Anda di halaman 1dari 5

1.

Pengertian Komunikasi Terapeutik

Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses penyembuhan klien (Depkes RI,
1997). Dalam pengertian lain mengatakan bahwa komunikasi terapeutik adalah proses yang digunakan
oleh perawat memakai pendekatan yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya
dipusatkan pada klien. Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak
saling memberikan pengertian antara perawat dengan klien. Persoalan yang mendasar dari komunikasi
ini adalah adanya saling membutuhkan antara perawat dan klien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam
komunikasi pribadi di antara perawat dan klien, perawat membantu dan klien menerima bantuan.

2. Fungsi Komunikasi Terapeutik

Fungsi komunikasi terapeutik adalah:

Mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dan pasien

Mengidentivikasi,atau mengungkap perasan dan mengkaji masalah serta mengevaluasi tindakan yg di


lakukan perawat.

Memberikan pengertian tingkalaku pasien dan membantu pasien mengatasi masalah yang di hadapi.

Mencegah tindakan yang negatif terhadap pertahanan diri pasien.

3.Tujuan Komunikasi Terapeutik

– Realisasi diri,penerimaan diri dan peningkatan penghormatan diri

– Kemampuan membina hubungan interpersonal yang tidak superfisial dan salin bergantung dengan
orang tua lain

– Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan yang
realistik

– Peningkatan identitas dan integritas diri


4. Pengertian Ventilator

Ventilasi mekanik dengan alatnya yang disebut ventilator adalah suatu alat bantu mekanik yang
berfungsi memberikan bantuan napas pasien dengan cara memberikan tekanan udara positif pada paru-
paru melalui jalan nafas buatan dan menunjang fungsi pernapasan yang normal. Ventilasi mekanik
merupakan peralatan “wajib” pada unit perawatan intensif atau ICU. ( Corwin, Elizabeth J, 2001).

5.Tujuan Pemasangan Ventilator

Mengurangi kerja pernapasan

Meningkatkan tingkat kenyamanan pasien

Pemberian MV yang akurat

Mengatasi ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi

Menjamin hantaran O2 ke jaringan adekuat

6. Indikasi Pemasangan Ventilalator

Pasien dengan gagal nafas.

Pasien dengan distres pernafasan gagal nafas, henti nafas (apneu) maupun hipoksemia yang tidak
teratasi dengan pemberian oksigen merupakan indikasi ventilasi mekanik

Insufisiensi jantung.

Tidak semua pasien dengan ventilasi mekanik memiliki kelainan pernafasan primer. Pada pasien dengan
syok kardiogenik dan CHF, peningkatan kebutuhan aliran darah pada sistem pernafasan (sebagai akibat
peningkatan kerja nafas dan konsumsi oksigen) dapat mengakibatkan jantung kolaps. Pemberian ventilasi
mekanik untuk mengurangi beban kerja sistem pernafasan sehingga beban kerja jantung juga berkurang.

Disfungsi neurologis
Pasien dengan GCS 8 atau kurang yang beresiko mengalami apneu berulang juga mendapatkan ventilasi
mekanik. Selain itu ventilasi mekanik juga berfungsi untuk menjaga jalan nafas pasien serta
memungkinkan pemberian hiperventilasi pada klien dengan peningkatan tekanan intra cranial.

Tindakan operasi

Tindakan operasi yang membutuhkan penggunaan anestesi dan sedative sangat terbantu dengan
keberadaan alat ini. Resiko terjadinya gagal napas selama operasi akibat pengaruh obat sedative sudah
bisa tertangani dengan keberadaan ventilasi mekanik.

7. Teknik dalam berkomunikasi terapeutik pada pasien dengan pemasangan ventilator

1) Melihat secara aktif

Memusatkan perhatian secara nonverbal yang disampaikan klien. Walaupun dalam keadaan yang tidak
memungkinkan untuk berbicara,pasien masih perlu tetap berkomunikasi dengan perawat. Karena itu
penting untuk menyediakan media komunikasi seperti gambar-gambar,kartu,kertas,pulpen. Komunikasi
juga dilakukan dengan bahasa isyarat seperti gerakan tangan.

2) Sabar

Dalam berkomunikasi dengan pasien pemasangan ventilator perawat harus sabar mencerna maksud dari
perkataan pasien,karena mereka sebetulnya ingin mengutarakan pesan/maksudnya tapi terhalang oleh
alat.

3) Berbagi hasil observasi dengan klien.

Berbagi hasil observasi berbeda dengan asumsi. Saat berbagi observasi, perawat menggunakan bahasa
yang lebih halus dan tidak menyinggung perasaan klien.
4) Berbagi empati

Kemampuan untuk memahami dan menerima realita seseorang,merasakan perasaan dengan tepat.

5) Berbagi harapan.

Contoh : Perawat berkata kepada klien yang murung tentang prognosisnya yang buruk “saya yakin anda
akan menemukan jalan untuk menghadapi situasi ini, karena saya melihat keberanian dan kreativitas
anda sebelumnya”.

6) Berbagi perasaan.

Perawat membantu klien mengekspresikan emosi dengan melakukan observasi, mengetahui perasaan,
mendorong komunikasi, mengijinkan pengekspresian perasaan “negatif”, dan member contoh ekspresi
emosional diri yang sehat Contoh. Perawat bertanya pada pasien yang sedang murung.

7) Berbagi menggunakan sentuhan.

Sentuhan menyampaikan pesan seperti perhatian, dukungan, dorongan,kelembutan, dan perhatian


pribadi .

8) Mengklarifikasikan tujuan

Untuk memastikan telah terbentuknya pemahaman klien

9) Fokus
Diperlukan untuk memfokuskan perhatian dari unsur penting suatu pesan. Perawat menggunakan tehnik
pemfokusan untuk membimbing arah percakapan kebidang yang penting,.

10) Menyimpulkan.

Memberikan kepuasan pada akhir percakapan dan sangat berguna pada fase terminasi dari hubungan
perawat dan klien. Menyimpulkan adalah tinjauan singkat dari aspek penting suatu interaksi untuk
menentukan kepastian.