Anda di halaman 1dari 7

1.1.1.

Persetujuan prinsip
PT. Kinlin Nickel Industry Indonesia yang bergerak dalam bidang usaha
pertambangan bijih nikel, akan melakukan pengolahan bijih nikel dalam rangka
memanfaatkan potensi sumber daya alam di kecamatan Palangga Selatan Kabupaten
Konawe Selatan. Hal ini didasari atas prinsip dari Bupati Konawe Selatan Nomor :
540/1381 Tahun 2014. Pengolahan bijih nikel yang akan dikembangkan oleh PT.
Kinlin Nickel Industry Indonesia menggunakan metode pelebur-murnian (smelting)
dengan teknologi Mini Blast Furnace (MBF) untuk menghasilkan produk Ferronickel
(FeNi), yang berlokasi di kecamatan Palangga Selatan.
1.1.2. Alasan Wajib AMDAL
Salah satu kewajiban PT. Kinlin Nickel Industry Indonesia sebelum melakukan
aktivitas perlu mendapat izin kelayakan lingkungan yang diwujudkan dalam
penyusunan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) sesuai
dengan amanat Undang-Undang No.32 tahun 2009 tentang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup dan peraturan lainnya seperti Peraturan Menteri
Negara Lingkungan Hidup No. 05 Tahun 2012 tentang jenis rencana usaha dan/atau
kegiatan yang wajib AMDAL, rencana pembangunan pabrik pengolahan bijih nikel
beserta fasilitas penunjangnnya, yang akan dilakukan oleh PT. Kinlin Nickel Industry
Indonesia wajib memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Syarat
wajib AMDAL bagi rencana kegiatan pengolahan bijih nikel adalah besaran kapasitas
produksi.
Pelaksanaan pembangunan pabrik pengolahan bijih nikel, dengan fasilitas
penunjangnnya yang dilakukan oleh PT. Kinlin Nickel Industry Indonesia di
Kecamatan Palangga Selatan Kabupaten Konawe Selatan, berpeluang memberikan
dampak lingkungan yang dapat mengubah rona lingkungan hidup, sehingga PT. Kinlin
Nickel Industry Indonesia wajib menjunjung tinggi azas berkelanjutan pembangunan
dan berwawasan lingkungan. Olehnnya itu, diperlukan usaha-usaha perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup guna mengoptimalkan dampak positif serta menekan
dampak negatif dari kegiatan tersebut. Implementasi dari hal itu, PT. Kinlin Nickel
Industry Indonesia akan mematuhi semua regulasi yang berkaitan dengan
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
1.1.3. Komisi AMDAL
Dokumen AMDAL berisikan uraian tentang rencana kegiatan usaha, rona
lingkungan hidup awal, perlingkupan komponen/parameter lingkungan yang diduga
akan terkena dampak akibat adannya kegiatan pembangunan pabrik pengolahan bijih
nikel beserta fasilitas penunjangnnya, serta upaya-upaya pengelolaan dan
pemantauan lingkungan. Dokumen AMDAL diharapkan menjadi pedoman bagi
pemrakarsa maupun instansi/lembaga yang terlibat dalam pengelolaan lingkungan.
Selanjutnnya untuk melihat kelengkapan administrasi dan konsistensi dan kedalaman
studi AMDAL, maka dokumen AMDAL Terpadu ini oleh Komisi Penilai AMDAL (KPA)
Provinsi Sulawesi Tenggara sebagaimana ketentuan pasal 10 ayat (2) Peraturan
Menteri Lingkungan Hidup Nomor 08 Tahun 2013 tentang Tatalaksana Penilaian dan
Pemeriksaan Dokumen Lingkungan Hidup serta Penerbitan Izin Lingkungan. Hal ini
didasarkan atas pertimbangan bahwa pembangunan pabrik pengolahan bijih nikel
termasuk jenis kegiatan strategis.
Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dari kegiatan
pembangunan pabrik pengolahan bijih nikel beserta fasilitas penunjangnnya yang
dilakukan oleh PT. Kinlin Nickel Industry Indonesia di Kecamatan Palangga Selatan
Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara akan di nilai oleh Komisi
Penilai AMDAL (KPA) Provinsi Sulawesi Tenggara. Penilaian ini bertujuan untuk
melihat kelengkapan administrasi dokumen AMDAL, konsistensi penyusunan, serta
kedalaman, serta kedalaman study AMDAL yang dilakukan.

1.2 TUJUAN RENCANA KEGIATAN

Tujuan rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan pabrik pengolahan


bijih nikel beserta fasilitas penunjangnnya PT. Kinlin Nickel Industry Indonesia di
Kecamatan Palangga Selatan Kabupaten Konawe Selatan sebagai berikut :
a) Mengambil manfaaat dari potensi sumber daya bijih nikel yang ada di
Kabupaten Konawe Selatan
b)Mendorong kapasitas produksi logam dalam hal ini bijih nikel dalam negeri
c) Menyediakan produk akhir pengolahan dan/atau pemurnian sebagai bahan
baku industri untuk kebutuhan dalam negeri
d)Meningkatkan produk ekspor Kabupaten Konawe Selatan
e) Membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Kabupaten Konawe Selatan
khususnnya dan masyarakat Sulawesi Tenggara pada umumnnya
Dengan adannya pembangunan pabrik pengolahan bijih nikel beserta fasilitas
penunjangnnya oleh PT. Kinlin Nickel Industry Indonesia di Kabupaten Konawe
Selatan, manfaat yang dapat diperoleh sebagai berikut :
a)Turut berperan secara aktif dalam pengembangan perekonomian di wilayah
Kabupaten Konawe Selatan
b) Berperan dalam pengembangan diversifikasi kegiatan perusahaan di
bidang pertambangan
c) Memperoleh laba dari penjualan bijih nikel dari hasil produksi
d) Meningkatkan laju perekonomian di wilayah Kabupaten Konawe
Selatan
e)Menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Konawe Selatan dari
retibusi yang diberikan oleh Pemrakarsa usaha/kegiatan

C. Tahap Operasi

1. Penerimaan Tenaga Kerja Operasional

Pelaksanaan penerimaan tenaga kerja berdasarkan peraturan yang berlaku.


Masyarakat setempat yang memenuhi kualifikasi untuk pekerjaan tertentu akan
direkrut. Akan kemungkinan sejumlah tenaga kerja akan di datangkan dari daerah
lain bila tenaga dengan kualifikasi tertentu tidak dapat dipenuhi dari penduduk lokal.

Kebutuhan tenaga kerja operasional pabrik pengolahan nikel oleh PT. Kinlin
Nickel Industry Indonesia sekitar 303 orang tenaga kerja untuk 2 line MBF (Sampai
tahun kedua), 824 orng tenaga kerja untuk 7 line MBF (mulai tahun ke tiga) yang
meliputi tenaga kerja manajemen dan operasi pabrik, dengan rincian seperti pada
Tabel II-2.

Tabel II-2

Kebutuhan Spesifikasi dan Jumlah Tenaga Kerja Operasi ( Untuk 2 line MBF)

No Spesifikasi Jml No Spesifikasi Jml


A Management E Refining Plan
1 General Manager 1 1 Mnager Refing Plan 1
2 Staf Fungsional 6 2 Supervisor 4
3 Safety Officer 2 3 De-S Operation 16
4 Safety Supervisor 4 4 L/C Converter Operation 4
5 Enviromental Supervisor 4 5 Slag Treatment 4
6 Medical 3 6 Overhead Crane 4
B Ore Handling 7 Prehead Ladge 4
1 Manager Ore Handling 1 8 Brick Work 4
2 Supervisor 4 9 Casting/Ingot & Shot Making 8
3 Data Treatment & 1 F Transportation of Raw &
Logistic Slag
4 Maintenance 8 1 Manager Transportation 1
5 Sreening & Crushing 16 2 Supervisor 4
6 Control room of R/D 4 3 Forman 4
7 Rotary Dryer 16 4 Bulldozer & Escavator 20
Operator
8 Mixing House 8 5 Dumtruck Driver 16
C Calcining Plan 6 Pay Loader Operator 12
1 Manager Calcining Plan 1 7 Maintenance 12
2 Supervisor 4 G Human Resource
3 Calcining 4 1 HR Manager 1
4 Dust Treatment 8 2 Administration 4
5 Rotary Klin 8 3 Logistic 2
6 Control Room 8 4 Driver 6
7 Coal firing facility 8 5 Security 24
8 Maintenance 8 6 Office Boy 4
D Smelting Plan H Finance
1 Supervisor 4 1 Finance Manager 1
2 Container Wagon 4 2 Finance administration & 8
Storage
Jumlah 303
Sumber : PT. Kinlin Nickel Industry Indonesia, 2014

Proses penerimaan tenaga kerja PT.Kinlin Nickel Industry Indonesia harus


melalui berbagai tahap dan memenuhi Standard Operational Procedor (SOP) yang
tetap ditetapkan perusahaan maupun peraturan perundangan yang berlaku (Undang-
Undang RI No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan). Proses penerimaan tenaga
kerja diawali dengan mempublikasikan pengumuman secara terbuka melalui media
masa, selanjutnnya dilakukan proses seleksi sesuai ketentuan yang berlaku.

Setiap kegiatan pertambangan, baik kegiatan penambangan maupun kegiatan


pengolahan dan pemurnian, factor keselamatan dan kesehatan kerja adalah factor
yang penting. PT. Kinlin Nickel Industry Indonesia, membentuk organisasi ke-3, sesuai
dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku. Divisi K3 dipimpin oleh seorang
Health savety and Environment (HSE) Manager, yang bertanggung jawab kepada
Operation Manager, dan membawahi Dokter Perusahaan, Health Superintendet, Savety
Superintendet, dan Environment Superintendet.

Kegiatan penerimaan tenaga kerja operasi ini, diprediksi akan menimbulkan


dampak potensial yaitu migrasi penduduk,kesempatan kerja, kesempatan
berusaha,peningkatan pendapatan masyarakat, serta menimbulkan dampak
perubahan sikap dan persepsi masyarakat khususnnya masyarakat Desa Lalowua.

2. Mobilisasi Bahan Bakar, Bahan Baku,Hasil Produksi dan Terak

a. Mobilisasi Bahan Bakar

PT. Kinlin Nickel Industry Indonesia akan memerlukan bahan bakar jenis solar,
premium dan oli. Bahan bakar ini diperuntukan untuk bahan bakar generator set dan
dan berbagai peralatan kendaraan operasional pabrik. Terkait dengan penggunaan
bahan bakar ini , PT. Kinlin Nickel Industry Indonesia berkomitmen menggunakan
bahan bakar industry sesuai dengan peraturan Gubernur Sultra No.39 Tahun 2014,
melalui kontrak pembelian BBM industry.

b. Mobilisasi Bahan Baku

Bahan baku utama yang digunakan dalam memproduksi ferronickel (Fe-Ni)


adalah bijih nikel laterit, kokas (untuk pembuatan sinter, bahan reactor dan
peleburan) serta batu kapur. Bijih nikel yang menjadi bahan baku utama diperoleh
dari tambang PT. Jagad Raya Tama dan PT. Generasi Agung Perkasa yang sudah
beroperasi di Kecamatan Palangga Selatan. Tingkat kadar bijih laterit yang digunakan
sebagai acuan adalah pada kadar >1,8% Ni,25%Fe,<35% SiO2 , <3% Al2O3.
Kokas akan digunakan sebagai bahan energy utama untuk pengeringan dan
reduksi pemurnian. Kualitas batubara yang dibutuhkan adalah dengan kadar karbon
sekitar 40-60% dan VM sekitar 25%-35%,ash, air dan belerang relaktive rendah.
Kokas yang dibutuhkan adalah berkadar sekitar >73%C, <10% Ash,dan <10%S.
Kadar air serendah mungkin. Kualitas kokas terendah digunakan untuk sumber panas,
baik proses pemanasan maupun pemurnian BF. Kebutuhan kokas ini akan
didatangkan dari luar Sulawesi Tenggara, melalui pelabuhan khusus dari PT. Sambas
Mineral Minng dan PT.Triple Eight Energy, yang sebelumnnya telah melakukan
kerjasama penggunaan pelabuhan khusus.

Batukapur dibakar dilokasi untuk mendapatkan produk kapur CaO. Kapur


digunakan untuk pemurnian titik lebur terak dan/atau sebagai peningkat
unsur/senyawa pengotor dari masukkan bahan baku bijih laterit dan/atau dari kokas
dan antrasit. Kadar CaO 18%. Kebutuhan batukapur ini diperoleh dari lokasi-lokasi
penambangan batukapur disekitar lokasi kegiatan.

Flourit atau karbit dibutuhkan untuk proses desulfurisasi dan/atau


defosforisasi. Selain itu, gas oksigen dan aluminium juga dibutuhkan untuk proses
refining logam cairan, terutama untuk menurunkan kadar gas terlarut seperti
hydrogen dan nitrogen serta unsur-unsur pengotor lainnya. Kebutuhan bahan minor
dan perlengkapannya biasannya kurang dari 0,6 % dari total biaya produksi.

C. Mobilisasi Hasil Produksi dan Ternak

Hasil produksi pabrik pengolahan bijih nikel PT. Kinlin Nickel Industri
Indonesia yang berupa Fe-Ni akan di ekspor ke cina. Mobilisasi ini melalui jalur darat
dan jalur laut. Jalur darat ditempuh dari lokasi pabrik ke pelabuhan khusus,
sedangkan jalur laut ditempuh dari pelabuhan khusus ke Cina. Sedangkan hasil
sampingan lain pabrik pengolahan bijih nikel PT. Kinlin Nickel Industry Indonesia
yang berupa terak atau slag akan dimobilisasi dari lokasi pabrik ke lkasi penimbunan
slag.

Kegiatan mobilisasi bahan bakar, bahan baku, hasil produksi dan slag ini
menimbulkan dampak potensial terhadap lingkungan hidup berupa gangguan
transportasi darat, penurunan kualitas udara ambient, peningkatan kebisingan,
potensi terjadinnya penyakit, serta potensi adanya keresahan masyarakat.

3. Pengoperasian Pabrik dan Fasilitas Pendukung


a. Pengoperasian pabrik Pengolahan Nikel
(1) Preparasi Bahan
Moisture Content bijih nikel dari lokasi tambang berkisar dari 30%-35%
dengan berbagai ukuran besaran bijih nikel ini di pisahkan berdasarkan ukurannya,
namun memisahkan bijih nikel dalam kondisi basah sangat sulit sehingga diusahakan
dalam kondisi kering dengan menggunakan screener. Bijih nikel dengan Ni rendah,
dibuang dan dipakai untuk pengerasan jalan, sedangkan kandungan Ni tinggi
dilakukan pemecahan menggunakan jaw chruser. Pada umumnnya, proses
pengolahan mempersyaratkan batuan menjadi sekitar 50 m, dengan kadar kerikil
ukuran dibawah 5 mm tidak lebih dari 8 %. Selain itu dipersyaratkan pula batuan
yang akan masuk ke dalam tungku pelebur (MBF) adalah relatif kering dengan kadar
air sekitar 10 %.
Bijih nikel yang berukuran kecil (undersieve) dikirim ke rotary dryer,
pemanasan pada dryer menggunakan gas panas 8000C, yang dialirkan sejajar dengan
arah raw bijih nikel dari tempat inlet dan dryer, sehingga dapat kontak langsung
dengan bijih nikel didalam dryer, hasil pengeringan adalah bijih nikel dengan moisture
content 22%. Hal ini untuk mencegah debu pada proses pemisahan dan pemecahan.
Debu pada gas buangan dari dryer ditangkap menggunakan dust collector dan dibuang
dengan mengayakan dengan Vibrating screen berukuran 30mm, oversize ore hasil
pengayakan dikirim ke impact crusher, untuk dipecahkan menjadi ukuran 30 mm.
(2) Proses reduksi dan Peleburan
Bijih nikel dimasukkan ke dalam hooper dengan berat yang telah ditentukan,
ditampung dalam batcher I. Demikian pula untuk bahan baku imbuhan berupa
Limestone ditampung dalam bather II. Bahan bakar yang dipergunakan adalah kokas
yang dimasukkan ke dalam bather III. Bijih nikel, limestone bersama-sama dengan
reductant, di masukkan dalam mixing plan, melalui masing-masing batcher idengan
perbandingan berdasarkan jumlah dan kualitas yang telah diperhitungkan. Kemudian
dimasukkan dalam container/skip car dan dikirim ke Mini Blast Furnace (MBF),
menggunakan belt conveyor dimasukkan ke top bins/hopper.
Peleburan bijih nikel menggunakan Mini Blast Furnace (MBF) menghasilkan
Ferronickel (Fe-Ni). Pengggunaan kokas tidak hanya diperlukan sebagai bahan bakar
tetapi sangat berguna untuk reduction gas, yaitu didalam MBF mengubah hematite
(Fe2O3) menjadi wustite (FeO), sedangkan Limestone (CaCo3) sebagai bahan imbuh
untuk pengaturan keasaman slag (terak).
Proses peleburan biji nkel di dalam furnace, dimana bahan baku berupa sinter
bijih nikel dan kokas diumpankan dari atas tanur dan dari bawah dihembuskan udara
panas (O2) pada temperature 500oC. Udara ini sangat menentukan pembakaran
karbon dengan oksigen untuk pembentukan gas karbon monoksida (CO), dimana gas
ini diperlukan terutama untuk mereduksi oksida logam seperti NiO,Fe2O3, reaksi
antara bahan reduktor dan gas O2 yang menghasilkan energy panas yang cukup
efisien. Kelebihan gas CO dari proses oksidasi di dalam furnance dapat dikeluarkan
pada bagian atas MBF dan dapat dimanfaatkan untuk pemanasan udara yang
ditiupkan kembali ke dalam MBF sebagai bahan oksidasi karbon melalui tuyere. Selain
itu kelebihan gas CO dapat juga digunakan pemanasan cetakan, dan dimanfaatkan
sebagai energy pembuatan sinter.
Proses produksi berlangsung kontinyu selama 24 jam/hari didalam MBF yang
bekerja pada temperature antara 1500oC hingga 1700oC. Temperature yang terjadi di
dalam MBF dapat diuraikan sebagai berikut: temperatur bagian pengumpanan
(throat) bagian atas menjadi pada tenperatur antara 200-350oC, kemudian turun di
daerah stack atas dengan temperature berkisar antara 400-450oC. Kemudian di
daerah stack tengah temperature naik lagi sekitar 450-700oC dan masuk ke stack
bawah temperature naik lagi sekitar 700-1200oC, lalu masuk kedaerah belly dengan
dengan temperature sekitar 1200-1400oC. Selanjutnnya masuk ke daerah bosh
tempat berlangsungnnya daerah pembakaran karbon dan dengan oksigen, di mana di
daerah ini temperature mencapai sekitar 1700oC. Disini semua material mencair dan
ditampung di daerah hearth kemudian cairan hot metal dan slag di keluarkan pada
selang waktu tertentu.
Hot metal yang telah terakumulasi di dasar MBF di-tapping keluar melalui
lobang dinding furnace, ditampung dalam ladge atau torpedo car, kemudian dikirim
untuk proses selanjutnnya. Sementara itu slag dalam MBF di-tapping melalui 2 lobang
yang letaknnya berlawanan arah dengan lobang tappingmetal dan dikirim ke slag pon
yang letaknnya agak jauh dari MBF untuk di dinginkan. Hot metal dari MBF di
inginkan secara tepat dengan menyemprotkan air dengan tekanan tinggi, kemudian
masuk dalam hopper dan dengan belt conveyor di kirim ke fine crusher/ball mill
untuk dihaluskan dan kemudian dikirim ke Magnetic Seperator untuk dipisahkan
antara FeNi yang magnetic, sedangkan yang non magnetic merupakan pengotor
dikirim ke tailing pond. Rangkaian proses pendinginan sampai pemisahan dengan
magnetic separator dilakukan secara otomatis.
Methoda untuk menghilangkan kandungan sulfur (desulfurization) pada crude
Fe-Ni adalah dengan menambahkan calcium (CaC2) dan soda Ash (Na2CO3) dan
untuk menghilangkan sulfur dengan mengikat menjadi CaS dan Na2S, sehingga sisa
sulfur pada metal setelah proses sulfurisasi menjadi kira-kira 0,015%. Slag hasil
proses sulfurisasi masih terkandung antara 9-10% Ni dan 7-9% S, namun harus di-
crushing menggunakan limestone crusher dan pemisahan +10 mm. Dengan proses ini
di peroleh 70% Ni dalam desulfurisasi slag dan 91% S dapat di hilangkan.
Selanjutnnya untuk produksi low carbon Fe-Ni, pengotor yaitu C, Si dan P, dibersihkan
dengan menyemprotkan oxygen dalam shaking converter.

b. Pengoperasian Fasilitas Pendukung


Pengoperasian fasilitas pendukung terdiri dari pengoperasian kantor, gedung,
bengkel, poliklinik, sumber tenaga listrik (genset), sumber air, laboratorium, IPAL,
serta beberapa sarana lainnya. Pengoperasian fasilitas pendukung ini akan
memberikan kontribusi terhadap meningkatnnya beban cemaran yang ada disekitar
lokasi kegiatan. Produk samping yang paling banyak dihasilkan dari kegiatan ini
adalah meningkatnnya limbah cair dan limbah padat.
Kegiatan pengoperasian pabrik dan fasilitas pendukung ini menimbulkan
dampak potensial berupa : kesempatan kerja, peningkatan pendapatan,
penurunan kualitas udara, peningkatan kebisingan, limbah padat dan cair,
debit aliran permukaan, penurunan kualitas air, gangguan biota perairan,
gangguan fauna penurunan sanitasi lingkungan, potensi terjadinnya penyakit,
serta perubahan sikap dan persepsi masyarakat.
4. Penanganan Limbah
Dalam pengoperasian pabrik pengolahan nikel dan fasilitas pendukung lainnya
akan menghasilkan limbah, terutama limbah padat, cair, gas, dan debu. Limbah-
limbah yang dihasilkan ini ada yang bersifat limbah B3 sehingga perlu penanganan
khusus. Limbah B3 seperti bahan kimia yang berasal dari bahan-bahan yang di
gunakan saat proses atau sisa proses seperti filter-filter berkas, potongan waste
baskets, besi, kawat, lampu, aki, drum plastic bekas kemasan bahan kimia, dan oli
bekas akan dikumpulkan dan ditampung sementara pada lokasi yang telah disiapkan
khusus, kemudian akan ditangani lebih lanjut oleh pihak ketiga ( off-site treatment)
yang mempunyai izin pengelolaan limbah B3.
Apabila limbah yang dihasilkan tidak dikelola demgan baik, dapat
menimbulkan masalah lingkungan. Hal ini tentu tidak diharapkan, baik oleh
perusahaan maupun oleh masyarakat umum.
a. Penambangan Limbah Slag
Jumlah slag hasil peleburan sangat besar sekitar 82% dari awal raw material,
dan bila kadar nikel dalam bijih semakin rendah, maka akan menghasilkan volume
slag yang lebih banyak. Slag dikirim ke slag pond yang letaknnya agak jauh dari MBF
untuk di inginkan kemudian dikirim ke tailing pond. Limbah slag ini sangat panas,
maka perlu penyiraman air yang banyak untuk didinginkan sehingga juga
menghasilkan lumpur endapan. Air siraman ini di alirkan ke IPAL untuk menetralkan
lumpur dan pembersihan dari logam berbahaya.
Slag mengandung MgO dan SiO2, yang secara kimia stabil dan bebas dari
substansi berbahaya dan memiliki berbagai sifat yang baik seperti densitas tinggi,
kekerasan dan kekuatan, penempatan yang baik dengan permeabilitas air yang tinggi,
serta ketahanan api yang tinggi dengan pengembangan termal (pemuaian) rendah.
Dengan sifat-sifat tersebut, slag ini kemungkinan dapat digunakan dalam berbagai
tujuan , misalnnya pemadatan badan jalan kendaraan. Namun demikian pemanfaatan
slag ini, PT. Kinlin Nickel Industry Indonesia akan mengajukan izin ke Kementerian
Lingkungan Hidup. Selain itu slag dapat langsung ditimbun di landfill lokasi tambang
sebagai material reklamasi kemudian di tutup dengan top soil selanjutnnya dilakukan
penghijauan.
b. Penangan Limbah Cair
Dalam proses produksi akan menggunakan jumlah air yang besar yaitu untuk
pendinginan dan pencucian. Penggunaan air untuk pendinginan (perlindungan MBF
dari luar)penyemprotan air tekanan tinggi secara cepat pada hot metal MBF dengan
water sprayer. Limbah cair lain dari pencucian presipitator elektrostatik (ESP) yang
digunakan untuk penangkapan gas serta dari pendinginan slag hasil peleburan. Air
bekas pendinginan dan pencucian tersebut melalui drainase di alirkan ke IPAL
kemudian dilakukan treatment dan air tersebut di pergunakan lagi dalam sirkulasi
tertutup untuk penghematan penggunaan air.
Limbah dari kakus akan diproses dalam septic tank, sementara air limbah dari
kamar mandi dan dapur langsung di alirkan ke instalasi pengelolaan air limbah
(IPAL). Air hujan yang turun pada wilayah kompleks perkantoran serta air buangan
saat pembersihan dan pencucian lantai dan atau fasilitas produksi dialirkan melalui
saluran drainase dan di alirkan ke IPAL.