Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN JIWA GANGGUAN

CITRA TUBUH
disusun untuk memenuhi salah tugas mata kuliah

Keperawatan Jiwa

DI SUSUN
OLEH:
MARIA BELA VIA
1420119058
MEGRIS SIBUEA
1420119059

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN KONVERSI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN IMMANUEL BANDUNG

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya makalah ini.
Makalah ini kami buat dalam memenuhi tugas mata kuliah ”Keperawatan Jiwa ”.
Makalah ini kami buat untuk membantu memahami tentang “Gangguan Citra
Tubuh” baik teori maupun Asuhan Keperawatan Jiwa.
Dengan adanya makalah ini, para pembaca diharapkan mampu
mengembangkan dan menambah pengetahuan mereka disamping adanya buku
-buku referensi dan makalah yang lain, makalah ini bukan suatu hasil yang
sempurna, dengan adanya waktu - waktu yang akan datang diperlukan proses
perbaikan dan penyempurnaan. Apabila Makalah ini terdapat banyak kekurangan
- kekurangan, maka sebagai penyusun makalah ini mengharapkan kritikan dan
saran dari para pembaca. Harapan kami semoga makalah ini berguna bagi semua
pembaca. Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan untuk
pembelajaran berikutnya. Terima kasih

Bandung, Maret 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................i
KATA PENGANTAR.....................................................................................ii
DAFTAR ISI..................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR......................................................................................iv

BAB I PENDAHULUAN................................................................................1
A. Latar Belakang....................................................................................1
B. Rumusan Masalah...............................................................................1
C. Tujuan.................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN.................................................................................3
A. Definisi Ganguan Citra Tubuh............................................................3
B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Citra Tubuh ..............................3
C. Negatif  Dan Positif Citra Tubuh........................................................5
D. Respon Klien Terhadap Perubahan Citra Tubuh ...............................5
E. Rentang Respon..................................................................................6
F. Etiologi................................................................................................7
G. WOC...................................................................................................9
H. Tanda dan Gejala................................................................................9
I. Asuhan Keperawatan Gangguan Citra Tubuh....................................9

BAB III PENUTUP.......................................................................................14


A. Kesimpulan.......................................................................................14
B. Saran.................................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Proses keperawatan pada klien dengan masalah kesehatan jiwa
merupakan tantangan yang unik karena masalah kesehatan jiwa mungkin tidak
dapat dilihat langsung seperti pada masalah kesehatan fisik, memperlihatkan
gejala yang berbeda, dan muncul oleh berbagai  penyebab. Kejadian masa lalu
yang sama dengan kejadian saat ini, tetapi mungkin muncul gejala yang
berbeda. Banyak klien dengan masalah kesehatan jiwa tidak dapat
menceritakan masalahnya bahkan mungkin menceritakan hal yang berbeda
dan kontradiksi. Kemampuan mereka untuk berperan dalam menyelesaikan
masalah juga bervariasi (Depkes RI. 1993).
Gangguan citra tubuh adalah kekacauan pada cara seseorang merasakan
citra tubuhnya. Evaluasi diri dan perasaan tentang kemampuan diri negatif,
yang dapat diekspresikan secara langsung atau tidak langsung. 
Suatu gangguan citra tubuh dapat diketahui perawat dengan
mewawancarai dan mengamati pasien secara berhati-hati untuk
mengidentifikasi bentuk ancaman dalam citra tubuhnya (fungsi signifikan
bagian yang terlibat, pentingnya penglihatan dan penampilan fisik bagian yang
terlibat); arti kedekatan pasien terhadap anggota keluarga dan anggota penting
lainnya dapat membantu pasien dan keluarganya.
Hubungan saling percaya antara perawat dan klien merupakan dasar
utama dalam melakukan asuhan keperawatan pada klien gangguan jiwa. Hal
ini penting karena peran perawat dalam asuhan keperawatan jiwa adalah
membantu klien untuk dapat menyelesaikan masalah sesuai kemampuan yang
dimiliki. Klien mungkin menghindar atau menolak berperan serta dan perawat
mungkin cenderung membiarkan, khususnya pada klien yang tidak
menimbulkan keributan dan yang tidak membahayakan (Depkes RI. 1993)

1
B. Rumusan Masalah
a. Apa pengertian dan semua teori gangguan citra tubuh.
b. Bagaimana proses keperawatan pada klien dengan gangguan citra
tubuh.
c. Bagaimana merumuskan diagnosa keperawatan jiwa pada pasien
gangguan citra tubuh.
d. Bagaimana prosedur asuhan perawatan jiwa yang digunakan untuk
pasien dengan ganggua citra tubuh.

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa sebagai
calon perawat dapat mengetahui dan mampu mengatasi klien dengan
“Gangguan Citra Tubuh”, dengan menggunakan standar asuhan
keperawatan jiwa yang sesuai.
2. Tujuan Khusus
e. Mampu memahami tentang pengertian dan semua teori gangguan citra
tubuh.
f. Mampu memahami tentang proses keperawatan pada klien dengan
gangguan citra tubuh.
g. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan jiwa pada pasien
gangguan citra tubuh.
h. Menguraikan prosedur asuhan perawatan jiwa yang digunakan untuk
pasien dengan ganggua citra tubuh.
i. Memenuhi tugas mata kuliah keperawatan jiwa.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Citra Tubuh merupakan salah satu komponen dari konsep diri yang
membentuk persepsi seseorang tentang tubuhnya baik secara internal maupus
eksternal. Persepsi ini mencakup perasaan dan sikap yang ditujukan pada tubuh.
Citra tubuh dipengaruhi oleh pandangan pribadi tentang karakteristik dan
kemampuan fisik dan oleh persepsi dari pandangan orang lain (Potter & Perry,
2005). Citra tubuh adalah sikap individu terhadap tubuhnya, baik secara sadar
maupun tidak sadar, meliputi performance, potensi tubuh, fungsi tubuh serta
persepsi dan perasaan tentang ukuran tubuh dan bentuk tubuh (Sunaryo, 2004).
Gangguan citra tubuh adalah perubahan presepsi tentang tubuh yang
diakibatkan oleh perubahan ukuran, bentuk struktur, fungsi keterbatasan, makna
dan obyek yang sering kontak dengan tubuh.
Gangguan citra tubuh adalah kekacauan pada cara seseorang merasakan
citra tubuhnya. Evaluasi diri dan perasaan tentang kemampuan diri negatif, yang
dapat diekspresikan secara langsung atau tidak langsung. 
Gangguan citra tubuh biasanya melibatkan distorsi dan persepsi negatif
tentang penampilan fisik mereka. Perasaan malu yang kuat, kesadaran diri dan
ketidaknyamanan sosial sering menyertai penafsiran ini. Sejumlah perilaku
menghindar sering digunakan untuk menekan emosi dan pikiran negatif, seperti
visual menghindari kontak dengan sisa ekstremitas, mengabaikan kebutuhan
perawatan diri dari sisa ekstremitas dan menyembunyikan sisa ekstremitas lain.
Pada akhirnya reaksi negatif ini dapat mengganggu proses rehabilitasi dan
berkontribusi untuk meningkatkan isolasi sosial (Wald & Alvaro, 2004)

B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Citra Tubuh


Menurut Potter & Perry (2005), terdapat beberapa stressor yang
mempengaruhi citra tubuh seseorang. Stressor-stressor ini dapat berasal dari
dalam, yakni dari diri seseorang tersebut, yaitu adanya perubahan penampilan
tubuh, perubahan struktur tubuh, dan perubahan fungsi bagian tubuh. Selain itu,
terdapat juga stressor-stressor dari luar yakni, reaksi orang lain, perbandingan

3
dengan orang lain, dan identifikasi terhadap orang lain. Menurut penelitian
Perdani, 2009 (dalam Ratna 2011) yaitu kepuasan citra tubuh ditentukan oleh
faktor usia, karena seorang laki-laki maupun perempuan yang tumbuh menjadi
dewasa telah belajar untuk menerima perubahan-perubahan pada tubuhnya,
meskipun penampilannya tidak sabagaimana yang diharapkan dan sekalipun
berusaha untuk memperbaiki penampilannya.
Citra tubuh dalam diri seseorang dapat muncul dikarenakan terdapat faktor
yang mempengaruhinya. Menurut Melliana Citra tubuh seseorang muncul dengan
dipengaruhi oleh beberapa factor berikut ini :
1. Self esteem
Citra tubuh seseorang lebih mengacu pada pandangan seseorang tersebut
tentang tubuhnya yang dibentuk dalam pikirannya, lebih berpengaruh pikiran
orang itu sendiri dibanding pikiran orang lain terhadap dirinya. Selain itu juga
dipengaruhi oleh keyakinan dan sikapnya terhadap tubuh sebagaimana
gambaran ideal dalam masyarakat.
2. Perbandingan dengan orang lain.
Citra tubuh secara global terbentuk dari perbandingan yang dilakukan
seseorang terhadap fisiknya sendiri, hal tersebut sesuai dengan standar yang
dikenal oleh lingkungan sosial dan budayanya. Salah satu penyebab adanya
perbedaan antara citra tubuh ideal dengan kenyataan tubuh yang nyata sering
disebabkan oleh media massa yang seringkali menampilkan gambar dengan
tubuh yang dinilai sempurna, sehingga terdapat perbedaan dan menciptakan
persepsi akan pengha yatan tubuhnya yang tidak atau kurang ideal.
Konsekuensi yang didapat adalah individu menjadi sulit menerima bentuk
tubuhnya.
3. Bersifat dinamis.
Citra tubuh memiliki sifat yang mampu mengalami perubahan terus menerus,
bukan yang bersifat statis atau menetap seterusnya . Citra tubuh sangat sensitif
terhadap perubahan suasana hati (mood), lingkungan dan pengalaman fisik
inidvidual dalam merespon suatu peristiwa kehidupan.
4. Proses pembelajaran

4
Citra tubuh merupakan hal yang dipelajari. Proses pembelajaran citra tubuh ini
sering kali dibentuk lebih banyak oleh orang lain diluar individu sendiri, yaitu
keluarga dan masyarakat, yang terjadi sejak dini ketika masih kanak - kanak
dalam lingkungan keluarga, khususnya cara orang tua mendidik anak dan di
antara kawan – kawan pergaulannya. Tetapi proses belajar dalam keluarga dan
pergaulan ini sesungguhnya hanyalah mencerminkan apa yang dipelajari dan
diharapkan secara budaya. Proses sosialisasi yang dimulai sejak usia dini,
bahwa bentuk tubuh yang langsing dan proporsional adalah yang diharapkan
lingkungan, akan membuat individu sejak dini mengalami ketidakpuasan
apabila tubuhnya tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh lingkungan,
terutama orang tua. (dalam Samura, 2011).

C. Negatif  Dan Positif Citra Tubuh


Citra tubuh yang negatif merupakan suatu persepsi yang salah mengenai
bentuk individu, perasaan yang bertentangan dengan kondisi tubuh individu
sebenarnya. Individu merasa bahwa hanya orang lain yang menarik dan bentuk
tubuh dan ukuran tubuh individu adalah sebuah tanda kegagalan pribadi. Individu
merasakan malu, self-conscious, dan khawatir akan  badannya. Individu
merasakan canggung dan gelisah terhadap badannya (Dewi, 2009). 
Citra Tubuh yang positif merupakan suatu persepsi yang benar tentang
bentuk individu, individu melihat tubuhnya sesuai dengan kondisi yang
sebenarnya. Individu menghargai badan/tubuhnya yang alami dan individu
memahami bahwa penampilan fisik seseorang hanya berperan kecil dalam
menunjukkan karakter mereka dan nilai dari seseorang. Individu merasakan
bangga dan menerimanya bentuk badannya yang unik dan tidak membuang waktu
untuk mengkhawatirkan makanan, berat badan, dan kalori. Individu merasakan
yakin dan nyaman dengan kondisi badannya (Dewi, 2009).

D. Respon Klien Terhadap Perubahan Citra Tubuh


Menurut Riyadi (2009), respon pasien terhadap perubahan bentuk atau
keterbatasan meliputi perubahan dalam kebebasan, pola ketergantungan dalam
komunikasi dan sosialisasi.

5
1. Respon terhadap kelainan bentuk atau keterbatasan dapat berupa:
a. Respon penyesuaian: menunjukkan rasa sedih dan duka cita (rasa shock,
kesangsian, pengingkaran, kemarahan, rasa bersalah atau penerimaan).
b. Respon mal-adaptip: lanjutan terhadap penyangkalan yang berhubungan
dengan kelainan bentuk atau keterbatasan yang tejadi pada diri sendiri.
Perilaku yang bersifat merusak, berbicara tentang perasaan tidak berharga
atau perubahan kemampuan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan.
2. Respon terhadap pola kebebasan – ketergantungan dapat berupa:
a. Respon penyesuaian: merupakan tanggung jawab terhadap rasa kepedulian
(membuat keputusan) dalam mengembangkan perilaku kepedulian yang
baru terhadap diri sendiri, menggunakan sumber daya yang ada, interaksi
yang saling mendukung dengan keluarga.
b. Respon mal-adaptip: menunjukkan rasa tanggung jawab akan rasa
kepeduliannya terhadap yang lain yang terus-menerus bergantung atau
dengan keras menolak bantuan.
3. Respon terhadap Sosialisasi dan Komunikasi dapat berupa:
a. Respon penyesuaian: memelihara pola sosial umum, kebutuhan komunikasi
dan menerima tawaran bantuan, dan bertindak sebagai pendukung bagi
yang lain.
b. Respon mal-adaptip: mengisolasikan dirinya sendiri, memperlihatkan sifat
kedangkalan kepercayaan diri dan tidak mampu menyatakan rasa (menjadi
diri sendiri, dendam, malu, frustrasi, tertekan).

E. Rentang Respon

Rentang respon terjadinya gangguan citra tubuh

6
1. Aktualisasi diri adalah pernyataan diri tentang kosnep diri yang positif
dengan latar belakang pengalaman nyata yang sukses dan dapat diterima

2. Konsep diri positif apabila individu mempunyai pengalaman yang positif


dalam beraktualisasi diri dan menyadari hal-hal positif maupun yang negatif
dari dirinya.

3. Harga diri rendah adalah individu cenderung untuk menilai dirinya negatif
dan merasa lebih rendah dari orang lain. 

4. Identitas kacau adalah kegagalan individu mengintegrasikan aspek-aspek


identitas masa kanak-kanak ke dalam kematangan aspek psikososial
kepribadian pada masa dewasa yang harmonis.

5. Depersonalisasi adalah perasaan yang tidak realistis dan asing terhadap


diri sendiri yang berhubungan dengan kecemasan, kepanikan serta tidak dapat
membedakan dirinya dengan orang lain

F. Etiologi
Kondisi Patofisiologi dan Psikopatologis dan prosedur terapeutik yang dapat
menimbulkan gangguan citra tubuh :
1. Eksisi bedah atau gangguan bagian tubuh
a. Enterostomi
b. Mastaktomi
c. Histerektomi
d. Pembedahan kardiovaskuler
e. Pembedahan leher radikal
f. Laringektomi
2. Amputasi pembedahan atau traumatic
3. Luka bakar
4. Trauma wajah
5. Gangguan makan
a. Anoreksia nervosa
b. Bulimia
6. Obesitas

7
7. Gangguan muskuluskeletal
a. Atritis
8. Gangguan integumen
a. Psoriasis
b. Skar sekunder akibat trauma atau pembedahan
9. Lesi otak
a. Cerebrovaskular accident
b. Demensia
c. Penyakit parkinson
10. Gangguan afektif
a. Depresi
b. Skizofrenia
11. Gangguan endokrin
a. Akromegali
b. Sindroma chusing
12. Penyalahgunaan bahan kimia
13. Prosedur diagnostic
14. Kehilangan atau pengurangan fungsi
a. Impotensi
b. Pergerakan/kendali
c. Sensori/persepsi
d. Memori
15. Terapi modalitas
a. Teknologi tinggi (misalnya impian defibrilator, prostesis sendi, dialisis)
b. Kemoterapi
16. Nyeri
17. Perubahan psikososial atau kehilangan
a. Perubahan volunter atau dipaksakan dalam peran bekerja atau sosial
b. Dukungan orang terdekat
c. Perceraian
d. Kepemilikan pribadi (rumah, perlengkapan rumah tangga, keuangan)
e. Translokasi/relokasi

8
18. Respon masyarakat terhadap penuaan (agetasim)
a. Umpan balik interpersonal negatif
b. Penekanan pada produktivitas
19. Defisit pengetahuan (personal, pemberi asuhan, atau masyarakat)

G. WOC
Harga diri rendah

Ganguan citra tubuh

Penyakit fisik

H. Tanda dan Gejala


Beberapa gangguan pada gambaran diri (citra dri) tersebut dapat menunjukan
tanda dan gejala, seperti:
1. Syok Psikologis
Syok Psikologis merupakan reaksi emosional terhadap dampak perubahan
dan dapat terjadi pada saat pertamatindakan.syok psikologis digunakan
sebagai reaksi terhadap ansietas. Informasi yang terlalu banyak dan kenyataan
perubahan tubuh membuat klien menggunakan mekanisme pertahanan diri
seperti mengingkari, menolak dan proyeksi untuk mempertahankan
keseimbangan diri.
2. Menarik diri
Klien menjadi sadar akan kenyataan, ingin lari dari kenyataan , tetapi karena
tidak mungkin maka klien lari atau menghindar secara emosional. Klien
menjadi pasif, tergantung , tidak ada motivasi dan keinginan untuk berperan
dalam perawatannya.
3. Penerimaan atau pengakuan secara bertahap
Setelah klien sadar akan kenyataan maka respon kehilangan atau berduka
muncul. Setelah fase ini klien mulai melakukan reintegrasi dengan gambaran
diri yang baru.

9
I. Asuhan Keperawatan Gangguan Citra Tubuh
1. Pengkajian
a. Objektif
1) Hilangnya bagian tubuh
2) Perubahan anggota tubuh baik bentuk maupun fungsi.
3) Menyembunyikan atau memamerkan bagian tubuh yang terganggu.
4) Menolak melihat bagian tubuh.
5) Menolak menyentuh bagian tubuh.
6) Aktifitas sosial menurun.
b. Subjektif
1) Menolak perubahan anggota tubuh saat ini, misalnya tidak puas
dengan hasil operasi.
2) Mengatakan hal negatif tentang anggota tubuhnya yang tidak
berfungsi.
3) Menolak berinteraksi dengan orang lain.
4) Mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi terhadap bagian tubuh
yang terganggu.
5) Sering mengulang-ulang mengatakan kehilangan yang terjadi.
6) Merasa asing terhadap bagian tubuh yang hilang
c. Konsep Diri
Ideal diri ; tidak realistis, ambisius
d. Sosial Budaya
1) Nilai budaya yang ada di masyarakat
2) Nilai budaya yang dianut individu

2. Diagnosa Keperawatan
Beberapa diagnosa gangguan citra tubuh adalah potensial gangguan
citra tubuh yang berhubungan dengan efek pembedahan serta menarik diri
yang berhubungan dengan perubahan penampilan (Keliat, 1998). Adapun
Diagnosa yang mungkin Muncul diantaranya:
. Gangguan citra tubuh
. Harga diri rendah
. Penyakit fisik

10
3. Intervensi Keperawatan
Tujuan tindakan keperawatan bagi pasien perubahan citra tubuh adalah
meningkatkan keterbukaan dan hubungan saling percaya, peran serta pasien
sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, mengidentifikasi perubahan citra 
tubuh, menerima perasaan dan pikirannya, menetapkan masalah yang
dihadapinya, mengidentifikasi kemampuan koping dan sumber pendukung
lainnya, melakukan tindakan yang dapat mengembalikan integritas diri.

b. Gangguan citra tubuh


Rencana tindakan :
1) Dorong pengungkapan mengenai masalah tentang proses penyakit,
harapan masa depan.
2) Diskusikan arti dari kehilangan/ perubahan pada pasien/orang
terdekat.
Memastikan bagaimana pandangaqn pribadi pasien dalam
memfungsikan gaya  hidup sehari-hari, termasuk aspek-aspek
seksual.
3) Diskusikan persepsi pasien mengenai bagaimana orang terdekat
menerima keterbatasan.
4) Perhatikan perilaku menarik diri, penggunaan menyangkal atau
terlalu
memperhatikan perubahan.
5) Susun batasan pada perilaku mal adaptif. Bantu pasien untuk
mengidentifikasi perilaku positif yang dapat membantu koping.
6) Ikut sertakan pasien dalam merencanakan perawatan dan membuat
jadwal aktivitas.
7) Bantu dalam kebutuhan perawatan yang diperlukan.
8) Kolaborasi : Rujuk pada konseling psikiatri, mis : perawat spesialis
psikiatri, psikolog.
9) Kolaborasi : Berikan obat-obatan sesuai petunjuk, mis; anti ansietas
dan obat-obatan peningkat alam perasaan.

11
. Harga diri rendah
Rencana tindakan :
3) Bina hubungan saling percaya dengan meng-gunakan prinsip
komunikasi terapeutik :
a) Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal.
b) Perkenalkan diri dengan sopan.
c) Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai klien.
d) Jelaskan tujuan pertemuan.
e) Jujur dan menepati janji.
f) Tunjukan sikap empati dan menerima klien apa adanya.
g) Beri perhatian dan perhatikan kebutuhan dasar klien.
2) Diskusikan dengan klien tentang :
a) Aspek positif yang dimiliki klien, keluarga, lingkungan.
b) Kemampuan yang dimiliki klien.
3) Bersama klien buat daftar tentang :
a) Aspek positif klien, keluarga, lingkungan.
b) Kemampuan yang dimiliki klien.
4) Beri pujian yang realistis, hindarkan memberi penilaian negatif.
5) Diskusikan dengan klien kemampuan yang dapat dilaksanakan.
6) Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan pelaksanaannya.
7) Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari
sesuai kemampuan klien :
a) kegiatan mandiri.
b) kegiatan dengan bantuan.
8) Tingkatkan kegiatan sesuai kondisi klien.
9) Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang dapat klien lakukan.
10) Anjurkan klien untuk melaksanakan  kegiatan yang telah
direncanakan. 
11) Pantau kegiatan yang dilaksanakan klien.
12) Beri pujian atas usaha yang dilakukan klien.
13) Diskusikan kemungkinan pelaksanaan kegiatan setelah pulang.

12
14) Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien
dengan harga diri rendah.
15) Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien di rawat.
16) Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.

c. Penyakit fisik
Rencana tindakan :
1) Beri kompres air hangat.
2) Berikan/anjurkan pasien untuk banyak minum 1500-2000 cc/hari
(sesuai toleransi).
3) Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan mudah
menyerap keringat.
4) Kaji frekuensi mual dan muntah
5) Berikan makanan sedikit namun sering dan atau makan diantara
waktu makan.
6) Hindari makanan yang merangsang dan mengandung gas.
7) Berikan antiemetic.

13
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Citra tubuh adalah bagaimana cara individu mempersepsikan tubuhnya,
baik secara sadar maupun tidak sadar yang meliputi ukuran, fungsi,
penampilan, dan potensi tubuh berikut bagian-bagiannya. Dengan kata lain,
citra tubuh adalah kumpulan sikap individu, baik yang disadari ataupun tidak
yang ditujukan terhadap dirinya.

B. Saran
Setiap orang harus bisa menerima apapun yang ada pada dirinya, sehingga
jika ada  ketidakpuasan persepsi terhadap tubuhnya tidak membuat individu
merubah dirinya kearah yang negatif. Maka ketika individu berhasil untuk
menerima dirinya sendiri dan bisa mencapai sesuatu hal tersebut. Dan pada
akhirnya pandangan manusia dalam mendeskripsikan pandangan terhadap
citra tubuhnya bukan memburuk tetapi berharap lebih baik.

14
DAFTAR PUSTAKA

Adrian, Veno dkk. 2011. Makalah Asuhan Keperawatan Pada Klien Gangguan
Citra Tubuh. Yogyakarta.

Nuryadi, Asep. 2017. Asuhan Keperawatan Jiwa Gangguan Citra Tubuh. Kediri:
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Surya Mitra Husada Kediri.

BKUL PENPROFIL. Gangguan Citra Tubuh. (online).


http://bkulpenprofil.blogspot.com/2014/11/gangguan-citra-tubuh.html
(diakses tanggal 31 maret 2020).

Depkes RI. 1993, Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa di


Indonesia. III Depkes RI.

Jurnalis Perawat Indonesia. Makalah Askep Ganguan Citra Tubuh. (online)


https://jurnalis-perawat.blogspot.com/2019/07/makalah-askep-
gangguan-citra-tubuh-pdf.html (diakses tanggal 31 maret 2020)

Keliat, B. A. 2009. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa.Jakarta : EGC.

Kimberly, Riinha. 2013. Makalah Citra Tubuh. (online)


http://haeraniasrina.blogspot.com/2013/06/makalah-citra-tubuh.html
(diakses tanggal 31 maret 2020)