Anda di halaman 1dari 15

TUGAS PEMBANGUNAN PERDESAAN

SEJARAH DAN PROFIL DESA AJAKKANG

OLEH :

RAHMAT RAHIM FAISAL

201810056

FAKULTAS TEKNIK

JURUSAN TEKNIK SIPIL

UNIVERSITAS SULAWESI TENGGARA

KENDARI 2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala karunia dan
izin_Nya sehingga makalah “sejarah dan profil desa Ajakkang” ini dapat
terselesaikan. Di dalam makalah ini dipaparkan sejarah dan profil desa
Ajakkang sehingga akan membantu kita mengetahiu situasi dan kondisi desa
Ajakkang yang sebenarnya.
Sebagai penyusun saya sangat berharap agar kiranya makalah ini dapat
bermanfaat bagi setiap pembacanya.
“tak ada gading yang tak retak” ungkapan itulah yang pantas buat kita
sebagai manusia, bgitu pula dengan makalah ini. Jika pembaca menemukan
kekurangan di dalam makalah ini maka itu adalah kesalahan saya sebagai
penulis, namun apabila pembaca menemukan kesempurnaan dalam makalah
ini maka itu semata-mata datangnya dari Allah SWT.
Akhirnya saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam menyelesaikan
makalah ini.
Selamat membaca!
Semoga bermanfaat.
Wassalam ……

Mangkoso, Januari 2020


Penyusun
BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Dalam Struktur tatanan Pemerintahan Negara Indonesia di kenal istilah


Desa yang acapkali sebutannya disetiap tempat berbeda-beda seperti Nagari
di Sumatera Barat, Dukuh di Jawa Barat dll. Akan tetapi mempunyai makna
yang sama. Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki
kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat
setempat menurut asal usulnya dan adat istiadat setempat yang diakui dalam
Sistem Pemerintahan Nasional dan berada di Daerah. Desa merupakan suatu
wilayah territorial yang dipimpin oleh Seorang Kepala Desa yang bertugas
mengatur jalannya roda Pemerintahan.
Setiap Desa memiliki nama yang berbeda sebagai representasi
dari budaya dan kehidupan masyarakatnya, Kondisi sosial ekonomi
masyarakat suatu desa sangatlah penting, begitupula kondisi alam atau
tofografinya sebagai modal dasar pembangunannya, semakin tinggi tingkat
mobilitas social ekonominya maka semakin besar pula laju pertumbunhan
pembangunannya.
Untuk membentuk suatu desa maka biasanya diambil tindakan
berupa penggabungan beberapa desa atau dapat pula melalui pemekaran.
Demi untuk menata wilayah suatu desa dibentuklah dusun dan RT yang
masing-masing diKepalai oleh Kepala Dusun dan Ketua RT. Setiap Desa
memiliki batas yang memisahkan antara satu desa dengan desa lainnya, baik
itu berupa Laut, sungai, gunung, pantai dan lain sebagainya. Desa dapat
terbentuk jika jumlah penduduknya minimal 1.500 jiwa atau 300 Kepala
Keluarga.
Desa mempunyai hak untuk menyelengarakan urusan Rumah
Tangganya sendiri dan menolak Pelaksanaan Tugas Pembantuan yang tidak
disertai dengan pembiayaan, sarana dan prasarana serta Sumber Daya
Manusia.
Nama-nama desa yang ada diseluruh Indonesia tentunya punya sejarah,
namun sudah sangat jarang penduduk setempat yang tau sejarah nama
desanya, hal seperti inilah yang perlu perhatikan, karena kita akan dapat
memprediksi keadan desa itu kedepannya apabila kita telah tau persis
bagaimana sejarahnya.

B.    Rumusan masalah


 Bagaimana sejarah terbentuknya desa Ajakkang
 Darimana asal nama desa Ajakkang
 Bagaimana keadaan wilayahnya saat ini

C.     Dasar Pemikiran


Setiap desa memiliki sejarah maupun latar belakang terbentuknya oleh
sebab itu perlu kiranya setiap warga memiliki pengetahuan akan hal tersebut.

D.    Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk memberikan gambaran kepada siswa
tentang proses terbentuknya Desa Ajakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kab.
Barru.

E.     Sasaran
Makalah ini pada waktu penyusunannya menggunakan teknik observasi
dan pengumpulan data Dan yang menjadi sasarannya adalah Desa Ajakkang,
Kec. Sop. Riaja, Kab. Barru.
BAB II
SELAYANG PANDANG
DESA AJAKKANG
A.    Sejarah Desa Ajakkang
Sesuai letak geografisnya, desa Ajakkang merupakan bagian dari
Kecamatan Soppeng Riaja. Dulu Soppeng Riaja adalah bagian dari Kerajaan
AJATAPPARENG yang terdiri atas dua kerajaan kecil (lili) , yang rakyatnya
hidup dengan bercocok tanam dan sebagian sebagai nelayan.
Pada abad ke 15, Kerajaan Gowa menguasai Kerajaan AJATAPPARENG
secara menyeluruh. Berkat jasa Bone LATENRI Tatta Arung Palakka Petta
Malampe’e Gemme’na Tori Tompae (Raja Bone), pada awal abad ke 16
Kerajaan Ajatappareng dan sekitarnnya dapat bebas dari kerajaan Gowa.
Sebagai tanda terimah kasih Ajatappareng menyerahkan kerajaan lili antara
sungai Batu Pute dan Sungai Lamelotasi (Sungai Takkalasi) Kepada Raja Bone
Sebagai rasa Syukurnya.
Untuk menngawasi pemberian Ajatappareng ini, Raja-raja
menyerahkannya kepada Raja Soppeng, pertengaha abad ke 16 tejadi kemelut
antara Bone, Soppeng, dan Ajatappareng/Nepo. Maka semua daaerah
pengawasan menjadi daerah wilayah kekuasaan penuh dalam Kerajaan
Soppeng melebar, dan menjadi penguasa Wilayah Laut.
Untuk keseluruhan Wilayah antara sungai batu Pute dengan sungai
Takkalasi oleh raja Soppeng Memberi nama Soppeng Riaja yang artinya
Soppeng Bagian Barat.
Desa Ajakkang juga merupakan salah satu dari 54 Desa/Kelurahan yang
ada di Kabupaten Barru berada pada 17 Km sebelah utara Ibu kota Kabupaten
Barru. Kata Ajakkang diambil dari kata “jakka” atau sisir karena dulu, seorang
anak raja dari kerajaan Luwu’ memisahkan diri dari kerajaannya dan ingin
mencari tempat yang akan dipimpin sendiri olehnya, akhirnya ia berjalan
dengan pengawalnya mencari tempat yang cocok dan bisa dijadikan
pemukiman. Sementara ia berjalan, tiba-tiba sisirnya terjatuh, sehingga ia
menyebut tempat itu “jakka”, selanjutnya setelah tempat itu telah
berpenghuni atau telah menjadi sebuah desa, maka desa tersebut berubah
nama menjadi “Ajakkang” karena diambil dari kebiasaan masyarakat pada
masa lampau yang dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah
dilakukan dengan musyawarah yang diidentikkan seperti rambut/benang
kusut yang diluruskan dengan menggunakan Jakka “ Sisir “ sehingga dikenal
dengan sebutan Kampung Ajakkang. Maksudnya dari kata “Ajakkang” adalah
tempat menyisir atau meluruskan suatu masalah.

Pada tahun 1900 terbentuklah Kampung Ajakkang dan dikepalai oleh


Anre Guru, Berikut adalah daftar nama Anre Guru yang pernah menjabat
sebagai Kepala Kampung Ajakkang :
1.     Anre Guru Laikki Pada Tahun 1880 – 1900
2.     Anre Guru Lagala Pada Tahun 1900 – 1910
3.     Anre Guru Lakenta Pada Tahun 1910 – 1920
4.     Anre Guru Abd. Rahim Pada Tahun 1920 – 1930
Pada Tahun 1954 Kampung Ajakkang di mekarkan menjadi 2 Kampung
Yaitu Kampung Baru dan Kampung Ajakkang. Pada Tahun itu Juga di pilih
Kepala Dusun dan masing – masing mengepalai dusun tersebut selama
Kurang lebih 15 tahun lamanya. Berikut adalah daftar nama Kepala Dusun
yang pernah menjabat sebagai Kepala Dusun di Kampung Baru dan Kampung
Ajakkang :
1.     Kepala Dusun Kampung Baru
a.      Abd. Samad Pada Tahun 1954 – 1970
b.     Muh. Nasir Pada Tahun 1970 – 1985
2.     Kepala Dusun Ajakkang
a.      Abd. Kadir Pada Tahun 1954 – 1970
b.     Muh. Nuh Pada Tahun 1970 – 1975
c.      Muh. Idi Pada Tahun 1975 – 1985
Setelah diberlakukannya UU Nomor 5 Tahun 1979 tentang
Pemerintahan Desa, maka Ajakkang dibentuk menjadi Desa berdasarkan SK
Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 450/XII/1965, tanggal 20
Desember 1965.

Pada Tahun 1995 Desa Ajakkang kembali dimekarkan menjadi 5 Dusun


yaitu :
1.     Dusun Ajakkang Kepala Dusunnya M. Nasar
2.     Dusun Latappareng Kepala Dusunnya Buhari
3.     Dusun Kamp. Baru Kepala Dusunnya Abd. Muttalib
4.     Dusun Minangatoa Kepala Dusunnya M. Nuh
5.     Dusun Paccekke Kepala Dusunnya La Tahe
Akan tetapi pada tahun 2000 Dusun Paccekke berubah menjadi Desa,
sehingga sampai sekarang Desa Ajakkang hanya terdiri menjadi 4 Dusun.
Dengan diberlakukannya Undang – undang Nomor 22 Tahun 1999 dan
Undang – undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagai pengganti Undang – undang
sebelumnya, tentang Pemerintahan Desa, Maka Desa Ajakkang memposisikan
diri sebagai Desa otonom dengan mengedepankan partisipasi dan peran serta
masyarakat dalam proses pembangunan.
Daftar Nama yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa Ajakkang
mulai tahun 1962 sampai sekarang :
1.     Abd. Rahim Periode 1930 – 1938
2.     Masud Nur Periode 1938 – 1946
3.     Andi Palloge Periode 1946 – 1954
4.     Muhsen Periode 1954 – 1964
5.     Muhsen Periode 1964 – 1974
6.     Amin Nur Periode 1974 – 1981
7.     Andi Arifin Periode 1981 – 1987
8.     M. Nasir Periode 1987 – 1995
9.     M. Nasir Periode 1995 - 2002
10.      Mikhdar M. Noor, BA Periode 2002 – 2007
11. Mikhdar M. Noor, BA Periode 2007 – 2013

Batas Wilayah
Batas Desa/Kelurahan Kecamatan
Sebelah utara Kelurahan kiru-kiru Soppeng riaja
Sebelah selatan Desa balusu Balusu
Sebelah timur Desa paccekke Soppeng Riaja
Sebelah barat Selat Makassar Soppeng Riaja
Penetapan batas dan peta wilayah
Penetapan batas Dasar hukum Peta wilayah
Sudah ada/belum ada Ada Ada
Luas wilayah menurut penggunaan
Luas pemukiman 455 Ha
Luas persawahan 389 Ha
Luas perkebunan 5 Ha
Luas kuburan 3Ha
Luas pekarangan 10 Ha
Luas taman -
Perkantoran 0,30 Ha
Luas prasarana umum lainnya 0,50 Ha
Total luas 862,8 Ha
TANAH SAWAH
Sawah irigasi ½ teknis 53,76 Ha
Sawah tadah hujan 335,24 Ha
Total luas 389 Ha
TANAH KERING
Tegal/lading 50 Ha
Pemukiman 2 Ha
Pekarangan 0,50 Ha
Total luas 52,50 Ha
TANAH FASILITAS UMUM
Perkantoran pemerintah 0,30 Ha
Tempat pemakaman desa/umum 3 Ha
Bangunan sekolah/perguruan tinggi 2 Ha
Fasilitas pasar 0,30 Ha
Jalan 5 Ha
Daerah tangkapan air 50 Ha
Usaha perikanan 117,6 Ha
Sutet/aliran listrik tegangan tinggi 0,50 Ha
Total luas 178,7 Ha
TANAH HUTAN
Hutan lindung 250 Ha
Hutan produksi
a.      Hutan produksi tetap 100 Ha
b.      Hutan produksi terbatas 56 Ha
Hutan konservasi 20 Ha
Hutan asli 340 Ha
Hutan mangrove 1 Ha
Huatan rakyat 50 Ha
Total luas 817 Ha
IKLIM
Curah hujan 100 Hh 1.975 Mm
Jumlah bulan hujan 9 bulan
Kelembapan -
Suhu rata-rata harian 20-350C
Tinggi tempat dari permukaan laut 0-100 Mdpl
Jenis dan kesuburan tanah
Warna tanah(sebagian besar) Hitam
Tekstur tanah Lempung
Tingkat kemiringan tanah 1-300
Lahan kritis 64 Ha
Lahan terlantar 20 Ha
Tofografi
Orbitasi
Jarak ke ibu kota kecamatan 2 Km
Lama jarak tempuh ke ibu kota kecamatan 5 menit
dengan kendaraan bermotor
Lama jarak tempuh ke ibu kota kecamatan 30 menit
dengan berjalan kaki atau kendaraan non
bermotor
Kendaraan umum ke ibu kota kecamatan Ada/lancer
Jarak ke ibu kota kabupaten/kota 17 Km
Lama jarak tempuh ke ibu kota kabupaten 45 menit
dengan kendaraan bermotor
Lama jarak tempuh ke ibu kota kabupaten 4 jam
dengan berjalan kaki atau kendaraan non
bermotor
Kendaraan umum ke ibu kota kabupaten /kota Ada/lancer
Jarak ke ibu kota provinsi 120 Km
Lama jarak tempuh ke ibu kota provinsi 3 jam
dengan kendaraan bermotor
Lama jarak tempuh ke ibu kota provinsi 24 jam
dengan berjalan kaki atau kendaraan non
bermotor
Kendaraan umum ke ibu kota ptovinsi Ada/lancer

PERTANIAN
TANAMAN PANGAN
Pemilikan lahan pertanian tanaman pangan
Jumlah keluarga memiliki tanah pertanian 625 KK
Tidak memiliki 63 KK
Memiliki kurang 1 Ha 588 KK
Memiliki 1,0-5,0 Ha 20 KK
Memiliki 5,0-10 Ha 15 KK
Memiliki lebih dari 10 Ha 2 KK
Jumlah total keluarga petani 688 KK
Luas tanaman pangan menurut komoditas pada tahun ini
Jagung 2 Ha 1 Ton/Ha
Kacang tanah 4 Ha 0,50 Ton/Ha
Padi sawah 389 Ha 8 Ton/Ha
Jenis komoditas buah-buahan yang dibudidayakan
Hasil tanaman dan luas tanaman buah-buahan
Semangka 250 Ha 1,5 Ton/Ha
Pemasaran hasil tanaman buah buahan
Dijual langsung ke konsumen
Dijual ke pasar
Dijual melalui KUD
Diual melalui tengkulak Dijual ke tengkulak
Luas dan hasil perkebunan menurut jenis komoditas
Jenis Swasta/Negara Rakyat
Luas (Ha) Hasil Luas (Ha) Hasil
(Kw/Ha) (Kw/Ha)
Kelapa 2,5 Ha 2 Ton/Ha
Kapuk 3 Ha 1 Ton/Ha
Pemasaran hasil perkebunan
Dijual langsung ke konsumen
Dijual ke pasar
Dijual melalui KUD
Diual melalui tengkulak Dijual ke tengkulak

PETERNAKAN
Jenis populasi peternakan
Jenis ternak Jumlah pemilik Perkiraan jumlah populasi
Sapi 336 orang 1.031 ekor
Kerbau 1 orang 5 ekor
Ayam kampong 567 orang 4.356 ekor
Bebek 137 orang 411 ekor
Kuda 2 orang 7 ekor
Kambing 4 orang 7 ekor
Angsa 3 orang 11 ekor
Kelinci 6 orang 15 ekor
Anjing 249 orang 273 ekor
Burung langka lainnya 7 orang 10 ekor
Produksi peternakan
Kulit 600 Kg/tahun
Daging 3 Ton/tahun
Minyak 500 Kg/tahun
Ketersediaan hijauan pakan ternak
Luas tanaman pakan ternak (rumput gajah, 3 Ha
dll)
Produksi hijauan makanan ternak 1 Ton/ tahun
Luas lahan gembalaan 235 Ha

BAHAN GALIAN
Jenis dan deposit bahan galian
Batu kali 10.000.000 M3
Batu gunung 8.500.000 M3
Pasir 15.000.000 M3
Pasir batu 7.500.000 M3
Produksi bahan galian
Pasir 400 M3/ Tahun
Pasir batu 400 M3/ Tahun
Kepemilikan dan pengelolaan bahan galian
Jenis dan produksi bahan galian Pengelola/pemilik
Batu kali Perseorangan
Pasir Perseorangan
Pemasaran hasil galian
Dijual langsung ke konsumen Dijual langsung ke konsumen
Dijual ke pasar
Dijual melalui KUD
Diual melalui tengkulak
SUMBER DAYA AIR
Pemanfaata
Jenis jumlah n Kondisi
(unit) (KK) Baik/Rusak
mata air 2 unit 12 KK Baik
sumur gali 664 unit 708 KK Baik
sumur pompa 25 unit 26 KK Baik
Pipa 1 unit 35 KK Baik
Sungai 1 unit 3 KK Baik
Kualitas air minum
Mata air Baik
Sumur gali Baik
Sumur pompa Baik
Pipa Baik
Air panas
Jumlah Pemanfaatan Kepemilikan
Sumber (wisata,pengobatan,energi,dll
Lokasi ) Pemda Swasta Perorangan
gunung 1 Wisata
Kualitas udara
Jumlah Efek kepemilikan
terhadap
polutan
Lokasi kesehatan
Sumber pencema (gangguan Pemd Swast Peroranga
Sumber r penglihatan/ a a n
Pencema
r kabut, ISPA, dll)
pabrik(kapur,marmer,dll
) 5 Asap ISPA X
kendaraan bermotor 1 Asap ISPA X

POTENSI SWASTA
Lokasi/Tempat/Area wisata Keberadaan Luas Tingkat
Pemanfaatan
(aktif/fasif)
Laut (wisata pulau,taman ada 2 Ha Pasif
laut,situs,sejarah
bahari,pantai,dll
Gunung (wisata hutan,taman ada 250 Ha Pasif
nasional,bumi perkemahan,dll)
POTENSI SUMBER DAYA MANUSIA
JUMLAH
Jumlah laki-lai 1.304
Jumlah perempuan 1.487
Jumlah total 2.791
Jumlah kepala keluarga 784
Kepadatan penduduk 125 orang/Km
USIA
Laki- Laki-
Usia laki Wanita Usia laki Wanita
0-12
Bulan 18 24 39 Tahun 16 17
1 Tahun 27 33 40 Tahun 24 26
2 Tahun 28 26 41 Tahun 15 11
3 Tahun 23 30 42 Tahun 12 23
4 Tahun 20 19 43 Tahun 17 24
5 Tahun 15 19 44 Tahun 12 13
6 Tahun 14 17 45 Tahun 27 31
7 Tahun 17 18 46 Tahun 13 15
8 Tahun 16 21 47 Tahun 12 16
9 Tahun 27 26 48 Tahun 16 12
10 Tahun 25 27 49 Tahun 11 9
11 Tahun 23 19 50 Tahun 31 33
12 Tahun 16 22 51 Tahun 14 21
13 Tahun 23 25 52 Tahun 18 21
14 Tahun 24 19 53 Tahun 19 22
15 Tahun 23 31 54 Tahun 23 17
16 Tahun 12 13 55 Tahun 12 16
17 Tahun 12 23 56 Tahun 14 17
18 Tahun 19 25 57 Tahun 12 9
19 Tahun 23 26 58 Tahun 14 12
20 Tahun 24 26 59 Tahun 12 17
21 Tahun 25 27 60 Tahun 23 17
22 Tahun 26 32 61 Tahun 21 24
23 Tahun 21 16 62 Tahun 23 24
24 Tahun 19 15 63 Tahun 12 7
25 Tahun 27 32 64 Tahun 12 18
26 Tahun 27 26 65 Tahun 10 11
27 Tahun 14 17 66 Tahun 9 7
28 Tahun 19 17 67 Tahun 12 11
29 Tahun 21 25 68 Tahun 9 7
30 Tahun 31 34 69 Tahun 5 7
31 Tahun 24 21 70 Tahun 7 13
32 Tahun 13 17 71 Tahun 15 12
33 Tahun 23 24 72 Tahun 7 11
34 Tahun 14 12 73 Tahun 11 11
35 Tahun 24 31 74 Tahun 7 7
36 Tahun 11 21 75 Tahun 9 14
lebih dari
37 Tahun 19 20 75 6 10
38 Tahun 17 19 Total 1.331 1.464

PENDIDIKAN
TINGKAT PENDIDIKAN LAKI-LAKI PEREMPUAN
Usia 3-6 Tahun yang belum masuk TK 98 121
Usia 3-6 tahun yang sedang TK 17 25
Usia 7-18 tahun yang tidak pernah sekolah 9 5
Usia 7-18 tahun yang sedang sekolah 164 219
Usia 18-56 tahun yang tidak pernah sekolah 20 14
Usia 18-56 tahun yg pernah SD tapi tidak 81 75
tamat
Tamat SD/ Sederajat 280 311
Usia 12-56 tahun tidak tamat SLTP 7 4
Usia 18-56 tahun tidak tamat SLTA 2 1
Tamat SMP/ sederajat 140 164
Tamat SMA/ Sederajat 239 281
Tamat D-1/ Sederajat 87 90
Tamat D-2/ sederajat 19 25
Tamat D-3/ sederajat 23 29
Tamat S-1/ sederajat 39 45
Jumlah 1.247 1.404
Jumlah Total 2.651
MATA PENCAHARIAN POKOK
Jenis Pekerjaan Laki-laki Perempuan
petani 1.159 10
Buruh tani 102 -
Pegawai negeri sipil 65 82
Peternak 3 -
Nelayan 25 -
Montir 1 -
TNI 1 -
POLRI 4 -
Pensiunan PNS/TNI/POLRI 28 37
Pengusaha kecil dan 5 -
menengah
Dukun kampung terlatih - 1
AGAMA
AGAMA LAKI-LAKI PEREMPUAN
Islam 1.304 1.487
KEWARGANEGARAAN
KEWARGANEGARAAN LAKI-LAKI PEREMPUAN
Warga negara Indonesia 1.304 1.487
Jumlah 1.304 1.487

ETNIS
ETNIS LAKI-LAKI PEREMPUAN
Jawa 1 -
Bugis 1.299 1.482
Makassar 4 2
Mandar - 2
Minahasa - 1
Jumlah 1.304 1.487

POTENSI KELEMBAGAAN
LEMBAGA PEMERINTAHAN
PEMERINTAH DESA KELURAHAN
Dasar hukum pembentukan desa/ kelurahan Perda Kab. Barru
Dasar pembentukan BPD SK. Bupati
Jumlah aparat pemerintahan desa/kelurahan 15 orang
Kepala desa/ lurah Mikhdar M. Noor, BA
Sekretaris desa/ lurah Rahmatiah
Kepala Urusan Pemerintahan Hasrianti
Kepala Urusan Pembangunan Ibnu Rusdi
Kepala urusan keuangan Ridwan
Jumlah staf 3
Jumlah Dusun di Desa/ Lingkungan di 4
kelurahan
Kepala Dusun/ Lingkungan Ajakkang M. Nasar
Kepala Dusun/ Lingkungan Latappareng Buhari K.
Kepala Dusun/ Lingkungan Kampung Baru Abd. Muttalib
Kepala Dusun/ Lingkungan Minangatoa Muh. Nuh

LEMBAGA PENDIDIKAN
Pendidikan Formal
Status Kepemilikan Jumlah
Jumla (Terdaftar, Tenaga Jumlah
Nama Pemerinta Swast Desa/K
h Terakreditas Pengaja Siswa
h a el
i) r
Play Group 1 1 1 12
TK 2 1 1 5 30
SD/sederajat 4 3 1 34 286
SMP/sederaj 1 1 7 32
at

BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Desa Ajakkang merupakn bagian dari kecamatan soppeng riaja.
Kata Ajakkang diambil dari kata “jakka” atau sisir karena dulu, seorang anak
raja dari kerajaan Luwu’ memisahkan diri dari kerajaannya dan ingin mencari
tempat yang akan dipimpin sendiri olehnya, akhirnya ia berjalan dengan
pengawalnya mencari tempat yang cocok dan bisa dijadikan pemukiman.
Sementara ia berjalan, tiba-tiba sisirnya terjatuh, sehingga ia menyebut
tempat itu “jakka”, selanjutnya setelah tempat itu telah berpenghuni atau
telah menjadi sebuah desa, maka desa tersebut berubah nama menjadi
“Ajakkang” karena diambil dari kebiasaan masyarakat pada masa lampau
yang dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah dilakukan
dengan musyawarah yang diidentikkan seperti rambut/benang kusut yang
diluruskan dengan menggunakan Jakka “ Sisir “ sehingga dikenal dengan
sebutan Kampung Ajakkang. Maksudnya dari kata “Ajakkang” adalah tempat
menyisir atau meluruskan suatu masalah.

B.    Saran
Sebagai generasi penerus bangsa alangkah baiknya jika kita mengetahui
sejarah tempat tinggal kita. Jangan gengsi atau bermasa bodoh dengan
sejarah, karena dengan belajar sejarah hidup kita kedepannya akan lebih
terarah dan bahkan mampu memprediksi masa yang akan datang.