Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

MENINGOENSEFALITIS

Disusun oleh :
YESSI ROSIYANA
0433131440117078

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN


STIKes KHARISMA KARAWANG
2019
1. Definisi

Meningoensefalitis adalah suatu kondisi pembengkakan (inflamasi) dari selaput


otak (meningen) dan meliputi bagian jaringan syaraf otak.
Meningoensefalitis juga dapat disebabkan oleh virus. Proses penyakit ini berupa
radang akut dari jaringan selaput otak hingga jaringan otak. 80% kasus disebabkan
oleh enterovirus, namun pada kasus-kasus lain arbovirus dan herpes virus juga dapat
menyebabkan penyakit ini. Arbovirus yang merupakan zoonosis akan menginfeksi
manusia melalui vektor artropoda, seperti nyamuk dan kutu. Enterovirus adalah virus
dengan genom berupa RNA dan memiliki 68 serotipe yang telah teridentifikasi.
Encephalitis adalah radang jaringan otak yang dapat disebabkan oleh bakteri
cacing, protozoa, jamur, ricketsia atau virus. (Kapita selekta kedokteran jilid 2, 2000).

2. Etologi
a. Mikroorganisme : bakteri, protozoa, cacing, jamur, spirokaeta dan virus.
Macam-macam Encephalitis virus menurut Robin :
1. Infeksi virus yang bersifat epidermik :
a). Golongan enterovirus = Poliomyelitis, virus coxsackie, virus ECHO.
b).Golongan virus ARBO = Western equire encephalitis, St. louis encephalitis,
Eastern e quire encephalitis, Japanese B. encephalitis, Murray valley
encephalitis.
2. Infeksi virus yang bersifat sporadic : rabies, herpes simplek, herpes zoster,
limfogranuloma, mumps, limphotic, choriomeningitis dan jenis lain yang
dianggap disebabkan oleh virus tetapi belum jelas.
3. Encephalitis pasca infeksio, pasca morbili, pasca varisela, pasca rubella,
pasca vaksinia, pasca mononucleosis, infeksious dan jenis-jenis yang
mengikuti infeksi traktus respiratorius yang tidak spesifik.
4. Reaksin toxin seperti pada thypoid fever, campak, chicken pox.
5. Keracunan : arsenik, CO.
3. Patofisologi

Penyebab (virus, toxin, racun)

Masuk melalui kulit, sel nafas, sel cerna

Infeksi yang menyebar Infeksi yang menyebar


melalui darah melalui sitem saraf

Peradangan SSP Gangguan Tumbang

Peningkatan TIK

Perubahan perfusi Jaringan G3 Pertukaran Gas Disfungsi hipotalamus Nyeri Kepala

Hipermetabolik Gangguan Rasa


: Nyeri
Gangguan Transmisi Impuls Gangguan perfusi
Jar. Cerebral Mual, Muntah

G3 Cairan dan
Kejang Elektrolit Peningkatan Suhu
Tubuh

Kelemahan Neurologis Immobilisasi

Gangguan Integritas Kulit


4. Manifestasi Klinis

1. Demam.

2. Sakit kepala dan biasanya pada bayi disertai jeritan.

3. Pusing.

4. Muntah.

5. Nyeri tenggorokan.

6. Malaise.

7. Nyeri ekstrimitas.

8. Pucat.

9. Halusinasi.

10. Kaku kuduk.

11. Kejang.

12. Gelisah.

13. Iritable.

14. Gangguan kesadaran.

5. Komplikasi
Dapat terjadi :
- Akut :
Edema

otak.

SIADH.

Status konvulsi.

- Kronik :
Cerebral
palsy.
Epilepsy.
Gangguan visus dan pendengaran.
6. Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan cairan serebrospinal.


Warna dan jernih terdapat pleocytosis berkisar antara 50-200 sel dengan
dominasi sel limfosit. Protein agak meningkat sedangkan glucose dalam batas
normal.
2. Pemeriksaan EEG.
Memperlihatkan proses inflamasi yang difuse “bilateral” dengan aktivitas rendah.
3. Pemeriksaan virus.
Ditemukan virus pada CNS didapatkan kenaikan titer antibody yang spesifik
terhadap virus penyebab.

7. Penatalaksanaan
1). Pengobatan penyebab :
Diberikan apabila jenis virus diketahui Herpes encephalitis :
Adenosine arabinose 15 mg/Kg BB/hari selama 5 hari.
2). Pengobatan suportif.
Sebagian besar pengobatan encephalitis adalah : pengobatan nonspesifik
yang bertujuan mempertahankan fungsi organ tubuh. Pengobatan tersebut
antara lain :
ABC (Airway breathing, circulation) harus dipertahankan sebaik-baiknya.

o Pemberian makan secara adequate baik secara internal maupun parenteral


dengan memperhatikan jumlah kalori, protein, keseimbangan cairan
elektrolit dan vitamin.

o Obat-obatan yang lain apabila diperlukan agar keadaan umum penderita


tidak bertambah jelek.

B. Masalah keperawatan

1. Resiko tinggi terhadap infeksi (progresi dari sepsis ke syok sepsis)


2. Resiko tinggi terjadinya perubahan suhu : hyperthermi/hyphothermi.
3. Penurunan perfusi jaringan
4. Resiko tinggi deficit volume cairan.
5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
6. Gangguan rasa nyaman nyeri.
C. Diagnosa Keperawatan

a. Resiko tinggi terhadap infeksi (progresi dari sepsis ke syok sepsis)


sehubungan dengan perkembangan infeksi opportunistik.
b. Resiko tinggi terjadinya perubahan suhu : hyperthermi/hypothermi
sehubungan dengan peningkatan tingkat metabolisme tubuh,
vasokontriksi/vasodilatasi pembuluh darah.
c. Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan berkurangnya supply
oksigen/pernapasan irreguler.
d. Resiko tinggi defisit volume cairan sehubungan dengan diare, muntah,
perpindahan cairan dari jaringan interstitial ke vaskuler.
e. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan mual,
muntah, metabolisme meningkat.

D. Intervensi Keperawatan

1. Resiko tinggi terhadap infeksi (progresi dari sepsis ke syok sepsis)


sehubungan dengan perkembangan infeksi opportunistik.
a. Berikan isolasi/pantau pengunjung sesuai indikasi.
b. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan aktivitas walaupun
menggunakan sarung tangan.
c. Batasi penggunaan alat/prosedur invasif jika memungkinkan.
d. Gunakan teknik steril
e. Monitor suhu/peningkatan suhu secara teratur
f. Amati adanya menggigil
g. Pantau TTV klien
h. Kolaborasi dengan team medis dalam pemberian antibiotik

2. Resiko tinggi terjadinya perubahan suhu : hyperthermi/hypothermi sehubungan


dengan peningkatan tingkat metabolisme tubuh, vasokontriksi/vasodilatasi
pembuluh darah.

1. Pantau suhu klien (derajat dan pola) perhatikan menggigil/diaforesis.


2. Pantau suhu lingkungan/pengaturan suhu lingkungan.
3. Isolasi anak/bayi dalam inkubator
4. Beri kompres (dingin, hangat) bila terjadi peningkatan/penurunan suhu.
5. Catat peningkatan/penurunan suhu tubuh bayi.
6. Kolaborasi dengan team medis dalam pemeriksaan laboratorium
(leukosit meningkat).
3.Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan supply okigen
berkurang/pernapasan irreguler.
1) Kaji ulang terhadap pola pertumbuhan prenatal dan atau penurunan
jumlah cairan amnion seperti yang dideteksi oleh ultrasonografi.
2) Perhatikan jenis kelahiran dan kejadian intra partum yang
menandakan hipoksia.
3) Perhatikan waktu dan skor Apgar, observasi pola pernafasan.
4) Kaji frekuensi pernafasan, kedalaman, upaya, observasi dan
laporkan tanda dan gejala distress pernafasan, bedakan dari gejala yang
berhubungan dengan polisitemia.
5) Auskultasi bunyi nafas secara teratur.
6) Hisap selang nasofaring sesuai kebutuhan, setelah pemberian
suplemen oksigen pertama.
7) Auskultasi nadi apikal, perhatikan adanya sianosis.
8) Cegah komplikasi latrogenik berkenaan dengan distress dingin,
ketidakseimbangan metabolik dan ketidakcukupan kalori.

Kolaborasi
9) Pantau pembacaan oksimeter nadi.
10) Pantau pemeriksaan lab sesuai indikasi, PH serum, GDA, dan HT.
11) Berikan O2 hangat dan lembab, berikan vertilasi bantuan sesuai
indikasi.
12) Lakukan suction.
13) Hindari pelaksanaan suction yang terlalu sering.
Observasi dan kaji respon bayi terhadap terapi oksigen

4. Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan diare, muntah dan
perpindahan cairan dari interstitial ke vaskuler.
1. Pantau intake dan out put.
2. Timbang berat badan setiap hari.
3. Pantau kadar elektrolit darah, nitrogen urea darah, urine dan serum, osmolalitas,
kreatinin, Ht dan Hb.
4.Kaji suhu tubuh, kelembaban pada rongga oral, volume dan konsentrasi urine.
5.Berikan : bentuk-bentuk cairan yang menarik, wadah yang tidak biasa (cangkir
berwarna, sedotan) dan sebuah permainan atau aktivitas (suruh anak minum jika tiba
giliran anak).
5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah
dan metabolisme meningkat.
a) Kaji BB dalam hubungannya dengan usia gestasi dan ukuran. Dokumentasikan
pada grafik pertumbuhan. Timbang BB setiap hari.
b) Pertahankan lingkungna termonetral, termasuk penggunaan incubator sesuai
indikasi. Pantau suhu pemanas bayi dan lingkungan dengan sering.
c) Lakukan pemberian makan awal dan sering serta lanjutkan sesuai toleransi.
d) Kaji toleransi terhadap makanan. Perhatikan warna feses, konsistensi dan
frekwensi, adanya penurunan subtansi, lingkar abdomen, muntah dan residu
lambung.
e) Pantau masukan dan haluaran. Hitung konsumsi kalori dan elektrolit setiap hari.
f) Kaji tingkat dehidrasi, perhatikan fontanel, turgor kulit, BJ urine, kondisi
membran mukosa dan fluktuasi BB.
g) Pantau kadar Dextrosix segera setelah kelahiran dan secara rutin sampai
glukosa serum distabilkan.
h) Kaji tanda-tanda hipoglikemia.
Kolaborasi
i) Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi
j) Berikan suplemen elektrolit sesuai indikasi : kalsium glukonat 10%.
k) Buat akses intravaskuler sesuai indikasi.
l) Berikan nutrisi parenteral.
m) Diskusikan komplikasi jangka panjang dari malnutrisi pada bayi SGA dan
kegemukan pada bayi LGA, diskusikan pentingnya protein selam pertumbuhan
otak
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8. EGC. Jakarta.

Doengoes, ME. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC. Jakarta.

IDAI dan PP IDAI UKK Pulmonologi. 2000. Tatalaksana Mutakhir Penyakit Respiratorik
Pada Anak; Dalam Temu Ahli Respirologi Anak-Anak. Jakarta.

Nelson. 2000. Ilmu Kesehatan Anak; Volume 2 Edisi 15. EGC. Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai