Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH PRAKTIKUM

GLASS IONOMER CEMENT (GIC)

DOSEN PEMBIMBING PRAKTIKUM:


drg. M. Yanuar Ichrom Nahzi, Sp.KG

DISUSUN OLEH
FITRI SYAHRINA
1811111320020

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nya lah
maka penyusun dapat menyelesaikan makalah praktikum dental material yang
berjudul ”Semen Glass Ionomer” dengan pembimbing praktikum drg. M. Yanuar
Ichrom N., Sp.KG.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam menyelesaian makalah ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada
drg. M. Yanuar Ichrom N., Sp.KG selaku pembimbing praktikum yang
membimbing kami sehingga praktikum berjalan baik dan lancar.
Pembuatan makalah ini bertujuan memenuhi tugas praktikum dental
material. Dengan selesainya makalah ini semoga dapat menjadi referensi baik
pada institusi pendidikan dokter gigi guna kelancaran kegiatan belajar mengajar.
Penyusun menyadari keterbatasan akan literatur dan sumber informasi terkait
kajian dalam makalah, untuk itu kritik dan saran sangat kami harapkan. Semoga
makalah ini dapat dipergunakan dan bermanfaat bagi kita semua.

Banjarmasin, November 2019

Penyusun

DAFTAR ISI
COVER ...................................................................................................... i
KATA PENGANTAR .............................................................................. ii
DAFTAR ISI .............................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN...........................................................................1
1.1 Latar Belakang ................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................1
1.3 Tujuan Praktikum.............................................................................2
1.4 Manfaat Praktikum...........................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................3
2.1 Definisi GIC.....................................................................................3
2.2 Komposisi GIC.................................................................................3
2.3 Sifat GIC...........................................................................................3
2.3.1 Sifat Biologi ............................................................................3
2.3.2 Sifat Fisik.................................................................................4
2.3.3 Sifat Mekanik..........................................................................4
2.4 Klasifikasi GIC.................................................................................4
2.6 Reaksi Pengerasan GIC....................................................................6
BAB III METODE PRAKTIKUM...........................................................7
3.1 Bahan ...............................................................................................7
3.2 Alat...................................................................................................7
3.3 Cara Kerja.........................................................................................7
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN..................................................11
4.1 Hasil Pengamatan..........................................................................11
4.2 Analisis Hasil Pengamatan............................................................11
4.3 Pembahasan...................................................................................12
BAB V PENUTUP....................................................................................14
5.1 Kesimpulan.....................................................................................14
5.2 Saran...............................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................

BAB I

3
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Wilson dan Kent memperkenalkan Glass ionomer kaca (GIC) untuk
pertama kalinya pada tahun 1972 sebagai bahan restorasi gigi. Bahan ini
terdiri atas bubuk dan liquid: bubuknya ialah bubuk kaca fluoroaluminosilikat
dan liquidnya berupa asam polialkenoat. Bahan ini adalah hibrida antara
semen silikat dan semen polikarboksilat. Terdapat beberapa klasifikasi dari
GIC, tetapi susunan untuk semua kategori tidak berbeda dan perbedaannya
ialah pada rasio antara bubuk-liquid serta ukuran partikel yang di sesuaikan
dengan fungsinya. Kelebihan GIC dibandingkan dengan material restorasi lain
ialah kemampuan beradhesi dengan permukaan gigi secara kimia, melepaskan
fluor dan biokompatibel (Nagaraja UP, et al 2005)
Glass Ionomer ialah nama generik dari sekelompok bahan yang
menggunakan bubuk kaca silikat dan larutan asam poliakrilat. Bahan ini
mendapatkan namanya dari formulanya yaitu bubuk kaca dan asam ionomer
yang mengandung gugus karboksil. Juga dapat disebut asam polialkenoat.
Penggunaan semen ionomer kaca telah meluas yaitu sebagai bahan perekat,
pelapik, bahan restoratif untuk restorasi konservatif kelas I dan II, sebagai
penutup pit and fissure. Meskipun demikian, GIC tidak disarankan untuk
restorasi kelas II dan IV karena formulanya masih kurang kuat dan lebih peka
terhadap keausan penggunaan jika dibandingkan dengan komposit
( Anusavice, 2013; Nagaraja UP, et al 2005)
Salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh material yang digunakan pada
tubuh manusia adalah bersifat biokompatibel. biokompabilitas SIK sebagai
bahan restorasi sudah tidak diragukan lagi dan walaupun toksisitasnya masih
kontroversi, namun bahan ini terus dikembangkan baik dalam komposisi
komponen maupun indikasi penggunaannya. Kini, selain sebagai bahan
restorasi, SIK juga digunakan penutup apeks, penutup perforasi, atau pada
perawatan pulp capping (Mitra S, 2005; Nagaraja UP, et al 2005)

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa definisi dari glass ionomer cement ?
b. Apa komposisi glass ionomer cement ?
c. Apa saja sifat-sifat dari glass ionomer cement ?
d. Apa klasifikasi dari glass ionomer cement ?
e. Bagaimana reaksi pengerasan glass ionomer cement ?

1.3 Tujuan Penulisan


a. Untuk mengetahui definisi glass ionomer cement
b. Untuk mengetahui komposisi glass ionomer cement
c. Untuk mengetahui sifat-sifat glass ionomer cement
d. Untuk mengetahui klasifikasi glass ionomer cement
e. Untuk mengetahui reaksi pengerasan glass ionomer cement ?

BAB II

5
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Glass Ionomer Cement
Glass ionomr cement atau semen ionomer kaca merupakan bahan restorasi
yang sering digunakan oleh dokter gigi dan terus menerus dikembangkan. GIC
memiliki kemampuan berikatan secara fisikokimiawi baik pada email maupun
dentin. GIC merupakan salah satu bahan restorasi yang sering dipakai karna
material ini dianggap paling biokompatibel (Noort, 2007)

2.2 Komposisi Glass Ionomer Cement


Bahan glass ionomer cement mengandung sejumlah komponen.
Komposisi utama GIC ialah bubuk aluminosilikat dan larutan asam poliakrilat.
Bahan GIC terdiri dari:
a. Bubuk
Terdiri dari silica 29%, alumina 16,6%, calsium flouride 34.3%, cryolite
5%, aluminium flouride 5,3% dan aluminium phosphate 9,8% . masing-
masing kandungan bubuk GIC tersebut memiliki fungsi yang dapat
meningkatkan opasitas, translusensi, kekuatan dan working time
b. Cairan
Asam poliakrilat yang paling sering digunakan ialah kopolimer dari asam
akrilik, itakonik dan asam maleik. Asam kopolimer ini disusun secara
lebih tidak teratur dibandingkan homopolimer. Susunan ini dapat
mengurangi ikatan hidrogen antara molekul-molekul asam, mengurangi
kecenderungan membentuk gel, menurunkan viskositas dan meningkatkan
reaktivitas cairan. Komposisi cairan GIC terdiri dari poly (asam akrilik –
asam itakonik) 47,5%, air 47,5%, dan asam tartaric 5%
(Anusavice, 2013; Banerjee A, et al 2014; Mahesh TR, et al 2011;
Sakaguchi RL, et al 2012)

2.3 Sifat-sifat Glass Ionomer Cement


2.3.1 Sifat biologi
a. Biokompabilitas
sifat bahan GIC ini sangat diterima dengan baik di dalm rongga mulut,
normal ekspansi hampir sama dengan sturuktur gigi dan perlekatan
baik. Selain itu, sifat biokompabilitas GIC dapat dilihat dari adanya
toleransi jarigan pulpa terhadap GIC
b. Pelepasan Flour
GIC mampu melepaskan flour yang tinggi saat hari pertama dan akan
terus menurun dikemudian harinya. Bahan ini dapat menyerap flour
dari obat kumur atau pasta gigi yang mengandung flour dan akan
dilepaskannya kembali, sehingga bertindak sebagai reservoir flour
(Faujiah E, et al 2008; Hatrick CD, et al 2011)
2.3.2 Sifat Fisik
a. Adhesi
Semen ionomer kaca memiliki sifat adhesi yang baik, yaitu dapat
mengikat enamel dan dentin melalui mekanisme pertukaran ion kimia
yang mengikat ion kalsium pada gigi
b. Ketahanan terhadap abrasi
Daya tahan semen ionomer kaca terhadap abrasi lebih rendah daripada
resin komposit bila dikenai uji abrasi dengan sikat gigi secara in vitro
dan uji keausan oklusal
c. Koefesien termal ekspansi
Koefisien termal ekspansi didefinisikan sebagai perubahan panjang per
unit panjang asal suatu material ketika terjadi perubahan suhu. Nilai
koefisien termal ekspansi pada bahan semen ionomer kaca sangat
dekat dengan gigi. Koefisien termal ekspansi pada semen ionomer
kaca sebesar 11,0 ppm/0K dan koefisien termal ekspansi pada enamel
gigi sebesar 11,4 ppm/ 0K
(Anusavice, 2013; Hatrick CD, et al 2011)
2.3.3 Sifat mekanik
a. Compressive Strength
Kekuatan tekan semen ionomer kaca akan meningkat antara 24 jam
hingga setahun. Semen ionomer kaca yang diformulasikan sebagai
bahan pengisi menunjukkan peningkatan dari 160 MPa menjadi 280
MPa. Kekuatan tekan semen ionomer kaca akan meningkat lebih cepat
saat semen ionomer kaca diisolasi dari keadaan lembab pada tahap
awal
b. Tensile Strength
Secara umum kekuatan tekan dan kekuatan tarik semen ionomer kaca
lebih rendah daripada hibrid ionomer. Kekuatan tarik semen ionomer
kaca yaitu 4.2-5.3 Mpa
c. Kekerasan Permukaan
Kekerasan didefinisikan sebagai ketahanan permukaan suatu material
terhadap perubahan dimensi, goresan atau lekukan. Kekerasan juga
diartikan sebagai sebuah ukuran terhadap tekanan perubahan bentuk
plastis dan diukur sebagai satuan unit area dari lekukan. Kekerasan
permukaan semen ionomer kaca dengan metode Vickers Hardness
Test yaitu 40 kg/mm
(Jacobsen P, 2008; Sakaguchi RL, et al 2012)

2.4 Klasifikasi Glass Ionomer Cement


Klasifikasi semen ionomer kaca berdasarkan kegunaannya:
a. Type I – Luting cements
GIC tipe luting semen sangat baik untuk sementasi permanen mahkota,
jembatan,veneer dan lainnya

7
b. Type II – Restorasi
Karena sifat perekatnya, kerapuhan dan estetika yang cukup memuaskan,
GIC juga digunakan untuk mengembalikan struktur gigi yang hilang
seperti abrasi servikal
c. Type III – Liners and Bases
Pada teknik sandwich, GIC dilibatkan sebagai pengganti dentin, dan
komposit sebagai pengganti enamel. Bahan-bahan lining dipersiapkan
dengan cepat untuk kemudian menjadi reseptor bonding pada resin
komposit (kelebihan air pada matriks GIC dibersihkan agar dapat
memberikan kekasaran mikroskopis yang nantinya akan ditempatkan oleh
resin sebagi pengganti enamel.
d. Type IV – Fissure Sealants
Tipe IV GIC dapat digunakan juga sebagai fissure sealant. Pencampuran
bahan dengan konsistensi cair, memungkinkan bahan mengalir ke lubang
dan celah gigi posterior yang sempit.
e. Type V - Orthodontic Cement
GIC memiliki ikatan langsung ke jaringan gigi oleh interaksi ion
Polyacrylate dan kristal hidroksiapatit, dengan demikian dapat
menghindari etsa asam. Selain itu, GIC memiliki efek antikariogenik
karena kemampuannya melepas fluor. Bukti dari tinjauan sistematis uji
klinis menunjukkan tidak adanya perbedaan dalam tingkat kegagalan
braket Ortodonti antara resin modifikasi GIC dan resin adhesif
f. Type VI – Core build up
Beberapa dokter gigi menggunakan GIC sebagai inti (core), mengingat
kemudahan GIC dalam jelas penempatan, adhesi, fluor yang dihasilkan,
dan baik dalam koefisienekspansi termal. Banyak yang menganggap GIC
tidak cukup kuat untuk menopang inti (core). Maka disarankan bahwa gigi
harus punya minimal dua dinding utuh jika menggunakan GIC
g. Type VII - Fluoride releasing
GIC konvensional menghasilkan fluorida lima kali lebih banyak daripada
kompomer dan 21 kali lebih banyak dari resin komposit dalam waktu 12
bulan. Jumlah fluorida yang dihasilkan, selama 24 jam periode satu tahun
setelah pengobatan, adalah lima sampai enam kali lebih tinggi dari
kompomer atau komposit yang mengandung fluor
h. Type VIII - ART (atraumatic restorative technique)
ART adalah metode manajemen karies yang dikembangkan untuk
digunakan dinegara-negara dimana tenaga terampil gigi dan fasilitas
terbatas namun kebutuhan penduduk tinggi. Ketika karies
dibersihkan,rongga yang tersisa direstorasi dengan menggunakan GIC
viskositas tinggi. GIC memberikan kekuatan beban fungsional
i. Type IX - Deciduous teeth restoration
.Pada awal tahun 1977, disarankan bahwa glass ionomer cement dapat
memberikan keuntungan restoratif bahan dalam gigi susu karena
kemampuan GIC untuk melepaskan fluor dan untuk menggantikan
jaringan keras gigi, serta memerlukan waktu yang cepat dalam mengisi
kavitas
(Anusavice, 2013; Craig, et al 2004; Powers JM, et al 2008)

2.5 Reaksi Pengerasan Glass Ionomer Cement


Reaksi pengerasan GIC terdiri dari tiga fase, yakni fase pelepasan ion,
fase hidrogel, dan fase gel poligaram. Pelepasan ion terjadi segera setelah
kontak antara cairan dan bubuk. Larutan kopolimer poliasam dan akselerator
asam tartarik melarutkan bubuk aluminofluorosilikat glass dan permukaan
terluar dari glass. Ion-ion [H+ ] dari poliasam dan asam tartarik menyebabkan
pelepasan kation metal seperti [Ca2+] dan [Al3+] dari permukaan bubuk
glass. Pada mulanya [Ca2+] dan [Al3+] bereaksi dengan ion [F -] membentuk
CaF2 dan [AlF2 -] serta ikatan yang lebih kompleks. Sejalan dengan
meningkatnya keasaman, CaF2 yang tidak stabil terputus dan bereaksi dengan
polimer akrilik membentuk kompleks yang lebih stabil. Fase hidrogel dimulai
5–10 menit setelah pencampuran, dan menyebabkan awal pengerasan. Selama
fase ini ion kalsium yang bermuatan positif dilepaskan lebih cepat dan
bereaksi dengan larutan rantai poliasam polianionik yang bermuatan negatif
membentuk ikatan silang ion. Maturasi terjadi selama 24 jam. Selama fase ini,
ionomer harus dilindungi dari pengaruh kontaminasi lingkungan (air dan
udara). Dalam hal ini, perlindungan dapat diberikan dengan mengaplikasikan
varnish atau bonding agent setelah aplikasi bahan GIC pada struktur gigi. Fase
gel poligaram terjadi pada saat bahan sudah mengeras seluruhnya, dapat
berlangsung selama beberapa bulan. Matriks semen mengalami maturasi pada
saat ion [Al3+] yang dilepaskan membentukan hidrogel poligaram
mengelilingi filler glass. Fase ini menghasilkan peningkatan sifat fisik dari
GIC (Suzanna S, 2014).

BAB III
METODE PRAKTIKUM

9
3.1 Bahan
a. Bubuk dan cairan glass ionomer tipe II

3.2 Alat
a. Pengaduk plastic

b. Paper pad

c. Celluloid strip
d. Lempeng kaca

e. Cetakan plasik ukuran diameter 10 mm, tebal 1 mm


f. Plastic filling instrument

g. Sonde

3.3 Cara Kerja


a. Bubuk semen diambil menggunakan sendok takar yang telah disediakan
dalam kemasan (sesuai aturan pabrik).

b. Powder/liquid = 1,8gr/ 1,0 gr ( 1 sendokpres/ 2 tetes liquid).

11
c. Bubuk ditimbang dan beratnya dicatat, lalu diletakkan diatas paper pad.
d. Memegang botol cairan secara vertikal dan diteteskan tanpa ditekan di atas
paper pad.
e. Waktu awal pencampuran dicatat menggunakan stopwatch. Bubuk dibagi
menjadi dua bagian. Bagian pertama dicampur dengan cairan selama 5
detik, kemudian ditambahkan bubuk bagian kedua dan diaduk dengan
gerakan melipat kurang lebih selama 10 detik sampai homogen. Total
waktu pencampuran adalah 20 detik.

f. Spatula letaknya dimiring dengan sudut 45 derajat terhadap glass lab dan
ambil adonan semen, tarik ke atas, maka semen akan ikut terangkat ke atas
(tanpa jatuh), konsistensi adonan tersebut merupakan konsistensi untuk
luting (penyemenan).

g. Adonan dimasukkan kedalam cetakkan menggunakan plastic filling


instrument kemudian permukaan diratakan. Permukaan adonan ditutup
h. dengan pita seluloid. Working time mulai awal pengadukan sampai 2
menit.

i. Setting time diukur dengan menusuk permukaan adonan glass ionomer


menggunakan ujung sonde, hingga sonde tidak dapat menembus
permukaan adonan. Setting time dicatat yang dihitung sejak awal
pencampuran hingga semen mengeras.

13
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Praktikum

No Rasio
Konsistensi Setting Time
. Powder : Liquid
1. 1:1 Normal 4 menit 39 detik
2. 2:1 Kental 3 menit 50 detik
3. 1:2 Encer 6 menit 11 detik

1. Percobaan pertama (P:L = 1 : 1)


Mixing time : 20 detik
Working time : 1 menit 5 detik
Setting time : 4 menit 39 detik
2. Percobaan kedua (P:L = 2 : 1)
Mixing time : 20 detik
Working time : 1 menit 5 detik
Setting time : 3 menit 50 detik
3. Percobaan ketiga (P:L = 1 : 2)
Mixing time : 20 detik
Working time : 1 menit 5 detik
Setting time : 6 menit 11 detik

4.2 Analisis Hasil Pengamatan


Berdasarkan praktikum yang dilakukan, hasil dari pengamatan
menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
1. Percobaan 1 dilakukan dengan mencampurkan bahan yang
perbandingan rasionya (Powder:Liquid) sesuai dengan takaran pabrik
yaitu 1:1. Pada percobaan 1 karna rasio yang sesuai hasilnya pun
normal dengan waktu setting time 4 menit 39 detik
2. Percobaan 2 dilakukan dengan mencampurkan bahan yang
perbandingan rasionya (Powder:Liquid) 2:1 atau takaran bubuk nya
lebih banyak dibandingkan liquidnya. Pada percobaan 2 dihasilkan
konsistensi material yang viskositasnya lebih tinggi (kental). Sesuai
dengan pernyataan anusavice (2013) perbandingan rasio akan
mempengaruhi waktu setting. Waktu setting pada percobaan 2 ialah 3
menit 50 detik Dengan percobaan powder lebih banyak akan
mempercepat waktu setting. jika bubuk yang ditambahkan terlalu
banyak maka tumpatan akan rapuh dan lemah dan tampak tidak halus
permukaannya
3. Percobaan 3 dilakukan dengan mencampurkan bahan yang
perbandingan rasionya (Powder:Liquid) 1:2 atau takaran bubuk nya
lebih banyak dibandingkan liquidnya. Pada percobaan 3 dihasilkan
konsistensi material yang viskositasnya lebih rendah (cair). Sesuai
dengan pernyataan anusavice (2013) perbandingan rasio akan
mempengaruhi waktu setting. Waktu setting pada percobaan 3 ialah 6
menit 11 detik Dengan percobaan liquid lebih banyak akan
memperlambat waktu setting. Keuntungan dari campuran yang lebih
sedikit bubuknya diantaranya adalah mudahnya pencampuran bubuk
dan cairan pada saat manipulasi, selain itu sifat fisik dari tumpatan
lebih halus. Sedangkan kerugiannya adalah campuran menjadi lengket
dan dengan banyaknya kelebihan cairan menjadi lebih mudah larut
dalam saliva.

4.3 Pembahasan
Hal-hal yang dapat mempengaruhi setting time diantaranya adalah:
1. Suhu.
Setting dapat diperlambat dengan melakukan pencampuran pada lempeng
yang dingin, tetapi teknik ini akan berpengaruh pada kekuatannya
(Sakaguchi RL, et al 2012)
2. Rasio bubuk: cairan.
Penurunan rasio akan berakibat buruk pada sifat semen yang sudah
mengeras dan kerentanannya terhadap degradasi di dalam rongga mulut.
Semakin sedikit jumlah bubuk yang digunakan maka setting time akan
semakin lambat (Anusavice, 2013)
3. Varnish.
Bahan harus dilindungi dari kontaminasi kelembaban selama satu jam
terlebih dulu, jika tidak kekuatan dan kelarutan cenderung dipengaruhi.
Oleh karena itu perlu untuk memberikan varnish pada permukaan filling
segera setelah pengerasan awal. Varrnish yang digunakan terdiri dari resin
tahan air terlarut dalam pelarut yang mudah menguap seperti eter atau etil
asetat. Varnish ini diharapkan mampu perlindungan pada kaca ionomer
untuk variasi waktu, dari beberapa detik hingga satu jam atau lebih
tergantung pada secepat apa dia terlepas. (McCabe, et al 2008)
4. Waktu

15
Pada paper pad yang sudah diletakkan powder dan liquid secepatnya
dilakukan pencampuran. Apabila didiamkan dibiarkan pada udara terbuka
cukup lama maka akan berpengaruh pada keseimbangan liquid berupa
asam poliakrilat dan air di dalamnya, sehingga mempengaruhi setting time
(Craig, 2004)

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dalam percobaan praktikum ini dapat disimpulkan, glass ionomer
cement terdiri dari bubuk dan cairan. Manipulasi GIC dilakukan dengan
cara mencampurkan bubuk dan cairan dengan rasio yang sudah ditentukan.
Pencampuran tersebut dilakukan dengan gerakan melipat serta diberi
sedikit penekanan. Setting time merupakan waktu sejak awal pencampuran
hingga bahan tersebut setting. Setting dapat ditentukan dengan
menusukkan sonde pada bahan tersebut. Apabila, sudah tidak ada bahan
yang tersisa disonde tersebut maka bahan tersebut sudah setting. Pada
percoban ini, terdapat perbedaan rasio bubuk dan cairan yang digunakan
pada manipulasi GIC. GIC dengan lebih sedikit bubuk cenderung waktu
settingnya lebih lama, sedangkan dengan jumlah bubuk yang lebih banyak
maka waktu setting pun lebih cepat.

5.2 Saran
Melalui penyusunan makalah ini diharapkan mahasiswa lebih
mengerti mengenai semen ionomer kaca, yangs terdiri dari komposisi,
sifat serta mekanisme setting dan faktor-faktor yang mempengaruhi waktu
setting. Mahasiswa juga diharapkan memahami serta mampu dalam
memanipulasi semen ionomer kaca.

DAFTAR PUSTAKA

17
Anusavice KJ. 2013. Philips Buku Ajar Ilmu Kedokteran Gigi. Ed. 10.
Jakarta: EGC.

Banerjee A, Watson TF. 2014. Pickard Manual Konservasi Restoratif. Alih


bahasa: Irmaleni, Puspitasari. Ed 9. Jakarta: EGC

Craig, Robert G., Powers, John M., Wataha, John C. 2004. Dental Materials
Properties and Manipulation. 9th Edition. Missouri: Mosby.

Fauziah E, Suwelo I, Soenawan H. 2008. Kandungan Unsur Fluorida pada


Email Gigi Tetap Muda yang di Tumpat Semen Ionomer Kaca dan Kompomer.
Indonesian Journal of Dentistry. 15(3).

Hatrick CD, Eakle WS, Bird WF. 2011. Dental Materials Clinical
Application for Dental Assistants and Dental Hygienists. 2nd Ed. Missouri:
Saunders.

Jacobsen P. 2008. Restorative Dentistry An Integrated Approach. 2nd Ed.


UK: Blackwell Publishing.

Mahesh TR, Suresh P, Sandhyarani J, Sravanthi J. 2011. Glass Ionomer


Cements (GIC) In Dentistry: A Review. IJPAES. 1(1):26-30.

McCabe, JF and Angus W.G. Walls. 2008. Applied dental materials, 9th
ed.Singapore : Blackwell

Mitra S. 2005 Glass Ionomer and Related filling Material in


Contemporary Dental Materials. Oxford: Univ Press.

Nagaraja UP, Kishore G. 2005. Glass Ionomer Cement: The Different


Generation. Biomater Artif Organs. 18(2).

Powers JM., Wataha JC. 2008. Dental Materials: Properties and


Manipulation. 9th Ed. Missouri: Mosby.

Sakaguchi RL, Powers JM. 2012. Craig’s Restorative Dental Material. 13th
Ed. United State: Mosby.

Suzanna S, 2014. Peran Kondisioner Pada Adhesi Bahan Restorasi Semen


Ionomer Kaca Dengan Struktur Dentin. Cakradonya Dent J. 6(2): 678-744.

Van Noort R. 2007. Introduction Dental Materials. 3th Ed. St. Louis:
Mosby.
19