Anda di halaman 1dari 46

MAKALAH RANCANGAN FORMULA, ANALISIS FARMASI

DAN UJI MUTU


“Ibuprofen Tablet Salut Selaput”

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas


Mata Kuliah Rancangan Formula, Analisis Farmasi dan Uji Mutu

Disusun oleh :

1. Kokom Nurul Qomariyah 3351182105


2. Gloria 3351182138
3. Feby Anisa Fitrianti Suwito 3351182140
4. Febiyanti Elisabet 3351182142
5. Fita Suci Nofirawati 3351182145

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena berkat
rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berisi tentang
rancangan formula Ibuprofen tablet salut selaput. Makalah ini disusun untuk
memenuhi salah satu tugas mata kuliah Rancangan Formula, Analisis Farmasi dan
Uji Mutu pada Program Studi Profesi Apoteker, Universitas Jenderal Achmad
Yani.

Dalam penyusunan makalah ini banyak pihak yang telah membantu


penulis baik secara langsung maupun tidak langsung, maka dengan penuh rasa
hormat dan kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih. Penulis
menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang
bersifat membangun dalam upaya perbaikan di masa yang akan datang. Akhir kata
penulis berharap semoga makalah ini dapat diterima dan bermanfaat bagi semua
pihak.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Cimahi, Januari 2019

ii
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................... 2
1.3 Maksud Dan Tujuan .................................................................................. 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 4
2.1 Pengertian Tablet ...................................................................................... 4
2.2 Jenis – Jenis Tablet ................................................................................... 4
2.3 Metode Pembuatan Tablet ........................................................................ 6
2.4 Komposisi Tablet ..................................... Error! Bookmark not defined.
2.5 Kerusakan – Kerusakan Tablet .............. Error! Bookmark not defined.9
2.6 Evaluasi .................................................. Error! Bookmark not defined.9
2.7 Rancangan Formula ................................................................................ 26
2.8 Uraian Bahan ......................................... Error! Bookmark not defined.6
2.9 Informasi Obat ........................................................................................ 34
BAB III METODOLOGI KERJA .................................................................... 36
3.1 Alat dan Bahan ........................................................................................ 36
3.2 Perhitungan Bahan .................................................................................. 37
3.3 Prosedur Kerja ........................................................................................ 38
BAB IV PEMBAHASAN ................................................................................... 40
4.1 Alasan Formulasi .................................................................................... 40
4.2 Alasan Penambahan Zat Aktif ................................................................ 40
4.1 Alasan Penambahan Eksipien ................................................................. 40
BAB V PENUTUP ............................................................................................. 41
5.1 Kesimpulan ............................................................................................. 41
5.2 Saran ....................................................................................................... 41
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 42

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Di masa sekarang ini manusia apabila sakit, mereka menggunakan obat
dalam bentuk tablet, pil, kapsul, dan sebagainya. Kita ketahui bersama bahwa
tablet adalah sediaan padat yang sering juga digunakan untuk pengobatan.
Obat dan bahan-bahan farmasetik yang digunakan harus tercampurkan
satu dengan yang lainnya untuk menghasilkan satu produk obat yang stabil,
menarik, mudah dibuat dan aman. Apabila pemakaian obat harus secara oral
dalam bentuk kering, maka bentuk kapsul dan tablet yang paling sering
digunakan.
Tablet merupakan bahan obat dalam bentuk sediaan padat yang biasanya
dibuat dengan penambahan bahan tambahan farmasetika yang sesuai. Tablet
dapat berbeda dalam ukuran, bentuk, berat, kekerasan, ketebalan, daya hancur,
dan dalam aspek lainnya tergantung pada cara pemakaian tablet dan metode
pembuatannya (1).
Ibuprofen merupakan salah satu obat yang sukar larut dalam air dan
menunjukkan kelarutan yang buruk, karena mempunyai struktur hidrofobik
(Bushra dan Aslam, 2010; Mansouri, et al., 2011).
Tablet dapat dibuat dengan berbagai metode, antara lain: metode cetak
langsung, granulasi basah, granulasi kering atau kombinasinya.
Granulasi Basah yaitu memproses campuran zat aktif dan eksipien
menjadi partikel yang lebih besar dengan menambahkan cairan pengikat
dalam jumlah yang tepat sehingga didapat masa lembab yang dapat
digranulasi.
Tablet bersalut adalah tablet yang disalut dengan zat penyalut yang cocok
untuk maksud dan tujuan tertentu. Tablet salut film adalah tablet kempa yang
disalut dengan salut tipis, berwarna atau tidak dari bahan polimer yang larut
dalam air yang hancur cepat di dalam saluran cerna. Perbedaannya dengan
salut gula adalah tablet salut gula merupakan tablet kempa yang disalut

1
dengan beberapa lapis lapisan gula baik berwarna maupun tidak. (Anief, M.
1996).
Kebanyakan polimer yang banyak digunakan untuk penyalutan film
adalah turunan dari solulosa yang memiliki berat molekul tinggi. Penggunaan
HPMC sebagai polimer sejak tahun 1962 sudah banyak dikenal, karena
mampu memperbaiki penampilan tablet, melindungi tablet agar tidak mudah
pecah dan dapat menutupi rasa obat yang tidak enak. HPMC dapat larut
dalam pelarut organik dan ladalam pelarut organik dan larut dalam air (Obara
dan Kokubo, 2008).

Bentuk sediaan tablet salut selaput adalah salah satu bentuk obat padat
berupa tablet kompresi yang disalut dengan lapisan tidak larut air. Ibuprofen
dibuat menjadi tablet salut selaput karena mempunyai tujuan sebagai berikut:
melindungi ibuprofen dati lingkungan sekelilingnya (terutama udara,
kelembapan, dan cahaya) , menutupi cita rasa dan aroma ibuprofen yang
tidak menyenangkan, mengendalikan pelepasan obat dalam saluran cerna
agar dapat diserap dengan maksimal, dan meningkatkan mutu penampilan
tablet dengan penggunaan warna khusus dan mengkontraskan pencetakan
logo.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:
a. Apa pengertian tablet salut selaput?
b. Bagaimana formulasi ibuprofen tablet salut selaput?
c. Bagaimana cara pembuatan ibuprofen tablet salut selaput?
1.3 Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk
mengetahui rancangan formulasi dari ibuprofen tablet salut selaput.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Tablet


Menurut Farmakope Indonesia edisi IV, tablet adalah sediaan padat yang
mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan
metode pembuatan, dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa.
Tablet cetak dibuat dengan cara menekan massa serbuk lembab dengan
tekanan rendah ke dalam cetakan. Tablet kempa dibuat dengan memberikan
tekanan tinggi pada serbuk atau granul menggunakan cetakan baja (tahan
karat) (Agoes, 2008; Ditjen POM, 1995).
Tablet adalah sediaan padat kompak yang dibuat secara kompa cetak
dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, mengandung satu jenis obat atau
lebih dengan atau tanpa zat tambahan yang berfungsi sebagai zat pengisi, zat
pengembang, zat pengikat, zat pelicin, dan zat pembasah (Ditjen POM, 1979).
Tablet merupakan bahan obat dalam bentuk sediaan padat yang biasanya
dibuat dengan penambahan bahan farmasetika yang sesuai (Ansel, 1989).
Kriteria sediaan tablet adalah stabil secara fisika dan kimia, secara ekonomi
dapat menghasilkan sediaan yang dapat menjamin agar setiap sediaan
mengandung obat dalam jumlah yang benar dalam penerimaan kepada pasien
(ukuran, bentuk, rasa, warna), dan untuk mendorong pasien menggunakan
obat sesuai dengan aturan pemakaian obat (Agoes, 2008).

2.2 Jenis – Jenis Tablet


Menurut Ansel (1989), ada 13 jenis tablet, yaitu:
1) Tablet Kompresi Yaitu tablet kompresi dibuat dengan sekali tekanan
menjadi berbagai bentuk tablet dan ukuran, biasanya kedalam bahan
obatnya diberi tambahan sejumlah bahan pembantu. Bahan tambahan
pembantu pada tablet kompresi antara lain:
(a) Pengencer atau pengisi, yang ditambahkan jika perlu kedalam
formula formulasi supaya membentuk ukuran tablet yang diinginkan.

3
(b) Pengikat atau perekat, yang membantu pelekatan partikel dalam
formulasi.
(c) Penghancur, membantu menghancurkan tablet setelah pemberian
sampai menjadi partikel-partikel yang lebih kecil.
(d) Antirekat pelincir atau zat pelincir, yaitu zat yang meningkatkan
aliran bahan memasuki cetakan tablet.
(e) Bahan tambahan lain, seperti zat warna dan zat pemberi rasa.
2) Tablet Kompresi Ganda
Yaitu tablet kompresi berlapis, dalam pembuatannya memerlukan lebih
dari satu kali tekanan. Hasilnya menjadi tablet dengan beberapa lapisan
atau tablet didalam tablet.
3) Tablet Salut Gula
Tablet kompresi ini mungkin diberi lapisan gula berwarna dan
mungkin juga tidak, lapisan ini larut dalam air dan cepat terurai begitu
ditelan. Gunanya melindungi obat dari udara dan kelembaban atau
untuk menghindari gangguan dalam pemakaiannya akibat rasa dan bau
dari bahan obat. Kerugian dari lapisan gula ini adalah pengolahannya
membutuhkan waktu dan keahlian serta menambah berat serta ukuran
tablet.
4) Tablet Salut Selaput
Tablet kompresi ini disalut dengan selaput tipis dari polimer yang larut
atau tidak larut dalam air maupun membentuk lapisan yang meliputi
tablet. Kelebihannya ialah lebih tahan lama, bahan yang digunakan
lebih sedikit, dan waktu yang lebih sedikit untuk penggunaannya.
5) Tablet Salut Enterik
Tablet salut enterik adalah tablet yang disalut dengan lapisan yang
tidak melarut dan tidak hancur di lambung tetapi di usus. Gunanya
menghindari terjadinya iritasi pada lambung.
6) Tablet Sublingual Atau Bukal
Yaitu tablet yang disisipkan di pipi dan di bawah lidah biasanya
berbentuk datar, agar di absorbsi melalui mukosa secara oral. Cara ini

4
berguna untuk penyerapan obat yang dirusak oleh cairan lambung atau
sedikit sekali diabsorbsi oleh saluran pencernaan.
7) Tablet Kunyah
Tablet dikunyah lembut segera hancur ketika dikunyah atau dibiarkan
melarut dalam mulut, menghasilkan dasar seperti krim dari mannitol
yang berasa dan berwarna khusus.
8) Tablet Effervescent
Yaitu tablet berbuih dibuat dengan cara kompresi granul yang
mengandung garam effervescent atau bahan lain yang mampu
melepaskan gas ketika bercampur dengan air.
9) Tablet Triturat
Tablet ini bentuknya kecil dan biasanya silinder, dibuat dengan cetakan
atau dibuat dengan kompresi dan biasanya mengandung sejumlah kecil
obat keras. Tablet triturat harus mudah larut seluruhnya dalam air.
10) Tablet Hipodermik Yaitu tablet yang dimasukkan di bawah kulit untuk
digunakan oleh dokter dalam membuat larutan parenteral secara
mendadak.
11) Tablet Pembagi
Yaitu tablet untuk membuat resep lebih tepat, guna untuk
pencampuran, dan tidak pernah diberikan kepada pasien sebagai tablet
itu sendiri. Tablet ini relatif mengandung sejumlah besar bahan obat
keras.
12) Tablet Dengan Penglepasan Terkendali
Yaitu tablet dan kapsul yang penglepasan obatnya secara terkendali.

2.3 Metode Pembuatan Tablet

Berdasarkan sifat fisika dan kimia obat, tablet dibuat dengan dua metode
yaitu:
1. Metode Granulasi
a. Pengertian Granul dan Granulasi

5
Granul adalah granulasi obat terdiri dari pertikel yang tidak
beraturan, range ukuran 4-10 mesh. granul diukur dengan sendok tea,
dibutuhkan ketelitian dalam mengukurnya. granul jarang digunakan
untuk obat keras.
Granulasi adalah pembentukan partikel-partikel besar dengan
mekanisme pengikatan tertentu.
Granulasi merupakan proses yang bertujuan untuk meningkatkan
aliran serbuk dengan jalan membentuk menjadi bulatan-bulatan atau
agregat-agregat dalam bentuk beraturan yang disebut granul.
1) Granulasi Basah
Granulasi Basah yaitu memproses campuran zat aktif dan
eksipien menjadi partikel yang lebih besar dengan menambahkan
cairan pengikat dalam jumlah yang tepat sehingga didapat masa
lembab yang dapat digranulasi.
Metode ini biasanya digunakan apabila zat aktif tahan terhadap
lembab dan panas.
a) Keuntungan Granulasi Basah
- Dapat menghasilkan aliran yang baik
- Meningkatkan kompresibilitas dan distribusi
- Keseragaman kandungan dapat mencegah pemisahan
komponen yang dapat mencampur secara homogen.
b) Kerugian Granulasi Basah
- Tidak bisa digunakan untuk zat aktif yang tidak tahan lembab
- Banyak tahap
- Biaya lebih mahal dari cetak langsung dari segi waktu dan
persyaratan peralatan.
c) Langkah Kerja Granulasi Basah
- Penyiapan bahan obat dan zat tambahan
- Pencampuran zat aktif dan bahan tambahan
- Penyediaan larutan pengikat
- Pencampuran larutan pengikat pada pencampuran serbuk
massa lembab/basah

6
- Pengayakan granul basah (Pengayakan kasar)
- Pengeringan
- Pengayakan granul kering
- Pencampuran granul kering dengan bahan pelicin
- Pengempaan tablet (Chaerunisa. Dkk., 2009;83).
2) Granulasi kering
Granulasi kering juga dinyatakan sebagai briketasi atau
kompaktasi. Cara ini membutuhkan lebih sedikit waktu dan
karenanya lebih ekonomis dari pada granulasi basah. Cara ini
sangat tepat untuk tabletasi zat-zat peka suhu atau bahan obat yang
tidak stabil dengan adanya air (Voigt, 1995).
Dalam granulasi kering dasarnya adalah menjadikan
partikel serbuk menjadi agregat dengan tekanan tinggi. Ada dua
metode dalam granulasi kering yaitu slugging dan roller
compaction. Slugging adalah proses kompresi campuran serbuk
menjadi tablet besar menggunakan tekanan tinggi 4-6 ton. Metode
granulasi kering yang lebih efektif adalah roller compaction yaitu
proses dimana serbuk dialirkan diantara dua penggiling sehingga
terbentuk lembaran-lembaran bahan ( Summers, 2001).
Pada metode granulasi kering, granul dibentuk tanpa
pelembapan atau penambahan bahan pengikat ke dalam campuran
serbuk obat tetapi dengan cara memadatkan masa yang jumlahnya
besar dari campuran serbuk, dan setelah itu memecahkannya dan
menjadikan pecahan-pecahan ke dalam granul yang lebih kecil.
Dengan metode ini, baik bahan aktif maupun pengisi harus
memiliki sifat kohesi supaya masa yang jumlahnya besar dapat
dibentuk. Metode ini khususnya untuk bahan-bahan yang tidak
dapat diolah dengan metode granulasi basah, karena kepekaannya
terhadap uap air atau karena untuk meringkasnya diperlukan
temperatur yang dinaikkan (Ansel, 1989).

7
Granulasi kering digunakan untuk zat aktif yang memiliki
dosis efektif yang terlalu tinggi untuk dikempa langsung atau zat
aktif yang tahan terhadap pemanasan dan lembab.
a) Keuntungan granulasi kering
- Tahapannya membutuhkan peralatan yang sedikit
- Cocok untuk zat aktif yang tahan terhadap panas dan lembab
- Mengurangi pemisahan komponen formulasi selama
penyimpanan dan pengolahan.
b) Kerugian granulasi kering
- Perlu alat yang dinamakan Slug yang ditujukan untuk
membuat tablet besar dan kasar pada tahap awal
- Tablet yang dihasilkan kurang tahan lama
- Dalam metode pengolahannya memerlukan cara yang khusus.
c) Langkah kerja granulasi kering
- Penggerusan bahan obat dan bahan tambahan
- Pencampuran serbuk yang digerus
- Pengempaan massa tablet besar dan keras yang disebut slug
- Pengayakan slug
- Pencampuran dengan lubrikan dan penghancur
- Pencetakan (Chaerunisa. Dkk., 2009; 83-84)
2. Metode kempa langsung
Kempa langsung adalah pembuatan tablet dengan mengempa langsung
campuran zat aktif dan eksipien kering.tanpa melalui perlakuan awal
terlebih dahulu. Metode ini merupakan metode yang paling mudah,
praktis, dan cepat pengerjaannya, namun hanya dapat digunakan pada
kondisi zat aktif yang kecil dosisnya serta zat aktif tersebut tidak tahan
terhadap panas dan lembab.
Ada beberapa zat berbentuk kristal seperti NaCl, NaBr dan KCl yang
mungkin langsung dikempa, tetapi sebagian besar zat aktik tidak mudah
untuk langsung dikempa.
a) Keuntungan metode kempa langsung
- Ekonomis dan murah

8
- Tidak memerlukan waktu yang lama
- Tahapan prosesnya sedikit
b) Kerugian metode kempa langsung
- Zat aktif dengan dosis besar tidak mudah untuk dikempa langsung,
hanya untuk dosis yang kecil
- Dalam beberapa keadaan, pengisi dapat berinteraksi dengan obat.
c) Langkah kerja kempa langsung
- Penggerusan bahan obat dan zat tambahan
- Pencampuran bahan-bahan
- Pengempaan tablet (Chaerunisa. Dkk., 2009; 84-85)

2.4 Komposisi Tablet

Komposisi dari sediaan tablet yaitu mengandung 2 kelompok dasar


dari komposisinya, yaitu (Chaerunisa. Dkk., 2009; 80):
1) Zat aktif/bahan obat
Zat aktif merupakan zat yang memberikan efek farmakologis
pada tubuh manusia atau hewan dalam dosis tertentu. Zat aktif juga
dikenal sebagai drug, active ingredient, dan active pharmaceutical
ingredient (API).
Untuk membuat suatu sediaan obat diperlukan desain yang paling
sesuai untuk setiap jenis zat aktif. Hal ini dipengaruhi sifat fisikokimia dari
zat aktif tersebut. Sifat fisikokimia ini diantaranya (Chaerunisa. Dkk.,
2009; 80):
- Kelarutan, seperti zat aktif yang larut dalam air (hidrofilik) dan zat aktif
yang tidak larut dalam air (hidrofobik)
- pH
- Bentuk kristal
- Inkompatibilitas (interaksi zat aktif dengan zat lain yang menimbulkan
efek tidak diinginkan terhadap zat aktif) dan stabilitas
2) Zat tambahan

9
Zat tambahan (eksipien) merupakan bahan selain zat aktif yang
ditambahkan dalam formulasi suatu sediaan untuk berbagai tujuan atau
fungsi.
Beberapa kriteria umum yang esensial untuk eksipien yaitu:
- netral secara fosiologis
- stabil secara fisika dan kimia
- memenuhi peraturan perundangan
- tidak mempengaruhi bioavaiabilitas obat
- bebas dari mikroba patogen dan tersedia dalam jumlah yang cukup dan
murah.
Adapun macam-macam bahan tambahan yang digunakan dalam pembuatan
tablet yaitu:
1. Diluent / Pengisi
Diluent adalah zat inert yang ditambahkan dalam formula tablet yang
ditujukan untuk membuat bobot tablet sesuai dengan yang diharapkan.
Fungsi diluent pada pembuatan tablet untuk menambah ukuran tablet
menjadi ukuran yang praktis, nyaman dan dapat bekerja.
Bahan pengisi memiliki kriteria sebagai berikut:
- Tidak toksik
- Tidak kontraindikasi antar bahan
- Stabil secara fisik dan kimia
- Bebas mikroba
- Netral secara fisiologis
- Tidak mengganggu bioavabilitas obat
Contoh bahan pengisi adalah laktosa, sukrosa, NaCl, mannitol, susu
padat terpilih, amilum, kaolin, kalsium karbonat, kalsium sulfat, dikalsium
sulfat, dll (Voight, 1995:202).
2. Pengikat
Bahan pengikat berfungsi memberi daya adhesi pada massa serbuk pada
granulasi dan kempa langsung serta untuk menambah daya kohesi yang
telah ada pada bahan pengisi. Bahan pengikat terbagi atas dua, yaitu:
a. Bahan pengikat hidrolisis

10
Bahan pengikat hidrolis adalah bahan pengikat yang proses
pengerasannya lebih baik dalam rendaman air, serta menghasilkan
produk yang tahan air.
b. Bahan pengikat non-hidrolisis
Bahan pengikat biasa (non-hidrolis) adalah bahan pengikat yang bila
dicampur dengan air menghasilkan produk yang dapat mengeras setelah
bereaksi dengan karbondioksida, bukan dengan air.
Mekanisme pengikatan bahan pengikat secara umum adalah bila
larutan bahan pengikat ditambahkan dalam suatu campuran serbuk,
maka dengan adanya pengadukan, bahan pengikat akan membasahi
permukaan partikel, selanjutnya akan membentuk jembatan cair antar
partikel yang kemudian menjadi banyak sehingga terjadi pertumbuhan
atau pembesaran granul. Setelah proses pengayakan basah, dilakukan
proses pengeringan yang mengakibatkan terbentuknya jembatan padat
antar partikel yang saling mengikat membentuk granul. Hal serupa juga
terjadi bila menggunakan bahan pengikat dalam bentuk kering atau
serbuk, setelah ditambahkan pelarut akan larut dan mengembang.
Bahan pengikat yang mengembang akan melingkupi partikel-partikel,
terjadi jembatan cair dan akhirnya dengan adanya pemanasan akan
terbentuk jembatan padat (Voight, 1995:202).
Bahan pengikat sebaiknya memenuhi kriteria-kriteria sebagai
berikut:
- Mudah larut (dalam keadaan dingin), sehingga pelarut yang
digunakan minimal (khsus granulsai basah)
- Tidak higroskopis
- Viskositas sekecil mungkin
- Mudah membasahi campuran bahan
Contoh bahan pengikat sebagai berikut : air, alkohol, aseton, pasta
amilum (10-17%), sirup sukrosa (50-85%), larutan gelatin (10-20%),
mucilago akasia (10-20%), larutan glukosa (25-50%), larutan alkohol-
glukosa (50% alkohol, 25% glukosa dan 25% air), pasta amilum (5%
amilum dan 2% akasia dalam air), metilselulosa-400 (4%), etil selulosa

11
(5%) dalam alkohol, Na-CMC, PEG 4000 atau 6000, dan
polivinilpirolidon dalam air, alkohol dan larutan hidroalkoholik, dll
(Parikh, 1997; 133).
3. Penghancur
Bahan penghancur akan membantu hancurnya tablet menjadi granul,
selanjutnya menjadi partikel-partikel penyusun, ketika tablet kontak
dengan cairan lambung sehingga akan meningkatkan disolusi tablet.
Mekanisme bahan penghancur dalam proses penghancuran tablet ada
beberapa cara yaitu:
a) Pengembangan (swelling)
Air merembes ke dalam tablet melalui celah antar pertikel yang
dibentuk bahan penghancur dengan adanya air maka bahan penghancur
akan mengembang dimulai dan menjadikan tablet pecah dan hancur.
b) Perubahan bentuk (deformasi)
Pada saat pengempaan tablet beberapa partikel ada yang mengalami
deformasi plastik, masuknya air ke dalam tablet akan memacu partikel
kembali ke bentuk semula akhirnya tablet akan hancur.
c) Aksi kapiler (wicking)
Tablet kontak dengan air maka air akan masuk melalui saluran pori
yang terbentuk selama proses pentabletan karena sifat hidrofilisitas
bahan penghancur, maka pembesaran akan lebih cepat dan efektif
sehingga akan memisahkan partikel-partikel granul dan menghancurkan
tablet.
d) Peregangan (repulsion)
Air yang masuk ke dalam pori-pori tablet dapat menetralisir muatan
listrik antar partikel yang terbentuk pada saat pengempaan. Muatan
listrik berubah sehingga akan saling tolak menolak, gaya penolakan ini
yang akan menyebabkan hancurnya tablet
Bahan penghancur merupakan zat tambahan dalam formula tablet
yang berfungsi untuk menghancurkan tablet setelah pemakaian, kadar
kehancuran tablet diukur dengan metode USP menggunakan mesin

12
penghancur tablet Van Dir Kamp. Faktor-faktor yang mempengaruhi
kadar disintegrasi/penghancuran tablet adalah:
a) sifat fisika dan kimia bahan-bahan yang terdapat dalam formula
tablet
b) permukaan tablet
Contoh dari bahan penghancur adalah amilum, Avicel (Mikrokritalin
selulosa), solka floc, asam alginat, Explotab (sodium starch glicolate),
gom guar, Policlar AT (Crosslinked PVP), Amberlite IPR 88,
Metilselulosa, CMC, HPMC (Gusmayadi, 2002; 39).
4. Lubrikan
Untuk mengurangi gesekan antara sisi tablet dengan dinding ruang
cetakan (die) dan antara dinding die dengan dinding punch, sehingga
tablet mudah dikeluarkan dari cetakan. Contohnya seperti kalsium
stearat, Mg-stearat dan talk (Voight, 1995; 204).
5. Glidan
Untuk mengurangi gesekan antar patikel yang mengalir dari hopper
ke ruang cetak (die) sehingga akan memperbaiki sifat alir serbuk atau
granul yang akan di kempa dan akan berpengaruh pada keseragaman
bobot tablet. Contohnya kalsium stearat, amilum, NaCl dan talk
(Voight, 1995; 204).
6. Anti adherent
Untuk mencegah melekatnya tablet pada die dan pada permukaan
punch. Contohnya: mentega cokelat dan lemak alami lainnya, cairan
dan padatan petroleum, Na- stearat dan sabun-sabun lainnya, parafin,
lilin, asam stearat, dll.
Adapun tujuan penambahan bahan lubrikan yaitu:
- Meningkatkan sifat aliran dari granul
- Menghindari terjadinya adhesi antara granul dengan permukaan
punch dan die
- Mengurangi gesejan pada dinding die untuk memfasilitasi
pengeluaran hasil akhir tablet.

13
- Mengurangi pemakaian punch dan die yang berlebihan (Voight,
1984).
7. Pewarna
Bahan pewarna dalam pembuatan tablet berfungsi untuk menutupi
warna obat yg kurang baik, identifikasi produk, dan untuk membuat suatu
produk lebih menarik.
Adapun kriteria bahan pewarna, yaitu:
- Tidak reaktif dan tidak toksik
- Stabil dan mudah dalam diaplikasikan
- Memenuhi kriteria estetika
- Tidak menimbulkan bau dan rasa pada produk
Penambahan pewarna yang diizinkan untuk makanan dan obat-obatan
dengan cara berikut :
a) Melarutkan pewarna tersebut ke dalam larutan pengikat
b) menyemprot granul dengan larutan khusus dari zat pewarna
c) mendistribusikan/mencampurkan pewarna kedalam campuran kering
lalu ditambahkan pada granulasi basah
d) menambahkan triturat pewarna tersebut ke dalam amilum atau kalsium
sulfat.
Contoh bahan pewarna yang ditambahkan dalam pembuatan tablet
seperti Erythrosine, Allura red AC, Tartrazine, Sunset Yellow, Brilliant
Blue, dan Fast Green (Voight, 1984).
8. Pemberi rasa
Penambahan Pemanis dan pemberi rasa biasanya hanya untuk tablet-
tablet kunyah, hisap, buccal, sublingual, effervescent dan tablet lain yang
dimaksudkan untuk hancur atau larut dimulut.
Ditambahkan dengan menyemprotkan larutan alkoholik atau larutan eter
dari minyak menguap atau pemberi rasa lainnya kepada granul kering
sebelum pengempaan tablet. Setelah disemprot, granul-granul tersebut
diguling-gulingkan dan terkadang disimpan dalam bekal tertutup agar
pemberi rasa tersebut meresap masuk kedalam granul. Contoh bahan
pemanis seperti Sakarin, Siklamat, Aspartame (Voight, 1984).

14
2.5 Kerusakan – Kerusakan Tablet
1. Binding pada die
Ini terjadi ketika pelepasan dari tablet sulit dan sering diikuti bunyi
ribut/menderik yang karakteristik; tepi tablet tergores atau kasar. Masalah
ini terjadi dari beberapa kondisi di mana perlekatan yang kurang pada
dinding die yaitu penggesekan, lubrikannya kurang baik, granul yang
lembab, dan die yang kotor dan cacat. Lubrikan yang kurang baik
termasuk campuran yang tidak efisien dari lubrikan dengan granul. Sama
halnya dengan kesalahan kuantitas dan pemilihan pembantu. Sebab lain
dari masalah ini adalah terlalu besarnya jarak antara punch yang rendah
dan lubang die sebagai akibat pemakaian yang berlebihan. Serbuk halus
meresap ke bawah melalui celah dan padat untuk membentuk lapisan yang
kuat yang mengurangi gesekan pada punch.
2. Picking dan sticking
Di sini masalah ini terjadi oleh gaya adhesi oleh bahan obat terhadap
permukaan punch. Jika terlokalisasi, sebagian dari permukaan tablet
tampak menghilang, hal ini disebut picking. Tablet memiliki permukaan
yang kasar dan tidak mengkilap ketika sticking terjadi akibat adhesi dari
tablet terhadap seluruh permukaan punch. Pada kasus lain, jika tidak
dinyatakan lain, kecacatan semakin buruk dan sebuah lapisan pada granul
padat terkumpul pada permukaan punch.
3. Capping dan laminasi
Masalah ini biasanya meninggalkan bekas akibat ketidaksempurnaan
perpindahan udara dari granul pada rongga die sebelum dan selama
pengempaan. Udara yang terperangkap bercampur dengan ikatan granul.
Ketika pengembangan berikutnya pada pelepasan melepaskan bagian atau
“cap” dari tablet. Pada kasus, ini tablet terbagi menjadi beberapa lapisan,
serbuk yang sangat banyak talk secara baik atau granul yang terlalu kering
atau terlalu kecilnya lubang pada punch/die, menghilangnya semua udara
sisa dalam rongga die dan mungkin menyebabkan capping/laminating.

15
4. Variasi bobot
Masalah ini berhubungan dengan aliran granul yang buruk dan
pemisahan bahan pokok granul. Granul yang terlalu kering, terlalu besar,
terlalu halus atau mengandung bagian besar dari serbuk-serbuk halus,
terlubrikasi secara tidak sempurna atau mencakup unsur yang memiliki
berat jenis atau ukuran yang sangat berbeda semuanya dapat merupakan
penyebab yang mungkin menghasilkan variasi berat yang banyak. Jika
kesalahan ini terjadi karena putaran dan aliran granul yang tidak
memuaskan, cukup baik mengingat kemungkinan satu atau lebih punch,
berbeda panjangnya antara kedua contoh campuran yang tidak merata pada
bagian bawah punch. Kadang granul diproduksi pada saat proses dan
banyak tablet seragam dan penampilan mungkin diperoleh karena
lambatnya kecepatan mesin, ini memakan waktu untuk mengisi kapasitas
die.
5. Mottling
Dikarenakan jika penyalutan ukuran granul, partikel lebih
memberikan dasar warna yang berbeda yang menunjukkan bertambah
granul pada permukaan tablet.
6. Tablet rapuh
Disebabkan karena kurangnya tekanan dalam menekan tablet.
Masalah ini dikarenakan granul kurang kering dengan baik atau aliran
granul yang buruk (dapat menyebabkan capping) atau kelebihan jumlah
dari lubrikan lemak seperti Mg-stearat.
7. Ketidakstabilan
Keutamaan dari air-dry drugs dan tambahan tablet yang mengandung
air dan hal ini juga ditambahkan dan mungkin tidak dapat dipindahkan
secara sempurna dalam proses pelembaban granul kelembaban harus
dikontrol tidak semata-mata untuk alasan teknik yang berhubungan dengan
proses fisika pada produksi tablet tapi juga untuk menjamin kestabilan
obat.
8. Variasi kandungan bahan obat

16
Standar akan secara pasti diatur unutk kandungan tablet tunggal. Jika
kandungan menunjukkan variasi yang sangat besar dan factor tersebut
mengakibatkan variasi bobot yang dapat dihilangkan sebagai suatu
penyebab sumber masalah yang paling sering terjadi adalah perpindahan
pelarut absorpsi fisika dengan pemisahan pada beberapa tiap dalam proses
produksi dan pencampuran.

2.6 Evaluasi
2.6.1 Evaluasi Granul
A. Kadar Air (Aulton, 1988;Liebermann & Lachman, 1986)
1) Alat : Heating Drying Oven
2) Caranya :
a. Timbang seksama 5,0 gram granul
b. Panaskan dalam lemari pengering sampai bobot konstan (1050 C)
selama 2 jam
3) Perhitungan
𝑊𝑜 − 𝑊1
= 𝑥 100 %
𝑊𝑜
W0 = Bobot granul awal
W1 = Bobot setelah pengeringan
4) Persyaratan : 2-4 %

17
B. Uji Sifat Alir (Aulton, 1988;Liebermann & Lachman, 1986)
Uji sifat alir terdapat dua metode untuk mengujinya yang perrtama
dengan metode corong dan yang kedua yaitu metode sudut istirahat. Prinsip
dari metode sudut istirahat ini yaitu pengukuran sudut yang terbentuk dari
lereng tumbuhan granul yang mengalir bebas dari corong terhadap suau
bidang datar.
1) Alat : corong alat uji waktu alir
2) Caranya :
a. Timbang seksama 25 gram granul tempatkan pada corong alat
b. uji waktu alir dalam keadaan tertutup
c. buka penutupnya biarkan granul mengalir
d. catat waktu (gunakan stopwatch)
e. lakukan sebanyak 3 kali
f. kemudian untuk mengukur sudut isirahat dengan menghitung jari-jari
dan tinggi dari tumpukan granul setelah metode corong.
g. Kemudian masukan dalam rumus, dan didapat α yang menentukan
kecepatan alir dari suatu granul tersebut
3) Persyaratan : 100 gram granul waktu alirnya tidak lebih dari 10 detik (>
10 g/detik). Metode sudut istrahat ini mempunyai nilai α = arc tag h/r,
dimana :
α 25-35o = sangat mudah mengalir
α 30-38o = mudah mengalir
α >38o = kurang mengalir

18
C. Uji Kompresibilitas (Aulton, 1988,FI V 2014)
1) Alat : Jolting Volumeter
2) Caranya :
a. Timbang 100 g granul masukkan ke dalam gelas ukur dan dicatat
volumenya,
b. kemudian granul dimampatkan sebanyak 500 kali ketukan dengan
alat uji, catat volume uji sebelum dimampatkan (Vo)
c. volume setelah dimampatkan dengan pengetukan 500 kali (V).
3) Perhitungan :
V0−V500
I= x 100%
V0

Keterangan :
I = indeks kompresibilitas (%);
Vo = volume granul sebelum dimampatkan (mL);
V500 = volume granul setelah dimampatkan sebanyak 500 kali ketuk
(mL).
4) Syarat : tidak lebih dari 20%.

D. Distribusi Ukuran Partikel (Aulton, 1988;Liebermann & Lachman,


1986)
1) Alat : Sieve Shaker
2) Caranya :
a. Masukan sejumlah 100 gram granul diletakan di atas ayakan yang
telah tersusun dan ditara
b. Mulai dari ayakan mesh 20 smapai dengan ayakan mesh 100 pada alat
sieve shaker

19
c. Setelah pengujian selesai, masing-masing ayakan ditimbang kembali
dan dihitung distribusi granul pada tiap-tiap ayakan (%)

E. Bobot Jenis (Aulton, 1988,FI V 2014)


Evaluasi granul dengan bobot jenis ini yaitu dengan mengetahui bobot
jenis pada granul tersebut, mulai dari bobot nyata, bobit mampat dan bobot
sejati. Evaluasi bobot jenis sejati ini dilakukan menggunakan alat
piknometer.
1) Bobot jenis nyata
𝑤
𝜌=
𝑣
Dimana :
W = bobot granul
V =volume granul tanpa pemampatan
2) Bobot jenis mampat

𝑤
𝜌𝑛 =
𝑉𝑛

3) Bobot jenis sejati


(𝑏 − 𝑎)𝑥𝐵𝑗 𝑐𝑎𝑖𝑟𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑖𝑠𝑝𝑒𝑟𝑠𝑖
=
(𝑏 + 𝑑) − (𝑎 + 𝑐)
Dimana :
a = bobot piknometer kosong
b = bobot piknometer + 1 gram granul
c = bobot piknometer + 1 gram granul + cairan pendispersi

20
d = bobot piknometer + cairan pendispersi

2.6.2 Evaluasi Tablet


A. Keseragaman ukuran tablet (Aulton, 1988,FI V 2014)
Diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 1/3 tebal tablet.
1) alat : Jangka Sorong
2) caranya : menggunakan 20 tablet kemudian diukur diameter dan
ketebalan tablet tersebut, kemudian dihitung rata-ratanya.

B. Keseragaman bobot dan keseragaman kandungan (Aulton, 1988, FI V


2014)
Farmakope Indonesia memberi aturan cara uji keseragaman bobot dan
batas toleransi yang masih dapat diterima, yaitu tablet tidak bersalut harus
memenuhi syarat keseragaman bobot yang ditetapkan.
Caranya :
1) Timbang 20 tablet satu per satu, hitung bobot rata-ratanya dan
penyimpangan bobot rataratanya. Persyaratan keseragaman bobot
terpenuhi jika tidak lebih dari dua tablet yang masing-masing bobotnya
menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari harga yang ditetapkan
pada kolom A, dan tidak satu pun tablet yang bobotnya menyimpang dari
bobot rata-ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan pada kolom B.
2) Apabila tidak mencukupi dari 20 tablet, dapat digunakan 10 tablet, tidak
satu tabletpun yang bobotnya menyimpang lebih dari bobot rata-rata yang
ditetapkan pada kolom B.

21
Bobot Rata-Rata Penyimpangan Bobot Rata-Rata Dalam %
A B
25 mg atau kurang 15 % 30 %
26 mg – 150 mg 10 % 20 %
151 mg – 300 mg 7,5 % 15 %
Lebih dari 300 mg 5% 10 %

C. Waktu hancur (Aulton, 1988, FI V 2014)


Uji ini dimaksudkan untuk menetapkan kesesuaian batas waktu hancur
yang tertera dalam masing-masing monografi. Uji waktu hancur tidak
menyatakan bahwa sediaan atau bahan aktifnya terlarut sempurna. Sediaan
dinyatakan hancur sempurna bila sisa sediaan yang tertinggal pada kasa alat
uji merupakan masa lunak yang tidak mempunyai inti yang jelas.
1) Alat : Disintegration Tester
2) Caranya :
a. Tablet yang akan diuji (sebanyak 6 tablet) dimasukkan dalam tiap
tube,
b. Ditutup dengan penutup dan dinaik-turunkan ke ranjang tersebut
dalam medium air dengan suhu 37o ± 20C.
c. Dalam monografi yang lain disebutkan mediumnya merupakan
simulasi larutan gastrik (gastric fluid).
d. Waktu hancur dihitung berdasarkan tablet yang paling terakhir
hancur.

22
3) Pernyaratan : waktu hancur untuk tablet tidak bersalut adalah kurang
dari 15 menit, untuk tablet salut gula dan salut nonenterik kurang dari 30
menit. Sementara untuk tablet salut enterik tidak boleh hancur dalam
waktu 60 menit dalam medium asam, dan harus segera hancur dalam
medium basa (Sulaiman, 2007).

D. Kekerasan (Aulton, 1988)


Uji ini digunakan untuk mengetahui kekerasan tablet agar tablet tidak
terlalu rapuh atau terlalu keras. Kekerasan tablet erat hubungannya dengan
ketebalan tablet, bobot tablet, dan waktu hancur tablet.
1) Alat : Hardness Tester
2) Caranya : ambil 20 tablet ukur kekerasan menggunakan alat
herdness tester, kemudian hitung rata-rata dan standard deviation (SD)
3) Persyaratan : ukuran yang didapat per tablet minimal 4 kg/cm2
maksimal 10 kg/cm2

4) Keregasan (friability) (Aulton, 1988)


Friability adalah persen bobot yang hilang setelah tablet digunjang.
Penentuan keregasan atau kerapuhan tablet dilakukan terutama pada waktu
tablet akan dilapisi (coating). Kerapuhan merupakan parameter yang

23
menggambarkan kekuatan permukaan tablet dalam melawan berbagai
perlakuan yang menyebabkan abrasi pada permukaan tablet.
1) Alat : Friability Tester.
2) Caranya : Tablet yang akan diuji sebanyak 20 tablet, terlebih dahulu
dibebas debukan dan ditimbang. Tablet tersebut selanjutnya dimasukkan
ke dalam friabilator, dan diputar sebanyak 100 putaran (4 menit). Tablet
tersebut selanjutnya ditimbang kembali, dan dihitung prosentase
kehilangan bobot sebelum dan sesudah perlakuan.
3) Persyaratan : Tablet dianggap baik bila kerapuhan tidak lebih dari 1 %.

5) Uji Disolusi (FI V, 2014)


Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari bentuk
sediaan padat ke dalam media pelarut. Pelarut suatu zat aktif sangat penting
artinya bagi ketersediaan suatu obat sangat tergantung dari kemampuan zat
tersebut melarut ke dalam media pelarut sebelum diserap ke dalam tubuh.
Sediaan obat yang harus diuji disolusinya adalah bentuk padat atau semi padat,
seperti kapsul, tablet atau salep (Ansel, 1985).
Bagian-bagian pada alat :
1) Motor pengaduk dengan kecepatan yang sudah diubah Keranjang baja
stainlees berbentuk silinder atau dayung untuk di tempelkan ke ujung batang
pengaduk .
2) Bejana dari gelas atau bahan lain yang inert dan transparan dengan volume
1000 ml, bertutup dan ditengahnya terdapat tempat untuk menempelkan
pengaduk, dan ada lubang tempat mengaduk pada tiga tempat dua untuk
memindahkan sampel dan satu untuk menempatkan thermometer.

24
3) Penangas air yang sesuai untuk menjaga temperatur pada media disolusi
dalam bejana.

Uji Disolusi

2.7 Rancangan Formula


Tiap 600 mg tablet mengandung
Tablet Inti:
Ibuprofen 400 mg
Gom Akasia 5%
Magnesium Stearat 2%
Talk 5%
Amilum Jagung 5%
Natrium Benzoat 0,1%
Laktosa ad 600 mg
Salut selaput:
HPMC 7%
PEG 400 1,5%

2.8 Uraian Bahan


1. Ibuprofen (FI V, hal 541)
Nama Resmi : Ibuprofen
Sinonim : Brofen, arthrofen

25
Nama Lain : (±)-2-(p-Isobutilfenil)asam propionat
RM/BM : C13H18O2 / 206,28
Pemerian : Serbuk hablur, putih hingga hampir putih, berbau
khas lemah
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam etanol, metanol, aseton
dan kloroform;
sukar larut dalam etil asetat; praktis tidak larut
dalam air.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, simpan pada suhu
ruang.
2. Akasia (Handbook of Pharmaceutical Exipient, hal 1)
Nama : Gummi Acaciae
Sinonim : Acaciae gummi, acacia gum, Arabic gum, gulu,
gum acacia, gummi aficum, gulu Arabic, gummi
arabicum, gummi mimo alhagum
Pemerian : Hampir tidak berbau, rasa tawar seperti lender
Kelarutan : Mudah larut dalam air, menghasilkan larutan yang
kental dan tembus cahaya, praktis tidak larut
dalam etanol (90%)
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kestabilan : Larutan gom mengalami degradat oleh bakteri
atau enzim. Tetapi dapat dicegaj engan
mendidihkan larutan dalam waktu yang singkat
untuk menonaktifkan enzim ini, bisa juga
dinonaktifkan dengan radiasi dari microware.
Laruran gom juga dapat diawetkan dengan
menambahakan antimikroba. Pengawet seperti
natrium benzoat 0,1% b/v
Inkompatibilitas : Gom tidak kompatibel dengan jumlah zat
termasuk amidopynne, apomorphine, kresol,
etanol (95%), garam besi, marfin, fenol,
physostigmi, tannin, timol, dan vanili pada gom

26
arab terdapat enzim dapat dinonaktifkan dengan
pemanasan pada suhu 100oC dalam waktu yang
singkat banyak garam yang mengurangi
viskositas. Larutan encer membawa muatan
negatifdan akan membentuk glubul engan gelatin
dari zat lainnya. Dalam pembutan emulsi, larutan
gom tidak cocok dengan sabun.
Kegunaan : Sebagai pengikat
Konsentrasi : 1-5 % digunakan ebagai pengikat adalah 5 %
3. Amilum Jagung (Handbook of Pharmaceutical Exipient, hal 200)
Nama Resmi : Amylum Maydis
Sinonim : Pati Jagung, Star cap 100
Pemerian : Serbuk sangat halus, putih
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dingin dalam etanol
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kestabilan : kering jika dpanaskan akan stabil dan terlindungi
dari kapang digunakan sebagai pengisi atau
penghancur dalam bentuk dosis padat. Pati
dianggap inert dalam kondisi penyimpanan yang
normal. Namun, pemanasan larutan pati atau
pasca secara fisik tidak stabil dan mudah terserang
oleh mikroorganisme untuk membentuk nerbegai
derivat pati dan modifikasi pati yang memiliki
sifat fisik yang unik. Pati harus disimpan dalam
wadah yang kedap udara ditempat yang sejuk.
Kegunaan : Sebagai bahan penghancur
Konsentrasi : Amilum yang digunakan sebagai penghancur
adalah 5%
4. Natrium Benzoat (FI V, hal 892; Handbook of Pharmaceutical Exipient,
hal 627)
Nama Resmi : Natrii benzoas

27
Sinonim : Natrii benzoat, bentoic acid sodium sait, benzoate
of soda, natrii benzoas, natrium benzoicum,
sobente sodii benzoas, sodium benzoic acid
RM/BM : C7H5NaO2/144,11
Pemerian : Granul atau serbuk hablur, putih; tidak berbau
atau praktis tidak berbau; stabil di udara.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam
etanol dan lebih mudah larut dalam etanol 90%.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kestabilan : larutan yang mengandung air dapat disterilkan
dengan menggunakan autoklap atau filtrasi
Inkompatibilitas : Tidak sesuai dengan senyawa kuarter, gelatin,
besi, garam-garam kalsium dan agram dari logam
berat, termasuk perak, timah dan aktivitas
merkuri. Pengawet dapat dikurangi dengan kaolin
atau surfaktan non ionic
Kegunaan : Sebagai pengawet
Konsentrasi : 0,1-0,2 % digunakan sebagai pengawet 0,1 %
5. Magnesium Stearat (FI V, hal 795; Handbook of Pharmaceutical Exipient,
hal 404)
Nama Resmi : Magnesii stearas
Sinonim : Dibasic magnesium stearat, distearete magnesium,
magnesia stares, actadecanoate magnesium, aam
stearat, synpro 90
RM/BM : C36H70MgO4/591,24
Pemerian : Serbuk halus, putih dan voluminus; bau lemah
khas; mudah melekat di kulit; bebas dari butiran.
Kelarutan : Tidak larut dalam air, dalam etanol, dan dalam
eter.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik tempat kering

28
Kestabilan : Magneium stearat stabil dan harus disimpan
dalam sebuah wadah tertutup ditempat sejuk dan
kering
Incompatibilities : Tidak kompatibel dengan asam kuat magnesium
stearat tidak dapat digunakan dalam produk yang
mengandung aspirin, beberapa vitamin dan
alcohol garam.
Kegunaan : Sebagai pelincir
Konsentrasi : 0,25 – 5,0 %, konsentasi yang digunakan 2%
6. Talk (Handbook of Pharmaceutical Exipient, hal 728)
Nama Resmi : Talcum
Sinonim : Talcum, kalsium magnesium silikat hidrat;
hidromagnesium silikat, magnesium hydrogen
metali silikat; maasil asinonthus bubuk bedak
RM/BM : Mg6(S12O5)4 (OH)4
Pemerian : Serbuk hablur, sangat halus licin, mudah melekat
pada kulit, bebas dari butiran, warna putih kelabu,
tidak berbau, rasa manis bubuk Kristal mudah
melekat pada kulit dan lembut
Kelarutan : Tidak larut hampir dari semua pelarut
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, ditempat yang sejuk
dan kering
Kestabilitas : Tidak merupakan bahan yang stabil dan dapat
disterilkan dengan pemanasan pada suhu 100oC
selama kurang dari 1 jam. Hal ini juga dapat
disterilkan oleh paparan etilen oksidar atau
radiasi.
Inkompatibilitas : Tidak kompatibel dengan senyawa ammonium
kuartener.
Kegunaan : Sebagai pelicin
Konsentrasi : Sebagai glidan 1-10 %
Sebagai antiadheren 1-5 %

29
sebagai lubricant adalah 2% yang dikombinasikan
dengan magnesium stearat 1%. Karena
penggunaan talk sebagai bahan pembantu tablet
tidak boleh dari 3%.
7. Laktosa (FI V, hal 741; Handbook of Pharmaceutical Exipient, hal 370)
Nama Resmi : Lactosum
Sinonim : laktosa
RM/BM : C12H22O11/342,30
Pemerian : serbuk atau massa hablur, keras putih atau putih
krem tidak berbau dan rasa sedikit manis, stabil
diudara, tetapi mudah menyerap bau
Kelarutan : Mudah larut dalam air dan lebih mudah larut
dalam air mendidih, sangat sukar larut dalam
etanol tidak larut dalam kloroform dan dalam eter
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kestabilan : Pertumbuhan jamur dapat terjadi dibawah kondisi
lengas (80% RH dan lebih tinggi) laktosa dapat
menghasilkan pewarnaan coklat pada
penyimpanan reaksi dimulai dengan cepat dari
pemanasan, kondisi lembab pada 80oC dan 80%
RH. Isi dari tablet laktosa anhidrat menunjukan
perkembangan pada 1-2 jam setelah sehari.
Laktosa anhidrat dpat disimpan pada wadah
tertutup baik dan tempat yang kering
Inkompatibilitas : Reaksi kondensasi hailand tupe mungkin terjadi
antar senyawa laktosa dengan kelompok berwarna
coklat reaksi ini terjadi lebih mudah daripada
bahan amorf dengan Kristal laktosa materi kering
yang mengandung laktosa amorf 10% yang
rentang terhadap perubahan warna.
Kegunaan : Sebagai bahan pengisi
8. Hypromellose (Handbook of Pharmaceutical Exipient, hal 326)

30
Nama Resmi : Hydroxl prophl methyl cellose
Sinonim : Hydrosikpropil metal selulosa, methocell,
metolose
RM : CH3CH (OH) CH2
Pemerian : Tidak berasa, berwarna putih/putih cream/serbuk
kasar
Kelarutan : Larut dalam air dingin, membentuk koloid kental,
praktis tidak larut dalam air panas, kloroform,
etanol 95% dan eter
Penyimpanan : Dalam wadah yang tertutup rapat
Kestabilan : material yang stabil meskipun higroskopis setelah
pengeringan larutan stabil pada PH 3-11
Inkompatibilitas : Tidak cocok engan beberapa oksidator,
hypromelose tidak membentuk kompleks dengan
garam-garam besi/ion organuk membentuk
endapan yang tidak larut.
Konsentrasi : Sebagai penyalutan adalah 5-20% w/w, yang
digunakan 7%
9. Polietilenglikol 400 (FI V, hal 1019; Handbook of Pharmaceutical
Exipient, hal 517)
Nama Resmi : Polytilenglikol 400
Sinonim : Karboots, magrogol, lipoksol
RM/BM : H(OCH2 CH2) OH /400
Pemerian : Tidak berwarna atau tipis berwarna kuning, cairan
kental
Kelarutan : Bentuk cair bercampur dengan air, bentuk padat
mudah larut dalam air, larut dalam aseton, dalam
etanol 95%, dalam kloroform, dalam etilen glikol
monoetil eter, dalam etil asetat dan dalam toluen;
tidak larut dalam eter dan dalam heksan.
Penyimpanan : Wadah tertutup rapat
Kestabilan : Stabil diudara dan kelarutan, higroskopik

31
Inkompatibilitas : Tidak cocok dengan beberapa pewarna, mengubah
sifat fisik polietilenglikol menjadi lunak, cair
dalam campuran dengan enol, dan garam salisilat
Konsentrasi : konsentrasi yang digunakan sebagai plasticizer
adalah 1,5%

2.9 Informasi Obat


Nama Obat : Ibuprofen
Indikasi : meringankan nyeri ringan sampai sedang antara lain nyeri
pada nyeri haid , sakit gigi dan sakit kepala
Dosis : Dewasa : sehari 3-4 x 200 mg
Anak : 1-2 tahun : 3-4 x 50 mg ; 3-7 tahun : 3-4 x 100 mg ;
8-12 tahun : 3-4 x 200 mg
Untuk demam dosis rekomendasi sehari 20 mg/kgBB dalam
dosis terbagi
Tidak direkomendasikan untuk anak < 1 tahun
Kontraindikasi : Hipersensitif ibuprofen, penderita ulkus peptikum,
kehamilan trisemester pertama.
Perhatian : untuk pasien dengan riwayat penyakit saluran cerna
bagian atas, gangguan fungsi ginjal, gangguan pembekuan
darah, asma harap mengkonsultasikan ke dokter terlebih
dahulu. Pemakaian jangan bersamaan dengan pemakaian
aspirin atau obat lain yang mengandung ibuprofen, hamil
dan menyusui tidak dianjurkan.
Efek samping : Jarang terjadi : mual, muntah, gangguan saluran cerna.
Pernah dilaporkan adanya ruam kulit, trombositopenia dan
limfopenia. Penurunan ketajaman penglihatan (sangat
jarang).
Mekanisme Kerja :Ibuprofen bekerja dengan menghambat enzim
siklooksigenase sehingga konversi asam arakidonat menjadi
terganggu. Ada dua jenis siklooksigenase, yang dinamakan
COX-1 dan COX-2. COX-1 terdapat pada pembuluh darah,

32
lambung, dan ginjal, sedangkan COX-2 keberadaannya
diinduksi oleh terjadinya inflamasi oleh sitokin dan
merupakan mediator inflamasi. Aktivitas antipiretik,
analgesik, dan anti inflamasi dari ibuprofen.
Berhubungan dengan kemampuan inhibisi COX-2, dan
adapun efek samping seperti perdarahan saluran cerna dan
kerusakan ginjal adalah disebabkan inhibisi COX-1.
Ibuprofen menghambat COX-1 dan COX-2 dan membatasi
produksi prostaglandin yang berhubungan dengan respon
inflamasi.
Bentuk dan Kekuatan Sediaan :
Tablet : 100 mg, 200 mg, 400 mg, 600 mg
Suspensi : 100mg/5ml, 200mg/5ml
Suppositoria : 125 mg
Penyimpanan : Suspensi dan tablet disimpan dalam suhu ruangan 20-
25ºC
Suppositoria disimpan dalam suhu dingin 2-8ºC

BAB III
METODOLOGI KERJA

3.1 Alat dan bahan yang digunakan


3.1.1 Alat yang digunakan
1. Ayakan no.6 atau 8
2. Cawan porselin
3. Corong
4. Dissolution tester

33
5. Friabilitor
6. Gelas ukur
7. Hardness tester
8. Lap kasar
9. Lumpang dan alu
10. Neraca analitik
11. Oven
12. Pengaris
13. Piknometer
14. Spatel
15. Stopwatch
16. Waterbatch
3.1.2 Bahan yang digunakan
1. Amilum jagung
2. Aquadest
3. Gom akasia
4. HPMC
5. Ibuprofen
6. Kertas millimeter blok
7. Laktosa hidrat
8. Magnesium stearat
9. Natrium benzoate
10. Paraffin cair
11. PEG 400
12. Tablet ibuprofen
13. Talk
3.2 Perhitungan bahan
 Ibuprofen 400 mg
400 mg x 1000 tablet = 400.000 mg = 400 gram
 Gom akasia 5%
5
x 600 mg = 30 mg x 1000 tablet = 30.000 mg = 30 gram
100

 Amilum jagung 5%

34
5
x 600 mg = 30 mg x 1000 tablet = 30.000 mg = 30 gram
100

 Natrium benzoate 0,1%


0,1
x 600 mg = 0,6 mg x 1000 tablet = 600 mg = 0,6 gram
100

 Magnesium stearat 1%
1
x 600 mg = 6 mg x 1000 tablet = 6.000 mg = 6 gram
100

 Talk 2%
2
x 600 mg = 12 mg x 1000 tablet = 12.000 mg = 12 gram
100

 Laktosa USP
= 600 mg x 1000 tablet – (400 gram + 30 gram + 30 gram + 0,6 gram + 6
gram + 12 gram)
= 600 gram – 478,6 gram
= 121,4 gram
 Salut selaput
 HPMC 7%
7
x 600 mg = 42 mg x 1000 tablet = 42.000 mg = 42 gram
100

 PEG 400 1,5%


1,5
x 600 mg = 9 mg x 1000 tablet = 9.000 mg = 9 gram
100

3.3 Prosedur Pembuatan


a) Pembuatan muchilago gom arab
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Disterilkan alat dengan alkohol 70%
3. Ditimbang gom arab sebanyak 30 gram
4. Dimasukkan aquadest kedalam lumpang
5. Ditambahkan gom akasia sebanyak 30 gram ke dalam lumpang
6. Digerus dengan kecepatan konstan sampai terbentuk muchilago
b) Pembuatan tablet
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan

35
2. Disterilkan alat yang akan digunakan menggunakan alkohol 70%
3. Ditimbang semua bahan seperti Ibuprofen 400 gram, amilum jagung
30 gram, talk 12 gram, magnesium stearat 6 gram, natrium benzoat
0,6 gram, dan laktosa 121,4 gram.
4. Dicampurkan Ibuprofen, natrium benzoat, amilum jagung dan
laktosa di dalam lumpang
5. Ditambahkan sedikit demi sedikit mucilago gom akasia ke dalam
lumpang yang berisi capuran hingga membentuk massa kepal
6. Dilewatkan massa kepal pada ayakan no.60
7. Ditimbang granul basah
8. Diletakkan granul diatas plat datar yang telah dialas dengan kertas
roti, kemudian dimasukkan kedalam oven pada suhu 400C – 500C
hingga mengering.
9. Diayak kembali granul kering menggunakan pengayak no.10
10. Ditimbang granul kering
11. Dilakukan evaluasi granul yang telah jadi
12. Ditambahkan magnesium stearat, talk dan amilum jagung
13. Dicampurkan dengan menggunakan metode tumbling
14. Dicetak granul menjadi tablet
15. Dilakukan evaluasi tablet

c) Penyalutan tablet
1) Dilarutkan HPMC 42 gram dan PEG-400 9 gram masing-masing
dalam air
2) Dimasukkan tablet kedalam panci
3) Dipasang dan disesuaikan pipa penyemprot agar dapat menyemprot
separuh atas tumpukan tablet
4) Larutan yang dibuat, dimasukkan kedalam alat semprot
5) Dikocok panic secara berselang-seling ketika tablet masih dalam
keadaan panas

36
6) Bila temperatur udara yang keluar 300C, maka dimulai
penyemprotan
7) Dihasilkan tablet yang telah disalut

37
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Alasan Formulasi


Didalam formulasi ini, Ibuprofen dibuat dengan bentuk sediaan salut
selaput karena Penggunaan formula dengan penyalut berfungsi untuk menjaga
kualitas tablet dari pengaruh kelembaban. Penyalutan tablet dengan selaput akan
melindungi zat inti yang bersifat mudah teroksidasi dan higroskopis sehingga
diharapkan kualitas dan kadar zat inti akan stabil dalam jangka waktu yang lama.
Formulasi penyalutan melibatkan polimer, yangmana polimer bertindak sebagai
pembentuk dengan berbagai aditif lain seperti plasticizer, antitack agent dan
pewarna yang larut dengan air sehingga air sebagai pelarut yang sering digunakan
dalam formulasi. (Yunarto, 2017)

4.2 Alasan Penambahan Zat Aktif


Ibuprofen dibuat menjadi sediaan tablet karena ibuprofen sedikit berasa
dan berbau. Untuk menutupi sifat dari ibuprofen, maka dibuat dalam sediaan
tablet dengan menutupi rasa dan bau yang tidak enak dari sediaan dengan cara
disalut.

4.3 Alasan Penambahan Eksipien


1. Gom Akasia
Akasia adalah gom alam yang digunakan dalam bentuk larutan. Bahan ini
efektif bila ditambahkan dalam bentuk larutan pada pembuatan granul daripada
bentuk kering. Gom akasia mudah larut alam air menghasilkan larutan yang
kristal dan tembus cahaya, praktis tidak larut dalam etanol.
Gom akasia sebagai bahan pengikat ditambahkan ke dalam bahan yang akan
dibuat tablet melalui granulasi menggunakan bahan pelarut atau larutan bahan
pelekat, dengan konsentrasi yang digunakan adalah 5%.
2. Magnesium Stearat
Pelincir yang sering banyak dipakai yaitu asam stearat, garam-garam asam
stearat dan derivate-derivatnya. Magnesium stearat adalah bentuk garam yang
sering dipakai. Magnesium stearat merupakan lubrikan yang efektif dan

38
digunakan secara luas. Konsentrasi efektif magnesium stearat antara 0,2%- 2%.
Konsentrasi yang digunakan adalah 1% sebagai pelincir. Secara luas digunakan
dalam kosmetik, makanan dan formulasi farmasi, terutama digunakan sebagai
pelumas dalam kapsul dan pembuatan tablet pada konsentrasi antara 0,25% an
5,0%.
3. Talk
Talk sebagai antiadheren pada konsentrasi 1-5%. Digunakan dalam bentuk
kombinasi dengan magnesium stearat apabila perlengkapan merupakan
permasalahan. Konsentrasi talk yang digunakan sebagai lubricant adalah 2% yang
dikombinasikan dengan magnesium stearat 1%. Karena penggunaan talk sebagai
bahan pembantu tablet tidak boleh dari 3%. Talk memiliki tiga keunggulan antara
lain dapat berfungsi sebaga bahan pengatur aliran, bahan pemisah hasil cetakan.
Talk terdiri ari Kristal berbentuk papan atar, yang sangat mudah melencur pada
saat terjadinya gesekkan. Bahan-bahan yang digunakan sebagai pelican atau
pemacu aliran adalah jenis talk dengan konsentrasi 5%.
4. Amilum Jagung
Amilum jagung digunakan sebagai penghancur, amilum jagung digunakan
5% umumnya cocok untuk membantu penghancuran. Dalam formulasi tablet pati
adalah slah satu bahan penghancur yang paling umum digunakan pada konsentarsi
3-25%. Pati yang merupakan bahan pengancur dan paling sering digunakan
dengan konsentrasi pemakaian 5-10%. Konsentrasi amilum yang digunakan
sebagai penghancur dalah 5%.
5. Natrium benzoat
Natrium benzoate adalah contoh pengawet dan konsentrasi yang biasa dipakai
dalam preparat farmasi adalah (0,1 sampai 0,2%). Natrium benzoat digunakan
terutama sebagai pengawet antimikroba dalam kosmetik makanan dan obat-
obatan. Dalam formulasi ini bahan pengawet natrium benzoat karena gom akasia
merupakan laritan berair yang mudah terkontaminasi dengan mikroba oleh karena
itu dapat diawetkan dengan penambahan pengawet antimikroba seperti 0,1%
natrium benzoat.

39
6. Laktosa
Laktosa merupakan bahan pengisi yang paling banyak dipakai karena tidak
bereaksi dengan hamper semua bahan obat, baik yang digunakan dalam bentuk
hidrat atau anhidrat. Bila digunakan proses granulasi basah harus digunakan
laktosa hidrat. Laktosa USP adalah bahan baku yang paling digunakan dalam
formulasi tablet laktosa mempunyai stabilitas yang baik bila dikombinasikan
dengan zat aktif bai digunakan dlam bentuk hidrat atau anhidrat.

40
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pembuatan


tablet ibuprofen dibuat dengan metode granulasi basah, karena dilihat dari sifat
fisiko kimia tablet yang tahan terhadap pemanasan dan kelembaban. Keuntungan
dari metode garnulasi basah juga yaitu untuk meningkatkan fluiditas dan
kompatibilitas sesuai untuk obat dosis tinggi dengan sifat aliran.

5.2 Saran

41
DAFTAR PUSTAKA

Agoes, G. 2008. Pengembangan Sediaan Farmasi. Edisi Revisi dan Perluasan.


Bandung: Penerbit ITB.

Allen, L. V., 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipients, Sixth Edition, Rowe


R. C., Sheskey, P. J., Queen, M. E., (Editor), London, Pharmaceutical Press and
American Pharmacists Assosiation.

Anief, M. 1996. Ilmu Meracik Obat (Teori dan Praktik). Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.

Anonim.(2016). ISO Informasi Spesialite Obat Indonesia volume 50. Jakarta:


Penerbit IAI.

Ansel, H. C. (1989). Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi Keempat,


terjemahan Ibrahim dan Farida, Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Ansel, H. C., Allen, L. V., and Popovich, N. G., 2005, Pengantar Bentuk Sediaan
Farmasi, diterjemahkan oleh Farid Ibrahim, Edisi IV, UI Press, Jakarta, 287 – 298

Aulton, M.E. 1988. Pharmaceutics : The Science of Dosage Form Design.


Churchill Living Stone. London : 1988: 204-6

Chaerunnisa, Anis, dkk. (2009). FARMASETIKA DASAR: Konsep Teoritis dan


Aplikasi Pembuatan Obat. Bandung: Widya Padjajaran.

Cole, G. 2001. Pharmaceutical Coating Technology. 7-50. Bristol, Taylor &


Francis.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2014, Farmakope Indonesia edisi V,


Jakarta.

Ditjen POM. (1995). Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen


Kesehatan RI

Gusmayadi, Inding. (2002). Perbandingan Amilum Biji Nangka dengan Amprotab


Dalam Fungsinya Sebagai Penghancur Tablet. ISSN 1412-2855 Vol. 1, No. 2
[Jurnal]. Fakultas Farmasi Universitas 17 Agustus 1945: Jakarta.

42
Lachman L H A Lieberman dan J L Kanig, 2008, “Teori dan Praktek Farmasi
Industri”Edisi Ketiga, Jakarta: UI Press

Obara S. And KokubomH. 2008. Application of HPMC and HPMCS to Aqueous


Film Coating of Pharmaceutical Dosage Form. 3nd Ed.

Parikh, D. M. (1997). Handbook of Pharmaceutical Granulation Technology.


New York: Marcel Dekker, Inc.

Summers, M. P. (1994). Granulation, in Pharmaceutics the Science of Dosage


Form Design (Aulton, M. E., ED), ELBS, Hongkong.

Voigt, R., 1984, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, diterjemahkan oleh


Soewandi, S. N., Mathilda, B., & Widianto, 56, 202-211, Yogyakarta, Universitas
Gadjah Mada.

Voigt, R., 1995, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Diterjemahkan oleh Soendani
N. S., UGM Press, Yogyakarta.

Yunarto, Nanang., Indah Sulistyowati, Arifayu Addiena Kurniatri1, & Nurul


Aini1. 2017. Pengaruh Penyalutan terhadap Karakteristik Fisika Kimia dan
Stabilitas Tablet Fraksi Etil Asetat Daun Gambir sebagai Agen Antidislipidemia.
Media Litbangkes, 27(2):71–78.

43