Anda di halaman 1dari 6

MAQAMAT DAN AHWAL

A. Maqamat
1. Pengertian Maqamat
Secara bahasa, maqamat adalah bentuk jamak dari kata maqam yang berarti
pangkat atau derajat. Dalam bahasa inggris, maqamat disebut dengan stages
(tangga) atau stations (terminal).
Menurut istilah tasawuf, maqamat adalah kedudukan seorang hamba
dihadapan Allah, yang diperoleh dengan melalui peribadatan, mujahadah, latihan
spiritual serta (berhubungan) yang tidak putus-putusnya dengan Allah.
Jadi, maqamat adalah hasil kesungguhan dan perjuangan terus-menerus,
dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang lebih baik.
2. Tingkatan Maqamat
a. Taubat
Taubat adalah memohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan yang
telah dilakukan pada saat yang lampau dan berjanji dengan sungguh-sungguh
untuk tidak mengulangi perbuatan dosa-dosa tersebut dan dibarengi dengan
melakukan kebajikan yang dianjurkan oleh Allah.
Taubat memiliki beberapa tingkatan; pertama, taubat tingkat rendah yang
menyangkut dosa yang dilakukan jasad atau angota-anggota badan. Kedua,
taubat tingkat menengah terhadap pangkal dosa-dosa seperti taubat dari sifat
dendam, sombong, iri, riya’, pamer dan lainnya. Ketiga, taubat tertinggi
merupakan taubat untuk berusaha menjauhkan diri dari bujukan syetan dan
kelalaian dari mengingat Allah. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi
ketika melakukan taubat, sebagai berikut:
1) Meninggalkan kemaksiatan yang dilakukan.
2) Menyesali perbuatan maksiat yang dilakukan.
3) Bertekad untuk tidak mengulangi pebuatan maksiat yang telah dilakukan.
b. Zuhud
Zuhud adalah sebagai suatu sikap melepaskan diri dari rasa
ketergantungan terhadap kehidupan duniawi dengan mengutamakan
kehidupan ukhrawi. Zuhud dibagi menjadi 3 tingkatan: Pertama (terendah),
menjauhkan dunia agar terhindar dari hukuman akhirat. Kedua (menengah),
menjauhi dunia dengan menimbang imbalan akhirat. Ketiga (tertinggi),
mengucilkan dunia bukan karena takut atau berharap, tetapi karena cinta
kepada Allah semata.
c. Sabar
Secara bahasa, sabar berarti tabah hati. Secara istilah, sabar adalah suatu
keadaan jiwa yang kokoh, stabil, dan konsekuen dalam pendirian. Dalam
ajaran tasawuf sifat sabar dibagi menjadi 3 macam, yaitu:
1) Sabar dalam beribadah kepada Allah.
2) Sabar dalam menjauhi larangan Allah.
3) Sabar dalam menerima cobaan dari Allah.
d. Wara’
Secara harfiah, wara’ berarti shaleh, menjauhkan diri dari perbuatan dosa
atau maksiat. Menurut pandangan sufi, wara’ adalah meninggalkan segala
sesuatu yang tidak jelas hukumnya, baik yang menyangkut pakaian,
makanan, maupun persoalan lainnya. Wara’ dibagi menjadi 2 yaitu:
1) Wara’ segi lahir yaitu tidak mempergunakan segala yang masih
diragukan dan meninggalkan kemewahan.
2) Wara’ batin yaitu tidak menempatkan atau mengisi hati kecuali dengan
mengingat Allah.
e. Faqr
Faqr adalah tidak menuntut banyak dan merasa cukup dengan apa yang
telah diterima dan dianugrahi oleh Allah, sehingga tidak mengharapkan atau
meminta suatu yang bukan haknya.
f. Tawakal
Secara harfiah, tawakal berarti menyerahkan diri. Secara umum, tawakal
adalah keteguhan hati dalam menggantungkan diri hanya kepada Allah. Serta
berhenti memikirkan diri sendiri dan merasa memiliki daya dan kekuatan.
Tanda-tanda tawakal ada 3 yaitu:
1) Menyingkirkan sikap ketergantungan.
2) Menghilangkan bujukan yang berkaitan dengan tabiat.
3) Berpedoman pada kebenaran dalam mengikuti tabiat.
Tawakal dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu:
1) Kayakinan seseorang akan tanggungan dan pemeliharaan Allah sama
dengan keyakinannya terhadap orang kepercayaannya.
2) Derajat yang lebih tinggi dari pada derajat pertama, yang memposisikan
diri di hadapan Allah seperti posisi seorang bayi di hadapan ibunya.
3) Derajat tertinggi, yaitu memposisikan diri di hadapan Allah ibarat posisi
mayat di hadapan orang yang memandikan.
g. Ridha (Rela)
Secara harfiah, ridha berarti rela, senang dan suka. Secara umum, ridha
adalah menerima dengan rasa puas terhadap apa yang dianugerahkan Allah.
Orang yang rela mampu menerima dan melihat hikmah dan kebaikan dibalik
cobaan yang diberikan Allah dan tidak berburuk sangka terhadap
ketentuannya. Ridha memiliki dua sudut pandang yaitu:
1) Terarah kepada perbuatan Allah, yang dimana seorang hamba merasa
ridha terhadap perbuatan Allah yang menetapkan terjadinya segala
sesuatu.
2) Terarah kepada kejadian yang diputuskan, yaitu terhadap musibah itu
sendiri. Artinya seseorang harus merasa ridha dengan musibah yang
diberikan oleh Allah.
h. Mahabah
Mahabah berasal dari kata ahabah-yuhibu-mahabatan yang berarti
mencintai secara mendalam. Mahabah adalah cinta abadi kepada Allah yang
melebihi cinta kepada siapa pun dan apapun. Adapun tanda-tanda cinta
seorang terhadap Allah diantaranya yaitu:
1) Senang bertemu dengan kekasihnya (Allah) dengan cara saling membuka
rahasia dan saling melihat satu sama lain.
2) Melakukan segala hal yang disenangi kekasihnya (Allah).
3) Senantiasa berdzikir menyebut nama-Nya.
4) Merasa tenang dan damai ketika bermunajat kepada Allah dam membaca
kepada kitabnya.
i. Ma’rifat
Secara bahasa, ma’rifat berasal dari kata arafah, ya’rifu, irfan, ma’rifat
yang artinya pengetahuan dan pengalaman. Menurut ulama, ma’rifat adalah
kemampuan seorang sufi untuk mengenal Allah, sifat-sifat-Nya, yang
membenarkan Allah dengan keyakinan dan iman yang sejati dan dengan suka
rela melaksanakan ajaran-Nya dalam segala perbuatan.
j. Istiqamah
Menurut Kyai Achmad, Istiqamah berarti tekun, telaten, terus menerus,
dan tidak pernah bosan untuk mengamalkan apapun yang dapat diamalkan.
Contohnya: setiap selesai sholat maghrib Ayu selalu mengaji.

B. Ahwal
1. Pengertian Ahwal
Dari segi bahasa, ahwal adalah bentuk jamak dari hal yang berarti sifat dan
keadaan sesuatu. Menurut al-Gazali, hal adalah kedudukan atau situasi kejiwaan
yang dianugerahkan Allah kepada seseorang hamba pada suatu waktu, baik
sebagai buah dari amal shaleh yang mensucikan jiwa.
2. Tingkatan Ahwal
a. Muhasabah (mawas diri) dan Muraqabah (waspada)
Muhasabah (mawas diri) adalah sebagai upaya untuk meneliti diri
sendiri dengan cermat apakah segala perbuatannya dalam sehari-hari telah
sesuai atau bertentangan dengan ketentuan Allah. Sedangkan Muraqabah
(waspada) adalah meyakini bahwa Allah mengetahui segala pikiran,
perbuatan, dan rahasia dalam hati yang membuat seseorang menjadi hormat,
takut, dan tunduk kepada Allah.
b. Raja’ (berharap) dan
Raja’ adalah berharap atau perasaan hati yang senang karena menanti
sesuatu yang diinginkan atau disenangi. Raja’ menuntut tiga perkara yaitu:
1) Cinta pada apa yang diharapkannya.
2) Takut harapannya hilang.
3) Berusaha untuk mencapainya.
c. Khauf (takut)
Menurut ahli sufi, khauf adalah suatu sikap mental merasa takut kepada
Allah karena khawatir kurangnya pengabdian. Orang yang selalu merasa
takut, maka timbulah sikap untuk selalu berusaha agar perilakunya tidak
menyimpang dari yang dikehendaki Allah dan mendorong seseorang untuk
melakukan hal-hal yang positif dan terpuji serta menjauhi perbuatan tercela.
Berdasarkan penyebabnya khauf dibagi menjadi dua, yaitu:
1) Sesuatu yang ditakuti karena akibat yang ditimbulkan, seperti takut mati
sebelum taubat, ketidakmampuan memenuhi hak-hak Allah.
2) Sesuatu yang ditakuti karena zatnya, seperti takut pada mati dan beratnya
menghadapi kematian.
d. Hubb (cinta)
Hubb adalah kacenderungan hati untuk memerhatikan keindahan dan
kecantikan. Ibn Taimiyah membagi tingkatan-tingkatan cinta, yaitu:
1) Al-‘Alaqah, yaitu keterkaitan hati dengan yang dicintai.
2) Al-Shababah (kegairahan), yaitu hati selalu bergairah kepada-Nya.
3) Al-Ghuram, yaitu cinta sebagaimana biasanya.
4) Al-‘Isyq, yaitu mencintai kepada-Nya dengan bergairah yang berlebih.
5) Al tatayyum (menjadi budak), yaitu menjadi budak kepada-Nya.
e. Syauq (rindu) dan Uns (intim)
Syauq adalah kerinduan yang ingin segera bertemu dengan Allah. Uns
adalah sifat merasa selalu berteman, tak pernah merasa sepi. Orang-orang
yang intim (yang merasakan uns) terbagi menjadi tiga kondisi, yaitu:
1) Seorang hamba yang merasakan suka cita berdzikir mengingat Allah dan
merasa gelisah disaat lalai. Merasa senang disaat berbuat ketaatan dan
gelisah berbuat dosa.
2) Seorang hamba yang merasa senang dengan Allah dan gelisah terhadap
bisikan-bisikan hati, pikiran dan segala sesuatu selain Allah yang akan
menghalanginya untuk dekat dengan Allah.
3) Kondisi yang tidak lagi melihat suka citanya karena adanya wibawa,
kedekatan, kemuliaan dan mengagungkan disertai dengan suka cita.
f. Thuma’ninah
Thuma’ninah adalah rasa tenang, tidak ada rasa waswas atau khawatir,
tidak ada yang dapat mengganggu perasaan dan pikiran, karena ia telah
mencapai tingkat kebersihan jiwa yang paling tinggi. Thuma’ninah dibagi
menjadi tiga tingkatan, yaitu:
1) Ketenangan bagi kaum awam. Artinya, ketenangan ini didapatkan ketika
seorang hamba berdzikir, mereka merasa tenang karena do’a-do’anya
terkabul.
2) Ketenangan bagi orang-orang khusus. Artinya, dalam tingkatan ini
mereka merasa tenang karena mereka rela, senang atas keputusan Allah,
sabar atas cobaan-Nya, ikhlas, dan takwa.
3) Ketenangan bagi orang-orang yang paling khusus. Artinya, mereka
mendapatkan ketenangan karena mereka mengetahui bahwa rahasia-
rahasia hati mereka tidak sanggup merasa tentram kepada-Nya dan tidak
bisa tenang kepada-Nya, karena kewibawaan dan keagungan-Nya.
g. Musyahadah
Secara harfiah, musyahadah adalah menyaksikan dengan mata kepala.
Secara terminologi tasawuf, musyahadah adalah menyaksikan secara jelas
dan sadar apa yang dicari (Allah) atau penyaksian terhadap kekuasaan dan
keagungan Allah

Anda mungkin juga menyukai