Anda di halaman 1dari 4

Apakah Perubahan Tanda Tangan Membatalkan Perjanjian?

Ulasan Lengkap

Tanda Tangan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring (KBBI), tanda tangan adalah
tanda sebagai lambang nama yang dituliskan dengan tangan oleh orang itu
sendiri sebagai penanda pribadi (telah menerima dan sebagainya).

Lebih lanjut, sebagaimana diuraikan Tan Thong Kie dalam bukunya Serba-Serbi
Praktik Notaris (hal. 472), yang dikutip Togar Julio Parhusip dalam
artikel Adakah Masalah Hukum Jika Mengganti Tanda Tangan?, tanda
tangan berfungsi sebagai suatu pernyataan kemauan pembuat tanda tangan
(penandatanganan), bahwa ia menghendaki agar tulisan itu dalam hukum
dianggap sebagai tulisannya sendiri (si pembuat tanda tangan), dengan
membubuhkan tanda tangannya di bawah suatu tulisan.

Penggantian tanda tangan sendiri memang diperbolehkan sepanjang diakui oleh


orang yang membuat tanda tangan. Hal ini diatur dalam Pasal 1875 Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata (“KUHPer”) yang menyatakan:

Suatu tulisan di bawah tangan yang diakui kebenarannya oleh orang yang
dihadapkan kepadanya atau secara hukum dianggap telah dibenarkan
olehnya, menimbulkan bukti lengkap seperti suatu akta otentik bagi orang-orang
yang menandatanganinya, ahli warisnya serta orang-orang yang mendapat hak
dari mereka; ketentuan Pasal 1871 berlaku terhadap tulisan itu.

Namun apabila tanda tangan lama sudah digunakan di berbagai dokumen


penting seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK),
penggunaan tanda tangan baru perlu didahului oleh penetapan Pengadilan
Negeri. Sebagai contoh, di dalam Penetapan Pengadilan Negeri Makassar
Nomor 381/Pdt.P/2018/PN.MKS, pemohon mengajukan permohonan mengganti
tanda tangan di KTP elektronik karena pemohon tidak pernah lagi menggunakan
tanda tangan lama di dalam KTP elektronik tersebut. Pemohon meminta
pengadilan untuk mengizinkannya melakukan perubahan tanda tangan dengan
bentuk yang sesuai dengan yang tercantum di dalam Kartu Keluarga (KK).
Permohonan ini kemudian dikabulkan oleh majelis hakim. Lebih lanjut, pemohon
kemudian diperintahkan untuk melapor kepada kantor pencatatan sipil Kota
Makassar untuk dicatat dalam buku register yang telah disediakan untuk itu.

Keabsahan Perjanjian
Pertanyaan selanjutnya, apakah perubahan tanda tangan memengaruhi
keabsahan perjanjian? Pada dasarnya para pihak diberikan kebebasan untuk
membuat suatu perjanjian, apapun isi dan bagaimana bentuknya. Hal ini sesuai
dengan penerapan asas kebebasan berkontrak sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 1338 KUHPer yang menyebutkan:

Semua persetujuan yang dibuat sesuai dengan undang-undang berlaku sebagai


undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Persetujuan itu tidak dapat
ditarik kembali selain dengan kesepakatan kedua belah pihak, atau karena
alasan-alasan yang ditentukan oleh undang-undang. Persetujuan harus
dilaksanakan dengan itikad baik.

Meskipun diberikan kebebasan, suatu perjanjian wajib memperhatikan ketentuan


keabsahan perjanjian berdasarkan Pasal 1320 KUHPer, yang berbunyi:

Supaya terjadi persetujuan yang sah, perlu dipenuhi empat syarat;


1. Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya;
2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
3. Suatu pokok persoalan tertentu;
4. Suatu sebab yang tidak terlarang.

Penting untuk dipahami bahwa keempat syarat sah perjanjian tersebut terdiri dari
syarat subjektif dan objektif. Sebagaimana diuraikan oleh Titik Triwulan
Tutik dalam bukunya Hukum Perdata dalam Sistem Hukum Nasional (hal. 225-
226), syarat pertama dan kedua merupakan syarat subjektif. Sedangkan syarat
ketiga dan keempat termasuk syarat objektif. Lebih lanjut sebagaimana
dijelaskan dalam artikel Pembatalan Perjanjian yang Batal demi Hukum,
apabila suatu perjanjian tidak memenuhi syarat subjektif, maka perjanjian
tersebut dapat dibatalkan. Di sisi lain, perjanjian menjadi batal demi hukum jika
tidak memenuhi syarat objektif.

Jawaban atas pertanyaan Anda yang mempersoalkan tentang keabsahan


perjanjian akibat mengganti/tidak mengakui tanda tangan, dapat dikaitkan
dengan syarat kesepakatan sebagaimana tercantum dalam Pasal 1320 angka 1
KUHPer di atas. Untuk dapat dikatakan tidak sah, salah satu pihak harus
mengajukan pembatalan ke pengadilan.

Ketentuan mengenai pembatalan tersebut sebagaimana ditegaskan


oleh J.Satrio dalam artikel Sepakat dan Permasalahannya: Lahirnya
Perjanjian, bahwa selama tidak ada pihak yang mengajukan tuntutan
pembatalan perjanjian itu, maka perjanjian tetap mengikat para pihak sama
seperti perjanjian yang sah.

Menurut hemat kami berdasarkan uraian tersebut, keengganan salah satu pihak
untuk mengakui tanda tangan di dalam suatu perjanjian tidak serta-merta
membuat perjanjian tersebut batal atau kehilangan keabsahannya. Para pihak
tetap berkewajiban untuk memenuhi ketentuan-ketentuan di dalam perjanjian
yang mengikat selayaknya undang-undang tersebut.

Tindak Lanjut atas Perjanjian yang Tidak Diakui


Mengingat Anda tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai sifat dan bentuk
perjanjian yang menjadi obyek pertanyaan Anda, kami asumsikan perjanjian
tersebut berupa akta bawah tangan. Penjelasan Pasal 165 Herzien Inlandsch
Reglement (HIR) mendefinisikan akta bawah tangan sebagai berikut:

Suatu akte yang ditandatangani di bawah tangan dan dibuat tidak dengan
perantaraan pejabat umum, seperti misalnya akte jual beli, sewa-menyewa,
utang-piutang dan lain sebagainya yang dibuat tanpa perantaraan pejabat umum.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, segala tulisan termasuk akta bawah


tangan memiliki kekuatan pembuktian seperti akta otentik apabila para pihak
yang menandatangani mengakui kebenarannya.[1] Akan tetapi jika ada pihak
yang memungkiri kebenaran tulisan atau tanda tangannya di akta bawah tangan
sebagaimana yang Anda alami, maka hakim harus memerintahkan supaya
kebenaran tulisan atau tanda tangan tersebut diperiksa di muka
pengadilan.[2]

Dengan demikian, langkah yang dapat dilakukan jika salah satu pihak berdalih
mengganti tanda tangan dan tidak mengakui perjanjian, pihak yang lain dapat
mengajukan gugatan ke pengadilan.

Karena dalam hal ini pihak tersebut juga menolak memenuhi kewajibannya,
maka jenis gugatan yang dapat diajukan adalah gugatan wanprestasi. Ketentuan
mengenai wanprestasi sendiri dapat ditemukan dalam Pasal 1238 KUHPer,
yang berbunyi:

Debitur dinyatakan lalai dengan surat perintah, atau dengan akta sejenis itu, atau
berdasarkan kekuatan dari perikatan sendiri, yaitu bila perikatan ini
mengakibatkan debitur harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang
ditentukan.

Lebih lanjut, Pasal 1243 KUHPer menyatakan bahwa:

Penggantian biaya, kerugian dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan
mulai diwajibkan, bila debitur, walaupun telah dinyatakan lalai, tetap lalai untuk
memenuhi perikatan itu, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau
dilakukannya hanya dapat diberikan atau dilakukannya dalam waktu yang
melampaui waktu yang telah ditentukan.

Adapun Pasal 1244 KUHPer menyatakan bahwa:

Debitur harus dihukum untuk mengganti biaya, kerugian dan bunga. bila ia tak
dapat membuktikan bahwa tidak dilaksanakannya perikatan itu atau tidak
tepatnya waktu dalam melaksanakan perikatan itu disebabkan oleh sesuatu hal
yang tak terduga, yang tak dapat dipertanggungkan kepadanya. walaupun tidak
ada itikad buruk kepadanya.

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

Dasar Hukum:
1. Herzien Inlandsch Reglement (HIR);
2. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Putusan:
Penetapan Pengadilan Negeri Makassar Nomor 381/Pdt.P/2018/PN.MKS.

Referensi:
Titik Triwulan Tutik. Hukum Perdata dalam Sistem Hukum Nasional. Jakarta:
Kencana, 2008.

[1] Pasal 1875 KUHPer

[2] Pasal 1877 KUHPer