Laporan Praktikum Asam Sitrat
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Asam sitrat (C6H8O7) banyak digunakan dalam industri terutama industri
makanan, minuman, dan obat-obatan. Kurang lebih 60% dari total produksi
asam sitrat digunakan dalam industri makanan, dan 30% digunakan dalam
industri farmasi, sedangkan sisanya digunakan dalam industri pemacu rasa,
pengawet, pencegah rusaknya rasa dan aroma, sebagai antioksidan, pengatur pH
dan sebagai pemberi kesan rasa dingin. Dalam industri makanan dan kembang
gula, asam sitrat digunakan sebgai pemacu rasa, penginversi sukrosa, penghasil
warna gelap dan penghelat ion logam. Dalam industri farmasi asam sitrat
digunakan sebagai pelarut dan pembangkit aroma, sedangkan pada industri
kosmetik digunakan sebagai antioksidan (Ivan, 2012)
Produksi asam sitrat yang menggunakan bahan baku jeruk dan sebagainya,
sejak berkembangnya proses fermentasi dari larutan yang mengandung
karbohidrat (gula), secara berangsur-angsur mulai berkurang. Menguraikan
cara produksi asam sitrat dengan fermentasi oleh sejenis fungi, yang disebut
Citromyces dan selanjutnya dilaporkan bahwa Penicillum dan Mucor pun dapat
menghasilkan produk tersebut. Mikroba yang dapat menghasilkan asam sitrat
cukup banyak. Diantar mikroba tersebut adalahAspergillus niger, A. wentii, A.
ciavatus, Penicillum luteum, P. citrinum, Mucor priformis, Paeocilomyces
dicaricatum, Citromeaces prefferianus, Candida guillermondii,
Sacharaecopsis lipolytica, Trichoderma viride, Arthroacter paraffimeaus dan
Corynebacterium sp. Diantara mikroba tersebut yang dipakai untuk produksi
asam sitrat adalah Aspergillus niger dan A. wentii yang merupakan galur yang
paling produktif. (Fitri, 2015).
Asam sitrat biasanya diproduksi dalam bentuk kristal monohidrat
(C6H8O7.H2O), yang tak berwarna, tak berbau dan rasanya asam. Mudah larut
dalam air dingin daripada dalam air panas (Fitri, 2015).
Praktikum ini yang perlu disiapkan adalah sari tauge sebagai substrat bagi
mikroorganisme dan mencampurkan bahan bahan yaitu glukosa, KH2PO4,
NH4NO3, pepton, FeSO4, Ca(OH)2, dan starter Aspergillus niger.
Laboratorium Dasar Teknik Kimia
FTI - ITATS 1
Laporan Praktikum Asam Sitrat
1.2 Tujuan Percobaan
1. Mengetahui proses pembuatan Asam Sitrat dengan cara fermentasi
2. Mengetahui peran bakteri Aspergillus niger dalam pembuatan Asam Sitrat
Laboratorium Dasar Teknik Kimia
FTI - ITATS 2
Laporan Praktikum Asam Sitrat
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tauge
Tauge kacang hijau (Phaseolus radiatus) adalah salah satu kacang-
kacangan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Kacang hijau
tergolong leguminoceae yang merupakan tanaman berkeping dua dan kaya akan
zat gizi sebagai cadangan makanan untuk embrio selama proses
perkecambahan. Buah kacang hijau berbentuk polong bulat memanjang dengan
ukuran 6-15 cm. Berdasarkan mutunya, kacang hijau terbagi menjadi dua
macam yaitu kacang hijau biji besar dan biji kecil. Kacang hijau biji besar
digunakan untuk bubur dan tepung, sedangkan yang berbiji kecil digunakan
untuk pembuatan tauge (Astawan, 2005).
Kacang hijau tergolong sumber bahan pangan nabati yang mempunyai
beberapa kelebihan yaitu mudah didapat dan harganya murah mempunyai
kandungan antitripsin yang sangat rendah, paling mudah dicerna serta paling
kecil memberi pengaruh flatulensi . Kecambah dari kacang hijau dikenal dengan
istilah tauge. Tauge digunakan sebagai salah satu bahan sayuran yang memiliki
nilai gizi tinggi (Wijayanti dkk., 2013).
Vitamin yang dapat ditemukan dalam tauge adalah vitamin A, C, E, K dan
B6, thiamin, riboflavin, niasin, asam pantothen, folat, kolin dan β-karoten.
Mineral yang ditemukan pada tauge adalah kalsium (Ca), besi (Fe), magnesium
(Mg), fosfor (P), potasium (K), natrium (Na), seng (Zn), tembaga (Cu), mangan
(Mn) dan selenium (Se). Asam amino esensial yang terdapat di dalam tauge
meliputi triptofan, treonin, fenilalanin, metionin, lisin, leusin, isoleusin serta
valin Di dalam tauge terkandung beberapa antioksidan dan zat yang
berhubungan dengan antioksidan yaitu fitosterol, vitamin E (α-tokoferol),
fenoldan beberapa mineral (selenium, mangan, tembaga, seng dan besi)
(Astawan, 2005). Vitamin E berperan sebagai antioksidan yang dapat
melindungi asam lemak tak jenuh agar tidak teroksidasi dan juga sebagai
pemelihara keseimbangan intraseluler. Kandungan gizi yang terdapat pada
kacang hijau dan tauge per 100 gram berat kering dapat dilihat pada tabel 1.1.
Laboratorium Dasar Teknik Kimia
FTI - ITATS 3
Laporan Praktikum Asam Sitrat
Tabel 1.1 Kandungan gizi kacang hijau dan tauge per 100 gram berat kering
No. Jenis Gizi Satuan Kacang Tauge
Hijau
1. Energi G 382 354
2. Karbohidrat G 67,22 44,79
3. Protein G 27,1 38,54
4. Lemak G 1,78 12,5
5. Serat Mg 8,88 11,46
6. Kalsium Mg 263,91 1729,17
7. Fosfor Mg 377,51 770,83
8. Besi Mg 8,88 8,33
9. Natrium Mg - -
10. Kalium Mg - -
11. Karoten Μg 263,91 208,33
12. Thiamin Mg 0,54 0,94
13. Riboflavin Mg 0,18 1,56
14. Niasin Mg 1,78 11,46
15. Vitamin C Mg 11,83 52,08
( Sumber : Persagi 2009)
2.2 Glukosa
Glukosa adalah pusat dari semua metabolisme, karena merupakan bahan
energi utama untuk otak yang diperoleh melalui proses pemecahan karbohidrat
yang dikonsumsi melalui makanan dan disimpan sebagai glikogen di hati dan
otot (Marks, et. al, 2006). Glukosa adalah karbohidrat sederhana yang tidak
dapat dihidrolisis menjadi bentuk sederhana.
Manfaat glukosa adalah dapat diubah menjadi glikogen lalu disimpan dalam
hati dan otot dan dipakai jika diperlukan, juga dapat diubah menjadi lemak dan
disimpan sebagai jaringan adiposa (Murray, 1999). Selain itu gula darah akan
menghasilkan asam piruvat dan bisa digunakan menjadi energi untuk aktifitas
sel dengan bantuan adenosin triphospate.
Laboratorium Dasar Teknik Kimia
FTI - ITATS 4
Laporan Praktikum Asam Sitrat
2.3 KH2PO4 (Potassium Dihidrogen Fosfat)
KH2PO4 merupakan larutan penyangga asam (buffer asam) yang berfungsi
untuk larutan pengencer. Larutan pengencer diperlukan untuk membuar media
pertumbuhan bakteri supaya konsentrasinya tidak terlalu pekat dan
memudahkan pertumbuhan mikroorganisme yang diinginkan. KH2PO4 tidak
mempengharuhi pH sehingga baik untuk digunakan sebagai larutan pengencer.
Hal ini karena pertumbuhan bakteri sensitive terhadap perubahan pH, sehingga
diperlukan larutan pengencer yang dapat mempertahankan kondisi pH media
yang cenderung asam (<7). Kandungan kalium dan fosfat pada KH2PO4
berguna untuk memberi nutrisi sel mikroorganisme serta sebagai elemen kunci
dalam pengendalian metabolism sel, proses transport, dan dibutuhkan pada
metabolisme karbohidrat (Sutarma, 2000).
2.4 NH4NO3 (Ammonium Nitrat)
Amonium nitrat adalah suatu senyawa kimia, yang merupakan garam nitrat
dari kation amonium. Senyawa ini memiliki rumus kimia NH4NO3,
disederhanakan menjadi N2H4O3. Senyawa ini adalah padatan kristal putih dan
sangat larut dalam air. Senyawa ini utamanya digunakan dalam pertanian
sebagai pupuk kaya nitrogen. Penggunaan utama lainnya adalah sebagai
komponen campuran peledak yang digunakan dalam konstruksi pertambangan,
penggalian, dan konstruksi sipil.
2.5 Pepton
Pepton dan proteosa merupakan bahan antara peptida dan protein. Proteosa
sendiri didefinisikan sebagai kelompok turunan protein, sedangkan pepton
adalah protein dari jaringan hewan atau tumbuhan yang telah mengalami proses
hidrolisis atau telah mengalami pemutusan ikatan menjadi asam amino dan
peptida sebagai sumber nitrogen bagi mikroorganisme. Sifat pepton antara lain
adalah larut dalam air, tidak terkoagulasi atau tahan terhadap panas, tetapi dapat
diendapkan dengan amonium sulfat dan seng sulfat, karenanya pepton
digunakan sebagai nutrisi media dalam bakteriologi (Peterson dan Johnson,
1978).
Pepton didefinisikan sebagai hidrolisat protein yang larut air dan tidak
terkoagulasi dalam panas, serta memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi
Laboratorium Dasar Teknik Kimia
FTI - ITATS 5
Laporan Praktikum Asam Sitrat
dibandingkan fish silage dan fish meal. Harga pepton komersial dapat mencapai
US $128.97 (Rp 1 553 830) untuk 500 gram. Media pertumbuhan ini merupakan
bagian penting dalam produksi mikrobial sel dan bioproduk dari industri
fermentasi. Pepton dapat dihasilkan dari proses hidolisis asam ataupun
enzimatis. Akan tetapi proses hidrolisis enzimatis lebih menguntungkan karena
asam amino yang dihasilkan tidak akan rusak seperti jika hidrolisis dilakukan
menggunakan asam.
2.6 FeSO4 (Besi II Sulfat)
Besi(II) sulfat (ferro sulfat) ialah senyawa kimia dengan rumus FeSO4.
Besi(II) sulfat digunakan secara medis untuk mengobati kekurangan zat besi,
dan juga untuk aplikasi industri. Terkenal sejak zaman dahulu kala sebagai
copperas dan sebagai vitriol hijau, heptahidrat biru-hijau adalah bentuk paling
umum dari bahan ini. Semua besi sulfat larut dalam air yang menghasilkan
kompleks aquo yang sama [Fe(H2O)6]2+, yang memiliki geometri molekul
oktahedral dan bersifat paramagnetik. Nama lainnya adalah Ferro sulfat, vitriol
hijau, besi vitriol, copperas, melanterite, dan szomolnokite (Rahmania, 2011).
Bentuk fisik dari ferro sulfat yaitu berbentu Kristal dengan warna biru
kehijauan atau putih, tidak berbau, mempunyai berat molekul 151,908 gr/mol.
Dan densitas nya bernilai 2,84 gr/cm3 mempunyai nilai titik leleh yaitu 70 °C
(dehidrasi dari heptahidrat) Pada suhu 90 °C, heptahidrat kehilangan air untuk
membentuk monohidrat tidak berwarna (Rahmania, 2011).
2.7 Ca(OH)2 (Kalsium Hidroksida)
Kalsium hidroksida adalah senyawa kimia dengan rumus kimia Ca(OH)2.
Kalsium hidrokida dapat berupa kristal tak berwarna atau bubuk putih. Kalsium
hidroksida dihasilkan melalui reaksi kalsium oksida (CaO) dengan air.
Senyawa ini dihasilkan dalam bentuk endapan melalui
pencampuran larutan kalsium klorida(CaCl2) dengan larutan natrium
hidroksida (NaOH).
Larutan Ca(OH)2 disebut air kapur dan merupakan basa dengan kekuatan
sedang. Larutan tersebut bereaksi hebat dengan berbagai asam, dan bereaksi
dengan banyak logam dengan adanya air. Larutan tersebut menjadi keruh bila
dilewatkan karbon dioksida, karena mengendapnya kalsium karbonat
Laboratorium Dasar Teknik Kimia
FTI - ITATS 6
Laporan Praktikum Asam Sitrat
2.8 Starter Aspergillus Niger
Banyak jenis mikroba yang dapat digunakan dalam pembuatan asam sitrat,
diantaranya A. niger, A. wentii, A. ciavatus, Penicillum luteum. Diantara
semuanya, A. niger merupakan galur yang paling produktif. A. niger termasuk
salah satu jenis kapang. Berbeda dengan bakteri dan khamir, kapang adalah
multiseluler, terdiri dari banyak sel yang bergabung menjadi satu.Melalui
mikroskop dapat dilihat bahwa kapang terdiri dari benang yang disebut hifa.
Kumpulan dari hifa disebut miselium. Kapang tumbuh dengan cara
memperpanjang hifa pada ujungnya. Kapang dapat berwarna hitam, putih atau
lainnya. Secara biokimia kapang bersifat aktif karena merupakan organisme
saprofit. Organisme ini dapat menguraikan bahan-bahan organik kompleks
menjadi bahan yang lebih sederhana. (Hidayat, 2009).
Aspergillus niger penting pada produksi asam sitrat yang banyak digunakan
pada berbagai makanan dan minuman ataupun sebagai pengawet dan peningkat
citarasa. Asam sitrat harus dimurnikan dari substrat fermentasi sehingga
keterlibatan jamur tidak lagi nampak. A. niger juga dapat mengkontaminasi
makanan misalnya pada roti tawar, pada jagung yang disimpan dan sebagainya
(Hidayat, 2009).
Aspergillus sering digunakan dalam fermentasi makanan. Kelompok
Aspergillus wenti, Aspergillus oryzae termasuk spesies yang penting dalam
fermentasi beberapa makanan tradisional dan untuk memproduksi enzim.
Aspergillus oryzae digunakan dalam fermentasi tahap pertama dalam
pembuatan kecap dan tauco. Jenis lain adalah Aspergillus niger, yang
digunakan dalam produksi asam sitrat, asam glukonat dan enzim. Namun,
beberapa Aspergillus juga sering menyebabkan kerusakan makanan, misalnya
Aspergillus repens. Jamur ini dapat tumbuh baik pada substrat dengan
konsentrasi gula dan garam tinggi (Waluyo, 2004)
Laboratorium Dasar Teknik Kimia
FTI - ITATS 7
Laporan Praktikum Asam Sitrat
BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat :
Gelas Beaker : 1 buah
Erlenmayer : 1 buah
Pengaduk : 1 buah
Pemanas : 1 buah
Kertas saring : 1 buah
Plastic wrap : 1 buah
Corong : 1 buah
Autoclave : 1 buah
Neraca analitik : 1 buah
pH universal : 1 buah
Kapas : 3 buah
3.1.2 Bahan :
Tauge : 10 gram
Glukosa : 5 gram
KH2PO4 : 0,1 gram
NH4NO3 : 0,5 gram
Pepton : 0,3 gram
FeSO4 : 0,001 gram
Ca(OH)2 : 0,1 gram
Starter Aspergillus niger : 5 mL
Laboratorium Dasar Teknik Kimia
FTI - ITATS 8
Laporan Praktikum Asam Sitrat
3.2 Skema Percobaan
3.2.1 Peremajaan Jamur
Menimbang 2 gram glukosa 1,5 – 2 gram agar.
Menimbang toge sebanyak 10 gram dimasak dalam 100 mL
air hingga mendidih. Kemudian ditambah dengan glukosa,
lalu tuang ke tabung reaksi.
Menutup tabung reaksi dengan kapas dan plastic wrap, lalu
disterilisasi dengan autoclave selama 15-20 menit.
Setelah itu miringkan tabung dan didiamkan hingga memadat.
Menginokulasikan biakan murni Aspergillus niger pada
media agar miring dan diinkubasikan selama 48 jam.
Gambar 3.1 Skema Peremajaan jamur
Laboratorium Dasar Teknik Kimia
FTI - ITATS 9
Laporan Praktikum Asam Sitrat
3.2.2 Pembuatan Starter
Membuat ekstrak toge dengan 10 gram toge dimasak dengan
100 mL air.
Menimbang 5 gram glukosa, 0,1 gram KH2PO4, 0,5 NH4NO3,
0,3 gram Pepton, 0,001 gram FeSO4, lalu dilarutkan dalam
ekstrak toge dan diusahakan pH-nya 6.
Menuangkan campuran larutan ke dalam erlenmayer lalu
ditutup kapas dan plastic wrap, lalu disterilkan dengan
autoclave selama 15-20 menit.
Setelah steril dan dingin, inokulasikan jamur Aspergillus
nigerke dalam media.
Menginkubasinya di suhu ruang dan dishaker selama 24 jam.
Gambar 3.2 Skema Pembuatan Starter.
Laboratorium Dasar Teknik Kimia
FTI - ITATS 10
Laporan Praktikum Asam Sitrat
3.2.3 Pembuatan Asam Sitrat
Membuat ekstrak toge dengan menggunakan 10 gram toge
dimasak dalam 100 mL air hingga mendidih.
Menimbang 5 gram glukosa, 0,1 gram KH2PO4, 0,5 NH4NO3, 0,3
gram Pepton, 0,001 gram FeSO4, lalu dilarutkan dalam ekstrak
toge dan diusahakan pH-nya 6.
Menuangkan campuran larutan ke dalam erlenmayer lalu ditutup
kapas dan plastic wrap, lalu disterilisasi selama 15-20 menit.
Setelah steril dan dingin, inokulasikan starter Aspergillus niger
sebanyak 5 mL ke dalam media.
Menginkubasinya di suhu ruang dan di shaker selama 144 jam.
Menyaring hasil fermentasi dan menambahkan Ca(OH)2 hingga
pH 5,8.
Mendiamkan larutan hingga terbentuk endapan berwarna putih.
Gambar 3.3 Skema Pembuatan Asam Sitrat.
Laboratorium Dasar Teknik Kimia
FTI - ITATS 11
Laporan Praktikum Asam Sitrat
3.3 Gambar Alat :
Gambar 3.4 Beaker Glass Gambar 3.5 Erlenmayer
Gambar 3.6 Pengaduk Gambar 3.7
Pemanas
Gambar 3.8 Kertas Saring Gambar 3.9 Corong
Laboratorium Dasar Teknik Kimia
FTI - ITATS 12
Laporan Praktikum Asam Sitrat
Gambar 3.10 Autoclave Gambar 3.11 Neraca
Analitik
Gambar 3.12 pH universal Gambar 3.13 Kapas
Laboratorium Dasar Teknik Kimia
FTI - ITATS 13
Laporan Praktikum Asam Sitrat
BAB IV
DATA HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Hasil Percobaan
No. Parameter Hasil pengamatan
1. Warna Putih keruh
2. Berat 0,2
3. Tekstur Halus
4.2 Data Hasil Perhitungan
No. Data Hasil perhitungan
1. Kertas Saring 1,39 gram
2. Kertas saring + asam 1,59 gram
sitrat
3. Asam sitrat 0,2 gram
4.3 Pembahasan
Pada percobaan pembuatan asam sitrat kali ini menggunakan ekstrak tauge
sebagai medianya. Proses pembuatan ekstrak tauge yaitu dengan merebus tauge
sebanyak 10 gram dengan air sebanyak 100 mL sampai mendidih. Pada proses
pembuatan media ini harus diperhatikan perbandingan tauge yang akan direbus
dengan air yang akan dicampurkan, karena salah dalam penimbangan dan
pencampuran akan mengakibatkan proses pembuatan asam sitrat tidak akan
berjalan dengan baik. Media ekstrak tauge sekaligus menjadi substrat bagi
mikroorganisme, jika proses pembuatan medianya salah, secara otomatis
mikroorganisme akan kekurangan substrat dan mengakibatkan perkembangan
mikroorganisme tidak berlangsung dengan baik.
Setelah proses pembuatan media selesai, selanjutnya dilakukan proses
penimbangan 5 gram glukosa, 0,1 gram KH2PO4, 0,5 gram NH4NO3, 0,3 gram
Pepton, dan yang terakhir adalah 0,001 gram FeSO4. Setelah proses
penimbangan bahan-bahan tersebut, kemudian bahan tersebut dicampurkan
dengan media yang sudah dibuat. Penambahan bahan-bahan tersebut bertujuan
untuk memberikan nutrisi kepada mikroorganisme yaitu berupa unsur C, N, P,
Laboratorium Dasar Teknik Kimia
FTI - ITATS 14
Laporan Praktikum Asam Sitrat
serta zat besi. Tujuan dari pemberian nutrisi tersebut yaitu untuk merangsang
pertumbuhan mikroorganisme berjalan secara optimal.
Medium glukosa padat mempunyai manfaat sebagai sumber karbon.
Medium ekstrak taoge memiliki manfaat sebagai penyedia sumber nutrisi
yang mengadung nitrogen. Nitrogen mempengaruhi pembentukan asam sitrat
karena nitrogen tidak hanya penting untuk laju metabolit dalam sel tetapi juga
bagi pembentukan protein sel. Pada saat tauge dipanaskan, terjadihidrolisis
karbohidrat, protein, dan lemak menjadi molekul yang lebih sederhana sehingga
mudah dicerna. Kemudian medium NH4NO3 memiliki manfaat sebagai
penyedia sumber nitrogen. Sedangkan medium KH2PO4 memiliki manfaat
sebagai penyedia sumber fosfat.
Setelah pencampuran bahan-bahan sudah selesai, proses selanjutnya adalah
proses sterilisasi. Proses sterilisasi ini menggunakan autoclave. Proses ini
membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu sekitar 15 menit. Proses yang lama
tersebut disebabkan proses pemanasan autoclave sampai suhu yang sudah
ditetapkan yaitu 1210C dan tekanan 15 psi supaya dapat menghilangkan bakteri
yang bersifat patogen. Sebelum memasukkan erlenmeyer yang akan disterilisasi
ke dalam autoclave, terlebuh dahulu menutup lubang erlenmeyer dengan kapas
dan plastic wrap. Tujuan dari penutupan kapas dan plastic wrap adalah untuk
menghindari media terkontaminasi oleh bakteri melalui udara.
Setelah proses sterilisasi selesai, selanjutnya adalah proses inokulasi
mikroorganisme sebanyak 5 mL. Mikroorganisme yang digunakan pada
percobaan pembuatan asam sitrat kali ini adalah Aspergillus niger. Proses
inokulasi dilakukan dengan hati-hati dan teliti. Penambahan Aspergillus niger
yang terlalu banyak atau terlalu sedikit akan menyebabkan proses pembuatan
asam sitrat tidak berlangsung dengan optimal.
Reaksi dari pembuatan asam sitrat yaitu karbohidrat direaksikan dengan
H2O yang menghasilkan sukrosa. Hasil sukrosa direaksikan dengan H2O
menjadi glukosa dan fruktosa. Hasil dari glukosa direaksikan dengan O2
menghasilkan asam sitrat dan H2O. Pada temperatur kamar, asam sitrat
berbentuk serbuk kristal berwarna putih, monohidrat yang mengandung satu
Laboratorium Dasar Teknik Kimia
FTI - ITATS 15
Laporan Praktikum Asam Sitrat
molekul air untuk setiap molekul asam sitrat. Keasaman asam sitrat didapatkan
dari tiga gugus COOH yang dapat melepas proton dalam larutan. Jika hal ini
terjadi, ion yang dihasilkan adalah ion sitrat. Sitrat sangat baik digunakan
dalam larutan penyangga untuk mengendalikan pH larutan. Ion sitrat dapat
bereaksi dengan banyak ion logam membentuk garam sitrat. Selain itu, sitrat
dapat mengikat ion-ion logam dengan pengkelatan, sehingga digunakan
sebagai pengawet dan penghilang kesadahan air.
Pada temperatur kamar, asam sitrat berbentuk serbuk kristal berwarna
putih. Serbuk kristal tersebut dapat berupa bentuk anhydrous (bebas air), atau
bentuk monohidrat yang mengandung satu molekul air untuk setiap molekul
asam sitrat. Bentuk anhydrous asam sitrat mengkristal dalam air panas,
sedangkan bentuk monohidrat didapatkan dari kristalisasi asam sitrat dalam air
dingin. Bentuk monohidrat tersebut dapat diubah menjadi
bentuk anhydrous dengan pemanasan di atas 74 °C. Secara kimia, asam sitrat
bersifat seperti asam karboksilat lainnya. Jika dipanaskan di atas 175 °C, asam
sitrat terurai dengan melepaskan karbon dioksida dan air.
Laboratorium Dasar Teknik Kimia
FTI - ITATS 16
Laporan Praktikum Asam Sitrat
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum yang telah kami lakukan yaitu :
1. Dalam proses fermentasi pembuatan asam sitrat bakteri yang digunakan
adalah Aspergillus Niger dengan media tauge dan medium glukosa,
KH2PO4, NH4NO3, pepton, FeSO4, Ca(OH)2. Penambahan bahan-bahan
tersebut bertujuan untuk memberikan nutrisi kepada mikroorganisme yaitu
berupa unsur C, N, P, serta zat besi. Tujuan dari pemberian nutrisi tersebut
yaitu untuk merangsang pertumbuhan mikroorganisme berjalan secara
optimal.
2. Asam sitrat dihasilkan melalui fermentasi, menggunakan bakteri
Aspergillus niger Penggunaan utama dari Aspergillus niger adalah untuk
produksi enzim dan asam organik dengan cara fermentasi. Aspergillus
niger juga digunakan untuk menghasilkan asam organik seperti asam sitrat
dan asam glukonat. pada kondisi aerob bakteri ini mengubah gula menjadi
asam sitrat melalui pengubahan pada TCA (Trichloroacetic Acid). TCA
adalah komponen siklus dari asam sitrat.
5.2 Saran
Saran pada saat pembuatan Asam Sitrat harus memperhatikan hal-hal sebagai
berikut :
1. Dalam proses fermentasi pembuatan asam sitrat harus dilakukan pada
laboratorium steril dan khusus yang terpisah dari laboratorium lain. Hal ini
dimungkinkan untuk menghindari terjadinya kontaminasi akibat
Aspergiilus Niger dan hal-hal yang berpengaruh dalam fermentasi agar
menghasilkan asam sitrat yang optimal.
2. Hati- hati saat mengambil bakteri Aspergillus Niger, karena jika terlalu
dekat saat membuka bakteri Aspergillus Niger akan meletus.
Laboratorium Dasar Teknik Kimia
FTI - ITATS 17
Laporan Praktikum Asam Sitrat
DAFTAR PUSTAKA
Astawan, M. 2005. Membuat Mie dan Bihun. Yogyakarta: Penebar Swadaya
Fitri, Putri Syawal. 2015. Makalah Kimia Asam Sitrat. Diambil dari
https://www.scribd.com/document/249685296/Makalah-Kimia-Asam-
Sitrat. (diakses pada 27 Mei 2019 pukul 23:47).
Hidayat, Nur. 2009. Teknik Industri Pertanian. Diambil dari :
http://nurhidayat.lecture.ub.ac.id/2009/02/28/aspergillus-dan-
makanan/comment- page-1/. (Diakses pada 24 Mei 2019 04:35).
Ivan, Alexander. 2012. Asam Sitrat ACC. Diambil dari :
https://www.academia.edu/28427208/ASAM_SITRAT_ACC. (Diakses
pada 27 Mei 2019 pukul 23:41).
Johnson, A.H. dan M.S. Peterson. 1974. Encyclopedia of Food Technology, Vol. II.
The AVI Publisher Inc., Westport, Connecticut.
Marks. et al., 2000. Biokima Kedokteran Dasar. Jakarta: Penerbit EGC.
Murray, Robert K., dkk. 1999. Biokimia Harper. Jakarta: Penerbit EGC. Edisi
24.
PERSAGI, 2009. Labu kuning, Daftar Komposisi Bahan Makanan. Jakarta :
DKBM
Rahmania, Nudia. 2011. Amonium nitrat. Diambil dari :
https://www.scribd.com/doc/259949557/Amonium-Nitrat. (diakses pada
24 Mei 2019 03:19).
Sutarma. 2000. Kultur Media Bakteri. Temu Teknis Fungsional non Peneliti. 52-
57.
Waluyo, Lud. 2004. Mikrobiologi Umum. Universitas Muhammadiyah Malang :
Press.
Wijayanti, dkk. 2013. Bahasa Indonesia dan penulisan penyajian karya ilmiah.
Depok.: Penerbit PT. Rajagrafindo.
Laboratorium Dasar Teknik Kimia
FTI - ITATS 18
Laporan Praktikum Asam Sitrat
APPENDIK
1. Perhitungan massa Asam Sitrat :
Massa kertas saring : 1,39 gram
Massa kertas saring dan asam sitrat : 1,59 gram
Perhitungan :
Massa asam sitrat = Massa kertas saring dan asam sitrat – Massa kertas
saring
= 1,59 gram – 1,39 gram
= 0,2 gram
Laboratorium Dasar Teknik Kimia
FTI - ITATS 19