Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH BIOFISIKA

“BIOOPTIK-2”

OLEH :

KELOMPOK 6

DESY ARISTA DEWI 1613071020

NOVIAN PURNOMO 1613071027

RIZKY ARYADI 1613071036

GEDE REZA KURNIAWAN 1613071041

PROGRAM STUDI S-1

JURUSAN PENDIDIKAN IPA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETTAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

SINGARAJA

2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan izin-Nya kami
dapat menyelesaiakan makalah ini tepat waktu, meskipun masih banyak
kekurangan didalamnya, dan juga kami berterima kasih pada teman-teman yang
yang telah mendukung kami.

kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan pengetahuan kita mengenai “Biooptik”. Kami juga menyadari
sepenuhnya bahwa didalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata
sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi
perbaikan makalah yang kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada
sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang


membacanya. Sekiranya makalah yang telah di susun ini dapat berguna bagi kami
pribadi maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan
saran yang membangun demi perbaikan makalah ini di masa depan.

Singaraja, 18 Mei 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i

KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii

DAFTAR ISI ...................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 1


1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................... 1
1.3 Tujuan ............................................................................................................ 2
1.4 Manfaat .......................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Mata dan Kamera ........................................................................................... 3


2.2 Cacat Mata ..................................................................................................... 9
2.3 Mikroskop……………………………………………………………..……15
BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan…………………………………………………………….……20
3.2 Saran…………………………………………………………………….…..20

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sejak lahir, manusia pada umumnya dipersenjatai oleh yang kuasa dengan
panca indra yaitu indra penglihatan, indra penciuman, indra peraba, indra
pendengaran dan indra perasa. Masing-masing indra ini memiliki bagian-bagian
yang kadang bagi kita manusia biasa, itu adalah hal yang diluar pengetahuan kita.
Mata merupakan alat indra yang terdapat pada manusia. Secara konstan mata
menyesuaikan jumlah cahaya yang masuk, memusatkan perhatian pada objek yang
dekat dan jauh serta menghasilkan gambaran yang kontinu yang dengan segera
dihantarkan ke otak.
Di sini akan di bahas bagian-bagian mata, cacat pada mata prinsip kerja
kamera dan juga jenis-jenis mikrskop. Mata kita terdiri dari beberapa bagian dan
pada bagian tersebut memiliki fungsi yang hampir sama dengan kamera. Struktur
dari mata itu sendiri atau bisa di sebut dengan anatomi mata meliputi sklera,
konjungtiva, kornea, pupil, iris, lensa, retina, saraf optikus, humor aqueous, serta
humor vitreous yang masing-masingnya memiliki fungsi atau kerjanya sendiri.
Selain itu, akan dibahas mengenai daya akomodasi, dan cacat pada mata.
Mikroskop memiliki berbagai macam jenis, prinsip kerja mikroskop juga tidak beda
jauh dengan mata dan kamera karena mikroskop juga dapat berakomodasi juga
tidak seperti prinsip pada mata tersebut.
Oleh karena hal tersebut di atas, untuk mengetahui lebih banyak tentang
biooptik tersebut, maka makalah ini akan menggali, mengkaji, dan memaparkan
makalah yang berjudul “Biooptik khususnya pada Mata, Kamera dan Mikroskop.”

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang sudah dijelaskan, maka rumusan makalah
dari penulisan makalah ini yaitu:
1. Apa sajakah bagian-bagian dari mata?
2. Bagaimanakah daya akomodasi pada mata?
3. Bagaimanakah prinsip kerja kamera?

1
4. Jenis cacat apa sajakah yang dialami oleh mata?
5. Apa sajakah jenis-jenis mikroskop?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penulisan makalah dari
penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui bagian-bagian dari mata
2. Untuk mengetahui daya akomodasi pada mata
3. Untuk mengetahui prinsip kerja kamera
4. Untuk mengetahui Jenis cacat yang dialami oleh mata
5. Untuk mengetahui jenis-jenis mikroskop

1.4 Manfaat
Adapun manfaat yang diperoleh dari penyusunan makalah ini adalah
menambah wawasan pembaca maupun penulis mengenai pada biooptik yang
berkaitan mengenai mata, kamera dan mikroskop.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Mata dan Kamera


Terdapat beberapa kesamaan antara struktur mata dan struktur kamera. Pada
mata dan kamera terdapat lensa yang berfungsi untuk memfokuskan bayangan yang
dihasilkan sehingga jatuh tepat di retina (pada mata) atau di permukaan yang peka
terhadap cahaya diebut film (a photosensitive surface). Pada kamera, diafragma
berfungsi untuk mengatur intensitas cahaya yang masuk dengan mengubah
diameter tempat cahaya masuk. Bayangan pada kamera dapat difokuskan dengan
menggerakan lensa mendekat atau menjauhi film. Berbeda dengan mata, jarak
retina dan lensa tidak dapat berubah, sehingga bayangan yang dihasilkan dapat
difokuskan dengan mengubah ketebalan lensa.

Seperti penjelasan diatas, pada dasarnya prinsip kerja kamera mirip dengan
kerja mata kita. Mari perhatikan bagian-bagian kamera dan mata berikut ini.
a) Lensa pada kamera memiliki fungsi yang sama dengan lensa mata yaitu untuk
membentuk bayangan pada film.

3
b) Aperture (celah diafragma) fungsinya sama dengan pupil mata yaitu untuk
mengatur banyaknya cahaya yang masuk ke dalam kamera.
c) Diafragma kamera memiliki fungsi yang sama dengan iris yakni untuk mengatur
intensitas cahaya yang masuk atau mengatur besar kecilnya aperture.
d) Film berfungsi untuk menangkap bayangan yang dibentuk oleh lensa, film pada
kamera memiliki fungsi yang sama dengan retina pada mata kita. Perbedaannya
terdapat pada cara memfokuskan bayangan. Lensa mata memiliki daya
akomodasi untuk mencembung dan memipihkan lensa, sedangkan pada kamera
untuk dapat memfokuskan bayangan lensa harus diubah-ubah jaraknya.
Tujuannya agar bayangan selalu jatuh tepat pada film sehingga gambar foto yang
dihasilkan jelas dan tajam.

A. Mata
Seperti yang telah kalian ketahui bahwa lensa mata merupakan jenis lensa
cembung (konveks atau positif). Cahaya yang jatuh melalui lensa mata dibiaskan
sehingga terbentuk bayangan yang sifatnya nyata, terbalik, dan diperkecil. Masih
ingatkah kalian di ruang berapakah benda pada lensa cembung agar memilki
bayangan dengan sifat nyata, terbalik, dan diperkecil? Untuk menjawab pertanyan
tersebut perhatikan gambar sistem penomoran ruang pada lensa cembung berikut
ini.

Keterangan:
I, II, III, dan IV adalah nomor ruang benda sedangkan (I), (II), (III) dan (IV) adalah
nomor ruang bayangan.
Sifat-sifat bayangan yang terbentuk ketika benda berada di ruang I, titik
fokus, ruang II, pusat kelengkungan, dan di ruang III lensa cembung diperlihatkan
pada tabel berikut ini.

4
No Posisi Benda Sifat Bayangan Letak Bayangan

1 Ruang I Maya, tegak, diperbesar Di depan lensa

2 Titik Fokus Maya, tegak, diperbesar Di depan lensa

3 Ruang II Nyata, terbalik, diperbesar Di belakang lensa


Pusat
4 Nyata, terbalik, sama besar Di belakang lensa
Kelengkungan
5 Ruang III Nyata, terbalik, diperkecil Di belakang lensa

Dengan demikian, agar bayangan mempunyai sifat nyata, terbalik, dan


diperkecil maka benda yang dilihat harus berada di ruang III dari lensa mata. Lalu
di manakah ruang III pada lensa mata tersebut? Perhatikan gambar berikut ini.

Untuk mata normal, ketika benda yang dilihat oleh mata berada di ruang III,
maka bayangan akan terbentuk di ruang (II) lensa mata. Ruang (II) ini berada di
bagian retina mata atau lebih tepatnya di bintik kuning. Seperti yang kita ketahui
bahwa retina dan bintik kuning merupakan bagian dari mata yang mempunyai sifat
sangat peka terhadap cahaya, sehingga bayangan nyata yang jatuh pada retina
langsung ditangkap oleh retina, kemudian disampaikan kepada otak sebagai pusat
kesadaran melalui saraf optik.
Mata memiliki daya akomodasi, yakni kemampuan untuk mengubah-ubah
jarak fokus lensa mata sehingga bayangan benda yang dilihat selalu jatuh tepat di
retina. Jarak fokus lensa mata diubah dengan cara mengatur ketebalannya (menipis
atau menebal) yang dilakukan oleh otot siliar.

5
Daya akomodasi ini memungkinkan mata dapat melihat dengan jelas setiap
benda yang dilihatnya, meskipun jaraknya berbeda-beda di depan mata. Akan
tetapi, meskipun memiliki daya akomodasi, mata memiliki keterbatasan jangkauan
penglihatan. Mata tidak dapat melihat benda yang terlalu dekat atau terlalu jauh.
Jarak titik terdekat dari mata yang masih dapat dilihat dengan jelas disebut
titik dekat, sedangkan jarak titik terjauh dari mata yang masih dapat dilihat dengan
jelas disebut titik jauh. Ketika mata melihat pada titik dekatnya, mata dalam
keadaan berakomodasi maksimum dan ketika mata melihat pada titik jauhnya, mata
dalam keadaan tanpa akomodasi. Pada mata normal, titik terdekatnya adalah 25 cm
atau disebut jarak baca normal (sn = 25 cm). Sementara titik jauh mata adalah titik
terjauh yang masih dapat dilihat dengan jelas oleh mata yang tidak berakomodasi.
Pada mata normal, titik jauhnya adalah tak terhingga (~).
Mekanisme Pembentukan Bayangan
Agar bayangan benda diterima retina dengan jelas, mata harus membiaskan
sinar yang datang dari benda. Berdasarkan urutan bagian mata, sinar dari benda
akan melewati medium yang mempunyai indeks bias (n) berbeda. Medium tersebut
adalah udara (n = 1,00), kornea (n = 1,38), aqueous humour (n = 1,33), lensa mata
(n = 1,40), dan vitreous humour (n = 1,34). Proses jalannya sinar hingga terbentuk
bayangan pada mata dapat kalian lihat pada berikut ini.

Berdasarkan gambar di atas, jalannya sinar cahaya pada mata manusia antara
lain sebagai berikut.
a) Cahaya yang dipantulkan oleh benda ditangkap oleh mata, menembus kornea
mata dan cairan aqueous humor dan dibiaskan melalui pupil.

6
b) Intensitas cahaya yang telah diatur oleh pupil diteruskan menembus lensa mata
dan cairan vetreous humor.
c) Daya akomodasi pada lensa mata mengatur cahaya supaya jatuh di retina
tepatnya di bagian bintik kuning.
d) Pada bintik kuning, cahaya diterima oleh sel reseptor yaitu sel kerucut dan sel
batang, kemudian disampaikan ke otak melalui saraf optik.
e) Cahaya yang disampaikan ke otak akan diterjemahkan oleh otak sehingga kita
bisa mengetahui apa yang kita lihat.

B. Kamera
Pada dasarnya, kamera adalah sebuah lensa cembung (positif) yang dapat
diatur antara jarak lensa ke suatu benda, untuk membentuk bayangan nyata tepat di
atas selembar film fotografis yang peka terhada cahaya. Dalam kamera terdapat
lensa cembung yang berfungsi sebagai pembentuk bayangan. Jika sebuah benda
diletakkan di ruang III sebuah lensa cembung maka akan terbentuk bayangan nyata,
terbalik, dan diperkecil.
Antara kamera dan mata manusia terdapat persamaan, yaitu benda yang
diambil oleh kamera dan benda yang dilihat oleh mata manusia berada di ruang III
dari lensa kamera atau lensa mata. Sehingga, terbentuk bayangan yang sifatnya
nyata, terbalik, dan diperkecil.
Pada kamera, bayangan ini diusahakan jatuh tepat di plat film yang
mempunyai sifat sangat peka terhadap cahaya. Jika plat film yang peka cahaya ini
dikenai cahaya, maka plat film mengalami perubahan kimia sesuai dengan cahaya
dari benda di depan kamera. Plat film ini masih peka cahaya, agar plat film ini
menjadi tidak peka terhadap cahaya, maka dalam studio perlu dicuci atau
dimasukkan ke dalam larutan kimia tertentu. Setelah plat film dicuci atau
dimasukkan ke dalam larutan kimia tadi, plat film menjadi tidak peka terhadap
cahaya dan terlihat gambar pada plat film yang disebut gambar negatif (negatif
film). Untuk memperoleh gambar yang sesuai dengan gambar semula yang diambil
di depan kamera, film negatif ini kemudian dicetak pada kertas film (biasanya
kertas film warnanya putih). Gambar pada kertas film merupakan gambar dari
benda yang diambil di depan kamera tersebut dan disebut gambar positif. Gambar

7
positif sangat bergantung pada proses pembentukan bayangan pada plat film ini,
jika bayangan terjadi pada plat film ini kabur atau kurang jelas, maka menyebabkan
hasil cetakannya nanti juga ikut kabur atau tidak jelas.
Prinsip kerja kamera mirip dengan mata manusia. Lensa kamera merupakan
bagian dari kamera yang berfungsi untuk membentuk bayangan, mirip lensa mata
pada mata. Kamera dilengkapi dengan film yang berfungsi sebagai tempat
bayangan, mirip dengan retina pada mata. Jika mata memiliki kemampuan untuk
berakomodasi, pada kamera pengaturan bayangan agar jatuh tepat pada film
dilakukan dengan cara menggerakkan lensa.Cara kerja kamera secara umum yaitu,
benda yang hendak difoto harus berada di depan lensa kamera. Ketika diafragma
dibuka, cahaya yang melewati benda masuk melalui aperture (celah diafragma)
menuju lensa mata. Intensitas cahaya yang masuk ke dalam kamera menentukan
ketajaman foto yang dihasilkan. Apabila cahaya terlalu terang, aperture dibuka
kecil. Sebaliknya jika cahaya redup, aperture dibuka lebar. Kemudian lensa mata
akan membentuk bayangan benda, agar bayangan benda jatuh tepat pada film
dengan jelas maka letak lensa harus digeser-geser mendekati atau menjauhi film.
Menggeser-geser lensa pada kamera, seperti mengatur jarak fokus lensa pada mata
(akomodasi). Diagram pembentukan bayangan pada kamera ditunjukkan pada
gambar berikut ini.

8
2.2 Cacat Mata
Tentunya kalian sudah tahu bahwa bagian mata yang berfungsi untuk
menerima cahaya atau bayangan adalah retina. Dengan kata lain, di retina inilah
tempat bayangan dari benda yang kita lihat akan terbentuk. Agar bayangan benda
diterima retina dengan jelas, mata harus membiaskan sinar yang datang dari benda.
Berdasarkan urutan bagian mata, sinar dari benda akan melewati medium yang
mempunyai indeks bias (n) berbeda. Medium tersebut adalah udara (n = 1,00),
kornea (n = 1,38), aqueous humour (n = 1,33), lensa mata (n = 1,40), dan vitreous
humour (n = 1,34). Proses jalannya sinar hingga terbentuk bayangan pada mata
dapat kalian lihat pada berikut ini.

Keterangan gambar:
Gambar kiri:
Jika benda berada di jauh tak terhingga, lensa mata memipih. Dalam keadaan ini
mata sudah tidak berakomodasi.
Gambar kanan:
Jika benda di titik dekat, lensa mata mencembung berarti mata berakomodasi
maksimum.
Kita dapat melihat benda dengan jelas jika berada di dalam jangkauan
penglihatan. Jangkauan penglihatan berada di antara titik dekat (punctum
proximum = PP) dan titik jauh (punctum remotum = PR). Titik dekat merupakan
titik terdekat yang masih dapat dilihat dengan jelas oleh mata yang berakomodasi
maksimum. Pada mata normal, titik terdekatnya adalah 25 cm atau disebut jarak
baca normal (sn = 25 cm). Sementara titik jauh mata adalah titik terjauh yang masih
dapat dilihat dengan jelas oleh mata yang tidak berakomodasi. Pada mata normal,
titik jauhnya adalah tak terhingga (~).

9
Pada orang yang mengalami gangguan penglihatan atau cacat mata, bayangan
benda tidak jatuh di retina. Artinya bayangan benda jatuh di depan atau di belakang
retina. Hal ini disebabkan lensa mata tidak dapat mencembung dan memipih dengan
sempurna. Beberapa cacat mata yang dapat dialami seseorang adalah sebagai
berikut.
a) Rabun Dekat (Hipermetropi)
Orang yang menderita rabun dekat mempunyai titik dekat (punctum
proximum) yang melebihi titik dekat mata normal (PP > sn) dan titik jauhnya tidak
terhingga (~). Akibatnya, penderita hanya mampu melihat dengan jelas benda-
benda yang jauh. Sedangkan jika benda terletak pada jarak dekat (jarak baca
normal), orang tersebut tidak dapat melihat dengan jelas.
Ketika orang yang mengalami rabun dekat melihat benda pada jarak baca
normal, bayangan benda akan jatuh di belakang retina. Untuk membuat bayangan
benda jatuh di retina, penderita dibantu dengan menggunakan kacamata berlensa
cembung (positif). Dengan bantuan kacamata berlensa positif, bayangan benda
akan jatuh tepat di retina. Perhatikan gambar berikut ini.

Keterangan gambar:
Gambar atas:
Skema jalannya sinar pada cacat mata rabun jauh (hipermetropi).

10
Gambar bawah:
Skema jalannya sinar pada mata hipermetropi setelah menggunakan kacamata
berlensa cembung (positif/konvergen).
Kekuatan lensa mata digunakan penderita rabun dekat dapat ditentukan
dengan menggunakan rumus pembiasan cahaya, yaitu sebagai berikut.

Dengan menggunakan kacamata positif (berlensa cembung), benda yang


berada pada jarak s mempunyai bayangan (s’) pada jarak baca normal (25 cm) di
depan kacamata (s’ bernilai negatif). Bayangan ini kemudian dibiaskan kembali
oleh lensa mata dan jatuh tepat di retina.
Pada persamaan pembiasan di atas, kita tahu bahwa faktor di sebelah kiri
menunjukkan kekuatan lensa (P). Menurut kacamata, jarak benda adalah s dan jarak
bayangan adalah –sn. Jadi, kekuatan lensa hipermetropi dapat dihitung dengan
persamaan berikut.

Agar mata dapat melihat benda pada jarak baca normal (s = 0,25 m), maka
kekuatan lensa yang digunakan dapat dicari dengan persamaan berikut ini.

Keterangan:
P = kekuatan lensa (dioptri = D)
Sn = titik dekat mata hipermetropi (m)
Jika titik dekat mata hipermetropi dinyatakan dalam satuan cm, persamaan tersebut
menjadi :

11
b) Rabun Jauh (Miopi)
Titik terjauh (punctum remotum) pada mata normal adalah di jauh tak hingga.
Artinya, mata normal dapat melihat dengan jelas benda-benda yang jauh tak
terhingga. Jika seseorang tidak mampu melihat dengan jelas benda-benda di jauh
tak terhingga, maka orang tersebut mengalami rabun jauh atau disebut miopi.
Penderita rabun jauh memiliki titik jauh lebih dekat daripada titik jauh mata
normal dan titik dekatnya lebih pendek dari titik dekat mata normal. Jika mata
miopi melihat benda di jauh tak terhingga, bayangan benda jatuh di depan retina.
Ini terjadi karena lensa mata tidak dapat memipih dengan baik sesuai yang
diperlukan.
Untuk mengatasi cacat miopi, penderita dibantu dengan menggunakan
kacamata berlensa cekung (negatif/divergen). Dengan menggunakan lensa negatif,
benda yang terletak di titik tak terhingga (s= ~) dibiaskan dan mempunyai bayangan
tepat di retina. Titik jauh miopi (PR) di depan lensa (s’bernilai negatif). Bayangan
ini akan dibiaskan kembali oleh lensa mata dan menghasilkan bayangan tepat di
retina. Perhatikan gambar berikut.

Keterangan gambar:
Gambar atas:
Pada mata rabun jauh (miopi), bayangan benda jatuh di depan retina.

12
Gambar bawah:
Dengan menggunakan kacamata berlensa cekung (negatif/divergen), bayangan
benda jatuh tepat di retina.
Dengan menggunakan persamaan pembiasan cahaya pada lensa, kita dapat
menentukan kekuatan lensa yang digunakan penderita miopi dengan persamaan
berikut ini.

Dari penjelasan sebelumnya, s = ~ dan s’ = −PR, sehingga kekuatan lensa yang


harus dipakai dapat ditentukan dengan persamaan berikut ini.

Keterangan:
PR = punctum remotum atau titik jauh miopi (m)
Jika titik jauh mata dinyatakan dalam cm, persamaan tersebut menjadi:

c) Mata Tua (Presbiopi)


Orang yang sudah lanjut usia biasanya juga mengalami gangguan penglihatan
akibat umur. Ganguan mata ini disebut presbiopi atau mata tua. Presbiopi
disebabkan oleh berkurangnya daya akomodasi mata karena usia lanjut. Akibat
berkurangnya daya akomodasi ini, lensa mata tidak dapat mencembung dan
memipih sesuai kebutuhan. Keadaan tersebut menyebabkan titik jauh mata lebih
pendek dari titik jauh normal (PR < ~) dan titik dekatnya lebih besar dari titik dekat
normal (PP > 25 cm). Menyebabkan bayangan jatuh dibelakang retina. Ini

13
menyebabkan orang yang sudah berusia lanjut tidak dapat melihat dengan jelas
benda-benda yang terlalu jauh atau terlalu dekat.

Ganguan presbiopi dapat diatasi dengan menggunakan kacamata berlensa


rangkap (kacamata bifokal). Lensa negatif (cekung) yang berada di bagian atas
berfungsi melihat benda yang jauh. Sementara lensa positif (cembung) berada di
bagian bawah berfungsi untuk melihat benda yang dekat.

d) Astigmatisme
Mungkin kalian pernah menjumpai orang yang memakai kacamata yang
bukan kacamata plus (positif) atau kacamata minus (negatif), tetapi kacamata
silindris. Kacamata silindris ini digunakan untuk membantuk penglihatan orang
yang mengalami gangguan mata yang disebut astigmatisme. Gangguan ini
disebabkan oleh keadaan kornea yang tidak bulat benar. Kelainan ini menyebabkan
pembiasan sinar yang datang secara horizontal dan vertikal berbeda satu sama lain.

14
Gejala astigmatisme dapat diuji dengan alat uji seperti pada gambar di atas.
Mata yang mengalami astigmatisme akan melihat garis-garis tersebut pada jarak
yang sama dalam arah tegak lurus. Selain itu, garis-garis tersebut tampak lebar dan
kabur.

2.3 Mikroskop

Mikroskop ialah sebuah alat bantu yang dipakai untuk melihat dan
mengamati benda-benda yang berukuran sangat kecil yang tidak mampu dilihat
dengan mata telanjang. Kata Mikroskop berasal dari bahasa latin, yakni “mikro”
yang berarti kecil dan kata “scopein” yang berarti melihat. Benda kecil dilihat
dengan cara memperbesar ukuran bayangan benda tersebut hinga berkali-kali lipat.
Bayangan benda bisa dibesarkan 40 kali, 100 kali, 400 kali, bahkan 1000 kali, dan
perbesaran yang bisa dijangkau semakin meningkat seiring dengan perkembangan
teknologi . Ilmu yang mempelajari objek-objek berukuran sangat kecil dengan
memakai mikroskop disebut Mikroskopi. Mikroskop ditemukan oleh Anthony Van
Leewenhoek, penemuan ini sangat membantu peneliti dan ilmuan untuk mengamati
objek mikroskopis.

15
A. Jenis-Jenis Mikroskop
Bentuk dan jenis mikroskop berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Mikroskop yang paling sederhana adalah mikroskop
cahaya, mikroskop stereo sampai yang modern seperti mikroskop elektron.
Semakin modern, perbesaran yang dihasilkan semakin besar dan rinci.
a) Mikroskop cahaya
Mikroskop cahaya ialah jenis type mikroskop dengan menggunakan cahaya
sebagai sumber energinya untuk dapat memperbesar bayangan dari objek yang akan
diamati, dengan kata lain bahwa mikroskop jenis cahaya ini memanfaatkan cahaya
sebagai sumber energi untuk bisa memperbesar dengan jelas bayangan dari objek.
Mikroskop cahaya ini memiliki 3 lensa pembesaran. yakni antara lain sebagai
berikut : a. Lemah (4 kali/10 kali) b. Sedang (40 kali) c. Kuat (100kali) dan juga
lensa okuler mempunyai pembesaran 10 kali. Sehingga mikroskop cahaya ini
kebanyakan memiliki pembesaran yang maksimum sebanyak 1000 kali oleh ukuran
yang sebenarnya.
Pada jenis mikroskop cahaya, terdapat juga perbedaan pada lensa yang
dipunyai, antar alain sebagai berikut :
1. Mikroskop cahaya yang hanya mempunyai 1 lensa okuler (monokuler) Jenis
satu lensa okuler (monokuler) ini hanya bisa untuk melihat panjang dan lebar
dari objek yang akan diamati.
2. Mikroskop cahaya yang mempunyai 2 lensa okuler (binokuler) Jenis satu lensa
okuler (binokuler) atau yang dikenal juga dengan Mikroskop Stereo ini bisa
untuk melihat panjang, lebar dan tinggi objek yang akan diamati secara 3
dimensi (3D).

b) Mikroskop elektron
Mikroskop elektron yaitu jenis type mikroskop dengan mempergunakan
elektron sebagai sumber energinya untuk dapat memperbesar bayangan dari objek
yang akan diamati, dengan kata lain bahwa mikroskop jenis elektron ini
memanfaatkan elektron sebagai sumber energi untuk bisa memperbesar dengan
jelas bayangan dari objek.

16
Pada mikroskop jenis elektron, magnet digunakan untuk pengganti dari lensa
dengan fungsi untuk memusatkan elektron (sumber energi) ke objek. yaitu antara
lain sebagai berikut.
1. Mikroskop Transmisi Elektron (TEM) Mikroskop transmisi elektron (TEM)
bekerja dengan cara menembuskan elektron kepada objek yang akan diamati dan
gambaran dari objek yang akan diamati akan terlihat di layar.
2. Mikroskop Elektron Scanning Mikroskop Elektron Scanning bekerja dengan
cara memberikan gambaran permukaan, jaringan dan struktur objek yang
diamati dan bisa menampilkan gambaran objek yang akan diamati tersebut
dengan gambaran 3 dimensi (3D).

c) Mikroskop Stereo
Mikroskop stereo atau bisa disebut juga mikroskop stereoskopik, adalah alat
optik yang berbeda dari jenis lain dari mikroskop dalam instrumentasi dan prinsip
kerja. Seperti kita semua sadar, mikroskop biasa memiliki satu lensa mata dan satu
lensa objektif. Dalam bertentangan dengan ini, kerja mikroskop stereo melibatkan
dua set sistem optik, yang pada gilirannya hasil dalam pembentukan dua jalur
cahaya yang berbeda. Tujuan dari konfigurasi lensa adalah untuk menciptakan
gambar tiga dimensi yang lebih jelas. Dengan demikian, dibandingkan dengan
mikroskop lain yang memberikan gambar dua dimensi, mikroskop stereo lebih
unggul dalam hal pada menciptakan, lebih baik tiga-dimensi gambar.
Sebuah mikroskop stereo adalah alat pembesar teropong, digunakan untuk
melihat tiga-dimensi (3D) gambar spesimen. Prinsip kerja alat ini ilmiah hampir
mirip dengan stereo lainnya. Dalam mikroskop majemuk, gambar diperbesar dari
sampel di bawah pengamatan dibentuk oleh pencahayaan ditransmisikan. Dalam
istilah sederhana, cahaya melewati spesimen dan kemudian mencapai mata. Di sisi
lain, sebuah mikroskop stereo bekerja dengan cara iluminasi tercermin. Di sini,
cahaya tidak mengirimkan melalui objek, tapi dipantulkan kembali untuk
membentuk gambar 3D dari sampel.
Ukuran mikroskop ini lebih besar dari mikroskop majemuk, dengan
pengukuran mantan ketinggian sekitar 1-2 meter. Datang ke bagian-bagiannya, ia
memiliki dua lensa okuler atau lensa lensa mata, dan satu lensa objektif. Mereka

17
dihubungkan dengan tabung tubuh, yang dapat diturunkan atau diangkat untuk
memberikan gambar yang jelas. Tujuan berputar terletak di bawah lensa mata
bergerak, dan di atas pelat panggung. Berdasarkan pada model, lensa terbuat dari
plastik atau kaca. Sementara beberapa model dikonfigurasi dengan sumber
pencahayaan, lainnya memerlukan pasokan eksternal cahaya. Ada juga tombol-
tombol penyesuaian untuk mengatur cahaya dan fokus.

Bagian-Bagian Mikroskop
Agar bisa memakai mikroskop kita harus mengetahui bagian-bagiannya
terlebih dahulu. Bagian Mikroskop terbagi menjadi bagian Optik dan bagian
Mekanik (Non-Optik)
Bagian-Bagian Optik
1. Lensa Okuler, yaitu lensa yang terdapat di bagian ujung atas tabung pada
gambar, pengamat melihat objek melalui lensa ini. Lensa okuler ini berfungsi
untuk memperbesar kembali bayangan dari lensa objektif. Lensa okuler biasanya
mempunyai perbesaran 6, 10, atau 12 kali.
2. Lensa Objektif, yakni lensa yang dekat dengan objek. Biasanya terdapat 3 lensa
objektif pada mikroskop, yakni dengan perbesaran 10, 40, atau 100 kali. Saat
memakai lensa objektif pengamat harus mengoleskan minyak emersi ke bagian
objek, minyak emersi ini berfungsi sebagai pelumas dan untuk memperjelas
bayangan benda, karena saat perbesaran 100 kali, letak lensa dengan objek yang
diamati sangat dekat, bahkan kadang bersentuhan.
3. Kondensor, yaitu bagian yang dapat diputar naik turun yang berfungsi untuk
mengumpulkan cahaya yang dipantulkan oleh cermin dan memusatkannya ke
objek.
4. Diafragma, yakni bagian yang berfungsi untuk mengatur banyak sedikitnya
cahaya yang masuk dan mengenai preparat. Cermin, yaitu bagian yang berfungsi
untuk menerima dan mengarahkan cahaya yang diterima. Cermin mengarahkan
cahaya dengan cara memantulkan cahaya tersebut.

18
Bagian Mekanik (Non-Optik)
1. Revolver, yaitu bagian yang berfungsi untuk mengatur perbesaran lensa objektif
yang diinginkan.
2. Tabung Mikroskop, yaitu bagian yang berfungsi untuk menghubungkan lensa
objekti dan lensa okuler mikroskop.
3. Lengan Mikroskop, yaitu bagian yang fungsinya untuk tempat pengamat
memegang mikroskop.
4. Meja Benda, yakni bagian yang berfungsi untuk tempat menempatkan objek
yang akan diamati, pada meja benda terdapat penjepit objek, yang menjaga objek
tetap ditempat yang diinginkan.
5. Makrometer (pemutar kasar), yakni bagian yang berfungsi untuk menaikkan
atau menurunkan tabung secara cepat untuk pengaturan mendapatkan kejelasan
dari gambaran objek yang diinginkan.
6. Mikrometer (pemutar halus), yakni bagian yang fungsinya untuk menaikkan
atau menurunkan tabung secara lambat untuk pengaturan mendapatkan
kejelasan dari gambaran objek yang diinginkan.
7. Kaki Mikroskop, yakni bagian yang fungsinya sebagai penyagga yang menjaga
mikroskop tetap pada tempat yang diinginkan, dan juga untuk tempat memegang
mikroskop saat mikroskop hendak dipindahkan.

19
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Mata dan kamera memiliki lensa yang berfungsi untuk memfokuskan
bayangan yang dihasilkan sehingga jatuh tepat di retina (pada mata) atau di
permukaan yang peka terhadap cahaya diebut film (a photosensitive surface).
Adapun bagian-bagian mata yaitu Lensa memiliki fungsi yaitu untuk membentuk
bayangan, pupil mata yaitu untuk mengatur banyaknya cahaya yang masuk, iris
yakni untuk mengatur intensitas cahaya yang masuk atau mengatur besar kecilnya
pupil, retina berfungsi untuk menangkap bayangan yang dibentuk oleh lensa.
Mata memiliki daya akomodasi, yakni kemampuan untuk mengubah-ubah
jarak fokus lensa mata sehingga bayangan benda yang dilihat selalu jatuh tepat di
retina. Jarak fokus lensa mata diubah dengan cara mengatur ketebalannya (menipis
atau menebal) yang dilakukan oleh otot siliar. Daya akomodasi ini memungkinkan
mata dapat melihat dengan jelas setiap benda yang dilihatnya, meskipun jaraknya
berbeda-beda di depan mata. Akan tetapi, meskipun memiliki daya akomodasi,
mata memiliki keterbatasan jangkauan penglihatan. Mata tidak dapat melihat benda
yang terlalu dekat atau terlalu jauh. Ada beberapa cacat mata yaitu Rabun Dekat
(Hipermetropi), Rabun Jauh (Miopi), Mata Tua (Presbiopi), Astigmatisme.
Prinsip kerja kamera mirip dengan mata manusia. Lensa kamera merupakan
bagian dari kamera yang berfungsi untuk membentuk bayangan, mirip lensa mata
pada mata. Kamera dilengkapi dengan film yang berfungsi sebagai tempat
bayangan, mirip dengan retina pada mata. Jika mata memiliki kemampuan untuk
berakomodasi, pada kamera pengaturan bayangan agar jatuh tepat pada film
dilakukan dengan cara menggerakkan lensa. Ada beberapa jenis mikroskop
diantarnya yaitu mikroskop cahaya, mikroskop elektron dan mikroskop stereo.
3.2 Saran
Demikianlah makalah yang kami susun. Kami menyadari bahwa apa yang
kami tulis masih banyak kesalahan dan bukanlah seperti makalah yang sempurna.
Kritik dan saran kami harapkan demi perbaikan dalam pembuatan makalah
selanjutnya.harapan kami semoga makalah yang ditulis dapat bermanfaat.

20
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2014. Mikroskop Setereo. Jakarta: Anugrah Niaga Mandiri.

Subratha, Nyoman. 2012. BIOFISIKA. Undiksha.

https://www.gurupendidikan.co.id/mikroskop-pengertian-jenis-dan-bagian-
beserta-fungsinya-secara-lengkap/.(Diakses pada 22 Mei).

21