Anda di halaman 1dari 5

NASKAH PSIKODRAMA

“positive thinking not overthinking”

Narrator : eka septiani

Pemeran :

1. Binta : gadis pendiam dan sulit memulai pembicaraan


2. Difa : cuek tapi perhatian
3. Kamila : cerewet dan tidak berpikir panjang
4. Azel : baik hati dan perhatian
5. Fera : cerewet dan sok cantik
6. Ibu Binta : lemah lembut dan penuh perhatian
7. Farel : gamers tapi pengertian
8. Gery : laki-laki modis dan sedikit narsis

Sinopsis :

Binta adalah siswi kelas 11 di SMA Tumbuh, Binta harus mengikuti ayahnya yang pindah tugas
di kota tersebut. Binta terkenal pendiam dan tertutup. Sampai suatu ketika Binta tidak bersekolah
selama beberapa hari, kemudian teman-temannya mendatangi rumahnya dan diketahui bahwa
Binta mengalami trauma.

Dialog :

LATAR : DI SEKOLAH/ KELAS

Suatu hari di kelas, Kamila menghampiri Binta yang sedang membereskan buku-bukunya diatas
meja dan bersiap untuk pulang.

Kamila : “hai Bi, habis ini ada acara nggak ? main yuk.”

Gery : “hallo Binta, main sama aku aja deh. Kamila cerewet kamu bakal pusing dengerin
dia.”

Kamila : “ayolah Bi, jangan bilang mau belajar aja dirumah. Sekali-kali main lah.”

Binta : “maaf, aku ngga bisa. Duluan ya.” (Binta bergegas pergi meninggalkan Gery dan
Kamila)

Fera : “ih apasih, sombong. Ga jelas, aneh.”

Difa : “ssssttt…mulai deh.”


Farel : “ffff…eee..rrr…a mungkin dia lagi capek.” (sambil main gadget)

Beberapa hari kemudian, timbul pertanyaan di hati teman-teman Binta karena sudah 3 hari dirinya
tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Sepulang sekolah, Azel mengajak teman-temannya
mengunjungi rumah Binta untuk menanyakan mengapa dirinya tidak masuk sekolah. Namun,
sesampainya dirumah Binta, azel dan teman-temannya hanya bisa menemui ibunya sedangkan
Binta masih mengurung diri di kamar.

Azel : “guys, Binta hari ini ngga masuk juga ?”

Farel : “engga zel, udah 3 hari ini katanya tanpa keterangan.”

Azel : “wah kira-kira dia kenapa ya ?”

Kamila : “udah samperin rumahnya aja, lagian aku penasaran sebenarnya dia kenapa ?”

Fera : “halah. Dia males ketemu kamu mil, kamu galak orangnya.” (hahahahah)

Difa : “apa sih fer. Bener mil, kita coba dateng ke rumahnya aja.”

Gery : “aku ikut ya, siapa tau dia butuh aku.”

Fera : “bodoo amat ger.”

Farel : “sori guys, aku ngga bisa ikut. Nanti kabarin di grup aja ya.”

Fera : “aku juga, aku harus facial dulu nih. Maaf ya.”

(azel,kamila) : “oke deh.”

Sepulang sekolah azel, difa, kamila, dan gery mendatangi rumah binta. Namun, yang dapat ditemui
hanya ibu Binta sedangkan Binta sendiri tidak bersedia menemui teman-temannya.

(tok..tok...tok)

Gery : “Assalamualaikum..”(sambil menyisir rambut)

Difa : “ger, bisa ngga udahan nyisirnya?”

Ibu Binta : “walaikumsalam. Oh, ini teman-teman Binta ? ayo silahkan masuk anak-anak.”

Azel : “sebelumnya mohon maaf mengganggu waktu ibu, maksud kedatangan kami ke
rumah Binta ingin mencari tahu, sudah 3 hari ini Binta tidak masuk sekolah tanpa keterangan.
Kira-kira kenapa ya Bu ?

Ibu Binta : “sebenarnya ibu juga bingung dan dengan cara apalagi ibu membujuk Binta agar
sekolah.”
Kamila : “iya bu, jujur kami bingung. Binta sangat pendiam dan ketika saya ajak bicara
selalu menghindar.”

Difa : “iya betul, sejak Binta pindah ke sekolah kami jarang sekali melihat dia main
dengan teman malah sering sendirian.”

Ibu Binta : “dulu Binta pernah mengalami trauma dengan teman sehingga menjadi seperti ini.
Kemarin ibu sempat bertanya tetapi dia bilang lagi malas sekolah.

Azel : “oh seperti itu bu, sayang sekali nanti Binta ketinggalan pelajaran.”

Ibu Binta : “Semoga besok Binta bersedia sekolah lagi ya, nanti ibu akan bujuk lagi.”

Gery : “terima kasih bu. Insyaallah besok kalau Binta masuk sekolah, kami akan menjadi
teman baik untuknya.

Azel, Kamila : “iya betul yang dikatakan gery.”

Difa : “kalau begitu kami mohon pamit bu.” Assalamualaikum

Ibu binta : “terima kasih anak-anak. Wassalamuaikum”

Keesokan harinya, Binta masuk sekolah. Hatinya terketuk setelah kemarin tak sengaja dirinya
mendengar percakapan teman-temannya dengan ibu Binta dan dirinya bermaksud untuk
menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya.

(setelah pulang sekolah)

Azel : “hai Bi, apa kabar ?” (menghampiri Binta)

Binta : “hai zel, baik kok. Oiya teman-teman Binta boleh ngomong ?”

Farel : (seketika menaruh gadgetnya) “boleh, kenapa Bi ?”

Fera : (seketika meletakan bedak dan lipstik) “boleh banget dong Bi.”

Teman-teman duduk melingkar mendengarkan Binta bercerita.

Binta : “tapi aku sebenarnya takut.”

Kamila : “kamu ngga perlu takut, kita semua temen kamu kok.”

Difa : “iya, aku siap denger cerita kamu.”

Binta : (dengan terbata ia menceritakan) “dulu aku punya sahabat sangat dekat,
sahabatku ini suka dengan seorang laki-laki. Tapi laki-laki itu deketin aku, dan terjadilah salah
paham. begitu sahabatku tau dia berubah menjauhiku, mengataiku dengan kalimat yang tidak
pantas. Bahkan teman-teman yang lain ikut memusuhiku.”

Kamila : “oh begitu, terus apa yang kamu rasakan sekarang.”

Binta : “aku berpikir teman-teman akan terus mengataiku. Aku takut membuat kesalahan
sama kalian. Omongan yang ngga enak menjadi kepikiran terus menerus buat aku.”

Fera : “maafin aku Bi, kalau kemarin omonganku menyakitimu.”

Azel : “jangan khawatir kita ngga seperti itu kok, kita peduli sama kamu.”

Difa : “iya Bi, kamu jangan terlalu berpikir berlebihan, kita bener-bener pengen jadi
teman kamu.”

Gery : “bener yang dikatakan azel dan difa, kamu harus melupakan kejadian itu, agar
kamu tidak terjebak dengan masalah ini .”

Farel : “buat Fera juga nih, besok disaring lagi ya, kita ngga tau sebenernya apa yang
terjadi sama seseorang jadi jangan gampang menyimpulkan.”

Fera : “iya. Maaf ya. Kemarin aku cuma kesel sama Binta, kita pengen kenal lebih deket
tapi kamunya gitu (dengan nada bersalah)

Azel : “oh iya satu lagi, ketika kita terlalu overthinking dengan seseorang akan berakibat
buruk dengan diri sendiri dan menghambat kamu dalam melakukan apapun.”

Binta : “terima kasih teman-teman, mulai hari ini aku akan belajar untuk berpikir positif
dan berhenti berpikir berlebihan. Terima kasih sudah bersedia menjadi teman Binta”

Teman-teman : “goooooddd”

Akhirnya Binta menyadari bahwa apa yang dia pikirkan selama ini tentang teman-temannya salah,
perlahan-lahan Binta mulai terbuka dan bersedia menjalin pertemanan. Binta memahami perasaan
yang membuatnya khawatir hanya sebatas pikiran yang terlalu berlebihan, dan pikiran tersebut
hanya akan menghambat dia dalam melakukan apapun.

TAMAT