Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau
kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran
dan pelatihan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1999). Dari pengertian tersebut
maka pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga,
masyarakat dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau
latihan yang berlangsung di sekolah dan luar sekolah.
Kimia sebagai salah satu mata pelajaran wajib dalam kurikulum
pembelajaran di SMA merupakan ilmu yang kaya akan konsep yang bersifat
abstrak. Kimia bukanlah pelajaran yang baru bagi siswa, namun seringkali
dijumpai siswa-siswa yang menganggap materi kimia rumit dan sulit dipelajari,
sehingga siswa sudah terlebih dahulu merasa kurang mampu untuk
mempelajarinya. Hal ini mungkin disebabkan oleh penyajian materi yang rumit,
kurang menarik, monoton dan membosankan, dimana konsep dasar kimia
menjadi tidak menarik dan semakin sulit dipahami siswa. Untuk mengatasinya
diperlukan inovasi dalam penerapan model maupun metode pengajaran kimia,
karena keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh kemampuan guru dalam
mengelola proses belajar mengajar yang dalam hal ini dipengaruhi oleh
penerapan model maupun metode pengajaran yang tepat.
Koloid merupakan pokok bahasan kimia pada semester genap yang
menarik untuk dipelajari karena dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Namun,
pemahaman siswa pada pokok bahasan koloid ternyata masih rendah, hal ini
mungkin disebabkan karena guru di dalam menjelaskan pokok bahasan koloid
tersebut belum menggunakan strategi pengajaran yang tepat atau lebih cenderung
menggunakan metode ceramah, akibatnya hasil belajar siswa kurang memuaskan.
Dari beberapa hasil penelitian yang membahas tentang penggunaan model
pembelajaran problem based learning sebelumnya, antara lain penelitian yang
dilakukan oleh Anisa Kusumastuti.

1
Dimana penelitiannya menggunakan model pembelajaran problem based learning
yang didukung media animasi pada pokok bahasan pesawat sederhana diperoleh
peningkatan dalam hasil belajar siswa dengan rata-rata di akhir pembelajaran
adalah sebesar 75,29, (Kusumastuti,2013). Dengan menggunakan media yang
berbeda terdapat pula penelitian dengan model pembelajaran problem based
learning yakni penelitian yang dilakukan oleh Heni Purwaningsih yang
menggunakan media peta konsep untuk meningkatkan metakognisi siswa.
Dimana dari hasil analisis penelitiannya menunjukkan bahwa penggunaan peta
konsep pada model PBL mempengaruhi metakognisi siswa dan memberikan
kontribusi sebesar 47,8%.
Oleh karena karakteristik dari pokok bahasan koloid adalah banyak
menekankan pada hapalan, bersifat abstrak, dan tidak banyak hitungan, maka
dalam penelitian ini diusulkan untuk menggunakan model pembelajaran problem
based learning yang didukung media baik visual maupun audiovisual untuk dapat
meningkatkan hasil belajar siswa. Problem Based Learning (PBL), merupakan
salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar
aktif kepada siswa. PBL adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa
secara berkelompok untuk memecahkan suatu masalah secara bertahap sehingga
mendapat pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut serta
memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah. PBL menggunakan masalah
dunia nyata sebagai suatu konteks bagi peserta didik untuk belajar tentang cara
berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah serta memperoleh
pengetahuan dan konsep yang esensial dari pelajaran tersebut. PBL cocok untuk
diterapkan pada mata pelajaran atau bahasan lanjutan seperti sistem koloid,
karena pelajaran dilakukan dengan cara membangun penalaran siswa dari semua
pengetahuan yang sudah dimiliki dan yang diperoleh sebagai hasil kegiatan
berinteraksi dengan sesama individu.
Media merupakan alat penunjang bagi berbagai bentuk pendidikan dan
untuk menyampaikan informasi. Media pengajaran yang menarik dan mampu
mengaktifkan alat indera siswa, meningkatkan motivasi siswa dalam mengikuti
kegiatan pembelajaran, serta menghindari kejenuhan pada peserta didik.

2
Media visual adalah media yang hanya terdiri dari proses melihat saja.
Salah satu contoh media visual peta konsep. Peta konsep adalah suatu teknik
mengorganisasi atau menyusun informasi yang menujukkan keterkaitan antara
satu konsep lainnya. Keunggulan peta konsep sebagai media pembelajaran yaitu
merupakan suatu alat yang efektif untuk menghadirkan secara visual hirarki
generalisasi-generalisasi, untuk mengekspresikan keterkaitan proporsi dalam
sistem konsep-konsep yang saling berhubungan. Sedangkan media audiovisual
adalah media yang terdiri dari proses mendengarkan sekaligus dengan
pengelihatan karena ditampilkan pada layar. Keunggulan media audiovisual bila
dibandingkan dengan media lain adalah dapat membawa dunia nyata, menyajikan
gambar dan suara sekaligus sehingga proses pembelajaran lebih menarik, dapat
diputar ulang serta hemat dalam hal waktu, tenaga, dan biaya karena materi dapat
disajikan dalam bentuk CD yang juga mudah untuk diperbanyak.
Dari hasil wawancara dengan beberapa siswa diperoleh informasi bahwa
model pembelajaran problem based learning dengan menggunakan media masih
jarang digunakan dalam pembelajaran kimia di sekolah. Berdasarkan uraian di
atas, peneliti tertarik untuk meneliti pengaruh dan perbandingan hasil belajar
siswa pada pembelajaran sistem koloid dengan model pembelajaran problem
based learning yang didukung media peta konsep dan audiovisual di SMA.
Dari uraian di atas peneliti bermaksud melakukan penelitian dengan judul:
“Perbandingan Hasil Belajar Kimia Siswa SMA Dengan Menggunakan
Media Peta Konsep Dan Audiovisual Melalui Model Pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) Pada Materi Sistem Koloid.”

1.2. Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas yang telah dikemukakan, maka yang
menjadi ruang lingkup dalam penelitian ini antara lain:
1. Dalam proses belajar mengajar keaktifan siswa masih kurang karena
pusat pembelajaran masih terletak pada kegiatan guru.
2. Pembelajaran masih berpusat pada guru.

3
3. Dalam proses belajar mengajar media yang diterapkan kurang bervariasi
dan belum dilaksanakan secara maksimal dimana cara pengajaran
konvensional masih mendominasi dalam pembelajaran.
4. Guru kurang terampil dalam menggunakan media dalam pembelajaran
kimia.

1.3.Batasan Masalah
Dari identifikasi masalah penelitian yang telah dikemukakan di atas, maka
pembatasan masalah dititikberatkan pada:
1. Objek penelitian adalah siswa kelas XI semester Genap SMAN 5 Medan
Tahun Ajaran 2013/2014
2. Model pembelajaran yang digunakan adalah Problem Based Learning yang
didukung media Peta Konsep dan Audiovisual (Video)
3. Materi yang diberikan dibatasi pada pokok bahasan Sistem Koloid

1.4.Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas maka yang menjadi rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah: “Apakah hasil belajar siswa yang
menggunakan media Video melalui model pembelajaran PBL lebih tinggi secara
signifikan dibandingkan hasil belajar siswa yang menggunakan media Peta
Konsep pada pokok bahasan Sistem Koloid? “

1.5.Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah hasil belajar
siswa yang menggunakan media Video melalui model pembelajaran PBL lebih
tinggi secara signifikan dibandingkan hasil belajar yang menggunakan media
Peta Konsep pada pokok bahasan Sistem Koloid.

4
1.6.Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1. Bagi siswa, yaitu meningkatkan hasil belajar kimia siswa dan pemahaman
siswa terhadap konsep sistem koloid
2. Bagi guru dan calon guru, dapat digunakan sebagai informasi bagi guru
dan calon guru untuk meningkatkan hasil belajar kimia siswa dengan
menerapkan model pembelajaran problem based learning yang didukung
oleh media pada pokok bahasan sistem koloid.
3. Bagi Sekolah, dapat memberikan sumbangan untuk meningkatkan prestasi
belajar siswa di sekolah sehingga dapat memperbaiki kualitas
pembelajaran kimia di SMA Negeri 5 Medan.
4. Bagi Peneliti, menambah pengetahuan dan meningkatan kompetensinya
sebagai calon guru.
1.7. Defenisi Operasional
PBL adalah sebuah pembelajaran yang didasarkan pada prinsip bahwa
masalah (problem) dapat digunakan sebagai titik awal untuk mendapatkan atau
mengintegrasikan ilmu (knowledge) baru dalam memecahkan masalah, dimana
dalam penelitian ini masalah nya mencakup pokok bahasan koloid.
Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar yang
meliputi bidang KOgnitif, psikomotorik, dan afektif.
Audiovisual(video) adalah suatu media pembelajaran yang tidak hanya
terdiri dari proses melihat saja namun juga terdapat proses mendengar.
Sistem Koloid adalah salah satu pokok bahasan Kimia yang mengkaji
tentang suatu bentuk campuran yang keadaannya terletak antara larutan dan
suspensi.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kerangka Teoritis


2.1.1. Hakikat Belajar Mengajar dan Pembelajaran
Menurut Sudjana, (1989) bahwa “belajar dan mengajar merupakan dua
konsep yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain”. Dua konsep tersebut menjadi
terpadu dalam satu kegiatan. Belajar mengajar selaku suatu sistem instruksional
mengacu kepada pengertian sebagai seperangkat komponen yang saling
bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan interaksi guru dengan siswa
sebagai makna utama proses pengajaran memegang peranan penting untuk
mencapai tujuan pengajaran yang efektif.
Menurut sanjaya, (2008) :belajar pada hakekatnya adalah proses
perubahan tingkah laku yang melalui pengalaman.” Pengalaman itu dapat berupa
pengalaman langsung dan pengalaman tidak langsung. Pengalaman langsung
adalah pengalaman yang diperoleh melalui aktivitas sendiri dan pada situasi yang
sebenarnya, sedangkan pengalaman tidak langsung adalah pengalaman yang
diperoleh tanpa melakukan aktivitas sendiri maupun pada situasi yang
sebenarnya. Pengalaman tidak langsung dapat diperoleh dengan perantaraan
media, seperti alat peraga.
Mengajar berarti menyampaikan atau menularkan pengetahuan dan
pandangan dimana ada subjek yang memberi dan ada subjek yang menerima.
Djamarah dan Zain mengatakan bahwa “Mengajar adalah suatu proses, yaitu
proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar anak didik,
sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses
belajar” (Djamarah dan Zain, 1996). Dengan kata lain bahwa dalam mengajar ada
dua hal yang saling terlibat yaitu guru dan siswa, dimana guru memberikan
pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki kepada peserta didik. Dalam hal itu
baik murid maupun pengajar harus mengerti bahan yang akan dibicarakan.
Dengan kata lain dalam kegiatan mengajar itu harus terjadi suatu proses belajar.
Pembelajaran merupakan komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh
guru, sedangkan belajar dilakukan oleh siswa.

6
Pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun oleh guru untuk
mengembangkan kreatifitas berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan
berpikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi
pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap
materi pelajaran.
Dalam pembelajaran guru harus memahami hakekat materi pelajaran yang
diajarkannya sebagai suatu pelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan
berpikir siswa dan memahami berbagai model pembelajaran yang dapat
merangsang kemampuan siswa untuk belajar dengan perencanaan pengajaran
yang matang oleh guru. Setiap kegiatan belajar mengajar memiliki tujuan, yaitu
sasaran atau cita-cita yang hendak dicapai berupa pembentukan pengetahuan,
sikap dan ketrampilan siswa (Roestiyah, 1982).

2.1.2. Hasil Belajar


Proses belajar mencapai puncaknya pada hasil belajar. Hasil belajar
merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah menyelesaikan satu paket
pembelajaran tertentu. Hasil belajar siswa dapat diketahui setelah mengikuti
pelajaran. Berdasarkan hasil belajar tersebut didapat informasi tentang seberapa
besar penguasaan siswa terhadap materi yang telah diberikan, yang dapat ditulis
dalam bentuk angka atau nilai. Untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan
siswa terhadap materi yang telah diajarkan dapat dilihat dari hasil tes yang
diberikan kepada siswa setelah mendapat pengalaman.
Tolak ukur dari tinggi rendahnya mutu pendidikan dapat dilihat dari
tinggi rendahnya hasil belajar siswa. Kualitas proses hasil belajar mengajar dan
mutu hasil belajar adalah indikator keberhasilan pelaksanaan sistem kurikulum
pendidikan. Menurut Sudjana, Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan
yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Sedangkan,
Harahap memberi batasan bahwa prestasi adalah penilaian pendidikan tentang
perkembangan dan kemajuan siswa yang berkenaan dengan penguasaan bahan
pelajaran yang disajikan kepada mereka serta nilai-nilai yang terdapat dalam
kurikulum.

7
Jadi hasil belajar siswa untuk bidang studi kimia adalah gambaran
penguasaan siswa terhadap materi yang diberikan dalam bidang studi kimia.
Sehingga dari beberapa pengertian di atas, maka peneliti menyimpulkan bahwa
hasil belajar adalah hasil yang dicapai dari kegiatan belajar mengajar.

2.1.3. Model pembelajaran


Model pembelajaran adalah suatu pola perencanaan yang dapat digunakan
untuk menyampaikan materi pelajaran kepada siswa. Model pembelajaran
bertujuan menciptakan suatu pembelajaran yang efektif sehingga siswa dapat
mencapai hasil belajar yang optimal. Menurut Nasution, “Model pembelajaran
adalah suatu rencana atau pola pendekatan yang digunakan untuk mendesain
pengajaran dan mengandung strategi mengajar, yang digunakan untuk mencapai
tujuan belajar yang diinginkan”. Pada strategi mengajar terdapat strategi
insrtuksional, ketrampilan mengajukan pertanyaan, mengkomunikasikan
pengarahan, menstruktur jawaban siswa,dll. dalam strategi mengajar guru juga
menerapkan sejumlah strategi mengajar dan menerapkan berbagai teknik
mengajar atau insrtuksional, seperti bagaimana menata kelas, mengelompokkan
siswa, dan menerapkan berbagai macam pendekatan dalam penggunaan alat
pengajaran (Nasution, 1994).
Banyak model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan hasil
penelitian dan percobaan atas praktek-praktek pengajaran secara luas. Model
pembelajaran yang diperkenalkan saat ini paling tidak didasarkan atas tiga hal,
pertama atas pengalaman praktek, kedua didasarkan atas telaah teori-teori
tertentu dan ketiga atas hasil-hasil penelitian.

2.1.4. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based


Learning)
Dewasa ini, model pembelajaran ini mulai diangkat sebeb ditinjau secara
umum pembelajaran berbasis masalah terdiri dari menyajikan kepada siswa
situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan
kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri (Trianto, 2009).

8
Menurut Ratumanan dalam Trianto (2009), pengajaran berdasarkan
masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berpikir
tingkat tinggi. Pemebelajaran ini membantu siswa untuk memperoleh informasi
yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri
tentang dunia sosial dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk
mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks.
PBL adalah sebuah pembelajaran yang didasarkan pada prinsip bahwa
masalah (problem) dapat digunakan sebagai titik awal untuk mendapatkan atau
mengintegrasikan ilmu (knowledge) baru. Dengan demikian masalah yang ada
digunakan sebagai sarana agar siswa dapat belajar sesuatu yang dapat
menyokong keilmuannya (Suyatno,2008). Problem Based Leraning (PBL)
berfokus kepada identifikasi permasalahan serta penyusunan kerangka analisis
dan pemecahan. Metode ini dilakuakan dengan membentuk kelompok-kelompok
kecil, banyak kerja sama dan interaksi, mendiskusikan hal-hal yang tidak atau
kurang dipahami serta berbagi peran untuk melaksanakan tugas dan saling
melaporkan. Menurut Suradijono, PBL adalah metode belajar yang menggunakan
masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan
pengetahuan baru (Warmada,2004). Pembelajaran berbasis masalah (Problem
Based Learning) merupakan slah satu model pembelajaran inovatif yang dapat
memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa.
Pembelajaran berbasis masalah secara khusus melibatkan siswa bekerja
pada masalah dalam kelompok kecil yang terdiri dari lima orang dengan bantuan
asisten sebagai tutor/fasilitator. Masalah disiapkan sebagai konteks pembelajaran
baru. Analisis dan penyelesaian terhadap masalah itu menghasilkan problem
pengetahuan dan ketrampilan pemecahan masalah. Permasalahan dihadapkan
sebelum semua pengetahuan relevan diperoleh dan tidak hanya setelah membaca
teks atau mendengar ceramah tentang materi subjek yang melatarbelakangi
masalah tersebut. Hal inilah yang membedakan antara PBL dengan metode yang
berorientasi masalah lainnya (Pasek,2008).

9
Tutor berfungsi sebagai pelatih kelompok yang menyediakan bantuan
agar interaksi siswa menjadi produktif dan membantu siswa mengidentifikasi
pengetahuan yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah. Hasil dari proses
pemecahan masalah itu adalah siswa membangun pertanyaan-pertanyaan (isu
pembelajaran) tentang jenis pengetahuan apa yang diperlukan untuk
menyelesaikan masalah. Setelah itu, siswa melakukan penelitian pada isu-isu
pembelajaran yang telah diidentifikasi dengan menggunakan berbagai sumber.
Untuk ini siswa disediakan waktu yang cukup untuk belajar mandiri. Proses PBL
akan menjadi lengkap bila siswa melaporkan hasil penelitiannya (apa yang
dipelajari) pada pertemuan berikutnya. Tujuan pertama dari paparan ini adalah
untuk menunjukan hubungan antara pengetahuan baru yang diperoleh dengan
masalah yang ada di tangan siswa. Fokus yang kedua adalah untuk bergerak pada
tahap pemahaman yang lebih umum, membuat kemungkinan transfer
pengetahuan baru. Setelah melengkapi siklus pemecahan masalah ini, siswa akan
memulai menganalisis masalah baru, kemudian diikuti lagi oleh prosedur
analisis-penelitian-laporan.
Menurut Barrows and Tamblyn: terdapat beberapa karakteristik PBL
(Warmada,2004) diantaranya yaitu :
1. Kompleks, dalam mengorganisaikan fokus pembelajaran tidak ada satu
jawaban yang “benar” seperti keadaan nyata dalam kehidupan.
2. Siswa bekerja dalam kelompok-kelompok dalam memecahkan masalah,
mengidentifikasi kesenjangan dalam pembelajaran, dan mengembangkan
pemecahan yang mungkin.
3. Siswa mengumpulkan informasi baru melalui pembelajaran yang
diarahkannya sendiri (self-directed learning)
4. Guru hanya sebagai fasilitator
5. Permasalahan diserahkan untuk mengembangkan kemampuan pemecahan
masalah dalam profesinya.
Problem Based Learning dirancang dengan beberapa sasaran yang penting untuk
membatu para siswa dalam hal:
1. Membangun satu basis pengetahuan yang fleksibel dan luas

10
2. Mengembangkan strategi pemecahan masalah yang efektif
3. Mengembangkan, mengarahkan pembelajaran yang bermakna
4. Mengefektifkan kolaborasi
5. Memunculkan motivasi intrinsik untuk belajar

2.1.5. Langkah-Langkah Dalam Problem Based Learning (PBL)


Dalam pelaksanaan PBL sebagai salah satu model pembelajaran yang
diterapkan pada proses pembelajaran, ada beberapa langkah-langkah yang harus
dilaksanakan yaitu :
1. Konsep Dasar (Basic Concept)
Jika dipandang perlu, fasilitator dapat memberikan konsep dasar,
petunjuk,referensi, atau link dan skill yang diperlukan dalam pembelajaran
tersebut. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih cepat masuk dalam atmosfer
pembelajaran mendapatkan peta yang akurat tentang arah dan tujuan
pembelajaran. Lebih jauh, hal ini diperlukan untuk memastikan siswa
mendapatkan kunci utama materi pelajaran sehingga tidak ada kemungkinan
terlewatkan oleh siswa seperti yang bisa jika siswa mempelajari secara mandiri.
Konsep yang diberikan tidak perlu detail, diutamakan dalam bentuk garis besar
saja sehingga sisw adapat mengembangkan secara mandiri dan mendalam.
2. Pendefenisian Masalah (defening the problem)
Langkah kedua dari metode lima langkah Pbl adalah pendefinisian
masalah. Dalam langkah ini fasilitator menyampaikan skenario atau
permasalahan dalam kelompoknya, siswa melakukan berbagai kegiatan. Pertama
brainstorming. Brainstorming ini dilaksanakan dengan cara semua anggota
kelompok mengungkapkan ide, tanggapan, terhadap skenario secara bebas
sehingga dimungkinkan muncul berbagai macam alternatif pendapat. Setiap
anggota kelompok memiliki hak sama dalam memberikan dan menyampaikan ide
dalam diskusi serta mendokumentasikan secara tertulis pendapat masing-masing
dalam kertas kerja.

11
Selain itu, setiap kelompok harus mencari istilah yang kurang dikenal
dalam skenario tersebut dan berusaha mendiskusikan maksud dan artinya.
Jika ada siswa yang mengetahui artunya, segera menjelaskan kepada teman-
teman yang lain. Jika ada yang belum dapat dipecahkan dalam kelompok
tersebut, ditulis dalam permasalahan kelompok. Selanjutnya jika ada yang belum
dapat dipecahkan dalam kelompok tersebut, ditulis sebagai isu dalam
permasalahan kelompok.
Kedua, melakukan seleksi alternatif untuk memilih pendapat yang lebih
fokus. Ketiga menentukan permasalahan dan melakukan pembagian tugas dalam
kelompok untuk mencari referensi penyelesaian dari isu permasalahan yang
didapat. Fasilitator memvalidasi pilihan-pilihan yang dipilih siswa. Jika tujuan
yang diinginkan oleh fasilitator disinggung oleh siswa, fasilitator mengusulkan
dengan memberikan alasannya.
Pada akhir langkah ini siswa diharapkan memiliki gambaran yang jelas
tentang apa saja yang mereka ketahui, apa saja yang mereka tidak ketahui dan
pengetahuan apa saja yang diperlukan untuk menjembataninya. Untuk
memastikan setiap siswa mengikuti langkah ini maka pendefinisian masalah
dilakukan dengan mengikuti petunjuk.
3. Pembelajaran Mandiri (Self Learning)
Setelah mengetahui tugasnya masing-masing siswa mencari berbagai
sumber yang dapat memperjelas isu yang sedang diinvestigasi. Sumber yang
dimaksud bisa dalam bentuk artikel tertulis yang tersimpan di perpustakaan,
halaman web, atau bahkan pakar dalam bidang relevan. Tahap investigasi
memiliki tujuan utama yaitu:
1. Agar siswa mencari informasi dan mengembangkan pemahaman yang
relevan dengan permasalahan yang telah didiskusikan di kelas,
2. Informasi yang dikumpulkan dengan satu tujuan yaitu dipresentasikan
di kelas dan informasi tersebut haruslah relevan dan dpat dipahami.
Di luar pertemuan dengan fasilitator, siswa bebas untuk mengadakan pertemuan
dan melakukan berbagai kegiatan.

12
Dalam pertemuan tersebut siswa akan saling bertukar informasi yang telah
dikumpulkannya dan pengetahuan telah mereka bangun.
Siswa juga harus mengorganisasi informasi yang didiskusikan sehingga anggota
kelompok lain dapat memahami relevansi terhadap permasalahan yang dihadapi.
Proses pelaksanaan pembelajaran mandiri dapat dimulai seleksi alternatif
dan pembagian tugas sudah dilakukan. Setiap siswa melakukan pendalaman
materi sesuai dengan tugas dalam kelompok masing-masing. Pendalaman materi
dapat dilakukan melalui referensi atau percobaan.
4. Pertukaran Pengetahuan (excange Knowledge)
Setelah mendapat sumber untuk keperluan pendalaman materi dalam
langkah pembelajaran mandiri, selanjutnya pada pertemuan berikutnya siswa
berdiskusi dalam kelompoknya untuk mengklarifikasi hasil pencapaiannya dan
merumuskan solusi dari permasalahan kelompok. Pertukaran pengetahuan ini
dapat dilakukan dengan cara siswa berkumpul sesuai kelompok dan
fasilitatornya.
5. Penilaian (assessment)
Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan
(knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian terhadap
penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang
dilakuakan dengan ujian akhir semester, ujian tengah semester, kuis, PR,
dokumen, da laporan. Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan
alat bantu pembelajaran baik software, hardware, maupun kemampuan
perancangan dan pengujian. Sedangkan penilaian terhadap sikap dititikberatkan
pada penguasaan soft skill yaitu keaktifan dan partisipasi dalam diskusi,
kemampuan bekerjasama dalam tim, dan kehadiran.
Menurut Arends, terdapat lima phase dalam sintaks model pembelajaran
berbasis masalah (Problem Based Learning), yaitu dimulai dengan guru
memperkenalkan siswa dengan situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian
dan analisis hasil kerja siswa, lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:

13
Tabel 2.1 Sintaks Pembelajaran Berbasis Masalah
Phase Kegiatan
Phase Orientasi siswa kepada Guru menjelaskan tujuan
1 masalah pembelajaran, menjelaskan logistik
yang dibutuhkan, memotivasi siswa
terlibat pada aktivitas pemecahan
masalah.
Phase Mengorganisasikan Guru membantu siswa
2 siswa untuk belajar mendefinisikan dan
mengorganisasikan tugas belajar yang
berhubungan dengan masalah
tersebut.
Phase Membimbing Guru mendorong siswa untuk
3 penyelidikan individu mengumpulkan informasi yang
maupun kelompok sesuai, melaksanakan eksperimen,
untuk mendapatkan penjelasan dan
pemecahan masalah
Phase Menghubungkan dan Guru membantu siswa dalam
4 menyajikan hasil karya merencanakan dan menyiapkan karya
yang sesuai seperti laporan, model
dan membantu mereka untuk berbagi
tugas dengan temannya.
Phase Menganalisis dan Guru membantu siswa untuk
5 mengevaluasi proses melakukan refleksi atau evaluasi
pemecahan masalah terhadap penyelidikan mereka dan
proses-proses yang mereka gunakan.

2.1.6. Persiapan Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Masalah


Sebelum melaksanakan proses belajar dengan metode PBL perlu
dilakukan persiapan yang intensif.

14
Dalam pembelajaran dengan metode PBL ada tiga komponen yang
bekerja yaitu:
1. Institusi (sekolah)
2. Guru
3. Siswa
Ketiga komponen ini bekerja sesuai pesan atau tugas masing-masing
untuk mendapatkan capaian pelajaran dalam pokok bahasan dengan PBL secara
optimal.
1. Institusi
Institusi dalam hal ini adalah sekolah atau satuan pendidikan.
Institusi ini akan mendukung pelaksanaan pembelajaran PBL antara lain dengan
cara:
 Mempersiapkan sarana pendukung proses belajar mengajar, termasuk
ruang kelas, perpustakaan dan alat-alat laboratorium
 Mencatat kehadiran siswa dalam proses belajar mengajar sehingga
informasinya dapat digunakan dalam evaluasi pelaksanaan proses
belajar mengajar
 Mempersiapkan guru/fasilitaor pengganti apabila guru yang ditunjuk
berhalangan hadir.
2. Guru
Dalam pembelajaran berbasis masalah peran guru adalah sebagai
fasilitaor proses belajar mengajar dan membangun komunitas pembelajaran.
Peran guru dalam proses belajar mengajar:
 Mempersiapkan skenario pembelajaran yang akan dibahas pada tiap
sesi disesuaikan dengan cakupan materi pada tiap-tiap pokok
bahasan.
 Mempersiapkan materi pada setiap pokok bahasan dan memberikan
beberapa sumber referensi lain.
 Sebagai fasilitator.
Guru mendorong para siswa untuk mengeksplorasi pengetahuan yang
telah mereka miliki dan menentukan pengetahuan yang diperlukan selanjutnya.

15
Guru umumnya diharapkan untuk menahan diri tidak memberikan informasi,
sebaliknya mendorong dilakukannya diskusi dan pembelajaran antar siswa.
Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah:
 Melakukan klarifikasi, misalnya terhadap perspektif yang muncul
dalam diskusi.
 Mendorong pemikiran yang divergen, misalnya adakah kemungkinan
solusi yang lain.
 Meletakkan permasalahan yang divergen, misalnya adakah isu yang
dibahas mengingatkan guru ada berbagai informasi yang telah
teridentifikasi sebelumnya.
 Membuat urutan prioritas, misalnya apakah berbagai informasi yang
telah teridentifikasi dapat diurutkan sesuai relevansinya terhadap
permasalahan.
 Memoderasi diskusi, misalnya apakah ada kemajuan dalam diskusi,
kalau tidak identifikasi apa saja yang salah dan mengembalikan
diskusi pada tujuan semula.
 Sebagai evaluator
Walaupun peran guru tidak lagi dominan dalam dalam pelaksanaan proses
belajar mengajar dengan PBL, namun guru tetap bertanggung jawab penuh
terhadap keberhasilan pelaksanaan dan pencapaian tujuan pembelajaran. Untuk
itu secara berkelanjutan guru perlu mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran dan
melakukan perbaikan jika segera diperlukan.

3. Siswa
Peran siswa secara umum dalam proses belajar mengajar ber-PBL adalah:
 Siswa mempersiapkan diri untuk belajar dan bekerja secara
kelompok.
 Berperan aktif dalam proses belajar mengajar.
 Mengikuti dan menghadiri keseluruhan kegiatan proses belajar
mengajar.

16
 Menyelesaikan masalah.
 Melakukan diskusi dalam kelompoknya.
Adapun keuntungan pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai
berikut :
1. Cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
2. Menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk
menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
3. Meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
4. Membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk
memahami masalah dalam kehidupan nyata.
5. Membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan
bertanggungjawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.
6. Lebih menyenangkan dan disukai siswa serta mengembangkan minat
untuk belajar.
7. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan untuk
menyesuaikan pengetahuan baru.
8. Memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan
pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
(Sanjaya, 2007)

2.1.7. Media Pengajaran Dalam Proses Belajar Mengajar


Pada hakekatnya proses belajar mengajar adalah proses komunikasi yang
harus diciptakan melalui kegiatan penyampaian dan tukar menukar pesan melalui
informasi oleh setiap tanaga pengajar dan peserta didik. Pesan atau informasi
dapat berupa pengetahuan keahlian (skill), ide, pengalaman, dan
sebagainya.Untuk memperlancar proses komunikasi digunakan sarana yang
membantu komunikasi yang disebut sebagai media.
Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari
medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Jadi media adalah
perantara atau pengantar pesan dari pengirim atau penerima pesan
(Sardiman,dkk, 2003:10).

17
Sedangkan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan atau
isi pelajaran, perangsang pikiran, perasaan, perhatian, minat, dan kemampuan
siswa sehingga dapat mendorong proses belajar mengajar disebut sebagai media
pengajaran (Ibrahim dan Syaodih, 2003:10).
Menurut Harjanto, “Dalam metodologi pengajaran ada dua aspek yang
paling penting menonjol yakni metode mengajar dan media pendidikan sebagai
alat bantu mengajar” (Harjanto, 2008). Dari uraian diatas dapat disimpulkan
bahwa kedudukan media dan metode sebagai alat bantu mengajar adalah sangat
penting guna mewujudkan lingkungan belajar yang diharapkan.

Klasifikasi Media Pengajaran


Menurut Ibrahim dan Syaodih (2003:115) media pengajaran dapat
digolongkan dalam tiga kelompok yaitu:
1. Media cetak, seperti buku, majalah, panplet, dan modul.
2. Media elektronik, yang lazim dipilih dan digunakan dalam
pengajaran yaitu: perangkat slide, film bingkai, film strip,
rekaman, OHP, video tape.
3. Realita (objek nyata atau benda sesungguhnya).
Menurut Leshin, pollck dan Reigeluth, media diklasifikasikan ke dalam 5
kelompok yaitu :
1. Media berbasis manusia, seperti: guru, instruktur, tutor, main peran,
kegiatan kelompok.
2. Media berbasis cetak, seperti: buku penuntun, buku latihan, dan lain-lain
3. Media berbasis visual, seperti: buku, alat bantu kerja, chart, grafik, peta,
gambar, transparansi.
4. Media berbasis audiovisual, seperti: video, film, program slide tape,
televisi.
5. Media berbasis komputer, seperti: pengajaran dengan bantuan
komputer.(Arsyad,2000)

18
Kegunaan Media Pengajaran
Kegunaan media pengajaran secara umum menurut Sadiman,dkk, adalah
sebagai berikut:
1. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalitas (dalam
bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka)
2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indra, seperti:
a. Objek yang terlalu besar bisa digantikan dengan gambar, film
bingkai atau model.
b. Objek yang terlalu kecil dibantu dengan proyektor mikro, film dan
gambar.
3. Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat
mengatasi sikap pasif anak didik. Dalam hal ini media pendidikan
berguna untuk:
a. Menimbulkan kegairahan belajar
b. Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik
dengan lingkungan kenyataan
c. Memungkinkan anak didik belajar sendiri menurut kemampuan
dan minatnya
4. Dengan sifat yang unik pada tiap diri siswa ditambah lagi dengan
lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum dan
materi pendidikan ditentukan sama untuk siswa, maka guru akan banyak
mengalami kesulitan bilamana semua diatasi sendiri. Masalah ini dapat
diatasi dengan media pendidikan, yaitu dengan kemampuan dalam:
a. Memberikan perangsangan yang sama
b. Mempersamakan pengalaman
c. Menimbulkan persepsi yang sama.

19
Kriteria Pemilihan Media
Arsyad (200:72) menjelaskan bahwa criteria pemilihan media bersumber
dari konsep bahwa media merupakan bagian dari sistem instruksional secara
keseluruhan.
Untuk itu ada beberapa kriteria yang patut diperhatikan dalam memilih media
antara lain adalah:
1. Sesuai dengan tujuan yang dicapai.
2. Tepat untuk mendukung peljaran yang sifatnya fakta, konsep,
prinsip, atau generalisasi.
3. Praktis, luwes, dan bertahap.
4. Guru terampil menggunakannya.

2.1.7.1. Media Peta Konsep


Penggunaan media peta konsep di didalam pendidikan sudah dilakukan
sejak tahun 1997, yaitu dalam pelajaran biologi, dan sejak itu media peta konsep
berkembang dan telah digunakan dalam setiap pembelajaran sains. Media peta
konsep pada dasarnya adalah suatu teknik mengorganisasi atau menyusun
informasi yang menujukkan keterkaitan antara satu konsep lainnya.
Menurut Rusmansyah, istilah peta konsep pertama kali diperkenalkan
oleh Novak dan Gowin pada tahun 1985 dan merupakan suatu alat yang efektif
untuk menghadirkan secara visual hirarki generalisasi-generalisasi, untuk
mengekspresikan keterkaitan proporsi dalam sistem konsep-konsep yang saling
berhubungan. Novak dan Gowin mengklaim bahwa pemetaan konsep akan
membantu para siswa membangun kebermaknaan konsep-konsep dan prinsip-
prinsip yang baru dan lebih kuat pada suatu bidang study. Berdasarkan alasan
inilah peta konsep selalu dipakai dan digunakan dalam berbagai bidang studi
untuk mempelajari suatu pokok bahasan, termasuk pada bidang studi kimia.
Pada kenyataannya, penyusun peta konsep melalui hubungan antara
konsep-konsep dalam bentuk proporsi, dapat menolong guru mengetahui konsep
apa yang dimiliki dan tingkat penguasaan siswa terhadap konsep tersebut,
sehingga memberikan semangat belajar yang tinggipada siswa.

20
Penyusunan ini dilakukan secara hirarki mulai dari konsep-konsep yang semakin
khusus (Fajaroh,dkk, 2001:60). Selain sebagai alat bantu mengajar, peta konsep
dapat juga dijadikan sebagai alat evaluasi untuk mengetahui pemahaman siswa
tentang materi pelajaran sebelum dan sesudah diajarkan. Hal ini dilakukan
dengan cara menugasi siswa membuat sendiri peta konsep tersebut.
Adapun ciri-ciri dari peta konsep ini berdasarkan pendapat Dahar
(1989:125-126) adalah :
1. Peta konsep ialah suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep
dan proposisi-proposisi suatu bidang studi, apakah itu fisika, kimia,
biologi, matematika, dll.
2. Peta konsep merupakan suatu gambaran dua dimensi dari suatu
bidang tertentu atau bagian dari bidang studi.
3. Konsep yang paling inklusif terdapat pada puncak peta, lalu menurun
hingga konsep-konsep yang lebih khusus dan contoh-contoh.
4. Bila dua atau lebih konsep digambarkan dibawah suatu konsep yang
lebih inklusif terbentuklah hirarki dalam peta konsep.

Manfaat Peta Konsep


Manfaat peta konsep menurut Novak (dalam Dahar, 1989:129) sebagai
berikut :
1) Mengetahui konsep-konsep yang telah dikuasai siswa.
2) Mempelajari cara belajar siswa.
3) Mengungkapkan konsepsi siswa, kesalahan konsep yang dilakukan siswa
dapat dideteksi dengan menelusuri peta konsep yang dibuat siswa.
4) Sebagai alat evaluasi siswa setelah mempelajari suatu materi pelajaran.
Menurut Fajaroh, dkk (2001:62) walaupun peta konsep sangat penting
dalam pengajaran, khususnya kimia, tetapi dalam penerapannya masih dirasakan
adanya kesulitan-kesulitan yang patut menjadi perhatian dan memerlukan usaha
keras untuk mengatasinya. Kesulitan-kesulitan tersebut antara lain :
1. Masih adanya masalah bagaimana menggunakan cara ini secara efektif.

21
2. Masih ada kesulitan untuk meyakinkan siswa agar menerima strategi
penggunaan media ini.
3. Peta konsep yang kompleks malah kadang membingungkan siswa.
4. Mengevaluasi dengan peta konsep membutuhkan waktu yang relative
lama
.
2.1.7.2. Media Audiovisual
Pengertian audiovisual berasal dari kata “audible” artinya didengar dan
“visible” yang berarti dapat dilihat. Jadi, media audiovisual adalah media yang
terdiri dari proses pendengaran/ mendengarkan sekaligus dengan penglihatan.
Media audiovisual dapat menyampaikan informasi dengan cara yang lebih
konkrit atau lebih nyata daripada yang disampaikan melalui kata-kata.
Ketika kita melihat sesuatu yang kita butuhkan, kita akan tertarik dan
akan timbul suatu dorongan untuk mengetahui lebih banyak, dorongan ini adalah
dasar bagi pemindahan suatu ide yang ada dalam pikiran itu untuk dapat
menghasilkan ide-ide yang lebih cemerlang. Media audiovisual memberi
motivasi serta membangkitkan keinginan untuk mengetahui dan menyelidiki,
yang akhirnya menjurus kepada pengertian lebih baik.
Video
Video adalah media yang menyampaikan pesan-pesan pembelajaran
secara audiovisual yang menampilkan gerak bersama-sama dengan suara.
Menurut Arsyad, sebagai media pendidikan, video mempunyai kelebihan-
kelebihan sebagai berikut:
1. Video dapat menyajikan berbagai jenis bahan audiovisual termasuk
gambar-gambar, film, objek, dan drama
2. Video bisa menyajikan model dan contoh-contoh yang baik bagi siswa
3. Dapat membawa dunia nyata kerumah dan kelas-kelas, seperti orang,
tempat-tempat dan peristiwa-peristiwa, melalui penyiaran langsung atau
rekaman.
4. Video dapat menyajikan program-program yang dapat dipahami oleh
siswa dengan usia dan tingkatan pendidikan yang berbeda-beda

22
5. Video dapat menyajikan visual dan suara yang amat sulit diperoleh pada
dunia nyata misalnya ekspresi wajah
6. Video dapat menghemat waktu, guru, dan siswa, misalnya dengan
merekam siaran pelajaran yang disajikan dapat diputar ulang jika
diperlukan tanpa harus melakukan proses itu lagi.
Beberapa kelemahan/ keterbatasan media video, antara lain adalah :
1. Sifat komunikasi hanya satu arah
2. Program diluar kontrol guru
3. Tidak semua siswa mampu mengikuti informasi yang ingin disampaikan,
karena gambar-gambar bergerak terus.
4. Objek tidak ditampilkan secara langsung, melainkan hanya melalui layar.
(Sadiman,dkk.1984).

2.1.8. Sistem Koloid


2.1.8.1. Pengertian Koloid
Sistem koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaannya terletak
antara larutan dan suspensi. Sistem koloid terdiri atas fase terdispersi dengan
ukuran tertentu dalam medium pendispersi.
Zat yang didispersikan disebut fase terdispersi, sedangkan medium yang
digunakan untuk mendispersikan disebut medium pendispersi.
Beberapa perbedaan antara larutan sejati, sistem koloid dan suspensi dapat dilihat
pada tabel dibawah ini.
Tabel 2.2. Perbedaan antara Larutan, Koloid, dan Suspensi
Aspek yang Sistem dispersi
dibedakan Larutan sejati Koloid Suspensi
Bentuk campuran Homogen Homogen Heterogen
Bentuk dispersi Dispersi molekul Dispersi padatan Dispersi padatan
Penulisan X(aq) X(s) X(s)
Fasa Tetap homogen Heterogen Heterogen
Penyaringan Tidak dapat Tidak dapat Dapat disaring

23
disaring dengan disaring dengan dengan kertas
kertas saring kertas saring saring biasa
maupun saringan biasa, tapi dapat
permeable disaring dengan
saringan
permeable
Pemeriksaan Tidak dapat Dapat diamati Dapat diamati
diamati dengan dengan dengan
microscope biasa, microscope ultra microscope biasa
tapi teramati
dengan
microscope
elektron
Ukuran partikel < 1nm 1nm-100nm >100nm
(Sumber : www.geocities.com/davinpratama/lapkim/koloid.doc)

2.1.8.2.Jenis-jenis Koloid
Penggolongan sistem koloid didasarkan pada jenis fase pendispersi
(pelarut) dan medium terdispersi (terlarut), antara lain, yaitu:
1. Aerosol
Sistem koloid dari partikel padat atau cair yang terdispersi dalam gas
disebut aerosol.
Jika zat yang terdispersi berupa zat padat disebut aerosol padat. Contoh aerosol
padat : debu buangan knalpot. Sedangkan zat yang terdispersi berupa zat cair
disebut aerosol cair. Contoh aerosol cair: hairspray dan obat semprot. Untuk
menghasilkan aerosol diperlukan suatu bahan pendorong (propelan aerosol).
Contoh propelan aerosol yang banyak digunakan yaitu CFC dan CO2.
2. Sol
Sistem koloid dari partikel padat yang terdispersi dalam zat cair disebut
sol. Contoh sol : putih telur, air lumpur, tinta, cat, dan lain-lain. Sistem koloid

24
dari partikel padat yang terdispersi dalam zat padat disebut sol padat. Contoh sol
padat : perunggu, kuningan, permata.

3. Emulsi
Sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat cair lain disebut
emulsi. Sedangkan sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat padat
disebut emulsi padat dan sistem koloid dari zat cair terdispersi dalam gas disebut
emulsi gas. Syarat terjadinya emulsi yaitu kedua zat cair tidak saling melarutkan.
Emulsi digolongkan kedalam dua bagian yaitu emulsi minyak dalam air
dan emulsi emulsi air dalam minyak. Contoh emulsi minyak dalam air: santan,
susu, lateks. Contoh emulsi air dalam minyak : mayonaise, minyak ikan, minyak
bumi. Contoh emulsi padat: jelly, mutiara Emulsi terbentuk karena pengaruh
suatu pengemulsi (emulgator). Misalnya sabun dicampurkan kedalam campuran
minyak dan air, maka akan diperoleh campuran stabil yang disebut emulsi

4. Buih
Sistem koloid dari gas yang terdispersi dalam zat cair disebut buih,
sedangkan sistem koloid dari gas yang terdispersi dalam zat padat disebut buih
padat.

5. Gel
Sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat padat dan bersifat
setengah kaku disebut gel. Gel dapat terbentuk dari suatu sol yang zat
terdispersinya mengadsorbsi medium dispersinya sehingga terjadi koloid yang
agak padat. Contoh gel : agar-agar, semir sepatu, mutiara, mentega.
Campuran gas dengan gas tidak membentuk sistem koloid tetapi suatu larutan
sebab semua gas bercampur baik secara homogen dalam segala perbandingan.

25
Tabel 2.3. Klasifikasi Sistem Dispersi Koloid
No Fase Medium Nama Contoh
Terdispersi Pendispersi Koloid
1. Gas Cair Busa/buih Buih sabun, krim kocok
2. Gas Padat Busa padat Batu apung, karet busa
3. Cair Gas Aerosol Awan, kabut
4. Cair Cair Emulsi Susu, santan
5. Cair Padat Emulsi padat Keju, mentega,mutiara
6. Padat Gas Aerosol Asap, debu
padat
7. Padat Cair Sol Cat, kanji, tinta
8. Padat padat Sol padat Kaca berwarna, paduan
logam
(Sumber : www.geocities.com/davinpratama/lapkim/koloid.doc)

2.1.8.3.Sifat-Sifat Koloid
Efek tyndall
Efek tyndall adalah gejala penghamburan berkas sinar (cahaya) oleh
partikel-partikel koloid. Hal ini disebabkan karena ukuran molekul koloid yang
cukup besar. Efek tyndall ini ditemukan oleh john Tyndall (1820-1893). Efek
tyndall adalah efek yang terjadi jika suatu larutan terkena sinar. Pada saat larutan
sejati disinari dengan cahaya, maka larutan tersebut tidak akan menghambat
cahaya, sedangkan pada sistem koloid, cahaya akan dihamburkan. Hal itu terjadi
karena partikel-partikel koloid mempunyai partikel-partikel relatif besar untuk
dapat menghamburkan sinar tersebut. Sebaliknya, pada larutan sejati, partikel-
partikel relatif kecil sehingga hamburan yang terjadi hanya sedikit dan sangat
sulit diamati.
Elektroforesis
Partikel koloid dapat bergerak dalam medan listrik. Hal ini menunjukkan
bahwa partikel koloid memiliki muatan. Pergerakkan partikel koloid dalam
medan listrik ini disebut elektroforesis.

26
Apabila kedalam sistem koloid dimasukkan dua batang elektroda kemudian
dihubungkan dengan sumber arus searah, maka partikel koloid akan bergerak ke
salah satu elektroda bergantung pada jenis muatanya.

Gerak Brown
Gerak brown ialah gerakan partikel-partikel koloid yang senantiasa
bergerak lurus tapi tidak menentu (gerak acak tidak beraturan). Jika kita amati
koloid dibawah mikroskop ultra, maka kita akan melihat bahwa partikel-partikel
tersebut akan bergerak membentuk zigzag. Pergerakan zigzag ini dinamakan
gerak brown. Gerakan ini terjadi karena benturan molekul-molekul zat
pendispersi pada partikel-partikel koloid.

Adsorbsi
Adsorbsi adalah peristiwa penyerapan partikel atau ion atau senyawa lain
pada permukaan partikel koloid yang disebabkan oleh luasnya permukaan
partikel. Beberapa partikel koloid mempunyai sifat adsorbsi terhadap partikel
atau ion senyawa lain. Penyerapan terhadap ion positif atau ion negatif dari
partikel koloid menyebabkan koloid bermuatan. Partikel koloid mempunyai
permukaan yang relatif luas, sehingga koloid juga mempunyai daya adsorbsi
yang besar. Dalam kehidupan sehari-hari sifat adsorbsi partikel digunakan untuk
pemutihan gula pasir, menjernihkan air,dll.

Koagulasi Koloid
Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid dan membentuk endapan.
Dengan terjadinya koagulasi, berarti zat terdispersi tidak lagi membentuk koloid.
Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan, pendinginan dan
pengadukan atau secara kimia seperti penambahan elektrolit, pencampuran koloid
yang berbeda muatan.

27
Koloid Pelindung
Koloid pelindung adalah koloid yang mempunyai sifat dapat melindungi
koloid lain dari proses koagulasi.

Dialisis
Dialisis adalah pemisahan koloid dari ion-ion penggangu. Pemisahan
tersebut dilakukan dengan cara menggantikan cairan yang tercampur dengan
koloid melalui membran semipermeable yang berfungsi sebagai penyaring.
Memberan semipermeable ini dapat dilewati cairan tetapi tidak dapat dilewati
koloid, sehingga koloid dan cairan akan berpisah.

Koloid Liofil dan Koloid Liofob


Koloid ini terjadi pada sol. Sol liofil adalah koloid yang fase
terdispersinya suka (dapat mengikat) pada cairan (fase pendispersinya). Sol
liofob adalah koloid yang fase terdispersinya tidak suka pada cairan (fase
pendispersinya) pada koloid liofil pengikatan medium pendispersinya disebabkan
oleh gaya tarik menarik (berupa gaya elektrostatik) pada setiap ujung gugus
molekul terdispersi. Sol liofob/hidrofob mudah terkoagulasi dengan sedikit
penambahan elektrolit, tetapi menjadi lebih stabil jika ditambahkan koloid
pelindung yaitu koloid liofil.
Berikut ini penjelasan yang lebih lengkap mengenai koloid liofil dan liofob :
 Koloid liofil (suka cairan) adalah koloid dimana terdapat gaya tarik-
menarik yang cukup besar antara fase terdispersi dan medium pendispersi.
Contoh: dispersi kanji, sabun, deterjen
 Koloid liofob (tidak suka cairan) adalah koloid dimana gaya tarik-menarik
yang lemah atau bahkan tidak ada sama sekali antar fase terdispersi dan
medium pendispersinya. Contoh : dispersi emas, belerang dalam air.

28
Tabel 2.4. Perbedaan Antara Koloid Liofil dan Koloid Liofob
Sifat-sifat Koloid liofil Koloid liofob
Pembuatan Dapat dibuat langsung Tidak dapat dibuat
dengan mencampurkan langsung dengan
fase terdispersi dengan mencampurkan fase
medium terdispersinya terdispersi dengan
medium terdispersinya
Muatan partikel Mempunyai muatan yang Mempunyai muatan
kecil atau tidak positif atau negatif
bermuatan
Adsorpsi medium Partikel-partikel sol liofil Partikel-partikel sol
pendispersi mengadsorbsi medium liofob tidak
pendispersinya. Terdapat mengadsorbsi medium
proses solvasi/hidrasi, pendispersinya. Muatan
yaitu terbentuknya partikel diperoleh dari
lapisan medium adsorbsi partikel-partikel
pendispersi yang ion yang bermuatan
teradsorbsi di sekeliling listrik
partikel sehingga
menyebabkan partikel sol
liofil tidak saling
bergabung
Viskositas (kekentalan) Viskositas sol liofil > Viskositas sol liofob
viskositas medium hampir sama dengan
pendispersi viskositas medium
pendispersi
Penggumpalan Tidak mudah Mudah menggumpal
menggumpal dengan dengan penambahan
penambahan elektrolit elektrolit karena
mempunyai muatan

29
Sifat reversibel Reversibel, artinya fase Irreversibel artinya sol
terdispersi sol liofil dapat liofob telah menggumpal
dipisahkan tidak dapat diubah
menjadi sol
Efek tyndall Memberikan efek tyndall Memberikan efek tyndall
yang lemah yang jelas
Migrasi dalam medan Dapat bermigrasi ke Akan bergerak ke anode
listrik anode, katode, atau tidak atau katode, tergantung
sama sekali jenis muatan partikel.
(Sumber : www.sistemkoloid.tripod.com)

2.1.8.4.Pembuatan Koloid
Ukuran partikel koloid berada di antara partikel larutan dan suspensi,
karena itu cara pembuatannya dapat dilakukan dengan memperbesar partikel
larutan atau memperkecil partikel suspensi. Terdapat dua metode dasar dalam
pembuatan sistem koloid sol, yaitu :
 Metode kondensasi
Merupakan metode bergabungnya partikel-partikel kecil larutan sejati
yang membentuk partikel-partikel berukuran koloid
 Metode dispersi
merupakan metode dipecahnya partikel-partikel besar sehingga menjadi
partikel-partikel berukuran koloid
Metode kondensasi
Metode dimana partikel-partikel kecil larutan sejati bergabung membentuk
partikel-partikel berukuran koloid. Pembuatan koloid sol dengan metode ini pada
umumnya dilakukan dengan cara kimia.
a. Dekomposisi Rangkap
Misalnya :
 Sol As2S3 dibuat dengan gaya mengalirkan H2S dengan perlahan-
lahan melalui larutan As2O3 dingin sampai terbentuk sol As2S3 yang
berwarna kuning terang:

30
As2O3(aq) + 3H2S As2S3(koloid) + 3H2O(l)
(Koloid As2S3 bermuatan negatif karena permukaanya menyerap ion
S2-)
 Sol AgCl dibuat dengan mencampurkan larutan AgNO3 encer dan
larutan HCl encer:
AgNO3(aq) + HCl(aq) AgCl(koloid) + HNO3(aq)
b. Reaksi Hidrolisis
Hidrolisis adalah reaksi suatu zat dengan air.
Misalnya :
 Sol Fe(OH)3 dapat dibuat dengan hidrolisis larutan FeCl3 dengan
memanaskan larutan FeCl3 atau reaksi hidrolisis garam Fe dalam air
mendidih:
FeCl3(aq) + 3H2O(l) Fe(OH)3(koloid) + 3HCl(aq)
 Sol Al(OH)3 dapat diperoleh dari reaksi hidrolisis garam Al dalam
air mendidih:
AlCl3(aq) + 3H2O(l) Al(OH)3(koloid) + 3HCl(aq)
c. Reaksi Oksidasi Reduksi (Redoks)
Misalnya :
 Sol emas atau sol Au dapat dibuat dengan mereduksi larutan
garamnya dengan melarutkan AuCl3 dalam pereduksi organic
formaldehida HCOH :
2AuCl3(aq) + HCOH(aq) + 3H2O(l) 2Au(s)+ HCOOH(aq)
+ 6HCl(aq)
 Sol belerang dapat dibuat dengan mereduksi SO2 yang terlarut
dalam air dengan mengalirinya H2S :
2 H2S(g) + SO2(aq) 3S(g) + 2H2O(l)

Metode Dispersi
Metode ini melibatkan pemecahan partikel-partikel kasar menjadi berukuran
koloid yang kemudian akan didispersikan dalam medium pendispersinya. Ada 3
cara dalam metode ini, yaitu :

31
 Cara mekanik (penggerusan)
Cara mekanik adalah penghalusan partikel-partikel kasar zat padat
dengan proses penggilingan untuk dapat membentuk partikel-partikel
berukuran koloid
 Cara busur bredig
Cara ini khusus untuk membuat sol logam dengan cara dispersi. Dua
kawat logam yang berfungsi sebagai elektroda dicelupkan ke dalam air,
kemudian diberi loncatan listrik, sebagian logam akan mendebu ke dalam
air dalam bentuk partikel koloid.
 Cara pemecahan
Partikel endapan dipecah dan dihaluskan menjadi partikel koloid dengan
menambahkan suatu elektrosit yang mengandung ion sejenis. Contoh sol
Fe(OH)3 dapat dibuat dengan menambahkan FeCl3.

2.2. Kerangka Konseptual


Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku pada diri seseorang
sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya.
Perubahan yang terjadi itu adalah hasil belajar atau akibat yang timbul setelah
adanya proses belajar.
Untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal yaitu sesuai dengan yang
diharapkan maka perlu dilakukan inovasi dalam pembelajaran. Inovasi
pembelajaran yang dilakukan dalam hal ini adalah dengan menerapkan model
pembelajaran Problem Based Learning yang didukung penggunaan media.
Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan model
pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan suatu masalah melalui
tahap-tahap yang berhubungan dengan masalah tersebut dan memiliki
ketrampilan untuk memecahkan masalah. Aspek penting dalam PBL adalah
bahwa pembelajaran dimulai dengan permasalahan dan permasalahan tersebut
akan menentukan arah pembelajaran. Dalam penelitian ini pelaksanaan
pemebelajaran ini didukung oleh media peta konsep dan audiovisual (video).

32
Dengan penggunaan media tersebut akan memberikan pengalaman konkret dan
menambah gairah dan motivasi siswa untuk belajar. Dengan pembelajaran PBL
yang didukung oleh media peta konsep ataupun audiovisual diharapkan dapat
membantu meningkatkan hasil belajar siswa, karena model pembelajaran ini
berakar dari masalah ini siswa dirangsang untuk mempelajari masalah
berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang mereka punya sebelumnya (Prior
Knowledge). Dari prior knowledge ini akan terbentuk pengetahuan dan
pengalaman baru. Dan hal ini akan memberikan keadaan belajar aktif kepada
siswa. Apalagi pelaksanaan PBL ini didukung oleh media yang dapat menambah
gairah dan motivasi siswa untuk belajar.
Dengan demikian model pembelajaran PBL diharapkan dapat
meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada pokok bahasan sistem koloid.
Penerapan model pembelajaran yang didukung penggunaan media maupun
metode pembelajaran yang tepat oleh guru akan dapat menjadikan kegiatan
pembelajaran semakin menarik sehingga anak didik akan termotivasi untuk
belajar.
Untuk itu dalam penelitian ini akan dilihat hasil belajar siswa yang diajar
dengan model pembelajaran Problem Based Learning yang didukung media peta
konsep dan audiovisual (video) pada pokok bahasan sistem koloid di kelas XI
SMA Negeri 5 Medan.

2.3. Hipotesis Penelitian


2.3.1. Hipotesis Verbal
Ho : Hasil belajar siswa yang menggunakan media Video melalui model
pembelajaran PBL tidak lebih tinggi sama dengan secara signifikan
dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang menggunakan media
Peta Konsep pada pokok bahasan Sistem Koloid.
Ha : Hasil belajar siswa yang menggunakan media Video melalui model
pembelajaran PBL lebih tinggi secara signifikan dibandingkan
dengan hasil belajar siswa yang menggunakan media Peta Konsep
pada pokok bahasan Sistem Koloid.

33
2.3.2. Hipotesis Statistik
Ho : 1 ≤ 2
Ha : 1 > 2
Keterangan :
1 : Rata-rata hasil belajar kimia siswa setelah diberikan pengajaran
dengan model pembelajaran problem based learning yang
didukung media audiovisual(video).
2 : Rata-rata hasil belajar kimia siswa setelah diberikan pengajaran
dengan model pembelajaran problem based learning yang
didukung media peta konsep.

34
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 5 Medan dan akan dilaksanakan
pada bulan April-Mei 2014

3.2. Populasi dan Sampel


a) Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPA yang
terdiri dari 8 kelas paralel dengan jumlah rata-rata siswa 40 siswa
sehingga jumlah keseluruhan siswa adalah 320 orang.
b) Sampel
Sampel diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling,
dimana peneliti dengan sengaja menentukan atau menunjuk anggota
sampel berdasarkan pengetahuannya dalam populasi. Hal ini dikarenakan
guru yang mengajar sama, waktu pengajaran yang tidak terlalu berjauhan
dan bahan ajar yang sama, sehingga kemungkinan kemampuan siswa
relative sama dan materi pelajaran yang sudah dipelajari adalah sama.
Sampel yang diambil sebanyak satu kelas sebagai kelas kontrol yang
diberi pengajaran melalui model pembelajaran PBL dengan media Peta
Konsep dan satu kelas lainnya diberi media Audiovisual(video).

3.3.Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah :
a) Variabel bebas : Pembelajaran dengan model pembelajaran problem
based learning yang didukung media peta konsep
dan media audiovisual pada pokok bahasan
Koloid.
b) Variabel terikat : Hasil belajar kimia siswa

35
3.4.Instrumen Penelitian
Instrument pada penelitian ini berupa test kognitif pada awal dan akhir
pembelajaran, untuk kedua kelas eksperimen dengan pokok bahasan yang sama.
Jumlah soal sebelum divalidasi sebanyak 40 soal pilihan berganda. Test ini
berbentuk pilihan berganda yang mempunyai 5 option (a,b,c,d,e), dimana
jawaban soal yang benar diberi score 1 dan jawaban yang salah diberi score 0.
3.4.1. Validitas instrumen
Untuk menguji validitas tes yang digunakan
N  XY  ( X )( Y )
rxy 

{N  X 2  ( X ) 2 } N  Y 2   Y 
2

Keterangan : rxy = Koefisien validitas tes
N = Jumlah seluruh siswa
X = Skor item
Y = Skor total item
Dengan kriteria pengujian :
Jika r hitung > rtabel pada α=0,05 maka dapat dikatakan soal tersebut valid. Untuk
mengadakan interpretasi mengenai besarnya korelasi adalah sebagai berikut :
Antara 0,800 sampai dengan 1,000 : Validitas sangat tinggi
Antara 0,600 sampai dengan 0,790 : Validitas tinggi
Antara 0,400 sampai dengan 0,590 : Validitas cukup
Antara 0,200 sampai dengan 0,590 : Validitas rendah
Lebih rendah dari 0,200 : Validitas sangat rendah

3.4.2. Realibilitas Tes


Untuk menguji realibilitas tes digunakan rumus Kuder dan

K  Vt   PQ 
Richardson (KR-20) : r11   
 K  1  Vt 

Keterangan : r11 = Koefisien realibilitas instrumen
K = Jumlah butir instrumen
Vt = Varians Total

36
P = Proporsi subjek yang menjawab benar
Q = Proposi subjek yang menjawab salah
Q = 1-P
Dengan kriteria pengujian :
Jika rhitung>rtabel untuk α =0,05, maka tes tersebut dinyatakan reliabel.
Untuk menafsirkan arti dari suatu koefisien realibilitas, dapat digunakan acuan:
Antara 0,00 sampai dengan 0,40 : Realibilitas rendah
Antara 0,41 sampai dengan 0,70 : Realibilitas sedang
Antara 0,71 sampai dengan 0,90 : Realibilitas tinggi
Antara 0,91 sampai dengan 1,00 : Realibilitas sangat tinggi

3.4.3. Tingkat Kesukaran Soal


Untuk menghitung tingkat kesukaran soal digunakan rumus :
Tingkat Kesukaran Soal =

Keterangan :
Sh = jumlah skor benar dari kelompok tinggi
S1 = jumlah skor benar dari kelompok rendah
Skormaks = skor maksimal suatu butir soal
Skormin = skor minimal suatu butir soal
N = jumlah subjek kelompok tinggi atau rendah

Dengan kriteria pengujian jika : P = 0-0,2 : soal sukar ( tidak memenuhi syarat )
P = 0,3-0,7: soal sedang(memenuhi syarat)
P = 0,8-1 : soal mudah (memenuhi syarat)

3.4.4. Daya Pembeda Soal


Untuk menghitung daya pembeda soal digunakan rumus :

Daya Beda =

37
Keterangan :

Sh = jumlah skor benar dari kelompok tinggi


S1 = jumlah skor benar dari kelompok rendah
Skormaks = skor maksimal suatu butir soal
Skormin = skor minimal suatu butir soal
N = jumlah subjek kelompok tinggi atau rendah

Dengan kriteria : D = 0-0,2 : buruk


D = 0,2-0,4 : cukup
D = 0,4-0,7 : baik
D = 0,7-1 : baik sekali

3.5. Desain Penelitian


Pada penelitian ini menggunakan rancangan Pretest-posttest Control
Group Design dimana dalam rancangan ini dilakukan pengukuran variable terikat
di awal penelitian. Hasil penelitian ini digunakan untuk memilih sampel yang
relative homogen sekaligus untuk mengukur perubahan nilai/hasil pengamatan
setelah penelitian selesai.
Setelah proses belajar mengajar selesai, kelas eksperimen kemudian diberi
tes akhir untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa setelah menggunakan
model pembelajaran problem based learning yang didukung media peta konsep
dan audiovisual. Kemudian dilakukan uji statistik dengan yang sesuai dan yang
terakhir yaitu mengambil kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan.
Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 3.1 Rancangan Penelitian
Kelompok Tes awal Perlakuan Tes Akhir
Eksperimen T1 X1 T2
Kontrol T1 X2 T2

38
Keterangan : T1 : Pemberian tes awal
T2 : Pemberian tes akhir
X1 :Perlakuan yang diberikan pada kelompok ekperimen 1
X2 : Perlakuan yang diberikan pada kelompok eksperien 2

3.6. Teknik Pengumpulan Data


Untuk melaksanakan penelitian, dapat dilakukan tahap-tahap kegiatan
pembelajaran dikelas dengan menggunakan model pembelajaran problem based
learning, yaitu sebagai berikut :
1. Tahap persiapan
a) Menyusun jadwal penelitian disesuaikan dengan pendekatan
yang ada disekolah
b) Menyusun rencana pembelajaran dengan model pembelajaran
problem based learning yang didukung media audiovisual.
c) Menentukan sampel sebanyak satu kelas sebagai kelas
eksperimen 1 dan satu kelas sebagai kelas eksperimen 2,
kemudian sebelum melakukan proses belajar mengajar
dilakukan pretest untuk mengetahui kemampuan awal siswa.
d) Membagi siswa dalam beberapa kelompok kecil.
2. Tahap Pelaksanaan
a. Melaksanakan model pembelajaran problem based learning
yang didukung media peta konsep dan audiovisual.
b. Memberikan posttest pada akhir proses belajar mengajar untuk
mengukur hasil belajar siswa kelas eksperimen 1 dan 2 setelah
diberikan perlakuan.
3. Tahap Pengolahan Data
a. Tahapan Pengolahan Data, tahap pengolahan data ini untuk
melihat apakah ada pengaruh hasil belajar setelah diberi
perlakuan.
4. Membuat Kesimpulan Akhir

39
Gambar 3.1 Skema Alur Penelitian

40
3.7. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini data yang diperoleh adalah dari kelas eksperimen
dan kelas kontrol setelah data dari kelas ini diperoleh, maka langkah-langkah
yang dilakukan adalah sebagai berikut :

3.7.1. Menghitung Rata-rata

X 
X
N Y

Y
Y
N Y

Keterangan : X = Rata-rata hitung kelas eksperimen


Y = Rata-rata hitung kelas kontrol
Simpangan Baku

n X 2  ( X ) 2
S
n(n  1)

3.7.2. Uji Normalitas


Uji normalitas data dimaksudkan untuk mengetahui apakah data-data
yang akan diolah memiliki distribusi normal atau tidak. Hal ini penting untuk
menentukan jenis statistik yang akan digunakan, jika data tersebut berdistribusi
tidak normal, maka digunakan statistik non-parametrik. Di lain pihak jika data
tersebut berdistribusi normal digunakan statistik parametrik dan dilanjutkan
dengan regresi linier.
Langkah-langkah :
 Menentukan banyaknya kelas interval dengan menggunakan
aturan Sturges dengan rumus : k = 1 + 3,3 log n
 Menentukan rentang antarinterval, dengan rumus :

Keterangan : R = skor maksimum –skor minimum

41
 Membuat tabel distribusi frekuensi yang berisikan : kelas
interval, titik tengah kelas interval (Yi), frekuensi (fi), fi.Yi, Yi-
Y, (Yi-Y)2.
 Menghitung nilai rata-rata
 Menghitung simpangan baku (S) dengan rumus :

 Membuat tabel distribusi harga-harga yang diperlukan dalam uji


chi kuadrat (x2),
Dengan kriteria pengujian :
a. Jika Lo < L maka sampel berdistribusi normal
b. Jika Lo > L maka sampel tidak berdistribusi normal.

3.7.3. Uji Homogenitas


Uji homogenitas ini bertujuan untuk mengetahui apakah data
mempunyai varians yang homogen atau tidak.
S terbesar
F
S terkecil
Kriteria pengujian adalah jika Fhitung < Ftabel, maka Ho diterima
(homogen) pada taraf signifikan α = 0,05.

3.7.4. Uji Linearitas


Bertujuan untuk mengetahui apakah kedua variabel mempunyai
hubungan, baik hubungan kausal maupun fungsional, atau tidak.
Untuk mengujinya digunakan analisis regresi untuk memutuskan apakah
naik dan turunnya satu variabel dapat dilakukan melalui cara menaikkan atau
menurunkan keadaan variabel yang lain.

42
Untuk meningkatkan keadaan suatu variabel dapat dilakukan dengan
meningkatkan variabel yang lain atau dan sebaliknya.
Rumus :
Ŷ = a+bX
Keterangan :
Ŷ= subyek dalam variabel yang diprediksikan
a= harga Y bila X = 0
b= angka arah atau koefisien regresi, yang menunjukkan angka
peningkatan atau penurunan suatu variabel yang didasarkan pada
variabel yang lain. Bila b (+) maka naik, dan bila (-) maka terjadi
penurunan.
X= subyek pada suatu variabel yang mempunyai nilai tertentu.

3.7.5. Uji Hipotesis


Hipotesis diuji dengan uji t pihak kanan dengan rumus yang dikutip
dari Silitonga (2011), sebagai berikut :
x1  x 2
t
1 1
S 
n1 n2

(n1  1) S 22  (n2  1) S 22
Dengan S 
2

n1  n2  2
Keterangan : X1 = Rata-rata pada kelas eksperimen I
X2= Rata-rata pada kelas kontrol
n1 = Jumlah siswa kelas eksperimen I
n2 =Jumlah siswa kelas kontrol
S12= Varians kelas eksperimen I
S22= Varians kelas kontrol
Yang dapat dilihat dari kriteria pengujian dibawah ini sebagai berikut :

- Terima Ho jika thitung < t(1-1/2á)(n1+n2-2) /t tabel dan tolak Ha


- Tolak Ho jika thitung > t(1-1/2á)(n1+n2-2) /t tabel dan terima Ha

43
DAFTAR PUSTAKA
Aisyah, Wianti, dkk, (2008), Pembelajaran Melalui Metode PBL (Problem Based
Learning) Dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan,
http://www.multiply.com/. (diakses 6 Februari 2014)

Arsyad, A, (2000), Media Pengajaran, Penerbit PT. Raja Grafindo Persada,


Jakarta.

Arikunto, S, (2003), Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Penerbit Bumi Aksara,


Jakarta.

Djamarah, S.B dan Zain, A, (1996), Strategi Belajar Mengajar, Edisi Baru
Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.

Djamarah, S.B, (2000), Psikologi Belajar, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.

Kusumastuti, Anisa, (2013), Pengaruh Model PBL (Problem Based Learning)


Menggunakan Media Gambar Bergerak (Animasi) Terhadap Hasil
Belajar IPA Materi Pesawat Sederhana Siswa Kelas VIII SMPN 2
Bobotsari Purbalingga, Skripsi, FPMIPA IKIP PGRI Semarang.

Nasution,N, (1994), Materi Pokok Psikologi Pendidikan Modul 1-6, Universitas


Terbuka, Jakarta.

Pasek, I.N, (2008), Pembelajaran Berbasis Masalah, http://sarwadipa.com/


(diakses tanggal 13 Februari 2014)

Purwaningsih, Heni, (2011), Pengaruh Penggunaan Peta Konsep Pada Model


Pembelajaran Problem Based Learning Terhadap Metakognisi Siswa,
Skripsi, FMIPA UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

44
Sadiman, A.S, Rahardjo.R., Haryan, A, dan Rahardjo, (1984), Media Pendidikan,
Penerbit PT. Raja Grafindo, Jakarta.

Sanjaya, W, (2007), Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses


Pendidikan, Penerbit Kencana Prenada Media Group, Jakarta.

Sanjaya, W, (2008), Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, Penerbit


Kencana Prenada Media Group, Jakarta.

Silitonga, Pasar Maulim, (2011), Statistik Teori dan Aplikasi dalam Penelitian,
FMIPA UNIMED, Medan.

Sudarman, Problem Based Learning Suatu Model Pembelajaran Untuk


Mengembangkan Dan Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah,
http://papyrus.te.ugm.ac.id/files/docs/. (diakses 13 Februari 2014)

Sudjana, N, (1989), Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Penerbit Sinar Baru,


Bandung.

Suhari, Ahmad, (2010), Pengaruh Penerapan E-learning Berbasis Weblog dalam


Model Pembelajaran Problem Based Learning Terhadap Peningkatan
Hasil Belajar Kimia Siswa Pada Pokok Bahasan Sistem Koloid, Skripsi,
FMIPA UNIMED.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, (1999),


Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua Cetakan Kesepuluh,
Penerbit Balai Pustaka, Jakarta.

Warmada, I,W., (2003), Problem Based Learning Berbasis Teknologi Informasi,


http://www.te.ugm.ac.id/seminarpbl/ (diakses 13 februari 2014)

www.geocities.com/davinpratama/lapkim/koloid.doc (diakses 14 februari 2014)

45