Anda di halaman 1dari 7

KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3)

A. Konsep Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

1. Keselamatan Kerja

Daryanto (2003;20), Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berhubungan

dengan peralatan, tempat kerja, lingkungan kerja, serta cara-cara melakukan

pekerjaan Mangkunegara (2009:161), keselamatan kerja menunjukkan kondisi

yang aman atau selamat dari penderitaan, kerusakan atau kerugian di tempat

kerja. Resiko keselamatan merupakan aspek-aspek dari lingkungan kerja yang

dapat menyebabkan kebakaran, luka memar, keseleo, patah tulang, gangguan

penglihatan dan pendengaran. Menurut Moenir (2006:203), indikator

keselamatan kerja adalah :

a. Lingkungan kerja secara fisik

1) Penempatan benda atau barang dilakukan dengan diberi tanda-

tanda, batas-batas, dan peringatan yang cukup.

2) Penyediaan perlengkapan yang mampu untuk digunakan sebagai

alat pencegahan, pertolongan dan perlindungan.Perlengkapan

pencegahan misalnya : alat pencegahan kebakaran, pintu darurat,

apabila terjadi kecelakaan seperti : alat P3K, tabung oksigen.

b. Lingkungan Sosial Psikologis

Jaminan keselamatan kerja secara psikologis dapat dilihat pada aturan

perusahaan mengenai berbagai jaminan pekerja yang meliputi :

1) Aturan mengenai ketertiban organisasi dan atau pekerjaan

hendaknya diperlakukan secara merata kepada semua pegawai

tanpa kecuali. Masalah-masalah seperti itulah yang sering


menjadi sebab utama kegagalan pegawai termasuk para

eksekutif dalam pekerjaan.

2) Perawatan dan pemeliharaan asuransi terhadap para pegawai

yang melakukan pekerjaan berbahaya dan resiko, yang

kemungkinan terjadi kecelakaan kerja yang sangat besar.

Asuransi meliputi jenis dan tingkat penderitaan yang di alami

pada kecelakaan. Adanya asuransi jelas menimbulkan

ketenangan pegawai dalam bekerja dan menimbulkan

ketenangan akan dapat ditingkatkan karenanya.

2. Kesehatan Kerja

Mathis dan Jackson (2002:245),“mengartikan kesehatan kerja adalah

merupakan kondisi yang merujuk pada kondisi fisik, mental, dan stailitas emosi

secara umum”.

Kemudian menurut Mangkunegara (2013:161), “keadaan sehat, baik secara

fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk

hidup produktif secara sosial dan ekonomis”. Tujuan Kesehatan Kerja menurut

Nuraini (2012) yaitu :

1) Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pekerja di

semua lapangan pekerjaan ketingkat yang setinggitingginya, baik fisik,

mental maupun kesehatan sosial.

2) Mencegah timbulnya gangguan kesehatan masyarakat pekerja yang

diakibatkan oleh tindakan/kondisi lingkungan kerjanya.

3) Memberikan perlindungan bagi pekerja bahaya yang disebabkan oleh

faktor-faktor yang membahayakan kesehatan.


4) Menempatkan dan memelihara pekerja di suatu lingkungan pekerjaan

yang sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjaannya.

Kesehatan kerja mempengaruhi manusia dalam hubungannya dengan

pekerjaan dan ingkungan kerjanya. Baik secara fisik maupun psikis yang

meliputi : metode bekerja, kondisi kerja dan lingkungan kerja yang

mungkin dapat menyebabkan kecelakaan, penyakit ataupun perubahan

dari kesehatan seseorang.

Menurut Manullang (2000:87), ada tiga indikator kesehatan kerja yang

meliputi :

1. Lingkungan kerja secara medis.

Dalam hal ini lingkungan kerja secara medis dapat dilihat dari

sikap perusahaan dalam menangani hal-hal sebagai berikut :

a. Kebersihan lingkungan kerja

b. Suhu udara dan ventilasi di tempat kerja

c. Sistem pembuangan sampah.

2. Sarana kesehatan tenaga kerja, yaitu upayaupaya perusahaan

untuk meningkatkan kesehatan dari tenaga kerjanya. Hal ini dapat

dilihat dari penyediaan air bersih dan sarana kamar mandi.

3. Pemeliharaan kesehatan tenaga kerja, yaitu pelayanan kesehatan

tenaga kerja. dalam pekerjaannya dari kemungkinan

Menurut Setyawati (2010), bahwa kelelahan kerja terjadi akibat penumpukan

asam laktat. Pada saat bekerja tubuh membutuhkan energi. Energi tersebut

diperoleh dari hasil pemecahan glikogen.

Menurut Cameron (1973) dalam Setyawati (2010), bahwa kelelahan kerja

menyangkut penurunan kinerja fisik, adanya perasaan lelah, penurunan


motivasi, dan penurunan produktivitas kerja. Menurut Suma’mur (2009), bahwa

kelelahan merupakan penurunan ketahanan dan daya tubuh untuk melakukan

pekerjaan. Menurut Setyawati (2010), bahwa kelelahan kerja tidak dapat

didefinisikan tetapi dapat dirasakan sehingga penentuan kelelahan kerja dapat

diketahui secara subjektif berdasarkan perasaan yang dialami tenaga kerja.

Menurut Suma’mur (2009), bahwa kelelahan kerja tidak hanya terjadi pada

akhir waktu kerja, namun juga dapat terjadi sebelum bekerja.

B. Definisi Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) difilosofikan sebagai suatu upaya atau

pemikiran untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan tenaga kerja baik jasmani maupun

rohani, sedangkan secara keilmuan K3 diartikan sebagai suatu ilmu pengetahuan dan

diterapkan untuk pencegahan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja (Armanda,

2006). Rawis (2006), berpendapat bahwa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dapat

diartikan sebagai kondisi dan faktor-faktor yang berdampak pada kesehatan karyawan, pekerja

kontrak, personel kontraktor, tamu dan orang lain di tempat kerja.

Keselamatan dan kesehatan Kerja (K3) merupakan suatu usaha yang penerapnya guna

untuk mencegah kemungkinan atau menurunkan potensi terjadinya kecelakaan kerja dan

penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja. Karyawan yang memiliki

tingkat kesehatan fisik, mental dan sosial yang tinggi akan dapat bekerja dengan optimal

sehingga kinerja tinggi bisa tercapai dan bisa meningkatkan produktivitas, meningkatkan

efisiensi pekerjaan (Rivai, 2004). Menurut Mangkunegara (2002), menyatakan bahwa,

keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan

dan kesempurnaan baik jasmaniah maupuh rohaniah tenaga kerja beserta hasil karya dan

budaya menuju masyarakat yang adil dan makmur.


C. Tujuan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Dalam Undang-Unsang Kesehatan No. 23 Tahun 1992 Bagian 6 Tentang Kesehatan

Kerja, pada Pasal 23 berisi:

1. Kesehatan kerja disenggelarakan untuk mewujudkan produktivitas kerja yang

optimal.

2. Kesehatan kerja meliputi perlindungan kesehatan kerja, pencegahan penyakit

akibat kerja, dan syarat kesehatan kerja.

3. Setiap tempat kerja wajib menyelenggarakan kesehatan kerja.

Dalam Penerapan K3 berdasarkan Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang

Keselamatan Kerja, terdapat beberapa tujuan utama, yaitu:

1. Melindungi dan menjamin keselamatan setiap tenaga kerja dan orang lain di

lokasi kerja.

2. Menjamin setiap sumber produksi dapat digunkana secara aman dan efisien.

3. Meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas Nasional.

Menurut Mangkunegara (2002), tujuan dari Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

adalah sebagai berikut :

1. Mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan kerja baik secara fisik, mental,

dan psikologis untuk setiap tenaga kerja.

2. Setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan secara efisien dan efektif

mungkin.

3. Semua hasil produksi dipelihara keamanannya.

4. Adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan tenaga kerja.

5. Meningkatkan kegairahan, keserasian kerja, dan partisipasi kerja.

6. Terhindari dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan atau

kondisi kerja.
7. Agar setiap tenaga kerja merasa aman, nyaman, dan terlindungi dalam

kerja.

Adapun tujuan diselenggarakannya keselamatan kerja adalah melindungi tenaga kerja

atas keselamatannya dalam melakukan pekerjaan konstruksi, menjamin keselamatan

setiap orang yang berada ditempat kerja, sumber produksi dipelihara dan dipergunakan

secara aman dan efisien.

D. Manfaat Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Terdapat beberapa manfaat atas penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3),

yaitu :

a. Perusahaan

Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sangat menguntungkan bagi

perusahaan, karena terjadinya cedera atau kecelakaan pada tenaga kerja akan

menderita finansial, misalnya terbuangnya waktu akibat kecelakaan, biaya

perbaikan peralatan, atau biaya penyewaan peralatan yang rusak,

keterlambatan penyelesaian proyek, yang ditanggung oleh pihak perusahaan.

b. Tenaga Kerja

Tenaga kerja merasa aman, nyaman, dan terlindungi di dalam melaksanakan

pekerjaan. Tenaga kerja akan memperoleh haknya bila mengikuti program

asuransi. Tenaga kerja yang memiliki tingkat kesehatan fisik, mental dan sosial

yang tinggi akan dapat bekerja dengan optimal sehingga kinerja tinggi bisa

tercapai dan bisa meningkatkan produktivitas, meningkatkan efisiensi

pekerjaan.
E. Sasaran Kesehatan Dan Kesehatan kerja

1. Mencegah dan mengurangi kecelakan, bahaya peledakan dan kebakaran.

2. Mencegah dan mengurangi timbalnya penyakit akibat kerja.

3. Mencegah dan mengurangi kematian, cacat tetap dan luka ringan.

4. Mengamankan material, mesin, bahan, alat kerja lainnya.

5. Meningkatkan produktivitas.

6. Mencegah pemorosan tenaga kerja dan modal.

7. Menjamin tempat kerja yang amaN

8. Mempelancar, meningkatkan, mengamankan sumber dan proses produktivitas

Anda mungkin juga menyukai