Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PENDAHULUAN LEPTOSPIROSIS

DI RUANG UNIT GAWAT DARURAT


RSUD KOTA BANDUNG

Disusun Oleh :
Laksmi Nurul Suci
4006190109

PROFESI NERS
PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DHARMA HUSADA
BANDUNG
2020
KONSEP PENYAKIT
LEPTOSPIROSIS

A. Leptospirosis
1. Pengertian Leptospirosis
Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang dapat menyerang manusia dan
binatang. Penyakit menular ini adalah penyakit hewan yang dapat
menjangkiti manusia. Termasuk penyakit zoonosis yang paling sering
terjadi di dunia. Leptospirosis juga dikenal dengan nama flood fever atau
demam banjir karena memang muncul dikarenakan banjir.

Dibeberapa negara leptospirosis dikenal dengan nama demam


icterohemorrhagic, demam lumpur, penyakit swinherd, demam rawa,
penyakit weil, demam canicola (PDPERSI Jakarta, 2007). Leptospirosis
adalah penyakit infeksi yang disebabkan kuman leptospira patogen
(Saroso, 2003).

Leptospirosis adalah suatu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh


mikroorganisme berbentuk spiral dan bergerak aktif yang dinamakan
Leptospira. Penyakit ini dikenal dengan berbagai nama seperti Mud fever,
Slime fever (Shlamnfieber), Swam fever, Autumnal fever, Infectious
jaundice, Field fever, Cane cutter dan lain-lain (WHO, 2003).

Leptospirosis atau penyakit kuning adalah penyakit penting pada


manusia, tikus, anjing, babi dan sapi. Penyakit ini disebabkan oleh
spirochaeta leptospira icterohaemorrhagiae yang hidup pada ginjal dan
urine tikus (Swastiko, 2009).
2. Etiologi
Penyakit yang terdapat di semua negara dan terbanyak ditemukan di
negara beriklim tropis ini, disebabkan oleh Leptospira interrogansdengan
berbagai subgrup yang masing-masing terbagi lagi atas serotipe bisa
terdapat pada ginjal atau air kemih binatang piaraan seperti anjing,
lembu, babi, kerbau dan lain-lain, maupun binatang liar seperti tikus,
musang, tupai dan sebagainya. Manusia bisa terinfeksi jika terjadi kontak
pada kulit atau selaput lendir yang luka atau erosi dengan air, tanah,
lumpur dan sebagainya yang telah terjemar oleh air kemih binatang yang
terinfeksi leptospira (Mansjoer, 2005).

Gambar 2.1 Bakteri leptospira menggunakan mikroskop elektron tipe


scanning
Sumber :http://id.wikipedia.org/wiki/Leptospirosis
Genus leptospira terdiri dari 2 kelompok atau kompleks, yang patogen
L.interrogans, dan yang non pathogen atau saprofit L.biflexs kelompok
patogen terdapat pada manusia dan hewan. Kelompok yang patogen atau
L.interrogans terdiri dari sub grup yang masing-masingnya terbagi lagi
atas berbagai serotype (serovar) yang jumlahnya sangat banyak. Saat ini
telah ditemukan 240 serotipe yang tergabung dalam 23 serogrup. Sub
grup yang dapat menginfeksi manusia di antaranya adalah L.
icterohaemorrhagiae, L. javanica, L. celledoni, L. canicola, L ballum, L.
pyrogenes, L. cynopteri, L. automnalis, L. australis, L. pomona, L.
grippothyphosa, L. hebdomadis, L. bataviae, L. tarassovi, L. panama, L.
bufonis, L. andamana, L. shermani, L. ranarum, L. copenhageni.
Beberapa seropati menyebabkan panyakit dengan gejala yang berat,
bahkan dapat berakhir fatal seperti L.icterohaemorrhagiae, tetapi ada
serogrup atau seropati dengan gejala yang ringan, misalnya infeksi L.
automnalis, L. bataviae, L. pyrogenes, dan sebagainya.

Menurut beberapa peneliti yang tersering menginfeksi manusia adalah


L.icterohaemorrhagiae, dengan reservoir tikus, L.canicola, dengan
reservoirnya anjing dan L. pomona dengan reservoirnya sapi dan babi.

(Arjatmo, 1996).

3. Patofisiologi
Leptospira dapat masuk melalui luka dikulit atau menembus jaringan
mukosa seperti konjungtiva, nasofaring dan vagina. Setelah menembus
kulit atau mukosa, organisme ini ikut aliran darah dan menyebar
keseluruh tubuh. Leptospira juga dapat menembus jaringan seperti
serambi depan mata dan ruang subarahnoid tanpa menimbulkan reaksi
peradangan yang berarti. Faktor yang bertanggung jawab untuk virulensi
leptospira masih belum diketahui. Sebaliknya leptospira yang virulen
dapat bermutasi menjadi tidak virulen. Virulensi tampaknya berhubungan
dengan resistensi terhadap proses pemusnahan didalam serum oleh
neutrofil. Antibodi yang terjadi meningkatkan klirens leptospira dari
darah melalui peningkatan opsonisasi dan dengan demikian mengaktifkan
fagositosis.

Beberapa penemuan menegaskan bahwa leptospira yang lisis dapat


mengeluarkan enzim, toksin, atau metabolit lain yang dapat
menimbulkan gejala-gejala klinis. Hemolisis pada leptospira dapat terjadi
karena hemolisin yang tersirkulasi diserap oleh eritrosit, sehingga
eritrosit tersebut lisis, walaupun didalam darah sudah ada antibodi.
Diastesis hemoragik pada umumnya terbatas pada kulit dan mukosa,
pada keadaan tertentu dapat terjadi perdarahan gastrointestinal atau organ
vital dan dapat menyebabkan kematian.

Beberapa penelitian mencoba menjelaskan bahwa proses hemoragik


tersebut disebabkan rendahnya protrombin serum dan trombositopenia.
Namun terbukti, walaupun aktivitas protrombin dapat dikoreksi dengan
pemberian vitamin K, beratnya diastesis hemoragik tidak terpengaruh.
Juga trombositopenia tidak selalu ditemukan pada pasien dengan
perdarahan. Jadi, diastesis hemoragik ini merupakan refleksi dari
kerusakan endothelium kapiler yang meluas. Penyebab kerusakan endotel
ini belum jelas, tapi diduga disebabkan oleh toksin.

Beberapa teori menjelaskan terjadinya ikterus pada leptospirosis.


Terdapat bukti yang menunjukkan bahwa hemolisis bukanlah penyebab
ikterus, disamping itu hemoglobinuria dapat ditemukan pada awal
perjalanan leptospirosis, bahkan sebelum terjadinya ikterus. Namun
akhir-akhir ini ditemukan bahwa anemia hanya ada pada pasien
leptospirosis dengan ikterus. Tampaknya hemolisis hanya terjadi pada
kasus leptospirosis berat dan mungkin dapat menimbulkan ikterus pada
beberapa kasus. Penurunan fungsi hati juga sering terjadi, namun
nekrosis sel hati jarang terjadi sedangkan SGOT dan SGPT hanya sedikit
meningkat.

Gangguan fungsi hati yang paling mencolok adalah ikterus, gangguan


factor pembekuan, albumin serum menurun, globulin serum meningkat.
Gagal ginjal merupakan penyebab kematian yang penting pada
leptospirosis. Pada kasus yang meninggal minggu pertama perjalanan
penyakit, terlihat pembengkakan atau nekrosis sel epitel tubulus ginjal.
Pada kasus yang meninggal pada minggu ke dua, terlihat banyak focus
nekrosis pada epitel tubulus ginjal. Sedangkan yang meninggal setelah
hari ke dua belas ditemukan sel radang yang menginfiltrasi seluruh ginjal
(medula dan korteks). Penurunan fungsi ginjal disebabkan oleh hipotensi,
hipovolemia dan kegagalan sirkulasi. Gangguan aliran darah ke ginjal
menimbulkan nefropati pada leptospirosis. Kadang-kadang dapat terjadi
insufisiensi adrenal karena perdarahan pada kelenjar adrenal.

Gangguan fungsi jantung seperti miokarditis, perikarditis dan aritmia


dapat menyebabkan hipoperfusi pada leptospirosis. Gangguan jantung ini
terjadi sekunder karena hipotensi, gangguan elektrolit, hipovolemia atau
anemia. Mialgia merupakan keluhan umum pada leptospirosis, hal ini
disebabkan oleh vakuolisasi sitoplasma pada myofibril. Keadaan lain
yang dapat terjadi antara lain pneumonia hemoragik akut, hemoptisis,
meningitis, meningoensefalitis, ensefalitis, radikulitis, mielitis dan
neuritis perifer. Peningkatan titer antibody didalam serum tidak disertai
peningkatan antibody leptospira (hamper tidak ada) di dalam cairan bola
mata, sehingga leptospira masih dapat bertahan hidup diserambi depan
mata selama berbulan-bulan. Hal ini penting dalam terjadinya uveitis
rekurens, kronik atau laten pada kasus leptospirosis.

(Poerwo, 2002).

4. Manifestasi klinik
Gambaran klinis leptospirosis dibagi atas 3 fase yaitu : fase
leptospiremia, fase imun dan fase penyembuhan.
a. Fase Leptospiremia
Demam mendadak tinggi sampai menggigil disertai sakit kepala,
nyeri otot, hiperaestesia pada kulit, mual muntah, diare, bradikardi
relatif, ikterus, injeksi silier mata. Fase ini berlangsung 4-9 hari dan
berakhir dengan menghilangnya gejala klinis untuk sementara.
b. Fase Imun
Dengan terbentuknya IgM dalam sirkulasi darah, sehingga gambaran
klinis bervariasi dari demam tidak terlalu tinggi, gangguan fungsi
ginjal dan hati, serta gangguan hemostatis dengan manifestasi
perdarahan spontan.
c. Fase Penyembuhan
Fase ini terjadi pada minggu ke 2 - 4 dengan patogenesis yang belum
jelas. Gejala klinis pada penelitian ditemukan berupa demam dengan
atau tanpa muntah, nyeri otot, ikterik, sakit kepala, batuk,
hepatomegali, perdarahan dan menggigil serta splenomegali. Menurut
berat ringannya, leptospirosis dibagi menjadi ringan dan berat, tetapi
untuk pendekatan diagnosis klinis dan penanganannya, para ahli lebih
senang membagi penyakit ini menjadi leptospirosis anikterik (non
ikterik) dan leptospirosis ikterik.
1) Leptospirosis anikterik
Onset leptospirosis ini mendadak dan ditandai dengan demam ringan
atau tinggi yang umumnya bersifat remiten, nyeri kepala dan
menggigil serta mialgia. Nyeri kepala bisa berat, mirip yang terjadi
pada infeksi dengue, disertai nyeri retro-orbital dan photopobia. Nyeri
otot terutama di daerah betis, punggung dan paha. Nyeri ini diduga
akibat kerusakan otot sehingga creatinin phosphokinase pada
sebagian besar kasus akan meningkat, dan pemeriksaan cretinin
phosphokinase ini dapat untuk membantu diagnosis klinis
leptospirosis. Akibat nyeri betis yang menyolok ini, pasien kadang-
kadang mengeluh sukar berjalan. Mual, muntah dan anoreksia
dilaporkan oleh sebagian besar pasien. Pemeriksaan fisik yang khas
adalah conjunctival suffusion dan nyeri tekan di daerah betis.
Limpadenopati, splenomegali, hepatomegali dan rash macupapular
bisa ditemukan, meskipun jarang. Kelainan mata berupa uveitis dan
iridosiklis dapat dijumpai pada pasien leptospirosis anikterik maupun
ikterik.

Gambaran klinik terpenting leptospirosis anikterik adalah meningitis


aseptik yang tidak spesifik sehingga sering terlewatkan diagnosisnya.
Dalam fase leptospiremia, bakteri leptospira bisa ditemukan di dalam
cairan serebrospinal, tetapi dalam minggu kedua bakteri ini
menghilang setelah munculnya antibodi ( fase imun ).

Pasien dengan Leptospirosis anikterik pada umumnya tidak berobat


karena keluhannya bisa sangat ringan. Pada sebagian pasien, penyakit
ini dapat sembuh sendiri ( self - limited ) dan biasanya gejala
kliniknya akan menghilang dalam waktu 2-3 minggu. Karena
gambaran kliniknya mirip penyakit-penyakit demam akut lain, maka
pada setiap kasus dengan keluhan demam, leptospirosis anikterik
harus dipikirkan sebagai salah satu diagnosis bandingnya, apalagi
yang di daerah endemik.

Leptospirosis anikterik merupakan penyebab utama Fever of


unknown origin di beberapa negara Asia seperti Thailand dan
Malaysia. Diagnosis banding leptospirosis anikterik harus mencakup
penyakit-penyakit infeksi virus seperti influenza, HIV serocon
version, infeksi dengue, infeksi hanta virus, hepatitis virus, infeksi
mononukleosis dan juga infeksi bakterial atau parasitik seperti
demam tifoid, bruselosis, riketsiosis dan malaria.
2) Leptospirosis ikterik
Ikterus umumnya dianggap sebagai indikator utama leptospirosis
berat. Gagal ginjal akut, ikterus dan manifestasi perdarahan
merupakan gambaran klinik khas penyakit Weil. Pada leptospirosis
ikterik, demam dapat persisten sehingga fase imun menjadi tidak jelas
atau nampak overlapping dengan fase leptospiremia. Ada tidaknya
fase imun juga dipengaruhi oleh jenis serovar dan jumlah bakteri
leptospira yang menginfeksi, status imunologik dan nutrisi penderita
serta kecepatanmemperoleh terapi yang tepat. Leptospirosis adalah
penyebab tersering gagal ginjal akut.
Perbedaan gambaran klinik leptospirosis anikterik dan ikterik
Tabel 2.1 gambaran klinik leptospirosis
Sindrom Fase Manifestasi klinik Spesimen
laboratorium
Leptospirosis
anikterik
fase leptospiremia (3- Demam tinggi, nyeri Darah, LCS
7 hari). kepala, mialgia, nyeri
perut, mual, muntah,
conjungtiva
suffusion.
Fase imun (3-30 hari). Demam ringan , Urin
nyeri kepala, muntah.
Leptospirosis ikterik
fase leptospiremia dan Demam tinggi, nyeri Darah, LCS
fase imun (sering kepala, mialgia, minggu pertama.
menjadi satu atau ikterik gagal ginjal, Urin minggu
overlapping) terdapat hipotensi, manifestasi kedua.
periode asimptomatik perdarahan,
(1-3 hari) pneumonitis,
leukositosis.

(Poerwo, 2002)

5. Epidemiologi Leptospirosis
Leptospirosis adalah penyaki infeksi akut yang dapat menyerang manusia
maupun hewan dan digolongkan sebagai zoonosis. Leptospirosis adalah
zoonosis bakterial berdasarkan penyebabnya, berdasarkan cara penularan
merupakan direct zoonosis karena tidak memerlukan vektor, dan dapat
juga digolongkan sebagai amfiksenose karena jalur penularan dapa dari
hewan ke manusia dan sebaliknya. Penularan leptospirosis pada manusia
ditularkan oleh hewan yang terinfeksi kuman leptospira. Hewan pejamu
kuman leptospira adalah hewan peliharaan seperti babi, lembu, kambing,
kucing, anjing sedangkan kelompok unggas serta beberapa hewan liar
seperti tikus, bajing, ular, dan lain-lain. Pejamu resevoar utama adalah
roden. Kuman leptospira hidup didalam ginjal pejamu reservoar dan
dikeluarkan melalui urin saat berkemih. Manusia merupakan hospes
insidentil seperti pada gambar berikut :

Gambar 2.2 siklus penularan leptospirosis


Sumber :http://www.google.co.id
Menurut Saroso (2003) penularan leptospirosis dapat secara langsung dan
tidak langsung yaitu :
a. Penularan secara langsung dapat terjadi :
1) Melalui darah, urin atau cairan tubuh lain yang mengandung
kuman leptospira masuk kedalam tubuh pejamu.
2) Dari hewan ke manusia merupakan peyakit akibat pekerjaan,
terjadi pada orang yang merawat hewan atau menangani organ
tubuh hewan misalnya pekerja potong hewan, atau seseorang
yang tertular dari hewan peliharaan.
3) Dari manusia ke manusia meskipun jarang, dapat terjadi melalui
hubungan seksual pada masa konvalesen atau dari ibu penderita
leptospirosis ke janin melalui sawar plasenta dan air susu ibu.
b. Penularan tidak langsung dapat terjadi melalui :
1) Genangan air.
2) Sungai atau badan air.
3) Danau.
4) Selokan saluran air dan lumpur yang tercemar urin hewan.
5) Jarak rumah dengan tempat pengumpulan sampah.
c. Faktor resiko
Faktor-faktor resiko terinfeksi kuman leptospira, bila kontak
langsung atau terpajan air atau rawa yang terkontaminasi yaitu :
1) Kontak dengan air yang terkonaminasi kuman leptospira atau
urin tikus saat banjir.
2) Pekerjaan tukang perahu, rakit bambu, pemulung.
3) Mencuci atau mandi disungai atau danau.
4) Tukang kebun atau pekerjaan di perkebunan.
5) Petani tanpa alas kaki di sawah.
6) Pembersih selokan.
7) Pekerja potong hewan, ukang daging yang terpajan saat
memotong hewan.
8) Peternak, pemeliharaan hewan dan dorter hewan yang terpajan
karena menangani ternak atau hewan, terutama saat memerah
susu, menyentuh hewan mati, menolong hewan melahirkan, atau
kontak dengan bahan lain seperti plasenta, cairan amnion dan
bila kontak dengan percikan infeksius saat hewan berkemih.
9) Pekerja tambang.
10) Pemancing ikan, pekerja tambak udang atau ikan tawar.
11) Anak-anak yang bermain di taman, genangan air hujan atau
kubangan.
12) Tempat rekreasi di air tawar : berenang, arum jeram dan olah
raga air lain, trilomba juang (triathlon), memasuki gua, mendaki
gunung.
Infeksi leptospirosis di Indonesia umumnya dengan perantara tikus jenis
Rattus norvegicus (tikus selokan), Rattus diardii (tikus ladang), dan
Rattus exulans Suncu murinus (cecurt).

6. Pencegahan
Menurut Saroso (2003) pencegahan penularan kuman leptospirosis dapat
dilakukan melalui tiga jalur yang meliputi :
a. Jalur sumber infeksi
1) Melakukan tindakan isolasi atau membunuh hewan yang
terinfeksi.
2) Memberikan antibiotik pada hewan yang terinfeksi, seperti
penisilin, ampisilin, atau dihydrostreptomycin, agar tidak menjadi
karier kuman leptospira. Dosis dan cara pemberian berbeda-beda,
tergantung jenis hewan yang terinfeksi.
3) Mengurangi populasi tikus dengan beberapa cara seperti
penggunaan racun tikus, pemasangan jebakan, penggunaan
rondentisida dan predator ronden.
4) Meniadakan akses tikus ke lingkungan pemukiman, makanan dan
air minum dengan membangun gudang penyimpanan makanan
atau hasil pertanian, sumber penampungan air, dan perkarangan
yang kedap tikus, dan dengan membuang sisa makanan serta
sampah jauh dari jangkauan tikus.
5) Mencengah tikus dan hewan liar lain tinggal di habitat manusia
dengan memelihara lingkungan bersih, membuang sampah,
memangkas rumput dan semak berlukar, menjaga sanitasi,
khususnya dengan membangun sarana pembuangan limbah dan
kamar mandi yang baik, dan menyediakan air minum yang bersih.
a) Melakukan vaksinasi hewan ternak dan hewan peliharaan.
b) Membuang kotoran hewan peliharaan. Sadakimian rupa
sehinnga tidak menimbulkan kontaminasi, misalnya dengan
pemberian desinfektan.
b. Jalur penularan
Penularan dapat dicegah dengan :
1) Memakai pelindung kerja (sepatu, sarung tangan, pelindung
mata, apron, masker).
2) Mencuci luka dengan cairan antiseptik, dan ditutup dengan
plester kedap air.
3) Mencuci atau mandi dengan sabun antiseptik setelah terpajan
percikan urin, tanah, dan air yang terkontaminasi.
4) Menumbuhkan kesadara terhadap potensi resiko dan metode
untuk mencegah atau mengurangi pajanan misalnya dengan
mewaspadai percikan atau aerosol, tidak menyentuh bangkai
hewan, janin, plasenta, organ (ginjal, kandung kemih) dengan
tangan telanjang, dan jangn menolong persalinan hewan tanpa
sarung tangan.
5) Mengenakan sarung tangan saat melakukan tindakan higienik
saat kontak dengan urin hewan, cuci tangan setelah selesai dan
waspada terhadap kemungkinan terinfeksi saat merawat hewan
yang sakit.
6) Melakukan desinfektan daerah yang terkontaminasi, dengan
membersihkan lantai kandang, rumah potong hewan dan lain-
lain.
7) Melindungi sanitasi air minum penduduk dengan pengolalaan air
minum yang baik, filtrasi dan korinasi untuk mencengah infeksi
kuman leptospira.
8) Menurunkan PH air sawah menjadi asam dengan pemakaian
pupuk aau bahan-bahan kimia sehingga jumlah dan virulensi
kuman leptospira berkurang.
9) Memberikan peringatan kepada masyarakat mengenai air kolam,
genagan air dan sungai yang telah atau diduga terkontaminasi
kuman leptospira..
10) Manajemen ternak yang baik.
c. Jalur pejamu manusia
1) Menumbuhkan sikap waspada
Diperlukan pendekatan penting pada masyarakat umum dan
kelompok resiko tinggi terinfeksi kuman leptospira. Masyarakat
perlu mengetahui aspek penyakit leptospira, cara-cara
menghindari pajanan dan segera ke sarana kesehatan bila di duga
terinfeksi kuman leptospira.
2) Melakukan upaya edukasi
Dalam upaya promotif, untuk menghindari leptospirosis
dilakukan dengan cara-cara edukasi yang meliputi :
a) Memberikan selembaran kepada klinik kesehatan,
departemen pertanian, institusi militer, dan lain-lain. Di
dalamnya diuraikan mengenai penyakit leptospirosis,
kriteria menengakkan diagnosis, terapi dan cara mencengah
pajanan. Dicatumkan pula nomor televon yang dapat
dihubungi untuk informasi lebih lanjut.
b) Melakukan penyebaran informasi.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Identitas
Keadaan umum klien seperti umur dan imunisasi., laki dan perempuan tingkat
kejadiannya sama.
2. Keluhan utama
Demam yang mendadak
Timbul gejala demam yang disertai sakit kepala, mialgia dan nyeri tekan (frontal)
mata merah, fotofobia, keluahan gastrointestinal. Demam disertai mual, muntah,
diare, batuk, sakit dada, hemoptosis, penurunan kesadaran dan injeksi konjunctiva.
Demam ini berlangsung 1-3 hari.
3. Riwayat keperawatan
a. Imunisasi, riwayat imunisasi perlu untuk peningkatan daya tahan tubuh
b. Riwayat penyakit, influenza, hapatitis, bruselosis, pneuma atipik, DBD,
penyakit susunan saraf akut, fever of unknown origin.
c. Riwayat pekerjaan klien apakah termasuk kelompok orang resiko tinggi seperti
bepergian di hutan belantara, rawa, sungai atau petani.
4. Pemeriksaan dan observasi
a. Fisik
Keadaan umum, penurunan kesadaran, lemah, aktvivitas menurun
Review of sistem :
1) Sistem pernafasan
Epitaksis, penumonitis hemoragik di paru, batuk, sakit dada
2) Sistem cardiovaskuler
Perdarahan, anemia, demam, bradikardia.
3) Sistem persyarafan
Penuruanan kesadaran, sakit kepala terutama dibagian frontal, mata merah,
fotofobia, injeksi konjunctiva,iridosiklitis
4) Sistem perkemihan
Oligoria, azometmia,perdarahan adernal
5) Sistem pencernaan
Hepatomegali, splenomegali, hemoptosis, melenana
6) Sistem muskoloskletal
Kulit dengan ruam berbentuk makular/makulopapular/urtikaria yang
teresebar pada badan. Pretibial.
b. Laboratorium
1) Leukositosis normal, sedikit menurun,
2) Neurtrofilia dan laju endap darah (LED) yang meningkat
3) Proteinuria, leukositoria
4) Sedimen sel torak
5) BUN, ureum dan kreatinin meningkat
6) SGOT meninggi tetapi tidak melebihi 5 x normal
7) Bilirubin meninggi samapai 40 %
8) Trombositopenia
9) Hiporptrombinemia
10) Leukosit dalam cairan serebrospinal 10-100/mm3
11) Glukosa dalam CSS Normal atau menurun

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh, proses penyakit
2. Nyeri akut berhubungan dengan agen biologis (proses penyakit)
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan
untuk mengabsorbsi zat-zat bergizi karena faktor bilogis, proses penyakit.
4. Defisit volume cairan b.d kekurangan cairan dan elektrolit aktif
5. Cemas/ takut berhubungan dengan perubahan kesehatan (penyakit leptospirosis)
6. Kurang pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan berhubungan
dengan kurangnya informasi, misinterpretasi, keterbatasan kognitif
7. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek kerja penyakit, deficit
imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia.

RENCANA KEPERAWATAN
N Diagnosa Tujuan dan Criteria Hasil
Intervensi (NIC)
o Keperawatan (NOC)
1 Hipertermia NOC : Thermoregulation NIC :
berhubungan Kriteria Hasil : Fever treatment
dengan  Suhu tubuh dalam rentang  Monitor suhu sesering
peningkatan normal mungkin
metabolisme  Nadi dan RR dalam rentang  Monitor IWL
tubuh, proses normal  Monitor warna dan suhu
penyakit  Tidak ada perubahan warna kulit
kulit dan tidak ada pusing,  Monitor tekanan darah,
merasa nyaman nadi dan RR
 Monitor penurunan tingkat
kesadaran
 Monitor WBC, Hb, dan
Hct
 Monitor intake dan output
 Berikan anti piretik
 Berikan pengobatan untuk
mengatasi penyebab demam
 Selimuti pasien
 Lakukan tapid sponge
 Berikan cairan intravena
 Kompres pasien pada lipat
paha dan aksila
 Tingkatkan sirkulasi udara
 Berikan pengobatan untuk
mencegah terjadinya
menggigil
Temperature regulation
 Monitor suhu minimal tiap
2 jam
 Rencanakan monitoring
suhu secara kontinyu
 Monitor TD, nadi, dan RR
 Monitor warna dan suhu
kulit
 Monitor tanda-tanda
hipertermi dan hipotermi
 Tingkatkan intake cairan
dan nutrisi
 Selimuti pasien untuk
mencegah hilangnya
kehangatan tubuh
 Ajarkan pada pasien cara
mencegah keletihan akibat
panas
 Diskusikan tentang
pentingnya pengaturan suhu
dan kemungkinan efek
negatif dari kedinginan
 Beritahukan tentang
indikasi terjadinya keletihan
dan penanganan emergency
yang diperlukan
 Ajarkan indikasi dari
hipotermi dan penanganan
yang diperlukan
 Berikan anti piretik jika
perlu
2 Nyeri akut NOC : NIC :
berhubungan  Pain Level,
dengan agen  Pain control, Pain Management
biologis (proses  Comfort level
penyakit) Kriteria Hasil :  Lakukan pengkajian nyeri
 Mampu mengontrol nyeri secara komprehensif
(tahu penyebab nyeri, mampu termasuk lokasi,
menggunakan tehnik karakteristik, durasi,
nonfarmakologi untuk frekuensi, kualitas dan faktor
mengurangi nyeri, mencari presipitasi
bantuan)  Observasi reaksi nonverbal
 Melaporkan bahwa nyeri dari ketidaknyamanan
berkurang dengan  Gunakan teknik
menggunakan manajemen komunikasi terapeutik untuk
nyeri mengetahui pengalaman
 Mampu mengenali nyeri nyeri pasien
(skala, intensitas, frekuensi  Kaji kultur yang
dan tanda nyeri) mempengaruhi respon nyeri
 Menyatakan rasa nyaman  Evaluasi pengalaman nyeri
setelah nyeri berkurang masa lampau
 Tanda vital dalam rentang  Evaluasi bersama pasien
normal dan tim kesehatan lain
tentang ketidakefektifan
kontrol nyeri masa lampau
 Bantu pasien dan keluarga
untuk mencari dan
menemukan dukungan
 Kontrol lingkungan yang
dapat mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan kebisingan
 Kurangi faktor presipitasi
nyeri
 Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologi, non
farmakologi dan inter
personal)
 Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan intervensi
 Ajarkan tentang teknik non
farmakologi
 Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
 Evaluasi keefektifan
kontrol nyeri
 Tingkatkan istirahat
 Kolaborasikan dengan
dokter jika ada keluhan dan
tindakan nyeri tidak berhasil
 Monitor penerimaan pasien
tentang manajemen nyeri
Analgesic Administration
 Tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas, dan
derajat nyeri sebelum
pemberian obat
 Cek instruksi dokter
tentang jenis obat, dosis, dan
frekuensi
 Cek riwayat alergi
 Pilih analgesik yang
diperlukan atau kombinasi
dari analgesik ketika
pemberian lebih dari satu
 Tentukan pilihan analgesik
tergantung tipe dan beratnya
nyeri
 Tentukan analgesik pilihan,
rute pemberian, dan dosis
optimal
 Pilih rute pemberian secara
IV, IM untuk pengobatan
nyeri secara teratur
 Monitor vital sign sebelum
dan sesudah pemberian
analgesik pertama kali
 Berikan analgesik tepat
waktu terutama saat nyeri
hebat
 Evaluasi efektivitas
analgesik, tanda dan gejala
(efek samping)
3 Ketidakseimbang NOC : NIC :
an nutrisi kurang  Nutritional Status : food Nutrition Management
dari kebutuhan and Fluid Intake  Kaji adanya alergi
tubuh b.d  Nutritional Status : nutrient makanan
ketidakmampuan Intake  Kolaborasi dengan ahli gizi
untuk  Weight control untuk menentukan jumlah
mengabsorbsi Kriteria Hasil : kalori dan nutrisi yang
zat-zat bergizi  Adanya peningkatan berat dibutuhkan pasien.
karena faktor badan sesuai dengan tujuan  Anjurkan pasien untuk
bilogis, proses  Berat badan ideal sesuai meningkatkan intake Fe
penyakit. dengan tinggi badan  Anjurkan pasien untuk
 Mampumengidentifikasi meningkatkan protein dan
kebutuhan nutrisi vitamin C
 Tidak ada tanda tanda  Berikan substansi gula
malnutrisi  Yakinkan diet yang
 Menunjukkan peningkatan dimakan mengandung tinggi
fungsi pengecapan dari serat untuk mencegah
menelan konstipasi
 Tidak terjadi penurunan  Berikan makanan yang
berat badan yang berarti terpilih ( sudah
dikonsultasikan dengan ahli
gizi)
 Ajarkan pasien bagaimana
membuat catatan makanan
harian.
 Monitor jumlah nutrisi dan
kandungan kalori
 Berikan informasi tentang
kebutuhan nutrisi
 Kaji kemampuan pasien
untuk mendapatkan nutrisi
yang dibutuhkan
Nutrition Monitoring
 BB pasien dalam batas
normal
 Monitor adanya penurunan
berat badan
 Monitor tipe dan jumlah
aktivitas yang biasa
dilakukan
 Monitor interaksi anak atau
orangtua selama makan
 Monitor lingkungan selama
makan
 Jadwalkan pengobatan dan
tindakan tidak selama jam
makan
 Monitor kulit kering dan
perubahan pigmentasi
 Monitor turgor kulit
 Monitor kekeringan,
rambut kusam, dan mudah
patah
 Monitor mual dan muntah
 Monitor kadar albumin,
total protein, Hb, dan kadar
Ht
 Monitor makanan kesukaan
 Monitor pertumbuhan dan
perkembangan
 Monitor pucat, kemerahan,
dan kekeringan jaringan
konjungtiva
 Monitor kalori dan intake
nuntrisi
 Catat adanya edema,
hiperemik, hipertonik papila
lidah dan cavitas oral.
 Catat jika lidah berwarna
magenta, scarlet
4 Defisit volume NOC: NIC :
cairan b.d  Fluid balance Fluid management
kekurangan  Hydration  Timbang
cairan dan  Nutritional Status : Food popok/pembalut jika
elektrolit aktif and Fluid Intake diperlukan
Kriteria Hasil :  Pertahankan catatan
 Mempertahankan urine intake dan output yang akurat
output sesuai dengan usia dan  Monitor status hidrasi
BB, BJ urine normal, HT ( kelembaban membran
normal mukosa, nadi adekuat,
 Tekanan darah, nadi, suhu tekanan darah ortostatik ),
tubuh dalam batas normal jika diperlukan
 Tidak ada tanda tanda  Monitor vital sign
dehidrasi, Elastisitas turgor  Monitor masukan
kulit baik, membran mukosa makanan / cairan dan hitung
lembab, tidak ada rasa haus intake kalori harian
yang berlebihan  Kolaborasikan
pemberian cairan IV
 Monitor status nutrisi
 Berikan cairan IV pada
suhu ruangan
 Dorong masukan oral
 Berikan penggantian
nesogatrik sesuai output
 Dorong keluarga untuk
membantu pasien makan
 Tawarkan snack ( jus
buah, buah segar )
 Kolaborasi dokter jika
tanda cairan berlebih muncul
meburuk
 Atur kemungkinan
tranfusi
 Persiapan untuk tranfusi
5 Cemas/ takut NOC : NIC :
berhubungan  Anxiety control Anxiety Reduction
dengan  Coping (penurunan kecemasan)
perubahan  Impulse control  Gunakan pendekatan
kesehatan Kriteria Hasil : yang menenangkan
(penyakit  Klien mampu  Nyatakan dengan jelas
leptospirosisi) mengidentifikasi dan harapan terhadap pelaku
mengungkapkan gejala cemas pasien
 Mengidentifikasi,  Jelaskan semua prosedur
mengungkapkan dan dan apa yang dirasakan
menunjukkan tehnik untuk selama prosedur
mengontol cemas  Pahami prespektif pasien
 Vital sign dalam batas terhdap situasi stres
normal  Temani pasien untuk
 Postur tubuh, ekspresi memberikan keamanan dan
wajah, bahasa tubuh dan mengurangi takut
tingkat aktivitas menunjukkan  Berikan informasi
berkurangnya kecemasan faktual mengenai diagnosis,
tindakan prognosis
 Dorong keluarga untuk
menemani anak
 Lakukan back / neck rub
 Dengarkan dengan
penuh perhatian
 Identifikasi tingkat
kecemasan
 Bantu pasien mengenal
situasi yang menimbulkan
kecemasan
 Dorong pasien untuk
mengungkapkan perasaan,
ketakutan, persepsi
 Instruksikan pasien
menggunakan teknik
relaksasi
 Barikan obat untuk
mengurangi kecemasan
6 Kurang NOC : NIC :
pengetahuan  Kowlwdge : disease Teaching : disease Process
tentang penyakit, process 1. Berikan penilaian
prognosis dan  Kowledge : health Behavior tentang tingkat pengetahuan
pengobatan Kriteria Hasil : pasien tentang proses
berhubungan  Pasien dan keluarga penyakit yang spesifik
dengan menyatakan pemahaman 2. Jelaskan patofisiologi
kurangnya tentang penyakit, kondisi, dari penyakit dan bagaimana
informasi, prognosis dan program hal ini berhubungan dengan
misinterpretasi, pengobatan anatomi dan fisiologi, dengan
keterbatasan  Pasien dan keluarga mampu cara yang tepat.
kognitif melaksanakan prosedur yang 3. Gambarkan tanda dan
dijelaskan secara benar gejala yang biasa muncul
 Pasien dan keluarga mampu pada penyakit, dengan cara
menjelaskan kembali apa yang yang tepat
dijelaskan perawat/tim 4. Gambarkan proses
kesehatan lainnya. penyakit, dengan cara yang
tepat
5. Identifikasi kemungkinan
penyebab, dengna cara yang
tepat
6. Sediakan informasi pada
pasien tentang kondisi,
dengan cara yang tepat
7. Hindari harapan yang
kosong
8. Sediakan bagi keluarga
atau SO informasi tentang
kemajuan pasien dengan cara
yang tepat
9. Diskusikan perubahan
gaya hidup yang mungkin
diperlukan untuk mencegah
komplikasi di masa yang
akan datang dan atau proses
pengontrolan penyakit
10. Diskusikan pilihan terapi
atau penanganan
11. Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second opinion
dengan cara yang tepat atau
diindikasikan
12. Eksplorasi kemungkinan
sumber atau dukungan,
dengan cara yang tepat
13. Rujuk pasien pada grup
atau agensi di komunitas
lokal, dengan cara yang tepat
14. Instruksikan pasien
mengenai tanda dan gejala
untuk melaporkan pada
pemberi perawatan
kesehatan, dengan cara yang
tepat
7 Resiko kerusakan NOC : Tissue Integrity : Skin NIC : Pressure
integritas kulit and Mucous Membranes Management
berhubungan Kriteria Hasil :  Anjurkan pasien untuk
dengan efek kerja  Integritas kulit yang baik menggunakan pakaian yang
penyakit, deficit bisa dipertahankan (sensasi, longgar
imunologik, elastisitas, temperatur, hidrasi,  Hindari kerutan padaa
penurunan intake pigmentasi) tempat tidur
nutrisi dan  Tidak ada luka/lesi pada  Jaga kebersihan kulit agar
anemia. kulit tetap bersih dan kering
 Perfusi jaringan baik  Mobilisasi pasien (ubah
 Menunjukkan pemahaman posisi pasien) setiap dua jam
dalam proses perbaikan kulit sekali
dan mencegah terjadinya  Monitor kulit akan adanya
sedera berulang kemerahan
 Mampu melindungi kulit  Oleskan lotion atau
dan mempertahankan minyak/baby oil pada derah
kelembaban kulit dan yang tertekan
perawatan alami  Monitor aktivitas dan
mobilisasi pasien
 Monitor status nutrisi
pasien
 Memandikan pasien
dengan sabun dan air hangat
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J. 2003. Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Jakarta: EGC
Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New
Jersey: Upper Saddle River
Judarwanto, W. 2009. Cermin Dunia Kedokteran; Leptospirosis pada Manusia.
Jakarta: Allergy Behaviour Clinic, Picky Eaters Clinic Rumah Sakit Bunda
Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid Kedua. Jakarta: Media
Aesculapius FKUI
Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second
Edition. New Jersey: Upper Saddle River
NSW Multicultural Health Communication Service. 2003. Leptospirosis. Dimuat
dalam http://mhcs.health.nsw.gov.au (Diakses 20 Februari 2012)
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima
Medika