Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH Hukum Persaingan Usaha

PENYEBAB TERJADINYA PENETAPAN HARGA (PRICE FIXING) DAN PERAN KOMISI PENGAWAS
PERSAINGAN USAHA DALAM MENANGANI PENETAPAN HARGA

( Studi Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 4 Tahun 2011 Tentang Pedoman Pasal
5 (Penetapan Harga) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli Dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat)

1. Latar Belakang Masalah

Perjanjian penetapan harga merupakan salah satu bentuk “Perjanjian yang Dilarang” (Bab III) dalam
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha
Tidak Sehat[1]. Jenis perjanjian ini sering terjadi dalam praktek kegiatan usaha, yang ditentukan oleh
pelaku usaha di bidang tertentu, dengan maksud mencari keuntungan secara mudah, sehingga
mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat.

Pada Pasal 5 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 melarang pelaku usaha untuk mengadakan
perjanjian dengan pesaingnya untuk menetapkan harga aras suatu barang dan/atau jasa yang hars
dibayar konsumen atau pelanggannya. Dalam Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999
dinyatakan bahwa pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya
untuk menetapkan harga atas suatu barang dan/arau jasa yang hams dibayar oleh konsumen atau
pelanggan pada pasar bersangkutan yang sama. Berdasarkan kerentuan Pasal 5 ayat (1) ini, pelaku
usaha dilarang mengadakan perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya guna menetapkan suatu
harga tertentu atas suatu barang dan/atau jasa yang akan diperdagangkan pada pasar yang
bersangkutan, sebab perjanjian seperti itu akan meniadakan persaingan usaha

Sebagai bagian dari upaya tersebut, KPPU melakukan penyusunan pedoman pelaksanaan pasal 5
(lima) yang mengatur tentang perilaku yang dilarang berupa penetapan harga oleh pelaku usaha
yang saling bersaing (price fixing). Sebagaimana diketahui, penetapan harga adalah sebuah perilaku
yang sangat terlarang dalam perkembangan pengaturan persaingan. Hal ini disebabkan penetapan
harga selalu menghasilkan harga yang senantiasa berada jauh di atas harga yang bisa dicapai
melalaui persaingan usaha yang sehat. Harga tinggi ini tentu saja menyebabkan terjadinya kerugian
bagi pesaing usaha lainya masyarakat baik langsung maupun tidak langsung.
2. Rumusan masalah

Sesuai dengan topik pembahasan di atas, penulis merumuskan beberapa hal yang akan dikaji dalam
tulisan ini, yaitu antara lain sebagai berikut :

1. Bagaimanakah penetapan harga yang melanggar hukum persaingan usaha ?

2. Apa Sajakah Penyebab terjadinya penetapan harga ?

3. Bagaimanakah pengawasan dan Peran KPPU dalam mengatasi Penetapan Harga?

4. Tujuan dan kegunaan

Dalam makalah ini bertujuan untuk :

1. Untuk mengetahui Penetapan harga yang bagaimana yang melanggar hukum persaingan
usaha.

2. Menganalisis penyebab terjadi penetapan harga dalam persaingan usaha tidak sehat di
Indonesia.

3. Menganalisis kegiatan pengawasan KPPU dalam upaya mengatasi penetapan harga dalam
persaingan usaha yang tidak sehat.

Makalah ini diharapakan dapat bermanfaat sebagai :

1. Bahan pembelajaran bagi penulis dalam menerapkan ilmu yang didapat.

2. Sebagai pemenuhan tugas Mata kuliah Hukum Persaingan Usaha.

1. PEMBAHASAN

PENETAPAN HARGA (PRICE FIXING) SEBAGAI SALAH SATU PERJANJIAN YANG DILARANG OLEH UU
NO. 5 TAHUN 1999
1. Pengertian Penetapan Harga

Penetapan harga (Price Fixing) antarpelaku usaha dilarang oleh Pasal 5 Undang-Undang No. 5 Tahun
1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Yang Tidak Sehat.[2] Penetapan
harga secara bersama-sama di kalangan pelaku usaha ini akan menyebabkan tidak berlakunya
hukum pasar tentang harga yang terbentuk dari adanya penawaran dan permintaan.

Pengaturan yang ditujukan pada penetapan harga yang cukup tinggi untuk memungkinkan
perusahaan dapat menutup semua biayanya tapi cukup rendah untuk mencapai penjualan yang
besar untuk memetik keuntungan dalam skala besar merupakan ciri monopoli alamiah.[3]

Penetapan harga dapat terjadi secara vertikal dan horizontal, dimana dianggap sebagai hambatan
perdagangan (restraint of trade) karena membawa akibat buruk terhadap persaingan harga (price
competition). Jika penetapan harga dilakukan, kebebasan menentukan harga secara independent
menjadi berkurang.[4]

Penetapan harga secara horizontal adalah penetapan harga yang terjadi apabila lebih dari satu
perusahaan yang berada pada tahap produksi yang sama, dengan demikian sebenarnya saling
merupakan pesaing, menentukan harga jual produk mereka pada tingkat yang sama.

Penetapan harga secara vertikal adalah penetapan harga yang terjadi apabila suatu perusahaan pada
tahap produksi tertentu, menetukan harga produk yang harus dijual oleh perusahaan lain yang
berada dalam tahap produksi yang rendah. Dicontohkan, apabila sebuah perusahaan distributor
menentukan harga barang yang harus dijual kepada konsumen oleh pengecer.

2. Beberapa bentuk dari tindakan penetapan harga yaitu[5] :

1. Resale Price Maintance (RPM) Arrangments

Resale Price Maintance merupakan praktek pemasaran dalam mana seseorang (atau suatu
perusahaan) pengecer atas dasar perjanjian dengan distributor atau produsen setuju untuk menjual
barang/ jasa dengan harga tertentu atau harga minimum tertentu.

2. Vertical Maximum Price Fixing

Hampir sama dengan RPM Arrangments, Vertical Maximum Price Fixing, terjadi dalam hal produsen
atau distributor suatu produk membuat kesepakatan dengan pengecer yang isinya mewajibkan
pengecer itu untuk menjaul produk di bawah harga maksimum yang ditetapkan oleh produsen atau
distributornya.

3. Consignments (penitipan, konsinyiasi)


Praktek penjaualn berikutnya yang memancing banyak kontroversi adalah Consignments. Praktek
Consignments (penitipan, konsinyiasi) dalam konteks usaha terjadi apabila suatu perusahaan
pengecer menjual barang yang secara legal masih menjadi milik produsen dan sebagai imbalannya
ia memperoleh komisi penjualan. Yang menimbulkan persoalan bagi produsen adalah menentukan
harga produk yang dititpkannya. Memang salah satu prinsip hukum persaingan usaha yang sudah
diakui, setidaknya di Amerika Serikat, bahwa sekali produsen atau distributor telah menjual
produknya pada pengecer, ia tidak bisa lagi menentukan berapa harga jual yang harus dipasang oleh
pengecer terhadap konsumen.

PENYEBAB TERJADINYA PENETAPAN HARGA DALAM PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT

Penyebab timbulnya penetapan harga oleh para pelaku usaha adalah untuk menguasai pasar
sehingga memperoleh laba yang jauh lebih tinggi dari apa yang dihasilkan, dimana produsen hanya
menetapkan satu harga untuk semua konsumen sehingga terjadilah persaingan usaha yang tidak
sehat. Strategi penetapan harga yang dapat menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi, yang mana
strategi ini dapa merusak persaingan usaha dengan strategi penetapan harga yang bertujuan
mendorong memaksimalisasi pada kelompok pasar monopoli dan oligopoli. Untuk mencapai
maksimalisasi laba, produsen akan meyerap (menarik) surplus konsumen dari konsumen.[6]

Penetapan harga juga timbul untuk mengatur perang tarif, misalnya persaingan Perusahaan
Penerbangan di Indonesia, di mana pemerintah turut campur dalam penetapan tarif referensi yang
gunanya untuk mendamaikan perusahaan penerbangan dengan jalan menetapkan harga yang harus
dipatuhi oleh semua perusahaan penerbangan, tapi hal ini dapat menimbulkan persaingan usaha
yang tidak sehat karena tidak adanya hukum permintaan penawaran yang sesungguhnya terjadi di
pasar karena harga sudah ditentukan oleh pemerintah.

Suatu usaha dalam mengurangi perang harga dalam pasar oligopoli dengan strategi kepemimpinan.
Kepemimpinan harga terjadi pada saat sebuah perusahaan besar bertindak sebagai pemimpin dan
perusahaan-perusahaan kecil lainnya menjadi pengikut.[7]

Praktek penetapan harga ada juga yang anti kompetisi, tapi cenderung merusak persaingan usaha,
yang akhirnya dapat merugikan konsumen karena tidak mempunyai kesempatan untuk memperoleh
harga yang lebih baik (rendah), yaitu :[8]

1. Penetapan Harga di Bawah Harga Marginal

Penetapan harga di bawah harga rata-rata adalah penetapan harga yang dalam jangka pendek
akan menguntungkan konsumen, tetapi dipihak lain akan sangat merugikan bagi para pesaing
(produsen lain). Strategi yang tidak sehat ini pada umumnya beralasan bahwa harga yang
ditawarkan adalah merupakn hasil kinerja efisiensi kinerja perusahaan. Oleh karena itu tidak akan
segera terdeteksi sampai pesaing dapat mengukur dengan tepat berapa harga terendah yang
sesungguhnya ditawarkan pada konsumen (harga=biaya merginal).

Strategi ini akan menyebabkan produsen menyerap pangsa pasar yang lebih besar yang
dikarenakan berpindahnya konsumen pada penawaran harga yang lebih rendah. Sementara
produsen pesaing akan kehilangan pangsa pasarnya. Pada jangka yang lebih panjang produsen ini
akan bertindak sebagai monopoli.

2. Penetapan Harga Maksimum

Startegi penetapan harga ini biasanya diterapkan oleh produsen kepada distributor
bersangkutan. Strategi bertujuan untuk mengontrol distributor untuk tidak menjual diatas harga
maksimum yang ditawarkan. Hasil akhir yang diharapkan melalui strategi ini adalah terkendalinya
harga yang bersaing (sesuai dengan keinginan produsen) samapai pada tingkat penjualan eceran.

Strategi ini juga sebenarnya menguntungkan bagi konsumen. Akan tetapi disisi lain, strategi ini
akan berdamapak sebagai penghalang bagi produsen lain yang tidak dapat bersaing
pada harga maksimum yang ditetapkan. Produsen yang tidak memiliki jaringan pemasaran yang
memadai tidak akan dapat mengontrol harga akhir yang akan ditawarkan oleh jaringannya.

3. Penetapan Harga Minimum

Strategi penetapan harga ini pada umumnya memiliki dua tujuan utama, yakni :
mempertahankan nama baik (goodwill) produsen atau merk tertentu dan mencegah persaingan
usaha tidak sehat pada level distributor.

Produsen yang memiliki nama yang terkenal untuk produk tertentu pada pasar tertentu, akan
berusaha untuk mempertahankan nama baiknya, tidak hanya melalui kualitas dan rancangan barang
yang diproduksinya, akan tetapi juga pada harga yang ditetapkan. Produk yang berkelas biasanya
juga memiliki kelas harga yang relatif tinggi yang harus tetap dipertahankan untuk menjaga citra
produsen.

Disisi lain pada level distributor, mereka juga bersaing untuk memperebutkan pasar produk
berkelas dari distributor pesaing. Untuk menciptakan kesan (image) bahwa distibutor besangkutan
adalah merupakan pusat distribusi produk kelas tertentu. Dibutuhkan promosi yang memerlukan
biaya tambahan. Hasil akhir, distributor harus mengeluarkan biaya tambahan utnuk promosi sudah
barang tertentu menawarkan harga yang sedikit lebih tinggi untuk produk berkelas yang sama
dibandingkan dengan distributor lain yang tidak melakukan upaya promosi. Akan tetapi dapat
dipastikan konsumen akan lebih cenderung untuk memperoleh produk yang dimaksud oleh dari
distributor yang menawarkan harga yang lebih rendah (karena biaya tanpa promosi). Distributor
yang memperoleh keuntungan (pangsa pasar) dalam situasi ini disebut “free rider” pihak yang
memperoleh secara cuma-cuma.
Dengan dua kedaan pokok tersebut, biasanya produsen akan biasanya menetapkan harga
minimum untuk produk yang dihasilkan. Strategi ini selain dapat mengontrol produknya dijual pada
tingkat harga yang sesuai dengan kelasnya, untuk mencegah terjadinya “free rider”. Akan tetapi
dipihak lain ini akan mencegah persaingan antar distributor. Distributor yang dapat melakukan
efisiensi tidak dapat menetapkan harga yang lebih rendah dari harga yang sudah ditetapkan oleh
produsen, yang hasil akhirnya adalah konsumen akan membayar dengan harga yang relatif tinggi
(melebihi biaya marginal).

PERAN KPPU MENGATASI PENETAPAN HARGA DALAM PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT

KPPU sebagai Lembaga Pengawas Persaingan usaha yang mempunyai tugas untuk menjaga
kepentingan umum dan meningkatkan efisiensi ekonomi nasional sebagai salah satu upaya untuk
meningkatkan kesejahteraan rakyat, mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan
persaingan usaha yang sehat sehingga menjamin adanya kepastian kesempatan berusaha yang sama
bagi pelaku usaha besar, pelaku usaha menengah, dan pelaku usaha kecil, mencegah praktek
monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang ditimbulkan oleh pelaku usaha, terciptanya
efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan usaha, dalam hal ini akan dibahas peran KPPU pada
praktiknya untuk mengatasi penetapan harga dalam persaingan usaha yang tidak sehat.

1. Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 4 Tahun 2011 Tentang Pedoman Pasal
5 (Penetapan Harga) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli Dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat

bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 5 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang
Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dipandang perlu menetapkan
Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha tentang Pedoman Pasal 5 Undang-undang Nomor 5
Tahun 1999 Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Berdasarkan Undang-undang No 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan
Usaha Tidak Sehat (UU No. 5 Tahun 1999), khususnya pasal 35 huruf f, Komisi Pengawas Persaingan
Usaha (KPPU) memiliki tugas untuk menyusun pedoman dan atau publikasi yang berkaitan dengan
undang-undang tersebut. Salah satunya adalah penyusunan pedoman pelaksanaan pasal-pasal
dalam UU No 5 Tahun 1999 dengan tujuan memberikan pemahaman yang sama kepada stakeholder
UU No 5 Tahun 1999. Sebagai bagian dari hal tersebut, Pedoman Pasal 5 tentang larangan
Penetapan Harga (untuk selanjutnya disebut “Pedoman”) bertujuan untuk:

1. Memberikan pengertian yang jelas dan tepat tentang larangan Penetapan Harga
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 UU No. 5 Tahun 1999.

2. Memberikan dasar pemahaman yang sama dan arah yang jelas dalam pelaksanaan Pasal 5.

3. Memberikan landasan bagi semua pihak untuk berperilaku tidak melanggar Pasal 5 UU No.5
tahun 1999.

4. Memberikan pemahaman tentang pendekatan yang dilakukan oleh KPPU dalam melakukan
penilaian atas perjanjian tentang Penetapan Harga.

KPPU melakukan penyusunan pedoman pelaksanaan pasal 5 (lima) yang mengatur tentang perilaku
yang dilarang berupa penetapan harga oleh pelaku usaha yang saling bersaing (price fixing).
Pedoman ini, diharapkan mampu memberikan pemahaman kepada seluruh stakeholder.

5. Peran KPPU Dalam Memberikan Putusannya Untuk Menangani Kasus-Kasus Penetapan


Harga Yang Terjadi Di Indonesia.

Berikut ini merupakan beberapa Peran KPPU Dalam Memberikan Putusannya Untuk Menangani
Kasus-Kasus Penetapan Harga Yang Terjadi[9] :

1. Putusan KPPU No.03/KPPU-I/2003 tentang Kargo Surabaya - Makassar


Perkara No. 03/KPPU-I/2003 merupakan perkara inisiatif yang timbul berdasarkan hasil temuan
KPPU dalam kegiatan monitoring yang diawali dengan

munculnya berita di koran mengenai adanya kesepakatan bersama penetapan tarif

angkutan barang (kargo) jalur Surabaya–Makassar. Kesepakatan tersebut dilatarbelakangi karena


adanya banting-bantingan harga diantara perusahaan

pelayaran yang melayanai jalur Surabaya–Makassar–Surabaya serta adanya keinginan Pelindo IV


untuk menaikkan THC/ port charge.

Kesepakatan penetapan tarif dan kuota untuk jalur Surabaya-Makassar dibuat pada tanggal 23
Desember 2002 yang ditandatangani oleh tujuh perusahaan pelayaran

yaitu:

1. PT Pelayaran Meratus (Terlapor I)

2. PT Tempuran Emas Tbk. (Terlapor II)

3. PT (Persero) Djakarta Lloyd (Terlapor III)

4. PT Jayakusuma Perdana Lines (Terlapor IV)

5. PT Samudera Indonesia Tbk. (Terlapor V)

6. PT Tanto Intim Line (Terlapor VI)

7. PT Lumintu Sinar Perkasa (Terlapor VII)

Isi kesepakatan tersebut antara lain mengenai penetapan harga dan besaran

kuota bongkar muat dari masing-masing perusahaan pelayaran. Selain itu diatur pula mengenai
mekanisme penalty atau denda yang akan dikenakan jika terjadi kelebihan kuota dan apabila
perusahaan pelayaran tidak menyelesaikan denda maka perusahaan pelayaran tersebut tidak akan
mendapatkan pelayanan fasilitas pelabuhan dari Pelindo IV cabang Makassar. Pelaksanaan
kesepakatan tahap I mulai berlaku sejak 1 Januari 2003 sampai dengan 31 Maret 2003.

Berdasarkan hasil pemeriksaan diketahui bahwa kesepakatan penetapan tarif dan kuota tersebut
telah dilaksanakan namun pelaksanaannya dilapangan ternyata tidak efektif, karena perusahaan
pelayaran banyak yang melakukan kecurangan dengan cara memberikan diskon atau potongan
harga ke konsumen. Pada saat dilakukan evaluasi atas pelaksanaan kesepakatan tahap I, disepakati
untuk melanjutkan kesepakatan tarif dan kuota serta tidak memberikan sanksi kepada perusahaan
pelayaran yang melebihi kuota pada pelaksanaan kesepakatan tahap I.
Pelaksanaan kesepakatan tarif dan kuota tahap II hanya dilaksanakan selama 1 (satu) bulan, karena
pada tanggal 29 April 2003 diadakan pertemuan antara para perusahaan pelayaran, INSA, Pelindo IV
dan Adpel Makassar dan disepakati untuk mencabut atau membatalkan kesepakatan tarif dan kuota.
Setelah Majelis Komisi memeriksa dan menganalisa semua data dan informasi yang diperoleh
selama proses pemeriksaan diatas maka Majelis Komisi memutuskan

bahwa ketujuh perusahaan pelayaran yang telah menandatangani kesepakatan tersebut telah
melanggar ketentuan Pasal 5 UU No. 5 Tahun 1999 mengenai Penetapan Harga dan memutuskan
untuk membatalkan kesepakatan tarif dan kuota sebagaimana tercantum dalam Berita Acara
Pertemuan Bisnis di Hotel Elmi Surabaya tertanggal 23 Desember 2002.

2. Putusan KPPU No.02/KPPU-I/2003 tentang Kargo Jakarta-Pontianak

Perkara ini merupakan inisiatif Komisi setelah sebelumnya melakukan kegiatan monitoring terhadap
Pelaku Usaha Angkutan Laut Khusus Barang Trayek Jakarta–Pontianak. Pihak yang ditetapkan
sebagai Terlapor dalam perkara ini karena telah melakukan perjanjian kesepakatan bersama besaran
tarif uang tambang untuk trayek Jakarta- Pontianak-Jakarta, adalah:

1. PT. Perusahaan Pelayaran Nusantara Panurjwan (Terlapor I)

2. PT. Pelayaran Tempuran Emas, Tbk. (Terlapor II)

3. PT. Tanto Intim Line (Terlapor III)

4. PT. Perusahaan Pelayaran Wahana Barunakhatulistiwa (Terlapor IV)

Dalam proses Pemeriksaan telah didengar keterangan dari para pihak yang terkait dengan perkara
bersangkutan dan telah dinilai data-data dan sejumlah dokumen dan atau bukti, sehingga Majelis
berkesimpulan bahwa :

1. Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III dan Terlapor IV telah menandatangani kesepakatan
bersama tarif uang tambang petikemas Jakarta-Pontianak-Jakarta No: 01/ SKB/ PNP-TE-WBK-TIL/ 06/
2002 yang diketahui dan ditandatangani juga oleh Memet Rahmat Kusrin sebagai Ketua Bidang
Kontainer DPP INSA dan Jimmy AB Nikijuluw sebagai Direktur Lalulintas Angkutan Laut Direktorat
Jenderal Perhubungan Laut Departemen Perhubungan;

2. Kesepakatan bersama tarif uang tambang sebagaimana dimaksud merupakan upaya dari
Terlapor I dan Terlapor II untuk mempertahankan tarif pada tingkat dimana Terlapor I dan Terlapor II
dapat menikmati margin keuntungan seperti ketika struktur pasarnya masih duopolistik;

3. Kesepakatan bersama tarif uang tambang sebagaimana dimaksud juga merupakan upaya
guna mencegah terjadinya penurunan pangsa pasar yang lebih signifikan dari Terlapor I dan Terlapor
II akibat pemberlakuan tarif oleh Terlapor III yang lebih rendah daripada tarif Terlapor I dan Terlapor
II. Karekteristik struktur pasar yang oligopolistik telah memungkinkan Terlapor I dan atau Terlapor II
untuk mengkondisikan terjadinya persepakatanpersepakatan di antara para pelaku usaha yang
saling bersaing dengan melibatkan intervensi Pemerintah dan DPP INSA;

4. Keterlibatan Terlapor IV dan Terlapor III dalam menandatangani kesepakatan tarif uang
tambang sebagaimana dimaksud lebih dikarenakan adanya ketakutan akan mendapatkan perlakuan-
perlakuan diskriminatif dari Pemerintah dalam hal ini adalah Direktur Lalu-Lintas Angkutan Laut
Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Departemen Perhubungan dan DPP INSA;

5. Kesepakatan tarif uang tambang dimaksud tidak akan pernah efektif apabila tidak ada
intervensi Pemerintah atau Departemen Perhubungan dan DPP INSA. Dalam perkara ini bentuk
intervensi pemerintah yaitu Departemen Perhubungan untuk memberikan legitimasi terhadap
kesepakatan bersama besaran tarif uang tambang diantara para pelaku usaha yang bersaing pada
pasar bersangkutan jasa pengiriman barang dengan peti kemas melalui laut dengan kapal Jakarta-
Pontianak-Jakarta tidak dapat dibenarkan, karena UU No. 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran tidak
mengatur mengenai kewenangan pemerintah untuk menentukan besaran tarif uang tambang;

6. Argumentasi bahwa kesepakatan bersama tarif untuk menghindari perang tarif ataupun
terjadinya persaingan yang sangat tajam (cut throat competition) tidak dapat dibenarkan. Selain
mengurangi persaingan dan meniadakan alternatif pilihan tarif baik yang akan ditawarkan oleh
penyedia jasa sesuai dengan variasi kualitas pelayanannya maupun yang akan dipilih oleh konsumen
sesuai dengan kebutuhannya, kesepakatan ini juga akan sangat merugikan industri bersangkutan
karena terkondisikannya entry bariers yang signifikan menghambat bagi pelaku usaha baru untuk
memasuki pasarbersangkutan;

7. Intervensi Pemerintah untuk menjamin kelangsungan hidup usaha jasa pelayaran nasional
seyogyanya diatur melalui kebijakan-kebijakan yang tidak bertentangan dengan undang-undang
yang berlaku.

Berdasarkan pemeriksaan termasuk aspek ekonomi dan pengecualian, Majelis Komisi memutuskan
Menyatakan Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III, dan Terlapor IV secara sah dan meyakinkan terbukti
melanggar Pasal 5 ayat 1 UU No. 5 Tahun 1999 dan Menetapkan pembatalan perjanjian yang
dituangkan dalam bentuk Kesepakatan Bersama Tarif Uang Tambang Peti Kemas Jakarta–Pontianak–
Jakarta

No. 01/SKB/PNP-TE-WBKTIL/06/2002 yang ditandatangani pada tanggal 26 Juni 2002 oleh Terlapor I,
Terlapor II, Terlapor III, dan Terlapor IV sebagai PARA PIHAK dan Saksi II yaitu Ketua Bidang Kontainer
DPP INSA sebagai PIHAK PENGAWAS dan Saksi I yaitu Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut sebagai
PIHAK FASILITATOR/REGULATOR, karena bertentangan dengan Pasal 5 ayat 1 UU No. 5 Tahun 1999.
1. KESIMPULAN

Penetapan harga (price fixing) antarpelaku usaha dilarang oleh Pasal 5 Undang-Undang No. 5
Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Penetapan
harga secara bersama-sama di kalangan pelaku usaha ini akan menyebabkan tidak berlakunya
hukum pasar tentang harga yang terbentuk dari adanya penawaran dan permintaan.

Penetapan harga dapat terjadi secara vertikal dan horizontal, dimana dianggap sebagai
hambatan perdagangan (restraint of trade) karena membawa akibat buruk terhadap persaingan
usaha (price competition). Jika penetapan harga dilakukan, kebebasan untuk menentukan harga
secara independent menjadi berkurang.

Penyebab timbulnya penetapan harga oleh pelaku usaha adalah untuk menguasai pasar
sehingga memperoleh laba yang jauh lebih tinggi dari apa yang seharusnya diperoleh atau
dihasilkan, dimana produsen hanya menetapkan satu harga untuk semua konsumen sehingga
terjadilah persaingan usaha yang tidak sehat.

KPPU sebagai Lembaga Pengawas Persaingan usaha yang mempunyai tugas untuk menjaga
kepentingan umum dan meningkatkan efisiensi ekonomi nasional sebagai salah satu upaya untuk
meningkatkan kesejahteraan rakyat, mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan
persaingan usaha yang sehat sehingga menjamin adanya kepastian kesempatan berusaha yang sama
bagi pelaku usaha besar, pelaku usaha menengah, dan pelaku usaha kecil, mencegah praktek
monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang ditimbulkan oleh pelaku usaha, terciptanya
efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan usaha, dalam hal ini akan dibahas peran KPPU pada
praktiknya untuk mengatasi penetapan harga dalam persaingan usaha yang tidak sehat.

Salah satunya adalah penyusunan pedoman pelaksanaan pasal-pasal dalam UU No 5 Tahun


1999 dengan tujuan memberikan pemahaman yang sama kepada stakeholder UU No 5 Tahun 1999.
[1] http://sekartrisakti.wordpress.com/06/08/2011

[2] http://pratiwiitiwi.blogspot.com/2013/07/15.

[3] Richard G. Lipsey dkk, Ilmu Ekonomi Edisi Ketujuh jilid 2, PT Rineka Cipta, Jakarta, 1993, Hal. 233.

[4] Arie Siswanto, Hukum Persaingan Usaha, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2002, Hal. 39.

[5] Ibid halam 40

[6] Ayudha D. Prayoga dkk, Peran Lembaga Perdilan Dalam Menangani Persaingan Usaha, Jakarta
hal. 84

[7] M. Suparmoko dkk, pokok-pokok ekonomi, BPFE-Yogyakarta,2000. Hal. 144

[8] Ibid, hal 83-87

[9] Sumber :

Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 4 Tahun 2011 Tentang Pedoman Pasal 5
(Penetapan Harga) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli Dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat

Anda mungkin juga menyukai