,
composition dan lain-lain harus dari tipe yang disetujui untuk penggunaan,
lokasi, tegangan kerja dan lain-lain yang tertentu dan harus dipasang
dengan cara yang disetujui, menurut anjuran perwakilan pemerintah atau
pabrik pembuatnya.

g. Pemasangan Kabel

g.1. Pemasangan di Permukaan

g.1.1. Kabel Instalasi Daya dan Penerangan di dalam Bangunan


Semua kabel harus dipasang didalam konduit PVC high -
impact heavy gauge, dipasang di permukaan plat beton
langit-langit dengan klem pendukung yang sesuai.
Pendukung-pendukung tersebut harus di cat dengan cat anti
karat.

Semua kabel harus dipasang lurus / sejajal2-dengan rapi dan


teratur. Pembelokan kabel harus dilaklikan dcnqan jari-jari
lengkungan tidak boleh kurang dari syarat-syarat pabrik
(minimum 15 kali ø kabel)
Konduit ex MK, CLIPSAL atau setara

g.1.2. Kabel Daya Penghubung Antar Panel


Kabel-kabel daya diletakkan diatas cable trey, di klem pada
cable trey dengan cable ties (pita plastik pengikat kabel).
Pemasangan cable trey harus mengikuti jalur yang
direncanakan secara rapi dan digantunq atau disangga
secara kokoh dengan penggantung / penyangga besi yang di
klem ke plat beton.

Untuk keperluan pemasangan kabel, Kontraktor harus


menyediakan sendiri peralatan penunjang seperti trey, klem,
besi penunjang, penggantung dan peralatan lainnya, baik
untuk kabel yang dipasang horisontal maupun vertikal.
Peralatan penunjang tersebut hares sudah dipernitungkan
pada biaya pemasangan kabel tersebut.
95

g.1.3. Kabel daya dari Panel Daya Motor ke Motor-motor Pompa.


Jenis Kabel yang digunakan adalah NYY yang ditempatkan
di dalam konduit metal tahan karat (galvanized / white metal
conduit) yang diletakkan diatas pelat lantai.
Setiap pipa konduit berisi hanya satu jalur kabel menuju
motor dengan faktor pengisian 40 %. Dari pipa konduit yang
dipasang horizontal menuju motor, kabel ditarik ke terminal
motor flexible metal konduit yang juga tahan karat.
Ukuran konduit fleksible ini harus sesuai dengan ukuran pipa
konduit dan disambung dengan cara sedemikian rupa,
sehingga benar-benar kedap air. Demikian juga
penyambungan pipe fleksibel terhadap box terminal motor.

Dalam hal ini Kontraktor diwajibkan untuk menyerahkan


contoh konduit fleksibel serta cara penyambungannya
terlebih dahulu kepada Konsultan Manajemen Konstruksi
untuk disetujui.

g.2. Pemasangan di Permukaan


Kabel instalasi penerangan dan stop kontak yang dipasang didalam
dinding harus diletakkan didalam konduit PVC hign impact heavy
gauge dengan ukuran minimum 3/a". Penarikan kabel menuju titik
saklar atau stop kontak harus dilakukan setelah pipa selesai
ditanam.

g.3. Pemasangan Menembus Dinding


Setiap penembusan kabel pada dinding harus melalui sparing kabel
yang terbuat dari pipa PVC dengan ukuran yang cukup terhadap
penampang kabel.

h. Penggunaan Warna Kabel


Penggunaan warna kabel NYY, NYM dan NYFGby untuk tegangan netral
dan non harus mengikuti peraturan yang disebutkan oleh 2000, yaitu :

h.1. Sistem Tegangan 220 V, 1 fasa


hitam : Fasa
biru : Netral
kuning/hijau : Pentanahan

h.2. Sistem Tegangan 220/380 V, 3 fasa


merah : fasa R
kuning : fasa S
hitam : fasa T
biru : netral (N)
kuning/hijau : pentanahan (G)

i. Pendukung Kabel
Setiap kotak tarik (pull box) termusuk kotak-kotak yang ada diatas daya
dan panel daya motor, harus diberi cukup banyak klem dan peralatan
pendukung Iain-lainnya .
Kabel dipasang dengan cara yang rapi dan teratur yang memungkinkan
pengenalan, sehingga tidak ada kabel yang membentang tanpa
pendukung.
96

j. Konduit Tertanam
Pull box yang dihubungkan pada konduit tertanam / tersembunyi harus
juga dipasang secara tertanam dan penutupnya rata terhadap dinding
atau langit-langit.

5.1.4. Kabinet Panel Daya


Semua kabinet harus dibuat dari plat baja dengan Ketebalan rninimum 1,7
mm untuk panel yang dipasang menempel di dinding dan minimum 2 mm
untuk jenis floor standing, kecuali yang sering kena basah / hujan, harus
dibuat dari jenis besi tuang yang tahan kelembaban atau konstruksi khusus.
Kabinet untuk panel daya / kontrol harus mempunyai ukuran yang
proporsional seperti dipersyaratkan untuk panel daya yang besarnya menurut
kebutuhan, sehingga untuk frame / rangka panel harus ditanahkan.
Pada kabinet harus ada cara-cara yang baik untuk memasang, mendukung
dan menyetel panel daya serta penutupnya. Kabinet dengan kawat-kawat
through feeder harus diatur dengan balk, rapi dan benar.

a. Finishing
Semua rangka, penutup, copper plate dan pintu panel listrik seluruhnya
harus dibuat tahan karat dengan cat dasar atau prime coating dan diberi
pelapis cat akhir (finishing paint). Penentuan warna dan merek cat
sebelumnya harus dimintakan persetujuan ke Konsultan Manajemen
Konstruksi.
Pengecatan harus tahan karat, dikerjakan dengan cara galvanized
cadmium plating ataa-crengan zinc chromate dan di cat dengan cat akhir
sistem bakar (oven)

b. Kunci
Setiap kabinet harus dilengkapi dengan kunci "flat lock" jenis kunci untuk
setiap kabinet hares dari tipe "common key", sehingga kunci untuk setiap
kabinetnya adalah sama. Pada masing-masing kabinet harus disediakan
dua anak kunci.

c. Tinggi Pemasangan Panel


Pemasangan panel sedemikian rupa, sehingga setiap peralatan di dalam
panel dengan mudah masih dapat dijangkau, tergantung pada tipe /
macam panel, bila dibutuhkan alas / pondasi / penumpu / penggantung,
Kontraktor harus menyediakan dan memasang, sekalipun tidak tertera
pada gambar.

d. Label
Semua kabinet panel daya, panel kontrol, switch, fuse unit, isolator switch
group, pemutus daya (CB) dan peralatan-peralatan lainnya harus diberi
label sesuai dengan fungsinya untuk mengindahkan/mengidentifikasikan
penggunaan alat tersebut.
Label ini terbuat dari bahan logam anti karat dengan huruf-huruf hitam.

5.1.5. Sistem "Race Way"


Yang dimaksud dengan race way adalah tubing conduit dan flexible
conduit beserta perlengkapannya dan semua barang yang diperlukan
untuk melengkapi instalasi kabel.

a. Ukuran
Semua Race Way harus mempunyai ukuran yang cukup untuk bisa
melayani dengan baik jumlah dan jenis kabel sesuai dengan VDE, PULL
dan lain-lain.
97

ø minimum konduit adalah 3/4" menurut ukuran pasaran dengan faktor


pengisian kabel maksimurn 40 %.

b. Bahan
Konduit PVC untuk instalasi daya dan penerangan harus dari bahan PVC
high impact heavy gauge yang memenuhi standar BS4607 dan BS6099.
Konduit metal untuk instalasi daya pompa yang digunakan harus dan jenis
heavy gauge galvanized walded steel yang memenuhi persyaratan BS
4568 : part I & II class 4.

c. Pamasangan

c.1. Race Way yang ditanam di Dinding.


Penanaman konduit di dalam dinding yang sudah jadi dilakukan
dengan jalan membobok beton dengan pahat. Kedalaman dan lebar
pembobokan harus dilakukan secukupnya, sesuai dengan ukuran
dan jumlah konduit yang akan dipasang. Kontraktor diwajibkan untuk
mengembalikan kondisi dinding dengan kondisi semula.

Selama dilakukan pengerjaan plesteran ulang, ujung-ujung konduit


hares ditutup untuk mencegah masuknya air atau kotoran-kotoran
lainnya.

c.2. Race Way yang dipasang di Permukaan


Race way yang dipasang di permukaan beton (exposed) harus
dipasang sejajar atau tegak lurus dengan dinding bagian struktur
atau permukaan bidang-hidann vertikal dengan langit-langit.

Apabila beberapa pipa berjalan sejajar pada dinding atau langit-


langit, harus digunakan klem-klem khusus untuk pipa sejajar.

Ujunq-ujung pipa pada peralatan dipasang dengan sekrup dengan


kuat. Sernua ujunq pipa yang bebas harus ditutup / dilengkapi
dengan plat kuningan yang sesuai.

Untuk daerah yang lembab; semua peralatan pembantu, fitting-


fitting, klem dan lain-lain harus di galvanisir atau di cat tahan karat
dan harus digunakan pendukung supaya pipa bebas dari permukaan
korosif.

Pipa-pipa yang dipasang pada permukaan dalam bangunan harus di


cat satu jalan sebelum dipasang dan sekali lagi sesudah dipasang
dengan warna yang ditentukan oleh Konsultan Manajemen
Konstruksi.
Untuk mempermudah pengenalan, maka ujung permukaan pipa
harus dicat dengan warna sebagai berikut :

c.2.1. Pipa penerangan dan daya - orange


c.2.2. Pipa telepon - hijau
c.2.3. Pipa fire alarm - merah
c.2.4. Pipa tata suara - kuning

c.3. Race Way yang di pasang di Dalam Tanah


Race way yang dipasang di dalam tanah atau menembus kerikil,
harus mempunyai dua lapis cat aspal pada permukaan sebelah luar
sebelum dipasangkan diatas race way tersebut diberi patok
98

petunjuk. Pipa / race way yang digunakan adalah GIP kelas medium
yang memenuhi standar SIIL

c.4. Race Way Melintas / Menembus Dinding


Bila pipa melintas tembok, penyekat ruangan, lantai, langit-langit dan
lain-lain, maka lubang harus ditutup dengan baik sehingga tidak
mungkin dapat dilalui oleh debu, lembab (uap air) api dan asap.

c.5. Cable Trench.


Kedalaman parit kabel (cable tranch) untuk penanaman di bawah
tanah mionimal 80 cm dari permukaan. Bila bersilangan dengan
saluran lain, misalnya saluran air, cable trench dapat dan harus
ditanam setelah pengerasan tanah.

Untuk cable trench yang melintasi jalan, penanaman dilakukan


setelah pengerasan badan jalan atau bila sehelumnya harus lebih
dari 110 cm atau atas persetujuan Konsultan Manajemen
Konstruksi.

c.6. Konduit Logam Flexibel Tahan Air


Konduit logam flexible yang tahan air harus dipakai pada kondisi di
mana ada kemungkinan pengerasan, getaran atau penempatan
dalam atmosfir yang korosif, lembab atau berupa minyak, termasuk
dalam hal ini adalah pemakaian pada kabel masuk terminal motor
pompa.

Suatu bungkus (shealth) yang tahan cairan dari polivinyl chlorida


(PVC) harus menonjol pada inti baja yang flexibel.
Sambungan konduktor yang dapat digunakan untuk meneruskan
pentanahan (earth continuity) harus pula dimiliki oleh race way /
konduit ini.

c.7. Pengakhiran dan Sambungan.


Race way harus diakhiri pada outlet persimpangan, pull box cabinet
dan lain-lain, dengan dua lock nut dan sebuah insulating insert yang
harus terbuat dari thermoplastic atau "fire minded" yang dimatikan
untuk mencegah rusaknya kawat dan kabel dan tidak mengurangi
kontinuitas dari sistem grounding dari race way.
Sambungan untuk race way / pipa logam elektrikal harus dari jenis
yang tahan hujan atau fitting dengan konsentrasi tinggi dengan
sistem penguncian interlock compressed.

c.8. Pentanahan
Setiap peralatan yang beroperasi dengan tegangan lebih besar dari
tegangan ekstra rendah (50 VAC) harus ditanahkan secara efektif)

Bahan-bahan logam / metal dari peralatan-peralatan listrik yang


terbuka, termasuk pelindung kabel (sheath / armour), konduit,
saluran metal, rack, tray, doos, stop kontak, armatur, saklar dengan
metal harus dihubungkan dengan konduktor kontinyu untuk
pentanahan.

Penggunaan konduit metal sebagai satu-satunya konduktor


pentanahan tidak diperbolehkan.

Dalam hal ini harus digunakan konduktor pentanahan tersediri yang


trerbuat dari tembaga dengan daya hantar yang tinggi.
99

Luas penampang minimum konduktor pentanahan antara 6 sqmm


dan dimasukkan ke dalam konduit. Penyambungan konduktor
pentanahan harus menggunakan penyambung mekanis yang
disetujui oleh Konsultan Manajemen Konstruksi.

Tahanan pentanahan yang disyaratkan adalah sebagai berikut


c.8.1. Pentanahan netral trafo maksimum 1 ohm.
c.8.2. Pentanahan netral bus-bar dan panel maksimum 2 ohm.
c.8.3. Pentanahan netral generator maksimum 2 ohm.

5.1.6. Cable Tray


a. Bahan
Cable tray yang digunakan harus dari jenis berlubang (perforated) dari
bahan besi lunak dengan sisi-sisi di tekuk ke dalam dengan ketebalan
pelat tidak kurang dari 2,0 mm. Keseluruhan permukaan cable tray harus
digalvanisir.
Cable tray Tri Abadi, Nobi.

b. Penggantung / penyangga
Untuk cable tray yang dipasang penggantung cable tray harus dibuat dari
besi lunak yang digalvanisir dengan ø minimum 6 mm ujung penggantung
di ulir untuk memungkinkan pengaturan levelling cable tray. Ukuran
penyangga dan penumpu (bracket) hartis dipilih agar menghasilkan
penyangga/penumpuan yang kokoh.

5.1.7. Panel Utama Tegangan Rendah dan Perlengkapannya.


a. Umum
Penel daya bertegangan rendah meliputi switch, tombol, circuit breaker,
indikator, magnetic connector, accessories, peralatan dan barang-barang
lain yang diperlukan untuk pemasangan dan operasi yang sempurna dari
segenap sistem dan peralatan-peralatannya.

Kontraktor harus dapat membuktikan bahwa telah memiliki pengalaman


yang luas di bidang manufacturing dan perencanaan panel-panel tersebut
telah beroperasi dengan baik selama paling sedikit 3 tahun.
Penawaran harus rneliputi reference list sebagai suatu-bukti.

b. Panel-panel
Panel harus seperti ditunjukkan di dalam gambar rencana, kocuali
ditentukan lain.
Seluruh asembly termasuk housing, bus-bar, alat-alat pelindung harus
direncanakan, dibuat, dicoba dan bila perlu diperbaiki sesuai dengan
persyaratan minimum dengan penyesuaian dan / atau penambahan
seperti disyaratkan di bawah ini :

b.1. Umum
Setiap panel daya utama harus dari jenis inbouw, dead-front, terbuat
dari plat baja (metal cled).

Konstruksi panel harus terbuat dari rangka baja struktur baja struktur
atau rangka profil baja yang diperkuat dan dilas, sehingga kokoh
dan tidak rusak dalam pengiriman atau pemasangan.

Struktur panel harus tahan terhadap gaya elektromekanis serta


termal akibat hubung-singkat (sampai 60 kA dalam waktu 1 detik)
100

Rangka ini harus secara lengkap ditutup pada bagian bawah, atas
dan sisi-sisinya dengan pelat-pelat penutup yang bisa dilepas. Panel
harus bisa dicapai dari depan maupun belakang.
Semua alat ukur atau tombol pemilih yang dipersyaratkan harus
dikelompokkan pada sisi depan yang berengsel.

Tutup yang berengsel tersebut harus mempunyai engsel yang


tersembunyi dan gerendel / kunci. Semua sumber yang perlu untuk
rangkaian kontrol, daya dan lain-lain harus dipasang pada sisi
belakang dari penutup yang berengsel tersebut.

Panel harus mempunyai bukaan dalam bentuk grille (louvres)


ventilasi untuk membatasi kenaikan suhu dari bagian-bagian yang
mengalirkan arus pada nilai-nilai yang dipersyaratkan dalarn standar
VDE/IEC untuk peralatan yang tertutup. Penutup panel bagian
belakang yang bisa dilepas harus mempunyai konstruksi sekrup
(screwed on / bolted on) Material-material yang bertegangan harus
dicegah dengan sempurna terhadap kemungkinan terkena percikan
air. Tebal pilar baja yang digunakan minimum 2 mm.

Semua panel harus buatan Graha Panel, Industira, Simetri dan


mempunyai sertifikat dari Asosiasi Produsen Panel Indonesia.

b.2. Pull Box


Bila ditunjuk dalam gambar atau bila diperlukan oleh kondisi
pemasangan, harus dipasang sebuah pull box pada ketinggian yang
cukup dari jenis konstruksi yang sama dengan switch board pada
bagian atas dari switch board.

Bagian sisi atas dan camping clan pull box harus dari bagian-bagian
yang bisa dibuka lepas. Dasar dari pull box harus terdiri atas papan
asbestos atau bahan tanah api yang sempurna. Kabel manuju
individual breaker harus tegak lurus melalui lubang-Iubang yang
terpisah-pisah pada dasar pull box ini.

Penutup atas yang ditempatkan di bagian belakang struktur harus


bisa dilepas dengan mudah supaya memungkinkan pembuatan
lubang-lubang untuk konduit kabel yang diperlukan.

Penunjang-penunjang untuk kabel harus diatur sedemikian rupa,


sehingga terhindar kemungkinan terjadinya loncatan bunga api (arc
proofing).

Pull box harus mempunyai ukuran yang layak guna memungkinkan


ventilasi dan pemasangan peralatan circuit breaker yang bisa
dipindah-pindahkan bilamana perlu.

b.3. Konstruksi
Panel-panel harus seperti yang disyaratkan di sini dan seperti di
tunjuk dalam gambar untuk melaksanakan fungsi yang diperlukan.
Lokasi yang tepat dan jenis pertengkapan yang diperlihatkan boleh
berbeda menurut keperluan penyesuaian material pabrik, sejauh
bahwa fungsi dan operasi yang dimaksud dapat dicapai.

Akan tetapi, identifikasi gambar, tata letak, skedul dan lain-lain harus
diikuti dalam urutan yang tepat untuk mempermudah pemeriksaan
bangunan (konstruksi)
101

Tempat struktur bus-bar dan hubungan-hubungannya harus


dibangun dan ditunjang untuk dapat menahan arus hubung-singkat
yang terjadi pada lokasi tertentu tersebut.

Hubungan-hubungan harus dibaut, dilas atau diklem serta diatur


untuk menjamin daerah kontrak yang baik.

b.4. Ventilasi
Lubang-lubang ventilasi harus dibuat secara rapi dengan punch
machine. Untuk menjaga benda-henda asing rnasuk melalui lubang
tersebut. Pada bagian dalam harus diberi lapisan yang juga
dilubangi (di-punch).

b.5. Papan Nama


Setiap pemutus daya (circuit breaker) harus dilengkapi dengan
papan nama yang dipasang pada pintu panel dekat dengan pemutus
daya dan dapat dilihat dengan mudah. Cara-cara pemberian nama
harus menunjukkan dengan jelas rangkaian dari pemutus daya atau
alat-alat yang tersambung padanya. Keterangan mengenai hal ini
harus diajukan dalam gambar kerja.
Mimic diagram berwarna biru harus dipasang pada pintu, lengkap
dengan komponen-komponen dan tanda-tanda untuk komponen
tersebut.

b.6. Cadangan Sambungan di Kemudian Hari


Bila di dalam gambar dinyatakan adanya cadangan, maka ruangan-
ruangan tersebut harus dilengkapi dengan pemutus daya cadangan,
terminal, klem-klem pemasangan, pendukung dan sebagainya,
untuk peralatan yang dipasang di kemudian hari.
Kemungkinan penyambungan dikemudian hari dapat berupa
peralatan baru, misalnya saklar, pemutus daya, kontraktor dan lain-
lain.

b.7. Bus-Bar / Rel Daya


Bus-bar harus diatur sedemikian rupa, sehingga tersusun secara
mendatar dengan rapih sepanjang panel di dalam ruang yang
berventilasi.
Jarak antar rel daya harys memenuhi ketentuan pemasangan rel
daya di dalam PUIL 2000.

Bus-Bar harus terbuat dari bahan tembaga jenis "hard drawn high
conductivity" yang memenuhi standar B.S. 1433, dilapisi perak pada
bagian luarnya secara menyeluruh dengan ukuran sesuai dengan
kemampuan 150 % dari arus beban terpasang. Ukuran Bus-Bar
harus disesualkan dengan peraturan PUIL 2000. Sernua Bus-Bar
harus dipegang dengan kokoh oleh bahan isolator yang terbuat dari
bahan yang tidak menyerap air (non-hygroscopic) misalnya perselain
atau moulded isulator, sedemikian rupa sehingga mampu menahan
gaya mekanis yang terjadi akibat hubung singkat. Rel daya dicat
dengan warna yang sesuai dengan penandaan fasa menurut PUIL
2000.

Cat tersebut harus tahan terhadap temperatur sampai 70°C


Setiap panel harus mempunyai bus-bar netral dengan kapasitas
penuh (full netral) yang diisolir terhadap pentanahan dan sebuah bus
pentanahan yang telanjang, diklem dengan kuat pada kerangka dan
102

dilengkapi dengan klem untuk pengaman dari peralatan yang perlu


ditanahkan. Dalam hal ini, konfigurasi bus-bar adalah 3 fasa - 4
kawat - 5 bus.

Semua hubungan dari bus-bar menuju pemutus daya atau saklar


dengan arus Iebih besar dari 63 A harus dilakukan melalui batang-
batang tembaga dari jenis yang sama dengan bus-bar. Untuk arus
yang Iebih kecil, diizinkan menggunakan kabel herisolasi PVC (NYY
atau NYA).
Kontraktor diwajibkan untuk menyerahkan gambar kerja yang
menunjukkan ukuran-ukuran clan bus-bar dan susunannya.
Ukuran dari bus-bar harus merupakan ukuran sepanjang panel dan
disediakan cara-cara untuk penyambungan di kamudian hari.

Apabila saluran keluar (out going feeder) yang menuju ke satu


terminal terdiri atas beberapa buah kabel, tidak diperkenankan
menumpuk lebih dari 2 (dua) buah sepatu kabel pada satu terminal
atau bus-bar.
Bila terjadi hal demikian, harus dilakukan dengan cara
memasangkan batang tembaga tambahan untuk menyatukan
sepatu kabel tersebut pada satu terminal yang berlainan.

b.8. Alat-alat Ukur


Setiap panel harus dilenqkapi dengan alat-alat ukur dan trafo ukur
seperti yang ditunjukkan di dalam gambar rencana.
Bila digunakan amper meter selector switch (saklar pinch), pada
saat pemindahan pengukuran arus, saklar untuk ampere meter
harus dalam keadaan terhubung singkat.
Meter-meter harus dari type besi putar (moving iron) khusus untuk
dipasang secara tegak lurus di pintu panel. Kelas alat ukur yang
paling tinggi 1,5 dengan penunjukan melingkar (minimum 90°), skala
linier, dipasang secara flush dalam kotak tahan getaran, dengan
ukuran 96 mm x 96 mm.
Posisi dari saklar putar untuk volt meter dan amperemeter harus
ditandai dengan jelas.

b.8.1 Amperemeter (A-m)


Semua amperemeter harus mempunyai kemampuan beban
lebih sebesar 120 % dari batas atas penunjukkannya selama 2
jam dan dilengkapi dengan penunjuk berwarna merah (index
pointer) untuk menandai besarnya arus beban-penuh. Ampere
meter harus dipasangkan untuk beban motor sebesar 5,5 kW
atau lebih pada salah satu fasenya.
Amperemeter harus mampu menahan pergerakan yang timbull
akibat arus start motor dan mempunyai skala overload yang
rapat (compressed) untuk keperluan pembacaan arus start
tersebut.

Pada amperemeter harus terdapat mekanisme pengatur


penunjukan nol (zero adjusment) berupa sekrup pemutar
dibagian depan.

b.8.2 Voltmeter (V-m)


Voltmeter harus mempunyai ketepatan kelas 1,5 dan
mempunyai skala penunjukan yang lebar. Voltmeter dipasang
di sisi daya masuk melalui sikring pengaman jenis HRC
dengan arus nominal 3 A.
103

Pada voltmeter harus terdapat mekanisme pengatur


penunjukkan nol (zero adjustment) berupa sekrup pemutar di
bagian depan.

b.9. Trafo Arus


Trafo arus harus dari tipe kering untuk pemakaian di dalam ruangan
(indoor type), jenis jendela dengan perbandingan kumparan yang
sesuai dengan standar-standar VDE untuk keperluan pengukuran.
Pemasangan harus dilakukan secara kuat agar mampu menahan
gaya-gaya mekanis yang timbul pada waktu terjadinya hubungan
singkat 3 fasa simetris.
Trafo arus untuk amperemeter juga boleh digunakan bersamaan
dengan kWh meter dengan syarat tidak menguranqi ketelitiannya.
Bila ternyata ketelitian terganggu, harus digunakan trafo arus khusus
(terpisah).

b.10 Kabel-kabel Kontrol


Kabel kontrol (control wiring) dari panel-panel harus sudah dipasang
di pabrik / bengkel secara lengkap dan dibundel serta dilindungi
terhadap kerusakan mekanis.

Ukuran kabel kontrol minimum 1,5 mm2 dari jenis NYMHY dengan
tegangan nominal 600 volt.

Pada setiap ujung kabel kontrol ataupun pengukuran harus


dipasangkan sepatu kabel dengan ukuran kabclnya clan
clikencangkan
dengan alat penekan (press-tang / kraft-tang) secara baik, sehingga
dapat dicegah terjadinya hubung longgar (lost contact).
Setiap pemasangan ujung kawat kontrol atau pengukuran pada
terminal peralatan harus cukup kencang dan kokoh.

b.11 Merk Pabrik


Semua peralatan pengamanan harus diusahakan buatan satu
pabrik. Peralatan-peralatan sejenis harus dapat saling dipindahkan
atau dipertukarkan tempatnya pada rangka panel.

b.12 Peralatan Pengaman / Pemutus Daya

b.12.1 Moulded Case Circuit Breaker (MCCB)


Untuk pemutus daya cabang dengan arus lebih kecil dari 800 A
digunakan jenis rumah tuangan (moulded case circuit breaker -
MCCB) yang memenuhi standar B.S. 4752 Part 1 1977 atau
IEC 157.1 dan sesuai untuk temperatur operasi 400C (fully
tripicalized) dan mampu beroperasi untuk tegangan 660 VAC
dengan rating 1.000 VAC.

MCCB harus dapat dioperasikan secara "reverse feed" baik


pada posisi horizontal maupun vertikal tanpa mengurangi
performance.

Kontak utama yang harus meneruskan arus beban harus


terbuat dari bahan silver / tungsten dan mekanisme operasinya
dirancang untuk menutup dan membuka kontak-kontak
utamanya secara menyapu (wiping action).
104

Mekanisme operasi harus dari jenis "quick make" dan "quick


break" secara simultan pada ketiga / keempat kutubnya
sewaktu opening, closing maupun trip.

Mekanisme ini harus trip-free untuk m_ encegah kontak utama


menutup kembali tanpa sengaja.

Handle togel MCCB harus dapat membuka semua kutub


(kontak utama) secara bersamaan (simultan). Suatu arus
kesalahan mengalir pada salah satu kutup harus menyebabkan
ketiga kutub membuka secara bersamaan.

MCCB dilengkapi dengan fasilitas pelindung pada masing-


masing kutubnya yang dapat disetel (adjustable) untuk arus
beban lebih (overload - inverse time) secara mekanis dengan
bimetal, pengatus arus hubung - singkat (overcurent -
instantaneous) secara mekanis dcngan solenoid (magnetis).

Untuk motor protector, hanya dipasang magnetic overcurrent


protection.

Setiap MCCB harus mempunyai tiga posisi opcrasi, yaitu ON,


OFF dan TRIP.

Kapasitas pemutus arus kesalahan (interrupting / breaking


capacity) tidak kurang dari 50 kA.

b.12.2 Miniature Circuit Breaker (MCB)


MCB yang digunakan harus memenuhi persyaratan B.S. 4752 /
part 1 1977 atau IEC 157.1 (fully tropicalized), mampu
heroperasi untuk tegangan sampai 660 VAC dengan rating
1.000 VAC.

MCB harus dapat dioperasikan secara "reverse feed", baik


pada posisi horizontal maupun vertikal tanpa mengurangi
performance.

Kontak utama yang meneruskan arus beban harus terbuat dari


bahan silver / tungsten dan mekanisme operasinya dirancang
untuk menutup dan membuka kontak-kontak utamanya secara
menyapu (wiping action).

Mekanisme operasi harus dari jenis trip-free untuk mencegah


kontak utama menutup kembali tanpa sengaja.
RKS Teknis
Handel togel MCB tiga fasa harus dapat membuka semua
kutub (kontak utama) secara bersamaan (simultan).

Suatu arus kesalahan mengalir pada salah satu kutub harus


menyebabkan ketiga kutub membuka secara bersarnaan.

MCB dilengkapi dengan fasilitas pelindung arus beban lebih


(overload inverse time) secara mekanis dengan bimetal dan
arus hubung singkat (overcurent instantaneous) secara
mekanis dengan solenoid (magnetis).
105

Arus nominal dari draw out MCCB dan MCB harus sesuai
dengan gambar, dengan kapasitas pemutusan (breaking
capacity) disesuaikan dengan letak pemutus daya tersebut.

Kontraktor diwajibkan untuk memeriksa besarnya arus hubung


singkat 3 fasa simetris yang mungkin terjadi pada titik-titik
beban dan menganjurkan jenis MCCB serta MCB yang sesuai.
Hasil perhitungan dan katalog pemutus daya yang disarankan
untuk digunakan harus disertakan pada saat penawaran
pekerjaan.

5.1.9. Peralatan Penerangan

a. Umum
Peralatan penerangan meliputi armatur, lampu-lampu, accessories,
peralatan serta alat-alat lain yang diperlukan untuk operasi yang lengkap
dan sempurna dari semua peralatan penerangan. Fixture harus seperti
yang disyaratkan dan ditunjuk pada gambar-gambar.

b. Kualitas dan Pengerjaan


Semua rnaterial dan accessories, balk yang disebut secara maupun
khusus harus dari kualitas terbaik.
Pengerjaan harus kelas satu dan menghasilkan armature setara dengan
standar komersil yang utama. Armatur harus sesuai dengan gambar dan
skedul, atau seperti yang disyaratkan di sini.
Semua armatur harus buatan Topslite, Artholite dan Philips.

c. Jenis armature
c.1. Lampu-lampu Flourescent (TL)
Lampu (bulb) harus dengan warna standar white deluxe.
Untuk twin lamp atau double TL harus dirangkai secara lead-lag
untuk meniadakan efek stroboskopis. Semua fixture harus
dilengkapi dengan kapasitor untuk perbaikan faktor kerja sehingga
mencapai minimum 0,96. Balast harus dari tipe low losses.
Perlengkapan lain seperti starter, ballast, pemegang lampu harus
memenuhi standar PLN / SII / LMK.

c.2. Lampu Down Light.


Lampu down light yang dipasangkan di ruang-ruang tertentu
rnenggunakan jenis lampu sesuai dengan gambar rencana

c.3. Lampu Baret


Lampu baret yang digunakan harus berbentuk persegi, terbuat dari
kaca susu dengan lampu pijar (incandescent) atau lampu TL circle
20 W sesuai dengan kebutuhan.

c.4. Lampu Taman


Bentuk lampu taman sesuai dengan gambar rencana Iengkap
dengan tiang diperlukan. Di bagian bawah tiang dipasang box berisi
fuse 2 A dan terminal penyambung kabel.
Jenis kabel di dalam pipa menuju lampu taman adalah NYY 3 x 2,5
mm2 dengan salah satu inti kabel dipasang ke badan metal lampu
untuk pentanahan.
106

c.5. Lampu Sorot (Flood Lighting)


Armatur lampu sorot dari jenis outdoor type yang tahan panas, tahan
cuaca (tahan korosi), balk untuk badan maupun kaca pelindung
armatur.
Badan armatur (armature housing) dan penutup belakang (rear
cover) terbuat dari high pressure die cast allumunium dengan
kandungan tembaga yang rendah.
Reflektor terbuat dari allumunium yang dipoles mengkilat, kaca
tanah panas setebal 5 mm dari jenis thoughened glass plate dengan
gasket karet silikon schingga keseluruhan armatur mempunyai-
derajat perlindungan IP 55. Jenis lampu yang digunakan adalah HPI-
T 400 W. Pemasangan armatur lengkap dengan pondasi dan rangka
/ sangkar pelindung armatur dari besi beton  6 mm yang dicat
hitam dilengkapi dengan engsel dan padlock (gembok)

c.6. Lampu Darurat


Untuk armatur darurat digunakan emergency kit dengan kapasitas
penyalaan batere minimum 2 jam. Jenis batere yang digunakan
harus NiCd, yang diletakkan di dalarn armatur bersama dengan
emergency kit board.
Untuk jenis armatur dengan lampu TL ganda emergency kit hanya
diberikan untuk 1 buah lampu saja.
Mode operasi lampu darurat adalah maintained.
Tegangan kerja armatur adalah 220 V, 50 Hz.

d. Pemasangan
Semua armatur penerangan dan perlengkapannya harus dipasang oleh
tukang yang berpengalaman dan ahli, dengan cara-cara yang disetujui
Konsultan Manajemen Konstruksi.

Harus disediakan pengikat, penyangga, penggantung dan bahan-bahan


yang perlu agar di peroleh hasil pemasangan yang baik.
Barisan armatur yang menerus harus dipasang sedemikian rupa,
sehingga betul-betul lurus.

Armature yang dipasang merata terhadap permukaan (surface mounted)


tidak boleh mempunyai sela-sela di antara bagian-bagian fixture dan
permukaan-perrnukaan di sebelahnya. Setiap badan (rumah) lampu harud
ditanahkan (grounded). Pada waktu diselesaikannya pemasangan
armature penerangan, peralatan
tersebut harus slap untuk bekerja dengan balk dan berada dalarn kondisi
sempurna serta bebas dari semua cacat / kekurangan.

Pada waktu pemeriksaan akhir, semua armatur dan perlengkapannya


harus menyala secara lengkap.

6.0 PENGUJIAN / PENYETELAN PERALATAN DAN SISTEM

6.1. Pekerjaan ini meliputi ketentuan-ketentuan dasar untuk mengadakan


pengujian (testing) penyetelan serta commissioning dari seluruh peralatan
listrik yang dipasang.

6.2. Semua tersting, kalibrasi dan penyetelan dari peralatan-peralatan dan kontrol
yang tergabung dalam pekerjaan renovasi sistem listrik ini serta penyediaan
semua instrumentasi dan tenaga kerja harus dilaksanakan oleh kontraktor.
Kontraktor harus menempatkan seorang ahli listrik yang berkompeten dan
berpengalaman untuk melaksanakan pengujian dan commisioning.
107

6.3. Pengujian-pengujian yang harus dilaksanakan oleh Kontraktor di bawah


pengawasan Konsultan Manajemen Konstruksi antara lain :
* pengujian tahanan isolasi kabel baru yang dipasang, baik perbagian
(section) maupun keseluruhan (overall)
* pengujian pentanahan panel
* pengujian kontinuitas konduktor
* pengujian fungsi kontrol manual dan otomatis pada panel-panel daya
* pengujian keseimbangan pembebanan (phasing-out)
* load testing
* penyetelan semua peralatan pengaman (overcurrent dan overload) dan
encatat data setelah yang dilakukan.
* semua instalasi Iistrik yang baru harus mendapat pengesahan dari PLN
atau badan resmi yang ditunjuk Konsultan Manajemen Konstruksi.

6.4. Hasil-hasil pengujian harus sesuai dengan syarat-syarat teknis yang telah
diuraikan di atas atau standar-standar yang berlaku dan dicatat serta
dibuatkan berita acara pengujiannya.

Pasal 30
PEKERJAAN SISTEM PENANGKAP PETIR DAN SISTEM PENTANAHAN
KONSTRUKSI BANGUNAN DAN PERALATAN

1. Lingkup Pekerjaan
Lingkup pekerjaan ini meliputi pengangkutan, pengadaan dan pemasangan peralatan
sistem penangkal Electric Field dan pembumian seperti ditunjukkan dalam gambar Kerja
dan/atau Spesifikasi Teknis ini.

Pekerjaan ini akan termasuk, tetapi tidak dibatasi pada hal-hal berikut:
- Penangkap petir radius 120 m sek. Current 2 generation
- Kabel NYY 1 x 70 mm2 + PVC dia. 1”
- Grounding max 1 Ohm
- Ba kontrol

2. Standar/Rujukan
Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL-2000).
Peraturan Umum Instalasi Penangkal Petir (PUIPP).
British Standar (BS).
Standar Industri Indonesia (SII).
Japanese Industrial Standar (JIS).
Institute Electrotechnical Commision (IEC).
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Sipil.
Spesifikasi Teknis Pasangan Batu Bata.

3. Prosedur Umum

a. Contoh Bahan, Data Teknis dan Daftar Bahan


1. Sebelum diadakan/didatangkan ke lokasi, contoh dan/atau brosur/data teknis
bahan/ barang/ peralatan untuk pekerjaan ini harus diajukan terlebih dahulu
kepada Konsultan Supervisi untuk disetujui.
2. Kontraktor harus membuat daftar yang lengkap untuk bahan, barang, dan
peralatan yang akan digunakan, dan menyerahkannya kepada Konsultan MK
Lapangan untuk mendapat persetujuan dengan dilampiri brosur-brosur yang
lengkap dengan data teknis serta performance dari peralatan.
108

3. Semua barang dan peralatan yang diadakan oleh Kontraktor harus disertai
dengan Surat Keterangan Keaslian Barang (Letter of Origin) dari pabrik
pembuatnya (Manufacturer) atau agen utamanya (Authorized Dealer/Agent).

b. Gambar Detail Pelaksanaan (Shop Drawing)


1. Kontraktor harus membuat dan menyerahkan Gambar Detail Pelaksanaan
sistem elektrikal kepada Konsultan MK Lapangan untuk disetujui.
Gambar Detail Pelaksanaan harus diserahkan sebelum pengadaan bahan agar
diperoleh cukup waktu untuk pemeriksaan dan tidak ada tambahan waktu bagi
Kontraktor bila mengabaikan hal ini.
Gambar Detail Pelaksanaan harus lengkap dan berisi detail-detail yang
diperlukan.
2. Bila ada perbedaan antara Gambar Kerja yang satu dengan Gambar Kerja yang
lain atau antara Gambar Kerja dengan Spesifikasi Teknis, Kontraktor harus
melaporkannya kepada Konsultan Supervisi untuk dicarikan jalan keluarnya.
3. Gambar Kerja Elektrikal hanya menunjukan tata letak bahan dan peralatan, jalur
kabel dan sambungan-sambungan.
Gambar Kerja ini harus diikuti dengan seksama.
Dalam mempersiapkan Gambar Detail Pelaksanaan, dimensi dan ruang gerak
yang digambarkan dalam Gambar Kerja Arsitektur, Struktur dan Gambar Kerja
lainnya yang berkaitan, harus diperiksa.
4. Kontraktor harus dengan teliti memeriksa kebutuhan ruangan dengan
Kontraktor lain yang mungkin bekerja pada lokasi yang sama untuk memastikan
bahwa semua peralatan dapat dipasang pada tempat yang telah ditentukan.

c. Pengiriman dan Penyimpanan


1. Semua bahan dan peralatan yang didatangkan harus dalam keadaan baik,
baru, bebas dari segala cacat dan dilengkapi dengan label, data teknis dan data
lain yang diperlukan.
2. Semua barang dan peralatan yang diadakan oleh Kontraktor harus disertai
dengan surat jaminan keaslian barang (Letter of Origin) dan mempunyai
jaminan serta garansi (Warranty).
3. Semua bahan dan peralatan harus disimpan dalam kemasannya pada tempat
yang aman dan terlindung dari kerusakan.

d. Ketidaksesuaian
1. Konsultan Pengawas berhak menolak semua bahan yang didatangkan atau
dipasang yang tidak memenuhi ketentuan dalam Gambar Kerja dan/atau
Spesifikasi Teknis.
Kontraktor harus segera memperbaiki dan/atau mengganti setiap pekerjaan
yang tidak sesuai, tanpa tambahan biaya dari Pemilik Proyek.
2. Bila bahan-bahan yang akan didatangkan ternyata menyimpang atau berbeda
dengan yang ditentukan, Kontraktor harus terlebih dahulu membuat pernyataan
tertulis yang menjelaskan usulan penggantian, dengan maksud bila diterima,
akan segera diadakan penyesuaian. Bila Kontraktor mengabaikan hal di atas,
Kontraktor bertanggung jawab melaksanakan pekerjaan sesuai Gambar Kerja.
4. Pelaksanaan Pekerjaan
a. Sistem
1. Sistem penangkal petir harus terdiri dari tipe yang menangkap serangan petir
dari suatu daerah yang telah ditentukan dan membawa arus ke bumi tanpa
elektrifikasi langsung ke bangunan yang dilindungi.
2. Sistem yang lengkap harus terdiri dari kepala penangkal petir, penumpu
mekanis, penghantar kebawah dan sistem pembumian sesuai Spesifikasi
Teknis ini.
3. Kontraktor harus melengkapi semua peralatan dan perlengkapan yang penting,
agar diperoleh sistem yang lengkap dan terbaik.
109

b. Kepala Penangkal Petir


1. Kepala Penangkal petir Electric Field Lightning protection.
2. Kepala penangkal petir dengan diameter sekitar 15 mm dan panjang 1000mm,
harus terbuat dari bahan bermutu tinggi yang tidak menghantar listrik sehingga
se-segera petir menyambar ujung kepala penangkal petir, aliran tersebut masuk
menuju ke bumi.
3. Kepala penangkal petir yang ditempatkan sesuai Gambar Kerja harus
dibumikan ke tanah dengan kawat tembaga telanjang luas penampang 50 mm2
dan dibumikan di kotak pembumian.

c. Penghantar Bawah
1. Penghantar bawah kawat tembaga tembaga telanjang.
2. Setiap penghantar harus memiliki luas penampang minimal 50 mm2 dari bahan
tembaga.
3. Sambungan antara penghantar tembaga harus dari tipe klem sekrup.
4. Penghantar kebawah harus dipasang sesuai petunjuk pemasangan dari pabrik
pembuat dan tidak boleh ditekuk dengan radius kurang dari 0,6 meter.
5. Dasar penghantar bawah dihubungkan dengan erat ke ikatan pembumian di
luar bangunan.

d. Pembumian dan Pengikatan


1. Batang pembumian BC 50mm2 dengan panjang sesuai ketentuan Gambar
Kerja,
Batang pembumian tersebut harus ditanamkan ke dalam tanah, seperti
ditunjukkan dalam Gambar kerja.
2. Sambungan pembumian harus terletak dalam suatu bak untuk memudahkan
pemeriksaan.
3. Pada setiap titik pembumian harus dibuat bak pemeriksaan untuk keperluan
pengukuran seperti ditunjukan dalan Gambar Kerja.

4. Bak pemeriksaan dibuat dari pasangan batu bata dengan penutup pelat beton
dan berukuran sesuai dengan petunjuk Gambar Kerja.
5. Pada dasar bak diberi lapisan pasir setebal minimal 15 cm seperti ditunjukkan
dalam Gambar Kerja.
6. Pengerjaan pasangan batu bata harus memenuhi ketentuan Spesifikasi Teknis
Pekerjaan Sipil.

e. Pengujian dan Pemeriksaan


1. Seluruh instalasi harus diperiksa secara mekanis dan elektris.
2. Tahanan pada setiap kotak pembumian harus berukuran maksimal 2 (dua) ohm
yang diukur pada keadaan tanah kering atau setelah 2 (dua) hari berturut-turut
tanpa hujan.
3. Kontraktor harus melengkapi pengujian terhadap sistem penangkal petir dan
sistem pentanahan konstruksi bangunan dan peralatan ini dengan sertifikat
keamanan / uji dari instansi terkait yaitu Depnaker.

Pasal 31
SYARAT-SYARAT TEKNIS PEKERIAAN FIRE ALARM

1.0. UMUM
Syarat-syarat Teknis Pekerjaan Fire Alarm yang diuraikan di sini adalah persyaratan
yang harus dilaksanakan oleh Kontraktor dalam hal pengerjaan instalasi maupun
pengadaan material dan peralatan, dalam hal ini Syarat-syarat Umum Teknis
Pekerjaan Elektrikal adalah bagian dari syarat-syarat Teknis ini.
110

2.0. PRINSIP PERENCANAAN

Jenis fire alarm yang digunakan adalah type konvensional dimana apabila ada
deteksi asap atau panas semua bell dan indikasi pada seluruh area akan berbunyi.

Pekerjaan Fire Alarm sekualitas Apron, Esser, Hooseki

Kemampuan deteksi dari smoke detector yang digunakan adalah sekitar 70 m2,
sedangkan kemampuan heat detector inempunyai daerah deteksi sekitar 40 m2.
Perlengkapan detektor rnenggunakan kabel NYA ukuran 2,5 mm2 yang diletakkan di
dalam konduit PVC high-impact heavy gauge.

Untuk memungkinkan sistem tetap beroperasi pada saat terjadinya pemadaman


sumber daya utama, FACP dilengkapi dengan charger dan stand-by battery yang
mampu digunakan minimal 20 jam.

Untuk menghasilkan sinyal alarm secara audio, digunakan vibrating bell berukuran
min 90 db pada tiap zone, sedangkan sinyal visual dihasilkan oleh alarm berwarna
merah. Manual station dipasang untuk memungkinkan diaktipkannya sistem secara
manual apabila seseorang melihat adanya kebakaran sebelum detektor-detektor
beraksi.

3.0. LINGKUP PEKERJAAN

3.1. Pengadaan pemasangan serta penyetelah unit pengontrol (fire alarm control
panel - FACP / master control fire alarm - MCFA) berbasis mikroprosesor,
kapasitas 5 zone.
3.2. Pengadaan serta pemasangan unit deteksi (detection unit detector).
3.3. Pengadaan serta pemasangan kabel terminal box
3.4. Pengkabelan sistem fire alarm dari FACP sampai unit deteksi / detector
3.5. Mengadakan pengujian menyeluruh sehingga sistem tersebut dapat berfungsi
baik dan benar.

4.0. KOMPONEN - KOMPONEN

Komponen-komponen yang termasuk dalam unit-unit deteksi adalah manual station


serta fire detector.
Jenis fire detector yang digunakan adalah :
* Heat Detector (Rise Of Rate & Fixed Rate)
* Smoke Detector
Kedua jenis ini mempunyai berbagai tipe yang dirancang sesuai dengan keperluan.
Dipilih detector yang sesuai dengan masing-masing ruangan tersebut yaitu untuk
bagian perkantoran digunakan heat detector dan untuk ruangan dengan
kemungkinan pengumpulan asap digunakan detector yang lehih peka, yaitu smoke
detector.

4.1. Combination ROR & Fixed Temperature Heat Detector.


* Operating voltage : 16 - 32 VDC
* Stand-by current : 100 uA max.
* Alarm current : 47 mA max. Operating temperature: 135 of
* Relative humidity : 20 % - 85 0Jo
* Temperature rise : 15 of / menit
111

4.2. Fixed Temperature Heat Detector.


* Operating voltage : 16 - 32 VDC
* Stand-by current : 100 uA max.
* Alarm current : 47 mAmax.
* Operating temperature : 135 of
* Relative humidity : 2 % - 85

4.3. Smoke Detector.


* Detector ini harus dapat bekerja dengan adanya asap ataupun dideteksi.
* Operating voltage : 16 - 32 VDC
* Stand-by current : 100 uA max.
* Alarm current : 47 mA max.
* Operating temperature : 0 - 28 oC
* Relative humidity : 20%-85%
* Sensitivity : 0,55 - 1,17 %/feet
* Kecepatan kerja detektor : 3 detik
* Kecepatan asap yang dapat di deteksi : max 300 feet

4.4. Manual Call Point.


Manual call point yang digunakan adalah dari jenis surface mounted,
dilengkapi dengan kaca penutup (break glass), sistem kerja pull down dan
tetap berada dalam posisi on sebelum di reset kembali.

Untuk tujuan testing, alarm dapat dibunyikan tanpa harus memecahkan kaca,
dilakukan dengan menusukkan kunci khusus. Semua manual call point harus
dilengkapi dengan kaca cadangan untuk menjamin operasi yang lama, alarm
contact harus dilapisi emas (gold plated).

4.5. Alarm Bell.


Alarm bell harus tipe vibrating, seluruh bell harus bekerja pada 24 VDC
polarized dengan 6 gong, kecuali disebut lain dalam gambar. Pemasangan
pada ketinggian 75 cm di bawah langit - langit dengan cara "semi flush",
minimum output suara adalah 90 dB atau lebih besar pada jarak 10 ft.

4.6. Alarm Horn.


Alarm horn harus cocok untuk pemakaian di dalam gedung maupun di luar
gedung. Semua alarm horn bekerja pada 24 VDC polarized dengan level
suara minimum 95 dB pada jarak 10 ft. Type pemasangan adalah semi flush
mounted.

4.7. Fire Alarm Control Panel (FACP)


Unit ini terdiri atas power module, control module, alarm signal module clan
zone module.

Keseluruhan module harus disusun sedemikian rupa, sehingga penggantian


module yang rusak dapat dilakukan dengan mudah tanpa menganggu fungsi
module lainnya. Semua indikator harus dapat dilihat dengan mudah dan jelas
melalui jendela kaca pada pintu panel.

Sebagai kontrol bekerja pada tegangan 24 VDC yang dilengkapi dengan


peralatan-peralatan sebagai berikut

4.7.1. Lampu Indikator


- Lampu "alarm" (merah) dan lampu gangguan / "trouble" (kuning)
untuk setiap zone pada zone module atau common trouble lamp
dengan trouble selector.
- Lampu "power on" (hijau) yang menyatakan sumber daya tersedia
dan sistern sedang dalam keadaan fungsi.
112

- Lampu "AC power failure", yang menyatakan adanya gangguan


pada rangkaian instalasi (short circuit rangkaian pada ground).
- Lampu "bell circuit trouble" yang menyatakan adanya gangguan
pada rangkaian bell / horn.
- Lampu "common alarm" yang menyatakan terjadinya alarm di
sistem akibat detektor bekerja.
- Lampu "common trouble" yang menyatakan terjadinya trouble di
sistem tersebut.

4.7.2. Tombol - Tombol / switch.


- "reset switch" yang berfungsi untuk mengembalikan ke kondisi
normal setelah terjadi trouble atau alarm.
- "silence switch" yang berfungsi untuk mematikan buzzer atau bel
bila alat tersehut berbunyi.
- "alarm lamp test switch" yang berfungsi untuk memeriksa apakah
lampu - lampu alarm masih berfungsi dengan balk.

4.7.3. Catu Daya.


Sistem fire alarm bekerja dengan tegangan 24 volt DC dan dapat
dikombinasikan dengan alat-alat dengan tegangan AC, misalnya AC
bell dan lamp, dan harus mempunyai catuan ganda, yaitu :
- Primary supply 220 VAC
- Secondary supply 24 VDC

Agar tetap beroperasi selama cater primer 220 V terputus, digunakan


catu daya cadf~ngan berbentuk stand-by battery yang rnampu
beroperasi selama minimum 20 jam (termasuk operasi bell dan
alarm). Catu daya cadangan diletakan di dalam FACP. Jenis battery
yang digunakan adalah NI-Cad.
Alat pengisi battery diletakan di daam FACP yang dilengkapi dengan
booster power supply untuk memperbesar kapasistas arus bagi
keperluan bell dan lain sebagainya.

4.8. Cara Kerja Sistem.

4.8.1. Keadaan Normal.


Bilamana tidak terjadi gangguan / trouble atau deteksi kebakaran
(alarm), maka sistem dalam keadaan normal yang ditandai dengan
menyalanya lampu indikator hijau (AC pilot lamp). Dalam hal ini sistem
mendapat catuan daya sumher daya utama 220 VAC dan batere.

4.8.2. Keadaan Darurat.


Apabila sumber daya utama padam maka sistem pendapatan catu
dari stand - by battery.

Hal - hal yang terjadi pada FACP :


Lampu kuning menyala (trouble lamp) disertai tanda - tanda yang
dapat didengar (buzzer).

4.8.3. Keadaan Alarm.


Keadaan alarm akan terjadi apabila mendeteksi adanya asap / panas /
api atau manual call point diaktifkan.

Dalam keadaan tersebut alarm bell harus dapat bekerja secara


otomatis.
113

Lampu merah (lampu merah) clan lampu kuning pada FACP akan
menyala, menunjukkan zone yang terjadi alarm. Dengan demikian
daerah / ruangan yang dalam keadaan bahaya akan segera diketahui.

4.8.4. Keadaan-Gangguan (Trouble).


Bila terjadi gangguan pada sistem (pada detector circuit atau panel
kontrol), maka :
- Lampu kuning yang terdapat pada FACP harus menyala dengan
diiringi suara buzzer yang bisa didengar jelas.
- Lampu kuning yang terdapat pada zone module dari zone yang
terganggu harus menyala.

5.0. TEKNIS PELAKSANAAN

5.1. Pemasangan fire alarm harus dilakukan oleh tenaga yang herpengalaman di
bidang pekerjaan ini dan pengerjaannya harus teratur.

5.2. Tidak diperkenankan adanya sambungan - sambungan pada hantaran,


sambungan hanya terdapat pada box terminal. Pengawatan harus
menggunakan konduit PVC high impact heavy gauge dengan ukuran
disesuaikan dengan jumlah kawatnya. Masing - masing wiring diberi tanda
untuk daerah mana kawat tersebut, supaya dalam perbaikannya apabila ada
kerusakan.

5.3. Kabel dari FACP ke CTB setiap zone masing - masing 2 pairs.
Kabel yang digunakan :

5.3.1. Kabel detektor: NYA 1,5 mm2

5.3.2. Kabel bell : NYA 2,5 mm2

5.4. Dari hasil pengerjaan tersebut diserahkan diagram pengawatan lengkap (as
built drawing) bekerja petunjuk - petunjuk operasional lainnya.

5.5. Setiap selesai satu tahapan pekerjaa, harus dilakukan pemeriksaan ulang
sebelum dilakukan pengetesan secara keseluruhan.

5.6. Kontraktor harus dapat bekerja sama atau dapat dikoordinasikan dengan
bagian pekerjaan lain, sehingga apabila ada pekerjaan tambahan karena
kurang koordinasi, menjadi tanggung jawab Kontraktor.

6.0. TRAINING
Kontraktor harus secara lengkap menyediakan operator instruction manual dan
memberikan minimum 7 hari training di lapangan kepada operator dari pihak
Pemberi Tugas dapat diterima kecakapannya.

7.0. KETENTUAN LAIN


Sebelum pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor harus memasukan shop drawing
kepada Konsultan Manajemen Konstruksi untuk memperoleh persetujuan, mengenai

7.1. Connection diagram.

7.2. Skedul yang menunjukkan lokasi dan fungsi dari setiap peralatan.

7.3. Data - data spesifikasi.

7.4. Konflgurasi FACP.


114

Pengetesan terakhir (commissioning test) sesudah pemeriksaan akhir (final


inspection), kalibrasi dan lain-lain harus dilakukan pihak Kontraktor dengan di
hadiri oleh pihak Konsultan Manajemen Konstruksi dan Konsultan Perencana.

8.0. MERK
Seluruh komponen sistem fire alarm harus diusahakan sedapat mungkin dari satu
merk untuk menjamin service setelah sistem terpasang.

- Komponen utama fire alarm ex GENT, APPRON,ESSER


- Kabel instalasi ex Kabel Metal, Kabelindo
- Cable conduit ex EGA, Clipsal

Pasal 32
PEKERJAAN PROJECTOR

31.1. LINGKUP PEKERJAAN

Instalasi dan Pengadaan Projector :


1. Projector infocus SVGA (800x600) 3500, Lumens ANSI DLP Technology
2. Infocus type IN1118HD 10 80P (1920x1080) 2400 lumens contras Ratio 15000:1
HD Projector
3. Hanger Projector sekualitas Brite
4. Instalasi kabel HDMII lengkap conector
5. Outlet HDMI di dinding

36.2 KETERANGAN

Projector InFocus IN1118HD


memberikan terang, gambar yang jelas dan HD dari notebook, tablet, atau smartphone.
Kecerahan Proyektor InFocus IN1118HD tinggi, ringan dan ukuran yang kompak
membuatnya ideal bagi yang menghadapi lingkungan presentasi terduga setiap hari.

Proyektor InFocus IN1118HD Full HD 3D DLP Projector menawarkan gambar 1080p hidup
melihat dalam desain yang kompak. Proyektor InFocus IN1118HD memberikan hingga 2400
lumens brightness, mendukung kompatibilitas 3D melalui HDMI 1.4, dan olahraga Full HD
1920 x 1080 resolusi asli. Proyektor InFocus IN1118HD didukung oleh sistem DLP chip, dan
lampu tahan hingga 10.000 jam dalam mode Eco dan 6000 jam dalam mode Normal. Selain
itu, Proyektor InFocus IN1118HD menawarkan 1,15-1,5: 1 throw ratio untuk bervariasi
penempatan.
 Compact and lightweight for easy travel
 The only full 1080p HD products on the market at this ultra-portable size
 2,400 lumens for bright images in any light
 PC-less display from USB drive or 4GB of internal memory
 Connect via HDMI and USB with ease
 Includes carrying case for easy portability
 Durable, road-tested design that’s built to last

Spesifikasi

 Resolution — Native : Full HD (1920 x 1080)


 Resolution — Maximum : WUXGA (1920 x 1200)
 Display Technology : DLP
115

 Video Standard Compatibility : NTSC, NTSC 4.43, PAL, PAL-M, PAL-N, SECAM,
480i, 480p, 576i, 720p, 1080i, 1080p
 Speakers : Mono 2W x 1
 Lamp Brightness : 2,400 lumens
 Lamp Life : 6,000 hours
 Lamp Power : 170W
 Lamp Power — Eco Mode : 150W
 Replacement Lamp : SP-LAMP-095
 Contrast Ratio : 15,000:1
 Number of Colors : 16.7 million
 Aspect Ratio : 16:9
 Aspect Ratio Compatibility : 4:3, 16:10
 Image Size — Minimum : 30 in
 Image Size — Maximum : 300 in
 Projection Offset : 15
 Connectors — Inputs : HDMI 1.4a (including audio), Composite video, S-video,
3.5mm PC audio, VGA
 Connectors — Outputs : 3.5mm audio output
 Audible Noise : < 30 dBA at 0°F / -17.8°C
 Audible Noise — Eco Mode : < 27 dBA at 0°F / -17.8°C
 Included Accessories : Power cord, Remote, VGA cable, Documentation, Carrying
case, 3.5mm stereo audio cable
 Product Warranty : 2 years
 Lamp Warranty : 6 months
 Accessories Warranty : 90 days
 Storage : 4 GB
 PC-less Compatibility : USB HID mouse and keyboard, USB 2.0 Micro-B, USB 2.0
Type-A ×2, File viewer/player, USB HID
 Video Player Compatibility : AVI, MKV, 3GP, MP4, MPEG-1 (MPG, MPEG),
QuickTime (MOV, QT), RealMedia (RM, RMVB)
 Photo Viewer Compatibility : JPEG and JPG, PNG, Bitmap (BMP)
 Music Player Compatibility : MP3, WMA, AAC, WAV
 Power Consumption — Standby : 0.5W max
 Power Consumption — Low Power : 180W max
 Power Consumption : 220W max
 Operating Conditions : 32 to 95°F at 0 to 10000 ft /
0 to 35°C at 0 to 3048 m
 Documentation Languages : English, French, German, Spanish, Italian, Norwegian,
Dutch, Simplified Chinese, Korean, Swedish, Russian, Arabic, Indonesian,
Portuguese
 Menu Languages : English, French, German, Spanish, Italian, Norwegian, Dutch,
Simplified Chinese, Traditional Chinese, Korean, Swedish, Russian, Finnish, Polish,
Turkish, Danish, Arabic, Indonesian, Persian, Portuguese, Vietnamese, Czech,
Romanian, Hungarian
 Approvals : UL and c-UL, FCC, CE, CCC+CECP, KCC, NOM, PCT/CU/EAC, PSB,
SABS, SASO, CB, Nemco/GS, KC
 Throw Distance — Minimum : 1 m
 Throw Distance — Maximum : 10 m
 Throw Ratio — Standard Lens — Minimum : 1.15
 Throw Ratio — Standard Lens — Maximum : 1.50
 Zoom Ratio — Standard Lens : 1.3:1
 Product Dimensions : 7.3 x 8.8 x 3.1 in /
185.4 x 223.5 x 78.7 mm
 Product Weight : 3.5 lbs / 1.6 kg
 Shipping Dimensions : 12 x 6.5 x 14.5 in /
304.8 x 165.1 x 368.3 mm
 Shipping Weight : 5.7 lbs / 2.6 kg
116

Pasal 33
PEKERJAAN KABEL DATA

PEKERJAAN INSTALASI KABEL DATA KOMPUTER

Instalasi Kabel data computer, Kabel kategori 6 + conduit 20 mm (Kable sekualitas


Belden, pipa conduit sekualitas EGA) Outlet sekualitas Panasonic. Lengkap cable
morker, testing dan commisioning

1. LINGKUP PEKERJAAN
Yang dicakup dalam lingkup pekerjaan instalasi Kabel data ini adalah :
- Outlet kabel data computer pada dinding
- Instalasi kabel data computer dia. 1 mm2
- Instalasi kabel data category 6 sek. Belden dalam conduit dia. 20 mm
dari cabinet ke ruang server
- Wall mounting cabinets lebar 600 x tinggi 500 x tebal 400
- Switch Kap. 24 Port, 1000 mbps
- Material Bantu
- Testing dan commisioning

2. SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN

- Pelaksanaan harus menyakinkan pemberi tugas, bahwa pekerjaan


dilaksanakan oleh tenaga-tenaga yang berpengalaman.
- Selama pemasangan instalasi, pelaksana harus menempatkan
seorang ahli yang mengawasi pelaksanaan.
- Pelaksana harus mengganti kembali material-material yang
rusak/cacat sehingga syarat-syarat fisik dengan baik dapat dipenuhi.
- Pelaksana harus membersihkan kembali sisa pekerjaan berupa
potongan kayu, kabel, metal, bekas bobokan baik pada tembok/beton
maupun pada lantai, serta memperbaiki finishing seperti keadaan
semula.
- Pelaksana harus mengadakan testing dan start-up dimana segala
keperluan untuk ini adalah tanggung jawab dari pelaksana.

3. FINISHING
Semua material yang dipasang harus sudah difinished dengan baik
sesuai yang dipersyaratkan. Finishing setelah terpasang adalah
disyaratkan dan ini mencakup segala perbaikan pada material tersebut,
maupun pekerjaan lain sebagai akibat pemasangan instalasi, termasuk di
dalamnya, pengecatan kembali, pembersihan dan lain-lain

Pasal 34
SYARAT-SYARAT TEKNIS
PEKERJAAN SECURITY DAN CCTV SYSTEM

1.0 PEKERJAAN SECURITY


A. UMUM
Syarat-syarat umum instalasi Security sistem dan CCTV ini berisi perincian yang
memperjelas/menambahkan hal-hal yang tercantum dalam Buku syarat-syarat
Administratip. Dalam hal ini Buku Syarat-syarat Administratip saling melengkapi
dengan syarat-syarat umum Security dan CCTV ini.
117

B. LINGKUP PEKERJAAN
Lingkup pekerjaan yang termasuk dalam lingkup pekerjaan Security ini meliputi :
1. Pengadaan dan pemasangan Access Control System lengkap dengan instalasinya
dengan kabel NYM untuk Access Control dan kabel untuk CCTV, NYM, RC 5C,
Stel – K 001.
C. PERLENGKAPAN SECURITY

Perlengkapan security alarm ini dapat dikelompokan dalam beberapa kelompok


sebagai berikut :
a. Access Control System
Penggunaan alat ini adalah untuk membatasi akses seseorang pada ruang
tertentu sehingga hanya yang diijinkan sesuai Manajemen Kantor Sejahtera
Bersama yang dapat mengakses ruangan tersebut. Peralatan yang diperlukan
untuk keperluan access control ini terdiri dari :
- Access management controller lengkap dengan battery back up
- Door system software
- Proximity reader
- Card management system
- Personal computer
Peralatan tersebut harus dari product Trimec

2. PEKERJAAN CCTV

A. UMUM
Sistem CCTV ini merupakan alat yang dipergunakan untuk membantu pengawasan
dengan cara mengamati kegiatan operasi dalam gedung, baik pengunjung maupun
karyawan melalui Video Camera. Hasil gambar dapat diamati melalui Layar Monitor.
CCTV yang digunakan disini merupakan CCTV dengan sistem Digital Recorder yang
mempunyai kelengkapan operasi antara lain :

- Peralatan utama switching dan controllin menggunakan digital technology dengan


programmable control dan matrix switching.
- Alat perekam menggunakan digital video recording system, media untuk
menyimpan gambar bukan cassette melainkan berupa media disket yang
kapasitas perekamannya lebih besar dari media cassette.

B. PERALATAN CCTV
Peralatan yang digunakan dalam sistem CCTV ini terdiri dari :
- Camera
- Monitor / TV LED 32”
- Digital Recorder Unit
- Keyboard/Touch Tracker
- Lensa
- Pan & tilt unit

Semua peralatan tersebut harus dari produk Philips atau CHUBB.

a. Multiplexer
Alat ini digunakan sebagai switcher yang menghubungkan kamera ke monitor
namun sebelumnya melalui multiport controler sehinga pengamat dapat memilih
hasil pengamatan pada lokasi kamera ke layar monitor.
- Tegangan operasi : 12 VAC
- Power : 3W
- Connector : Input : 9 pin connector untuk data/power
118

Output : 16 (enam belas), 6 contact removable screw


terminal block untuk code output.
Maximum transmisi berjarak 1,5 km menggunakan
18 AWG shielded twisted pair produk Belden atau
setara.

b. Multiport Controller
Alat ini digunakan sebagai pengatur ouput channel yang akan ditampilkan pada
layar monitor yang diterima dari kamera.
- Output channel : 16 channel
- Tegangan : 108 ~ 253 VAC, 50 HZ
- Power : 30 W / 0,5 A
- Synchronization : Color 625 line, 50 HZ, PAL
- Digital memori : 720 H x 576 V
- AGC : Automatic or Manually Adjust untuk setiap video input
- Video input level : 0,5 Vp-p ke 2,0 Vp-p
- Mode operasi : Simultaneous record, play back dan multi screen viewing
- Control dan indicator : Front panel

c. Kamera
Kamera merupakan alat pengamat dari sistem CCTV yang dilengkapi dengan
lensa. Melalui kamera, gambar dari lokasi yang diamati dapat dilihat melalui layar
monitor.
Adapun spesifikasi kamera adalah :
- Imager : interline transfer CCD, 1/3 inch image format
- Horizontal resolution : 460 TVL
- Sensitivity (3200 K) :
 Scene illumination 1,5 lux usable picture dan 4,5 lux untuk Full Video
 Imager illumination 0,2 lux usable picture dan 0,6 lux untuk Full Video
- Operating temperature : - 20 0C ~ 50 0C
- Signal to Noise :  50 db minimum
- Electronic shutter : Automatic 1/60 ~ 1/100.000 detik
- Synchronisasi : line lock atau crystal lock
- Phase adjust range : 300 0C
- Untuk balance : automatic sensing (2500 k to 8000 k)
- Video output :
 composite video 1.0 Vp-p, 25 ohm
 Y level : 1.0 Vp-p
 C level : 1.3 Vp-p
 Impedance : 25 ohm

d. Color Flexi Dome Camera


- Voltage range : 12 ~ 28 VAL, 50 HZ
- Imager : interline transfer CCD, ¼ inch image format
- Horisontal resolution : 470 TVL
- Active picture elements : 752 H x 582 V
- Signal to noise : > 50 dB
- Electronic shutter : 1/50 ~ 1/100.000 detik
- Automatic tracing : 2500 K to 9000 K
- White balance store : 2500 K to 9000 K
- Video output : 1.0 Vp-p, 75 ohm

e. Monitor
Monitor merupakan alat yang mentranlasi isyarat elektronik yang dikirim oleh
kamera menjadi gambar pada layar monitor.
Spesifikasi monitor adalah :
1) 21” screen size color monitor komputer :
119

- Tegangan kerja : 230 VAC, 50 HZ


- Pitch : 0,20 mm (H)
- Max Resolution 1600 x 1200 C, 68 Hz
2
- Brightness up to 330 / cd

2) 32” screen size color monitor televisi :


- Tegangan kerja : 220 VAC, 50 HZ
- Audio input : line level 500mV
- Audio output : loop through line level, IW speaker
- Horisontal resolution : 700 TVL
- Linierity : 7% horisontal dan 7% vertikal
- Y signal : 0,7 Vp-p
- C signal : 0,3 Vp-p

f. Lensa
1) Auto Iris Lens untuk Fixed Camera
- Image format : 1/3 inch
- Focal length : 4 mm
- Iris range : F 1.2 – 200
- Min object distance : 0,3 m
- Lens mount : CS mount
- Angle of view (1/3”) : 64 0 x 49 0
- Iris control : DC
- Focus control : manual

2) 200 M Lens
- Image format : 1/3 inch
- Zoom : 10 X
- Focal length : 6 – 60 mm
- Iris range : F 1.4 – 360
- Lens mount : CS
- Temperature range : - 10 0 C ~ 15 0 C
- Video signal : 4 pin DC control
- Operating voltage : 8 – 12 V
- Operating current : 70 m A max
- Sensitivity : 0,5 – 1 Vp-p
- Zoom karakteristik : motor drive, speed 3-4 detik, 12 VDC, 70 mA
- Focus karakteristik : motor drive, speed 3-4 detik, 12 VDC, 70 VAC
- Angle of view ½ inch camera :
0 0
 horisontal 43,6 – 4,6
0 0
 vertikal 33,8 – 3,5

g. PAN / TILT

Alat ini berfungsi untuk menggerakan kamera secara horisontal dan vertikal. PAN
& TILT harus dilengkapi dengan alat untuk mengkontrol PAN & TILT sesuai
dengan kehendak operator.

Adapun spesifikasi teknis sebagai berikut :


0
- PAN/TILT Speed : 6,3 /detik pada 50 HZ
0 0
- TILT : MOVEMENT in vertical plane + 20 ke - 90 dari Horisontal
- Duty cycle motors
- Tegangan : 220 VAC, 50 HZ
0 0
- Temperatur operating : - 20 C ~ 60 C
- Construction : Allumunium dengan Corrosion Resistants Hardware
- Finish : Mushroom
- Weater Proof Outdoor
120

h. Digital Video Recorder


Digital Recorder merupakan suatu sistem perekam digital unit yang mempunyai
spesifikasi sebagai berikut :

- 16 channel control & ethernet


- 320 GB HDD
- Fully compatible dengan standard 10/100 Base T network
- Kemampuan rekam per detik dan image quality dapat dipilih untuk
setiap kamera tersambung dan mampu membuat prioritas pada area
yang mempunyai resiko tinggi.

i. OUTDOOR HOUSING
Housing ini digunakan untuk melindungi kamera dari perubahan cuaca luar yang
bisa berpengaruh terhadap unjuk kerja kamera.
Jalur kabel masuk : three liquid tight rear fittings, dua digunakan untuk kabel
dengan dia. 4,3 mm – 11,9 mm dan satu untuk kabel dengan diameter 4,6 mm –
7,9 mm.
Two bottom feed throught liquid tight fittings yang dapat digunakan untuk kabel
dia. 4,6 mm – 7,9 mm

Adapun spesifikasi teknis sebagai berikut :

- Jendela : 3 mm thick UV stabilized polycarbonate.


- Housing Mounting : 4 – 20 tapped noks.
- Camera Mounting : Removable camera bracket.

- Construction : Alluminium cover, alluminium base, alluminium mounting


foot, polycarbonate face plate, glass reinforced
polycarbonateend caps, neoprene gasket, ethylene
propylene seal and all stainless steel hardware.
- Finish : Mushroom
- Enclosure Protection: Designed to NEMA – 3R, 1P55
- Approved : UL, CUL

j. KEYBOARD/TOUCH TRACKER

Keyboard/touch tracker atau merupakan interface antara operator dengan


kamera dalam pengaturan PAN / TILT / 200 M / Fokus serta IRIS.
Dari keyboard/touch tracker ini operator dapat mengontrol dan mengendalikan
sampai dengan 16 kamera.

Keyboard /touch tracker ini dilengkapi dengan suatu display yang dapat
menunjukan dan menyeleksi kamera yang akan diaktifkan PAN / TILT / ZOOM /
Fokus serta IRIS

Pasal 35
SYARAT-SYARAT TEKNIS PEKERJAAN TATA SUARA

1.0. UMUM
Syarat-Syarat Teknis Pekerjaan Tata-Suara yang diuraikan disini adalah persyaratan
yang harus dilaksanakan oleh Kontraktor dalam hal pengerjaan instalasi maupun
pengadaan material dan peralatan, dalam hal ini Syarat-Syarat Umum Teknis
Pekerjaan Mekanikal / Elektrikal adalah bagian dari Syarat-Syarat Teknis ini.
121

2.0. LINGKUP PEKERJAAN


2.1. Pengadaan dan pemasangan seluruh instalasi sistem suara lengkap dengan
peralatan-peralatan yang diperlukan seperti yang ditunjuk pada gambar
rencana untuk mendapatkan sistem tata suara yang baik, stahil, free of
distorsion serta mencapai frekuensi response yang direncanakan.
2.2. Melaksanakan pengujian terhadap instalasi dengan disaksikan oleh
Konsultan Manajemen Konstruksi yang akan menyatakan bahwa instalasi
berfungsi dengan baik dan dapat diterima.
2.3. Melaksanakan pemeliharaan sistem sekurang-kurangnya selama 2 bulan
termasuk penyediaan suku cadangnya.

3.0. PRINSIP PERENCANAAN


Tata Suara Back Ground / Allert System.
Sistim tata suara ini berfungsi sebagai back-ground music dan emergency paging.
Sinyal suara dari sumber suara (tape deck/ AM-FM tuner/ allert signal module)
diterima oleh mixer preamplifier dan disalurkan ke power amplifier untuk diperkuat.
Dari power amplifer sinyal suara diteruskan ke seluruh ceiling speaker. Untuk
keperluan paging disediakan sebuah microphone yang juga dihubungkan dengan
mixer-preamplifier, digunakan untuk melakukan panggilah / pemberitahuan (all call)
walaupun attenuator dalam keadaan off.

4.0. SYARAT-SYARAT TEKNIS


Peralatan-peralatan sistem tata suara harus baru, tidak cacat, belum pernah dipakai,
telah diuji, dan telah mendapat persetujuan dari Konsultan Manajemen Konstruksi.
Peralatan tata-suara ini harus dapat menerima supply tegangan 220 volt ± 10% pada
50 Hz.

4.1. Gambar Detail Pelaksanaan.

4.1.1. Kontraktor harus membuat dan menyerahkan Gambar Detail


Pelaksanaan sistem tata suara kepada Pengawas Lapangan untuk
disetujui.
Gambar Detail Pelaksanaan harus diserahkan sebelum pengadaan
bahan sehingga diper-oleh cukup waktu untuk memeriksa dan tidak
ada tambahan waktu bagi Kontraktor bila mengabaikan hal ini.
Gambar Detail Pelaksanaan harus lengkap dan berisi detail-detail
yang diperlukan serta mencakup data-data berikut :
 Nama perangkat tata suara,
 Jumlah unit,
 Tata letak/susunan peralatan tata suara,
 Dimensi,
 Detail pemasangan dan detail lain yang diperlukan.

4.1.2. Bila ada perbedaan antara Gambar Kerja yang satu dengan Gambar
Kerja yang lain atau antara Gambar Kerja dengan Spesifikasi Teknis,
Kontraktor harus menyam-paikannya kepada Pengawas Lapangan
untuk dicarikan jalan ke luarnya.

4.1.3. Gambar Kerja Elektrikal hanya menunjukkan tata letak bahan dan
peralatan, jalur kabel dan sambungan-sambungan.
Gambar Kerja ini harus diikuti dengan seseksama mungkin.
Dalam mempersiapkan Gambar Detail Pelaksanaan, dimensi dan
ruang gerak yang digam-barkan dalam Gambar Kerja Arsitektur,
Struktur dan Gambar Kerja lainnya yang berkaitan, harus diperiksa.
122

4.1.4. Kontraktor harus dengan teliti memeriksa kebutuhan ruangan dengan


Kontraktor lain yang mungkin bekerja pada lokasi yang sama untuk
memastikan bahwa semua peralatan dapat dipasang pada tempat
yang telah ditentukan.

4.2. Pengiriman dan Penyimpanan.


4.2.1. Semua bahan dan peralatan yang didatangkan harus dalam keadaan
baik, baru, bebas dari segala cacat, dan dilengkapi dengan label, data
teknis dan data lain yang diperlukan.
4.2.2. Semua bahan dan peralatan harus disimpan dalam kemasannya pada
tempat yang aman dan terlindung dari kerusakan.

4.3. Ketidaksesuaian.
Pengawas Lapangan berhak menolak setiap bahan yang didatangkan atau
dipasang yang tidak memenuhi ketentuan Gambar Kerja dan/atau Spesifikasi
Teknis.
Kontraktor harus segera memperbaiki dan/atau mengganti setiap pekerjaan
yang dinilai tidak sesuai, tanpa tambahan biaya dari Pemilik Proyek.

5.0. BAHAN-BAHAN.
5.1. Umum.
5.1.1. Semua perangkat sistem tata suara harus dalam keadaan baru,
dilengkapi sertifikat lulus uji pabrik dan petunjuk pemasangan serta
penggunaan dari pabrik pembuatnya.
5.1.2. Semua perangkat sistem tata suara harus dilengkapi dengan data-
data berikut :
 Merek dan nama pabrik,
 Tipe,
 Tegangan kerja dan frekwensi,
 Konsumsi daya,
 Impedansi,
 Tanggapan frekwensi,
 Dimensi,
 Dan data lainnya yang diperlukan.

5.2. Peralatan Tata Suara.

5.2.1. Paging Microphone, ditempatkan pada tempat sesuai petunjuk dalam


Gambar Kerja, merek Philips,TOA, Bosch.
5.2.2. Ceiling speaker harus memiliki kapasitas 6 Watt , merek Philips, TOA,
Bosch.
5.2.3. Mixing Pre Amp harus memiliki kapasitas sesuai ketentuan Gambar
Kerja, dan berasal dari merek Philips, TOA, Bosch.
5.2.4. Equalizer harus dari merek Philips, TOA, Bosch..
5.2.5. 240 Power Amplifier harus dari merek Philips, TOA, Bosch, dengan
kapasitas sesuai ketentuan Gambar Kerja.
5.2.6. Speaker Selector, memiliki kapasitas sesuai ketentuan dalam Gambar
Kerja, merek Philips, TOA, Bosch.
5.2.7. Cabibet Rak, produksi lokal kualitas terbaik, yang disetujui Konsultan
Manajemen Konstruksi harus sesuai berasal dari merek Philips, TOA ,
Bosch.
5.2.8. Terminal Box Speaker harus dari merek Philips, TOA, Bosch.
5.2.9. Volume Control harus dari merek Philips, TOA, Bosch.
5.2.10 CD/DVD/MP3 Player
5.2.11 Remote Microphone
123

6.0. PELAKSANAAN PEKERJAAN.

6.1. Umum.
6.1.1. Semua perangkat sistem tata suara harus dipasang sesuai petunjuk
pemasangan dari pabrik pembuatnya dan Gambar Detail Pelaksanaan
serta diagram pengkabelan yang telah disetujui, dengan tetap
memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam Spesi-fikasi Teknis ini.
6.1.2. Pengkabelan dan penempatan kabel harus memenuhi persyaratan
Spesifikasi Teknis.

6.2. Pemasangan.
6.2.1. Semua perangkat utama yang yang saling berhubungan satu sama
lain harus ditempatkan pada ruang khusus seperti ditunjukkan dalam
Gambar Kerja.
6.2.2. Pengeras suara langit-langit, corong pengeras harus dipasang
menyebar pada seluruh bangunan seperti ditunjukkan dalam Gambar
Kerja.

6.3. Pengkabelan.
Kabel harus dipasang dalam konduit atau rak kabel sesuai ketentuan dalam
Spesifi-kasi Teknis.
Pengkabelan untuk mikrofon, pembumian, pengeras suara dan kabel daya
harus dipi-sahkan satu sama lain dengan isolasi dan pelindung metal.
Pelindung harus diterminasi hanya pada salah satu ujungnya.

6.4. Pembumian.
Semua pembumian harus memenuhi ketentuan Spesifikasi Teknis.
Antena harus dibumikan secara terpisah.

6.5. Pengujian dan Uji Penampilan.


6.5.1. Kontraktor harus melakukan semua pengujian dan pengukuran yang
dianggap perlu oleh Pengawas Lapangan untuk memeriksa bahwa
seluruh instalasi dapat ber-fungsi dengan baik dan memenuhi semua
persyaratan dan seluruh peralatan harus lulus uji fungsional.
6.5.2. Kontraktor harus menyediakan peralatan dan fasilitas untuk
pengukuran, pengujian dan uji penampilan.
6.5.3. Waktu pelaksanaan pengujian dan uji penampilan akan ditentukan
oleh Pengawas Lapangan.
6.5.4. Kabel-kabel feeder sebelum dan sesudah diinstalasikan harus lulus uji
kesi-nambungan.

6.6. Uji Penerimaan.


Setelah pemasangan selesai, Kontraktor harus mengadakan ujii
penerimaan/acceptance test, dengan prosedur pengujian yang disetujui,
untuk menunjukkan bahwa semua perangkat bekerja dan beropeasi dengan
baik sesuai ketentuan. Kontraktor harus memberitahukan Pemilik Proyek 15
hari sebelum pelaksanaan uji penampilan.
Uji penerimaan akan meliputi memperoleh dan menerima berita pada stasiun
tertentu, pada tingkat volume yang baik, tanpa campuran suara dari sumber
lain atau unit lain.

6.7. Pemeliharaan dan Pengoperasian Peralatan.


6.7.1. Masa pemeliharaan pekerjaan sistem tata suara sesuai persyaratan
dalam Kontrak. Selama masa pemeliharaan ini, Kontraktor diwajibkan
untuk mengatasi segala kerusakan-kerusakan serta kekurangan-
kekurangan.
124

6.7.2. Kontraktor wajib menyerahkan kepada Pemilik Proyek, 3 (tiga) bulan


sebelum serah terima, sebanyak 4 (empat) set manual pengoperasian
dan pemeliharaan semua peralatan

Pasal 36
PEKERJAAN TATA UDARA

36.1. UMUM
Syarat-syarat Teknis Pekerjaan Tata Udara yang diuraikan di sini adalah persyaratan
yang harus dilaksanakan oleh Kontraktor dalam hal pengertan instalasi maupun
pengadaan material dan peralatan, dalam hal ini Syarat-Syarat Umum Teknis
Pekerjaan Mekanikal / Elektrikal adalah bagian dari Syarat-Syarat Teknis ini.

36.2. Lingkup Pekerjaan


Yang dicakup dalam pekerjaan instalansi ini adalah pengertian bekerjanya sistem
tata udara secara keseluruhan maupun bagian-bagiannya seperti yang tertera pada
gambar-gambar maupun yang dispesifikasikan.
Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pengadaan barang-barang / mates ial,
instalasi (termasuk pembobokan dan perapihan kembali), testing & commissioning
dan pemeliharaan.
Keterangan-keterangan yang tidak diterangkan dalam spesifikasi maupun gambar
tetapi perlu untuk pelaksanaan dari pekerjaan secara keseluruhan harus juga
dimasukkan ke dalam pekerjaan ini.
Secara garis besar, pekerjaan ini meliputi pengadaan dan pemasangan peralatan
sebagai berikut :

2.1. Split System air conditoner, terdiri dari :


2.1.1. Out door condensing unit
2.1.2. Indoor Fan Coil Unit
2.1.3. Sistem pemipaan refrigerant bese a isolasinya dan alat-alat bantu
yang diperlukan.
2.1.4. Sistem pemipaan drainage ( n embunan) beserta isolasinya dan alat-
alat bantu yang diperlukan.
2.1.5. Instalasi listrik daya dan kontrol atau out door condensing unit dan fan
coil unit lengkap dengan konduit yang diperlukan.

2.2. Pekerjaan Exhaust Fan, terdiri atas


2.2.1. Exhaust Fan beserta rangka dan starter switch
2.2.2. Instalasi Ducting

2.3. Integrasi dan pengujian sistem / instalasi sampai berfungsi dengan balk dan
dapat diterima.

Segala sesuatu mengenal lingkup pekerjaan ini yang masih kurang jelas,
Kontraktor dapat menanyakan lebih lanjut kepada Konsultan Manajemen
Konstruksi, Konsultan Perencana atau pihak lain yang ditunjuk untuk ini.
Apabila sampai terjadi kelalaian dan kekurangan, Kontraktor harus
bertanggung jawab atas kerugian-kerugian yang mungkin terjadi.
Dalam hal ini, Kontraktor harus memperhitungkan di dalam harga air
conditioner system segala biaya pengetesan di lapangan serta pengadaan
listrik kerja. Sistem / tata cara pengetesan harus disampaikan secara tertulis
dua minggu sebelum jadwal pengetesan.
125

36.3. Lingkup Pekerjaan

3.1. Pengecatan
Kontraktor harus mengecat semua rangka penggantung, rangka penyangga,
semua unit yang dirakit di lapangan dan unit-unit yang diperlukan serta
bahan-bahan yang mudah berkara dengan lapisan cat dasar sesuah itu dicat
lagi dengan persyaratan pengecatan yang harus sesuai untuk bahan masing-
masing. Cat yang digunakan adalah AVIAN / SEIV atau setara.

3.2. Peredam Getaran


Kontraktor harus menyediakan dan memasang peredam getaran (vibration
damper) pada seluruh peralatan yang menimbulkan getaran.
Type disesualkan dengan mesin yang bcrsangkutan bcrdasarkan
rekomendasi pabrik.

3.3. Pipa Pembuangan (Drain)


3.3.1. Kontraktor harus memasang saluran-saluran pipa pembuangan
(drainage pipe di semua indoor fan coil unit (FCU) yang kemudian
dihubungkan ke saluran pembuangan, sesuai dengan gambar
rencana atau sesuai dengan kondisi lapangan atas petunjuk
Konsultan Manajemen Konstruksi.
3.3.2. Pipa drain dan fitting-fittingnya harus dari jenis PVC (polyvinyl
chloride) kelas AW dengan metode penyambungan antar pipa atau
antara pipa dengan fitting menggunakan solvent cement (SO-Solvent
Cement Joint).
3.3.3. Untuk mencegah pengembunan, pipa pembuangan hares diisolasi
dengan bahan isolasi yang sesuai.
Untuk pipa drain yang terbuka (tidak tertanam di dalam dinding) pipa
drain harus diisolasi dengan CFC-free, flexibel closed cell elastromeric
tubing insulation ex Armstrong (Armaflex) atau setara.
Sedangkan pipa drain yang tertanam di dalam dinding harus diisolasi
dengan self adhesive insulating tape ex Armstrong (Armaflex) atau
setara.
3.3.4. Metode pemasangan pipa drain ke unit FCU harus sesuai dengan
rekomendasi pabrik, sesual dengan gambar rencana.
3.3.5. Pemasangan pipa drain harus rapi dan kokoh. Untuk pipa drain yang
dipasang di antara plafon dengan pelat lantai diatasnya, pipa
diletakkan di atas rak kabel / rak pipa atau digantung dengan
penggantung pipa.
Untuk pemasangan pipa drain yang digantung, jarak antar
penggantung tidak lebih dari 2 meter.
Penggantung pipa harus terbuat dari pelat baja strip 30 mm x 3 mm,
dilengkapi dengan batang baja 0 1/2" yang ujung-ujungnya berulir
untuk levelling. Pemasangan penggantungan ke pelat baja dilakukan
dengan ramse4c / dynabolt.

Penggantung harus dicat dengan lapisan cat dasar (primer) dan dicat
akhir dengan cat besi ex ICI hitam (R 404-40009).
126

3.4. Pemipaan Refrigerant


3.4.1. Kekebalan pipa tembaga / pipa refrigerant tersebut paling tidak
sebagai berikut :
Tebal
Diameter
Dinding
(inchi) (mm) (mm)
¼ 6,4 0,762
3/8 9,5 0,889
½ 12,7 1,016
5/8 15,9 1,067
¾ 19,1 1,143
1 25,5 1,27
1¼ 31,8 1,27

merek pipa tembaga adalah CRANE ENFIELD atau setara.

3.4.2. Pemipaan dilengkapi dengan accerosis yang diperlukan, antara lain


isolasi, elbow dan lain sebagainya sesuai dengan standar pabrik
sehingga diperoleh instalasi pemipaan yang memuaskan.

3.4.3. Dimensi () pipa tembaga yang digunakan untuk masing-masing


peralatan (out door condensing unit dan fan coil unit), baik liquid
maupun gas side harus sesuai dengan standar pabrik sehingga
diperoleh sistem operasi serta performance yang memuaskan.

3.4.4. Seluruh pemipaan refigerant sisi gas (gas side), harus diisolasi
dengan thermaflex, sedangkan pemipaan sisi cairan (liquid side) tidak
diisolasi.

3.4.5. Untuk satu jalur pemipaan, dari outdoor condensing unit menuju fan
coil unit, pipa refrigerant gas dan liquid diikat bersama dengan cable
dan diberi label untuk penandaan yang mempermudah perawatan.

3.4.6. Metode pemasangan pipa refigerant ke unit-unit outdoor condensing


unit adalah flare connection (liquid side) dan brazing connection (gas
side) atau dengan cara sesuai rekomendasi pabrik.
Sedangkan untuk unit fan coil unit, metode penyambungan untuk
kedua sisi adalah flare connection.

3.4.7. Penyambungan pipa refrigerant dengan fitting menggunakan metode


solder, dengan bahan pengisi tanpa flux jenis hard solder yang
memenuhi standar AS Bcup-2 (phosphor copper solder).

3.4.8. Harus diusahakan penggunaan panjang pipa yang maksimal untuk


mengurangi titik penambungan / titik antar pipa.

3.4.9. Semua pipa refrigerant harus dipasanq secara rapi dan sejajar,
diletakkan di posisi sesuai dengan gambar rencana.

3.4.10 Bila diperlukan penyangga, ukuran penyangga / klem disesualkan


dengan ukuran pipa dan isolasinya sedemikian rupa, sehingga tidak
merusak isolasinya serta memudahkan pemeliharaan / perbaikan di
kemudian hari.
127

3.5. Pemasangan Fan Coil Unit & Outdoor Condensing Unit

3.5.1. Pemasangan unit Fan Coil Unit dan Outdoor Condensing Unit harus
sedemikian rupa, sehingga pembersihan maupun perbaikkannya
dapat dilakukan dengan mudah.

Kontraktor harus memberitahukan kepada Konsultan Manajemen


Konstruksi tentang cara dan urutan pembersih / perbaikan peralatan
tersebut.

3.5.2. Semua Fan Coil Unit dipasang benar-benar mendatar dan harus
ditumpu dengan balk. Gantungan harus dipasang pada konstruksi
dengan kuat menggunakan dynabolt, dengan ukuran yang sesuai
dengan kebutuhan.
Hasil akhir pemasangan Fan Coil Unit terhadap plafon harus benar-
benar rapi dan rapi, tanpa celah antara panel dengan plafon.

3.5.3. Posisi pemasangan unit-unit outdoor direncanakan di lantai tambahan


(balkon) khusus untuk Outdoor Condensing Unit di atas kanal CNP 10
cm.
Dalam hal ini Kontraktor untuk memeriksa kembali posisi penempatan
Outdoor Condensing Unit dan menyarankan posisi yang terbaik untuk
mencapai operasi yang memuaskan.
Untuk meredam getaran, di antara unit Outdoor Condensing Unit
dengan kanal C sebagai penumpu diselipkan vibration damper jenis
neophrene rubber pad dengan ketebalan minimum 5 cm atau sesuai
dengan rekomendasi pabrik.

3.6. Persyaratan Peralatan Air Conditiong (AC)


3.6.1. Umum
Kontraktor harus rnemasang unit-unit outdoor (out door condesing
unit) dan unit-unit indoor (indoor fan coil unit) jenis air cooled split
system, controler, pemipaan, drain dan lain sebagainya secara
lengkap sesuai dengan gambar dokumen, skedul, spesifikasi serta
sesuai persyaratan pabriknya.

3.6.2. A/C harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut


a. A/C harus mempunyni kapasitas pendingin dan volume udara
seperti yang ditunjukkan dalam skedul / gambar rencana.
b. Seluruh FCU harus dilengkapi dengan rangka isolasi (installation
casing), haik air kondensasi (drain pan), saringan pembersih udara
(cleanable filter), pipa drain yang diisolasi, motor effisiensi tinggi,
fan (kipas) jenis direct fan dan motor.
c. Fan FCU harus mempunyai tiga pilihan putaran kecepatan, yaitu
high, mediurn, dan low serta off. Putaran pada kecepatan medium
tidak boleh melebihi 800 rpm.
d. Seluruh A/C harus dilengkapi dengan thermostat, expansion valve,
compressor, condensor dan periengkapan Ialnnya, sehingga
sistem dapat bekerja dengan sempurna.
e. Putaran fan motor FCU pada kecepatan tinggi (high speed) tidak
bole
f. melebihi Noise Criteria (NC) 40. Seluruh bagian yang bergerak
harus
g. diseimbangkan terlebih dahulu (balanced) oleh pabrik.
h. Seluruh motor fan indoor; motor fan condenser dan compresor
harus
i. dilengkapi dengan pengaman arus lebih.
128

j. Pengontrolan unit-unit FCU dilakukan secara elektronik terhadap


start-
k. stop, temperature setting, air flow rate dan lain sebagainya melalui
infrated remote controller (wireless).
l. Controller dilengkapi dengan LCD display yang akan menampilkan
seluruh kemampuan pengontrolan dan inspeksi.
m. Merk yang digunakan Mitsubishi VRF

3.7. Instalasi Ducting

3.7.1. Umum.
Bagian ini merupakan persyaratan umum mengenai pekerjaan
ducting, perlengkapan ducting dan peralatan pengontrolan aliran
udara.
Persyaratan umum ini bersifat mengikat, kecuali bila ternyata ada
persyaratan khusus sebagaimana disebut pada bagian-bagian lain
atau gambar-gambar rencana.
a. Kontraktor diharuskan untuk mengadakan dan memasang seluruh
pekerjaan ducting dan perlengkapannya, sesuai dengan
persyaratanpersyaratan yang disebutkan, sampai sistem dapat
beroperasi dengan balk dan memuaskan.
b. Semua pekerjaan ducting dan fittingnya harus dibat dari bahan
(pelat baja) yang baru dan setiap pelat yang digunakan harus
mempunyai tanda yang menunjukkan pembuat / pabrik dan
kelasnya.
c. Semua pekerjaan ducting sejauh mungkin dibuat di lokasi
berdasarkan dimensi sebenarnya yang dibutuhkan.
Apabila ternyata sulit diperoleh besarnya ukuran ducting
sebenarnya, dapat digunakan ukuran sebagaimana dinyatakan di
dalam gambar.
d. Semua ducting supply, return, intake dan exhaust fitting harus dari
jenis yang sesuai dengan gambar atau skedul peralatan.
e. Sebelum pekerjaan ducting dimulai, Kontraktor harus
menyerahkan gambar keija (shop drawing) mengenal sistem
ducting, potonganpotongan, ketinggian, penggantung, skedul
ducting, damper, penyambungan ducting, flexibel connection,
lining, test point dan lain sebagainya kepada Konsultaan
Manajemen Konstruksi untuk dinilai.
f. Sebelum melakukan pemesanan barang, Kontraktor diwajibkan
untuk menyerahkan data pabrik dari seluruh peralatan kepada
Konsultan Manajemen Konstruksi untuk dinilai.
g. Sebelum pekerjaan ducting dimulai, Kontraktor diwajibkan untuk
menyerahkan contoh pelaksanaan pembuatan ducting, lengkap
dengan isolasi dan lining dan peralatan penggantung yang
diperlukan kepada Konsultan Manajemen Konstruksi.
Sebelum mendapatkan persetujuan tertulis, Kontraktor tidak
diperkenankan memulai pekerjaan.

3.7.2. Bahan Ducting.


Semua saluran udara (duct), balk di luar atau di dalam bangunan
harus dibuat dari pelat baja lapis seng (BJS) yang diproses secara
hot-dipped dan memenuhi standard SMACNA (ex LOKFOM atau
setara).

Semua pelaksanaan pembuatan duct dan instalasi harus sesuai


dengan syarat-syarat teknis dan gambar rencana yang diberikan dan
sesuai dengan standart SMACNA.
129

Ducting harus dibuat dari lembaran-lembaran BJLS yang baru dari


kualitas terbaik dengan ukuran sepenuhnya (full sized) dan dipatah
silang secara diagonal dari ujung ke ujung untuk setiap segmen.
Untuk ducting yang diisolasi bagian dalamnya (lined) tidak
diperkenankan dilakukan pematah-silangan.
Ketebalan BJLS yang digunakan tergantung dari tergantung dari
ukuran J besar duct, sesuai dengan daftar di bawah ini:
Ukuran terpanjang BWG B7LS
Duct yang dipakai (USA gauge stand)
Sampai 12" 24 50
13"-16" 24 50
19"-30" 24 60
31”-54” 20 80
55"-84" 20 80
84" ke atas 18 100

3.7.3. Sambungan Duct.


Jenis sambungan (seam) duct yang dipakai adalah grooved seam.
Semua bagian tempat penyambungan duct yaitu lock pada duct, ujung
penyambungan antara flexible round duct dan duct persegi,
sambungan antar duct persegi (termasuk besi sikunya),
penyambungan antara flexible round duct dengan diffuser harus
diflincoat pada bagian luar dan dalam sehingga tidak terjadi
kebocoran.
Untuk memperkuat penyambungan flexible round duct dengan
diffusert harus digunakan klem dari seng BJLS 80.

3.7.4. Penguatan Duct dan Sambungan Flens.


Pada setiap sambungan antara duct persegi dengan duct persegi
lainnya harus digunakan (lens besi siku yang disatukan dengan mur
dan baut. Di antara flens tersebut harus diselipkan tali asbes untuk
mencegah kebocoran.

Untuk menyatukan flens besi siku dengan duct harus digunakan paku
keling besi. Tidak diijinkan penggunaan paku keling alumunium.
Sesudah dikeling, sambungan dan kelingan diflincoat luar dan dalam
agar tidak terjadi kebocoran.

Syarat-syarat teknis sambungan flens dari penguat duct adalah sbb :

Panjang Duct Jarak flens / penguatan Persyaratan penguat


dan gantungan
Sampai 19" 180 cm Dipatahkansilangkan
(cross broken).
20"-40" 180 cm Di tengah (diantara
flens) harus dipasang
sabuk penguat.
19"-30" 180 cm Tengah-tengah flens
dipasang sabuk
penguat

Semua besi penguat dan gantungan yang dipasang harus dicat


dengan cat dasar, (prime coating) dan setelah dicat sesual dengan
pengecatan.
130

3.7.5. Tikungan (Elbow).


Tingkungan harus merupakan bagian terpisah dan dihubungkan
dengan duct lainnya dengan menggunakan flens.
Elbow harus merupakan long radius elbow yang dipisahkan dengan
sudut-sudut pengaruh di dalamnya.

3.7.6. Pencabangan.
Pencabangan harus dibuat sesuai dengan gambar rencana dan
dilengkapi dengan splitter damper.

Kontruksi splitter damper harus sedemikian rupa, sehingga tidak


tcrjadi kehocoran-kebocoran di tempat penembusan engsel-engsel
dan batang penyetel. Pada perpindahan dari duct yang lebih besar ke
duct udara segar (supIly) ke diffuser sempit harus dipasang side
diffuser.
Diffuser harus dilengkapi dengan damper yang dapat disetel.
Kontruksi damper harus sedemikian rupa sehingga dapat bekerja
dengan balk dan benar serta rapi.

3.7.7. Hanger / Support.


Jarak maximum antara gantungan adalah 180 cm, untuk ukuran duct
sampai 40", sedangkan untuk ukuran duct di atas 40" jarak gantungan
adalah 90 Cm.
Konsultan Manajemen Konstruksi berhak menentukan jarak Jarak
yang lebih pendek, bilamana pada tempat tertentu dipandang penting
berkaitan dengan kekuatan dan bila diperkirakan terdapat difleksi duct
yang memungkinkan terjadinya kebocoran pada sambungan-
sambungan dan lain-lainya.

Kontruksi dari gantungan tersebut harus sesuai dengan gambar


rencana terdiri atas besi beton 3/8" dan besi siku yang dipasangkan
ke pelat beton dan ramset.
Gantungan harus dapat distel sehingga ketinggian duct bisa dibuat
rata atau dirubah menurut keadaan lapangan.
Semua penggantung harus dicat dengan cat dasar untuk mencegah
karat.

3.7.8. Isolasi Duct (Duct Insulation).


a. Ducting Supply dan Return.
Duct harus diisolasi terhadap panas yang mungkin akan mengalir
ke dalamnya karena perbedaan temperatur antara udara dalam
dan udara luar duct.
Bahan isolasi ialah lembaran glass woll tebal 1 inch dan massa
jenis 24,03 Kg/m3 (1,5 Ibs/ft3), koefisien perpindahan panas 0,02
btu/hr pada 75OF sesuai dengan peryaratan ASTM 166 dan tahan
api.
Brosur lengkap dari bahan isolasi ini harus disertakan dalam
penawaran.
Duct yang telah diisolasi dengan glasswool harus dibungkus lagi
dengan vapour barrier jenis single sided aluminium foil.
Untuk memastikan kedap air, pada setiap penyambungan vapour
barrier harus dilekatkan tape duct.
Brosur vapour barrier jenis double sided aluminium foil dan tape
duct harus disertakan pada scat penawaran.
Classwool ec ACI atau setara.
131

b. Persyaratan Pemasangan Isolasi.


Semua pemasangan Isolasi sesuai dengan gambar.
Untuk duct udara segar dengan ukuran 75 cm (30") atau lebih
besar, sesudah diisolasi dengan glasswool, aluminium foil dan
tape duct harus dibungkus lagi dengan kawat ayam.
Pada semua sambungan, flens dan lain-lain, isolasi harus overlap
minimal 7,5 cm (3") dan harus ditutup dengan aluminium seal.
Pada tempat-tempat yang tertekan, isolasi ini harus dilindungi
dengan lembaran besi BJLS 70 agar tidak rusak.

3.7.9. Tapers, Offset dan Stream Liner.


Bilamana melalui rintangan yang tidak dapat dihindari, Kontraktor
wajib membuat taper, offset atau stream liner, tergantung keadaan
setempat yang dibuat sesuai dengan syarat teknisnya.

3.7.10. Lubang Berpintu (Access Door).


Kontraktor harus membuat lubang-lubang berpintu (access door /
opening) untuk pemeriksaan dan pemeliharaan katup-katup, alat-alat
pengatur, saringan (filter), fire damper, volume damper serta untuk
pengukuran pada bagian-bagian penting ducting.
Pintu-pintu harus terbuat dari galvanized steel sheet mental gauge
(BJLS), dengan ukuran tidak kurang dari 20 US gauge standard
(BJLS 80), harus dapat menutup sempurna serta diberi karet
penyekat.

3.7.11. Lubang Pengetesan.


Kontraktor harus membuat lubang pengetesan (test connection)
dengan 0 12 mm pada setiap duct utama serta tempat-tempat lain
yang dianygap perlu untuk memungkinkan Pitot Tube.
Lubang tersebut harus ditutup dengan sumbat karet atau baut yang
bisa dilepas.

3.7.12. Air Extractor.


Kontraktor harus memasang "adjustable air extractor" pada semua
percabangan ke diffuser udara keluar yang dapat diatur dan dikunci
sesuai dengan gambar dan syarat teknisnya.

3.7.13. Sambungan Flexibel.


Kontraktor harus menyediakan dan memasang sambungan flexibel
(flexibel connection) diantara unit package dengan plenum duct.
Bahan sambungan flexibel adalah kanvas / deklit.
Pemasangan sambungan flexibel tidak boleh sambil mengurangi luas
penampang duct dan harus dalam satu garis lurus yang berjarak 15
sampai 25 cm, harus diikat rapat dengan strip metal yang kuat
sehingga tidak bocor.

3.7.14. Isolasi Bagian Dalam Duct Utama.


Bagian dalam dari duct utama udara sepanjang jarak tertentu (kurang-
lebih 2 meter dari plenum) harus diberi lapisan dalam (lining) dengan
styrofoam tebal 2,54 cm yang dipasang / diikat dengan klem seng
yang dipaku keling.

3.7.15. Diffuser/Grile.
Komponen yang dipasang harus sesuai dengan gambar rencana dan
syarat teknis.
132

Penempatan secepatnya harus harus sesuai dengan gambar rencana.


Diffuser/grille yang dipasang harus terbuat dari allumunium dan
memenuhi ADC standard 1062 R "Air Diffusing Equipment Test
Code", kecuali dinyatakan lain secara tersendiri. Noise criteria (NC)
level tidak boleh dari 50 dB.
Semua diffuser / grille dicat dengan warna sesuai kebutuhan dengan
persyaratan pengecatan khusus alumunium sehingga warna tahan
lama dan tidak mudah mengelupas.
Diffuser / grille ex COMFORT AIRE atau setara.

36.4. Pengujian

4.1. Sebelum dilakukan pengujian (testing & commissioning), kontraktor


diwajibkan menyerahkan prosedur untuk disetujui oleh Konsultan Manajemen
Konstruksi paling lambat 2 (dua) minggu sebelum jadwal pengujian dilakukan.
4.2. Semua pengujian dilakukan setelah sistem berjalan dengan balk secara
kontinyu selama 12 jam.
4.3. Pengukuran dan pengujian terakhir harus dilakukan setelah sistem sesuai
atau mendekati persyaratan teknis yang direncanakan.
4.4. Semua peralatan pengujian dan pengukuran harus tertera sebelum dan
setelah dipergunakan.
Alat uji dan ukur harus disediakan secara lengkap oleh Kontraktor.
4.5. Pengukuran dan pengujian harus dilakukan pada saat suhu udara luar
mencapai 29°C - 35°C.

Pasal 37
SPESIFIKASI TEKNIS
ELEVATOR

1.0. LINGKUP PEKERJAAN.


Pekerjaan ini mencakup semua pengangkutan, pengadaan bahan, tenaga kerja,
perlengkapan, alat-alat untuk pemasangan dan bekerjanya elevator dengan baik,
seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja dan/atau Spesifikasi Teknis ini.

2.0. STANDAR/RUJUKAN.
2.1.American National Standards Institute (ANSI).
2.2.National Fire Protection Association (NFPA).
2.3.National Elevator Industry Inc. (NEII).
2.4.Japanese Industrial Standard (JIS).
2.5.International Electrotechnical Commision (IEC).
2.6.Standar Industri Indonesia - SII-2407 - Syarat-syarat Umum Konstruksi Lift
Penumpang yang Dijalankan dengan Listrik.
2.7.Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL-2000).

3.0. PROSEDUR UMUM.

3.1. Data Teknis.


Sebelum pengadaan, semua data teknis/brosur semua bahan dan perlengkapan untuk
pekerjaan ini harus diserahkan kepada Pengawas Lapangan untuk dipelajari dan
disetujui.

Kontraktor harus membuat daftar bahan dan perlengkapan yang akan dipasang dan
harus menyerahkannya kepada Pengawas Lapangan untuk disetujui.
133

3.2. Gambar Detail Pelaksanaan.

3.2.1. Kontraktor harus berunding dengan Pengawas Lapangan atau mengacu


Gambar Kerja disiplin lainnya untuk menentukan lokasi yang tepat bagi
perlengkapan yang akan dipasang.
Kontraktor harus mendapatkan informasi ini dari Pengawas Lapangan
sebelum membuat Gambar Detail Pelaksanaan.
3.2.2. Kontraktor harus memeriksa kebutuhan ruang yang diperlukan secara
seksama dengan Kontraktor lain untuk memastikan bahwa peralatan
dan lainnya dapat dipasang di tempat yang telah ditentukan.
3.2.3. Gambar Detail Pelaksanaan harus diserahkan kepada Pengawas
Lapangan untuk disetujui sebelum pemasangan.
Gambar Detail Pelaksanaan harus mencakup hal-hal berikut :
 Dimensi, ukuran dan tata letak,
 Metoda pemasangan,
 Diagram pengkabelan.

Semua dokumen harus digambar sesuai dengan model/tipe yang


diserahkan dan disetujui Pengawas Lapangan.

3.3. Pengujian Pabrik.


3.3.1. Semua elevator berikut kelengkapannya harus diuji lebih dahulu di
pabrik pembuatnya.
3.3.2. Pengawas Lapangan dan wakil Pemilik Proyek harus diberi kesempatan
meninjau pabrik dan menyaksikan jalannya pengujian.
3.3.3. Semua elevator harus mendapatkan sertifikat laik operasi dari
Departemen Tenaga Kerja.

3.4. Pengiriman dan Penyimpanan.


3.4.1. Semua bahan dan perlengkapan yang didatangkan harus dalam
keadaan baik, baru, bebas dari segala cacat dan harus dilengkapi
dengan label, data teknis dan data lain yang diperlukan serta sertifikat
pengujian pabrik.
3.4.2. Semua bahan dan perlengkapan harus disimpan dalam kemasan
masing-masing dan harus bebas dari kerusakan dan kelembaban.

3.5. Garansi.
Kontraktor harus menyerahkan kepada Pemilik Proyek surat jaminan untuk
barang dan pemasangan selama 1 (satu) tahun, dimulai sejak pemasangan
dinyatakan berjalan dan berfungsi dengan baik. Selama periode ini Kontraktor
harus memperbaiki dan mengganti kerusakan yang ada dan membayar semua
biaya perbaikan dan/atau penggantian.

4.0. BAHAN-BAHAN.

4.1. Elevator / Lift Penumpang.


4.1.1. Elevator harus dari tipe traksi dengan karakteristik berikut :
 Kapasitas tidak kurang dari 1600 kg,
 Kecepatan sesuai ketentuan Gambar Kerja, 60 mpm,
 Produk yang digunakan buatan/merk Pilar,Sigma,Kone
4.1.2. Elevator harus memiliki pintu yang membuka ke arah samping, tampilan
indikator yang bagus, baik di dalam kabin maupun di lantai hall, mudah
dioperasikan lengkap dengan panel tombol dan penerangan yang nyaman.
4.1.3. Kecuali ditentukan lain, bagian dalam kabin dan pintu harus terbuat dari baja
pelat yang dicat dengan lantai baja pelat kembang yang dicat hitam.
134

4.1.4. Elevator harus dilengkapi dengan bingkai pintu bagian luar yang terbuat dari
baja pelat dicat dalam warna sesuai ketentuan, untuk melindungi balok di atas
pintu, kusen, panel indikator, dan tombol pemanggil.
4.1.5. Elevator harus dilengkapi dengan sistem pengoperasian dan peralatan sinyal
sebagai berikut :
· Pada saat tombol di hall atau tombol panggilan ditekan, tanda 'in
use/terpakai' menyala pada semua panel indikator.
· Kabin bergerak sesuai dengan panggilan pertama dan panggilan lain
tidak akan ditanggapi sampai kabin mencapai lantai tujuan.
· Ketika kabin sampai di tujuan, pintu akan membuka. Ketika pintu
menutup, tanda 'terpakai' tidak menyala, dan kabin akan menanggapi
panggilan berikutnya atau panggilan hall.

4.2. Spesifikasi elevator barang dapat dijelaskan sebagai berikut :


· macam lift : 1 Unit Passenger Elevator Roomless
· Merk : Pillar, Kone, Sigma, Hyundai
· Kapasitas orang : 1600 kg
· Pelayanan : 4 lantai dengan 4 stop / openings pada
arah pembukaan yang sama
· System operasi : menggunakan tombol-tombol tekan untuk
menggerakan kereta lift penumpang turun
dan naik (simplex full collective). Tombol-
tombol pengoperasian ini dipasang pada
dinding samping jamb.
· System control : AC Variable Voltage Variable Frequency
a) Jenis / bahan konstruksi : konstruksi baja profile untuk car frame,
platform, dan brake plat from didudukan
pada car frame dengan lapisan karet
peredam.
b) Jenis /bahan interior : stainless stell hairline
c) Lantai kereta : Luck Strong
d) Pintu kereta : automatic side opening door type terbuat
dari bahan stainless steel hairline .
Berukuran : 1100 mm (W) x 2200 mm
(H). Pintu tersebut dilengkapi dengan
interlock dan micro switch narrow jamb
sheet steel painted finish.

e) Kick plate : stainless steel hairline finish


f) Jamb : stainless steel hairline finish
g) Frame ceiling + penerangan : sheet steel painted finish / TL
indirect cover acrylic
· Peralatan operasi (COP) : pada dinding disamping pintu dalam
kereta berupa plat stainless steel
berisikan :
· Tombol-tombol permintaan
· Tombol intercom
· Tombol door close / door open
135

· Digital electronic position indicator


· Electric switch fan & light
· Emergency stop
· Power supply motor : 380 Volt; 3 phase; 50 Hz; 7.5 KVA
· Power supply lighting : 220 Volt; 1 phase; 50 Hz
· keterangan lain
a) buffer : spring buffer dipasang pada pit untuk
menekan gaya impact jika seandainya
kereta jatuh sehingga mampu menyerap
shock.
b) Limit switch : dua set ditempatkan pada ujung atas dan
bawah dari hoistway untuk menjamin
segala kemungkinan jika terjadi
overtravel, limit switch automatic akan
mematikan motor.
c) Interlock switch : pada tiap-tiap lantai untuk menjamin
semua pintu betul-betuk rapat sebelum
menjalankan lift penumpang.
d) Interphone : dihubungkan ke ruang operator
e) Kelengkapan : - emergency exit
- emergency light
- interphone
- overload device
- alarm buzzer
- directional arrow

4.3. Pekerjaan Elektrikal.


Bahan-bahan untuk pekerjaan elektrikal seperti kabel daya tahan api, kabel
kontrol, konduit dan lainnya harus sesuai dengan ketentuan Spesifikasi Teknis .

5.0. PELAKSANAAN PEKERJAAN.

5.1. Pemasangan.
5.1.1. Lokasi pemasangan harus sesuai ketentuan dalam Gambar Kerja.
5.1.2. Ruang mesin, ruang luncur berikut ruang luncur teratas (overhead), sumuran
dasar (pit), luang lari atap (top runby, luang lari bawah (bottom runby), ruang
aman bawah (pit safe clearance, ruang aman atas (overhead safe clearance)
dan jarak kerja (travel/rise), harus memiliki dimensi minimal dan bentuk sesuai
ketentuan dari pabrik pembuat elevator.
5.1.3. Kontraktor harus menyerahkan, memasang elevator baru sebagai suatu unit
lengkap dengan kabin, peralatan keamanan, pintu/lubang darurat, beban
pengimbang, motor, kabel, kipas dan pintu di setiap lantai, panel
pengoperasian, indikator dan kelengkapan tambahan lainnya sesuai standar
pabrik pembuat, seperti ditentukan dalam Spesifikasi ini.
5.1.4. Pemasangan harus mengikuti rekomendasi dari pabrik pembuat atau petunjuk
tertulis dan harus dipasang oleh tenaga kerja yang ahli dan berpengalaman.

5.2. Pemeliharaan dan Pengoperasian.


5.2.1. Kontraktor harus menyerahkan manual instruksi pengoperasian dan
pemeliharaan dari pabrik pembuat, dan jaminan-jaminan untuk kekeliruan
pengoperasian dan penggantian yang diperlukan serta suku cadang.
5.2.2. Kontraktor harus menyerahkan sertifikat pabrik dan ijin pengoperasian dari
Kementerian Tenaga Kerja,sertifikat bahan-bahan, penyelesaian dan
136

peralatan tersebut. Salinan sertifikat dan salinan dokumen yang telah


diserahkan sebelumnya tidak dapat diterima. Sertifikat pabrik pembuat harus
menyebutkan jenis produk, perlengkapan atau bahan, perwakilan atau
pemasok resmi.

Pasal 38
SYARAT-SYARAT TEKNIS
PEKERJAAN FIRE HYDRANT

38.1. UMUM
Syarat-syarat Teknis Pekerjaan Pemadam Kebakaran yang diuraikan di sini adalah
persyaratan yang harus dilaksanakan oleh Kontraktor dalam hal pengerjaan instalasi
maupun pengadaan material,dan peralatan, dalam hal ini Syarat-Syarat Umum
Teknis Pekerjaan Mekanikal / Elektrikal adalah bagian dari Syarat-Syarat Teknis ini.

38.2. Lingkup Pekerjaan


Yang dicangkup dalam pekerjaan ini adalah pengertian bekerjanya instalasi
pemadam kebakaran (fire hydrant sprinkler dan fire extinguisher) di dalam dan di luar
bangunan sebagai suatu sistem keseluruhan maupun bagian-bagiannya, seperti
yang tertera pada gambar-gambar mauipun yang dispesifikasikan.

Termasuk di dalam pekerjaan ini adalah pengadaan barang / material, instalasi dan
testing terhadap seluruh material.
Ketentuan-ketentuan yang tidak tercantum di dalam gambar maupun pada
spesifikasi / syarat-syarat teknis tetapi perlu untuk pelaksanaan pekerjaan instalasi
seluruh acara keseluruhan harus juda dimasukkarr ke daldrn pekerjaan ini.

Secara umum pekerjaan yang harus dilaksanakan pada proyek ini adalah

2.1. Pengadaan dan Pemasangan pipa-pipa fire hydrant lengkap beserta fitting-
fittingnya dan alat-alat bantunya.
2.2. Pengadaan dan pemasangan hydrant box, head sprinkler, hydrant pillar, fire
extinguisher, siamese connection, gate valve, check valve, safety valve, foot
valve, strainer, pressure switch, pressure gauge, fire departement connection
/ lading valve (valve untuk hubungan Dinas Pemadam Kebakaran setempat)
dan peralatan lainnya.
2.3. Pengadaan dan pemasangan pompa-pompa fire hydrant, antara lain
Electrical Main Pump, Jockey Pump beserta motor listriknya, diesel Pump,
Panel Fire Pump Controller clan slat-alatlconfrol lainnya.
2.4. Pengadaan dan pemasangan pressure tank (tangki tekan), lengkap berikut
accessoriesnya.
2.5. Pengadaan tenaga kerja beserta peralatan yang digunakan untuk
pelaksanaan instalasi.
2.6. Pengujian instalasi fire hydrant terhadap kebocoran dengan tekanan
hidrostatis, balk secara bagian (parsial) maupun secara keseluruhan (overall).
2.7. Pengujian sistem kerja fire hydrant secara keseluruhan dan mengadakan
pengamatannya, sampai sistem berfungsi dengan balk.
2.8. Pengangkutan bekas galian dan penimbunan kembali.

38.3. PERSYARATAN UMUM


3.1. Semua pekerjaan instalasi pemadam kebakaran seperti yang tersebut pada
lingkup pekerjaan di afas harus dilaksanakan dengan persetujuan Konsultan
Manajemen Konstruksi dan memenuhi semua persyaratan yang disyaratkan
oleh instansi yang berwenang.
137

3.2. Pemeriksanan instalsi Pemadam Kebakaran ini harus disesuaikan dengan


spesifikasi ini dan semua peraturan yang berlaku di Indonesia umumnya dan
wilayah dimana gedung ini dibuat pada khususnya.
3.3. Biaya pengadaan peralatan, perlengkapan / material untuk instalasi
pemadam kebakaran ini harus sudah termasuk bea masuk, perizinan, biaya
pemeriksaan oleh pejabat yang berwenang, biaya penyimpanagan (gudang)
dan biaya-biaya yang diperlukan untuk pengadaan perlengkapan pemadam
kebakaran juga biaya penyediaan peralatan bantu, testing & commissioning.
3.4. Sebelum melaksanakan pekerjaan instalasi, Kontraktor diwajibkan untuk
menyerahkan shop drawing mengenai jalur pemasangan pipa setepatnya
termasuk detail dan metoda penyangga (supproting), angkur (anchor), sleeve
dan lain sebagainya.

38.4. MATERIAL
4.1. Pipa.
Semua pipa, dari 0 1"-6", didalam gedung maupun di luar gedung dan branch
pipe (pipa cabang) dari bahan Galvanized Iron Pipe (GIP) yang mernenuhi
standar ASTM A-120 Schedule 40.

Pipa ex BAKRIE atau setara.

4.2.1. Fitting
Fitting pemipaan harus terbuat dari material dan kekuataan yang
sama denga pipa yang digunakan.
4.2.2. Valves
Seluruh valve dan flexsibel joint yang dipakai di pemipaan fire hydrant
harus dari jenis fire fighting valves yang mempunyai tekanan kerja 150
psi dan tekanan test 300 psi (kelas 150) serta dilengkapi dengan ball
dirp valve, automatic release valve, dichange pressure gauge dan
water level gauge device.
4.2.3. Pressure Gauge.
Pressure gauge harus mempunyai penunjuk skala dengan diameter
minimum 3" dengan skala 0 sampai 2 x tekanan kerja maksirnum (20
bar).

4.2.3. Paking (Gasket/Sealing Ring).


Paking harus dari ANSI kelas 150, terbuat dari karet gulungan
berspiral tebal minimal 3mm.
Diameter paking harus sesuai dengan diameter dan jenis flensa yang
akan digunakan.
Jumlah pengadaan paking harus dilebihkan 10 % dari jumlah yang
seharusnya diada-kan.

4.2.4. Flensa (Flange).


Flensa harus dari ANSI B16.5 kelas 150 jenis raised face dan
memenuhi standar ASTM A105. Flensa tipe slip-on harus memiliki
diameter yang sesuai dengan peralatan yang akan disambung.

4.2.5. Baut, Mur untuk Flensa.


Baut, mur lengkap dengan cincin per dan cincin pelat, harus terbuat
dari baja hitam kelas 8.8, dengan sistem ulir metrik, digunakan untuk
pemasangan flensa.
Diameter dan panjang baut harus disesuaikan dengan dimensi flensa.
Sisa ulir setelah pemasangan minimal 3 (tiga) ulir.
Jumlah pengadaan baut dan mur harus dilebihkan 10 % dari jumlah
yang seharusnya diadakan.
138

4.2.6. Katup Penahan (Check Valve).


Katup penahan harus dari tipe anti water hammer dengan tekanan
kerja 10kg/cm².

4.2.7. Katup Pelepas Udara (Air Release Valve).


Katup pelepas udara harus memiliki tekanan 10 kg/cm².

4.2.8. Katup Pengatur Tekanan (Pressure Reducing Valve).


Katup pengatur tekanan harus dari tipe yang memiliki tekanan yang
dapat diatur dengan tekanan masuk 10kg/cm². Buatan Versa /
Bermad (Amerika).
4.2.9. Flow Switch.
Flow switch harus memiliki tekanan kerja 10kg/cm² dengan kapasitas
aliran minimal 300 liter/menit, dibuat dari bahan stainless steel, dari
merek Johnson Control.

4.2.10. Flexible Joint.


Flexible joint harus terbuat dari serat sintetis (synthetic fiber) yang
dilapisi karet sintetis khusus, dilengkapi flensa dari bahan baja lunak,
dari tipe Twin-Sphere Connector, dengan diameter sesuai dengan
diameter peralatan yang akan disambung, buatan Tozen atau Proco.

4.3. Hydrant Box dan Fitting untuk Fire Departement.


4.3.1. Indoor hydrant box dilengkapi dengan hose rack, landing valve untuk
Fire Departement (Dinas Pemadam Kebakaran) 2 1/2" dengan bentuk
kopling yang sesuai, fire hose  1 Vz" sepanjang 30 meter don
nozzlenya.
4.3.2. Outdoor hydrant box dilengkapi dengan hose rack, fire  2-1/2 "
sepanjang 30 meter dan nozzlenya.
Box in harus dilengkapi dengan kunci dan kuncinya diletakan pada
sebuah kotak kaca pada pintu box tersebut.
4.3.3. Hydrant box dad merek APPRON atau setara.
4.3.4. Warna box merah gelap, di cat bakar.

4.4. Sprinkler.
Sprinkler yang terdiri dari tipe pendant, harus dari tipe yang bereaksi cepat
dan memiliki karakteristik sesuai standar pabrik pembuatnya, antara lain
sebagai berikut :
 Diameter minimal lubang saluran pada sprinkler 15mm.
 Terbuat dari bahan anti karat.
 Tipe pemasangan di langit-langit atau sesuai petunjuk Gambar Kerja,
lengkap dengan pelat dasar.
 Kepala sprinkler harus memiliki tabung gelas dengan cairan warna merah
yang akan bekerja pada temperatur 68C,

buatan Central.

4.5. Fire Extinguisher.


4.5.1. Fire extinguisher yang dipasang di dalam bangunan adalah jenis multy
purpose dry powfer (kelas ABC) dengan waktu penyemprotan yang
bisa diatur dan dilengkapi dengan pressure gauge.

Semprotan memanfaatkan tekanan seluruh tabung, tanpa cartridge.

Bahan powder : amonium phosphate dan amonium sulphate


Berat isi : 4,5 kg
139

Lama pancaran : 17 detik (min)


Jarak pancaran : 3-12 meter

4.5.2. Fire Extinguisher dari merk YAMATO

4.6. Hydrant Pillar dan Siamese Connection.


4.6.1. Hydrat pillar dan siamese connection yang digunakan adalah dari jenis
2 way 21/2". Koling disesuaikan dengan jenis kopling dinas kebakaran
setempat, lengkap,dengan tutup dan rantainya.
4.6.2. Selain ball valve pada outlenya, hydrant pilar juga harus dilengkapi
dengan main valve dan fasilitas drainnya.
4.6.3. Penawaran hydrant pilar dan siamese connection harus disertai brosur
lengkap den ditandai warna untuk pemilihannya (ex APPRON atau
setara).
4.6.4. Setiap hydrant pillar harus dilengkapi dengan sebuah outdoor hydrant
box lengkap dengan fire hose scpanjang 30 meter ber-diameter 21/2 "
dan nozzle ber-diameter 21/2".
4.6.5. Hydrant pilar, siamese connection dan outdoor hydrant box harus
dipasang di atas pondasi beton dan diberi angkur.

4.7. Pompa-pornpa.

4.7.1. Pompa Fire Hidyrant


Kontraktor harus memasang pornpa hydrant sesuai dengan gambar
rencana dan spesifikasi teknik yang terdiri atas :
- 1 (satu) unit automatically controlled electric motor driven main fire
pump.
- 1 (satu) unit automatically controlled electric motor driven jockey
pump.
- 1 (satu) unit automatically controlled diesel engine driven main fire
pump.

Pompa hydrant dipasang di dalam rumah pompa dan dilengkapi


dengan kontrol panel yang memenuhi peraturan NFPA.
a. Spesifikasi teknis main fire pump sebagai berikut :
Type : Horizontal multi stage centrifugal pump.
Statically and dynamically balanced Impeller.
Kapasitas : 135 USPGM (500 I/menit)
Total head : 70 meter
Efficiency : 70 % (minimum)
Stage : single
Daya motor : 30 kW
Voltage : 380 V / 3 ph / 50 Hz (rating belitan 380/660 V)
Pompa dan motor ex GAE atau setara.

b. Flow / head characteristic


- Pada kondisi shuf off (zero flow) tekanan tidak melebihi 20% x
total head.
- Pada kondisi aliran 150% dari kapasitas maka tekanan (head)
tidak kurang dari 65% x total head.
- Critical speed pompa / imppeler minimum 25% lebih besar dari
operating speed.
- Dicharge assembly harus dari bahan epoxy coated cast iron
atau SAE 63 Broze-Shaft top, shaft line, shaft coupling dan
shaft impeller harus dari bahan 18-18 stanless stell.
- Coloumn pipa harus dari bahan expoxy coated steel dengan
glagel 316 stainless steel.
140

- Bearing harus dari bahan SAE 63 Bronze.


- Bowl assembly dan immpeler harus dari bahan SAE 63 Bronze
Basket atau type strainer dari bahan SAE 63 Broze
- Merk yang ditawarkan harus disertai brosur dan diberi tanda
pewarnaan dengan stablio.

c. Electromotor dan panel controller.


- Electromotor harus mempunyai konfigurasi vertival hollow
shafr induction motor. Bearing harus dapat menahan beban
total hidroli dan beban statik dari putaran pompa. Motor dan
top drive coupling dan nut harus dapat diatur agar menjaga
terhadap putaran batik (pum back spin).
0
- Motor harus dari jenis TEFC class F Insulation, 80 C
temperatur rise, star-delta started dan bertahan untuk kondisi
tropis.
- Motor dimension setara dengan NEMA standart, dan National
Electric Standard.
- Motor harus dapat menjalankan pompa pada scmua duty point
sesuai dengan impeller yang terpilih dengan tanpa gangguan
over load.
- Motor controller harus memenuhi standar lokal dengan panel
yang kokoh, drip proff dan tanah lembab serta diberi label Fire
Pump Motor Controller.
- Bekerjanya pompa harus setara otomatis pada waktu tekanan
dalam pipa riser hidran turun, bila fire hoze nozzle dibuka atau
dari signal panel fire alarm.

Untuk mematikan pompa harus secara manual dan dilengkapi


swicth untuk manual start untuk menjalankan pada waktu
pengetesan.

d. Panel Kontrol.
Panel kontrol harus memenuhi standar lokal (dinas PMK
setempat), dibuat kokoh, serta diberi label Fire Controller Panel.

Merk yang ditawarkan harus disertai brosur yang diberi tanda


untuk pemilihannya.

e. Brosur
Brosure lengkap harus disertai dalam penawaran yang berisi
kurva-kurva karakteristik pompa dan gambar potongan pompa
yang menunjukkan susunan bagian dalam pompa dan pemilihan
type yang dipilih harus diberi tanda dengan warna yang jelas.
4.7.2. Pompa Jockey.
Kontraktor harus memasang pompa jockey hydrant sesuai dengan
gambar dan spesifikasinya yang terdiri atas 1 unit automatically
controlled electric motor driven pump.

Type : Horizontal multi stage centrifugal pump.


Kapasitas : 40 USPGM
Head : 70 meter
Efficiency : 70% (minimum)
Motor : 5,5 kW
Voltage : 380 V/ 3 phasa/ 50 Hz
141

Pompa Jockey harus dari type fire pump yang dipasang di ruang
pompa dan dihubungkan dengan pipa header hydrant dan tangki
tekan.

Pompa ini digunakan untuk memelihara kondisi tekanan air di dalam


pipa hydrant dengan interval tekanan yang dapat diatur dan pressure
switch serta menghindari frequent start and run.

a. Motor listrik dan peralatan harus memenuhi N.E.M.A. standart dan


Nr+tional Flectrir. Cnde.
b. Pompa harus bisa start otomatis berdasarkan penurunan tekanan
dalam sistem.
c. Start dan stop dari pada pompa bisa diatur dengan cara merubah
settting tekanan pada pressure switch, sehingga jockey pump
akan start pada tekanan yang lebih tinggi daripada main fire pump.
d. Pompa harus dilengkapi dengan pressure gauge dan peralatan
lainnya yang diperlukan agar sistem dapat diawasi kondisinya dan
bekerja efektif/efisien.

4.8. Pressure Tank.

Kapasitas : 1.00 liter


Tekanan : 15 kgf/cm2
Accessories : safety valve
pressure gauge
pressure switch
peil glass & gate valve warna : merah

pressure tank ini harus dapat mendapat sertiftikat dari DEPNAKER

38.5. Pipa Tegak (Riser)

6.1. Pipa Tegak (Riser).


Pipa dipasang dengan support dari besi / baja kanal serta U-klem sesuai
dengan  pipa.
Jarak antara support maksimal 3 m dan harus mempunyai jarak yang cukup
terhadap lantai untuk memudahkan pemasangan.

6.2. Pipa Mendatar (Cross Main / Branch).


Pipa dipasang dengan penggantung (hanger) sesuai dengan  pipa. Jarak
antara penggantungan yang satu dengan yang lain maksimum 2 meter.

Jarak antara pipa dengan dinding penggantung bisa disesuaikan dengan


keadaan lapangan.

6.3. Pemasangan Pipa.


Semua pipa dengan garis tengah sampai 2" (5 cm) dapat menggunakan
sambungan ulir (screw), ujung dalam pipa dan ulir tersebut harus di ream
agar gram yang ada di pipa hilang.
Semua pipa sebelum disambungkan, bagian dalamnya harus dibersihkan
terlebih dahulu.
Pipa yang disambung dengan ulir (screw) harus menggunakan seal tape agar
tidak bocor.
Pipa yang berdiameter 2 ½" ke atas harus memakai sambungan flens dan di
antara flens tersebut harus dipasang packing pencegah kebocoran.
142

38.6. PENGUJIAN
7.1. Pengujian terhadap Kebocoran dan Tekanan
Semua pipa dan perlengkapannya sesudah dipasany harus diuji dengan
hidrolis
sebesar 15 Kg/Cm2 selama 18 jam.
Selama pengujian berlangsung tidak boleh terjadi perubahan / penurunan
tekanan.
7.2. Peralatan dais fasilitas untuk pengujian harus disediakan oleh Kontraktor.
7.3. Saksi
Pengujian harus disaksikan oleh Konsultan Manajemen Konstruksi dan
Konsultan Perencana. Pengujian dilakukan dengan menjalankan seluruh
sistem atau aparat yang dipakai dalam menghadapi bahaya kebakaran.

38.7. SISTEM KERJA


8.1. Kontraktor harus memperbaiki segala cacat dan kekurangan-kekurangan
dengan biaya sepenuhnya ditanggung oleh Kontraktor.
8.2. Konsultan Manajemen Konstruksi berhak memnita pengulangan pengujian
bila dianggap perlu.
8.3. Semua biaya pengujian ataupun pengulangan pengujian merupakan
tanggung jawab Kontraktor.
8.4. Termasuk dalam biaya pengujian adalah pengadaan tenga listrik, bahan
bakar dan air.

38.8. PENGECATAN
9.1. Kontraktor harus mengecat semua pipa, rangka penggantungan raka
penyangga, semua unit yang dirakit di lapangan dan bahan-bahan yang
mudah berkarat dengan lapisan cat dasar (prime coating). Cat harus sesuai
dengan persyaratan pengecatan yang sesuai dengan bahan masing-masing.
9.2. Pengecatan tidak diperlukan bila alat-alat sudah dicat dipabriknya atau
dinyatakan lain dalam spesifikasinya atau untuk bahan aluminium.
9.3. Kontraktor harus memberikan tanda-tanda huruf dan nomor indentifikasi bagi
peralatannya dengan cat. Sebelumnya Kontraktor wajib memberitahukan
mengenai tanda-tanda yang hendak dipasang pada peralatan-peralatan itu
kepada Konsultan Manajemen Konstruksi.

38.9. PENYANGGA
10.1. Semua pipa-pipa mendatar harus ditumpu dengan baik. Penggantung harus
dipasang pada kontruksi dengan insert dengan gambar dokumen,
10.2. Hendaknya tidak ada pipa yang ditumpu atau digantung dengan pipa yang
lain.
10.3. Semua pipa tegak lurus harus ditumpu dengan besi U dengan  ½” yang
diulir dipasang / diikatkan dengan mur pada besi kanal C. Sebagai landasan
pipa digunakan kayu. Sedangkan besi kanal C diikatkan pada beton atau
balok dengan dynabolt. Jarak antar kleman maksimal 3 meter.

38.10. PEREDAM GETARAN (VIBRATION DAMPER)


Kontraktor harus menyediakan dan memasang peredam getaran (vibration damper)
sesuai dengan persyaratan pabriknya pada seluruh pompa yang dapat menghasilkan
getaran yang seminimum mungkin.
Untuk meredam getaran menjalar melalui pipa dipasang flexible connection jenis
double sphere.
Harga pekerjaan ini harus dimasukkan ke dalam harga penawaran pompa yang
bersangkutan.
143

38.11. PERALATAN LAIN


12.1. Kontraktor harus menyediakan dan memasang pengumpul kotoran pada
tempat-tempat rendah dan tertutup.
12.2. Kontraktor harus menyediakan dan memasang fitting untuk penempatan alat
ukur yang tidak akan dipasang tetap pada tempat-tempat yang penting untuk
keperluan pengukuran pada saat pengujian

Pasal 39
PEKERJAAN JALAN

A. PEKERJAAN PENGUKURAN

1. LINGKUP PEKERJAAN.
Pekerjaan ini meliputi semua pekerjaan pengukuran batas/garis dan elevasi
persiapan lahan dan pekerjaan pengukuran lainnya yang ditentukan dalam Gambar
Kerja dan/atau yang ditentukan Pengawas Lapangan dan termasuk penyediaan tim
ukur yang berpengalaman dan peralatan pengukuran lengkap dan akurat yang
memenuhi ketentuan.

2. PROSEDUR UMUM.

2.1. Data Standar Pengukuran.


Standar pengukuran berdasarkan poligon tertutup tiga titik koordinat dan patok akan
disediakan Pemilik Proyek dan akan menjadi patokan pengukuran yang dilakukan
Kontraktor.

Bila Kontraktor berkeberatan atas penentuan sistim koordinat tersebut, maka dalam
1 (satu) minggu setelah penentuan, Kontraktor dapat mengajukan keberatan secara
tertulis beserta data pendukung untuk kemudian akan dipertimbangkan oleh
Pengawas Lapangan.

2.2. Persyaratan Pengukuran.


Kontraktor harus melaksanakan perhitungan pengukuran dan pemeriksaan untuk
mendapatkan lokasi yang tepat sesuai Gambar Kerja dan harus disetujui Pengawas
Lapangan.

Setiap kali melakukan pengukuran, pemeriksaan ketepatan harus dilakukan dengan


Poligon Tertutup.

2.3. Patok/Bench Mark.


Kontraktor harus menjaga, melindungi patok standar pengukuran maupun patok-
patok yang dibuatnya.

Pemindahan patok, termasuk patok-patok yang dibuat pihak lain harus dihindarkan.
Mengikat pemindahan pada patok tidak diijinkan. Setiap kerusakan pada patok
harus dilaporkan kepada Pengawas Lapangan.
Kontraktor setiap waktu bertanggung-jawab memperbaiki dan mengganti patok
yang rusak. Biaya perbaikan patok menjadi tanggung jawab Kontraktor
sepenuhnya.

Penandaan harus jelas terbaca dan kuat/awet. Patok di tanah harus dilindungi
dengan pipa beton dan struktur lain dan harus bebas dari air dan tanah.
Kerangka horisontal harus dari pasak kayu, berukuran 5 cm x 5 cm panjang 30 cm,
ditanam dengan kuat ke dalam tanah, menonjol 2 cm di atas permukaan tanah
dengan paku di tengahnya sebagai tanda.
144

2.4. Tim Pengukur dan Peralatan.


Kontraktor harus menyediakan tim ukur yang ahli yang disetujui terlebih dahulu oleh
Pengawas Lapangan, dan mereka bertanggung jawab memberikan informasi dan
data yang berkaitan dengan pengukuran kepada Pengawas Lapangan. Kontraktor
harus menggunakan sejumlah peralatan pengukuran yang memadai, akurat dan
memiliki sertifikat dan disetujui Pengawas Lapangan.

3. PELAKSANAAN PEKERJAAN.

3.1. Perhitungan dan Catatan Pengukuran.


Catatan lengkap harus mencakup semua pengukuran lapangan, rapih dan teratur.
Pengukuran harus dengan jelas menyebutkan nama proyek, lokasi, tanggal, nama.
Buku yang dijilid harus digunakan untuk catatan.

Catatan lapangan yang terpisah harus dibuat untuk setiap katagori berikut :
• Pemeriksaan melintang.
• Ketinggian patok.
• Lokasi pengukuran.
• Konstruksi pengukuran.
• Potongan melintang.

Koordinat seluruh patok, titik pemeriksaan, dan lainnya harus dihitung sebelum
pengukuran.
Sketsa harus disiapkan untuk setiap patok pemeriksaan dan titik acuan yang
menunjukkan jarak dan azimut ke setiap titik acuan. Profil dan bidikan elevasi
topografi harus dilakukan dalam buku lapangan.
Semua catatan dan perhitungan harus dibuat permanen, dan dijaga di tempat yang
aman. Penyimpanan data lapangan yang tidak berlaku lagi dilakukan oleh
Pengawas Lapangan.

3.2. Pemeriksaan Ketepatan.


Semua elemen pengukuran, pemeriksaan dan penyetelan harus diperiksa
Pengawas Lapangan pada waktu-waktu tertentu selama pelaksanaan proyek.
Kontraktor harus membantu Pengawas Lapangan selama pemeriksaan pengukuran
lapangan.
Pengukuran yang tidak sempurna yang dikerjakan Kontraktor, harus diperbaiki dan
diulang tanpa tambahan biaya.
Kontraktor harus menjaga semua tanda dan garis yang dibutuhkan agar tetap
terlihat jelas selama pemeriksaan.

Setiap pemeriksaan yang dilakukan Pengawas Lapangan tidak membebaskan


Kontraktor dari seluruh tanggung jawabnya membuat pengukuran yang tepat untuk
kerataan, elevasi, kemiringan, dimensi dan posisi setiap struktur atau fasilitas.

B. MOBILISASI DAN DEMOBILISASI

1.0. LINGKUP PEKERJAAN


Mobilisasi dan demobilisasi harus segera dilaksanakan untuk melaksanakan
pekerjaan pengaspalan.

2.0. PERALATAN.
Alat-alat yang dipergunakan disesuaikan dengan kebutuhannya antara lain :
Aspalt Finisher
1. Aspalt Sprayer
2. Concrete Mixer
3. Dump truck 6-8 t
4. Dump truck 10-12 t
145

5. Tandem Roller 6-8 t


6. Peneumatic Tire Roller 8-10 t
7. Water Tank

3.0. PELAKSANAAN PEKERJAAN.


1. Alat alat tersebut harus sudah siap dilapangan.
2. Kondisi alat alat tersebut haus berfungsi degan baik.
3. Segala kerusakan yang diakibatkan kontraktor, adalah tanggung jawab
Kontraktor.
4. Selama pekerjaan ini berlangsung, tidak boleh mengganggu patok-patok yang
telah dipasang dan tetap.
5. Pengecatan Marka jalan atau tempat parkir harus dicat kembali dikarenakan
sebelumnya telah ada, menjadi tanggung jawab kontraktor.

C. PEKERJAAN PERKERASAN
1.0. LINGKUP PEKERJAAN.
Pekerjaan yang termasuk dalam Spesifikasi Teknis ini adalah seperti berikut
tetapi tidak terbatas pada :
1.1. Pekerjaan lapisan sub-base. Berupa urugan Sirtu
1.2. Pekerjaan lapisan base coarse.
1.3. Pekerjaan over-lay dengan aspal beton atau aspal penetrasi.
1.4. Penyediaan tenaga kerja terlatih, teknisi dan enjinir serta tenaga tak terlatih.
1.5. Penyediaan bahan-bahan, alat-alat kerja yang sesuai, mesin-mesin/peralatan,
unit pencampur aspal dan alat/mesin lain yang dibutuhkan dalam pekerjaan ini.
1.6. Persiapan pengupasan, perataan permukaan tanah, pengaturan kemiringan,
pemadatan permukaan tanah, penghamparan dan pemadatan lapisan sirtu
dan/atau batu pecah sesuai Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis ini.
1.7. Penghamparan beton aspal sebagai lapisan perataan permukaan/ levelling dan
lapisan penutup/overlay, dengan alat yang sesuai, dengan ketebalan dan pada
tempat-tempat sesuai Gambar Kerja.
2.0. STANDAR/RUJUKAN.
Pelaksanaan pekerjaan mengikuti persyaratan-persyaratan dari :

2.1. Peraturan Pelaksanaan Pembangunan Jalan .

3.0. PROSEDUR UMUM.


3.1. Contoh bahan untuk seluruh pekerjaan ini harus diserahkan terlebih dahulu kepada
Pengawas Lapangan, untuk diuji dan disetujui.
3.2. Setiap akan memulai tahapan pekerjaan, Kontraktor harus memberitahu secara
resmi kepada Pengawas Lapangan, paling lambat 3 (tiga) hari sebelum pekerjaan
dimulai.
Bila Kontraktor melaksanakan pekerjaan tanpa ijin dari Pengawas Lapangan,
maka segala ketidak-sesuaian dan kerusakan yang diakibatkan, sepenuhnya
menjadi tanggung jawab Kontraktor.
3.3. Setiap selesai melaksanakan tahapan pekerjaan, Kontraktor harus
memberitahukan kepada Pengawas Lapangan untuk melakukan pemeriksaan,
sebelum melanjutkan tahapan pekerjaan berikutnya.
3.4. Kontraktor harus menyerahkan daftar peralatan yang akan digunakan, yang
dilengkapi dengan jumlah dan kapasitas, untuk diperiksa kesesuaiannya dan
disetujui Pengawas Lapangan.

4.0. BAHAN-BAHAN.

4.1. Bahan Pekerjaan Lapisan Sub-base.


Bahan sirtu harus yang digunakan dibuat sedemikian rupa sehingga tidak terjadi
degradasi dan tergenang air/lumpur.
146

4.2. Bahan Base Coarse.


Bahan agregat harus terseleksi dari sumber yang disetujui. Dibutuhkan kelas
A Bahan agregat harus bebas dari lumpur dan kotoran lainnya yang merusak.
Susunan gradasi dari bahan agregat harus memenuhi persyaratan berikut :
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
SARINGAN | % BERAT YANG LOLOS
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
STANDAR (MM) | ALTERNATIF (INCI) | KELAS A | KELAS B
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
50 | 2" | 100 | 100
25 | 1" | 65 - 90 | 65 - 100
9,25 | 3/8" | 40 - 60 | 35 - 65
4,75 | No. 4 | 25 - 45 | 20 - 50
2,00 | No. 10 | 15 - 30 | 10 - 40
0,425 | No. 40 | 8 - 20 | 5 - 25
0,075 | No.200 | 5 - 12 | 2 - 15
| | |
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
4.3. Bahan Pekerjaan Beton Aspal.

Agregat Kasar.
Agregat yang digunakan bisa batu pecah atau kerikil dalam keadaan kering dengan
persyaratan sebagai berikut :
 Keausan agregat yang diperiksa dengan mesin Los Angeles pada 500 putaran
(PB.0206-76) harus mempunyai nilai maksimum 40% .
 Kelekatan terhadap aspal (PB.0205-76) harus lebih besar dari 95% .
 Indeks kepipihan agregat maksimum 25% (B.S.).
 Minimum 50% dari agregat kasar harus mempunyai sedikitnya satu bidang pecah.
 Peresapan agregat terhadap air (PB.0202-76) maksimum 3%.
 Berat jenis semu/apparent (PB.0202-76) agregat minimum 2,50.
 Gumpalan lempung agregat maksimum 0,25% .
 Bagian-bagian batu yang lunak dari agregat maksimum 5% .

Agregat Halus.
Agregat halus harus terdiri dari bahan-bahan yang berbidang kasar, bersudut tajam dan
bersih dari kotoran-kotoran atau bahan-bahan lain yang tidak dikehendaki.
Agregat halus bisa terdiri dari pasir bersih, bahan-bahan halus hasil pemecahan batu
atau kombinasi dari bahan-bahan tersebut dan dalam keadaan kering.

Agregat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :


 Nilai Sand Equivalent (AASHTO T-176) dari agregat harus minimum 50.
 Berat jenis semu/apparent (PB.0203-76) minimum 2,50.
 Dari pemeriksaan Atterberg (PB.0109-76) agregat harus non plastis.
 Peresapan agregat terhadap air (PB.0202-76), maksimum 3% .

Pengisi/Filler.
Sebagai pengisi dapat dipergunakan debu batu, debu dolomite atau semen portland.
Perlu diperhatikan agar bahan tersebut tidak tercampur dengan kotoran atau bahan lain
yang tidak dikehendaki dan dalam keadaan kering (kadar air maksimum 1%).

Gradasi dari mineral pengisi sebagaimana tertera di bawah ini :


---------------------------------------------------------------------------------------------
UKURAN SARINGAN BAHAN PENGISI
NO. (MM) % LOLOS
--------------------------------------------------------------------------------------------
No. 30 (0,59 mm) 100
No. 50 (0.279 mm) 95 - 100
No. 100 (0,149 mm) 90 - 100
No. 200 (0,074 mm) 70 - 100
--------------------------------------------------------------------------------------------
147

Gradasi agregat harus memenuhi ketentuan seperti tersebut pada tabel berikut.

No. Campuran : I, III, IV, VI, VII, VIII, IX, X dan XI digunakan untuk lapis permukaan.
No. Campuran : II digunakan untuk lapis permukaan, lapis perataan permukaan dan lapis
antara.
No. Campuran : V digunakan untuk lapis permukaan, dan lapis antara.
Kadar aspal normal untuk gradasi-gradasi pada tabel berikut berkisar antara 4% - 7%
(terhadap 100% agregat kering).

Aspal Keras.
Aspal yang digunakan dapat berupa aspal keras Penetrasi 60 atau Penetrasi 80
yang memenuhi persyaratan seperti tertera di bawah ini :
+-----------------------------------------------------------------------------------------------------+
| | |PERSYARATAN | |
| | CARA |------------------------------| |
|JENIS PEMERIKSAAN |PEMERIKSAAN |Pen. 60 | Pen. 80 | SATUAN |
| | |------------------------------| |
| | | Min.| Mak.| Min.| Mak. | |
|-------------------------------------------------------------------------------------------------------|
| 1. Penetrasi | PA.0301-76 | 60 | 79 | 80 | 99 | 0,1 mm |
| (25oC, 5 detik) | | | | | | |
|-------------------------------------------------------------------------------------------------------|
| 2. Titik lembek | PA.0302-76 | 48 | 58 | 46 | 54 | °C |
| (ring & ball) | | | | | | |
|-------------------------------------------------------------------------------------------------------|
| 3. Titik nyala | PA.0303-76 | 200 | - | 225 | - | °C |
| (clev.open cup) | | | | |
|-------------------------------------------------------------------------------------------------------|
| 4. Kehilangan berat | PA.0304-76 | - |0,4 | - | 0,6 | % berat |
| (163oC, 5 jam) | | | | | | |
|----------------------------------------------------------------------------------------------------|
| 5. Kelarutan | PA.0305-76 | 99 | - | 99 | - | % berat |
| (CCL4 atau CS2) | | | | | | |
|------------------------------------------------------------------------------------------------------|
| 6. Daktilitas | PA.0306-76 | 100 | - | 100 | - | cm |
| (25oC, 5 cm/menit) | | | | | | |
|-------------------------------------------------------------------------------------------------------|
| 7. Penetrasi setelah | PA.0301-76 | 75 | - | 75 | - |% semula |
| kehilangan berat | | | | | | |
|-------------------------------------------------------------------------------------------------------|
| 8. Berat Jenis | PA.0307-76 | 1 | - | 1 | - | gr/cc |
| (25oC) | | | | | | |
+------------------------------------------------------------------------------------------------------+

4.3.5. Aspal Cair Emulsi.

Untuk keperluan lapis resap pengikat/prime coat dipergunakan aspal cair jenis MC-30, MC-
70, MC-250 atau aspal emulsi jenis CMS, MS.

Untuk keperluan lapis pengikat/tack coat digunakan aspal cair jenis RC-70, RC-250 atau
aspal emulsi jenis CRS, RS.

4.4. Peralatan.

Peralatan Lapangan.

a. Alat Pemadat :
• Vibrator Roller
• Tandem Roller 4-6 ton
• Tandem Roller 8-10 ton
• Pneumatic Tire Roller 10-12 ton
148

b. Penghantar.
c. Dump Truck.
d. Asphalt Sprayer dan Asphalt Finisher.
e. Compressor.
f. Tangki Air.
g. Sekop, garu, sikat, balok kayu, roda dorong, dan alat bantu lainnya.
h. Hand Compactor.
Peralatan Pencampur Aspal.

a. Unit Pencampur Aspal/Asphalt Mixing Plant.


b. Sekop, pahat dan alat bantu lainnya.

5.0. PELAKSANAAN PEKERJAAN.

5.1. Persiapan Permukaan Tanah/Sub-grade.

Persiapan permukaan tanah harus dilaksanakan sesuai ketentuan Pasal 6.

5.2. Persiapan Lapisan Sub-Base.

5.2.1. • Lapisan tanah dasar sub-grade harus disiapkan sesuai dengan persyaratan sebelum
bahan sub-base ditempatkan di atas sub-grade.

• Pencampuran dan penghamparan :


Jika tidak ditentukan lain, Kontraktor dapat mencapur bahan sub-base dengan salah satu
cara seperti di bawah ini,

1. Stationary plant method :

Bahan dan air dicampur pada suatu mixer, air ditambahkan pada proses
pencampuran secukupnya sampai tercapai suatu kadar air yang baik untuk
dipadatkan, sehingga tercapai kepadatan yang diinginkan.
Setelah dicampur bahan diangkut ke lokasi pekerjaan lalu dihamparkan dengan
mesin penghampar spreader.

2. Travel plant method :

Setelah bahan untuk tiap lapisannya ditempatkan / dihamparkan dengan travelling


mixing plant, selama pengadukan air ditambahkan jika perlu secukupnya sampai
tercapai suatu kadar air yang diperlukan.

3. Road mix method :

Dihamparkan/ditempatkan, lalu diaduk pada kadar air yang diperlukan dengan


alat penghampar atau peralatan lainnya sampai campuran teraduk merata.

Bahan sub-base harus ditempatkan dan dipadatkan dalam lapis-lapis ketebalan pada
mana dapat tercapai derajat kepadatan yang diinginkan dengan peralatan
pemadatan yang sesuai/memadai dan dalam segala hal tidak boleh lebih dari 20 cm
tebalnya.
Jika lebih dari satu lapis, tiap lapis harus dibentuk dan dipadatkan sebelum lapis
berikutnya dihamparkan.
Penempatan/penghamparan dimulai pada suatu tempat yang ditentukan Pengawas
Lapangan. Penghamparan dilakukan dengan speader boxes atau kendaraan dengan
peralatan khusus untuk membagi/menghampar bahan secara continuous dan
merata setiap lapisnya.
149

• Penyelesaian dan pemadatan :

Sesudah penghamparan atau pengadukan bahan sub-base harus benar-benar


dipadatkan dengan menggilas dan menambah air, jika perlu. Diperlukan penggilas
yang cukup memadai yaitu dengan menggunakan alat vibratory rollers/ pneumatic tired
rollers / smoot wheel power rollers atau peralatan pemadatan lainnya yang telah
disetujui penggunaannya oleh Pengawas Lapangan.

Kapasitas/berat roller sedemikian sehingga dicapai hasil pemadatan yang memenuhi


persyaratan dengan nilai CBR minimal sebesar 30% dan derajat kepadatan sebesar
100% kepadatan maksimum yang ditentukan.
Penggilasan harus berlangsung tahap demi tahap dari tepi ke tengah ke arah jalur
yang sedang disusun dan tiap-tiap jalur dengan arah longitudinal harus digilas secara
berlapis/over-lapping paling sedikit setengah lebar unit penggilas.

Banyaknya gilasan yang diperlukan minimum 6 (enam) gilasan/passes atau lebih,


sehingga permukaan lapisan sub-base memiliki nilai CBR minimal 30%.
Penggilasan harus berlangsung sampai bahan itu tersusun dan stabil benar, serta
bahan sub-base telah dipadatkan sehingga kepadatannya adalah 100% kepadatan
maksimum pada kadar air optimum.

Sepanjang tempat-tempat yang tidak dapat dimasuki mesin penggilas, maka bahan
sub-base harus dipadatkan dengan alat-alat tumbuk mekanis atau tangan/tampers or
compactors, penggunaannya atas persetujuan Pengawas Lapangan.

Jika penggilas menghasilkan ketidak-rataan yang melebihi 12 mm apabila diuji


dengan tonggak lurus 3 m, maka permukaan yang tidak rata harus digusur untuk
kemudian ditimbun kembali dengan bahan yang sama seperti yang dipakai dalam
menyusun lapisan itu dan dipadatkan secara digilas lagi sampai padat dan merata.

Tebal lapisan sub-base yang selesai harus diperiksa dengan depth test/core test/hole
test yang diadakan pada jarak tertentu sehingga setiap luas 250 m persegi ada satu
pengujian. Kontraktor harus mengisi lubang-lubang pengujian itu atas biaya sendiri dan
akan diawasi oleh Pengawas Lapangan. Jika susut tebal itu lebih dari 12 mm,
Kontraktor diharuskan memperbaiki daerah itu.

Pekerjaan pada lapisan sub-base tidak boleh dilaksanakan jika sub-grade dalam
keadaan basah.

Pekerjaan sub-base yang telah selesai harus dirawat dan dijaga.

5.3. Persiapan Lapisan Base-coarse.

Perlengkapan.

Semua perlengkapan yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan ini harus


dalam keadaan siap/tersedia untuk bekerja dan disetujui oleh Pengawas
Lapangan sebelum pelaksanaan itu dimulai.
Permukaan sub-base harus bersih dari debu, lempung atau bahan-bahan yang merugikan,
sebelum bahan base-course ditempatkan/dihamparkan.

Pencampuran, penempatan dan penghamparan.

Cara-cara pada bagian II.2.C (3) dapat dipakai. Kecuali cara penempatan lapisan base-
course harus dilaksanakan berlapis yang tebalnya setiap lapis setelah dipadatkan tidak
minimal 6 cm atau lebih dari 12 cm.
Gradasi aggregate yang sudah ditebarkan harus seragam dan tidak mengandung
pecahan-pecahan atau unsur-unsur yang halus ataupun kasar pada suatu tempat.
Aggregate dimaksud tidak boleh ditebarkan melebihi 1.500 m persegi sebelum digilas
kecuali jika diperkenankan oleh Pengawas Lapangan.
150

Penyelesaian dan pemadatan.

Konstruksi base-course dikerjakan berlapis-lapis tiap lapis maksimum 12 cm


tebal padat sesudah dipasang dan digilas. Nilai CBR minimal lapisan base-course
ini harus 70% .

Untuk pemadatan dapat digunakan 'smooth wheel rollers' dengan berat 8-12 ton,
pemadatan dilaksanakan sedemikian sehingga tercapai struktur yang homogen dan jika
perlu dengan penambahan air secukupnya sesuai dengan kebutuhan supaya dapat
tercapainya pemadatan yang optimal.

Penggilasan harus berlangsung dari tepi ke tengah.

Penggilasan dari jalur ke jalur harus over lapping seperti pada penggilas
lapisan sub-base. Apabila penggilasan itu menghasilkan ketidak-rataan
melebihi dari 10 mm, jika diuji dengan tongkat lurus 3 meter panjang, maka
permukaan yang tidak rata harus dibongkar, kemudian ditimbun kembali dengan
bahan yang sama yang dipakai untuk pembuatan lapisan itu, lalu digilas sampai
kepadatan yang disyaratkan, perbaikan dan penggantian tersebut atas beban
biaya Kontraktor.

Sepanjang tempat yang tidak dapat dimasuki mesin gilas, bahan base-course ditumbuk
secara baik dan alat-alat tumbuk mekanis/mechanical tampers/compactors.

Penggilasan dilaksanakan sedemikian rupa, sehingga mencapai kepadatan dimana akan


memberikan hasil nilai CBR minimal sebesar 70%.

Pemeliharaan.

Setelah lapisan aggregate base selesai, Kontraktor harus melakukan semua pekerjaan
pemeliharaan yang diperlukan untuk menjaga agar lapisan aggregate base tetap dalam
keadaan yang baik dan memuaskan untuk menerima lapisan pasir/bedding sand. Lapisan
aggregate base harus dalam keadaan kering pada setiap saat.

Apabila pembersihan dianggap perlu atau apabila permukaan terganggu, maka pekerjaan
yang bersifat memulihkan harus diadakan atas biaya Kontraktor sendiri.

5.4. Pekerjaan Beton Aspal.

Perencanaan Campuran.

Untuk mendapatkan campuran beton aspal yang baik perlu dilakukan perencanaan
campuran.

Data perencanaan yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :

• Jenis agregat,
• Gradasi agregat,
• Mutu agregat,
• Jenis aspal keras,
• Rencana tebal lapisan,
• Jenis bahan pengisi.

Persentase aspal (dalam berat) yang akan ditambahkan pada agregat kering, ditentukan
berdasarkan pemeriksaan laboratorium.

Melalui metoda Uji Marshall akan diperoleh kadar aspal optimal yang harus memenuhi
persyaratan-persyaratan berikut.
151

+------------------------------------------------------------------------------ +
| Kepadatan LL | | | |
| | Berat | Sedang | Ringan |
|Jenis Pemeriksaan | | | |
|------------------------------------------------------------------------------|
| | | | |
| Stabilitas (Kg) | 750 | 650 | 460 |
| | | | |
| Kelelehan (mm) | 2-4 | 2-4,5 | 2-5 |
| | | | |
| % Rongga dalam | 3-5 | 3-5 | 3-5 |
| campuran | | | |
| | | | |
| % Rongga terisi | 75-82 | 75-85 | 75-85 |
| aspal | | | |
| | | | |
| Jumlah Tumbukan |2 x 75 | 2 x 50 | 2 x 35 |
| | | | |
+------------------------------------------------------------------------------ +

Pengambilan Contoh di Lokasi Unit Pencampur Aspal.

Pengambilan contoh campuran dilakukan minimal satu kali setiap hari produksi,
kecuali ditentukan lain oleh Pengawas Lapangan.

Produksi Campuran.

Perbandingan bahan campuran harus sesuai dengan rencana campuran.


Pencampuran harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya sampai bahan
tercampur baik dan merata.

Agregat dipanaskan maksimal sampai suhu 175°C. Suhu aspal < suhu agregat,
dengan perbedaan maksimal 15°C.

Suhu campuran ditentukan oleh jenis aspal yang digunakan, dengan


ketentuan sebagai berikut :

• untuk penetrasi 60 130°C - 165°C,


• untuk penetrasi 80 124°C - 162°C.

Persiapan Lapangan.

Sebelum penghamparan dilaksanakan, permukaan yang akan diberi beton


aspal, harus memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

• Bentuk permukaan ke arah memanjang dan melintang harus telah dipersiapkan


sesuai dengan Gambar Kerja.
• Permukaan harus bebas dari bahan-bahan yang tidak dikehendaki seperti
debu dan bahan-bahan lepas lainnya.
• Permukaan yang tidak menggunakan bahan pengikat (beraspal) harus
cukup lembab (tidak terlalu kering). Permukaan yang menggunakan bahan
pengikat harus kering.
• Permukaan yang tidak menggunakan bahan pengikat, harus diberi lapis
resap/prime coat, sebanyak 0,6-1,5 l/m², sesuai dengan Peraturan
Pelaksanaan Pembangunan Jalan Raya edisi terakhir.
• Permukaan harus diberi lapisan pengikat/tack coat sebanyak maksimal 0,5
l/m², sesuai dengan Peraturan Pelaksanaan Pembangunan Jalan Raya edisi
terakhir.
152

Pengangkutan.

• Pengangkutan dilakukan dengan dump truck dengan bak terbuat dari metal,
rapat, bersih dan telah disemprot dengan air sabun, bensin atau larutan kapur
untuk mencegah melekatnya aspal pada bak dump truck.
• Selama pengangkutan, campuran aspal harus ditutup dengan terpal, untuk
melindungi dari pengaruh cuaca.

Penghamparan.

• Penghamparan dilakukan untuk 2 (dua) jenis lapisan, yaitu lapisan perataan


permukaan dan lapisan penutup, atau sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja.
• Penghamparan dimulai dari posisi terjauh dari kedudukan Unit Pencampur
Aspal.
• Hamparan disesuaikan dengan ketebalan dalam Gambar Kerja, dan
kemiringan/super elevasi yang ditetapkan.
• Campuran aspal harus dihampar pada suhu minimal 115°C.
• Penghamparan dilakukan dengan menggunakan mesin penghampar yang
telah disetujui.

Pemadatan.

Pemadatan adalah tahapan pekerjaan akhir dari serangkaian kegiatan


pembuatan lapisan konstruksi jalan yang harus diawasi terus-menerus,
dengan urutan pekerjaan sebagai berikut :

• Pemadatan awal dilakukan pada suhu minimal 110°C, menggunakan


mesin gilas roda tiga/tandem roller 4 - 6 ton sebanyak dua sampai empat
lintasan pada kecepatan 3 - 4 km/jam.

• Segera setelah pemadatan pertama selesai, dilakukan pemadatan dengan


menggunakan mesin gilas roda karet/pneumatic tire roller berat 10 - 12 ton
dengan tekanan angin 70-80 psi pada kecepatan 5 - 10 km/jam.

• Pemadatan berakhir sampai alur-alur bekas roda pemadat hilang, dengan


kecepatan 5 - 8 km/jam.

Pada saat suhu minimal 60°C atau sedikit di atas titik leleh aspal yang digunakan,
pemadatan harus sudah berakhir.

Cara pemadatan adalah seperti berikut :

• Pada jalan lurus, pemadatan dimulai dari tepi perkerasan sejajar as jalan
menuju ke tengah.

• Pada tikungan, pemadatan dimulai dari bagian yang rendah sejajar as jalan
menuju ke bagian yang tinggi.

• Pada bagian tanjakan dan turunan harus dimulai dari bagian yang terendah
sejajar as jalan menuju ke bagian yang tinggi.

• Untuk mencegah pelekatan campuran aspal pada mesin gilas, roda mesin
gilas harus dibasahi dengan air.
153

Sambungan-sambungan.

Penghamparan dan pemadatan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak


terlalu banyak terjadi sambungan-sambungan.
Bila sambungan harus diadakan, hendaknya diperhatikan agar dicapai
pelekatan yang sempurna dan dengan ketebalan yang sama.
Dalam penempatan campuran aspal baru terhadap lapisan yang telah digilas,
hendaknya diusahakan bahwa bidang kontak harus vertikal (dengan cara lapisan
lama dipotong tegak lurus) dan pada bidang vertikal tersebut harus diberi lapis
pengikat/tack coat untuk menambah daya lekat pada sambungan.

Pengawasan Saat Penghamparan.

Pengawasan saat penghamparan meliputi :


• Pemeriksaan jumlah dan kerataan lapis pengikat.
• Pemeriksaan kerataan, kemiringan, sambungan-sambungan, tebal hamparan
dan suhu hamparan yang akan dipadatkan.
• Pemeriksaan suhu setiap pemadatan, cara pemadatan dan hasil pemadatan.

Jalan beton aspal dapat dibuka untuk lalu lintas kecepatan rendah setelah
pemadatan akhir selesai dan suhu telah di bawah titik lembek aspal (sesuai
dengan jenis aspal yang digunakan) atau sekitar + 2 (dua) jam. Dibuka untuk lalu
lintas penuh setelah 4 (empat) jam.

Pasal 40
PEKERJAAN TATA HIJAU (LANSEKAP)

1. LINGKUP PEKERJAAN

Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu
yang dibutuhkan untuk pelaksanaan pekerjaan ini guna mendapatkan hasil yang baik.

Pekerjaan lansekap yang dilaksanakan meliputi semua pekerjaan yang tertera dalam
gambar rencana dan sesuai petunjuk-petunjuk Waspang pekerjaan tersebut meliputi :
• Pekerjaan penanaman
• Pekerjaan perawatan / pemeliharaan taman

2. PERSYARATAN PEKERJAAN LANSEKAP

a. Semua pekerjaan dilaksanakan dengan mengikuti petunjuk-petunjuk dan syarat-syarat


pekerjaan lansekap, peraturan dan syarat-syarat pemakaian bahan bangunan yang
berlaku, standar spesifikasi dan bahan yang dipergunakan dan sesuai dengan
petunjuk yang diberikan oleh Waspang.

b. Sebelum melaksanakan setiap pekerjaan di lapangan untuk memperhatikan koordinasi


kerja dengan pekerjaan lain yang menyangkut pekerjaan struktur, arsitektur,
mekanikal, elektrikal dan plambing.Terutama dalam melakukan pekerjaan
pembentukan tanah dan penyelesaian tanah, agar tidak terjadi kesalahan,
pembongkaran, pengurugan yang tidak diinginkan terhadap pekerjaan yang lain yang
telah selesai dilaksanakan maupun yang sedang dilaksanakan.

3. PEKERJAAN PENANAMAN

a. Lingkup Pekerjaan.
- Penanaman rumput
- Penanaman pohon peneduh / pelindung seperti tercantum dalam gambar rencana.
154

b. Persyaratan Pekerjaan Penanaman.


- Dalam hal melaksanakan pekerjaan persiapan, pembentukan dan pembersihan
tanah jauh sebelum penggalian lubang tanaman harus sudah dilaksanakan dengan
mengikuti semua petunjuk gambar, uraian dan syarat yang tertulis.

- Pemasangan patok-patok berikut dengan keterangan koordinat posisi perlu


dilaksanakan terutama untuk patokan penanaman awal setiap jenis tanaman.

Patokan diambil berdasarkan pengukuran yang tertarik dari as-as bangunan yang
terdekat/ patokan-patokan yang ada dalam tapak.

- Segala perubahan letak tanaman di lapangan yang menyimpang dari ketentuan


gambar rencana disebabkan keadaan lapangan, harus sepengetahuan dan
mendapat persetujuan dari Waspang.

c. Jenis Tanaman Perdu/Penutup Tanah yang ditanam adalah :


• Rumput Gajah mini, ditanam sesuai gambar rencana. Penanaman dalam bentuk
rumpun.

d. Tanaman Penenuh adalah Penanaman Palem Ekor Tupai sesuai dengan gambar
kerja.

- Palm atau jenis tanaman lainnya atau sesuai gambar rencana ditanam sebagai
pohon peneduh / pelindung harus bebas dari segala penyakit dan hama,
daun/cabang, jangan sampai cacat dan harus tumbuh sehat.

- Pembungkusan ball root harus dengan karung goni dan diikat dengan erat untuk
mencegah pecahnya akar dalam pengangkutan.

- Tanah urugan yang dipakai adalah jenis tanah subur. Tanah urug ini harus bersih
dari bekas bahan bangunan, batu-batuan, rumput dan tanaman.

- Tanah urug dicampur pupuk kandang sapi yang telah kering dan matang dengan
perbadingan jumlah yang sama (1 tanah : 1 pupuk). Campuran ini diurugkan ke
dalam galian.

- Jenis rumput gajah ditanam berupa gebalan sepenuh lubang-lubang grass block atau
pada halaman dimana tempat yang ditanaminya sesuai dengan gambar. Sebelum
penanaman, permukan tanah urug telah dipersiapkan dan diratakan sesuai peil
permukaan yang dkehendaki.

- Semua penanaman sebaiknya dilakukan pada sore hari atau setelah pukul 15.30
agar tidak banyak terjadi penguapan dan kekeringan yang terlampau cepat bagi
tumbuh-tumbuhan tersebut kecuali penanaman yang dilakukan ditempat yang
terlindung dari matahari langsung dapat dilakukan setiap saat.

4. PEMELIHARAAN TANAMAN

a. Pemeliharaan tanaman ini disesuaikan dengan sifat dan jenis tanaman yang ditanam.
Penggantian tanaman harus sesuai jenis / bentuk / warna daun dan bunga dengan
apa yang telah ditentukan dan tertanam serta harus dengan persetujuan Konsultan
Pengawas.

b. Penyiraman dilakukan dengan air bersih yang bebas dari segala bahan organik / zat
kimia/ bahan lain yang dapat mengganggu dan merusak, pertumbuhan tanaman.
155

c. Penyiraman tanaman dilakukan :


Dua kami sehari secara teratur bagi semua jenis tanaman dan rumput yang baru
ditanam dan semua jenis tanaman dalam penyimpanan sementara sebelum pukul
10.00 dan sore hari sesudah pukul 15.30 sampai tanaman-tanaman tersebut tumbuh
sehat dan kuat.

Untuk semua jenis tanaman dan rumput yang sudah terlihat tumbuh baik dan kuat
disiram satu kali sehari pada sore hari setelah pukul 15.30.

Banyaknya air penyiraman harus cukup sampai membasahi bawah permukaan tanah.
Bagi tanaman yang masih terlihat cukup basah tanahnya pada sore hari untuk
penyiraman pada saat ini tak perlu dilakukan.

Tidak diperkenankan tanah bekas siraman terlihat tergenang air. Air harus dapat
terserap baik oleh tanah di sekitar tanaman.

d. Penyiangan
Penyiangan ini harus dilakukan secara teratur tiap satu bulan sekali bagi tanaman
pohon dan rumput yang tertanam.
Untuk tanaman rumput, penyiangan ini perlu dilakukan untuk mencabut segala
tanaman liar dan jenis rumput yang berbeda dengan jenis rumput yang ditanam. Alat
yang dipakai adalah pancong atau cangkul garpu kecil.

e. Penggantian Tanaman
Kontraktor wajib mengganti setiap kali jika ada tanaman hias, pohon peneduh dan
rumput yang rusak atau mati.

Semua penggantian dengan tanaman dan rumput baru adalah menjadi tanggung
jawab Kontraktor sampai masa pemeliharaan yang ditentukan berakhir.
Penggantian tanaman harus sesuai dengan jenis / bentuk / warna daun dan bunga
dengan apa yang telah ditentukan dan tertanam serta harus dengan persetujuan
Pengawas.

Penggantian tanaman dan rumput harus dilaksanakan dengan sebaik mungkin jangan
sampai merusak tanaman dan rumput lain disekitarnya pada saat mencabut dan
menanam yang baru.

Penyemprotan hama dan jamur dilakukan secara bergantian. Untuk penyemprotan


dari jenis obat yang berbeda jangan dilakukan sekaligus tetapi beda waktu selang 2
minggu.

Pasal 41
PEKERJAAN PEMBONGKARAN, PENGAMAN & PEMBERSIHAN
SETELAH PEMBANGUNAN

1. Pembersihan Tapak konstruksi dan pada semua pekerjaan yang termasuk dalam
Lingkup Pekerjaan seperti tercantum di Gambar Kerja dan terurai dalam Buku RKS ini
dari semua barang atau bahan bangunan lainnya yang dinyatakan tidak digunakan lagi
setelah pekerjaan selesai menjadi tanggung jawab Kontraktor bersangkutan selesai.
2. Semua bekas bongkaran bangunan "Existing" pohon dan sebagainya, harus dikeluarkan
dari Tapak/Site konstruksi.
3. Selama pembangunan berlangsung, kontraktor harus menjaga keamanan
bahan/ material, barang maupun bangunan yang dilaksanakannya sampai tahap serah
terima.
156

Pasal 42
PEKERJAAN LAIN-LAIN

1. Selain persyaratan teknis yang tercantum di atas, pemborong diwajibkan pula


mengadakan pengurusan antara lain :
a. Pengurusan dan pembuatan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang dilengkapi
dengan UPL-UKL dari Pemda setempat.
Surat IMB harus sudah diserahkan kepada Pejabat Pembuat Komitmen
sebelum Serah Terima pekerjaan Pertama.
b. Surat bukti keer listrik/pengetesan dari PLN dan pengetesan instalasi mekanikal.

2. Pemborong wajib menyerahkan bahan penutup atap sebanyak + 10 m2 sebagai reserve.


3. Hal-hal yang timbul pada pelaksanaan yang memerlukan penyelesaian di lapangan akan
akan dibicarakan dan diatur oleh Konsultan Pengawas dan Kontraktor, bila diperlukan
akan dibicarakan bersama Konsultan Perencana.
4. Sebelum penyerahan pertama, kontraktor wajib meneliti semua bagian pekerjaan yang
belum sempurna, dan harus diperbaiki, semua ruangan harus bersih dipel, halaman
harus ditata rapih dan semua barang yang tidak berguna harus disingkirkan dari proyek.
5. Selama pemeliharaan, pemborong wajib merawat, mengamankan dan memperbaiki
segala cacat yang timbul, sehingga sebelum penyerahan kedua dilaksanakan pekerjaan
benar-benar telah sempurna.

Pasal 43
PENUTUP

Segala sesuatu yang belum tercantum di dalam Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
ini, akan ditentukan kemudian pada Rapat Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing) dan akan
dimuat dalam Berita Acara Rapat Penjelasan

Bandung, 29 Maret 2019


Pejabat Pembuat Komitmen

Ttd

Dr. H. Tedi Priatna, M.Ag.


NIP. 197008301998021001