Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

GADAR HIPERGLIKEMIA

DISUSUN OLEH :

OTIEK DAMAYANTI

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

PRINGSEWU LAMPUNG

2020
LAPORAN PENDAHULUAN

GADAR HIPERGLIKEMIA

A. Definisi

Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh


kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2012)
dan Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang
disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan
insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2012) serta Diabetes Melllitus adalah
keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolic akibat gangguan
hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan
pembuluh darah, disertai lesi pada membrane basalis dalam pemeriksaan dengan
mikroskop electron (Kapita Selekta Kedokteran jilid 1)

Dapat kami simpulkan bahwa Hiperglikemia sindrom/ Diabetes sindrom adalah


suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh peningkatan
kadar gula darah akibat kekurangan insulin yang akan mengakibatkan gangguan hormonal,
yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh
darah, disertai lesi pada membrane basalis.

B. Klasifikasi

1. IDDM ( INSULIN DEPENDENT DIABETES MELITUS )

Sangat tergantung pada insulin. Disebabkan oleh kerusakan sel beta pankreas
karena reaksi autoimin sehingga tubuh tidak dapat memproduksi insulin alami untuk
mengontrol kadar glukosa darah.

2. NIDDM ( NON INSULIN DEPENDENT DIABETES MELITUS )

Tidak tergantung insulin. Diabetes ini dsebabkan oleh gangguan metabolisme


dan penurunan fungsi hormon insulin dalam mengontrol kadar glukosa darah dan hal
ini bisa terjadi karena faktor genetik dan juga dipicu oleh pola hidup yang tidak sehat.
3. GESTATIONAL DIABETES

Disebabkan oleh gangguan hormonal pada wanita hamil. Diabetes melitus


( gestational diabetes mellitus, GDM) juga melibatkan suatu kombinasi dari
kemampuan reaksi dan pengeluaran hormon insulin yang tidak cukup, sama dengan
jenis-jenis kencing manis lain. Hal ini dikembangkan selama kehamilan dan dapat
meningkatkan atau menghilang setelah persalinan. Walaupun demikian, tidak
menutup kemungkinan diabetes gestational dapat mengganggu kesehatan dari janin
atau ibu, dan sekitar 20%–50% dari wanita-wanita dengan Diabetes Melitus
gestational sewaktu-waktu dapat menjadi penderita.

C. Etiologi

1. DM type 1

a. Faktor genetik

Diabetes mellitus cenderung diturunkan atau diwariskan, bukan ditularkan.


Anggota keluarga penderita DM memiliki kemungkinan lebih besar terserang
penyakit ini dibandingkan dengan anggota keluarga yang tidak menderita DM.
Para ahli kesehatan juga menyebutkan DM merupakan penyakit yang terpaut
kromosom seks atau kelamin. Biasanya kaum laki-laki menjadi penderita
sesungguhnya, sedangkan kaum perempuan sebagai pihak yang membawa gen
untuk diwariskan kepada anak-anaknya.

b. Faktor-faktor imunologik

Adanya respons autoimun yang merupakan respons abnormal dimana sel-sel beta
dihancurkan oleh antibodi karena dianggap sebagai sel asing

c. Faktor lingkungan

Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autoimun yang menimbulkan
destruksi sel beta. Beberapa contoh dari virus dan toksin tersebut, antara lain :

1) Virus & Bakteri

Virus penyebab DM adalah rubela, mumps, dan human coxsackievirus B4.


Melalui mekanisme infeksi sitolitik dalam sel beta, virus ini mengakibatkan
destruksi atau perusakan sel. Bisa juga, virus ini menyerang melalui reaksi
autoimunitas yang menyebabkan hilangnya autoimun dalam sel beta. Diabetes
mellitus akibat bakteri masih belum bisa dideteksi. Namun, para ahli kesehatan
menduga bakteri cukup berperan menyebabkan DM

2) Bahan toksik atau Beracun

Bahan beracun yang mampu merusak sel beta secara langsung adalah alloxan,
pyrinuron (rodentisida), dan streptozoctin (produk dari sejenis jamur). Bahan
lain adalah sianida yang berasal dari singkong

2. DM tye 2

Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi
insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetic diperkirakan
memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Faktor-faktor resiko :
a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th)
b. Obesitas
c. Riwayat keluarga
3. Gestasional
Diabetes Gestasional terjadi pada wanita yang tidak menderita diabetes sebelum
kehamilannya. Hiperglikemia terjadi selama kehamilan akibat sekresi hormon-hormon
plasenta. Setelah melahirkan bayi, kadar glukosa darah akan kembali normal

D. Patofisiologi

Glukosa secara normal bersirkulasi dalam jumlah tertentu dalam darah. Glukosa
dibentuk di hati dari makanan yang dikonsumsi. Insulin adalah hormon yang dilepaskan
oleh pankreas, yang bertanggungjawab dalam mempertahankan kadar gula darah yang
normal. Insulin memasukkan gula ke dalam sel sehingga bisa menghasilkan energi atau
disimpan sebagai cadangan energi.
Pada Diabetes, kemampuan tubuh untuk bereaksi terhadap insulin dapat menurun,
atau pankreas dapat menghentikan sama sekali produksi insulin. Keadaan ini
menimbulkan hiperglikemia yang dapat mengakibatkan komplikasi metabolic akut seperti
diabetes ketoasidosis dan sindrom hiperglikemik hiperosmoler nonketonik (HHNK).
Hiperglikemia jangka panjang dapat ikut menyebabkan komplikasi mikrovaskuler yang
kronis (penyakit ginjal dan mata) dan komplikasi neuropati (penyakit pada saraf). Diabetes
juga disertai dengan peningkatan insiden penyakit makrovaskuler yang mencangkup infark
miokardium, stroke, dan penyakit vaskuler perifer

E. Manifestasi klinis

Gejala yang lazim terjadi, pada diabetes mellitus sebagai berikut :

Pada tahap awal sering ditemukan :

1. Poliuri (banyak kencing)

Hal ini disebabkan oleh karena kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui
daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotic diuresis yang mana gula
banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga klien mengeluh banyak kencing.

2. Polidipsi (banyak minum)

Hal ini disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena
poliuri, sehingga untuk mengimbangi klien lebih banyak minum.

3. Polipagi (banyak makan)

Hal ini disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami starvasi (lapar).
Sehingga untuk memenuhinya klien akan terus makan. Tetapi walaupun klien banyak
makan, tetap saja makanan tersebut hanyaakan berada sampai pada pembuluh darah.

4. Berat badan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga kurang.

Hal ini disebabkan kehabisan glikogen yang telah dilebur jadi glukosa, maka tubuh
berusama mendapat peleburan zat dari bahagian tubuh yang lain yaitu lemak dan
protein, karena tubuh terus merasakan lapar, maka tubuh selanjutnya akan memecah
cadangan makanan yang ada di tubuh termasuk yang berada di jaringan otot dan
lemak sehingga klien dengan DM walaupun banyak makan akan tetap kurus

5. Mata kabur

Hal ini disebabkan oleh gangguan lintas polibi (glukosa – sarbitol fruktasi) yang
disebabkan karena insufisiensi insulin. Akibat terdapat penimbunan sarbitol dari
lensa, sehingga menyebabkan pembentukan katarak.
F. Komplikasi

Komplikasi dari diabetes ada beberapa yaitu :


a. Jangka pendek:
 Hipoglikemia
 Ketoasidosis diabetik
 Sindrom hiperglikemik hiperosmolar nonketotik
b. Jangka panjang
 Retinopati
 Nefropati
 Neuropati : polineuropati sensori(neuropati perifer), neuropati cranial, dan
neuropati otonom

G. Pemeriksaan Diagnosis

1. Glukosa darah: meningkat 100-200 mg/dL, atau lebih

2. Aseton plasma (keton) : positif secara mencolok.

3. Asam lemak bebas : kadar lipid dan kolesterol meningkat.

4. Osmolaritas serum : meningkat tetapi biasanya kurang dari 330mOsm/l.

5. Elektrolit:

a. Natrium: mungkin normal, meningkat atau menurun.


b. Kalium : normal atau peningkatan semu (perpindahan seluler), selanjutnya akan
menurun.
c. Fosfor : lebih sering menurun.
d. Hemoglobin glikosilat : kadarnya meningkat 2-4 kali lipat dari normal yang
mencerminkan kontrol DM yang kurang selama 4 bulan terakhir (lama hidup
SDM) dan karenanya sangat bermanfaat dalam membedakan DKA dengan kontrol
tidak adekuat versus DKA yang berhubungan dengan insiden.
6. Pemeriksaan mikroalbumin : Mendeteksi komplikasi pada ginjal dan kardiovaskular
7. Nefropati Diabetik. Salah satu komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakit diabetes
adalah terjadinya nefropati diabetic, yang dapat menyebabkan gagal ginjal terminal
sehingga penderita perlu menjalani cuci darah atau hemodialisis.
8. Nefropati diabetic ditandai dengan kerusakan glomerolus ginjal yang berfungsi
sebagai alat penyaring.
9. Gangguan pada glomerulus ginjal dapat menyebabkan lolosnya protein albumin ke
dalam urine.
10. Adanya albumin dalam urin (=albuminoria) merupakan indikasi terjadinya nefropati
diabetic.
Manfaat pemeriksaan Mikroalbumin (MAU)
 Diagnosis dini nefropati diabetik
 Memperkirakan morbiditas penyakit kardiovaskular dan mortalitas pada pasien
DM
Jadwal pemeriksaan Mikroalbumin
 Untuk DM Tipe 1, diperiksa pada masa pubertas atau setelah 5 tahun didiagnosis
DM
 Untuk DM tipe 2,
a. Untuk pemeriksaan awal setelah diagnosis ditegakkan
b. Secara periodic setahun sekali atau sesuai petunjuk dokter
11. Pemeriksaan HbA1C atau pemeriksaan A1C
Dapat Memperkirakan Risiko Komplikasi Akibat DM
HbA1c atau A1C Merupakan senyawa yang terbentuk dari ikatan antara glukosa
dengan hemoglobin (glycohemoglobin)
a. Jumlah A1C yang terbentuk, tergantung pada kadar glukosa darah
b. Ikatan A1c stabil dan dapat bertahan hingga 2-3 bulan (sesuai dengan sel darah
merah)
c. Kadar A1C mencerminkan kadarglukosa darah rata-rata dalam jangka waktu 2-3
bulan sebelum pemriksaan
Manfaat pemeriksaan A1C
 Menilai kualitas pengendalian DM
 Menilai efek terapi atau perubahan terapi setelah 8-12 minggu dijalankan
Tujuan Pemeriksaan A1C
Mencegah terjadinya komplikasi (kronik) diabetes karena :
 A1C dapat memperkirakan risiko berkembangnya komplikasi Diabetes
 Komplikasi diabetes dapat muncul jika kadar glukosa darah terus menerus tinggi
dalam jangka panjang
 Kadar glukosa darah rata-rata dalam jangka panjang (2-3 bulan) dapat
diperkirakan dengan pemeriksaan A1C
Jadwal pemeriksaan A1C
 Untuk evaluasi awal setelah diagnosis DM dipastikan
 Secara periodic (sebagai bagian dari pengelolaan DM) yaitu :
a. Setiap 3 bulan (terutama bila sasaran pengobatan belum tercapai)
b. Minimal 2 kali dalam setahun.

H. Askep

1. Pengkajian ( Primer assessment/primer survey )

a. ( Primer assessment/primer survey )

b. Keluhan Utama

1) Keluhan utama saat masuk rumah sakit, Keluhan yang paling utama di
keluhkan oleh pasien sehingga masuk rumah sakit

2) Keluhan saat pengkajian, Keluhan yang dikeluhkan pasien saat dilakukan


pengkajian

c. Riwayat Penyakit

1) Riwayat Penyakit Terdahulu, Catatan tentang penyakit yang pernah dialami


pasien sebelum masuk rumah sakit

2) Riwayat Penyakit Sekarang, Catatan tentang penyakit yang dialami pasien saat
ini (saat pengkajian)

3) Riwayat Penyakit Keluarga, Catatan tentang penyakit keluarga pasien yang


berhubungan dengan penyakit saat ini

2. Analisa Data

a. Data Subyektif ( yang kita lihat )

b. Data Obyektif

Primary survey
1) Airway : --

2) Breathing: hiperventilasi, napas bau aseton

3) Circulation: lemah, tampak pucat ( disebabkan karena glukosa Intra Sel


Menurun sehingga Proses Pembentukan ATP/Energi Terganggu)

4) Disability: perubahan kesadaran (jika sudah terjadi ketoasidosis metabolik)

Secondary assesment

1) Exposure: -

2) Five Intervension: Glukosa darah: meningkat 100-200 mg/dL, atau lebih,


Aseton plasma (keton) : positif secara mencolok, Asam lemak bebas : kadar
lipid dan kolesterol meningkat, Osmolaritas serum : meningkat tetapi biasanya
kurang dari 330mOsm/l, Elektrolit : Natrium: mungkin normal, meningkat atau
menurun, Kalium : normal atau peningkatan semu (perpindahan seluler),
selanjutnya akan menurun, Fosfor : lebih sering menurun, Hemoglobin
glikosilat : kadarnya meningkat 2-4 kali lipat dari normal yang mencerminkan
kontrol DM yang kurang selama 4 bulan terakhir (lama hidup SDM) dan
karenanya sangat bermanfaat dalam membedakan DKA dengan kontrol tidak
adekuat versus DKA yang berhubungan dengan insiden.

3) Pemeriksaan mikroalbumin, Mendeteksi komplikasi pada ginjal dan


kardiovaskular

4) Nefropati Diabetik, Salah satu komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakit


diabetes adalah terjadinya nefropati diabetic, yang dapat menyebabkan gagal
ginjal terminal sehingga penderita perlu menjalani cuci darah atau hemodialisis.
Nefropati diabetic ditandai dengan kerusakan glomerolus ginjal yang berfungsi
sebagai alat penyaring. Gangguan pada glomerulus ginjal dapat menyebabkan
lolosnya protein albumin ke dalam urine. Adanya albumin dalam urin
(=albuminoria) merupakan indikasi terjadinya nefropati diabetic.

5) Pemeriksaan HbA1C atau pemeriksaan A1C, Dapat Memperkirakan Risiko


Komplikasi Akibat DM HbA1c atau A1C Merupakan senyawa yang terbentuk
dari ikatan antara glukosa dengan hemoglobin (glycohemoglobin). Jumlah A1C
yang terbentuk, tergantung pada kadar glukosa darah. Ikatan A1c stabil dan
dapat bertahan hingga 2-3 bulan (sesuai dengan sel darah merah) Kadar A1C
mencerminkan kadarglukosa darah rata-rata dalam jangka waktu 2-3 bulan
sebelum pemriksaan. Give Comfort: Nyeri di bagian abdomen karena
ketoasidosis diabetik

3. Head to toe

a. Kepala, Bentuk simetris, warna rambut hitam, persebaran rambut merata, kebersihan
cukup, benjolan tidak ada, nyeri tekan tidak ada.

b. Muka, Bentuk simetris, agak pucat, edema tidak ada, nyeri tidak ada.

c. Mata, Konjungtiva anemis, reflek pupil ishokor, benjolan tidak ada, nyeri tekan
tidak ada.

d. Hidung, Bentuk simetris, secret tidak ada

e. Telinga, Serumen tidak ada, bentuk simetris, nyeri tekan tidak ada.

f. Mulut dan Gigi

g. Bentuk simetris, mukosa mulut kering, kebersihan cukup, lidah bersih, pembesaran
tonsil tidak ada.

h. Leher, Pembesaran kelenjar tiroid tidak ada, distensi vena jugularis tidak ada

i. Thorak, Bentuk dada simetris, suara nafas wheezing dan krekel tidak ada, retraksi
otot dada tidak ada

j. Abdomen, Bentuk simetris, lesi tidak ada, peristaltic usus 8 x/menit, pembesaran
hati tidak ada, nyeri lepas dan nyeri tekan tidak ada, asites tidak ada.

k. Ekstermitas, Edema tidak ada, sianosis tidak ada, pergerakan terkoordinir tetapi
lemah.

4. Diagnosa Keperawatan

a. Kurang volume cairan b/d diuresis osmotik (dari hiperglikemia).


b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakcukupan insulin
( penurunan ambilan dan penggunaan glokosa oleh jaringan mengakibatkan
peningkatan metabolisme protein/lemak)

c. Intoleransi aktivitas b/d penurunan energy metabolic

d. Ansietas b/d kurang informasi tentang penyakit diabetes melitus

5. Intervensi Keperawatan

a. Kurang volume cairan b/d diuresis osmotik (dari hiperglikemia).

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Defisit Volume Cairan NOC: NIC :


Berhubungan dengan:  Fluid balance  Pertahankan catatan intake dan
- Kehilangan volume cairan  Hydration output yang akurat
secara aktif  Nutritional Status : Food  Monitor status hidrasi
- Kegagalan mekanisme and Fluid Intake ( kelembaban membran
pengaturan Setelah dilakukan tindakan mukosa, nadi adekuat, tekanan
keperawatan selama….. darah ortostatik ), jika
DS : defisit volume cairan teratasi diperlukan
- Haus dengan kriteria hasil:  Monitor hasil lab yang sesuai
DO:  Mempertahankan urine dengan retensi cairan (BUN ,
- Penurunan turgor output sesuai dengan Hmt , osmolalitas urin, albumin,
kulit/lidah usia dan BB, BJ urine total protein )
- Membran mukosa/kulit normal,  Monitor vital sign setiap
kering  Tekanan darah, nadi, 15menit – 1 jam
- Peningkatan denyut nadi, suhu tubuh dalam batas  Kolaborasi pemberian cairan IV
penurunan tekanan darah, normal  Monitor status nutrisi
penurunan  Tidak ada tanda tanda
 Berikan cairan oral
volume/tekanan nadi dehidrasi, Elastisitas
 Berikan penggantian nasogatrik
- Pengisian vena menurun turgor kulit baik,
sesuai output (50 – 100cc/jam)
- Perubahan status mental membran mukosa
 Dorong keluarga untuk
- Konsentrasi urine lembab, tidak ada rasa
membantu pasien makan
meningkat haus yang berlebihan
- Temperatur tubuh  Orientasi terhadap waktu  Kolaborasi dokter jika tanda
meningkat dan tempat baik cairan berlebih muncul
- Kehilangan berat badan  Jumlah dan irama meburuk
secara tiba-tiba pernapasan dalam batas  Atur kemungkinan tranfusi
- Penurunan urine output normal  Persiapan untuk tranfusi
- HMT meningkat  Elektrolit, Hb, Hmt dalam  Pasang kateter jika perlu
- Kelemahan batas normal
 Monitor intake dan urin output
 pH urin dalam batas
setiap 8 jam
normal
 Intake oral dan intravena
adekuat

b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakcukupan insulin


( penurunan ambilan dan penggunaan glokosa oleh jaringan mengakibatkan
peningkatan metabolisme protein/lemak)

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Ketidakseimbangan nutrisi NOC:  Kaji adanya alergi makanan


kurang dari kebutuhan tubuh a. Nutritional status:  Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
Berhubungan dengan : Adequacy of nutrient menentukan jumlah kalori dan
Ketidakmampuan untuk b. Nutritional Status : food nutrisi yang dibutuhkan pasien
memasukkan atau mencerna and Fluid Intake  Yakinkan diet yang dimakan
nutrisi oleh karena faktor c. Weight Control mengandung tinggi serat untuk
biologis, psikologis atau Setelah dilakukan tindakan mencegah konstipasi
ekonomi. keperawatan  Ajarkan pasien bagaimana
DS: selama….nutrisi kurang membuat catatan makanan harian.
- Nyeri abdomen teratasi dengan indikator:  Monitor adanya penurunan BB dan
- Muntah  Albumin serum gula darah
- Kejang perut  Pre albumin serum  Monitor lingkungan selama makan
- Rasa penuh tiba-tiba  Hematokrit  Jadwalkan pengobatan dan
setelah makan  Hemoglobin tindakan tidak selama jam makan
DO:  Total iron binding  Monitor turgor kulit
- Diare capacity  Monitor kekeringan, rambut kusam,
- Rontok rambut yang  Jumlah limfosit total protein, Hb dan kadar Ht
berlebih  Monitor mual dan muntah
- Kurang nafsu makan  Monitor pucat, kemerahan, dan
- Bising usus berlebih kekeringan jaringan konjungtiva
- Konjungtiva pucat  Monitor intake nuntrisi
- Denyut nadi lemah  Informasikan pada klien dan
keluarga tentang manfaat nutrisi
 Kolaborasi dengan dokter tentang
kebutuhan suplemen makanan
seperti NGT/ TPN sehingga intake
cairan yang adekuat dapat
dipertahankan.
 Atur posisi semi fowler atau fowler
tinggi selama makan
 Kelola pemberan anti emetik:.....
 Anjurkan banyak minum
 Pertahankan terapi IV line
 Catat adanya edema, hiperemik,
hipertonik papila lidah dan cavitas
oval

c. Intoleransi aktivitas b/d penurunan energy metabolic


Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Intoleransi aktivitas NOC : NIC :


Berhubungan dengan :  Self Care : ADLs  Observasi adanya pembatasan
 Tirah Baring atau  Toleransi aktivitas klien dalam melakukan aktivitas
imobilisasi  Konservasi eneergi  Kaji adanya faktor yang
 Kelemahan menyeluruh Setelah dilakukan tindakan menyebabkan kelelahan
 Ketidakseimbangan keperawatan selama ….  Monitor nutrisi dan sumber
antara suplei oksigen Pasien bertoleransi terhadap energi yang adekuat
dengan kebutuhan aktivitas dengan Kriteria  Monitor pasien akan adanya
Gaya hidup yang Hasil : kelelahan fisik dan emosi
dipertahankan.  Berpartisipasi dalam secara berlebihan
DS: aktivitas fisik tanpa disertai  Monitor respon kardivaskuler

 Melaporkan secara peningkatan tekanan terhadap aktivitas (takikardi,


verbal adanya kelelahan darah, nadi dan RR disritmia, sesak nafas,
atau kelemahan.  Mampu melakukan diaporesis, pucat, perubahan
 Adanya dyspneu atau aktivitas sehari hari (ADLs) hemodinamik)
ketidaknyamanan saat secara mandiri  Monitor pola tidur dan lamanya
beraktivitas.  Keseimbangan aktivitas tidur/istirahat pasien
DO : dan istirahat  Kolaborasikan dengan Tenaga
Rehabilitasi Medik dalam

 Respon abnormal dari merencanakan progran terapi

tekanan darah atau nadi yang tepat.

terhadap aktifitas  Bantu klien untuk


mengidentifikasi aktivitas yang
 Perubahan ECG :
mampu dilakukan
aritmia, iskemia
 Bantu untuk memilih aktivitas
konsisten yang sesuai dengan
kemampuan fisik, psikologi
dan sosial
 Bantu untuk mengidentifikasi
dan mendapatkan sumber
yang diperlukan untuk
aktivitas yang diinginkan
 Bantu untuk mendpatkan alat
bantuan aktivitas seperti kursi
roda, krek
 Bantu untuk mengidentifikasi
aktivitas yang disukai
 Bantu klien untuk membuat
jadwal latihan diwaktu luang
 Bantu pasien/keluarga untuk
mengidentifikasi kekurangan
dalam beraktivitas
 Sediakan penguatan positif
bagi yang aktif beraktivitas
 Bantu pasien untuk
mengembangkan motivasi diri
dan penguatan
 Monitor respon fisik, emosi,
sosial dan spiritual

d. Ansietas b/d kurang informasi tentang penyakit diabetes melitus

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Kecemasan berhubungan NOC : NIC :


dengan - Kontrol kecemasan Anxiety Reduction (penurunan

Faktor keturunan, Krisis - Koping kecemasan)

situasional, Stress, perubahan Setelah dilakukan asuhan  Gunakan pendekatan yang


status kesehatan, ancaman selama ……………klien
menenangkan
kematian, perubahan konsep kecemasan teratasi dgn
 Nyatakan dengan jelas harapan
diri, kurang pengetahuan dan kriteria hasil:
terhadap pelaku pasien
hospitalisasi  Klien mampu
 Jelaskan semua prosedur dan
mengidentifikasi dan
apa yang dirasakan selama
mengungkapkan gejala
DO/DS: prosedur
cemas
- Insomnia  Mengidentifikasi,  Temani pasien untuk
- Kontak mata kurang mengungkapkan dan memberikan keamanan dan
- Kurang istirahat menunjukkan tehnik mengurangi takut
- Berfokus pada diri sendiri untuk mengontol cemas  Berikan informasi faktual
- Iritabilitas  Vital sign dalam batas mengenai diagnosis, tindakan
- Takut normal prognosis
- Nyeri perut  Postur tubuh, ekspresi  Libatkan keluarga untuk
- Penurunan TD dan denyut wajah, bahasa tubuh mendampingi klien
nadi dan tingkat aktivitas  Instruksikan pada pasien untuk
- Diare, mual, kelelahan menunjukkan menggunakan tehnik relaksasi
- Gangguan tidur berkurangnya  Dengarkan dengan penuh
- Gemetar kecemasan perhatian
- Anoreksia, mulut kering  Identifikasi tingkat kecemasan
- Peningkatan TD, denyut  Bantu pasien mengenal situasi
nadi, RR yang menimbulkan kecemasan
- Kesulitan bernafas
 Dorong pasien untuk
- Bingung
mengungkapkan perasaan,
- Bloking dalam pembicaraan ketakutan, persepsi
- Sulit berkonsentrasi
 Kelola pemberian obat anti
cemas:........

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, M.E. (2010). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta : EGC.

Engram, B. (2018). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta : EGC.


Brunner & Suddarth. (2012). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Vol. 2. Jakarta : EGC.

Price. S.A. (1995). Patofisiologi, Edisi Kedua, Jakarta : EGC.

Jan Tambayong, dr. (2010). Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC.

Media Aesculapius (2018). Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid Pertama.FKUI