Anda di halaman 1dari 27

Doktrin Tentang Manusia Dalam Dogmatika

Peralihan dari Teologi ke Antropologi, yaitu studi tentang Allah ke studi tentang
manusia, adalah suatu peralihan yang wajar. Manusia bukan saja mahkota dari seluruh
ciptaan Allah, tetapi juga objek khusus pemeliharaan Allah. Doktrin tentang manusia
harus mengikuti doktrin tentang Allah. Antropologi Teologis hanyalah berkaitan antara
dengan apa yang dikatakan Alkitab tentang manusia dan hubungan di mana manusia
harus berdiri di hadapan Allah. Antropologi Teologis hanya melihat Alkitab sebagai
satusatunya sumber, dan membaca ajaran tentang pengalaman manusia dalam terang
Firman Tuhan. Penjelasan Alkitab tentang Asal Mula Manusia Alkitab memberikan
kepada kita dua catatan tentang penciptaan manusia, yang pertama dalam Kej 1:26, 27
dan yang kedua dalam Kej 2:7, 21-23.
1. Penciptaan manusia didahului oleh suatu pertimbangan yang agung. “Baiklah Kita
menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” (Kej 1:26).
2. Penciptaan manusia ada dalam pengertian paling sempit kata ini adalah tindakan
Allah secara langsung.
3. Berbeda dengan penciptaan makhluk yang lebih rendah, manusia diciptakan menurut
contoh Ilahi.
4. Dua elemen berbeda dari natur manusia jelas dibedakan. Dalam Kej 2:7 tubuh
dibentuk dari tanah, sedangkan jiwa adalah ciptaan Allah yang baru (substansi baru).
Segera manusia ditempatkan dalam kedudukan yang mulia. Manusia dimahkotai
sebagai raja atas seluruh ciptaan. Teori Evolusi Mengenai Asal Mula Manusia Di
antara sekian banyak teori yang telah dikemukakan untuk menjelaskan asal mula
manusia,
C. Teori Evolusi Mengenai Asal Mula Manusia
Di antara sekian banyak teori yang telah dikemukakan untuk menjelaskan asal mula
manusia, teori evolusi sekarag ini paling disukai dan karena itu akan kita bicarakan
dengan ringkas berikut ini.
1. Pernyataan teori. Teori evolusi tidaklah selalu dinyatakan dalam bentuk yang sama
(evolusi naturalistik dan evolusi teistik).
2. Keberatan atas teori ini. Ada sejumlah keberatan yang dikemukakan terhadap teori
bahwa manusia adalah hasil evolusi dari binatang yang lebih rendah.
a.Tentu, Dari sudut pandang teologi keberatan terbesar terhadap teori ini dikarenakan
pendapat teori evolusi jelas bertentangan dengan ajaran yang jelas dari Firman Tuhan
(ayb 33:4 “Roh Allah ada padaku”. (bnd. Kej 1:26,27, 31; 2:19,20; Mzm 8:5-8).
b.Keberatan besar kedua yang dikemukakan adalah bahwa teori ini tidak mempunyai
dasar yang cukup di atas fakta yang pasti. Ini masih bersifat hipotesis.

D. Asal Mula Manusia dan Kesatuan Umat Manusia


1. Pengakuan Alkitab tentang kesatuan umat manusia. Alkitab mengajarkan bahwa
seluruh umat manusia berasal dari satu pasang manusia.
2. Pengakuan ilmu pengetahuan tentang kesatuan umat manusia. Ilmu pengetahuan
dalam berbagai cara telah meneguhkan kesaksian Alkitab tentang kesatuan umat
mansia.
Argumen dari sejarah. Tradisi-tradisi dari bangsa-bangsa menunjukkan adanya satu
nenek moyang yang sama di Asia Tengah.  Argumen dari filologi. Studi tentang bahasa-
bahasa manusia menunjukkan adanya satu asal mula yang sama.  Argumen dari
Psikologi. Jiwa adalah bagian yang sangat penting dari keseluruhan natur manusia, baik
dalam suku bangsa ataupun bangsa manapun itu berasal, jiwa manusia tetaplah sama. 
Argumen ilmu alam dan fisiologi. Sudah menjadi pendapat umum di kalangan ahli
fisiologi bahwa umat manusia hanyalah satu spesies saja.

BAB II

NATUR KONSTITUSIONAL MANUSIA

A. Elemen-elemen konstituen dari natur manusia.


1. Pandangan –pandangan yang berbeda yang ada dalam sepanjang Sejarah Dikotomi
dan Trikotomi . orang Kristen menganggap bahwa manusia hanya teridi d aasari dua
yang berbeda yaitu: Dikotomi. Dan ada jug yang menganggap bahwa sesungguhnya
manusia yang terdiri dari jiwa, tubuh dan roh, yang di sebut dengan Trikotomi.
Konsep tentang tiga bagian ini berasal dari filsafa Yunani, yang berpendapat bahwa
tubuh dan roh setiap manusia yang terkait satu dengan yang lain sesuai dengan
analogi saling hubungan antara duniaa materi dan Allah.
2. Ajaran-ajaran tentang elemen-elemen konstituen dari natur manusia. Penjelasan
sekarang tentang natur manusia dalam Alitab jelas dikotomis. Disatu pihak Alkitab
mengajarkan kita untuk melihat natur manusia sebagai suatu kesatuan dan bukan
dalam dualitas, yang terdiri dari dua elemen yangvberbeda yang masing-masing
bergerak sepanjang garis sejajar tetapi tidaklah sungguh-sungguh bersatu membentuk
satu organisme tunggal. Orang-orang yang berpegang pada pendapat Trikotomi
berusaha mencari dukungan dari Alkitab, sebagaimana mereka memahaminya pada
dua bagian konstituen dari natur manusia sebagai tambahan pada elemen materi atau
elemen yang lebih rendah itu, yaitu Jiwa. Akan tetapi kenyataan bahwa istilah-istilah
ini sering sekali dipakai dalam alkitab, tidak harus disimpulkan bahwa keduanya
menyatakan komponen bagian dan bukannya aspek yang berbeda dari natur manusia.
3. Hubungan antara tubuh dan jiwa.
Hubungan pasti ajntara tubuh dan jiewa telah dijelaskan dalam berbagai cara tetapi
tetaplah merupakan misteri yang amat besar. Pembicaraan berikut tentangb teori-teori
yang paling pentingnyang berkaitan dengan masalah ini:
a. Monistik. Ada banyak teori yang keluar dari asumsi bahwa tubuh dan jiwa
adalah substansi primitif yang sama. Sesuai dengan pendapat materialisme,
substansi primitif ini adalah materi dan rih adalah hasil dari materi.
Sedangkanmenurut pendapat idealisme absolut dan spiritualisme yang
merupakan subtansi primitif adalah roh dan roh ini menjadi tujuan bagi
dirinya sendiri dalamapa yang disebut sebagai materi.
b. Dualistik. Sebagian teori yang berasal dari dualitas esensial dari materi dan
roh yang menyatakan relasi mereka yang saling berkait satu dengan yang lain
didalam berbagai cara. Occasionalisme: Roh masing-masing bekerja sesuai
dengan hukum masing-masing, dan hukum ini saling berbeda sehingga tidak
ada kemungkinan untuk melakukan tindakan yang sama. Paralelisme natara .
Leibniz ,mengemukakan bahwa tidak ada interaksi langsung antara materi dan
spiritual , tetapi teori ini tidak mengamsumsikan bahwa Allah menghasilkan
tindakan-tindakan yang bersama melalui intefernsi terus menerus. Dualisme
Realistik. Mengatakan bahwa tubuh dan jiwa adalah subtansi yang berbeda,
yang tidak saling berinteraklsi walaupun cara interaksinya tidak memakai
pengujian manusia dan tetap merupakan misteri bagi kita.
B. Asal Mula Jiwa Didalam Individu.
1. Pandangan historis berkenaan dengan asal mula jiwa. Filsafat Yunani sangat
menaruh perhatian yang besar pada persoalan tentang jiwa manusia dan berhasil
menanamkan pengaruhnya dalam teologi Klristen.
2. Pra-Eksistensialisme. Sejumlah teolog spekulatif, dan yang terpenting diantara
mereka adalah Origen, Scotus Erigena dan Julius Mueller menganggap bahwa jiwa-
jiwa manusia ada dalam keadaan jiwa-jiwa itu dalam keadaan yang sudah lebih
dahulu terbentuk dan keadaan jiwa-jiwa itu dalam keadaan tersebut mempengaruhi
keadaan jiwa tersebut pada saat yang kemudian.
3. Tradualisme. Pandangan ini menyakan bahwa jiwa-jiwa manusia berlipat ganda
bersamaan dengan tubuh pada saat kelahiran manusia, dan dengan demikian
diturunkan kepada anak-anak oleh orangtuanya. Pemegang teori ini Tertulian,
Rufinus, apollinarius, dan Gregory dari Nyssa.
4. Teori penciptaan. Pandangan ini berakibatbhwa setiap jiwa secara individual
dianggap sebagai ciptaan Allah secara langsung, yang mendapatkan asal mulanya
dari suatu tindakan penciptsaan secara langsung yang tidak dapat dengan tepat
ditentukan kapan waktunya. Jiwa dianggap secara murni tetapi digabungkan dengan
tubuh yang telah berdosa. Ini berarti bahwa jiwa diciptakan pertanakali terpisah dari
tubuh dan kemudian mengalami polusi karena bergabung dengan tubuh, yang
kemudian dapat membawa kita pada pemikiran bahwa dosa adalah seuatu yang
bersifat fisik.
5. Kesimpulan
a. Perhatian yang harus diberikan dalam membicarakan masalah ini. Harus diakui
bahwa argumen-argumen ini cukup seimbang dari kedua sisinyaAlkitab tidak
memberikan pernyataan langsung berkenaan denagn asa mula jiwa manusia,
kecuali dalam hal Adam.
b. Sebagian bentuk dari teori penciptaan lebih dapat diterima karena (1) teori ini
tidak menimbulkan banyak kesulitan fiolosofis yang menjadadi beban
Tradusianisme, menghindari kesalahn-kesalahan dalam hal kristologi yang justru
terjadi, sangat selaras dengan opemahaman kita tentang gagasanb perjanjian
Allah.
BAB III
MANUSIA SEBAGAI RUPA DAN GAMBAR ALLAH

A. Pandangan Historis Tentang Gambar Dan Rupa Allah Dalam Diri Manusia.

Menurut Alkitab manusia diciptakan menurut gambar dann rupa Allah ,


dan dengan demikian berhubungan erat dengan Allah sendiri. Sisa dari kebenaran ini
bahkan masih dapat kita jumpai dalam kesusteraan kafir. Paulus menunjukkan pada orang
Athena bahwa sebagian dari pujangga mereka sendiri telah mengatakan bahwa manusia
berasal dari Allah (Kis. 17:28). Para bapak-bapak gereja semua setuju bahwa gambar
dan rupaAllah dalam diri manusia terutama terlihat dalam sifat-sifat moral dan rasional
manusia, dan juga dalam kesuciannya tetapi sebagian dari mereka juga ada yang
mnegtakan bhwa gambar dan rupa Allah ini juga terlihat dalam tubuh manusia.
Gambar dan rupa Allah hanya dapat diterima bqagi yang ilahi , merupakan suatu
kapasitas untuk menjawab ideal ilahi dan bertumbuh menjadi serupa sejalan dengan
pengertian ini.

B. Data Alkitab Berkenaan Dengan Gambar Dan Rupa Allah Dalam Diri Mnusia
1. Kata gambar dan rupa ddipakai secara bersinomin dan di pakai saling bergantian
dan dengan demikian tidak menunjuk dua hal yang berbeda. Dalam kejadian 1:26
kedua kata ini dipakai , teta[i dalam ayat 27 hanya kata pertama yang dipakai .
kebnyataan ini cukup untuk mendukungt keseluruhan ide ini.Dalam kejadian 5:1
hanya kata rupa yang dipakai , tetapi dalam ayat 3 kedua kata itu muncul lagi.
2. Gambar dan rupa Allah yang didalamnya manusia diciptakan juga mencqakup apa
yang biasa disebut dengan kebenaran asali “ atau saecara lebihkhusus pemgetahuan
yang benar kebenaran dalam kesucian kita kita diajarkan bahwa Allah menciptakan
manusia sungguh amat baik” Kej 1:31, dan B enar (Pengkh 7:29)
3. Akan tetapi gambar dan rupa Allah tidakhanya terbats pada pengetahuhan bkebenaran
dan kesucian asli yang hilang dalam dosa, tetapi juga mencakup elemen-elemewn
yang menjadi milik natur konstitusional manusia.
4. Ada satu elemen lain yang biasanya juga dimasukkan dalam gambar dan rupas nAllah
yaitu: kerohanian Allah adalah Roh ,maka wajar jika kita beranggapan bahwa elemen
kerohanian ada juga didalam manusia sebagai gambar dan rupa Allah.
5. Masih ada satu elemen lagi dari gambar dan rupa Allah yaitu kekekalan . Alkitab
mengatakan bahwa Allah saja yang kekal ( 1 Tim 6:16) dan tampaknya pernyataan
ayat ini tidak mengandung adanya pengertian kekekalan pada manusia. Artinya
bahwa haqnya Allah saja yang memiliki kekekalanm sebagai kualitas esensial ,
yang memilikinya b didalam dan hanya dari diri-Nya sendiri, sedangkan kekekal;an
manusia hanya pemebrian yang diperoleh dari Allah.
6. Ada perbedaan pendapat mengenai apakah kuasa manusia atas makhluk yang lebih
rendah juga merupakan bagian dari gambar dan rupa Allah. Tetapi perhatikanlah
bahwa Allah menyebutkan penciptaan manusia dalam gambaran Il;ahi dankuasa yang
dimiliki manusia atas makhluk yang lebih rendah dalam suatu hembusan nafas (Kej
1:26)
C. Manusia Sebagai Gambar Dan Rupa Allah

Menurut Alkitab esensin manusia tercakup didalam hal bahwa manusia adalah
gambar dan rupa Allah. Dengan demikian manusia berbeda dengan semua makhluk
ciptqaan lain dan menjadi yang tertinggi sebagai mahkota ciptaan Allah atas seluruh
ciptaan. Alkitab mengakui bahwa maqnusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah
atau segambart dan serupa dengan Allah (Kej 1:26-27: 9:6: Yak 3:9) dan Alkitab juga
berkata bahwa manusia adalah pembawa gambar Allah ( 1 kor 11:7; 15:49).

1. Konsep reformed. Calvin mengatakan bahwa kedudukan yang tepat bagi gambar
dan rupa Allah adalah dalam jiwa, walaupun sebagian pancaran kemuliaanya juga
terpancar pada tubuh. Gambar terutama terdiri dari intergritas asli dari natur manusia,
yang kemudian hilang karena dosa, yang mengungkapkan dirinya dalam pengetahuan
yang benar, kebenaran dan kesucian. Tetapi kemudian ia menambahkan lebih lanjut
bahwa gambar dan rupa Allah mengatasi segala sesuatu yang ada dibawah natur
manusia,
2. Konsep Lutheran mengatkan bahwa dalam memiliki gambar dan rupa Allah mnausia
ssama dengan malaikat yang juga memilikinya dan dalam perbandingan atas apa
yang sama-sama dimiliki manusia dajm malaikat maka perbedaanya tidaklah
penting. Perbedaan besar keduabnya terletak pada gambar dan rupa nAllah , dan
sekarang manusia telah kehilangan gambar san rupa Allah . karena itu wajarlahg jika
kaum Lutheran menerima pendapat Traduasianisme dan dengan jiwa binatang yaitu
melalui kelahiran.
3. Pandangan Ropma Katolik . mereka berpendapat ketika Allah ,menciptakan ia
memberi manusia sejumlah karunai natural seperti spiritualitas jiwa dan kekalan
tubuh ,n kerohanian, kebebasan berkehendak dan kekekalan adalah pemberian
natural dan semua ini membentuk gambar dan rupa alamiah Allah.

D. Keadaan Manusai Semula Sebagai Gambar Dan Rupa Allah.


1. Pandangan Protestan, mengajarkan bahwa manusai diciptakan dalam kesempurnaan
relatif, yaitu suatu keadaan yang benar dan kudus. Hal ini tidaklah berarti bahwa ia
telah mencapai kedudukan kemuliaan yang tertinggi yang olehnya manusia sangat
mudah terpengaruh.
2. Pandangan Roma Katolik. Kebenaran Asali bukanlah menjadi milik natur mnusoia
dalam integritasnya , tetapi merupakan sesuatu yang ditambabhkan secara supra
natural.
3. Pandangan yang merasionalkan. Pelagian , socinian, Arminian , Rasionalis dan
Evolusionis semuanya menganggap adanay keadaan kesucian primitif. Empat tokoh
yang pertama disebut setuju bahwa manusia diciptakan tanpa dosa, memilki
kenetralan moral dan religius, tetapi juga diberi kehendak bebas sehingga ia boleh
bergerak kearah mana saja

BAB II MANUSIA DALAM PERJANJIAN KERJA


A. Doktrin Perjanjian Kerja Dalam Sejarah
Sejarah doktrin perjanjian kerja tidak panjang . pada masa bapak-bapak
gereja pemahaman tentang perjanjian ini hampir tidak pernah ditemukan ,
walaupu elemen-elemen yang mencakupnya, yaitu kebebasan untuk memilih ,
dan kemungkinan untuk berdosa dan mati semuanya di sebutkan. Agustinus
dalam bukunya de Civitates dei membicarakan tentang hubungan dimana Adam
pada mulanya berdiri dihadapan Allah sebagian yang lain memandang perjanjian
dimulai dari ayt yang terkenal yaitu Hosea 6:7. Dalam sastra Skolastik para
reformator, semua elemen yang kemudain hari membentuk doktrin perjanjian
kerja sudah ada , akan tetapi doktrin ini sendiri belum berkembang. Walaupun
elemen-elemen ini berisi beberapa pernyataan yang menunjuk pada tuduhan
akan dosa Adam tranmisi dosa diterima secara realistis dan bukan federal.
A. Dasar Alkitab bagi doktrin perjanjian kerja
Penolakan yang meluas terhadap perjanjian kerja mengharuskan kita menguji
dasar Alkitab doktrin ini dengan sangat hati-hati.
1. Elemen-elemen suatu perjanjian ada dalam kisah awal penciptaan manusia.
Harus diakui bahwa istilah “perjanjian” tidak ditemukan dalamnketiga pasal
pertama kitab kejadian , tetapi tidaklah benar mengatakan bahwa pasal-pasal
itu tidak berisi data yang penting bagi penyusunan doktrin perjanjian ini.
2. Ada janji hidup yang kekal
3. Pada dasarnya perjanjian anugerah adalah pelaksanaan dari persetujuan
semula oleh Kristus sebagai penjamin kita
4. Paralel antara Adam dan Kristus. Paralel yang dibuat oleh Paulus antara
Adam dan Kristus dalam Roma 5:12-21, dalam kaitannya dengan doktrin
pembenaran , hanya dapat dijelaskan berdasarkan asumsi bahwa Adam ,
seperti Kristus , adalah kepala perjanjian
5. Ayat-ayat dalam Hosea 6:7 “ akan tetapi mereka sama seperti n Adam telah
melanggar Perjanjian”. Banyak usaha telah dilakukan untuk mendiskreditkan
ayat ini. Sebagian orang mengatakan bahwa kata “ Di Adam” berarti adanya
suatu pelanggaran besar terjadi disuatu tempat bernama Adam.
B. Elemen-elemen Perjanjian Kerja.
Elemen-elemen berikut ini harus dapat dibedakan:
1. Dua pihak yang berjanji . Disatu pihak, Allah Tritunggal sebagi pencipta dan
Tuhan dan dipihak lain , Adam dan semua makhluk-Nya yang tergantung
kepada-Nya. Ada dua hubungan yang terjadi dantara kedua belah pihak ini,
dan kita harus dapat membedakannya:
a. Hubungan natural. Ketika Allah bmenciptakan manusia ia menetapkan
suatu hubungan natural antara diri-n=nya sendiri dengan manusia.
b. Hubungan perjanjian. Sejak semula Allah telah menyatakan diri-Nya
sendiri sebagai pemberi Hukum yang berdaulat, tetapi juga sebagai Bapa
yang penuh kasih, yang mencari kesejahteraan dqn kebahagiaan bagi
seluruh makhluk yang tergantung pada-Nya.
c. Janji dari perjanjain ini. Janji yang besar dari perjanjian kerja adalah janji
hidup yang kekal.
d. Syarat perjanjian yaitu ketaatan yang implisit dan sempurna
e. Hukuman bagi pelanggaran atas perjanjian ini adalah kematian.
f. Sakramen-sakramen perjanjian.

BAGIAN KEDUA.

MANUSIA DALAM KEADAAN BERDOSA

BAB I

A. Pandangan historis berkenaan denganasal mula dosa


Dosa berasal dari pelanggaran dari kejatuhan Adam dan hawa di tanam Eden
dapat kita temukan dalam tulisan Irenius. Pandangan ini segera diterima di kalangan
gereja, terutama menetang ajaran Gnostik yang menganggap bahwa kejahatan melekat
pada materi dan pengertian seperti ini adalah akibat dari Demiurgos. Pertemuan antara
jiwa manusia dan materi segera dianggap sebagai dosa.
Menurut Origen jiwa-jiwa manusia sudah berdosa dalam masa praeksistensi dan
ketika jiwa itu sudah berdosa. Pandangan Platonis ini mempunyai banyak sekali k
esulitan untuk dapat diterima secara luas. Sepanjang abad delapan belas dan sembilan
belas pendapat ini di terima oleh Mueller dan Rueckert dan oleh para ahli filsafat seperti
Lessing, Schelling, dan J.H.Fichte. Pada umumnya Bapak-Bapak Gereja dari Yunani
pada abab ke tiga dan ke empat cenderung untuk mengurangi hubungan antara dosa
Adam dan Dosa keturunannya. Sedangkan Bapak-Bapak Gereja Latin mengajar dengan
jelas sekali bahwa keadaan dosa yang sekarang adalah bersal dari dosa Adam di Firdaus.
Namun Ritschl mengatakan bahwa kejahatan berkenaan dengan ketidaktahuan manusia,
sedangkan para ahli evolusi menganggap kejahatan sebagai pertentangan dari sifat-sifat
yang masih rendah terhadap kesadaran moral yang sudah lebih berkembang. Akan tetapi
kejatuhan itu ada dalam supra sejarah (Urgeschichte). Adam memang orang yang
pertama kali berdosa, akan tetapi ketidak taatan Adam tidak boleh dianggap sebagai
penyebab dosa didalam dunia. Karna Dosa manusia dalam beberapa hal berkaitan dengan
keadaannya sebagai makhluk. Kisah di Firdaus semata-mata hanya memberikan kepada
manusia informasi yang baik bahwa manusia tidak boleh berdosa

B. Data Alkitab Berkenaan dengan Asal Mula Dosa


Dalam Alkitab disebutkan bahwa kejahatan moral yang ada dalam dunia jelas
adalah dosa, yaitu pelanggaran terhadap hukum Allah. Akan tetapi dibawah ini dijelaskan
secara umum yaitu:
1. Allah tidak boleh dianggap sebagai penyebab dosa. Ketetapan Allah yang kekal
memang memberi peluang kemukinan masuknya dosa ke dalam dunia, tetapi
kenyataan ini tidak boleh ditafsirkan bahwa Allah adalah penyebab dosa dalam
arti bahwa Allah adalah pembuat yang betanggung jawab atas terjadinya dosa itu
dan Allah yang kudus (Yes 6:3).
2. Dosa berasal dari dunia Malaikat. Alkitab mengajarkan kepada kita dalam usaha
untuk melacak asal mula dosa, kita harus kembali lagi pada kejatuhan manusia
yang disebutkan dalam Kej 3, dan sesuai dengan perhatian pada sesuatu yang
terjadi dalam dunia malaikat. Allah menciptkan suatu bala bala tentara malaikat
dan mereka sangat baik sebab mereka keluar dari tangan sang pencipta, Kej 1:31.
3. Asal mula dosa dalam umat manusia. Berkenaan dengan asal mula dosa dalam
sejarah manusia, Alkitab mengajarkan bahwa dosa itu dimulai dengan
pelanggaran Adam di Firdaus. Dengan demikian dimulai dengan tindakan yang
dilakukan oleh manusia dngan kesadaran penuh dosa itu membawa kekotoran
yang permanen dan karenanya persatuan dalam seluruh umat manusia akan
dipengaruhi bukan hanya adam seluruh umat manusia akan dipengaruhi bukan
hanya Adam saja tetapi seluruh keturunannya. Namun juga yang diajarkan Paulus
kepada kita dalam Roma 5:12, “sebab itu sama seperti dosa sudah masuk ke
dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah demikian
maut itu telah mengalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat
dosa.
C. Natur Dosa yang Pertama atau Kejatuhan Manusia
1. Karakter formalnya. Dapat dikatakan bahwa melalui suatu sudut pandang yang
sepenuhnya formal dosa manusia yang pertama terkait dengan dimakannya buah
Dpengetahuan yang baik dan yang jahat. Namun suatu pandangan yang agak
umum adalah bahwa pohon itu disebut demikian sebab siapa yang memakan
buahnya akan memperoleh pengetahuan praktis tentang yang baik dan yang jahat.
2. Karakter esensial dan materialnya. Dosa pertama manusia adalah suatu dosa
tipikal, yaitu dosa dimana esensi sesungguhnya dari dosa itu dengan jelas
menyatakan dirinya sendiri. Ensensi dari dosa itu terletak pada kenyataan bahwa
Adam meletakan dirinya dalam keadaan yang bertenangan dengan Allah. Akan
tetapi pengrtian bahwa perintah Allah adalah suatu pemutusan hak-hak manusia
tampaknya sudah ada dalam pikiran Hawa ketika ia menjawab pertanyaan Iblis,
ia menambahkan kata-kata, “jangan kamu makan ataupun raba buah itu” (Kej
3:3).
D. Dosa Pertama atau Kejatuhan yang Disebabkan oleh Pencobaan
1. Cara si penggoda. Kejtuhan manusia di sebabkan oleh pencobaan dari si ular
yang menaburkan dalam pikiran manusia benih-benih ketidak taatan dan
ketidakpercayaan. Namun Iblis menekankan bahwa dengan cara makan buah
pohon itu manusia menjadi seperti Allah.
2. Interpretasi pencobaan itu. Beberapa usaha telah dilakukan dan masih dibuat
untuk menjelaskan sifat historis kejatuhan manusia. Mereka yang tidak
menyangkali sifat historis dari kisah dalam kitab Kejadian mengatakan bahwa
paling tidak ular yang disebutkan itu bukan hewan secara harafiah akan tetapi
hanyalah lambang darikeinginan, nafsu seksual, alasan-alasan untuk melakukan
kesalahan, atau iblis.
3. Kejatuhan karna pecobaan dna kemukinan manusia diselamatkan. Telah
dikatakan bahwa fakta kejatuhan manusia dalam dosa disebabkan karena
pencobaan dari luar, kemukinan besar kenapa manusia dapat diselamatkan.
Namun tidak mungkin bagi kita mengatakan bagaimana pencobaan ini dalam diri
seorang yang kudus.

Penjelasan Evolusionis tentang Asal Mula Dosa

Teori evolusi yang konsisten tidak dapat menerima doktrin tentang kejatuhan manusia dalam
dosa, dan sejumlah teolog liberal telah menolak doktrin ini, karena doktrin ini dianggap
bertentangan dengan teori evolusi. Oleh karna itu mereka tidak menerima kisah tentang
kejatuhan manusia dalam dosa sebagai suatu penjelasan historis yang sesungguhnya dari apa
yang terjadi di taman Eden. Tennat dalam kuliah-kuliahnya tentang The origin and propogation
of sin memberikan penjelasan yang agak terperinci dan menarik tentang asal mula dosa dari
sudut pandang evolusi. Ia menyadari bahwa tidaqk mungkin manusia memperoleh dosa dari
nenek moyangnya yang berupa binatang sebab binatang, tidak berdosa, ini berarti bahwa semua
dorongan , keinginan , hawa nafsu dan sifat-sifat yang diwarisi manusia dari binatang tidak dapat
disebut sebagai dosa. Tetapi dosa menurutnya adalah suatu tindakan dari kehendak yang
dinyatakan dalam pikiran, perkataan, atau tindakan yang berttentangan dengan suara hati
seseorang, bertentangan dengan pemahaman nya tentang apa yang baik dan benar, bertentangan
dengan pengetahuannya tentang hukum moral dan kehendak Allah.

Akibat dari Dosa yang Pertama Dosa manusia yang pertama membawa akibat sebagai berikut:

1. Segera mengikuti dosa yang pertama, adalah kerusakan total dari natur manusia Kej 6:5;
Mzm 14:3; Rom 7:18.
2. Segera terkait dengan kerusakan total adalah melalui Roh Kudus. Keadaan ini adalah sisi
balik dari kerusakan total itu sendiri. Manusia memutuskan hunbungn dari sumber hidup
berkat, dan hasilnya adalah suatu keadaan kematian rohani, Efe 2:1,5,12;4:18.
3. Bukan saja kematian rohani, tetapi kematian jasmani juga disebabkan oleh dosa manusia
yang pertama. Namun setelah berdosa maka manusia harus kembali kepada debu dari
mana dia diambil (Kej 3:19).
4. Perubahan ini juga menghasilkan perubahan tempat tinggal yang penting. Manusia dusir
dari taman Eden sebab melambangkan persekutuan yang dekat dengan Allah dan
lambang dari hidup yang penuh dan berkat yang ssedemikian besar yang disediakan bagi
manusia, jika ia tetap teguh berpengang pada Allah

BAB II KARAKTER ESENSIAL DOSA DOSA

Karakter esensial dosa dosa adalah salah satu gejala yang paling menyedihkan tetapi juga
paling umum dalam hidup manusia. Dosa adalah bagian dari pengalaman umum semua manusia
dan karenanya menarik perhatin semua orang yang tidak menutup mata begitu saja akan
kenyataan-kenyataan hidup manusia. Dalam memandang kenyataan bahwa dosa itu nyata dan
bahwa tidak ada seorangpun dapat melarikan dirinya dalam hidup sekarang, tidak diragukan lagi
bahwa para ahli filsafat. Namun akan membicarakan dengan singkat sebagian dari teori-teori
filsafat sebagai berikut yaitu: Teori-teori Filsafat Berkenaan dengan Natur Kejahatan.

A. Teori-teori Filsafat Berkenaan dengan Natur Kejahatan.

1. Teori dualistik. Teori ini merupakan salah satu pandangan yang ada dalam filsafat
yunani.
2. Teori yang mengatakan bahwa dosa hanyalah kurangya hal-hal penting dalam hidup.
3. Teori bahwa dosa adalah ilusi. Bagi spinoza, seperti halnya Leibnitz., dosa hanyalah
suatu kekurangan, keterbatasan yang didasari manusia.
4. Teori bahwa dosa ada adalah kebutuhan akan kesadaran Allah, berkaitan dengan natur
inderawi manusia.
5. Teori dosa sebagai hilangnya percakapan dengan Allah dan perlawanan terhadap
kerajaanNya dalam kaitan dengan kebodohan.
6. Teori bahwa dosa adalah ketamakan. Dan teori ini jauh lebih baik dari pada teori-teori
yang sebelumnya.
7. Teori bahwa dosa adalah pertentangan kecenderungan natur manusia yang lebih rendah
menuju kepada kesadaran moral yang semakin rendah.
B. Pandangan Alkitab tentang Dosa Dalam memberikan pandangan Alkitab tentang dosa sangat
penting bagi kita untuk memperhatikan beberapa hal khusus yaitu:
1. Dosa adalah jenis kejahatan yang sangat spesifik.
2. Dosa memiliki sifat yang mutlak. Dalam lingkungan etis perbedaan antara baik dan
jahat itu mutlak.
3. Dosa selalu memiliki hubungn dengan Allah dan kehendakNya.
4. Dosa mencakup kesalahan maupun kekotoran.
5. Dosa menepati kebudayaan dalam hati.
6. Dosa tidak secara eksklusif tercakup dalam tindakan- tindakan dengan maksud jahat.

Pandangan Pelagian Tentang Dosa:

Pandangan pelagian tentang dosa sangat berbeda dari penjelasan yang telah dikemukakan

diatas. Akan tetapi dalam hal-hal tertentu lainya konsep Pelanggian berbeda sekali dengan

konsep Alkitab dan juga pandangan Agustinus.

1. Pernyataan pandangan pelagian. Allah telah memerintahkan manusia melakukan apa yang
baik , karena itu manusai harus memiliki kemampuan untuk melaksanakanya. Hal in berarti
bahwa manusia memiliki kehendak bebas dalam arti kata mutlak, sehingga ia mungkin
memutuskan untuk melakukan sesuai atau bertentangan dengan apa yang baik atai yang jahat.

2. Ketidak setujuan terhadap pandangan pelagian

 Keadaan mendasar diman manusia harus bertanggungjawab kepada Tuhan hanya atas apa
yang mampu ia lakukan, jelas bertentangan dengan pengakuan hati nurani dan Firman
Tuhan
 Menyangkal bahwa manusia didalam naturnya memiliki karakter moral, sama artinya
dengan merendahkan manusai sampai seperti binatang.
 Suatu pilihan kehendak manusia yang ditentukan oleh sifat manusia bukan saja tidak
masuk akal ditinjau dari segi psikologi, tetapi secaar etis juga tidak ada artinya.
 Teori pelagian tidak daqapt memberikan penjelasan yang memuaskan tentang univerlitas
dosa

BAB II
Transmisi Dosa

Menurut Alkitab penjelasan tentang universallitas dosa ini ada pada kejatuhan Adam kedalam
dosa. Namun sudah ada persetujuan yang agak umum mengenai sifat dosa yang universal, tetap
ada penjelasan yang berbeda mengenai hubungan antara dosa Adam dan dosa keturunan.

A. Mengungkap Sejarah:

1. Sebelum Reformasi. Tulisan para ahli aplogetika tidak berisi hal-hal yang tertentu tentang
asal mula dosa, tetapi tulisan Irenius dan Tertullian jelas mengajarkan bahwa keadaan
kita yang berdosa adalah akibat kejatuhan Adam. Dosa diteruskan oleh penyebaran, dan
penyebaran dosa Adam ini pada yang sama adalah hukuman atas dosanya. Wiggers
menyebutkan pendapatnya dengan singkat: “kecemaran natur manusia dalam seluruh
umat adalah hukuman yang benar dari pelanggaran manusia pertama yang didalam dia
semua manusia berada.” Dan Peter the Lombard berp endapat bahwa nafsu manusia
mengotori benih manusia shingga sampai kepada keturunannyadan cara kecemaran ini
mempengaruhi jiwa dalam persatuan dengan tubuhnya.
2. Setelah Feformasi. Pengertian bahwa Adam adalah wakil umat manusia dan karena itu
dosa Adam mengakibatkan seluruh keturunananya berdosa belum secara jelas
terlihatkarya-karya merka. Memang aneh, tetapi kenyataannya Barth dan Brunner,
walaupun jelas mereka menetang teoligi liberal, tidak melihat universalitas dosa seluruh
umat manusia sebagai akibat dari dosa Adam.
C. Universalitas Dosa:
1. Sejarah gama dan filsafat mengakuinya. Sejarah agama-agama mengakui
universalitas dosa. dan agama-agama kafir mengakui adanya adanya kesadaran
universalitas tentang dosa dan perlunya perdamaian dengan yang maha Tinggi.
Ada suatu suara universal yang mengakui kenyataan bahwa manusai kehilangan
apa yang ideal dan akan di hukum oleh kekuasaan yang maha tinggi.
2. Alkitab jelas mengajarkannya. Anda kekuasaan yabanyak pertanyaan
langsuang dari alkitabng
yang menunjuk pada dosa manusia yang bersifat universal, misalnya 1 Raja 8:46;
Mzm 14:2. Sejumlah ayat Alkitab
Mengajarkan bahDwa dosa diwarisi oleh manusia sejak ia dilahirkan dan dengan
demikian ada dalam natur manusia sejak sedemikian awal sehingga tak mungkin
dapat disebut sebagai peniruan

D. Kerusakan total , tidak berarti bahwa setiap manusia sepenuhnya mengaqlami kerusakan
seberapa banyak ia rusak, orang berdosa tidak memiliki pengetahuan yang dibawanya
sejak lahir tentang kehendak Allah, atau juga hartti nurani yang membedakan antara
yang baik dan yang jahat, mengagunu sifat-sifat perbuatan baik orabng lain
E. Ketidak mampuan totalberkaitan dengan akibat dosa terhadaqp vkekuatan spiritual
manusia, maka ketidakmampuan manusia ini emnjadi ketidakmampuan total
2. dosa asal dan kebebasan manusia. Dalam suatu pengertian manusia telah
kehilangan kebebasan nya, tapi dalam pengertian lain ia tidak kehilangan
kebebasan itu. Ada kebebasan tertentu yaitu milik yang vtidak dapat dibedakan
dari suatu pelaku bebas, yaitu kebebasan untuk memilih sebagaimana ia
kehendaki yang benar-benar bersesuaian dengan sifat-sifat yang terus ada dan
kecenderungan jiwanya.
3. Teologi krisis dan dosa asal. Brunner dalam bukunya masn in revolt . ia tidak
menerima doktrin asal dalam pengertioan tradisional atau yang diterima gereja.
Dosa Adam yang pertama bukanlah dan tidak dapat diberikan kepada
keturunannya dan juga dosa Adam ini tidak dapat menghasilkan tindakan dosa
sesungguhnya yang diteruskan padqa seluruh keturunannya, yang sekarang dan
menjadi akar dari segala perbuatan dosa.
4. Kietidaksetujuan terhadap doktrin kerusakan total dan ketidakmampuan total.
 Tidak konsisten dengan kewajiban moral
 Doktrin ini menyingkirkan semua motif pemakaiannya
 Doktrin ini menyebabkan orang menunda-nunda untuk bertobat

B. Dosa sesungguhnya

1. hubungan antara dosa asal dan dosa aktual. Dosa asal dimulai dari tindakan bebas Adam
sebagai wakil seluruh umat manusia, suatu pelanggaran atas huhkum Tuhan dan kecemaran atas
natur manusia yangt menyebabkan manusia harus dihukum oleh Tuhan. Istilah dosa aktual
tidaklah semaqta-,mata menunjukkan tindakan keluar yang dilakukan dengan tubuhmanusia,
tetapi juga termasuk segala pemikiran yang sadar dan perbuatan dosa yang memancar dari dosa
asal

2. klasifikasi dosa-dosa aktual .

Alkitab memang membedakan macam-macam dosa teristimewa berkenaan dengan perbedaan


derajat kealahan mereka. Perjanjian Lama membedakan anatar dosa yang direncanak dan dosa
yang dilakukan dengan tidak sengaja, yaitu sebagai akibat dari ketidaktahuan, kelemahan, atau
kekeliruan, Bil 15:29-31. Dopsa yng direncanakan tiodak dapat didamaikan oleh korban atau
hukum dengan sangat berat, sedangakn yang tanpa sengaja dapat ditebus dan dengan diadili
denagn tidak terlalu berat

3. Dosa yang tidak terampukan. Biasanay dosa ini dikenal dengan dosa menghujat roh
kudus. Juruselamat kita membicarakan dosa ini dalam Mat 12:31, 32 dan ayat-ayat yang
pararkel.
a. Berbagai pandanga tentang dosa ini .Jerome dan Chrysostom menaganggap dosa ini
adalah dosayang hanya dapat dilakukan selama Tuhan Yesus hidup didunia ini dan
mereka juga berpendapat bahwa dosa ini dilakukan oleh mereka yang mengakui
dalam hati mereka bahwa Yesus membuat sgala mujizaitu oleh kuasa Roh
Kudus, namun demikain mereka tidak menolak menerima mujikzat ini dan kemudian
mengatakan bahwa semua dari setan. Dan beberapa pendapat para teolog lainnya.\
b. Pandangan reformed tentang dosa ini, Istilah dosa melawan Roh Kudus
sebanarnya terlalu umum , sebab ada juga dosa melawan Roh Kudus dala Mat 12:32,
Mark 3:29, Luk 12:10. Jelas dosa itu dilakukan dalam kehidupan di dunia sekarang ,
yang menyebabkan tidak mungkin terjadinya pertobatan dan pengampunan. Dosa itu
melawan bukti dan pengakuan kesaksian Roh Kudus, berkenaan dengan anugerah
Allah dalam diri kristus, sebab dosa itiu keluar dari kebenciaan dan permusuhan yang
berasal dari pangeran kegelapan.
c. Catatan-catatan untuk ayat-ayat dalam surat-surat kiriman yang membicarakan dosa
ini Mat 12:31 “ sebab itu Aku berkata kepadamu , segala dosa dan hujat manusia
akan diampuni , tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni.

BAB 5
HUKUMAN ATAS DOSA.
Dosa adalah persoalan yang sangat serius dan Allah memandang dosa ini juga
dengan amat serius, walaupun manusia sering meremehkannya. Dosa bukan sekedar
pelanggaran atas hukum Allah, akan tetapi sesungguhnya merupakan serangan
terhadap sang pemberi hukum itu sendiri, sebuah pemberopntakan terhadap Allah.
A. Pelaksanaan hukuman natural dan positif
Hukuman itu dilakukan berdasarkan hukum ilahi, yang memiliki otoritas mutlak.
Berdasarkan konsep Alkitabtentang pelaksanaan hukuman dosa kita harus
memperhatikan akibat alamiah penting dari perseturuan yang disadari terhadap Allah dan
nhukuman itu secara rsemi ditetapkan diatas pelanggaran itu oleh allah sendiri
B. Natur dan maksua hukuman.
Kata’ hukuman “ (Inggris : Punish) berasal dari kata bahasa latin Poena” yang artinya
hukuman , membuat tuduahan atas sesuatu atau kesakitan. Secara lebih spesigfik kata itu
dapat didefenisikan sebagai kesakitan ataui kehilanagn yang secara langsung atau tidak
langsung yang dijatuhkan oleh Sang Pemberi Hukum karena oranjg melanggar keadilan-
Nya dan tidak mentaati Hukum-Nya. Berikut ini ada tiga pendapat yang terpenting
berkenaan dengan maksud dari hukuman ini.
 Untuk membuktikkan keadilan dan kebenaran ilahi
 Untuk memperbaharui orang berdosauntuk mencegah manusia agar tidak berdosa.
C. Pelaksanaan hukuman dosa yang sesungguhnya
Ancaman hukuman yang diberikan oleh Allah di Firdaus adalah ancaman
hukuman mati. MATI yang dimaksudkan disini adalah kematian tubuh tetapi
kematian dari manusia secara kesuruhan, kematian yang di maksudkan oleh
Alkitab. Ancaman hukuman ini juga dilaksanakan pada hari ketika manusia
berdosa, walaupuan pelaksanaan hukuman ini secara keseluruhan pada waktu-
waktu-waktu tertentu ditunda oleh Allah karena Anugerah-Nya. Kematian dapat
mencakup beerapa hal yaitu:
1. Kematian rohani
2. Penderitaan-penderitaandalam hidup
3. Kematianjasmani
4. Kematian kekal

Bagian 3 MANUSIA DALAM PERJANJIAN ANUGARAH

BAB 1 ISTILAH DAN KONSEP- ANUGERAH

A. ISTILAH
1. Dalam PL. Kata bahasaibrani yang selalu dipakai untuk menunjuk perjanjian adalah
berith, suatu kata yang sulit dicari derivasinya. Pandangan yang p[aling umum
mengatakan bahwa kata ini diturunkan dari kata bahasa Ibrani barah yang artinya
memotong”, dan dengan demikian mengingatkan pada upacara yang ditulis dalam Kej
15:17.kata berith ini mungkinmenunjukkan suatu persetujuan antara satu pihak dengan
pihak lain (dipleuric) tetapi juga disposisi atau maksud kehendak yang dinyatakan satu
pihak lain ( monopleuric)
2. Dalam PB. Dalam septuangintakata berith diterjemahkan diatheke untuk semua Ayat
yang memakai kata ini, kecuali dalam Ul 9:15 ( memakai kata marturion ) dan 1 Raj
11:11 ( diterjemahkan entole). Kata yang umum dalam bahasa Yunani untuk perjanjian
sebenarnya adalah suntheke.
Bagian 2
Perjanjian penebusan
A. Pembicaraan terpisah dari maksud.
Ada berbagai penjelasan berkenaan dengan pihak-pihak yang terkait dalam perjanjian
anugerah. Sebagian oarng berpendapat bahwa kedua pihak itu adalah Allah tritunggal dan
manusia, baik tanpa kualifikasi atau dengan kualifikasi sebagai oprang berdosa “ orang
pilihan” atau “ manusia dala Kristus”sedangkan pendapat lain mengatakan Allah Bapa
yang mewakili Tritunggal dan Kristus mewakili orang percaya
B. Data Alkitab bagi perjanjian penebusan
Doktrin tentang pemufakatan kekal ini berdasarkan kenbenaran Alkitab berikut ini
1. Alkitab jelas menunjuk pada kenyataanbahwa rencana penebusan sudah tercakup
dalam ketetapan kekal pemufakatan Allah, Ef 1:4. Dalam pelaksanaan penebusan
dalam suatu pengertian ada pembagian tugas : Allah Bapa sebagai pengasal mula
(originator), Allah Putra sebagai pelaksana (executor) dan Roh Kudus sebagai
penerap( Applier).
2. Ada ayat-ayat Alkitab yang bukan saja menunjuk pada kenyataan bahwa rencana
Allah bagi keselamatn orang berdosa adalah kekal, Ef 1:4; 3:9,11, tetapi juga
menunjukkan bahwa perjanjian adalah natur suatu perjanjian yang sebenarnya.
3. Dimanapun kita memiliki elemen-elermen esensial dari suatu perjanjuian, yaitu
pihak-pihak yang membuat perjanjian, suatu janji atau janji-janji, dan sebuah syarat,
disanalah kita melihat adanya perjanjian
4. Ada dua ayat PL yang menghubungkan gagasan perjanjian ini langsung dengan
Mesias, yaitu Mzm 89:3 yang didasarkan atas 2 Sam 7:12-14 dan terbukti sebagai
Mesianik oleh Ibr 1:5 dan Yes 42:6 dimana pribadi ini yang disebut sebagai hamab
Tuhan.
C. Allah Putra dalam perjanjian penebussan
1. Kedudukan Kristus dalam Perjanjian ini ada dua yaitu Ia adalah jaminan (egguos).
Seorang jaminan adalah seorang yang etrikat dan bertanggungjawab atas kewajiban
hukum bagi orang lain.
2. Karakter perjanjian ini bagi Kristus
3. Karya Kristus dalam perjanjian dibatasi oleh ketetapan pemilihan.
4. Hubungan antara sakramen-sakramen yang dipakai Kristus dalam kaitannya dengan
perjanjian itu
D. Tuntutan dan janji
1. Bapa mengkehendaki anak, yang muncul dalam perjanjian ini sebagai penjamin dan
kepala dari umat-Nya
 Bahwa ia harus mengalami natur manusia yang dilahirkan oleh seorang wanita
 Bahwa Ia, sebagai Anak Allah yang diatas hukum harus meletakkan diri-Nya
dibawah hukum
 Bahwa Ia stelah mengunugerahkan pengampunan dosa dan kehidupan kekal
kepada umat kepunyaan-Nya, harus menggenapkan kepada mereka buah-buah
dari kebajikan-Nya
 Janji-janji. Ia menjanjikan kepada Anak semua yang diperlukan untuk
menjalankan tugas-Nya yang begitu besar dan menyeluruh yaitu bahwa Ia
akan mempersiapkan sebuah tubuh bagi Anak yang dapat menjadi rumah yang
cocok bagi-Nya, memperlengkapi dengan karunia-karunia dan anugerah
seperlunya bagi pelaksana tugasnya khusus untuk tugas Mesianiknya, akan
mendukung-Nya didalam pelaksanaan pekerjaan-Nya, akan memampukan-
Nya, dan memberikan kepada-Nya sejumlah benih sebagai upah penuntasan
pekerjaan-Nya, akan menyerahkan kepada-Nya semua kuasa disurga dan
dibumi.
E. Relasi perjanjian ini dengan perjanjian anugera
1. Lembaga penebusan ini merupakan gambaran kekal dari sejarah perjanjia anugerah.
2. Lembaga penebusan secara akibat langsung memberikan efisiensi kepada
pelaksanaan perjanjian anugarah.
Bab 3
Natur perjanjian anugarah
A. Perbandingan antara perjanjian anugerah dan perjanjian kerja
1. Beberapa kesamaan.kedua perjanjian itu itu sama-sama dalam hal Allah pembuat
kedua perjanjian itu, kedua p[ihak pembuat perjanjiannya adalah Allah dan manusia,
bentuk-bentuk luar perjanjian adalah syarat-syarat dan janji-janji, isi dari janji itu
didalam keduanperjanjian tersebut adalah kehidupan yang kekal.
2. Beberapa perbedaan. Dalam perjanjian kerja
 , Allah tampil sebagai pencipta dan Tuhan,
 Manusia tampil semata-mata makhluk Allah yang langsung terkait pada Allah
sendiri
 Tergantung pada ketaatanyang tidak pasti dari manusia yang senantiasa
berubah
dalam perjanjian anugerah I

 Tampil sebagai penebus dan Bapa,


 sebagai orang berdosa yang telah menyimpang jalannya, dan hanya dapat tampil
sebagaisatu pihak dalam perjanjian didalam Kristus sebagai jaminannya.
 Terletak pada ketaatan Kristus sebagai pengantara, yang mutlak dan pasti
B. Pihak-pihak yang berjanji
Sebagaimana halnya dalam perjanjan kerja maka dalam perjanjian anugerah,
Allah adalah pihak yang pertama, pihak yang memulai inisiatif, dan dengan penuh
anugerah menetapkan bagaiamana pihak kedua harus berhadapan dengan-Nya.
Akan tetapi dalam perjanjanini Ia tampil bukan saja sebagai Allah yang berdaulat
dan baik, tetapi juga sebagai Bapa yang beranugerah dan mengampuni, berkenan
mengampuni dosa dan memperbaharui orang berdosa sehingga bisa bersekutu
kembali dengan-Nya.
C. ISI DARIPERJANJIAN ANUGERAH.
1. Janji –janji Allah
2. Respond manusia
3. Perjanjian ini dari Allah Titunggal
4. Perjanjian ini khusus dan tidak universal
5. Perjanjian ini secara esensial sama dalam seluruh pembagiannya, walaupun bentuk
penanganannya berubah.
Kesatuan dari perjanjian dalam semua pembagian di buktikkan antara lain:
a. Pernyataan ringkasan dari perjanjian sama seluruhnya. Baik dalam PL dan PB
“Aku akan menjadi Allahmu”
b. Alkitab mengajarkan hanya ada satu injil yang olehnya manusia dapat
diselamatkan
c. Paulus menentang kaum Yudaisme bahwa cara dimana Abraham memperoleh
keselamatan adalah contoh model bagi orang percaya PB, tidak peduli apakah
mereka orang Yahudi atau bukan, Roma 4:9-25; Gal 3:7-9, 17, 18.
d. Pengantara perjanjian itu tetap sama kemarin, sekarang dan selamanya, Ibrani
13:8
e. Jalan keselamatan yang diungkapkan dalam perjanjian itu tetap sama
f. Janji-janji itu bersyarat, tetapi juga tidak bersyarat
g. Perjanjian ini dalam satu pengertian boleh jiga dianggapsebagai suatu “surat
Wasiat”
D. Hubungan antara kristus dan perjanjian anugerah
Kristus disebutkan dalam Alkitab, sebagai pengantara perjanjian itu. Kata bahasa
Yunani Mesites tidak kita temukan dam bahasa Yunani klasik, tetapi muncul dalam
tulisan Philo dan para penulis Yunani masa kemudian. Dalam septuanginta kata itu hany
muncul satu kali. Alam Ayub 9:23.Kritus adalah pegantara dalam arti lebih dari satu.
Ia berada diantara Allah dan manusia, bukan sekedar mengupayakan perdamaian
dilaksanakan , akan tetapi dengan diperlengkapi dengan segala kekutan yang diperlukan.
Ia harus melakukan apasaja yang perlu untuk menetapkan perdamaian. Pemakaina kata
mesites dalam PB mebenarkan kit yang mnengatakan adanya dua sifat sebagai
pengantara dalam diri Kristus, yaitu sebagao jaminan dan sebagaijaln masuk (dalam
Bahasa Yunani prosagoge, Rom 5:2)

bab 4 Aspek Ganda perjanjian anugerah.


A. Perjanjian yangeksternal dan iternal.
Sebagian sarjana membedakan perjanjian yang eksternal dan internal. Perjanjian yang
eksternal dilakukan sebagai sebuah perjanjian dimana status seseorangb yang
tergantung sepenuhnya pada pelaksanaan tugas-tugas agamawi tertentu. Garis
pemisah antara perjanjian eksternal dan internal tidak selalu dinyatakan dengan cara
yang tepat sama. Sebagian teolog mengatakan bahwa baptisan terkait pada perjanjian
eksternal dan pengakuan imanserta perjamuan kudus sebagai perjanjian internal,
sedangkan teolog lain mengatakan bahwa baptissan dan pengakuan iman adalah
perjanjian eksternal sedangkan perjamuan kudus sebagai nperjanjian eksternal.
B. Esensi dan pelaksanaan Perjanjian.
Menurut Turretin esensi perjanjian ini berkaitan dengan panggilan internal dan
gereja tidak nampak yang terbentuk karena panggilan ini; sedangkan pelaksanaan
perjanjian ini berkaitan dengan panggilan eksternal dan gereja yang nampak, yang
terdiri dari mereka yang secara eksternal dipanggil oleh Firman itu. Pelaksanaan
perjanjian itu hyanya mencakup penawaran akan keselamatan melalui
pemberitaan Firman, dan dalam hak-hak khusus lain secara eksternal, diaman
masing-masing memiliki kedudukan dalam gereja, termasuk juga banyak orang
yang tidak dipilih.
C. Perjanjian yang bersyarat dan mutlak
Koelman membicarakan tentang suatu perjanjian yang bersyarat dan yang
mutlak. Koelman menekankan kenyataan bahwa jika suatu perjanjian yang
eksternal dan internal dibedakan, maka hanya ada satu perjanjian tunggal yang
dimaksudkan. Istilah eksternal dan internal hanya menekankan kenyataan bahwa
semuanya tidak ada dalam perjanjian ini dalam cara uyang tepat dan sama.
Sebagian orang berada dalam perjanjian ini melalui pengakuan eksternal , untuk
menikmati hgak-hak khusus secara eksternal, orang lain berada didalamnya
karena menerimanaya dengan sepenuh hati, sehingga menerima berkat
keselamatan.
D. Perjanjian itu sebagai hubungan yang sepenuhnya menurut hukum dan sebagai suatu
persekutuan.

Dr. Vos memakai istilah yang lebih khusus ketika ia mebedakan perjanjian itu
sebagai hubungan yang sepenuhnya resmi dan perjanjiann itu memiliki segi
hukum dan moral. Perjanjian itu dapat dianggap sebagai persetujuan diantara
kediua pihak dengan syarat dan tuntutan bagi masing-masing pihak, dan karena
itu ada dalam suasana hukum yang resmi. Kedua hal ini tidak adapat dipandang
sebagai suatu yang berdampingan satu dengan yang lain tanpa adanya hubungan
dalam diri keduanya, akan tetapi justru harus dilihat sebagai dua hal yang sangat
terkait erat satu dengan yang lain , dalam upaya menghindarti dualisme.
E. Keanggotaan dalam perjanjanjian ini sebagai suatu hubungan hukum.
1. Orang dewasa dalam perjanjian ini, melalui iman dan pengakuan
2. Anak-anak orang percaya dalam perjanjian ini
3. Orang-orang yang tidak dilahirkan kembali dalam perjanjian ini
 Mereka ada dalam perjanjian ini sejauh tanggungjawab mereka terkait.
 Mereka ada dalam perjanjian dalam arti bahwa mereka boleh
mengajukan klaim pada jani-janji yang diberikan oleh Tuhan ketika Ia
menetapkan Perjanjian-Nya dengan orang-orang percaya dan
keturunan mereka.
 Mereka ada dalam perjanjian dalam arti bahwa mereka ada dibawah
pelayanan perjanjian itu
 Mereka ada dalam perjanjian juga sejauh berkat-berkat perjanjian yang
biasa terkait.

Bab 5

DISPENSANSI-DISPENSASI BERBEDA DARI PERJANJIAN.

A. Konsep yang benar dari dispensasi- dispensasi berbeda


1. Pandangan dispensasional
Menurut Scofield “ suatu jaman adalah suatu jangka waktu yang didalamnya
manusia siuji berkenaan dengan ketaatan pada wahyu khususdari kehendak Allah
tertentu- dalam penjelasan lebih lanjut tentang hal ini berkata dalam hal. 20 dari
pamfletnya tentang Right Dividing the Word of Truth : setiap jaman dapat
dianggap sebagai ujian baru bagi manusia alamiah, dan masing-masing berakhir
dalam pengadilan untuk menandai kegagaln mereka”
2. Teori tiga zaman. Irenius membicarakan tentang tiga perjanjian, yang pertama
ditandai dengan hukum yang di tulis dalam hati, yang kedua adalah hukum yang
merupakam perintah untuk dilakukan yang diberikan disinai, dan yang ketiga oleh
hukum yang diperbaharui didalam hati melalui tindakan Roh Kudus; jadi dengan ini
Irenius menyebutkan ada tiga jaman.- beberapa perbedaan yang harus diperhatikan:
a. Dalam manifestasi karakter perjanjian yang mulia
b. Dalam penekanan atas sifat-sifat spiritual berkat-berkat.
c. Dalam memahami tujuan universal perjanjian.
B. Dispensansi PerjanjianLama
1. Wahyu pertama dari perjanjian itu. Wahyu pertama dari perjanjia itu ditemukan
dalam protevangel Kej 3:15. Pada saat yang samaberisis sutu wahyudari esensi
perjanjian itu, beberapa hal berikut kita perhatikan:
 Dengan cara mengadakan permusuhan antara ular dan keturunan perempuan
itu Allah menetapkan suatu relasi, sebagaimana Ia selalu lakukan dalam
membuat sebuah perjanjian.
 Hubungan antara Allah dan manusia di satu pihak l;ain tidaklah terbatas pada
satu pribadi tetapi juga melua pada seluruh keturunanya. Perjanjian itu bersifat
organik daklam pelaksanaannya dan mencakup seluruh generasi
 Perjuangan itu bukannya tanpa akhiir. Walaupun tumit keturunan perempuan
itu akan remuk,kepla keturunan ular itupun akan hancur.
2. Perjanjian dengan Nuh yang bersifat umum, Allah berjanji bahwa Ia tidak akan lagi
menghancurkan kehidupan manusia dengan air Bah danbahwa akan selalu ada
pergantian musim terus menerus secara teratur.
3. Perjanjian dengan Abraham. Bersama dengan Abraham belu ada peneguhan formal
dari perjanjian anugerah. Ada beberapa hal yang yang perlu sekali di perhatikan.
 Samapai pada zaman Abraham belu ada peneguhan formal dari perjanjian
anugerah
 Dalam transaksi engan Abraham pelaksanaan perjanjian Lama yang pasti dari
perjanjian ini telah dimulai, danjelas terbukti bahwa manusia adalah satu
pihak dalam perjanjian itu danharu memberi respons pada janji-janji Allah
dengan iman
 Berkat-berkat rohani prjnajian anugerah menjadi makin nyata dalam
perjanjian dengan Abraham dari pada dalam masa-masa sebelumnya.
 Perjanjian dengan Abraham telah mencakup eleme simbolik
 Dari sudut pandang peneguhan perjanjian anugerah denga Abraham ini, maka
ia sering dianggap sebagai kepala perjanjian anugerah.
 Akhirnya, kita tidak boleh kehilanga pandangan atas kenyataanbahwa
kedudukan perjanjian dalam wahyu PL yang menjadi normatif bagi kita
dalam zaman PB bukanlah perjanjian di Sinai, tetapi perjanjianyang
diteguhkan bersama Abraham.
4. Perjanjian di Sinai.Perjanjian di Sinai secaraesensial; sama dengan perjanjian yang
ditetapkan bersama Abraham, walaupun bentuknya sedikit berbeda. Akn tetapi
meskipun perjanjian dengan Abraham dan perjanjian di Sinai secara esensial sama,
perjanjian Sinai tetap meiliki sifat-sifat khas tersendiri.
a. perjanjandiSinaimenjadi sebuah pejanjian nasional sepenuhnya
b. perjanjian Sinai mencakup palayanan yang mengandung unsur pengingat yang
positif dari tuntutan-tuntutan ketat dari perjanjian kerja
c. perjanjian dengan bangsa Israel mencakup suatu pelayanan seremonial dan tipikal
yang terperinci.
d. Hukum dalam perjanjian Sinai bagi bangsa Israel juga berfungsi sebagai peraturan
untuk hidup, sehinggahukum Allah memperoleh tiga aspek berbeda di sebut
sebagai hukummoral, hukumsipil dan huum seremonial atau religius..
C. Dispensasi Perjanjian Baru.
Hanya sedikit hal yang perlu dikatakan tentang dispensasi PB dari perjanjian ini.
Beberapa hal berikut perlu diperhatikan
1. Perjanjian anugerah, sebagaimana diungkapkan dalam Pb, secara esensial sama
dengan yang mengaturhubungan orang-orang percaya PL dengan Allah
2. Dispensasi PB berbeda dengan dispensasi PL dalam hal bahwa PB bersifat universal,
yaitu mencakup seluruh bangsa
3. Dispensasi PB lebih menekanan pada sifat agung perjanjian ini
4. Pada akhirnya, dispensasi PB membawa berkat-berkat yang lebh bsar daripada
dispensasi PL.