50% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
521 tayangan15 halaman

Kearifan Lokal untuk Integrasi Nasional

Rekayasa ide ini membahas upaya memperbaiki masalah integrasi nasional dengan mengembangkan kearifan lokal setiap etnis. Konflik antar etnis dapat timbul karena perbedaan budaya dan kepentingan. Upaya yang ditempuh antara lain menanamkan kesadaran nasional sejak dini dan mempromosikan budaya nasional untuk memperkuat integrasi.

Diunggah oleh

Aufaa L
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
50% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
521 tayangan15 halaman

Kearifan Lokal untuk Integrasi Nasional

Rekayasa ide ini membahas upaya memperbaiki masalah integrasi nasional dengan mengembangkan kearifan lokal setiap etnis. Konflik antar etnis dapat timbul karena perbedaan budaya dan kepentingan. Upaya yang ditempuh antara lain menanamkan kesadaran nasional sejak dini dan mempromosikan budaya nasional untuk memperkuat integrasi.

Diunggah oleh

Aufaa L
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

REKAYASA IDE

MK. PENDIDIKAN
REKAYASA IDE KEWARGANEGARAAN
PRODI S1 Pend . Tata
Busana
Fakultas Teknik

Skor Nilai:

“Memperbaiki Masalah Integrasi Nasional : Konflik Antar Etnis Dengan


Mengembangkan Kearifan Lokal Yang Dimiliki Suatu Etnis Dan
Ditransformasikan Menjadi Nilai-Nilai Yang Bermanfaat Bagi Pembangunan
Karakter Bangsa”

Disusun Oleh:

AUFAA NABIILAH LUBIS 5172143008

DOSEN PENGAMPU : Drs. Syahruddin Harahap, M.Si.


MATA KULIAH :PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

JURUSAN PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, saya panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada saya, sehingga saya dapat
menyelesaikan tugas Rekayasa Ide pada mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan.

Tugas ini telah saya susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan tugas ini. Untuk itu
saya menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan tugas Rekayasa Ide saya.

Harapan saya adalah semoga Rekayasa Ide ini dapat menambah


pengetahuan bagi para pembaca. Karena keterbatasan pengetahuan maupun
pengalaman penulis, saya yakin masih banyak kekurangan dalam Rekayasa Ide
ini. Oleh karena itu, diharapkan kepada pembaca untuk memberikan kritik dan
saran demi kesempurnaan Rekayasa Ide ini.

Medan , 28 Mei 2019

Penulis
Aufaa Nabiilah Lubis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i

DAFTAR ISI...........................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1

A. Latar Belakang.............................................................................................. 1

B. Rumusan Masalah.........................................................................................1

C. Tujuan............................................................................................................1

D. Manfaat..........................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................2

A. Landasan Teori..............................................................................................2

B. Gambaran Rekayasa Ide..............................................................................10

BAB III PENUTUP............................................................................................... 11

A. Kesimpulan..................................................................................................11

B. Saran............................................................................................................12

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................13

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada hakekatnya pendidikan merupakanan upaya sadar dari suatu
masyarakat dan pemerintah suatu negara untuk menjamin kelangsungan hidup dan
kehidupangenerasi penerusnya. Jadi pendidikan kewarganegaraan adalah unsur
negara sebagai syarat berdirinya suatu negara upaya sadar yang ditempuh secara
sistematis untuk mengenalkan, menanamkan wawasan kesadaran bernegara untuk
bela negara dan memiliki pola pikir, pola sikap, dan perilaku sedagai pola tindak
yang cinta tanah air berdasarkan pancasila demi tetap utuh dan tegaknya NKRI.

Pemgaruh budaya luar menyebabkan kurang nya pengetahuan akan hak dan
kewajiban kita sebagai warga negaramenimbulkan hilangnya rasa persatuan kita baik
terhadap sesama maupun negara. Masing-masing individu lebih mementingkan
kepentingannya sendiri. Tanpa ada rasa peduli terhadap sesamanya. Untuk itu, kita
haru tau apa itu integrasi dan juga harus memiliki rasa integrasi nasional dengan
persatuan yang tinggi, baik terhadap bangsa, agama serta keluarga.

B. Rumusan Masalah
1. Mengetahu Materi yang akan di Rekayasa Idekan.
2. Mengetahui Penerapan Materi yang di bahas.
3. Sebagai bahan tugas .

C. Tujuan
Rekayasa Ide ini dibuat dengan tujuan utama untuk memenuhi tugas mata
kuliah Pendidikan Kewarganegaraan , yang diberikan oleh dosen kami. Dan tujuan
berikutnya adalah sebagai sumber informasi yang kami harapkan bermanfaat dan
dapat menambah wawasan mahasiswa dan para pembaca makalah ini.

D. Manfaat
1. Dapat mengetahi Materi yang di berikan.
2. Menambah pengetahuan / Wawasan Mahasiswa.

1
BAB II

PEMBAHASAN
A. Landasan Teori
1. Kondisi kekinian pencetus gagasan (dari literatur)
Integrasi nasional saat ini di Indonesia adalah integrasi nasional yang baru.
Segi-segi yang menunjukkan hal tersebut sudah cukup dikenal umum, antara lain:

1) Demokrasi pancasila mengajarkan bahwa semua suku bangsa memiliki


kerangka dasar yang sama tingginya sehingga tidak ada suku bangsa mana
pun yang dihargai lebih tinggi dari suku bangsa yang lainnya.
2) UUD menerima mengenai hak-hak asasi manusia yang dijelaskan dalam
Piagam Deklarasi PBB sehingga tata pergaulan sudah diatur dengan baik
oleh UUD.
3) Bahasa pergaulan pada tingkat nasional adalah bahasa Indonesia.
4) Landasan untuk berideologi, bermoral, berbudaya berbangsa dan
bernegara hanya satu yaitu Pancasila.

Dari beberapa penjelasan segi-segi tersebut menjelaskan bahwa keutuhan


negara semakin ditekankan dalam UUD agar tercipta suatu integrasi nasional.
Selain hal tersebut, terdapat pola-pola yang selama ini secara positif menunjang
kemantapan kesadaran nasional dan kesatuan bangsa Indoensia yaitu:

1) Program resmi P4 (Pedoman, Penghayatan dan Pelaksanaan Pancasila)


2) Peringatan hari sumpah pemuda yang pernah diikrarkan tahun 1928 agra
cita-cita satu bangsa dan satu tanah air menjadi milik segenap angkatan
muda
3) Perayaan hari ulang tahun kmerdekaan RI setiap tanggal 17 Ag ustus di
seluruh tanah air

3
4) Peringatan kebangkitan nasional setiap tahun tanggal 20 Mei di seluruh
nusantara
5) Bertambahnya frekwensi perkawinan antarsuku sehingga terjadi
pembauran antar pribumu
6) Kreasi baru bentuk kebudayaan yang berdimensi nasional.

Dari hal tersebut, sebagai generasi muda kita harusnya ikut membangun dan
memperkuat integrasi nasional bangsa Indonesia dalam berbagai bidang
kehidupan. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu dengan menjalankan
kehidupan sehari-hari berbangsa dan bernegara sesuai dengan landasan Pancasila
dan tidak menyimpang dalam peraturan UUD 1945 yang telah ditetapkan
pemerintah.
Etnik atau suku bangsa, biasanya memiliki berbagai kebudayan yang
berbeda satu dengan lainnya. Sesuatu yang dianggap baik atau sakral dari suku
tertentu mungkin tidak demikian halnya bagi suku lain. Perbedaan etnis tersebut
dapat menimbulkan terjadinya konflik antar etnis.
Konflik antar etnis ini terjadi karena benturan budaya, kepentingan, ekonomi
politik, dan lain lain. Dan demi menciptakan Negara yang aman dan tentram,
pemerintah harus menyelesaikan masalah konflik antar etnis. Cara yang lebih
demokratik demi tercegahnya perpecahan, dan penindasan atas yang lemah oleh
yang lebih kuat, adalah cara penyelesaian yang berangkat dari niat untuk take a
little and give a little, didasari itikat baik untuk berkompromi dan bermusyawarah.
Yang harus diketahui dari fakta lapangan yang terjadi di Indonesia, baik dengan
cara melihat secara langsung maupun dengan berbagai pemberitaan di media massa,
dapat kita diketahui dengan nyata bahwasannya pluralitas yang terjadi di Indonesia
memiliki sebuah ancaman atau tantangan, yang berupa “konflik”. Konflik ini sering
terjadi dikarenakan terdapat cara pandang tertentu dalam suatu etnis yaitu
primordialisme dan juga etnosentrisme, yang diwujudkan dalam bentuk stereotip
terhadap suku bangsa lain, ini merupakan bentuk sikap egois dan ingin menang
sendiri yang dapat mengarahkan masyarakat yang hidup dalam suatu etnis

4
untuk terus berprasangka buruk terhadap suku bangsa/etnis lain sehingga mudah
terprovokasi dan memunculkan konflik adat.
Dari perspektif antropologi hukum, fenomena konflik dapat muncul karena
adanya konflik nilai, konflik norma, dan juga konflik kepentingan antar komunitas
etnis, golongan ataupun agama dalam masyarakat (Najwan, 2009). Seperti yang
sudah disinggung diatas, tingkat pluralitas atau heterogenitas yang tinggi sering
menimbulkan gesekan-gesekan terjadi dalam masyarakat yang mengarah pada
tindakan konflik dan kerusuhan. Konflik tersebut sering disebut sebagai konflik
horizontal yang aktor utamanya adalah suku-suku yang saling mempertahankan
kepentingannya, nilai, norma, maupun adat budaya etnisnya. Masalah ini memang
tidak dapat dihindari, seperti yang diugkapkan Dahendrof (dalam Suparlan 2005)
bahwa konflik merupakan suatu yang endemik dan selalu ada dalam kehidupan
manusia bermasyarakat.
Terdapat banyak sekali konflik antar suku atau antar komunitas adat yang
terjadi di Indonesia.Disini saya menuliskan dua kasus yang cukup terkenal.Yang
pertama adalah kasus yang terjadi di daerah Sambas, Kalimantan Barat pada tahun
1999, yaitu konflik antara suku Melayu (Sambas) dengan suku Madura. Konflik
ini menyebabkan sekitar 1800 tempat tinggal hancur, banyak nyawa melayang dan
kerugian materi atau infrastruktur yang tidak terhitung, bahkan konflik ini
menyebabkan suku Madura terusir dari wilayah tersebut.
Kedua adalah kasus konflik antar etnis yang sering terjadi di Provinsi
Lampung. Karena pada dasarnya, Provinsi Lampung merupakan daerah tujuan
transmigrasi sehingga tidak mengherankan bahwa di wilayah ini sering terjadi konflik
antar etnis. Koflik antar suku yang paling tertanam dan masih teringat hingga
sekarang adalah konflik yang terjadi antara suku Bali Nuraga dengan etnis Lampung
asli di daerah Kalianda Kabupaten Lampung Selatan pada 27 Oktober 2012 sampai
dengan 29 Oktober 2012. Dari pemetaan Kepolisian Daerah (Polda) Lampung, ada
112 titik potensi konflik di Lampung sejak 2012 hingga sekarang, 68 di antaranya
terdapat dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Dijabarkan bahwa
terdapat 18 potensi konflik suku, agama, ras, dan antargolongan

5
(SARA), 22 potensi konflik sumber daya alam (SDA), dan 4 potensi konflik
terkait batas wilayah (Lampungpost.co).
Konflik antar suku yang berlarut-larut merupakan suatu pelanggaran HAM
dan merupakan bencana bagi negara.Hal ini merupakan salah ancaman bagi
terciptanya integrasi nasional di Indonesia. Mengapa hal ini menjadi ancaman?.
Pertama-tama kita harus memahami, apa makna dari integrasi itu sendiri. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, “integrasi” bermakna sebagai pembauran hingga
menjadi kesatuan. Kata “kesatuan” mengisyaratkan berbagai macam elemen yang
berbeda satu sama lain mengalami proses pembauran. Jika pembaruan telah
mencapai suatu perhimpunan, maka gejala perubahan ini dinamai integrasi.
Dalam sosiologi, integrasi sosial berarti proses penyesuaian unsur-unsur
yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola
kehidupan masyarakat yang memiliki keserasian fungsi. Dengan demikian, ada
dua unsur pokok integrasi sosial. Unsur pertama adalah pembauran atau
penyesuaian, sedangkan unsur kedua adalah unsur fungsional. Jika kemajemukan
sosial gagal mencapai pembauran atau penyesuaian satu sama lain, maka
kemajemukan sosial berarti disentegrasi sosial (Hendry, 2003).
Dapat diketahui bahwa konflik ini pada dasarnya menjadi penghalang yang
nyata bagi terciptanya integrasi nasional pada masyarakat Indonesia.Bagaimana
bisa terjadi pembauran apabila keragaman yang ada masih dianggap sebagai
perbedaan yang dapat sewaktu-waktu menimbulkan konflik. Perlu adanya
kesadaran sikap dan jiwa yang positif dari berbagai pihak yang terkait dalam
pengembangan proses integrasi ini.
Melihat fenomena Hari Integrasi Nasional pada 1 Mei yang dimulai dengan
sejarah yang begitu panjang. Pergerakan untuk memerdekakan, diplomasi dilakukan
hanya untuk sebuah penindasan terhadap anak tiri yang diduakan. Hal itu yang harus
diselesaikan untuk NKRI bersatu padu tanpa ada pemberontakan. Pemberontakan
terjadi karena mereka tidak didengar oleh pemimpinnya. Begitu banyak para pejabat
negara ini yang memanfaatkan rakyat kecil untuk mendapatkan harta sebanyak-
banyaknya untuk keperluan pribadi tanpa memperhatikan masyarakat itu sendiri.
Sikap ini harus dihapus di dalam negeri untuk generasi muda

6
penerus bangsa. Dari Sabang sampai Merauke harus bisa merubah sikap yang
buruk itu menjadi tindakan yang berguna dan berpengaruh baik bagi
kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.
Integrasi menjadi masalah penting dalam unsur politik. Diplomasi, tuntutan
dan kesepakatan dalam menemukan Hari Integrasi Nasional. Proses Integrasi
harus dilakukan secara menyeluruh tanpa pandang apapun yang membedakan
sesama manusia di lingkungan bermasyarakat.

2. Solusi yang pernah diterapkan sebelumnya


Konflik antar etnis di Indonesia harus segera diselesaikan dan harus sudah
ada solusi konkritnya. Dalam bukunya Wirawan dengan judul Konflik dan
Menejemen Konflik, Teori, Aplikasi, dan Penelitian menjelaskan bagaimana cara
menyelesaikan konflik antar etnis yang ada di sebuah Negara. Pertama, melalui
Intervensi pihak ketiga.Dimana keputusan intervensi pihak ketiga nantinya final
dan mengikat.Contoh adalah pengadilan. Kedua, Mediasi. Mediasi ini adalah cara
penyelesaian konflik melalui pihak ketiga juga yang disebut sebagai mediator.
Ketiga, Rokonsialisasi. Proses penyelesaian konflik dengan transormasi sebelum
konflik itu terjadi, dimana masyarakat pada saat itu hidup dengan damai. Adapun
cara lain dalam menyelesaikan konflik yang ada, yakni:

1) Konflik Itu Harus di Management Menuju Rekonsiliasi


Konflik memang bukan sesuatu yang diharapkan oleh setiap orang yang
hidup di dunia ini. Apa lagi konflik yang bernuansa karena perbedaan agama yang
dianut dan pebedaan etnis. Konflik yang demikian itu memang suatu konflik yang
sangat serius. Untuk meredam wajah bahaya dari konflik itu, maka konflik itu
harus dimanagement agar ia berproses ke arah yang positif. Dr. Judo
Poerwowidagdo, MA. Dosen Senior di Universitas Duta Wacana Yogyakarta
menyatakan bahwa proses konflik menuju arah yang positif itu.
Dari kondisi yang “Fight” harus diupayakan agar menuju Flight. Dari
kondisi Flight diupayakan lagi agar dapat menciptakan kondisi yang Flaw. Dari
Flaw inilah baru diarahkan menuju kondisi Agreement, terus ke Rekonsiliasi.

7
Karena itu, masyarakat terutama para pemuka agama dan etnis haruslah dibekali
ilmu Management Konflik setidak-tidaknya untuk tingkat dasar.

2) Merobah Sistem Pemahaman Agama.


Konflik yang bernuansa agama bukanlah karena agama yang dianutnya itu
mengajarkan untuk konflik. Karena cara umat memahami ajaran agamanyalah
yang menyebabkan mereka menjadi termotivasi untuk melakukan konflik.
Keluhuran ajaran agama masing-masing hendaknya tidak di retorikakan secara
berlebihan. Retorika yang berlebihan dalam mengajarkan agama kepada umat
masing-masing menyebabkan umat akan merasa dirinya lebih superior dari
pemeluk agama lain.
Arahkanlah pembinaan kehidupan beragma untuk menampilkan nilai-nilai
universal dari ajaran agama yang dianut. Misalnya, semua agama mengajarkan
umatnya untuk hidup sabar menghadapi proses kehidupan ini. Menjadi lebih tabah
menghadapi berbagai AGHT (ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan)
dalam menghadapi hidup ini. Rela berkorban demi kepentingan yang lebih mulia.
Tidak mudah putus asa memperjuangkan sesuatu yang benar dan adil. Tidak
mudah mabuk atau lupa diri kalau mencapai sukses.
Orang yang sukses seperti menjadi kaya, pintar, menjadi penguasa, cantik,
cakep, memiliki suatu power, merasa diri bangsawan. Semuanya itu dapat
menyebabkan orang menjadi mabuk kalau kurang waspada membawa diri.Hal-hal
yang seperti itulah yang sesungguhnya lebih dipentingkan oleh masyarakat bangsa
kita dewasa ini.

3) Mengurangi Penampilan Berhura-Hura dalam Kehidupan Beragama.


Kegiatan beragama seperti perayaan hari raya agama, umat hendaknya
mengurangi bentuk perayaan dengan penampilan yang berhura hura. Hal ini
sangat mudah juga memancing konflik. Karena umat lain juga dapat terpancing
untuk menunjukan existensi dirinya bahwa ia juga menganut agama yang sangat
hebat dan luhur. Hura-hura itu merupakan kegiatan yang kurang terpuji karena ia
melakukan suatu kegiatan itu di luar kesadarannya tanpa memikirkan dampak

8
negatif terhadap orang lain. Jika kita dalam kehidupan beragama, hendaknya kita
menjalankan kegiatan itu menurut agama kita masing-masing.

4) Redam Nafsu Distinksi Untuk Menghindari Konflik Etnis.


Setiap manusia memiliki nafsu atau dorongan hidup dari dalam
dirinya.Salah satu nafsu itu ada yang disebut nafsu Distinksi.Nafsu Distinksi ini
mendorong seseorang untuk menjadi lebih dari yang lainya. Kalau nafsu ini
dikelola dengan baik justru akan membawa manusia menjadi siap hidup bersaing.
Tidak ada kemajuan tanpa persaingan. Namun, persaingan itu adalah persaingan
yang sehat. Persaingan yang sehat itu adalah persaingan yang berdasarkan norma-
norma Agama, norma hukum dan norma-norma kemanusiaan yang lainya.
Namun, sering nafsu Distinksi ini menjadi dasar untuk mendorong suatu
etnis bahwa mereka adalah memiliki berbagai kelebihan dari etnis yang lainya.
Nafsu Distinksi ini sering membuat orang buta akan berbagai kekuranganya. Hal
inilah banyak orang menjadi bersikap sombong dan exlusive karena merasa
memiliki kelebihan etnisnya.
Untuk membangun kebersamaan yang setara, bersaudara dan merdeka
mengembangkkan fungsi, profesi dan posisi, maka dalam hubungan dengan
sesama dalam suatu masyarakat ada baiknya kami sampaikan pandangan Swami
Satya Narayana sbb: “Agar hubungan sesama manusia menjadi harmonis,
seriuslah melihat kelebihan pihak lain dan remehkan kekuarangannya. Seriuslah
melihat kekurangan diri sendiri dan remehkan kelebiihan diri”.
Dengan demikian semua pihak akan mendapatkan manfaat dari hubungan
sosial tersebut. Di samping mendapatkan sahabat yang semakin erat, juga
mendapatkan tambahan pengalaman positif dari sesama dalam pergaulan sosial.
Dengan melihat kelebiihan sesama maka akan semakin tumbuh rasa persahabatan
yang semakin kekal. Kalau kita lihat kekurangannya maka kita akan terus merasa
jauh dengan sesama dalam hubungan sosial tersebut.

9
B. Gambaran Rekayasa Ide
Indonesia sebagai sebuah negara dalam realitasnya terpisah pada beberapa
bagian dan tingkatan, dari segi geografis dipisahkan oleh lautan dengan beratus-
ratus pulau besar dan beribu-ribu pulau kecil. Perwujudan integrasi nasional ini
menjadi penting karena pada dasarnya, dalam pembangunan nasional dibutuhkan
gerak yang searah dari berbagai pihak dalam sebuah negara untuk mencapai
tujuan-tujuan yang mengarah pada kesejahteraan dan ketentraman masyarakat.
Menurut kajian Hildred Geetz (1963), terdapat 300 kelompok etnik dan 250 jenis
bahasa yang setiap kelompok etnik itu memiliki identitas kebudayaan sendiri,
termasuk di dalamnya bahasa-bahasa yang digunakannya. Hal ini bisa dikaji dari
internet yang membahas tentang integrasi nasional.
Makalah ini berupaya mengaitkan berbagai jenis masalah yang terdapat dalam
pemicu menjadi satu kesatuan, yaitu seputar ancaman mengenai terwujudnya integrasi
nasional Indonesia, masalah komunitas/masyarakat adat yang terjadi di Indonesia,
bagaimana cara menyikapi, mengatasi dan mencegahnya, termasuk juga langkah
konstruktif pemerintah dalam mengatasi berbagai permasahan ini dan
mengembangkan kegiatan budaya (kearifan lokal), yang kami rangkum dalam judul
“Memperbaiki Masalah Integritas Nasional: Konflik antar etnis dengan
Mengembangkan Kearifan Lokal yang Dimiliki Suatu Etnis dan Ditransformasikan
Menjadi Nilai-Nilai yang Bermanfaat Bagi Pembangunan Karakter Bangsa”.
Dibutuhkan langkah nyata dari berbagai pihak untuk mengatasi hal ini,
diantaranya dengan berupaya dengan serius untuk mengatasi konflik antar etnis
yang terjadi di daerah, membendung segala hal yang dapat menjadi pemicu
konflik, mengedepankan toleransi dan penanaman nilai-nilai Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945.
Selain itu, kearifan lokal yang dimiliki oleh setiap etnis juga harus mampu
berkembang dan di transformasikan menjadi nilai-nilai yang bermanfaat bagi
pembangunan karakter bangsa. Karena dengan karakter bangsa yang kuat, akan
membentuk suatu negara yang dapat menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya,
sesuai dengan tujuan negara Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan Undang-
Undang Dasar 1945.

10
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Gagasan Yang Diajukan
Kearifan lokal dapat digunakan fondasi membangun karakter bangsa,
sepanjang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.Perlu adanya upaya
untuk membendung dampak negatif globalisasi.Jalur pendidikan formal,
nonformal, dan informal dilibatkan dalam pemeliharaan kearifan lokal dalam
rangka membangun karakter bangsa Indonesia. Karakter yang dibangun bukan
hanya karakter yang melekat pada peserta didik, tetapi semua warga negara juga
harus dibangun. Sehingga dengan demikian, akan terbangun karakter bangsa
Indonesia.

2. Teknik Implementasi Yang Dilakukan


Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kearifan lokal
guna membangun karakter bangsa seperti :
1. Mengembangkan modal sosial untuk mengaktualisasikan nilai-nilai luhur
budaya bangsa dalam menghadapi derasnya arus budaya global
2. Mendorong percepatan proses modernisasi yang dicirikan dengan
terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia modern yang
berkelanjutan dan menguatnya masyarakat sipil;
3. Menyelesaikan peraturan perundang-undangan di bidang kebudayaan dan
peraturan pelaksananya;
4. Mendorong reaktualisasi nilai-nilai kearifan lokal sebagai salah satu dasar
pengembangan etika pergaulan sosial untuk memperkuat identitas nasional;
5. Mengembangkan kerja sama yang sinergis antarpihak terkait dalam upaya
pengelolaan kekayaan budaya;
6. Mewujudkan masyarakat Indonesia yang berkepribadian, berbudi luhur,
dan mencintai kebudayaan Indonesia dan produk-produk dalam negeri.

11
3. Prediksi Hasil Yang Akan Diperoleh
Dengan penerapan hal-hal diatas, maka prediksi hasil yang dapat kelompok
kami berikan sekitar 80 %, karena dengan mengembangkan kearifan lokal maka
karakter bangsa ikut berkembang.
Karakter merupakan sifat yang melekat pada setiap manusia, sebagai faktor
penentu seseorang untuk bersikap dan bertingkah laku, dengan dipengaruhi oleh
situasi, kondisi, dan yang dirasakan dalam hati seseorang.Karakter lebih dekat
dengan akhlak, yaitu spontanitas manusia dalam bersikap atau melakukan
perbuatan yang menyatu dalam diri manusia sehingga ketika muncul tidak perlu
dipikirkan lagi.Wynne berpendapat karakter merupakan nilai kebaikan dalam
bentuk tingkah laku (Zuhdi, 2009:10).

B. Saran

Rekayasa Ide ini masih banyak kekurangannya, untuk itu saya


mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang membangun demi
kesempurnaan Rekayasa Ide ini. Semoga Rekayasa Ide ini dapat dijadikan media
bacaan yang mungkin bisa menambah wawasan dan ilmu pengetahuan pembaca.

12
DAFTAR PUSTAKA

http://fip.um.ac.id/wp-content/uploads/2015/12/16.1_Imamgun-Mengembangkan-
Karakter-Bangsa-Berdasarkan-Kearifan-Lokal.pdf

http://fip.um.ac.id/wp-content/uploads/2015/12/16.1_Imamgun-Mengembangkan-
Karakter-Bangsa-Berdasarkan-Kearifan-Lokal.pdf

http://adibcaem.blogspot.co.id/2011/12/integrasi-nasional-problematika-dan.html

13

Anda mungkin juga menyukai