Anda di halaman 1dari 21

Case Report Session

Respiratory Distress Syndrome

Oleh :

Randy Fitratullah M

1210312095

Preseptor :

Dr. Fitrisia Amelin, Sp. A. M.Biomed

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

RSUP DR M DJAMIL PADANG

2017

1
Bab 1
Pendahuluan

1.1. Latar Belakang


Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari
2500 gram tanpa memandang usia gestasinya. Berat lahir adalah berat bayi yang
ditimbang dalam 1 jam setelah lahir. BBLR dapat terjadi pada bayi kurang bulan (
< 37 minggu ) atau pada bayi cukup bulan.
Sampai saat ini BBLR masih merupakan masalah diseluruh dunia, karena
menjadi salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada masa neonatal.
Prevalens BBLR masih cukup tinggi terutama di negara-negara dengan sosio-
ekonomi rendah. Secara statistik di seluruh dunia, 15.5 % dari seluruh kelahiran
adalah BBLR, 90% kejadian BBLR didapatkan di negara berkembang dengan
angka kematiannya 20-35 kali lebih tinggi dibanding pada bayi dengan berat
lahir>2500 gram. Angka kejadian di Indonesia sangat bervariasi antara satu
daerah dengan daerah lainnya yang berkisar antara 9-30%. Penyebab terbanyak
terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Faktor ibu adalah umur ( < 20 tahun
atau > 40 tahun ), paritas dan lain-lain. Faktor plasenta seperti penyakit vaskular,
kehamilan ganda, dan lain-lain, serta faktor janin juga merupakan penyebab
terjadi BBLR.
Penyebab prematur dengan berat badan rendah dibagi atas empat faktor yaitu
faktor maternal, fetal, medical dan iatrogenik. Faktor maternal adalah penyakit
yang dialami ibu selama mengandung contohnya ibu hamil merupakan kelompok
yang sangat rentan terhadapt anemia, karena kebutuhan zat-zat gizi bagi
pembentukan darah meningkat selain untuk dirinya sendiri, juga untuk kebutuhan
janinnya, dampak pada janin yang kandung dengan ibu hamil anemia
meningkatnya resiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan keguguran,
premature. BBLR, bahkan kematian janin dalam kandungan dan kematian
perinatal. komplikasi persalinan seperti plasenta previa, perdarahanjuga
merupakan salah satu dampak anemia pada ibu selama masa kehamilan
meningkatkan resiko perdarahan saat persalinan, serviks inkompeten, dan infeksi
maternal. Faktor fetal adalah kehamilan ganda dan malformasi kongenital. Faktor
medical adalah proses kelahiran yang harus dilakukan sebelum waktunya oleh

2
karena ibunya diabetes, penyakit jantung yang parah, hipertensi, hipoksia fetus,
hidrops fetalis.
Masalah yang timbul pada BBLR prematur adalah ketidakstabilan suhu,
respiratory distress, kelainan gastrointestinal dan nutrisi, masalah pada jantung,
perdarahan otak, imaturitas hati, imaturitas ginjal imaturitas imunologis, kelainan
neurologis, kardiovaskuler, hematologis, metabolisme dan risiko infeksi.
Penyebab terbanyak dari angka kesakitan dan kematian pada bayi prematur
adalah Respiratory Distress Syndrome ( RDS ). Sekitar 5 -10% didapatkan pada
bayi kurang bulan, 50% pada bayi dengan berat 501-1500 gram3. Angka kejadian
berhubungan dengan umur gestasi dan berat badan dan menurun sejak digunakan
surfaktan eksogen . Saat ini RDS didapatkan kurang dari 6% dari seluruh neonatus
1.2. Batasan Masalah
Makalah ini membahas tentang definisi, etiologi, patogenesis, diagnosis dan
penatalaksanaan respiratory distress.
1.3. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui defenisi, etiologi, pathogenesis, diagnosis, dan
penatalaksanaan respiratory distress.
1.4. Metode Penulisan
Makalah ini ditulis dengan menggunakan metode tinjauan pustaka yang
merujuk dari berbagai literature

3
Bab 2
Tinjauan Pustaka

2.1. Defenisi
Respiratory distress syndrome (RDS) adalah sekumpulan gejala distress nafas
ditandai dengan adanya takipnea, retraksi pada dinding dada, sianosis, merintih,
dan nafas cuping hidung. Transient Tachypnea of the Newborn (TTN) adalah
suatu penyakit ringan pada neonatus kurang bulan atau cukup bulan yang
mengalami gawat napas segera setelah lahir dan hilang dengan sendirinya dalam
waktu 3-5 hari.1
Bayi yang sering mengalami TTN adalah bayi yang dilahirkan secara operasi
sesar sebab mereka kehilangan kesempatan untuk mengeluarkan cairan paru
mereka. Bayi yang dilahirkan lewat persalinan per vaginam mengalami kompresi
dada saat menuruni jalan lahir. Hal inilah yang menyebabkan sebagian cairan paru
keluar. Kesempatan ini tidak didapatkan bagi bayi yang dilahirkan operasi sesar.1
2.2. Epidemiologi
Di Amerika Serikat, RDS diperkirakan terjadi pada 20.000-30.000 bayi baru
lahir tiap tahunnya dan merupakan komplikasi dari 1% kehamilan. Kira-kira 50%
kelahiran neonates yang lahir pada usia kehamilan 26-28 minggu mengalami
RDS, dan kurang dari 30 %neonatus premature usia kehamilan 30-31 minggu
mengalami keadaan ini 5.
Pada satu laporan, angka kejadian RDS sekitar 42% pada infant 501-1500g,
dengan 71% dilaporkan pada berat badan 501-750 gram, 54% yang berat badan
751-1000g, 36% yang berat badannya 1001-1250g, dan 22% pada 1251-1500g.
RDS lebih jarang ditemukan di Negara berkembang dibanding lainnya, terutama
karena kebanyakan infant premature yang kecil untuk masa kehamilan mengalami
stress di dalam rahim karena diinduksi oleh hipertensi. Tambahan, juga
dikarenakan pada wilayah ini kebanyakan persalinan dilakukan didalam rumah,
sehingga pencatatatannya buruk5.
2.2. Anatomi dan Fisiologi
Menurut Pusdiknakes (2003) perubahan fisiologis pada bayi baru lahir adalah
salah satunya system pernafasan. Selama dalam uterus, janin mendapatkan

4
oksigen dari pertukaran gas melalui plasenta. Setelah lahir, pertukaran gas harus
melalui paru-paru.2
Perkembangan paru-paru
Paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari faring yang bercabang-
cabang membentuk struktur percabangan bronkus. Proses ini berlanjut setelah
kelahiran sampai usia 8 tahun, sampai jumlah bronchiolus dan alveolus akan
sepenuhnya berkembang, walaupun janin memperlihatkan bukti gerakan nafas
sepanjang trimester kedua dan ketiga. Kematangan paru-paru akan mengurangi
peluang kelangsungan hidup bayi baru, yang disebabkan oleh keterbatasan
permukaan alveolus, ketidakmatangan sistem kapiler paru-paru, dan tidak
mencukupinya jumlah surfaktan.
Awal adanya nafas
Dua faktor yang berperan pada rangsangan pertama nafas bayi :

Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan dua rahim
yang merangsang pusat pernafasan otak.2

Tekanan terhadap rongga dada, yang terjadi karena kompresi paru-paru
selama persalinan yang merangsang masuknya udara ke dalam paru-paru secara
mekanis.2
Interaksi antara sistem pernafasan, kardiovaskuler dan susunan saraf pusat
menimbulkan pernafasan teratur dan berkesinambungan. Jadi sistem-sistem harus
berfungsi secara normal.2
Surfaktan dan upaya respirasi untuk bernafas
Upaya pernafasan pertama seorang bayi berfungsi untuk mengeluarkan cairan
dalam paru-paru dan mengembangkan alveolus paru-paru untuk pertama kali.
Produksi surfaktan dimulai pada 20 minggu kehamilan dan jumlahnya akan
meningkat sampai paru-paru matang sekitar 30-40 minggu kehamilan. Surfaktan
ini berfungsi mengurangi tekanan permukaan paru-paru dan membantu
menstabilkan dinding alveolus sehingga tidak kolaps pada akhir pernafasan. Tanpa
surfaktan alveoli akan kolaps setiap saat setelah akhir setiap pernafasan yang
menyebabkan sulit bernafas.2

Dari cairan menuju udara

5
Bayi cukup bulan mempunyai cairan di dalam paru-parunya. Pada saat bayi
melalui jalan lahir selama persalinan, sekitar 1/3 cairan ini akan diperas keluar
paru-paru. Dengan beberapa kali tarikan nafas pertama, udara memenuhi ruangan
trakea dan bronkus bayi baru lahir. Dengan sisa cairan di dalam paru-paru
dikeluarkan dari paru-paru dan diserap oleh pembuluh limfe dan darah.2
Fungsi pernafasan dalam kaitannya fungsi kardiovaskuler
Oksigenasi sangat penting dalam mempertahankan kecukupan pertukaran
udara. Jika terdapat hipoksia, pembuluh darah paru-paru akan mengalami
vasokontriksi. Pengerutan pembuluh darah ini berarti tidak ada pembuluh darah
yang terbuka, guna menerima oksigen yang berada dalam alveoli, sehingga
penurunan oksigenasi jaringan akan memperburuk hipoksia. Peningkatan aliran
darah paru-paru akan memperlancar pertukaran gas dalam alveolus dan
menghilangkan cairan paru-paru akan mendorong terjadinya peningkatan sirkulasi
limfe dan membantu menghilangkan cairan paru-paru dan merangsang perubahan
sirkulasi janin menjadi sirkulasi luar rahim.
2.3. Patofisiologi
Penyakit pernapasan akut tidak infeksius berkembang pada sekitar 1% dari
semua bayi baru lahir dan menyebabkan masuk ke unit perawatan kritis. Takipnea
transient pada bayi baru lahir adalah akibat dari sebuah keterlambatan dalam
pembersihan cairan paru janin. Dahulu, masalah pernapasan dianggap masalah
kekurangan surfaktan relatif tetapi sekarang dicirikan oleh beban udara-cairan
sekunder terhadap ketidakmampuan untuk menyerap cairan paru janin.
Percobaan in vivo telah menunjukkan bahwa epitel paru-paru mengeluarkan
Cl- dan cairan selama kehamilan tetapi mengembangkan kemampuan untuk
menyerap kembali secara aktif Na+ hanya selama akhir kehamilan. Saat lahir,
paru-paru matur menyebabkan pengaktifan sekresi dari Cl- (cairan) menjadi
penyerapan aktif Na + (cairan) dalam respon terhadap beredarnya katekolamin,
baru-baru ini, bukti menunjukkan glukokortikoid berperan dalam pengaktifan ini.
Perubahan dalam tegangan oksigen menambah kapasitas traspor epitel terhadap
Na + dan meningkatkan ekspresi gen untuk epitel Na + channel (ENaC).
Ketidakmampuan paru-paru janin imatur untuk beralih dari sekresi cairan hasil
penyerapan cairan, sebagian besar, dari immaturitas dalam ekspresi ENaC, yang

6
dapat diatur oleh glukokortikoid. Glukokortikoid mempengaruhi reabsorpsi Na +
paru-paru kemungkinan besar melalui saluran EnaC pada akhir usia kehamilan
janin.
Bayi matur yang memiliki transisi normal dari janin ke kehidupan postnatal
memiliki surfaktan yang dan sistem epitel yang matur. Takipnea transient pada
bayi baru lahir terjadi pada bayi baru lahir matur dengan jalur surfaktan matur dan
kurang berkembangnya epitel pernapasan transportasi Na +, sedangkan Sindrom
Gawat Nafas neonatus terjadi pada bayi dengan kedua jalur surfaktan dini dan Na
+ transportasi immatur.
Bayi lahir dengan kelahiran sesar berisiko memiliki cairan paru yang
berlebihan sebagai akibat tidak mengalami semua tahapan persalinan normal dan
kurangnya lonjakan katekolamin yang tepat, yang menyebabkan pelepasan yang
rendah dari counter-regulatory hormones pada saat persalinan. Hal ini membuat
cairan tertahan di alveoli yang akan menghambat terjadinya pertukaran gas.
2.4. Faktor Risiko
Factor risiko terjadinya Respiratory Distress Syndrome 6:
 Bayi kurang bulan (BKB). Pada bayi kurang bulan, paru bayi secara
biokimiawi masih imatur dengan kekurangan surfaktan yang melapisi
rongga paru.
 Kegawatan neonatal seperti kehilangan darah dalam periode perinatal,
aspirasi mekonium, pneumotoraks akibat tindakan resusitasi,dan hipertensi
pulmonal dengan pirau kanan ke kiri yang membawa darah keluar dari paru.
 Bayi dari ibu diabetes mellitus. Pada bayi dari ibu dengan diabetesterjadi
keterlambatn pematangan paru sehingga terjadi distress respirasi
 Bayi lahir dengan operasi sesar. Bayi yang lahir dengan operasi sesar,berapa
pun usia gestasinya dapat mengakibatkan terlambatnya absorpsi cairan paru
(Transient Tachypnea of Newborn).
 Bayi yang lahir dari ibu yang menderita demam, ketuban pecah dini dapat
terjadi pneumonia bakterialis atau sepsis.
 Bayi dengan kulit berwarna seperti mekonium, mungkin mengalami aspirasi
mekonium.Lahir Seksio cesarean.
2.5. Manifestasi Klinik

7
Gejala klinis yang timbul yaitu adanya sesak napas pada bayi prematur segera
setelah lahir, yang ditandai dengan takipnea (> 60 x/menit), pernapasan cuping
hidung, grunting, retraksi dinding dada,dan sianosis, dan gejala dapat menetap
dalam 48-96 jam pertama setelah lahir.
Derajat beratnya distress nafas dapat dinilai dengan menggunakan skor skor
Downes. Skor Downes merupakan sistem skoring yang lebih komprehensif dan
dapat digunakan pada semua usia kehamilan.
Tabel 1. Evaluasi Gawat Napas dengan skor Downes
Skor
Pemeriksaan
0 1 2
Frekuensi napas < 60 /menit 60-80 /menit > 80/menit
Retraksi Tidak ada retraksi Retraksi ringan Retraksi berat
Sianosis Tidak ada sianosis Sianosis hilang Sianosis menetap
dengan 02 walaupun diberi O2
Air entry Udara masuk Penurunan ringan Tidak ada udara
udara masuk masuk
Merintih Tidak merintih Dapat didengar Dapat didengar
dengan stetoskop tanpa alat bantu
Skor > 6 : Ancaman gagal nafas
Keterangan:
0-4: Distress nafas ringan; membutuhkan O2 nasal atau headbox
4-7: Distress nafas sedang; membutuhkan nasal CPAP
>7 : Distress nafas berat; ancaman gagal nafa; membutuhkan intubasi.
2.6. Diagnosis
 Pemeriksaan Laboratorium
o Analisis Gas Darah biasanya akan memperlihatkan hipoksia ringan.
Hipokarbia biasanya didapatkan. Jika ada, hipokarbia biasanya ringan
(PCO2 >55 mm Hg). Extreme hypercarbia sangat jarang, namun jika
terjadi, merupakan indikasi untuk mencari penyebab lain.
o Differensial Count adalah normal pada TTN, tapi sebaiknya dilakukan
untuk menentukan apakah terdapat proses infeksi. Nilai hematokrit
akan menyingkirkan polisitemia.
Urin and serum antigen test dapat membantu menyingkirkan infeksi bakteri.
 Pemeriksaan Radiologi
o Rontgen thoraks. Berikut adalah gambaran khas pada TTN:

8

Hiperexpansi paru, khas pada TTN.

Garis prominen di perihiler.

Pembesaran jantung ringan hingga sedang.

Diafragma datar, dapat dilihat dari lateral.

Cairan di fisura minor dan perlahan akan terdapat di ruang pleura.

Prominent pulmonary vascular markings.
2.7. Diagnosis Banding
1 Pneumonia/sepsis. Jika neonatus mengalami pneumonia atau sepsis, akan
didapat pada riwayat kehamilan ibu tanda-tanda infeksi, seperti
korioamnionitis, ketuban pecah dini, dan demam. Differensial count
menunjukkan tanda neutropenia atau leukositosis dengan jumlah abnormal
dari sel immature. Tes antigen urin dapat positif bila neonates mengalami
group B streptococcal. Jika terdapat tanda-tanda infeksi seperti di atas,
dianjurkan untuk memberikan antibiotic berspektrum luas. Pemberian
antibiotic dapat dihentikan jika didapatkan hasil kultur yang negative dalam 3
hari.
2 HMD. Biasanya terjadi pada neonates yang premature atau dengan alasan
lain akan tertundanya maturasi paru. Pada rontgen thoraks dapat diketahui
dengan jelas pola retikulogranular dengan gambaran atelektasis paru.
3 Aspirasi Mekonium. Biasanya dapat diketahui dari riwayat kehamilan dan
persalinan berupa cairan ketuban berwarna hijau tua, mekonium pada cairan
ketuban, noda kehijauan pada kulit bayi, kulit bayi tampak kebiruan
(sianosis), pernafasan cepat (takipnea) , sesak nafas (apnea), frekuensi denyut
jantung janin rendah sebelum kelahiran , skor APGAR yang rendah , bayi
tampak lemas , auskultasi: suara nafas abnormal.
2.8. Penatalaksanaan
Transient Tachypnea of the Newborn ini bersifat self limiting disease,
sehingga pengobatan yang ditujukan biasanya hanya berupa pengobatan suportif.
Prinsip pengobatannya adalah:
 Oksigenasi.
 Antibiotik. Kebanyakan bayi baru lahir diberi antibiotic berspektrum luas
hingga diagnosis sepsis atau pneumonia disingkirkan.

9
 Pemberian makanan. Jika pernafasan di atas 60 kali per menit, neonatus
sebaiknya tidak diperi makan per oral untuk menghindari risiko aspirasi. Jika
frekuensi pernafasan kurang dari 60 kali per menit, pemberian makanan per
oreal dapat ditolerir. Jika 60-80 kali per menit, pemberian makanan harus
melalui NGT. Jika lebih dari 80 kali per menit, pemberian nutrisi intra vena
diindikasikan.
 Cairan dan elektrolit. Status cairan tubuh dan elektrolit harus dimonitor dan
dipertahankan normal.
2.9. Prognosis
Penyakit ini bersifat sembuh sendiri dan tidak ada risiko kekambuhan atau
disfungsi paru lebih lanjut. Gejala respirasi membaik sejalan dengan mobilisasi
cairan dan ini biasanya dikaitkan dengan diuresis.

10
Bab 3
Laporan Kasus

Identitas Pasien
Nama :Bayi EFN
MR : :990692
Umur :1 jam
Jenis Kelamin :Laki-laki
Ayah/ Ibu : :DP/ EFN
Anak ke :1 (tunggal)
Suku Bangsa :Indonesia
Alamat : :Pesisir Selatan
Tanggal Masuk :20 September 2017
Keluarga
Ibu Ayah
Umur 32 th 42 th
Pendidikan S1 SMA
Pekerjaan IRT TNI
Perkawinan ke 1 1
Pengahsilan Rp. - Rp. 400.000

Alloanamnesis
Keluhan Utama: Sesak nafas sejak lahir
Riwayat Penyakit Sekarang:
- NBBLR 2100 gram, panjang badan 42 cm, kurang bulan, usia kehamilan 31-
32 minggu,lahir SC atas indikasi impending eklamsi, sisa ketuban jernih.
Apgar score 4/6
- Tidak bernafas saat lahir, anak menangis setelah diberikan VTP
- Kebiruan ada, menghilang setelah diberikan O2
- Terdapat bitnik-bintik merah pada kulit perut, kaki dan tangan.
- Tidak ada demam, tidak ada kejang
- BAK telah keluar
- Mekonium belum keluar
- Injeksi vitamin K telah diberikan
- Riwayat ibu demam selama kehamilan dan menjelang persalinan tidak ada.
- Nyeri saaat BAK dan riwayat keputihan selama kehamilan dan menjelang
persalinan tidak ada.
Riwayat Kehamilan Sekarang : G1P0A0H0
HPHT : lupa
Taksiran Persalinan : tidak bisa ditentukan
Penyakit Selama Hamil : Hipertensi
Komplikasi Kehamilan : Tidak ada
Kebiasaan ibu waktu hamil : kualitas dan kuantitas makan cukup, tidak
ada minum alkohol, merokok dan narkoba
Riwayat Persalinan :ditolong oleh dokter di RSUP Dr. M.Djamil,
sesio sesaria atas indikasi impending

11
eklamsi, ketuban dipecahkan, kondisi
jernih,jumlah lebih kurang 250 ml. Saat lahir
anak tidak langsung menangis, berat badan
2100 gram, panjang badan 42 cm.
Apgar Score : 4/6

Kondisi Bayi Saat Lahir:


Lahir tanggal : 20 September 2017
Jenis kelamin : laki-laki
Kondisi saat lahir : hidup

Pemeriksaan Fisik:
Kesan Umum
Keadaan : hipoaktif
Berat badan : 2100 gram
Panjang badan : 42 cm
Frekuensi jantung : 140 kali per menit
Frekuensi nafas : 63 kali per menit
Sianosis : tidak ada
Ikterus : tidak ada
Suhu : 36,80 C
Kulit : teraba hangat, tidak pucat, tidak ikterik, tidak sianosis.
Kepala : bulat, simetris, normocephal, ubun-ubun besar 1,5x1,5 cm, ubun-ubun
kecil 1x1 cm, jejas persalinan tidak ada
Mata : konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik
Telinga : tidak ada kelainan
Hidung : nafas cuping hidung ada

12
Mulut : sianosis sirkum oral tidak ada
Leher : tidak ada kelainan
Paru :
Inspeksi : normochest, simetris, retraksi epigastrium ada
Auskustasi : bronkhovesikuler, merintih ada
Jantung :
Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : iktus cordis teraba linea mid clavicula sinistra RIC V
Auskultasi : irama teratur, bising tidak ada
Abdomen: distensi tidak ada,
Palpasi: supel, hepar teraba 1/4 -1/4 permukaan licin dan rata, pinggir tajam,
lien tidak teraba.
Perkusi : timpani
Auskultasi: bising usus positif normal
Tali pusat: segar
Umbilikal: tidak hiperemis
Punggung: tidak ada kelainan
Alat kelamin: desensus testis bilateral
Anus: anus ada
Ekstremitas: akral hangat, perfusi baik, CRT <2 detik
Reflek: Moro :- Isap :-
Rooting:- Pegang:-
Balard Score: 29 ;sesuai masa kehamilan

Diagnosis Kerja:
Respiratory distress e.c susp. Hyalin Membran Disease
NBBLR 2100 gram

Diagnosis Banding
Transient Tachypena of Newborn (TTN)
Aspirasi meconium
Sepsis/ pneumonia

13
Tatalaksana:
Riwayat resusitasi bayi:
Anak tidak bernafas
Tonus otot lemah

Meletakkan bayi di bawah infant warmer


Posisikan bayi
Isap lender dari jalan nafas (suction)
Keringkan bayi dan beri stimulant dengan menyentil telapak kaki dan
menggosok punggung
Ganti kain untuk mengeringkan, sebelumnya posisikan bayi kembali.

Bayi tidak bernafas


LDJ>100x/menit

Berikan VTP 40-60 x/menit


Pastikan kembali bawah airway tidak ada
sumbatan dan VTP masuk

Bayi menangis, LDJ <100 x/menit, CRT>2


detik
Nafas cuping hidung ada
Retraksi jelas

Pemasangan CPAP dengan T-Piece


Rescucitator

Dilakukan peasangan kateter umbilical


diloading Nacl 0,9% 21 cc

CRT masih >2 detik

Dilakukan peasangan kateter umbilical


diloading Nacl 0,9% 21 cc

CRT <2 detik

14
NCPAP PEEP 6 FiO2 20%
IVFD PG1 80 cc/kgBB/hari
Ampicilin Sulbactam 2x100 mg IV
Gentamisin 1x10 mg IV

Rencana
Rontgent Thorak
Cek DK, Diff count, AGD

Hasil Pemeriksaan:
Rontgent thorak: sesuai dengan TTN
Hasil DK: 19,8
Leukosit: 12.920/mm3
Trombosit: 196.000
Diff Count: 0/0/3/72/15/0
Natrium:144 mmol/l
Kalium: 5 mmol/l
Kalsium: 7,7 mmol/l

Follow Up

Tanggal Temuan Terapi


22-9-2017 Subjektif : P/ NCPAP PEEP 6% FiO2 25%
Pasien terpasang CPAP, kebiruan tidak ada. IVFD PG1 7cc/jam
Demam tidak ada, kejang tidak ada. Ampicilin Sulbactam 2x100
Sesak nafas tidak bertambah, desaturase tidak mg IV
ada Gentamisin 1x10 mg IV
Meconium sudah keluar
Pasien coba minum/tropic feeding.
Tampak bitnik merah di perut

15
BAK jumlah dan warna biasa

Objektif :
KU : Sakit sedang, kurang aktif
Kes : sadar
HR : 144 x/menit
RR : 60 x/menit
T : 370 C
Saturasi 99%
Mata : konjungtiva tidak anemis, sclera tidak
ikterik
Kulit: ptechie pada dinding perut
Thoraks : retraksi epigastrium tidak ada
Cor : irama teratur, bising tidak ada
Pulmo : bronkhovesikuler. Merintih tidak ada
Abd : distensi tidak ada, bising usus(+) normal,
tali pusat hitam, tidak bau, tidak ada pus,
hiperemis pada pinggir ukuran lebih kurang 0,5
cm
Ekst : akral hangat, perfusi baik, CRT<2 detik

A/ NBBLR 2100 gram + Respiratory distress


e.c. TTN

16
BAB 4
Diskusi

Telah dirawat seorang anak laki-laki usia 1 jam di NICU anak RSUP DR
M Djamil Padang pada tanggal 20 September 2017 dengan keluhan utama sesak
nafas sejak lahir. Pasien didiagnosis kerja dengan respiratory distress ec suspek
Transient Tachypnea of the Newborn + NBBLR 2100 gram. Diagnosis ditegakkan
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Pada kasus ini kehamilan ibu, berkisar antara 30-32 minggu, berdasarkan
hasil penilaian ballard score didapatkan hasil 29 menunjukan tanda-tanda
prematuritas seperti
- Kulit : tipis dan licin.
- Lanugo : sedikit lanugo pada daerah tak berambut
- Lipatan kaki : hanya lipatan 1/3 anterior yang melintang, samar.
- Payudara : putting susu terlihat samar tanpa areola
- Daun telinga : bentuknya lebih baik, lunak, mudah membalik
Menunjukan bahwa bayi ini premature yaitu kurang dari 37 minggu dan
penyebab bayi lahir prematur adalah impending eklamsi. Belum jelas penyebab
impending eklamsi, namun menurut beberapa teori mengatakan bahwa factor
hormone yang meningkat pada kehamilan menjadi penyebabnya. Oleh karena itu,
apabila terjadi impending eklamsi harus segera di akhiri kehamilannya.
Berat Badan lahir Rendah
Definisi berat lahir/Birth Weight adalah berat badan bayi baru lahir yang
ditimbang sejak 0-24 jam setelah lahir. Menurut World Health Organization
(WHO), ada beberapa klasifikasi dari berat lahir :
a. Berat Badan Lahir Normal adalah bayi dengan berat badan lahir diatas sama
dengan 2500 gram.
b. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) atau Low Birth Weight (LBW) adalah
bayi yang lahir dengan ukuran yang terlalu kecil dan memiliki berat lahir
kurang dari 2500 gram.
c. Berat Badan Lahir Sangat Rendah (BBLSR) atau Very Low Birth Weight
(VLBW) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 1500 gram dan biasanya
prematur.
d. Berat Badan Lahir Amat Sangat Rendah (BBLASR) atau Extremely Low
Birth Weight (ELBW) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 1000 gram.
Berdasarkan ukuran tubuhnya, neonatal diklasifikasikan sebagai berikut:

17
a. Sesuai dengan usia gestasi atau Appropriate for Gestational Age (AGA)
Merupakan ukuran tubuh bayi yang sesuai dengan perkembangan kematangan
masa gestasinya yang pada kurva pertumbuhan intrauterine terletak antara
persentil 10 dan persentil 90.
b. Kecil untuk usia gestasi atau Small for Gestational Age (SGA)
Merupakan ukuran tubuh bayi yang lebih kecil dari perkembangan
kematangan masa gestasinya yang pada kurva pertumbuhan intrauterine
terletak di bawah persentil 10.
c. Besar untuk usia gestasi atau Large for Gestational Age (LGA).
Merupakan ukuran tubuh bayi yang lebih besar atau terlampau besar jika
dibandingkan dengan kematangan masa gestasinya yang pada kurva
pertumbuhan intrauterin terletak di atas persentil 90.
Berat Badan Lahir Rendah atau dalam bahasa asing biasa disebut sebagai
Low Birth Weight merupakan suatu keadaan pada neonatus yang lahir dengan
keadaan yang terlalu kecil dan memiliki berat lahir di bawah 2500 gram.
Bayi dengan BBLR diakibatkan oleh kelahiran yang terlalu cepat/
prematur, dengan keadaan yang belum sesuai saatnya untuk lahir, bayi yang
dilahirkan dalam keadaan yang perkembangannya belum optimal atau tidak sesuai
usia gestasinya. Selain kelahiran bayi prematur, bayi BBLR juga banyak
diakibatkan karena mengalami pertumbuhan intrauterus yang lambat (Intrauterine
Growth Retardation/Restriction).
Berikut ini adalah beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya
BBLR, yaitu:
 Faktor Maternal
1. Faktor Demografi :
a. Usia ibu hamil.
b. Pendidikan.
c. Status Ekonomi.
d. Kondisi Lingkungan.
2. Faktor Biologi :
a. Masa Gestasi.
b. Paritas.
c. Interval kehamilan.
d. Berat badan dan status nutrisi ibu.

18
3. Faktor Medis :
a. Penyakit
Seperti malaria, anaemia, sipilis, infeksi TORCH, dan lain-lain.
b. Komplikasi kehamilan.
Komplikasi yang tejadi pada kehamilan seperti:
 Perdarahan antepartum.
 Pre-eklamsia berat.
 Eklamsia
c. Hidramnion.
d. Kehamilan kembar/ganda.
e. Kelainan kromosom
4) Faktor lain:
a. Rokok, alkohol dan narkotik.
b. Frekuensi Kunjungan Prenatal.
 Faktor janin
1) Erythroblastosis fetalis
2) Intra Uterine Growth Restriction (IUGR)
3) Genetik: ras, jenis kelamin, etnik.
4) Kelainan kardiovaskular.
 Faktor Plasenta
1) Solution plasenta, plasenta previa.
2) Infark, thrombosis.
3) Infeksi (chorioamnionitis, desiduitis, plasentitis)
Pada kasus ini didapatkan bahwa bayi dilahirkan dengan berat badan rendah
yaitu 2100 gram (berat badan kurang dari 2500 gram). Berdasarkan kurva
pertumbuhan Lubchenko menunjukan hasil berat badan sesuai dengan masa
kehamilan. Selain itu juga didapatkan kemungkinan faktor prediposisi berat badan
lahir rendah adalah karena komplikasi kehamilan yaitu impending eklamsi dimana
kehamilan harus segera diterminasi sebelum masanya (32 minggu/preterm).

Respiratory Distress Syndrome (Transient Tachypnea of Newborn)

19
Anamnesis bahwa pasien mengalami sesak nafas sejak lahir, disertai
merintih yang di dengar dengan stetoskop, nafas cuping hidung ada, retraksi
epigastrium ada dan hasil downe score yaitu 4 yang menunjukan respiratory
distress derajat ringan. Pemeriksaan fisik menunjukan pernafasannya 66x menit,
pada pemeriksaan thoraks : dyspnea, (+) retraksi epigastrium, merintih.
Berdasarkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan usia kehamilan
menunjukan bahwa adanya gangguan pernafsaan dan insidensi meningkat pada
bayi yang usia kehamilan kurang dari 32 minggu, ini sesuai dengan usia
kehamilan pada kasus ini adalah antar 30-32 minggu yang dapat menyebabkan
defisiensi surfaktan sehingga terjadi RDS. Faktor resiko yang memungkinkan
menyebabkan RDS adalah prematuritas dan lahir kembar. Dan dari pemeriksaan
radiologi kesan sesuai dengan TTN.
Terapi pada pasien ini diberikan atas indikasi adanya RDS :
1. Pertahankan suhu bayi 36,50-37,50 C
2. Jaga patensi jalan nafas, pertahankan oksigenasi adekuat Pa O2 50-70 mmHg
yang dicapai dengan menggunakan CPAP
3. Cairan: IVFD PG1 7cc/jam
4. Pemberian obat :
- Ampicilin sulbactam 2x100 mgIV
- Gentamisin 1x10 mg IV

20
DAFTAR PUSTAKA

1. Behrman, Kliegman, Jenson. Nelson’s Textbook of Pediatrics 17th ed.


Saunders. Philadelphia, Pennsylvania; 2004.

2. Cunnigham, F. G., Eastman N. J., Hellman L. M. Williams Obstetrics. 22nd


ed. United States: Mc Graw Hill. Philadelphia; 2004.

3. Donald, Mhairi G., Martha D. Mullett, Mary M. K. Seshia. Avery’s


Neonatology Pathophysiology & Management of the Newborn. 6th ed.
Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia, United States; 2005.

4. James, David K. MA, MD., Philip J. Steer. BSc, MD., Carl P. Weiner. MD.,
Bernard Gonik MD. High Risk Pregnancy Management and Options. 2nd ed.
W. London: B. Saunders; 2001.

5. Herry Garna, Pedoman Diagnosis dan Terapi, Ilmu Kesehatan Anak edisi 3.
Fakultas Kedokteran UNPAD, RS. Dr. Hasan Sadikin. Bandung: 2005
6. Waldo E Nelson, MD et al. 2000. Ilmu Kesehatan Anak edisi 15. Jakarta:
EGC.
7. Abdul L et al. 2003. Diagnosis Fisis Pada Anak. Edisi ke-2. Jakarta : CV
Sagung Seto.
8. Tricia Lacy Gomella, MD et al. 2004. Neonatology: Management,
Procedures, On-call Problems, Disease, and Drugs. 5th Edition. USA: Lange
Medical Books/McGraw-Hill

21