CONTOH KASUS PENYELESAIAN SENGKETA MELALUI ARBRITASE
Para Pihak
PT. Putra Semesta Baruga,
Berkedudukan di Komplek BTN. Makkio Baji D 8/9 Makassar, (dahulu Berkedudukan di
jalan Ahmad Yani No. 35 E Makasar )
Selaku Pemohon Perkara arbitase di BANI
Melawan
Muh. Djafaral Saihal, Ketua Umum DPC HIPPI Kabupaten Mamuja Bertempat tinggal di
Lumba- Lumba Nomor 27 Bulukumba
Selaku Termohon perkara Arbitase di BANI
Gugatan
Kontrak Kontruksi :
No 006/PSB/ADM/X/1998 tanggal 8 Oktober 1998 tentang pembangunan Lods Pasar
Sentral Mamuja, di Kabupaten Mamuju
Putusan
Terhadap gugatan tersebut Badan Arbitase Nasional telah Mengambil keputusan No.
229/VII/ARBBANI/2006Tanggal 12 juli 2007 yang isinya mengabulkan tuntutan ganti rugi
yang di ajukan oleh pemohon, PT Putra semesta Baruga, sehubungan dengan
pembangunan Lods Pasar Sentral Mamuju, dengan dasar termohon telah melakukan
wanprestasi, akibat tidak dipenuhinya batas waktu penyelesaian.
Putusan Pengadilan Negeri Mamuju No 09/Pdt, ARB. BANI/2007/PN.MU tanggal 2
oktober 2007 putusan lembaga arbitase di atas ternyata tidak final, karena pihak yang
kalah dalam putusan arbitase dalam hal ini, Muh Djafaral Saihal, menyatakan
ketidaksetujuannya dan mengajukan gugatan ke pengadilan Negeri Mamuju danpihak
pengadilan negeri menerima serta mengadili perkaranya. Setelah memlaui suatu proses,
pengadilan negeri mamuju menjatuhkan putusannya No.09/Pdt, ARB.BANI/2007/PN.MU
tanggal 2 Oktober 2007 yang isinya mengukuhkan putusan lembaga arbitase,
229/VII/ARBBANI/2006 tanggal 17 juli 2007
Putusan Mahkamah Agung No 259.K/Pdt.Sus/2008 tanggal 28 juli 2008 Pihak yang
kalah dalam perkara di pengadilan Negeri Mamuju, dalam hal ini Muh.Djafaral Saihal,
mengajukan banding ke Mahkamah agung, dengan alasan tidak dipenuhinya ketentuan
pasal 72 ayat 2 dan pasal 72 ayat 3 UU no 30 tahun 1999. Atas perjanjian pemborongan
tersebut, kedua belah pihak telah melakukan kesepakatan bersama pada tanggal 16
agustus 1999, disepakatinya suatu perubahan status kedua belah pihak yakni kedua
belah pihak justru bekerja sama dalam disepakatinya pula kalau pihak kedua menjadi ikut
sebagai penjual bangunan Lods Pasar sebagaimana termuat dalam kesaksian tertulis
Ketua KSU satria 45 Soppeng, Putusan Mahkamah Agung No 259.K/Pdt.Sus/2008
tanggal 28 juli 2008 tanggal 28 juli 2008, menyatakan menguatkan putusan pengadilan
negeri mamuju. No 09/Pdt, ARB. BANI/2007/PN.MU tanggal 2 oktober 2007 , yang
mengukuhkan putusan lembaga Arbitase No 229/VII/ARBBANI/2006 tanggal 17 Juli 2007.
Pertimbangan Hakim
Menyatakan menguatkan putusan pengadilan negeri mamuju. No 09/Pdt, ARB.
BANI/2007/PN.MU tanggal 2 oktober 2007 , yang mengukuhkan putusan lembaga Arbitase
No 229/VII/ARBBANI/2006 tanggal 17 Juli 2007.
CONTOH KASUS PELANGGARAN HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL
KASUS IDEA FIELD INDONESIA VS MEDIANCE
PT IDEA FIELD INDONESIA yang berlokasi di Jalan Burangrang No 34 Bandung, Jawa Barat
adalah perusahaan yang sedang berkembang, dan bergerak dalam bidang desain grafis dan desain
multimedia. Perusahaan ini menciptakan desain dengan isi dan konteks yang kuat, menciptakan
produkproduk ( desain ) yang yang indah dan setiap kliennya di tangani dengan detail dan teliti.
karya desain grafis PT IDEA FIELD INDONESIA bersifat dinamis dan dapat berubah-ubah
mengikuti perkembang zaman. Perusahaan ini memasarkan dan memperdagangkan jasanya
secara nasional dan internasional, melalui pemasaran secara langsung maupun melalui media
internet sehingga desain grafis hasil karya Idea Field Indonesia bisa dikenal dan digunakan
secara nasional maupun internasional.
Melalui http://www.elance.com PT IDEA FIELD INDONESIA memasarkan karya-karya desain
grafisnya didunia maya (internet), dalam website ini PT IDEA FIELD INDONESIA
dihubungkan dengan para pembeli karya desain grafis atau pembeli jasa untuk membuat desain
grafis. Dalam website ini PT IDEA FIELD INDONESIA diharuskan me-upload katalog yang
berisi karya-karya desain grafis, agar para pembeli bisa melihat hasil-hasil karya yang diciptakan
oleh perusahaan. Salah satu katalog yang di-upload di internet adalah katalog dibawah ini :
Pada tanggal 13 Juni 2008 PT. IDEA FIELD INDONESIA mendapatkan laporan dari
http://www.elance.com bahwa katalog berisi karya-karya desain grafis digunakan
tanpa izin oleh pihak MEDIANCE dalam website elance.com dan lambang the idea
field diubah menjadi lambing MEDIANCE. Sehingga katalog tersebut berhasil menarik para
pembeli jasa pembuat karya desain grafis untuk membeli karya dan jasa MEDIANCE, bahkan
MEDIANCE berhasil menjual salah satu karya desain grafis dalam katalog tersebut. Pada
tanggal 24 Juni 2008 PT. IDEA FIELD INDONESIA melakukan somasi pada MEDIANCE
melalui e-mail yang berisikan, bahwa katalog tersebut dan semua karya deain grafis didalamnya
adalah ciptaan PT.IDEA FIELD INDONESIA yang dilindungi oleh hak cipta, sehingga
MEDIANCE harus menghentikan penggunaan katalog tersebut dan membayar sejumlah uang
karena telah menjual salah satu karya desain grafis dalam katalog tersebut sebesar 500 US$
selambatlambatnya pada tanggal 29 Juni 2008. Sampai pada tanggal 29 Juni 2008 tidak ada
tanggapan dari MEDIANCE terhadap somasi PT IDEA FIELD INDONESIA. Kemudian PT
IDEA FIELD INDONESIA meminta bantuan kepada http://www.elance.com sebagai pihak yang
menyediakan layanan untuk menyelesaikan masalah dengan pihak MEDIANCE. Sehingga pada
tanggal 15 Juli 2008 tim Elance.com membentuk badan arbitrase Ad-Hoc untuk menyelesaikan
permasalahan ini. Pihak PT IDEA FIELD INDONESIA memilih hakim arbitrer dari Asosiasi
Desain Grafis Internasional dan pihak MEDIANCE menyetujuinya. Hasil arbitrase pada tanggal
15 Agustus 2008 adalah pihak MEDIANCE akan menghentikan penggunaan katalog tersebut
dalam website elance.com dan akan membayar uang sebesar 300 US$ atas penggunaan katalog
dan perbanyakan karya desain grafis tersebut. Hasil putusan Arbitrase tersebut telah
dilaksanakan oleh MEDIANCE. Tetapi uang sebesar 300 US$ harus rela dipotong sebesar 100
US$ untuk biaya arbitrase yang disediakan oleh http://www.elance.com.
Dalam Kasus Tersebut tidak di jelaskan UU yang berlaku, tetapi jika di analisa
maka kasus tersebut terkena UUHC Pasal 72 ayat 2 yang berbunyi :
“Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau
menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta
atau hak terkait sebagaimana di maksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana
penjara paling lama lima tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00
(lima ratus juta rupiah).”
Dalam Kasus ini Jika di ukur dari UU yang berlaku maka akan dikenakan hukuman Penjara
Paling lama lima tahun atau/dan denda paling banyak Rp 500.000.000,00. Karena dalam kasus
ini langkah hokum yang diambil adalah mediasi atau arbitrase maka dari hasil arbitrase
Mediance dijatuhi Hukuman berupa denda sebesar 300 US$ walaupun ada pemotong
dengan Biaya Arbitrase.