Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA KLINIS

“Metabolisme Glikolisis dalam Sel Darah Merah”

Kelompok 2 B :
Risky Ginanjar 11161020000065
Rahmawati 11171020000026
Raniya Farha 11171020000027
Wulan Maharani 11171020000031
Alfiyah Az-zahra 11171020000032
Layinatul Afidah` 11171020000033
Indah Asa Anjalia 11171020000035
Shanifa Dianmurdedi 11171020000036
Muzaik zuhuuriyah K. 11171020000037
Nur Isra Kautsari 11171020000038
Dea Yulia fitris 11171020000041
Hanny Aldila Putri 11171020000045
Siti Meluria 11171020000047
Sakinah ramadhani F. 11171020000048

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
SEPTEMBER/2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Glukosa adalah produk akhir metabolism karbohidrat serta sumber energy utama
pada organisme hidup dan penggunaannya dikendalikan oleh insulin (Dorland, 2011).
Karbohidrat yang berada dalam makanan berupa polimer heksana yaitu glukosa, galaktosa
dan fruktosa. Dalam keaadaan normal, glukosa di fosforilasi menjadi glukosa-6-fosfat. Enzim
yang mengkatalis adalah heksosinase, kadarnya meningkat oleh insulin dan menurun pada
keadaan kelaparan dan diabetes. Sedangkan glukosa dapat disimpan di hati atau otot sebagai
glikogen. Glikogen bekerja saat aktivitas otot dan glukosa darah terisi sesuai kebutuhan.
Glikolisis merupakan rute utama metabolism glukosa serta jalut utama untuk metabolism
fruktosa, galaktosa, dan karbohidrat lain yang berasal dari makanan. Kemampuan glikolisis
untuk menghasilkan ATP tanpa oksigen merupakan hal penting karena memungkinkan otot
rangka bekerja keras saat pasokan oksigen terbatas, serta memungkinkan jaringan bertahan
hidup ketika mengalami anoksia. Jadi, glikolisis adalah reaksi pelepasan energy yang
memecah satu molekul glukosa (6 atom karbon) atau monosakarida lain menjadi dua molekul
asam piruvat (3 atom karbon), 2 NADH dan 2 ATP (Murray, 2014).
Sel darah merah tidak mempunyai mitokondria atau organel lainnya dan juga
metabolisme di dalam sitoplasmanya sangat berkurang. Yang diperlukan untuk fungsinya
tentu saja adalah penambahan glukosa yang dipecahkan melalui glikolisis menjadi laktat.
Untuk setiap molekul glukosa yang digunakan, dihasilkan dua molekul ATP dan dengan
demikian dua ikatan fostat berenergi tinggi. ATP ini menyediakan energi untuk pemeliharaan
volume, bentuk dan kelenturan (flexibility) sel darah merah. ATP juga berfungsi
menyediakan energi bagi Na+/K+ -ATPase, yang menjaga lingkungan ion di dalam eritrosit,
dan ini memakai satu molekul ATP untuk menggerakkan tiga ion natrium ke luar dan dua ion
kalium ke dalam sel. BPG (2,3-Bifosfogliserat) juga berasal dari pemecahan glukosa. Tanpa
sel darah merah, sebagian besar jaringan tubuh akan menderita kekurangan energy karena
jaringan memerlukan oksigen agar dapat sempurna mengubah bahan bakar menjadi CO2 dan
H2O (Aswani V, 2010).
B. Tujuan Praktikkum
- Mempelajari proses glikolisis dan pengaruh inhibitor di dalam sel darah merah
BAB II

DASAR TEORI

A. Glukosa Darah

1. Definisi Glukosa

Glukosa, suatu gula monosakarida, adalah salah satu karbohidrat terpenting yang
digunakan sebagai sumber tenaga utama dalam tubuh. Glukosa merupakan prekursor
untuk sintesis semua karbohidrat lain di dalam tubuh seperti glikogen, ribose dan
deoxiribose dalam asam nukleat, galaktosa dalam laktosa susu, dalam glikolipid, dan
dalam glikoprotein dan proteoglikan (Murray et al., 2003).

2. Kadar glukosa darah

Kadar glukosa darah adalah istilah yang mengacu kepada tingkat glukosa di dalam darah.
Konsentrasi gula darah, atau tingkat glukosa serum, diatur dengan ketat di dalam tubuh.
Umumnya tingkat gula darah bertahan pada batas-batas yang sempit sepanjang hari (70-
150 mg/dl). Tingkat ini meningkat setelah makan dan biasanya berada pada level
terendah pada pagi hari, sebelum orang makan (Henriksen et al., 2009).

Tabel Kadar Glukosa Darah Puasa (Perkeni, 2006)


Nilai Glukosa Darah (mg/dl) Bukan DM Belum pasti DM DM
Nilai glukosa darah puasa:
 Plasma vena <110 110-125 >126
 Darah kapiler <90 90-109 >110
Ada beberapa tipe pemeriksaan glukosa darah. Pemeriksaan gula darah puasa mengukur
kadar glukosa darah selepas tidak makan setidaknya 8 jam. Pemeriksaan gula darah
postprandial 2 jam mengukur kadar glukosa darah tepat selepas 2 jam makan. Pemeriksaan
gula darah ad random mengukur kadar glukosa darah tanpa mengambil kira waktu makan
terakhir (Henriksen et al., 2009).

B. Metabolisme glukosa

Semua sel dengan tiada hentinya mendapat glukosa ; tubuh mempertahankan kadar
glukosa dalam darah yang konstan, yaitu sekitar 80-100 mg/dl bagi dewasa dan 80-90 mg/dl
bagi anak, walaupun pasokan makanan dan kebutuhan jaringan berubah-ubah sewaktu kita
tidur, makan, dan bekerja (Cranmer et al., 2009).

Proses ini disebut homeostasis glukosa. Kadar glukosa yang rendah, yaitu
hipoglikemia dicegah dengan pelepasan glukosa dari simpanan glikogen hati yang besar
melalui jalur glikogenolisis dan sintesis glukosa dari laktat, gliserol, dan asam amino di hati
melalui jalur glukonoegenesis dan melalui pelepasan asam lemak dari simpanan jaringan
adiposa apabila pasokan glukosa tidak mencukupi. Kadar glukosa darah yang tinggi yaitu
hiperglikemia dicegah oleh perubahan glukosa menjadi glikogen dan perubahan glukosa
menjadi triasilgliserol di jaringan adiposa. Keseimbangan antar jaringan dalam menggunakan
dan menyimpan glukosa selama puasa dan makan terutama dilakukan melalui kerja hormon
homeostasis metabolik yaitu insulin dan glukagon ( Ferry, 2008).

C. Metabolisme glukosa di sel darah merah

Sel darah merah hanya dapat menggunakan glukosa sebagai bahan bakar. Ini karena
sel darah merah tidak memiliki mitokondria, tempat berlangsungnya sebagian besar reaksi
oksidasi bahan seperti asam lemak dan bahan bakar lain. Sel darah merah memperoleh energi
melalui proses glikolisis yaitu pengubahan glukosa menjadi piruvat. Piruvat akan dibebaskan
ke dalam darah secara langsung atau diubah menjadi laktat kemudian dilepaskan. Sel darah
merah tidak dapat bertahan hidup tanpa glukosa. Tanpa sel darah merah, sebagian besar
jaringan tubuh akan menderita kekurangan energi karena jaringan memerlukan oksigen agar
dapat sempurna mengubah bahan bakar menjadi CO2 dan H2O (Aswani, 2010)
D. Glikolisis
Glikolisis berlaku di hati menghasilkan piruvat untuk berfungsi sebagai prekursor
untuk sintesis asam lemak serta sumber ATP. Pengaturan glikolisis berlangsung melalui kerja
insulin dan glukagon. Glukokinase adalah enzim hati yang diinduksi oleh insulin yang
berfungsi melakukan fosforilasi glukosa. Enzim ini paling aktif selepas makan, saat kadar
glukosa di vena porta hepatis tinggi.Glikolisis diaktifkan oleh fruktosa 2,6-bifosfat yang
meningkat ketika kadar insulin dalam darah meningkat dan kadar glukagon dalam darah
menurun. Fruktosa 2,6-bifosfat dihasilkan dalam jaringan oleh enzim fosfofruktokinase-
2/fruktose 2,6-bifosfatase yaitu sejenis enzim bifungsional (King, 2010).
Setelah makan, rasio insulin/glukagon akan meninggi, enzim mengalami
defosforilasi, aktivitas fosfofruktokinase meningkat, enzim ini mensintesis fruktosa 2,6
bifosfat dari fruktosa 6-fosfat dan ATP. Fosfofruktokinase-1 diaktifkan di mana enzim ini
berfungsi meningkat kecepatan glikolisis. Pengaktifan fosforuktokinase -1 oleh fruktosa 2,6-
bifosfat dan AMP bersifat sinergistik. Glikolisis menghasilkan karbon untuk sintesis asam
lemak, juga menghasilkan ATP untuk menjalankan proses tersebut. Sewaktu rasio
insulin/glukagon rendah, enzim mengalami fosforilasi oleh protein kinase A meningkatkan
aktivitas fosfatase dan menghambat aktivitas kinase enzim bifungsional ini, dan fruktosa 2,6
bifosfat diubah kembali menjadi fruktosa 6- fosfat dan turut menghasilkan fosfat inorganik
(King, 2010).
Glikolisis juga diatur oleh kerja insulin dan glukagon di langkah yang dikatalisis oleh
piruvat kinase. Setelah makan makanan tinggi karbohidrat, kadar insulin yang tinggi dan
kadar glukagon yang rendah menurunkan aktivitas protein kinase A dan merangsang
fosfatase yang melakukan defosforilasi terhadap piruvat kinase. Defosforilasi menyebabkan
piruvat kinase menjadi lebih aktif. Fungsi utama pengaturan ini adalah menghambat glikolisis
selama puasa saat jalur yang sebaliknya, glukoneogenesis, diaktifkan (King, 2010).
Piruvat kinase juga diaktifkan oleh fruktosa 1,6-bifosfat. Mekanisme ini disebut
“feed forward”, yaitu, produk langkah terdahulu melakukan “feed forward” dan
mengaktifkan enzim yang mengkatalisis reaksi berikutnya. Inhibitor alosterik ATP dan alanin
menurunkan aktivitas piruvat kinase, saat jalur glukoneogenesis diaktifkan (Marks et al.,
2000).
BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

Alat Bahan
Tabung Reaksi Sampel : Sel Darah Merah
Rak Tabung Reaksi Dapar PBS 0,05 M (pH 7,4)
Beaker Glass 100 mL Larutan Glukosa dalam PBS pH 7,4
Tabung Folin-Wu Larutan Tembaga Alkalis
Penjepit Tabung Pereaksi Asam Fosfomolibdat
Automatic Pipette Dispender Aquades
Pipet Tetes
Tabung
Sentrifus+Sentrifugasi
Autoklaf
Spektrofotometer

B. Cara Kerja
 Kontrol positif
1. Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
2. Ambil darah manusia sebanyak 0,5 ml, kemudian masukkan kedalam tabung
reaksi
3. Ambil Dapar PBS 0,05 M sebanyak 7 mL, tambahkan kedalam tabung reaksi
yang sudah terdapat darah.
4. Setelah itu masukkan larutan kedalam tabung sentrifus, untuk dilakukan
sentrifugasi selama 1 menit. Didapatkan hasil pemisahan antara suspensi dan
endapan
5. Ambil suspensi kemudian masukkan kedalam tabung reaksi, lalu ditambahkan
glukosa dalam PBS sebanyak 1 mL
6. Kemudian lakukan inkubasi pada suhu 37°C selama 30 menit
7. Setelah itu dilakukan pemeriksaan kadar glukosa cara Folin-Wu
 Larutan yang sudah di inkubasi ditambahkan larutan tembaga alkalis
sebanyak 2 mL, kemudian lakukan pemanasan selama 8 menit
 Kemudian tambahkan pereaksi asam fosfomolibdat sebanyak 2 mL,
pindahkan larutan kedalam tabung folin-wu lalu encerkan dengan
aquades sampai 25 mL. Baca pada panjang gelombang 420 nm

 Kontrol negatif
1. Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
2. Ambil darah manusia sebanyak 0,5 ml, kemudian masukkan kedalam tabung
reaksi
3. Ambil Dapar PBS 0,05 M sebanyak 7 mL, tambahkan kedalam tabung reaksi
yang sudah terdapat darah. Kemudian panaskan pada suhu 100°C selama 5
menit.
4. Setelah itu masukkan larutan yang yang telah dipanaskan kedalam tabung
sentrifus, untuk dilakukan sentrifugasi selama 1 menit. Didapatkan hasil
pemisahan antara suspensi dan endapan
5. Ambil suspensi kemudian masukkan kedalam tabung reaksi, lalu ditambahkan
glukosa dalam PBS sebanyak 1 mL
6. Kemudian lakukan inkubasi pada suhu 37°C selama 30 menit
7. Setelah itu dilakukan pemeriksaan kadar glukosa cara Folin-Wu
 Larutan yang sudah di inkubasi ditambahkan larutan tembaga alkalis
sebanyak 2 mL, kemudian lakukan pemanasan selama 8 menit
 Kemudian tambahkan pereaksi asam fosfomolibdat sebanyak 2 mL,
pindahkan larutan kedalam tabung folin-wu lalu encerkan dengan
aquades sampai 25 mL. Baca pada panjang gelombang 420 nm
 Inhibitor positif
1. Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
2. Ambil darah manusia sebanyak 0,5 ml, kemudian masukkan kedalam tabung
reaksi
3. Ambil Dapar PBS 0,05 M sebanyak 6,5 mL, tambahkan kedalam tabung reaksi
yang sudah terdapat darah.
4. Setelah itu masukkan larutan yang yang telah dipanaskan kedalam tabung
sentrifus, untuk dilakukan sentrifugasi selama 1 menit. Didapatkan hasil
pemisahan antara suspensi dan endapan
5. Ambil suspensi kemudian masukkan kedalam tabung reaksi, lalu ditambahkan
fluorida sebanyak 0,5 mL dan glukosa dalam PBS sebanyak 1 mL
6. Kemudian lakukan inkubasi pada suhu 37°C selama 30 menit
7. Setelah itu dilakukan pemeriksaan kadar glukosa cara Folin-Wu
 Larutan yang sudah di inkubasi ditambahkan larutan tembaga alkalis
sebanyak 2 mL, kemudian lakukan pemanasan selama 8 menit
 Kemudian tambahkan pereaksi asam fosfomolibdat sebanyak 2 mL,
pindahkan larutan kedalam tabung folin-wu lalu encerkan dengan
aquades sampai 25 mL. Baca pada panjang gelombang 420 nm

NB : lakukan percobaan antara darah puasa dan darah tidak puasa


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

No Darah Puasa
Blanko (aquadest) Kontrol (+) Kontrol (-) Inhibitor (+)
1. 0,00 0,706 0,596 0,640
2. 0,00 0,650 0,569 0,647
3. 0,00 0,749 0,576 0,641
Rata-rata 0,701 0,580 0,642

No Darah Tidak Puasa


Blanko (aquadest) Kontrol (+) Kontrol (-) Inhibitor (+)
1. 0,00 0,544 0,668 0,547
2. 0,00 0,542 0,635 0,534
3. 0,00 0,548 0,672 0,542
Rata-rata 0,544 0,658 0,541

B. Pembahasan

Pada praktikum kali ini, dilakukan percobaan uji metabolisme glikolisis didalam sel
darah merah. Glikolisis merupakan suatu proses yang menyebabkan terjadinya konversi satu
molekul glukosa menjadi dua molekul piruvat. Glukosa akan diubah oleh enzim-enzim glikolisis
didalam sel darah merah menjadi asam laktat.

Pada percobaan ini dilakukan uji kontrol positif, kontrol negatif, serta penambahan
inhibitor. Masing-masing uji dilakukan pada darah puasa dan tidak puasa, tujuannya untuk
membandingkan kadar glukosa darah pada orang puasa dan tidak puasa. Pertama, darah dipipet
0,5 mL dan diletakkan pada tiap 3 tabung reaksi. Lalu ditambahkan dapar PBS 0,05 M (pH 7,4)
sebanyak 7 mL, kecuali pada tabung uji penambahan inhibitor yaitu 6,5 mL. Untuk uji kontrol
negatif, setelah penambahan dapar PBS dilakukan pemanasan pada suhu 100°C selama 5 menit.
Lalu semua tabung disentrifugasi selama 1 menit, dan diambil filtratnya. Dari filtrat tersebut
ditambahkan larutan glukosa 0,5% dalam PBS pH 7,4 sebanyak 1 mL, khusus untuk tabung uji
penambahan inhibitor ditambahkan larutan inhibitor yaitu fluorida sebanyak 0,5 mL, kemudian
tabung diinkubasi pada suhu 37°C selama 30 menit. Terakhir, dilakukan pemeriksaan kadar
glukosa dengan metode Folin-Wu yaitu ditambahkan tembaga alkalis sebanyak 2 mL lalu
dipanaskan pada suhu 100°C selama 8 menit dan dinginkan terlebih dulu sebelum ditambahkan
asam fosfomolibdat 2 mL dan diencerkan sampai 25 mL pada tabung Folin-Wu serta diamati
dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 420 nm. Didapatkan hasil glukosa darah puasa
kontrol positif yaitu 111,6 mg/dL; kontrol negatif yaitu 85,5 mg/dL; dan penambahan inhibitor
yaitu 98,9 mg/dL. Berdasarkan hasil tersebut, disimpulkan bahwa kadar glukosa darah yang
paling tinggi terpadat pada uji kontrol positif, hal tersebut kurang sesuai berdasarkan literatur
yang kami baca. Pada uji kontrol negatif, dilakukan pemanasan setelah ditambahkannya dapar
PBS. Pemanasan tersebut dapat merusak enzim-enzim yang berperan saat proses glikolisis
berlangsung, dan ketika enzim-enzim tersebut rusak maka proses glikolisis juga dapat terganggu.
Akibatnya glukosa yang diubah menjadi asam laktat hanya sedikit. Begitu pula, uji penambahan
inhibitor. Dengan ditambahkannya larutan inhibitor yaitu fluorida dimana larutan tersebut dapat
menghambat proses glikolisis, sehingga asam laktat yang dihasilkan dari proses glikolisis tersebut
pun berkurang.

Selanjutnya hasil dari glukosa darah tidak puasa kontrol positif yaitu 77,7 mg/dL; kontrol
negatif yaitu 102,3 mg/dL; dan penambahan inhibitor yaitu 77,1 mg/dL. Dari hasil pengujian
yang didapat, kadar glukosa darah yang paling tinggi terdapat pada uji kontrol negatif. Untuk
pengujian kontrol positif ini sudah sesuai dengan literatur karena hasil pada uji kontrol positif
lebih kecil daripada uji kontrol negatif. Namun, pada uji penambahan inhibitor, glukosa yang
dihasilkan lebih kecil dari pada uji kontrol positif. Hal ini kurang sesuai dengan teori, karena
sebenarnya dengan uji dengan penambahan inhibitor memiliki kadar gula darah lebih tinggi dari
uji kontrol positif, karena dengan penambahan inhibitor maka pembentukan glikolisis akan
terganggu, sehingga glukosa yang harusnya diuubah menjadi asam laktat tidak dapat berubah
secara maksimal.
BAB V

KESIMPULAN

1. Dari hasil pergujian, hasil glukosa pengujian kontrol positf keadaan puasa lebih besar
daripada keadaan tidak puasa, lalu hasil glukosa pada pengujian kontrol negatif
keadaan puasa lebih kecil daripada keadaan tidak puasa dan hasil glikosa pada
pengujian pada penambahan inhibitor keadaan puasa lebih besar daripada keadaan
tidak puasa.
DAFTAR PUSTAKA

Aswani, V. 2010. How Well Do You Understand Blood Glucose Levels? Medscape. [di akses
September 26, 2019] tersedia di : http://www.medscape.com/viewarticle/438144.

Cranmer, H., dan Shannon, M. 2009. Blood Glucose Levels: Medical Reference from Healthwise.
Hypoglycemia Diabetes Health Center.

Henriksen, EJ. 2009. Exercise effects of muscle insulin signaling and action invited review:
effects of acute exercise and exercise training on insulin resistance. J Appl Physiolgy. Arizona:
University of Arizona College of medicine.

A. King, Laura. 2010. Psikologi Umum. Jakarta : Salemba Humanika.

Marks, Dawn B, Allan D Marks and Collen M. Smith. 2000. Biokimia Kedokteran Dasar
Sebuah Pendekatan Klinis. EGC. Jakarta

Murray,Robert K,et al. 2003. Biokimia Harper ed. 25. Jakarta: EGC.

Perkeni, 2006, Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Indonesia 2006,
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, Jakarta
LAMPIRAN

A. Perhitungan
Ket: As = 0,647
Ab = 0,184

a. Darah puasa
 Kontrol (+)

Au−Ab 100
As−Ab
x 0,2 x 0,2
=

0,701−0,184 100
x 0,2 x = 111,6 mg/dl
0,647−0,184 0,2

 Kontrol (-)
Au−Ab 100
As−Ab
x 0,2 x 0,2

0,580−0,184 100
0,647−0,184
x 0,2 x 0,2
= 85,5 mg/dl

 Inhibitor (+)
Au−Ab 100
As−Ab
x 0,2 x 0,2

0,642−0,184 100
0,647−0,184
x 0,2 x 0,2
= 98,9 mg/dl

b. Darah Tidak Puasa


 Kontrol (+)
Au−Ab 100
As−Ab
x 0,2 x 0,2

0,544−0,184 100
0,647−0,184
x 0,2 x 0,2
= 77,7 mg/dl
 Kontrol (-)
Au−Ab 100
As−Ab
x 0,2 x 0,2

0,658−0,184 100
x 0,2 x = 102,3 mg/dl
0,647−0,184 0,2

 Inhibitor (+)
Au−Ab 100
As−Ab
x 0,2 x 0,2

0,541−0,184 100
0,647−0,184
x 0,2 x 0,2
= 77,1 mg/dl
B. GAMBAR