Anda di halaman 1dari 5

TUGAS 2

BISNIS INTERNASIONAL

DEBORA INTANIDA NOVIYANTI

041839528

S1 AKUNTANSI

UPBJJ UT DENPASAR
PERTANYAAN :

Perang dagang antara Amerika dan Tiongkok akan semakin memanas dan memberikan kejutan
bagi seluruh negara dalam pusaran ekonomi dan politik, setelah berpaling dari ekonomi dunia
menjadi “America First”, akhirnya Amerika menarik semua projek ekonomi mereka di luar
negeri yang tidak memberikan keuntungan yang nyata bagi Amerika.

Menurut anda , apakah kebijakan ini masih kondusif untuk perdagangan internasional saat ini?

Apa dampak yang mungkin terjadi dari negara-negara yang bekerjasama dengan AS ? Dan
keuntungan apa yang didapat dari negara pesang Tiongkok atas kebijakan tersebut

Apakah akan ada dampaknya terhadap perdagangan dengan Indonesia, sebagai salah satu negara
berkembang,?

JAWABAN :

America First pertama kalinya disuarakan oleh presiden Amerika yaitu Donald Trump
yang diikuti oleh oleh kalimat “Setiap kebijakan (Perdagangan, Perpajakan, Imigrasi, dan
Kebijakan Luar Negeri) yang diambil oleh pemerintahannya harus berlandaskan pada America
First, harus memiliki manfaat untuk rakyat Amerika.Namun faktanya, kebijakan “America First”
di satu sisi sukses membuat ekonomi berjalan dengan baik pada periode kepemimpinan Donald
Trump, namun tidak cukup hanya dengan berjalan dengan baik tanpa adanya peningkatan dan
penguatan ekonomi. Ini Dimulai ketika perang dagang antara Washington dan Tiongkok yang
mengejutkan dunia, sehingga kebijakan inipun menghebohkan dunia dan merugikan beberapa
pihak. Tanpa pikir panjang Trump beralih bahwa perang dagang mudah untuk dimenangkan dan
Amerika Serikat memiliki perekonomian yang kuat, sehingga tidak perlu khawatir akan
perlambatan yang terjadi. Tentu saja pernyataan Trump lagi-lagi menghebohkan dunia. Hal ini
memberikan dampak yang besar bagi negara-negara lain, bahkan Presiden Dewan Eropa Donald
Tusk berpendapat bahwa perselisihan ini tidak masuk akal dan ditakutkan perang dagang duo
raksasa ekonomi dunia ini akan menyebabkan resesi. Bahkan perang dagang keduanya
memberikan ketegangan di Timur Tengah, alhasil Bank Sentral Amerika, Federal Reserve
menurunkan suku bunganya. Trump juga mengambil kebijakan pembatasan ekspor teknologi
canggih keluar negeri, yang bertujuan agar Amerika menjadi unggul serta tidak terjadi duplikasi
di negara lain. Trump juga nekat memberlakukan kebijakan tarif untuk menekan dan membatasi
impor sehingga produk-produk Amerika dapat diprioritaskan.

Belum berakhir dengan kebijakan-kebijakan Trump yang mengejutkan perekonomian


global, kini slogan “America First” harus diuji dengan Pandemi COVID-19 yang memporak-
porandakan ekonomi global, salah satunya Amerika Serikat. Kebijakan America First hanyalah
slogan Trump untuk merealisasikan “Make America Great Again” yang belum dapat
memberikan justifikasi atau bayaran cukup atas dampak kebijakan tersebut. Kebijakan Trump
dapat diasumsikan sebagai karakter utama dari realisme ekonomi politik yang mengutamakan
keamanan dalam aspek politik serta ekonomi. Hal ini dapat dilihat bahwa kebijakan Trump
dengan tegas mempertunjukkan kepentingan dirinya dan Amerika lah yang utama dengan
menempuh serangkaian kebijakan kontroversi lainnya untuk memuluskan jalan nya dalam
mengimplementasikan kebijakan “America First”. Kini Amerika Serikat mengalami degradasi
ekonomi dimana perdagangan global yang basisnya multilateralisme dianggap merugikan bagi
Amerika. Sebagai contoh ketika Trump keluar dari Paris Agreement. Perang dagang antara
Amerika dan Tiongkok akan semakin memanas dan memberikan kejutan bagi seluruh negara
dalam pusaran ekonomi dan politik, setelah berpaling dari ekonomi dunia menjadi “America
First”, akhirnya Amerika menarik semua projek ekonomi mereka di luar negeri yang tidak
memberikan keuntungan yang nyata bagi Amerika. Hal ini memperkuat posisi Tiongkok dalam
mengambil kendali perekonomian dunia. Tentu saja hal ini berdampak pada eksistensi Amerika
di dunia internasional. Satu hal yang patut dicatat adalah korelasi eksistensi ekonomi dan
dominansi global. Tiongkok, dalam konteks ini, sudah mampu bermain dengan quid pro quo dan
‘mencuri’ pangsa Amerika di dunia internasional. COVID-19 dan isu rasisme juga membuat
perekonomian Amerika Serikat porak-poranda, dimana banyak sekali orang yang menjadi
pengangguran dan pemerintah mengeluarkan dana yang sangat besar untuk mengatasi
keterpurukan ekonomi.

Adapun dampaknya terhadap perdagangan dengan Indonesia, sebagai salah satu negara
berkembang, yaitu Indonesia kehilangan Konsekuensi status Indonesia yang oleh Amerika
Serikat (AS) tidak lagi dimasukkan sebagai negara berkembang adalah Indonesia kehilangan
fasilitas Generalize System of Preference (GSP) atau kehilangan keringanan bea masuk impor
barang ke AS dan fasilitas bantuan Official Development Assistance (ODA) atau bantuan
pembiayaan dari eksternal untuk pembangunan sosial dan ekonom. Indonesia tidak sendiri,
Tiongkok, Afrika Selatan dan Brasil juga kehilangan fasilitas GSP. India dan Turki juga telah
dikeluarkan dari status fasilitas GSP oleh AS pada 2019. GSP merupakan sistem tariff
preferensial yang membolehkan satu negara secara resmi memberikan pengecualian terhadap
aturan umum Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Kehilangan fasilitas GSP di AS akan
diikuti juga hilangnya fasilitas impor di beberapa Negara lain seperti Eropa dan anggota OECD
lainnya. Konsekuensi kehilangan fasilitas GSP adalah harga produk Indonesia di luar negeri,
baik di AS maupun di negara lainnya, akan menjadi lebih mahal dari biasanya. Tentu saja ini
merugikan neraca perdagangan RI. Kini Presiden Trump mencabut fasilitas GSP terhadap
banyak Negara sebagai konsekuensi politik ekonomi Trump yang bermotto “American First”.

Adapun alasan utama dari pencabutan status Indonesia dan negara lainnya sebagai
Negara berkembang yang menikmati fasilitas GSP. Adalah pembodohan jika ada juru bicara
yang menyatakan rasa bangganya bahwa Indonesia kini menjadi negara maju di mata Amerika.
Kenyataan sebenarnya adalah Indonesia tetap menjadi negara berkembang tanpa fasilitas GSP.
Bedanya, kemarin Indonesia adalah negara berkembang tetapi mendapatkan fasillitas GSP.
REFRENSI

BMP BISNIS INTERNASIONALEDISI 1

https://mahasiswaindonesia.id/dampak-kebijakan-america-first-trump-di-tengah-pusaran-
ekonomi-global/
https://investor.id/opinion/american-first-penghapusan-gsp-dan-dampaknya-terhadap-ekonomi