Anda di halaman 1dari 12

BAB I.

PENDAHULUAN

Hasil perikanan termasuk kedalam bahan pangan yang mudah rusak. Kerusakan
tersebut dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam maupun dari luar. Melalui
proses pengolahan, faktor-faktor penyebab kerusakan yang berasal dari dalam dapat
dihilangkan sampai batas tertentu tergantung pada teknik dan metode pengolahan,
penanganan pasca pengolahan seperti pengemasan dan kondisi penyimpanan. Setelah produk
diolah, proses kerusakan kemungkinan masih dapat terjadi, yang utamanya disebabkan oleh
faktor-faktor dari luar (lingkungan). Oleh karena itu untuk memperpanjang waktu penyimpanan,
biasanya produk yang telah diolah, dilakukan proses pengemasan dan juga penyimpanan pada
kondisi terkontrol.
Pengemasan disebut juga pembungkusan, pewadahan atau pengepakan memegang
peranan penting dalam pengawetan bahan pangan, termasuk hasil perikanan. Tujuan utamanya
adalah untuk memperpanjang umur simpan produk tersebut. Karena adanya wadah atau
pembungkusan dapat membantu mencegah atau mengurangi kerusakan, melindungi produk
yang ada di dalamnya, melindungi dari bahaya pencemaran (debu, serangga) dan gangguan
fisik (gesekan, benturan, getaran). Selain itu pengemasan juga berfungsi untuk memudahkan
dalam proses penyimpanan, pengangkutan dan distribusi. Seiring dengan kemajuan ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS); pengemasan juga dijadikan sebagai sarana
promosi yang berfungsi sebagai perangsang atau daya tarik pembeli. Bahkan pengemasan juga
berfungsi sebagai alat komunikasi, dimana informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan
produk tersebut juga dicantumkan. Karena itu, warna, desain, bentuk, dan dekorasi dari
kemasan perlu diperhatikan dalam perencanaannya.
Hal ini yang dilakukan oleh masyarakat Jepang, dimana produk-produk olahan hasil
perikanan yang berbasis pengolahan tradisional dengan sentuhan teknologi pengemasan
disulap menjadi produk yang exclusive, tidak terkesan tradisional. Selain itu dengan
pengemasan dapat meningkatkan added value dari produk asalnya berlipat ganda dengan nilai
jual tinggi dan mempunyai jangkauan daerah pemasaran yang tersebar luas. Fungsi utama dari
pengemasan adalah untuk melindungi produk dan mempermudah dalam proses
penanganannya (penyimpanan, transportasi dan distribusi). Pada era modern seperti sekarang
ini berbagai kemasan dan proses kemasan telah berkembang secara beragam. Tipe-tipe
kemasan ini sekarang telah menjadi alat untuk menarik konsumen yaitu dengan cara
mengiklankan baik di media cetak maupun audiovisual.
BAB II. KEMASAN PANGAN

Secara garis besar faktor-faktor penyebab kerusakan dalam produk perikanan


sehubungan dengan kemasan yang digunakan dapat dibagi menjadi 2 kelompok :
1. Kerusakan yang ditentukan oleh sifat alamiah produk yang dikemas sehingga tidak dapat
dicegah dengan pengemasan saja, seperti : perubahan – perubahan fisik, biokimia dan
mikrobiologis.
2. Kerusakan yang disebabkan faktor lingkungan dan hampir seluruhnya dapat dikontrol
melalui teknologi pengemasan, misalnya : kerusakan mekanis, perubahan kadar air bahan,
penyerapan dari dan interaksi dengan oksigen, hilang atau bertambahnya cita rasa.

A. FUNGSI KEMASAN
Bahan kemasan baik yang berasal dari plastik, kertas, karton, kaleng, gelas maupun
bahan lainnya, seyogyanya mempunyai 6 fungsi utama (Syarief et al., 1989; Buckle et al.,
1985), yaitu :
1. Menjaga produk yang dikemas agar tetap bersih dan merupakan pelindung terhadap
kotoran dan kontaminasi.
2. Melindungi dari kerusakan fisik, perubahan kadar air, oksigen dan sinar.
3. Mempunyai fungsi yang baik, efisien dan ekonomis khususnya selama proses penempatan
bahan yang dikemas kedalam wadah kemasan.
4. Mempunyai kemudahan dalam membuka atau menutup dan juga memudahkan dalam
tahap-tahap penanganan, pengankutan dan distribusi.
5. Mempunyai ukuran, bentuk dan bobot yang sesuai dengan norma atau standar yang ada,
mudah dibuang dan dibentuk atau dicetak.
6. Menampakkan identifikasi, informasi dan penampilan yang jelas agar dapat membantu
promosi atau penjualan.
Dengan menentukan fungsi perlindungan dari pengemasan, maka perlu
dipertimbangkan pula aspek-aspek mutu yang akan dilindungi. Mutu produk ketika mencapai
konsumen tergantung dari kondisi bahan mentah, metode pengolahan dan kondisi
penyimpanan. Dengan banyaknya persyaratan yang harus dipenuhi bagi bahan pengemas,
maka tentu saja bahan kemas alami tidak akan memenuhi sebagian besar persyaratan
tersebut. Oleh karena itu dengan bantuan IPTEKS, manusia membuat kemasan sintetik yang
dapat memenuhi sebagian besar persyaratan minimal yang diperlukan. Sehingga sampai
dengan saat ini jelas kemasan sintetik paling banyak digunakan dan mudah untuk
mendapatkannya.

B. KLASIFIKASI KEMASAN
Kemasan dapat digolongkan berdasarkan berbagai hal seperti : frekuensi pemakaian,
struktur sistem kemasan, sifat kekakuan bahan, sifat perlindungan terhadap lingkungan, dan
tingkat kesepian pakai (Syarief et al., 1985).
1. Frekuensi pemakaian
a Kemasan sekali pakai (disposable), yaitu kemasan yang langsung dibuang setelah satu
kali pemakaian. Contohnya bungkus plastik untuk produk bandeng presto, kaleng ikan
sardin.
b Kemasan yang dapat dipakai berulang kali (multi trip), seperti beberapa jenis botol
minuman atau botol kecap. Wadah ini umumnya tidak dibuang oleh konsumen, akan
tetapi dikembalikan lagi pada agen penual untuk kemudian dimanfaatkan kembali oleh
produsen (pabrik).
c Kemasan atau wadah yang tidak dibuang atau dikembalikan oleh konsumen (semi
disposeble). Wada-wadah tersebut biasanya digunakan untuk kepentingan lain dirumah
konsumen setelah dipakai, seperti beberapa jenis botol, wadah dari kaleng (susu,
makanan bayi).
2. Struktur sistem kemasan
Berdasarkan letak atau kedudukan suatu bahan kemas didalam sistem kemasan
keseluruhan dapat dibedakan menjadi :
a. kemasan primer yaitu apabila bahan kemas langsung mewadahi atau membungkus
bahan pangan (kaleng susu, botol minuman, plastik HPDE pembungkus udang beku,
bungkus tempe).
b. Kemasan sekunder yaitu kemasan yang fungsi utamanya melindungi kelompok-
kelompok kemasan lainnya seperti kotak karton untuk melindungi wadah susu dalam
kaleng, inner carton yang dipakai untuk melindungi udang beku yang telah dibungkus
plastik HDPE.
c. Kemasan tersier, kuarterner yaitu apabila masih diperlukan lagi pengemasan setelah
kemasan primer, sekunder dan tersier atau kuarterner. Pada umumnya digunakan
sebagai pelindung dalam pengangkutan. Misalnya master carton yang terdiri dari
beberapa inner carton pada produk udang beku.
3. Sifat kekakuan bahan kemas
a. Kemasan fleksibel yaitu bila bahan kemas mudah dilenturkan tanpa adanya retak atau
patah. Bahan kemas ini pada umumnya tipis misalnya plastik kertas aluminium foil.
b. Kemasan kaku yaitu bila bahan kemas bersifat keras, kaku, tidak tahan lenturan, patah
bila dipaksa dibengkokkan. Relatif lebih tebal dibandingkan kemasan fleksibel,
misalnya : kayu, gelas dan logam.
c. Kemasan semi kaku atau semi fleksibel, yaitu bahan kemas yang dimiliki sifat-sifat
antara kemasan fleksibel dan kemasan kaku, misalnya : botol plastik (kecap, saos) dan
wadah bahan yang berbentuk pasta.
4. Sifat perlindungan terhadap lingkungan
a. Kemasan hermetis (tahan uap dan gas) yaitu wadah yang secara sempurna tidak dapat
dilalui oleh gas, udara maupun uap air. Selama masih hermetis, maka wadah tersebut
juga tidak dapat dilalui oleh bakteri, khamir, kapang dan debu. Wadah-wadah yang
biasanya digunakan untuk pengemasan secara hermetis adalah kaleng dan botol gelas,
tetapi penutupan yang salah dapat mengakibatkan wadah tidak lagi hermetis.
b. Kemasan tahan cahaya yaitu wadah yang tidak bersifat transparan (kemasan logam,
kertas, foil). Botol atau wadah gelas dapat dibuat gelap atau keruh. Kemasan tahan
cahaya sangat cocok untuk bahan pangan yang mengandung lemak dan fitamin tinggi,
serta makanan yang difermentasi (karena cahaya dapat mangaktifkan reaksi kimia dan
aktifitas enzim).
c. Kemasan tahan suhu tinggi, jenis wadah ini digunakan untuk bahan pangan yang
memerlukan pemanasan, sterilisasi atau pasteorisasi. Umumnya wadah logam dalam
gelas.
5. Tingkat kesiapan pakai
a. Wadah siap pakai yaitu bahan kemas yang siap untuk diisi dengan bentuk yang telah
sempurna sejak keluar dari pabrik. Contohnya adalah botol, wadah kaleng.
b. Wadah siap dirakit atau disebut juga wadah lipatan, yaitu kemasan yang masih
memerlukan tahan perakitan sebelum pengisian, misalnya : wadah yang terbuat dari
kertas, foil atau plastik. Keuntungannya kemasan siap dirakit adalah penghematan
ruang dalam pengangkutan serta kebebasan dalam menentukan ukuran.
Seiring dengan kemajuan IPTEKS, ada jenis kemasan yang dapat langsung dimakan
seperti kemasan pada sosis dan permen yang disebut edipleks. Jenis kemasan ini berasal dari
pati sehingga bisa langsung dimakan dengan produk yang dibungkusnya. Kemasan edible lain
dapat berasal dari chitosan, gelatin, ising-glass atau jenis polisakarida lainnya.
III. TIPE-TIPE UTAMA DARI WADAH DAN BAHAN-BAHAN KEMASAN

A. Wadah
Wadah dapat dibagi secara garis besar menjadi dua macam tergantung pada
penggunannya, yaitu wadah bagian luar atau wadah pengangkutan dan wadah untuk
konsumen atau wadah penjualan. Tujuan utama dari wadah pengangkutan adalah sebagai
tempat dan juga untuk melindungi isinya selama pengangkutan dari pabrik ke konsumen.
Fungsi dari wadah untuk konsumen atau wadah penjualan yaitu memberikan sejumlah tertentu
barang dalam satu unit yang akan dibeli oleh konsumen terakhir.
Ada tujuh tipe utama wadah bagian luar atau wadah pengankutan (Buckle et al., 1985):
a. Peti-peti atau krat (crates) dari kayu atau plywood.
b. Kotak-kotak kayu atau baja (kegs) plywood
c. Drum-drum baja dan alumunium.
d. Drum dari fibre board.
e. Peti-peti dari fibre board yang padat dan bergelombang.
f. Kantung dari tekstil (yute, katun, linen)
g. Karung (bales).
Disamping ketujuh tipe utama tersebut, ada beberapa tipe yang tersusun dari wadah plastik
yang diperkuat dengan dengan fibre glass. Wadah plastik seringkali juga digunakan untuk
pengangkutan bahan-bahan cair.
Kelompok utama dari wadah-wadah untuk konsumen atau penjualan (Buckle et al.,1985)
adalah :
a. Kaleng-kaleng logam dan wadah yang bagian tutupnya diperkuat dengan logam.
b. Botol-botol dan stoples gelas.
c. Wadah-wadah plastik dengan bermacam-macam bentuk yang kaku atau agak kaku.
d. Tabung-tabung yang tahan rusak kalau jatuh, baik terbuat dari logam maupun plastik.
e. Kotak yang dibuat dari kertas tebal dan karton yang kaku dan dapat dilipat.
f. Wadah dari paper-pulp dengan bermacam-macam bentuk.
g. Pengemasan yang fleksibel terbuat dari kertas, paper board, plastik tipis, foil, laminats yang
digunakan untuk membungkus, kantung, amplop, sachet, pelapis luas dan lain-lain.

B. Bahan-bahan Kemasan
Pengelompokkan dasar bahan-bahan pengemas yang digunakan untuk bahan pangan
termasuk hasil perikanan adalah :
a. Logam seperti lempeng timah, baja bebas timah, alumunium.
b. Gelas
c. Plastik, termasuk beraneka ragam plastik tipis, yang berlapis laminates dengan plastik
lainnya, kertas atau logam (alumunium).
d. Kertas, paperboard, fibreboard.
e. Lapisan (laminate) dari satu atau lebih bahan-bahan di atas.

C. Perubahan-perubahan yang terjadi terhadap bahan yang dikemas


Penyimpangan mutu bahan pangan termasuk komoditas perikanan dan produk-produk
olahannya adalah penyusutan kualitatif dimana bahan tersebut mengalami penurunan mutu
sehingga mejadi tidak layak lagi untuk dikonsumsi manusia. Bahan pangan dikatakan rusak
apabila telah mengalami perubahan cita rasa, penurunan nilai gizi, atau tidak aman lagi untuk
dikonsumsi karena dapat menggangu kesehatan. Makanan rusak adalah makanan yang sudah
kedaluarsa atau melampaui masa simpan (shelf-life). Makanan kedaluarsa barangkali masih
tampak bagus akan tetapi mutunya sudah munurun, demikian pula nilai gizinya.
Selain penyusutan kualitatif dikenal pula penyusutan kuantitatif, yaitu kehilangan jumlah atau
bobot, karena penanganan yang kurang baik maupun gangguan biologi (serangan serangga
dan tikus). Susut kualitatif dan kuantitatif sangat penting dalam proses pengemasan. Apabila
dibandingkan antara kedua jenis susut tersebut, maka susut kuantitatif lebih berperan dalam
pengemasan.
Pengemasan sebagai bagian integral dari proses pengolahan dan pengawetan
komoditas periklanan dapat pula mempengaruhi mutu, yang disebabkan oleh perubahan-
perubahan :
1. Perubahan fisik dan kimia karena migrasi zat-zat kimia dari bahan kemas (monomer
plastik, timah putih, korosi).
2. Perubahan aroma (flavor), warna, tekstur yang dipengaruhi oleh perpindahan uap air dan
oksigen.

D. Standar mutu pengemasan


Pengaturan standar mutu bahan pengemas sangat penting seperti halnya pengaturan
standar mutu bahan pangan itu sendiri. Ada dua tahapan pengembangan dari suatu standar
mutu pengemasan untuk suatu produk pangan termasuk hasil perikanan. Pertama untuk
membuktikan bahwa bahan pengemas cukup memadai secara teknik laboratorium dan
dilanjutkan dengan percobaan kecil di lapangan. Dalam fase ini, bahan pangan dikemas dan
disimpan dalam kondisi yang telah ditentukan untuk jangka waktu tertentu dan dilakukan
pengujian secara organoleptik, kimia dan mikrobiologi untuk menentukan keadaan bahan
pangan tersebut. Disarankan pula untuk melakukan pengujian, distribusi dan penjualan yang
tidak dapat mencapai ideal.
Setelah meneliti kesesuaian bahan pengemas untuk tujuan tertentu seperti pengelolaan,
distribusi dan penjualan, tetap perlu dipertimbangkan metode yang lebih cepat untuk
pengawasan mutu pengemas yang dihasilkan dan bahan-bahan pangan yang telah dikemas.
Kerjasama yang baik antara para penyedia bahan pengemas dan pihak-pihak yang melakukan
proses pengemasan bahan pangan akan memberikan hasil yang baik pula.
Karena jenis kemasan yang paling banyak digunakan dalam bahan pangan adalah plastik,
maka perlu diketahui jenis-jenisnya dalam kaitannya dengan sifat-sifat ketahanannya terhadap
lemak/minyak, pelarut organik, air, asam dan basa (Tabel 1) dan juga daya tembus terhadap
berbagai macam gas (Tabel 2 dan Tabel 3).
Tabel 1. Ketahanan plastik terhadap bahan-bahan kimia.
Ketahanan terhadap
Jenis plastic Lemak dan Pelarut
Air Asam BAsa
minyak organik
Cellophan biasa (plain) Tak tembus Tak larut Sedang Asam- Basa-
(impermeable) asam basa
lemah lemah
sampai sampai
kuat kuat
Cellophan berlapis NC Tak tembus Lapisan Sedang Asam- Basa-
(nitrocellulosa coated) terserang asam basa
lemah lemah
sampai sampai
kuat kuat
Cellophan berlapis saran Tak tembus - - Sangat Baik,
(saran coated) baik, kecuali
kecuali amonia
H2SO4
dan
HNO3
Cellophan berlapis Polythylene Polythylene - Sangat Sangat
Polyethylene baik baik

Cellulose asetat Baik Larut, kecuali - Asam- Basa-


dalam asam basa
hidrokarbon lemah lemah
sampai sampai
kuat kuat
Polyamide (Nylon 6) Sangat baik Sangat baik Sangat Jelek Sangat
baik baik
Polyethylene, kerapatan Dapat sedikit Baik, kecuali Sangat Sangat Sangat
rendah menggembung pelarut- baik baik baik
(LDPE=lowdwnsity pada pelarut
polyethylene) perendaman hidrokarbon
yang lama yang
mengandung
klor
Polyethylene, kerapatan Baik Baik Sangat Sangat Sangat
sedang baik baik baik
(MDPE=mediumdensity
polyethylene)

Polyethylene, kerapatan Sangat baik Baik Sangat Sangat Sangat


tinggi baik baik baik
(HDPE=hightdensity
polyethylene)

Polyester (mylar, scotch Sangat baik Sangat baik Sangat Baik Baik
pak, videne) Baik
Polystyrene (oriented) Baik Sangat baik Sangat Baik Baik
sampai jelek baik
Rubber hydrochloride Sangat baik Baik, kecuali Sangat Baik Baik
(plliofilm) pelarut- baik
pelarut
hidrokarbon
yang
mengandung
klor
Vinylidene-cryovac Sangat baik Baik sampai Sangat Sangat Baik,
sangat baik baik baik kecuali
amonia
Vinylidine-saran Sangat baik Baik sampai Sangat Sangat Baik,
sangat baik baik baik, kecuali
kecuali amonia
H2SO4
dan
HNO3
Vinylidine-saran Sangat baik Baik sampai Sangat Sangat Baik,
sangat baik baik baik, kecuali
kecuali amonia
H2SO4
dan
HNO3
Vinyl chloride Sedang sampai Jelek sampai Sangat Baik Baik
baik baik baik
Sumber : Buckle et al. (1985).
Tabel 2. Daya tembus plastik yang fleksibel terhadap N2, O2, CO2 dan H2O

Daya tembus (cm3/cm2/mm/det/cmHg) x 1010


Jenis Plastik 25oC1 90%RH
N2 30oC1 O2 CO2
H2O
Polyethylene (kerapatan rendah) 19 55 352 800
Polyethylene (kerapatan tinggi) 2.7 10.6 35 130
Polystyrene 2.9 11.0 88 12000
Polyamide (nylon 6) 0.1 0.38 1.6 7000
Polypropylene - 23.0 92 380
Polyvinyl chloride (rigid) 0.1 1.2 10 1560
Polyester (mylar) 0.05 0.22 1.53 1300
Polyvinylidene chloride 0.0094 0.053 0.29 14
Rubber hydrochloride (pliofilm
0.08 0.3 1.7 240
NO)
Polyvinyl acetate - 0.5 - 100000
Ethyl cellulose 84 265 2000 130000
Cellulose acetate 2.8 7.8 68 75000
Sumber : Buckle et. Al. (1985)
Tabel 3 Daya tembus plastik yang fleksibel terhadap SO2, O2 dan H2O pada suhu 25oC

Daya tembus (cm3/cm2/mm/det/cmHg) x 1010


Jenis Plastik Ketebalan Diukur pada
2
O2 SO2
(mmx10 ) 75% RH, H2O
Polyethylene (kerapatan rendah) 19 55 352 800
Polyethylene (kerapatan tinggi) 2.7 10.6 35 130
Polycarobanet 2.9 11.0 88 12000
Polystyrene 0.1 0.38 1.6 7000
Polyamide (nylon 11) - 23.0 92 380
Polypropylene 0.1 1.2 10 1560
Polyviny chloride (rigid) 0.05 0.22 1.53 1300
Polyester 0.0094 0.053 0.29 14
PVDC/polypropylene/PVDC=poly-
0.08 0.3 1.7 240
vinyleden chloride
PVDC/regenerated cellulose/PVDC - 0.5 - 100000
IV. JENIS-JENIS KEMASAN YANG DIGUNAKAN UNTUK PRODUK PERIKANAN

A. Kemasan kertas
Secara tradisional para pengolah hasil perikanan banyak menggunakan jenis kemasan
ini terutama untuk produk pengolahan kering seperti ikan asin. Macam-macam kertas yang
digunakan mulai dari kertas koran, kertas bekas kantong semen ataupun kertas lainnya. Yang
perlu diperhatikan terhadap penggunaan kertas bekas sebagai pembungkus makanan dapat
menimbulkan berbagai masalah. Kemungkinan pertama yaitu kebersihan (higienis) dari kertas
tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan. Kemungkinan lainnya adanya unsur-unsur atau
senyawa-senyawa kimia yang dapat melekat bahkan bermigrasi dari pembungkus kertas
makanan, seperti tinta, pigmen, bahan pengawet, bahan pengisi (filler) dan berbagai bahan
tinambah lainnya. Oleh karena itu penggunaan kemasan jenis ini perlu dipertimbangkan,
kalaupun akan digunakan pilih kertas yang bersih (higienis) dan bebas dari cemaran tinta dan
cemaran lainnya.

B. Kemasan yang terbuat dari bambu (anyaman bambu)

Dalam pengolahan ikan pidang besek, kemasan ini digunakan untuk meletakkan ikan, sehingga

memudahkan pada waktu merebus dalam air garam yang mendidih. Kemasan ini juga sekaligus

berfungsi sebagai alat distribusi ke konsumen. Anyaman bambu dalam ukuran besar (keranjang) yang

kadang-kadang dikombinasikan dengan kertas banyak digunakan pada penyimpanan dan distribusi

ikan asin.

C. Kemasan yang terbuat dari tanah liat (gerabah = pendil)

Digunakan untuk mengolah produk-produk formentasi hasil perikanan seperti ikan peda, dan

juga pada pembuatan pindang pendil (paso). Kadang-kadang pendil ini juga berfungsi sebagai alat

distribusi ke konsumen.

D. Kemasan karton, kardus dan sejenisnya

Jenis kemasan ini banyak digunakan pada waktu pendistribusian. Pada umumnya bahan

dikemas dengan menggunakan kemasan primer terlebih dahulu dalam satuan-satuan ukuran yang

kecil, kemudian dimasukkan kedalam karton pada waktu penganglutan. Untuk tujuan-tujuan yang

berkaitan dengan keamanan bahan yang dikemas, karton atau kardus dilapisi dengan lapisan lilin (wax)

pada lapisan dalamnya, pada lapisan tengah ada lapisan bergelombang dan keseluruhan lapisan

mempunyai ketebalan tertentu.

E. Kemasan plastik

Kemasan ini paling banyak digunakan dalam bahan pangan termasuk produk olahan hasil

perikanan. Ada dua jenis kemasan plastik yang banyak digunakan yaitu politen atau polietilen (PE) dan
poliester atau poliester atau polietilen treptalat (PET). Alasan kenapa kedua jenis kemasan plastik ini

banyak digunakan, karena sifat-sifat umum polietilen (Syarief et al., 1985) adalah :

a. Penampakan bervariasi dari transparan, berminyak sampai keruh (translucid) tergantung dari

cara pembuatannya serta jenis resin yang digunakan.

b. Mudah dibentuk, lemas dan gampang ditarik

c. Daya rentang tinggi tanpa sobek.

d. Mudah dikelim panas sehingga banyak digunakan untuk laminasi dengan bahan lain. Meleleh

pada suhu 120OC.

e. Tidak cocok untuk mengemas produk-produk yang berlemak, atau berminyak.

f. Tahan terhadap asam, basam alkohol, deterjen dan bahan kimia lainnya.

g. Dapat digunakan untuk penyimpanan beku sampai dengan -50 OC.

h. Transmisi gas cukup tinggi sehingga tidak cocok untuk mengemas makanan beraroma.

i. Mudah lengket satu sama lain, sehingga menyulitkan dalam proses laminasi.

j. Dapat dicetak setelah mengoksidasikan permukaannya dengan proses elektronik.

k. Memiliki sifat kedap air dan uap dan berdasarkan kerapatannya dapat dibedakan menjadi HDPE,

MDPE dan LDPE (Tabel 1).

Poliester atau polietilen treptalat (PET) mempunyai sifat-sifat umum (Syarief et al.,1985) adalah :

a. Tembus pandang, bersih dan jernih

b. Adaptasi terhadap suhu tinggi (3000C) sangat baik

c. Permeabilitas uap air dan gas sangat rendah.

d. Tahan terhadap pelarut organik

e. Tidak tahan terhadap asam kuat, fenol, benzil alkohol.

f. Kuat, tidak mudah sobek.

g. Tidak mudah dikelim dengan penggunaan pelarut.

F. Kemasan logam (kaleng)

Kemasan jenis ini digunakan untuk produk-produk ikan kaleng dan pasteurisasi, seperti ikan

sardine kaleng, daging rajungan pasteurisasi.

H. Kemasan gelas (Botol)


Kemasan botol/gelas digunakan untk produk-produk yang berbentuk cair atau semi padat, seperti kecap

ikan, petis udang.