Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Fistula atau fistel merupakan bahasa latin yang artinya pipa. Fistel merupakan
hubungan atau jalur antara dua epitel organ atau jaringan yang normalnya tidak
berhubungan.

Fistula vesicovagina merupakan hubungan abnormal antara vagina dan vesica


urinaria. Sedangkan fistel rectovaginalis merupakan hubungan abnormal antara
rectum dan vagina. Kedua kondisi diatas dapat timbul sebagai komplikasi dari
persalinan maupun penyakit pada daerah tersebut. Berdasarkan etiologinya, dapat
dibagi menjadi:

1. Fistel obstetri, fistel yang timbul akibat : Partus lama atau partus dengan
tindakan, seperti pada tindakan SC, kranioklasi, dekapitasi,
ekstraksidengan cunam,seksio-histerektomia
2. Fistel gynekologi, fistel yang timbul akibat tindakan operasi pada pasien
dengan carcinoma, terutama carcinoma cervix. Pasien dengan operasi
histerektomi.
3. Fistel traumatik, fistel yang timbul akibat komplikasi pemasangan
kateter, kecelakaan dan pasien dengan abortus kriminalis
Fistula anorektal yang sering pula disebut fistel ani atau
fistel perianal/paraanal.fistula anorektal adalah komunikasi abnormal antara anus
dan kulit perianal. Kelenjar pada kanalis analis terletak pada linea dentate,
menyediakan jalur organisme yang menginfeksi untuk sampai pada daerah
intramuscular

Fistula dapat muncul secara spontan atau sekunder karena abses perianal
(atauperirektal). Faktanya, setelah drainase dari abses periani, hampir 50 %
terdapat kemungkinan untuk berkembang menjadi fistula yang kronik. Fistula
lainnya dapat terjadi sekunder karena trauma, penyakit Crohn. fisura ani,
karsinoma, terapi radiasi, aktinomikosis, tuberculosis, dan infeksi klamidia

1
1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan Teknik Operasi Perineal Fistula & Fistula
Rectovaginalis?
2. Bagaimana persiapan operasi Perineal Fistula & Fistula Rectovaginalis?
3. Bagaimana teknik operasi Perineal Fistula & Fistula Rectovaginalis?
4. Bagaimana pasca operasi Perineal Fistula & Fistula Rectovaginalis ?
1.3 Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini ialah mengetahui apa yang dimaksud
dengan Teknik Operasi Perineal Fistula & Fistula Rectovaginalis, bagaimana
teknik Perineal Fistula & Fistula Rectovaginalis, dan bagaimana terapi post
operasinya. Hal-hal ini akan diperlukan sebagai referensi pengetahuan jika sudah
menjadi dokter hewan.

1.4 Manfaat

Setelah melakukan penulisan diharapkan mahasiswa dapat mengerti dan


mengetahui manfaat dan kegunaan operasi Perineal Fistula & Fistula
Rectovaginalis. Selain itu mahasiswa juga diharapkan mengetahui tata cara
pelaksanaan tata cara pelaksanaan operasi Perineal Fistula & Fistula
Rectovaginalis

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Perianal fistula adalah saluran yang dalam, sangat berkembang dan


mengandung nanah pada jaringan perianal. Perianal fistula paling sering terdapat
pada anjing-anjing ras besar. Perianal fistula sering juga disebut perianal sinus,
perianal fissura, furunculosis, pararectal fistula, anusitis, fistuna-in-ono, atau
anorectal abses (Sudisma, 2016).

Recto – vaginal fistula atau anus vaginalis adalah kelainan kongenital yang
mematikan dimana ada saluran abnormal di antara rektum dan vagina, dan kotoran
terhambat keluar (anus imperforate). Atresia ani jenis fistula recto- vaginal
dilaporkan pada banyak spesies hewan betina, seperti pada hewan domba, anjing,
kucing, babi dan kuda. Kondisi ini perlu ditangani sejak dini untuk menghindari
infeksi sistem urogenital seperti sistitis, vaginitis, cervicitis, endometritis,
kegagalan pembuahan dan kawin berulang (Chen et al., 2015). Fistula rektovaginal
dapat terjadi akibat trauma obsetrik, perbaikan yang kurang tepat dari perbaikan
robekan perineum derajat III, trauma saat berkembang biak, abses pada perineum
atau vaginitis dan kelainan kongenital (Farhoodi et al., 2000).

Fistula rektovaginal kongenital ditandai lubang diantara dinding dorsal


vagina dan bagian ventral rektum, sehingga vulva berfungsi sebagai lubang saluran
urogenital dan gastrointestinal. Biasanya, kelainan ini berhubungan dengan atresia
tipe II, di mana rektum berakhir sebagai kantung buntu langsung ke kranial anus
yang tidak berforum. Kadang-kadang, rektum menjadi pecah karena tegangan pada
hewan yang membentuk fistula recto-vaginal, yang memungkinkan kotoran keluar
melewati pembukaan vulvular (Kumar et al., 2009). Tanda klinis meliputi bagian
tinja melalui vulva, iritasi vulva, tenesmus, sistitis, dan megacolon (Bademkiran et
al., 2009).

3
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Preoperasi

Sebelum dilakukan pembedahan harus dilakukan persiapan operasi yang


matang agar operasi pada hewan tersebut berjalan dengan sukses dan lancar.
Persiapan yang perlu dilakukan meliputi persiapan alat, bahan dan obat, persiapan
ruang operasi, persiapan pasien, dan persiapan operator.

Persiapan alat, bahan dan obat

Alat-alat yang digunakan adalah scalpel, pisau bedah, gunting,arteri clamp,


needle holder, pinset, spuit, jarum operasi, benang vicryl, dan non absorbable silk.
Sebelum menggunakan alat tersebut harus disterilisasi dengan autoclave ataupun
alkohol 70%. Sedangkan bahan- bahan yang digunakan adalah tampon, alkohol
70%, kain drape, sarung tangan, penutup kepala, masker operasi dan lampu
penerangan. Obat- obat yang dipersiapkan adalah premedikasi yaitu atropine sulfat,
anestesi umum adalah ketamin + xilazin dan antibiotika penicillin-streptomycin

Persiapan ruang operasi

Ruang operasi harus dibersihkan, meja operasi harus disterilkan dengan


desinfektan, didalam operasi harus tersedia lampu penerangan. Alat-alat operasi
yang telah disterilisasi disiapkan dan ditata rapi sehinggamemudahkan untuk
diambil ketika operasi.

Persiapan Operator dan pasien

Operator harus memiliki beberapa kesiapan seperti menggunakan


seperangkat alat pelindung diri (APD) yang bertujuan untuk sterilitas prosedur
pelaksanaan operasi. Selain itu operator juga memiliki kesiapan diri dan
ketrampilan dalam melaksanakan tindakan operasi. Persiapan pasien yaitu sebelum
tindakan operasi dilaksanakan, hewan terlebih dahulu dianamnesa, pemeriksaan

4
fisik secara umum. Kemudian sebelum dilakukan tindakan operasi hewan harus
dipuasakan.

Pramedikasi dan Anestesi

Premedikasi merupakan pemberian obat sebelum pemberian anestesi yang


dapat diinduksi jalannya anestesi. Premedikasi dilakukan 10-15 menit sebelum
melakukan anestesi. Premedikasi bertujuan untuk mengurangi kecemasan,
memperlancar induksi, mengurangi keadaan gawat anestesi, mengurangi
hipersalivasi, bradycardia dan muntah selama anestesi. Premedikasi yang
digunakan adalah atropine sulfat diberikan secara intravena. Kemudian anestesi
digunakan ketamin dan xilazin yg diberikan secara intramuskular.

3.2 Teknik Operasi Perianal Fistula dan Fistula Rectovaginalis

 Teknik Operasi Perianal Fistula


Pembedahan dengan melakukan insisi pada glandula dapat dilakukan untuk
mengatasi perianal fistula.
1. Teknik operasi dilakukan dengan cara kelenjar anal diirigasi dahulu dengan
cairan antiseptik lemah dan dimasukan beberapa potong gauze sponge ke
dalam rektum untuk mencegah adanya kontaminasi dari feses.
2. Setelah itu glandula anal diekstirpasi dengan menggunakan sebuah grooved
director ke dalam kelenjar anal melalui orofociumnya kemudian dibuat
sayatan hingga tampak batas-batas glandula dan kantong glandula
dipisahkan dengan cara preparsi tumpul.
3. Setelah itu lakukan penutupan sayatan menggunakan chromic catgut ukuran
2-0 dan benang nonabsorbable untuk bagian luar dengan pola jahitan simple
interrupted.
4. Selanjutnya dibuat irisan melingkar disekeliling fistula-fistula yang ada.
Bagian tersebut dipisahkan sampai pada bagian spinchter ani dan
diusahakan agar spinchter ani dipertahankan.

5
5. Di sekeliling anus lapisan sub-mukosa dari rektum dijahit ke bagian
subkutis dengan menggunakan chromic catgut ukuran 2-0 dan mukosa
dijahitkan ke kulit dengan menggunakan benang nonabsorbable.

Gambar 1. Perianal fistula pada anjing

Gambar 2. Bedah dengan sayatan

6
Gambar 3. Setelah sembuh dari pembedahan

 Teknik Operasi Fistula Rectovaginalis


Fistula Recto-vaginal ditangani dengan dua metode :
1. Metode pertama, rektum dan bibir vulvular yang mengalami
kelainan ditutup secara individual setelah isolasi dan transeksi
fistula. Pembukaan anus direkonstruksi setelahnya.
2. Dalam metode kedua, penseksian dari rektum dilakukan hanya pada
bagian anterior fistula, bagian rektum yang rusak dipotong dan
dijahit pada bagian luar recta dan tepi kulit yang terbuka.

Gambar 4. Rectovaginal pada anjing betina setelah 1 bulan

7
3.3 Pasca Operasi

Penanganan Perianal fistula dan Rectovaginal fistula harus dengan prosedur


yang baik dan harus dengan tingkat sterilisasi yang tinggi karena operasi
berhubungan dengan bagian mukosa dari system digesti. Perawatan pasca operasi
dilakukan sesuai dengan kondisi pasien yang ada, jika tidak mau makan bisa dengan
pemberian infus, untuk mencegah infeksi berikan antibiotic, untuk menghidari
adanya radang bisa diberikan anti inflamasi. Kemudian lakukan pengecekan secara
berkala terhadap bagian yang telah di operasi agar jika tejadi kelainan bisa
terdeteksi dengan baik.

Secara umum perawatan pasca operasi perianal fistula Ada 3 prinsip yaitu :

a) Terapi Immunosupresif atau Immunomodulatery


Disini ada 2 fase yaitu : Fase Induksi. Untuk mengatasi gejala klinis yang
muncul. Perlakuan Pasca Operasi Fistula rectovaginalis dan Fase
Pemeliharaan. Untuk mencegah terjadinya kekambuhan penyakit.
b) Terapi Diet : Pembatasan Protein novel dan protein yang terhidrolisasi.
c) Terapi Higeni : Jaga daerah tetap kering dan bersih dan berikan terapi
antibiotik.

 Perlakuan Pasca Operasi Fistula rectovaginalis


a) Pemberian Antibiotik, Penicillin-Streptomycin selama 5 hari, I.M
b) Pemberian NSAIDs, untuk beberapa hari
c) Pencucian (irigasi) dengan larutan Normal Saline, 2 kali sehari, dikuti
pemberian Neomycin Sulphate
d) Benang (silk) diambil 14 hari post operasi

8
BAB IV PENUTUP

4.1 Simpulan

4.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

Bademkiran, Servet et al. 2009. Congenital Recto Vaginal Fistula with Atresia
Ani in a Heifer: A Case Report. Turkey: Dicle University.

Ellison, Gary W. 2009. Perianal Fistulas / Anal Fistulas; A Medical Disease That
Sometimes Needs Surgery. Florida: University of Florida.

Farhoodi. I. Nowrouzian. P. Hovareshti. M. Bolourchi. M.Gh. Nadalian. 2000.


Factors Associated With Rectovaginal Injuries In Holstein Dairy Cows In
A Herd In Tehran, Iran. Department of Clinical Sciences, Faculty of
Veterinary Medicine, University of Tehran

Kumar, Hemant., A.K.Sharma, L.L.Dass, Abhishek Anand. 2009. Atresia ani with
scrotal anomaly in a Goat. Veterinary World, Vol.2(2): 68

Servet Bademkiran Hasan Icen Dogan Kurt. 2009. Congenital Recto Vaginal
Fistula with Atresia Ani in a Heifer: A Case Report. Y.Y.U. Veteriner
Fakultesi Dergisi. 20 (1) 61 – 64

Sudisma, I G Ngurah. 2016. Ilmu Bedah Veteriner dan Teknik Operasi. Denpasar:
Universitas Udayana