Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH FARMAKOGNOSI

“TERPENOID PACLITAXEL”

Disusun oleh:

Fildzah Nabilla Putri 10060318002

Ridwan Wijaya 10060318008

Rodhiatul Jurdillah 10060318027

Rafanisa Apriansah 10060318037

Atrie Cahya Ramdhani 10060318041

Azyyati Adzhani 10060318043

Fatia Asy-syahidah Al-Haq 10060318048

Tanggal Penyerahan: 31 Desember 2019


PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

2019 M/1441 H

KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha
Penyanyang. Kami panjatkan puji syukur kehadirat-Nya yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, serta inayah-Nya kepada kami sehingga kami bisa
menyelesaikan makalah farmakognosi tentang terpenoid golongan paclitaxel.
Makalah ini sudah kami susun dengan maksimal dan mendapat bantuan
dari berbagai pihak sehingga bisa memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk
itu kami menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi
dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari segala hal tersebut, Kami sadar sepenuhnya bahwa masih
ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh
karenanya kami dengan lapang dada menerima segala saran dan kritik dari
pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah farmakognosi ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini bisa memberikan manfaat
maupun inspirasi untuk pembaca.

Bandung, 31 Desember 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... ii

DAFTAR ISI ................................................................................................... iii

BAB 1. ISI ....................................................................................................... 1

1.1. Karakteristik Umum ........................................................................ 1


1.1.1. Sifat Fisika ............................................................................ 1
1.1.2. Sifat Kimia ............................................................................ 2
1.1.3. Aktivitas Farmakologi ............................................................ 2
1.2. Karakteristik Paclitaxel.................................................................... 2
1.2.1. Sifat Fisika Paclitaxel............................................................ 2
1.2.2. Sifat Kimia Paclitaxel ........................................................... 2
1.2.3. Aktivitas Farmakognosi ........................................................ 3
1.2.4. Pemanfaatan Dalam Bidang Farmasi .................................... 3
1.3. Sumber Bahan Alam ........................................................................ 3

iii
1.3.1. Taxus sumatrana (Miq) de Laubenfels .................................. 4
1.3.2. Taxus canadansis Marsh ........................................................ 5
1.3.3. Taxus brefivolia ..................................................................... 7

BAB 2. PENUTUP.......................................................................................... 10

DAFTARPUSTAKA ...................................................................................... 11

iv
1

BAB 1

ISI

1.1. Karakteristik Umum


Terpenoid merupakan derivat dehidrogenasi dan oksigenasi dari senyawa
terpen. Terpen merupakan suatu golongan hidrokarbon yang banyak dihasilkan
oleh tumbuhan dan sebagian kelompok hewan. Rumus molekul terpen adalah
CH2=C(CH3)-CH=CH2 (Radji M, 2005).
Terpenoid disebut juga dengan isoprenoid. Hal ini disebabkan karena
kerangka karbonnya sama seperti senyawa isopren. Secara struktur kimia
terpenoid merupakan penggabungan dari unit isoprena, dapat berupa rantai
terbuka atau siklik, dapat mengandung ikatan rangkap, gugus hidroksil,
karbonil atau gugus fungsi lainnya (Radji M, 2005).
1.1.1. Sifat Fisika
Senyawa terpenoid memiliki sifat fisika, yaitu:
1). Dalam keadaan segar merupakan cairan tidak berwarna, tetapi
jika teroksidasi warna akan berubah menjadi gelap
2). Berbentuk kristal.
3). Titik leleh tinggi.

4). Kebanyakan optik aktif.

1.1.2. Sifat Kimia


Senyawa terpenoid juga memilikisifat kimia, yaitu:
1). Senyawa tidak jenuh (rantai terbuka ataupun siklik)
2). Isoprenoid kebanyakan bentuknya khiral dan terjadi dalam dua
bentuk enantiomer.
1.1.3. Aktivitas Farmakologi
Aktivitas farmakologi dari terpenoid merupakan senyawa yang
kerangka karbonnya berasal dari 6 satuan isoprena dan secara
biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 siklik yaitu skualena
(Hortwitz SB, 1994).
2

1.2. Karakteristik Paclitaxel


Berdasarkan unit isoprene, terpenoid dapat dikelompokkan sebagai
berikut, monoterpen, seskuiterpenoid, diterpenoid, tritepenoid, tetraterpenoid
dan politerpenoid. Dari tipe terpenoid di atas, makalah ini membahas mengenai
lebih lanjut mengenai diterpen dengan golongan terpilih yaitu Paclitaxel
(Friedal, 2005).
Paclitaxel merupakan senyawa yang didapatkan dalam tanaman Taxus
yang mempunyai 20 atom karbon dan dibangun oleh 4 unit isoprene. Senyawa
ini mempunyai bioaktifitas yang cukup luas yaitu sebagai hormon
pertumbuhan tanaman, podolakton inhibitor pertumbuhan tanaman, antifeedant
serangga, inhibitor tumor, senyawa pemanis, anti fouling dan anti karsinogen.
Senyawa diterpenoid dapat adiklik, bisiklik, trisiklik, tetrasiklik dan tatanama
yang digunakan lebih banyak adalah nama trivial (Friedal, 2005).
1.2.1. Sifat Fisika Pacliaxel
Sifat fisika dari Paclitaxel (Taxol) mempunyai titik lebur antara
198oC - 203oC.
1.2.2. Sifat Kimia Paclitaxel
Sifat kimia dari Paclitaxel (Taxol), yaitu non polar, tidak larut
dalam air. Berikut struktur kimia dari Paclitaxel (Taxol):

(Gambar struktur Taxol)


3

1.2.3. Aktivitas Farmakologi


Taxol bekerja sebagai suatu antimitotik dengan mengikat
mikrotubul, membawanya masuk kedalam melewati tubulin dan
menstabilkannya untuk mencegah depolimerisasi selama divisi sel.
Resultan keseimbangan tubulin-microtubul abnormal memecah spindle
mitotic apparatus yang normal dan memblok pembelahan sel kanker.
Taxol mempunyai mekanisme yang berbeda dari antimitotik lain seperti
vincristine atau podophyllotoxin, mencegah polimerisasi dari tubulin ke
mikrotubul. Taxol telah diketahui untuk mengikat target kedua, protein
secara normal memblok proses apoptosis (sel mati). Mencegah protein
ini melakukan proses apoptosis (Garyali, 2013).
1.2.4. Pemanfaatan Dalam Bidang Farmasi
Paclitaxel dalam bidang farmasi adalah obat yang digunakan untuk
mengobati kanker ovarium, payudara, paru-paru, pancreas dan kanker
lainnya (Strobel GA, et al, 1996). Mekanisme kerja Paclitaxel
melibatkan gangguan penghancuran normal mikrotubulus selama
pembelahan sel (Hortwitz SB, 1994).
Paclitaxel termasuk dalam daftar obat esensial organisasi kesehatan
dunia, daftar obat-obatan paling penting yang dibutuhkan dalam system
kesehatan dasar (Garyali, 2013).
Efek samping dari obat ini diantaranya: rambut rontok, nyeri otot
dan sendi, dan diare.hal ini mengakibatkan risiko yang lebih besar dari
infeksi yang muncul yang dapat berpotensi serius (Hidayat, 2013).
Paclitaxel dipasarkan dengan nama dagang Taxol dan hak pemasaran
Bristol-Myers Squibb (BMS) mulai tahun 1991.
1.3. Sumber Bahan Alam

Taxus adalah tanaman yang diperkirakan hidup sejak 200 juta tahun yang
lalu. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya fosil Paleotaxus rediviva yang
strukturnya mirip dengan Taxus seperti jenis yang sekarang ada (Waibel,
2010). Genus Taxus merupakan kelompok Gymnospermae yang tidak
4

memiliki saluran resin. Taxus masuk ke dalam famili Taxaceae dan dalam
subkelas Taxidae (Sitte et al., 1991). Berikut jenis-jenis dari tanaman Taxus:

1.3.1. Taxus sumatrana (Miq) de Laubenfels

Klasifikasi

Divisi :Coniferophyta

Kelas :Pinopsidae

Bangsa :Taxales

Suku :Taxaceae

Marga :Taxus

Jenis :Taxus sumatrana (Miquel) de Laubenfels

Ciri Morfologi Umum

Habitus dari Taxus sumatrana berbentuk semak sampai pohon


dengan tinggi dapat mencapai 30 m. Daun berbentuk elips-lanset,
berwarna hijau zaitun dengan ukuran panjang 1,8–3,0 cm, lebar 2,0–2,5
mm, dan tebal 200–275 µm. Warna kulit batang merah keabu-abuan
dengan tebal kulit 0,5–0,8 cm (Cragg G.M, and Newman, 2005).

Bunga kerucut jantan biasanya tidak terlihat, sedangkan bunga


kerucut betina berbentuk subsilindris dengan panjang 2 mm dan lebar 1
mm. Buah berbentuk kerucut kaku dengan panjang 4 mm dan lebar 3
mm, mengerucut dari tengah ke puncak. Sampai dengan saat ini, tidak
banyak informasi yang dapat diperoleh mengenai T. sumatrana yang
tumbuh di Indonesia, baik dari segi ekologi maupun silvikultur (Cragg
G.M, and Newman, 2005).
5

Penyebaran/Habitat Tumbuhan

Taxus sumatrana atau cemara Sumatra tumbuh di hutan subtropis


lembab dan hutan hujan pegunungan pada ketinggian 1.400–2.800 m
dpl (Spjut, 2007).

Jenis ini tumbuh alami sebagai subkanopi di hutan pegunungan


pada bagian punggung bukit, lereng-lereng yang terjal dan tepian jurang
pada ketinggian 1.700–2.200 m dpl. Berdasarkan kondisi tempat
tumbuh alaminya yang hanya dijumpai di wilayah punggung bukit,
lereng dan tepian jurang; cemara sumatra diketahui menyukai tempat
yang berdrainase baik (well drainage) dan tidak pernah tergenang.

Selain itu, hasil analisis tanah juga menunjukkan bahwa jenis ini
menyukai tanah dengan pH rendah (masam), tekstur tanah geluh
(lumpur) berpasir, kandungan C organik sangat tinggi, dan rasio C/N
yang tinggi Hingga saat ini, kajian Taxus sumatrana mengenai aspek
ekologis, kerapatan populasi, keragaman genetik, budi daya, dan aspek
pengelolaan lainnya di Indonesia masih belum cukup tersedia.
(Rachmat, 2008).

Kegunaan/Pemafaatan Tumbuhan

Kulit, daun, cabang, ranting, dan akar dari jenis Taxus, termasuk
T. sumatrana, merupakan sumber Taxane, yaitu paclitaxel diekstraksi
sebagai obat yang sangat sukses digunakan dalam kemoterapi berbagai
jenis kanker. Pemanfaatan lainnya adalah kayu T. sumatrana untuk
keperluan bahan baku pertukangan ringan atau pembuatan alat-alat
kebutuhan rumah tangga (Rachmat, 2008).

Kandungan Kimia

Taxus sumatrana diketahui mempunyai beberapa senyawa aktif.


Kitagawa et al. (1995) melaporkan telah berhasil mengisolasi dan
menentukan beberapa senyawa terpenoid taksol dari Taxus sumatrana.
6

Senyawa tersebut adalah taksol, cepalomanin, 7-epi-10-deasetil taksol,


7-epi-10-deasetil cepalomanin, baccatin III,

19-hidroksil baccatin III, 10-deasetil-13-okso-baccatin III dan 19-


hidroksi-13-okso baccatin III. Shen et al. (2003) melaporkan telah
mengisolasi senyawa diterpenoid taksan baru yaitu tasumatrol A dan B
dari ekstrak daun dan ranting.

1.3.2. Taxus canadansis Marsh


Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Pinophyta
Kelas : Pinopsida
Ordo : Pinales
Family : Taxaceae
Genus : Taxus
Species : Taxus canadensis Marsh.
Morfologi Umum
T. canadensis tumbuh sebagai semak yang melebar yang tingginya
tidak lebih dari 4 m dengan diameter 9 cm (Pinto & Herr, 2005).
Kulit batang berwarna cokelat bersisik. Daun berbentuk lanset,
datar, dan berwarna hijau tua dengan panjang 1–2 cm dan lebar 0,5–2
mm. Buah kerucut sangat termodifikasi; tiap kerucut mengandung satu
individu biji yang dikelilingi oleh sisik yang termodifikasi dan
berkembang menjadi struktur yang menyerupai buah beri (aril) (Wilson
et al., 1996).
Canadensis adalah tumbuhan yang hidup di bawah naungan atau
menempati strata kedua pada lantai hutan. Untuk tumbuh dan bertahan
hidup, tumbuhan ini hampir tidak memerlukan cahaya matahari. Namun
demikian, cahaya pada ketinggian 1 m dapat dimanfaatkan sampai 95%
untuk pertumbuhannya (Wilson et al., 1996).
Penyebaran/Habitat Tumbuhan
7

Taxus canadensis disebut juga dengan nama Canadian yew,


American yew, Dwarf yew dan Ground hemlock. Jenis ini merupakan
pohon berdaun jarum yang tumbuh alami di Amerika Utara bagian
Tengah dan Timur tempat tumbuh terbaik adalah di daerah yang basah,
jurang-jurang, tepian sungai dan juga tepian danau (Wilson et al.,
1996).
Kegunaan/Pemanfaatan Tumbuhan
T. canadensis memiliki tingkat toksikogenik yang lebih rendah
dibandingkan T. baccata. Namun demikian, seluruh bagian tanaman
tetap memiliki kandungan racun yang cukup tinggi kecuali bagian beri.
Masyarakat lokal setempat secara tradisional memanfaatkan daun T.
canadensis sebagai teh. Dalam dosis yang kecil, digunakan untuk
pengobatan berbagai macam keluhan penyakit rematik (Farr, 2008).
Cabang-cabang atau ranting-ranting juga digunakan bersama dalam
mandi uap untuk pengobatan luar penyakit rematik. Namun demikian,
tumbuhan ini masih sangat toksik dan para herbalis modern lebih
menyukai penggunaan herbal lainnya yang lebih aman digunakan untuk
menggantikan T. canadensis dalam mengobati suatu penyakit kanker
(Farr, 2008).
Kandungan Kimia
T. canadensis dipanen sebagai sumber penghasil Taxane di bagian
Utara Ontario, Quebec dan Atlantik sejak kelompok senyawa ini
menjadi fokus utama dunia dalam pengobatan berbagai penyakit
kanker. Kandungan bahan aktif pada T. canadensis jauh lebih besar
dibandingkan T. brevifolia (Farr, 2008).
1.3.3. Taxus brefivolia
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Pinophyta
Kelas : Pinopsida
Ordo : Pinales
8

Family : Taxaceae
Genus : Taxus
Species : Taxus brefivolia
Morfologi Umum
Pohon hijau sepanjang tahun dengan ukuran kecil sampai sedang,
tinggi mencapai 20 m dengan diameter 50 cm dan jarang sekali
diameter batang mencapai lebih dari 50 cm. Tajuk melebar membentuk
kerucut dengan kulit batang berwarna cokelat sampai cokelat
kemerahan dan tekstur yang agak bersisik. Daun berbentuk lanset,
datar, berwarna hijau tua dengan panjang 1–3 cm dan lebar 2–3 mm,
serta tersusun secara spiral pada cabang dengan bagian dasar daun
melintir. Percabangan yang menjulur ke atas akan terkulai pada
ujungnya. Buah kerucut sangat termodifikasi; tiap kerucut mengandung
satu individu biji dengan panjang 4–7 mm dan dikelilingi oleh sisik
yang termodifikasi (Spjut, 2007).
Penyebaran/Habitat Tumbuhan
Taxus brevifolia ini tersebar mulai dari bagian Selatan Alaska
sampai ke California bagian Tengah dan Montana. Populasi terbanyak
dijumpai di wilayah pantai Barat Pasifik, tetapi ada satu populasi yang
terisolasi khusus, yaitu di Tenggara British Columbia dan Idaho bagian
Selatan sampai tengah (Taylor, 1981).
Karakter bunga berumah dua (dioecious), tetapi pada suatu kondisi
tertentu dapat ditemukan satu individu yang memiliki sifat berumah
satu (monocious), atau bahkan bertukar jenis kelamin seiring dengan
waktu (Taylor, 1981).
Kegunaaan/Pemanfaat Tumbuhan
Kayu T. brevifolia masih digunakan untuk busur panah, tombak,
dayung kano, peralatan rumah tangga, alat musik, ukiran patung,
furnitur, dan kayu bakar. Bagian tanaman, daun, ranting dan kulit
batang digunakan oleh penduduk asli Amerika untuk mengobati
penyakit paru-paru, perut, luka, dan nyeri. T. brevifolia digunakan juga
9

untuk pohon hias, tanaman fondasi, pagar, dan bonsai). Meskipun


sekarang sudah mulai ditemukan teknologi yang mampu memproduksi
paclitaxel secara semisintetis dari pohon hasil budidaya tingkat
eksploitasi yang sangat tinggi menyebabkan kekhawatiran yang
mendalam jika T. brevifolia akan menjadi langka (Mitchell, 1998).
Kandungan Kimia

Taxus brevifolia ini termasuk senyawa derivat diterpenoid yang


merupakan ester dengan cincin taxane, yang mana strukturnya
dihubungkan dengan unsur beracun yang ditemukan dalam species
taxus yang lain, contoh: nama umumnya Taxus baccata. Taxol
ditemukan sebagian besar di dalam kulit batang T. brevifolia, tetapi
dalam jumlah yang kecil (sekitar 0.01-0.02%). Diatas 0.033% taxol
telah diambil dari beberapa contoh
daun dan ranting, tapi biasanya isi taxol lebih rendah dari kulit
batangnya. Isi dari beberapa turunan taxan dalam kulit
batangnya sangat tinggi, contohnya diatas 0.2% baccatin III. Turunan
taxan lain meliputi 10-deacetyltaxol, 10-deacetylbaccatin III,
cephalomannine dan 10-deacetylcephalomannine. Solusi yang lebih
memuaskan untuk persediaan taxol dan turunannya sebagai obat
dihasilkan dari campuran semi-sintesis. Keduanya, Baccatin III dan 10-
deacetylbaccatin III secara efisien di transformasikanke dalam taxol
(Pilz, 1996).
10

BAB II

PENUTUP

2.1 Kesimpulan

Terpenoid merupakan derivat dehidrogenasi dan oksigenasi dari senyawa.


Salah satu kelompok terpenoid, yaitu diterpen dengan golongan Paclitaxel.
Paclitaxel merupakan senyawa yang didapatkan dalam tanaman Taxus yang
mempunyai 20 atom karbon dan dibangun oleh 4 unit isoprene. Paclitaxel (Taxol)
adalah obat untuk mengobati kanker ovarium, payudara, paru-paru, pancreas dan
kanker lainnya

2.2 Saran
11

Pada saat pembuatan makalah, penulis menyadari bahwa banyak sekali


kesalahan dan masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik serta sarannya mengenai pembahasan dalam makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA
12

Cragg, G.M. and D.J. Newman. (2005). Plants as a source of anti-cancer agents-

Perspective paper. Journal of Ethnopharmacology, 100: 72–7

Farr, K. 2008. Genus level approach to Taxus species. In: International Expert
Workshop on CITES NonDetriment Findings. Working Group 1, Case
Study 6, Cancun, Mexico, November 17–21, 2008.

Friedal, M., Neckar., and Lauffen. (2005). Zur Synthese des Diterpenoids
Eleutherobin aus Weichkorallen der Gattung Eleutherobia und Synthese
der Aminosäure 2-Aminohomohistidin. München: Universität München.

Garyali, K. Kumar, K. Reddy, M.S. (2013). Taxol Production from an Endophytic


Fungus, Fusarium Redolens, Isolated from Himalayan Yew. J. Microbiol.
Biotehnol. 23(10): 1372-1380

Hidayat, A. and S. Tachibana. (2013). Taxol and Its Related Compound from the
Bark of Taxus sumatrana. Makalah, dipresentasikan pada Internationa
Seminar of Forest and Medicinal Plants for Better Human Welfare, Bogor,
10–12 September 2013.

Hortwitz SB. (1994). Taxol (Paclitaxel): Mecanism of Action. Ann Oncol 1994:5
Suppl 6:S3-6. Departement of Molecular Pharmacology, Alberth Einstein
college of Medicine, New York.

Mitchell, A.K. 1998. Acclimation of Pacific yew (Taxus brevifolia) foliage to sun
and shade. Tree Physiology, 18: 749–757.

Pilz, D. 1996. Propagation of Pacific Yews from seed. Am. Con. Soc. Bull.
[Winter Issue], 13: 13–18.

Pinto, F. and D. Herr. (2005). Autoecology of Canada Yew (Taxus canadensis


Marsh.). Southern Science and Information Section Technical, Note #12.
Ontario Ministry of Natural.
13

Radji M. (2005). Peranan bioteknologi dan mikroba endofit dalam pengembangan


obat herbal. Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. II, No.3, Desember 2005,
113 – 126.

Rachmat, H.H. (2008). Variasi genetik dan teknik perbanyakan vegetatif cemara
Sumatra (Taxus sumatrana). Thesis, Pasca Sarjana, Institut Pertanian
Bogor, Indonesia.

Resources, Wilson, P., M. Buonopane and T.D. Allison. (1996). Reproductive


biology of the monoecious clonal shrub Taxus canadensis. Bull. Torre
Bot. Club, 123: 7– 15.WindelsNorth Bay, Ont.

Sitte, P., H. Ziegler, F. Ehrendorfer and A. Bresinsky. 1(991). Strasburger


Lehrbuch der Botanik. Gustav Fisher Verlag: Stuttgart, Jena, New York.
Smith.

Strobel GA, et al. (1996). Taxol from Pestalotiopsis microspora, an endophytic


fungus of Taxus wallachiana. Microbiology, 142, 435-440.

Taylor, R.L. and S. Taylor. (1981). Taxus brevifolia in British Columbia.


Davidsonia, 12: 89–94.

Waibel, T. (2010). Transcriptional regulation of Taxol TM biosynthesis in Taxus


cuspidata procambium cells. Disertation, Institute of Melucular Palnt
Sciences, School of Biological Sciences, The University of Edinburgh,
Jerman.