Anda di halaman 1dari 14

5 Contoh Kasus Geostrategi yang Ada Di

Indonesia
Geostrategi adalah sebuah masalah yang teramat penting bagi bangsa manapun, baik untuk
masa depan, masa kini dan bahkan masa lampau. Karena setiap negara dan bangsa tentunya
membutuhkan strategi dalam pemanfaatan wilayah yang mereka miliki sebagai salah satu
ruang lingkup nasional. Ini semua di lakukan hanya untuk menentukan sarana, kebijakan,
tujuan nasional, perwujudan kepentingan dan yang lainnya melalui sebuah pembangunan.
Dengan cara ini sebuah bangsa dan negara akan dinyatakan tetap ada dalam arti politis,
hankam, sosial budaya, ideologis dan ekonomis.

Geostrategi sendiri merupakan kata yang berasal dari geo dan strategi yang bermakna bumi
dan juga sebuah usaha yang memakai segala seumberdaya kemampuan baik itu SDA maupun
SDM yang di lakukan untuk pelaksanaan berbagai kebijakan yang telah di putuskan.
Geostrategi ini sendiri di artikan sebagai aturan atau metode yang akan menjadi alat untuk
perwujutan cita-cita ataupun tujuan negara melalui sebuah proses pembangunan yang
nantinya akan mengarahkan sebuah bangsa dalam membuat keputusan maupun strategi
pembanguan yang terimajinasi dan terukur guna mencapai sebuah masa depan yang lebih
aman, bermatabat dan lebih baik seperti Contoh Hubungan Bilateral. Jika kita mengkaji
contoh kasus geostrategi di indonesia, maka kita akan menemukan beberapa kasus seperti
yang kami rangkum berikut ini:

1. Masalah Perbatasan Timor Timur Indonesia

Salah satu contoh kasus geostrategi di Indonesia adalah masalah perbatasan negara yang di
lakukan oleh Timor Leste, sebuah negara baru yang mulai berdiri semenjak lepas dari NKRI
pada tahun 1999 silam. Ini merupakan sebuah kasus geostrategi dimana masyarakat timor
leste mengklaim wilayah Indonesia yang tepatnya ada di perbatasan wilayah mereka dengan
perbatasan wilayah indonesia yaitu perbatasan antara Timor Leste dan kabupaten Timur
Tengah Utara. Ada lima titik yang belum bisa terselesaikan dengan baik yang akan dibawa ke
meja PBB sebagai bentuk Perwujudan Nilai Pancasila Bidang Politik. Lima titik tersebut
adalah Tubu Banat, Nimlat, Imbate, Sumkaem dan Haumeniana yang total luas di kuasai oleh
timor leste sebanyak 1.301 ha. Sedangkan tiga titik yang ada diantara kelima titik tersebut ada
di perbatasan Timor Leste dengan kabupaten timur tengah dan di perbatasan belu. Penetapan
batas lautpun menjadi imbas dai lamanya dan berlarutnya penyelesaian masalah perbatasan
ini.

2. Sengketa Pulau Miangas Indonesia – Filipina

Kemudian contoh kasus geostrategi di Indonesia lainnya adalah sengketa perebutan pulau
Miangas yng di perebutkan Filipina dengan indonesia. Sengketa perebutan pulai ini terjadi
pada tahun 1979 silam dimana adanya perebutan antara pantai Mindanao yang merupakan
wilayah filipina dan pulau miangas di indonesia. Karena jika mengkaji secara jauh maka
kasus ini akan berbuntut panjang seperti halnya Sejarah UUD. Pulau Miangas sendiri telah di
putuskan menjadi bagian wilayah Hindia Belanda pada tahun 1928, namun letak dari pulau
ini yang berada di sebelah perairan Filipina menyebabkan adanya sengketa tersebut. Bahkan
kepemilikan pulau ini semakin di perjelas dengan adanya tugu perbatasan yang terjadi antara
wilayah Indonesia dengan wilayah Filipina di tahun 1955.
3. Batas Perairan Antara Indonesia Dengan Malaysia di Selat Malaka

Ini merupakan salah satu perselisihan yang di picu pada tahun 1969 dimana kala itu Malaysia
menyatakan bahwa mereka memiliki lebar wilayah 12 mil laut ketika melakukan pengukuran
garis dasar yang mengacu pada ketetapan di dalam Konvensi Jenewa yang terjadi tahun 1958.
Padahal indonesia sebenarnya lebih dahulu telah melakukan penentapan batas wilayahnya
sekitar 12 mil laut yang berada di garis dasar ini juga termasuk selat malaka tentunya. Ini
menjadi sebuah perseteruan antara kedua belah pihak negara tersebut tentang batas dari laut
wilayah perairan mereka di selat malaka yang tidak sampai 24 mil laut. Namun pada tahun
1970 pada bulan februari hingga bulan maret, diadakan sebuah perundingan tentang batas
wilayah tersebut hingga akhirnya melahirkan sebuah perjanjian tentang batas batas wilayah
perairan yang dimiliki kedua negara di selat malaka.

4. Batasan Daratan Indonesia Dengan Malaysia Mengenai Ambalat

Ini adalah sengketa lain di contoh kasus geostrategi yang di alami oleh Indonesia dengan
malaysia karena perebutan wilayah ambalat. Perebutan terjadi karea potensi dan
keistimewaan pulau ambalat yang kaya akan kekayaan bawah laut dan bahkan untuk sektor
pertambangan minyak. Sengketa ini berdasar pada sebuah peta baru yang di buat malaysia
yang secara mengejutkan memasukan pulau ligitan dan sipadan kedalam peta mereka tahun
1969 dan tentu saja hal ini membuat indonesia tidak terima. Peran Warga Negara dalam
Proses Pembangunan tentunya akan terganggu dengan adanya hal tersebut. Karena penentuan
itu di dasarkan oleh aturan yang tidak jelas dan bersifat sepihak. Pengajuan dan pembaharuan
sepuhak tersebut membuat indonesia tidak menyetujui peta baru negara malaysia.

5. Batas Daratan Di Negara Indonesia dengan Singapura

Ini merupakan sebuah sengketa yang melibatkan negara Indonesia dengan Singapura yenyang
adanya penambangan di pasir laut di dekat Kepri yang di lakukan pemerintah Singapura yang
seharusnya mendapatkan persetujuan Indonesia terlebih dahulu. Karena adanya aktifitas
penambangan tersebut menyebabkan kerusakan parah pada ekosistem di bagian pesisir pantai
hingga banyak para nelayan di indonesia kehilangan pekerjaan mereka. Bahkan keberadaan
beberapa pulau kecil di indoensia kian terancan akibat dari penambangan pasir laut yang
paling serius karena telah ada kasus seperti pulau nipah yang akhirnya tenggelam. Karena hal
ini nantinya akan menyebabkan adanya pergeseran dna perubahan antara batasan laut
indonesia dengan wilayah singapura, karena bentuk geografis indonesia menjadi berubah.
Maka kementrian pertahanan indoensia melakukan upaya untuk mereklamasi pulai nipa di
tahun 2004 hingga tahun 2008 untuk menjual pasir pantai yang berada di pulau tersebut ke
pemerintah Singapura.
GEOSTRATEGI PADA MASALAH
PERBATASAN
Setiap bangsa sudah pasti mempunyai cita-cita yang ingin di wujudkan dalam kehidupan
yang nyata. Cita-cita itu merupakan arahan atau tujuan dan mempunyai fungsi sebagai
penentu arah dari tujuan nasionalnya. Namun demikian tujuan dan cita-cita nasional itu
bukan sesuatu yang mudah diwujudkan karena dalam perjalananya kearah itu akan
mengalami suatu masalah yang memaksakan suatu bangsa untuk mencari solusi terbaik,
terarah, konsisten, efektif dan efisien.

Salah satu solusi dalam mencapai tujuan dan cita-cita nasioanal yang di inginkan yaitu
adanya geostrategi dalam pertahanan nasional, khususnya dalam menjaga stabilitas dengan
Negara lain. Dalam era ini sering sekali masalah muncul dalam dalam perbatasan wilayah
suatu Negara, dimana dalam perbatasan wilayah sering sekali perebuatan atau sengketa dalam
suatu wilayah.

Kawasan perbatasan adalah sebuah wilayah yang sangat strategi bagi stabilitas keamanan
sosial dan ekonomi seluruh warga Negara bukan hanya masyarakat di perbatasan. Luasnya
perbatasan di Indonesia seharusnya menecerminkan adanya adanya sebuah kebijakan
pengelolaan perbatasan yang efektif baik itu dari aspek sosial maupun aspek ekonomi dan
keamanan. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa sistem manajemen perbatasan
Indonesia selama ini berada dalam tahap yang mengkhawatirkan.

Meningkatnya kejahatan yang terjadi diperbatasan seperti penyelendupan kayu, barang, dan
obat-obatan terlarang, pedagangan manusia, dan teorisme yang telah menganggu kedaulatan
serta stabilitas kemanan diperbatasan Negara tersebut. Selama ini perbatasan di Indonesia
hanya di anggap sebagai garis pertahanan terluar Negara, oleh karena itu pendekatan yang
digunakan untuk mengelola perbatasan hanya pada pendekatan keamanan. Padahal dari
beberapa Negara tetangga, misalnya Malasyia, telah menggunakan pendekatan kesejahteraan
dan keamanan secara berdampingan pada pengembangan wilayah perbatasannya.

Geostrategi di Indonesia diperlukan sebagai suatu cara atau metode dalam memanfaatkan
segenap konsetelasi geografi Negara Indonesia dalam menentukan kebijakan, arahan serta
sarana-sarana dalam mencapai tujuan seluruh bangsa Indonesia dengan berdasar asas
kemanusiaan dan keadilan sosial. Geostrategi Indonesia member arahan tentang bagaimana
merancang strategi pembangunan dalam rangka mewujudkan masa depan yang lebih baik dan
aman, dan sejahtera. Oleh karena itu, geostrategi Indonesia bukanlah merupakan geopolitik
untuk kepentingan politik dan perang, melainkan untuk kepentingan kesejahteraan dan
kemananan satu masyarakat Indonesia.

Bagaimana cara mengatasi suatu masalah perbatasan yang ada di Indonesia , menurut saya
upaya untuk mempertahankan perbatasan wilayah di Indonesia merupakan tanggung jawab
mempertahankan kedaulatan wilayah RI dan TNI. Hal tersebut tidak tepat. Karena bagi saya
yang wajib adalah kita semua yang menjadi warga Negara Indonesia dalam upaya membantu
mempertahankan kedaulatan RI. Kerja sama dan sinergi antar instasi pemerintah, pemerintah
pusat dengan pemerintah daerah swasta, dan pemerintah dengan masyarakat harus diperkuat.
Seperti di Indonesia masih banyak sekali kasus yang mengancam beberapa perbatasan
wilayah Indonesia. Kasus yang paling banyak meyita perhatian masyarakat adalah kasus
sengketa antara Negara Indonesia dan Malasyia atas pulau Sipadan dan Linitan yang berakhir
dengan lepasnya kedua pulau ini dari wilayah RI pada tahun 2002 lalu. Lepasnya kedua pulau
ini terjadi setelah mahkamah internasional di Den Haag memenangkan Malasyia dengan alas
an Negara itu terbukti telah melakukan pengelolaan secara serius dan berkesenabungan
dikedua pulau itu. Penambangan pasir laut di perairan sekitar kepulauan Riau yakni wilayah
yang berbatasan langsung dengan Singapura, telah berlangsung sejak tahun 1970. Kegiatan
tersebut telah mengeruk jutaan ton pasir setiap hari dan mengakibatkan kerusakan ekosistem
pesisir pentai yang cukup parah. Selain itu pencaharian nelayan yang semula menyadarkan
hidupnya di laut, terganggu oleh akibat penambangan pasir laut. Kerusakan ekosistem yang
dilakukan oleh penebangan pasir laut telah menghilangkan sejumlah mata pencaharian para
nelayan.

Dengan kasus tersebut maka Indonesia masih dikatakan pertahanan di Indonesia masih lemah
dan belum sepenuhnya ada kejelasan adanya perbatasan anatara wilayah RI dengan Negara
tetangga.

Kita harus menyusun stategi pertahanan wilayah perbatasan. Apabila perlu, kita harus
menyusun sebuah undang-undang khusus untuk itu.
Sengketa Terpecahnya Negara Timur Leste
yang terlepas dari Negara Kesatuan
Indonesia
Nama : Putri Fitriani

Nim : 933419017

Kelas : hari kamis 8.40

Sengketa Terpecahnya Negara Timur Leste yang terlepas dari Negara Kesatuan Indonesia

Ketika membahas timur leste atau yang sekarang disebut negara timur-timur, sama halnya
kita mengenang luka lama yang sudah sejak lama hilang. Wilayah itu dulunya merupakan
bagian dari wilayah indonesia. Namun setelah jajak pendapat, Timor Leste membelah
menjadi bagian negara sendiri yang terlepas dari Negara Kesatuan Repbulik Indonesia.dilihat
dari jejak asal usulnya timur leste merupakan wilayah jajahan portugis pada masa silam.

Konflik sendiri secara umum didefinisikan sebagai situasi dimana dua atau lebih aktor
berjuang untuk mendapatkan sumber langka dalam waktu yang sama,atau setidaknya aktor-
aktor tersebut mempunyai posisi yang dipersepsikan dan diyakini berlawanan dalam satu
waktu yang sama.Secara lebih khusus, untuk sengketa dan konflik perbatasan, Paul K. Huth
menjelaskan ada tiga faktor mengapa wilayah perbatasan sering disengketakan dan menjadi
pemicu konflik, yaitu kandungan sumber daya alamnya, Komposisi agama dan etnis dalam
populasinya, dan lokasinya yang strategis secara militer.

Sengketa perbatasan yang terjadi antara Indonesia dan timor leste memang lebih disebabkan
perebutan lahan petanian (sumber daya alam) antara kedua warga negara yakni warga desa
Haumeni Ana, Kecamatan Bikomi Nilulat, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara
Timur dan warga Pasabbe, Distrik Oecussi, Timor Leste. Permasalahan mengenai penetepan
sengketa batas wilayah antar kedua negara juga menjadi pemicu, namun pendekatan
pembangunan ekonomi berupa kesejahterhaan dan tingkat pendidikan juga berpengaruh
dalam konflik tersebut.

Resolusi konflik secara umum dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan untuk
menyelesaikan konflik secara konstruktif dengan cara mencari kesepakatan antara para pihak
yang terlibat dalam konflik.Menurut Vestergaard, resolusi konflik mencakup dua hal utama,
yaitu isu dan relasi (hubungan antar-aktor). Johan Galtung memperkenalkan tiga pendekatan
perdamaian dalam resolusi konflik. Pertama, pemeliharaan perdamaian (peacekeeping), yaitu
upaya untuk mengurangi atau menghentikan kekerasan melalui intervensi yang dilakukan
oleh pihak penengah, umumnya dilakukan oleh militer. Kedua, penciptaan perdamaian
(peacemaking), yaitu upaya untuk menciptakan kesepakatan politik antarpihak yang bertikai,
baik melalui mediasi, negosiasi, arbitrasi, maupun konsolidasi. Ketiga, pembangunan
perdamaian (peacebuilding) yaitu upaya rekonstruksi dan pembangunan sosial ekonomi pasca
konflik untuk membangun perubahan sosial secara damai. Dengan tiga tahapan ini,
diharapkan konflik bisa terselesaikan sampai ke akar masalah, sehingga di masa mendatang
konflik tersebut tidak pecah kembali.
Pemerintah Indonesia ataupun Timor Leste harus duduk bareng demi menciptakan
perdamaian di perbatasan, jangan sampai ketika konflik tersebut mengalami eskalasi baru dua
negara muali bertindak. Pendekatan semacam ini harus ditinggal, lebih baik mencegah
daripada mengobati. Persoalan kemapanan secara ekonomi maupun yang disebut sebagai
kesejahterahan adalah entry point yang harus segara mendapat tindakan dari kedua negara.
Intervensi militer memang dibutuhkan dalam ranah pendekatan keamanan secara tradisional
namun pendekatan human security harus lebih diutamakan, karena ini menyangkut persoalan
hak warga negara dan menyangkut nama baik negara serta keamanan negara tentunya.

Jika Dikaitkan dengan geostrategi merupakan suatu strategi yang memanfaatkan kondisi letak
geografi negara dalam menentukan kebijakan, tujuan dan sarana untuk mencapai tujuan
nasional. Geostrategi diartikan pula sebagai metode untuk mewujudkan metode untuk
mewujudkan cita-cita proklamasi sebagaimana yang diamanatkan dalam pembukaan undang-
undang 1945. Itu semua diperlukan untuk mewujudkan dan mempertahankan integrasi
bangsa dalam masyarakat majemuk dan heterogen berdasarkan pembukaan UUD 1945.
Geostrategi Indonesia dirumuskan dalam wujud ketahanan Nasional.

Sebagai contoh pertimbangan geostrategi untuk negara dan bangsa Indonesia adalah
kenyataan tentang posisi silang Indonesia dari berbagai aspek, disamping itu aspek
geografinya juga aspek-aspek demografi, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya,dan
pertahanan dan keamanan.

Sebagai suatu kesatuan negara kepulauan yang sangat besar dan luas dan koseptual,
geopolitik yang ada diindonesia diwujudkan melalui konsep yang dituangkan dalam salah
satu doktrin nasional yang biasa disebut Wawasan Nusantara serta Politik luar negeri yang
bebas dan aktif. Begitu juga Geostrategi di Indonesia juga diwujudkan melaui konsep
ketahanan nasional yang bertumbuh pada perwujudan kesatuan Ideologi, kekuasaan Politik,
Ekonomi, Sosial Budaya Serta pertahanan keamaanan dan lainnya.

Jika dilihat dari acuan letak geografisnya bercirikan maritim, maka diperlukan strategi bear
(grand strategy) maritim sejalan dengan doktrin pertahanan defensif aktif dan faktanya bahwa
bagian teluar dari wilayah yang harus selalu dipertahankan adalah laut. Implementasi yang
ada dari strategi maritim (maritim power ) yang dapat menjamin kedaulatan dan integritas
wilayah dari berbagai ancaman. Karena hubungan antara geopolitik dan geostrategi terdapat
astra grata.

Terkaitnya antara kesenjangan letak geografis yang ada serta permasalahannya yang di
selesaikan dengan manajemen konflik yang cukup baik. pada akhirnya negera timur leste
terlepas dari indonesia yang menjadi bagian negara sendiri hingga saat ini. Negara yang
makmur dengan begitu banyak tambangnya dan sumber daya alam disekitarnya.
Politik dan Strategi Nasional (IMPLEMENTASI POLITIK DAN STRATEGI NASIONAL
DALAM BIDANG PEMBANGUNAN NASIONAL)
Posted on June 13, 2014 by yogiearieffadillah18

PENDAHULUAN

A. Pengertian Politik dan Strategi

Pengertian Politik

Secara etimologis, kata politik berasal dari bhasa Yunani politeia yang akar katanya
polis,berarti kesatuan masyarakat yang mengurus dirinya sendiri (negara), sedangkan teia
berarti urusan. politeia berarti menyelenggarakan urusan negara. Jadi secara etimologis
pengertian politik adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan yang menyangkut
kepentingan dari sekelompok masyarakat (negara).

Secara umum politik mempunyai 2 arti yaitu politik dalam arti kepentingan umum (politics)
dan politik dalam arti kebijakan (policy). Politik dalam arti politics adalah rangkaian
asas/prinsip, keadaan, jalan, ncara atau alat yang akan digunakan unyuk mencapai tujuan.
Politik dalam arti policy adalah penggunaan pertimbangan tertentu yang dapat menjamin
terlaksananya usaha untuk mewujudkan keinginan/cita-cita yang dikehendaki.

Pengertian Strategi

Staregi berasal dari bahasa Yunani strategos yang berarti the art of general atau seni seorang
panglima yang bisanya digunakan dalam peperangan. Dalam arti umum, strategi dapat
diartikan sebagai kiat atau cara untuk memperoleh kemenangnan atau tercapainya suatu
tujuan termasuk politik.

Dalam pengertian umum, strategi adalah cara untuk mendapat-kan kemenangan atau
pencapaian tujuan. Dengan demikian, strategi tidak hanya menjadi monopoli para jendral
atau bidang militer, tetapi telah meluas ke segala bidang kehidupan.

A.1. Politik dan Strategi Nasional

Politik nasional diartikan sebagai kebijakan umum dan pengambilan kebijakan untuk
mencapai suatu cita-cita dan tujuan nasional. Dengan demikian definisi politik nasional
adalah asas, haluan, usaha serta kebijaksanaan negara tentang pembinaan (perencanaan,
pengembangan, pemeliharaan, dan pengendalian) serta penggunaan kekuatan nasional untuk
mencapai tujuan nasional. Sedangkan strategi nasional adalah cara melaksanakan politik
nasional dalam mencapai sasaran dan tujuan yang ditetapkan oleh politik nasional.

A.2. Dasar Pemikiran Penyusunan Politik dan Strategi Nasional

Penyusunan politik dan strategi nasional perlu memahami pokok-pokok pikiran yang
terkandung dalam sistem manajemen nasional yang berlandaskan ideologi Pancasila, UUD
1945, Wawasan Nusantara, dan Ketahanan Nasional.

A.3. Penyusunan Politik dan Strategi Nasional


Politik dan strategi nasional yang telah berlangsung selama ini disusun berdasarkan sistem
kenegaraaan menurut UUD 1945. sejak tahun 1985 telah berkembang pendapat yang
mengatakan bahwa jajaran pemerintah dan lembaga-lembaga yang tersebut dalam UUD 1945
merupakan “suprastruktur politik”. Lebaga-lembaga tersebut adalah MPR, DPR, Presiden,
DPA, BPK, MA. Sedangkan badan-badan yang ada dalam masyarakat disebut sebagai
“infrastruktur politik”, yang mencakup pranata politik yang ada dalam masyarakat, seperti
partai politik, organisasi kemasyarakatan, media massa, kelompok kepentingan (interest
group), dan kelompok penekan (pressure group). Suprastruktur dan infrastruktur politik harus
dapat bekerja sama dan memiliki kekuatan yang seimbang.

Mekanisme penyusunan politik dan strategi nasional di tingkat suprastruktur politik diatur
oleh presiden/mandataris MPR. Sedangkan proses penyusunan politik dan strategi nasional di
tingkat suprastruktur politk dilakukan setelah presiden menerima GBHN.

Strategi nasional dilaksanakan oleh para menteri dan pimpinan lembaga pemerintah non
departemen berdasarkan petunjuk presiden, yang dilaksanakan oleh presiden sesungguhnya
merupakan politik dan strategi nasional yang bersifat pelaksanaan.

Pandangan masyarakat terhadap kehidupan politik, ekonomi, sosial budaya, maupun bidang
Hankam akan selalu berkembang karena:

a. Semakin tingginya kesadaran bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

b. Semakin terbukanya akal dan pikiran untuk memperjuangkan haknya.

c. Semakin meningkatnya kemampuan untuk menentukan pilihan dalam pemenuhan


kebutuhan hidup.

d. Semakin meningkatnya kemampuan untuk mengatasi persoalan seiring dengan semakin


tingginya tingkat pendidikan yang ditunjang oleh kemampuan ilmu pengetahuan dan
teknologi.

e. Semakin kritis dan terbukanya masyarakat terhadap ide baru.

A.4. Politik Pembangunan Nasional dan Manajemen Nasional

Tujuan politik bangsa Indonesia telah tercantum dalam Pembukaan UUD 1945aline ke-4,
yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa,dan ikut melaksanakan ketertiban
dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

a. Makna Pembangunan Nasional

Pembangunan nasional merupakan usaha peningkatan kualitas manusia dan masyarakat


Indonesia secara berkelanjutan dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi serta memperhatikan tantangan perkembangan global.

Tujuan pembangunan nasional itu sendiri adalah sebagai usaha untuk meningkatkan
kesejahteraan seluruh bangsa Indonesia.
b. Manajemen Nasional

Manajemen nasional pada dasarnya merupakan sebuah sistem, sehingga lebih tepat jika kita
menggunakan istilah “sistem manajemen nasional”. Orientasinya adalah pada penemuan dan
pengenalan (identifikasi) faktor-faktor strategis serta menyeluruh dan terpadu.

Pada dasarnya sistem manajemen nasional merupakan perpaduan antara tata nilai, struktur,
dan proses untuk mencapai kehematan, daya guna, dan hasil guna sebesar mungkin dalam
menggunakan sumber dana dan daya nasional demi mencapai tujuan nasional.

Implementasi Politik dan Strategi nasional dalam bidang-bidang Pembangunan


Nasional

Implementasi Politik Strategi Nasional dalam Bidang Pembangunan Nasional Tahun 1999-
2004.

· Peningkatan rasa saling percaya dan harmonisasi antar kelompok masyarakat.

· Pengembangan kebudayaan yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur.

· Peningkatan keamanan, ketertiban,dan penanggulangan kriminalitas.

 Pencegahan dan Penanggulangan Separatisme.


 Pencegahan dan Penanggulangan gerakan terorisme.
 Peningkatan kemauan pertahanan nasional.

· Pemantapan politik luar negeri dan Peningkatan kerjasama internasional.

 Pembenahan Sistem dan Politik Hukum.


 Penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk.
 Penghormatan, pengakuan, dan penegakan atas hukum dan HAM..

Garis-garis besar haluan Negara sebagai arah penyelenggaraan Negara bagai lembaga-
lembaga tinggi segenap rakyat Indonesia, kaidah peleksanaannya sebagai berikut ;

1. Presiden selaku pemewrintahan Negara, menjalankan tugas penyelenggaraan pemerintahan


Negara, berkewajiban untuk mengerhkan semua potensi dan kekuatan pemerintahan
dalamel;aksanaakna dan mengendalikan pembangunan nasional.

2. Dewan perwakilan rakyat, mahkama agung, badan pemeriksa keuangan, dan dewan
pertimbangan agung berkewajiban nmelaksankangaris-garis besar haluian negarasesuai
dengan fungsi, tugas, dan wewenagnya berdasarkan UUD 1945

3. Semua lembaga tinggi neghara berkewajiban menyampaikan laporan pelaksanaan garis-


garis besar haluan Negara dalam sidanh tahunan MPR, sesuai dengan fungsi, tugas dan
wewenagnya berdasarkan UUD 1945.

4. Garis-garis besar haluan Negara dalam pelaksanaannya dituangkan dalam program


pembangunan negara 5 tahun (BAPENAS) yang membuat uraian kebijakan secara rinci
terukur yang secara yuridis ditetapkan oleh prtesiden bersama MPR.
5. PROPENAS dirinci dalam rencana pembangunan tahunan (REPETA) yang membuat
anggaran pendapatan dan belanja Negara (APBN) dan ditetapkan presiden bersama MPR.

Arah kebijakan GBHN

Bidang Hukum

1. Mengembangkan budaya hukum di semua lapisan masyarakat untuk terciptanya kesadaran


dan kepatuhan hukum dalam kerangka supremasi hukum dan tegaknya negara hukum.

2. Menata sistem hukum nasional yang menyeluruh dan terpadu dengan mengakui dan
menghormati hukum agama dan hukum adat serta memperbaharui perundang-undangan
warisan kolonial dan hukum nasional yang diskriminatif, termasuk ketidakadilan gender dan
ketidaksesuaiannya dengan tuntutan reformasi melalui program legislasi.

3. Menegakkan hukum secara konsisten untuk lebih menjamin kepastian hukum, keadilan
dan kebenaran, supremasi hukum, serta menghargai hak asasi manusia.

4. Melanjutkan ratifikasi konvensi internasional, terutama yang berkaitan dengan hak asasi
manusia sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan bangsa dalam bentuk undang-undang.

5. Meningkatkan integritas moral dan keprofesionalan aparat penegak hukum, termasuk


Kepolisian Negara Republik Indonesia, untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat
dengan meningkatkan kesejahteraan, dukungan sarana dan prasarana hukum, pendidikan,
serta pengawasan yang efektif.

6. Mewujudkan lembaga peradilan yang mandiri dan bebas dari pengaruh penguasa dan pihak
mana pun.

7. Mengembangkan peraturan perundang-undangan yang mendukung kegiatan perekonomian


dalam menghadapi era perdagangan bebas tanpa merugikan kepentingan nasional.

Bidang Ekonomi

1. Mengembangkan persaingan yang sehat dan adil serta menghindarkan terjadinya struktur
pasar monopolistik dan berbagai struktur pasar yang distortif, yang merugikan masyarakat.

2. Mengoptimalkan peranan pemerintah dalam mengoreksi ketidaksempurnaan pasar dengan


menghilangkan seluruh hambatan yang mengganggu mekanisme pasar, melalui regulasi,
layanan publik, subsidi dan insentif, yang dilakukan secara transparan dan diatur dengan
undang-undang.

3. Mengupayakan kehidupan yang layak berdasarkan atas kemanusiaan yang adil bagi
masyarakat, terutama bagi fakir miskin dan anak-anak terlantar dengan mengembangkan
sistem dana jaminan sosial melalui program pemerintah serta menumbuh kembangkan usaha
dan kreativitas masyarakat yang pendistribusiannya dilakukan dengan birokrasi yang efektif
dan efisien serta ditetapkan dengan undang-undang.

4. Mengembangkan perekonomian yang berorientasi global sesuai kemajuan teknologi


5. Mengelola kebijakan makro dan mikroekonomi secara terkoordinasi dan sinergis guna
menentukan tingkat suku bunga wajar, tingkat inflasi terkendali, tingkat kurs rupiah yang
stabil dan realistis, menyediakan kebutuhan pokok terutama perumahan dan pangan rakyat,
menyediakan fasilitas publik yang memadai dan harga terjangkau, serta memperlancar
perizinan yang transparan, mudah, murah, dan cepat.

6. Mengembangkan kebijakan fiskal dengan memperhatikan prinsip transparansi, disiplin,


keadilan, efisiensi, efektivitas, untuk menambah penerimaan negara dan mengurangi
ketergantungan dana dari luar negeri.

7. Mengembangkan pasar modal yang sehat, transparan, efisien, dan meningkatkan penerapan
peraturan perundangan sesuai dengan standar internasional dan diawasi oleh lembaga
independen.

8. Mengoptimalkan penggunaan pinjaman luar negeri pemerintah untuk kegiatan ekonomi


produktif yang dilaksanakan secara transparan, efektif dan efisien. Mekanisme dan prosedur
peminjaman luar negeri harus dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat dan diatur
dengan undang-undang.

9. Mengembangkan kebijakan industri, perdagangan, dan investasi dalam rangka


meningkatkan daya saing global dengan membuka aksesibilitas yang sama terhadap
kesempatan kerja dan berusaha bagi segenap rakyat dan seluruh daerah melalui keunggulan
kompetitif terutama berbasis keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia
dengan menghapus segala bentuk perlakuan diskriminatif dan hambatan.

10. Memberdayakan pengusaha kecil, menengah, dan koperasi agar lebih efisien, produktif
dan berdaya saing dengan menciptakan iklim berusaha yang kondusif dan peluang usaha
yang seluas-luasnya. Bantuan fasilitas dari negara diberikan secara selektif terutama dalam
bentuk perlindungan dari persaingan yang tidak sehat, pendidikan dan pelatihan, informasi
bisnis dan teknologi, permodalan, dan lokasi berusaha.

Bidang Politik

1. Politik Dalam Negeri

a. Memperkuat keberadaan dan keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang


bertumpu pada ke-bhinekatunggalika-an. Untuk menyelesailan masalah-masalah yang
mendesak dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, perlu upaya
rekonsiliasi nasional yang diatur dengan undang-undang.

b. Menyempurnakan Undang-Undang Dasar 1945 sejalan dengan perkembangan kebutuhan


bangsa, dinamika dan tuntutan reformasi, dengan tetap memelihara kesatuan dan persatuan
bangsa, serta sesuai dengan jiwa dan semangat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

c. Meningkatkan peran Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, dan


lembaga-lembaga tinggi negara lainnya dengan menegaskan fungsi, wewenang, dan tanggung
jawab yang mengacu pada prinsip pemisahan kekuasaan dan tata hubungan yang jelas antara
lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif.
d. Mengembangkan sistem politik nasional yang berkedaulatan rakyat, demokratis dan
terbuka, mengembangkan kehidupan kepartaian yang menghormati keberagaman aspirasi
politik, serta mengembangkan sistem dan penyelenggaraan pemilu yang demokratis dengan
menyempurnakan berbagai peraturan perundang-undangan di bidang politik.

e. Meningkatkan kemandirian partai politik terutama dalam memperjuangkan aspirasi dan


kepentingan rakyat serta mengembangkan fungsi pengawasan secara efektif terhadap kinerja
lembaga-lembaga negara dan meningkatkan efektivitas, fungsi dan partisipasi organisasi
kemasyarakatan, kelompok profesi, dan lembaga swadaya masyarakat dalam kehidupan
bernegara.

f. Meningkatkan pendidikan politik secara intensif dan komprehensif kepada masyarakat


untuk mengembangkan budaya politik yang demokratis, menghormati keberagaman aspirasi,
dan menjunjung tinggi supremasi hukum dan hak asasi manusia berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945.

g. Memasyarakatkan dan menerapkan prinsip persamaan dan anti-diskriminasi dalam


kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

h. Menyelenggarakan pemilihan umum secara lebih berkualitas dengan partisipasi rakyat


seluas-luasnya atas dasar prinsip demokratis, langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, adil, dan
beradab yang dilaksanakan oleh badan penyelenggara independen dan non-partisan selambat-
lambatnya pada tahun 2004.

i. Membangun bangsa dan watak bangsa (nation and character building) menuju bangsa dan
masyarakat Indonesia yang maju, bersatu, rukun, damai, demokratis, dinamis, toleran,
sejahtera, adil dan makmur.

j. Menindaklanjuti paradigma baru Tentara Nasional Indonesia dengan menegaskan secara


konsisten reposisi dan redefinisi Tentara Nasional Indonesia sebagai alat negara dengan
mengoreksi peran politik Tentara Nasional Indonesia dalam kehidupan bernegara.
Keikutsertaan Tentara Nasional Indonesia dalam merumuskan kebijaksanaan nasional
dilakukan melalui lembaga tertinggi negara Majelis Permusyawaratan Rakyat.

2. Hubungan Luar Negeri

a. Menegaskan arah politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif dan berorientasi pada
kepentingan nasional, menitikberatkan pada solidaritas antarnegara berkembang, mendukung
perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa, menolak penjajahan dalam segala bentuk, serta
meningkatkan kemandirian bangsa dan kerja sama internasional bagi kesejahteraan rakyat.

b. Dalam melakukan perjanjian dan kerja sama internasional yang menyangkut kepentingan
dan hajat hidup rakyat banyak harus dengan persetujuan lembaga perwakilan rakyat.

c. Meningkatkan kualitas dan kinerja aparatur luar negeri agar mampu melakukan diplomasi
pro-aktif dalam segala bidang untuk membangun citra positif Indonesia di dunia
internasional, memberikan pelindungan dan pembelaan terhadap warga negara dan
kepentingan Indonesia, serta memanfaatkan setiap peluang positif bagi kepentingan nasional.
d. Meningkatkan kualitas diplomasi guna mempercepat pemulihan ekonomi dan
pembangunan nasional, melalui kerjasama ekonomi regional maupun internasional dalam
rangka stabilitas, kerja sama, dan pembangunan kawasan.

e. Meningkatkan kesiapan Indonesia dalam segala bidang untuk menghadapi perdagangan


bebas, terutama dalam menyongsong pemberlakuan AFTA, APEC, dan WTO.

f. Memperluas perjanjian ekstradisi dengan negara-negara sahabat serta memperlancar


prosedur diplomatik dalam upaya melaksanakan ekstradisi bagi penyelesaian perkara pidana.

g. Meningkatkan kerja sama dalam segala bidang dengan negara tetangga yang berbatasan
langsung dan kerja sama kawasan ASEAN untuk memelihara stabilitas, pembangunan, dan
kesejahteraan.