Anda di halaman 1dari 11

Media Farmasi Indonesia Vol 12 No 1

FORMULASI TABLET PARASETAMOL MENGGUNAKAN TEPUNG BONGGOL


PISANG KEPOK (Musa paradisiaca cv. Kepok)
SEBAGAI BAHAN PENGIKAT

Sugiyono1), Siti Komariyatun1), Devi Nisa Hidayati1)


1)
Program S1 Fakultas Farmasi
Universitas Wahid Hasyim Semarang
Jl. Menoreh Tengah X/22 Sampangan Semarang
Email:sugiyono272@yahoo.com

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian tentang formulasi tablet parasetamol menggunakan tepung


bonggol pisang (Musa paradisiaca cv. Kepok) sebagai bahan pengikat tablet. Tablet
parasetamol dicetak menggunakan metode granulasi basah dengan menambahkan bahan
pengikat untuk meningkatkan kekompakan antar partikel. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh tepung bonggol pisang kepok sebagai bahan pengikat terhadap sifat
fisik dan kimia tablet parasetamol. Konsentrasi tepung bonggol pisang yang ditambahkan
sebagai pengikat yaitu pada FI: 10%, FII: 12,5%, FIII: 15%, FIV: 17,5%, dan FV: 20%.
Tablet yang dihasilkan diperiksa sifat fisiknya yang meliputi keseragaman bobot, kekerasan,
kerapuhan, waktu hancur serta pelepasan obat. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik
menggunakan analisis regresi linier. Hasil yang diperoleh bahwa variasi konsentrasi tepung
bonggol pisang kepok mempengaruhi kekerasan, kerapuhan dan waktu hancur tablet tetapi
tidak berpengaruh pada dan pelepasan obat. Semakin tinggi konsentrasi tepung bonggol
pisang kepok, semakin tinggi kekerasan dan semakin lama waktu hancur tablet tetapi
kerapuhan semakin menurun.
Kata kunci : bahan pengikat, tablet parasetamol, tepung bonggol pisang kapok.

1. PENDAHULUAN tablet digunakan metode granulasi basah


Parasetamol merupakan obat (Voigt, 1984). Metode ini mengandung
analgetik-antipiretik yang banyak pengikat dalam bentuk mucilago untuk
diproduksi dan digunakan oleh masyarakat meningkatkan kohesivitas agar
karena keamannya. Tablet parasetamol kekerasannya semakin tinggi (Siregar dan
(C8H9NO2) mengandung tidak kurang dari Wikarsa, 2010).
90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari Tablet merupakan sediaan obat
jumlah yang tertera pada etiket (DepKes dalam bentuk padat yang biasanya dibuat
RI, 2014). Parasetamol merupakan bahan dengan penambahan bahan farmasetika
dengan karaketristik kompaktibilitas yang sesuai (Ansel, 1989). Selain zat aktif,
kurang baik dan sifat alirnya yang buruk. tablet terdiri dari bahan tambahan dengan
Untuk memperbaiki sifat alir dan fungsi yang berbeda diantaranya bahan
kompaktibilitas maka dalam pembuatan pengisi, penghancur, pengikat, pembasah

1156
Media Farmasi Indonesia Vol 12 No 1

dan pelicin (Lachman dkk., 1994). Bahan Pharmaceuticals Co.,Ltd), tepung


pengikat dalam pembuatan tablet berfungsi bonggol pisang kepok, magnesium
untuk meningkatkan kekompakan dan stearat (Brataco), primogel
daya tahan tablet, yang akan menjamin (Blanver Farmaquimica Ltda),
penyatuan beberapaa partikel serbuk dalam iodium, natrium hidroksida p.a,
sebuah granul sehingga mudah untuk laktosa farmasetis, NaOH,
dicetak (Voigt, 1984). Kerja bahan KH2PO4, etanol, dan akuades.
pengikat akan lebih efektif apabila serbuk
dicampur dengan perekat dalam bentuk b. Jalannya Penelitian
cair. Bahan pengikat yang umum 1) Pembuatan Tepung Bonggol
digunakan diantaranya gula dan jenis Pisang Kepok
pati, gelatin, turunan selulosa (juga Tepung bonggol pisang kepok
selulosa kristalin mikro), gom arab dan diperoleh dari bonggol pisang
tragakan (Lachman dkk., 1994). kepok yang dikeringkan kemudian
Bonggol pisang kepok (Musa dihancurkan dan diblender. Tepung
paradisiaca cv. Kepok) mengandung pati yang sudah diperoleh kemudian
yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan diayak dengan ayakan 20 mesh
pengikat tablet, dengan kandungan pati di untuk menyeregamkan ukuran.
dalam tepung bonggol pisang kepok 2) Pemeriksaan Kualitatif dan
sebesar 48,26% (Warsa dkk., 2013). Pati Kuantitatif Tepung Bonggol
merupakan karbohidrat yang tersebar Pisang Kepok
dalam tanaman terutama tanaman Pemeriksaan organoleptik
berklorofil yang terdiri dari amilosa dan tepung bonggol pisang kepok
amilopektin, (Winarno, 1997). Hasil meliputi bentuk, warna, bau, dan
penelitian ini diharapkan dapat rasa. Pemeriksaan kelarutan
memberikan pengetahuan tentang bahan meliputi kelarutan dalam air,
limbah yang masih dapat dimanfaatkan etanol, dan natrium hidroksida.
dalam bidang farmasi, terutama sebagai Identifikasi menggunakan iodine
bahan tambahan pada tablet salah satunya test yaitu campuran iodium dan air.
sebagai pengikat. Tepung bonggol pisang kepok
2. METODE PENELITIAN berwarna biru tua. Pemeriksaan
a. Bahan mikroskop dengan meletakkan
Parasetamol farmasetis sedikit tepung bonggol pisang
(Changshu Huagang kepok pada deck glass yang telah

1157
Media Farmasi Indonesia Vol 12 No 1

dicampur dengan air hingga 3) Pembuatan Tablet


homogen kemudian diperiksa di Parasetamol dicampur
bawah mikroskop dan diamati. dengan mucilago amilum bonggol
Pemeriksaan kuantitatif pisang kepok dengan berbagai
tepung bonggol pisang dilakukan konsentrasi (FI 10%, FII 12,5%,
dengan melihat seberapa banyak FIII 15%, FIV 17,5%, dan FV
kandungan amilum tiap 1 gram 20%b/v). Formula tablet
tepung untuk memastikan bahwa parasetamol sebagaimana Tabel I.
tepung bonggol pisang benar-benar
mengandung amilum/pati.

Tabel I. Formula Tablet Parasetamol dengan berbagai Konsentrasi Tepung Bonggol


Pisang Kepok sebagai Bahan Pengikat.

Bahan (mg) FI FII FIII FIV FV


Parasetamol 500 500 500 500 500
Mucilago 30 37,5 45 52,5 60
Laktosa 81 73,5 66 58,5 51
Primogel 32,5 32,5 32,5 32,5 32,5
Magnesium stearat 6,5 6,5 6,5 6,5 6,5
Bobot tablet 650 650 650 650 650
Keterangan :
FI : Kadar mucilago tepung bonggol pisang kepok 10%
FII : Kadar mucilago tepung bonggol pisang kepok 12,5%
FIII : Kadar mucilago tepung bonggol pisang kepok 15%
FIV : Kadar mucilago tepung bonggol pisang kepok 17,5%
FV : Kadar mucilago tepung bonggol pisang kepok 20 %

Parasetamol, laktosa dan kemudian diakeringkan dalam oven


primogel dicampur dalam cube pada suhu 50°C selama semalam.
mixer, kemudian dikeluarkan dan Granul yang telah kering kemudian
dicampur dengan muculago tepung diayak dengan pengayak berukuran
bonggol pisang sebagai pengikat. 40 mesh, ditimbang dan dilakukan
Masa yang sudah tercampur pengujian sifat fisik granul yang
kemudian digranulasi menggunakan meliputi sifat alir, sudut diam dan
mesin granulator, granul basah kompresibilitas. Granul kemudian

1158
Media Farmasi Indonesia Vol 12 No 1

ditambah Magnesium stearat dan Tablet yang sudah dicetak diuji sifat
diaduk dalam cube mixer selama 5 fisik dan pelepasan obatnya.
menit. Granul yang kemudian 3. HASIL PENELITIAN DAN
dicetak dengan mesin tablet single PEMBAHASAN
punch pada tekanan tertentu dan a. Pemeriksaan Kualitatif dan
berat tablet dibuat sebesar 650 mg. Kuantitatif Tepung Bonggol
Pisang Kepok

Tabel II. Pemeriksaan Kualitatif Tepung Bonggol Pisang Kepok

No Uji Kualitatif Tepung Bonggol Pisang Kepok


1 Organoleptik
a. Bentuk Serbuk halus
b. Warna Coklat muda
c. Bau Tidak berbau
d. Rasa Tidak berasa
2 Mikroskop Butir tunggal, tidak beraturan, bulat,
hilus ditengah
3 Identifikasi
a. Iodine tes Biru tua
b. Kelarutan
1) Air Tidak larut
2) Etanol Tidak larut
3) NaOH Tidak larut

Pengujian menggunakan biru tua, yang ditunjukkan pada


larutan iod menunjukkan warna gambar 1 berikut :

Gambar 1. Hasil Pengujian (a) dan Pengujian Mikroskop


Tepung Bonggol Pisang Kepok

1159
Media Farmasi Indonesia Vol 12 No 1

Pemeriksaan kualiitatif bahwa tepung bonggol pisang kepok


dilakukan pada tepung bonggol mengandung pati sebesar 30,16%
pisang kepok untuk mengetahui b. Pemeriksaan Sifat Fisik Tablet
kandungan pati di dalam tepung, Parasetamol
yang mana dengan iodine test Pengujian sifat fisik tablet
memberikan warna ungu. Hasil yang dilakukan dalam penelitian
pengujian mikroskop didapatkan meliputi keseragaman bobot,
bentuk pati bonggol pisang kepok di kekerasan, kerapuhan, waktu
dalam tepung bonggol pisang kepok hancur. Hasil penelitian diperoleh
berbentuk bulat telur seperti bentuk data yang dirangkum dalam tabel
mikroskopik pati pada umumnya. III sebagai berikut :
Hasil uji kuantitatif menunjukkan

Tabel III. Data Sifat Fisik Tablet Parasetamol dengan berbagai Konsentrasi
Tepung Bonggol Pisang Kepok sebagai Bahan Pengikat
Parameter FI FII FIII FIV FV Standar
Keseragaman bobot (mg) 649,7 642,6 652,85 650,1 655,1 Penyimpangan
SD ±4,99 ±12,1 ±12,84 ±10,2 ±10,3 bobot 5%-10%
CV 0,77 1,9 1,97 1,57 1,57 (DeKes RI,1979)
Kekerasan (kg) 2,79 3,95 4,21 5,05 5,28 4-8 kg (Parott, 1971)
SD ±0,2 ±0,05 ±0,09 ±0,09 ±0,08
CV 7,17 1,27 2,14 1,78 1,52
Kerapuhan (%) 38,4 15,97 15,1 13,12 6,7 <1% (Lachman dkk.,
SD ±28,4 ±2,7 ±8,6 ±1,52 ±1,38 1994)
CV 73,96 16,9 56,95 11,59 20,6
Waktu hancur (menit) 0,7 1,19 1,25 1,51 1,85 <15 menit (DepKes
SD ±0,15 ±0,05 ±0,07 ±0,02 ±0,27 RI, 1979)
CV 21,4 4,2 5,6 1,32 14,59
Keterangan :
FI : Kadar tepung bonggol pisang kepok 10% b/v
FII : Kadar tepung bonggol pisang kepok 12,5% b/v
FIII : Kadar tepung bonggol pisang kepok 15% b/v
FIV : Kadar tepung bonggol pisang kepok 17,5% b/v
FV : Kadar tepung bonggol pisang kepok 20% b/v

1160
Media Farmasi Indonesia Vol 12 No 1

1) Keseragaman Bobot variasi (CV) menunjukan bahwa


Penyimpangan data yang diperoleh dari
keseragaman bobot dapat penimbangan bobot adalah
mempengaruhi penyimpangan homogen, CV dianggap
kandungan atau dosis bahan berpengaruh terhadap kualitas
obat (Lachman dkk., 1994). sebaran data. Nilai CV yang
Adanya zat aktif yang baik kurang dari 5% (DepKes
jumlahnya cukup besar dari RI, 1995).
bagian tablet maka keseragaman Keseragaman bobot yang
bobot dianggap cukup mewakili baik dipengaruhi oleh nilai
keseragaman kandungan waktu alir, sudut diam, dan
(DepKes RI, 2014). pengetapan granul yang
Keseragaman kandungan dalam memenuhi persyaratan sehingga
suatu tablet bertanggung jawab bobot yang dihasilkan stabil.
terhadap kesesuaian dosis yang Penggunaan bahan pengikat
berdampak pada terapi tepung bonggol pisang kepok
pengobatan. tidak mempengaruhi
Hasil pengujian terhadap keseragaman bobot dari tablet
keseragaman bobot tablet parasetamol yang dapat dilihat
parasetamol memenuhi dari nilai rata-rata tiap formula
persyaratan yang tertera dalam yang berbeda dan kenaikan
Farmakope Indonnesia yakni konsentrasi dari penggunaan
tidak ada 2 tablet yang diujikan pengikat tidak berpengaruh pada
dari 20 tablet yang bobotnya kenaikan bobot tablet dari
melebihi 5% dan tidak ada 1 masing-masing formula.
tablet pun yang melebihi 10% 2) Kekerasan Tablet
baik F I, II, III, IV dan F V. Data kekerasan tablet
Simpanan baku yang dihasilkan parasetamol yang dihasilkan
dari masing – masing formula memperlihatkan bahwa F I dan
nilainya tidak lebih dari 2 kali F II tidak memenuhi persyaratan
nilai mean, artinya bahwa sedangkan untuk F III, IV, dan
sebaran data yang dihasilkan V memenuhi persyaratan
dari tiap bobot dalam formula dimana kekerasan yang
baik. Harga dari koefisien dikehendaki 4-8 kg (Parott,

1161
Media Farmasi Indonesia Vol 12 No 1

1971). Tepung bonggol pisang kenaikan kekerasan dari tablet


kepok yang digunakan sebagai parasetamol.
bahan pengikat memiliki 3) Kerapuhan Tablet
pengaruh terhadap kekerasan Kerapuhan merupakan
yang mana semakin besar parameter yang
konsentrasi tepung maka menggambarkan kekuatan
semakin tinggi pula kekerasan permukaan tablet dalam
dari tablet parasetamol. melawan berbagai perlakuan
Hasil pengolahan data seperti pada saat tablet dicetak,
statistik menggunakan regresi dikemas dan didistribusikan
linier diperoleh nilai b sebesar yang menyebabkan abrasi pada
0,608. Nilai b yang dihasilkan permukaan tablet. Ketahanan
adalah positif yang menunjukan terhadap kehilangan berat,
ada hubungan searah antara menunjukan tablet tersebut
variasi konsentrasi tepung untuk bertahan terhadap
bonggol pisang kepok dengan goresan ringan/kerusakan
kekerasan tablet parasetamol. dalam penanganan,
Nilai b memiliki arti bahwa pengemasan dan pengapalan
peningkatan konsentrasi dari (Ansel, 1989).
tepung bonggol pisang kepok Pengujian kerapuhan tablet
menyebabkan kenaikan menunjukan bahwa semua
kekerasan tablet parasetamol. formula tidak memenuhi
Perolehan nilai korelasi (𝑟 2 ) persyaratan, yang mana nilai
sebesar 0,9421 antara variasi kerapuhan yang dapat diterima
konsentrasi tepung bonggol sebagai batas tertinggi adalah
pisang kepok dengan kekerasan 1%. Analisa regersi linier
tablet parasetamol menunjukan menghasilkan nilai b negatif
bahwa kedua variabel sebesar 6,625. Arti dari negatif
mempunyai hubungan yang adalah terjadi hubungan yang
linier (membentuk garis lurus). berbanding terbalik antara
Korelasi linier mempunyai variasi konsentrasi tepung
makna bahwa kenaikan variasi bonggol pisang kepok terhadap
konsentrasi tepung bonggol kerapuhan tablet parasetamol.
pisang kepok diikuti oleh Nilai b sebesar 6,625

1162
Media Farmasi Indonesia Vol 12 No 1

menunjukan bahwa jika yang rendah mengakibatkan


konsentrasi tepung bonggol ikatan antara partikel tidak
dinaikkan maka kerapuhan terlalu kuat seperti yang terjadi
tablet parasetamol akan pada F I.
berkurang sebesar 6,625. Nilai 4) Waktu Hancur
korelasi yang diperoleh antara Tablet sebelum melarut
kerapuhan dengan konsentrasi harus pecah menjadi partikel –
tepung bonggol pisang kepok partikel kecil atau granul,
yaitu 0,7566 yang berarti langkah ini disebut disintegrasi
bahwa hubungan korelasi (Lachman dkk., 1994).
keduanya kuat. Grafik regresi Kehancuran umumnya
linier menunjukan bahwa dilakukan dalam dua tahap
variasi konsentrasi tepung meskipun tidak dibatasi secara
bonggol pisang kepok tegas, yaitu melewati butiran
mempengaruhi nilai kerapuhan granulat dahulu kemudian
dari tablet parasetamol. menjadi partikel serbuk.
Rendahnya nilai kerapuhan Medium yang dapat digunakan
tablet parasetamol dapat adalah air atau cairan
disebabkan dari kurangnya pencernaan buatan bersuhu
kemampuan pengikat dalam tertentu (37°C) (Voigt, 1984).
mengikat partikel satu sama Waktu hancur yang tertera
lain. Cairan yang ditambahkan dalam Farmakope Indonesia
juga memiliki peranan penting untuk tablet tidak bersalut
dimana jembatan cair yang kurang dari 15 menit. Data
terbentuk diantara partikel dan waktu hancur dari pengujian
kekuatan ikatannya akan terhadap tablet parasetamol
meningkat bila jumlah cairan memenuhi persyaratan. Lima
yang ditambahkan meningkat, formula yang diujikan memiliki
tetapi sebaliknya juga bila waktu hancur kurang dari 15
cairan yang ditambahkan menit. Hasil waktu hancur
terlalu banyak hingga mucilago selaras dengan nilai kekerasan
yang terbentuk encer maka dari tablet. Semakin keras
membuat tablet akan semakin tablet maka semakin lama
rapuh. Konsistensi mucilago

1163
Media Farmasi Indonesia Vol 12 No 1

waktu yang dibutuhkan tablet yang memenuhi persyaratan.


untuk hancur. Sediaan dinyatakan hancur
Nilai korelasi pada analisia sempurna bila sisa sediaan yang
regresi linier sebesar 0,9518 tertinggal pada kasa alat uji
menunjukan bahwa korelasi merupakan massa lunak yang
antara konsentrasi tepung tidak mempunyai inti yang
bonggol pisang kepok dengan jelas. Tablet yang kontak
waktu hancur tablet dengan air pada suhu 37°C dan
parasetamol (menit) sangat kemudian terjadi gerakan abrasi
kuat. Hasil nilai b sebesar 0,262 membuat tablet menjadi
dan bernilai positif. Nilai b hancur. Waktu hancur yang
0,262 memiliki arti bahwa jika singkat, yang terjadi pada
terjadi penambahan konsentrasi masing-masing formula
tepung bonggol pisang kepok mengindikasikan bahwa bahan
maka waktu hancur bertambah pengikat yang digunakan yaitu
sebesar 0,26. Nilai b yang tepung bonggol pisang kepok
positif menunjukan bahwa kurang mampu mengikat
kenaikan konsentrasi tepung partikel.
bonggol pisang yang digunakan
menyebabkan kenaikan pada c. Pelepasan Parasetamol
waktu hancur tablet. Pengikat Pengujian pelepasan
yang digunakan dalam formula parasetamol dari sediaan tablet
dapat mempengaruhi waktu dilakukan menggunakan metode
hancur dari tablet, yang dapat klasik. Media disolusi berupa
dilihat dari semakin tinggi larutan dapar fosfat pH 5,8
konsentrasi tepung bonggol sebanyak 900 ml. Pengadukan
pisang kepok semakin lama dilakukan sebanyak 50 kali dalam
pula waktu hancur yang tiap menitnya. Waktu yang
dihasilkan. digunakan dalam pengambilan
Uji waktu hancur hanya sampel selama 30 menit. Toleransi
digunakan untuk menetapkan dalam waktu 30 menit harus larut
kesesuaian batas waktu hancur tidak kurang dari 80% (DepKes RI,
dari tablet yang dibuat 2014).
dibandingkan dengan standar

1164
Media Farmasi Indonesia Vol 12 No 1

Hasil disolusi pada semua (Depkes RI, 2014). Data disolusi


formula tidak memenuhi dapat dilihat pada tabel IV.
persyaratan yang telah ditetapkan
Tabel IV. Data Pelepasan Parasetamol

Parameter Kadar zat aktif (%)


X±SD
FI 66,77±3,73
FII 64,14±2,73
FIII 59,4±4,6
FIV 79,1±2,89
FV 77,71±3,08

Keterangan :
FI : Kadar tepung bonggol pisang kepok 10% b/v
FII : Kadar tepung bonggol pisang kepok 12,5% b/v
FIII : Kadar tepung bonggol pisang kepok 15% b/v
FIV : Kadar tepung bonggol pisang kepok 17,5% b/v
FV : Kadar tepung bonggol pisang kepok 20% b/v

Tepung bonggol pisang yang telah ditentukan (Lachman dkk.,


digunakan sebagai bahan pengikat 1994).
pada tablet parasetamol tidak 4. KESIMPULAN
mempengaruhi pelepasan Penggunaan tepung
parasetamol dari tablet, yang mana bonggol pisang kepok sebagai
kenaikan konsentrasi tepung bahan pengikat berpengaruh pada
bonggol pisang yang digunakan sifat fisik tablet parasetamol tetapi
tidak diikuti dengan kenaikan kadar tidak berpengaruh pada pelepasan
pelepasan obat. F IV memiliki parasetamol dari tablet.
kadar disolusi yang paling tinggi Peningkatan konsentrasi tepung
diantara formula yang lain yaitu bonggol pisang kepok meningkatan
79,1%. Pengujian disolusi sangat kekerasan dan waktu hancur tetapi
penting karena uji menjamin bahwa menurunkan kerapuhan tablet
partikel-partikel granul akan parasetamol.
melepaskan bahan obat dalam
larutan dengan kecepatan yang

1165
Media Farmasi Indonesia Vol 12 No 1

5. DAFTAR PUSTAKA Parrott, E. L., 1971, Pharmaceutical


Ansel, H. C., 1989, Pengantar Bentuk Technology Fundamental
Sediaan Farmasi, Edisi IV, Pharmaceutics, Ed III, Burgess
Cetakan I, Universitas Indonesia, Publishing Company Minneapolis,
244. New York, 73-82.

Depkes RI., 1979, Farmakope Indonesia, Siregar, C. J. P., dan Wikarsa, S., 2010,
Edisi III, Departemen Kesehatan Teknologi Farmasi Sediaan
Republik Indonesia, Jakarta, 6,7, Tablet, Penerbit Buku
38, 338. Kedokteran EGC, Jakarta, 145.

Depkes RI., 1995, Farmakope Indonesia, Voigt, R., 1984, Buku Pelajaran Teknologi
Edisi IV, Departemen Kesehatan Farmasi, Edisi IV, diterjemahkan
Republik Indonesia, Jakarta. oleh Soendani Noerno Soewandhi,
R., UGM Press, Yogyakarta, 171,
Depkes RI., 2014, Farmakope Indonesia,
202.
Edisi V, Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, Jakarta, 58, Warsa, I. W., Septiyani, F., dan Lisna, C.,
59, 1000,1001, 1613, 1654, 1658. 2013, Bioetanol dari Bonggol
Pohon Pisang, Jurnal Teknik
Lachman, L., Lieberman, H. A., dan
Kimia, Vol. 8, No. 1, 37-40.
Kanig, J. L., 1994, Teori dan
Praktek Farmasi Industri II, Winarno, F.G., 1997, Kimia Pangan dan
diterjemahkan oleh Siti Suyatmi, Gizi, Penerbit PT Gramedia
UI press, Jakarta, 697, 701-702. Pustaka Utama, Jakarta, 27-34, 47.

1166