Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

( Wudhu dan Tayamum )

Disusun : Kelompok 4

Nauval Syafiq Ismail (1707039010)


Abdul Hamid (1793044026)

Fakultas : Tarbiyah
Universitas Hasyim Asyari Tebuireng Jombang
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah Swt yang telah memberikan kekuatan, kesehatan,
kenikmatan serta lainnya. Shalawat dan salam semoga tetap dicurahkan kepada Junjungan
Rasulullah Muhammad SAW. Rahmat bagi alam semesta, para sahabat, keluarga dan umatnya.

Makalah ini berjudul Wudhu’, dan Tayammum. Di dalamnya disajikan dari bab I sampai bab III.
Bab I yaitu pendahuluan di dalamnya latar belakang, mengambarkan secara umum makalah ini
dan tujuan adalah menjelaskan keinginan yang akan dicapai dalam penulisan makalah ini, ruang
lingkup pembahasan yaitu membatasi permasalahan wudhu’ dan tayammum yang akan dibahas
dalam makalah ini. Untuk Bab II yaitu membahas tentang wudhu’, mandi dan tayammum secara
detail, untuk kesimpulan pada makalah ini disajikan pada Bab IIIyaitu menyimpulkan isi dari
makalah ini dan menjawab tujuan.

Makalah wudhu’, mandi dan tayammum ini semoga bermamfaat, terutama bagi penulis dan
pembaca pada umumnya.

Tebuireng, ………………..

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………

BAB I : PENDAHULUAN ………………………………………………..


1.1 Latar Belakang ……………………………………………
1.2 Rumusan Masalah………………………….
1.3 Tujuan ……………………………………………………………………

BAB II : PEMBAHASAN ………………………………………………….


2.1 Wudhu’………………………………………………………………
2.2 Tayamum…………………………………

BAB III : PENUTUP


3.1 Kesimpulan……………………………………………….

DAFTAR PUSTAKA ………………………….


BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Ibadah adalah sesuatu pekerjaan yang dicintai Allah Swt dan diridhaoi-Nya, perkataan,
perbuatan lahir dan bathin. Untuk melaksanakan sebagian ibadah dan amalan-amalan tertentu
haruslah bersuci sebagai mana yang telah di jelaskan dalam Al-quran surat Al-Ma’idah ayat : 6,
surat An-Nisa ayat : 43 dan beberapa Sabda Rasulullah SAW. (Rasid, S. 1964) dalam hukum
islam, soal bersuci dan segala seluk-beluknya termasuk bagian ilmu dan amalan yang penting,
terutama syarat-syarat sah Shalat telah ditetapkan bahwa seseorang yang akan mengerjakan
abadah shalat diwajibkan suci dari hadas dan suci pula badan pakaian dan tempatnya dari najis.
Firman Allah Swt dalam Al-quran Surat -Baqaroh ayat 222 yang artinya “sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”

Thaharah atau bersuci ialah mengangkat atau menghilangkan hadats dan najis dari tubuh.
Nasution, L. (1997) thaharah dari hadats ada tiga macam yaitu whudu’, mandi dan tayammum.
Alat yang digunakan untuk bersuci ialah air untuk wudhu’ dan mandi; tanah untuk tayammum.
Dalam hal ini air yang digunakan haruslah memenuhi persaratan, suci dan mensucikan atau
disebut air mutlak. Demikian pula tanah untuk tayammum harus mempunyai persaratan yang
ditentukan.

2. Tujuan

1. Mengetahui definisi dan keutamaan wudhu.


2. Mengetahui fardhu wudhu.
3. Mengetahui sunnah – sunnah wudhu.
4. Mengetahui pengertian tayamum.
5. Mengetahui latar belakang disyariatkannya tayamum.
6. Mengetahui hal – hal yang diperbolehkan tayamum.
7. Mengetahui debu yang digunakan tayamum.
8. Mengetahui tata cara bertayamum.
9. Mengetahui hal – hal yang membatalkan tayamum.
BAB II
Pembahasan
WUDHU DAN TAYAMMUM

1. Wudhu

1. Pengertian Wudhu’

Menurut Bahasa wudhu’ adalah perbuatan yang mengunakan air pada anggota tubuh tertentu.
Sedangkan menurut hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, wudhu’ diwajibkan sebelum
hijrah, pada malam isra’ mi’raj, bersamaan dengan shalat wajib lima waktu, tetapi kewajiban itu
dikaitkan dengan keadaan berhadats . Selain itu pendapat lain mengatakan wudhu’ adalah suatu
syarat untuk sahnya shalat yang dikerjakan sebelum seseorang mengerjakan shalat.

Jadi wudhu’ adalah perbuatan yang mengunakan air pada anggota tubuh tertentu, untuk syarat
sahnya shalat yang dikerjakan sebelum mengerjakan shalat.

2. Hukum Wudhu

Wudhu hukumnya wajib bagi seseorang yang sudah akil baligh ketika akan menjalankan shalat,
atau ketika akan melakukan sesuatu yang kebenarannya disyariatkan harus berwudhu seperti :
Shalat, Thawaf di Ka’bah. Sebagaimana yang telah dijelaskan pada hadits nabi yaitu :

Artinya: Allah tidak menerima Shalat seseorang kamu bila ia berhadats, sampai ia
berwudhu’. (HR. Bayhaqi, Abu Daud dan Tirmizi)

3. Keutamaan Wudhu

Terdapat beberapa hadits dalam keutamaan berwudhu. Antara lain :


Bersumber dari Abu hurairah Radiyallahu Anhu sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda
yang artinya :
“ Apabila seseorang hamba muslim berwudhu, saat membasuh wajahnya keluarlah dari
wajahnya semua dosa yang ia upayakan melihat dengan sepasang matanya bersamaan
dengan tetes air yang terakhir. Saat membasuh kedua tangannya, keluarlah dari sepasang
tangannya semua dosa yang pernah ia upayakan dengan memukulkan sepasang tangannya
bersamaan dengan tetes air yang terakhir. Dan saat ia membasuh kedua kakinya keluarlah
dari sepasang kakinya semua dosa yang pernah ia upayakan dengan melangkahkan
sepasang kakinya bersamaan dengan tetes air yang terakhir, sampai akhirnya ia bersih dari
semua dosa. “ HR. Muslim.

4. Hal – hal yang diwajibkan dalam wudhu’

Hal – hal yang diwajibkan dalam wudhu dengan pengertian apabila ada salah satunya
yang ditinggalkan bisa membatalkan wudhu:
1. Membasuh sekali pada wajah, sepasang lengan dan sepasang kaki dengan syarat
basuhan tersebut sudah merata keseluruh anggota dan mengusap seluruh kepala
sekali saja.tetapi menurut sebagian ulama ahli fiqih berpendapat seperempat
bagian saja yang diusap sudah dianggap cukup bahkan ada sebagian ulama yang
berpendapat kurang dari itu saja sudah dianggap cukup. Keempat anggota wudhu
tersebut sudah disepakati berdasarkan kesepakatan ulama.
2. Niat diawal Wudhu, berdasarkan pendapat yang diunggulkan. Tetapi ada sebagian
Ulama ahli Fiqh yang berpendapat niat Wudhu itu tidak wajib.
3. Tertib, dalam membasuh anggota-anggota wudhu’, seperti yang telah
dikemukakan sebelumnya. Tetapi ada sebagain ualama yang berpendapat, hal ini
hanya sunnah tidak wajib.
4. Berturut-turut atau maraton, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Tetapi
juga ada sebagian ulama ahli fiqh yang berpendapat, bahwa hal itu hukumnya
sunnah tidak wajib.
5. Ada sebagian ulama ahli fiqh
Syarat sah wudhu’
Syarat sah wudhu’ ialah :
1. Islam, karena wudhu’ itu termasuk ibadah, maka tentu saja ia tidak sah kecuali dilakukan oleh
orang muslim,
2. Tamyiz, artinya orang yang sudah dapat membedakan antara baik dan buruk dari pekerjaan yang
dikerjakannya.
3. Air mutlak, air yang suci lagi mensucikan
4. Tidak yang menghalangi baik hissy maupun syar’i, dan
5. Masuk waktu shalat (khusus bagi orang yang hadatsnya berkepanjangan).
6. Rukun wudhu’
Di dalam buku Drs. Lahmuddin Nasution, M. Ag, rukun wudhu’ ada enam yaitu:

1. Niat

Niat artinya menyengajakan sesuatu serentak dengan melakukannya. Tempat dan pelaku niat itu
adalah hati, namun sunah menyertainya dengan ucapan lisan untuk membantu pernyataan
sengaja yang di dalam hati itu.

Niat berfungsi membedakan antara:

1. Perbuatan ibadat dengan bukan ibadat.


2. Tingkatan-tingkatan ibadat, yakni antara yang fardhu dengan yang sunnah.

Niat adalah salah satu rukun wudhu’ dan merupakan bagian daripadanya. Tanpa niat bearti
wudhu’ itu tidak lengkap sehingga tidak sah. Kewajiban niat didasarkan atas:

Hadits Nabi saw.

Artinya: Sesungguhnya, tiap-tiap amal hanya(sah) dengan niat…..(H.R. Muttafaq ‘Alayh).

Firman Allah.

Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan menurunkan
ketaatan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama dengan lurus. (Al-Bayyinah/98:5).

2. Membasuh muka

Membasuh muka diwajibkan berdasarkan perintah membasuh muka pada surat Al-Ma’idah.

Artinya: ……maka basuhlah mukamu……(Al-Ma’idah/5:6).

Basuhan ini mesti merata keseluruh wajah yaitu bagian depan kepala. Batas yang wajib dibasuh
ketika berwudhu’ ialah memanjang dari tempat tumbuh rambut sampai dengan ujung dagu dan
melintang dari daun telinga kedaun telinga lainya. Dalam membasuh muka air harus mengalir
pada bagian luar kulit maupun rambut yang terdapat pada wajah.
3. Membasuh tangan

Kewajiban membasuh tangan pada wudhu’ didasarkan atas firman Allah:

Artinya: …….dan tanganmu sampai dengan siku……(Al-Ma’idah/5:6).

Basuhan itu meliputi keseluruhan tangan dari ujung-ujung jari sampai dengan kedua siku.

4. Menyapu kepala

Yang dimaksud dengan menyapu kepala ialah sekedar menyampaikan air tanpa mengalir, dengan
meletakan tangan yang basah pada kepala. Kewajiban menyapu kepala pada wudhu’ didasarkan
atas firman Allah:

Artinya: …..dan sapulah kepalamu…….(Al-Ma’idah/5:6).

5. Membasuh kaki

Dalam membasuh kaki, kedua mata kaki mesti ikut terbasuh sampai kedua mata kaki. Kewajiban
membasuh kaki pada wudhu’ didasarkan atas firman Allah:

Artinya: ……..dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. (Al-Ma’idah/5:6).

Hadits Mughirah mengatakan bahwa ketika Nabi saw berwudhu’ beliau menyapu ubun-ubun dan
sorbanya, kemudian menyapu kedua khufnya (H. R. Muslim).

6. Tertib

Yang dimaksud dengan tertib ialah melakukan rukun-rukun wudhu’ itu sesuai dengan urutan
yang tersebut pada ayat wudhu’ diatas dimulai dengan muka, tangan, kepala, dan kemudian kaki.

Tertib itu wajib berdasarkan:

1. Urutan pada ayat al-qur’an yang menyatakan hal itu.


2. Bahwa Nabi saw tidak pernah berwudhu’ tanpa tertib.
3. Bahwa Nbi setelah melakukan wudhu’ dengan tertib, mengatakan bahwa begitulah cara
berwudhu’ dan bahwa shalat seseorang hanya diterima Allh swt jika disertai dengan wudhu’
seperti itu.
4. Bahwa wudhu’ itu adalah ibadah, sama dengan shalat jadi wajib bertertib seperti shalat pula.

Mengenai ini ada juga yang mengatakan bahwa tertib itu tidak wajib, melainkan sunnah saja.
Pendapat ini dikemukan oleh Abu Hanifah, Sawry, Daud Al Zahiry dan sebagian ulama
malikiyah. Dalil yang mereka kemukakan iyalah bahwa ayat berwudu’ itu tidak mengandung
ketentuan tentang tertib. Walaupun rukun-rukun wudhu’ itu memang disebutkan berurutan akan
tetapi, ‘athaf yang menyambungkan antara satu dengan yang lainnya adalah ‘waw’ yang tidak
mengandung arti berurutan. Dengan begitu kata mereka, tidak ada kewajiban tertib hanya sunnah
sebab Nabi selalu melakukannya demikian.

1. Hal-hal yang membatalakn wudhu’


Orang-orang yang telah berwudhu’ dipandang suci dari hadats, akan tetapi ada beberapa hal yang
dapat menghilangkan kesuciannya itu dan menyebabkan berhadats kembali. Yang membatalakan
wudhu’ ada lima yaitu:

1. Keluar sesuatu dari qubul dan dubur, berupa apapun benda padat, angin, atau cairan kecuali
maninya sendiri, baik yang biasa maupun tidak, keluar dengan sendirinya atau
dikeluarkan daripadanya.Dalil-dalil yang berkenaan dengan ini antara lain:
2. Firman Allah

Artinya: …..atau kembali dari tempat buang air(kakus). (Al-Ma’idah/5:6)

1. Hadits

Artinya: Allah tidak akan menerima shalat orang yang berhadats sampai ia berwudhu’.

2. Tidur, kecuali dalam keadaan tidur dengan mantap.

Rasulullah saw bersabda:

Artinya: kedua mata adalah pengikat bagi dubur, maka barang siapa yang tidur hendaklah ia
berwudhu’. (HR. Abu Daud).

3. Hilang akal dengan sebab gila, mabuk, pitam, penyakit atau lain-lain. Batalnya wudhu’ dengan
hilang akal adalah berdasarkan qiyas kepada tidur, dengan kehilangan kesadaran sebagai
persamaan.
4. Bersentuh kulit laki-laki dan perempuan. Hal ini didasarkan atas firman Allah:

Artinya: ………..atau kamu telah menyentuh perempuan…...(An-Anisa’/4:43).

Dalam ayat ini hal menyentuh perempuan disebut bersama-sama dengan buang air besar dan
dihubungkan dengan perintah bertayammum jika tidak ada air. Ini menunjukkan bahwa
menyentuh perempuan adalah hadats seperti buang air.

5. Menyentuh kemaluan manusia dengan telapak tangan tanpa alas, berdasarkan sabda rasul saw:

Artinya: barang siapa yang menyentuh kemaluannya hendaklah ia berwudhu’.(HR. Tirmizy).

1. Tayammum
1. Pengertian tayammum

Tayammum adalah mengusap tanah kemuka dan kedua tangan sampai siku dengan beberapa
syarat. Tayammum adalah penganti wudhu’ dan mandi, sebagairukhsah(keringanan) untuk orang
yang tidak dapat memakai air karena beberapa halangan(uzur) yaitu:

1. Uzur karena sakit, kalau memakai air bertambah sakitnya atau lambat sembuhnya.
2. Karena dalam perjalanan
3. Karena tidak ada air. (H. Sulaiman Rasjid, 1987)

1. Dasar hukum

Firman Allah Swt:

1. Al-ma’idah/5:6)

Artinya: Dan apabila kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat dari buang
air(kakus), atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak mendapat air, maka bertayammumlah
dengan tanah yang baik(bersih), sapulah mukamu dan kedua tanganmu dengan tanah itu. (Al-
Ma’idah/5:6).

2. An-nisa’/ 4:43
3. Syarat tayammum

Syarat tayamum ada empat (H. Sulaiman Rasjid, 1987), yaitu :

1. Sudah masuk waktu shalat

Tayammum disyariatkan untuk orang yang terpaksa, sebelum masuk waktu shalat ia belum
terpaksa, sebab shalat belum wajib atasnya ketika itu.

1. Sudah diusahakan mencari air tetapi tidak dapat, sedangkan waktu shalat sudah masuk.
2. Dengan tanah yang suci dan berdebu.
3. Menghilangkan najis.

Sedangkan Drs. Lahmuddin Nasution, M.Ag syarat tayammum ada lima:

1. Ada ‘uzur, sehingga tidak dapat menggunkan air. ‘uzur menggunkan iar itu terjadi oleh sebab
musafir, sakit atau hajad.
2. Masuk waktu sholat. Tayammum untuk shalat yang berwaktu, baik fardhu maupun sunnat, hanya
dibenarkan setalah masuknya waktu. Alasannya tayammum adalah thaharah darurat dan tidak
ada keadaan darurat sebelum masuknya waktu sholat
3. Mencari air setelah masuknya waktu, sesuai ketentuan pada no satu diatas
4. Tidak dapat menggunakan air karena ‘uzur sayr’i seperti takut akan pencuri atau ketinggalan dari
rombongan.

Tanah yang murni (khalis) dan suci. Tayammum hanya sah dengan menggunakan ‘turab’ tanah
yang suci dan berdebu.

1. Rukun Tayammum

Dalam buku fiqh islam karang H. Sulaiman Rasjid, 1987. Rukun tayammum ada empat yaitu:
1. Niat, orang yang melakukan tayammum hendaklah berniat karena mengerjakan shalat. Bukan
semata-mata untuk menghilangkan hadats saja, sebab sifat tayammum tidak dapat
menghilangkan hadats hanya diperbolehkan karena darurat.
2. Mengusap muka dengan tanah.
3. Mengusap dua tangan sampai kesiku dengan tanah.
4. Menertibkan rukun-rukun.
5. Hal-hal yang membatalkan tayammum (H. Sulaiman Rasjid, 1987) adalah :
6. Tiap-tiap hal yang membatalakan wudhu’ juga membatalkan tayammum.
7. Ada air, mendapat air sebelum shalat batallah tayammum, bagi oarang yang bertayammum
karena ketiadaan air bukan karena sakit. Rasulullah saw bersabda:

Artinya: Dari Abu zar. Rasulullah telah berkata: tanah itu cukup bagimu untuk bersuci walau
engkau tidak mendapat air sampai sepuluh tahun. Tetapi apabila engkau memperoleh air,
hendak engkau sentuhkan air kekulitmu. (Riwayat Tirmizi).

BAB III

KESIMPULAN

Sebelum melakukan ibadah shalat harus membersihkan tubuh dari hadas kecil dan hadas besar,
seperti melaksanakan ibadah wudhu’, mandi dan tayammum. Wudhu’ adalah salah satu ibadah
yang dilakukan dengan cara mencuci sebahagian anggota tubuh dengan air dengan sarat dan
rukun sebagai syarat sah sholat yang dilaksanakan sebelum melaksanakan sholat dan ibadah
yang lainnya.

Mandi (al-ghusl) adalah mencuci seluruh tubuh dengan menggunakan air yang disertai dengan
rukun mandi.

Sedangkan tayammum adalah mengusapkan tanah ke sebagian anggota tubuh (muka dan tangan)
sebagai ganti wudhu’ yang dilakukan karena adanya uzur bagi orang yang tidak dapat memakai
air, yang mempunyai sarat dan rukun
DAFTAR PUSTAKA

Rasjid. S, 1987. Fiqh Islam. Sinar Baru Algensindo. Bandung.

Rifa’i. M, 1978. Fiqh Islam Lengkap. Karya Toha Putra. Semarang.

Nasution. L, 1997. Fiqh Ibadah. PT. LOGOS Wacana Ilmu. Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai