Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

KONSEP DAN PERSPEKTIF KEPERAWATAN KRITIS

Dosen Pengampu:
Ns. Dewi Masyitah, S.Kep., M.Kep., Sp.KepMB

Syafiva Sunnahwiyah
PO71201180033

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN

POLITEKNIK KESEHATAN

KEMENTRIAN KESEHATAN JAMBI

2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul
“KONSEP DAN PERSPEKTIF KEPERAWATAN KRITIS” ini tepat pada
waktunya.

Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi
tugas Ns. Dewi Masyitah, S.Kep., M.Kep., Sp.KepMB pada mata kuliah
Keperawatan Kritis. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah
wawasan tentang keperawatan kritis bagi para pembaca dan juga bagi penulis.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Ns. Dewi Masyitah, S.Kep.,


M.Kep., Sp.KepMB selaku dosen mata kuliah Keperawatan Kritis yang telah
memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan
sesuai dengan bidang studi yang saya tekuni.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang


membagikan pengetahuannya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini.

Saya menyadari bahwa makalah yang saya tulis ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran membangun akan saya terima demi
kesempurnaan makalah ini.

Jambi, Februari 2021

Syafiva Sunnahwiyah

ii
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR.............................................................................................ii

DAFTAR ISI..........................................................................................................iii

I. PENDAHULUAN................................................................................................1

1.1. Latar Belakang..........................................................................................1

1.2. Rumusan Masalah.....................................................................................1

1.3. Tujuan........................................................................................................2

II. PEMBAHASAN.................................................................................................3

2.1. Definisi Keperawatan Kritis......................................................................3

2.2. Ruang Lingkup Keperawatan Kritis..........................................................3

2.3. Prinsip Keperawatan Kritis.......................................................................4

2.4. Fungsi dan Peran Perawat.........................................................................5

2.4.1. Tim Lapangan....................................................................................5

2.4.2. Peran Perawat Kritis Sebagai Advokat..............................................5

2.4.3. Perawatan Critical Care Mempunyai Berbagai Peran Formal, Yaitu:


6

2.5. Trend dan Issue Keperawatan Kritis.........................................................7

2.5.1. Pengertian...........................................................................................7

2.5.2. Faktor yang Mempengaruhi Trend Issue Keperawatan Kritis...........8

2.5.3. Konsep Isu dan Trend......................................................................10

2.5.4. Nilai-nilai dalam Trend dan Isu.......................................................11

2.6. Evidence Based Practice dalam Keperawatan Kritis..............................12

III. PENUTUP........................................................................................................14

3.1. Kesimpulan..............................................................................................14

iii
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................15

iv
I. PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Dalam dunia keperawatan, sangat penting bagi seorang perawat untuk
membuat tindakan yang tepat terhadap pasien. Perawat harus mengetahui tentang
konsep dan perencanaan asuhan keperawatan yang etis, legal, dan peka budaya
pada klien yang mengalami kondisi kritis dan mengancam kehidupan.
Perencanaan asuhan keperawatan dikembangkan sedemikian rupa sehingga
diharapkan mampu mencegah atau mengurangi kematian dan kecacatan yang
berpotensi terjadi.

Dirawat di unit perawatan kritis (CCU) dapat menandakan adanya


ancaman terhadap kehidupan dan kesejahteraan pasien di unit tersebut. Perawat
perawatan kritis menganggap unit keperawatan kritis sebagai tempat kehidupan
yang rapuh, diawasi dengan cermat, dirawat dan dipelihara. Namun, pasien
bererta keluarganya menganggap bahwa perawatan di CCU merupakan salah satu
tanda kematian yang akan terjadi. Pemahaman terhadap makna perawatan kritis
bagi pasien dapat membantu perawat dalam merawat para pasien. Akan tetapi
komuniksi yang efektif dengan pasien yang kritis sering kali menimbulkan
tantangan dan rasa frustasi. Hambatan komunikasi dapat berhubungan dengan
fisiologis pasien; terpasangnya slang endotracheal, yang menghambat komunikasi
verbal; obat-obatan atau kondisi lain yang mengganggu fungsi kognitif.

Dalam makalah ini, penulis berusaha memberikan pemahaman terhadap


apa itu perawatan kritis agar dapat menjadi media informasi tentang betapa
rapuhnya unit perawatan kritis dan supaya dapat mengurangi kekhawatiran pasien
tentang unit perawatan kritis. Dalam penyusunan makalah ini, penulis meminta
maaf apabila ada informasi yang kurang jelas ataupun sulit untuk dipahami,
sesungguhnya penulis juga masih dalam tahap belajar.

I.2. Rumusan Masalah


Dalam makalah ini akan dibahas beberapa topik antara lain:

1. Apa itu perawatan kritis?

1
2. Bagaimana peran perawat kritis dalam keperawatan?
3. Bagaimana bentuk penanganan perawat kritis?
4. Bagaimana memahami karakteristik pasien?
5. Apa saja yang harus dikuasai perawat kritis?

I.3. Tujuan
Adapun tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah:

1. Mahasiswa mampu menguasai konsep dan perspektif keperawatan kritis.


2. Mahasiswa mampu memahami trend, issue, dan evidence based practice
keperawatan.

2
II. PEMBAHASAN

II.1. Definisi Keperawatan Kritis


Perawatan kritis merupakan salah satu spesialisasi di bidang keperawatan
yang secara khusus menangani respon manusia terhadap masalah yang
mengancam kehidupan. Secara keilmuan, perawatan kritis berfokus terhadap
penyakit yang kritis atau pasien yang tidak stabil. Untuk pasien yang kritis,
penrnyataan penting yang harus dipahami perawat ialah “waktu adalah vital”.
Sedangkan istilah kritis memiliki artian yang luas penilaian dan evaluasi secara
cermat dan hati-hati terhadap suatu kondisi krusial dalam rangka mencari
penyelesaian/jalan keluar.

Menurut American Association of Critical-Care Nurses (AACN),


keperawatan kritis adalah keahlian khusus didalam ilmu keperawatan yang
dihadapkan secara rinci dengan manusia (pasien) dan bertanggung jawab atas
masalah yang mengancam jiwa. Perawat kritis adalah perawat professional yang
resmi yang bertanggung jawab untuk memastikan pasien sakit kritis dan keluarga
pasien mendapatkan kepedulian optimal.

Asuhan keperawatan kritis mencakup diagnosis dan penatalaksanaan


respon manusia terhadap penyakit actual atau potensial yang mengancam
kehidupan. Lingkup praktik asuhan keperawatan kritis didefinisikan dengan
interaksi perawat kritis, pasien dengan penyakit kritis, dan lingkungan yang
memberikan sumber-sumber adekuat untuk pemberian perawatan.

II.2. Ruang Lingkup Keperawatan Kritis


American Association of Critical Care Nurses (AACN) menyatakan
bahwa asuhan keperawatan kritis mencakup diagnosis dan penatalaksanaan respon
manusia terhadap penyakit yang actual atau potensial yang mengancam kehidupan
(AACN, 1989).

Lingkup praktik asuhan keperawatan kritis didefinisikan dengan interaksi


perawat kritis, pasien dengan penyakit kritis, dan lingkungan yang memberikan
sumber-sumber adekuat untuk pemberian perawatan. Pasien yang masuk ke

3
lingkungan keperawatan kritis menerima asuhan keperawatan intensif untuk
berbagai masalah kesehatan. Serangkaian gejala memiliki rentang dari pasien
yang memerlukan pemantauan yang sering dan membutuhkan sedikit intervensi
sampai pasien dengan kegagalan fungsi multisystem yang memerlukan intervensi
untuk mendukung fungsi hidup yang mendasar. Pada umumnya lingkungan yang
mendukung rasio perbandingan perawat – pasien yaitu 1:2 (tergantung dari
kebutuhan pasien), satu perawat dapat merawat tiga pasien dan, terkadang seorang
pasien memerlukan bantuan lebih dari satu orang perawat untuk dapat bertahan
hidup. Dukungan dan pengobatan terhadap pasien-pasien tersebut membutuhkan
suatu linghkungan yang informasinya siap tersedia dari berbagai sumber dan
diatur sedemikian rupa sehingga keputusan dapat diambil dengan cepat dan
akurat.

II.3. Prinsip Keperawatan Kritis


Pasien kritis adalah pasien yang dengan perburukan patofisiologi yang
cepat dapat menyebabkan kematian. Ruang untuk mengatasi pasien kritis di
rumah sakit terdiri dari: Unit Gawat Darurat (UGD) dimana pasien diatasi untuk
pertama kali, Unit Perawatan Intensif (ICU) adalah bagian untuk mengatasi
keadaan kritis sedangkan bagian yang lebih memusatkan perhatian kepada
penyumbatan dan penyempitan pembuluh darah coroner yang disebut unit
perawatan intensif Koroner Intensif Care Coronary Unit (ICCU). Baik UGD,
ICU, maupun ICCU adalah unit perawatan pasien kritis dimana perburukan
patofisiologi dapat terjadi secara tepat dan dapat berakhir dengan kematian.

Prioritas dari gawat darurat tiap pasien gawat darurat mempunyai tingkat
kegawatan yang berbeda, dengan demikian mempunyai prioritas pelayanan
prioritas yang berbeda. Oleh karena itu diklasifikasikan pasien kritis atas:

a. Exigent: pasien yang tergolong dalam keadaan gawat darurat 1 dan


memerlukan pertolongan segera. Yang termasuk dalam kelompok ini
adalah pasien dengan obstruksi jalan nafas, fibrasi ventrikel, ventrikel
takikardi dan cardiac arrest.
b. Emergent: yang disebut juga dengan gawat darurat 2 yang memerkukan
pertolongan secapet mungkin dalam beberapa menit. Yang termasuk

4
dalam kelompol ini adalah miocard infark, aritmia yang tidak stabil dan
pneumothoraks.
c. Urgent: yang termasuk kedalam gawat darurat 3. Dimana waktu
pertolongan yang dilakukan lebih panjang dari gawat darurat 2, akan tetapi
tetap memerlukan pertolongan yang cepat karena dapat mengancam
kehidupan. Yang termasuk kedalam kelompok ini adalah eksteraserbasi
asma, pndarahan gastrointestual dan keracunan.
d. Minor atau Non urgent: yang termasuk kedalam gawat darurat 4, semua
penyakit yang tergolong kedalam yang tidak mengancam kehidupan.

II.4. Fungsi dan Peran Perawat


II.4.1. Tim Lapangan
Merekomendasikan pembentukan tim lapangan pada semua trust akut.
Tim ini terbentuk sesuatu dengan filosofi perawatan intensif tanpa batas sebagai
salah satuaspek dari pelayanan perawatan kritis (Gwinnutt, 2006). Tujuan dari tim
lapangan ini adalah:

a. Berupaya agar pasien tidak perlu ke ICU dengan mengidentifikasi pasien


yang mengalami perburukan dan juga membantu untuk mencegah agar
pasien tidak perlu ke ICU atau memastikan hasil akhir yang terbaik.
b. Memungkinkan pengeluaran pasien dari ICU dengan memberikan
dukungan, baik saat pasien keluar dari ICU dan berada dalam ruang
perawatan yang secara kontinu menunjukkan kesembuhan maupun setelah
pesien keluar dari rumah sakit.
c. Memberikan keterampilan perawatan kritis kepada staf di ruang perawatan
dan komunitas, memastikan bertambahnya kesempatan pelatihan dan
praktik keterampilan, serta menggunakan informasi yang diperoleh dari
ruang perawatan dan komunitas untuk memperbaiki pelayanan perawatan
kritis bagi pasien dan keluarganya.

II.4.2. Peran Perawat Kritis Sebagai Advokat


Pengembangan fungsi adaptif berarti perawat bernegosiasi untuk pasien.
Karena pasien dengan penyakit kritis sering kali tidak dapat secara efektif
mengatasi masalah fisiologis dan lingkungan. Sehingga perlu bagi perawat

5
mengerjakannya untuk pasien apa yang tak mampu mereka kerjakan untuk diri
mereka sehingga energi disimpan. Sebagai advokat pasien, perawat harus
menghindari penambahan beban yang meningkatkan kebutuhan pasien untuk
berinteraksi bila interaksi tidak mengembangkan adaptasi. Sebagai contoh, energi
pasien terpakai untuk rasa takut terhadap peralatan didekatnya tidak membantu
memakai energi dengan menanyakan hal tersebut dan mendengarkan
pengulangan. Demikian juga, energi bertambah pada kebutuhan untuk secara tetap
mendapatkan cinta seseorang tetap ada, tak sebanding dalam penggunaan energi
untuk berhubungan dengan orang tersebut.

Pengembangan keamanan pada pasien penyakit kritis meliputi penurunan


kerentanan fisiologik dan emosional. Perasaan aman hilang atau sedikitnya
menurun secara bermakna kapanpun ada penurunan fungsi pengendalian tubuh.
Hilangnya pengendalian bervariasi mulai dari kelelahan dan kelemahan sampai
paralisis. Hal ini dapat diakibatkan oleh patologi, lingkungan (contoh, dyspnea
dan kelebihan beban sensori). Sehubungan dengan penurunan atau hilangnya
pengendalian, perawat melakukan intervensi untuk meningkatkan rasa aman
pasien. Hal ini diselesaikan dengan menggunakan keterampilan, alat-alat, obat-
oabatan, dan interaksi, memberikan bantuan pernapasan dengan respirator, dengan
mendorong latihan pernapasan, atau dengan tinggal bersama pasien saat pasien
ansietas dan kesepian. Pengenalan kebutuhan rasa aman pasien merupakan elemen
penting dalam pendekatan holistic asuhan keperawatan. Selain itu, hal ini sangat
mempertimbangkan “keseluruhan” pasien yang memungkinkan perawat untuk
menetapkan prioritas sebagai negosiator pasien.

II.4.3. Perawatan Critical Care Mempunyai Berbagai Peran Formal, Yaitu:


a. Bedsite nurse: peran dasar dari perwatan kritis. Hanya mereka yang selalu
bersama 24 jam dari 7 hari seminggu.
b. Pendidik critical care: mengedukasi pasien.
c. Care manager: mempromosikan perawat yang sesuai dan tepat waktu.
d. Menager unit atau departemen (kepala bagian): menjadi pengarah.
e. Perawat klionis spesialis: dapat membantu membuat rencana asuhan
keperawatan.
f. Perawat praktisi: mengelola terapi dan pengobatan.

6
Pada akhirnya perawat critical care mengkoordinasikan dengan tim
mengimplementasikan rencana asuhan keperawatan:

a. Menyediakan pendidikan dan dukungan untuk membantu pasien atau


mengganti pasien yang ditunjuk membuat keputusan.
b. Mewakili pasien sesuai dengan pilihan pasien.
c. Mendukung keputusan dari pasien atau menggantu yang ditunjuk, atau
perawatan transfer pasien kritis sama-sama berkualitas.
d. Berdoa bagi pasien yang tidak dapat berbicara untuk mereka sendiri.
e. Memantau dan menjaga kualitas perawatan pasien.
f. Bertindak sebagai penghubung antara pasien, keluarga, dan professional
kesehatan lainnya.

II.5. Trend dan Issue Keperawatan Kritis


II.5.1. Pengertian
Trend adalah hak yanag sangat mendaar dalam berbagai pendekatan
analisa, trend juga dapat didefenisikan salah satu gambaran ataupun informasi
yang terjadi pada saat ini yang biasanya sedang populer dimasyarakat.

Isu adalah suatu peristiwa atau kejadian yang dapat diperkirakan terjadi
terjadi atau tidak terjadi pada masa mendatang. Isu adalah sesuatu yang sedang
dibicarakan oleh banyak orang namun masih belum jelas faktanya atau buktinya.

Trend dan isu keperawatan adalah sesuatu yang sedang di bicarakan


banyak orang tentang praktek / mengenai keperawatan baik itu berdasarkan fakta
maupun tidak. Keparawatan gawat darurat adalah pelayanan profesioanal
keperawatan yang di berikan pada pasien dengan kebutuhan urgen dan kritis.
Namun UGD dan klinik kedaruratan sering di gunakan untuk masalah yang tidak
urgen. Yang kemudian filosopi tentang keperawatan gawat darurat menjadi luas,
kedaruratan yaitu apapun yang di alami pasien atau keluarga harus di
pertimbangkan sebagai hedaruratan

Pelayanan gawat darurat tidak hanya memberikan pelayanan untuk


mengatasi kondisi kedaruratan yang di alami pasien tetapi juga memberikan
asukan keperawatan untuk mengatasi kecemasan pasien dan keluarga. sistem

7
pelayana bersifat darurat sehingga perawat dan tenaga medis lainnya harus
memiliki kemampuan, keterampilan, tehnik serta ilmu pengetahuan yang tinggi
dalam memberikan pertolongan kedaruratan kepeda pesien.

II.5.2. Faktor yang Mempengaruhi Trend Issue Keperawatan Kritis


1. Faktor agama dan adat istiadat

Agama serta latar belakang adat-istiadat merupakan faktor utama dalam


membuat keputusan etis. Setiap perawat disarankan untuk memahami nilai-nilai
yang diyakini maupun kaidah agama yang dianutnya. Untuk memahami ini
memang diperlukan proses. Semakin tua dan semakin banyak pengalaman belajar,
seseorang akan lebih mengenal siapa dirinya dan nilai-nilai yang dimilikinya.

Indonesia merupakan negara kepulauan yang dihuni oleh penduduk


dengan berbagai agama/kepercayaan dan adat istiadat. Setiap penduduk yang
menjadi warga negara Indonesia harus beragama/berkeyakinan. Ini sesuai dengan
sila pertama Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa, dimana di Indonesia
menjadikan aspek ketuhanan sebagai dasar paling utama. Setiap warga negara
diberi kebebasan untuk memilih kepercayaan yang dianutnya.

2. Faktor social
Berbagai faktor sosial berpengaruh terhadap pembuatan keputusan etis.
Faktor ini antara lain meliputi perilaku sosial dan budaya, ilmu pengetahuan dan
teknologi, hukum, dan peraturan perundang-undangan.

Perkembangan sosial dan budaya juga berpengaruh terhadap sistem


kesehatan nasional. Pelayanan kesehatan yang tadinya berorientasi pada program
medis lambat laun menjadi pelayanan komprehensif dengan pendekatan tim
kesehatan.

3. Faktor ilmu pengetahuan dan teknologi

Pada era abad 20 ini, manusia telah berhasil mencapai tingkat kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang belum dicapai manusia pada abad
sebelumnya. Kemajuan yang telah dicapai meliputi berbagai bidang.

8
Kemajuan di bidang kesehatan telah mampu meningkatkan kualitas hidup
serta memperpanjang usia manusia dengan ditemukannya berbagai mesin
mekanik kesehatan, cara prosedur baru dan bahan-bahan/obat-obatan baru.
Misalnya pasien dengan gangguan ginjal dapat diperpanjang usianya berkat
adanya mesin hemodialisa. Ibu-ibu yang mengalami kesulitan hamil dapat diganti
dengan berbagai inseminasi. Kemajuan-kemajuan ini menimbulkan pertanyaan-
pertanyaan yang berhubungan dengan etika.

4. Faktor legislasi dan keputusan juridis

Perubahan sosial dan legislasi secara konstan saling berkaitan. Setiap


perubahan sosial atau legislasi menyebabkan timbulnya tindakan yang merupakan
reaksi perubahan tersebut. Legislasi merupakan jaminan tindakan menurut hukum
sehingga orang yang bertindak tidak sesuai hukum dapat menimbulkan konflik.

Saat ini aspek legislasi dan bentuk keputusan juridis bagi permasalahan
etika kesehatan sedang menjadi topik yang banyak dibicarakan. Hukum kesehatan
telah menjadi suatu bidang ilmu, dan perundang-undangan baru banyak disusun
untuk menyempurnakan perundang-undangan lama atau untuk mengantisipasi
perkembangan permasalahan hukum kesehatan.

5. Faktor dana/keuangan.

Dana/keuangan untuk membiayai pengobatan dan perawatan dapat


menimbulkan konflik. Untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat,
pemerintah telah banyak berupaya dengan mengadakan berbagai program yang
dibiayai pemerintah.

6. Faktor pekerjaan

Perawat perlu mempertimbangkan posisi pekerjaannya dalam pembuatan


suatu keputusan. Tidak semua keputusan pribadi perawat dapat dilaksanakan,
namun harus diselesaikan dengan keputusan/aturan tempat ia bekerja. Perawat
yang mengutamakan kepentingan pribadi sering mendapat sorotan sebagai
perawat pembangkang. Sebagai konsekuensinya, ia mendapatkan sanksi
administrasi atau mungkin kehilangan pekerjaan.

9
7. Faktor Kode etik keperawatan

Kelly (1987), dikutip oleh Robert Priharjo, menyatakan bahwa kode etik
merupakan salah satu ciri/persyaratan profesi yang memberikan arti penting dalam
penentuan, pertahanan dan peningkatan standar profesi. Kode etik menunjukkan
bahwa tanggung jawab kepercayaan dari masyarakat telah diterima oleh profesi.

Untuk dapat mengambil keputusan dan tindakan yang tepat terhadap


masalah yang menyangkut etika, perawat harus banyak berlatih mencoba
menganalisis permasalahan-permasalahan etis.

8. Faktor Hak-hak pasien.

Hak-hak pasien pada dasarnya merupakan bagian dari konsep hak-hak


manusia. Hak merupakan suatu tuntutan rasional yang berasal dari interpretasi
konsekuensi dan kepraktisan suatu situasi.

Pernyataan hak-hak pasien cenderung meliputi hak-hak warga negara, hak-


hak hukum dan hak-hak moral. Hak-hak pasien yang secara luas dikenal menurut
Megan (1998) meliputi hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang adil
dan berkualitas, hak untuk diberi informasi, hak untuk dilibatkan dalam
pembuatan keputusan tentang pengobatan dan perawatan, hak untuk diberi
informed concent, hak untuk mengetahui nama dan status tenaga kesehatan yang
menolong, hak untuk mempunyai pendapat kedua(secand opini), hak untuk
diperlakukan dengan hormat, hak untuk konfidensialitas (termasuk privacy), hak
untuk kompensasi terhadap cedera yang tidak legal dan hak untuk
mempertahankan dignitas (kemuliaan) termasuk menghadapi kematian dengan
bangga.

II.5.3. Konsep Isu dan Trend


1. Mengahargai keyakinan klien menurut budayanya

Perawat harus bisa menghargai keyakinan klien tetapi tetap melaksanakan


tindakan untuk perawatan klien dengan mengganti dengan alternative lain.
Misalnya klien yang tidak mengkonsumsi obat-obatan kimia, berpikir kritis
dengan mengganti dengan obat herbal yang telah terbukti pengobatannya.

10
misalnya di budaya Jawa, Brotowali sebagai obat untuk menghilangkan rasa
nyeri.

2. Menghentikan kebiasaan buruk

Apabila klien mempunyai kebiasaan merokok pada saat setelah makan,


maka perawat harus dapat melarang kebiasaan tersebut. Karena dapat
membahayakan klien dan terapi penyembuhan dapat mengalami kegagalan.
Contoh lain, kebiasaan bagi orang jawa yakni jika ada salah satu pihak keluarga
atau sanak saudara yang sakit, maka untuk menjenguknya biasanya mereka
mengumpulkan dulu semua saudaranya dan bersama – sama mengunjungi
saudaranya yang sakit tersebut. Karena dalam budaya Jawa dikenal prinsip
“mangan ora mangan, seng penting kumpul.

3. Mengganti kebiasaan pengobatan yang buruk

Bagi masyarakat Jawa dukun adalah yang pandai atau ahli dalam
mengobati penyakit melalui “Japa Mantera”, yakni doa yang diberikan oleh dukun
kepada pasien. Misalnya dukun pijat/tulang (sangkal putung) khusus menangani
orang yang sakit terkilir , patah tulang , jatuh atau salah urat.

II.5.4. Nilai-nilai dalam Trend dan Isu


1. Nilai Intelektual

Nilai intelektual dalam prtaktik keperawatan terdiri dari:

a. Body of Knowledge
b. Pendidikan spesialisasi (berkelanjutan)
c. Menggunakan pengetahuan dalam berpikir secara kritis dan kreatif.
2. Nilai komitmen moral

Pelayanan keperawatan diberikan dengan konsep altruistic, dan


memperhatikan kode etik keperawatan. Menurut Beauchamp & Walters (1989)
pelayanan professional terhadap masyarakat memerlukan integritas, komitmen
moral dan tanggung jawab etik.

3. Otonomi, kendali dan tanggung gugat

11
Otonomi merupakan kebebasan dan kewenangan untuk melakukan
tindakan secara mandiri. Hak otonomi merujuk kepada pengendalian kehidupan
diri sendiri yang berarti bahwa perawat memiliki kendali terhadap fungsi mereka.
Otonomi melibatkan kemandirian, kesedian mengambil resiko dan tanggung
jawab serta tanggung gugat terhadap tindakannya sendiribegitupula sebagai
pengatur dan penentu diri sendiri.

II.6. Evidence Based Practice dalam Keperawatan Kritis


Evidence-Based Practice adalah pendekatan sistematis untuk
meningkatkan kualitas praktik keperawatan dengan mengumpulkan bukti terbaik.
Evidence adalah kumpulan fakta yang diyakini kebenarannya. Ada dua bukti yang
dihasilkan oleh evidence yaitu bukti eksternal dan internal. Evidence-Based
Practice in Nursing adalah penggunaan bukti ekternal dan bukti internal (clinical
expertise), serta manfaat dan keinginan pasien untuk mendukung pengambilan
keputusan di pelayanan kesehatan. Hal ini menuntut perawat untuk dapat
menerapkan asuhan keperawatan yang berbasis bukti empiris atau dikenal dengan
Evidance Based Nursing Practice (EBNP).

Kebijakan penerapan EBNP di Indonesia terdapat dalam Undang-Undang


Keperawatan Nomor 38 Tahun 2014 Pasal 2 huruf b yang menyatakan bahwa
praktik keperawatan berasaskan nilai ilmiah sebagaimana dijelaskan bahwa
praktik keperawatan harus dilandaskan pada ilmu pengetahuan dan teknologi yang
diperoleh baik melalui penelitian, pendidikan maupun pengalaman praktik.
Meskipun kebijakan penerapan EBNP telah tertuang dalan UU Keperawatan
namun fenomena keperawatan dalam menerapkan EBNP masih terbilang rendah
di Indonesia. Banyaknya hasil penelitian keperawatan yang sudah dihasilkan di
institusi pendidikan namun belum optimal penyerapannya ke pelayanan praktik
keperawatan sehingga banyak perawat yang belum terpapar dengan penelitian.
Mukti (2012) mengatakan bahwa EBNP sangat diperlukan untuk meningkatkan
kualitas pelayanan, keselamatan pasien, keefektifan managemen dalam
pengelolaan pelayanan keperawatan, dan meningkatkan kesadaran akan
pentingnya bukti empiris dalam melaksanakan pelayanan.

12
Di beberapa negara, pelaksanaan EBNP menjadi fokus dalam pelayanan
keperawatan. Persepsi perawat terhadap penggunaan EBNP masih beragam
dikarenakan pengetahuan, respon sumber daya pendukung dan adanya faktor
penghambat. Persepsi adalah suatu proses ketika seseorang mengorganisasikan
dan menginterpretasikan kesan sensori mereka untuk memberi arti pada
lingkungan. Hasil penelitian tentang persepsi penerapan EBNP menunjukkan hasil
yang berbeda dalam kaitannya dengan persepsi perawat seperti yang dijelaskan
dalam beberapa penelitian.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya penerapan EBNP


seperti pendidikan perawat yang masih belum homogen, pengetahuan perawat
yang masih rendah, belum siapnya perawat seperti membiasakan membaca jurnal,
meneliti dan mengintegrasikan penelitian serta belum mengenal lebih banyak
tentang penelitian. Hal tersebut dibuktikan dalam penelitian, Lagita (2012)
menunjukkan bahwa pengetahuan perawat pada konsep berbasis bukti masih
rendah, dan perawat belum siap menerapkan EBNP di rumah sakit dikarenakan
intervensi keperawatan yang selama ini diterapkan berdasarkan “kebiasaan”.

Faktor lainnya yaitu kurangnya dukungan dari perawat manager dalam


mengimplementasikan EBNP di ruangan. Pemimpin perawat merupakan kunci
terpenting dalam mempromosikan EBNP dan juga harus memiliki keterampilan
yang digunakan untuk praktik dan kepemimpinan. Penelitian tentang dampak
pelatihan kepemimpinan keperawatan terhadap EBNP pada perawat manager
didapatkan bahwa sebelum mereka dilatih persepsi dan sikap mereka tentang
EBNP 62% positif dengan rincian 5% sangat setuju dan 69% setuju EBNP
diterapkan di pelayanan keperawatan. Namun pada saat setelah pelatihan 59%
perawat sangat setuju bahwa pelatihan EBNP membantu mereka dalam
mengambil keputusan berdasarkan pembuktian. Rincian hasil penelitian tersebut
adalah 15% menyatakan sangat setuju dan 76% menyatakan setuju EBNP
diterapkan di pelayanan keperawatan. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah
peran perawat manager sangat penting dalam mengembangkan EBNP di unit kerja
mereka.

13
III. PENUTUP

III.1. Kesimpulan
Keperawatan kritis adalah keahlian khusus dalam ilmu perawatan yang
menghadapi secara rinci dengan manusia yang bertanggung jawab atau masalah
yang mengancam jiwa. Perawat kritis adalah perawat professional yang resmi
yang bertanggung jawab untuk memastikan pasien dengan sakit kritis dan
keluarga-keluarga mereka menerima kepedulian optimal (American Association
of Critical-Care Nurses). Pada saat menjalankan proses keperawatan kritis, prinsip
yang digunakan adalah melakukan pertolongan dengan memilih prioritas pasien
mana yang akan diberikan pelayanan keperawatan terlebih dahulu sesuai tingkat
kegawatdaruratan nya dimana pasien yang sangat terancam hidupnya harus diberi
prioritas utama.

14
DAFTAR PUSTAKA

Hudak dan Gallo.2010. Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik Volume


1.Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Jevon, Philip. Ewens, Beverley. 2009. Pemantauan Pasien Kritis Edisi Dua.

Morton, Patricia Gonce, dkk. 2011. Keperawatan Kritis: Pendekatan Asuhan


Holistik. Jakarta: EGC.

Morton, PG., Fontaine, D., Hudak, CM & Gallo, BM. (2011).Keperawatan Kritis:
Pendekatan Asuhan Holistik. Edisi 8. Jakarta: EGC.

Evans, J, Bell, JL, Sweeney, AE, Morgan, JI & Kelly, HM 2010, 'Confidence in
Critical Care Nursing', Nursing Science Quarterly, vol. 23, no. 4, pp. 334-340.

Melnyk, BM, Fineout-Overholt, E, Stillwell, SB & Williamson, KM 2010,


'EvidenceBased Practice:Step by Step: The Seven Steps of Evidence-Based
Practice', AJN The American Journal of Nursing, vol. 110, no.1, pp. 51-53.

Bach, V, Ploeg, J & Black, M 2009, 'Nursing Roles in End-of-Life Decision


Making in Critical Care Settings', Western Journal of Nursing Research, vol.31,
no.4, pp.496512

15

Anda mungkin juga menyukai