Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH ASKEB NIFAS DENGAN MASTITIS

KATA PENGANTAR
Puji syukur tim penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka
tim penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “ASUHAN
KEBIDANAN PADA IBU BIFAS DENGAN INFEKSI (MASTITIS)”. Dalam penyusunan
makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan dan hambatan akan tetapi dengan bantuan
dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Oleh karena itu, tim penulis mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan
Yang Maha Esa.
Dalam Penulisan makalah ini, tim penulis merasa masih banyak kekurangan-
kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang
dimiliki tim penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat di harapkan oleh tim
penulis demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Tim penulis mengharapkan makalah
ini dapat bermanfaat bagi pembaca semua, terutama bagi tim penulis sendiri. Semoga Allah
memberkahi makalah ini sehingga bermanfaat bagi kita semua.

Mojosari, 22 Februari 2018

Penulis
DAFTAR ISI

Bab I : Pendahuluan

1. Latar belakang

2. Rumusan masalah

3. Tujuan

4. Metode penulisan

Bab II : Pembahasan Ibu Nifas dengan Mastitis

1. Defenisi mastitis

2. Etiologi

3. Penyebab

4. Tanda dan gejala

5. Penatalaksanaan

6. Pencgahan

7. Penanganan dan peran bidan

Bab III: Tinjauan kasus

Bab IV: Penutup

1. Kesimpulan

2. Saran

Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
ASI adalah salah satu jenis makanan yang mencukupi seluruh unsur kebutuhan bayi
baik fisik, psikologis, sosial maupun spiritual. Menyusui merupakan suatu proses alamiah.
Berjuta-juta ibu diseluruh dunia berhasil menyusui bayinya tanpa pernah membaca buku
tentang ASI. Seiring dengan perkembangan zaman, terjadi pula peningkatan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat sehingga pengetahuan lama yang mendasar
seperti menyusui justru kadang terlupakan, menyusui adalah suatu pengetahuan yang selama
berjuta-juta tahun mempunyai peran yang penting dalam mempertahankan kehidupan
manusia.
Semakin disadari bahwa pengeluaran ASI yang tidak efisien akibat dari teknik
menyusui yang buruk, merupakan penyebab penting terjadinya mastitis, tetapi dalam benak
banyak petugas kesehatan, mastitis masih dianggap sama dengan infeksi payudara. Mereka
sering tidak mampu membantu wanita penderita mastitis untuk terus menyusui, dan mereka
bahkan mungkin menyarankan wanita tersebut untuk berhenti menyusui, yang sebenarnya
tidak perlu. Mastitis dan abses payudara terjadi pada semua populasi, dengan atau tanpa
kebiasaan menyusui. Insiden yang dilaporkan bervariasi dan sedikit sampai 33% wanita
menyusui, tetapi biasanya dibawah 10%.
B. Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan mastitis ?
2. Apa penyebab mastitis ?
3. Bagaimana tanda dan gejala mastitis ?
4. Bagaimana pencegahan mastitis ?
5. Bagaimana penatalaksanaan mastitis ?
6. Apa upaya dan peran bidan dalam penanganan mastitis
C. Tujuan
1. Mengetahui maksud mastitis
2. Mengetahui penyebab mastitis
3. Mengetahui tanda dan gejala mastitis
4. Mengetahui cara pencegahan mastitis
5. Mengetahui cara penatalaksanaan mastitis
6. Mengetahui upaya dan peran bidan dalam penanganan mastitis
D. Metode penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah dengan studi pustaka.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Mastitis Dalam Masa Nifas Dapat Terjadi Infeksi


Mastitis adalah infeksi peradangan pada mamma, terutama pada primipara yang
biasanya disebabkan oleh staphylococcus aureus, infeksi terjadi melalui luka pada putting
susu, tetapi mungkin juga mungkin juga melalui peredaran darah (Prawirohadjo, 2005 : 701).
Mastitis adalah reaksi sistematik seperti demam, terjadi 1-3 minggu setelah
melahirkan sebagai komplikasi sumbatan saluran air susu (Masjoer, 2001 : 324). Pada kasus
mastitis ini biasanya tidak segera ditangani, jika mastitis tidak segera ditangani menyebabkan
abses payudara yang biasa pecah kepermukaan kulit dan akan menimbulkan borok yang
besar.
Pada mastitis biasanya yang selalu dikeluhkan adalah payudara membesar, keras,
nyeri, kulit murah dan membisul (abses) dan yang pada akhirnya pecah menjadi borok
disertai dengan keluarnya nanah bercampur air susu, dapat disertai dengan suhu badan naik,
menggigil. Jika sudah ditemukan tanda-tanda seperti ini maka pemberian ASI pada bayi
jangan dihentikan, tetapi sesering mungkin diberikan.
Mastitis ini biasanya diderita oleh ibu yang baru melahirkan dan menyusui. Radang
ini terjadi karena si ibu tidak menyusui atau putting payudaranya lecet karena menyusui.
Kondisi ini bisa terjadi pada satu atau kedua oayudara sekaligus. Namun, tidak semua
perempuan dapat terkena mastitis. Banyak factor yang menyebabkan perempuan menderita
penyakit ini. Diantaranya adalah daya tahan tubuh yang lemah dan kurangnya menjaga
kebersihan putting payudara saat menyusui.

B. Etiologi
1. Bakteri stafilokokkus aureus
a. Pada umumnya yang dianggap porte d’entrée dari kuman penyebab ialah putting
susu yang luka atau lecet, dan kuman per-kontinuitatum menjalar ke duktulus-
duktulus dan sinus. Sebagian besar yang ditemukan pada pembiakan pus ialah
stafilokokkus aureus.
b. Bakteri seringkali berasal dari mulut bayi dan masuk ke dalam saluran air susu
melalui sobekan atau retakan di kulit (biasanya pada puting susu). Mastitis
biasanya terjadi pada wanita yang menyusui dan paling sering terjadi dalam waktu
1-3 bulan setelah melahirkan. Sekitar 1-3% wanita menyusui mengalami mastitis
pada beberapa minggu pertama setelah melahirkan.
2. Daya tahan tubuh yang lemah dan kurangnya menjaga kebersihan puting payudara saat
menyusui
3. Saluran ASI tersumbat tidak segera diatasi sehingga menjadi mastitis
C. Penyebab
Penyebab terjadinya mastitis sebagai berikut:
1. Bayi tidak mau menyusu sehingga ASI tidak diberikan secara adekuat yang akan
menyebabkan mastitis jika tidak segera ditangani.
2. Lecet pada puting susu yang menyebabkan kuman staphylococcus aureus masuk
menyebabkan infeksi mastitis
3. Personal higiene ibu kurang, terutama pada puting susu
4. Bendungan air susu yang tidak adekuat di tangani sehingga menyebabkan mastitis
5. Bra yang terlalu ketat mengakibatkan segmental engorgement, jika tidak disusui
dengan adekuat, maka bias terjadi mastitis
6. Ibu yang dietnya buruk, kurang istirahat, dan anemia akan mudah terkena infeksi

D. Tanda dan Gejala


Selain pembesaran berat, prekursor tanda dan gejala mastitis biasanya tidak ada sebelum
akhir minggu pertama pasca partum. Setelah masa itu, wanita mungkin mngelami gejala
berikut ini :
1. Nyeri ringan pada salah satu lobus payudara, yang diperberat jika bayi menyusui.
2. Gejala seperti flu : nyeri otot, sakit kepala, keletihan.

Mastitis hampir selalu terbatas pada satu payudara. Tanda dan gejala actual mastitis
meliputi hal – hal sebagai berikut :
1. Peningkatan suhu yang cepat dari (39,5 – 40 oC)
2. Peningkatan kecepatan nadi
3. Mengigil
4. Malaise umum, sakit kepala
5. Hebat, bengkak, inflamasi, area payudara keras
Mastitis yang tidak ditangani memiliki hampir 10% resiko terbentuknya abses. Tanda
dan gejala abses meliputi hal – hal berikut :
1. Discharge putting susu purulenta
2. Demam remiten ( suhu naik turun ) disertai mengigil
3. Pembengkakkan payudara dan sangat nyeri, massa besar dank eras dengan area
kulit berwarna berfluktasi kemerahan dan kebiruan mengindikasikan lokasi abses
berisi pus.
E. Pencegahan
Penanganan terbaik mastitis adalah dengan pencegahan. Pencegahan dilakukan
dengan cara sebagai berikut :
1. Perawatan puting susu atau perawatan payudara
2. Susukan bayi setiap saat tanpa jadwal
3. Pembersihan puting susu sebelum dan sesudah menyusui untuk menghilangkan
kerak dan susu yang sudah kering
4. menyusui yang benar, bayi harus menyusu sampai ke kalang payudara.
5. Bra yang cukup meyangga tetapi tidak ketat
6. Perhatian yang cermat saat mencuci tangan dan perawatan payudara
7. Kompres hangat pada area yang terkena
8. Masase area saat menyusui untuk memfasilitasi aliran air susu
9. Peningkatan asupan cairan
10. Istirahat
11. Membatu ibu menentukan prioritas untuk mengurangi stress dan keletihan dalam
kehidupannya
12. Suportif, pemeliharaan perawatan ibu
13. Menyusui secara bergantian payudara kiri dan kanan
14. Untuk mencegah pembengkakan dan penyumbatan saluran, kosongkan payudara
dengan cara memompanya
15. Rajin mengganti bh / bra setiap kali mandi atau bila basah oleh keringat dan ASI,
BH tidak boleh terlalu sempit dan menekan payudara.
16. Jika ibu melahirkan bayi lalu bayi tersebut meninggal, sebaiknya dilakukan bebat
tekan pada payudara dengan menggunakan kain atau stagen dan ingat untuk minta
obat penghenti ASI pada dokter atau bidan.
F. Penatalaksanaan
1. Teruskan pemberian ASI meski payudara mengalami abses atau
pembengkakan Tahan sakit. Pemberian ASI mempercepat penyembuhan
2. Kompres payudara dengan air hangat atau kain dibasahi air hangat
3. Cukup istrirahat dan tidur agar tubuh aktif memproduksi sistem imun guna
memerangi infeksi mastitis
4. Minum antibiotik sesuai resep dokter
5. Makan makanan yang bergizi tinggi
6. Minum banyak air putih juga akan membantu menurunkan demam
7. Berikan antibiotik
Pengobatan dengan antibiotik biasanya membutuhkan waktu 10-14 hari.
Selama 24 sampai 48 jam setelah pengobatan antibiotik, gejala mulai
berkurang. Namun obat tetap perlu diminum untuk mencegah kekambuhan.
8. Menyesuaikan teknik menyusui
Pastikan bahwa payudara benar-benar kosong payudara selama menyusui dan
bayi berada pada posisi yang benar.
G. Penanganan dan peran bidan
1. Payudara dikompres dengan air hangat
2. Untuk mengurangi rasa sakit dapat diberikan pengobatan analgetik
3. Untuk mengatasi infeksi diberikan antibiotika
4. Bayi mulai menyusu pada payudara yang mengalami peradangan
5. Anjurkan ibu selalu menyusui bayinya
6. Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi dan istirahat yang
cukup
7. Konseling suportif
Mastitis merupakan pengalaman yang sangat nyeri dan membuat frustrasi, dan
membuat banyak wanita merasa sangat sakit. Selain dengan penanganan yang
efektif dan pengendalian nyeri, wanita membutuhkan dukungan emosional.
Ibu harus diyakinkan kembali tentang nilai menyusui; yang aman untuk
diteruskan; bahwa ASI dari payudara yang terkena tidak akan membahayakan
bayinya; dan bahwa payudaranya akan pulih baik bentuk maupun fungsinya.
8. Pengeluaran Asi Dengan Efektif
Dengan membantu ibu memperbaiki kenyutan bayi pada payudara,
mendorong untuk sering menyusui, sesering dan selama bayi menghendaki,
tanpa pembatasan, bila perlu peras ASI dengan tangan atau dengan pompa
atau botol panas, sampai menyusui dapat dimulai lagi.
BAB III
TINJAUAN KASUS

MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS DENGAN MASTITIS


POST PARTUM PADA NY. ANI DI BPS BIDAN SARI AMD.Keb
KEC.NANGGALO PADANG 10 OKTOBER 2012

Tanggal Masuk : 01-01-2018 / 16.00 Wib


A.     Pengumpulan Data
I.                   Identitas (Biodata)
Nama Istri : Ny. Ani Nama Suami : Tn. Budi
Umur : 28 th Umur : 36 th
Agama : Islam Agama : Islam
Suku : Bugis Suku : Minang
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Pedagang
Alamat : Jl. Pondok Kopi, Siteba Alamat :Jl. Pondok Kopi Siteba

II.                Data Subjektif


1. Keluhan utama pada waktu masuk
-         Ibu mengatakan payudaranya bengkak, terasa nyeri, merah meradang
-         Ibu mengatakan badannya panas dingin (menggigil)
2.      Antenatal
-         Pemeriksaan di : BPS Barokah
-         Kelainan / komplikasi : Tidak ada kelainan / komplikasi
-         Usia kehamilan : 40 minggu
-         G.P.A : G0P1A0
3.      Persalinan
-         Anak lahir tanggal : 01-01-2018, jam: 06.20 Wib
-         Jenis wanita : BB : 3200 gram, TB : 50 cm
-         Nilai APGAR :8
-         Cacat bawaan : tidak ada cacat bawaan
-         Jenis persalinan : pervaginam
-         Atas indikasi : tidak ada indikasi
-         Plasenta : lahir lengkap dan spontan
-         Episiotomi : tidak dilakukan
-         Pendarahan Kala III : 100 ml
-         Pendarahan Kala IV : 50 ml
-         Infus cairan : - ml
-         Transfusi darah gol : - ml
4.      Post partum
-         Eliminasi BAB 4 jam setelah persalinan
-         Eliminasi BAB sehari setelah persalinan
-         Mobilisasi

III.             Pemeriksaan Fisik


1.      Pemeriksaan Umum
-         Tekanan darah : 120/80 mmHg
-         Suhu tubuh : 38 0C
-         Berat badan : 50 kg
-         Nadi : 80 x/mnt
-         Pernafasan : 20 x/mnt
-         Tinggi badan : 160 cm
2.      Pemeriksaan Khusus
a.       Kepala
-     Rambut : bersih, tidak ada ketombe
-     Mata : conjunctiva ; merah muda
-     Mulut/gigi : tidak ada caries
-     Telinga : simetris kanan
-     Hidung : bersih, tidak ada polip
-     Muka : tidak ada odema
-     Sklera : an ikterus
b.      Leher
-         Kelenjar gondok (thyroid) : tidak ada pembengkakan kelenjar thyroid

-         Tumor : tidak ada tumor


c.       Dada dan Axilla (ketiak)

-         Mammae : membengkak, ditekan terasa nyeri, memerah


-         Axilla : nyeri ditekan
d. Perut : status lokalis / status obstetricus
e. Anogenital : status lokalis : tidak ada luka jahitan
f. Ekstremitas
Oedema : tidak ada odema : varises : tidak ada varises

Refleks patella : (+) / (+) : keluhan : tidak ada

3.      Pemeriksaan Khusus Obstetric


a.       Abdomen
1)      Inspeksi :
-         Pembesaran : tidak ada pembesaran
-         Pelebaran vena : tidak ada : linea alba / nigra
2)      Palpasi :
- Tinggi fundus uterus : pertengahan pusat – sympisis
4.      Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium : HB : 11 gr%
Radiologi / UGS : tidak dilakukan
BAB IV
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Defenisi Infeksi Payudara (Mastitis) adalah suatu infeksi pada jaringan payudara.
Pada infeksi yang berat atau tidak diobati, bisa terbentuk abses payudara (penimbunan nanah
di dalam payudara).Mastitis adalah peradangan pada payudara. Mastitis ini dapat terjadi
kapan saja sepanjang periode menyusui, tapi paling sering terjadi antara hari ke-10 dan hari
ke-28 setelah kelahiran.
Pada mastitis biasanya yang selalu dikeluhkan adalah payudara membesar, keras,
nyeri, kulit murah dan membisul (abses) dan yang pada akhirnya pecah menjadi borok
disertai dengan keluarnya nanah bercampur air susu, dapat disertai dengan suhu badan naik,
menggigil. Jika sudah ditemukan tanda-tanda seperti ini maka pemberian ASI pada bayi
jangan dihentikan, tetapi sesering mungkin diberikan.

B.   Saran
1.      Tenaga kesehatan khususnya bidan dapat memberikan penatalaksanaan yang baik
kepada ibu nifas yang terkena mastitis
2.      Dengan adanya makalah ini, kita menjadi lebih memahami tentang mastitis
DAFTAR PUSTAKA

Nani Lia Dewi,Vivian.2012.AsuhanKebidananPadaIbuNifas.Jakarta: SalembaMedika


Saleha,Sitti.2009.AsuhanKebidananPadaMasaNifas.Jakarta:SalembaMedika
Sarwono.2010.Ilmu Kandungan.Jakarta

Anda mungkin juga menyukai