Anda di halaman 1dari 15

Sebutkan sumber sumber hukum islam dan jelaskan 1 per 1

----------------------------

Jawaban :

PENDAHULUAN

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Halo adik-adik para pejuang pencari ilmu, bagaimana kabarnya ?. kali ini Insha Allah
kakak akan membantu menjawab pertanyaan adik-adik diatas yaitu “Sebutkan sumber
sumber hukum islam dan jelaskan 1 per 1 ” . yuk langsung saja kita bahas.

PEMBAHASAN

Islam merupakan agama yang sempurna, satu-satunya agama yang didalamnya terdapat
berbagai macam penjelasan mengenai cara menjalani kehidupan. baik itu hukum
keluarga, muamalat ( perdata ), jinayat ( pidana ), murafaat ( acara ),  ketatanegaraan,
hukum ekonomi, keuangan, bahkan hubungan antar bangsa. Tidak adasatupun
permasalah yang terjadi dalam kehidupan ini tanpa adanya hukum yang mengatur
dalam islam.

maka para ulama berpendapat bahwa ada 4 sumber-sumber hukum yang digunakan di
dalam islam, yaitu : Al Quran, as Sunnah ( hadist ), Ijma dan qiyas yang akan kaka
jelaskan dibawah ini

1. Al Quran. Al Quran merupakan firman ALLAH yang diturunkan kepada Rasulullah


untuk seluruh umat manusia. dalam sejarah kehidupan Rasulullah, AL quran ini turun
secara bertahap, dan setiap ayat yang turun selalu disertai dengan asbabun nuzul
( sebab turunnya ayat ) yaitu persitiwa atau permasalahan yang dihapdai Rasulullah dan
kaum muslimin. AL quran merupakan sumber hukum utama, bila telah jelas hukumnya
didalam AL Quran maka tidak perlu mencari sumber hukum lainnya. Dan hukum dalam
Al Quran sifatnya kekal dan dapat diagunakan hingga hari kiamat.
Contoh ayat yang turun karena pertanyaan sahabat :

)٢١٩ :‫ (البقرة‬.‫ك َما َذا ُي ْن ِفقُ ْو َن قُ ِل ْال َع ْف َو‬


َ ‫َو َيسْ َئلُ ْو َن‬

"Dan mereka menanyakan kepadamu (tentang) apa yang (harus) mereka infakkan.
Katakanlah, 'Kelebihan (dari apa yang diperlukan) '."(QS. Al-Baqarah/2: 219)  

Contoh ayat yang turun karena permasalahan :

‫ت َح ٰ ّتى ي ُْؤمِنَّ َواَل َ َم ٌة م ُّْؤ ِم َن ٌة َخ ْي ٌر مِّنْ ُّم ْش ِر َك ٍة َّولَ ْو اَعْ َج َب ْت ُك ْم َواَل ُت ْن ِكحُوا ْال ُم ْش ِر ِكي َْن َح ٰ ّتى ي ُْؤ ِم ُن ْوا‬
5ِ ‫َواَل َت ْن ِكحُوا ْال ُم ْش ِر ٰك‬
)٢٢١ :‫ (البقرة‬.‫َولَ َع ْب ٌد م ُّْؤ ِمنٌ َخ ْي ٌر مِنْ ُّم ْش ِركٍ َّولَ ْو اَعْ َج َب ُك ْم‬

"Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh,
hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik
meskipun dia menarik hatimu.Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik
(dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman.Sungguh, hamba sahaya
laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik
hatimu."(QS. Al-Baqarah/2: 221)

2. As sunnah / hadist. Sunnah adalah segala segala perkataan, perbuatan,


persetujuan dan cara berpikir Rasulullah Shalallahu Alaihi wasalam yang diriwayatkan
oleh para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in hingga para ulama hadist yang tujuh yang dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya. Hadist digunakan untuk mencari keterangan
lebih lanjut dari ayat-ayat quran yang bersifat umum. Untuk melengkapi atau
menjelaskan maksud dari ALLAH. Hadist ada yang merupakan kalam Rasul, ada yang
merupakan kalam ALLAH lewat Rasul atau disebut dengan hadist qudsi.

Contoh penentuan hukum dengan hadist yaitu perintah sholat lima waktu, di AL Quran
hanya diperintahkan untuk sholat, namun tidak ada keterangan jumlah dan tata
caranya, kemudian lewat hadist kita tahu bagaimana cara sholat yang benar sesuai yang
diingkan ALLAH Azza Wa Jalla.

3. Ijma, yaitu sebuah kesepakatan ulama mengeanai  suatu perkara bila tidak
ditemukan hukumnya yang jelas dalam AL quran dan hadist. Ulama sampaikan arti ijma
adalah “Kebulatan pendapat semua ahli ijtihad umat Muham-mad, sesudah wafatnya
pada suatu masa, tentang suatu perkara (hukum)."

Ijma dapat dibagi dua, yaitu ijma Qauli dan ijma sukuti. Ijma Qauli adalah dimana para
ulama berijtihad dengan menetapkan suatu hukum dengan lisannya maupun tulisan
yang menjelaskan tentaang persetujuan akan suatu perkara. Kemudian ijma sukuti
adalah diamnya ulama terhapap suatu perkara yang telah ditentukan hukumnya oleh
mutjahid lainnya. Karena persetujuan.

Urutan penentuan hukum melalui ijma adalah sebagai berikut :

a. Khulafaur Rasyidin ( 4 pemimpin pertama islam ), bila tidak ada maka

b. Pendapat imam madzab ( sekarang hanya ada 4 yaitu imam syafi’i, maliki,
hanbai, hanafi), bila tidak ada

c. Hasil dari ijma ulama yang mutawatir , atau umum digunakan yang sebagian
besar ulama diseluruh dunia menyetujuinya. Jangan gunakan pendapat ahad , atau
hanya disetujui satu orang ulama.

Contoh penyelesaian dengan ijma adalah penentuan sholat tarawih dalam satu jamaah
pada zaman sayiddina umar, dan pembukuan Al quran yang dimulai pada zama sayiidina
abu bakar.
lanjutan dikomentar !

5.0

2 pilih

TERIMA KASIH

Komentar (5) tidak puas? sampaikan!

4. Qiyas , yaitu penentuan suatu hukum yang belum ada ketentuan hukumnya baik
dari Al Quran, Hadist maupun ijma. Dengan cara membandingkan atau mengibaratkan
dengan suatu hukum yang telah ada , yang ada persamaan didalamnya.

Contoh qiyas adalah pengharaman segala sesuatu yang memabukkan, hukum asalnya
adalah ALLAh melarang meminum khamar karena memabukkan, kemudian kita
mengambil qiyas untuk memberi hukum haram pada segala hal lain selain khamar yang
dapat memabakkan. Yaitu sabu, ganja, pil koplo, dan narkoba jenis lainnya.

KESIMPULAN

Dari penjelasan kakak diatas maka sumber hukum dalam islam ada 4, yaitu AL Quran, As
sunnah, Ijma dan Qiyas.

PELAJARI LEBIH LANJUT

Demikian jawaban kakak, semoga dapat membantu, nah adik-adik untuk soal-soal
perkara agama lain, adik-adik bisa cek link dibawah ini yaa. Insha ALLAH jawaban-
jawabannya khair karena sudah terverifikasi oleh team brainly . cekidot !
Allah swt menciptakan alam semesta dab segala isinya denga sangat bijaksana sehingga
berjalab dengan teratur dan seimbang . Jelaskab ini bukti bahwa allah bersifat ?

https://brainly.co.id/tugas/18235049

Allah swt menciptakan alam semesta dab segala isinya denga sangat bijaksana sehingga
berjalab dengan teratur dan seimbang . Jelaskab ini bukti bahwa allah bersifat ?

https://brainly.co.id/tugas/18234145

tauhid, taat dan khauf

https://brainly.co.id/tugas/18234147

Oke adik adik Semangat! Jangan lupa jadikan jawaban TERBAIK !

#optitimcompetition

...............................................................................................................................................
..........

DETAIL JAWABAN

Kelas : XI

Pelajaran : Agama

Kategori : BAB 1 – Al Quran sebagai pedoman hidup


Kata Kunci : sumber hukum dalam islam

Kode : 11.14.1

Simak lebih lanjut di Brainly.co.id - https://brainly.co.id/tugas/12556413#readmore

PERBEDAAN PENDAPAT ULAMA PADA


SEBAGIAN SUMBER HUKUM
Assalamu’alaikum warrohmatullohi wabarokaatuh

Banyaknya pendapat-pendapat para ulama terkait perbedaan status


hukum suatu mu’amallah hingga ibadah sunnah semua terkait dengan
perbedaan cara pandang dan mengistimbath suatu hukum yang ada di
Al Quran maupun Hadits.

Hal ini sesungguhnya sudah ada sejak jaman dahulu, dimulai sejak
jaman tabi’in hingga para imam madzhab dan sampai sekarang.

Untuk mengetahui, mengapa terjadi perbedaan pendapat tersebut,


berikut ada tulisan ringkas, hasil rangkuman dari buku Tarikh Tasyri
yang artinya secara singkat adalah Sejarah Penentuan Hukum Syariat
yang diambil dari buku “Ikhtisar Tarikh Tasyri” karangan Dr H Abdul
Majid Khon, M. Ag. Semoga bermanfaat.

PERBEDAAN PENDAPAT ULAMA PADA SEBAGIAN SUMBER


HUKUM

Secara umum, sumber hukum Islam ada yang disepakati (muttafaq


‘alaih atau mujma’ `alaih) dan ada yang diperselisihkan (mukhtalaf fih).
Sumber hukum yang disepakati adalah Al Quran dan Hadits.
Sedangkan sumber hukum yang diperselisihkan adalah ijma’, qiyas,
istihsan, mashalih mursalah, istishhab, ‘urf, dan sya’u man qablana..

Berikut akan diuraikan mengenai sumber hukum secara satu persatu


secara ringkas..
            1.       Al Quran.
Al Quran adalah wahyu dari Allah, tidak ada perselisihan di kalangan
ulama tentang eksistensinya sebagai sumber hukum Islam karena
petunjuknya bersifat tegas.

            2.       Sunnah
Sunnah yang dimaksud dalam hal ini adalah hadits.

            3.       Ijma’
Ijma’ adalah kesepakatan para mujtahid setelah wafatnya Nabi SAW
mengenai hukum suatu peristiwa.

            4.       Qiyas.
Qiyas adalah menyamakan hukum sesuatu yang tidak ada teksnya di
dalam Al Quran dan hadits, tetapi mempunyai alas an (‘illat) yang
sama. Dengan kata lain, membandingkan hukum suatu peristiwa yang
belum ada ketentuan hukumnya dengan peristiwa lain yang sudah ada
ketentuan hukumnya atas dasar persamaan ‘illat. Misalnya : Minuman
keras seperti, tuak, dan bir diqiyaskan dengan khamar karena memiliki
‘illat yang sama, yaitu memabukkan. Contoh lain adalah Haramnya
memukul orang tua diqiyaskan dengan larangan berkata ah,
sebagaimana disebutkan dalam QS Al Isra’(17);23.

            5.       Istihsan
Istihsan artinya memandang lebih baik. Istihsan menentukan hukum
bukan berdasarkan qiyas yang jelas melainkan berdasarkan qiyas yang
tidak jelas, karena maslahat menghendaki demikian. Misalnya air
bekas minuman harimau itu najis. Akan tetapi, bekas minuman burung
elang itu tidak najis. Perbedaannya, harimau minum dengan lidahnya,
sementara burung elang dengan paruhnya.

            6.       Mashalih Mursalah.


Mashalih mursalah ialah maslahat yang tidak disebut dalam hukum.
Hukum ditetapkan untuk keselamatan umum dan akan mengalami
perubahan sesuai dengan berkembangnya zaman. Misalnya, hadirnya
surat nikah atau surat cerai’ penumpasan orang-orang yang tidak mau
membayar zakat pada masa Abu Bakar’ penjatuhan hukuman penjara
kepada pencuri yang kelaparan, bukan hukuman potong tangan pada
masa Umar bin Al Khaththab.

            7.       ‘Urf
‘Urf artinya adat atau tradisi masyarakat setempat yang tidak
bertentangan dengan Al Quran dan Hadits. Imam Malik banyak
memakai ‘urf Madinah sebagai sumber hukum. Demikian juga Imam al
Syafi’I, Fatwanya di Irak (Qaul Qadim) berbeda dengan fatwanya di
Mesir (Qaul Jadid)
Beberapa contoh ‘urf antara lain membayar makanan atau minuman
setelah habis disantap, membayar taksi setelah sampai tujuan, serta
bolehnya transaksi jual-beli buah-buahan ketika sudah mulai tampak
matan di pohon. (Wahbah Al Zuhaili, Al WQajiz fi Ushul Al Fiqh, hal 99-
100)

            8.       Istishhab
Istishhab artinya berpegang pada hukum semula selama tidak timbul
perubahan.  Segala sesuatu di ala mini memiliki hukum ibahah (boleh)
selama tidak ada dalil Al Quran, hadits atau dalil lain yang
membatalkannya. Contoh-contoh lain seperti berikut ini.
           a.       Orang yang yakin punya air qudhu, tetapi ragu sudah
berhadas atau belum; dianggap suci menurut jumhur, selain
Malikiyyah.
           b.       Orang yang meragukan benda suci yang dapat mengubah
air, baik itu sedikit maupun banyak, air tersebut tetap suci. (Wahbah Al
Zuhaili, Al WQajiz fi Ushul Al Fiqh, hal 116-117)

           9.       Syar’u man Qablana.


Syar’u man Qablana artinya syariat sebelum Nabi Muhammad SAW.
Hukum untuk ahli kitab ini tetap berlaku asalkan tidak bertentangan
dengan hukum Islam.

Sementara itu, sebab-sebab perbedaan pendapat pada sumber hukum


adalah sebagai berikut.

Berikut adalah factor-faktor penyebab terjadinya perbedaan pendapat


pada sumber hukum.
          1.       Perbedaan Menilai shahih.
Keshahihan suatu hadits kadang-kadang diperdebatkan ulama. Ada
ulama yang menerima keshahihan suatu hadits, dan ada pula yang
menlolaknya.

          2.       Perbedaan dalam memahami nash


Dalam suatu nash, baik Al Quran maupun hadits, kadang-kadang
terdapat kata yang mengandung makna ganda (musytarak) dan majasi
(metafora), sehingga arti yang terkandung didalamnya tidak jelas.
Misalnya kata quru’ dalam QS Al Baqarah (2);228 yang mempunyai 2
arti, yaitu masa suci dan masa haid.

          3.       Perbedaan dalam menggabungkan dan mengunggulkan


nash-nash yang saling bertentangan.
Untuk memutuskan nash tsb, ulama biasanya memilih nash yang lebih
kuat atau mencari titik temu diantara nash-nash tersebut. Dalam
mengambil keputusan dan mencari titik temu inilah biasanya ulama
berbeda pendapat.

          4.       Perbedaan dalam kaidah-kaidah ushul sebagai sumber


istinbath.
Dalam memilih suatu hadits atau mencari suatu dalil, para mujtaqhid
mempunyai cara pandang dan metode yang berbeda-beda. Ada
mujtahid yang mengambil perkataan sahabat dalam memecahkan
masalah, tetapi  ada pula mujtahid yang menolaknya. Begitu pula
dengan amaliah penduduk Madinah, ada mujtahid yang menjadikannya
sebagai hujjah dan ada pula yang menolaknya.

          5.       Perbedaan dalam perbendaharaan hadits.


Para sahabat memiliki perbendaharaan hadits yang berbeda-beda,
karena mereka tidak mungkin selalu bersama Nabi. Hal ini
menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat dalam mengambil
kesimpulan suatu hukum.

          6.       Perselisihan tentang ‘illat suatu hukum.


Perselisihan tentan ‘illat ini juga merupakan salah satu sebab
perbedaan pendapat dalam fiqh. Sebagai contoh, dalam Islam kita
diperintahkan untuk berdiri jika bertemu dengan usungan jenazah. Para
mujtahid  berbeda pendapat tentang siapa jenasazah itu’ orang Islam,
orang kafir, atau kedua-duanya. Sebagian besar mujtahid berpendapat
bahwa yang dimaksudkan adalah kedua-duanya. Akan tetapi ada yang
berpendapat bahwa perintah untuk berdiri itu hanya terhadap jenazah
orang kafir. Karena dalam sebuah hadits diterangkan bahwa pada
suatu hari, ketika sedang berjalan, Rasulullah SAW bertemu dengan
jenazah orang Yahudi. Beliau lalu berhenti dan berdiri.

Selanjutnya, ulama Madzhab berbeda-beda dalam menentukan


sumber hukum Islam.

        1.       Abu Hanifah : Al Quran, Sunnah, ijma’ qiyas dan istihsan.


        2.       Malik : Al Quran, sunnah, ijma, amaliah ahli Madinah, dan
mashalih mursalah.
        3.       Al Syafi’I ; Al Quran, sunnah, ijma’, qiyas, dan istidlal
(kesimpulan/pendapat sahabat)
        4.       Ahmad bin Hambal; Al Quran, Sunnahy, ijma’, qiyas, dan
fatwa sahabat.

Ada 3 hal yang mendasari perbedaan pendapat di kalangan ulama


mujtahidin, yaitu dasar-dasar tasyri’, kecenderungan ber istinbath dan
prinsip bahasa.
        1.       Dasar-dasar tasyri’. Hanafi dan ashab[nya berhujjah dengan
hadits mutawatir dan masyhur saja. Ia juga menarjih hadits dari fuqaha
yang terpercaya. Ulama lain berhujjah dengan hadits dari perawi yang
adil dan terpercaya baik, dari kalangan fuqaha atau bukan, baik sesuai
dengan amalan ahli Madinah maupun tidak. Pengaruhnya dalam tasyri’
menimbulkan perbedaan dalam menerima atau menolak suatu hadits
serta perbedaan dalam memandang hadits yang unggul dan yang
lemah.

         2.       Kecenderungan ber istinbath. Ahli hadits membatasi ra’yu,


sedangkan ahli ra’yu tidak membatasinya. Berikut ini letak perbedaan
ulama dalam beristinbath.

         a.       Imam Malik mengambil fatwa yang dipandang kuat, tidak


terpaku pada fatwa satu orang saja dan tidak mau menyalahi fatwa
         b.       Imam Al Syafi’I terkadang mengambil salah satu fatwa
sahabat, tetapi terkadang berfatwa menyalahi fatwa sahabat, karena
menurutnya sahabat itu tidak maksum.
         c.        Golongan Syiah dan Zhahiriyyah menolak qiyas,
sedangkan jumhur ulama menerimanya.

         3.       Perbedaan dalam bahasa. Sebagian ulama menetapkan


hukum pada manthuq-nya (pemahaman tersurat) dan sebagian lagi
pada mafhumnya (pemahaman tersirat). Sebagian ulama lagi
menetapkan hukum pada lafal umum yang ditakhsis atau pada hal
mutlak yang dikaitkan dengna muqayyad. Al Syafi’I menjelaskan bahwa
makna perintah dalam Al Quran dan hadits ada yang bermakna boleh,
petunjuk, wajib serta larangan.

Demikian ringkasan dari sebab-sebab terjadinya perbedaan pendapat


ulama pada sebagian sumber hukum. Bila kita telah mengetahuinya,
ada baiknya kita tidak mudah “menyalahkan orang lain” yang berbeda
dalam memandang suatu masalah, ataupun berbeda pendapat dengan
kita. Perbedaan pendapat dalam masalah-masalah fiqh harus disikapi
dengna arif dan bijaksana. Kita tidak boleh apriori dengan langsung
menyalahkan satu pendapat dan membenarkan pendapat lainnya.
Sikap Apriori yang semacam ini dapat memicu terjadinya perpecahan
di kalangan umat. Masalah yang biasanya menimbulkan perbedaan
pendapat dalam fiqh adalah masalah-masalah furu’ (cabang), bukan
masalah pokok. Oleh karena itu mempertajam perbedaan pendapat
dalam masalah cabang ini hanyalah membuang-buang waktu dan
energy.

Untuk lebih detail penjelasan tentang permasalahan timbulnya


perbedaan pendapat ini bisa merujuk pada buku Ikhtisar Tarikh Tasyri,
yang ditulis oleh Dr H Abdul Majid Khon M.Ag.
Wallahua’lam bishowab.

Bentuk Toleransi atau Berbuat Baik dalam Islam


Bagaimana toleransi atau bentuk berbuat baik yang diajarkan oleh
Islam?

1- Islam mengajarkan menolong siapa pun, baik orang


miskin maupun orang yang sakit.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ٍ ٍ
ْ ‫ىِف ُك ِّل َكبِد َرطْبَة أ‬
‫َجٌر‬

“Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan


ganjaran pahala.” (HR. Bukhari no. 2363 dan Muslim no. 2244).
Lihatlah Islam masih mengajarkan peduli sesama.

2- Tetap menjalin hubungan kerabat  pada orang tua


atau saudara non muslim.
Allah Ta’ala berfirman,

ِ ‫ك بِِه ِعْلم فَال تُ ِطعهما وص‬


‫احْب ُه َما‬ َ َ َُْ ٌ َ َ‫س ل‬ ‫ِ يِب‬ َ ‫َوإِ ْن َج‬
َ ‫اه َد َاك َعلى أَ ْن تُ ْشر َك َما لَْي‬
ُّ ‫يِف‬
‫الد ْنيَا َم ْعُروفًا‬

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan


Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka
janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di
dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15). Dipaksa syirik, namun tetap
kita disuruh berbuat baik pada orang tua.

Lihat contohnya pada Asma’ binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia


berkata, “Ibuku pernah mendatangiku di masa Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam keadaan membenci Islam. Aku pun
bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap jalin
hubungan baik dengannya. Beliau menjawab, “Iya, boleh.” Ibnu
‘Uyainah mengatakan bahwa tatkala itu turunlah ayat,

‫ين مَلْ يُ َقاتِلُو ُك ْم ىِف الدِّي ِن‬ ِ َّ


َ ‫الَ َيْن َها ُك ُم اللَّهُ َع ِن الذ‬
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil
terhadap orang-orang yang tiada memerangimu ….” (QS. Al
Mumtahanah: 8) (HR. Bukhari no. 5978).

3- Boleh memberi hadiah pada non muslim.


Lebih-lebih lagi untuk membuat mereka tertarik pada Islam, atau
ingin mendakwahi mereka, atau ingin agar mereka tidak menyakiti
kaum muslimin.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,

‫ال لِلنَّىِب ِّ – صلى اهلل عليه وسلم – ْابتَ ْع‬ َ ‫َرأَى ُع َمُر ُحلَّةً َعلَى َر ُج ٍل ُتبَاعُ َف َق‬
‫س َه َذا َم ْن‬ ‫ َف َق َ ِمَّن‬. ‫َه ِذ ِه احْلُلَّةَ َتْلبَ ْس َها َي ْو َم اجْلُم َع ِة وإِ َذا َجاء َك الْوفْ ُد‬
ُ َ‫ال « إ َا َي ْلب‬ َ َ َ ُ
‫ول اللَّ ِه – صلى اهلل عليه وسلم – ِمْن َها‬ ُ ‫ فَأُتِ َى َر ُس‬. » ‫اآلخَر ِة‬ ِ ‫الَ خالَ َق لَه ىِف‬
ُ َ
‫ت فِ َيها َما‬ َ ‫ف أَلْبَ ُس َها َوقَ ْد ُقْل‬ َ ‫ال عُ َمُر َكْي‬ َ ‫ َف َق‬. ‫حِب ُلَ ٍل فَأ َْر َس َل إِىَل عُ َمَر ِمْن َها حِب ُلَّ ٍة‬
‫ فَأ َْر َس َل هِب َا‬. » ‫وها‬ ِ
َ ‫ تَبِيعُ َها أ َْو تَ ْك ُس‬، ‫ت قَ َال « إِىِّن مَلْ أَ ْك ُس َك َها لَت ْلبَ َس َها‬ َ ‫ُقْل‬
‫َخ لَهُ ِم ْن أ َْه ِل َم َّكةَ َقْب َل أَ ْن يُ ْسلِ َم‬
ٍ ‫ُع َمُر إِىَل أ‬
“’Umar pernah melihat pakaian yang dibeli seseorang lalu ia pun
berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Belilah pakaian
seperti ini, kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu
yang mendatangimu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun
berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini
tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan beberapa
pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya pada ‘Umar.
‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya
sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian
seperti ini tidak akan dapat bagian di akhirat?” Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak mau mengenakan pakaian
ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka
engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar
menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya  di Makkah
sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari no.
2619). Lihatlah sahabat mulia ‘Umar bin Khottob masih berbuat
baik dengan memberi pakaian pada saudaranya yang non muslim.

Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/5673-toleransi-dalam-


islam.html

Dalam Islam, dikenal 2 jenis toleransi:


1. Toleransi antarumat beragama
Ini adalah jenis toleransi di mana kita saling menghargai perbedaan, hidup rukun
damai, bersahabat dan bergaul akrab dengan umat agama lain. Boleh berhubungan
bisnis, boleh berhubungan sosial, dst.
2. Toleransi antaragama
Ini adalah toleransi di mana umat agama yang satu meniru umat agama yang lain
dengan alasan saling menghargai, mendatangi rumah ibadah umat agama lain
dengan alasan saling menghargai, umat Islam ikut merayakan Natal, umat Kristen
ikut berpuasa di bulan ramadhan, dan seterusnya, dengan alasan saling
menghargai.
Toleransi yang diperbolehkan di dalam Islam adalah yang nomor 1. Sedangkan yang
nomor 2 tidak diperbolehkan.
Ajaran Islam tentang toleransi sebenarnya sangat indah. Dan sudah dicontohkan
dengan sangat baik oleh Rasulullah besarta para Sahabat. Mereka menerapkan
toleransi nomor 1 dengan sebaik-baiknya.
Tragisnya, saat ini banyak sekali orang yang salah kaprah dalam memaknai
toleransi. Bahkan menuduh Islam sebagai agama yang tidak toleran. Karena
menurut mereka, toleransi yang benar adalah yang nomor 2.
Kalau ada umat Islam yang jadi teroris, membom Gereja dan sebagainya, maka
menurut saya mereka bukan umat Islam yang baik. Jangan ditiru, dan sungguh
konyol jika Anda mengira itu bagian dari ajaran Islam.
Wassalam,

Toleransi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Jump to navigationJump to search

Toleransi adalah suatu sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok


atau antar-individu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Sikap toleransi
menghindarkan terjadinya diskriminasi, walaupun banyak terdapat kelompok atau
golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat.
Contoh sikap toleransi secara umum antara lain menghargai pendapat dan/atau
pemikiran orang lain yang berbeda dengan kita, serta saling tolong-menolong untuk
kemanusiaan tanpa memandang suku/ras/agama/kepercayaannya.
Istilah toleransi mencakup banyak bidang. Salah satunya adalah toleransi beragama,
yang merupakan sikap saling menghormati dan menghargai penganut agama lain,
seperti:

 Tidak memaksakan orang lain untuk menganut agama kita;


 Tidak mencela/menghina agama lain dengan alasan apapun; serta
 Tidak melarang ataupun mengganggu umat agama lain untuk beribadah
sesuai agama/kepercayaannya.

Toleransi dalam Alquran[sunting | sunting sumber]


Toleransi sudah dipaparkan dalam Alquran secara komprehensif, di antaranya
bagaimana Tuhan menjelaskan dalam surat Al-Kafirun dari ayat 1 sampai ayat 6.
Asbabun-nuzulnya adalah tentang awal permintaan kaum Quraisy terhadap Nabi
Muhammad bahwa untuk saling menghormati antar-agama, maka pemuka Quraisy
meminta supaya nabi menginstruksikan kepada penganut muslim untuk bergiliran
penyembahan terhadap dua Tuhan
: hari ini menyembah Tuhan Nabi Muhammad dan esok hari menyembah Tuhan
kaum Quraisy.[1] Dengan adanya keadilan dalam pelaksanaan ibadah dari kedua
agama tersebut, maka menurut pemuka Quraisy akan terjadi toleransi antar-agama.
Keputusan ini tentunya ditentang oleh Allah, dengan menurunkan surat Al-Kafirun
ayat 1-6.[1] Ternyata dalam agama tidak boleh ada pencampuradukan keyakinan,
lapangan toleransi hanya ada di wilayah muamalah. Hal ini bisa dilihat dari rujukan
kitab-kitab tafsir, di antaranya Tafisr Al-Maraghi, juz 30 tentang penafsiran surat Al-
Kafirun.