Anda di halaman 1dari 46

MAKALAH

ILMU BAHAN BANGUNAN

“PENGGUNAAN ASPAL SEBAGAI BAHAN PERKERASAN JALAN”


DOSEN : IbuDra. Kristina Sembiring, ST,MT

KELOMPOK :
1. ALDI AGESTO (16510044)
2. BAYU PRASETYO (16510007)
3. IKHWAN RIZALDI (16510006)
4. ZULFIKAR (16510036)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS TAMA JAGAKARSA

Jl. Letjen T.B Simatupang No. 152 Tanjung Barat, Jakarta Selatan
Email :info@jagakarsa.ac.id web-sude : http//www.Jagakarsa.ac.id
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan
rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah kami yang berjudul
“PENGGUNAAN ASPAL SEBAGAI BAHAN PERKERASAN JALAN” ini dengan baik.
Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah ilmu bahan bangunan.
Kami berterima kasih pada Ibu Dra. Kristina Sembiring, ST,MT selaku Dosen mata
kuliah ilmu bahan baguanan yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai informasi-informasi yang berhubungan dengan Aspal.
Pada makalah ini kami banyak mengambil dari berbagai sumber dan refrensi dan
pengarahan dari berbagai pihak .oleh sebab itu, dalam kesempatan ini kami mengucapkan
terima kasih sebesar-sebesarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini.
Penyusunan menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini sangat jauh dari sempurna,
untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna
kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata penyusun mengucapkan terima kasih dan semoga makalah ini dapat
bermanfaat untuk semua pihak yang membaca.

Jakarta, 05 November 2016

Penulis

Page |i Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


DAFTAR ISI

Kata Pengantar........................................................................................................... i

Daftar Isi.................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 1

1.2 Tujuan Penulisan .......................................................................................... 1

BAB II LANDASAN TEORI .................................................................................. 2

2.1 Sejarah Aspal................................................................................................. 2

2.2 Pengertian Aspal ........................................................................................... 3

2.3 Sumber Aspal ................................................................................................ 5

2.4 Macam-macam Aspal................................................................................... 10

2.5 Klasifikasi Aspal .......................................................................................... 12

2.6 Sifat-sifat Aspal............................................................................................ 13

2.7 Pembuatan Aspal.......................................................................................... 17

BAB III PEMBAHASAN ....................................................................................... 18

3.1 Konstruksi Aspal Sebagai Bahan Perkerasan Jalan ..................................... 18

3.2 Jenis Kerusakan dan Metode Perbaikan Perkerasan Jalan ........................... 24

3.3 Aplikasi Aspal .............................................................................................. 33

BAB IV PENUTUP ................................................................................................ 41

3.1 Kesimpulan................................................................................................... 41

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 43

P a g e | ii Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam pembahasan ilmu bahan bangunan, kita mencoba untuk membahas materi
tentang aspal. Aspal merupakan pembahasan ke lima dalam mata kuliah ilmu bahan
bangunan. Dalam penyusunan makalah ini kami coba mengangkat mengenai aspal hal itu
disebabkan karena Indonesia merupakan salah satu penghasil aspal terbesar di dunia, namun
di Indonesia sendiri belum mampu mengeksploritasi aspal secara maksimal. Hal ini di
tunjukan oleh bahan pembuat aspal jalan di Indonesia masih menggunakan aspal dari luar
negeri ( aspal import), padahal aspal di Indonesia masih dapat di eksploitasi dalam kurun
waktu yang lama

1.2 Tujuan Penulisan


Agar lebih mengetahui tentang aspal lebih jauh. Karena aspal adalah sumber daya alam
yang terdapat di Indonesia yang masih belum di eksplorasi lebih jauh karena itu kami
mencoba untuk menggali lebih jauh tentang aspal yang ada di indonesia serta apa saja
teknologi terbaru dalam aspal. Serta sebagai sarat untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah
Ilmu Bahan Bangunan.

Page |1 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Sejarah Aspal
Istilah aspal berasal dari bahasa Yunani kuno asphaltos, kemudian bangsa Romawi
mengubahnya menjadi asphaltus, lalu diadaptasi ke dalam bahasa Inggris menjadi asphalt dan
kita menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi aspal.
Sejarah penggunaan aspal telah dimulai sejak ribuan tahun sebelum masehi oleh
bangsa Sumeria dan Mesopotamia. Mereka menggunakan aspal (bitumen) sebagai lapis
pengedap untuk bak mandi maupun kolam-kolam air di istana dan kuil.
Sejarah penggunaan aspal untuk pembuatan jalan di abad modern dapat ditelusur
kembali pada masa abad ke 18. Seorang insinyur Inggris yang bernama John Metcalf (lahir
1717) harus membangun jaringan jalan di Yorkshire dengan total panjang hampir 300
km.Jalan dibuat dengan batuan berukuran besar diletakkan di bawah sebagai pondasi yang
kuat, kemudian di atasnya diberi batu galian, lalu kerikil sebagai lapis
penutup. Kemudian Thomas Telford membangun jaringan jalan di Skotlandia pada tahun
1803-1821 sepanjang hamper 1.500 km. Telford menyempurnakan metode pembuatan jalan
Metcalf dengan mengganti batu galian dengan batu pecah.Ketebalan lapisan batu pecah juga
sudah dihitung berdasar karakter lalu lintas yang akan melintasi.
Baru pada tahun 1870 campuran aspal digunakan untuk pembangunan jalan, yang
dilakukan oleh seorang ahli kimia Belgia, yang bernama Edmund J. DeSmedt, ketika
membangun jalan di depan balai kota Newark, New Jersey, USA. Campuran yang digunakan
adalah pasir dan aspal alam dari Trinidad.Hasil yang memuaskan membuat para kontraktor
pembangun jalan segera memanfaatkan aspal sebagai bahan konstruksi pada proyek-proyek
pembangunan jalan yang dikerjakan.

Page |2 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


2.2 Pengertian Aspal
Aspal ialah bahan hidro karbon yang bersifat melekat (adhesive), berwarna hitam
kecoklatan, tahan terhadap air, dan visoelastis. Aspal sering juga disebut bitumen
merupakan bahan pengikat pada campuran beraspal yang dimanfaatkan sebagai lapis
permukaan lapis perkerasan lentur. Aspal berasal dari aspal alam (aspal buton} atau aspal
minyak (aspal yang berasal dari minyak bumi). Berdasarkan konsistensinya, aspal dapat
diklasifikasikan menjadi aspal padat, dan aspal cair.
Aspal atau bitumen adalah suatu cairan kental yang merupakan senyawa hidrokarbon
dengan sedikit mengandung sulfur, oksigen, dan klor. Aspal sebagai bahan pengikat
dalam perkerasan lentur mempunyai sifat viskoelastis. Aspal akan bersifat padat pada
suhu ruang dan bersifat cair bila dipanaskan. Aspal merupakan bahan yang sangat
kompleks dan secara kimia belum dikarakterisasi dengan baik. Kandungan utama aspal
adalah senyawa karbon jenuh dan tak jenuh, alifatik dan aromatic yang mempunyai atom
karbon sampai 150 per molekul.
Atom-atom selain hidrogen dan karbon yang juga menyusun aspal adalah nitrogen,
oksigen, belerang, dan beberapa atom lain. Secara kuantitatif, biasanya 80% massa aspal
adalah karbon, 10% hydrogen, 6% belerang, dan sisanya oksigen dan nitrogen, serta
sejumlah renik besi, nikel, dan vanadium. Senyawa-senyawa ini sering dikelaskan atas
aspalten (yang massa molekulnya kecil) dan malten (yang massa molekulnya besar).
Biasanya aspal mengandung 5 sampai 25% aspalten. Sebagian besar senyawa di aspal
adalah senyawa polar.

Konstruksi jalan terdiri dari beberapa lapis, antara lain: Subgrade, Sub Base Course,
Base Course, dan Surface. Aspal beton yang dipergunakan untuk lapis perkerasan jalan juga
terdiri dari beberapa jenis, yaitu: lapis pondasi, lapis aus satu, dan lapis aus dua.

Untuk mendapatkan mutu aspal yang baik, dalam proses perencanaan campuran harus
memperhatikan karakteristik campuran aspal , yang meliputi:

1. Stabilitas
Stabilitas aspal dimaksudkan agar perkerasan mampu mendukung beban lalu lintas
tanpa mengalami perubahan bentuk. Stabilitas campuran diperoleh dari gayagesekan
antar partikel (internal friction), gaya penguncian (interlocking), dan gaya adhesi yang
baik antara batuan dan aspal. Gaya-gaya tersebut dipengaruhi oleh kekerasan

Page |3 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


permukaan batuan, ukuran gradasi, bentuk butiran, kadar aspal, dan tingkat kepadatan
campuran.
2. Durabilitas
aspal dimaksudkan agar perkerasan mempunyai daya tahan terhadap cuaca dan
beban lalu lintas yang bekerja. Faktor-faktor yang mendukung durabilitas meliputi
kadar aspal yang tinggi, gradasi yang rapat, dan tingkat kepadatan yang sempurna.
3. Fleksibilitas
Fleksibilitas aspal dimaksudkan agar perkerasan mampu menanggulangi lendutan
akibat beban lalu lintas yang berulang-ulang tanpa mengalami perubahan
bentuk.Fleksibilitas perkerasan dapat dicapai dengan menggunakan gradasi yang
relatif terbuka dan penambahan kadar aspal tertentu sehingga dapat menambah
ketahanan terhadap pembebanan.

Page |4 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


2.3 Sumber Aspal
ß Aspal merupakan suatu produk berbasis minyak yang merupakan turunan dari proses
penyulingan minyak bumi, dan dikenal dengan nama aspal keras.
ß Aspal juga terdapat di alam secara alamiah, aspal ini aspal alam
ß Aspal ini dibuat dengan menambahkan bahan tambah kedalam aspal yang bertujuan
untuk memperbaiki atau memodifikasi safat rheologinya sehingga menghasilkan jenis
aspal baru yang disebut aspal modifikasi
1. Aspal Hasil Destilasi
Minyak mentah disuling dengan cara Destilasi, yaitu proses dimana berbagai fraksi
dipisahkan dari minyak mentah tersebut. Proses destilasi ini disertai oleh kenaikan
temperatur pemanasan minyak mentah tersebut. Pada setiap temperatur tertentu dari
proses destilasi akan dihasilkan produk-produk berbasis minyak.
Berdasarkan depositnya aspal hasil destilasi ini dikelompokan menjadi 3 kelompok, yaitu:
A. Aspal Keras
Pada proses Destilasi fraksi ringan yang terkandung dalam minyak bumi dipisahkan
dengan destilasi sederhana hingga menyisakan suatu residu yang dikenal dengan nama
aspal keras. Dalam proses destilasi ini, aspal keras baru dihasilkan melalui proses
destilasii hampa pada temperatur sekitar 480 ºC. Temperatur ini bervariasi tergantung
pada sumber minyak mentah yang disulaing atau tingkat aspal keras yang akan
dihasilkan.
Untuk menghasilkan aspal keras dengan sifat-sifat yang diinginkan, proses
penyulingan harus ditangani sedemikian rupa sehingga dapat mengontrol sifat-sifat aspal
keras yang dihasilkan. Hal ini sering dilakukan dengan mencampur berbagai variasi
minyak mentah bersama-sama sebelum proses destilasi dilakukan. Pencampuran ini
nantinya agar dihasilkan aspal keras dengan sifat-sifat yang bervariasi, sesuai dengan
sifat-sifat yang diinginkan. Cara lainnya yang sering dilakukan untuk mendapatkan aspal
keras adalah dengan viskositas menengah, yaitu dengan mencampur berbagai jenis aspal
keras dengan proporsi tertentu dimana aspal keras yang sangat encer dicampur dengan
aspal lainnya yang kurang encer sehingga menghasilkan aspal dengna viskositas
menengah.
Selain melalui proses destilasi hampa dimana aspal dihasilkan dari minyak mentah
dengan pemanasan dan penghampaan, aspal keras juga dapat dihasilkan melalui proses
ekstraksi zat pelarut. Dalam proses ini fraksi minyak ( bensin, solar, dan minyak tanah)

Page |5 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


yang terkandung dalam minyak mentah, dikeluarkan sehingga meninggalkan aspal
sebagai residu.
B.Aspal Cair
Aspal cair dihasilkan dengan melarutkan aspal keras dengan bahan pelarut berbasis
minyak. Aspal ini dapet juga dihasilkan secara langsung dari proses destilasi, dimana
dalam proses ini raksi minyak ringan terkandung dalam minyak mentah tidak seluruhnya
dikeluarkan. Kecepatana menguap dari minyak yang digunakan sebagai pelarut atau
minyak yang sengaja ditinggalkan dalam residu pada proses destilasi akan menentukan
jenis aspal cair yang dihasilkan.
Aspal cair dibedakan dalam beberapa jenis, yaitu:
∑ Aspal Cair Cepat Mantap (RC = Rapid Curing), yaitu aspal cair yang bahan
pelarutnya cepat menguap. Pelarut yang digunakan pada aspal jenis ini biasanya
adalah bensin
∑ Aspal Cair Mantap Sedang (MC = Medium Curing), yaituaspal cair yang bahan
pelarutnya tidak begitu cepat menguap. Pelarut yang digunakan pada aspal jenis
ini biasanya adalah minyak tanah
∑ Aspal Cair Lambar Mantap (SC = Slow Curing), yaitu aspal cair yang bahan
pelarutnya lambat menguap. Pelarut yang digunakan pada aspal jenis ini adalah
solar.

Tingkat kekentalan aspal cair sanagat ditentukan oleh proporsi atau rasio bahan
pelarut yang digunakan terhadap aspal keras atau yang terkandung pada aspal cair
tersebut. Aspal cair jenis MC-800 memiliki nilai kekentalan yang lebih tinggi dari
MC-200.

Page |6 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


C. Aspal Emulsi

Aspal emulsi adalah suatu campuran aspal dengan air dan bahan pengemulsi.Aspal
emulsi dihasilkan melalui proses pengemulsian aspal keras. Pada proses ini partikel-
partikel aspal keras dipisahkan dan didispersikan dalam airyang mengandung emulsifer
(emulgator). Partikel aspal yang terdispersi ini berukuran sangat kecil bahkan sebagian
besar berukuran sangat kecil bahkansebagian besar berukuran koloid.
Jenis emulsifer yang digunakan sangat mempengaruhi jenis dan kecepatan pengikatan
aspal emulsi yang dihasilkan. Berdasarkan muatan listrik zat pengemulsi yang digunakan,
Aspal emulsi yang dihasilkan dapat dibedakan menjadi :
∑ Aspal emulsi Anionik, yaitu aspal emulsi yang berion negatif.
∑ Aspal emulsi Kationik, yaitu aspal emulsi yang berion positif
∑ Aspal emulsi non-Ionik, yaitu aspal emulsi yang tidsk berion (netral)

Page |7 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


2. Aspal Alam
Aspal Alam adalah aspal yang secara alamiah terjadi di alam. Berdasarkan depositnya
aspal alam ini dikelompokan menjadi 2 kelompok, yaitu:
A. Aspal Danau ( Lake Asphalt)

Aspal ini secara alamiah terdapat di danau Trinidad, Venezuella dan lewele.
Aspal ini terdiri dari bitumen, mineral, dan bahan organik lainnya. Angka
penetrasi dari aspal ini sangat rendah dan titik lembek sangat tinggi.
Karena aspal ini dicampur dengan aspal keras yang mempunyai angka
penetrasiyang tinggi dengan perbandingan tertentu sehingga dihasilkan aspal
dengan angka penetrasi yang diinginkan.
B. Aspal Batu ( Rock Asphalt)

Aspal batu Kentucky dan buton adalah aspal yang secara alamiah terdeposit di
daerah Kentucky, USA dan di pulau buton, Indonesia. Aspal dari deposit ini
terbentuk dalam celah-calah batuan kapur dan batuan pasir. Aspal yang
terkandung dalam batuan ini berkisar antara 12 – 35 % dari masa batu tersebut
dan memiliki persentasi antara 0 – 40. Untuk pemakaiannya, deposit ini harus
ditimbang terlebih dahulu, lalu aspalnya diekstrasi dan dicampur dengan
minyak pelunak atau aspal keras dengan angka penetrasi sesuai dengan yang
diinginkan. Pada saat ini aspal batu telah dikembangkan lebih lanjut, sehingga

Page |8 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


menghasilkan aspal batu dalam bentuk butiran partikel yang berukuran lebih
kecil dari 1 mm dan dalam bentuk mastik.

3. Aspal Modifikasi
Aspal modifikasi dibuat dengan mencampur aspal keras dengan suatu bahan tambah.
Polymer hádala jenis bahan tambah yang sering di gunakan saat ini, sehinga aspal
modifikasi sering disebut juga aspal polymer.
Antara lain berdasarkan sifatnya, ada dua jenis bahan polymer yang biasanya
digunakan untuk tujuan ini, yaitu:
∑ Aspal Polymer Elastomer dan karet adalah jenis – jenis polyer elastomer yang
SBS (Styrene Butadine Sterene), SBR (Styrene Butadine Rubber), SIS (Styrene
Isoprene Styrene), dan karet adalah jenis polymer elastoner yang biasanya
digunakan sebagai bahan pencampur aspal keras. Penambahan polymer jenis ini
dimaksudkan untuk memperbaiki sifat rheologi aspal, antara lain penetrasi,
kekentalan, titik lembek dan elastisitas aspal keras. Campuran beraspal yang
dibuat dengan aspal polymer elastomer akan memiliki tingkat elastisitas yang
lebih tinggi dari campuran beraspal yang dibuat dengan aspal keras.
Presentase penambahan bahan tambah ( additive) pada pembuatan aspal
polymer harus ditentukan berdasarkan pengujian labolatorium, karena
penambahan bahan tambah sampai dengan batas tertentu memang dapat
memperbaiki sifat-sifat rheologi aspal dan campuran tetapi penambahan yang
berlebiha justru akan memberikan pengaruh yang negatif.
∑ Aspal Polymer Plastomer
Seperti halnya dengan aspal polymer elastomer, penambahan bahan polymer
plastomer pada aspal keras juga dimaksudkan untuk meningkatkan sifat rheologi
baik pada aspal keras dan sifat sifak campuran beraspal. Jenis polymer
plastomer yang telah banyak digunakan antara lain adalah EVA ( Ethylene
Vinyle Acetate), Polypropilene, dan Polyethilene. Presentase penambahan
polymer ini kedalam aspal keras juga harus ditentukan berdasarkan pengujian
labolatorium, karena penambahan bahan tambah sampai dengan batas tertentu
penambahan ini dapat memperbaiki sifat-sifat rheologi aspal dan campuran
tetapi penambahan yang berlebiha justru akan memberikan pengaruh yang
negatif.

Page |9 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


2.3 Macam – macam Aspal
1. Aspal Makadam (macadam penetrasi)

Aspal yang digunakan untuk menambal tebal kontruksi pondasi dan untuk
memperbaharui permukaan. Terdiri dari lapisan batuan dengan butir yang lebih besar
diletakan diatas permukaan jalan, dengan tebal kurang lebih 1,5 x ukuran batuan
terbesar, kemudian dipadatkan sehingga menjadi kompak dan stabil, selanjutnya
dipenetrasi agar saling mengikat.

Kesalahan aspal makadam :


- penggunaan batuan yang tidak benar
- penyebaran aspal yang tidak benar
2. Beton Aspal

Batuan kering yang dipanaskan dicampur dengan aspal panas dengan aspal panas
dalam pabrik pencampur dan diangkut ketempat pekerjaan.

P a g e | 10 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


Kelebihan pada aspal beton
a. kepadatan tinggi dengan ruang kosong yang rendah (3-8 %)
b. kadar aspal rendah (4-6%)
c. permukaan lapisan lebih tahan lama
d. mampu menahan gesekan
e. permukaannya rata
f. pencampurannya saggat merata
g. kekuatan dan stabilitasnya yang tinggi
Kesalahan pada aspal beton :
h. gradasi batuan tidak benar
i. terlalu banyak aspal
j. pencampuran aspal terlalu sedikit
k. batuan tidak cukup kering
l. kesalahan pelaksanaan penghamparan
m. kesalahan membuat sambungan

3. Butas (Buton aspal)

Aspal yang tergolong aspal batu / rock aspal, banyak di temui di pulau buton,
sulawesi tenggara. Bentuknya seperti batu cadas berwarna hitam
Kesalahan pada butas :
a. waktu pengeraman terlalu singkat / lama
b. pengadukan tidak homogen
c. terjadi segregasi
d. komposisi campuran tidak benar.

P a g e | 11 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


2.5 Klasifikasi Aspal
Aspal keras dapat di klasifikasikan kedalam tingkatan ( grade ) atau kelas berdasarkan
sistem yang berbeda, yaitu:
1. Viskositas, viskositas setelah penuaan dan penetrasi. Masing-masing sistem
mengelompokan aspal dalam tingkatan atau kelas yang berbeda pula. Dalam
pengklasifikasian aspal yang ada, yang paling banyak digunakan adalah sistem
pengklasifikasin berdasarkan viskositas dan penetrasi.
Dalam sistem viskositas, satuan poise adalah estándar pengukuran viskositas
absolut. Makin tinggi nilai poise statu aspal makin kental aspal tesebut.
AC-25 ( aspal keras dengan viskositasn250 pose pada temperature 60°C) adalah jenis
aspal keras yang bersifat lunak, AC-40 (aspal keras dengan 400 poise pada
temperature 60ºC) adalah jenis aspal keras yang bersifat keras.
Beberapa Negara mengelompokan aspal berdasarkan viskositas estela
penuaan. Ide ini untuk mengidentifikasikan viskositas aspal estela penghamparan di
lapangan. Untuk mensimulasikan penuaan aspal selama pencampuran, aspal segar
yang akan digunakan dituangkan terlebihdahulu dalam oven melalui pengujian Thin
Film Oven Test (TFOT) dan Rolling Film Oven Test (RTFOT). Sisa aspal yang
tertinggal (residu) kemudian ditentukan tingkatannya (grade) berdasarkan
fiskositasnya dalam satuan poise.
2. Uji Penetrasi, Pengujian kekerasan aspal dilakukan dengan pengujian penetrasi, yaitu
dengan menggunakan jarum penetrasi berdiameter 1 mm dan beban 50 gram. Berat
jarum dan beban menjadi 100 gram. Nilai penetrasi jarum beserta beban, yang masuk
ke dalam contoh aspal selama 5 detik dan dilakukan pada temperatur 25˚ C dibaca
pada arloji pengukur, dalam satuan 0,1 mm.

P a g e | 12 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


2.6 Sifat-sifat Aspal
Sifat-sifat aspal ada dua macam, yaitu :
1. Sifat Kimia Aspal
2. Sifat Fisik Aspal

1. Sifat-sifat Kimia Aspal

Aspal keras dihasilkan melalui proses destilasi minyak bumi. Minyak bumi yang
digunakan terbentuk secara alami dari senyawa-senyawa organik yang telah berumur ribuan
tahun dibawah tekanan dan variasi temperatur yang tinggi.Susunan struktur internal aspal
sangat ditentukan oleh susunan kimia molekul-molekul yang terdapat dalam aspal tersebut.
Susunan molekul aspal sangat kompleks dan dominasi ( 90 -95% dari berat aspal)oleh unsur
karbon dan hidrogen. Oleh sebab itu, senyawa aspal seringkali disebut sebagai senyawa
hidrokarbon. Sebagian kecil, sisanya (5-10%), dari dua jenis atom, yaitu: heteroatom dan
logam.
Unsur-unsur heteroatom seperti Nitrogen, Oksigen dan Sulfur. Dapat menggantikan
kedudukan atom karbon yang terdapat di dalam stuktur molekul aspal. Hal inilah yang
menyebabkan aspal memiliki rantai kimia yang unik dan interaksi antar atom tom ini dapat
menyebabkan perubahan pada sifat fisik aspal. Jenis dan jumlah heteroatom yang terkandung
didalam aspal sangat ditentukan oleh sumber minyak tanah mentah yang digunakan dan
tingkat penuaannya. Heteroatom, terutama sulfur lebih reaktif daripada karbon dan hidrogen
untuk mengikat oksigen. Oleh sebab itu, aspal degna kandungan sulfur yang tinggi akan
mengalami penuaan yang lebih cepat dari pada aspal yang mengandung sedikit sulfur.
Atom logam seperti vanadium, nikel, besi, magnasium dan kalsium hanya terkandung
di dalam aspal dalam jumlah yang sangat kecil, umumnya aspal hanya mengandung satu
persen atom logam dalam bentuk garam organik dan hidroksidanya.
Karena susunan kimia aspal yang sangat kompleks, maka analisa kimia aspal sangat
sulit dilakukan dan memerlukan peralatan labolatorium yang canggih, dan data yang
dihasilkan pun belum tentu memiliki hubung an dengan sifat rheologi aspal.Analisa kimia
yang dihasilkan biasanya hanya dapat memisahkan molekul aspal dalam dua grup, yaitu
aspalten dan malten. Selanjutnya malten dapat dibagi menjadi saturated, aromatik dan resin.
Walaupun begitu pembagian ini tidak dapat didefinisikan secara jelas karena adanya sifat
saling tumpang tindih antara kelompok-kelompok tersebut.

P a g e | 13 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


v Aspalten
Aspalten adalah unsur kimia aspla yng padat yang tidak larut dalam n- penten. Aspalten
berwarna cokelat sampai hitam yang mengandung karbon dan hidrogen dengan
perbandungan 1 : 1, dan kadang-kadang juga mengandung nitrogen, sulfur, dan oksigen.
Aspalten biasanya deanggap sebagai material yang bersifat polar danmemiliki bau yang
khas dengan berat molekul yang cukup berat. Molekul aspalten ini memiliki ukuran
antara 5-30 nano meter. Besar kecilnya kandungan aspalten dalam aspal sangat
mempengaruhi sifat rheologi aspal tersebut. Peningkatan kandungan aspalten dalam aspal
menghasilkan aspal yang lebih keras dengan nilai penetrasi yang rendah, titik lembek
yang tinggi dan tingkat kekentalan aspal yang tinggi pula.

v Malten
Malten adalah unsur kimia lainnya yang terdapat di dalam aspal selain aspalten. Unsur
malten ini dapat dibagi lagi menjadi 3 :
a) Resin
Resin secara dominan terdiri dari hidrogen dan karbon, dan sedikit mengandung
oksigen, sulfur dan nitrogen. Rasio kandungan unsur hidrogen terhadap karbn di
dalam resin berkisar antara 1,3 – 1,4. Resin ini memiliki ukuran antara 1-5 nanometer,
berwarna cokelat, berbentuk semi padat, bersifar sangat polar dan memberikan sifat
adesif pada aspal. Didalam aspal, resin berperan sebagai zat pendispersi aspaltene.
Sifat aspal, SOL ( larutan ) atau GEL ( jeli) sangat ditentukan oleh proporsi
kandungan resin terhadap kandungan aspalten yang terdapat pada aspal tersebut.
b) Aromatik
Aromatik adalah unsur pelaryt aspalten yang paling dominan di dalam aspal.
Aromatik berbentuk cairan kental yang berwarna cokelat tua dan kandungan di dalam
aspal bersifat antara 40% - 60% terhadap berat aspal. Aromatik terdiri dari rantai
karbon yang bersifat non polar yang didominasi oleh unsur tak jenuh ( un saturated)
dan memiliki daya larut yang tinggi terhadap molekul hidrokarbon.

c) Saturated
Saturated adalah bagian dalam molekul malten yang berupa minyak kental yang
berwarna putih atau kekuning-kuningan dan bersifat non polar. Saturated terdiri dari
parafin ( wax) dan non parafin, kandungannya di dalam aspal berkisar antara 5% -
20% terhadap berat aspal.
P a g e | 14 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal
2. Sifat – sifat Fisik Aspal

Sifat-sifat aspal yang sangat mempengaruhi perencanaan, produksi dan kinerja campuran
beraspal antara lain adalah:
1. Durabilitas
Kinerja aspal sangat dipengaruhi oleh sifat aspal tersebut setelah diguakan sebagai bahan
pengikat dalam campuran beraspal dan dihampar dilapangan. Hal ini di sebabakan
karena sifat-saifat aspat akan berubah secara signifikan akibat oksidasi dan pengelupasan
yang terjadi pada saat pencampuran, pengankutan dan penghamparan campuran beraspal
di lapangan. Perubahan sifat ini akan menyebabkan aspal menjadi berdakhtilitas rendah
atau dengna kata lain aspal telah mngalami penuan. Kemampuan aspal untuk
menghambat laju penuaan ini disebut durabilitas aspal. Pengujian bertujuan untuk
mengetahui seberapa baik aspal untuk mempertahankan sifat –sifat awalnya akibat
proses penuaan. Walaupun banyak faktor lain yang menentukan, aspal dengna durabilitas
yang baik akan menghasilkan campuran dengna kinerja baik pula. Pengujian kuantitatif
yang biasanya dilakukan untuk mengetahui durabilitas aspal adalah pengujian penetrasi,
titik lembek, kehilangan berat dan daktilitas. Pengujian ini dlakukan pada benda uji yang
telah mengalami Presure Aging Vassel ( PAV), Thin Film Oven Test ( TFOT) dan
Rolling Thin Film Oven Test ( RTFOT). Dua proses penuaan terakhir merupakan proses
penuaan yang paling banyak di gunakan untuk mengetahui durabilitas aspal. Sifat aspal
terutama Viskositas dan penetrasi akan berubah bila aspal tesebut mengalami pemanasan
atau penuaan. Aspal dengan durabilitas yang baik hanya mengalami perubahan.

2. Adesi dan Kohesi


Adesi adalah kemampuan partikel aspal untuk melekat satu sama lainnya, dan kohesi
adalah kemampuan aspal untuk melekat dan mengikat agregat. Sifat adesi dan kohesi
aspal sangat penting diketahui dalam pembuatan campuran beraspal Karena sifat ini
mempengaruhi kinerja dan durabilitas campuran. Uji daktilitas aspal adalah suatu ujian
kualitatif yang secara tidak langsung dapat dilakukan untuk mengetahui tingkat adesifnes
atau daktalitas aspal keras.Aspal keras dengna nilai daktilitas yang rendah adalah aspal
yang memiliki daya adesi yang kurang baik dibandingkan dengan aspal yang memiliki
nilai daktalitas yang tinggi. Uji penyelimutan aspal terhadap batuan merupakan uji
kuantitatif lainnya yang digunakan untuk mengetahui daya lekat ( kohesi) aspal terhadap
batuan. Pada pengujian ini, agregat yang telah diselimuti oleh film aspal direndam dalam
P a g e | 15 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal
air dan dibiarkan selama 24 jam dengan atau tanpa pengadukan. Akibat air atau
kombinasi air dengan gaya mekanik yang diberikan, aspal yang menyilimuti pemukaan
agregat akan terkelupas kembali. Aspal dengan gaya kohesi yang kuat akan melekat erat
pada permukaan agregat, oleh sebab itu pengelupasan yang tejadi sebagai akibat dari
pengaruh air atau kombinasi air dengan gaya mekanik sangat kecil atau bahkan tidak
terjadi sama sekali

3. Kepekaan aspal terhadap temperatur


Seluruh aspal bersifat termoplastik yaitu menjadi lebih keras bila temperatur menurun
dan melunak bila temperature meningkat.Kepekaan aspal untuk berubah sifat akibat
perubahan tempertur ini di kenal sebagai kepekaan aspal terhadap temperatur.

4. Pengerasan dan penuaan aspal


Penuaan aspal adalah suatu parameter yang baik untuk mengetahui durabilitas campuran
beraspal. Penuaan ini disebabkan oleh dua factor utama, yaitu: penguapan fraksi minyak
yang terkandung dalam aspal dan oksidasi penuaan jangka pendek dan oksidasi yang
progresif atau penuaan jangka panjang. Oksidasi merupakan factor yang paling penting
yang menentukan kecepatan penuaan.

P a g e | 16 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


2.7 Pembuatan Aspal
Bahan dasar aspal di peroleh dari :
-Tambang / Alam yang dapat terjadi dari aspal danau, batu kapur aspal, dan batu pasir aspal
serta mastik aspal
hasil sampingan dari proses pemurnian minyak.
Dalam proses pembuatan aspal minyak bumi, mula-mula dari suatu sumur minyak yang
masih bercampur pasir dan air. Minyak bumi di sedot keluar, di tempatkan dalam tanki ,
kemudian di alirkan ke gardu pompa untuk selanjutnya di pompa untuk selanjutnya di pompa
ke dalam tangki pengilangan .

Gambar.Pengolahan Aspal Minyak ( Penyulingan )

Setelah bejana pipa dan bejana lain dengan pemanasan pada suhu tertentu dalam proses yang
kemudian di hasilkan destilat ringan, destilat sedang, destilat berat, dan destilat residu, dari
destilat-destilat ini dalam suatu prosesing yang di hasilkan :
- Bensin
- Minyak tanah, minyak bakar ringan
- Minyak diesel
- Minyak Pelumas
Dari bahan residu di hasilkan minyak bakar residu. Bahan residu setelah diproses lagi di
hasilkan : - Aspal padat
- Semen aspal
Dengan penetrasi tertentu dari aspal akan di hasilkan bahan aspal cair, di alirkan ke instalasi
emulsi di hasilkan aspal emulsi.

P a g e | 17 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Konstruksi Aspal Sebagai Bahan Perkerasan Jalan

Perkerasan adalah lapisan atas dari badan jalan yang dibuat dari bahan-bahan khusus
yang bersifat baik/konstruktif dari badan jalannya sendiri. Berdasarkan bahan pengikat yang
menyusunnya, konstruksi perkerasan jalan dibedakan atas beberapa jenis antara lain :

1. STRUKTUR KONSTRUKSI PERKERASAN


Pada umumnya,Kontruksi perkerasan jalan terdiri dari beberapa jenis lapisan perkerasan
yang tersusun dari bawah ke atas,sebagai berikut :
· Lapisan tanah dasar (sub grade)
· Lapisan pondasi bawah (subbase course)
· Lapisan pondasi atas (base course)
· Lapisan permukaan / penutup (surface course)

2. JENIS KONSTRUKSI PERKERASAN JALAN


Terdapat beberapa jenis / tipe perkerasan terdiri :
a. Flexible pavement (perkerasan lentur/Aspal).
b. Rigid pavement (perkerasan kaku/Beton).

a. Konstruksi perkerasan lentur (Flexible Pavement), yaitu perkerasan yang menggunakan


aspal sebagai bahan pengikatnya. Lapisan-lapisan perkerasan bersifat memikul dan
menyebarkan beban lalu lintas ke tanah dasar.

Gambar .Lapisan Konstruksi Perkerasan Lentur


b. Konstruksi perkerasan kaku (Rigit Pavement), yaitu perkerasan yang menggunakan
semen (Portland Cement) sebagai bahan pengikatnya. Pelat beton dengan atau tanpa
tulangan diletakkan diatas tanah dasat dengan atau tanpa lapis pondasi bawah. Beban lalu
lintas sebagian besar dipikul oleh pelat.

P a g e | 18 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


Gambar . Lapisan Konstruksi Perkerasan Kaku

1. Konstruksi Perkerasan Lentur (Aspal)

Konstruksi perkerasan lentur (flexible pavement), adalah perkerasan yang


menggunakan aspal sebagai bahan pengikat dan lapisan-lapisan perkerasannya bersifat
memikul dan menyebarkan beban lalu lintas ke tanah dasar. Aspal itu sendiri adalah
material berwarna hitam atau coklat tua, pada temperatur ruang berbentuk padat sampai
agak padat. Jika aspal dipanaskan sampai suatu temperatur tertentu, aspal dapat menjadi
lunak / cair sehingga dapat membungkus partikel agregat pada waktu pembuatan aspal
beton. Jika temperatur mulai turun, aspal akan mengeras dan mengikat agregat pada
tempatnya (sifat termoplastis). Sifat aspal berubah akibat panas dan umur, aspal akan
menjadi kaku dan rapuh sehingga daya adhesinya terhadap partikel agregat akan
berkurang. Perubahan ini dapat diatasi / dikurangi jika sifat-sifat aspal dikuasai dan
dilakukan langkah-langkah yang baik dalam proses pelaksanaan. Konstruksi perkerasan
lentur terdiri atas lapisan-lapisan yang diletakkan diatas tanah dasar yang telah
dipadatkan. Lapisan-lapisan tersebut berfungsi untuk menerima beban lalu lintas dan
menyebarkan ke lapisan yang ada dibawahnya, sehingga beban yang diterima oleh tanah
dasar lebih kecil dari beban yang diterima oleh lapisan permukaan dan lebih kecil dari
daya dukung tanah dasar.

P a g e | 19 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


Gambar 2.4. Lapisan Konstruksi Perkerasan Lentur

a. Lapisan permukaan (Surface Course)


Lapis permukaan struktur pekerasan lentur terdiri atas campuran mineral agregat dan
bahan pengikat yang ditempatkan sebagai lapisan paling atas dan biasanya terletak di
atas lapis pondasi. Fungsi lapis permukaan antara lain :
a) Sebagai bagian perkerasan untuk menahan beban roda.
b) Sebagai lapisan tidak tembus air untuk melindungi badan jalan dari kerusakan
akibat cuaca.
c) Sebagai lapisan aus (wearing course)
Bahan untuk lapis permukaan umumnya sama dengan bahan untuk lapis pondasi
dengan persyaratan yang lebih tinggi. Penggunaan bahan aspal diperlukan agar
lapisan dapat bersifat kedap air, disamping itu bahan aspal sendiri memberikan
bantuan tegangan tarik, yang berarti mempertinggi daya dukung lapisan terhadap
beban roda. Pemilihan bahan untuk lapis permukaan perlu mempertimbangkan
kegunaan, umur rencana serta pentahapan konstruksi agar dicapai manfaat sebesar-
besarnya dari biaya yang dikeluarkan.
b. Lapisan Pondasi Atas (Base Course)
Lapis pondasi adalah bagian dari struktur perkerasan lentur yang terletak langsung di
bawah lapis permukaan. Lapis pondasi dibangun di atas lapis pondasi bawah atau,
jika tidak menggunakan lapis pondasi bawah, langsung di atas tanah dasar. Fungsi
lapis pondasi antara lain :
a) Sebagai bagian konstruksi perkerasan yang menahan beban roda.
b) Sebagai perletakan terhadap lapis permukaan.
Bahan-bahan untuk lapis pondasi harus cukup kuat dan awet sehingga dapat menahan
beban-beban roda. Sebelum menentukan suatu bahan untuk digunakan sebagai bahan
pondasi, hendaknya dilakukan penyelidikan dan pertimbangan sebaik-baiknya
sehubungan dengan persyaratan teknik. Bermacam-macam bahan alam/setempat

P a g e | 20 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


(CBR > 50%, PI < 4%) dapat digunakan sebagai bahan lapis pondasi, antara lain :
batu pecah, kerikil pecah yang distabilisasi dengan semen, aspal, pozzolan, atau
kapur.
c. Lapisan Pondasi Bawah (Sub Base Course)
Lapis pondasi bawah adalah bagian dari struktur perkerasan lentur yang terletak
antara tanah dasar dan lapis pondasi. Biasanya terdiri atas lapisan dari material
berbutir (granular material) yang dipadatkan, distabilisasi ataupun tidak, atau lapisan
tanah yang distabilisasi. Fungsi lapis pondasi bawah antara lain :
a) Sebagai bagian dari konstruksi perkerasan untuk mendukung dan menyebar
beban roda
b) Mencapai efisiensi penggunaan material yang relatif murah agar lapisanlapisan di
atasnya dapat dikurangi ketebalannya (penghematan biaya konstruksi).
c) Mencegah tanah dasar masuk ke dalam lapis pondasi.
d) Sebagai lapis pertama agar pelaksanaan konstruksi berjalan lancar.
Lapis pondasi bawah diperlukan sehubungan dengan terlalu lemahnya daya dukung
tanah dasar terhadap roda-roda alat berat (terutama pada saat pelaksanaan konstruksi)
atau karena kondisi lapangan yang memaksa harus segera menutup tanah dasar dari
pengaruh cuaca. Bermacam-macam jenis tanah setempat (CBR > 20%, PI < 10%)
yang relatif lebih baik dari tanah dasar dapat digunakan sebagai bahan pondasi
bawah. Campuran-campuran tanah setempat dengan kapur atau semen portland,
dalam beberapa hal sangat dianjurkan agar diperoleh bantuan yang efektif terhadap
kestabilan konstruksi perkerasan.
d. Lapisan Tanah Dasar (Subgrade)
Kekuatan dan keawetan konstruksi perkerasan jalan sangat tergantung pada sifatsifat
dan daya dukung tanah dasar. Dalam pedoman ini diperkenalkan modulus resilien
(MR) sebagai parameter tanah dasar yang digunakan dalam perencanaan Modulus
resilien (MR) tanah dasar juga dapat diperkirakan dari CBR standar dan hasil atau
nilai tes soil index. Korelasi Modulus Resilien dengan nilai CBR (Heukelom &
Klomp) berikut ini dapat digunakan untuk tanah berbutir halus (fine-grained soil)
dengan nilai CBR terendam 10 atau lebih kecil. MR (psi) = 1.500 x CBR Persoalan
tanah dasar yang sering ditemui antara lain :
a) Perubahan bentuk tetap (deformasi permanen) dari jenis tanah tertentu sebagai
akibat beban lalu-lintas.

P a g e | 21 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


b) Sifat mengembang dan menyusut dari tanah tertentu akibat perubahan kadar air.
c) Daya dukung tanah tidak merata dan sukar ditentukan secara pasti pada daerah
dan jenis tanah yang sangat berbeda sifat dan kedudukannya, atau akibat
pelaksanaan konstruksi.
d) Lendutan dan lendutan balik selama dan sesudah pembebanan lalu-lintas untuk
jenis tanah tertentu.
e) Tambahan pemadatan akibat pembebanan lalu-lintas dan penurunan yang
diakibatkannya, yaitu pada tanah berbutir (granular soil) yang tidak dipadatkan
secara baik pada saat pelaksanaan konstruksi.

2. Konstruksi Perkerasan Kaku (BETON)

Perkerasan jalan beton semen atau secara umum disebut perkerasan kaku, terdiri atas plat
(slab) beton semen sebagai lapis pondasi dan lapis pondasi bawah (bisa juga tidak ada) di atas
tanah dasar. Dalam konstruksi perkerasan kaku, plat beton sering disebut sebagai lapis
pondasi karena dimungkinkan masih adanya lapisan aspal beton di atasnya yang berfungsi
sebagai lapis permukaan.

Perkerasan beton yang kaku dan memiliki modulus elastisitas yang tinggi, akan
mendistribusikan beban ke bidang tanah dasra yang cukup luas sehingga bagian terbesar dari
kapasitas struktur perkerasan diperoleh dari plat beton sendiri. Hal ini berbeda dengan
perkerasan lentur dimana kekuatan perkerasan diperoleh dari tebal lapis pondasi bawah, lapis
pondasi dan lapis permukaan.
Karena yang paling penting adalah mengetahui kapasitas struktur yang menanggung beban,
maka faktor yang paling diperhatikan dalam perencanaan tebal perkerasan beton semen
adalah kekuatan beton itu sendiri. Adanya beragam kekuatan dari tanah dasar dan atau
pondasi hanya berpengaruh kecil terhadap kapasitas struktural perkerasannya.
Lapis pondasi bawah jika digunakan di bawah plat beton karena beberapa pertimbangan,
yaitu antara lain untuk menghindari terjadinya pumping, kendali terhadap sistem drainasi,
kendali terhadap kembang-susut yang terjadi pada tanah dasar dan untuk menyediakan lantai
kerja (working platform) untuk pekerjaan konstruksi.

P a g e | 22 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


Secara lebih spesifik, fungsi dari lapis pondasi bawah adalah :
· Menyediakan lapisan yang seragam, stabil dan permanen.
· Menaikkan harga modulus reaksi tanah dasar (modulus of sub-grade reaction = k),
menjadi modulus reaksi gabungan (modulus of composite reaction).
· Mengurangi kemungkinan terjadinya retak-retak pada plat beton.
· Menyediakan lantai kerja bagi alat-alat berat selama masa konstruksi.
· Menghindari terjadinya pumping, yaitu keluarnya butir-butiran halus tanah bersama air
pada daerah sambungan, retakan atau pada bagian pinggir perkerasan, akibat lendutan
atau gerakan vertikal plat beton karena beban lalu lintas, setelah adanya air bebas
terakumulasi di bawah pelat.

- Kelebihan Jalan Beton


-Dapat menahan beban kendaraan yang berat
-Tahan terhadap genangan air dan banjir
-Biaya perawatan lebih murah dibanding jalan aspal
-Dapat digunakan pada struktur tanah lemah tanpa perbaikan struktur tanahnya terlebih
dahulu
-Pengadaan material lebih mudah didapat

- Kekurangan jalan beton


Kualitas jalan beton sangat bergantung pada proses pelaksanaannya misal pengeringan yang
terlalu cepat dapat menimbulkan keretakan jalan, untuk mengatasi hal ini dapat
menambahkan zat kimia pada campuran beton atau dengan menutup beton pasca pengecoran
dengan kain basah untuk memperlambat proses pengeringan
Untuk penggunaan pada jalan rayadengan kapasitas berat kendaraan yang tinggi, maka biaya
konstruksi jalan beton lebih mahal dibanding jalan aspal, namun lebih murah pada masa
perawatan.
Kehalusan dan gelombang jalan sangat ditentukan pada saat proses pengecoran sehingga
diperlukan pengawasan yang ketat.
Proses perbaikan jalan dengan cara menumpang pada konstruksi jalan beton yang lama,
sehingga menaikan ketinggian elevasi jalan, sehingga terkadang elevasi jalan lebih tinggi
dibanding rumah di sampingnya.
Warna beton membuat suasana jalan menjadi keras dan gersang shingga menimbulkan efek
kehati-hatian bagi pengendara di atasnya

P a g e | 23 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


3.2 Jenis Kerusakan dan Metode Perbaikan Perkerasan Jalan
Kerusakan pada struktur perkerasan jalan dapat terjadi dengan kondisi yang berbeda-
beda sesuai dengan tingkat kerusakannya; berat, sedang, ataupun ringan. Disarankan pada
saat kondisi kerusakan ringan dapat segera diperbaiki dengan cara pemeliharaan rutin, agar
kerusakan tidak berkembang lebih lanjut atau semakin parah yang berakibat semakin mahal
biaya untuk perbaikannya. Sesuai dengan jenis perkerasan jalan yang umumnya
dilaksanakan, maka kerusakan yang terjadi umumnya mengikuti jenis perkerasan itu masing-
masing.
1. Pada perkerasan lentur (Aspal)
A. Lapis permukaan (Berdasarkan bentuk retak)
1. Meander (meandering)
a. Retak halus (hair cracks)

Disebabkan :
1) Bahan perkerasan/ kualitas material kurang baik.
2) Pelapukan permukaan.
3) Air tanah pada badan perkerasan jalan.
4) Tanah dasar/ lapisan dibawah permukaan kurang stabil.

Metode Perbaikan :
1) Ditambal atau di tutup sesuai dengan ukuran dan tingkat kerusakannya.

2.Garis (line)
a. Retak tepi (edge cracks)

Disebabkan :
1) Bahan dibawah retak pinggir kurang baik atau perubahan volume akibat jenis
ekspansif clay pada tanah dasar .
2) Sokongan bahu samping kurang baik.
3) Drainase kurang baik.
4) Akar tanaman yang tumbuh di tepi perkerasan dapat pula menjadi sebab terjadinya
retak tepi

Metode Perbaikan :
1) Perbaikan bergantung pada tingkat kerusakannya, jika bahu jalan tidak mendukung
pinggir perkerasan maka material yang buruk di bongkar dan di gantikan dengan

P a g e | 24 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


material baik yang dipadatkan.
2) Jika air menjadi faktor penyabab kerusakan pecah ,maka harus dibuatkan drainase.
3) Penambahan parsial

b. Retak pertemuan perkerasan bahu (edge joint cracks)

Disebabkan :
1) Perbedaan ketinggian antara bahu beraspal dengan perkerasan, akibat penurunan
bahu.
2) Penyusutan material bahu/ badan perkerasan jalan.
3) Drainase kurang baik.
4) Roda kendaraan berat yang menginjak bahu beraspal.
5) Material pada bahu yang kurang baik/ kurang memadai.

Metode Perbaikan :
1) Retak dapat ditutup dengan larutan pengisi, retak yang besar diisi dengan larutan
emulsi aspal yang diikuti dengan penanganan permukaan atau larutan pengisi
2) Pengkasaran dengan pemanas dan lapis tambahan(overlay)

c. Retak sambungan jalan (lane joint cracks)

Disebabkan :
1) Ikatan sambungan kedua jalur yang kurang baik.

Metode Perbaikan :
1) Perbaikan dapat dilakukan dengan memasukan campuran aspal cair dan pasir kedalam
celah yang terjadi

d. Retak sambungan pelebaran (widening cracks)

Disebabkan :
1) Ikatan sambungan yang kurang baik.
2) Perbedaan kekuatan/ daya dukung perkerasan pada jalan pelebaran dengan jalan lama.

P a g e | 25 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


Metode Perbaikan :
1) Perbaikan dilakukan dengan mengisi celah-celah yang timbul dengan campuran aspal
cair+pasir

3. Blok (block)
a. Retak refleksi (reflection cracks)

Disebabkan :
1) Pergerakan vertikal/ horizontal di bawah lapis tambahan (lapisan overlay) sebagai
akibat perubahan kadar air pada tanah dasar yang ekspansif .
2) Perbedaan penurunan (settlement) dari timbunan/ pemotongan badan jalan dengan
struktur perkerasan.

Metode Perbaikan :
1) Retak dapat ditutup dengan larutan pengisi, retak yang besar diisi dengan larutan
emulsi aspal yang diikuti dengan penanganan permukaan.
2) Pengkasaran dengan pemanas dan lapis tambahan(overlay)

b. Retak susut (shrinkage cracks)

Disebabkan :
1) Perubahan volume perkerasan yang mengandung terlalu banyak aspal dengan
penetrasi rendah.
2) Perubahan volume pada lapisan pondasi dan tanah dasar.

Metode Perbaikan :
1) Mengisi celah dengan campuran aspal cair dan butas (aspal batu)

4. Kulit buaya (crocodile)


a. Retak kulit buaya (crocodile cracks)

Disebabkan :
1) Bahan perkerasan/ kualitas material kurang baik.
2) Pelapukan permukaan.
3) Air tanah pada badan perkerasan jalan.
4) Tanah dasar/ lapisan dibawah permukaan kurang stabil.

P a g e | 26 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


Metode Perbaikan :
1) Melakukan lapisan taburan aspal dua lapis. Jika celahnya kurang dari 3 mm
sebaiknya bagian yang telah mengalami retak akibat air yang merembes
masuk ke lapisan fondasi tanah dibongkar terlebih dahulu dan dibuang bagian
yang basah, kemudian dilapisi lagi dengan bahan yang sesuai.

5. Parabola (crescent)
a. Retak selip (slipage cracks)

Disebabkan :
1) Ikatan antar lapisan aspal dengan lapisan dibawahnya tidak baik yang
disebabkan kurangnya aspal/ permukaan berdebu
2) Pengunaan agregat halus terlalu banyak.
3) Lapis permukaan kurang padat/ kurang tebal
4) Penghamparan pada temperature aspal rendah atau tertarik roda penggerak
oleh mesin penghampar aspal/ mesin lainnya.

Metode Perbaikan :
1) Melakukan pembongkaran aspal yang rusak kemudian dilakukan penambalan
permukaan

B. Berdasarkan penyebab retak


1. Retak struktural (structural cracking)
Di sebabkan oleh pembebanan yang berulang dari roda kendaraan.
2. Retak melintang akibat suhu ( transverse thermal cracking)
Di sebabkan karena perubahan suhu pada material perkerasan jalan .
3. Retak refleksi (reflection cracking)
Disebabkan :
1) terjadi ketika retak pada lapisan aspal yang lama tidak benar diperbaiki
sebelum dioverlay.

Metode Perbaikan :
1) Untuk retak memanjang, melintang dan diagonal perbaikan dapat dilakukan dengan
mengisi celah dengan campuran aspal cair dan pasir
2) Untuk retak berbentuk kotak perbaikan dilakukan dengan membongkar dan melapisi

P a g e | 27 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


kembali dengan bahan yang sesuai

C. Kerusakan pondasi atas, bawah , dan sub grad


1. Bergelombang
Disebabkan :
1) karena campuran lapisan aspal yang buruk.
2) Kadar air dalam lapis pondasi granu-ler (granular base) terlalu tinggi
sehingga tidak stabil.

Metode Perbaikan :
1) Perbaikan yang paling baik dilakukan adalah dengan menambal di seluruh
kedalaman. Jika perkerasan mempunyai agregat fondasi (base) dengan lapisan
tipis
perawatan permukaan maka permukaan dikasarkan kemudian dicampur dengan
material fondasi, dan dipadatkan lagi sebelum meletakkan lapisan
2. Alur (rutting)
Disebabkan :
1) Pemadatan lapis permukaan dan pondasi (base) kurang.
2) Kualitas campuran aspal rendah.
3) Gerakan lateral dari satu atau lebih dari komponen pembentuk lapis.
4) Tanah dasar lemah atau agregat pondasi kurang tebal.

Metode Perbaikan :
1) Jika penyebabnya adalah lemahnya lapis pondasi atau tanah dasar, pembangunan
kembali perkerasan secara total mungkin diperlukan, termasuk juga penambahan
drainase

3. Penurunan/Amblas
Disebabkan :
1) Beban lalu lintas berlebihan.
2) Akibat lapisan dibawah perkerasan mengalami penurunan.
3) Penurunan konsolidasi tanah di bawah timbunan menyebabkan distori
perkerasan.

Metode Perbaikan :

P a g e | 28 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


1) mengisi bagian jalan yang amblas dengan agregat, kemudian dengan pemadatan
dengan campuran aspal. Untuk amblas < 5 cm, bagian yang rendah diisi dengan
bahan sesuai seperti lapen, lataston, laston. Untuk amblas yang > 5 cm, bagian
yang amblas dibongkar dan dilapisi kembali dengan lapis yang sesuai.

4. Mengembang (Swell)
Disebabkan :
1) Mengembangnya material lapisan di bawah perkerasan atau tanah dasar, biasanya
berupa tanah lempung yang mudah mengembang akibat kenaikan kadar air.

Metode Perbaikan :
1) Menambal di seluruh kedalaman.
2) Pembongkaran total area yang rusak dan menggantikannya dengan
material baru.
3) Perataan permukaan dengan cara menimbunnya dengan material baru.
4) Sembarang cara, untuk perbaikan permanen, pada prinsipnya harus
ditunjukan untuk menstabilkan kadar air dalam struktur perkerasan.

P a g e | 29 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


D. Jenis Gambar Kerusakan Pada Perkerasan Lentur ( Aspal )

1.Retak Halus 2. Retak Tepi

3.Retak Sambungan 4. Retak Refleksi

5.Retak Susut 6. Retak Kulit Buaya

P a g e | 30 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


7.Retak Slip 8.Retak Thermal

9. Penurunan/Ambles 10. Aspal Mengembang

11. Rutting 12. Aspal Bergelombang

P a g e | 31 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


2. Pada perkerasan kaku (Beton),
Disebabkan :
1) kerusakan pengisi celah lubang.
2) Penurunan slab dan slab pecah/retak pada sambungan.

Metode perbaikan :
1) Perbaikan celah.
2) Penyuntikan.
3) Penambahan.
Jenis Gambar Kerusakan Pada Perkerasan Kaku (Beton)
1. kerusakan pengisi celah lubang

2. Retak Pada Sambungan

P a g e | 32 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


3.3 Aplikasi Aspal

Program Aspal Buton

Direktorat Jenderal Bina Marga baru selesai mengadakan


kegiatan evaluasi sekaligus sosialisasi Program Aspal Buton
diTahun 2007 dan 2008. Pada kegiatan tersebut hadir para
Satker dari berbagai daerah di Indonesia untuk mendengarkan pemaparan dari para pejabat
Departemen PU serta para pakar Aspal Buton dari Pusjatan Departemen PU. Evaluasi
dilakukan untuk menilai sejauh mana hasil pelaksanaan dari program pemanfaatan Aspal
Buton di Tahun 2007 ini termasuk berbagai masalah yang dihadapi baik oleh produsesn,
satker, maupun para kontraktor pemenang tender.

Sosialisasi dilakukan untuk memberikan informasi dan pemahaman lebih mendalam


tentang produk aspal buton, persyaratan yang ditetapkan serta berbagai aplikasi yang dapat
dipergunakan dalam program pembangunan dan pemeliharaan jalan.

Direktorat Jenderal Bina Marga selaku lembaga yang bertanggungjawab terhadap


penyelenggaraan jalan di Indonesia pada berbagai kesempatan menyatakan kesungguhannya
dalam mendorong pemanfaatan Aspal Buton secara maksimal. Hal itu tentunya harus
didukung para produsen aspal buton yang memiliki peran dan tanggung jawab untuk
menhasilkan produk-produk aspal buton sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.

Kenaikan anggaran dari Dirjend Bina Marga pada Tahun 2008 hingga 2 kali lipat dari
Tahun 2007 menjadi 19 Trilyun merupakan komitmen pemerintah untuk mempercepat
pembangunan infrastruktur jalan di Indonesia. Hal itu merupakan peluang bagi produsen
Aspal Buton untuk turut mendukung program percepatan pembangunan dan pemeliharaan
jalan dengan menggunakan material aspal Buton.

P a g e | 33 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


Mastic Asbuton

Adalah jenis aspal buton yang memiliki kandungan


bitumen kualitas tinggi dengan kadar ± 30-40% dan telah
keluar di permukaan butiran batuan. Selain itu Mastic
Asbuton juga mengandung filler batu kapur (limestone)
yang juga dipergunakan dalam proses pencampuran aspal untuk jalan-jalan kelas tinggi.
Pengunaan Mastic asbuton juga dapat dikerjakan dengan cara yang mudah serta
menggunakan banyak tenaga kerja (padat karya). Harga mastic asbuton relatif lebih murah
dibandingkan harga aspal minyak sehingga pemanfaatannya dapat menghemat anggaran.
Aplikasi Mastic Asbuton untuk beberapa jenis pembangunan jalan dapat menggantikan
sebagian besar pemakaian aspal minyak (substitusi) sehingga dapat mengurangi
ketergantungan terhadap aspal minyak.

Keuntungan dari penggunaan Mastic Asbuton antara lain:

1. Penggunaan Mastic Aspal dalam campuran meningkatkan Stabilitas Dinamis dari


kontruksi jalan
2. Campuran bahan jalan dengan Mastic Aspal lebih kuat, tahan lentur, tahan aus dan cuaca.
3. Mastic Aspal secara ekonomis lebih murah sehingga dapat mengurangi konsumsi aspal
minyak dan filler
4. Campuran Mastic Aspal telah berhasil diaplikasikan di wilayah jabotabek dengan hasil
memuaskan dan kendala teknis cukup kecil.
5. Dengan potensi cadangan yang cukup besar, proyeksi kedepan penggunaan Mastic Aspal
akan meningkat sehingga menghemat biaya konstruksi jalan.

P a g e | 34 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


Buton Granular Asphalt

Adalah aspal Buton jenis berbutir yang digunakan


sebagai additive dalam campuran aspal.Pemakaian aspal
buton jenis ini dapat dipergunakan dalam campuran panas,
campuran hangat dan campuran dingin. Jenisnya yang
kering dan sudah terselimuti oleh bitumen dengan ukuran maksimal 1,2 mm.
Aspal Buton Granular dapat dipergunakan sebagai bahan pengikat bersama-sama dengan
aspal minyak sehingga bersinergi membentuk suatu bahan pengikat yang lebih baik dan
handal. Fungsi dari aspal Buton jenis granular ini adalah untuk meningkatkan kualitas
campuran sehingga campuran akan memiliki sifat sebagai berikut:
Keuntungan dari penggunaan Aspal Buton Granular antara lain:

1. Lebih tahan terhadap deformasi


2. Nilai modulus resilient lebih tinggi
3. Tahan terhadap temperatur tinggi
4. Lebih tahan lama (durable)
5. Sangat baik untuk digunakan pada Konstruksi Jalan kelas I, Highway, Jalan Tol, dll

P a g e | 35 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


Evaluasi Program Aspal Buton

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Bina Marga


Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia pada Tahun ini
telah memprogramkan pemakaian Aspal Buton Berbutir untuk
dipergunakan dalam pembangunan dan pemeliharaan jalan di 14 Provinsi. Adapun jenis
perkerasan jalan yang dipergunakan adalah jenis campuran panas (hotmix) dan campuran
hangat (warm mix). Jenis aspal buton berbutir yang dipakai antara lain tipe 5/25, 10/25,
15/25.
Sebagai bahan campuran aspal buton dipergunakan sebagai additive yang bertujuan
untuk meningkatkan kualitas campuran. Campuran aspal dan Aspal Buton Berbutir akan
lebih tahan terhadap deformasi dan nilai modulus resilient lebih tinggi. Selain itu campuran
Aspal Buton Berbutir memiliki ketahanan terhadap temperatur tinggi serta lebih tahan lama
(durable).
Evaluasi yang dilakukan Direktorat Jenderal Bina Marga menyatakan bahwa Program
Aspal Buton pada ini kurang berhasil. Bahkan hampir sebagian besar produsen mengalami
kegagalan sehingga target kuantitas sebesar 80.000 tidak dapat terpenuhi baik secara
kuantitas, kualitas maupun time delivery. Berbagai faktor dikemukakan oleh para produsen
antara lain material Lawele yang memiliki karakteristik berbeda dengan material Kabungka
yang selama ini biasa digunakan oleh para produsen. Secara jujur dan terbuka produsen juga
mengungkapkan kesulitan yang dihadapi terkait dengan waktu persiapan yang sangat singkat
untuk mempersiapkan peralatan produksi dengan kapasitas skala penuh.

P a g e | 36 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


AMP mini

Pada tahun 2007 Pemerintah Pusat melalui


Direktorat Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan
Umum Republik Indonesia mengadakan program bantuan
alat pengolah aspal. Alat tersebut dikenal juga dengan AMP
mini yang sekilas bentuknya sama dengan Pan Mixer. Beberapa provinsi seperti di
Kalimantan Timur mendapatkan bantuan alat tersebut untuk selanjutnya di distribusikan ke
seluruh sub dinas bina marga Pekerjaan Umum di Kabupaten dan Kota.
Fungsi alat tersebut adalah untuk mengolah campuran material batu dan pasir dengan
aspal. Hasil campuran tersebut dapat langsung dipergunakan di lapangan dengan cara digelar
baik untuk campuran hangat, campuran dingin, atau jenis latasir/ sandsheet. Keunggulan alat
ini dapat dipindahkan (movable) menuju lokasi pengerjaan jalan sehingga menghemat biaya
pengangkutan produk jadi dari AMP (base camp) ke lokasi tersebut.
Kepraktisan alat ini juga memungkinkan pembangunan jalan dapat dilakukan
dilokasi-lokasi yang terpencil dan jauh dari tempat AMP. Sebagaimana diketahui bahwa ada
jarak maksimal yang harus dipenuhi antara lokasi AMP dengan lokasi pembangunan jalan.
Maksudnya adalah agar kualitas campuran panas yang digelar tidak berkurang karena
jaraknya terlalu jauh dan menyebabkan suhu campuran sudah tidak memenuhi persyaratan
pada saat digelar di lapangan.
Sebagai alat pembakarnya mengunakan kompor tekan dengan bahan bakar minyak
tanah.

P a g e | 37 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


Latasir Asbuton

Salah satu jenis pekerjaan jalan adalah Latasir singkatan


dari lapisan atas pasir. Jenis ini dikenal juga dengan pekerjaan jenis
sandsheet. Biasanya kedua jenis pekerjaan ini dilaksanakan dengan
menggunakan komponen aspal minyak sebagai bahan pengikat material pasir atau juga
dikenal dengan abu batu.
Pola pengerjaan jenis ini dapat dilakukan di lokasi pekerjaan atau secara manual yakni
dengan menggunakan kayu bakar sebagai sumber energi untuk mencampur material abu batu
dengan aspal minyak. Atau dilaksanakan di Asphalt Mixing Plant (AMP) sehingga produk
akhirnya akan menjadi seperti campuran hotmix.
Latasir atau sand sheet termasuk dalam jenis lapis tipis yang bertujuan memberikan
lapisan tipis diatas permukaan jalan yang telah mengalami segregasi sehingga bentuknya
menjadi kasar dan tidak nyaman untuk dilewati. Umur perencanaan dari lapisan tipis ini
biasanya direncanakan satu sampai dengan dua tahun.
Perkembangan teknologi pengolahan aspal buton menghasilkan temuan bahwa aspal
buton dapat dipergunakan sebagai material pengganti aspal minyak dalam jenis pekerjaan
Latasir. Bahkan kualitasnya lebih baik dari segi performance dan daya tahan serta harga yang
jauh kompetitif apabila dibandingkan aspal minyak.

P a g e | 38 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


Dampak Kenaikan Minyak Bumi

Kenaikan minyak dunia hingga melebihi 90 US$ per barrel


telah mendorong kenaikan berbagai produk industri. Salah
satunya adalah aspal minyak yang dihasilkan dari proses
produksi minyak bumi. Sebagaimana yang terjadi
dipenghujung pada tahun 2006 kenaikan harga minyak telah mendorong kenaikan aspal
minyak hingga 200% dari periode Januari s/d Desember 2006.
Kondisi tersebut bertolakbelakang dengan kenyataan proyek-proyek pembangunan
dan pemeliharaan jalan terutama yang didanai oleh APBD masih belum banyak yang belum
berjalan. Pengerjaan proyek sebagaimana waktu-waktu terdahulu akan terkonsentrasi di akhir
tahun yang berarti akan ada permintaan aspal dalam jumlah besar. Sesuai dengan hukum
pasar manakala permintaan tinggi dan suplai terbatas maka harga akan meningkat.

Lapis Penetrasi Macamdam Asbuton

∑ Perkerasan jalan tanpa menggunakan AMP (Asphalt Mixing Plant);


∑ Proses pengerjaannya dilakukan dengan cara manual di lokasi penghamparan dan
tidak bisa dilaksanakan pada permukaan yang basah / hujan;
∑ Lapisannya hanya terdiri dari lapisan agregat pokok dan pengunci bergradasi seragam
yang diikat oleh Mastik Aspal Buton;
∑ Aspal hanya berfungsi untuk bahan pengikat / binder dan dilakukan dengan cara
dihampar diatas agregat pokok;
∑ Pemadatan pada saat pengerjaan dilakukan lapis demi lapis;
∑ Perkerasan yang hanya dapat diukur kinerjanya dengan banyaknya lalu lintas yang
melewatinya.

P a g e | 39 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


Program Bantuan Aspal Buton untuk Pedesaan

Pembangunan pra sarana infrastruktur jalan di


berbagai daerah memerlukan material aspal untuk
menghasilkan jalan yang berkualitas. Namun meningkatnya
harga minyak bumi telah mendorong kenaikan harga aspal
minyak. Hal itu berpotensi menghambat program pembangunan dan pemeliharaan jalan oleh
pemerintah
daerah.
Kondisi tersebut perlu dicarikan solusinya dengan memgunakan produk alternatif
yang dapat menggantikan aspal minyak. Salah satu produk alternatif pengganti aspal minyak
adalah Aspal Buton yang harganya relatif lebih murah namun kualitasnya sudah setara
dengan aspal minyak.
Untuk mendorong terlaksananya program pembangunan dan pemeliharaan jalan tingkat
kecamatan dan desa/kelurahan di daerah perlu di laksanakan ”Program Bantuan Aspal Buton
bagi kabupaten dan kota di daerah untuk pembangunan serta pemeliharaan jalan kecamatan
dan jalan desa/kelurahan.
Program tersebut pernah dilaksanakan secara sukses di Provinsi Jawa Barat pada
Tahun 2005 lalu dengan menggunakan pola Lapis Penentrasi Macadam Asbuton (LPMA).
Pemanfaatan Aspal Buton dengan menggunakan metode tersebut telah berhasil dilaksanakan
di beberapa kabupaten/kota di Indonesia seperti: Kuningan, Subang, Ciamis, Cirebon,
Pacitan, dan terbukti dapat menghemat anggaran biaya pembangunan dan pemeliharaan jalan
antara 20 s/d 30 persen.

P a g e | 40 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


BAB IV
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Aspal adalah material termoplastis yang mencair apabila dipanaskan dan akan
membeku/mengental apabila didinginkan, berwarna hitam atau coklat tua, pada temperatur
ruang berbentuk padat sampai agak padat, yang terbuat dari komposisi carbon, Hidrogen,
Oksigen dan Nitrogen. Bersama dengan agregat, aspal merupakan material pembentuk
campuran perkerasan jalan. Aspal terbuat dari minyak mentah, melalui proses penyulingan
atau dapat ditemukan dalam kandungan alam sebagai bagian dari komponen alam yang
ditemukan bersama material lain.
Proses perencanaan campuran harus memperhatikan karakteristik campuran aspal, yang
meliputi:

1. Stabilitas

2. Durabilitas

3. Fleksibilitas

Sumber Aspal
1. Aspal Hasil Destilasi
a. Aspal Keras
b. Aspal Cair
c. Aspal Emulsi
2. Aspal Alam
a. Aspal Danau ( Lake Asphalt)
b. Aspal Batu ( Rock Asphalt)
3. Aspal Modifikasi
a. Aspal Polymer Elastomer
b. Aspal Polymer Plastomer

P a g e | 41 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


Sifat-sifat kimia aspal
1. Aspalten
2. Malten
a. Resin
b. Aromatik
c. Saturated

Sifat-sifat fisik aspal


1. Durabilitas
2. Adesi dan Kohesi
3. Kepekaan aspal terhadap temperatur
Kelemahan Jalan beraspal:
Umurnya pendek dan air dapat meresap dari permukaan karena tidak ada lapisan
penutupnya. Mengakibatkan stabilitas jalan cepat berkurang dan biaya yang tinggi.

P a g e | 42 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal


DAFTAR PUSTAKA

https://id.wikipedia.org/wiki/Perkerasan_jalan
https://id.wikipedia.org/wiki/Aspal
civilkitau.co.id/2016/11/jenis-jenis-aspal.html?m=1
www.ilmudasardanteknik.com/2016/11/pengertiandanjenisaspal.html?m=1
http://muchrahman.blogspot.co.id/2011/11/pemeliharaan-jalan-raya.html
http://training.ce.washington.edu/wsdot/modules/03_materials/033_body.html?m=1
Sukirman, Silvia, 1999, Aspal Beton, Nova, Bandung.
Supranto, M.A.J, 1987, Statistik, Teori dan Aplikasi Edisi Kelima, Jilid 1, Penerbit Erlangga.
Surabaya.

P a g e | 43 Ilmu Bahan Bangunan - Aspal

Anda mungkin juga menyukai