Anda di halaman 1dari 49

RUTE PEMBERIAN

PARENTERAL
AMELIA FEBRIANI, M.Si., Apt
ISTN-2018
1. Rute Intradermal (ID)
2. Rute Subkutan (Sc)
3. Rute Intramuskular (IM)
4. Rute Intravena (IV)
5. Rute Intraarteri
6. Rute Lain
1. Rute Intradermal (ID)

• Injeksi kedalam corium, yang merupakan lapisan kulit


yang lebih vascular dibawah kulit. Lokasi biasanya di
permukaan anterior dari lengan.
• Untuk obat diagnostik dan beberapa vaksin imunisasi
• Volume larutan yang disuntikkan biasanya dalam
jumlah kecil, hanya 0,1 mL untuk sekali pakai.
• Jarum suntik pendek (3/8 inchi) dan sempit (ukuran
23-26 gauge). Jarum suntik disisipkan secara
horizontal ke dalam kulit dengan serongan
menghadap keatas
• Absorpsi melalui rute ini lambat, menyebabkan hasil
kerja onset obat pun lambat.
2. Rute Subkutan (Sc)

• Injeksi dibwah permukaan kulit yang umumnya dilakukan di


jaringan interstitial longgar lengan, lengan bawah, paha atau
bokong.
• Tempat suntikan berbeda bila disuntikkan secara terus
menerus
• Volume suntikan 2 ml.
• Panjang jarum suntik 5/8 atau 7/8 inci yang berukuran 21-
26 gauge
• Obat-obat yang mengiritasi atau berbentuk suspense kental
sebaiknya tdk diberikan secara sc karena dapat
menimbulkan sakit, abses dan lecet.
• Respons obat yang diberikan dengan cara ini lebih cepat
daripada respons obat yang diberikan secara intradermal.
3. RUTE
INTRAMUSKULAR (IM)

• Injeksi kedalam otot rangka. Pada orang dewasa pada ¼


bagian atas otot gluteus maksimus (bokong) . Pada bayi
dan anak-anak di otot deltoid (di lengan atas) atau di
otot midlateral ( di paha atas)
• Volume pemberian maksimal 5 mL (di otot gluteal) dan
2 ml (otot deltoid)
• Absorpsi melalui rute intramuscular berlangsung lebih
cepat daripada rute subkutan,
• Larutan air atau minyak atau suspense bahan obat dapat
diberikan secar im
4. Rute Intra (IV)

• Larutan bervolume besar atau kecil dapat diberikan ke dalam vena untuk
mendapatkan efek lebih cepat
• Hasilnya dapat diperkirakan, tetapi pemberian melalui rute ini potensial
berbahaya Karena tidak dapat mundur begitu obat sudah diberikan
• Larutan obat yang mengiritasi dapat diberikan menurut rute ini Karena
terjadi pengenceran secara cepat oleh darah dan cairan intravena dapat
diberikan sebagai pengencer
• Metode pemberian ini tidak terbatas pada vol dan jumlah serta lokasi,
menyebabkan cara ini mudah dilakukan.
• Obat-obat yang diberikan secara i.v harus berupa larutan air, bercampur
dengan darah dan tidak mengendap. Tidak boleh dalam entuk suspensi atau
emulsi sebab akan menyumbat pembuluhdarah vena tersebut
5. Rute Intraarteri

• Rute intraarteri tidak sering digunakan.


• Alasan lazim untuk memanfaatkan rute intraarteri adalah
memasukkan material radio opak (bahan kontras) untuk tujuan
diagnostic, seperti untuk arteriogram.
• Beberapa obat neoplastic seperti metotreksat diberikan melalui rute
ini.
• Selain itu, kemungkinan terjadi spasmus arteri yang selanjutnya
dapat diikuti oleh gangrene merupakan bagian (resiko) dari
penyuntikan dengan cara ini.
6. Rute Lain
.
1. Injeksi intrakor / intrakardial ( i.kd )
• Disuntikkan langsung ke dalam otot jantung atau ventriculus, tidak boleh
mengandung bakterisida, disuntikkan hanya dalam keadaan gawat.
2. Injeksi intratekal (i.t), intraspinal, intrasisternal (i.s), intradural ( i.d ),
subaraknoid.
• Disuntikkan langsung ke dalam saluran sumsum tulang belakang pada dasar otak (
antara 3 -4 atau 5 - 6 lumbra vertebrata ) yang ada cairan cerebrospinalnya. Larutan
harus isotonis karena sirkulasi cairan cerebrospinal adalah lambat, meskipun larutan
anestetika sumsum tulang belakang sering hipertonis. Jaringan syaraf di daerah
anatomi disini sangat peka.
3.Intraartikulus
• Disuntikkan ke dalam cairan sendi di dalam rongga sendi. Bentuk
suspensi / larutan dalam air.
4.Injeksi subkonjuntiva
• Disuntikkan ke dalam selaput lendir di bawah mata. Berupa suspensi /
larutan, tidak lebih dari 1 ml.
5. Injeksi intrabursa
• Disuntikkan ke dalam bursa subcromillis atau bursa olecranon dalam
bentuk larutan suspensi dalam air.
6.Injeksi intraperitoneal ( i.p )
• Disuntikkan langsung ke dalam rongga perut. Penyerapan cepat ; bahaya
infeksi besar
7.Injeksi peridural ( p.d ), extradural, epidural
• Disuntikkan ke dalam ruang epidural, terletak diatas durameter, lapisan
penutup terluar dari otak dan sumsum tulang belakang.
Bentuk Sediaan Parenteral
Sediaan
Sediaan Sediaan parenteral
parenteral Vol. parenteral Vol. berbentuk serbuk
Kecil (Svp) Besar (Lvp) untuk
direkonstitusi
1. Sediaan parenteral vol. kecil (Spv)

• Termasuk kategori ini adalah ampul 1 mL, 3 mL, 5


mL, dan 20 mL serta vial 2 mL, 5 mL, 10 mL, 15 mL,
20 mL, dan 30 mL.
• Sediaan ini dapat digunakan untuk penyuntikan
secara intramuscular, intravena, intradermal,
subkutan, intraspinal, dan intrasisternal atau
intratekal
2. Sediaan parenteral vol. besar (LPV)

• Kontener (kemasan) yang berisi larutan injeksi dengan volume 100 mL atau
lebih dinamakan sebagai volume besar, dan biasanya digunakan melalui rute
intravena
• Larutan yang saat ini dipasarkan termasuk dalam 2 kategori, yaitu elektrolit dan
nonelektrolit. Contoh larutan elektrolit  larutan natrium klorida dan kalium
klorida, sedangkan larutan dektrosa dan manitorl adalah contoh larutan
nonelektrolit
• Larutan intravena untuk penggunaan khusus yang biasa digunakan, diantaranya,
larutan dialysis peritonial, larutan antikoagulan sitrat – dektrosa, cairan irigasi
glisin dan metronidazole dalam injeksi dektrosa, dan lain – lain.
• Larutan parenteral volume besar, biasanya tersedian dalam kontener dengan
volume 500 mL atau 1000 mL
3. Sediaan parenteral bentuk serbuk

• Sediaan ini dapat didefinisikan sebagai produk kering, melarut


atau tidak melarut (bentuk suspensi), untuk dikombinasikan
dengan suatu pelarut atau pembawa sebelum digunakan.
• Biasanya tersedia di dalam vial, contohnya injeksi penisilin,
ampicillin, amoksisilin, streptomisin, dan lain sebagainya.
STERILISASI
Amelia Febriani,. M.Si., Apt
STERILISASI

Proses mematikan jasad


renik dengan kalor, radiasi,
zat kimia agar diperoleh
kondisi steril (misal obat
suntik, alat kedokteran,
makanan dalam kaleng, dsb)
METODE
STERILISASI
Menurut FI III

1. Cara A : (pemanasan secara basah : autoklaf pada suhu


115◦ C – 116 o C selama 30 menit
2. Cara B (dengan penambahan bakterisida)
3. Cara C (dengan penambahan bakteri steril)
4. Cara D (pemanasan kering: oven pada suhu 150 derajat C
selama 1 jam dengan udara panas
5. Cara aseptis (mencegah dan menghindari lingkungan dari
cemaran bakteri seminimal mungkin).
Menurut FI edisi IV
1. Sterilisasi uap
2. Sterilisasi panas kering
3. Sterilisasi gas
4. Sterilisasi dengan radiasi ion
5. Sterilisasi dengan penyaringan
6. Sterilisasi dengan cara aseptik
1. Sterilisasi Uap
• Adalah proses sterilisasi thermal yang menggunakan uap jenuh dibawah tekanan
selama 15 menit pada suhu 121o . Kecuali dinyatakan lain, berlangsung di suatu
bejana yang disebut otoklaf, dan mungkin merupakan proses sterilisasi paling banyak
dilakukan
• sesuai untk bahan yang terbasahi dg air dan formula dalam bentuk larutan/suspensi.
• Untuk sediaan farmasi dan bahan-bahan yang tahan terhadap temperature autoklaf
dan bahan yang dapat ditembus dengan air
• Untuk larutan dalam jumlah besar, alat-alat gelas, pembalut operasi dan instrument.
• Tidak digunakan untuk mensterilkan minyak, lemak, sed.berminyak dan sedian lain
yang tdk dapat ditembus oleh uap air serta sediaan serbuk trbuka yang mungkin rusak
oleh uap air j
• Produk yang disterilkan harus dalam wadah tersegel,atau dibungkus dg bahan yg dpt
mencegah rekontaminasi setelah disterilkan.
2. Sterilisasi Panas Kering

• Sterilisasi cara ini menggunakan suatu siklus Oven


modern yang dilengkapi udara yang dipanaskan dan
disaring.
• Suhu : 140oC-180oC
• Waktu tidak lebih 135 menit.(1-2 jam)
• Untuk : - alat-alat gelas, logam, minyak, lemak,
paraffin,serbuk yang stabil dengan pemanasan
• Tidak untuk : - karet, kain, kertas, larutan air dan plastik
Pemanasan basah waktu lebih
singkat, suhu lebih rendah
dibanding pemanasan kering
• Karena dengan adanya kelembaban (uap air), bakteri lebih
mudah terkoagulasi dan dirusak pada temperatur yang lebih
rendah.
• Mekanisme penghancuran bakteri oleh uap air panas karena
terjadinya denaturasi dan koagulasi protein esensial bakteri
• Mekanisme pemansan kering timbul karena sel mikroba
mengalami dehidrasi diikuti dengan pembakaran pelan-pelan
atau proses oksidasi
• Sel-sel bakteri dengan kadar air besar lebih mudah dibunuh
• Spora yang kadar airnya rendah lebih sukar dihancurkan
3. Sterilisasi Gas
Bahan aktif yang digunakan adalah gas etilen oksida yang
dinetralkan dengan gas inert
Keburukan gas etilen oksida : sangat mudah terbakar,
bersifat mutagenik, kemungkinan meninggalkan residu
toksik di dalam bahan yang disterilkan, terutama yang
mengandung ion klorida.
Untuk bahan yang akan disterilkan tidak tahan terhadap suhu
tinggi pada sterilisasi uap atau panas kering
Untuk mensterilkan enzim, dan antibiotic tertentu yang
tidak tahan panas
4. Sterilisasi Radiasi Ion

• Ada 2 jenis radiasi ion yang digunakan yaitu


disintegrasi radioaktif dari radioisotop (radiasi
gamma) dan radiasi berkas elektron.
• Untuk bahan yang disterilkan tidak tahan terhadap
sterilisasi panas dan khawatir tentang keamanan etilen
oksida.
• Keunggulan sterilisasi ini adalah reaktivitas kimia
rendah, residu rendah yang dapat diukur serta
variabel yang dikendalikan lebih sedikit.
5.Sterilisasi dengan Penyaringan
• Untuk sterilisasi larutan yang labil terhadap panas
• menggunakan bahan yang dapat menahan mikroba, hingga mikroba yang
dikandungnya dapat dipisahkan secara fisika.
• Perangkat penyaring umumnya terdiri dari suatu matriks berpori bertutup kedap
atau dirangkaikan pada wadah yang tidak permeable.
• Ukuran porositas minimal membran matriks tersebut berkisar 14- 0,023
micrometer tergantung pada bakteri apa yang hendak disaring. Bakteri terkecil 0,2
micrometer, virus polio 0,025 mikrometer
• Keuntungan: efektif untuk mesnsterilkan larutan yang tidak tahan panas, perlatan
relative tidak mahal dan mikroba hidup dan mati serta partikel dapat dihilangkan
dari larutan
• Kerugian: Dapat mengabsorbsi zat aktif tertrtuntu dan menambha kebasaan
larutan
Sterilisasi aseptis

• Proses ini untuk mencegah masuknya mikroba hidup


ke dalam komponen steril atau komponen yang
melewati proses antara yang mengakibatkan produk
setengah jadi atau produk ruahan atau komponennya
bebas dari mikroba hidup.
Cara Sterilisasi secara umum

1. Dengan pemanasan secara kering


2. Dengan pemansan secara basah
3. Dengan penambahan zat-zat tertentu
4. Dengan cara penyinaran
5. Dengan penyaringan bakteri steril
6. Dengan cara aseptis
Pemilihan cara sterilisasi
Harus mempertimbangkan beberapa hal:
1. Stabilitas: Sifat kimia, Fisika, Khasiat, Serat, struktur bahan
obat tidak boleh mengalami perubahan setelah proses
sterilisasi.
2. Efektifitas: Cara sterilisasi yang dipilih akan memberikan
hasil maksimal dengan proses yang sederhana, cepat, dan
biaya murah.
3. Waktu: Lamanya pensterilan ditentukan oleh bentuk zat,
jenis zat, sifat zat, dan kecepatan tercapainya suhu
penyeterilan yang merata
Lamanya Sterilisasi Tergantung

1. Jenis mikroorganisme :
• - vegetatif (80-100oC,)
• - spora (140oC,
• Contoh: - Clostridium tetani (140oC, 15 menit)
• - Clostridium botulinum (140oC, 60 menit)
Lamanya waktu sterilisasi
2. Tinggi/rendahnya suhu sterilisasi
• - 148oC (3 jam)
• - 170oC (1 jam)
3. Faktor lain : pH
• pH asam/alkalis > netral
• pH 1,2 (5 menit, 100oC)
• pH 10,2 (11 menit, 100oC)
• pH 7,2 (29 menit, 100oC)
Sterilisasi dengan pemanasan secara
kering
Ciri-cir Pemanasan Kering
1. Yang dipanaskan adalah udara kering.
2. Proses pembunuhan mikroba berdasarkan oksidasi O2 udara.
3. Suhu yang digunakan lebih tinggi, kira-kira 150 o. 1 gram udara
pada suhu 100 o jika didinginkan menjadi 99 o hanya
membebaskan 0,237 kalori.
4. Waktu yang diperlukan lebih lama antara 1 jam-2 jam kecuali
pemijaran.
5. Digunakan untuk sterilisasi bahan obat/alat yang tahan pemansan
tinggi.
Contoh:
a. Sterilisasi panas kering
Menurut FI ed. IV
• Sterilisasi cara ini menggunakan suatu siklus open modern dilengkapi
udara yang dipanaskan dan disaring.
• Rentang suhu khas yang dapat di terima di dalam bejana sterilisasi
kosong adalah lebih kurang 15o, jika alat sterilisasi beroprasi pada suhu
tidak kurang dari 250o

Menurut FI ed. III


o Cara D : Pemanasan secara kering ; Oven pada suhu 150o
selama 1 jam dengan udara panas.
o -Bahan obat yang tahan pemanasan ini adalah
o Minyak lemak, Vaselin, dan alat-alat gelas
b. Pemijaran
• Memakai api gas dengan nyala api tidak berwarna atau api dari lampu
spritus.
• Cara ini sangat sederhana, cepat, dan menjamin sterilitas bahan yang di
sterilkan.
Syarat:
• Seluruh permukaan alat harus berhubungan langsung dengan api selama
tidak kurang dari 20 detik

Alat yang dapat di sterilkan:


• Benda logam (pinset, penjepit krus, gelas(sudip, batang pengaduk, kaca
arloji, tabung realsi, erlemeyer, botol).
• Mortir dan stamper di siram dengan alkohol 96% kemudian dibakar.
• Bahan obat: ZnO, NaCl, Talk
1.Sterilisasi dengan pemanasan secara
basah
Ciri- ciri pemanasan basah:
1. Yang dipanaskan adalah air menjadi uap air.
2. Proses pembunuhan mikroba berdasarkan koagulasi/
penggumpalan zat putih telor dari mikroba tersebut.
3. Waktu yang diperlukan lebih singkat yaitu 30 menit
4. Suhu yang diperlukan lebih rendah, maksimal 116o
(otoklap) 1 gram uap air 100o jika mengembun menjadi air
100o membebaskan 536 kalori.
5. Digunakan pada sediaan injeksi dengan pembawa berair
Contoh
Strilisasi panas basah
A. Sterilisasi uap( FI IV)
• Adalah proses sterilisasi thermal yang menggunakan
uap jenuh di bawah tekanan selama 15 menit pada
suhu 121.
• Kecuali dinyatakan lain , berlangsung di suatu bejana
yang disebut otoklaf proses sterilisasi paling banyak
dilakukan.
Menurut FI III
Cara D : Sterilisasi pemanasan basah
Menggunakan otoklaf pada suhu 115o – 116o selama 30 menit
dengan uap air panas

a. Otoklaf :
suatu panci logam yang kuat dengan tutup yang berat
mempunyai lubang tempat mengeluarkan uap air beserta kran ,
termometer , pengatur tekanan udara dan klep pengaman.
b. Direbus air mendidih
• Lama mensterilkan dihitung sejak air mendididh spora tidak dapat
mati dengan cara tsb.
• Penambahan bakteri sida ( fenol %% , lysol2-3 %) dapat
mempersingkat sterilisasi ( alat kedokteran)

c. Tyndalisasai = pasteurisasai ;
• Digunakan pada obat yang tidak tahan pemanasan tinggi dan
tidak dapat disaring dengan penyaring bakteri (emulsi, suspensi)
Cara: Pemanasan suhu 70-80o selama 40-60 menit.

d. Dengan uap air suhu 100o


Alat dandang . Alat disterilkan setelah mendidih dan uap keluar
Keuntungan uap air yang mempunyai daya baktrerisida lebih
besar jika dibanding dengan pemanasan kering karena mudah
menembus diding sel mikroba dan menggumpalkan zat putih
telurnya.
3. Sterilisasi dengan penambahan
zat tertentu

Zat tersebut berfunsi sebagai


1. Desinfektan zat antimikroba digunakan untuk instrumen kedokteran untuk
mencegah infeksi pada manusia
2. Antiseptik : zat antimikroba utk lokal dan topikal
3. Antibiotik : zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme
yang dapart menghambat mo lain
Contoh
Bahan obat : sterilisasi dilakukan dengan menambah bakterisida (FI III , cara B)
Sediaan dibuat dengan melarutkan atau mensuspensikan bahan obat dalam larutan
klorokresop P 0,2 % BP dalam air untuk injeksi atau larutan bakterisida yang cocok
dalam air utk injeksi
2. Instrumen sterilisasi dengan zat alkohol, kresol, fenol,
Formaldehida, garam raksa organik, organik dan
ammonium kuartener
3. Utk ruangan; sterilisasinya diseprot dengan larutan
bakterisida dan didiamkan beberapa waktu udara diganti
dengan udara yang sdh steril melalui penyaring udara
Zat : uap formaldehida
• Campuran 1 bagian etilen oksida 9 bagian gas CO2 dipanaskan
sampai suhu 60 o
4. Sterilisasi dengan cara penyinaran

A. Sterilisasi dengan radiasi ion (FI ed IV)


Terdiri 2 jenis yaitu
• Desintegrasi radioaktif dari radio isotof ( radiasi gamma)
• Radiasi berkas elektron Cara tsb dilakukan jika bahan
yang disterilkan tidak tahan terhadap sterilisasi panas
dan keamana etilen oksida
• Keunggulan : reaktivitas kiimia rendah, residu rendah,
variabel yang dikendalikan lebih sedikit.
B . Sinar ultra Violet
Pada gelombang 200 – 2600 A dapat membunuh mikroba patogen,
virus, spora, jamur, ragi dan bekerja efektif bila langsung kena bahan
tersebut digunakan utk menstrerilkan ruangan udara obat suntik .

C,. Dengan Sinar Gamma


Digunakan isotop radioaktif miasal cobalt 60

D. Dengan sinar X dan Katoda


Sinar X dan elektron dengan intensitas tinggi bersifat mematikan
mikroba
Contoh Penisillin Na, Streptomysin Sulfat, hidrolisat protein, hormon
pituitarium, insulin, vaksin influensa dan cacar.
5 . Sterilisasi dengan penyaring
bakteri Steril

• Sterilisasi ini dilakukan pada bahan labil terhadap


panas
• Penyaring yang tersedia : sellulosa asetat , selulosa
nitrat , Florokarbonat, polimer akrilik, polikarbonat,
poliester, PVC, Vinil nilon, Potev, dan membran logam
Menurut FI ed III
• Larutan disaring melalui bakteri steril dan diisikan dalam wadah
steril dan ditutup kedap menurut teknik aseptif
• Keuntungan :
Digunakan untuk bahan obat tidak tahan pemanasan tapi
larut air
2. Dilakukan cepat ( pembuatan jumlah Keci)
Semua miroba hidup dan mati dapat disaring dari larutan dan
mengurangi jumlah virus
4. Penyaring dapat bersifat absorpsi dan virus diabsorpsi
• Kerugian
• Diperlukan zat bakterisida
• Digunakan pembawa air dan minyak tidak dapat
• Beberapa jens penyaring dapat mengabsorpsi obat (kadar kecil)
• Beberpa penaring sukar dicuci (porselinKeisrgur)
• Beberapa penyaring bersifat alkalis (Setz filter) Penyaring dari
asbes dapat melepaskan asbesnya ke larutan.
• Filtrat yang diperoleh belum bebas virus
6. Sterilisasi dengan gas

Bahan aktif yang digunakan : gas etilen oxida yang dinetralkan


dengan gas inert
tetapi kejelekan
1. etilen oxida mudah terbakar,
2. sifat mutagenik,
3. meninggalkan residu toksis dalam bahan disterilkan
terutama yang mengandung bahan klorida
7. Sterilisasi dengan cara aseptik
Tekniknya
Teknik dapat memperkecil terjadinya kontaminasi dengan
mikroba hingga seminimal mungkin dari bahan yang sudah
steril
Proses untuk mencegah mikroba hidup dalam komponen
steril.
TERIMA
KASIH