Anda di halaman 1dari 14

TUGAS KEPERAWATAN MATERNITAS

RANGKUMAN NEONATUS

DOSEN PEMBIMBING :
Sri Mulyani, S.Kep.,MKM

Disusun oleh:
Nanda Aulia 18077

AKADEMI KEPERAWATAN PELNI


JAKARTA
A. Pengertian
Neonatus adalah bayi baru lahir sampai usia 4 minggu. Bayi baru lahir
(neonatus) adalah suatu keadaan dimana bayi baru lahir dengan umur kehamilan 38-
40 minggu, lahir melalui jalan lahir dengan presentasi kepala secara spontantanpa
gangguan, menangis kuat, nafas secara spontan dan teratur,berat badan antara 2500-
4000 gram.
Neonatus (BBL) adalah masa kehidupan pertama diluar rahim sampai dengan
usia 28hari dimana terjadi perubahan yang sangat besar dari kehidupan didalam rahim
menjadi diluar rahim. Pada masa ini terjadi pematangan organ hampir pada semua
system.
Masa perubahan yang paling besar terjadi selama jam ke 24-72 pertama.
Transisi ini hampir meliputi semua sistem organ tapi yang terpenting bagi anastesi
adalah system pernafasan sirkulasi, ginjal dan hepar.

B. Klasifikasi Bayi
a) Bayi Aterm
 Berat badan 2500-4000 gram.
 Panjang badan lahir 48-52 cm.
 Lingkar dada 30-38 cm.
 Lingkar kepala 33-35 cm.
 Bunyi jantung janin pada menit pertama 180 x/menit
 Pernapasan pada menit-menit pertama cepat 80x/menit kemudian lebih
kecil setelah 40x/menit.
 Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan cukup
terbentukdan diliputi verniks kaseosa.
 Rambut lanugo telah terlihat dan rambut kepala biasanya telah sempurna.
 Kuku agak panjang dan lemas.
 Pada bayi perempuan labia mayora sudah menutupi labia minora, pada
bayi laki-laki testis sudah turun.
 Refleks menghisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik Refleks
morro sudah baik apabila diletakkan suatu benda diletakkanditelapak
tangan, bayi akan menggenggamnya.
 Eliminasi baik urine dan mekonium akan keluar dalam waktu 24 jam
pertama Umur kehamilan 37-42 minggu)
b) Bayi Prematur
 Berat badan kurang dari 2499 gram
 Organ-organ tubuh imatur
 Umur kehamilan 28-36 mingguc)
c) Bayi Posmatur
 Biasanya lebih berat dari bayi aterm
 Tulang dan Sutura kepala lebih keras dari bayi aterm
 Verniks kaseosa dibadan kurang
 Kuku-kuku panjang
 Rambut kepala agak tebal
 Kulit agak pucat dengan deskuamasi epitel
 Umur kehamilan lebih dari 42 minggu

C. ADAPTASI FISIOLOGIS BAYI BARU LAHIR


1. Sistem Pernafasan
Sebelum lahir O2 janin disuplai oleh plasenta, sehingga agar neonates dapat
bertahan, maka maturasi organ paru sangat penting karena proses ini melibatkanfaktor
fisik, sensorik, dan kimiawi.
Karakteristik Pernapasan BBL (nenonatus) Jam–jam pertama sering disebut
periode reaktivitas. Respirasi Rate (RR) BBL normal 30 – 60x/menit tapi kecepatan
dan kedalamannya tidak teratur, nafas dapat berhenti sampai 20 detik, RR bisa sampai
80x/menit. Dapat terjadi nafas cuping hidung, retraksi dada.
2. Sistem kardiovaskuler
Menilai volume darah pada BBL sulit. Saat dilakukan klem pada tali pusat
terjadi peningkatan volume darah yang cepat sehingga menekan vaskularisasi jantung
dan paru.
Karakteristik kardiovaskuler pada BBL Jika BBL menangis, Heart Rate (HR)
dapat mencapai 180 x/menit, namun jika BBL tidur maka HR turun menjadi 100
x/menit. Perubahan tekanan di (paru – paru, jantung, pembuluh darah besar)
menyebabkan menutupnya foramen ovale, duktus arteriosus, duktus venosus.
Inspirasi O2 menyebabkan vena pulmonal dilatasi sehingga resistensi vaskuler di
pulmonal menurun (tekanan di atrium kanan, ventrikel kanan, arteri pulmonal
menurun sehingga terjadi peningkatan aliran darah pulmonal). Kondisi yang
mempengaruhi penutupan duktus: peningkatan konsentrasi O2 dalam darah,
penurunan prostaglandin (dari plasenta), asidosis (PO2 menurun, pH menurun PCO2
meningkat).
3. Sistem termoregulasi
Karakteristik BBL yang dapat menyebabkan hilangnya panas antara lain kulit
tipis, pembuluh darah yang dekat dengan permukaan, sedikit lemak subkutan. Untuk
menjaga panas, bayi cukup bulan yang sehat akan mempertahankan posisi fleksi. BBL
dapat mengalami kehilangan panas melalui cara: Penguapan/evaporasi : terjadi ketika
permukaan yang basah terkena udara (selama mandi, Insensible Water Loose (IWL)
artinya kehilangan panas tanpa disadari, linen atau pakaian basah)
Konduksi: terjadi ketika bayi bersentuhan langsung dengan benda–benda
padat yang lebih dingin dari kulit mereka (timbangan berat badan, tangandingin,
stetoskop). Konveksi: terjadi ketika panas dipindahkan ke udara sekitar bayi (pintu/
jendela terbuka, AC) Radiasi : transfer panas ke benda dingin yang tidak bersentuhan
langsung dengan bayi (bayi di dekat panas permukaan yang dingin hilang ke
luardinding & jendela).
4. Sistem neurologis
Pengkajian terhadap reflek – reflek fisiologis BBL harus dilakukan, karena hal
ini penting sekali untuk mengetahui reflek protektif seperti blink, gag, bersin, dan
batuk. Anda juga harus mengkaji reflek primitif BBL meliputi: rooting/sucking, moro,
startle, tonic neck, stepping, and palmar/plantar grasp.
 Refleks fisiologis pada bayi baru lahir
a. Rooting reflex : Bayi menoleh ke arah benda yang menyentuh pipi.
b. Reflex menghisap (Sucking Reflex) dimulai dengan memberi tekanan pada
mulut bayi di langit bagian dalam gusi atas yang akan menimbulkan isapan
yang kuat dan cepat.
c. Menelan (Swallowing Reflex) : Bayi baru lahir menelan berkoordinasi dengan
menghisap bila cairan ditaruh dibelakang lidah.
d. Moro : Ekstensi simetris bilateral dan abduksi seluruh ekstremitas, dengan ibu
jari dan jari telunjuk membentuk huruf “c”, diikuti dengan adduksi ekstremitas
dan kembali ke fleksi relaks jika posisi bayi berubah tiba-tiba atau jika bayi
diletakkan telentang pada permukaan yang datar.
e. Tonik leher atau fencing: Ekstremitas pada satu sisi dimana saat kepala
ditolehkan akan ekstensi, dan ekstremitas yang berlawanan akan fleksi bila
kepala bayi ditolehkan ke satu sisi selagi beristirahat
f. Glabellar “blink”: Bayi akan berkedip bila dilakukan 4 atau 5 ketuk pertama
pada batang hidung saat mata terbuka
g. Palmar grap: Jari bayi akan melekukdi sekeliling benda dan
menggenggamnyaseketika bila jaridiletakkan ditangan bayi
h. Plantar grap: Jari bayi akan melekuk di sekeliling benda dan dapat ditunjukkan
dengan membelaibagianbawahtumit(genggam telapak kaki)
i. Refleks Merangkak ( crawling ) Jika ibu atau seseorang menelungkupkan bayi
baru lahir, ia membentuk posisi merangkak karena saat di dalam rahim
kakinya tertekuk kearah tubuhnya.
j. Refelks Berjalan dan melangkah ( stepping ) Jika bayi dengan posisi berdiri
dan telapak kakinya menyentuh permukaan yang keras, akan terlihat refleks
berjalan, yaitu gerakan kaki seperti melangkah ke depan.
5. Sistem hematologic

Volume darah rata – rata pada BBL 80–85ml/Kg. Eritrosit/sel darah merah
(SDM) lebih banyak dan lebih banyak mengandung hemoglobin dan hematokrit
dibandingkan dengan dewasa, sedangkan leukosit/sel darah putih (SDP) 9000 –
30.000/mm3. BBL memiliki risiko defisiensi pembekuan darah.

 Hal ini terjadi karena :


1) BBL risiko defisit faktor pembekuan karena kurang vitamin K
(berfungsisebagai aktivasi/pemicu faktor pembekuan secara umum (factor II,
VII, IX,X).
2) Vitamin K disintesa di usus tapi makanan dan flora usus normal membantu
proses ini.
3) Untuk mengurangi risiko perdarahan, vitamin K diberikan secara
IntraMuskuler (IM).
6. Sistem gastrointestinal
BBL harus mulai makan, mencerna, dan mengabsorpsi makanan setelahlahir.
Kapasitas lambung 6 ml/Kg saat lahir tapi bertambah sekitar 90 ml padahari pertama
kehidupan. Udara masuk ke saluran gastrointestinal setelah lahirdan bising usus
terdengar pada jam pertama. Enzim pankreatik lipase sedikit diproduksi, lemak
susudalam ASI mudah dicerna dibanding dengan susu formula. BBL yang
aterm(matang usia kehamilannya) memiliki kadar glukosa stabil 50– 60mg/dl
(jikadibawah 40mg/dl hipoglikemi)
7. Sistem imunitas
BBL kurang efektif melawan infeksi karena SDP berespon lambat dalam
menghadapi mikroorganisme. BBL mendapat imunitas pasif dari ibu selama
kehamilan trimester 3, kemudian dilanjutkan dengan pemberian ASI. IgG menembus
plasenta saat fetus (imunitas pasif temporer terhadap toksin bakteri dan virus). IgM
diproduksi BBL untuk mencegah penyerangan bakteri gram negative. IgA diproduksi
BBL setelah usia 6 – 12 minggu setelah lahir (bisa didapat pada kolostrum dan ASI).
8. Sistem urinary
Kemampuan bayi dalam mengkonsentrasikan urin kurang. Intake/ asupan
2hari pertama: 65ml/ Kg. Output 2 – 6 X/ hari. BBL mudah kehilangan bikarbonat
sampai di bawah dewasa (meningkat risiko asidosis).
9. Sistem endokrin
Sistem ini merupakan sistem yang kondisinya lebih baik dari pada sistem
yanglainnya. Jika terjadi gangguan, biasanya berkaitan dengan kondisi hormonal
ibunya. Kondisi tersebut adalah normal pada bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan
DM.
10. Sistem Integumen
Epidermis dan dermis tidak/belum terikat dengan baik dan sangat tipis.
Vernikskaseosa berdifusi dengan epidermis dan berfungsi sebagai lapisan pelindung.
Kulit bayi sangat sensitive dan dapat rusak dengan mudah. Lanugo (rambut halus)
dapat terlihat di wajah, bahu dan punggung. Distensi kelenjar sebasea yang terlihat
pada bayi baru lahir, terutama di daerah dagu dan hidung dikenal dengan milia.
Bercak ini lebih sering terlihat di punggung dan bokong dan lebih sering terlihat pada
individu berkulit lebih gelap. Bercak ini secara bertahap akan lenyap dengan
sendirinya dalam hitungan bulan atau tahun.
Nevi dikenal sebagai “gigitan burung bangau”. Nevi telengiektasis berwarna
merah muda dan mudah memutih dan akan lenyap antara tahun pertama dan kedua.
Nevi ini biasanya pada kelopak mata bagian atas, hidung, bagian atas bibir, tulang
oksipital bawah dan tengkuk. Lesi yang khas strukturnya meninggi, garis batasnya
jelas, warnanya merah tua atau terang, permukaan membengkak dan kasar seperti
buah strawberi. Eritema Toksikum suatu ruam sementara, eritema toksikum disebut
eritema neonatorum. Ruam ini hanya terlihat pada bayi cukup bulan dalam tiga
minggu pertama dan tidak perlu diobati.
11. System Reproduksi
Wanita Peningkatan kadar estrogen selama masa kehamilan yang diikuti
dengan penurunan setelah bayi lahir mengakibatkan pengeluaran suatu cairan mukoid
atau kadang-kadang pengeluaran bercak darah melalui vagina. Pada bayi cukup bulan
labia mayora dan minora menutupi vestibulum. Pada bayi premature klitoris menonjol
dan labia mayora kecil dan terbuka. Tag pada vagina atau hymen sering ditemukan.
Pria Testis turun kedalam skrotum, terdapat rugae yang melapisi kantong skrotum.
Pembengkakan jaringan payudara pada kedua jenis kelamin bayi baru lahir
disebabkan oleh peningkatan estrogen selama masa hamil.

D. ASUHAN BAYI BARU LAHIR


 Tujuan Asuhan Bayi Baru LahirSecara khusus asuhan bayi baru lahir bertujuan
untuk
a) Mencapai dan mempertahankan jalan nafas dan mendukung pernafasan.
b) Mempertahankan kehangatan dan mencegah hipotermia.
c) Memastikan keamanan dan mencegah cidera dan infeksi.
d) Mengidentifikasi masalah-masalah actual atau potensial yang memerlukan
perhatian segera.
e) Memfasilitasi terbinanya hubungan dekat orang tua dan bayi.
f) Membantu orang tua dalam mengembangkan sikap sehat tentang
praktikmembesarkan anak.
g) Memberikan informasi kepada orang tua tentang perawatan bayi baru lahir
 Asuhan Segera Bayi Baru Lahir
Asuhan segera pada bayi baru lahir adalah asuhan yang diberikan pada
bayi baru lahir dimulai sejak proses persalinan hingga kelahiran bayi (dalam 1
jam pertama kehidupan ) Asuhan segera, aman dan bersih untuk bayi baru lahir
ialah :
1. Pencegahan Infeksi
Pencegahan infeksi merupakan penatalaksanaan awal yang harus dilakukan
pada bayi baru lahir karena bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi. Tindakan
pencegahan infeksi pada bayi baru lahir adalah sebagai berikut :
a) Cuci tangan dengan seksama sebelum dan setelah bersentuhan dengan bayi
b) Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belumdimandikan
c) Pastikan semua peralatan dan bahan yang digunakan, terutama klem, gunting,
penghisap lendir DeLee dan benang tali pusat telah didesinfeksitingkat tinggi
atau steril.
d) Pastikan semua pakaian, handuk, selimut dan kain yang digunakan untuk bayi,
sudah dalam keadaan bersih. Demikin pula dengan timbangan, pita pengukur,
termometer, stetoskop.
 Upaya yang dilakukan untuk pencegahan terjadinya infeksi pada bayi baru lahir
diantaranya adalah :
1) Pencegahan infeksi pada tali pusat
Pemakaian popok bayi diletakan disebelah bawah tali pusat. Apabila tali
pusat kotor, cuci luka tali pusat dengan air bersih yang mengalir dengan sabun,
segera di keringkan dengan kain kasa kering dandi bungkus dengan kasa tipis
yang steril dan kering. Dilarang membubuhkan atau mengoleskan ramuan, abu
dapur dan sebagainya pada luka tali pusat, sebab akan menyebabkan infeksi dan
tetanus yang dapat berakhir dengan kematian neonatal. Tanda-tanda infeksi tali
pusat yang harus di waspadai antara lain kulit sekitar tali pusat berwarna
kemerahan, ada pus / nanah dan berbau busuk.
2) Pencegahan infeksi pada kulit
Beberapa cara yang di ketahui yang dapat mencegah terjadinya infeksi
pada kulit bayi baru lahir atau penyakit infeksi lain adalah meletakkan bayi di
dada ibu agar terjadi kontak kulit langsung ibu dan bayi, sehingga menyebabkan
terjadi kolonisasi mikroorganisme yang ada di kulit dan saluran pencernaan bayi
dengan mikroorganisme ibu yang cenderung bersifat nonpatogen, serta adanya zat
antibodi bayi yang sudah terbentuk dan terkandung dalam air susu ibu.
3) Pencegahan infeksi pada mata bayi baru lahir.
Cara mencegah infeksi pada mata bayi baru lahir adalah merawat mata bayi
baru lahir dengan mencuci tangan terlabih dahulu- membersihkan kedua mata
segera setelah lahir dengan kapas atau sapu tangan halus dan bersih yang telah di
bersihkan dengan air hangat. Dalam waktu 1 jam setelah bayi lahir, berikan salep
obat tetes mata untuk mencegah oftalmia neonatrum (tetrasklin 1%, Eritrosmin
0,5% atau Nitras Argensi 1%).
4) imunisasi BCG harus di berikan pada bayi segera setelah lahir.
Pemberian dosis pertama tetesan polio di anjurkan pada bayi segera
setelah lahir atau pada umur 2 minggu. Imunisai Hepatitis B sudah merupakan
program nasional, meskipun pelaksanaanya di lakukan secara bertahap.

2. Melakukan penilaian dan inisiasi pernapasan spontan.


Sebagian besar bayi yang baru lahir akan menunjukkan usaha pernafasan
spontan dengan sedikit bantuan atau gangguan. Segera setelah bayi lahir, maka perlu
dilakukan upaya inisiasi pernafasan spontan ( 0-30 detik ) secara cepat dan tepat.
 Dengan langkah-langkah :
1.) Melakukan penilaian kondisi bayi baru lahir secara cepat dan tepat, bayi
diletakkan diatas perut ibu yang dilapisi dengan handuk. Pertanyaan yang
perlu dipertimbangkan, yaitu :
 Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekoneum?
 Apakah bayi bernafas spontan?
 Apakah kulit bayi berwarna kemerahan?
 Apakah tonus/ kekuatan otot bayi cukup?
 Apakah kehamilan ini cukup bulan?
2.) Evaluasi data yang terkumpul, buat diagnosa & tentukan rencana untuk
asuhan bayi baru lahir.
3.) Melakukan rangsangan taktil untuk mengaktifkan refleks pada tubuh bayi
baru lahir. Salah satu teknik dalam melakukan rangsangan adalah dengan
mengeringkan bayi. Cara ini dapat merangsang pernafasan spontan pada
bayi yang sehat. Rangsangan taktil harus dilakukan secara lembut dan
hati-hati . Rangsangan taktil yang dapat dilakukan, adalah :
 Dengan lembut gosok punggung, tubuh, kaki atau tangan ( ekstremitas )
1atau 2 kali.
 Dengan lembut, tepuk atau sentil telapak kaki bayi (1 atau 2 kali ).

3. Membebaskan Jalan Nafas


Apabila bayi tidak langsung menangis setelah dilakukan inisiasi pernapasan
spontan, penolong segera membersihkan jalan nafas dengan cara sebagai berikut:
a) Letakkan bayi pada posisi terlentang di tempat yang keras dan hangat.
b) Gulung sepotong kain dan letakkan di bawah bahu sehingga leher bayi lebih
lurus dan kepala tidak menekuk. Posisi kepala diatur lurus sedikit tengadah ke
belakang.
c) Bersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokkan bayi dengan jari tangan
yang dibungkus kassa steril.
d) Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2-3 kali atau gosok kulit bayi dengan
kain kering dan kasar.
e) Alat penghisap lendir mulut (De Lee) atau alat penghisap lainnya yang steril,
tabung oksigen dengan selangnya harus sudah ditempat.
f) Segera lakukan usaha menghisap mulut dan hidung
g) Memantau dan mencatat usaha bernapas yang pertama (Apgar Score)
h) Warna kulit, adanya cairan atau mekonium dalam hidung atau mulut harus
diperhatikan.

4. Pencegahan Kehilangan Panas


 Mekanisme kehilangan panas.
a) Evaporasi Penguapan cairan ketuban pada permukaan tubuh oleh panas tubuh
bayi sendiri karena setelah lahir, tubuh bayi tidak segera dikeringkan.
b) Konduksi Kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung antara tubuh bayi
dengan permukaan yang dingin, meja, tempat tidur, timbangan yang
temperaturnya lebih rendah dari tubuh bayi akan menyerap panas tubuh bayi
bila bayi diletakkan di atas benda-benda tersebut.
c) Konveksi Kehilangan panas tubuh terjadi saat bayi terpapar udara sekitar yang
lebih dingin, suhu ruangan yang dingin, adanya aliran udara dari kipas angin,
hembusan udara melalui ventilasi, atau pendingin ruangan.
d) Radiasi Kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat
benda-benda yang mempunyai suhu tubuh lebih rendah dari suhu tubuh bayi,
karena bendabenda tersebut menyerap radiasi panas tubuh bayi (walaupun
tidak bersentuhan secara langsung)
 Cara Mencegah kehilangan panas :
a) Keringkan bayi dengan seksama
Mengeringkan dengan cara menyeka tubuh bayi, juga merupakan rangsangan
taktil untuk membantu bayi memulai pernapasannya.
b) Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat
Ganti handuk atau kain yang telah basah oleh cairan ketuban dengan selimut
atau kain yang baru (hanngat, bersih, dan kering)
c) Selimuti bagian kepala bayi
Bagian kepala bayi memiliki luas permukaan yg relative luas dan bayi akan
dengan cepat kehilangan panas jika bagian tersebut tidak tertutup.
d) Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya
Pelukan ibu pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan tubuh dan mencegah
kehilangan panas. Sebaiknya pemberian ASI harus dimulai dalam waktu satu
(1) jam pertama kelahiran
e) Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir
Karena bayi baru lahir cepat dan mudah kehilangan panas tubuhnya, sebelum
melakukan penimbangan, terlebih dahulu selimuti bayi dengan kain atau
selimut bersih dan kering. Bayi sebaiknya dimandikan sedikitnya enam (6)
jam setelah lahir.
 Praktik memandikan bayi yang dianjurkan adalah :
a) Tunggu sedikitnya 6 jam setelah lahir sebelum memandikan bayi (lebih lama
jika bayi mengalami asfiksia atau hipotermi)
b) Sebelum memandikan bayi, periksa bahwa suhu tubuh stabil (suhu aksila
antara 36,5º C-37º C). Jika suhu tubuh bayi masih dibawah 36,5º C, selimuti
kembali tubuh bayi secara longgar, tutupi bagian kepala dan tempatkan
bersama ibunya di tempat tidur atau lakukan persentuhan kulit ibu-bayi dan
selimuti keduanya. Tunda memandikan bayi hingga suhu tubuh bayi tetap
stabil dalam waktu (paling sedikit) satu (1) jam.
c) Tunda untuk memandikan bayi yang sedang mengalami masalah pernapasan
d) Sebelum bayi dimandikan, pastikan ruangan mandinya hangat dan tidak ada
tiupan angin. Siapkan handuk bersih dan kering untuk mengeringkan tubuh
bayi dan siapkan beberapa lembar kain atau selimut bersih dan kering untuk
menyelimuti tubuh bayi setelah dimandikan.
e) Memandikan bayi secara cepat dengan air bersih dan hangat
f) Segera keringkan bayi dengan menggunakan handuk bersih dan kering
g) Ganti handuk yang basah dengan selimut bersih dan kering, kemudian
selimuti tubuh bayi secara longgar. Pastikan bagian kepala bayi diselimuti
dengan baik.
h) Bayi dapat diletakkan bersentuhan kulit dengan ibu dan diselimuti dengan
baik
i) Ibu dan bayi disatukan di tempat dan anjurkan ibu untuk menyusukan bayinya
j) Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat
k) Idealnya bayi baru lahir ditempatkan di tempat tidur yang sama dengan
ibunya, untuk menjaga bayi tetap hangat dan mendorong ibu untuk segera
memberikan ASI.

5. Merawat tali pusat


a) Setelah plasenta dilahirkan dan kondisi ibu dianggap stabil, ikat atau jepitkan
klem plastik tali pusat pada puntung tali pusat.
b) Celupkan tangan yang masih menggunakan sarung tangan ke dalam larutan
klorin 0,5 % untuk membersihkan darah dan sekresi tubuh lainnya.
c) Bilas tangan dengan air matang atau disinfeksi tingkat tinggi
d) Keringkan tangan (bersarung tangan) tersebut dengan handuk atau kain bersih
dan kering.
e) Ikat ujung tali pusat sekitar 1 cm dari pusat bayi dengan menggunakan benang
disinfeksi tingkat tinggi atau klem plastik tali pusat (disinfeksi tingkat tinggi
atau steril). Lakukan simpul kunci atau jepitkan secara mantap klem tali pusat
tertentu.
f) Jika menggunakan benang tali pusat, lingkarkan benang sekeliling ujung tali
pusat dan dilakukan pengikatan kedua dengan simpul kunci dibagian tali pusat
pada sisi yang berlawanan.
g) Lepaskan klem penjepit tali pusat dan letakkan di dalam larutan klorin 0,5% h.
Selimuti ulang bayi dengan kain bersih dan kering, pastikan bahwa bagian
kepala bayi tertutup dengan baik.
6. Mempertahankan suhu tubuh bayi
Pada waktu lahir, bayi belum mampu mengatur tetap suhu badannya, dan
membutuhkan pengaturan dari luar untuk membuatnya tetap hangat. Bayi baru lahir
harus di bungkus hangat. Suhu tubuh bayi merupakan tolak ukur kebutuhan akan
tempat tidur yang hangat sampai suhu tubuhnya sudah stabil.
Bayi baru lahir tidak dapat mengatur temperatur tubuhnya secara memadai dan
dapat dengan cepat kedinginan jika kehilangan panas tidak segera dicegah. Bayi yang
mengalami kehilangan panas (hipotermi) beresiko tinggi untuk jatuh sakit atau
meninggal, jika bayi dalam keadaan basah atau tidak diselimuti mungkin akan
mengalami hipotermia, meskipun berada dalam ruangan yang relatif hangat. Bayi
prematur atau berat lahir rendah sangat rentan terhadap terjadinya hipotermia.
 Pencegah terjadinya kehilangan panas yaitu dengan :
a) Keringkan bayi secara seksama
b) Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih, kering dan hangat
c) Tutup bagian kepala bayi
d) Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusukan bayinya
e) Lakukan penimbangan setelah bayi mengenakan pakaian
f) Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat.

7. Pencegahan perdarahan
Memberikan vitamin K untuk mencegah terjadinya perdarahan karena
defisiensi vitamin K pada bayi baru lahir normal atau cukup bulan perludi beri
vitamin K per oral 1 mg / hari selama 3 hari, dan bayi beresiko tinggi di beri vitamin
K parenteral dengan dosis 0,5-1 mg IM.

8. Identifikasi bayi
a) Alat pengenal yang efektif harus diberikan kepada bayi setiap bayi baru lahir
dan harus tetap ditempatnya sampai waktu bayi dipulangkan.
b) Peralatan identifikasi bayi baru lahir harus selalu tersedia di tempat
penerimaan pasien, di kamar bersalin dan di ruang rawat bayi
c) Alat yang digunakan, hendaknya kebal air, dengan tepi yang halus tidak
mudah melukai, tidak mudah sobek dan tidak mudah lepas
d) Pada alat atau gelang identifikasi harus tercantum nama (bayi, nyonya),
tanggal lahir, nomor bayi, jenis kelamin, unit, nama lengkap ibu
e) Disetiap tempat tidur harus diberi tanda dengan mencantumkan nama, tanggal
lahir, nomor identifikasi.

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN :
a) Resti perubahan suhu tubuh bd simpanan lemak putih sedikit, epidermis tipis
dengan pembuluh darah dekat dengan kulit
b) Resti kerusakan pertukaran gas bd stressor pranatal/intrapartal, produksi
mukus berlebihan dan fluktuasi temperatur tubuh
c) Resti perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
imaturas, kurangnya pengetahuan orang tua
d) Resti infeksi bd kerusakan kulit, jaringan trauma, pemajan lingkungan
ketidakadekuatan imunitas yang didapat
e) Resti kekurangan volume cairan bd pemberian makan terlambat, keterbatasan
masukan cairan, regurgitas berlebihan, peningkatan kehilangan air tidak kasad
mata
f) Resti terhadap konstipasi bd ketidakadekuatan masukan cairan, obstruksi
instestinal