Anda di halaman 1dari 39

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tujuan Pembangunan Kesehatan adalah untuk


meningkatkan kesadaran, kemauan kemampuan hidup sehat bagi
setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber
daya yang produktif sosial dan ekonomi ( kemenkes 2014)
Salah Satu Aspek Terpenting dalam peningkatkan derajat
kesehatan adalah dengan mengedepankan upaya kesehatan ibu
dan anak sebagai upaya dalam mempersiapan generasi yang akan
datang menjadi generasi yang sehat baik secara fisik mental dan
spritual agar terwujud generasi yang berkualitas di masa yang akan
datang. Salah satu persiapan tersebut antara lain adalah di
perlukannya kehamilan yang sehat, persalinan yang sehat, serta
upaya promotif prepentif kepada keluarga yang akan mendukung
kondisi kehamilan dan proses retproduksi yang sehat
Upaya tersebut dapat dilakukan dengan pemeriksaan
kehamilan secara teratur yang dilakukan disarana kesehatan.
Pelayanan Antenatal care adalah pelayanan kesehatan yang
diberikan pada ibu hamil selama kehamilannya sesuai dengan
standar pelayanan yang di tetapkan. Status antenatal care seorang
ibu hamil tergantung tingkat pendidikan formal dan pengetahuan
ibu tentang kesehatan. Ibu yang pengetahuannya tinggi diharapkan
sering melakukan kunjungan antenatal. Sedangkan yang
pengetahuannya kurang, mereka akan lebih jarang melakukan
kunjungan antenatal. Hasil kegiatan antenatal dapat dilihat
berdasarkan cakupan pelayanan K4, maka dengan demikian

1
2

diperlikan upaya kesehtan dalam hal ini bidan untuk memberika


pengetahuan, pemahaman, serta penyadaran kepda ibu hamil dan
keluarga akan pentingnya antenatal care selama kehamilan.
sedangkan wanita dan keluarga yang pengetahuannya kurang
belum siap menggunakan fasilitas kesehatan yang semakin maju,
karena fasilitas kesehatan asing bagi mereka. Dan mereka akan
saling mempengaruhi ibu hamil yang lain untuk tidak melakukan
pemeriksaan kehamilan walaupun fasilitas tersebut tersedia.
Akibatnya, penyampaian komunikasi informasi edukasi pada ibu
hamil untuk melakukan pemeriksaan kehamilan tidak tersampaikan.
Yang pada umumnya masih terbelenggu dengan tradisi dan
pengalaman saat hamil sebelumnya. Hal ini menyebabkan status
ANC mereka tidak lengkap, akibatnya cakupan K4 tidak tercapai.
Antenatal care adalah upaya berkala yang dilakukan
terhadap kehamilan seorang ibu pada tiap trimester kahamilan
yang dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk mengetahui dan
mendeteksi perkembangan kehamilan dan sedini mungkin
mendeteksi adanyan faktor resiko kehamilan sehingga dapat sedini
mungkin mencari alternatif solusi dalam proses persalinan.
Antenatal care diperlukan pada setiap ibu hamil dalam upaya
mencegah dan mengantisipasi kemungkinan yang tidak diharapkan
dalam proses kehamilan sehinggi menuju proses persalinan yang
sehat dan aman.
Penyadaran akan pentingnya antenatal care diperlulan
pengetahuan dan pemahaman dari ibu hamil itu sendiri yang
memerlukan dukungan keluarga, oleh karena itu upaya promotif
dan prepentif antenatal care yang dilakukan oleh tenaga kesehatan
perlu melibatkan keluarga sebagai pengambil keputusan.
3

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas rumusan masalahnya
adalah bagaimana upaya penyadaran ibu hamil dalam melakukan
kunjungan K4 ibu hamil di Desa Sindangsari tahun 2015.

C. Tujuan penulisan
1. Tujuan Umum
Sejauh mana upaya penyadaran ibu hamil dalam melakukan
kunjungan K4 ibu hamil di Desa Sindangsari tahun 2015.
2. Tujuan Khusus
a. memaparkan data-data serta memvalidasi data yang
berkaitan dengan sasaran target dan pencapain antenatal
care desa sindangsari
b. menyusun rencana kegiatan yang akan dilakukan dalam
upaya promotif akan pentingnya antenatal care desa
sindangsari
c. menjelaskan tentang upaya-upaya yang dilakukan oleh
tenaga kesehatan dalam upaya promotif mengenai antenatal
care desa sindangsari.
d. memberikan gambaran hasil kegiatan upaya promosi
kesehatan mengenai antenatal care desa sindangsari
4

3. Manfaat penulisan
a. manfaat praktis
memberikan manfaat bagi tenaga kesehatan khususnya
penulis sebai acuan dalam praktek penyuluhan kesehatan
masyarakat yang berkaitan dengan anyenatal care.
b. manfaat teoritis
memberikan gambaran kepada penulis dan nakes lainnya
mengenai konsep teori antenatal care dan upaya promosi
kesehetan mengenai pentingnya kesehatan antenatal care
55

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian kehamilan
Kehamilan secara umum adalah suatu keadaan
dimanaseorang wanita mengandung hasil konsepsi (individu lain) di
dalam tubuhnya yang akan tumbuhdan berkembang menjadi sosok
manusia baru sampai tiba waktunya untuk melahirkan dengan
lamanya kehamilannormal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan
7 hari) di hitung dari hari pertama haid terakhir (HPHT).
B. Patofisiologi Kehamilan
Hal hal yang terjadi pada kehamilan adalah :
1). Perdarahan sedikit atau spotting
Kondisi ini terjadi 11 hari setelah konsepsi. Perdarahan atau
spotting terjadi karena corpus luteum tidak memproduksi cukup
progesteron untuk menghentikan menstruasi, sehingga keluar
sedikit darah haid. Hal ini dapat terjadi satu atau dua kali. Ada
pula yang terus berlangsung selama kehamilan, meskipun
jarang terjadi.
2). Mual dan Muntah (morning sickness)
Mual dan muntah adalah masalah umum selama kehamilan,
biasanya terjadi pada pagi hari. Dimulai sekitar 8 minggu dan
terakhir sampai 12 minggu. Gejala ini muncul karena
perubahan saluran cerna dan peningkatan kadar estrogen dan
kadar HCG dalam darah. Pada trimester II mual dan muntah
akan hilang dengan sendirinya. Apabila mual dan muntah
terlalu sering dan banyak maka disebut hiperemesis
gravidarum. Banyak ibu hamil yang merasa mual juga merasa
keletihan, tetapi tidak semua ibu hamil yang merasakan hal
6

denikian. Hal ini dapat diatasi dengan menganjurkan wanita


hamil untuk menyelingi makanan pereda mual. Kegiatan
rutinnya sehari-hari dengan istirahat dan meminta bantuan dari
keluarga atau teman.
3). Sering kencing
Terjadi pada 12 minggu pertama kehamilan. Ibu hamil akan
mengalami sering buang air kecil baik siang atau malam. Hal ini
karena rahim membesar menekan kandung kemih atau adanya
perubahan hormonal. Pada trimester III timbul lagi karena
kepala janin mulai turun ke bawah PAP, sehingga kandung
kencing tertekan kembali.
4). Chloasma gravidarum
Berupa bintik-bintik hitam atau bercak hiperpigmentasi
kecoklatan pada kulit di daerah tonjolan maksila dan dahi.
Chloasma dialami 50-70% wanita hamil, di mulai minggu ke -16
dan meningkat secara bertahap sampai bayi lahir. Hal ini
disebabkan karena pengaruh hormon MSH (Melanophore
Stimulating Hormone) yang dikeluarkan juga didorong olehsinar
matahari yang mengenai kulit.
5). Obstipasi
Disebabkan karena reaksi otot halus di usus besar dengan
adanya jumlah progesteron yang meningkat reabsorbsi air di
usus besar meningkat. Progesteron dan penekanan terhadap
perut oleh gerak kineja yang menurun dalam saliran
pencernaan. Selain itu obtsipasi juga disebabkan oleh
hipoperistaltik (perlambatan usus). Pilihan makan yang tidak
lazim, kurang cairan, disertai abdomen akibat kehamilan dan
pergeseran usus akibat kompresi.
7

C. Perubahan fisik selama kehamilan


1. Perubahan sistim reproduksi
a. Uterus
Rahim yang semula besarnya sejempol atau beratnya 30 gram
akan mengalami hipertrofi dan hiper plasia, sehingga menjadi
seberat 1.000 gram saat akhir kehamilan. Dinding lebih tipis
dinding korpus uteri 1.5 cm/kurang). Perubahan isthmus uteri
menjadi lebih panjang dan lunak.
b. Servik
Perubahan warna dan konsistensi
c. Vagina dan Vulva
Organ vagina dan vulva mengalami peningkatan sirkulasi darah
karena pengaruh estrogen, sehingga merah dan kebiru biruan.
d. Ovarium
Ovulasi tidak terjadi. Terjadinya indung telur yang mengandung
korpus luteum gravidarumakan meneruskan fungsinya sampai
terbentuknya plasenta yang semprna pada usia 16 minggu.
e. Payudara
Nyeri, payudara bertambah besar karena hipertrofi alveoli
mamae, hiperpigmentasi areola.
2. Perubahan sistim sirkulasi
a. Denyut nadi meningkat saat istirahat sekitar 10-15x/menit.
b. Apeks jantung berpindah sedikit ke lateral.
c. Bising sistolik pada saat aspirasi.
d. Kardiac output meningkat sekitar 30% tampak pada kehamilan
16 minggu.
e. Sel darah merah makin meningkat jumlahnya agar
mengimbangi pertumbuhan janin dalam rahim tetapi
pertambahan sel darah tidak seimbang dengan peningkatan
8

volume darah sehingga terjadi hemodilusi yang disertai anemi


fisiologis.
3. Perubahan sistim respirasi
a. Tidal volum meningkat pergerakan diafragma lebih besar akibat
dari dorongan rahim, ibu hamil akan bernafas lebih dalam
sekitar 20%-25% dari biasanya.
b. Penurunan PCO2 darah (Alkalosis respiratorik). Pada ibu hamil
akan terlihat nafas cepat, cepat lelah akibat dari kerja jantung
dan paru-paru lebih berat.
4. Perubahan sistim gastrointestinal
Selama periode kehamilan kebutuhan nutrisi makin tinggi untuk
pertumbuhan janin dan persiapan memberikan ASI. Perubahan
metabolisme pada kehamilan antara lain:
a. Metabolisme basal naik sebesar 15% - 20% dari semula
terutama trimester ke III.
b. Keseimbangan asam basa mengalami penurunan dari 155
mEq/liter menjadi 145 mEq/liter karena hemodilusi darah dan
kebutuhsn mineral yang diperlukan janin.
c. Kebutuhan protein meningkat untuk pertumbuhan dan
perkembangan janin, perkembangan organ kehamilan serta
persiapan laktasi.
d. Kebutuhan kalori dan zat mineral meningkat, maka berat bada
ibu hamil meningkat.
5. Perubahan sistim renal
a. GFR (Glomerulus Filtrasi Rate) dan aliran plasma ginjal
meningkat.
b. Konsentrasi kreatinin dan urea plasma menurun.
c. Glukosuria sehingga GFR turun dapat menimbulkan infeksi.
Pengaruh desakan hamil muda atau pembesaran rahimseiring
9

bertambahnya usia kehamilan menekan kandung kemih dan


turunnya kepala bayi pada hamil tua akan menyebabkan
gangguan miksi dalam bentuk sering berkemih.
6. Perubahan Integumen
a. Striae gravidarum
b. Distensi rekti
c. Pigmentasi berupa linea nigra
d. Cloasma gravidarum karna peningkatan hormon estrogen dan
progesteron. Setelah persalinan hiperpigmentasi ini akan
menghilang.
7. Perubahan metabolik
a. Perubahan berat badan 11 kg
b. Peningkatan retensi air

D. Perubahan-perubahan psikologis selama kehamilan


1. Trimester I
Trimester pertama sering dianggap sebagai periode
penyesuaian terhadap kenyataan bahwa ia sedang mengandung.
Sebagian wanita merasa sedih dan ambivalen tentang kenyataan
bahwa ia hamil.
Perasaan ambivalen ini biasanya berakhir denagn sendirinya
seiring ia bisa menerima kehamilannya. Sementara itu, beberapa
ketidaknyamanan pada trimester pertama, seperti mual,
kelemahan, perubahan nafsu makan, kepekaan emosional,
semua ini dapat mencerminkan konflik dan depresiyang ia alami
dan pada saat bersamaan hal-hal tersebut menjadi pengingat
tentang kehamilannya.
10

Trimester pertama sering menjadi waktu yang menyenagkan


untuk melihat apakah kehamilan akan dapat berkembang
dengan baik. Berat badan sangat bermakna bagi wanita hamil
selama trimester pertama. Berat badan dapat menjadi bukti
nyata bahwa dirinya hamil.
Hasrat seksual pada trimester pertama sangat bervariasi
antara wanita yang satu dengan yang lain. Meski beberapa
wanita mengalami peningkatan hasrat seksual tetapi secara
umum trimester pertama merupakan waktu terjadinya
penurunan libido dan hal ini memerlukan komunikasi yang jujur
dan terbuka terhadap pasangan. Libido secara umum sangat
dipengaruhi oleh keletihan, nausea, depresi, payudara yang
membesar dan nyeri, kecemasan kekhawatiran, dan masalah –
masalah lain merupakan hal yang sangat normal terjadi pada
trimester pertama.
a. Merasa tidak sehat dan benci kehamilannya.
b. Selalu mempehatikan setiap perubahan yang terjadi pada
tubuhnya.
c. Mencari tanda – tanda untuk lebih meyakinkan bahwa
dirinya sedang hamil.
d. Mengalami gairah seks yang lebih tinggi tapi libido turun.
e. Khawatir kehilangan bentuk tubuh.
f. Membutuhkan penerimaan kehamilannya oleh keluarga.
g. Ketidakstabilan emosi dan suasana hati.
11

2. Trimester II
Trimester kedua relatif terbebas dari segala
ketidaknyamanan fisik, dan ukuran perut wanita belum
menjadi masalah besar, lubrikasi vagina semakin banyak pada
masa ini, kecemasan, kekhawatiran, dan masalah – masalah
yang sebelumnya menimbulkan abivalensi pada wanita
tersebut mereda. Selain itu tanda – tanda lain adalah:
a. Ibu sudah mulai merasa sehat dan mulai bisa menerima
kehamilannya.
b. Mulai marasakan gerakan bayi dan merasakan kehadiran
bayi sebagai seseorang diluar dirinya.
c. Perut ibu belum terlalu besar sehingga belum dirasa beban.
d. Libido dan gairah seks meningkat.
e. Ibu merasakan adanya perubahan pada bentuk tubuh yang
semakin membesar sehingga ibu merasa tidak menarik lagi
dan merasa suami tidak memperhatikan lagi.
f. Ibu merasakan lebih tenang dibandingkan trimester I
karena nafsu makan sudah mulai timbul dan tidak
mengalami mual muntah sehingga ibu lebih bersemangat.
g. Biasanya ibu lebih bisa menyesuaikan diri dengan
kehamilan selama trimester ini dan ibu mulai merasakan
gerakan janinnya pertama kali.
3. Trimester III
Trimester III sering disebut periode penantian dengan penuh
kewaspadaan. Pada periode ini wanita mulai menyadari
kehadiran bayi sebagai mahluk yang terpisah sehingga ia
menjadi tidak sabar menanti kehadiran sang bayi. Ada
perasaan was-was mengingat bayi dapat lahir kapanpun. Hal
12

ini membuatnya berjaga-jaga sementara ia memperhatikan


dan menunggu tanda dan gejala persalinan muncul.
E. Trimester kehamilan
Masa kehamilan biasanya terbagi dalam periode, yang dikenal
sebagai triwulan, yaitu:
1. Triwulan I : berlangsung hingga minggu kehamilan ke-13 Pada
masa ini terjadi perkembangan janin yang cepat. Pada masa ini
resiko keguguran juga termasuk tinggi.
a. Dari zigot menjadi embrio
Zigot adalah sebuah kumpulan selyang terbagi hingga
mencapai 100 sel, yang kemudian disebut dengan
blastocyst,yaitu bagian dalam dari sel yang mana akan
membentuk embrio. Sementara bagian luar dari sel akan
membentuk plasenta yang kemudian memberikan nutrisi dan
kehidupan bagi janin.
Tiga minggu sebelum terjadinya kehamilan, blastocyst
akan melekat pada dinding rahim ibu, dan kemudian akan
melepaskan hCG. Hal ini akan terjadi hanya beberapa hari
setelah pembuahan. Dokter kandungan biasanya akan mulai
menghitung masa 40 minggu kehamilan, dari tanggal hari
pertama haid ibu yang terakhir (walaupun biasanya
pembuahan sering terjadi 2 minggu setelahnya, yaitu masa
subur ibu).
Pada usia 5 minggu, otak, sumsum tulang belakang,
jantung dan beberapa organ lainnya mulai terbentuk. Saat
ini embrio dibentuk dari 3 lapisan yaitu ectoderm,
mesoderm, dan endoderm. Setiap jaringan dan organ janin
akan dibenuk dari 3 lapisan ini. Ectoderm akan membentuk
sistem saraf dan tulang belakang, mesoderm akan
13

membentuk jantung dan sistem peredaran darah, dan


endoderm akan membentuk paru – paru, sistem
pencernaan, kelenjar tiroid, hati, dan pankreas. Sementara
itu, plasenta dan tali pusar mulai terbentuk, dimana tali
pusar akan berfungsi untuk mengirim nurisi dan makanan
untuk embrio yang masih berkembang.
Walaupun embrio saat ini masih seukuran biji beras,
ibu hamil akan mulai merasakan tanda – tanda awal
kehamilan seperti mual muntah di pagi hari, sering buang air
kecil, mengantuk, dan keinginan untuk suatu jenis makanan.
Payudara mulai terasa membesar, dan lebih lembek.
Beberapa ibu bahkan mulai bertambah berat badannya.
Tetapi pada umumnya,karena mual muntah, berat badan
akan menurun. Pada masa inilah biasanya ibu mulai
berkunjung kedokter kandungan, dan pada minggu kelima
ini, USG sudah dapat menangkap detak jantung janin.
Ibu harus ekstra hati – hati pada timester pertama ini,
karena saat inilah organ – organ utama janin mulai dibentuk.
Sebaiknya ibu menghindari minum alkohol, obat – obata
tanpa pengawasan dokter, kafein, dan rokok. Ibu juga
dianjurkan untuk makan makanan yang bergizi, berolahraga
ringan secara teratur dan mengkonsumsi vitamin untuk
memperkuat janin yang biasanya berupa asam folat.
b. Dari embrio menjadi janin
Pada minggu – minggu terakhir trimester I, embrio
mulai memiliki bentuk seperti struktur wajah dan tunas yang
kemudian membentuk tangan dan kaki.
Pada minggu ke 8, embrio kemudian menjadi janin.
Organ – organ tubuh seperti ginjal, hati, paru – paru dan
14

otak mulai berfungsi. Jari – jari mulai berbentuk demikian


juga alat kelamin (yang belum dapat terlihat karena belum
berbentuk penis ataupun vagina).
2. Triwulan II : berlangsung dari miggu ke- 14 hingga mnggu
kehamilan ke-27
Pada trimester 2 inilah banyak terjadi perubahan dalam
dirinya. Mual muntah di pagi hari mulai hilang, rasa malas dan
lemas tidak lagi dirasakan. Kesimpulannya, banyak yang
merasakan dirinya kembal sehat pada trimester 2 ini. Nafsu
makan mulai kembali, bahkan mugkin menjadi lebih banyak
dari sebelumnya. Namun ada banyak juga wanita hamil yang
pada trimester 2 ini mulai sering merasakan nyeri lambung
(sakit maag).
Walaupun saat ini ukuran janin hanya beberapa centimeter
(masih sangat kecil), namun perut ibu mulai bertambah besar.
Kelenjar susu pada payudara ibu mulai bekerja untuk produksi
susu. Pada trimester inilah, payudara ibu mulai memproduksi
cairan kekuning untuk bayi, yang disebut dengan kolostrum.
Kolostrum akan menjai makanan pertama begitu bayi lahir
hingga beberapa hari setelahnya.
Sekarang janin sudah mulai bergeak dan menendang,
namun ibu belum dapat merasakannya. Ukuran kepala janin
yang semula jauh lebih besar dari tubuhnya, sekarang mulai
mengecil dan menjadi lebih proporsional. Saat ini janin memiliki
rambut tipis dan halus, tumbuh diseluru tubuhnya yang disebut
lanugo. Ginjal janin dan saluran kemih mulai memproduksi air
kemih yang kemudian dikeluarkan ke air ketuban. Sel – sel
darah merah pun mulai diproduksi.
15

Minggu ke-15, ukuran janin kurang lebih 10-13 cm dengan


berat sekitar 200 gram. Walaupun kelopak matanya masih
menutup, namun ia mulai sensitif terhadap sinar yang dapat
tertangkap oleh matanya. Terkadang, dokter kandungan sudah
dapat melihat jenis kelami janin melalui USG saat ibu
melakukan kunjungan di minggu ke-15 atau 16 ini.
Antara minggu ke-16 dan 20, janin mulai dapat mendengar
suara dari luar rahim ibunya, bahkan dapat mengenali suara
ibunya sendiri. Wajahnya pun sudah dapat melakukan
bermacam – macam ekspresi seperti meringis, merengut,
tersenyum, dan lain – lain.
Kepalanya mulai tumbuh rambut, tengkoraknya pun mulai
mengeras, dan jutaan saraf kecil pada otaknya mulai
memerintahkan otot untuk bergerak. Organ reproduksinya
mulai terlihat jelas. Di akhir minggu ke-19 atau 20, ibu mulai
dapat merasakan tendangan kecil pada dinding rahim.
Beberapa wanita hamil terlihat lebih cerah dan bersinar. Hal
itu disebabkan oleh meningkatnya aliran darah ke wajah ibu.
Banyak juga ibu hamil yang pada perut bagian bawahnya
timbul garis – garis hitam. Garis – garis hitam ini timbul karena
adanya peningkatan pada pigmen kulit atau melanin, yang
biasanya akan hilang setelah melahirkan. Pada beberapa wanita
juga akan timbul stretchmark yang biasanya juga akan hilang
setelah melahirkan.
Pada minggu ke-20, panjang janin sekitar 15 – 17 cm,
dengan berat hampir 1 kg. Sistem pencernaannya mulai
berfungsi lebih banyak dan memproduksi mekonium. Tubuhnya
diselimuti dengan semacam cairan kental berwarna putih yang
16

disebut vernix caseosa, dimana cairan ini berguna untuk


melindungi kulitnya dari air ketuban di dalam rahim ibu.
Untuk melatih sistem penceraan dan paru – parunya, janin
mulai dapat menelan dan menghirup air ketuban. Paru –
parunya akan memprduksi suatu zat yang disebut surfactant,
dimana zat ini akan membuat kantung udara dalam paru –
parunya mengembang begitu ia dilahirkan kedunia.
Saat ini, kemungkinan besar wajah ibu hamil akan timbul
jerawat, karena kulitnya memproduksi minyak lebih banyak.
Pada beberapa kasus juga timbul varises pada kaki ibu.
Perubahan lain yang dialami ibu hamil saat ini adalah payudara
yang semakin membesar, perubahan warna kulit, sakit maag,
dan kesulitan buang air besar.
Minggu 27 adalah minggu terakhir dari trimester kedua. Saat
ini, janin telah tumbuh hingga 35 cm dengan berat sekitar 1 kg.
Tubuhnya sudah terlihat seperti bayi baru lahir. Jika terpaksa
dilahirkan pada masa ini, ia sudah mempunyai kemungkinan
untuk hidup walaupun akan menghadapi banyak masalah
bersangkutan dengan kesehatannya.
3. Triwulan III : berlangsung dari minggu ke-28 hingga masa
kelahiran
Dalam masa 12 minggu kedepan, peerkembangan janin di
dalam rahim akan mencapai kesempurnaan, dan bersiap – siap
untuk menjalani proses kelahiran. Panjang badannya kuang
lebih 40 cm dengan berat badan sekitar 1,5 kg. Tubuhnya mulai
berisi karena terbentuknya lemak dibawah kulitnya. Lemak
yang terbentuk ini akan membantu janin dalam mengatur suhu
tubuhnya begitu ia dilahirkan. Otaknya sekarang lebi besar dan
17

lebih terstruktur, demikian juga tengkorak kepalanya yang


mulai menyesuaikan dengan pertumbuhan otak.
Kebanyakan pada trimester III, otot-otot pada dinding
rahimibu hamil mulai melakukan latihan kontraksi yang diesbut
kontraksi palsu atau kontraksi braxton hicks. Terkadang
kontraksi ini dirasa sangat kencang sehingga ibu bisa mengira
sudah mengalami proses persalinan. Kontraksi palsu ini hanya
berlangsung sesekali dan tidak memiliki interval yang sama.
Pada minggu ke 32, janin sudah dapat menggerakan bola
matanya dan dapat membedakan gelap dan terang. Saat ini,
penambahan berat badan bayi berlangsung lebih cepat yaitu
sekitar 200 hingga 250 gr per minggu. Sekarang ukuran janin
sudah mencapai kurang lebih 45cm. Rambutnyan sudah mulai
melebat, dan ia juga sudah memiliki kuku pada jari-jari tangan
dan kakinya.
Rahim ibu sudah terasa sesak baginya, sehingga gerakan
janin tidak leluasa seperti sebelumnya. Tendangan-
tendangannya mulai terasa lebih kencang dari pada
sebelumnya, dan terkadang membuat perut ibu berubah bentuk
karena posisi janin yang berubah-ubah dan terus bergerak.
Pada minggu ke 35, panjang janin mencapai antara 47-50cm
dengan berat kurang lebih 2.5 hingga 3 kilo gram. Rambut
halus disekujur tubuhnya perlahan-lahan mulai rontok.cairan
kental berwarna putih yang melindungi tubuhnya dari air
ketuban juga menghilang. Seluruh organ tubuh janin semakin
mendekati sempurna.
Minggu ke 40 adalah masa yang sesuai dengan perhitungan
tanggal kelahiran. Namun sedikit sekali ibu yang melahirkan
tepat dan sesuai dengan tanggal perkiraan kelahiran.
18

Kebanyakan melahirkan beberapa hari lebih cepat atau lebih


lambat. Namun jika hingga minggu ke 42 ibu belum juga
melahirkan, biasanya dokter kandungan akan menggunakan
metode induksi untuk memancing kontraksi agar janin
dilahirkan. Hal ini karena takut terjadi keracunan air ketuban
bagi janin yang sudah melewati jadwal perkiraan lahir.
F. Resiko yang terjadi pada kehamilan
Berbagai faktor yang menyebabkan ada perempuan yang
tergolong sebagai calon ibu beresiko tinggi atau menghadapi
bahaya yang lebih besar pada waktu kehamilan maupun persalinan.
Kondisi ini yang bisa menyebabkan janin tidak dapat tumbuh
dengan sehat bahkan dapat menimbulkan kematian pada ibu dan
janin. Adapun kehamilan yang memiliki resiko atau bahaya yang
lebih besar pada waktu kehamilan maupun persalinan bila
dibandingkan dengan ibu hamil yang normal yang disebut dengan
kehamilan resiko tinggi.
Kehamilan resiko tinggi dibagi dalam 4 golongan :
1. Penyakit yang menyertai kehamilan
a. Penyakit yang berhubungan dengan pembuluh darah dan
ginjal misalnya darah tinggi, rendahnya kadar protein dalam
darah dan tingginya kadar protein dalam urin.
b. Inkompatibilitas darah atau ketidaksesuaian golongan darah
misalnya pada janin dan ibu yang dapat menyebabkan
bahaya baik bagi janin maupun ibu seperti ketidaksesuaian
resus.
c. Endrokrinopati atau kelainan endokrin seperti penyakit gula
d. Kardiopati atau kelainan jantung pada ibu yang tidak
memungkinkan atau membahayakan bagi ibu jika hamil dan
melahirkan.
19

e. Haematopatiatau kelainan darah, misalnyan adanya


pembekuan darah yang memungkinkan terjadinya
perdarahan yang lama yang dapat mengancam jiwa.
f. Infeksi, misalnya infeksi TORCH (Toksoplasma, Rubella,
Citomegalo virus dan Herpes simpleks), dapat
membahayakan ibu dan janin.
2. Penyulit kehamilan
a. Partus prematurus atau melahirkan sebelum waktunya yaitu
kurang dari 37 minggu usia kehamilan. Hal ini merupakan
sebab kematian neonatal yang terpenting.
b. Perdarahan dalam kehamilan, yang disebabkan oleh abortus
atau keguguran, kehamilan ektopik, hamil mola, plasenta
previa,.
c. Ketidaksesuaian antara besarnya rahim dan tuanya
kehamilan, misalnya hidramnion, gemeli dan gangguan
pertumbuhan janin dalam kandungan.
d. Kehamilan serotin atau kehamilan lewat waktu yaitu usia
kehamilan lebih dari 42 minggu.
e. Riwayat seksio sesarea.
3. Riwayat obstsetris yang buruk
a. Kematian anak pada persalinan yang lalu atau anak lahir
dengan kelainan congenital.
b. Riwayat melahirkan prematurus.
c. Abortus habitualis keguguran yang terjadi berulang kali dan
berturut-turut terjadi, sekurang-kurangnya 3 kali berturut-
turut.
d. Infertilitas tidak disengaja lebih dari 5 tahun.
20

4. Keadaan ibu secara umum


a. Umur ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.
b. Paritas atau banyaknya melahirkan lebih dari 4 orang anak.
c. Berat badan ibu yang terlalu kurus atau terlalu gemuk.
d. Tinggi badan ibu kurang dari 145 cm.
e. Bentuk panggul ibu yang tidak niormal.
f. Jarak kehamilan terlalu dekat,yaitu kurang dari 2 tahun.
g. Ibu yang tidak menikah berhubungan dengan kondisi
psikologis.
h. Keadaan sosio ekonomi yang rendah.
i. Ketagihan alkohol, tembakau dan morfin.
G. Komplikasi kehamilan Resiko tinggi
Bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh kehamilan resiko
tinggi bisa terjadi pada janin maupun pada ibu. Antara lain :
1. Bayi
a. Bayi lahir belum cukup bulan.
b. Bayi lahir dengan berat lahir rendah (BBLR).
c. Janin meninggal dalam kandungan.
2. Ibu
a. Keguguran (abortus).
b. Persalinan tidak lancar atau macet.
c. Perdarahan sebelum dan sesudah persalinan.
d. Ibu hamil atau ibu bersalin meninggal dunia.
e. Keracunan kehamilan atau kejang-kejang.
21

H. Pencegahan kehamilan resiko tinggi


Pendekatan resiko pada ibu hamil merupakan strategi
opersional dalam upaya pencegahan terhadap kemungkinan
kesakitan atau kematian melalui peningkatan efektifitas dan
efisiansi dengan memberikan pelayanan yang lebih intensif kepada
risiko ibu hamil dengan cepat dan tepat, agar keadaan gawat ibu
maupun gawat janindapat dicegah. Untuk itu diperlukan
skriningsebagai komponen penting dalam perawatan kehamilan
untuk mengetahui ada tidaknya faktor risiko pada ibu hamil
tersebut.
Mengingat sebagian besar kematian ibu sesungguhnya dapat
dicegah, maka diupayakan untuk mencegah 4 terlambat yang
menyebabkan kematian ibu, yaitu :
1). Mencegah terlambat mengenali tanda bahaya resiko tinggi.
2). Mencegah terlambat mengambil keputusan dalam keluarga.
3). Mencegah terlambat memperoleh transportasi dalam rujukan.
4) Mencegah terlambat memperoleh penanganan gawat darurat
secara memadai.
I. Pentingnya Antenatal Care (ANC)
Pemeriksaan antenatal adalah pemeriksaan kehamilan yang
dilakukan untuk memeriksa keadaan ibu dan janin secara berkala,
yang diikuti dengan upaya koreksi terhadap kegawatan yang
ditemukan.
Tujuan asuhan antenatal adalah:
1) Membantu kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan
ibu dan tumbuh kembang bayi.
2) Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental,
sosial ibu dan bayi.
22

3) Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau


komplikasi yang mungkin terjadi selama ibu hamil, termasuk
riwayat penyakit secara umum, kebidanan, dan pembedahan.
4) Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan
selamat ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal
mungkin.
5) Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan
pemberian ASI eksklusif.
6) Mempersiapkan peranan ibu dan keluarga dalam menerima
kelahiran bagi bayi agar dapat tumbuh kembang secara
normal
J. Manfaat Antenatal Care (ANC)
Manfaat Antenatal Care (ANC) sangat besar karena dapat
mengetahui berbagai resiko dan komplikasi kehamilan sehingga ibu
hamil dapat diarahkan untuk melakukan rujukan.
Pemeriksaan antenatal juga memberikan manfaat bagi ibu dan
janin, antara lain:
1) Bagi ibu
a. Mengurangi dan menegakkan secara dini komplikasi
kehamilan dan mengobati secara dini komplikasi yang
mempengaruhi kehamilan.
b. Mempertahankan dan meningkatkan kesehatan mental dan
fisik ibu hamil dalam menghadapi persalinan.
c. Meningkatkan kesehatan ibu setelah persalinan dan untuk
dapat memberikan ASI.
d. Memberikan konseling dalam memilih metode kontrasepsi
(Manuaba, 1999).
23

2) Bagi janin
Manfaat untuk janin adalah memelihara kesehatan ibu
sehingga mengurangi persalinan prematur, BBLR, juga
meningkatkan kesehatan bayi sebagai titik awal kualitas suber daya
manusia (Manuaba, 1999).
K. Standar Minimal Pelayanan Antenatal
Menurut Saifuddin (2002) pelayanan antenatal mencakup
banyak hal namun dalam penerapan operasional dikenal standar
minimal “10 T” yang terdiri dari :
1). timbang berat badan dan ukur tinggi badan.
Selama kehamilan antara 0,3 – 0,5 kg per minggu. Bila
dikaitkan dengan umur kehamilan kenaikan berat badan selama
hamil muda ± 1 kg, selanjutnya pada trimester II dan III
masing – masing bertambah 5 kg. Pada akhir kehamilan
pertambahan berat total adalah 9 – 12 kg. Bila ada kenaikan
berat badan yang berlebihan perlu dipikirkan kearah adanya
resiko seperti bengkak, kehamilan kembar, hidramnion, dan
anak besar (Depkes, 1997).
2). Ukur tekanan darah
Selama hamil tekanan darah dikatakan tinggi bila lebih dari
140/90 mmHg. Bila tekanan darah meningkat, yaitu sistolik 30
mmHg atau lebih dan atau diastolik 15 mmHg atau lebih.
Kelainan ini dapat berlanjut menjadi preeklamsia dan eklamsia
kalau tidak ditangani dengan tepat (Depkes, 1997
3). Nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas)
4). Ukur tinggi fundus uteri.
Ukuran tinggi fundus uteri normal adalah sebagai berikut:
12 Minggu : Tinggi fundus uteri 1 – 2 jari diatas symphysis.
24

16 Minggu : Tinggi fundus uteri pertengahan antara symphysis


pusat.
20 Minggu : Tinggi fundus uteri 3 jari dibawah pusat.
24 Minggu : Tinggi fundus uteri setinggi pusat.
28 Mnggu : Tinggi fundus uteri 3 jari diatas pusat.
32Minggu : Tinggi fundus uteri pertengahan pusat-
Proc.xyphoideus.
36 Minggu : Tinggi fundus uteri 3 jari dibawah Proc.xyphoideus.
40 Minggu : Tinggi fundus uteri pertengahan antara
Proc.xyphoideus-pusat (Mochtar, 1998).
5). Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ).
6). Pemberian imunisasi TT.
Pemberian TT baru akan menimbulkan efek perlindungan
apabila diberikan sekurang-kurangnya dua kali dengan interval
minimal 4 minggu. Kecuali jika sebelumnya ibu pernah
mendapat TT dua kali pada kehamilan yang lalu atau pada masa
calon pengantin maka TT cukup diberikan satu kali saja. Dosis
pemberian imunisasi TT yaitu 0,5 cc IM pada lengan atas.
Adapun syarat pemberian imunisasi TT adalah sebagai berikut :
a) Bila ibu belum pernah mendapat imunisasi TT atau
meragukan diberikan II sedini mungkin sebanyak dua kali
dengan jarak minimal dua minggu.
b) Bila ibu pernah mendapat imunisasi TT dua kali, diberikan
suntikan ulang/boster satu kai pada kunjungan antenatal yang
pertama (Depkes RI, 1997).
7). Pemberian tablet besi minimal 90 tablet selama kehamilan.
8). Test terhadap penyakit menular seksual.
Selama kehamilan, ibu perlu dilakukan tes terhadap penyakit
menular seksual seperti HIV/AIDS, Gonorrhoe, Siphilis. Hal
25

tersebut dikarenakan sangat berpengaruh pada janin yang


dikandungnya. Apabila ditemukan penyakit – penyakit menular
seksual harus segera ditangani.
9). Tatalaksana kasus.
10).Temu wicara (konseling)termasuk perencanaan persalinan dan
pencegahan komplikasi (P4K) serta KB pasca persalinan.
L. Kunjungan Ibu Hamil
Kunjungan ibu hamil adalah kontak ibu hamil dengan tenaga
kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar
yang ditetapkan. Kunjungan disini bukan hanya ibu hamil yang
datang ke tempat pelayanan tetapi juga setiap kontak dengan
tenaga kesehatan dan diberikan pelayanan antenatal sesuai standar
baik di Posyandu, Polindes, atau kunjungan rumah oleh tenaga
kesehatan. Kunjungan antenatal, untuk pemanfaatan dan
pengawasan kesejahreraan ibu dan anak minimal 4 kali selama
kehamilan dalam waktu sebagai barikut :
1. Satu kali kunjungan selama trimester 1 (kurang dari 14
minggu).
2. Satu kali kunjungan selama trimester 2 (antara minggu ke 14-
28 minggu).
3. Dua kali kunjungan selama trimester ke 3 (antara minggu 28-36
dan sesudah minggu 36).
Pada setiap kunjungan antenatal, perlu didapatkan informasi
yang sangat penting.
Tujuannya adalah sebagai berikut :
a. Membangun hubungan saling percaya antara petugas
kesehatan dan ibu hamil.
b. Mendeteksi masalah dan menanganinya.
26

c. Melakukan tindakan pencegahan seperti tetatus


neonatorum, anemia kekuatan zat besi, penggunaan
praktek tradisional yang merugikan.
d. Memulai persiapan dan sebagainya kelahiran bayi dan
kesiapan untuk menghadapi komplikasi.
e. Mendorong perilaku yang sehat (gizi, kebersihan, istirahat
dan sebagainya).
f. Kewaspadaan khusus mengenai preeklamsia.
g. Palpasi abdominal untuk mengetahui apakah ada kehamilan
ganda.
27

M.Kerangka pikir

Pada penulisan makalah ini kerangka pikir yang kami pakai


mengacu pada kerangka teori yang dikemukakan oleh GREEN 1985 dalam
Notoatmodjo 2012 sebagai berikut

Pengetahuan ibu hamil

Dukungan keluarga
Perilaku pemeriksaan
kehamilan

Dukungan
tenaga kesehatan

Pada kerangka pikir tersebut terdapat 3 variabel yang oleh penulis


dianggap sebagai 3 faktor penting yang berpengaruh terhadap perilaku
ibu hamil dalam pemeriksaan kehamilannya, faktor tersebut adalah
pengetahuan ibu hamil, dukungan keluarga dan dukungan tenaga
kesehatan.

Mengingat ketiga faktor tersebut maka penulis menganggap


penting 3 faktor tersebut yang harus diperhatikan dalam upaya promotif
terhadap ibu hamil dan keluarga dalam upaya memberikan penyadaran
akan pentingnya pemeriksaan kehamilan.
28

BAB III

PEMBAHASAN

Pada pembahasan ini penulis akan mengamukakan aplikasi


dilapangan berkaitan dengan upaya promotif dalam peningkatan
kesehatan ibu hamil akan pentingnyan pemeriksaan kehamilan. Pada
pembahasan ini pula penulis mengacu pada kerangka pikir yang penulis
pakai dimana faktor pengetahuan ibu, dukungan keluarga dan dukungan
kesehatan berpengaruh secara positif terhadap perilaku ibu dalam
memeriksakan kehamilannya ke sarana kesehatan atau ke petugas
kesehatan.

A.Pengetahuan Ibu

Berdasarkan hasil validasi data tahun 2015, pada umumnya tingkat


pendidikan terakhir masyarakat Desa Sindangsari mayoritas lulusan SD.
Tentunya hal ini sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan ibu
khususnya mengenai kesehatan Ibu dan Anak. Ibu hamil yang pendidikan
terakhirnya SD mereka lebih pasif dibandingkan dengan dengan ibu yang
tingkat pendidikannya lebih tinggi. Hal ini dapat dilihat pada saat kelas ibu
hamil ketika diadakannya diskusi dan tukar pengalaman dengan tujuan
melihat sejauh mana pengetahuan ibu tentang kesehatan kehamilan,
kebanyakan dari meraka tidak menjawab, sebagian lagi tidak tahu.
Berbeda dengan ibu yang pendidikannya lebih tinggi mereka lebih aktif
pada saat diberikannya penyuluhan.

1.Pentingnya penegetahuan ibu

Pengetahuan ibu hamil sangat berperan penting untuk mencapai derajat


kesehatan. Semakin tingginya pengetahuan ibu maka semakin tinggi pula
tingkat kesadaran ibu akan pentingnya kesehatan khususnya mengenai
kesehatan ibu dan anak. Karena pengetahuan ibu hamil yang baik dapat
29

membantu ibu hamil dalam menjalani kehamilannya dengan baik, tumbuh


kembang janin lebih optimal, serta membantu kesiapan mental dan fisik
ibu dalam menghadapi proses persalinan nanti. Rendahnya pengetahuan
ibu hamil menjadi salah satu penyebab utama kematian pada ibu
melahirkan juga pada bayi. Pentingnya pemeriksaan kehamilan secara
rutin minimal 4 kali selama kehamilan karena disitu banyak sekali
informasi yang harus ibu ketahui tentang kehamilan dari trimester 1,
trimester 2 dan trimester 3

2.Hal-hal yang perlu ibu ketahui

Adapun hal-hal yang harus ibu ketahui secara umum selama


kehamilan adalah :

a. Pengetahuan tentang merencanakan kehamilan yang baik.


b. Pengetahuan tentang makanan dan minuman yang baik
untuk ibu hamil dan janin
c. Pengetahuan tentang cara menghadapi trimester pertama
yang berat.
d. Pengetahuan tentang cara menstimulasi janin dalam
kandungan.
e. Pengetahuan tentang tanda-tanda bahaya dalam kehamilan.
f. Pengetahuan tentang aktivitas yang wajib dihindari selama
hamil.
g. Pengetahuan tentang anjuran pada ibu hamil.
h. Pengetahuan tentang olahraga yang diperbolehkan dan
dilarang saat hamil.
i. Pengetahuan tentang proses persalinan.
j. Pengetahuan tentang merawat bayi baru lahir.

Adapun hal – hal yang harus ibu ketahui pada masing-masing


usia kehamilan yaitu :
30

a. Trimester 1
Ibu dapat mengetahui risiko bahaya jiwa dan juga mencegah
terjadinya anemia. Sehingga kondisi ibu hamil mendukung
melanjutkan kehamilan di trimester selanjutnya.
b. Trimester II
Ibu dapat mengetahui tingkat kewaspadaan ibu terhadap
beberapa penyakit kehamilan yang sering terjadi. Misalnya
gejala preeklamsia, tekanan darah damn pembengkakan.
c. Trimester III
Ibu dapat mengetahui kondisi ibu dan juga tumbuh
kembang janin dalam mempersiapkan persalinan.
2. Peran penulis dilapangan dalam peningkatan pengetahuan ibu.
Dengan latar belakang pengetahuan ibu yang minim dan
rendahnya pendidikan ibu tentunya perlu kesabaran untuk
memberikan ilmu pengetahuan terhadap ibu hamil. Informasi
yang disampaikan tidak mudah untuk cepat dimengerti dan
dipahami oleh ibu hamil. Sebenarnya keingin tahuan ibu hamil
di Desa Sindangsari sangat tinggi namun beberapa faktor yang
menjadi kendala adalah adat istiadat yang ada di lingkungan
masyarakat masih kental, mereka masih menganggap sama
kehamilan sekarang dengan kehamilan sebelumnya, terutama
ibu hamil yang sudah menpunyai anak lebih dari 2. Bahkan
mereka tidak terlalu menganggap penting terhadap kesehatan
kehamilan sekarang karena mereka menganggap kehamilan
sebelumnya tanpa diperiksa pun merasa baik – baik saja.
Padahal sebenarnya semua ibu hamil mempunyai resiko.
Sehingga sangat sulit sekali bagi ibu hamil untuk bisa paham
dan mengerti mengenai informasi kesehatan yang sudah di
sampaikan kepada ibu hamil dari tenaga kesehatan.
31

Namun demikian adapun upaya penulis untuk


meningkatkan pengetahuan ibu hamil yaitu dengan
mengadakan penyuluhan kesehatan secara terjadwal,
biasanya setiap jadwal posyandu. Dan untuk memotivasi ibu
hamil datang ke posyandu penulis adakan arisan posyandu,
dan program tabulin.
Dengan demikian diharapkan ibu hamil lebih giat
datang ke posyandu untuk mendapatkan pengetahuan
kesehatan. Antusias ibu hamil pun cukup bagus. Secara
perlahan ibu hamil dapat memahami informasi dan yang
sudah di sampaikan oleh penulis tentang pentingnya
kesehatan untuk ibu hamil, namun ada pula ibu hamil yang
sulit untuk memahami informasi yang disampaikan. Tetapi
penulis terus berupaya bagaimana pun caranya supaya ibu
hamil dapat menerima informasi dan pendidikan kesehatan
agar dapat dimengerti yaitu dengan memberikan
penyuluhan ke setiap ibu hamil sampai ibu benar – benar
mengerti dan paham akan pentingnya kesehatan, bahkan
sampai penyuluhan dengan materi yang sama pun terus di
ulang agar ibu tidak lupa.
Jika terdapat ibu hamil yang tidak memeriksakan
kehamilannya ke posyandu, maka penulis melakukan
kunjungan rumah untuk mengetahui alasan tidak
memeriksakan kehamilannya serta memberikan penyuluhan
kesehatan.
32

B. Dukungan keluarga
Kehamilan merupakan krisis bagi kehidupan keluarga yang
dapat diikuti dengan stres kecemasan. Perubahan dan adaptasi
selama kehamilan, tidak hanya dirasakan oleh ibu tetapi seluruh
anggota keluarga. Oleh karena itu, selama kehamilan seluruh
anggota keluarga harus terlibat. Dukungan dan kasih sayang dari
anggota keluarga dapat memberikan perasaan nyaman dan aman
ketika ibu merasa takut dan khawatir dengan kehamilannya.

1. Pentingya dukungan keluarga


Adapun pentingnya dukungan keluarga terhadap ibu hamil
adalah :
a. menumbuhkan rasa percaya diri pada ibu hamil dalam
menghadapi proses kehamilan, persalinan, dan masa nifas.
b. Mengurangi perasaan cemas, tertekan dan kurang
diperhatikan pada ibu hamil dalam menjalani masa
kehamilannya.
c. Meningkatkan rasa tenang dan nyaman pada ibu hamil
selama kehamilan
d. Memperlancar proses persalinan secara normal.
e. Membantu mempersiapkan ibu hamil dalam menghadapi
persalinan dengan pasrah kepada Sang Pencipta dan siap
menerima kondisi apa pun.
f. Merencanakan persalinan aman bagi ibu hamil dan
penvegahan komplikasi selama kehamilan.
33

2. Bentuk dukungan keluarga


a. Keluarga dapat menyambut bahagia kehamilan
b. Keluarga dapat menghibur atau menenangkan ketika ibu
hamil merasa cemas, takut dan sedih.
c. Keluarga dapat menyediakan waktu dan perhatian untuk
mendengarkan keluhan ibu hamil dan berusaha membantu
solusi.
d. Keluarga selalu mengucapkan kata atau kalimat yang
menyatakan rasa perhatian dan kasih sayang.
e. Keluarga selalu mendoakan keselamatan ibu hamil dan janin
dalam kandunganya.
f. Menyelenggarakan ritual adat istiadat seperti tradisi 4
bulanan dan tujuh bulanan.
g. Keluaraga sering membahas dan memberikan nasihat
tentang pengalaman hamil dan melahirkan.
h. Keluarga misalnya suami akan selalu bersedia mengantar
istrinya periksa kehamilan.
i. Keluarga bersedia menemani atau menunggui pada proses
persalinan.
j. Keluarga siap membantu memenuhi kebutuhan berupa
perlengkapan dan peralatan selama kehamilan.
3. Peran penulis dalam menguatkan dukungan keluarga
Meyakinkan keluarga bahwa kehamilan adalah suatu hal
yang sangat penting dalam fase kehidupan dimana seorang ibu
sedang mengalami periode yang sangat kritis dan menentuka
masa depan bagi sebuah generasi, dalam hal ini dukungan
keluarga sangat diperlukan baik secara finansial maupun
psikologis dan moral agar seorang ibu hamil memiliki kekuatan
34

baik secara fisik maupun psikologis dalam menjalani


kehamilannya.
Penulis sebagai bidan desa berupa memerankan hal
penting tersebut dengan memberikan support dan dukungan
kepada keluarga berupa sharing pengetahuan, pengalaman dan
menerangkan tentang fakto – faktor resiko yang mungkin
terjadi terhadap kehamilan dan persalinan.
Penulis juga memberikan support psikologis kepada ibu
hamil dan keluarga serta wawasan bahwa dukungan keluarga
serta lingkungan keluarga yang kondusif akan sangat
membantu secara psikologis terhadap kehamilian anggota
keluarganya. Dukungan keluarga bisa berupa pendampingan
selama pemeriksaan hamil, support nutrisi yang baik selama
hamil dan memberikan pujian serta kebanggaan atas kehamilan
yang sedang dijalaninya, agar ibu semakin besar hati dan
memiliki kekuatan dalam menjalani kehamilan dan menghadapi
proses persalinan.

C. Dukungan tenaga kesehatan


Tenaga kesehatan khususnya bidan sangat berperan dalam
memberikan dukungan pada ibu hamil. Karena bidan sebagai
tempat mencurahkan isi hati dan kesulitannya dalam menghadapi
kehamilan dan persalinan. Tenaga kesehatan harus mampu
mengenali keadaan yang terjadi di sekitar ibu hamil. Hubungan
yang baik saling mempercayai dapat memudahkan bidan atau
tenaga kesehatan dalam memberikan pendidikan kesehatan.
35

1. Pentingnya dukungan tenaga kesehatan

Dampak positif bagi ibu hamil akan pentingnya dukungan


tenaga kesehatan akan menumbuhkan perasaan tenang dan
nyaman sehingga dapat mempermudah proses persalinan kelak,
karena terhindar dari hambatan – hambatan secara fsikologis
seperti stres,cemas dan tertekan terutama pada kehamilan
trimester 3. Maka dari itu pentingnya pemeriksaan ibu hamil
pada trimester ketiga sangat dianjurkan karena agar ibu hamil
dapat mengetahui kondisi ibu dan juga tumbuh kembang janin.
Karena banyak sekali informasi dan pendidikan kesehatan yang
harus ibu hamil ketahui di trimester III ini. Selain itu kondisi
mental ibu hamil juga sangat berperan penting untuk
membantu melancarkan proses persalinan. Maka dari itu
support mental dari tenaga kesehatan sangat di butuhkan ibu
hamil pada timester ketiga.

3. Bentuk dukungan tenaga kesehatan


a. Memberikan perhatian terhadap masalah dan perkembangan
kehamilan ibu.
b. Menghargai pendapat dan keinginan ibu.
c. Sabar dalam memberikan pelayanan.
d. Tempat pelayanan yang aman, nyaman, ramah dan
menyenangkan.
e. Memberikan asuhan sayang ibu.
f. Meyakinkan bahwa ibu dapat menghadapi perubahan selama
kehamilan.
g. Mengajarkan dan menganjurkan latihan fisik seperti senam
hamil untuk melatih otot – otot dasar panggul.
h. Mengadakan lomba ibu hamil sehat, dengan teknis
pelaksaan mengunjungi rumah ibu hamil. Dengan tujuan
36

untuk memotivasi ibu hamil dalam meningkatkan


pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya pemeriksaan
kehamilan untuk mendapatkan informasi dan pendidikan
kesehatan.
i. Mengadakan kelas ibu hamil.

4. Peran penulis dalam memfasilitasi ibu hamil dalam pemeriksaan


kehamilannya.
Adapun peran penulis dalam memfasilitasi ibu hamil
dalam pemeriksaan kehamilannya mengacu pada 10 T yaitu :
a. Pengukuran tinggi badan dan timbang badan.
Bila tinggi badan < 145cm, maka faktor resiko panggul
sempit, kemungkinan sulit melahirkan secara normal.
b. Pengukuran tekanan darah
Tekanan darah normal 120/80 mmHg, jika tekanan darah
lebih besar atau sama dengan 140/90 mmHg, ada faktor
resiko hipertensi dalam kehamilan.
c. Pengukuran LILA
Bila < 23,5cm menunjukan ibu hamil menderita Kurang
Energi Kronis (KEK) dan beresiko melahirkan Bayi Berat Lahir
Rendah (BBLR).
d. Pengukuran TFU
Pengukuran TFU berguna untuk melihat pertumbuhan janin
apakah sesuai dengan usia kehamilan.
e. Penentuan letak janin (presentasi janin) dan penghitungan
denyut jantung janin.
Apabila trimester IIIbagian bawah janin bukan kepala atau
kepala belum masuk panggul, kemungkinan ada kelainan
letak atau ada masalah lain. Bila denyut jantung kurang dari
37

120 kali/menit atau lebih dari 160 kali/menitmenunjukan ada


tanda gawat janin.
f. Penentuan status imunisasi Tetanus Toksoid (TT).
Untuk mencegah tetanus pada ibu dan bayi.
g. Pemberan tablet tambah darah.
h. Tes laboratorium
i. Konseling atau penjelasan
Tenaga kesehatan dapat memberi penjelasan mengenai
perawatan kehamilan, pencegahan kelainan bawaan, IMD,
Nifas, perawatan bayi baru lahir, ASI eksklusif, keluarga
berencana dan imunisasi pada bayi.
j. Tata laksana atau mendapatkan pengobatan.
38

BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Antenatal care adalah hal yang sangat penting dan urgen
selama kehamilan terutama dalam hal peningkatan pengetahuan,
pemahaman dan penanaman kesadaran akan pentingnya antenatal
care tersebut, dimana dengan antenatal care akan diketahui sedini
mungkin akan indikasi-indikasi resiko yang akan terjadi pada
kehamilan dan persalinan.
Peran dan dukungan berbagai pihak sangat di perlukan
dalam proses penyadaran dan perubahan prilaku positif ibu hamil
dalam pemeriksaan kehamilanya, dukungan tersebut dapat
diperoleh dari : pengetahuan ibu, dukungan keluarga, dukungan
tenaga kesehatan serta fasilitas penunjang lainya yang akan
berpengarauh terhadap prilaku ibu hamil tersebut dalam
memeriksaakan kehamilanya.
Upaya promotif yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dalam
hal ini bidan desa pada dasarnya adalah mengoptimalkan potensi
yang ada baik pada sarana kesehatan, dan potensi ibu sendiri
dengan mengembangkan pengetahuanya sebagai dasar bagi
pengembangan kesadaran diri akan pentingnya pemeriksaan
kehamilan.
39

B. SARAN
1. Pihak pemerintah dalam hal ini puskesmas hendaklah lebih
mengoptimalkan perannya dalam upaya promotif terhadap
masyarakat dengan melibatkan berbagai potensi yang ada di
wilayah kerja puskesmas
2. Pihak desa sebagai mitra kerja bidan desa diharapkan lebih
proaktif dan memberikan dukungan penuh terutama dalam
pengembangan desa siaga aktif terutama yang menyangkut
peran serta keluaraga dan masyarakat dalam proses persalinan
yang sehat
3. Keluarga sebagai pihak yang sangat dominan bagi seorang ibu
hamil hendaklah memberikan dukungan penuh baik secara
moril, materil dan psikologis agar proses kehamilan yang
dijalaninya aman, sehat dan selamat

Anda mungkin juga menyukai