Anda di halaman 1dari 4

A.

Pengertian
Oksigen (O2) merupakan komponen gas yang sangat berperan dalam proses metabolisme
tubuh untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel tubuh secara normal. Oksigen
diperoleh dengan cara menghirup udara bebas dalam setiap kali bernafas. Dengan bernafas setiap
sel tubuh menerima oksigen, dan pada saat yang sama melepaskan produk oksidasinya.
Terapi oksigen adalah memberikan aliran gas lebih dari 20 % pada tekanan 1 atmosphir
sehingga konsentrasi oksigen meningkat dalam darah. Terapi oksigen adalah memasukkan
oksigen tambahan dari luar ke paru melalui saluran pernafasan dengan menggunakan alat sesuai
kebutuhan (Standar Pelayanan Keperawatan di ICU, Dep.Kes. RI, 2005). Terapi oksigen adalah
pemberian oksigen dengan konsentrasi yang lebih tinggi dari yang ditemukan dalam atmosfir
lingkungan. 

Pemberian oksigen ke dalam paru-paru melalui saluran pernapasan dengan menggunakan


alat bantu dan oksigen. Pemberian oksigen pada klien dapat melalui kanula nasal dan masker
oksigen. (Suparmi, 2008:66)

B. Tujuan Umum
 Meningkatkan ekspansi dada
 Memperbaiki status oksigenasi klien dan memenuhi kekurangan oksigen
 Membantu kelancaran metabolisme
 Mencegah hipoksia
 Menurunkan kerja jantung
 Menurunkan kerja paru –paru pada klien dengan dyspnea
 Meningkatkan rasa nyaman dan efisiensi frekuensi napas pada penyakit paru (Aryani,
2009:53)

C. Pemberian Oksigen Melalui Simple Mask


Simple mask(sungkup muka sederhana)Digunakan untuk konsentrasi oksigen rendah
sampai sedang.Merupakan alat pemberian oksigen jangka pendek, kontinyu atau selang seling.
Aliran 5 – 8 liter/mnt dengan konsentrasi oksigen 40 – 60%. Masker ini kontra indikasi pada
pasien dengan retensi karbondioksida karena akan memperburuk retensi. Aliran O2 tidak boleh
kurang dari 5 liter/menit untuk mendorong CO2 keluar dari masker.FiO2 estimation Flows FiO2

· 5-6 Liter/min : 40 %

· 6-7 Liter/min : 50 %

· 7-8 Liter/min : 60 %

1. Keuntungan

Konsentrasi oksigen yang diberikan lebih tinggi dari kateter atau kanula nasal, sistem
humidifikasi dapat ditingkatkan melalui pemilihan sungkup berlubang besar,dapat digunakan
dalam pemberian terapi aerosol.

2. Kerugian

Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen kurang dari 40%, dapat menyebabkan
penumpukan CO2 jika aliran rendah.Menyekap, tidak memungkinkan untuk makan dan
batuk.Bisa terjadi aspirasi bila pasien mntah. Perlu pengikat wajah, dan apabila terlalu ketat
menekan kulit dapat menyebabkan rasa pobia ruang tertutup, pita elastik yang dapat disesuaikan
tersedia untuk menjamin keamanan dan kenyamanan.

D. Monitoring dalam pemberian oksigen

Persyaratan dalam pemberian terapi oksigen:


 Yang harus diperhatikan pada pemberian terapi oksigen pada pasien antara lain:

 - Mengatur pemberian fraksi O2 (% FiO2) / jumlah liter per menit

 - Mencegah terjadinya akumulasi kelebihan CO2 oleh karena salah metode

 - Resistensi minimal untuk pernafasan (terutama pada kasus PPOK)

- Efesiensi & ekonomis dalam penggunaan O2 - Oksigen harus dapat diterima pasien

E. Analisa bagaimana tindakan tersebut dapat memperbaiki oksigen

Dalam konteks kardiologi, masalah oksigen terjadi disebabkan karena hambatan transport
oksigen akibat penurunan fungsi jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Dampak
penurunan fungsi ini tampak dari tanda-tanda cepat lelah, nafas pendek, perfusi jaringan perifer
menurun dll. Apabila oksigen diberikan pada gangguan jantung, maka oksigen masuk berdifusi
ke dalam paru-paru relatif mudah. Dari alveoli oksigen berdifusi ke dalam pembuluh darah
arteri. Karena masalah utamanya adalah pada hambatan transport (gangguan cardiac output atau
denyut jantung) maka pemberian oksigen akan meningkatkan PaO2 dan saturasi O2. Dengan
peningkatan saturasi oksigen, maka hemoglobin mampu membawa oksigen lebih banyak
dibandingkan dengan jika seseorang tidak diberikan oksigen. Pada kondisi demikian maka
kebutuhan perfusi jaringan dapat dipenuhi meskipun terjadi penurunan rata-rata aliran darah ke
jaringan.

Konsentrasi oksigen tergantung dari jenis alat dan flowrate (liter permenit) yang diberikan.
Kondisi pasien menentukan keperluan alat dan konsentrasi oksigen yang diperlukan.

F. Prosedurnya/cara kerjanya

Peralatan :

a). Face mask


 Prosedur pelaksanaannya adalah:

a)   Anamnesa d)    Penatalaksanaan

b)     Langkah-Langkah Pertolongan e)     Penyuluhan

c)      Pemeriksaan Fisik f)     Follow Up

 Langkah-langkah Pemasangan :
a. Mengatur posisi yang nyaman ( berbaring/ semi fowler/ fowler ).
b. Memberi penjelasan tentang maksud, tujuan dan prosedur pemasangan simple mask.
c. Memasang simple mask pada muka pasien sesuai ukuran, alirkan oksigen 5 – 8 liter/
menit dan fiksasi karet pengikat pada belakang kepala.
d. Memberikan penjelasan bahwa prosedur sudah selesai.
e. Mengobservasi tentang perkembangan terapi oksigen.
f. Mencatat hasil kegiatan pada status klien.
 Prosedur Tindakan :
a. Membebaskan jalan nafas dengan menghisap sekresi bila perlu (syarat terapi oksigen
adalah jalan nafas harus bebas, jalan nafas yang bebas menjamin aliran oksigen lancar)
b. Atur posisi pasien (meningkatkan kenyamanan dan memudahkan pemasangan
c. Membuka regulator untuk menentukan tekanan oksigen sesuai dengan kebutuhan 5-8
liter/menit (Mencegah kekeringan pada membran mukosa nasal dan membran mukosa
oral serta sekresi jalan nafas, menjamin ketepatan dosis, dan mencegah penumpukan CO2
d. Atur tali pengikat sungkup menutup rapat dan nyaman jika perlu dengan kain kasa pada
daerah yang tertekan ( mencegah kebocoran sungkup, mencegah iritasi kulit akibat
tekanan)
e. Memasang kapas kering pada daerah yang tertekan sungkup dan tali pengikat untuk
mencegah iritasi kulit.