Anda di halaman 1dari 7

Menikah Bukan Gaya Hidup Lagi

Ewang Khoirul Asrori


Azifah Nur Mila

Pernikahan merupakan sebuah pilihan bagi setiap insan. Bagi sebagian orang yang
memilih untuk menikah, pernikahan merupakan salah satu pencapaian sosial yang
mempengaruhi kebahagian dan kesejahteraan seseorang. Pencapaian sosial tersebut tercapai
saat dua insan mengikat komitmen secara hukum untuk merubah kepemilikian dan
kepengurusannya dari hak dan kewajiban secara individu menjadi kepemilikan hak dan
kewajiban secara bersama pasangan (Bachtiar A, 2004). Institusi pernikahan tidak hanya
mengatur mengenai hubungan seksual tetapi juga mengukuhkan komitmen antarpasangan.
Komitmen ini memiliki efek yang positif terhadap kesehatan dan pendapatan pasangan yang
menikah pada pasar tenaga kerja (Stutzer, 2006)

Namun selama beberapa dekade terakhir secara global tingkat pernikahan terus
mengalami penurunan. Orang cenderung untuk menunda menikah dan sebagian bahkan
memilih untuk tidak menikah sama sekali. Di Amerika Serikat tingkat tidak-menikah
(unmarried) untuk usia 35 tahun keatas tumbuh 14% untuk pria dan lebih dari 10% untuk
wanita selama priode 1980-2010 (Eliot dkk, 2010). Menurut survei pada tahun 2010,
menunjukan bahwa separuh orang Amerika usia 19-35 tahun berpikir bahwa pernikahan
merupakan hal yang usang (Statista, 2019). Secara statistik usia pernikahan orang Amerika
juga mengalami perubahan secara signifikan selama tiga dekade terakhir. Pada tahun 1970,
rata-rata wanita menikah 20 tahun lebih muda saat pernikahan pertama mereka dan rata-rata
pada pria menunjukan hal yang sama. Kini rata-rata usia pernikahan pertama orang Amerika
adalah 29 tahun untuk pria dan 27 tahun untuk wanita (Statista, 2019).

Grafik 1: Persentase Proporsi Wanita Lajang Usia 35 Tahun ke Atas priode 1970-2010
Sumber: (Himawan, 2017)

Hal yang sama terjadi di Australia dan negara-negara Asia. Di Australia terjadi
penurunan tingkat pernikahan sebesar 7.8% selama priode 2012-2015, diikuti dengan
peningkatan pasangan yang hidup bersama sebelum menikah ( menyumbang angka terbesar
81% penurunan pernikahan) dan meningkatnya angka rata-rata usia menikah untuk pria dan
wanita (Australian Bureau of Statistics, 2016). Pada tahun 1990 di Australia, rata-rata usia
menikah pertama pria 28,2 tahun dan wanita 25,9 tahun meningkat menjadi 31,8 untuk pria
dan 29,8 untuk wanita pada tahun 2015 (Himawan, 2018). Hal yang sama terjadi pada negara-
negara di Eropa (Corselli-Nordblad & Gereoffy, 2015). Negara-negara di asia mengalami pola
yang sama tetapi dengan tingkat yang berbeda (Jones, 2014).

Pernikahan di Indonesia
Indonesia merupakan negara keempat dengan populasi terbesar di dunia (Ricklefs,
2001). Di Indonesia sendiri tingkat untuk tidak-menikah lebih rendah secara statistik
dibandingkan negara lain. Hal ini ditunjukan dari tingkat pernikahan dini yang masih tinggi di
Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik (2019), satu dari empat anak Indonesia menikah
pada usia kurang dari 18 tahun selama priode 2008 hingga 2015. Selain itu, UNICEF juga
menyatakan bahwa 14% perempuan di Indonesia menikah sebelum berusia 18 tahun sementara
1% perempuan di Indonesia menikah sebelum menginjak usia 15 tahun (Woodyatt, 2019).
Adapun faktor pendukung pernikahan anak di Indonesia didominasi oleh budaya, adat, dan
kepercayaan masyarakat.

Meski begitu, hal ini tidak menutup lubang adanya penundaan pernikahan atau bahkan
keputusan untuk tidak menikah. Data BPS yang dilansir dalam The Jakarta Post mengatakan
bahwa satu dari empat belas perempuan pada usia 30-39 tahun tidak pernah menikah (The
Jakarta Post, (2018). Dalam beberapa dekade terakhir sejak tahun 1970 hingga 2010, rata-rata
usia tingkat pernikahan Indonesia meningkat sebesar 3 tahun (Jones, 2010). Moderenisasi dan
kemajuan teknologi dinilai mendorong gaya hidup masyarakat Indonesia untuk cenderung
lebih individualis dan munanda pernikahan (Himawan, 2017).

Kenapa orang Indonesia mulai menunda pernikahan?

Pernikahan merupakan sebuah pencapaian sosial bagi sebagian besar masyarakat


Indonesia. Pada sebagian masyarakat Indonesia yang masih memegang teguh budaya
tradisional, menikah bukan hanya pilihan tetapi merupakan sebuah tuntutan. Pertanyaan kapan
menikah dalam acara kumpul keluarga, acara pernikahan, atau saat hangout bersama teman,
seolah menjadikan pernikahan sebagai sebuah keharusan sosial. Seorang pria akan dituntut
untuk menikahi seorang wanita, kemudian menghasilkan keturunan bagi keluarganya. Lalu
pria yang telah menjadi seorang suami sekaligus seorang ayah akan dituntut untuk bekerja
menafkahi keluarga, membayar uang sekolah dan listrik, dan wajib memberi uang bulanan.
Bagi seorang wanita, menikah berarti harus merawat anak, mengurus rumah tangga, dan
melayani seorang suami.

Sebagian masyarakat moderen menganggap pernikahan sebagai suatu hal yang


mengekang. Pernikahan akan membatasi opsi seseorang untuk mengenyam pendidikan atau
sekedar berkumpul bersama teman-teman. Orang yang sudah menikah berarti harus membagi
kesejahteraannya dengan pasangan dan anaknya. Pria yang sudah menikah mungkin akan
berpikir untuk menyimpan pendapatannya, dibandingkan untuk mengikuti hobi menonton
pertandingan olahraga di stadion sepakbola bersama teman-temannya. Atau bagi seorang
wanita mungkin harus menunda membeli tas favoritnya untuk ditabung membeli bahan-bahan
makanan untuk keluarga. Selain itu, norma-norma pernikahan dan agama yang berlaku di
Indonesia juga mengikat pasangan individu yang sudah menikah untuk berperilaku di dalam
masyarakat. Oleh karena itu, sebagian masyarakat moderen menganggap pernikahan
merampas kebebasan.

Kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan mendorong meningkatnya


pendidikan dan karir bagi wanita. Akses yang lebih tinggi bagi wanita dalam perekonomian
akan menyediakan banyak opsi bagi wanita dibandingkan menikah dini (Himawan, 2017).
Menurut data BPS (2016), partisipasi wanita dalam pasar tenaga kerja meningkat tajam, yaitu
sebesar 55% wanita yang bekerja. Peningkatan pendidikan dan akses ke perekonomian bagi
wanita selain menghasilkan banyak opsi bagi penundaan pernikahan, juga mengubah
ekspektasi wanita dalam menemukan kriteria pria yang tepat.

Tingginya tingkat pendidikan secara umum bagi seorang individu akan memberikan
kemampuan untuk berpikir rasional. Bagi sebagian orang pendidikan dan karir merupakan hal
rasional yang penting dan menjadi prioritas. Pernikahan membutuhkan biaya yang mahal
seperti; pendidikan anak, kesehatan, asuransi, kepemilikan rumah dan aset, biaya pernikahan
dan kebutuhan lain. Menurut survei pada tahun 2018, generasi milenial (masyarakat yang lahir
tahun 1990an) menjadikan kepemilikan rumah pribadi dan kemandirian finansial yang sukses
sebagai sebuah prioritas tujuan dibandingkan harus menikah atau memiliki anak.

Menurut beberapa studi, menjadi lajang dinilai lebih bahagia dibandingkan menikah
(Myres, 2000). Berdasarkan Susenas (2014), ditemukan bahwa orang yang memilih lajang di
Indonesia cenderung sedikit lebih bahagia dibandingkan dengan yang menikah (menikah,
68,74% dan lajang 68,77%) (BPS, 2015). Pernikahan selain berarti harus membagi
kesejahteraan bersama, menikah juga berpotensi terjadinya pertengkaran dalam rumah tangga
dan perceraian. Perceraian akan berdampak negatif terhadap kesehatan mental pasangan dan
kesehatan mental anak (D’Onofrio, 2019). Selain itu, terdapat tantangan ekonomi dan sosial
yang lebih besar dalam sebuah pernikahan.
Kondisi struktual dan sosial suatu negara juga dinilai mempengaruhi keputusan
individu untuk menikah. .Kebijakan pemerintah seperti Program Keluarga Berencana KB,
norma agama dan norma sosial yang kuat di Indonesia membatasi sebuah pasangan untuk
tinggal bersama. Hal ini menjadikan lajang di Indonesia tidak memiliki status yang sah selain
pernikahan untuk memenuhi kebutuhan emosional dan seksual. Kohabitasi (tinggal bersama
atau kumpul kebo) dianggap melanggar hukum di Indonesia. Selain itu, norma sosial dan agama
yang kuat melarang untuk pasangan yang belum menikah tinggal bersama. Meskipun ada
larangan dalam hukum, sosial dan agama, pasangan yang tinggal bersama sebelum menikah
terus meningkat (Jones, 2010, Situmorang, 2007). Sejumlah penelitian menunjukan bahwa
anak muda cenderung lebih menerima seks pra-nikah dan non-nikah (Djannah, 2016). Pada
masyarakat milenial urban mengenal istilah one night stand atau friend with benefit (FWB)
sebagai sebuah hubungan untuk berhubungan seks tanpa menikah. Oleh karena itu, untuk
sebagian orang jika bisa melakukan hubungan seks tanpa ikatan pernikahan yang mengikat,
mengapa harus menikah?

Dampak kedepan bagi perekonomian

Moderenisasi membawa dampak perubahan bagi masyarakat, terutama transformasi


sosial (Rossel, 2012). Peningkatan ekonomi yang tinggi akan berdampak pada stimulus
urbanisasi, birokrasi, kesetaraan gender, tingkat pendidikan yang tinggi, dan kesempatan kerja
yang tinggi (Rossel, 2012). Kesetaraan gender dan peningkatan kesempatan pada pendidikan
dan dunia kerja pada akhirnya berdampak terhadap keputusan individu untuk menunda
pernikahan dan keputusan untuk tidak menikah. Padahal pernikahan memiliki pengaruh dalam
perekonomian (Gallup, 2013).

Menurut Gallup (2013), rata-rata pengeluaran orang Amerika yang menikah cenderung
lebih tinggi dibandingkan pengeluaran rata-rata orang Amerika yang tidak menikah. Asuransi
pendidikan, asuransi keluarga, dan kebutuhan pengeluaran keluarga lainnya dapat menjadi
stimulus perekonomian. Apalagi struktur perekonomian terbesar kita bertumpu pada
pengeluaran rumah tangga. Rendahnya tingkat pernikahan akan menyebabkan menurunannya
tingkat kelahiran dan penuaan populasi secara agregrat (Himawan, 2018).

Melihat pertumbuhan pernikahan yang terus menurun, Indonesia diprediksi akan


menjadi negara dengan populasi lajang terbesar di Asia (Null, 2010). Hal ini akan berdampak
pada penurunan kelahiran dan penuaan populasi. Pertumbuhan populasi berperan penting
dalam variabel-variabel perekonomian seperti ketersedian tenaga kerja, pertumbuhan output
dan pengeluaran, serta pertumbuhan investasi (Peterson, 2017). Namun pada beberapa studi
menemukan bahwa pertumbuhan penduduk yang tinggi juga berdampak buruk bagi
perekonomian tergantung pada struktur negara masing-masing. Oleh karena itu, terlepas dari
buruk atau baik bagi perekonomian, pertumbuhan populasi melalui keputusan individu untuk
menunda pernikahan dan keputusan untuk tidak menikah pada akhirnya akan berdampak pada
perekonomian Indonesia.
References
A, Bachtiar. 2004. Menikahlah Maka Engkau akan Bahagia. Yogyakarta: Saujana Yogyakarta.

Corselli-Nordblad, L., Gereoffy, A. 2015. Marriage and birth statistics—New ways of living together in
the EU.

Elliot. 2010. "Red, Rank, and Romance in Women Viewing Men." Journal of Experimental Psychology
399-417.

Elliott, D. B., Krivickas, K., Brault, M. W., Kreider, R. M. 2010. "Historical marriage trends from 1890-
2010: A focus on race differences. Paper presented at the Annual Meeting of the Population
Association of America."

Himawan. 2019. "Modernization and singlehood in Indonesia: Psychological and social impacts."
Kasetrat Journal of Social Science Pages 499-506.

Himawan. 2018. "What Does It Mean to Be Single in Indonesia? Religiosity, Social Stigma, and
Marital Status Among Never-Married Indonesian Adults." SAGE Open 8(3).

Peterson, S Wesley. 2017. "The Role of Population in Economic Growth." SAGE Journal Valume 7.

Statista. 2019. Wedding and Marriage. Statista.

Statistik, Badan Pusat. 2014. Indeks Kebahagian Manusia. Badan Pusat Statistik.
U.S. Census Bureau . (2011). Unmarried and single Americans week: Sept. 18-24, 2011.

Australian Bureau of Statistics . (2012). Australian social trends, March quarter 2012.

Badan Pusat Statistik . (2016). Pencari Kerja Terdaftar, Lowongan Kerja Terdaftar, dan
Penempatan/Pemenuhan Tenaga Kerja Menurut Provinsi dan Jenis Kelamin, 2000-2015
[Statistics Indonesia].