Anda di halaman 1dari 19

UNIVERSITAS GUNADARMA

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

MAKALAH
PEMELIHARAAN INFRASTRUKTUR SUMBER DAYA AIR

Disusun Oleh:

Nama : Amsor Chairuddin


NPM : 93218003
Jurusan : Teknik Sipil – Manajemen Rekayasa Infrastruktur
Dosen : Dr. Heri Suprapto

Diajukan Guna Melengkapi Tugas Mata Kuliah


Pemeliharaan Infrastruktur (VClass Pertemuan – 1)

JAKARTA
2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, yang
telah melimpahkan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
pada waktu yang telah ditentukan. Makalah ini disusun sebagai bentuk tanggung
jawab mahasiswa dalam memenuhi tugas mata kuliah Pemeliharaan
Infrastruktur – Pasca Sarjana jurusan Manajemen Rekayasa Infrastruktur.
Penyusunan makalah ini kami mendapatkan banyak bantuan dari berbagai
pihak. Maka, kami ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. E. S. Margianti, SE., MM., selaku Rektor Universitas Gunadarma.
2. Dr. Heri Suprapto, selaku Dosen Pengajar
3. Orang Tua Penulis dan Semua pihak yang telah membantu penulis menyusun
makalah ini.
Penulis telah berusaha semaksimal mungkin dalam penyusunan tugas
akhir ini, namun penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna.
Penulis mengharapkan koreksi, kritik, dan saran dari pembaca sebagai masukkan
untuk penyusunan makalah berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi
pembaca dan penulis serta dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi para
pembaca yang hendak menyusun makalah berikutnya.

Jakarta, April 2020


Penulis

(Amsor Chairuddin)

ii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i


KATA PENGANTAR ....................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................... iii

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG ..................................................................... 1
1.2 TUJUAN ........................................................................................ 2
1.3 METODE PENELITIAN ............................................................... 3

BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 INFRASTRUKTUR SUMBER DAYA AIR ................................... 4
2.2 PEMELIHARAAN INFRASTRUKTUR SUMBER DAYA AIR ... 7

BAB 3 KESIMPULAN DAN SARAN


3.1 KESIMPULAN ............................................................................ 14
3.2 SARAN ........................................................................................ 15

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 16

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Sumber daya air merupakan salah satu sumber daya alam yang utama baik
untuk kehidupan flora, fauna, dan manusia di muka bumi maupun untuk kebutuhan
manusia dalam memenuhi kebutuhan berbagai sektor kehidupan. Sebagai sumber
daya alam, jumlah ketersediaannya terbatas maka perlu dikelola dengan baik agar
yang membutuhkan air dapat mendapatkan akses yang sama. Selain keberadaan air
di bumi terbatas, sebenarnya penyebarannya di muka bumi ini juga tidak merata
baik tidak merata dari segi lokasi atau spasial maupun dipandang dari segi temporal
atau penyebaran waktu selama satu tahun juga tidak merata. Selain itu, air juga
merupakan sumber daya yang mempunyai nilai ekonomis karena air menjadi salah
satu input untuk proses industri berbagai produk yang memerlukan air, seperti
industri yang memproduksi minuman dan makanan.
Reformasi dalam pengelolaan sumber daya air merupakan salah satu
tindakan penting untuk mengatasi pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan dan
energi, serta konservasi sumber daya alam. Dalam kaitan ini, telah
disempurnakannya beberapa undang-undang dan peraturan serta kebijakan, antara
lain diberlakukannya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya
Air (UU SDA) yang telah mencakup prinsip-prinsip Pengelolaan Sumber Daya Air
secara terpadu (Integrated Water Resources Management – IWRM) dan Peraturan
Presiden tentang Dewan Sumber Daya Air dan Kebijakan Nasional tentang
Pengelolaan Sumber Daya Air. Pelaksanaan kegiatan pengelolaan sumber daya air
yang didasarkan pada undang-undang tersebut menjabarkan mekanisme
pengelolaan sumber daya air dengan mengacu sebuah pola pengelolaan sumber
daya air. Pola ini akan disusun pada setiap wilayah sungai yang penetapannya diatur
dalam Keputusan Presiden. Pola Pengelolaan Sumber Daya Air yang merupakan
kerangka dasar dalam merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi

1
kegiatan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan
pengendalian daya rusak air dengan prinsip keterpaduan antara air permukaan dan
air tanah dengan melibatkan peran masyarakat dan dunia usaha.
Menghadapi berbagai permasalahan sumber daya air yang semakin hari
semakin rumit dengan adanya peningkatan akan kebutuhan air yang sejalan dengan
bertambahnya jumlah penduduk serta yang diiringi dengan pertumbuhan sosial-
ekonomi. Selain itu, kekeliruan dalam pengelolaan sumber daya air menyebabkan
upaya untuk meningkatkan kebutuhan akan air telah menimbulkan eksploitasi
sumber daya air secara berlebihan sehingga mengakibatkan penurunan daya dukung
lingkungan sumber daya air yang pada gilirannya menurunkan kemampuan
pasokan air.
Kegiatan operasi dan kegiatan pemeliharaan merupakan kegiatan utama
untuk mempertahankan prasarana sumber daya air agar dapat berfungsi dan
memberikan manfaat sampai dengan umur teknis bangunan habis, dan merupakan
kegiatan pasca pembangunan yang menentukan keberlanjutan sumber daya air.
Kegiatan operasi adalah kegiatan pengaturan, pengalokasian serta penyediaan air
dan sumber air untuk mengoptimalkan pemanfaatan prasarana sumber daya air, dan
kegiatan pemeliharaan adalah kegiatan untuk merawat guna menjamin kelestarian
fungsi sumber air dan prasarana sumber daya air (UU RI No 7, 2004). Kegiatan
pemeliharaan prasarana sumber daya air terdiri atas: (1) kegiatan pencegahan
kerusakan dan/ atau penurunan fungsi prasarana sumber daya air serta, (2)
perbaikan kerusakan prasarana sumber daya air (PP RI No 42, 2008).

1.2 TUJUAN
Tujuan dari penulisan makalah Pemeliharaan Infrastruktur Transportasi
adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui konsep pemeliharaan infrastuktur sumber daya air
2. Mengidentifikasi permasalahan pemeliharaan infrastruktur sumber daya air
3. Mengetahui metode pemeliharaan infrastruktur sumber daya air

2
1.3 METODE PENELITIAN
Bagan alur/flowchart penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:

Gambar 1.1 Bagan Alur Penyusunan Makalah

3
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 INFRASTRUKTUR SUMBER DAYA AIR


Prasarana Sumber Daya Air adalah bangunan air beserta bangunan lain yang
menunjang kegiatan pengelolaan sumber daya air, baik langsung maupun tidak
langsung. Pembangunan infrastruktur SDA juga ditujukan untuk melancarkan arus
barang dan jasa untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dalam pengendalian
banjir dan pengamanan pantai. Contoh: Waduk/reservoir, bangunan - bangunan
irigasi, bangunan pengatur sungai/perlindungan tebing sungai, Bendungan, dan
lain-lain.
Prasarana/Infrastruktur Sumber Daya Air di bagi atas :
1. Prasarana/Infrastruktur Sumber Daya Air Struktural yaitu Pemanfaatan air
Pengendalian daya rusak air Pengaturan badan air (sungai, situ, danau)
2. Prasarana/Infrastruktur Sumber Daya Air Non-struktural yaitu Penyusunan
peraturan Penyusunan program kegiatan Penghijauan, konservasi lahan.

2.2.1 Bendungan/Waduk
Bendungan atau dam adalah konstruksi yang dibangun untuk menahan laju
air menjadi waduk, danau, atau tempat rekreasi. Waduk berfungsi untuk
menampung air pada waktu terjadi surplus air di sumber air agar dipakai sewaktu
terjadi kekurangan air. Waduk bertujuan sebagai bangunan untuk pemanfaatan air
sekaligus pengendalian banjir. Seringkali bendungan juga digunakan untuk
mengalirkan air ke sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Air. Bendungan berfungsi
untuk menaikkan muka air, biasanya terdapat di sungai. Air sungai yang
permukaannya dinaikkan akan melimpas melalui puncak / mercu bendung
(overflow). Dapat digunakan sebagai pengukur kecepatan aliran air di
saluran/sungai dan bisa juga sebagai penggerak pengilingan tradisional di negara-
negara Eropa.

4
Jenis simpanan air pada waduk antara lain sebagai berikut:
1. Dead storage: volume dibawah elevasi muka air minimum
2. Life storage: volume diantara elevasi muka air minimum dan elevasi mercu
pelimpah / spillway.
3. Tampungan banjir: volume diantara elevasi muka air banjir rencana dan
elevasi mercu pelimpah/spillway

Gambar 2.1 Bangunan Pelimpah Bendungan

2.2.2 Sungai
Sungai diartikan sebagai bagian permukaan bumi yang letaknya lebih
rendah sebagai tempat aliran air tawar menuju ke reservoir lainnya seperti sungai
lain, danau, rawa, atau laut (Syarifuddin et al., 2000). Sungai menurut jumlah airnya
dibedakan menjadi:
1. Sungai Permanen
Sungai permanen yaitu sungai yang debit airnya sepanjang tahun relatif
tetap. Contoh sungai jenis ini adalah sungai Kapuas, Kahayan, Barito dan Mahakam
di Kalimantan. Sungai Musi dan Indragiri di Sumatera.

5
2. Sungai Periodik
Sungai periodik yaitu sungai yang pada waktu musim hujan airnya banyak,
sedangkan pada musim kemarau airnya sedikit. Contoh sungai jenis ini banyak
terdapat di pulau Jawa misalnya sungai Ciliwung, Cisedade, Bengawan Solo, dan
sungai Opak di Jawa Tengah. Sungai Progo dan sungai Code di Daerah Istimewa
Yogyakarta serta sungai Brantas di Jawa Timur.
3. Sungai Intermittent atau Sungai Episodik
Sungai intermittent atau sungai episodik yaitu sungai yang mengalirkan
airnya pada musim penghujan, sedangkan pada musim kemarau airnya kering.
Contoh sungai jenis ini adalah sungai Kalada di pulau Sumba.
4. Sungai Ephemeral
Sungai ephemeral yaitu sungai yang ada airnya hanya pada saat musim
hujan. Pada hakekatnya sungai jenis ini hampir sama dengan jenis episodik, hanya
saja pada musim hujan sungai jenis ini airnya belum tentu banyak.

2.2.3 Irigasi
Menurut UU No. 7 Tahun 2004 pasal 41 ayat 1 tentang Sumber Daya Air,
irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan, dan pembuangan air untuk menunjang
pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah
tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak. Berdasarkan UU No.7 Tahun 2004, irigasi
meliputi usaha penyediaan, pengaturan dan pembuangan air dengan tujuan untuk
menunjang pertanian.
Menurut Standar Perencanaan Irigasi KP-01 irigasi adalah sistem
pemberian air ketanah-tanah pertanian guna mencukupi kebutuhan tanaman agar
tanaman tersebut tumbuh dengan baik. Adapun tujuan irigasi adalah sebagai
berikut:
1. Membasahi tanah dengan menggunakan air irigasi bertujuan memenuhi
kekurangan air di daerah pertanian pada saat air hujan kurang atau tidak ada.
Hal ini penting sekali karena kekurangan air yang di perlukan untuk tumbuh
dapat mempengaruhi hasil panen tanaman tersebut.

6
2. Pemberian air yang tujuannya selain membasahi juga memberi zat-zat yang
berguna bagi tanaman itu sendiri (Merabuk).
3. Mengatur suhu tanaman pada suhu yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu
rendah, sesuai dengan jenis tanamannya.
4. Membersihkan tanah atau memberantas hama. Maksud irigasi juga
bertujuan untuk membasmi hama-hama yang berada dan bersarang dalam
tanah dan membahayakan bagi tanaman sehingga pada musim kemarau
sebaiknya sawah diberikan air agar sifat garamnya hilang.
5. Pengairan dengan maksud memperbaiki/meninggikan permukaan tanah
Irigasi sangat dibutuhkan untuk pertanian, perkebunan dan lain-lainnya.
Adapun manfaat irigasi adalah sebagai berikut:
1. Menambahkan air ke dalam tanah untuk menyediakan cairan yang
diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.
2. Menyediakan jaminan panen pada saat musim kemarau pendek.
3. Mendinginkan tanah dan atmosfer, sehingga menimbulkan lingkungan yang
baik untuk pertumbuhan tanamam.
4. Mencuci dan mengurangi garam tanah.
5. Mengurangi bahaya erosi tanah.
6. Melunakkan pembajakan dan gumpalan tanah.

2.2 PEMELIHARAAN INFRASTRUKTUR SUMBER DAYA AIR


2.2.1 Pemeliharaan Bendungan
Pemeliharaan bendungan diatur dalam Permen PUPR No. 27 Tahun 2015
tentang bendungan. Operasi dan pemeliharaan bendungan dimaksudkan untuk
mengoptimalkan pendayagunaan dan daya air serta menjaga keamanan bendungan.

2.2.1.1 Pemeliharaan Pencegahan


Pemeliharaan pencegahan ditujukan untuk mencegah terjadinya kerusakan
dan kemunduran mutu bendungan dan bangunan pelengkapnya, serta
memperpanjang umur manfaat. Pemeliharaan ini dilakukan secara rutin dan secara

7
berkala/ terjadwal. Contoh masalah yang ditemui dalam pemeliharaan adalah
penumpukan sedimen/ pendangkalan. Penumpukan sedimen dapat mempengaruhi
umur layan sebuah bendungan. Perlu dilakukan analisis lebih lanjut untuk
mengetahui penyebab peningkatan sedimen agar dapat ditangani dengan tepat.
Misalnya erosi di hulu, maka perlu dilakukan penghijauan kembali di daerah hulu
tersebut. Pemeliharaan secara rutin dan berkala perlu dilakukan untuk
mempertahankan umur bendungan.

Gambar 2.2 Sedimentasi

2.2.1.2 Pemeliharaan Luar Biasa


Pemeliharaan luar biasa dilakukan berdasar kebutuhan di luar jadwal
pemeliharaan yang telah ditetapkan, ditujukan untuk perbaikan kerusakan yang
disebabkan oleh kemunduran mutu, banjir, gempa bumi, kemacetan peralatan,
kegagalan (struktural, hidrolis, rembesan, operasi, dll), vandalisme, dan lain
sebagainya. Pemeliharaan ini meliputi perbaikan, perkuatan dan rehabilitasi. Jika
tidak ada pemeliharaan dapat mengakibatkan keruntuhan bendungan.
Keruntuhan bendungan dapat terjadi akibat beragam penyebab, seperti
kegagalan struktural, rembesan, gempa bumi dan lainnya. Kegagalan akibat
rembesan tentu dapat dicegah untuk tidak menjadi semakin parah apabila dilakukan
pemeliharaan secara rutin dan berkala, misalnya dengan melakukan grouting atau

8
pelapisan. Namun pemeliharaan luar biasa juga harus dilakukan apabila kegagalan
tersebut sudah terjadi.

Gambar 2.3 Keruntuhan Bendungan/ Dam Failure

2.2.2 Pemeliharaan Sungai


Tuntutan kebutuhan sosial dan ekonomi manusia yang kian berkembang
telah mendorong perkembangan teknologi pendayagunaan sungai mulai dari
tingkat yang paling sederhana hingga teknologi yang sangat maju. Perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, pendayagunaan dan perlindungan sungai telah
melahirkan berbagai jenis prasarana sungai yang tersebar di Indonesia. Tanpa
dilakukan pemeliharaan yang memadai, baik terhadap prasarana sungai maupun
sungainya sendiri tentu akan cepat mengalami degradasi fisik dan fungsi sehingga
efektivitas eksploitasi atau operasi prasarana sungai akan terganggu, bahkan
tindakan operatif pemenuhan kebutuhan air dan pengendalian aliran air menjadi
tidak optimal ataupun dapat terhenti. Karena itu, operasi dan pemeliharaan sungai
merupakan kesatuan kegiatan yang tidak terpisahkan. Kegiatan tersebut harus
berjalan secara konsisten dan menerus sepanjang waktu. Agar dapat bekerja secara
efektif, efisien, dan tertib, dalam penyelenggaraannya diperlukan pedoman yang
menjadi panduan atau rujukan bagi para penyelenggara/pelaksana

9
2.2.3 Pemeliharaan Irigasi
UU No. 11/1974 tentang Pengairan yang ditindak lanjuti dengan Peraturan
Pemerintah No.22 tahun 1982 tentang Irigasi, telah mengamanatkan pentingnya
kegiatan OP irigasi dalam rangka menjaga keberlanjutan irigasi dalam rangka
menunjang ketahanan pangan nasional. Sebagai pedoman pelaksanaan OP jaringan
irigasi bagi jajaran Kementerian PUPR telah dikeluarkan Permen PUPR No.
12/PRT//M/2015 tentang Pedoman OP Irigasi, dimana didalamnya mengandung
pedoman pemeliharaan irigasi.
Pemeliharaan jaringan irigasi adalah upaya menjaga dan mengamankan
jaringan irigasi agar selalu dapat berfungsi dengan baik guna memperlancar
pelaksanaan operasi dan mempertahankan kelestariannya melalui kegiatan
perawatan, perbaikan, pencegahan dan pengamanan yang harus dilakukan secara
terus menerus. Ruang lingkup kegiatan pemeliharaan jaringan meliputi:
inventarisasi kondisi jaringan irigasi, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan
evaluasi. Jenis pemeliharaan jaringan irigasi terdiri dari:
1. Pengamanan jaringan irigasi
2. Pemeliharaan rutin
3. Pemeliharaan berkala
4. Perbaikan darurat

2.2.1.1 Pengamanan Jaringan Irigasi


Pengamanan jaringan irigasi merupakan upaya untuk mencegah dan
menanggulangi terjadinya kerusakan jaringan irigasi yang disebabkan oleh daya
rusak air, hewan, atau oleh manusia guna mempertahankan fungsi jaringan irigasi.
Kegiatan ini dilakukan secara terus menerus oleh dinas yang membidangi irigasi,
anggota/pengurus P3A/ GP3A/ IP3A, Kelompok Pendamping Lapangan dan
seluruh masyarakat setempat. Setiap kegiatan yang dapat membahayakan atau
merusak jaringan irigasi dilakukan tindakan pencegahan berupa pemasangan papan
larangan, papan peringatan atau perangkat pengamanan lainnya. Adapun tindakan
pengamanan dapat dilakukan antara lain sebagai berikut:
1. Tindakan Pencegahan

10
a. Melarang pengambilan batu, pasir dan tanah pada lokasi ± 500 m
sebelah hulu dan ± 1.000 m sebelah hilir bendung irigasi atau sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
b. Melarang memandikan hewan selain di tempat yang telah ditentukan
dengan memasang papan larangan.
c. Menetapkan garis sempadan saluran sesuai ketentuan dan peraturan
yang berlaku.
d. Memasang papan larangan tentang penggarapan tanah dan mendirikan
bangunan di dalam garis sempadan saluran.
e. Petugas pengelola irigasi harus mengontrol patok-patok batas tanah
pengairan supaya tidak dipindahkan oleh masyarakat.
f. Memasang papan larangan untuk kendaraan yang melintas jalan
inspeksi yang melebihi kelas jalan.
g. Melarang mandi di sekitar bangunan atau lokasi-lokasi yang berbahaya.
h. Melarang mendirikan bangunan dan atau menanam pohon di tanggul
saluran irigasi.
i. Mengadakan penyuluhan/sosialisasi kepada masyarakat dan instansi
terkait tentang pengamanan fungsi Jaringan Irigasi.
2. Tindakan Pengamanan
a. Membuat bangunanpengamanan ditempat-tempat yang berbahaya,
misalnya: disekitar bangunan utama, siphon, ruas saluran yang
tebingnya curam, daerah padat penduduk dan lain sebagainya.
b. Penyediaan tempat mandi hewan dan tangga cuci.
c. Pemasangan penghalang di jalan inspeksi dan tanggul-tanggul saluran
berupa portal, patok.

2.2.1.2 Pemeliharaan Rutin


Pemeliharaan Rutin merupakan kegiatan perawatan dalam rangka
mempertahankan kondisi Jaringan Irigasi yang dilaksanakan secara terus menerus

11
tanpa ada bagian konstruksi yang diubah atau diganti. Kegiatan pemeliharaan rutin
meliputi:
3. Yang bersifat Perawatan:
a. Memberikan minyak pelumas pada bagian pintu.
b. Membersihkan saluran dan bangunan dari tanaman liar dan
semaksemak.
c. Membersihkan saluran dan bangunan dari sampah dan kotoran.
d. Pembuangan endapan lumpur di bangunan ukur.
e. Memelihara tanaman lindung di sekitar bangunan dan di tepi luar
tanggul saluran.
4. Yang bersifat Perbaikan ringan:
a. Menutup lubang-lubang bocoran kecil di saluran/bangunan.
b. Perbaikan kecil pada pasangan, misalnya siaran/plesteran yang retak
atau beberapa batu muka yang lepas.

2.2.1.3 Pemeliharaan Berkala


Pemeliharaan berkala merupakan kegiatan perawatan dan perbaikan yang
dilaksanakan secara berkala yang direncanakan dan dilaksanakan oleh dinas yang
membidangi Irigasi dan dapat bekerja sama dengan P3A/ GP3A/ IP3A secara
swakelola berdasarkan kemampuan lembaga tersebut dan dapat pula dilaksanakan
secara kontraktual. Pelaksanaan pemeliharaan berkala dilaksanakan secara periodik
sesuai kondisi Jaringan Irigasinya. Setiap jenis kegiatan pemeliharaan berkala dapat
berbeda-beda periodenya, misalnya setiap tahun, 2 tahun, 3 tahun dan
pelaksanaannya disesuaikan dengan jadwal musim tanam serta waktu pengeringan.
Pemeliharaan berkala dapat dibagi menjadi tiga, yaitu pemeliharaan yang bersifat
perawatan, pemeliharaan yang bersifat perbaikan, dan pemeliharaan yang bersifat
penggantian. Pekerjaan pemeliharaan berkala meliputi:

1. Pemeliharaan Berkala Yang Bersifat Perawatan


a. Pengecatan pintu.
b. Pembuangan lumpur di bangunan dan saluran.

12
2. Pemeliharaan Berkala Yang Bersifat Perbaikan
a. Perbaikan Bendung, Bangunan Pengambilan dan Bangunan Pengatur.
b. Perbaikan Bangunan Ukur dan kelengkapannya.
c. Perbaikan Saluran.
d. Perbaikan Pintu-pintu dan Skot Balk.
e. Perbaikan Jalan Inspeksi.
f. Perbaikan fasilitas pendukung seperti kantor, rumah dinas, rumah PPA
dan PPB, kendaraan dan peralatan.
3. Pemeliharaan Berkala Yang Bersifat Penggantian
a. Penggantian Pintu.
b. Penggantian alat ukur.
c. Penggantian peil schall.

2.2.1.4 Perbaikan Darurat


Perbaikan darurat dilakukan akibat bencana alam dan atau kerusakan berat
akibat terjadinya kejadian luar biasa (seperti pengrusakan/ penjebolan tanggul,
Longsoran tebing yang menutup Jaringan, tanggul putus dll) dan penanggulangan
segera dengan konstruksi tidak permanen, agar jaringan irigasi tetap berfungsi.
Kejadian Luar Biasa/ Bencana Alam harus segera dilaporkan oleh juru kepada
pengamat dan kepala dinas secara berjenjang dan selanjutnya oleh kepala dinas
dilaporkan kepada Bupati. Lokasi, tanggal/ waktu, dan kerusakan akibat kejadian
bencana/KLB dimasukkan dalam Blangko 03-P dan lampirannya Perbaikan darurat
ini dapat dilakukan secara gotong-royong, swakelola atau kontraktual, dengan
menggunakan bahan yang tersedia di Dinas/pengelola irigasi atau yang disediakan
masyarakat seperti (bronjong, karung plastik, batu, pasir, bambu, batang kelapa,
dan lain- lain). Selanjutnya perbaikan darurat ini disempurnakan dengan konstruksi
yang permanen dan dianggarkan secepatnya melalui program rehabilitasi.

13
BAB 3
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 KESIMPULAN
Kesimpulan dari makalah Pemeliharaan Infrastruktur Transportasi adalah
sebagai berikut:
1. Prasarana Sumber Daya Air adalah bangunan air beserta bangunan lain yang
menunjang kegiatan pengelolaan sumber daya air, baik langsung maupun
tidak langsung. Pembangunan infrastruktur SDA juga ditujukan untuk
melancarkan arus barang dan jasa untuk mendukung pertumbuhan ekonomi
dalam pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Contoh:
Waduk/reservoir, bangunan - bangunan irigasi, bangunan pengatur
sungai/perlindungan tebing sungai, Bendungan, dan lain-lain.
2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (UU SDA)
yang telah mencakup prinsip-prinsip Pengelolaan Sumber Daya Air secara
terpadu (Integrated Water Resources Management – IWRM) dan Peraturan
Presiden tentang Dewan Sumber Daya Air dan Kebijakan Nasional tentang
Pengelolaan Sumber Daya Air.
3. Kegiatan operasi dan kegiatan pemeliharaan merupakan kegiatan utama
untuk mempertahankan prasarana sumber daya air agar dapat berfungsi dan
memberikan manfaat sampai dengan umur teknis bangunan habis, dan
merupakan kegiatan pasca pembangunan yang menentukan keberlanjutan
sumber daya air.
4. Metode pemeliharaan dan perbaikan menyesuaikan dengan jenis kerusakan
pada prasarana sumber daya air dengan memperhatikan indikasi kerusakan
dan akibat lebih lanjut.

14
3.2 SARAN
1. Pemerintah sebagai pemangku kebijakan dapat menyediakan layanan
contact center untuk pelaporan masyarakat terkait dengan kerusakan
prasarana sumber daya air
2. Pemerintah sebagai pemangku kebijakan dapat memperketat aturan garis
sempadan sungai dan bendungan serta kebijakan konservasi tanah dan air
pada daerah sekitar prasarana.

15
DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementrian PUPR, 2014. Operasi


Pemeliharaan Sumber Daya Air. Jakarta.

Dirjen SDA. 2013. Pedoman Operasi, Pemeliharaan, dan Pengamatan Bendungan.


http://sda.pu.go.id/balai_bendungan/file/10)%20PEDOMAN%20OP%20
& %20PB%20bag_2.pdf

Hartoyo. (2010). Program Pengembangan Penyediaan Air Untuk Menjamin


Ketahanan Pangan Nasional. Seminar Pengembangan dan Pengelolaan
Sumber Daya Air untuk Ketahanan Pangan. Bogor: Kementerian Pekerjaan
Umum

Kementerian PUPR. 2017. Modul Pemeliharaan Jaringan Irigasi.


https://bpsdm.pu.go.id/center/pelatihan/uploads/edok/2019/02/f1644_MD
L_ Pemeliharaan_Jaringan_Irigasi.pdf

Permen PUPR No. 12 Tahun 2015 Tentang Pedoman Eksploitasi Dan Pemeliharaan
Jaringan Irigasi. Jakarta.

Schouten, M. (2006). Integrated Water Resources Management. Unpublish lectures


note. Delft: UNESCO‐IHE Institute for Water Education

Sinulungga, Budi D, 1999. Pembangunan Kota Tinjauan Regional dan Lokal.


Jakarta: Pustaka Sinar Harapan

16