Anda di halaman 1dari 12

REKAYASA IDE

KEPEMIMPINAN

DISUSUN OLEH
FERNANDEZ DANISH KHAN
5183121011

DOSEN PENGAMPU:
Drs.HIDIR EFENDI,M.Pd

PENDIDIKAN TEEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN (UNIMED)
T.A 2018/2019
KATA PENGANTAR

Pertama-tama saya mengucapkan puji syukur tuhan yang maha esa, sebab telah
memberikan rahmat dan karnia-nya serta kesehatan kepada saya, sehingga mampu
menyelesaikan tugas “REKAYASA IDE”. Tugas ini dibuat untuk memenuhi salah satu
mata kuliah yaitu “KEPEMIMPINAN”
Saya menyadari bahwa tugas REKAYASA IDE ini masih jauh dari
kesempurnaan. Apalagi dalam tugas ini terdapat banyak kekurangan dan kesalahan
saya mohon maaf karena sesungguhnya pengetahuan dan pemahaman saya masih
terbatas, karena keterbatasan ilmu dan pemahaman saya yang belum seberapa.
Karena itu saya sangat menantikan saran dan kritik dari pembaca yang sifatnya
membangun guna menyempurnakan tugas ini. Saya berharap semua tugas critical
book report ini dapat bermanfaat bagi pembaca da bagi saya khususnya. Atas
perhatiannya saya mengucapkan terimah kasih.

Medan, 4 DESEMBER 2018

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kepemimpinan merupakan salah satu fungsi manajemen yang sangat penting


untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam semua kelompok dalam masyarakat, baik itu
keluarga, perkumpulan olah raga, unit kerja, maupun organisasi lainnya, terdapat
seseorang yang paling berpengaruh dan dapat dikatakan sebagai pemimpin.
Organisasi akan kurang efisien tanpa pemimpin, bahkan tidak mampu mencapai tujuan
yang ditentukan. Kepemipinan menghadapi berbagai faktor dalam organisasi seperti
struktur, tatanan, koalisi, kekuasaan dan kondisi lingkungan, disamping itu,
kepemimpinan dapat menjadi alat pemecahan terhadap beberapa persoalan dalam
organisasi. Karena pentingnya kepemimpinan inilah, maka kepemimpinan menjadi
perhatian para ahli.

Dalam sejarah pertumbuhan peradaban manusia, banyak ditunjukkan bahwa


salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dan kelangsungan organisasi adalah
kuat tidaknya kepemimpinan. kegagalan dan keberhasilan suatu organisasi banyak
ditentukan oleh sosok pemimpin karena pemimpin merupakan pengendali penentu arah
yang hendak ditempuh oleh suatu organisasi menuju tujuan yang hendak dicapai.

B. Topik Pembahasan

Adapun permasalaha yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:

1. Bagaimanakah definisi dan hakikat kepemimpinan?

2. Apa saja Teori Kepemimpinan yang perlu diketahui?

3. Dimensi-dimensi Kepemimpinan apa sajakah yang ada dalam teori kepemipinan?

4. Hal apa sajakah yang perlu dilakukan untuk mengembangkan kemampuan


pemimpin?

5. Bagaimana Cara Mengembangkan Kemampuan Profesional Kepala Sekolah ?


BAB II
PEMBAHASAN

1. Konsep yang menganggap bahwa kepemimpinan merupakan kemampuan yang


berupa sifat-sifat yang dibawa sejak lahir yang ada dalam diri seorang pemimpin.
Konsep yang lebih modern, yaitu konsep yang memandang kepemimpinan sebagai
fungsi kelompok, yang sukses tidaknya suatu organisasi tidak hanya dipengaruhi oleh
kemampuan atau sifat-sifat yang ada pada seseorang, namun lebih mengutamakan
sifat-sifat maupun cirri-ciri kelompok yang dipengaruhinya. Konsep yang lebih maju lagi,
yaitu konsep yang tidak hanya didasari oleh pandangan psikologis dan sosiologis, tetapi
juga atas konsep ekonomis dan politis.

Para peneliti biasanya mendefinisikan kepemimpinan menurut pandangan pribadi


mereka serta aspek-aspek fenomena dari kepentingan yang paling baik bagi para pakar
yang bersangkutan. Adapun tujuan dari para peneliti diantaranya:

 Mengadakan identifikasi para pemimpin


 Melatih para pemimpin
 Menemukan apa yang dikerjakan para pemimpin
 Menentukan bagaimana pemimpin diseleksi
 Untuk membandingkan efektifitas pemimpin (Wahyosumidjo, 2002:18 )

Oleh karena itu, menemui adanya definisi kepemimpinan yang tunggal sangatlah sulit.

Kepemimpinan menurut Tannenbaum, Wesler dan Massarik dalam


Wahjosumidjo (2002: 17) adalah kemampuan seseorang dalam mempengaruhi orang
lain dengan sengaja, dalam suatu situasi melalui proses komunikasi, untuk mencapai
tujuan atau tujuan-tujuan tertentu. Adapun menurut Ivanchevich (1995: 334 ),
kepemimpinan adalah suatu upaya penggunaan jenis pengaruh bukan paksaan untuk
memotivasi orang-orang mencapai tujuan tertentu. Sutisna (1993), dalam Mulyasa
(2004:107) merumuskan kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi kegiatan
seseorang atau kelompok dalam usaha kearah pencapaian tujuan dalam situasi
tertentu.

Mulyasa juga menyebutkan bahwa menurut Supardi (1988) mendefinisikan


kepemimpinan sebagai kemampuan untuk mengerakkan, mempengaruhi, memotivasi,
mengajak, mengarahkan, menasehati, membimbin, menyuruh, memerintah, melarang,
dan bahkan menghukum bila perlu, serta membina dengan maksud agar manusia
sebagai media manajemen mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan administrasi
secara efektif dan efisien. Sedangkan menurut Atmosudirdjo dalam Fattah (2004:25)
menyebutkan bahwa kepemimpinan merupakan suatu bentuk persuasi seni (art)
pembinaan kelompok-kelompok orang-orang tertentu, biasanya melalui human relation
dan motivasi yang tepat.

Definisi-definisi yang bermacam-macam ini menunjukkan bahwa kepemimpinan


melibatkan pengaruh dan pentingnya proses komunikasi. Selain itu, unsur lain dalam
definisi tersebut adalah terfokus pada pencapaian tujuan. Keefektifan pemimpin
khususnya dipandang dengan ukuran tingkat pencapaian satu atau kombinasi tujuan
tersebut.

Definisi-definisi yang berbeda-beda tersebut mengandung kesamaan asumsi yang


bersifat umum ,seperti:

 Di dalam satu kelompok melibatkan interaksi antara dua orang atau lebih
(pemimpin dan pengikutnya)
 dalam melibatkan proses mempengaruhi, dimana pengaruh yang sengaja
digunakan oleh pemimpin terhadap bawahan. (Wahjosumidjo, 2002: 17)
 Selain kesamaan asumsi tersebut, terdapat perbedaan pula, yaitu:
 siapa yang menggunakan pengaruh
 tujuan dari usaha untuk mempengaruhi
 cara pengaruh itu digunakan

Adapun menurut Fattah (2004:88), pemimpin pada hakikatnya adalah seseorang yang
mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya
dengan menggunakan kekuasaan, dan kekuasaan adalah kemampuan untuk
mengarahkan dan mempengaruhi bawahan sehubungan dengan tugas-tugas yang
harus dilaksanakannya.

Pemimpin memiliki peranan yang sangat pentiong. Purwanto (2004:65) menyatakan


bahwa menurut ahli ilmu jiwa, pemimpin yang baik memiliki peran:

 Sebagai pelaksana (executive)


 Perencana (planner)
 Seorang ahli (expert)
 Mewakili kelompoknya
 Mengawasi hubungan antar anggota kelompok
 Bertindak sebagai pemberi ganjaran dan hukuman
 7. Bertindak sebagai wasit dan pengarah
 8. Merupakan bagian dari kelompok
 9. Lambang kelompok
 10. Pemegang tanggung jawab
 11. Sebagai pencipta/memiliki cita-cita
 12. Bertindak sebagai ayah
 13. Sebagai kambing hitam

2. Teori Kepemimpinan

Fattah (2004:88-98) menguraikan teori-teori kepemimpinan sebagai berikut:

1. Pendekatan Sifat-sifat Kepemimpinan

Mengenali karakteristik pemimpin yang berhasil merupakan upaya yang pertama


kali dilakukan oleh para peneliti dalam memahami kepemimpinan. Sifat-sifat pemimpin
yang mencakup intelekualitas, hubungan social, kemampuan emosional, keadaan fisik,
imajinasi, kekuatan jasmani, kesabaran, kemauan berkorban dan kemauan bekerja
keras harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

Para ahli menyebutkan ciri-ciri lain yang harus dimiliki oleh pemimpin. Abdulgani
(1958) menyebutkan bahwa pemimpin harus memiliki kelebihan dalam menggunakan
pikiran, rohani dan jasmani. Menurut Gerungan, pemimpin sekurang-kurangnya
memiliki tga ciri, yaitu penglihatan social, kecakapan berpikir abstrak, dan keseimangan
emosi. Henry Fayol berpendapat bahwa pemimpin haruslah setia, cerdas, jujur, sehat,
berpendidikan, dan berpengalaman. Sedangkan GR Terry menyebutkan sifat yang
harus dimiliki pemimpin yaitu kekuatan, kestabilan emosi, kemampuan hubungan
manusiawi, dorongan pribadi, keterampilan berkomunikasi, kecakapan mengajar,
kecakapan bergaul, dan kemampuan teknis.

2. Pendekatan Perilaku

Pendekatan perilaku memandang bahwa kepemimpinan dapat dipelajari dari pola


tingkah laku, bukan dari sifat-sifat pemimpin. Dan bagaimana pemimpin berperilaku
akan dipengaruhi oleh latar belakang pengetahuan, nilai-nilai, dan pengalaman mereka.
Disamping itu, pimpinan harus memperhitungkan kekuatan situasional seperti iklim
organisasi, sifat tugas, tekanan waktu, sika anggota terhadap kekuasaan, bahkan faktor
lingkungan organisasi. Para pendukung teori perilaku mengungkapkan bahwa cara
seorang bertindak akan menentukan keefektifan kepemimpinan yang bersangkutan.

3. Pendekatan Situasional

Pendekatan situasional berpandangan bahwa keefektifan kepemimpinan bergantung


pada kecocokan antara pribadi, tugas, kekuasaan, sikap dan persepsi. Pendukung
pendekatan ini diantaranya:

a. Model Kontingensi (Fiedler dan Chemer, 1974)


Pendekatan kepemimpinan ini berusaha mengenali faktor-faktor terpenting dalam
seperangkat situasi tertentu, dan meramalkan gaya kepemimpinan paling efektif dalam
situasi seperti itu. Fiedler mengidentifikasi tiga aspek dalam situasi pekerjaan yang
membantu menentukan gaya kepemimpinan mana yang akan efektif. Aspek pertama
yaitu variable hubungan antara pemimpin dan anggota, kedua variabel struktur tugas
dalam situasi kerja, dan ketiga adalah variable kekuasaan karena posisi pimpinan.

b. Model Kepemimpinan Vroom Teton

Model ini menjelaskan bagaimana pemimpin harus memimpin dalam situasi yang
bermacam-macam. Model ini menyatakan bahwa tidak ada satupun gaya
kepemimpinan yang efektif diterapkan dalam semua situasi.

c. Model Jalur Tujuan

Model ini dikembangkan oleh Martin G Evans (1970) dan Robert J House (1974) serta
Stoner (1986). Model ini didasarkan atas model pengharapan, menyatakan bahwa
motivasi seseorang tergantung pada harapannya akan imbalan dan nilai, dan
memusatkan pemimpin sebagai sumber imbalan. Teori ini disebut jalur tujuan karena
memfokuskan pada cara pemimpin mempengaruhi persepsi bawahan tentang tujuan
kerja. Pemimpin yang berorientasi pada bawahan akan menyediakan berbagai macam
imbalan, bukan hanya sekedar uang dan promosi, namun juga dukungan, rasa aman,
dan rasa hormat.

C. Dimensi-dimensi Kepemimpinan

David G Bowers dan Stanley E Seashore dalam Purwanto (2004:29) menyebutkan


empat dimensi pokok dari struktur fundamental kepemimpinan, yaitu:

4. Bantuan (support), yaitu tingkah laku yang memperbesar perasaan berharga


seseorang dan dianggap penting

5. Kemudahan interaksi, yaitu tingkah laku yang memberanikan anggota-anggota


kelompok untuk mengembangkan hubungan yang saling menyenangkan

6. Pengutamaan tujuan, yaitu tingkah laku yang merangsang antusiasme bagi


penemuan tujuan kelompok mengenai penccapaian prestasi yang baik

7. Kemudahan bekerja, yaitu tingkah laku yang membantu pencapaian tujuan dengan
kegiatan-kegiatan seperti penetapan waktu, pengkoordinasian, penyediaan sumber-
sumber dan bantuan teknis.

Adapun menurut Purwanto, dimensi kepemimpinan didasarkan pada dua orientasi,


yaitu orientasi system dan persona (2004: 28)
D. Pengembangan Kemampuan Pemimpin

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku pemimpin, diantaranya keahlian


dan pengetahuan yang dimilikinya, jenis pekerjaan atau lembaga yang dipimpinnya,
sifat-sifat dan kepribadiannya, sifat-sifat dan kepribadian pengikutnya, serta kekuatan-
kekuatan yang dimilikinya (Purwanto, 2004: 61). Faktor-faktor ini tentunya juga memiliki
pengaruh dalam pengembangan kemampuannya. Secara internal, seorang pemimpin
dapat melakukan hal-hal yang dapat mengembangkan kemampuannya, diantaranya:

 Selalu belajar dari pekerjaan sehari-hari terutama dari cara kerja anggotanya
 Melakukan observasi kegiatan manajemen secara terencana
 Membaca berbagai hal yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan yang sedang
dilaksanakan
 Memanfaatkan hasil-hasil penelitian orang lain
 Berfikir untuk masa yang akan datang
 Merumuskan ide-ide yang dapat diuji cobakan (Mulyasa, 2004: 127)

Fiedler, dalam Ivancevich (1995:352) menyebutkan bahwa program pelatihan dan


pengalaman dapat meningkatkan kekuasaan dan pengaruh seorang pemimpin jika
situasinya sangat menguntungkan, yaitu untuk kepemimpinan yang berorientasi pada
hubungan, dan cukup sulit untuk yang berorientasi tugas.

Adapun menurut Wahjosumidjo (2002:54), terdapat tiga macam cara untuk


memperbaiki kepemimpinan, yaitu:

 Seleksi (selection)
 Pelatihan (Training)
 Rekayasa situasi (situational engineering)

E. Pengembangan Kemampuanan Kepala Sekolah

Pengembangan kemampuan professional

Secara umum,pemimpin pendidikan harus menguasai 5 keterampilan pokok (Kimball


Wiles)

 Keterampilan dalam kepemimpinan.


 Keterampilan dalam hubungan kemanusiaan.
 Keterampilan dalam proses kelompok.
 Keterampilan dalam administrasi personalia.
 Keterampilan dalam penilaian.

Di samping itu, kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan harus menguasai


bagaimana mengambil keputuskan secara professional dan mengatasi konflik yang
terjadi dalam sekolah.Dua kemampuan ini sangat penting, mengingat kepala sekolah
mempunyai fungsi kepemimpinan menjabarkan kebijakan pemerintah dan
menciptakaan iklim sekolah yang memungkinkan agar tidak terjadi konflik. Dalam
mengembangkan kemampuan professional, ada beberapa ketrampilan dan
kemampuan yang harus dikuasi oleh kepala sekolah, yaitu :

1. Kepala sekolah sebagai pemimpin di bidang kurikulum,ia harus:

Mendayagunakan sumber-sumber material untuk pengembangan kurikulum

Menjabarkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan kebutuhan anak


didik.

Bertanggung jawab atas pelaksanaan kurikulum dan kepemimpinan yang diterapkan.

2. Kepala sekolah sebagai pemimpin di bidang personalia, ia harus:

Menerima dan menghargai individu guru sebagai staf atas dasar karakter pribadi dan
latar belakangnya.

Mengadakan kerjasama dan perencanaan,hubungan individu dan kelompok, dan


pembuatan program sekolah

3. Kepala sekolah sebagai pemimpin di bidang hubungan masyarakat ia harus:

Meningkatkan partisipasi orang tua dalam menyelesaikan problema sekolah dan


masyarakat.

Meningkatkan saling kunjungan antara sekolah dan masyarakat.

4. Kepala sekolah sebagai pemimpin di bidang hubungan guru dan murid, ia harus
dapat:

Memberikan contoh dan membina hubungan baik dengan guru dan murid

Mendorong guru agar professional dalam menyampaikan mater

5. Kepala Sekolah sebagai pemimpin dalam pengorganisasian sekolah ia harus dapat:

Membimbing guru dan staf sekolah untuk memahami tugas dan peranannya.
Bekerjasama dengan guru dan staf dalam perencanaan dan pengorganisasian
program sekolah.

Pengembangan Kemampuan Personal.

Kepala Sekolah sebagai pemimpin pendidikan perlu mengembangkan


kemampuan dirinya, agar selalu dapat mengikuti perkembangan zaman. Untuk
itu,kepala sekolah perlu memahami kelebihan dan kelemahan yang ada pada diri
sendiri dan mau mengembangkan kemampuannya secara continue.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan kemampuan pribadi antara lain:

 Watak (Psikolofis-internal)
 Tempramen (Tingkah Laku)
 Minat
 Kecerdasan
 Fisik
 Sifat-sifat pribadi dan tipe kepemimpinan yang dimiliki.

Seorang pemimpin pendidikan harus dapat menempatkan dirinya dalam kedirian


orang lain dengan kemampuan personel yang dimilikinya. Jika berada didepan
memberikan contoh tauladan, ditengah bisa berpatisipasi meningkatkan kemauan dan
kreativitas bahan, dan jika dibelakan membangun dan mendorong semangat bawahan.

Pemimpin harus dapat membenahi dirinya sebelum dapat membenahi orang


lain.Sebagai mana dikemukakan Robert J.Mc Cracken, Bahwa; We must have good
domestic relation with others” Dari Dr. Sosrokartono kita mendapat gambaran dari
Mangkunegoro IV, bahwa seorang pemimpin hendaknya mempunyai kemampuan
sebagai berikut :

 1.Sugih tanpo bondo (kaya tanpa harta)


 2. Digdya tanpa aji (sakti tanpa memakai jimat)
 3. Mabur tanpa elar (terbang tanpa sayap)
 4. Nglurug tanpo bolo (melawat tanpa bala tentara)
 5. Menang tanpo ngasorake (menang tanpa mengalahkan)

Pengembangan Kemampuan Sosial

Kemampuan social yang dimaksudkan adalah kemampuan dalam antar-hubungan


dengan orang lain baik antar individu,dalam kelompok,antar kelompok, atau dalam
lingkungan organisasi yang lebih besar.Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan
di bidang ini untuk menopang kepemimpinannya.
Prof. J. F. Tahalele memberikan beberapa saran untuk mengembangkan kemampuan
social kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan:

 Usahakan agar tetap gembira.


 Lihatlah, Pikirlah, dan bicarakan yang baik.
 Jangan mengharap terlalu banyak kepada orang lain,tetapi apa yang dapat kita
sumbangkan kepada mereka.
 Jangan mencampuri urusan pribadi orang lain kecuali dilapori.
 Jauhkan sifat sombong dan kembangkan sifat murah hati
 Tekun beragama dan jangan sekali-kali putus asa
 Kembangkan sifat “lagniappe” (pemberian kecil kepada orang lain yang
berdampak positif yang besar)

Disamping kemampuan yang ada pada diri sendiri harus dikembangkan, kepala
sekolah sebagai pemimpin pendidikan harus mampu menempatkan diri dalam kedirian
orang lain. Cara-cara yang dapat dilakukan antara lain:

 Selalu menghargai pendapat orang lain meskipun bertentangan.


 Jangan memaksakan pendapat kepada orang lain walaupun merasa benar.
 Menegur orang lain secara halus, misalnya bgaimana menurut pendapat
saudara jika ..
 Berbicara dengan jelas dan berlahan.
 Ketika berbicara, pandanglah lawan bicara kita (tidak menengok ke kiri dan ke
kanan.
 Memberikan perintah dengan bahasa meminta dapatkah anda menolong saya
untuk …
 Hindari kata-kata yang menyinggung perasaan orang lain.
 Sewaktu orang lain berbicara, hendaklah mendengarkan dengan penuh
perhatian.
 Ketika orang lain berbicara, janganlah menyela atau mengalihka pembicaraan.
 Jika orang lain menusuk hati kita, hendaklah kita tetap tenang dan sabar.
 Sebaik jangan berbisik-bisik di depan orang lain.
 Jika Mengkritik disampaikan dengan tenang, ramah dan bijaksana.
 Semua pernyataan tersebut diataskiranya dapat dijadikan acuan dalam menilai
diri sendiri agar pemimpin tidak menempatkan dirinya kurang atau lebih dari
kemampuan yang sebenarnya.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Kepemimpinan dapat dipandang sebagai suatu instrument untuk membuat sekelompok


orang mau bekerja sama dan berdaya upaya menaati segala aturan untuk mencapai
tujuan yang telah ditentukan. Kepemimpinan merupakan sekumpulan dari serangkaian
kemampuan dan sifat-sifat kepribadian termasuk di dalamnya kewibawaan. Sedangkan
pemimpin adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi
perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan, dan kekuasaan
adalah kemampuan untuk mengarahkan dan mempengaruhi bawahan sehubungan
dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakannya.

Kualitas pemimpin dapat ditingkatkan melalui bebagai cara, diantaranya melalui


pelatihan atau training,

B. Saran

Sebagai seorang pemimpin atau calon pemimpin, hendaknya kita senantiasa


meningkatkan pengetahuan dan ilmu kepemimpinan maupun bidang keilmuan lainnya.
agar nantinya dapat menjalankan roda organisasi secara professional.

Sebagai anggota suatu organisasi, hendaknya selalu bekerjasama dan bahu membahu
melakukan yang terbaik untuk kelompoknya, bekerjasama secara sinergis dengan
atasan maupun rekan. dengan demikian, tujuan organisasi yang diinginkan dapat
tercapai.