Anda di halaman 1dari 25

TUGAS MATA KULIAH: DINAMIKA EKOSISTEM PERAIRAN

Dosen Pengampu: Dr. Ir. Mohammad Mahmudi, MS

DINAMIKA EKOSISTEM ESTUARI

Disusun oleh :
Achmad Mufti
Desy Emilyasari 156080100111022
Indra Suryawinata 156080100111011
Mikchael A.P Panjaitan
Muhammad Rezki Fauzi

PROGRAM PASCASARJANA BUDIDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Estuari adalah jenis perairan yang memiliki variasi yang tinggi ditinjau dari
faktor fisik, kimia, biologi, ekologi dan jenis habitat yang terbentuk di dalamnya.
Oleh karena itu interaksi antara komponen fisik, kimia dan biologi yang
membentuk suatu ekosistem sangat kompleks. Hal ini disebabkan karena
dinamika dari estuari sangat besar, baik dalam skala waktu yang pendek karena
adanya pasang surut maupun dalam skala waktu yang panjang karena adanya
pergantian musim.
Pada ekosistem estuari ini terbentuk habitat-habitat yang memiliki ciri
khas tersendiri dengan organisme-organisme penyusunnya yang spesifik seperti
Habitat Rawa Asin. Oleh karena itu ekosistem estuari sangat erat kaitannya
dengan habitat rawa asin. Hal ini disebabkan karena organisme tersebut harus
mampu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Respon dari tingkah
laku organisme tersebut dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya juga
beragam dan memiliki ciri khas tersendiri. Pada batas ambang toleransi
organisme terhadap lingkungan membatasi keberadaannya di suatu organisme.
Organisme yang mampu bertahap pada kondisi fisik dan kimia perairan dapat
tetap hidup dan tinggal nyaman di habitatnya, tetapi bagi organisme yang tidak
mampu bertahan pada ambang toleransinya akan menjadi organisme
pengunjung transisi, dimana pada saat sesuai dengan batas ambangnya
organisme ini akan masuk ke habitat di estuari, tetapi jika tidak maka organisme
ini akan meninggalkan daerah estuari ini.
Seperti halnya pada setiap ekosistem, pada ekosistem estuari ini juga
dibentuk oleh komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi satu sama
lain. Keanekaragaman komponen biotik dan abiotik yang terdapat di dalamnya
menyebabkan terjadinya interaksi yang cukup kompleks dan menarik untuk
diteliti. Namun ekosistem estuari ini ternyata tidak cukup dikenal oleh masyarakat
pada umumnya dan jarang sekali dibahas atau disosialisasikan, padahal
ekosistem estuari ini memiliki keanekaragaman yang cukup tinggi.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah mengenai Ekosistem Estuari ini
adalah sebagai berikut :
- Untuk mengetahui dan memahami komposisi organisme laut di daerah
estuari
- Untuk mengetahui komponen – komponen biotik dan abiotik dalam daerah
muara ( estuari) beserta interaksi/ hubungan timbal balik yang terbentuk
didalamnya.
- Untuk mengetahui keanekaragaman organisme dan adaptasi organisme
(makhluk hidup) yang terdapat dalam daerah estuary terhadap
lingkungannya.
- Memperkenalkan dan memberikan informasi mengenai ekosistem estuari.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Ekosistem Estuari


Ekosistem estuari merupakan bagian dari ekosistem air laut yang
terdapat dalam zona litoral ( kelompok ekosistem pantai ). Estuari berasal dari
kata aetus yang artinya pasang-surut. Estuari didefinisikan sebagai badan air di
wilayah pantai yang setengah tertutup, yang berhubungan dengan laut bebas.
Lingkungan estuari merupakan peralihan antara darat dan laut yang sangat di
pengaruhi oleh pasang surut, seperti halnya pantai, namun umumnya terlindung
dari pengaruh gelombang laut. Lingkungan estuari umumnya merupakan pantai
tertutup atau semi terbuka ataupun terlindung oleh pulau-pulau kecil, terumbu
karang dan bahkan gundukan pasir dan tanah liat. Kita mungkin sering melihat
hamparan daratan yang luas pada daerah dekat muara sungai saat surut. Itu
adalah salah satu dari sekian banyak tipe estuari yang ada . Tidak terlalu sulit
untuk memilah atau menetukan batas lingkungan estuari dalam suatu kawasan
tertentu. Hanya dengan melihat sumber air tawar yang ada di sekitar pantai dan
juga dengan mengukur salinitas perairan tersebut. Karena perairan estuari
mempunyai salinitas yang lebih rendah dari lautan dan lebih tinggi dari air tawar.
Kisarannya antara 5 – 25 ppm.
Estuaria adalah suatu perairan semi tertutup yang berada di bagian hilir
sungai dan masih berhubungan dengan laut, sehingga memungkinkan terjadinya
percampuran antara air tawar dan air laut (Dahuri, 2004; Efrieldi, 1999). Atau
merupakan daerah pertemuan massa air asin dan air tawar, yang secara periodik
berubah-ubah karena adanya percampuran. Percampuran ini menyebabkan
zona lingkungan dikawasan muara sungai sangat labil. Walaupun demikian
kawasan ini merupakan daerah yang sangat produktif karena input nutrient dari
daratan yang dibawa oleh aliran sungai (Thoha, 2007).
Estuari mempunyai kelebihan nilai alami berupa beberapa karakteristik
fisik yang secara sendiri-sendiri ataupun berkombinasi satu sama lain
menghasilkan suatu fungsi khas. Karakteristik tersebut adalah: lingkungan yang
relatif terlindung dari ombak, kedangkalan dalam hubungannya dengan
tumbuhan litoral dan biota dasar, salinitas yang khas sehubungan dengan
masukan air tawar, sirkulasi air yang dinamis dan pasang-surut dalam kaitannya
dengan transport nutrien dan pembilasan limbah, peranannya dalam tingkah laku
makan dan reproduksi biota, serta adanya mekanisme perangkap yang
menjadikan estuari sebagai gudang nutrien (nutrien storage) (Clark, 1974; Clark,
1996).
Secara umum estuaria mempunyai peran ekologis penting antara lain :
sebagai sumber zat hara dan bahan organik yang diangkut lewat sirkulasi
pasang surut (tidal circulation), penyedia habitat bagi sejumlah spesies hewan
yang bergantung pada estuaria sebagai tempat berlindung dan tempat mencari
makanan (feeding ground) dan sebagai tempat untuk bereproduksi dan/atau
tempat tumbuh besar (nursery ground) terutama bagi sejumlah spesies ikan dan
udang. Perairan estuaria secara umum dimanfaatkan manusia untuk tempat
pemukiman, tempat penangkapan dan budidaya sumberdaya ikan, jalur
transportasi, pelabuhan dan kawasan industri (Bengen, 2004).

2.2 Tipe Estuaria


Secara umum estuari dapat dibagi dalam dua jenis, yaitu:
1. Estuari positif adalah suatu estuari dimana air tawar yang masuk dari
sangai dan hujan lebih banyak dibandingkan dengan penguapan, sehingga
salinitas permukaan lebih rendah daripada laut terbuka. Kebanyakan
estuari yang ada adalah estuari positif.
2. Estuari negatif yaitu penguapan lebih besar daripada aliran sungai dan
hujan, karena itu akan terjadi keadaan “asin berlebih” atau hypersaline.

2.2.1 Penggolongan Estuaria Berdasarkan Pencampuran Air


 Estuaria positif adalah perairan di mana jumlah air tawar yang masuk
lebih besar daripada penguapan air laut maka air tawar berada di atas air
laut sehingga menimbulkan pergerakan air laut ke atas mengikuti pola
percampuran air tawar dan air laut. Hal ini terjadi pada bulan Oktober
sampai Februari.
 Estuaria negatif adalah perairan yang memiliki penguapan air laut lebih
besar daripada pemasukan air tawar, sehingga menimbulkan peregerakan
air laut dari atas ke bawah. Hal ini terjadi pada bulan April- Agustus.
 Estuaria netral adalah perairan yang mengalami percampuran air karena
adanya penghadangan air laut terhadap air tawar yang datang. Hal ini
terjadi pada bulan Maret dan bulan September.
2.2.2 Penggolongan Estuaria Berdasarkan Topografi
 Drowned river valleys, yaitu tipe estuaria yang berbentuk lembah, banyak
dijumpai di daerah temperate. Kedalaman estuaria umumnya raetip dalam,
bias mencapai sekitar 30 m. Masukan air tawar dari sungai relatip kecil
dibandingkan dengan volume air laut ketika pasang.
 Estuaria yang berbentuk fjord, yaitu profile lembahnya berbentuk huruf U.
Seperti halnya Drowned river valley, estuaria fjord ini juga banyak dijumpai
di daerah temperate dan terbentuk akibat pelelehan gunung es (glaciers)
ketika jaman Pleistocene. Di mulut esturia biasanya terdapat sill (dataran
lembah yang mencuat), sehingga perairan di bagian tersebut cukup
dangkal. Sedangkan kedalaman lembah (water basin) di bawah sill sangat
dalam, bias mencapai sekitar 300-400 m, bahkan ada yang mencapai 800
m. masukan air tawar dari sungai relative besar dibandingkan dengan
volume air laut ketika pasang, sedangkan yang keluar dari sungai
dibandingkan dengan total volume fjord relative kecil.
 Bar-built estuaries, yaitu estuaria yang hubungannya dengan laut lepas
dibatasi dengan timbunan atau palung pasir, yang biasanya berbentuk
lonjong sejajar pantai. Kedalaman estuaria ini biasanya dangkal, hanya
beberapa meter saja dan sering mempunyai goba atau laguna yang
ekstensif, serta jalan keluar air di mulut estuaria yang sangat dangkal. Tipe
ini banyak dijumpai di daerah tropis atau daerah-daerah yang pantainya
aktif menerima endapan sedimen. Estuaria yang dihasilkan oleh proses
tektonik, seperti patahan atau tenggelamnya permukaan tanah, yang
memungkinkan terjadinya aliran air tawar ( Abdurahim, 2009 ).

2.2.3 Penggolongan Estuaria Berdasarkan Distribusi Salinitas :


(Supriharyono. 2009 )
 The highly stratifies estuary (salt wedge estuary), air laut masuk ke sungai
seperti taji (menukik ke dasar), sedangkan air tawar menuju ke laut melalui
permukaan air laut yang masuk. Ketika pencampuran selesai, maka
terbentuklah strata atau lapisan air, yang mana bagian bawah adalah air
laut.
 The highly stratifies estuary (fjord type), estuaria ini pada prinsipnya sama
dengan tipe estuaria sebelumnya (salt wedge estuary), kecuali adanya sill
di mulut fjord sehingga arus pasang lebih ketat. Air tawar secara terus-
menerus keluar melalui permukaan, tetapi penggantian arus pasang
mungkin hanya terjadi tahunan dan tidak menentu, sehingga kondisi
oksigen terlarut di dekat dasar fjord biasanya.
 Partially mixed estuary, estuaria ini dicirikan dengan efisiensi pertukaran
air asin dan air tawar. Permukaan air tidak begitu asin dibandingkan
bagian dasar perairan. Pencampuran air masuk dari dasar perairan dan
keluar melalui permukaan terjadi di sepanjang estuaria.
 The vertically homogeneous estuary, pada estuaria ini arus pasang sangat
kuat dibandingkan dengan aliran sungai yang masuk ke estuaria, sehingga
pencampuran vertical menjadi intensif dan membuat salinitas di estuaria
secara vertical dari dasar ke permukaan homogeny.

2.2.4 Berdasarkan pada sirkulasi air dan stratifikasi airnya estuaria


terbagi atas 3 tipe yaitu:
1. Estuaria berstratifikasi sempurna/nyata atau estuaria baji garam, cirinya
adanya batasan yang jelas antara air tawar dan air laut/asin. Air tawar dari
sungai merupakan lapisan atas dan air laut menjadi lapisan bawah.
Terjadinya perubahan salinitas dengan cepat dari arah permukaan ke
dasar. Estuaria ditemukan didaerah-daerah dimana aliran air tawar dan
sebagian besar lebih dominan daripada intrusi air laut yang dipengaruhi
oleh pasang surut, contoh: muara Missisipi, Amerika.
2. Estuaria berstratifikasi sebagian/parsial (paling umum di jumpai). Aliran air
tawar dari sungai seimbang dengan air laut yang masuk melalui air
pasang. Percampuran air dapat terjadi karena adanya turbulensi yang
berlangsung secara berkala oleh pasang surut, contoh: Teluk
Chesapeaks, Amerika.
3. Estuaria campuran sempurna atau estuaria homogen vertikal. Dijumpai di
lokasi-lokasi dimana arus pasang surut sangat dominan dan kuat,
sehingga air estuaria tercampur dan tidak terdapat stratifikasi.

2.3 Sifat Fisik Estuaria


Sifat fisik estuari yang mempunyai variasi besar dalam banyak parameter
yang sering kali menciptakan suatu lingkungan yang sangat menekan bagi
organisme. Mungkin inilah yang menyebabkan mengapa jumlah spesies yang
hidup di daerah estuari lebih sedikit dibanding dengan di habitat laut lainnya.
Sifat fisik tersebut antara lain :
1. Salinitas
Estuaria memiliki peralihan (gradien) salinitas yang bervariasi,
terutama tergantung pada permukaan air tawar dari sungai dan air laut
melalui pasang surut. Variasi ini menciptakan kondisi yang menekan bagi
organisme, tetapi mendukung kehidupan biota yang padat dan juga
menyangkal predator dari laut yang pada umumnya tidak menyukai
perairan dengan salinitas yang rendah.
2. Substrat
Sebagian besar estuaria didominasi oleh substrat berlumpur yang
berasal dari sedimen yang dibawa melalui air tawar (sungai) dan air laut.
Sebagian besar partikel lumpur estuaria bersifat organik, bahkan organik ini
menjadi cadangan makanan yang penting bagi organisme estuaria (Efrieldi,
1999).
3. Suhu
Suhu air di estuaria lebih bervariasi daripada diperairan pantai
didekatnya. Hal ini terjadi karena di estuaria volume air lebih kecil,
sedangkan luas permukaan lebih besar. Dengan demikian pada kondisi
atmosfer yang ada, air estuaria lebih cepat panas dan lebih cepat dingin.
Penyebab lain terjadinya variasi ini ialah masuknya air tawar dari sungai.
Air tawar di sungai lebih dipengaruhi oleh perubahan suhu musiman
daripada air laut. Suhu estuaria lebih rendah pada musim dingin dan lebih
tinggi pada musim panas daripada perairan pantai sekitarnya (Dianthani,
2003; Thoha, 2003).
4. Pasang surut
Arus pasang-surut berperan penting sebagai pengangkut zat hara
dan plankton. Disamping itu arus pasang-surut juga berperan untuk
mengencerkan dan menggelontorkan limbah yang sampai ke estuaria.
5. Sirkulasi air
Selang waktu mengalirnya air dari sungai kedalam estuaria dan
masuknya air laut melalui arus pasang-surut menciptakan suatu gerakan
dan bermanfaat bagi biota estuaria, khususnya plankton yang hidup
tersuspensi dalam air.
6. Kekeruhan air
Karena besarnya jumlah partikel tersuspensi dalam perairan
estuaria, air menjadi sangat keruh, kekeruhan tertinggi terjadi pada saat
aliran sungai maksimum. Kekeruhan minimum di dekat mulut estuaria dan
makin meningkat ke arah pedalaman atau hulu. Pengaruh ekologi dari
kekeruhan adalah penurunan penetrasi cahaya secara mencolok.
Selanjutnya hal ini akan menurunkan fotosintesis dan tumbuhan bentik
yang mengakibatkan turunnya produktivitas.
7. Oksigen (O )
2

Masuknya air tawar dan air laut secara teratur kedalam estuaria
bersama dengan pendangkalan, pengadukan, dan pencampuran air dingin
biasanya akan mencukupi persediaan oksigen di dalam estuaria. Karena
kelarutan oksigen dalam air berkurang dengan naiknya suhu dan salinitas,
maka jumlah oksigen dalam air akan bervariasi sesuai dengan variasi
parameter tersebut di atas.
8. Penyimpanan Zat Hara
Peranan estuaria sebagai penyimpan zat hara sangat besar. Pohon
mangrove dan lamun serta ganggang lainya dapat mengkonversi zat hara
dan menyimpannya sebagai bahan organik yang akan digunakan
kemudian oleh organisme hewani.

2.4 Biota Ekosistem Estuari


Biota yang hidup di ekosistem estuari umumnya adalah
percampuran antara yang hidup endemik, artinya yang hanya hidup di
estuari, dengan mereka yang berasal dari laut dan beberapa yang berasal
dari perairan tawar, khususnya yang mempunyai kemampuan osmoregulasi
yang tinggi. Dan yang paling penting adalah lingkungan perairan estuary
merupakan lingkungan yang sangat kaya akan nutrient yang menjadi unsur
terpenting bagi pertumbuhan phytoplankton. Inilah sebenarnya kunci dari
keunikan lingkungan estuari. Sebagai kawasan yang sangat kaya akan
unsur hara (nutrient) estuari dikenal dengan sebutan daerah pembesaran
(nursery ground) bagi berjuta ikan, invertebrate (Crustacean, Bivalve,
Echinodermata, annelida dan masih banyak lagi kelompok infauna). Tidak
jarang ratusan jenis ikan-ikan ekonomis penting seperti siganus, baronang,
sunu dan masih banyak lagi menjadikan daerah estuari sebagai daerah
pemijahan dan pembesaran. Udang niaga yang memijah di laut lepas
membesarkan larvanya di ekosistem ini dengan memanfaatkannya sebagai
sumber makanan.
Berdasarkan adaptasinya organisme di lingkungan estuaria
mempunyai 3 (tiga) tipe adaptasi untuk mempertahankan hidupnya (Kennish,
1990). yaitu :
1. Adaptasi morfologis
organisme yang hidup di Lumpur memiliki rambut-rambut halus (setae)
untuk menghambat penyumbatan-penyumbatan permukaan ruang
pernapasan oleh partikel lumpur.
2. Adaptasi fisiologis
berkaitan dengan mempertahankan keseimbangan ion cairan tubuh dalam
menghadapi fluktuasi salinitas eksternal.
3. Adaptasi tingkah laku
pembuatan lubang ke dalam Lumpur oleh rganisme, khususnya
invertebrata

2.4.1 Komposisi Fauna


Di perairan estuaria terdapat 3 komponen fauna yaitu: fauna laut, fauna
air tawar dan fauna payau. Komponen fauna yang terbesar adalah fauna air
laut yaitu hewan stenohaline yang terbatas kemampuannya dalam mentolelir
0
perubahan salinitas (umumnya ≥ 30 /00) dan hewan euryhaline yang

mempunyai kemampuan untuk mentolerir berbagai perubahan atau penurunan


0
salinitas di bawah 30 /00. Fauna lautan yang tidak mampu mentolerir

perubahan-perubahan salinitas yang ekstrem biasanya hanya dijumpai terbatas


di sekitar perbatasan dengan laut terbuka, di mana salinitas airnya masih
berkisar di atas 30‰. Sebagian fauna lautan yang toleran (eurihalin) mampu
masuk lebih jauh ke dalam estuaria, di mana salinitas mungkin turun hingga
15‰ atau kurang. Sebaliknya fauna perairan tawar umumnya tidak mampu
mentolerir salinitas di atas 5‰, sehingga penyebarannya terbatas berada di
bagian hulu dari estuaria.
Fauna khas estuaria adalah hewan-hewan yang dapat mentolerir kadar
garam antara 5-30‰, namun tidak ditemukan pada wilayah-wilayah yang
sepenuhnya berair tawar atau berair laut. Di antaranya terdapat beberapa jenis
tiram dan kerang (Ostrea, Scrobicularia), siput kecil Hydrobia, udang
Palaemonetes, dan cacing polikaeta Nereis. Di samping itu terdapat pula
fauna-fauna yang tergolong peralihan, yang berada di estuaria untuk
sementara waktu saja. Beberapa jenis udang Penaeus, misalnya,
menghabiskan masa juvenilnya di sekitar estuaria, untuk kemudian pergi ke
laut ketika dewasa. Jenis-jenis sidat (Anguilla) dan ikan salem (Salmo,
Onchorhynchus) tinggal sementara waktu di estuaria dalam perjalanannya dari
hulu sungai ke laut, atau sebaliknya, untuk memijah. Dan banyak jenis hewan
lain, dari golongan ikan, reptil, burung dan lain-lain, yang datang ke estuaria
untuk mencari makanan (Nybakken, 1988). Akan tetapi sesungguhnya, dari
segi jumlah spesies, fauna khas estuaria adalah sangat sedikit apabila
dibandingkan dengan keragaman fauna pada ekosistem-ekosistem lain yang
berdekatan. Umpamanya dengan fauna khas sungai, hutan bakau atau padang
lamun, yang mungkin berdampingan letaknya dengan estuaria. Para ahli
menduga bahwa fluktuasi kondisi lingkungan, terutama salinitas, dan sedikitnya
keragaman topografi yang hanya menyediakan sedikit relung (niche), yang
bertanggung jawab terhadap terbatasnya fauna khas setempat sehingga
jumlah spesies organisme yang mendiami estuari jauh lebih sedikit jika
dibandingkan dengan organisme yang hidup di perairan tawar dan laut. Hal ini
karena ketidakmampuan organisme air tawar mentolerir kenaikan salinitas dan
organisme air laut mentolerir penurunan salinitas estuaria. Akibatnya hanya
spesies yang memiliki kekhususan fisiologi yang mampu bertahan hidup di
estuari.

2.4.2 Komponen Flora


Hampir semua bagian esturari terendam terdiri dari subtrat lumpur dan
tidak cocok untuk melekatnya makroalga. Selain karena substrat, pengaruh
sinar cahaya yang minim menyebabkan terbentuknya dua lapisan. Lapisan
bawah tanpa tumbuhan hidup dan lapisan atas mempunyai tumbuhan yang
terbatas. Di daerah hilir estuari terdapat padang rumput laut (Zostera dan
Cymodeca). Selain itu terdapat padang lamun. Lamun didefinisikan sebagai
satu-satunya tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang mampu beradaptasi
secara penuh di perairan yang salinitasnya cukup tinggi atau hidup terbenam di
dalam air dan memiliki rhizoma, daun, dan akar sejati. Beberapa ahli juga
mendefinisikan lamun (Seagrass) sebagai tumbuhan air berbunga, hidup di
dalam air laut, berpembuluh, berdaun, berimpang, berakar, serta berbiak
dengan biji dan tunas.
Selain miskin dengan jumlah fauna estuari juga miskin dengan flora.
Keruhnya perairan estuari menyebabkan hanya tumbuhan yang mencuat yang
dapat tumbuh mendominasi, mungkin terdapat padang rumput laut (Zosfera
thalassia, Cymodocea) selain di tumbuhi oleh alga hijau dari Genera Ulva,
Entheromorpha dan Chadophora. Estuaria berperan sebagai perangkap nutrien
(nutrient trap) yang mengakibatkan semua unsur-unsur esensial dapat didaur
ulang oleh bermacam kerang, cacing dan oleh detritus atau bekteri secara
berkesinambungan sehingga terwujud produktivitas primer yang tinggi.
Plankton estuaria miskin dalam jumlah spesies. Dengan demikian,yang
ditemukan hanya jenis diatom dan diflagellata. Jenis diatom yang dominan
adalah Skeletonema, Asterionella dan Melosira. Sedangkan diflagellata yang
melimpah adalah Gymnodinium,Gonyaulax dan Ceratium. Banyaknya
zooplankton yang berkembang membuktikan bahwa terjadi keterbatasan
produktivitas fitoplankton.

2.5 Tingkah Laku dan Adaptasi Nekton di Estuari


Estuari (muara) merupakan tempat bersatunya debit sungai partikel
baru garam laut. Estuari dipegaruhi oleh pasang. Salinitas air berubah secara
bertahap mulai dari daerah air tawar ke laut. Salinitas udara berubah secara
bertahap mulai dari daerah udara tawar ke laut. Salinitas ini juga dipengaruhi
oleh siklus harian dengan pasang surut airnya. Nutrien dari sungai
memperkaya estuari. Komunitas tumbuhan yang hidup di estuari antara lain
rumput rawa garam, ganggang, dan fitoplankton dan komunitas hewan antara
lain berbagai Jumlah Cacing, kerang, kepiting, dan ikan. Bahkan ada beberapa
invertebrata laut dan ikan laut yang menjadikan estuari sebagai tempat kawin
atau bermigrasi untuk menuju habitat air tawar. (Harvey et al 1983.)
Jenis interaksi pada spesies seperti persaingan, predasi, saling
eksklusi, gangguan dan perilaku kelompok dapat mempengaruhi struktur
komunitas, Karena nekton yang tidak merata di antara habitat perairan. Ekologi
muara merupakan suatu habitat yang memiliki daya tarik yang tinggi dalam
menentukan kehadiran mereka, ekologi Komunitas merupakan pola struktur
komunitas ditentukan oleh interaksi antara spesies dalam suatu lokasi tertentu.
Pola dalam kelompok sering menyiratkan keteraturan dalam kelimpahan relatif
spesies atau jumlah jenis yang ada di lingkunga, terjadinya berulang atau
kelangkaan spesies tertentu atau perbedaan perilaku atau morfologi suatu
spesies yang tergantung pada kehadiran pesaing (Rozas dan Odum, 1987).
Pada organisme laut yang masuk ke daerah estuari, konsentrsi garam
internalnya lebih tinggi dari pada konsentrasi garam air estuaria, sehingga air
cenderung melewati selaput, masuk ke dalam tubuh untuk menyamakan
konsentrasi. Pengaturan dilakukan melalui pengeluaran kelebihan air tanpa
kehilangan garam atau pengantian garam yang hilang dengan penyerapan
iondari lingkungan secra aktif. Untuk binatang air tawar, terjadi proses
sebaliknya, Pada binatang bertubuh lunak tertentu, seperti cacing polichaeta,
respon pengaturan osmosisnya relatif lambat. Organisme ini dapat mentolerir
kisaran konsentrasi internal yang lebar, untk jangka waktu tertentu. Sedangkan
pada molluska bivalvi biasanya merupakan osmoregulator yang buruk dan
tanggap terhadap penurunan salinitas yang drastis dengan menutup diri di
dalam cangkangnya untuk menghindrai pengenceran cairan tubuhnya yang
berlebihan dengan air (Weinstein et al. 1980).

2.6 Rantai makanan di estuari


Rantai makanan adalah perpindahan energi makanan dari sumber daya
tumbuhan melalui seri organisme atau melalui jenjang makan (tumbuhan-
herbivora-carnivora). Pada setiap tahap pemindahan energi, 80%–90% energi
potensial hilang sebagai panas, karena itu langkah-langkah dalam rantai
makanan terbatas 4-5 langkah saja. Dengan perkataan lain, semakin pendek
rantai makanan semakin besar pula energi yang tersedia (Anonim,2010). Ada
dua tipe dasar rantai makanan, yaitu:
1. Rantai makanan rerumputan (grazing food chain). Misalanya tumbuhan-
herbivora-carnivra.
2. Rantai makanan sisa (detritus food chain). Bahan mati imkroorganisme
(detrivora = organisme pemakan sisa) predator.
Rendahnya produktivitas primer di kolom air, sedikitnya herbivora dan
terdapatnya sejumlah besar detritus menunjukkan bahwa rantai makanan pada
ekosistem estuaria merupakan rantai makanan detritus. Detritus membentuk
substrat untuk pertumbuhan bakteri dan algae yang kemudian menjadi sumber
makanan penting bagi organisme pemakan suspensi dan detritus. Suatu
penumpukan bahan makanan yang dimanfaatkan oleh organisme estuaria
merupakan produksi bersih dari detritus ini. Fauna di estuaria, seperti ikan,
kepiting, kerang, dan berbagai jenis cacing berproduksi dan saling terkait
melalui suatu rantai makanan yang kompleks (Bengen, 2002).
Rantai makanan di estuari tergantung pada pasokan energi dari sinar
matahari dan transportasi senyawa organik ke dalam estuari dari sungai dan
dari arus pasang surut air laut. Di dalam estuari, tumbuhan atau produsen
primer mengubah pasokan itu menjadi senyawa organik tumbuhan. Tumbuhan
itu kemudian dimakan oleh hewan pemakan tumbuhan (herbivor) atau
konsumen pertama, lalu konsumen pertama dimakan oleh karnivor atau
konsumen kedua, dan seterusnya sampai ke konsumen tingkat akhir. Setiap
tingkat dalam rantai makanan disebut dengan tingkat trofik, produsen adalah
trofik tingkat pertama.

a. Produsen Primer
Di dalam ekosistem estuari dapat dijumpai berbagai jenis produsen
primer. Pada paparan pasir atau lumpur, dapat dijumpai lamun (Enhalus
acoroides) yang merupakan tumbuhan berbunga, dan beberapa jenis algae,
antara lain algae berfilamen seperti Enteromorpha sp., dan Padina sp. Di
dalam kolom air estuari dijumpai fitoplankton, seperti diatom atau dinoflagellata.
Produktivitas primer jenis-jenis tumbuhan tersebut sudah tentu
tergantung pada sinar matahari dan suhu, serta juga dipengaruhi oleh adanya
nutrisi, terutama nitrogen dan fosfat. Begitu tingginya tingkat produktivitas
primer di estuari dibanding dengan di laut ini terutama disebabkan oleh
tingginya tingkat nutrisi di estuari. Nutrisi ini sangat banyak terdapat di perairan
estuari, baik yang datang dari laut, sungai, atau daratan di sekitar estuari. Di
dalam estuari, nutrisi itu digunakan oleh tumbuhan. Tumbuhan yang mati
kemudian didaur ulang oleh bakteri pembusuk atau dekomposer menjadi nutrisi
kembali untuk dimanfaatkan lagi oleh tumbuhan. Detritus juga memegang
peranan penting. Detritus yang terdiri dari sisa–sisa pembusukan tumbuhan
produsen primer dan mikroba, mempunyai peran penting dalam menjaga
kestabilan ekosistem estuari. Keberadaan detritus menjamin suplai makanan
sepanjang tahun dan diabsorbsinya kembali nutrisi yang telah larut.

b. Konsumen primer (herbivor dan detritivor)


Estuari kaya akan sumber makanan bagi konsumen primer dari rantai
makanan. Sumber makanan utama diperoleh dari besarnya jumlah detritus
yang melimpah di dalam kolom air dan di dasar estuari. Sebagian besar hewan
konsumen primer terdapat di dasar estuari, seperti teritip (Krustasea,
Cirripedia), kerang dan keong (Bivalvia dan Gastropoda) yang berada di
permukaan dasar estuari, ataupun hewan lainnya yang hidup di dalam lumpur,
seperti cacing. Zooplankton biasanya berada di kolom air. Akan tetapi, adanya
arus pasang surut dan aliran sungai yang masuk ke estuari ditambah lagi
dengan keterbatasan yang ditimbulkan dari kekeruhan, membuat zooplankton
mempunyai peran kecil dalam rantai makanan estuari dibanding dengan
perannya di laut. Makanan zooplankton dan bentos kebanyakan berada dalam
bentuk partikel organik halus, apakah itu berupa fitoplankton hidup atau
macam-macam fragmen hasil pembusukan yang menjadi detritus. Konsumen
primer yang ada di ekosistem estuari antara lain:

 Bentos
Bentos dalam estuari dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
a. Yang hidup di permukaan lumpur
Contoh: Perna viridis (kerang hijau) dan siput Strombus sp

Strombus adalah karnivorus (pemakan jenis siput yang lebih kecil) di


permukaan paparan lumpur estuari, hidupnya merayap,sedangkan kerang hijau,
Perna viridis, hidup menempel di permukaan dan mendapatkan makanannya
dengan jalan menyaring partikel-partikel organik yang ada dalam kolom air dan
terbawa oleh arus.

b. Yang hidup di dalam lumpur


Contoh: cacing Marphysa sp. dan Branchimaldane sp.
Cacing ini memakan benda-benda organik (detritus), diatom yang
terdapat di dasar, atau benda organik yang tersuspensi pada waktu air pasang
dan surut Cacing Marphysa terutama terdapat di dasar perairan dengan sedimen
tidak lebih kecil dari 80 ųm. Biomassa cacing ini tergantung dari banyak
sedikitnya senyawa organik di dalam lumpur.

 Crustacea

Berbagai macam jenis krustasea ditemukan dalam habitat estuari mulai


dari yang besar sampai yang kecil. Komponen utama dari krustasea yang hidup
di estuari adalah amfipod (Amphipoda) yang hidup di dalam lumpur dekat
permukaan. Amfipod membuat liang yang khas berbentuk U. Binatang ini
memakan berbagai detritus organik dan keluar dari liang untuk mencari fragmen
detritus di sekitarnya. Selain Amphipoda, krustasea lain yang biasa ditemukan
adalah kelompok kepiting (Brachyura), kelomang (Anomura), dan udang-
udangan (Macrura)

 Meiofauna
Meiofauna adalah hewan bentik bersel banyak (multiseluler) yang
mempunyai ukuran tubuh antara 32ųm-1000ųm. Mereka hidup di antara rongga-
rongga butiran pasir sehingga tidak pernah membuat liang. Seluruh siklus
hidupnya tidak pernah mengalami fase planktonik sehingga fase larva juga
hanya terjadi di lingkungan bentik. Keberadaan meiofauna dapat dijumpai di
perairan pasang surut sampai dengan dasar perairan laut dalam. Termasuk
meiofauna adalah hewan yang dapat melewati lubang saringan berukuran 0.5
mm. Sebagai contoh adalah Copepoda Harpacticoida yang hidup di dasar
perairan.

c. Konsumer sekunder
 Ikan
Berbagai jenis ikan ditemukan di perairan estuari. Ikan-ikan ini ada yang
menetap, ada yang datang untuk mencari makan dan bertumbuh besar, atau
untuk bertelur. Ikan-ikan ini memakan biota yang lebih kecil (pemangsa),
memakan tumbuhan (herbivor), atau menyaring busukan organik (detritus)
dengan cara memasukkan lumpur ke dalam mulutnya lalu memuntahkannya
kembali setelah menyaring fragmen-fragmen organiknya seperti yang dilakukan
oleh ikan-ikan Belanak (Mugilidae).

 Avertebrata
Berbagai jenis hewan avertebrata ditemukan menghuni perairan estuari.
Sebagaimana halnya dengan ikan, avertebrata yang ditemukan di perairan
estuari sebagian merupakan penghuni tetap, sebagian lagi datang untuk mencari
makan, membesar, atau bertelur. Salah satu contoh adalah udang satang
(Macrobrachium sp.) yang datang ke perairan estuari dari hulu untuk bertelur.
Avertebrata lainnya adalah larva udang penaeid yang bergerak dari laut menuju
perairan estuaria untuk membesar.
 Burung
Burung-burung laut yang datang mencari makan di perairan estuari
sebagian adalah burung bermigrasi. Burung bermigrasi ini mengunjungi perairan
estuari tropik selama musim dingin di tempat mereka tinggal untuk bertelur.

Jumlah hewan dan tumbuhan yang hidup di estuari lebih kecil dari yang
hidup di laut atau di air tawar. Berkurangnya jumlah jenis hewan dan tumbuhan
itu dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu kadar garam dan substrat. Perbedaan yang
terjadi ditunjukkan dengan berkurangnya keanekaragaman jenis, tetapi jumlah
individu tiap jenis itu dapat sangat banyak.

2.7 Jejaring makanan dan rantai makanan


Estuari adalah suatu ekosistem yang memiliki produktivitas yang tinggi.
Hal ini karena estuari merupakan suatu ekosistem yang menjadi penjebak
nutrient sehingga di estuari banyak ikan yang mencari makan di ekosistem
estuari. Berdasarkan de Sylva (1975), kunci penting dalam ekosistem estuari
yang berhubungan dengan ikan adalah kemampuan estuari untuk menjebak
nutrient baik dari produksi primer maupun produksi sekunder. Sehingga estuari
menjadi ekosistem yang kaya dan berlimpah akan sumber makanan untuk
organisme yang cara makannya dengan filter dan deposit yang menjadi
makanan invertebrate, spesies ikan detrivor dan semua kejadian ini dapat di lihat
di estuari (McLusky, 1989).
Produksi alami nutrient berasal dari mangrove, Reed beds, lamun
(Zostera, Thallasia), Phytoplankton dan makroalgae. Sedangkan nutrient buatan
berasal dari aliran sungai, dari limbah rumah tangga. De Sylva (1975) dalam
(Elliot, Hemmingway, 2002) mengklasifikasikan jaring-jaring makanan
berdasarkan Nekton di estuari sebagai berikut:
a. Jejaring makanan yang berasal dari phytoplankton
Jejaring makanan yang dimulai dari phytoplankton sebagai berikut :
phytoplankton zooplankton ikan pelagis planktivorous dan ikan
pelagis dasar
phytoplankton zooplankton ikan pemakan plankton ikan predator
b. Jejaring makanan yang berasal dari detritus
Jejaring makanan yang berasal dari detritus sebagai berikut :
detritus benthos ikan benthopagous
detritus benthos ikan predator besar
detritus zooplankton ikan-ikan kecil dan invertebrate ikan
besar

2.8 Peranan Ekologis Estuari


Secara umum estuaria mempunyai peran ekologis penting sebagai berikut:
1. Sebagai sumber zat hara dan bahan organik yang diangkut lewat sirkulasi
pasang-surut (tidal circulation).
2. Penyedia habitat bagi sejumlah spesies hewan (ikan, udang...) yang
bergantung pada estuaria sebagai tempat berlindung dan tempat mencari
makanan (feeding ground).
3. Sebagai tempat untuk bereproduksi dan/atau tempat tumbuh besar
(nursery ground) terutama bagi sejumlah spesies ikan dan udang.
Sedangkan oleh manusia dapat dimanfaatkan sebagai berikut :
 Sebagai tempat pemukiman.
 Sebagai tempat penangkapan dan budidaya sumberdaya ikan.
 Sebagai jalur transportasi.
 Sebagai pelabuhan dan kawasan industri.

2.9 Produktifitas Estuaria


Salah satu bagian wilayah pesisir yang memiliki tingkat kesuburan cukup
tinggi adalah estuaria (muara sungai). Daerah ini merupakan ekosistem produktif
yang setara dengan hutan hujan tropik dan terumbu karang, karena perannya
adalah sebagai sumber zat hara, memiliki komposisi tumbuhan yang beragam
sehingga proses fotosintesis dapat berlangsung sepanjang tahun, serta sebagai
tempat terjadinya fluktuasi permukaan air akibat aksi pasang surut. Kondisi
ekosistem yang produktif ini kemudian menjadikannya sebagai salah satu
wilayah yang memiliki tingkat produktifitas tinggi. Produktifitas merupakan suatu
proses produksi yang menghasilkan bahan organik yang meliputi produktifftas
primer ataupun sekunder. Produktifitas primer pada wilayah estuaria dapat di
artikan sebagai banyaknya energi yang diikat atau tersimpan dalam aktifltas
fotosintesis dari organisme produser, terutama tanaman yang berklorofil dalam
bentuk-bentuk substansi organik yang dapat digunakan sebagai bahan makanan.
Produktifftas ini dilakukan oleh organisme ‘outotroph’ seperti juga semua
tumbuhan hijau mengkonversi energi cahaya ke dalam energi biologi dengan
fiksasi karbondioksida, memisahkan molekuler air dan memproduksi karbohidrat
dan oksigen ( Anonim, 2011 ).

2.10 Sirkulasi Estuaria


Perbedaan salinitas di wilayah estuaria mengakibatkan terjadinya proses
pergerakan masa air. Air asin yang memiliki masa jenis lebih besar dari pada air
tawar, menyebabkan air asin di muara yang berada di lapisan dasar dan
mendorong air tawar menuju laut. Sistem sirkulasi dalam estuaria yang demikian
inilah, yang mengilhami proses terjadinya up-welling. Proses pergerakan antara
masa air laut dan air tawar ini menyebabkan terjadinya stratifikasi yang kemudian
mendasarnya tipe-tipe estuaria, yaitu: a). Estuaria berstratifikasi sempurna atau
estuaria baji garam (salt wedge estuary), jika aliran sungai lebih besar dari pada
pasang surut sehingga mendominasi sirkulasi estuaria; b). Estuaria berstratifikasi
sebagian atau parsial (moderately stratified estuary), jika aliran sungai berkurang,
dan arus pasang surut lebih dominan maka akan terjadi percampuran antara
sebagian lapisan masa air; c). Estuaria bercampur sempurna atau estuaria
homogen vertikal (well-mixed estuaries), jika aliran sungai kecil atau tidak ada
sama sekali, dan arus serta pasang surut besar, maka perairan menjadi
tercampur hampir keseluruhan dari atas sampai dasar.

2.11 Ancaman Wilayah Estuaria


Estuaria merupakan wilayah yang sangat dinamis (dynamics area),
rentan terhadap perubahan dan kerusakan lingkungan baik fisik maupun biologi
(ekosistem) dari dampak aktifitas manusia di darat ataupun pemanfaatan
sumberdaya perairan laut secara berlebihan (over-exploited). Beberapa hal yang
dimungkinkan menjadi sumber kerusakan dan perubahan fisik lingkungan
wilayah estuaria antara lain (Zalfa. 2011 ):
1. Semakin meningkatnya penebangan hutan dan jeleknya pengelolaan lahan
di darat, dapat meningkatkan sedimentasi di wilayah estuaria. Laju
sedimentasi di wilayah pesisir yang melalui aliran sungai bisa dijadikan
sebagai salah satu indikator kecepatan proses kerusakan pada wilayah
lahan atas, sehingga dapat menggambarkan kondisi pada wilayah lahan
atas. Sedimen yang tersuspensi masuk perairan pantai dapat
membahayakan biota laut, karena dapat menutupi tubuh biota laut terutama
bentos yang hidup di dasar perairan seperti rumput laut, terumbu karang dan
organisme lainnya. Meningkatnya kekeruhan akan menghalangi penetrasi
cahaya yang digunakan oleh orgnisme untuk pemapasan atau
berfotosintesis. Banyak-nya sedimen yang akhirnya terhenti atau
terendapkan di muara sungai dapat mengubah luas wilayah pesisir secara
keseluruhan, seperti terjadinya perubahan garis pantai, berubahnya mulut
muara sungai, terbentuknya delta baru atau tanah timbul, menurunnya
kualitas perairan dan biota-biota di muara sungai.

2. Pola pemanfaatan sumberdaya hayati laut yang tidak memperhatikan daya


dukung produktifitas pada suatu kawasan estuaria, seperti sumberdaya
perikanan, sehingga kawasan muara sungai tersebut terus mendapat
tekanan dan menyebabkan menurunnya produktifitasnya.

3. Meningkatnya pembangunan di lahan atas (up-land) menjadi kawasan


Industri, pemukiman, pertanian menjadikan sumber limbah yang bersama-
sama dengan aliran sungai akan memperburuk kondisi wilayah estuaria.
Lebih dan 80% bahan pencemar yang ditemukan di wilayah pesisir dan laut
berasal dari kegiatan manusia di darat UNEP(1990).

4. Kegiatan-kegiatan kontruksi yang berkaitan dengan usaha pertanian, seperti


pembuatan saluran irigasi, drainase dan penebangan hutan akan
mengganggu pola aliran alami daerah tersebut. Gangguan ini meliputi aspek
kualitas, volume, dan debit air. Pengurangan debit air yang di alirkan bagi
irigasi, dapat mengubah salinitas dan pola sirkulasi air di daerah estuaria
danmenyebabkan jangkauan intrusi garam semakin jauh ke hulu sungai. Hal
ini akan mengakibatkan perubahan pada sebagian ekosistem perairan
pantai itu sendiri, juga pada ekosistem daratan di sekitar perairan tersebut
sehingga berakibat intrusi air laut pada air tanah ( Anonim. 2011).

2.12 Upaya Pengelolaan Wilayah Estuaria


Fungsi wilayah estuaria sangat strategis untuk dimanfaatkan sebagai
tempat pemukiman, penangkapan ikan dan budidaya, jalur transportasi,
pelabuhan dan kawasan industri. Wilayah estuaria juga merupakan ekosistem
produktif karena dapat berperan sebagai sumber zat hara. Dengan
memperhatikan fungsi dan manfaat tersebut, maka potensi wilayah estuaria
menjadi sangat tinggi, sehingga diperlukan adanya suatu tindakan pengelolaan
di wilayah tersebut. Adapun hal-hal yang perlu dilakukan di antaranya adalah (
Zalfa, 2011 ) :

1. Memperbaiki Daerah Lahan Atas (up-land)


Upaya yang dapat dilakukan dalam mengurangi dampak kerusakan pada
ekosistem perairan wilayah estuaria yaitu dengan menata kembali sistem
pengelolaan daerah atas. Khususnya penggunaan lahan pada wilayah daratan
yang memiliki sungai. Jeleknya pengelolaan lahan atas sudah dapat dipastikan
akan merusak ekosistem yang ada di perairan pantai. Oleh karena itu,
pembangunan lahan atas harus memperhitungkan dan mempertimbangkan
penggunaan lahan yang ada di wilayah pesisir. Jika penggunaan lahan wilayah
pesisir sebagai lahan perikanan tangkap, budidaya atau konservasi maka
penggunaan lahan atas harus bersifat konservatif. Perairan pesisir yang
penggunaan lahannya sebagai lahan budidaya yang memerlukan kualitas
perairan yang baik maka penggunaan lahan atas tidak diperkenankan adanya
industri yang memproduksi bahan yang dapat menimbulkan pencemaran atau
limbah. Limbah sebelum dibuang ke sungai harus melalui pengolahan terlebih
dahulu sesuai dengan baku mutu yang telah ditetapkan.

2. Pemanfaatan Sumberdaya Perairan Secara Optimal


Wilayah estuaria yang berfungsi sebagai penyedia habitat sejumlah
spesies untuk berlindung dan mencari makan serta tempat reproduksi dan
tumbuh, oleh karenanya di dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan
khususnya di wilayah estuaria diperlukan tindakan-tindakan yang bijaksana yang
berorientasi pemanfaatan secara optimal dan lestari. Pola pemanfatan sebaiknya
memperhatikan daya dukung lingkungan (carrying capacity).

3. Konservasi Hutan Mangrove


Perlindungan hutan mangrove pada wilayah estuaria sangat penting,
karena selain mempunyai fungsi ekologis juga ekonomis. Secara ekologis hutan
mangrove adalahsebagai penghasil sejumlah besar detritus dari serasah, daerah
asuhan (nursery ground), mencari makan (feeding ground) dan sebagai tempat
pemijahan (spawning ground). Secara fisik, hutan mangrove dapat berperan
sebagai filter sedimen yang berasal dari daratan melalui sistem perakarannya
dan mampu meredam terpaan angin badai. Secara ekonomis, dalam konser-vasi
hutan mangrove juga akan diperoleh nilai ekonomis sangat tinggi. Nilai ekonomi
total rata-rata sekitar Rp 37,4 juta/ha/tahun yang meliputi manfaat langsung
(kayu mangrove), manfaat tidak langsung (serasah daun, kepiting bakau, nener
bandeng ikan tangkap dan ikan umpan), option value dan existence value.
Upaya konservasi tersebut juga mempunyai nilai dampak positip terhadap sosial-
ekonomi bagi masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah estuaria, yaitu mampu
memberikan beberapa alternatif jenis mata pencaharian dan pendapatan.
III. Kesimpulan

Berdasarkan penulisan makalah mengenai wilayah perairan estuari dapat


ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1.
DAFTAR PUSTAKA

Anonym ,2010. http://id.wikipedia.org/wiki/rantai_makanan.

Begen, D. G. 2002. Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut


serta PrinsipPengelolaannya. PK-SPL. IPB, Bogor.

Kasim, Ma’Ruf. 2005. PolaPercampuran Estuary. http://maruf.wordpress.com/


2005 / 12 /22 / polapercampuran-estuary/.

Nybakken, James W. 1988. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta:PT.


Gramedia.