Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

“KONSEP PRINSIP BENCANA DAN KEJADIAN LUAR BIASA”


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Gadar & Manajemen Bencana
Dosen Pengampu: Rus Andraini,A.Kp.,MPH

Disusun Oleh:

FAJRIAH NUR RAHMADHANI (P07220117047)

NOVIA KARTIKA SARI (P07220117063)

TIARA RIZKI FITRIANI (P07220117075)

PRODI D-III KEPERAWATAN KELAS BALIKPAPAN


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN
KALIMANTAN TIMUR
TAHUN AJARAN
2018/2019
KATA PENGANTAR

Rasa syukur yang dalam kami sampaikan ke hadiran Tuhan Yang Maha
Pemurah, karena berkat kemurahan-Nya makalah ini dapat kami selesaikan.
Dalam penyelesaian makalah ini, kami banyak mengalami kesulitan, terutama
disebabkan oleh kurangnya pengetahuan yang menunjang. Kami menyadari
bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu
kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Makalah ini
berasal dari berbagai sumber. Semoga dengan selesainya makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman. Amin..

Balikpapan, 21 Januari 2019

Kelompok 7

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ 1


Daftar Isi.................................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 3
A. Latar Belakang ................................................................................................. 3
B. Rumusan Masalah ............................................................................................ 4
C. Tujuan Penulisan .............................................................................................. 5
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 6
A. Definisi Bencana .............................................................................................. 6
B. Jenis-Jenis Bencana ......................................................................................... 7
C. Kategori Bencana Dan Korbannya .................................................................. 8
D. Fase-Fase Dari Bencana ................................................................................... 8
E. Dampak Bencana Alam ................................................................................... 9
F. Prinsip-Prinsip Dalam Penatalaksanaan Bencana ............................................ 9
G. Pencegahan ...................................................................................................... 9
H. Komponen Yang Disiapkan Dalam Menghadapi Bencana ........................... 10
I. Pembagian Daerah Kejadian .......................................................................... 11
J. Definisi Kejadian Luar Biasa (KLB) ............................................................. 11
K. Kriteria Kejadian Luar Biasa (KLB) .............................................................. 12
L. Faktor Yang Mempengaruhi Timbulnya Kejadian Luar Biasa (KLB) .......... 13
M. Penanggulangan KLB .................................................................................... 14
N. Prosedur Penanggulangan KLB ..................................................................... 15
BAB III PENUTUP .............................................................................................. 17
A. Kesimpulan .................................................................................................... 17
B. Saran .............................................................................................................. 17
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 18

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara yang masih memiliki angka kejadian luar
biasa (KLB) penyakit menular dan keracunan yang cukup tinggi. Kondisi ini
menyebabkan perlunya peningkatan sistem kewaspadaan dini dan respon
terhadap KLB tersebut dengan langkah-langkah yang terprogram dan akurat,
sehingga proses penanggulangannya menjadi lebih cepat dan akurat pula.
Untuk dapat mewujudkan respon KLB yang cepat, diperlukan bekal
pengetahuan dan keterampilan yang cukup dari para petugas yang diterjunkan
ke lapangan. Kenyataan tersebut mendorong kebutuhan para petugas di
lapangan untuk memiliki pedoman penyelidikan dan penanggulangan KLB
yang terstruktur, sehingga memudahkan kinerja para petugas mengambil
langkah-langkah dalam rangka melakukan respon KLB.
Peristiwa bertambahnya penderita atau kematian yang disebabkan oleh
suatu penyakit di wilayah tertentu, kadang-kadang dapat merupakan kejadian
yang mengejutkan dan membuat panik masyarakat di wilayah itu. Secara
umum kejadian ini kita sebut sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), sedangkan
yang dimaksud dengan penyakit adalah semua penyakit menular yang dapat
menimbulkan KLB, penyakit yang disebabkan oleh keracunan makanan dan
keracunan lainnya. Penderita atau yang beresiko penyakit dapat menimbulkan
KLB dapat diketahui jika dilakukan pengamatan yang merupakan semua
kegiatan yang dilakukan secara teratur, teliti dan terus-menerus, meliputi
pengumpulan, pengolahan, analisa/interpretasi, penyajian data dan pelaporan.
Apabila hasil pengamatan menunjukkan adanya tersangka KLB, maka perlu
dilakukan penyelidikan epidemiologis yaitu semua kegiatan yang dilakukan
untuk mengenal sifat-sifat penyebab dan faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi terjadinya dan penyebarluasan KLB tersebut di samping
tindakan penanggulangan seperlunya. Hasil penyelidikan epidemiologis
mengarahkan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam upaya

3
penanggulangan KLB. Upaya penanggulangan ini meliputi pencegahan
penyebaran KLB, termasuk pengawasan usaha pencegahan tersebut dan
pemberantasan penyakitnya. Upaya penanggulangan KLB yang direncanakan
dengan cermat dan dilaksanakan oleh semua pihak yang terkait secara
terkoordinasi dapat menghentikan atau membatasi penyebarluasan KLB
sehingga tidak berkembang menjadi suatu wabah (Efendy Ferry, 2009).
Undang-Undang No. 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular
serta PP No. 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit
Menular mengatur agar setiap wabah penyakit menular atau situasi yang
dapat mengarah ke wabah penyakit menular (kejadian luar biasa – KLB)
harus ditangani secara dini. Sebagai acuan pelaksanaan teknis telah
diterbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1501/Menteri/Per/X/2010
tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu Yang Dapat Menimbulkan Wabah
dan Upaya Penanggulangan.
Dalam pasal 14 Permenkes Nomor 1501/Menteri/Per/X/2010
disebutkan bahwa upaya penanggulangan KLB dilakukan secara dini kurang
dari 24 (dua puluh empat) jam terhitung sejak terjadinya KLB. Oleh karena
itu disusun Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa
(KLB) Penyakit Menular dan Keracunan Pangan sebagai pedoman bagi
pelaksana baik di pusat maupun di daerah. Diperlukan program yang terarah
dan sistematis, yang mengatur secara jelas peran dan tanggung jawab di
semua tingkat administrasi, baik di daerah maupun di tingkat nasional dalam
penanggulangan KLB di lapangan, sehingga dalam pelaksanaannya dapat
mencapai hasil yang optimal.

B. Rumusan Masalah
1. Apa Definisi Bencana?
2. Apa Saja Jenis-Jenis Bencana?
3. Bagaimana Kategori Bencana dan Korbannya?
4. Apa Saja Fase-Fase dari Bencana?
5. Apa Saja Dampak Bencana Alam?

4
6. Apa Saja Prinsip-Prinsip dalam Penatalaksanaan Bencana?
7. Bagaimana Pencegahannya?
8. Apa Saja Komponen yang Disiapkan dalam Menghadapi Bencana?
9. Bagaimana Pembagian Daerah Kejadian?
10. Apa Definisi Kejadian Luar Biasa?
11. Apa Saja Kriteria Kejadian Luar Biasa?
12. Apa Saja Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya KLB?
13. Bagaimana Penanggulangan KLB?
14. Bagaimna Prosedur Penanggulangan KLB?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk Mengetahui Definisi Bencana
2. Untuk Mengetahui Jenis-Jenis Bencana
3. Untuk Mengetahui Kategori Bencana dan Korbannya
4. Untuk Mengetahui Fase-Fase Dari Bencana
5. Untuk Mengetahui Dampak Bencana Alam
6. Untuk Mengetahui Prinsip-Prinsip Dalam Penatalaksanaan Bencana
7. Untuk Mengetahui Pencegahannya
8. Untuk Mengetahui Komponen Yang Disiapkan Dalam Menghadapi
Bencana
9. Untuk Mengetahui Pembagian Daerah Kejadian
10. Untuk Mengetahui Definisi Kejadian Luar Biasa
11. Untuk Mengetahui Kriteria Kejadian Luar Biasa
12. Untuk Mengetahui Faktor Yang Mempengaruhi Timbulnya KLB
13. Untuk Mengetahui Penanggulangan KLB
14. Untuk Mengetahui Prosedur Penanggulangan KLB

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Bencana
Bencana adalah suatu kejadian, yang disebabkan oleh alam atau karena
ulah manusia, terjadi secara tiba-tiba atau perlahan-lahan, sehingga
menyebabkan hilangnya jiwa manusia, harta benda dan kerusakan
lingkungan, kejadian ini terjadi diluar kemampuan masyarakat dengan segala
sumberdayanya.
Menurut UU No. 24 tahun 2007 mendefinisikan bencana sebagai
“peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu
kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor
alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga
mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan,
kerugian harta benda, dan dampak psikologis”.

Definisi bencana seperti dipaparkan diatas mengandung tiga aspek


dasar, yaitu:
1. Terjadinya peristiwa atau gangguan yang mengancam dan merusak
(hazard).
2. Peristiwa atau gangguan tersebut mengancam kehidupan, penghidupan,
dan fungsi dari masyarakat.
3. Ancaman tersebut mengakibatkan korban dan melampaui kemampuan
masyarakat untuk mengatasi dengan sumber daya mereka.

Bencana dapat terjadi, karena ada dua kondisi yaitu adanya peristiwa
atau gangguan yang mengancam dan merusak (hazard) dan kerentanan
(vulnerability) masyarakat. Bila terjadi hazard, tetapi masyarakat tidak rentan,
maka berarti masyarakat dapat mengatasi sendiri peristiwa yang mengganggu,
sementara bila kondisi masyarakat rentan, tetapi tidak terjadi peristiwa yang
mengancam maka tidak akan terjadi bencana.

6
B. Jenis-jenis Bencana
Bencana terdiri dari berbagai bentuk. UU No. 24 tahun 2007
mengelompokan bencana ke dalam tiga kategori yaitu:
1. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa
gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan,
dan tanah longsor.
2. Bencana non-alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
rangkaian peristiwa non-alam yang antara lain berupa gagal teknologi,
gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.
3. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi
konflik sosial antarkelompok atau antar komunitas masyarakat, dan teror.

Ethiopian Disaster Preparedness and Prevention Commission (DPPC)


mengelompokkan bencana berdasarkan jenis hazard (bencana), yang terdiri
dari:
1. Natural hazard. Ini adalah hazard karena proses alam yang manusia tidak
atau sedikit memiliki kendali. Manusia dapat meminimalisir dampak
hazard dengan mengembangkan kebijakan yang sesuai, seperti tata ruang
dan wilayah, prasyarat bangunan, dan sebagainya.
2. Human made hazard. Ini adalah hazard sebagai akibat aktivitas manusia
yang mengakibatkan kerusakan dan kerugian fisik, sosial, ekonomi, dan
lingkungan.
Hazard ini mencakup :
a) Technological hazard sebagai akibat kecelakaan industrial, prosedur
yang berbahaya, dan kegagalan infrastruktur. Bentuk dari hazard ini
adalah polusi air dan udara, paparan radioaktif, ledakan, dan
sebagainya.

7
b) Environmental degradation yang terjadi karena tindakan dan aktivitas
manusia sehingga merusak sumber daya lingkungan dan keragaman
hayati dan berakibat lebih jauh terganggunya ekosistem.
c) Conflict adalah hazard karena perilaku kelompok manusia pada
kelompok yang lain sehingga menimbulkan kekerasan dan kerusakan
pada komunitas yang lebih luas.

C. Kategori Bencana dan Korbannya


Keadaan bencana dapat digolongkan berdasarkan jumlah korban yang
mencakup:
1. Mass patient incident (jumlah korban yang datang ke UGD kurang dari 10
orang).
2. Multiple cassuality incident (jumlah korban yang datang ke UGD antara
10 dan 100 orang).
3. Mass cassuality incident (jumlah korban yang datang ke UGD lebih dari
100 orang).

D. Fase-fase dari Bencana


1. Pra-dampak: dimulai sejak awitan bencana, jika kejadian ini sudah
diketahui terlebih dahulu. Fase pra-dampak didefinisikan sebagai periode
yang pada saat itu kita mengantisipasi dan diperingatkan
2. Dampak: periode selam bencana terjadi, berlanjut hingga dimulainya fase
paska dampak. Fase ini juga dikenal sebagai penyelamatan. Pada saat ini
pengkajian penting harus dilakukan yaitu mengevaluasi besarnya kerugian,
identifikasi sumber daya yang ada, dan merencanakan penyelamatan
korban. Fase ini bisa berlangsung singkat.
3. Pasca-dampak: disebut fase pemulihan. Selama fase ini, besarnya kerugian
sudah dievaluasi dan penyelamatan korban telah selesai dilaksanakan,
kerusakn lebih lanjut sudah diminimalka. Fase ini dapat menjadi fase yang
paling lama.

8
E. Dampak Bencana Alam
Bencana alam dapat mengakibatkan dampak yang merusak pada bidang
ekonomi, social dan lingkungan. Kerusakan infrastruktur dapat mengganggu
aktivitas social, dampak dalam bidang sosial mencakup kematian, luka-luka,
sakit, hilangnya tempat tinggal dan kekacauan komunikasi, sementara
kerusakan lingkungan dapat mencakup hancurnya hutan yang melindungi
daratan.

F. Prinsip-prinsip dalam Penatalaksanaan Bencana


Ada 8 prinsip penatalaksanaan bencana, yaitu:
1. Mencegah berulangnya kejadian
2. Meminimalkan jumlah korban
3. Mencegah korban selanjutnya
4. Menyelamatkan korban yang cedera
5. Memberikan pertolongan pertama
6. Mengevakuasi korban yang cidera
7. Memberikan perawatan definitive
8. Memperlancar rekonstruksi atau pemulihan.

G. Pencegahan
Tercapainya suatu pelayanan kesehatan yang optimal, terarah dan
terpadu bagi setiap anggota masyarakat yang berada dalam keadaan gawat
darurat. Upaya pelayanan kesehatan pada penderita gawat darurat pada
dasarnya mencakup suatu rangkaian kegiatan yang harus dikembangkan
sedemikian rupa sehingga mampu mencegah kematian atau cacat yang
mungkin terjadi. Cakupan pelayanan kesehatan yang perlu dikembangkan
meliputi:
1. Penanggulangan penderita ditempat kejadian
2. Transpotasi penderita gawat darurat dan tempat kejadian kesarana
kesehatan yang lebih memadai

9
3. Upaya penyediaan sarana komunikasi untuk menunjang kegiatan
penanggulangan penderita gawat darurat
4. Upaya rujukan ilmu pengetahuan, pasien dan tenaga ahli
5. Upaya penanggulangan pendereita gawat darurat ditempat rujukan (Unit
Gawat Darurat dan ICU)
6. Upaya pembiayaan penderita gawat darurat.

H. Komponen yang Disiapkan dalam Menghadapi Bencana


Persiapan masyarakat, triage lapangan, persiapan Rumah Sakit, dan
persiapan UGD.
1. Perencanaan menghadapi bencana akan mencakup banyak sumber daya:
a) Pejabat polisi, pemadam kebakaran, pertahanan sipil, pamong praja
terutama yang terlibat dalam penanganan bencana dan bahan
berbahaya.
b) Harus sering dilatih dan di evaluasi.
c) Memperhitungkan gangguan komunikasi, misalnya karena jaringan
telepon rusak atau sibuk.
d) Mempunyai pusat penyimpanan perbekalan, tergantung dari jenis
bencana yang di duga dapat terjadi.
e) Mencakup semua aspek pelayanan kesehatan dari pertolongan pertama
sampai terapi definitip.
f) Mempersiapkan transportasi penderita apabila kemampuan local
terbatas.
g) Memperhitungkan penderita yang sudah di rawat untuk kemudian di
rujuk karena masalah lain.
2. Perencanaan Pada Tingkat Rumah Sakit
Perencanaan bencana rumah sakit harus mulai dilaksanakan meliputi:
a) Pemberitahuan kepada semua petugas.
b) Kesiapan daerah triase dan terapi.
c) Klasifikasi penderita yang sudah di rawat, untuk penentuan sumber
daya.

10
d) Pemeriksaan perbekalan (darah, cairan IV, medikasi) dan bahan lain
(makanan, air, listrik, komunikasi) yang mutlak di perlukan rumah
sakit.
e) Persiapan dekontaminasi (bila diperlukan).
f) Persiapan masalah keamanan.
g) Persiapan pembentukan pusat hubungan masyarakat.

I. Pembagian Daerah Kejadian


Di tempat kejadian atau musibah masal, selalu terbagi atas:
1. Area 1: Daerah kejadian (Hot zone)
Daerah terlarang kecuali untuk tugas penyelamat (rescue) yang sudah
memakai alat proteksi yang sudah benar dan sudah mendapat ijin masuk
dari komandan di area ini.
2. Area 2: Daerah terbatas (Warm zone)
Di luar area 1, hanya boleh di masuki petugas khusus, seperti tim
kesehatan, dekotanminasi, petugas atau pun pasien. Pos komando utama
dan sektor kesehatan harus ada pada area ini.
3. Area 3: Daerah bebas (Cold zone)
Di luar area 2, tamu, wartawan, masyarakat umum dapat berada di zone ini
karena jaraknya sudah aman. Pengambilan keputusan untuk pembagian
area itu adakah komando utama.

J. Definisi Kejadian Luar Biasa (KLB)


Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1501/MENKES/PER/X/2010, Kejadian Luar Biasa adalah timbulnya atau
meningkatnya kejadian kesakitan dan/atau kematian yang bermakna secara
epidemiologi pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu dan merupakan
keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah.
Selain itu, Mentri Kesehatan RI (2010) membatasi pengertian wabah
sebagai berikut: “Kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam
masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi

11
daripada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat
menimbulkan malapetaka”.
Istilah wabah dan KLB memiliki persamaan, yaitu peningkatan kasus
yang melebihi situasi yang lazim atau normal, namun wabah memiliki
konotasi keadaan yang sudah kritis, gawat atau berbahaya, melibatkan
populasi yang banyak pada wilayah yang lebih luas.

Batasan KLB meliputi arti yang luas, yang dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Meliputi semua kejadian penyakit, dapat suatu penyakit infeksi akut kronis
ataupun penyakit non infeksi.
2. Tidak ada batasan yang dapat dipakai secara umum untuk menentukan
jumlah penderita yang dapat dikatakan sebagai KLB. Hal ini selain karena
jumlah kasus sangat tergantung dari jenis dan agen penyebabnya, juga
karena keadaan penyakit akan bervariasi menurut tempat (tempat tinggal,
pekerjaan) dan waktu (yang berhubungan dengan keadaan iklim) dan
pengalaman keadaan penyakit tersebut sebelumnya.
3. Tidak ada batasan yang spesifik mengenai luas daerah yang dapat dipakai
untuk menentukan KLB, apakah dusun desa, kecamatan, kabupaten atau
meluas satu propinsi dan Negara. Luasnya daerah sangat tergantung dari
cara penularan penyakit tersebut.
4. Waktu yang digunakan untuk menentukan KLB juga bervariasi. KLB
dapat terjadi dalam beberapa jam, beberapa hari atau minggu atau
beberapa bulan maupun tahun.

K. Kriteria Kejadian Luar Biasa (KLB)


Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
No.1501/MENKES/PER/X/2010, suatu derah dapat ditetapkan dalam
keadaan KLB apabila memenuhi salah satu kriteria sebagai berikut:
1. Timbulnya suatu penyakit menular tertentu yang sebelumnya tidak ada
atau tidak dikenal pada suatu daerah.

12
2. Peningkatan kejadian kesakitan terus-menerus selama 3 (tiga) kurun waktu
dalam jam, hari atau minggu berturut-turut menurut jenis penyakitnya.
3. Peningkatan kejadian kesakitan dua kali atau lebih dibandingkan dengan
periode sebelumnya dalam kurun waktu jam, hari, atau minggu menurut
jenis penyakitnya.
4. Jumlah penderita baru dalam periode waktu 1 (satu) bulan menunjukkan
kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata jumlah
per bulan dalam tahun sebelumnya.
5. Rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan selama 1 (satu) tahun
menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan rata-rata
jumlah kejadian kesakitan perbulan pada tahun sebelumnya.
6. Angka kematian kasus suatu penyakit (Case Fatality Rate) dalam 1 (satu)
kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% (lima puluh persen) atau
lebih dibandingkan dengan angka kematian kasus suatu penyakit periode
sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.
7. Angka proporsi penyakit (Proportional Rate) penderita baru pada satu
periode menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibanding satu periode
sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.

L. Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Kejadian Luar Biasa (KLB)


Menurut Notoatmojo (2003), faktor yang mempengaruhi timbulnya
Kejadian Luar Biasa adalah :
1. Herd Immunity yang rendah
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya KLB/ wabah
adalah herd immunity. Secara umum dapat dikatakan bahwa herd immunity
ialah kekebalan yang dimiliki oleh sebagian penduduk yang dapat
menghalangi penyebaran. Hal ini dapat disamakan dengan tingkat
kekebalan individu. Makin tinggi tingkat kekebalan seseorang, makin sulit
terkena penyakit tersebut.
2. Patogenesitas

13
Patogenesitas merupakan kemampuan bibit penyakit untuk
menimbulkan reaksi pada pejamu sehingga timbul sakit.
3. Lingkungan Yang Buruk
Seluruh kondisi yang terdapat di sekitar organisme, tetapi
mempengaruhi kehidupan ataupun perkembangan organisme tersebut.

M. Penanggulangan KLB
Penanggulangan dilakukan melalui kegiatan yang secara terpadu oleh
pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat, meliputi:
1. Penyelidikan epidemilogis
Penyelidikan epidemiologi pada Kejadian Luar Biasa adalah untuk
mengetahui keadaan penyebab KLB dengan mengidentifikasi faktor-faktor
yang berkontribusi terhadap kejadian tersebut, termasuk aspek sosial dan
perilaku sehingga dapat diketahui cara penanggulangan dan pengendaian
yang efektif dan efisien (Anonim, 2004 dalam Wuryanto, 2009).
2. Pemeriksaan, pengobatan, perawatan, dan isolasi penderita termasuk
tindakan karantina.
Tujuannya adalah:
a) Memberikan pertolongan medis kepada penderita agar sembuh dan
mencegah agar mereka tidak menjadi sumber penularan.
b) Menemukan dan mengobati orang yang tampaknya sehat, tetapi
mengandung penyebab penyakit sehingga secara potensial dapat
menularkan penyakit (carrier).
3. Pencegahan dan pengendalian
Merupakan tindakan yang dilakukan untuk memberi perlindungan
kepada orang-orang yang belum sakit, tetapi mempunyai resiko terkena
penyakit agar jangan sampai terjangkit penyakit.
4. Pemusnahan penyebab penyakit
Pemusnahan penyebab penyakit terutama pemusnahan terhadap bibit
penyakit/kuman dan hewan tumbuh-tumbuhan atau benda yang
mengandung bibit penyakit.

14
5. Penanganan jenazah akibat wabah
Terhadap jenazah akibat penyebab wabah perlu penanganan secara
khusus menurut jenis penyakitnya untuk menghindarkan penularan
penyakit pada orang lain.
6. Penyuluhan kepada masyarakat
Penyuluhan kepada masyarakat, yaitu kegiatan komunikasi yang
bersifat persuasif edukatif tentang penyakit yang dapat menimbulkan
wabah agar mereka mengerti sifat-sifat penyakit, sehingga dapat
melindungi diri dari penyakit tersebut dan apabila terkena, tidak
menularkannya kepada orang lain. Penyuluhan juga dilakukan agar
masyarakat dapat berperan serta aktif dalam menanggulangi wabah.
7. Upaya penanggulangan lainnya
Upaya penanggulangan lainya adalah tindakan-tindakan khusus
masing-masing penyakit yang dilakukan dalam rangka penanggulangan
wabah. (Menteri Kesehatan RI, 2010).

N. Prosedur Penanggulangan KLB


1. Masa pra KLB
Informasi kemungkinan akan terjadinya KLB / wabah adalah dengan
melaksanakan Sistem Kewaspadaan Dini secara cermat, selain itu
melakukakukan langkah-langkah lainnya:
a) Meningkatkan kewaspadaan dini di puskesmas baik SKD, tenaga dan
logistic
b) Membentuk dan melatih TIM Gerak Cepat puskesmas
c) Mengintensifkan penyuluhan kesehatan pada masyarakat
d) Memperbaiki kerja laboratorium
e) Meningkatkan kerjasama dengan instansi lain
2. Pengendalian KLB
Tindakan pengendalian KLB meliputi pencegahan terjadinya KLB
pada populasi, tempat dan waktu yang berisiko (Bres, 1986). Dengan
demikian untuk pengendalian KLB selain diketahuinya etiologi, sumber

15
dan cara penularan penyakit masih diperlukan informasi lain. Informasi
tersebut meliputi:
a) Keadaan penyebab KLB
b) Kecenderungan jangka panjang penyakit
c) Daerah yang berisiko untuk terjadi KLB (tempat)
d) Populasi yang berisiko (orang, keadaan imunitas)

16
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bencana adalah suatu kejadian, yang disebabkan oleh alam atau karena
ulah manusia, terjadi secara tiba-tiba atau perlahan-lahan, sehingga
menyebabkan hilangnya jiwa manusia, harta benda dan kerusakan
lingkungan, kejadian ini terjadi diluar kemampuan masyarakat dengan segala
sumberdayanya.
Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah salah satu status yang diterapkan di
Indonesia untuk mengklasifikasikan peristiwa merebaknya suatu wabah
penyakit.
Penanggulangan KLB dikenal dengan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD-
KLB), yang dapat diartikan sebagai suatu upaya pencegahan dan
penanggulangan KLB secara dini dengan melakukan kegiatan untuk
mengantisipasi KLB.

B. Saran
Penyusun mengetahui bahwa makalah ini sangat jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu saran dan kritik sangat kami harapkan agar
makalah ini bisa lebih baik lagi dan bisa menjadi pembelajaran untuk kami di
kemudian hari.

17
DAFTAR PUSTAKA

Adam. 2013. Konsep Dasar Bencana.


(http://adamorangbaik.blogspot.com/2013/04/konsep-dasar-bencana.html
Diakses pada tanggal 21 Januari 2019 pukul 12.00 WITA
C. Long Barbara. 1996. Perawatan Medikal Bedah. Yayasan Ikatan Alumni
Pendidikan Keperawatan Padjajaran Bandung.
Hidayat. 2014. Kejadian Luar Biasa.
(https://aepnurulhidayat.wordpress.com/2014/06/20/kejadian-luar-biasa-
klb/)
Diakses pada tanggal 21 Januari 2019 pukul 14.10 WITA
Kusuma. 2014. Makalah Kejadian Luar Biasa.
(http://tyaarumkusuma.blogspot.com/2014/11/makalah-kejadian-luar-
biasa-klb-dan.html)
Diakses pada tanggal 21 Januari 2019 pukul 12.17 WITA
Nurjannah, dkk. 2013. Manajemen Bencana. Penerbit Alfa Beta, Bandung.
Prameswari. 2016. Makalah Keperawatan Gadar dan Manajemen Bencana
Bencana Alam dan Penanganan KLB.
(http://www.academia.edu/29341820/MAKALAH_KEPERAWATAN_
GADAR_DAN_MANAJEMEN_BENCANA_BENCANA_ALAM_DA
N_PENANGANAN_KLB)
Diakses pada tanggal 21 Januari 2019 pukul 14.45 WITA

18