Anda di halaman 1dari 41

KAJIAN ISLAM

1. Iman, Islam, Ihsan


2. Islam dan Sains
3. Islam dan Penegakan Hukum
4. Kewajiban Menegakkan Amar Makruf dan Nahi Munkar
5. Fitnah Akhir Zaman

Disusun sebagai tugas terstruktur Mata Kuliah: Pendidikan Agama Islam


Dosen Pengampuh:
Dr. Taufiq Ramdani, S.Th.I., M.Sos

Disusun Oleh:

Nama : Nilla Pradita


NIM : C1G020191
Fakultas&Prodi : Pertanian/Agribisnis E
Semester :1

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MATARAM 2020
T.A. 2020/2021

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah penulis haturkan kepada ALLAH SWT atas


selesainya tugas ini tepat pada waktunya.
Sholawat dan Salam semoga ALLAH limpahkan kepada Rasulullah Muhammad
SAW atas segala jasanya yang telah membimbing umatnya dari jaman jahiliyah menuju
jaman islam seperti saat ini. Semoga syafaatnya mengalir pada kita di akhirat kelak
Aamiin.
Terima kasih saya sampaikan atas bimbingan Bapak Dr. Taufiq Ramdani,
S.Th.I., M.Sos sebagai dosen pengampuh mata Kuliah Pendidkan Agama Islam
sehingga tugas ini dapat terselesaikan
Besar harapan saya tugas ini akan memberi manfaat bagi berbagai pihak, dan
pembaca dapat memberikan umpan balik berupa kritik dan saran. Penulis menyadari
bahwa tulisan ini masih jauh dari kata sempurna.

Penyusun, Mataram 10 Desember 2020

Nama : Nilla Pradita


NIM : C1G0201

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN COVER i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
I. Iman, Islam, Ihsan 1-7
II. Islam dan Sains 8-14
III. Islam dan Penegakan Hukum 15-20
IV. Kewajiban Menegakkan Amar Makruf dan Nahi Munkar 21-26
V. Fitnah Akhir Zaman 27-29
DAFTAR PUSTAKA 30-31
LAMPIRAN 32-38

iii
BAB 1

IMAM, ISLAM DAN IHSAN

Ajaran islam memiliki tiga kerangka dasar ajaran ynag dikenal dengan istilah
trilogi ajaran ilahi yaitu, iman, islam, dan ihsan.

HR Bukhari dan Muslim

‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّم َذاتَ يَوْ ٍم إِ ْذ طَلَ @ َع َعلَ ْينَ@@ا‬ َ َ‫ض َي هللاُ َع ْنهُ أَ ْيضًا ق‬
َ ِ‫ بَ ْينَ َما نَحْ نُ ُجلُوْ سٌ ِع ْن َد َرسُوْ ِل هللا‬: ‫ال‬ ِ ‫ع َْن ُع َم َر َر‬
َ َ‫ َحتَّى َجل‬,‫ْرفُ@هُ ِمنَّا أَ َح@ ٌد‬
‫س ِإلَى النَّبِ ِّي‬ ِ ‫الس@فَ ِر َوالَ يَع‬ َّ ‫ الَ يُ@ َرى َعلَ ْي@ ِه أَثَ@ ُر‬,‫ْر‬ِ ‫الش@ع‬ َّ ‫ب َش@ ِد ْي ُد َس@ َوا ِد‬ ِ ‫اض الثِّيَا‬ِ َ‫َر ُج ٌل َش ِد ْي ُد بَي‬
,‫ يَ@@ا ُم َح َّم ُد أَ ْخبِ@@رْ نِ ْي ع َِن ا ِإل ْس @الَ ِم‬: ‫ َو قَ@@ا َل‬,‫ض َع َكفَّ ْي ِه َعلَى فَ ِخ َذ ْي ِه‬
َ ‫ َو َو‬,‫ فأ َ ْسنَ َد ُر ْكبَتَ ْي ِه إِلَى ُر ْكبَتَ ْي ِه‬,‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّم‬
َ
َّ ‫ َوتُقِ ْي ُم‬,ِ‫ اَ ِإل ْس@الَ ُم أَ ْن ت َْش@هَ َد أَ ْن الَإِ لَ@هَ إِالَّ هللاُ َو أَ َّن ُم َح َّمدًا َر ُس@وْ ُل هللا‬: ‫صلَّى هللاُ َعلَيْ@ ِه َو َس@لَّم‬
,َ‫الص@الَة‬ َ ِ‫فَقَا َل َرسُوْ ُل هللا‬
َ ‫ فَ َع ِج ْبنَا لَهُ يَ ْسئَلُهُ َوي‬.‫ت‬
َ َ‫ ق‬.ُ‫ُص ِّدقُه‬
‫ال‬ َ : ‫ قَا َل‬.ً‫ َوتَ ُح َّج ْالبَيْتَ إِ ِن ا ْستَطَعْتَ إِلَ ْي ِه َسبِ ْيال‬, َ‫ضان‬
ُ ‫ص َد ْق‬ َ ‫ َوتَصُوْ َم َر َم‬,َ‫َوتُ ْؤتِ َي ال َّز َكاة‬
َ @َ‫ ق‬.‫ َو تُ ْؤ ِمنَ بِ ْالقَ ْد ِر خَ ي ِْر ِه َو َشرِّ ِه‬,‫ َو ْاليَوْ ِم اآل ِخ ِر‬,‫ َو ُر ُسلِ ِه‬,‫ َو ُكتُبِ ِه‬,‫ َو َمالَئِ َكتِ ِه‬,ِ‫ أَ ْن بِاهلل‬: ‫ قَا َل‬,‫ان‬
: ‫@ال‬ ِ ‫ فَأ َ ْخبِرْ نِ ْي َع ِن ا ِإل ْي َم‬:
‫ فَ@@أ َ ْخبِرْ نِ ْي َع ِن‬: ‫ قَا َل‬.َ‫ أَ ْن تَ ْعبُ َد هللاَ َكأَنَّكَ تَ َراهُ فَإ ِ ْن لَ ْم تَ ُك ْن ت ََراهُ فَإِنَّهُ يَ َراك‬: ‫ قَا َل‬,‫ فَأ َ ْخبِرْ نِ ْي َع ِن ا ِإلحْ َسا ِن‬: ‫ قَا َل‬. َ‫ص َد ْقت‬
َ
‫@رى‬ َ @َ‫ َوأَ ْن ت‬,‫ أَ ْن تَلِ َد األَ َمةُ َربَّتَهَا‬: ‫ال‬
َ َ‫ ق‬,‫اراتِهَا‬ َ ‫ فَأ َ ْخبِرْ نِ ْي ع َْن أَ َم‬: ‫ قَا َل‬.‫ َما ْال َم ْس ُؤوْ ُل َع ْنهَا بِأ َ ْعلَ َم ِمنَ السَّائِ ِل‬: ‫السَّا َع ِة قَا َل‬
‫الس @ائِل؟‬ َّ ‫ أَتَ @ ْد ِريْ َم ِن‬,ُ‫ يَا ُع َم@ ر‬: ‫ ثُ َّم قَا َل‬,‫ت َملِيًّا‬ ُ ‫ فَلَبِ ْث‬,َ‫ ثم اَ ْنطَلَق‬,‫ْال ُحفَاةَ ْال ُع َراةَ ْال َعالَةَ ِرعَا َء ال َّشا ِء يَتَطَا َولُوْ نَ فِ ْي ْالبُ ْنيَا ِن‬
‫ َر َواهُ ُم ْسلِ ٌم‬.‫ فَإِنَّهُ ِجب ِْر ْي ُل أَتَا ُك ْم يُ َعلِّ ُم ُك ْم ِد ْينَ ُك ْم‬: ‫ال‬
َ َ‫ ق‬.‫ هللاُ َو َرسُوْ لُهُ أَ ْعلَ ُم‬: ‫ت‬ ُ ‫قُ ْل‬

Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata : Suatu ketika, kami (para
sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul
kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya
amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang
pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya
disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha
Nabi, kemudian ia berkata : “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Islam adalah, engkau bersaksi
tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan
sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan
zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika
engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata,”Engkau benar,” maka kami
heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya. Kemudian ia bertanya lagi:
“Beritahukan kepadaku tentang Iman”. Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau

1
beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan
beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.”
Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau
melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
Lelaki itu berkata lagi : “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?” Nabi
menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.” Dia pun
bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!” Nabi
menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat
orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala
kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang
tinggi.” Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi
bertanya kepadaku : “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?” Aku
menjawab,”Allah dan RasulNya lebih mengetahui,” Beliau bersabda,”Dia adalah
Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” [HR Muslim, no.8]

 Makna yang terkandung dalam HR Bukhari dan Muslim

Hadis ini memiliki makna yang luar biasa, bisa dikatakan sebagai induk dari
hadis. mengapa demikian? karena pada hadis tersebut sangat jelas dan lengkap
membahas mengenai semua amal perbuatan yang dahir dan yang bathin. ia mencakup
seluruh nilai-nilai yang ada dalam Al-Quran. Hadis ini disebut sebagai hadis
mutawathir karena diriwayatkan dari 8 orang sahabat.

Dalam hadis tersebut terjadi sebuah tanya jawab antara seorang lelaki yang
tidak lain dijelaskan bahwa ia adalah malaikat Jibril dengan Rasulullah saw. ia datang
untuk mengajarkan tentang islam. Banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil. di
awali dengan etika bagaimana seseorang bertanya dengan bahasa dan perlakuan yang
sopan, dan menanyakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Setelah
itu kita bisa melihat di hadis tersebut tentang berpakaian dan berpenampilan. terlihat
dari penjelasan di hadis saat seorang lelaki tersebut datang menggunakan baju putih
bersih tanpa kotoran saat menghampiri majlis. hal ini sangat jelas bagaimana islam
sangat memperhatikan penampilan seorang muslim karena ini termasuk dari
perbuatan baik. dengan berpenampilan baik maka kita akan terlihat sopan dan

2
dihargai orang lain. selain itu dalam hadis tersebut terdapat penjelasan mengenai
islam. dalam islam memiliki landasan 5 dasar sebagai bukti kepatuhan dan tunduk
dengan perintah Allah SWT. yang ke 3 pada hadis tersebut menjelaskan keimanan
seorang islam dilihat dari bagaimana ia mempercayai dan meyakini adanya Allah,
malaikat, kitab Allah, rasul, hari kiamat, qadla dan qadar Allah. semua ini disebut
dengan 6 keimanan. maka apabila seorang meyakini ia akan selamat dunia dan
akhirat. dan sebaliknya apabila ia menentang maka ia termasuk orang yang rugi dan
sesat. yang ke 4 islam dan iman merupakan satu hal yang saling melengkapi
walaupun dengan makna yang berbeda. hal ini dikarenakan kedua hal tersebut saling
melengkapi satu sama lain, iman akan sia-sia tanpa islam dan sebaliknya. hadis
tersebut jg menjalskan bahwa dalam beribadah kita harus dalam keadaan ikhlas
menjalaninya fokus perhatian hanya kepada Allah. karena dengan itu kita akan dapat
merasakan kedekatan dan ketenangan dalam beribadah. dalam hadis tersebut juga
menjelaskan bahwa tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya kiamat. hal ini
menggambarkan bahwa segala sesuatu telah direncanakan Allah dengan
kebesarannya dan tanpa perintah siapapun. hanya Allah lah yang mengetahui segala
sesuatu yang terjadi di dunia ini. karena Allah lah yang mengatur segalanya. ia maha
kuasa dan perkasa tidak ada yang dapat menandinginya. di hadis tersebut Allah hanya
menerangkan bagaimana tanda-tanda nya saja agar kita bersiap diri untuk
mengumpulkan bekal di akhirat dan menyadari bahwa kita tidak akan selamanya di
dunia ini.

a. Definisi Iman

Iman berarti ‚ menyimpan sesuatu pada orang lain untuk diamankan‛( Q.S Al-
Baqarah: 283). Dalam Q.S An-Nisa: 58 dan Al-Ahzab: 72, amanah ‚berarti simpanan
yang aman‛. Iman berarti ‚aman dari bahaya (yang datang dari luar)‛( Q.S An-Nisa:
83 dan Q.S Al-Baqarah: 125).Dari penjelasan di atas, inti dari arti kata Iman adalah
‚kedamaian‛ dan ‚keamanan‛. Iman bisa diartikan ‚menjadi sangat aman‛ dalam Q.S
Al-A’raf: 97- 99. Dalam Q.S Yunus: 83 dan Q.S An-Nuur: 26, kata aman diikuti
dengan li (kepada, untuk) yang diartikan ‚mengikuti seseorang‛ atau ‚menyerahkan
diri pada orang lain‛. Namun dalam bahasa Alquran dan bahasa Arab pada umumnya

3
menggunakan bi yang akan berarti ‚telah beriman atau percaya kepada‛ obyek utama
yaitu Tuhan. Jika obyeknya Alquran maka artinya menjadi ‚percaya bahwa Alquran
adalah kalam Tuhan‛, jika objeknya nabi maka artinya menjadi ‚percaya baha nabi
adalah utusan Tuhan‛. Dalam hal ini, pengertian Iman beralih dari ‚merasa aman‛
menjadi ‚percaya kepada‛, maka Iman sendiri dapat diartikan ‚Barangsiapa yang
percaya –kepada Tuhan, maka tidak akan merasa aman‛. Artinya, jika seseorang tidak
mengakui Tuhan atau tidak memiliki keimanan terhadap-Nya dan terhadap hal-hal
lain turunan dari keimanan pada Tuhan ini (kebenaran tentang Kitab Suci, dll) maka
di dalam hatinya tidak mungkin merasa aman, damai, integral, dll.

Kata Iman berasal dari Bahasa Arab yaitu bentuk masdar dari kata kerja (fi’il), “ - ‫ايمانا‬
‫ امن‬-‫ ” يؤمن‬yang mengandung beberapa arti yaitu percaya, tunduk, tentram dan tenang.
Imam Al-Ghazali memaknakannya dengan kata tashdiq (‫ ( التص@@ديق‬yang berarti
“pembenaran”. Pengertian Iman adalah membenarkan dengan hati, diikrarkan dengan
lisan dan dilakukan dengan perbuatan. Iman secara bahasa berasal dari kata Asman-
Yu’minu-limaanan artinya meyakini atau mempercayai. Pembahasan pokok aqidah
Islam berkisar pada aqidah yang terumuskan dalam rukun Iman, yaitu: 1) Iman
kepada Allah

2) Iman kepada Malaikat-Nya

3) Iman kepada kitab-kitab-Nya

4) Iman kepada Rasul-rasul-Nya

5) Iman kepada hari akhir

6) Iman kepada Takdir Allah

b. Definisi Islam

Islam berasal dari akar kata s-l-m yang artinya ‚merasa aman‛, ‚utuh‛ dan
‚integral‛. Akar kata dari bentuk pertama tidak digunakan tapi dalam ungkapan-
ungkapan tertentu digunakan. Kata silm berarti ‚damai‛ (Q.S Al-Baqarah: 208).Kata
salam berarti ‚utuh‛ atau lawan dari ‚pemilah-milahan dalam bagianbagian yang
bertentangan‛(Q.S Az-Zumar: 29). Makna salam dalam Q.S An-Nisa: 91 berarti

4
‚damai‛. Jadi, dalam Alquran kata Islam yang banyak digunakan dalam arti ‚damai‛,
‚aman‛ atau ‚ucapan salam‛. Kata kerja aslam artinya ‚ia menyerahkan dirinya‛,
‚memberikan dirinya‛ sebagaimana dalam ungkapan aslam wajhahu yang artinya ‚ia
menyerahkan dirinya‛ yang diikuti dengan kata li-allah ‚kepada Allah‛ . gagasan yang
dimaksud adalah seseorang yang memperoleh atau melindungi atau mengembangkan
keutuhan dirinya, integritasnya, dan lain-lain dengan menyerahkan dirinya pada
(Hukum) Tuhan. Kata al-Islam muncul enam kali dalam Alquran yang artinya
‚penyerahan‛ atau ‚penyerahan yang sesungguhnya‛. Islam dan muslim sering
diartikan sebagai ‚menyerah‛ atau ‚seseorang yang menyerahkan dirinya kepada
(Hukum) Tuhan‛, kedua terma tersebut juga dijadikan nama bagi pesan-pesan
keagamaan dalam Alquran dan bagi komunitas yang menerimanya. Islam integral
dengan Iman artinya suatu ‚penyerahan‛ diri terhadap Tuhan tidak mungkin tanpa
Iman (Q.S Ali Imran: 52, 84, Q.S Al-Maidah: 111).

Dalam Muhammad Abduh (2014: 84), menyebutkan bahwa ata Islam berasal
dari Bahasa Arab adalah bentuk masdar dari kata Yang . ‫ اسالما‬- ‫ اسلم – يسلم‬kerja secara
etimologi mengandung makna “Sejahtera, tidak cacat, selamat”. Seterusnya kata salm
dan silm, mengandung arti: Kedamaian, kepatuhan, dan penyerahan diri. Dari kata-
kata ini, dibentuk kata salam sebagai istilah dengan pengertian: Sejahtera, tidak
tercela, selamat, damai, patuhdan berserah diri. At-Tamimiy (2017: 9) menambahkan
bahwa dari uraian kata-kata di atas pengertian Islam dapat dirumuskan taat atau patuh
dan berserah diri kepada Allah. Pengertian Islam menurut istilah yaitu, sikap
penyerahan diri (kepasrahan, ketundukan, kepatuhan) seorang hamba kepada
Tuhannya dengan senantiasa melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya,
demi mencapai kedamaian dan keselamatan hidup, di dunia maupun di akhirat. Islam
sebagai agama, maka tidak dapat terlepas dari adanya unsur-unsur pembentuknya
yaitu berupa rukun Islam, yaitu:

1) Membaca dua kalimat Syahadat

2) Mendirikan shalat lima waktu

3) Menunaikan zakat

4) Puasa Ramadhan

5
5) Haji ke Baitullah jika mampu

c. Definisi Ihsan

Kata ihsan berasal dari Bahasa Arab dari kata kerja (fi`il) yaitu : ‫فعل الحسن‬
:artinya ‫( احس@@ن – يحس@@ن – احس@@ا ن‬Perbuatan baik). Para ulama menggolongkan Ihsan
menjadi 4 bagian yaitu:

1) Ihsan kepada Allah

2) Ihsan kepada diri sendiri

3) Ihsan kepada sesama manusia

4) Ihsan bagi sesama makhluk

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Ihsan memiliki satu rukun
yaitu engkau beribadah kepada Allah swt seakan-akan engkau melihat-Nya, jika
engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. Hal ini berdasarkan
hadits yang diriwayatkan dari Umar bin alKhaththab Radhiyallahu ‘anhu dalam kisah
jawaban Nabi saw kepada Jibri ketika ia bertanya tentang ihsan, maka Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah
engkau melihat-Nya, maka bila engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah
melihatmu.”

d. Korelasi Islam, iman dan ihsan

Alfiah dan Zalyana (2011: 84) memaparkan bahwa secara teori iman, Islam,
dan ihsan dapat dibedakan namun dari segi prakteknya tidak dapat dipisahkan. Satu
dan lainnya saling mengisi, iman menyangkut aspek keyakinan dalam hati yaitu
kepercayaan atau keyakinan, sedangkan Islam artinya keselamatan, kesentosaan,
patuh, dan tunduk dan ihsan artinya selalu berbuat baik karena merasa diperhatikan
oleh Allah. Selanjutnya Alfiah dan Zalyana (2011: 118) menjelaskan bahwa
beribadah agar mendapatkan perhatian dari sang Kha>liq, sehingga dapat diterima
olehnya. Tidak hanya asal menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya saja,
melainkan berusaha bagaimana amal perbuatan itu bisa bernilai plus dihadapan-Nya.
Sebagaimana yang telah disebutkan diatas kedudukan kita hanyalah sebagai hamba,

6
budak dari Tuhan, sebisa mungkin kita bekerja, menjalankan perintah-Nya untuk
mendapatkan perhatian dan ridho-Nya. Inilah hakikat dari ihsan.

7
BAB II
ISLAM DAN SAINS

Definisi Sains

Sains dalam pengertian umum yaitu ilmu pengetahuan. Di dalam Al- Qur'an
banyak sekali ayat-ayat yang menyentuh tengtang Ilmu pengetahuan dan ilmuan,
al-Qur’an sentiasa mengarahkan manusia untuk menggunakan akal fikirannya
memerangi kemukjizatan dan memberi motivasi meningkatkan ilmu pengetahuan.
Selain itu Al-Qur’an memberikan penghargaan yang tinggi terhadap ilmuan. Al-
Qur’an menyuruh manusia berusaha dan bekerja serta selalu berdo’a agar ditambah
ilmu pengetahuan. Sementara itu Rasulullah memberi pengakuan bahwa ilmuan itu
merupakan pewaris para nabi. Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa yang dimaksud
dengan ulama adalah ilmuan yang mengenali dan mentaati Allah.
Sains dalam pengertian khusus mempunyai peran penting dalam kehidupan
seorang muslim, ia disejajarkan dengan ilmu-ilmu keislaman yang lain, dan bila
diklasifikasikan maka sains ini termasuk fardu kifayah, karena dapat memberikan
dampak positif bagi peningkatan keimanan seseorang, hal ini dapat dilihat pada
beberapa hal berikut:

a. Memperteguh Keyakinan Terhadap Allah


Terbentuknya alam semesta ini dengan berbagai fenomenanya merupakan kunci
hidayah Allah, demikian dikatakan oleh Sayyid Qutb dalam kitab fi Zilal al-Qur’an.
Menurut Yusuf Qardhawi, hal tersebut merupakan kitab Allah yang terbentang
untuk manusia membaca kekuasaan dan kebesaran Nya. Sekalipun Tuhan
merupakan tema sentral dalam al-Qur’an, namun tidak pernah memberikan
gambaran figurative tentang penciptaan, namun hanya menyebut tanda-tandanya
saja. Keadaan seperti ini membawa implikasi bahwasanya untuk memahami sifat
Tuhan , seseorang perlu mengkaji dan menggenal semua aspek ciptaannya.
Seperti telah dijelaskan sains adalah pengkajian terhadap penomena alam
dengan mengunakan metode ilmiah, sains mempunyai korelasi dengan proses
pengenalan manusia terhadap sifat-sifat Tuhan. Setiap benda dan setiap penomena

8
alam menjadi bukti kewujudan dan kekuasaan Allah Sains mempunyai peran
memperteguh keyakinan manusia terhadap Allah. Sains telah membuktikan bahwa
jagad raya ini bersifat tertib, dinamis dan segala elemennya saling berkaitan dengan
cara yang rapi dan teratur. Penemuan seperti ini membuktikan kekuasaan Allah
sebagai Rab semesta alam.

b. Menyingkap Rahasia Tasyri’


Sebagian hikmah dan maslahah disebalik disyariatkannya suatu hukum didalam
Al-Qur’an dapat diungkapkan melalui sains. Sains dapat membuktikan bahwa
hukum yang telah ditetapkan oleh Al-Qur'an adalah mengenai realitas kehidupan
dan kondisi alam yang sebenarnya. Sebagai contoh dapat dilihat tentang hukum
khamar, Al-Qur’an mengharamkan karena memberi efek negatif terhadap sistem
dan organ tubuh manusia, dengan menggunakan sains, akan dapat dilihat lebih jelas
sejauh mana dampak negatif yang ditimbulkannya, sehingga pantas diharamkan.
Namun demikian perlu digaris bawahi, bahawa agama tidak boleh hanya
difahami melalui teori sains semata, sebab sikap sains ini tidak sama dengan sikap
ibadah , Tuhan tidak akan dapat dikenali dan agama tidak dapat dihayati hanya
dengan teori-teori sains belaka, namun jika sains dijadi pendukung untuk
memahami agama lebih dalam lagi, tentu akan dapat memberi kesan yang lebih
fositif lagi terhadap hukum-hukum agama serta lebih memberi keyakinan bagi
orang Islam untuk mengamalkannya.

c. Bukti Kemu’jizatan Al-Qur’an.


Untuk membuktikan kemu’jizatan Al-Qur’an, sains juga dianggap sebagai
sesuatu yang penting, sebab banyak perkara yang waktunya belum samapai telah
disebutkan dalam Al-Qur’an. Ketika Al-Qur’an turun, kondisi manusia untuk
memahami penomena alam yang disinyalis oleh Al-Qur’an belum lagi memadai,
hal ini dapat dilihat tentang asal usul kejadian manusia, seperti yang disinyalis
dalam surah al-An’am(6) ayat 2 yang menyatakan manusia berasal dari tanah.
Dalam kajian sains, bahwa yang dimaksud dengan tanah pada ayat tersebut
adalah tanah yang terdiri beberapa unsur tertentu. Menurut analisa kimia terdapat
105 unsur pada tanah yang semuanya ada pada diri manusia walaupun kadarnya

9
berbeda- beda, selain itu ada unsur-unsur kecil lainnya yang tidak dapat dideteksi.
Oleh sebab itu penemuan sains amat penting untuk menghayati maha bijaksananya
Allah.

d. Menyempurnakan Tanggung Jawab Peribadatan.


Dalam menjalani kehidupan manusuia butuh beberapa bantuan, pengetahuan
tentang sains merupakan salah satu yang dibutuhkan, begitu pula dalam hal
hubungannya dengan Allah sebagai tuhan semasta, pengetahuan tentang sains juga
dibutuhkan. Shalat sebagai ibadah yang wajib ditunaikan diperintahkan untuk
menghadap kiblat, Untuk menentukan arah kiblat diperlukan ilmu geografi dan
astronomi, begitu juga terhadap penetuan waktu-waktu menjalankan shalat serta
penentuan awal dan akhir bulan Ramadan. Dengan demikian sains diperlukan
dalam ibadah puasa ramadhan. Dalam masalah zakat pengetahuan tentang
matemateka tidak dapat dikesampingkan begitu saja, begitu juga dengan ibadah haji
, diperlukan arah penunjuk jalan serta transportasi yang dijadikan alat angkutan dari
berbagai penjuru dunia menuju kota Makkah, yang semua itu memerlukan sains.
Dengan menggunakan sains para dokter dapat mendeteksi dan selanjutnya
menggobati berbagai macam penyakit dan kesehatan akan dapat terjaga dengan
baik sehingga manusia akan dapat beribadah kepada tuhannya secara sempurna.64)
Dengan demikian dapatlah difahami bahwa sains merupakan salah satu sarana
penunjang untuk kesejahteraan kehidupan manusia serta penunjang kesempurnaan
ibadah seorang hamba terhadap tuhannya. Dari penjelasan-penjelasan diatas dapat
diketahui bahwa sains juga merupakan sesuatu yang urgensi untuk memenuhi
tuntutan agama. Didalam Al-Qur’an Allah menganjurkan orang-orang Islam untuk
mempersiapkan diri dengan kekuatan seoptimal mungkin, sama ada kekuatan
mental maupun matrial untuk mempertahankan diri dari ancaman musuh,
sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur’an ayat 60 surah Al- An’am. Kekuatan
material seperti peralatan perang adalam menuntut kepada kecanggihan dan
ketrampilan umat Islam dalam bidang sains dan teknologi. Alam semesta ini
diciptakan Allah untuk kepentingan dan kebutuhan hidup manusia sebagaimana
dijelaskan pada ayat 20 surah Lukman(Q.S.31:20). Dalan rangka mendapatkan
berbagai fasilitas diperlukan pengolahan terhadap sumber daya alam yang

10
dikurnikan oleh Allah, dan untuk memperoleh hasil yang maksimal tentunya
diperlukan berbagai ilmu pengetahuan, terutama ilmu pengatahuan tentang sains
dan teknologi 66) . Pemanfaatan sumber daya alam adalah sebagaian dari pada
aktivitas sains. Dalam kontek ini, menurut Muhammad Qutb, pada prinsipnya sains
adalah merupakan suatu cara melaksanakan tugas yang diamanahkan oleh Allah
kepada umat manusia.

 Pendekatan Al-Qur’an Terhadap Sains


Dalam kajian sains, Al-Qur’an telah memberikan dasar yang jelas, banyak ayat-
ayat Al-Qur’an yang menyentuh berbagai bidang dalam disiplin sains. Dalam buku
Quranic Sicences, Afzalu Rahman telah menyebutkan sebanyak 27 cabang ilmu sains
yang disentuh oleh Al-Qur’an. Diantaranya kosmologi, astronomi, astrologi, fisika,
kimia serta betani dan lain sebaginya. Hal ini menjadi bukti terhadap relevansi sains
dalam agama. Selain itu Al-Qur’an selalu menganjurkan manusia untuk mengasah
dan menggunakan nalar . Suatu hal yang perlu diingat bahwa Al-Qur’an bukanlah
kitab sains, maka cara pendekatannya tidak sama dengan cara sains moderen.
Pendekatan sains memisahkan sesuatu dari semua yang ada kemudian menganalisa
secara terperinci, sedangkan al-Qur’an berbicara tentang sains dalam bentuk holistic
dan global serta ditempatkan pada berbagai surah di antaranya ayat 44, 73, 242,
surah al-Baqarah, begitu pula ayat 118 surah Ali Imran, ayat 61 surah al-Nur dan
ayat 30 surah al-Mukminun. .Penekanan sains dalam al-Qur’an lebih dititik beratkan
pada penomena-penemena alam, objek utama pemaparan ayat-ayat seperti ini adalah
sebagai tanda keesaan dan kekuasaan Khalik, Bahkan, perbincangan tentang ayat-
ayat ini merupakan tema utama dalam al-Qur’an.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa terdapat kaitan yang kuat antara al-
Qur’an dengan penomena alam. Dalam konteks tersebut menurut Sayyid Husin al-
Nasr, kedua-duanya merupakan ayat Allah. Alam merupakan kitab yang terbentang
lebar (Al-Kitab al-Maftuh) yang tidak ditulis dan dibaca, diibaratkan sebuah teks,
alam bagaikan sehamparan bahan-bahan yang penuh dengan lambang-lambang
(ayat) yang mesti difahami menurut maknanya. al-Qur’an merupakan kitab yang
dibaca( al-Kitab al-Maqru’) yaitu teks dalam bentuk kata- kata yang dipahami oleh
manusia.

11
Ayat-ayat al-Qur’an yang ada kaitannya dengan sains, dapat diklassifikasikan
kepada dua ketegori. Yang pertama adalah ayat-ayat yang menjelaskan secara
umum , sama ada yang berhubungan dengan biologi, fisika,geografi atau astonomi
dalam lain sebagainya. Sedangkan yang kedua, adalah ayat-ayat yang menjelaskan
secara khusus dan terperinci, seperti tentang uraiannya mengenai masalah reproduksi
manusia.(Q.S. 23:12-14). Ayat-ayat tersebut secara umum menyentuh tentang
penomena alam semesta jadi. Seperti yang telah disebutkan bahwa pemaparan
fenomena-fenomena tersebut dilakukan oleh al-Qur’an bertujuan mengajak manusia
mengenal Penciptannya menerusi esensi yang wujud pada alam tersebut. Objek ini
lah yang menjadi titik perbedaan kajian sains sekuler dengan kajian sarjana muslim.
Sekularisme memandang dunia secara fisik dan mengabaikan metafisik secara
mendalam, padahal antara dunia fisik mempunyai kaitan yang erat dengan metafizik
dan penciptanya.
Dalam upaya mengajari manusia memahami dan mengenal kekuasan dan
keagungan Tuhannya, al-Qur’an telah menekankan akan arti pentingnya manusia
menggunakan akal fikiran serta panca indra. Bahkan al-Qur’an mengibaratkan
manusia yang tidak menggunakan fikiran dan panca indranya laksana binatang
ternak ,bahkan lebih jelek dari itu (Q.S:7:179). Oleh sebab itu manusia selalu
diingatkan untuk sentiasa membuat observasi, berfikir secara reflektif, membuat
penganalisaan yang kritis serta membuat pertimbangan yang matang. Secara umum
kajian sains menggunakan dua metode, yaitu observasi dan eksprimen dimana kedua-
duanya akan melibatkan fungsi akal dan panca indra

 Ayat Al-Quran tentang Sains dan Teknologi


1. Qs Al-Anbiya ayat 30 Tentang Penciptaan Alam Semesta

“dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi
itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara
keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah
mereka tiada juga beriman?”

2. Qs An-Nur ayat 43 Tentang Proses Terjadinya Hujan

12
“tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan
antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka
kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan
(butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti)
gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang
dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan
kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.”

3. Qs Ar-Rahman ayat 19-20 Tentang Mukjizat Dasar Laut

Ayat: 19. “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian
bertemu,”
Ayat: 20. “antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing
[1443].”

4. Qs Ath-Thalaaq  ayat 12 Tentang Lapisan Bumi

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. perintah Allah
Berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas
segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala
sesuatu.”
5 Qs Al-Mu'minuun ayat 12-14 Tentang Proses Penciptaan Manusia

Ayat: 12. “dan Sesungguhnya Kami t elah menciptakan manusia dari suatu saripati
(berasal) dari tanah.”
Ayat: 13. “kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam
tempat yang kokoh (rahim).”

13
Ayat: 14. ”kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal
darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan
tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian
Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah,
Pencipta yang paling baik.”

6. Qs Al-Qiyamaah ayat 3-4 Tentang Teknologi Sidik Jari

Ayat: 3. ”Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan


(kembali) tulang belulangnya?”
Ayat: 4. ”bukan demikian, sebenarnya Kami Kuasa menyusun (kembali) jari
jemarinya dengan sempurna.”

14
BAB III
ISLAM DAN PENEGAKAN HUKUM

A. Penegakan hukum dalam islam

Islam memberikan aturan untuk menjamin keberhasilan penegakan hukum


diantaranya adalah.

1. Semua penyelesaian harus bersumber dari Al-Quran dan Hadits

Allah telah menetapkan segala sesuatunya dengan sangat adil dan


menerangkannya dalam Al-quran dan hadits nabi sebagai pegangan manusia
untuk menjalankan setiap aspek kehidupan.

Dalam islam hukum Allah tidak akan berubah dan tidak boleh diubah. Khalifah
dan aparat negara hanya bertugas menjalankan hukum dan tidak ada kewenangan
untuk dapat merubah hukum tersebut. Mereka hanya diberi hak untuk melakukan
ijtihad serta menggali hukum syariat dari al-quran dan hadits.

2. Kesetaraan di mata hukum

Didalam islam semua orang memiliki kedudukan setara baik itu muslim maupun
non muslim, pria ataupun wanita. Tidak ada deskriminasi, kekebalan hukum, atau
hak istimewa. Siapapun yang melakukan tindakan kriminal dihukum sesuai
dengan jenis pelanggaran yang dilakukan.

‫ض ِعيفُ أَقَا ُموا َعلَ ْي ِه ا ْل َح َّد‬ َّ ‫ق ِفي ِه ُم ال‬ َ ‫ش ِريفُ تَ َر ُكوهُ َوإِ َذا‬
َ ‫س َر‬ َّ ‫ق فِي ِه ُم ال‬ َ ‫إِنَّ َما أَ ْهلَكَ الَّ ِذينَ قَ ْبلَ ُك ْم أَنَّ ُه ْم َكانُوا إِ َذا‬
َ ‫س َر‬
‫طعْتُ يَ َدهَا‬ َ َ‫س َرقَتْ لَق‬ ِ َ‫َوا ْي ُم هللاِ لَ ْو أَنَّ ف‬
َ ‫اط َمةَ بِ ْنتَ ُم َح َّم ٍد‬

Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah tatkala


ada orang yang terhormat mencuri, mereka biarkan; jika orang lemah yang
mencuri, mereka menegakkan had atas dirinya. Demi Zat Yang jiwaku berada
dalam genggaman-Nya, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri niscaya

15
akan aku potong tangannya (HR al-Bukhari).

3. Mekanisme pengadilan efektif dan efisien

- Keputusan hakim di majelis pengadilan bersifat mengikat dan tidak bisa dianulir
oleh keputusan pengadilan manapun. Keputusan hakim hanya bisa dianulir jika
keputusan tersebut menyalahi nas syariat atau bertentangam dengan fakta.
- Mekanisme pengadilan dalam majelis pengadilan mudah dan efisien. Jika seorang
pendakwa tidak memiliki cukup bukti atas sangkaannya, maka qadhi akan
meminta terdakwa untuk bersumpah. Jika terdakwa bersumpah maka ia
dibebaskan dari tuntutan dan dakwaan pendakwa. Namun, jika ia tidak mau
bersumpah maka terdakwa akan dihukum berdasarkan tuntutan dan dakwaan
pendakwa.
- Kasus-kasus yang sudah kadaluwarsa di petieskan, dan tidak di ungkit kembali.
Kecuali yang berkaitan dengan hak-hak harta.
- Ketentuan persaksian yang memudahkan qadhi memutuskan sengketa
- Dalam kasus ta’zir seorang qadhi diberi hak memutuskan berdasarkan ijtihadnya.

4. Hukum merupakan bagian integral dari keyakinan

Seorang muslim menyadari penuh bahwa ia wajib hidup sejalan dengan syariat.
Kesadraan ini mendorong setiap muslim untuk memahami hukum syariat
5. Lembaga pengadilan tidak tumpang tindih
6. Setiap keputusan hukum ditetapkan di majelis peradilan

Konstruksi Hukum Al‐Qur’an


Islam adalah agama Allah yang bersifat universal, untuk segala waktu dan
tempat. Ia diturunkan sebagai rahmat dan petunjuk bagi umat manusia dalam
kehidupan ini. Dalam perbuatan manusia yang bersifat praktis, petunjuk ini
berbentuk hukum‐hukum agama yang secara idiil merupakan perwujudan dari dasar
keimanan kepada Allah SWT. dan dasar‐dasar etika dalam masyarakat. Hukum

16
(Islam) adalah sekumpulan aturan keagamaan yang mengatur prilaku kehidupan
kaum Muslim dalam keseluruhan aspeknya, baik yang bersifat individual ataupun
kolektif.

Dalam Islam, terdapat sumber utama hukum Islam; yaitu Al‐ Qur’an. Al‐Qur’an,
sebagai sumber pertama dan utama hukum Islam, di samping mengandung hukum‐
hukum yang terinci dan menurut sifatnya tidak berkembang juga mengandung
hukum‐ hukum yang masih memerlukan penafsiran‐penafsiran dan mempunyai
potensi untuk berkembang. Memahami hukum pada dasarnya juga tidak sesederhana
yang dibayangkan. Dalam khazanah keislaman pemaknaan tentang hukum juga
sangat beragam berikut ini hanya dideskripsikan beberapa dari khazanah dimaksud.
Secara etimologi hukum berarti menolak60 . Kata hukum dan bentukan kata yang
dihasilkan tersebar pada 88 tempat dalam ayat‐ ayat Al‐Qur’an. Sedangkan secara
terminologis, menurut ulama’ ushul, hukum merupakan putusan Allah yang
berkaitan dengan perbuatan orang‐orang mukallaf berupa tuntutan (iqtidla’), pilihan
(takhyir) atau ketentuan‐ketentuan (al‐Wadh’i)

Ayat Al-Quran tentang penegakan hukum


Ayat alquran tentang perintah menegakkan hukum secara adil :

َ ‫اس أَ ْن تَحْ ُك ُموا بِ ْال َع@ ْد ِل إِ َّن هَّللا َ نِ ِع َّما يَ ِعظُ ُك ْم بِ@ ِه إِ َّن هَّللا‬ ِ ‫إِ َّن هَّللا َ يَأْ ُم ُر ُك ْم أَ ْن تُ َؤ ُّدوا اأْل َ َمانَا‬
ِ َّ‫ت إِلَى أَ ْهلِهَا َوإِ َذا َح َك ْمتُ ْم بَ ْينَ الن‬
ِ َ‫َكانَ َس ِميعًا ب‬
‫صيرًا‬
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menyampaikan amanat kepada yang
berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia
hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah sebaik-baik yang
memberi pengajaran kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha
Melihat. – (Q.S An-Nisa: 58)

‫@ربِينَ إِ ْن يَ ُك ْن َغنِيًّ@@ا أَوْ فَقِ@@يرًا‬


َ @‫يَا أَيُّهَا الَّ ِذينَ آ َمنُوا ُكونُوا قَوَّا ِمينَ بِ ْالقِ ْس ِط ُشهَدَا َء هَّلِل ِ َولَوْ َعلَى أَ ْنفُ ِس@ ُك ْم أَ ِو ْال َوالِ@ َد ْي ِن َواأْل َ ْق‬
‫ْرضُوا فَإ ِ َّن هَّللا َ َكانَ بِ َما تَ ْع َملُونَ خَ بِيرًا‬ ِ ‫فَاهَّلل ُ أَوْ لَى بِ ِه َما فَاَل تَتَّبِعُوا ْالهَ َوى أَ ْن تَ ْع ِدلُوا َوإِ ْن ت َْل ُووا أَوْ تُع‬
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu para penegak keadilan, menjadi
saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap kedua orangtua
dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah

17
lebih tahu kemaslahatan (untuk kebaikannya). Maka janganlah kamu mengikuti hawa
nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan
(kata-kata) atau enggan untuk menjadi saksi, maka ketahuilah bahwa Allah
Mahateliti terhadap segala sesuatu yang kamu kerjakan. – (Q.S An-Nisa: 135)

‫يَا أَيُّهَا الَّ ِذينَ آ َمنُوا ُكونُوا قَوَّا ِمينَ هَّلِل ِ ُشهَدَا َء بِ ْالقِ ْس ِط َواَل يَجْ ِر َمنَّ ُك ْم َشنَآنُ قَوْ ٍم َعلَى أَاَّل تَ ْع ِدلُوا ا ْع ِدلُوا ه َُو أَ ْق َربُ لِلتَّ ْق َوى‬
َ‫َواتَّقُوا هَّللا َ إِ َّن هَّللا َ َخبِي ٌر بِ َما تَ ْع َملُون‬
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu para penegak keadilan karena Allah,
(ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum
mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih
dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mahateliti
terhadap apa yang kamu kerjakan. – (Q.S Al-Maidah: 8)

‫ض@رُّ وكَ َش@ ْيئًا‬ ُ َ‫@رضْ َع ْنهُ ْم فَلَ ْن ي‬ ِ @‫@رضْ َع ْنهُ ْم َوإِ ْن تُ ْع‬ ِ @‫ك فَاحْ ُك ْم بَ ْينَهُ ْم أَوْ أَ ْع‬ ِ ْ‫ب أَ َّكالُونَ لِلسُّح‬
َ ‫ت فَإ ِ ْن َجا ُءو‬ ِ ‫َس َّما ُعونَ لِ ْل َك ِذ‬
َ‫َوإِ ْن َح َك ْمتَ فَاحْ ُك ْم بَ ْينَهُ ْم بِ ْالقِ ْس ِط إِ َّن هَّللا َ يُ ِحبُّ ْال ُم ْق ِس ِطين‬
Mereka sangat suka mendengar berita bohong, lagi banyak memakan (makanan)
yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (Muhammad untuk
meminta putusan), maka berilah putusan di antara mereka atau berpalinglah dari
mereka. Dan jika engkau berpaling dari mereka maka mereka tidak akan
membahayakanmu sedikit pun, tetapi jika engkau memutuskan (perkara mereka),
maka putuskanlah dengan adil. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
adil. – (Q.S Al-Maidah: 42)

‫َواَل تَ ْق َربُوا َما َل ْاليَتِ ِيم إِاَّل بِالَّتِي ِه َي أَحْ َسنُ َحتَّى يَ ْبلُ َغ أَ ُش َّدهُ َوأَوْ فُوا ْال َك ْي َل َو ْال ِمي َزانَ بِ ْالقِ ْس@ ِط اَل نُ َكلِّفُ نَ ْف ًس@ا إِاَّل ُو ْس@ َعهَا‬
َ‫َوإِ َذا قُ ْلتُ ْم فَا ْع ِدلُوا َولَوْ َكانَ َذا قُرْ بَى َوبِ َع ْه ِد هَّللا ِ أَوْ فُوا َذلِ ُك ْم َوصَّا ُك ْم بِ ِه لَ َعلَّ ُك ْم تَ َذ َّكرُون‬
Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih
bermanfaat, hingga dia mencapai (usia) dewasa. Dan sempurnakanlah takaran serta
timbangan dengan adil. Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut
kesanggupannya. Apabila kamu berbicara, bicaralah sejujurnya sekalipun dia
kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu
agar kamu ingat.” – (Q.S Al-An’am: 152)

18
ْ‫ْ@ر هَ@ل‬ ِ ْ‫ب هَّللا ُ َمثَاًل َر ُجلَ ْي ِن أَ َح@ ُدهُ َما أَ ْب َك ُم اَل يَ ْق@ ِد ُر َعلَى َش@ ْي ٍء َوهُ@ َو َك@ ٌّل َعلَى َم@وْ اَل هُ أَ ْينَ َم@@ا يُ َو ِّجهْ@هُ اَل يَ@أ‬
ٍ ‫ت بِخَ ي‬ َ ‫ض َر‬
َ ‫َو‬
‫اط ُم ْستَقِ ٍيم‬
ٍ ‫ص َر‬ ِ ‫يَ ْست َِوي هُ َو َو َم ْن يَأْ ُم ُر بِ ْال َع ْد ِل َوهُ َو َعلَى‬
Dan Allah (juga) membuat perumpamaan dua orang laki-laki, salah seorang dari
keduanya adalah seorang yang bisu, ia tidak dapat berbuat sesuatu dan dia menjadi
beban bagi penanggungnya, ke mana saja ia disuruh (oleh penanggungnya itu), ia
sama sekali tidak dapat mendatangkan suatu kebaikan. Samakah orang itu dengan
orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan ia berada di jalan yang lurus?. – (Q.S
An-Nahl: 76)

َ‫إِ َّن هَّللا َ يَأْ ُم ُر بِ ْال َع ْد ِل َواإْل ِ حْ َسا ِن َوإِيتَا ِء ِذي ْالقُرْ بَى َويَ ْنهَى َع ِن ْالفَحْ َشا ِء َو ْال ُم ْن َك ِر َو ْالبَ ْغ ِي يَ ِعظُ ُك ْم لَ َعلَّ ُك ْم تَ َذ َّكرُون‬
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan,
memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang dari perbuatan keji,
kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberimu pengajaran agar kamu dapat
mengambil pelajaran. – (Q.S An-Nahl: 90)

َ ‫َوإِ ْن عَاقَ ْبتُ ْم فَ َعاقِبُوا بِ ِم ْث ِل َما عُوقِ ْبتُ ْم بِ ِه َولَئِ ْن‬


َ‫صبَرْ تُ ْم لَه َُو خَ ْي ٌر لِلصَّابِ ِرين‬
Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang serupa dengan
siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah
yang lebih baik bagi orang-orang yang bersabar. – (Q.S An-Nahl: 126)

َ‫ك ع َْن َس@بِي ِل هَّللا ِ ِإ َّن الَّ ِذين‬ ِ ‫@ع ْالهَ@ َوى فَي‬
َ َّ‫ُض@ل‬ ِ @ِ‫ق َواَل تَتَّب‬
ْ @ِ‫اس ب‬
ِّ ‫@ال َح‬ ِ ْ‫ك خَ لِيفَ@ةً فِي اأْل َر‬
ِ َّ‫ض فَ@احْ ُك ْم بَ ْينَ الن‬ َ ‫يَا دَا ُوو ُد إِنَّا َج َع ْلنَا‬
ِ ‫يل هَّللا ِ لَهُ ْم َع َذابٌ َش ِدي ٌد بِ َما نَسُوا يَوْ َم ْال ِح َسا‬
‫ب‬ ِ ِ‫ضلُّونَ ع َْن َسب‬ ِ َ‫ي‬
(Allah berfirman), “Wahai Dawud, Sesungguhnya engkau Kami jadikan sebagai
khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia
secara adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu sehingga akan menyesatkan
engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan
mendapatkan azab yang berat disebabkan karena mereka melupakan hari
perhitungan.” – (Q.S Shad: 26)

ُ ْ‫ب َوأُ ِم@ر‬


‫ت أِل َ ْع@ ِد َل بَ ْينَ ُك ُم هَّللا ُ َربُّنَ@ا‬ ٍ ‫ت بِ َما أَ ْن@ َز َل هَّللا ُ ِم ْن ِكتَ@@ا‬ ُ ‫ع َوا ْستَقِ ْم َك َما أُ ِمرْ تَ َواَل تَتَّبِ ْع أَ ْه َوا َءهُ ْم َوقُلْ آ َم ْن‬ َ ِ‫فَلِ َذل‬
ُ ‫ك فَا ْد‬
‫صي ُر‬ ِ ‫َو َربُّ ُك ْم لَنَا أَ ْع َمالُنَا َولَ ُك ْم أَ ْع َمالُ ُك ْم اَل ُح َّجةَ بَ ْينَنَا َوبَ ْينَ ُك ُم هَّللا ُ يَجْ َم ُع بَ ْينَنَا َوإِلَ ْي ِه ْال َم‬
Karena itu, serulah (mereka untuk beriman) dan istiqamahlah sebagaimana

19
diperintahkan kepadamu (Muhammad) dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu
mereka dan katakanlah, “Aku beriman kepada Kitab yang diturunkan Allah dan aku
diperintahkan untuk berlaku adil di antara kamu. Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu.
Bagi kami amalan-amalan kami dan bagi kamu amalan-amalan kamu. Tidak (perlu)
ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan
kepada-Nyalah (kita) kembali.” – (Q.S As-Syura: 15)

َ‫ْط َواَل تُ ْخ ِسرُوا ْال ِميزَ ان‬


ِ ‫َوأَقِي ُموا ْال َو ْزنَ بِ ْالقِس‬
dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca
itu. – (Q.S Ar-Rahman: 9)

‫َاب َو ْال ِمي َزانَ لِيَقُو َم النَّاسُ بِ ْالقِ ْس ِط َوأَ ْن َز ْلنَا ْال َح ِدي َد فِي ِه بَأْسٌ َش@ ِدي ٌد َو َمنَ@افِ ُع‬
َ ‫ت َوأَ ْن َز ْلنَا َم َعهُ ُم ْال ِكت‬
ِ ‫لَقَ ْد أَرْ َس ْلنَا ُر ُسلَنَا بِ ْالبَيِّنَا‬
‫َزي ٌز‬ ِ ‫ص ُرهُ َو ُر ُسلَهُ بِ ْال َغ ْي‬
ِ ‫ب إِ َّن هَّللا َ قَ ِويٌّ ع‬ ُ ‫اس َولِيَ ْعلَ َم هَّللا ُ َم ْن يَ ْن‬
ِ َّ‫لِلن‬
Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan
kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat
berlaku adil. Dan Kami menciptakan besi yang memiliki kekuatan, hebat dan banyak
manfaat bagi manusia, dan agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-
Nya dan rasul-rasul-Nya walaupun (Allah) tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah
Maha Kuat lagi Maha Perkasa. – (Q.S Al-Hadid: 25)

20
BAB IV
KEWAJIBAN MENEGAKKAN AMAR MAKRUF DAN NAHI MUNKAR

Pengertian Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Secara Etimologis Pada hakikatnya Amar maruf nahi Munkar terdapat empat
penggalan kata yang apabila dipisahkan satu sama lain mengandung pengertian sebagai
berikut: ‫ امر‬: amar, ‫ معرف‬maruf, ‫ هي‬:nahi, dan ‫ منكر‬: Munkar. Manakala keempat kata
tersebut digabungkan, akan menjadi: ‫ امربا المنكر عن والنهي معروف‬yang artinya menyuruh
yang baik dan melarang yang buruk
Secara Terminologis Salman al-Audah mengemukakan bahwa Amar Ma’ruf
Nahi Munkar adalah segala sesuatu yang diketahui oleh hati dan jiwa tentran
kepadannya, segala sesuatu yang di cintai oleh Allah SWT. Sedangkan nahi munkar
adalah yang dibenci oleh jiwa, tidak disukai dan dikenalnya serta sesuatu yang dikenal
keburukannya secara syar’i dan akal.

Hukum Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Amar ma’ruf nahi mungkar adalah kewajiban bagi tiap-tiap muslim yang
memiliki kemampuan. Artinya, jika ada sebagian yang melakukannya, yang lainnya
terwakili. Dengan kata lain, hukumnya fardhu kifayah. Namun, boleh jadi, hukumnya
menjadi fardhu ‘ain bagi siapa yang mampu dan tidak ada lagi yang menegakkannya.

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu, dengarlah serta


taatlah dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa dijaga dirinya
dari kekikiran, mereka itulah orang yang beruntung.” (at-Taghabun: 16)

Kemampuan, kekuasaan, dan kewenangan adalah tiga hal yang terkait erat
dengan proses amar ma’ruf nahi mungkar. Yang memiliki kekuasaan tentu saja lebih
mampu dibanding yang lain sehingga kewajiban mereka tidak sama dengan yang
selainnya. Al-Qur’an telah menunjukkan bahwa amar ma’ruf nahi mungkar tidak wajib
bagi tiap-tiap individu (wajib ‘ain), namun secara hukum menjadi fardhu kifayah. Inilah

21
pendapat yang dipegangi mayoritas para ulama, seperti al-Imam al-Qurthubi, Abu Bakar
al-Jashash, Ibnul Arabi al-Maliki, Ibnu Taimiyah, dan lain-lain rahimahumullah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah
orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ِ ‫ك أَضْ َعفُ اإْل ِ ي َم‬


‫ان‬ َ ِ‫َم ْن َرأَى ِم ْن ُك ْم ُم ْن َكرًا فَ ْليُ َغيِّرْ هُ بِيَ ِد ِه فَإ ِ ْن لَ ْم يَ ْست َِط ْع فَبِلِ َسانِ ِه فَإ ِ ْن لَ ْم يَ ْستَ ِط ْع فَبِقَ ْلبِ ِه َو َذل‬
“Siapa di antara kalian yang melihat suatu kemungkaran, maka cegahlah dengan
tangannya. Jika belum mampu, cegahlah dengan lisannya. Jika belum mampu, dengan
hatinya, dan pencegahan dengan hati itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim no.
70 dan lain-lain)

Syarat dan Etika Beramar Ma’ruf Nahi Mungkar

Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan kita agar kita beribadah dan menjalankan
ketaatan kepada-Nya sebaik mungkin. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“(Dialah) yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu
yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (al-Mulk: 2)

Amar ma’ruf nahi mungkar adalah ibadah, ketaatan, dan amal saleh. Karena itu, harus
dilakukan dengan benar dan penuh keikhlasan agar menjadi amalan saleh yang diterima.
Al-Imam Fudhail Ibnu Iyadh rahimahullah mengemukakan bahwa suatu amalan
meskipun benar tidak akan diterima jika tidak ada keikhlasan, begitu pun sebaliknya.
Keikhlasan berarti semata-mata karena Allah subhanahu wa ta’ala, sedangkan
kebenaran berarti harus berada di atas sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

22
Dalil Al Qur’an

ِ ‫َو ْلتَ ُكن ِّمن ُك ْم أُ َّمةُُ يَ ْد ُعونَ إِلَى ْالخَ ي ِْر َويَأْ ُمرُونَ بِ ْال َم ْعر‬
َ ِ‫ُوف َويَ ْنهَوْ نَ ع َِن ْال ُمن َك ِر َوأُوْ الَئ‬
َ‫ك هُ ُم ْال ُم ْفلِحُون‬
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka adalah orang-
orang yang beruntung“.[Al-Imran/3:104].
Ibnu Katsir berkata dalam menafsirkan ayat ini,”Maksud dari ayat ini, hendaklah ada
sebagian umat ini yang menegakkan perkata ini”

ِ ‫اس تَأْ ُمرُونَ بِ ْال َم ْعر‬


ِ‫ُوف َوتَ ْنهَوْ نَ ع َِن ْال ُمن َك ِر َوتُ ْؤ ِمنُونَ بِاهلل‬ ْ ‫ُكنتُ ْم خَ ْي َر أُ َّم ٍة أُ ْخ ِر َج‬
ِ َّ‫ت لِلن‬
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada
yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah“. [Al-
Imran/3 :110].
Umar bin Khathab berkata ketika memahami ayat ini,”Wahai sekalian manusia, barang
siapa yang ingin termasuk umat tersebut, hendaklah menunaikan syarat Allah darinya

Dalil Sunnah Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

ِ ‫ك أَضْ َعفُ ا ِإلي َم‬


‫ان‬ َ ِ‫َم ْن َرأَى ِم ْن ُك ْم ُم ْن َكرًا فَ ْليُ َغيِّرْ هُ بِيَ ِد ِه فَإ ِ ْن لَ ْم يَ ْست َِط ْع فَبِلِ َسانِ ِه فَإ ِ ْن لَ ْم يَ ْستَ ِط ْع فَبِقَ ْلبِ ِه َو َذل‬
“Barang siapa yang melihat satu kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya, jika
tidak mampu maka dengan lisannya dan jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu
selemah-lemahnya iman“. [HR Muslim].

Sedangkan Ijma’ kaum muslimin

Telah dijelaskan oleh para ulama, diantaranya:


1. Ibnu Hazm Adz Dzahiriy, beliau berkata, “Seluruh umat telah bersepakat
mengenai kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar, tidak ada perselisihan diantara
mereka sedikitpun”
2. Abu Bakr al- Jashshash, beliau berkata,”Allah Subhanahu wa Ta’ala telah
menegaskan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar melalui beberapa ayat dalam
Al Qur’an, lalu dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits

23
yang mutawatir. Dan para salaf serta ahli fiqih Islam telah berkonsensus atas
kewajibannya”
3. An-Nawawi berkata,”telah banyak dalil-dalil Al Qur’an dan Sunnah serta Ijma
yang menunjukkan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar”
4. Asy-Syaukaniy berkata,”Amar ma’ruf nahi mungkar termasuk kewajiban, pokok
serta rukun syari’at terbesar dalam syariat. Dengannya sempurna aturan Islam
dan tegak kejayaannya”

Tahapan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Baginda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

ِ ‫ك أَضْ َعفُ اإْل ِ ْي َم‬


‫ان‬ َ ِ‫َم ْن َرأَى ِم ْن ُك ْم ُم ْن َكرًا فَ ْليُ َغيِّرْ هُ بِيَ ِّد ِه فَإ ِ ْن لَ ْم يَ ْستَ ِط ْع فَبِلِ َسانِ ِه َو َم ْن لَ ْم يَ ْستَ ِط ْع فَبِقَ ْلبِ ِه َو َذل‬
“Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia
menghilangkannya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan
lisannya. Orang yang tidak mampu dengan lisannya, maka dengan hatinya. Dan
dengan hati ini adalah lemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Maksud dari hadits ini adalah seseorang yang melihat kemunkaran dan ia
mampu menghilangkan dengan tangan, maka ia tidak boleh berhenti dengan
lisan jika kemungkaran tidak berhenti dengan lisan, dan orang yang mampu
dengan lisan, maka ia tidak boleh berhenti hanya dengan hati.

Imam Muhyiddin an-Nawawi berkata di dalam kitab Raudlatut Thâlibîn:


‫ وال تكفي كراهة القلب لمن قدر على النهي باللسان‬،‫وال يكفي الوعظ لمن أمكنه إزالته باليد‬
“Tidak cukup memberi nasihat bagi orang yang mampu menghilangkan
kemunkaran dengan tangan. Dan tidak cukup ingkar di dalam hati bagi orang
yang mampu mencegah kemunkaran dengan lisan.” (Muhyiddin Abu Zakariya
an-Nawawi, Raudlatut Thâlibîn, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2005, cetakan
kelima, jilid V, halamann 123).
Dalam proses amar ma’ruf nahi munkar, tetap harus mendahulukan
tindakan yang paling ringan sebelum bertindak yang lebih berat.

24
Syekh Abdul Hamid asy-Syarwani berkata di dalam kitabnya, Hasyiyah asy-
Syarwani:
‫ فإذا حصل التغيير ب@الكالم اللين فليس‬.‫والواجب على اآلمر والناهي أن يأمر وينهى باألخف ثم األخف‬
‫له التكلم بالكالم الخشن وهكذا كما قاله العلماء‬
“Wajib bagi orang yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar untuk bertindak
yang paling ringan dulu kemudian yang agak berat. Sehingga, ketika
kemungkaran sudah bisa hilang dengan ucapan yang halus, maka tidak boleh
dengan ucapan yang kasar. Dan begitu seterusnya).” (Syekh Abdul Hamid asy-
Syarwani, Hasyiyah asy-Syarwani ala Tuhfahtil Muhtaj, Beirut, Dar al-Kutub al-
Ilmiyah, 2003 cetakan keempat, jilid 7, halaman 217)
Dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar, seseorang harus lebih arif
dan bijak karena terkadang dalam menghasilkan tujuan amar ma’ruf nahi
mungkar, seseorang harus menghilangkannya sedikit demi sedikit, tidak
memaksakan harus hilang seluruhnya dalam waktu seketika itu.

Sayyid Abdullah ibn Husain ibn Tohir berkata:


‫ينبغي لمن أمر بمعروف أو نهى عن منكر أن يكون برفق وشفقة على الخلق يأخذهم بالتدريج ف@إذا رآهم‬
‫تاركين ألشياء من الواجبات فلي@@أمرهم ب@@األهم ثم األهم ف@@إذا فعل@@وا م@@ا أم@@رهم ب@@ه انتق@@ل إلى غ@@يره وأم@@رهم‬
‫وخوفهم برفق وشفقة مع عدم النظ@@ر من@@ه لم@@دحهم وذمهم وعط@اءهم ومنعهم وإال وقعت المداهن@@ة وك@@ذا إذا‬
‫ارتكبوا منهيات كثيرة ولم ينتهوا بنهيه عنها كلها فليكلمهم في بعضها حتى ينتهوا ثم يتكلم في بعضها ح@@تى‬
‫ينتهوا ثم يتكلم في غيرها وهكذا‬.
“Bagi orang yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar harus bersikap lembut
dan belas kasih kepada manusia, ia harus bertindak pada mereka dengan
bertahap. Ketika ia melihat mereka meninggalkan beberapa kewajiban, maka
hendaknya ia memerintahkan pada mereka dengan perkara wajib yang paling
penting kemudian perkara yang agak penting. Kemudian ketika mereka telah
melaksanakan apa yang ia perintahkan, maka ia berpindah pada perkara wajib
lainnya. Hendaknya ia memerintahkan pada mereka dan menakut-nakuti mereka
dengan lembut dan belas kasih begitu juga ketika mereka melakukan larangan-
larangan agama yang banyak dan mereka tidak bisa meninggalkan semuanya,
maka hendaknya ia berbicara kepada mereka di dalam sebagiannya saja hingga
mereka menghentikannya kemudian baru berbicara sebagian yang lain, begitu

25
seterusnya.” (al-Habib Zain bin Sumith, al-Minhaj as-Sawi, Jeddah, Dar al-
Minhaj, 2006 cetakan ketiga, halaman 316-317)

26
BAB V
FITNAH AKHIR ZAMAN

Fitnah dalam bahasa Arab bisa berarti ujian keimanan, fitnah atau huru hara atau
menuduh tanpa bukti.
Allah Ta'ala berfirman: "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan
dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah Beriman' dan mereka tidak diuji?' (QS
Al-Ankabut: 2)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
ْ ‫بَا ِدرُوا بِاأْل َ ْع َما ِل فِتَنًا َكقِطَع اللَّ ْي ِل ْال ُم‬
ُ‫ يَبِي ُع ِدينَه‬،‫ أَوْ يُ ْم ِسي ُم ْؤ ِمنًا َويُصْ بِ ُح َكافِرًا‬،‫ يُصْ بِ ُح ال َّر ُج ُل ُم ْؤ ِمنًا َويُ ْم ِسي َكافِرًا‬،‫ظلِ ِم‬ ِ
‫ض ِمنَ ال ُّد ْنيَا‬
ٍ ‫بِ َع َر‬
“Bersegeralah beramal sebelum munculnya fitnah yang datang bagaikan potongan-
potongan malam yang gelap, seseorang di pagi harinya beriman dan di sorenya telah
menjadi kafir, atau sorenya masih beriman dan pagi harinya telah menjadi kafir,
menjual agamanya dengan gemerlap dunia.” (HR. Muslim)

Dalam hadis lainnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


‫ف لَهَ@@ا‬ ْ ‫اعي َو َم ْن ي ُْش@ ِر‬ ِ @‫الس‬َّ ‫َستَ ُكونُ فِت ٌَن ْالقَا ِع ُد فِيهَا َخ ْي ٌر ِم ْن ْالقَائِ ِم َو ْالقَائِ ُم فِيهَا َخ ْي ٌر ِم ْن ْال َما ِشي َو ْال َما ِشي فِيهَ@@ا خَ ْي@ ٌر ِم ْن‬
‫تَ ْستَ ْش ِر ْفهُ َو َم ْن َو َج َد َم ْل َجأ ً أَوْ َم َعا ًذا فَ ْليَع ُْذ بِ ِه‬.
“Akan terjadi berbagai fitnah, maka seorang yang duduk dalam perkara itu (tidak ikut)
lebih baik dari orang yang berdiri, dan yang berdiri lebih baik dari yang berjalan
menyongsongnya, dan yang berjalan masih lebih baik dari yang berlari padanya,
barangsiapa yang larut padanya akan terjebak, maka barangsiapa yang dapat
menghindar melarikan diri darinya hendaklah dia lakukan.” (HR. Al-Bukhari)

Ini merupakan zaman di mana Allah subhanahu wata’ala menguji orang-orang


beriman. Siapa di antara mereka yang terseret arus besar fitnah akhir zaman, dan siapa
di antara mereka yang mampu teguh dan sabar.

Dari Abu Tsa’labah al-Khusyani, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


‫ْض َعلَى ْال َج ْم ِر لِ ْل َعا ِم ِل فِي ِه ْم ِم ْث ُل أَجْ ِر خَ ْم ِسينَ َر ُجاًل يَ ْع َملُونَ ِم ْث َل َع َملِ ِه‬
ٍ ‫ص ْب ُر فِي ِه ِم ْث ُل قَب‬ َّ ‫فَإ ِ َّن ِم ْن َو َرائِ ُك ْم أَيَّا َم ال‬.
َّ ‫صب ِْر ال‬
‫ أَجْ ُر خَ ْم ِسينَ ِم ْن ُك ْم‬:‫ُول هَّللا ِ أَجْ ُر خَ ْم ِسينَ ِم ْنهُ ْم؟ قَا َل‬
َ ‫ يَا َرس‬:‫قَا َل‬

27
“Sesungguhnya setelah kalian akan datang hari-hari kesabaran, orang yang sabar pada
hari itu bagaikan orang yang menggenggam bara, orang yang beramal tatkala itu
memperoleh pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalannya,”

Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, lima puluh orang di antara mereka?”


Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Tidak, tapi lima puluh dari kalangan
kalian.” (HR. Abu Dawud No. 3778; HR. At-Tirmizi No. 2984; dan HR. Ibnu Majah
No. 4004)

Menurut Ibnu Arabi, pengertian fitnah adalah:


‫اآلرا ِء‬
َ ِ‫اس ب‬ ْ ُ‫ َوالفِ ْتنَة‬،ُ‫ َوالفِ ْتنَةُ ال ُك ْفر‬،ُ‫ َوالفِ ْتنَةُ األَوْ الَد‬،ُ‫ َوالفِ ْتنَةُ ال َمال‬،ُ‫ َوالفِ ْتنَةُ ال ِمحْ نَة‬،ُ‫الفِ ْتنَةُ ا ِإل ْختِبَار‬
ِ َّ‫اختِالَفُ الن‬
“Fitnah bermakna ujian, fitnah bermakna cobaan, fitnah bermakna harta, fitnah
bermakna anak-anak, fitnah bermakna kekafiran, fitnah bermakna perselisihan pendapat
di antara manusia.” (Linasul Arab, Ibnu Mandzur al-Ifriqi, 13/317)

Bahkan, banyaknya pembunuhan dan kematian juga termasuk fitnah akhir zaman.
Sebagaimana Nabi pernah bersabda :
‫َي السَّا َع ِة أَل َيَّا ًما يَ ْن ِز ُل فِيهَا ْال َج ْه ُل َويُرْ فَ ُع فِيهَا ْال ِع ْل ُم َويَ ْكثُ ُر فِيهَا ْالهَرْ ُج َو ْالهَرْ ُج ْالقَ ْت ُل‬
ِ ‫إِ َّن بَ ْينَ يَد‬.
“Menjelang datangnya hari Kiamat ada hari-hari dimana kebodohan diturunkan, ilmu
diangkat, dan banyak terjadi Al-Harj. Al-Harj itu adalah pembunuhan.” (HR. Al-
Bukhari)

Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa salah satu tanda akhir zaman adalah
banyaknya kematian yang terjadi secara mendadak.

Rasulullah bersabda,
،‫ لِلَ ْيلَتَي ِْن‬:ُ‫ فَيُقَال‬،‫ب السَّا َع ِة أَ ْن يُ َرى ْال ِهال ُل قِبَال‬
ِ ‫ ِم ِن ا ْقتِ َرا‬:‫ قَا َل‬،‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم‬
َ ‫ َرفَ َعهُ إِلَى النَّبِ ِّي‬،‫ك‬ ِ ‫ع َْن أَن‬
ٍ ِ‫َس ْب ِن َمال‬
‫ت ْالفُ َجا َء ِة‬ ْ َ‫ َوأَ ْن ي‬،‫َوأَ ْن تُتَّخَ َذ ْال َم َسا ِج َد طُ ُرقًا‬
ُ ْ‫ظهَ َر َمو‬
Dari Anas bin Malik, dia meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Di antara dekatnya hari kiamat, hilal akan
terlihat nyata sehingga dikatakan ‘ini tanggal dua’, masjid-masjid akan dijadikan jalan-
jalan, dan munculnya (banyaknya) kematian mendadak.” (HR. Thabrani)

28
Salah satu fenomena akhir zaman, orang yang berkata jujur didustakan, para
pendusta dibenarkan. Para pengkhianat suatu kaum, suatu bangsa menjadi pemimpin
suatu bangsa.
Rasulullah SAW bersabda: "Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh
dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah
didustakan. Pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap
sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara. Ada yang bertanya, "Apa
yang dimaksud Ruwaibidhah?". Beliau menjawab, 'Orang bodoh yang turut campur
dalam urusan masyarakat luas." (HR. Ibnu Majah)

Menjelang Akhir Zaman


1. Ilmu diangkat dari muka bumi.
2. Turun kejahilan di mana-mana.
3. Munculnya suatu kelompok yang merasa paling baik.
4. Umat akhir zaman akan hancur di tangan ulama-ulama yang menjual agama untuk
kepentingannya.

Cara Menjaga Diri dan Keluarga dari Fitnah Akhir Zaman:


1. Bentengi dengan aqidah dan Tauhid yang Benar. Syaratnya yaitu kembalikan semua
hal kepada Alqur'an dan Hadits.
2. Ikhlas kepada Allah Ta'ala dalam semua Amal.
3. Meninggalkan riya dan kemunafikan.

Tidak boleh taqlid, yaitu hanya mengikuti kebiasaan pendahulu tanpa dasar yang
benar. Allah Ta'ala berfirman:
"Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Marilah (mengikuti) apa yang diturunkan
Allah dan (mengikuti) Rasul." Mereka menjawab, "Cukuplah bagi kami apa yang kami
dapati nenek moyang kami (mengerjakannya)." Apakah (mereka akan mengikuti) juga
nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa
dan tidak (pula) mendapat petunjuk?" (QS Al-Maidah : 104)

29
DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Zainal. Rethinking Islam dan Iman. Banjarmasin: IAIN Antasari Pres.

Quddus, Abdul.2007.islam multi dimensi mengungkap trilogi ajaran islam.pantheon


Media Pressindo.Mataram.hal 33

Anugrah,Ruri.2019. ISLAM, IMAN DAN IHSAN DALAM KITAB MATAN ARBA‘IN


ANNAWAWI (STUDI MATERI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM
PERSPEKTIF HADIS NABI SAW). Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam.Volume 9.
No 2.

Abdul, 2012. Hadis Tarbawi, Jakarta: Prenadamedia Group.

Saleh, Abdullah.2010.Teori-Teori Pendidikan berdasarkan Al-Qur’an. Jakarta:


Kalam Mulia.

Qadir, Yazid.2019. Syarah Hadits Jibril Tentang Islam, Iman Dan


Ihsan.https://almanhaj.or.id/12078-syarah-hadits-jibril-tentang-islam-iman-dan-ihsan-
3.html (10 desember 2020)

Lihat Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari bin Syarh al-Kirmani Kitab al-Ilm, Dar Ihya. Al-
Turats al-Arabi, juz 2, cet. 2 hal 30

Sayyid Qutb, (1986) Fi Zilal al-Qur’an, Dar al-Syuruq, Beirut, jld.1, cet 12, hal 21

Yusuf Qardawi, (1986) al-Iman wa al-Hayat, Kaherah, hal 166

Muhajir Ali Musa (1976) Lessons From The History of The Quran, Lahore:
Muhammad Asyraf, hal 2

Muhammad Qutb, The concept of Islamic Education. Proceedings Second World


Confrerence Muslim Education, Islamabad, jl 2, hal 73

Afzalu Rahman (1981), Quranic sciences. Pustaka Nasional, Singapura, hal 15

Sayyid Husein Nasr, Scince and Civilization, Op-cit, hal 4

Syamsuddin, Penegakan hukum dalam perspektif islam ( Blogs :Ervan arvian)

30
Basweidan, Sufyan, Jadikan Manhaj Salaf Sebagai Rujukan ( Blogs : muslim.or.id)

Ilyas Supena dan M. Fauzi. Dekonstruksi dan Rekonstruksi Hukum Islam.


Yogyakarta: Gama Media, 2002.
Fathurrohim.2020. Kumpulan Ayat-Ayat Alquran Tentang Keadilan dalam
Menegakkan Hukum.https://mutiaraislam.net/ayat-alquran-tentang-hukum-secara-
adil(10 desember 2020)
Khairul Umam, A Ahyar Aminuddin, Usul Fiqih II, (Bandung: Pustaka Setia, 1998)
97
Salman Bin Fahd al-Audah, Urgensi Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Penj. Ummu
‘udhma’ azmi, (Solo: Pustaka Mantiq), 13
Syamhudi, Kholid.2019. Hukum Amar Ma'ruf Nahi
Mungkar.https://almanhaj.or.id/7735-hukum-amar-maruf-nahi-mungkar.html9.
(10desember 2010)
Sibromulisi.2018.Memahami Amar Ma’ruf Nahi Munkar secara
Benar.https://islam.nu.or.id/post/read/84166/memahami-amar-maruf-nahi-munkar-
secara-benar (10 desember 2020)
Siregar, rusman.2019.Cara Menjaga Diri dan Keluarga dari Fitnah Akhir
Zaman.https://kalam.sindonews.com/berita/1457803/69/cara-menjaga-diri-dan-
keluarga-dari-fitnah-akhir-zaman?showpage=all (10 desember 2010)
Hantoro, Abdul.2020. Bekal Menghadapi Fitnah Akhir
Zaman..https://kate.id/2020/08/07/bekal-menghadapi-fitnah-akhir-zaman (10
desember 2020)

31
LAMPIRAN

Surat Ad Dukhan Ayat 10-11

Allah Ta’ala berfirman:

‫م‬pٌ ‫اب أَلِي‬


pٌ ‫ َع َذ‬p‫اس َه َذا‬ َّ ‫ارتَقِ ْب يَ ْو َم تَأْتِي ال‬
َ َّ ‫س َما ُء بِد َُخا ٍن ُمبِي ٍن يَ ْغشَى الن‬ ْ َ‫ف‬

“Maka tunggulah hari ketika langit membawa dukhan (kabut) yang nyata. yang


meliputi manusia. Inilah azab yang pedih” (QS. Ad Dukhan ayat 10 – 11).

Al imam Al Qurthubi dalam Tafsir-nya menjelaskan tentang makna ad dukhan dalam


ayat ini:

@‫ وفي الدخان أقوال ثالثة‬:


@‫@ علي وابن عباس وابن@ عمرو وأبو‬: @‫@ وممن@ قال إن الدخان لم يأت بعد‬.‫@ أنه من أشراط الساعة لم يجيء بعد‬: ‫األول‬
@‫هريرة وزيد@ بن علي والحسن وابن أبي مليكة‬
‫ حتى كان@ الرجل يرى‬. ‫@ أن الدخان هو ما أصاب قريشا من@ الجوع بدعاء النبي صلى هللا عليه وسلم‬: ‫القول الثاني‬
@‫قاله ابن مسعود‬. ‫بين@ السماء واألرض دخانا‬
‫ إنه يوم فتح@ مكة لما حجبت السماء الغبرة ;@ قاله عبد@ الرحمن األعرج‬: ‫القول الثالث‬

“Makna ad dukhan ada 3 pendapat:

Pertama, ad dukhan adalah salah satu tanda hari kiamat yang belum terjadi. Diantara
yang berpendapat demikian adalah Ali, Ibnu Abbas, Ibnu ‘Amr, Abu Hurairah, Zaid
bin Ali, Al Hasan dan Ibnu Abi Mulaikah.

Kedua, ad dukhan adalah khayalan yang menimpa kaum Quraisy ketika mereka
mengalami kelaparan ekstrim atas doa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Sehingga
orang-orang ketika itu seperti melihat dukhan (asap) di antara langit dan bumi. Ini
adalah pendapat Ibnu Mas’ud.

Ketiga, ad dukhan adalah debu yang mengepul di hari Fathu Makkah, sehingga
menutupi langit. Ini adalah pendapat Abdurrahman Al A’raj”

Tanda Akhir Zaman yang Belum Terjadi

Tafsiran pertama adalah tafsiran yang lebih rajih, dirajihkan oleh al Imam Ibnu
Katsir rahimahullah.

Ayat di atas menunjukkan akan adanya ad dukhan sebagai salah satu tanda hari
kiamat. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Hudzaifah bin Usaid
radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

‫ب‬
ِ ‫ف في َج ِزي@ َر ِة ال َع@ َر‬ ٌ @‫ َو َخ ْس‬،‫ب‬ ِ ‫ف ب@@ال َم ْغ ِر‬ٌ @‫@ َو َخ ْس‬،‫ق‬ ِ ‫ف بال َم ْش@ ِر‬ ٌ @‫ َخ ْس‬:‫ت‬ ٍ ‫َش@ ُر آيَ@ا‬ ْ ‫إن السَّا َعةَ ال تَ ُك@@ونُ حت َّى تَ ُك@@ونَ ع‬ َّ
‫@ َونَ@ا ٌر ت َْخ@ ُر ُج ِمن@ قُ ْع@ َر ِة َع@ َد ٍ@ن‬،‫س ِمن َم ْغ ِربِهَ@@ا‬ ‫م‬ْ @ َّ
‫الش‬ ُ
‫ع‬ ‫و‬ ُ ‫ل‬ ُ ‫ط‬ ‫و‬
َ ، ‫ج‬
ُ ‫ُو‬‫ج‬ ْ ‫أ‬ ‫م‬ ‫و‬
َ َ ‫ج‬
ُ ‫و‬ ‫ج‬ُ ْ ‫أ‬َ ‫ي‬ ‫و‬
َ ِ، ‫ض‬ ْ‫األر‬ ُ
@ ‫ة‬َّ ‫ب‬ ‫َا‬
‫د‬ ‫و‬
َ @
، ‫ل‬
ُ ‫ا‬ َّ
‫ج‬ َّ
‫د‬ ‫ال‬ ‫و‬
َ ُ‫ان‬ َ
‫خ‬ ُّ
‫د‬ ‫ال‬ ‫َو‬
ِ
‫اس‬ َّ
َ ‫تَرْ َح ُل الن‬

32
“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian melihat sepuluh tanda: bencana
penenggelaman manusia ke tanah di negeri barat, negeri timur dan di jazirah Arab,
terjadi ad dukhan, munculnya dajjal, munculnya dabbah, munculnya Ya’juj dan
Ma’juj, terbitnya matahari dari barat, munculnya api yang keluar cekungan Aden yang
mengusir manusia” (HR. Muslim no.2901).

Bentuk dan Sifat Ad Dukhan

Ad dukhan bentuknya berupa asap yang jika mengenai orang Muslim maka mereka
merasakan seperti pilek, sedangkan jika mengenai orang kafir akan keluar cairan dari
kuping mereka dan merasakan kesakitan yang luar biasa.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi


Wasallam bersabda:

ُّ ‫@ فَيَأْ ُخ ُ@ذ بأ َ ْنفَا ِس ِه ْم حت َّى يَأْ ُخ َذهُ ْم منه@ َكهَ ْيئَ ِ@ة‬،‫ان‬
‫الز َك ِام‬ َ َّ ‫يَأْتي الن‬
ٌ ‫اس يَو َم القِيَا َم ِ@ة ُد َخ‬

“Akan datang dukhan (asap) kepada manusia di hari kiamat, yang memasuki
pernapasan mereka, sehingga mereka akan merasakan seperti pilek” (HR. Muslim
no.2798).

Dari Abu Malik Al Asy’ari radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi


Wasallam bersabda:

@، ُ‫ ويأخ@ ُ@ذ الك@اف ُر فينتف ُ@خ حتَّى يخ@ ُر َج من@ ك@ ِّل َم ْس@ َم ٍع من@ه‬، ‫@ ال@دُّخانُ يأخ@ ُذ الم@@ؤ ِمنُ كال ُّز ْك َم@ ِ@ة‬: ‫إن رب َّكم أنذ ُركم ثالثًا‬
َّ
َّ ُ َّ ُ ُ َّ
‫ والث الثة الدجَّا ُل‬، @‫والث انية@ الدابَّة‬

“Sesungguhnya Rabb kalian memperingatkan kalian dari tiga hal: asap yang jika
mengenai orang Muslim maka mereka merasakan seperti pilek, sedangkan jika
mengenai orang kafir maka mereka akan sesak nafas dan keluar cairan dari kuping
mereka, kemudian yang kedua munculnya dabbah dan yang ketiga munculnya
dajjal” (HR. Thabrani, dihasankan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya, 7/235).

Dalam riwayat dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu:

ُ
‫الموت‬ َّ ‫ وأ َّم ا الكاف ُر فيتغ‬، ‫ فآ َّما المؤمنُ فه َ@و علي ِ@ه كال َّز ْك َم ِ@ة‬، ‫العرق‬
ُ ‫ش اه‬ ِ ُ ‫فال َخل‬
‫ق ُملجَّمونَ في‬

“Manusia akan berkumpul di Irak. Adapun orang Mukmin, mereka akan merasakan
seperti pilek. Sedangkan orang kafir mereka akan tertutupi kematian”  (HR. Ibnu
Wazir dalam Al ‘Awashim wal Qawashim, dishahihkan Al Albani dalam Shahih
At Targhib no. 3639).

Surat Ad Dukhan Ayat 12

Allah Ta’ala berfirman:

َ ‫شفْ َعنَّا ا ْل َع َذ‬


َ‫اب إِنَّا ُمؤْ ِمنُون‬ ِ ‫َربَّنَا ا ْك‬

33
“(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, lenyapkanlah dari kami azab itu.
Sesungguhnya kami akan beriman” (QS. Ad Dukhan: 12)

Al Qurthubi rahimahullah menjelaskan:

. ‫ ثم نقضوا هذا القول‬, ‫@ إن كشف هللا عنا هذا@ العذاب@ أسلمنا‬: ‫ إن قريشا أتوا النبي صلى هللا عليه@ وسلم وقالوا‬: ‫قيل‬
‫@ الجوع‬: ‫ وقيل‬. ‫@ ” العذاب ” هنا الدخان‬: ‫قال قتادة‬

“Sebagian ulama mengatakan, maksud ayat ini, kaum Quraisy datang kepada
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam kemudian mengatakan: jika Allah lenyapkan adzab
ini, kami akan masuk Islam. Kemudian ternyata mereka melanggar janji mereka.
Qatadah mengatakan bahwa adzab yang dimaksud dalam ayat ini adalah ad dukhan.
Sebagian ulama mengatakan, maknanya adalah musibah kelaparan” (Tafsir Al
Qurthubi).

Jangan Berlambat-Lambat untuk Bertaubat

Hendaknya kita tidak berlambat-lambat dalam menerima kebenaran dan melakukan


ketaatan. Jangan sampai kita baru tersadar untuk menerimanya ketika di masa sulit
atau bahkan ketika hampir terlambat. Jangan seperti orang kafir yang baru ingin
beriman ketika sudah diuji dengan ad dukhan berupa kelaparan, atau ketika hampir
terlambat yaitu ketika datangnya dukhan berupa asap di hari kiamat. Dari Abu Sa’id
Al Khudri radhiallahu’anhu, ia berkata:

، ‫ َو ْليَ@@أْتَ َّم بِ ُك ْم َم ْن بَ ْع@ َد ُك ْ@م‬، ‫ ( تَقَ @ َّد ُموا@ َوأْتَ ُّموا@ بِي‬: ‫صلَّى هَّللا ُ@ َعلَ ْي ِه َو َسل َّ َم فِي أَصْ َحابِ ِه تَأ َ ُّخ ًرا فَقَا َل لَهُ ْم‬
َ ِ ‫َرأَى َرسُو َل هَّللا‬
َ
) @‫اَل يَ َزا ُل قَوْ ٌم يَتَأ َّخ ُرونَ َحتَّى يؤخرهم هللا‬

“Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam melihat sebagian sahabatnya berlambat-


lambat untuk shalat. Lalu beliau bersabda: ‘Bersegeralah kalian untuk shalat dan
sempurnakanlah shalat bersamaku (jangan masbuk). Sehingga orang-orang yang
datang setelah kalian juga bisa menyempurnakan shalatnya. Orang yang senantiasa
berlambat-lambat untyk shalat sungguh Allah akan akhirkan ia (masuk surga)‘”  (HR.
Muslim, no. 438).

Hadits ini menunjukkan fatalnya konsekuensi yang diterima oleh orang yang
berlambat-lambat melakukan kebaikan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al
Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Ungkapan ini merupakan ancaman dari
Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam. Bukan hanya pada amalan ini saja, namun juga pada
semua amalan shalih. Karena seseorang itu jika dalam hatinya tidak ada kecintaan
untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, ia akan terus berada dalam kemalasan. Oleh
karena itu hendaknya seseorang ketika terbuka peluang untuk melakukan ibadah maka
hendaknya bersegera melakukannya. Sehingga jiwa tidak dihinggapi rasa malas.
Sehingga ia tidak menjadi orang yang diakhirkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla”. (Asy
Syarhul Mumthi’, 5/90).

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

34
ْ ‫بَا ِد ُروا باأل ْع َما ِل فِتَنًا َكقِطَع الل َّ ْي ِل ال ُم‬
‫@ يَبِي ُ@ع‬،‫ أَوْ يُ ْم ِسي ُم ْؤ ِمنًا َويُصْ بِ ُح َكافِرًا‬،‫ يُصْ بِ ُح ال َّر ُج ُل ُم ْؤ ِمنًا َويُ ْم ِسي َكافِ ًرا‬،‫ظلِ ِم‬ ِ
@‫ض ِمنَ ال ُّد ْنيَا‬
ٍ ‫ر‬
َ ‫ع‬
َ ‫ب‬ @
ُ ‫ه‬ َ ‫ن‬ ‫ي‬ ‫د‬
ِ

“Bersegeralah untuk beramal (shalih) sebelum datangnya fitnah yang samar seperti
potongan malam gelap. Sehingga seseorang di pagi hari masih beriman dan sore hari
sudah kafir. Di sore hari masih beriman namun di pagi hari sudah kafir. Ia menjual
agamanya demi mendapatkan harta dunia“ (HR. Muslim no.118).

Surat Ad Dukhan Ayat 13-14

Allah Ta’ala berfirman:

ٌ‫م َم ْجنُون‬pٌ َّ ‫ َع ْنهُ َوقَالُوا ُم َعل‬p‫ل ُمبِينٌ ثُ َّم تَ َول َّ ْوا‬pٌ ‫سو‬ ِّ ‫م‬pُ ُ‫أَنَّى لَه‬
ُ ‫ َوقَ ْد َجا َءهُ ْم َر‬p‫الذ ْك َرى‬

“Bagaimanakah mereka dapat menerima peringatan, padahal telah datang


kepada mereka seorang rasul yang memberi penjelasan, kemudian mereka
berpaling daripadanya dan berkata: “Dia adalah seorang yang menerima ajaran
(dari orang lain) lagi pula seorang yang gila” (QS. Ad Dukhan: 13 – 14).

Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan:

@‫ قد@ ذهب وقت الرجوع‬:‫وهذا يقال يوم القيامة@ للكفار حين يطلبون الرجوع إلى الدنيا@ فيقال‬

“Ini adalah dikatakan di hari Kiamat kepada orang-orang kafir ketika mereka meminta
untuk kembali ke dunia. Maka dikatakan kepada mereka telah pergi waktu untuk
kembali” (Tafsir As Sa’di).

Penyesalan Orang Kafir Karena Mengingkari Rasulullah

Orang-orang kafir mereka menyadari akibat perbuatan mereka ketika mereka


mengabaikan ajaran para Rasul. Ketika mereka melihat ngerinya adzab di akhirat, lalu
mereka menyesali perbuatan mereka yaitu telah menolak ajaran para Rasul. Sehingga
mereka pun berharap bisa kembali ke dunia untuk memperbaiki keadaan, namun itu
tidak mungkin terjadi. Allah Ta’ala berfirman:

@َ ُ‫صالِ ًحا إِنَّا ُموقِن‬


‫ون‬ َ ‫ون نَا ِكسُو ُر ُءو ِس ِه ْم ِع ْن َ@د َربِّ ِه ْم َربَّنَا أَ ْب‬
َ ‫صرْ نَا َو َس ِم ْعنَا فَارْ ِج ْعنَا نَ ْع َم ْ@ل‬ @َ ‫َولَوْ تَ َر ٰى إِ ِذ ْال ُمجْ ِر ُم‬

“Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu
menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata), “Wahai Rabb kami,
kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan
mengerjakan amal shaleh. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin” (QS. As-
Sajdah:12).

Allah Ta’ala berfirman:

‫ير‬
ِ ‫س ِع‬ ِ ‫َوقَالُوا لَوْ ُكن َّا نَ ْس َم ُع أَوْ نَ ْعقِ ُل َما ُكنَّا@ فِي أَصْ َحا‬
َّ ‫ب ال‬

35
“Andaikata kami dahulu mau mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu),
niscaya kami tidaklah termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-
nyala” (QS.al-Mulk:10).

Orang Beriman pun Menyesal Kelak di Akhirat

Ketahuilah, di akhirat, orang-orang beriman pun menyesal. Namun yang mereka


merasa menyesal karena tidak bisa menambah amalan shalih. Allah Ta’ala berfirman:

َ‫ق َوأَ ُك ْن ِمن‬ َّ َ ‫ب فَأ‬


َ ‫ص@ َّد‬ ُ ْ‫َوأَ ْنفِقُوا ِم ْن َما َر َز ْقنَا ُك ْم ِم ْن قَ ْب ِ@ل أَ ْ@ن يَأْتِ َي أَ َح َد ُك ُم ْال َمو‬
ِ @َ‫ت فَيَقُو َل َربِّ لَوْ اَل أَ َّخرْ تَنِي إِلَى أَ َج ٍل ق‬
ٍ ‫@ري‬
‫ين‬
@َ ‫الصَّالِ ِح‬

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum
datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku,
mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang
menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”  (QS.
Al Munafiqun: 10).

Ujian dalam Mendakwahkan Tauhid

Dari ayat ad Dukhan ayat 13-14 ini juga kita mengambil pelajaran bahwa orang yang
mendakwahkan tauhid dan Sunnah akan pasti akan mendapatkan rintangan.
Diantaranya mereka akan diberi label-label yang jelek seperti “gila”, “tukang sihir”,
“radikal”, “ekstremis”, “fanatik” dan lainnya. Allah Ta’ala berfirman:

@ٌ ُ‫ين ِم ْن قَ ْبلِ ِه ْم ِم ْن َرسُو ٍل إِاَّل قَالُوا َسا ِح ٌر أَوْ َمجْ ن‬


‫ون‬ @َ ‫ك َما أَتَى ال َّ ِذ‬
@َ ِ‫َك َذل‬

“Demikianlah tidak seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum
mereka, melainkan mereka mengatakan: “Dia adalah seorang tukang sihir atau
seorang gila”. (QS. Adz Dzariyat: 52).

Namun celaan-celaan ini tidak akan merendahkan mereka di sisi Allah, justru
memuliakan mereka. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

@‫ال@ تزال طائفة من@ أمتي على الحق ظاهرين ال@ يضرهم من خالفهم حتى يأتي أمر هللا‬

“akan terus ada segolongan dari umatku yang senantiasa menampakkan kebenaran.
tidak akan membahayakan mereka orang yang menyelisihi mereka, hingga datang
perkara Allah (hari kiamat)” (HR. Abu Daud no. 4252 dishahihkan Al Albani
dalam Shahih Abi Daud).

Surat Ad Dukhat Ayat 15

Allah Ta’ala berfirman:

pِ ‫شفُو ا ْل َع َذا‬
َ‫م عَائِدُون‬pْ ‫ب قَلِياًل إِن َّ ُك‬ ِ ‫ َكا‬p‫إِنَّا‬

36
“Sesungguhnya (kalau) Kami akan melenyapkan siksaan itu sedikit saja,
sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar)” (QS. Ad Dukhan: 15).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini, beliau berkata:

@‫إنه يقول تعالى ولو كشفنا عنكم العذاب ورجعناكم إلى الدار الدنيا لعدتم@ إلى ما كنتم فيه@ من الكفر والتكذيب‬

“Maksudnya Allah ta’ala katakan kepada mereka: andaikan kami hilangkan adzab
Kami terhadap kalian ini, dan kami kembalikan kalian ke dunia, sungguh kalian akan
kembali lagi melakukan apa yang kalian lakukan dahulu, berupa kekufuran dan
mendustakan ajaran para Rasul” (Tafsir Ibnu Katsir).

Sebagaimana Allah ta’ala katakan dalam ayat yang lain:

@َ ‫َولَوْ ُر ُّدوا@ لَ َعادُوا لِ َما نُهُوا َع ْنهُ@ َوإِنَّهُ ْم لَ َكا ِذب‬


‫ُون‬

“Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang
mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta
belaka” (QS. An An’am: 28).

Istiqamah Ketika Keadaan Senang dan Sulit

Maka di sini ada pelajaran bagi kita semua, untuk senantiasa berusaha istiqamah di
masa senang maupun sulit, jangan tunggu mendapat musibah baru ingat Allah! Jangan
sampai kita menjadi orang-orang yang menyesal. Allah ta’ala berfirman:

@‫ك َع ْنهُ ْ@م تُ ِري ُد ِزينَةَ@ ْال َحيَا ِة ال ُّد ْنيَا‬ @َ ‫ين يَ ْد ُعونَ َربَّهُ ْم بِ ْال َغدَا ِة َو ْال َع ِش ِّي ي ُِريد‬
َ ‫ُون َوجْ هَهُ@ َواَل تَ ْع ُ@د َع ْينَا‬ @َ ‫ك َم َع ال َّ ِذ‬
َ ‫َواصْ بِرْ نَ ْف َس‬

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang beribadah kepada


Tuhan mereka di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah
kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan
dunia ini” (QS. Al Kahfi: 28).

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

@‫ﻑ ﺇﻟَﻰ ﻪَّﻠﻟﺍ ِ ﻓِﻲ ﺍﻟ َّﺮ َﺧﺎﺀِ ﻳَ ْﻌ ِﺮﻓُﻚ ﻓِﻲ ﺍﻟ ِّﺸ َّﺪ ِﺓ‬
ْ ‫ﺗَ َﻌ َّﺮ‬

“Kenalilah (ingatlah) Allah di waktu senang pasti Allah akan mengenalimu di waktu
sempit” (HR. Tirmidzi, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami no.2961).

Sabar Ketika Sedang Futur (Malas)

Ketika iman melemah, mulai futur dan malas, maka upayakan bersabar untuk tidak
melakukan hal-hal yang melanggar syariat dan mencoreng wibawa. Oleh karena itu
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

َ َ‫ك فقَد@ هل‬


‫ك‬ @َ ‫غير ذل‬
ِ ‫لك ِّل عم ٍل ِش َّرةٌ ولك ِّل ِش َّر ٍة فَترةٌ ف َمن كانَت فترتُهُ إلى سن َّتي فقد اهتَدى@ و َمن كانَت فترتُهُ@ إلى‬

37
“Setiap amalan ada masa semangatnya, dan setiap masa semangat ada masa futurnya.
Barangsiapa yang futurnya di atas sunnahku, maka ia telah mendapatkan petunjuk.
Barangsiapa yang futurnya bukan di atas sunnahku, maka ia akan binasa” (HR.
Ahmad no. 6764, dishahihkan Al Albani dalam takhrij Kitabus Sunnah hal.51).

38