Anda di halaman 1dari 22

PERILAKU BISNIS YANG SAH

MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Etika Bisnis Islam
Dosen Pengampu: Irpan Helmi, S.Th.I., M.Sy

Disusun Oleh

Kelompok 5
Dea Sarah Almanik
Laila Nurul Syahara
Pini Oktaviani

PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAH


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM SABILI
BANDUNG
2019
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Shalawat serta
salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi
Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di akhirat nanti.
Penyusun mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat
sehat-Nya, baik itu berupa sehar fisik maupun akal pikiran, sehingga penyusun
mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas kelompok dari mata
kuliah Etika Bisnis Islam dengan judul “Perilaku Bisnis Yang Sah”.
Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkonstribusi dalam penyusunan makalah ini. Penyusun tentu menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta
kekurangan di dalamnya. Oleh sebab itu, kami sangat menantikan kritik dan saran
yang membangun dari setiap pembaca untuk materi evaluasi kami mengenai
penulisan makalah berikutnya. Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Bandung, Juli 2019

Tim Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................i

BAB I PENDAHULUAN............................................................................................1

A. Latar Belakang Masalah...............................................................................................1

B. Rumusan Masalah........................................................................................................1

C. Tujuan Masalah............................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN............................................................................................3

A. Etika Islam Dalam Produksi.........................................................................................3

B. Pedoman Islam Dalam Faktor-Faktor Produksi............................................................5

C. Pedoman Islam Dalam Produksi Barang....................................................................10

D. Pedoman Islam Dalam Produksi Jasa.........................................................................12

E. Etika Isalam Dalam Sirkulasi.....................................................................................13

F. Etika Islam Dalam Distribusi.....................................................................................15

BAB III PENUTUP...................................................................................................18

A. Kesimpulan................................................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................19

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Secara normatif, etika bisnis menurut hukum Islam memperlihatkan adanya
suatu struktur yang berdiri sendiri dan terpisah dari struktur lainnya. Hal itu
disebabkan bahwa dalam ilmu akhlak (moral), struktur etika dalam agama Islam lebih
banyak menjelaskan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran baik pada tataran niat atau ide
hingga perilaku dan perangai. Nilai moral tersebut tercakup dalam empat sifat, yaitu
shiddiq, amanah, tabligh dan fathonah. Keempat sifat ini diharapkan dapat menjaga
pengelolaan institusi-institusi ekonomi dan keuangan secara profesional dan menjaga
interaksi ekonomi, bisnis dan social berjalan sesuai aturan permainan yang berlaku.
Dalam hukum Islam, etika bisnis tidak hanya dipandang dari aspek etika
secara parsial, tetapi dipandang secara keseluruhan yang memuat kaidah-kaidah yang
berlaku umum dalam agama Islam. Artinya, bahwa etika bisnis menurut hukum Islam
harus dibangun dan dilandasi oleh prinsip-prinsip kesatuan (unity),
keseimbangan/keadilan (equilibrium), kehendak bebas/ikhtiar (free will),
pertanggungjawaban (responsibility) dan kebenaran (truth), kebajikan (wisdom) dan
kejujuran (fair). Kemudian, harus memberikan visi bisnis masa depan yang bukan
semata-mata mencari keuntungan yang bersifat “sesaat”, melainkan mencari
keuntungan yang mengandung “hakikat” baik, yang berakibat atau berdampak baik
pula bagi semua umat manusia.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana etika Islam dalam produksi?
2. Bagaimana pedoman Islam dalam faktor-faktor produksi?
3. Bagaimana pedoman Islam dalam produksi barang?
4. Bagaimana pedoman Islam dalam produksi jasa?
5. Bagaimana etika Islam dalam sirkulasi?
6. Bagaimana etika Islam dalam distribusi?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui etika Islam dalam produksi.
2. Untuk mengetahui pedoman Islam dalam faktor-faktor produksi.

1
2

3. Untuk mengetahui pedoman Islam dalam produksi barang.


4. Untuk mengetahui pedoman Islam dalam produksi jasa.
5. Untuk mengetahui etika Islam dalam sirkulasi.
6. Untuk mengetahui etika Islam dalam distribusi.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Etika Islam Dalam Produksi


Menurut al-Ghazali, kerja produktif merupaka bagian dari ibadah sedangkan
memproduksi kebutuhan untuk kesejahteraan masyarakat merupakan tugas kewajiban
sosial (fardh kifayah). Apabila barang kebutuhan itu sudah diproduksi oleh sebagian
orang, maka kewajiban itu telah gugur. Tetapi, apabila tidak ada yang melakukan atau
diproduksi dengan jumlah yang kurang, maka semua akan dimintai
pertanggungjawaban di akhirat. Negara sebagai institusi sosial masyarakat tertinggi
harus memikul tanggung jawab ini untuk memastikan bahwa kebutuhan itu tersedia
dalam jumlah yang cukup.1
Dalam fikih ekonomi Umar r.a ditemukan kaidah-kaidah produksi. Yang
dimaksud dengan kaidah syariah disini bukan dari sisi halal dan haram saja, namun
lebih luas lagi yang mencakup tiga sisi, yaitu: akidah, ilmu, dan amal. Akidah, adalah
keyakinan seorang muslim bahwa aktifitasnya dalam bidang perekonomian
merupakan bagian dari peranannya dalam kehidupan, yang jika dilaksanakan dengan
ikhlas dan cermat akan menjadi ibadah baginya. Ilmu, seorang muslim wajib
mempelajari hukum-hukum syariah yang berkaitan aktifitas perekonomiannya,
sehingga dia mengetahui apa yang benar dan yang salah di dalamnya, agar
muamalahnya benar, usahanya lancar, dan hasilnya halal. Amal, sisi ini merupakan
hasil aplikasi terhadap sisi akidah dan sisi ilmiah, yang dampaknya nampak dalam
kualitas produksi yang dihasilkan oleh seorang muslim dan dilemparkannya ke pasar.2
Al-Qur'an dan Hadis Rasulullah SAW., memberikan arahan mengenai prinsip-
prinsip produksi sebagai berikut:
1. Tugas manusia di muka bumi sebagai khalifah Allah adalah memakmurkan bumi
dengan ilmu dan amalnya. Allah menciptakan bumi dan langit beserta segala apa
yang ada di antara keduanya karena sifat Rahman dan Rahim-'Nya kepada

1
Yadi Janwari, PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM Dari Masa Rasulullah Hingga Masa
Kontemporer, (Bandung: PT Rosdakarya, 2016), 196.
2
Jaribah Bin Ahmad Al-Haritsi, Fikih Ekonomi Umar Bin Al-Khathab, (Jakarta: Pustaka Al-
Kautsar, 2014), 64.

3
4

manusia. Karenanya sifat tersebut juga harus melandasi aktivitas manusia dalam
pemanfaatan bumi dan langit dan segala isinya.
2. Islam selalu mendorong kemajuan di bidang produksi. Menurut Yusuf Qardhawi,
Islam membuka lebar penggunaan metode ilmiah yang didasarkan pada
penelitian, eksperimen, dan perhitungan. Akan tetapi Islam tidak membenarkan
penuhanan terhadap hasil karya ilmu pengetahuan dalam arti melepaskan dirinya
dari Al-Qur'an dan Hadis.
3. Teknik produksi diserahkan kepada keinginan dan kemampuan manusia. Nabi
pernah bersabda: "Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian".
4. Dalam berinovasi dan bereksperimen, pada prinsipnya agama Islam menyukai
kemudahan, menghindari mudarat dan memaksimalkan manfaat. Dalam Islam
tidak terdapat ajaran yang memerintahkan membiarkan segala urusan berjalan
dalam kesulitannya, karena pasrah kepada keberuntungan atau kesialan, karena
berdalih dengan ketetapan dan ketentuan Allah, atau karena tawakal kepada-Nya,
sebagaimana keyakinan yang terdapat di dalam agama-agama selain Islam.
Sesungguhnya Islam mengingkari itu semua dan menyuruh bekerja dan berbuat:,
bersikap hati-hati dan melaksanakan selama persyaratan. Tawakal dan sabar
adalah konsep penyerahan hasil kepada Allah SWT., sebagai pemilih hak
prerogatif yang menentukan segala sesuatu setelah segala usaha dan persyaratan
dipenuhi dengan optimal.3
Adapun kaidah-kaidah dalam berproduksi antara lain adalah:
1. Memproduksi barang dan jasa yang halal pada setiap tahapan produksi.
2. Mencegah kerusakan di muka bumi, termasuk membatasi polusi, memelihara
keserasian, dan ketersediaan sumber daya alam.
3. Produksi dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan individu dan masyarakat serta
mencapai kemakmuran. Kebutuhan yang harus dipenuhi harus berdasarkan
prioritas yang ditetapkan agama, yakni terkait dengan kebutuhan untuk tegaknya

3
Mustafa Edwin Nasution, Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam, (Jakarta: Kencana, 2006),
110.
5

akidah/agama, terpeliharanya nyawa, akal dan keturunan/kehormatan, serta untuk


kemakmuran material.
4. Produksi dalam Islam tidak dapat dipisahkan dari tujuan kemandirian umat.
Untuk itu hendaknya umat memiliki berbagai kemampuan, keahlian dan
prasarana yang memungkinkan terpenuhinya kebutuhan spiritual dan material.
Juga terpenuhinya kebutuhan pengembangan peradaban, di mana dalam kaitan
tersebut para ahli fiqh memandang bahwa pengembangan di bidang ilmu, industri,
perdagangan, keuangan merupakan fardhu kifayah, yang dengannya manusia bisa
melaksanakan urusan agama dan dunianya.
5. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia baik kualitas spiritual maupun
mental dan fisik. Kualitas spiritual terkait dengan kesadaran rohaniahnya, kualitas
mental terkait dengan etos kerja, intelektual, kreatifitasnya, serta fisik mencakup
kekuatan fisik, kesehatan, efisiensi, dan sebagainya. Menurut Islam, kualitas
rohaniah individu mewarnai kekuatan-kekuatan lainnya, sehingga membina
kekuatan rohiah menjadi unsur penting dalam produksi Islami.4
B. Pedoman Islam Dalam Faktor-Faktor Produksi
Konsep kasb yang dikemukakan al-Syaibani merupakan benih-benih bagi
lahirnya teori produksi karena hakikat dari produksi adalah kerja. Dalam kajian
ekonomi kontemporer, kerja merupakan salah satu faktor produksi yang paling
dominan. Dalam teori ekonomi modern, faktor produksi itu terdiri dari tenaga kerja,
modal, dan sumber daya alam. Pada perkembangannya, faktor produksi itu dipilah
menjadi dua, yakni faktor produksi asli dan faktor produksi turunan. Faktor produksi
asli terdiri dari sumber daya manusia dan sumber daya alam, sedangkan faktor
produksi turunan terdiri dari sumber daya modal dan kewirausahaan.5
Produksi merupakan kombinasi dari faktor-faktor produksi untuk
menghasilkan barang atau jasa dalam rangka memenuhi kebutuhan. Pemilihan faktor-

4
M.A. Mannan, Ekonomi Islam: Teori dan Praktek, alih Bahasa Pafat Arif Harahap, (Jakarta:
Intermasa, 1992), 54-55.
5
Yadi Janwari, Pemikiran Ekonomi Islam...., 136-137.
6

faktor produksi merupakan hal yang penting bagi produsen karena kombinasi faktor
produksi yang terbaik akan menghasilkan produk yang terbaik. Yang dimaksud faktor
produksi adalah benda-benda yang disediakan oleh alam atau diciptakan oleh
manusia yang dapat digunakan untuk memproduksi barang-barang dan jasa.
Menurut Sadono Sukirno, faktor-faktor produksi yang tersedia dalam
perekonomian dibedakan kepada empat jenis, yaitu 1)tanah dan sumber alam;
2)tenaga kerja; 3)modal; dan 4)keahlian keusahawanan.6 Menurut Afzalur Rahman
faktor-faktor produksi dapat dibedakan menjadi empat golongan, yaitu: tenaga kerja,
tanah, modal, dan organisasi.7
Dalam perspektif ekonomi konvensional atau Barat, terdapat empat faktor
profuksi: tanah, tenaga kerja, modal, dan organisasi. Sedangkan dalam perspektif
ekonomi Islam, faktor produksi itu terdiri dari enam yaitu: lingkungan, sumber daya
alam, faktor manusia yang mencakup tenaga kerja dan manajemen, modal dan
masyarakat, serta bimbingan dan berkat Allah.8
1. Lingkungan/Tanah
Manusia dapat memanfaatkan lingkungan dalam proses produksi sebatas tidak
melanggar keseimbangannya.9 Istilah tanah sering dipergunakan dalam pengertian
yang luas dan mencakup semua sumber penghasilan pokok yang dapat kita peroleh
dari udara, laut, pegunungan, dan sebagainya. 10 Kondisi-kondisi geografis, angin, dan
iklim juga termasuk kedalam pengertian lahan. QS. Al-Jaatsiyah:45:12-13.
         
         
          
  

6
Sadono Sukirno, Pengantar Teori Makroekonomi, Edisi Kedua, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2013), 6-7.
7
Afzalur Rahman, Muhammad Sebagai Pedagang, (Bandung: Pelangi Mizan, 2009),193.
8
Yadi Janwari, Pemikiran Ekonomi Islam...., 26-27.
9
Ibid., 27.
10
Afzalur Rahman, ...195.
7

(12). Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya


kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya
kamu dapat mencari karunia -Nya dan Mudah-mudahan kamu
bersyukur. (13). dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di
langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-
Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.11

Istilah tanah diberi arti khusus di dalam ilmu ekonomi. Ia tidak hanya
bermakna tanah saja seperti yang terpakai dalam pembicaraan sehari-hari, melainkan
bermakna segala sumber daya alam, seperti air dan udara, pohon dan binatang, dan
segala sesuatu yang diatas dan dibawah permukaan tanah, yang menghasilkan
pendapatan atau menghasilkan produk. Menurut Marshall, tanah berarti “material dan
kekuatan yang diberikan oleh alam secara cuma-cuma untuk membantu manusia,
termasuk tanah dan air, udara dan cahaya, dan panas”.12
2. Sumber daya alam
Faktor lingkungan dimanfaatkan dalam upaya untuk dilestarikan dan tidak
mengganggu ekosistem secara keseluruhan, sementara faktor sumber daya alam
dimanfaatkan dalam upaya untuk pembangunan ekonomi.13
3. Manusia
Faktor manusia meliputi tenanga kerja, manajemen atau organisasi dan
kewirausahaan. Tenaga kerja sebagai sumber daya ekonomi telah ditekankan dalam
al-Qur’an dan Sunnah. Al-Qur’an berkali-kali menekankan pentingnya kerja dan
kebutuhan untuk itu. Al-Qur’an mengajarkan prinsip mendasar mengenai tenaga kerja
QS. An-Najm: 51.
     
dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-
pasangan pria dan wanita.14

11
Al-Qur'an dan terjemahan. Departemen Agama RI. Bandung: CV Diponegoro. 2010.
12
Suherman R., Sistem Ekonomi Islam: Prinsip Dasar, (Jakarta: Kencana, 2012), 161.
13
Yadi Janwari,........27.
14
Al-Qur'an dan terjemahan. Departemen Agama RI. Bandung: CV Diponegoro. 2010.
8

Menurut ayat ini, tidak ada jalan tol atau jalan yang mudah menuju
kesuksesan. Jalan menuju kemajuan dan kesuksesan di dunia ini adalah melalui
perjuangan dan usaha. Semakin keras orang bekerja, semakin tinggi pula imbalan
yang akan mereka terima.
Dalam al-Sunnah, kerja sangat dihargai, di mana Nabi telah mengatakan
bahwa ada beberapa dosa yang tidak bisa dihapus (diampuni) kecuali dengan bekerja
mencari nafkah. Semua jenis pekerjaan yang sah sangat didorong, bahkan pekerjaan
yang hanya mengambil manfaat atas burung dan hewan, “Tidaklah seorang Muslim
telah menanam tanaman atau bertani ranting, dan burung atau hewan makan dari
itu melainkan telah diberi pahal untuk itu”.15 Selain Nabi SAW, para sahabat Nabi
pun telah memberikan contoh bagaimana mereka hidup di pasar dan menyediakan
kebutuhan mereka sendiri.16
Organisasi atau enterprise memainkan peran utama dalam produksi. Pemasok
faktor produksi ini disebut entrepreneur atau organisator. Seluruh kerja organisasi,
perencanaan, dan pengelolaan disebut enterprise.17
4. Modal
Modal merupakan salah satu faktor produksi. Ia adalah kekayaan yang dipakai
untuk menghasilkan kekayaan lagi. Dia adalah “alat produksi yang diproduksi” atau
dengan kata lain “alat produksi buatan manusia”. Modal meliputi semua barang yang
diproduksi tidak untuk konsumsi, melainkan untuk produksi lebih lanjut, seperti;
mesin, peralatan, alat-alat pengangkutan, uang tunai, dan lain-lain. Jadi, modal adalah
kekayaan yang didapatkan oleh manusia melalui tenaganya sendiri dan kemudian
menggunakannya untuk menghasilkan kekayaan lebih lanjut.18

15
Hadits Riwayat al-Bukhari dan Muslim.
16
Yadi Janwari, PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM,.... 20.
17
Suherman R., Sistem Ekonomi Islam: Prinsip Dasar, 207.
18
Ibid., 201.
9

Alokasi kekayaan tidak hanya untuk kepentingan konsumsi semata, tetapi


harus dialokasi untuk kepentingan masa depan yang diwujudkan dalam bentuk
investasi. Alokasi kekayaan untuk investasi masa depan itulah yang disebut modal.19
Persoalan yang sering kali menjadi perdebatan adalah persoalan harga dari
modal. Dalam Islam, harga modal adalah tingkat pengembalian modal yang
dihasilkan terutama dari keuntungan. Oleh karena itu, tidak dibenarkan menjadi riba
atau suku bunga sebagai harga dari modal. Hal ini disebabkan karena riba atau suku
bunga adalah sesuatu yang dilarang di dalam al-Qur’an dan Sunnah. Firman Allah
Swt, “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.20 Menurut Islam,
terdapat dua hubungan antara pemberi pinjaman dan peminjam. Pertama, jika
pinjaman itu untuk tujuan konsumsi maka harus diberikan secara gratis dan tidak
mengambil keuntungan apapun. Kedua, jika pinjaman itu untuk tujuan bisnis maka
harus diberikan pembagian keuntungan dan kerugian. Peminjam dan pemberi
pinjaman secara bersama-sama berhak untuk berbagi keuntungan dan kewajiban
menanggung kerugian yang dialami.21
5. Masyarakat
Dalam ekonomi Islam, masyarakat sebagai market sangat memengaruhi
produksi. Barang atau jasa yang diproduksi oleh produsen akan selalu memperhatikan
kebutuhan masyarakat, terutama kapasitasnya sebagai konsumen. Produksi
diorientasikan untuk memberikan layanan kepada masyarakat. Pelayanan yang baik
akan menimbulkan hubungan timbal balik antara kegiatan bisnis di satu sisi dengan
masyarakat sekitarnya di sisi yang lain.22
6. Bimbingan dan berkah Allah
Faktor ini sebagai pembeda antara sistem ekonomi yang dibangun di atas
pemikiran sekuler dengan sitem ekonomi yang dibangun di atas landasan agama.
Dalam perspektif Islam, setiap muslim ditetapkan untuk selalu mengingat dan
19
Yadi Janwari, ... 28.
20
Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 275.
21
Yadi Janwari, ... 21.
22
Ibid., 28.
10

memperhatikan Allah ketika melakukan tindakan apapun, termasuk didalamnya


ketika melakukan tindakan produksi. Secara teologis, tugas manusia itu hanya
berusaha, sementara yang menentukan segalanya adalah Allah. Oleh karena itu, setiap
muslim akan secara maksimal melakukan kegiatan produksi, tetapi keberhasilannya
sangat ditentukan oleh bantuan, kebijaksanaan, bimbingan, dan berkah Allah.23
C. Pedoman Islam Dalam Produksi Barang
Ekonomi Islam sangat menganjurkan dilaksanakannya aktivitas produksi dan
mengembangkannya, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Islam menghendaki
semua tenaga dikerahkan untuk meningkatkan produktivitas lewat ketekunan yang
diridhai Allah atau ihsan yang diwajibkan atas segala sesuatu. Adapun pedoman Islam
dam produksi barang dan jasa daintaranya yaitu :
1. Memproduksi yang dihalalkan Allah
Prinsip etika dalam produksi yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim,
baik individu ataupun komunitas, adalah berpegang pada semua yang dihalalkan
Allah dan tidak melewati batas. 24
Benar bahwa daerah halal itu luas, tetapi mayoritas jiwa manusia yang
ambisius merasa kurang puas dengan hal itu walaupun banyak jumlahnya. Maka kita
temukan jiwa manusia yang tergiur kepada sesuatu yang haram dengan melanggar
hukum-hukum Allah. Padahal Allah berfirman Q.S. Al-Baqarah : 229
       
“Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-
orang yang zalim”25
Pada dasarnya, produsen pada tatanan ekonomi konvensional tidak mengenal
istilah halal dan haram. Yang menjadi prioritas kerja mereka adalah memenuhi
keinginan pribadi dengan mengumpulkan laba, harta, dan uang. Mereka tidak

23
Loc.cit.
24
Yusuf Qardhawi, Norma dan Etika Ekonomi Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 1997),
117.
25
Al-Qur'an dan terjemahan. Departemen Agama RI. Bandung: CV Diponegoro. 2010.
11

mementingkan apakah yang diproduksinya itu bermanfaat atau berbahaya, baik atau
buruk, halal atau haram.
Sedangkan dalam prinsip Islam, syariat melaranng memproduksi barang/ jasa
yang haram, baik haram untuk digunakan atau dikoleksi. Misalnya PSK, mebuat
patung, menanam anggur yang diniatkan untuk membuat wine(minuman keras), dsb.
2. Mengelola Sumber Daya (Prinsip Efisiensi)
Hendaknya sumber daya ekonomi dimanfaatkan secara efisien, dijaga agar
tidak terbuang percuma dan didayagunakan dengan prinsip pertengahan, yaitu
dilakukan dalam keseimbangan tanpa kecenderungan untuk ektremisme (tidak
berlebih-lebihan).26 Al-Quran menganjurkan manusia untuk mengelola sumber-
sumber kekayaan yang sudah Allah sediakan di muka bumi ini dengan sebaik-
baiknya. Allah berfirman QS al-Baqarah:29.
             
      
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia
berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha
mengetahui segala sesuatu.27
Dalam ayat lain Allah juga menerangkan bahwa manusia mempunyai
tanggung jawab besar yang tidak dimiliki oleh mahluk lainnya di muka bumi ini,
yaitu sebagai khalifah (pemimpin). Peranan manusia sebagai khalifah di muka bumi
memerankan fungsi penting yang artinya ada sebuah amanah besar yang dibebankan
kepada manusia untuk memakmurkan bumi. Allah memberikan mandat ini kepada
manusia karena manusia memiliki kelebihan akal pikiran untuk memanfaatkan segala
sesuatu yang telah Allah sediakan dan digunakan untuk kesejahteraan hidupnya.
3. Memenuhi kebutuhan masyarakat
Salah satu norma produksi adalah membuat variasi bentuk produksi sesuai
dengan kebutuhan masyarakat. Jika produsen dalam sistem kapitalis mengejar laba

26
Yadi Janwari, ...13-15.
27
Al-Qur'an dan terjemahan. Departemen Agama RI. Bandung: CV Diponegoro. 2010.
12

tanpa memperdulikan apakah produknya dibutuhkan oleh masyarakat atau tidak,


maka produsen muslim membuat produk sesuai dengan kebutuhan manusia.
Hadits-hadits Nabi menganjurkan manusia untuk meningkatkan hasil
pertanian dan perkebunan serta menganjurkan manusia meningkatkan industri dan
teknologi, sebagaimana beliau menganjurkan perdagangan dan jual beli. Tujuannya
adalah agar barang produksi kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi,tanpa ada
sedikitpun tertinggal.28

D. Pedoman Islam Dalam Produksi Jasa


Menurut al-Syaibani usaha produktif (iktisab) adalah usaha untuk
menghasilkan harta melalui cara-cara yang diperbolehkan berdasarkan syar’i (halal).
Pengertian ini menjelaskan bahwa iktisab merupakan salah satu cara untuk
mendapatkan harta atau kekayaan. Cara perolehan kekayaan itu baru dikategorikan
kepada iktisab apabila tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan syara’.
Ketentuan syara’ menjadi pengendali bagi usaha pencarian harta yang dilakukan oleh
seorang muslim.29
Tujuan utama dari usaha produktif adalah bukan hanya sekedar mengejar
keuntungan semata, tetapi juga untuk membantu orang lain melakukan ketaatan dan
ibadah dengan niat menolong diri sendiri dan orang lain dalam melaksanakan
ketaatan kepada Allah. Dengan kata lain, pendekatan yang digunakan untuk
memperoleh kekayaan adalah pendekatan islamic man. Orientasi yang dibangun
adalah keseimbangan antara self interest dengan public interest atau altruistic.
E. Etika Isalam Dalam Sirkulasi
Sirkulasi adalah kumpulan perjanjian dan proses yang dimana manusia
menjalankan aktifitasnya. Pengertian lain adalah pendayagunaan barang dan
jasamelalui kegiatan jual beli dan simpan pinjam via agen, koperasi, dan lain-lain,
baik sebagai sarjana perdagangan maupun tukar menukar barang.
Pada dasarnya, Islam menganut prinsip kebebasan terikat yaitu kebebasan
berdasarkan keadilan, undang-undang agama, dan etika. Didalam peraturan sirkulasi
28
Yusuf Qardhawi, Norma dan Etika Ekonomi Islam, 133-134.
29
Yadi Janwari,.... 137.
13

atau perdagangan islami terdapat norma, etika agama, dan perkembangan yang
menjadi landasan pokok bagi pasar islam yang bersih. Diantara norma itu adalah:
1. Menegakkan larangan memperdagangkan barang-barang yang diharamkan.
Norma pertama yang ditekankan Islam adalah larangan mengedarkanbarang-
barang haram, baik dengan cara membeli, menjual, memindahkan,atau cara apa saja
untuk memudahkan peredarannya. “Allah melaknat ikhamar (minuman keras),
peminumnya, penyajinya, penjualnya, penyulingnya, pembawanya, dan pemakan
hartanya. (HR. Jamah dari Jabir)
2. Bersikap benar, amanah, dan jujur.
a) Benar adalah ruh keimanan, ciri utama orang mukmin, bahkan ciripara nabi.
Tanpa kebenaran, agama tidak akan tegak dan tidak akanstabil. Sebaliknya,
bohong dan dusta adalah bagian dari pada sikapmunafik. Bencana terbesar di
dalam pasar saat ini adalah meluasnyatindakan dusta dan batil, misalnya
berbohong dalammempromosikan barang dan menetapkan harga.
b) Amanat adalah mengembalikan hak apa saja kepadapemiliknya, tidak
mengambil sesuatu melebihi haknya dan tidakmengurangi hak orang lain,
baik berupa harga atau upah. Allah SWTberfirman : “Sesungguhnya Allah
menyuruh kamu menyampaikanamanat kepada yang berhak menerimanya.”
(QS. An Nisa’ : 58)
c) Jujur, selain benar dan memegang amanat, seorang pedagang harus berlaku
jujur, dilandasi keinginan agar orang lain mendapatkan kebaikan dan
kebahagiaan sebagaimana ia menginginkannya dengan cara menjelaskan cacat
barang dagangan yang dia ketahui dan yang tidak terlihat oleh pembeli.
“Pedagang yang jujur dan dapat dipercaya termasuk golongan paranabi,
orang-orang yang benar-benar tulus dan para syuhada”. (HR.Tirmizdi)
3. Menegakkan keadilan dan mengharamkan bunga.
a) Adil merupakan norma paling utama dalam seluruh aspek perekonomian. Hal
itu dapat kita tangkap dalam pesan Al Qur’an yang menjadikan adil sebagai
tujuan agama samawi. Bahkan adil adalah satu asma Allah.
14

b) Haramnya Bunga (Riba); riba ada dua macam: nasiah dan fadhl. Riba nasiah
ialahpembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan.Riba
fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis,tetapi lebih
banyak jumlahnya karena orang yang menukarkanmensyaratkan demikian,
seperti penukaran emas dengan emas, padidengan padi, dan sebagainya. Riba
yang dimaksud dalam ayat iniRiba nasiah yang berlipat ganda yang umum
terjadi dalammasyarakat Arab zaman jahiliyah. Firman Allah SWT dalam QS.
Al-Baqarah : 275
4. Menerapkan kasih sayang dan mengharamkan monopoli.
Kasih sayang dijadikan Allah lambang dari risalah MuhammadSAW. Islam
ingin menegakkan dibawah naungan norma pasar Kemanusiaan yang besar
menghormati yang kecil, yang kuatmembantu yang lemah, yang bodoh belajar dari
yang pintar, danmanusia menentang kezaliman. Firman Allah SWT : “Dan tidaklah
Kami mengutus kamu,melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-
Anbiya’ :107)
Oleh sebab itu, Islam mengharamkan monopoli, satu unsur yangberlaku dalam
paham kapitalis disamping riba. Yang dimaksudmonopoli ialah menahan barang dari
perputaran di pasar sehinggaharganya naik. Risikonya semakin fatal jika monopoli
inidilaksanakan secara berkelompok, dikenal dengan “transnasional”atau monopoli
dari sektor hulu ke sektor hilir. Nabi bersabda “Yang melakukan monopoli itu salah
atau berdosa”.
5. Menegakkan toleransi dan persaudaraan.
a) Salah satu moral terpuji ialah sikap toleran dan menjauhkan faktoreksploitasi.
Tindakan eksploitasi banyakmewarnai dunia perdgangan,terutama
perdagangan yang berada dibawah naungan kapitalis.Jabir bin Abdullah
meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda :“Allah mengasihi hamba-Nya
yang bersikap toleran ketika menjual,toleran ketika membeli, toleran ketika
menuntut haknya (menagihhutang).”
15

b) Salah satu etika yang harus dijaga adalah menjaga hak-hak oranglain demi
terpeliharanya persaudaraan. Jika individu dalam sistemkapitalis tidak
mengindahkan hal-hal yang berkaitan dengan etikaseperti tidak mengindahkan
perasaan orang lain, tidak mengenalakhlak dalam bidang ekonomi, dan hanya
mengejar keuntungan,maka sebaliknya, Islam sangat memperhatikannya.
c) Islam meganjurkan kepada pedagang agar mereka bersedekah semampunya
untuk membersihkan pergaulan mereka dari tipu daya,sumpah palsu dan
kebohongan. Nabi bersabda : “Wahai para pedagang ! Sesungguhnya jualbeli
diiringi tipu daya dan sumpah palsu maka jernihkanlah lewat sedekah.”
6. Berpegang pada prinsip bahwa perdagangan adalah bekal menujuakhirat
a) Tidak lupa mengingat allah
b) Meluruskan niat
c) Melaksanakan fardu kifayah
d) Memperhatikan pasar akhirat
e) Terus berdzikir
f) Puas dan tidak terlalu rakus
g) Meghindari subhat
h) Pengawasan dan introspeksi
F. Etika Islam Dalam Distribusi
Distribusi adalah suatu proses (sebagian hasi penjualan produk) kepada
faktor-faktor produk yang ikut menentukan pendapatan. Secara umum distribusi
dapat diartikan sebagai penyaluran barang ke tempat-tempat. Menurut Collins
distribusi adalah proses penyimpanan dan penyaluran produk kepada pelanggan,
diantaranya melalui perantara. Definisi yang diungkapkkan Collins memiliki
pemahaman yang sempit apabila dikaitkan dengan tujuan ekonomi islam. Hal ini
disebabkan karena definisi tersebut cenderung mengarah pada perilaku ekonomi yang
bersifat individual.
Sementara Anas Zarqa mengemukakan bahwa definisi distribusi itu sendiri
sebagai suatu transfer dari pendapatan kekayaan antara individu dengan cara
16

pertukaran (melalui pasar) atau dengan cara lain, seperti warisan, shadaqoh, wakaf
dan zakat. Jadi konsep distribusi menurut pandangan islam adalah peningkatan dan
pembagian bagi hasil kekayaan agar sirkulasi kekayaan dapat ditingkatkan, sehingga
kekayaan yang ada dapat melimpah dengan merata dan tidak hanya beredar diantara
golonagn tertentu saja serta dapat memberikan konribusi kearah kehidupan manusia
yang lebih baik.30
Sistem ekonomi yang berbasis islam mengehendaki bahwa dalam hal
pendistribusian harus berdasarkan dua sendi yaitu sendi kebebasan dan keadilan
kepemilikan.31Ada beberapa prinsip yang mendasari proses distribusi dalam ekonomi
islam yang terlahir dalam QS Al-Hasyr (59): 7 yang artinya “agar harta itu jangan
hanya beredar di antara golongan kaya diantara kamu” prinsip tersebut memiliki
beberapa arti yaitu:
1. Larangan riba dan gharar
Secara terminologi riba didefinisikan sebagai melebihkan keuntungan dari
salah satu pihak terhadap pihak lain dalam transaksi jual beli, tukar menukar dengan
tanpa memberikan imbalan atas kelebihan tersebut. Pelarangan riba merupakan
permasalahn penting dalam ekonomi islam terutama dikarenakan riba secara jelas
dilarang dalam al-Qur’an. Riba mempengaruhi dua masalah dalam
distribusiyaknipertamaberhubungan dengan distribusi pendapatan antara bankir dan
masyarakat secara umum serta nasabah secara khusus dan kaitannya dengan bunga
bank. Masalahkeduayang timbul yakni berhubungan dengan distribusi pendapatan
antara berbagai kelompok di masyarakat.
2. Keadilan dalam distribusi
Keadilan dalam distribusi merupakan satu kondisi yang tidak memihak pada
salah satu pihak atau golongan tertentu dalam ekonomi, sehingga menciptakan
keadilan.
3. Larangan menumpuk harta

30
Taqiyuddin Nabani, Membangun Sistem Ekonomi Alternatif, (Surabaya: Rislah Gusti, 1999),
54.
31
Yusuf Qardhawi, Norma dan Etika Ekonomi Islam, 187.
17

Islam membenarkan hak milik pribadi tapi tidak membenarkan penumpukan


harta benda pribadi sampai batas-batas fondasi yang dapat merusak fondasi sosial
islam. Karena penumpukan harta berlebihan bertentangan dengan kepentingan umum
yang berimbas pada rusaknaya sistem sosial dengan munculnya kelas-kelas yang
mementingkan pribadi, disamping itu penumpukan harta berlebihan dapat
melemahkan daya belimasyarakat dan menghambat mekanisme pasarbekerja secara
adil karena harta tidak tersebar di masyarakat.32

32
Zainuddin Ahmad, Kemiskinan Dan Pemerataan Pendapatan, (Jogjakarta:Dana Bakti Prima
Yasa, 1998), 7.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam fikih ekonomi Umar r.a ditemukan kaidah-kaidah produksi. Yang
dimaksud dengan kaidah syariah disini bukan dari sisi halal dan haram saja, namun
lebih luas lagi yang mencakup tiga sisi, yaitu: akidah, ilmu, dan amal.
Dalam perspektif ekonomi Islam, faktor produksi itu terdiri dari enam yaitu:
lingkungan, sumber daya alam, faktor manusia yang mencakup tenaga kerja dan
manajemen, modal dan masyarakat, serta bimbingan dan berkat Allah.
Pada dasarnya, produsen pada tatanan ekonomi konvensional tidak mengenal
istilah halal dan haram. Yang menjadi prioritas kerja mereka adalah memenuhi
keinginan pribadi dengan mengumpulkan laba, harta, dan uang. Mereka tidak
mementingkan apakah yang diproduksinya itu bermanfaat atau berbahaya, baik atau
buruk, halal atau haram. Sedangkan dalam prinsip Islam, syariat melaranng
memproduksi barang/ jasa yang haram, baik haram untuk digunakan atau dikoleksi.
Didalam peraturan sirkulasi atau perdagangan islami terdapat norma, etika
agama, dan perkembangan yang menjadi landasan pokok bagi pasar islam yang
bersih.
Sistem ekonomi yang berbasis islam mengehendaki bahwa dalam hal
pendistribusian harus berdasarkan dua sendi yaitu sendi kebebasan dan keadilan
kepemilikan

18
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Al-Haritsi, Jaribah Bin. Fikih Ekonomi Umar Bin Al-Khathab. Jakarta:
Pustaka Al-Kautsar. 2014.
Ahmad, Zainuddin. Kemiskinan Dan Pemerataan Pendapatan. Jogjakarta: Dana
Bakti Prima Yasa. 1998.
Al-Qur'an dan terjemahan. Departemen Agama RI. Bandung: CV Diponegoro. 2010.
Edwin Nasution, Mustafa. Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam. Jakarta: Kencana.
2006.
Janwari, Yadi. PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM Dari Masa Rasulullah Hingga Masa
Kontemporer. Bandung: PT Rosdakarya. 2016.
Mannan, M.A. Ekonomi Islam: Teori dan Praktek alih Bahasa Pafat Arif Harahap.
Jakarta: Intermasa. 1992.
Nabani, Taqiyuddin. Membangun Sistem Ekonomi Alternatif. Surabaya: Rislah Gusti.
1999.
Qardhawi, Yusuf. Norma dan Etika Ekonomi Islam. Jakarta: Gema Insani Press.
1997.
R., Suherman. Sistem Ekonomi Islam: Prinsip Dasar. Jakarta: Kencana. 2012.
Rahman, Afzalur. Muhammad Sebagai Pedagang. Bandung: Pelangi Mizan. 2009.
Sukirno, Sadono. Pengantar Teori Makroekonomi. Edisi Kedua. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada. 2013.

19