Anda di halaman 1dari 24

ASUHAN KEPERAWATAN HEMOTHORAK

DISUSUN OLEH :

APRILLIA RAHMAH (616080716004)


ANISWAN (616080716002)
DWI FADILLAH (616080716008)
GEOVANNI (616080716013)
LIA VERANICA (616080716021)
MEYILYANA EKA P (616080716026)
MULYA USMI (616080716029)
NURHANANI AFIFAH (616080716035)
NURUL FAKHRULDINI (616080716037)
PANJEN SETYANINGSIH F (616080716038)
RANI NUR ALIF (616080716045)
RAJA AINI (616080716046)
TANIA AFRIANI (616080716052)

STIKES MITRA BUNDA PERSADA BATAM


TAHUN AJARAN 2017/2018

1
LAPORAN PENDAHULUAN HEMOTHORAX

A. PENGERTIAN
Hemothorax adalah suatu kondisi dimana adanya kumpulan darah di
dalam ruang antara dinding dada dan paru-paru (rongga pleura). Penyebab
paling umum dari hemothorax adalah trauma dada. Trauma misalnya :
- Luka tembus paru-paru, jantung, pembuluh darah besar, atau dinding
dada
- Trauma tumpul dada kadang-kadang dapat mengakibatkan lecet
hemothorax oleh pembuluh internal.
- Diathesis perdarahan seperti penyakit hemoragik bayi baru lahir atau
purpura Henoch-Schönlein dapat menyebabkan spontan hemotoraks.
Adenomatoid malformasi kongenital kistik: malformasi ini kadang-
kadang mengalami komplikasi, seperti hemothorax
Hemathorax adalah adanya darah dalam rongga pleura.Sumber mungkin
darah dinding dada,parenkim paru – paru, jantung atau pembuluh darah
besar.kondisi diasanya merupakan konsekuensi dari trauma tumpul atau
tajam.Ini juga mungkin merupakan komplikasi dari beberapa penyakit.(
Puponegoro , 1995 ) .
Hemothorax adalah pengumpulan darah dalam rongga pleura. Hal ini
diklasifikasikan menurut jumlah darah yaitu 350 ml atau kurang dianggap
minim,350-1500 ml moderat, dan lebih dari 1500 ml dianggap besar.
hemothorax atau haemothorax adalah suatu kondisi yang dihasilkan dari
darah terakumulasi di rongga pleura.
Hemothorax adalah pengumpulan darah dalam ruang potensial antara
pleura visceral dan parietal. (Arif Mansjoer,Kapita Selekta
Kedokteran;297)

B. PEMBAGIAN HEMOTHORAK
 Hemothorak Kecil : yang tampak sebagian bayangan kurang dari 15
% pada fotorontgen, perkusi pekak sampai iga IX.2.
 Hemothorak Sedang : 15-35 % tertutup bayangan pada foto rontgen,
perkusi pekak sampai iga VI.
 Hemothorak Besar : lebih 35 % pada foto rontgen, perkusi pekak
sampaicranial, iga IV.

C. ETIOLOGI
Adapun penyebab dari penyakit Hemothorax, adalah sebagai berikut:
1. Traumatik : Biasanya disebabkan oleh trauma tumpul atau trauma
tajam pada dada, yang mengakibatkan robeknya membran serosa pada

2
dinding dada bagian dalam atau selaput pembungkus paru. Robekan
ini akan mengakibatkan darah mengalir ke dalam rongga pleura, yang
akan menyebabkan penekanan pada paru.
2. Non Traumatik
terdiri dari:
- Neoplasma
- Gangguan pembekuan darah
- Kematian jaringan paru-paru (paru-paru infark )
- Kanker paru-paru atau pleura
- Penempatan dari kateter vena sentral
- Operasi jantung
- Infeksi: Tuberkulosis
- Hematoraks masif adalah terkumpulnya darah dengan cepat lebih
dari 1500 cc dalam rongga pleura. Penyebabnya adalah luka
tembus yang merusak pembuluh darah sistemik atau pembuluh
darah pada hilus paru. Selain itu juga dapat disebabkan cedera
benda tumpul. Kehilangan darah dapat menyebabkan hipoksia.

D. MANIFESTASI KLINIS
Beberapa tanda dan gejala yang tampak pada pasien dengan gangguan
Hemathorax, yaitu:
- Tachypne
- Dyspnea
- Cyanosis
- Tachycardia
- Hipotensi
- Anemia
- Nyeri di dada
- Kelelahan
- Gelisah dan cemas
- Gerak dan pengembangan rongga dada tidak sama (paradoxical)
- Penurunan suara napas atau menghilang pada sisi yang terkena
- Dullness pada perkusi
- Adanya krepitasi saat palpasi
- Berkeringat

E. PATOFISIOLOGI
Pada trauma tumpul dada, tulang rusuk dapat menyayat jaringan paru-
paru atau arteri, menyebabkan darah berkumpul di ruang pleura. Benda
tajam seperti pisau atau peluru menembus paru-paru mengakibatkan

3
pecahnya membran serosa yang melapisi atau menutupi thorax dan paru-
paru. Pecahnya membran ini memungkinkan masuknya darah ke dalam
rongga pleura. Setiap sisi toraks dapat menahan 30-40% dari volume
darah seseorang
Perdarahan jaringan interstitium, Pecahnya usus sehingga perdarahan
Intra Alveoler, kolaps terjadi pendarahan akibat pecahnya arteri dan
kapiler-kapiler kecil , sehingga tekanan perifer pembuluh darah
paru meningkat, dan aliran darah menurun yang mengakibakan
kadar Hb dalam darah menurun, anemia, syok hipovalemik, sesak napas,
tahipnea, sianosis, tachikardia.
Perdarahan ke dalam rongga pleura dapat terjadi dengan hampir semua
gangguan dari jaringan dinding dada dan pleura atau struktur intratoracic
yang fisiologis terhadap pengembangan hematothorax diwujudkan dalam
2 bidang utama hemodinamik dan pernapasan . Tingkat respons
hemodinamik ditentukan oleh jumlah dan kecepatan kehilangan darah .
Gerakan pernapasan normal mungkin terhambat oleh ruang efek
menduduki akumulasi besar darah dalam rongga pleura . Dalam kasus
trauma , kelainan ventilasi dan oksigen dapat mengakibatkan , terutama
jika dikaitkan dengan cedera pada dinding dada . Dalam beberapa kasus
nontraumatic asal usul , terutama yang berkaitan dengan pneumotorax dan
jumlah terbatas perdarahan , gejala pernapasan dapat mendominasi .

F. DERAJAT PENDARAHAN HEMOTHORAX


a. Perdarahan derajat I (kehilangan darah 0-15%)
- Tidak ada komplikasi, hanya terjadi takikardi minimal.
- Biasanya tidak terjadi perubahan tekanan darah, tekanan nadi, dan
frekuensi pernapasan.
- Perlambatan pengisian kapiler lebih dari 3 detik sesuai untuk
kehilangan darah sekitar 10%
b. Perdarahan derajat II (kehilangan darah 15-30%)
Gejala klinisnya:
- takikardi (frekuensi nadi>100 kali permenit),
- takipnea,
- penurunan tekanan nadi,
- kulit teraba dingin,
- perlambatan pengisian kapiler, dan
- anxietas ringan
c. Perdarahan derajat III (kehilangan darah 30-40%)
Gejalanya:

4
- Pasien biasanya mengalami takipnea dan takikardi, penurunan
tekanan darah sistolik, oliguria, dan perubahan status mental yang
signifikan, seperti kebingungan atau agitasi.
- Pada pasien tanpa cedera yang lain atau kehilangan cairan, 30-
40% adalah jumlah kehilangan darah yang paling kecil yang
menyebabkan penurunan tekanan darah sistolik.
- Sebagian besar pasien ini membutuhkan transfusi darah, tetapi
keputusan untuk pemberian darah seharusnya berdasarkan pada
respon awal terhadap cairan.
d. Perdarahan derajat IV (kehilangan darah >40%)
Gejala-gejalanya berupa:
- takikardi, penurunan tekanan darah sistolik,
- tekanan nadi menyempit (atau tekanan diastolik tidak terukur),
- berkurangnya (tidak ada) urine yang keluar,
- penurunan status mental (kehilangan kesadaran), dan
- kulit dingin dan pucat.

G. KOMPLIKASI HEMOTHORAX
- Kehilangan darah
- Kegagalan pernapasan
- Syok
- Kematian
- Fibrosis atau parut dari membran pleura

H. PENATALAKSANAAN
Berdasarkan tingkat keparahannya dibagi menjadi :
- Hemothorak kecil : cukup diobservasi, gerakan aktif (fisioterapi)
dan tidak memerlukan tindakan khusus.
- Hemothorak sedang : di pungsi dan penderita diberi transfusi.
Dipungsi sedapat mungkin dikeluarkan semua cairan. Jika ternyata
kambuh dipasang penyalir sekat air.
- Hemothorak besar : diberikan penyalir sekat air di rongga antar iga
dan transfusi.
Kematian penderita Hemothorax dapat disebabkan karena banyaknya
darah yang hilang dan terjadinya kegagalan dalam bernapas. Kegagalan
pernapasan disebabkan karena adanya sejumlah besar darah dalam rongga
pleura yang menekan jaringan paru serta berkurangnya jaringan paru yang
melakukan ventilasi. Maka, pengobatan hemothorax sebagai berikut:
- Pengosongan rongga pleura dari darah
- Menghentikan pendarahan

5
- Memperbaiki keadaan umum.
Adapun tindakan yang dapat dilakukan adalah:
- Resusitasi cairan.
Terapi awal hemotoraks adalah dengan penggantian volume darah
yang dilakukan bersamaan dengan dekompresi rongga pleura.
Dimulai dengan infus cairan kristaloid secara cepat dengan jarum
besar dan kemudian pemnberian darah dengan golongan spesifik
secepatnya. Darah dari rongga pleura dapat dikumpulkan dalam
penampungan yang cocok untuk autotranfusi bersamaan dengan
pemberian infus dipasang pula chest tube ( WSD ).
- Pemasangan chest tube ( WSD ) ukuran besar agar darah pada toraks
tersebut dapat cepat keluar sehingga tidak membeku didalam pleura.
Hemotoraks akut yang cukup banyak sehingga terlihat pada foto
toraks sebaiknya di terapi dengan chest tube kaliber besar. Chest tube
tersebut akan mengeluarkan darah dari rongga pleura mengurangi
resiko terbentuknya bekuan darah di dalam rongga pleura, dan dapat
dipakai dalam memonitor kehilangan darah selanjutnya. Evakuasi
darah / cairan juga memungkinkan dilakukannya penilaian terhadap
kemungkinan terjadinya ruptur diafragma traumatik. WSD adalah
suatu sistem drainase yang menggunakan air. Fungsi WSD sendiri
adalah untuk mempertahankan tekanan negatif intrapleural / cavum
pleura.
- Apabila dengan pemasangan WSD, darah tetap tidak berhenti, maka
dipertimbangkan untuk Thorakotomi.
- Pemberian terapi Oksigen 2-4 Liter/menit, lamanya disesuaikan
dengan perubahan klinis. Lebih baik lagi jika dimonitor dengan
analisa BGA. Usahakan sampai gas darah penderita kembali normal.
- Transfusi darah: dilihat dari penurunan kadar Hb. Sebagai patokan,
dapat dipakat perhitungan sebagai berikut: setiap 250 cc darah (dari
penderita dengan Hb 15 gr %)dapat menaikan ¾ g % Hb.
- Pemberian antibiotika: dilakukan apabila ada infeksi sekunder.
- Apabila terjadi penebalan pleura, pertimbangkan pemberian
dekortikasi.

I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang untuk diagnostik, diantaranya:
1. Chest-Ray : adanya gambaran hipodense pada rongga pleura disisi
yang terkena dan adanya mediastinum shift. Chest-Ray digunakan
sebagai penegak diagnostik yang paling utama dan lebih sensitif
dibandingkan dengan pemeriksaan lainnya.

6
2. CT Scan : diindikasikan untuk pasien dengan hemothoraks yang untuk
evaluasi lokasi clotting (bekuan darah) dan untuk menentukan
kuantitas atau jumlah bekuan darah di rongga pleura.
3. USG : USG yang digunakan adalah jenis FAST dan diindikasikan
untuk pasien yang tidak stabil dengan hemothoraks minimal.
4. Nilai BGA : Hipoksemia mungkin disertai hiperkarbia yang
menyebabkanasidosis respiratori. Saturasi O2 arterial mungkin
menurun pada awalnya tetapi biasanya kembali ke normal dalam waktu 24
jam.
5. Cek darah lengkap : dilakukan berdasarkan nilai kadar Hb yang
menunjukkan jumlah darah yang hilang pada hemothorax.

ASUHAN KEPERAWATAN
Contoh kasus:
Tn E. mengeluh nyeri dada sebelah kanan disertai dengan sesak, setelah
terjatuh dari pohon cengkeh dengan ketinggian lebih dari 5 meter. Nyeri dada
dirasakan terutama pada saat bernapas. Pasien mengaku terjatuh dengan posisi
dada terlebih dahulu. Riwayat pingsan (-), pusing (-), muntah (-). Pasien sempat
dirawat sebelumnya di RS Embung Fatimah dan kemudian dirujuk di RS
Harapan bunda.

1. Biodata pasien
Nama : Tn E
Nomor RM : 24 31 27
Umur : 30 tahun
Jenis kelamin : Laki – laki
Pekerejaan : Wiraswasta
Pendidikan : SMA
Agama : Islam
Alamat : Jln siduarjo perumahan asri
Suku bangsa : Jawa
Diagnosa medis : Hemothorax
Tanggal masuk : 12 febuari 2017
Tanggal pengkajian : 12 febuari 2017
Ruang rawat : anggrek 10

7
2. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pasien datang ke RSHB melalui IGD dengan keluhan nyeri
dada. N. Pasien juga merasa nyeri setiap kali pasien menarik
napas. Napas dirasakan agak sesak. Pasien mengaku terjatuh
dengan posisi dada terlebih dahulu. Riwayat pingsan (-), pusing (-
), muntah (-).
b. Riwayat Kesehatan masa lalu
Pasien belum pernah menderita gejala serupa seperti ini
sebelumnya.

c. Riwayat Kesehatan Keluarga


Tidak ada anggota keluarga yang menderita gejala serupa
dengan pasien.
3. Pola Kebiasaan Sehari – hari
a. Pola Makan
- Sebelum Sakit : Sebelum sakit ,frekuensi makan Tn.E
teratur. Berat badan Tn. E 68 kg. berat badan Tn. E
turun derastis menjadi 55 kg dalam 1 bulan. Klien tidak
suka sayuran dan tidak memiliki pantangan terhadap
makanan apapun
- Saat Dirawat : Saat sakit, Tn. E hanya mengonsumsi nasi
lembek, sayuran hijau, dan buah .
b. Pemenuhan Cairan
- Sebelum Sakit : Sebelum sakit frekuensi minum klien 7-
8 gelas/hari.
- Saat Dirawat : Saat sakit, frekuensi minum klien + 2-3
gelas/hari.
c. Pola Eliminasi
- BAK
Sebelum Sakit : sebelum sakit pasien melakukan BAK
sebanyak 4-5 kali tergantung banyak nya air yang pasien
minum
Saat Dirawat : saat dirawat pasien hanya melakukan
BAK sebanyak 3 kali
- BAB
Sebelum Sakit : sebelum sakit klien BAB 2x/ hari

8
Saat Dirawat : Saat sakit frekuensi BAB 1 x/hari, warna
kuning kecoklatan, konsistensi lunak.

d. Pola Istirahat dan Tidur


Sebelum Sakit : Sebelum sakit klien tidur cukup kurang lebih
4-7 jam perhari
Saat Dirawat : saat sakit klien susah tidur karena dada klien
sesak
4. Pengkajian Head to Toe
a. Kesehatan Umum
- BB : 55 kg
- TB : 165 cm
Tanda – Tanda Vital
- Tekanan Darah : 100 / 90 mmHg
- Suhu : 37,5º C
- Nadi : 112 x / menit
- Pernafasan : 32 x / menit.
b. Pemeriksaan Fisik
1. Sistem Pernapasan : Sesak napas , Nyeri , batuk-batuk ,
Terdapat retraksi , klavikula / dada . Pengambangan paru
tidak simetris. Fremitus menurun dibandingkan dengan
sisi yang lain. Pada perkusi ditemukan Adanya suara
sonor atau hipersonor atau timpani , hematotraks ( redup
) Pada asukultasi suara nafas , menurun , bising napas
yang berkurang atau menghilang . Pekak dengan batas
seperti , garis miring atau tidak jelas.Dispnea dengan
aktivitas ataupun istirahat. Gerakan dada tidak sama
waktu bernapas.
2. Sistem Kardiovaskuler : Nyeri dada meningkat karena
pernapasan dan batuk. Takhikardia , lemah , Pucat , Hb
turun / normal .Hipotensi
3. Sistem Muskuloskeletal – Integumen. Kemampuan sendi
terbatas . Ada luka bekas tusukan benda tajam.
Terdapat kelemahan.Kulit pucat, sianosis, berkeringat,
atau adanya kripitasi sub kutan.
4. Sistem Endokrine : Terjadi peningkatan metabolisme.
5. Spiritual : Ansietas, gelisah, bingung, pingsan.

9
A. ANALISA DATA

ANALISA DATA ETIOLOGI PROBLEM


DS: Trauma à sayatan/cedera pada Nyeri dada
1.Pasien mengeluh jaringan paru
nyeri dada pada saat
bernapas
DO:
1.pasien nampak
meringis kesakitan
sambil memegang
dada yang sakit.
2.skala nyeri : 8

DS: Penurunan Ekspansi Paru Ketidakefetifan


Pasien mengeluh (adanya darah dalam rongga Pola pernapasan
sesak napas pleura)
DO:
1.TTV: TD: 100/90,
HR: 112x/mnit, RR:
32X/menit, S: 37,5.
2. pasien tampak
napas cepat dan
dalam
3.pasien tampak
pucat
4.pasien tampak
menggunakan otot
aksesoris

DS: Kurangnya atau keterbatasan Kurang


Pasien mengatakan informasi . pengetahuan atau
pasien kurang tau kebutuhan belajar.
tentang penyakit
yang dideritanya.
DO:
Pasien tampak
kebingungan dan
sering bertanya
setiap tindakan yang

10
akan dilakukan.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan penurunan ekspansi
paru (adanya kumpulan darah dalam rongga pleura).
2. Gangguan rasa nyaman, nyeri dada berhubungan dengan cedera pada
jaringan paru.
3. (Resiko tinggi) Trauma / penghentian napas b/d penyakit saat ini/proses
cedera, system drainase dada, kurang pendidikan keamanan/pencegahan.
4. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan adanya sekret
pada jalan nafas akibat ketidakmampuan batuk efektif.
5. Kurang pengetahuan / kebutuhan belajar (tentang kondisi dan aturan
pengobatan) berhubungan dengan kurang terpajan dengan informasi.

C. INTERVENSI

Diagnosa 1: Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan


penurunan ekspansi paru (adanya kumpulan darah dalam rongga pleura).

Kriteria hasil Intervensi Rasional


Setelah dilakukan tindakan 1. Identifikasi etiologi Pemahaman penyebab
keperawatan selama 2x24 /factor pencetus, contoh kolaps paru perlu untuk
jam diharapkan pola nafas kolaps spontan, trauma, pemasangan selang dada
kembali efektif, infeksi, komplikasi ventilasi yang tepat dan memilih
Dengan criteria hasil: mekanik. tindakan terapiutik yang
-Usaha nafas kembali tepat.
normal dan meningkatnya
suplai oksigen ke paru- 2. Evaluasi fungsi Distres pernapasan dan
paru. pernapasan, catat perubahan pada tanda vital

11
-TTV:normal kecepatan/pernapasan serak, dapat terjadi sebagai akibat
-pasien tidak menggunakan dispnea, terjadinya sianosis, stress fisiologis dan nyeri
otot aksesoris dalam perubahan tanda vital. menunjukan terjadinya syok
bernapas. b/d hipoksia/perdarahan.

3. Awasi kesesuaian pola Kesulitan bernapas dengan


pernapasan bila ventilator atau peningkatan
menggunakan ventilasi tekanan jalan napas diduga
mekanik dan catat memburuknya
perubahan tekanan udara. kondisi/terjadi komplikasi
(ruptur spontan dari bleb,
terjadi pneumotorak).

Bunyi napas dapat menurun


4. Auskultasi bunyi napas. atau tidak ada pada lobus,
segmen paru/seluruh area
paru (unilateral). Area
Atelektasis tidak ada bunyi
napas dan sebagian area
kolaps menurun bunyinya.

Sokongan terhadap dada dan


5. Kaji adanya area nyeri otot abdominal buat batuk
tekan bila batuk, napas lebih efektif/mengurangi
dalam trauma.

Suara dan taktil fremitus


(vibrasi) menurun pada
6.kaji fremitus jaringan yang terisi cairan /
konsolidasi.

Sokongan terhadap dada dan


otot abdominal buat batuk
7. Kaji adanya area nyeri lebih efektif/mengurangi
tekan bila batuk, napas trauma.
dalam.
Meningkatkan inspirasi
maksimal, meningkatkan
ekspansi paru dan ventilasi
8.Pertahankan posisi pada sisi yang tidak sakit.

12
nyaman (peninggian kepala
tempat tidur). Membantu pasien alami
efek fisiologis hipoksia yang
7. Pertahankan perilaku dapat dimanifestaikan
tenang, Bantu klien untuk sebagai ansietas/takut
kontrol diri dengan gunakan
pernapasan lambat/dalam.
Mempertahankan tekanan
8. Bila selang dada dipasang negatif intra pleural sesuai
: yang diberikan,
- Periksa pengontrol meningkatkan ekspansi paru
pengisap untuk jumlah optimum atau drainase
hisapan yang benar (batas cairan.
air, pengatur dinding/meja Air botol penampung
disusun tepat). bertindak sebagai pelindung
yang mencegah udara
- Periksa batas cairan pada atmosfir masuk ke area
botol pengisap pertahankan pleural.
pada batas yang ditentukan. Gelembung udara selama
ekspirasi menunjukan
- observasi gelembung udara lubang angin dari
botol penampung. pneumothorak (kerja yang
diharapkan).
Bekerjanya pengisapan,
menunjukan kebocoran
-Evaluasi ketidak udara menetap mungkin
normalan/kontuinitas berasal dari pneumotoraks
gelembung botol besar pada sisi pemasangan
penampung. selang dada (berpusat pada
pasien), unit drainase dada
berpusat pada system
Mengisolasi lokasi
kebocoran udara pusat
system
Klem selang pada bagian Alat dalam menurunkan
bawa unit drainase bila kerja napas, meningkatkan
kebocoran udara berlanjut. penghilangan distress
respirasi dan sianosis b/d
9.kolaborasi: dalam hipoksemia.
pemberian terapi oksigen Mengawasi kemajuan

13
tambahan melalui perbaikan hemothorax dan
kanula/masker sesuai ekspansi paru.
indikasi.

10.kolaborasi: kaji seri foto


thorax

Diagnosa 2: Gangguan rasa nyaman, nyeri dada berhubungan dengan


cedera pada jaringan paru.

Kriteria Hasil Intervensi Rasional


Setelah dilakukan 1. Berikan Istirahat akan merelaksasi
tindakan kesempatan waktu semua jaringan sehingga
keperawatan istirahat bila terasa akan meningkatkan
selama 2x24 jam nyeri dan berikan kenyamanan.
diharapkan: posisi yang nyaman ;
-rasa nyeri di misal waktu tidur,
dada berkurang belakangnya
-pasien tampak dipasang bantal
tidak meringis kecil . Mengetahui tingkat rasa
lagi. nyeri pasien
-pasien 2.selidiki perubahan Pendekatan dengan
menunjukkan karakteristik nyeri menggunakan relaksasi dan
bahwa skala nyeri 3. Jelaskan dan bantu nonfarmakologi lainnya
berkurang. klien dengan telah
tindakan pereda menunjukkankeefektifan
nyeri dalam mengurangi nyeri.
nonfarmakologi dan
non invasive. Akan melancarkan
peredaran darah, sehingga
kebutuhan O2 oleh jaringan
4. Ajarkan Relaksasi akan terpenuhi,sehingga
: Tehnik-tehnik akan mengurangi nyerinya.
untuk menurunkan
ketegangan otot
rangka, yang Mengalihkan perhatian
dapatmenurunkan nyerinya ke hal-hal yang
intensitas nyeri dan menyenangkan.

14
juga tingkatkan
relaksasi masase. Pengetahuan yang akan
dirasakan membantu
5. Ajarkan metode mengurangi nyerinya. Dan
distraksi selama dapat
nyeri akut. membantumengembangkan
kepatuhan klien terhadap
rencana teraupetik.
6. Tingkatkan
pengetahuan tentang Analgetik memblok lintasan
: sebab-sebab nyeri, nyeri, sehingga nyeri akan
dan menghubungkan berkurang.
berapa lama nyeri
akan berlangsung. Pengkajian yang optimal
akan memberikan perawat
data yang obyektif untuk
mencegahkemungkinan
komplikasi dan melakukan
7. Kolaborasi dengan intervensi yang tepat.
dokter, pemberian
analgetik.

8. Observasi tingkat
nyeri, dan respon
motorik klien, 30
menit setelah
pemberian obat
analgetik untuk
mengkaji
efektivitasnya. Serta
setiap 1 – 2 jam
setelah tindakan
perawatan selama 1
– 2 hari

Diagnosa 3: (Resiko tinggi) Trauma / penghentian napas b/d penyakit saat


ini/proses cedera, system drainase dada, kurang pendidikan
keamanan/pencegahan.

15
Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Setelah dilakukan 1.Kaji dengan pasien Informasi tentang
tindakan keperawatan tujuan / fungsi bagaimana system
selama 2x24 jam drainase dada. bekerja berikan
diharapkan pasiendapat keyakinan dan
: menurunkan
- mengenal kecemasan pasien.
kebutuhan/mencari 2.Pasangkan kateter
bantuan untuk torak kedinding dada Mencegah
mencegah komplikasi. dan berikan panjang terlepasnya kateter
- dapat selang ekstra sebelum dada atau selang
memperbaiki/menghind memindahkan/mengub terlipat, menurunkan
ari lingkungan dan ah posisi pasien: nyeri/ketidaknyaman
bahaya fisik. an b/d
-Amankan sisi penarikan/penggerak
sambungan selang. an selang.
-Beri bantalan pada Mencegah
sisi dengan terlepasnya selang.
kasa/plester. Melindungi kulit
dari iritasi / tekanan.
3. Amankan unit
drainase pada tempat Mempertahankan
tidur pasien. posisi duduk tinggi
dan menurunkan
resiko kecelakaan
4. Berikan alat jatuh/unit pecah.
transportasi aman bila Meningkatkan
pasien dikirim keluar kontuinitas evakuasi
unit untuk tujuan optimal cairan /
diagnostic. udara selama
5. Awasi sisi lubang pemindahan.
pemasangan selang,
catat kondisi kulit. Memberikan
pengenalan dini dan
6.Anjurkan pasien mengobati adanya
untuk menghindari erosi /infeksi kulit.
berbaring/menarik
selang. Menurunkan resiko
7. Identifikasi obstruksi
perubahan / situasi drainase/terlepasnya

16
yang harus dilaporkan selang.
pada perawat.Contoh
perubahan bunyi Intervensi tepat
gelembung, lapar waktu dapat
udara tiba-tiba, nyeri mencegah
dada segera lepaskan komplikasi serius.
alat.

8. Observasi tanda
distress pernapasan
bila kateter torak
terlepas/tercabut. Hemothorax dapat
berulang/memburuk
karena
mempengaruhi
fungsi pernapasan
dan memerlukan
intervensi darurat.

Diagnosa 4: Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan


adanya sekret pada jalan nafas akibat ketidakmampuan batuk efektif.

Kriteria Intervensi Rasional


hasilyuuuuuuu
Setelah dilakukan 1. observasi bunyi napas Obstruksi
tindakan keperawatan disebabkan adanya
selama 2x24 jam akumulasi sekret
diharapkan pasien 2. Evaluasi gerakan dada pada jalan napas.
mampu gerakan dada
mempertahankan simetris dengan
jalan nafas bersih bunyi nafas
tanpa ada kelainan menunjukkan letak
bunyi pernapasan, selang tepat.
dengan kriteria hasil: Obstruksi jalan
- Tidak ada stridor, 3. Catat bila ada sesak nafas bawah
- frekuensi napas mendadak, bunyi alarm menghasilkan
normal tekanan tinggi ventilator, perubahan bunyi
adanya sekret pada selang. nafas seperti
4. Hisap lendir, batasi ronkhi dan
penghisapan 15 detik atau whezing.

17
kurang, pilih kateter Pasien dengan
penghisap yang tepat, intubasi biasanya
isikan cairan garam faali mengalami reflek
bila diindikasikan. batuk tidak efektif.
Gunakan oksigen 100 %
bila ada. penghisapan tidak
5. Lakukan fisioterapi
harus ruitn, dan
dada sesuai indikasi lamanya harus
dibatasi untuk
6.kolaborasi dalam mengurangi
pemberian bronkodilator terjadinya
hipoksia. Diamter
kateter < diameter
endotrakel.

Untuk
meningkatkan
ventilasi pada
semua segmen
paru dan untuk
drainage sekret.
untuk
meningkatkan
ventilasi dan
mengencerkan
sekret dengan cara
relaksasi otot polos
bronkus.

Diagnosa 5: Kurang pengetahuan / kebutuhan belajar (tentang kondisi


dan aturan pengobatan) berhubungan dengan kurang
terpajan dengan informasi.

Kriteria Hasil Intervensi Rasional


Setelah dilakukan 1. Kaji tingkat pengetahuan pasien. Informasi
tindakan menurunkan takut
keperawatan 2.Jelaskan pada pasien karena
selama 2x24 jam dan keluarga pasien tentang pengerti ketidaktahuan.
diharapkan an, penyebab, tanda dan gejala,
pengetahuan pasie pengobatan, dan komplikasi penyakit Meningkatkan

18
n maupun Hemothorax dengan memberikan pengetahuan dan
keluarga meningk penkes. pemahaman pasien
at tentang proses maupun keluarga.
penyakit, 3. Bantu keluarga klien untuk
Dengan KH: mengembangkan rencana asuhan
-Pasien maupun keperawatan dirumah sakit seperti :
keluarga mampu diet, istirahat dan aktivitas yang
mengidentifikasi sesuai. Melibatkan
tanda dan gejala keluarga dalam
yang memerlukan 4. Beri kesempatan pada pasien atau perencanaan dapat
evaluasi medik. keluarga pasien untuk bertanya meningkatkan
- terlibat aktif tentang hal yang belum pemahaman
dalam proses dimengertinya keluarga
perawatan.
5.identifikasi kemungkinan
kambuh/komplikasi jangka panjang. Menghindari
melewatkan hal
6.kaji ulang tanda/gejala yang yang
memerlukan evaluasi medik cepat, tidak dijelaskan
seperti nyeri dada, dyspnea. dan belum
dimengerti
7.kaji ulang praktik kesehatan yang oleh pasien
baik,seperti nutrisi,istirahat, dan maupun keluarga.
latihan.
Penyakit paru
yang ada seperti
PPOM berat dan
keganasan dapat
meningkatkan
insiden kambuh.
Berulangnya
hemothorax
memerlukan
intervensi medik
untuk
mencegah/nerunka
n potensial
komplikasi.

Mempertahankan

19
kesehatan umum,
meningkatkan
penyembuhan dan
dapat mencegah
kekambuhan.

Catatan perkembangan

Hari / Diagnosa Implementasi Evaluasi


tanggal
Keperawatan

12 Nyeri Dada 05 September 2017 , S :Klien mengeluh


februari nyeri pada saat
2017 Selasa , pukul 08.30
batuk
WIB.
O:Klien merigis
- Mengobservasi tanda
Klien gelisah
– tanda vital dengan
A :Masalah belum
hasil : teratasi

tekanan darah : 120 / 80 P :Kaji skala nyeri,


kol dg tim dokter
mmHg
I : Ceftriaxon 2x1
nadi : 85x / menit amp

pernafasan : 28x / menit Skala nyeri 4

suhu : 36,2 0 C. E : Masalah belum


teratasi
- Memposisikan pasien

20
dengan tepat dan

nyaman, memberikan

lingkungan yang tenang,

membatasi pengunjung,

menganjurkan pasien

beristirahat dengan

tenang.

- Menganjurkan pasien
untuk menarik nafas
secara perlahan,
memotivasi pasien
untuk sembuh kembali.

12 Ketidakefektifan -Menerima klien S : klien mengatakan


februari pola pernapasan sesak nafas
2017 -Memposisikan klien berkurang
semifoler
O : CM, cukup,
-Memberikan O2 sesak berkurang,
tambahan 3 liter/menit batuk (+), terpasang
-Mengukur pernafasan O2 3 lpm per nasal
Klien kanul, suara Mengi
berkurang, TD :
-Memberikan Nebulezer 170/90 mmHg, N :
(Ventolin + pulmicot) 90x/mnt, RR :28
x/mnt, infus RL 20
-Mengukur Pernafasan
tpm,Nebulezer
klien
masuk.
-Memberikan O2 3
A : Masalah
liter/menit
ketidakefektifan
-Memasang infus RL 20 jalan nafas teratasi

21
tpm sebagian

-Mengukur TTV P : Pertahankan


intervensi
-Evaluasi tindakan
-Monitor Respiratori
-Memindahkan klien ke & status O2
bangsal
-ajarkan batuk
efektif

-Kolaborasi dg
pemberian
Bronkodilator.

12 Kurang 1.Mengkaji tingkat S:


februari pengetahuan pengetahuan klien
2017 atau kebutuhan tentang penyakitnya. klien mengatakan
belajar memahami
2.Memberikan pendidikan
pendidikan kesehatan kesehatan yang
tentang penyakitnya. diberikan kepada
klien.
3.Memotivasi klien
untuk melakukan O :
anjuran dalam
pendidikan kesehatan. klien terlihat tidak
bingung lagi.
4.Memberikan
kesempatan untuk klien A :
bertanya tentang Masalah teratasi
penyakitnya.
P:

Hentikan Intervensi

22
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Hemothorax adalah suatu kondisi dimana adanya kumpulan darah di dalam
ruang antara dinding dada dan paru-paru (rongga pleura). Penyebab paling
umum dari hemothorax adalah trauma dadaaklibat trauma tumpul maupun
trauma benda tajam.
Kematian penderita Hemothorax dapat disebabkan karena banyaknya darah
yang hilang dan terjadinya kegagalan dalam bernapas. Kegagalan pernapasan
disebabkan karena adanya sejumlah besar darah dalam rongga pleura yang
menekan jaringan paru serta berkurangnya jaringan paru yang melakukan
ventilasi.

B. SARAN
Adapun Hemothorax adalah salah satu penyakit yang dapat mengancam nyawa
penderitanya, maka kami menyarankan untuk melakukan penanganan sesegera
mungkin.
dan lebih baiknya lagi jika para pembaca dapat menghindari penyebab dari
penyakit Hemothorax.

23
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J. (1997). Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.


Depkes. RI. (1989). Perawatan Pasien Yang Merupakan Kasus-Kasus Bedah.
Jakarta : Pusdiknakes.
Doegoes, L.M. (1999). Perencanaan Keperawatan dan Dokumentasian
keperawatan. Jakarta : EGC.
Hudak, C.M. (1999) Keperawatan Kritis. Jakarta : EGC.
Pusponegoro, A.D.(1995). Ilmu Bedah. Jakarta : Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
http://ardiartana.wordpress.com/2013/02/22/makalah-tentang-penyakit-
hemothorax/
http://id.scribd.com/doc/138718775/Hemothorax-33
file:///E:/hemotoraks/ASUHAN%20KEPERAWATAN%20PADA%20KLIEN
%20HEMOTHORAKS%20%20%20INFORMASI%20SEPUTAR%20KESEH
ATAN.htm

http://www.slideshare.net/mirapokeh/askep-e-salio

24