Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

ASMA

Oleh :
APRILIA TUNGGA DEWI
2020207209146

PROGRAM STUDY PROFESI NERS FAKULTAS KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PRINGSEWU
LAMPUNG TAHUN 2020/2021
LAPORAN PENDAHULUAN
ASMA

A. Konsep Penyakit
1. Definisi Asma
Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversibel
dimana trakhea dan bronchi berspon dalam secara hiperaktif terhadap
stimuli tertentu (Smeltzer, 2002 : 611).Asma adalah obstruksi jalan
nafas yang bersifat reversibel, terjadi ketika bronkus mengalami
inflamasi atau peradangan dan hiperresponsif (Reeves, 2001 : 48).
Global Initiative for Asthma (GINA) mendefinisikan asma sebagai
gangguan inflamasi kronik saluran nafas dengan banyak sel yang
berperan, khususnya sel mast, eosinofil, dan limfosit T. Pada orang yang
rentan inflamasi dapat menyebabkan mengi berulang, sesak nafas, rasa
dada tertekan dan batuk, khususnya pada malam atau dini hari.
Nelson(2006) mendefinisikan asma sebagai kumpulan tanda dan
gejala mengi serta batuk dengan karak teristik sebagai berikut; timbul
secara episodik dan atau kronik, cenderung pada malam hari atau dini
hari (nokturnal), musiman. Adanya faktor pencetus diantaranya
aktivitas fisik dan bersifat reversibel baik secara spontan maupun
dengan penyumbatan, serta adanya riwayat asma atau atopi lain pada
pasien atau keluarga, sedangkan sebab-sebab lain sudah disingkirkan
(Nelson, 2006).
Pedoman Nasional Asma Anak juga menggunakan batasan yang
praktis dalam bentuk batasan operasional yaitu mengi berulang
terkadang disertai batuk persisten dengan karakteristik sebagai berikut:
timbul secara episodik, cenderung pada malam hari atau dini hari
(nokturnal), musiman, faktor pencetus diantaranya aktivitas fisik, dan
bersifat reversibel baik secara spontan maupun dengan pengobatan,
serta adanya riwayat asma atau atopi lain pada pasien atau keluarganya
(PPIDAI, 2004).

6
2. Etiologi
Secara fisiologis asma disebabkan oleh hal-hal berikut:
a. Adanya kontraksi otot di sekitar bronkhus sehingga terjadi
penyempitan jalan nafas.
b. Adanya pembengkakan membrane bronkhus.
c. Terisinya bronkus oleh mokus yang kental

Beberapa Faktor Predisposisi dan Presipitasi timbulnya serangan Asma


Bronkhial.
a. Faktor Predisposisi
1) Genetik
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun
belum diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas.
Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga
dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat
alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asthma
bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus. Selain itu
hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan.

b. Faktor Presipitasi
1) Alergen, dapat dibagi menjadi 3 yaitu :
a) Inhalan: masuk saluran pernafasan. Seperti : debu,bulu
binatang, bakteri dan polusi.
b) Ingestan, masuk melalui mulut. Seperti : makanan dan obat-
obatan.
c) Kontak yang masuk melalui kontak dengan kulit. Seperti :
perhiasan, logam,dan jam tangan.

2) Perubahan cuaca
Cuaca lembab atau dingin juga menpengaruhi asma.
Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu
terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan
berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim
kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin
serbuk bunga dan debu.
3) Stress
Stress dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu
juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada.
Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati
penderita asma yang mengalami stress perlu diberi nasehat
untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya
belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.
4) Lingkungan Kerja.
Lingkungan Kerja juag menjadi penyebab terjadinya
serangan asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja.
Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan, industri
tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada
waktu libur atau cuti.
5) Olah raga atau aktivitas yang berat.
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan
jika melakukan aktifitas jasmani atau aloh raga yang berat. Lari
cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. Serangan
asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai
aktifitas tersebut.

3. Patofisiologi
Manifestasi penyumbatan jalan nafas pada asma disebabkan oleh
bronkokontriksi, hipersekresi mukus, edema mukosa, infiltrasi seluler,
dan deskuamasi sel epitel serta sel radang (Price, 1995). Berbagai
rangsangan alergi dan rangsangan nonspesifik, akan adanya jalan nafas
yang hiperaktif, mencetuskan respon bronkokontriksi dan radang.
Rangsangan ini meliputi alergen yang dihirup (tungau debu, tepungsari,
sari kedelai, dan protein minyak jarak), protein sayuran lainnya, infeksi
virus, asap rokok, polutan udara, bau busuk, obat-obatan (metabisulfit),
udara dingin, dan olah raga (Sundaru, 2006).
Patologi asma berat adalah bronkokontriksi, hipertrofi otot polos
bronkus, hipertrofi kelenjar mukosa, hipersekresi mucus, edema
mukosa, infiltrasi sel radang (eosinofil, neutrofil, basofil, makrofag),
dan deskuamasi. (Sundaru, 2006).

Spasme otot bronkus Inflamasi dinding bronchus Edema Sumbatan mukus

Tidak efektif bersihan jalan nafas Obstruksi saluran nafas (bronkhospasme)


Alveoli tertutup

Kurang pengetahuan Penyempitan jalan nafas Hipoksemia Gangguan


pola nafas

Asidosis metabolik
Intoleransi aktivitas
Peningkatan kerja pernafasan

Peningkatan kebutuhan Penurunan masukan oral


oksigen

Hiperventilasi Perubahan nutrisi kurang


dari kebutuhan

Retensi CO2

Asidosis respiratorik

Gambar 2.1 Patofisiologi Asma


4. Manifestasi Klinis
Manifestasi Klinik pada pasien asthma adalah batuk, dyspne, dari
wheezing. Dan pada sebagian penderita disertai dengan rasa nyeri dada
pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala
klinis, sedangkan waktu serangan tampak penderita bernafas cepat,
dalam, gelisah, duduk dengan tangan menyanggah ke depan serta
tampak otot-otot bantu pernafasan bekerja dengan keras. Ada beberapa
tingkatan penderita asma yaitu :
a. Tingkat I
Secara klinis normal tanpa kelainan pemeriksaan fisik dan
fungsi paru. Timbul bila ada faktor pencetus baik di dapat alamiah
maupun dengan test provokasi bronkial di laboratorium.
b. Tingkat II
Tanpa keluhan dan kelainan pemeriksaan fisik tapi fungsi paru
menunjukkan adanya tanda-tanda obstruksi jalan nafas. Banyak
dijumpai pada klien setelah sembuh serangan.
c. Tingkat III
Tanpa keluhan.Pemeriksaan fisik dan fungsi paru menunjukkan
adanya obstruksi jalan nafas.Penderita sudah sembuh dan bila obat
tidak diteruskan mudah diserang kembali.
d. Tingkat IV
Klien mengeluh batuk, sesak nafas dan nafas berbunyi
wheezing. Pemeriksaan fisik dan fungsi paru didapat tanda-tanda
obstruksi jalan nafas.
e. Tingkat V
Status asmatikus yaitu suatu keadaan darurat medis berupa
serangan asma akut yang berat bersifat refrator sementara terhadap
pengobatan yang lazim dipakai. Asma pada dasarnya merupakan
penyakit obstruksi jalan nafas yang reversibel. Pada asma yang
berat dapat timbul gejala seperti : Kontraksi otot-otot pernafasan,
cyanosis, gangguan kesadaran, penderita tampak letih, takikardi.
5. Klasifikasi
Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan
menjadi 3 tipe, yaitu:
a. Ekstrinsik (alergik)
Ditandai dengan reaksi alergi yang disebabkan oleh faktor-
faktor pencetus yang spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu
binatang, obat-obatan (antibiotik dan aspirin), dan spora jamur.
Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu
predisposisi genetik terhadap alergi.

b. Intrinsik (non alergik)


Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi
terhadap penctus yang tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti
udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi saluran
pernafasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi lebih berat dan
sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang
menjadi bronkhitis kronis dan emfisema. Beberapa pasien akan
mengalami asma gabungan.

c. Asma gabungan
Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai
karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergik.

6. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada klien dengan asma adalah
mengancam pada gangguan keseimbanga asam basa dan gagal nafas,
pneumonia, bronkhiolitis, chronic persistent bronchitis, emphysema.

7. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
1) Pemeriksaan sputum
a) Untuk menentukan adanya infeksi dan mengidentifikasi
patahogen
b) Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkhus
2) Pemeriksaan darah
Untuk mengetahui Hiponatremia dan kadar leukosit,
b. Pemeriksaan Scanning Paru
Untuk menyatakan pola abnormal perfusi pada area ventilasi
(ketidak cocokan/perfusi) atau tidak adanya ventilasi/perfusi.
c. Pemeriksaan Spirometri
Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas.

8. Penatalaksanaan
Prinsip umum dalam pengobatan pada asma:
a. Menghilangkan obstruksi jalan nafas.
b. Mengenal dan menghindari faktor yang dapat menimbulkan
serangan asma.
c. Memberi penerangan kepada penderita atau keluarga dalam cara
pengobatan maupun penjelasan penyakit.

Penatalaksanaan asma dapat dibagi atas :


a. Pengobatan dengan obat-obatan, seperti : beta agonist (beta
adrenergik agent), methylxanlines (enphy bronkodilator), anti
kolinergik (bronkodilator), kortikosteroid, mast cell inhibitor (lewat
inhalasi)
b. Tindakan yang spesifik tergantung dari penyakitnya, seperti:
oksigen 4-6 liter/menit, agonis B2 (salbutamol 5 mg atau veneteror
2,5 mg atau terbutalin 10 mg) inhalasi nabulezer dan pemberiannya
dapat di ulang setiap 30 menit-1 jam. Pemberian agonis B2 mg atau
terbutalin 0,25 mg dalam larutan dextrose 5% diberikan
perlahan.Aminofilin bolus IV 5-6 mg/kg BB, jika sudah
menggunakan obat ini dalam 12 jam, sedang menggunakan steroid
oral atau dalam serangan sangat berat.
B. Konsep Kebutuhan Dasar Manusia
1. Definisi
Kebutuhan dasar manusia adalah unsur-unsur yang dibutuhkan
oleh manusia dalam mempertahankan keseimabangan fisiologis maupun
psikologis, yang bertujuan untuk mempertahankan kehidupan dan
kesehatan.
Adapun kebutuhan dasar manusia menurut hirarki Maslow adalah
sebagai berikut:
a. Kebutuhan fisiologi/dasar O2
b. Kebutuhan akan rasa aman dan tentram
c. Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi
d. Kebutuhan untuk dihargai
e. Kebutuhan untuk aktualisasi diri

Pada kasus ini kebutuhan dasar manusia yang terganggua adalah


keburuhan fisiologi/ dasar Oksigen (O2) merupakan salah satu kebutuhan
vital untuk kehidupan kita. Dengan mengkonsumsi oksigen yang cukup
akan membuat organ tubuh berfungsi dengan optimal. Jika tubuh
menyerap oksigen dengan kandungan yang rendah dapat menyebabkan
kemungkinan tubuh mengidap penyakit kronis. Sel-sel tubuh yang
kekurangan oksigen juga dapat menyebabkan perasaan kurang nyaman,
takut atau sakit. Menguap adalah salah satu sinyal tubuh kekurangan
oksigen selain karena mengantuk.

C. Proses Keperawatan
1. Pengkajian
Auskultasi: Wheezing, ronki kering musikal, ronki basah
sedang.Dyspnea dengan lama ekspirasi; penggunaan otot-otot asesori
pernafasan, cuping hidung, retraksi dada,dan stridor. Batuk kering (tidak
produktif) karena sekret kental dan lumen jalan nafas sempit.
Tachypnea, orthopnea.Diaphoresis, nyeri abdomen karena terlibatnya
otot abdomen dalam pernafasan.Fatigue, tidak toleransi terhadap
aktivitas; makan, bermain, berjalan, bahkan bicara.Kecemasan, labil dan
perubahan tingkat kesadaran.Meningkatnya ukuran diameter
anteroposterior (barrel chest) akibat ekshalasi yang sulit karena udem
bronkus sehingga kalau diperkusi hipersonor.Serangan yang tiba-tiba
atau berangsur, bila serangan hebat : gelisah, berdebar, berkeringat,
mungkin sianosis.X foto dada : atelektasis tersebar, “Hyperserated”

Pemeriksaan Diagnostik : riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik. Foto


rontgen, pemeriksaan fungsi paru; menurunnya tidal volume, kapasitas
vital, eosinofil biasanya meningkat dalam darah dan sputum.
Pemeriksaan alergi, Pulse oximetri, analisa gas darah.

Pemeriksaan Fisik/Pengkajian Persistem


a. Sistem Pernapasan/Respirasi
Sesak, batuk kering (tidak produktif), tachypnea, orthopnea, barrel
chest, penggunaan otot aksesori pernapasan, Peningkatan PCO2 dan
penurunan O2, sianosis, perkusi hipersonor, pada auskultasi
terdengar wheezing, ronchi basah sedang, ronchi kering musikal.
b. Sistem Cardiovaskuler : Diaporesis, tachicardia, dan kelelahan.
c. Sistem Persyarafan/neurologi
Pada serangan yang berat dapat terjadi gangguan kesadaran :
gelisah, rewel, cengeng → apatis → sopor → coma.
d. Sistem perkemihan
Produksi urin dapat menurun jika intake minum yang kurang akibat
sesak nafas.
e. Sistem Pencernaan/Gastrointestinal
Terdapat nyeri tekan pada abdomen, tidak toleransi terhadap makan
dan minum, mukosa mulut kering.
f. Sistem integument
Berkeringat akibat usaha pernapasan klien terhadap sesak nafas.

Dampak Hospitalisasi, Sumber stressor:


a. Perpisahan, protes : pergi, menendang, menangis. Putus asa : tidak
aktif, menarik diri, depresi, regresi. Menerima : tertarik dengan
lingkungan, interaksi
b. Kehilangan kontrol : ketergantungan fisik, perubahan rutinitas,
ketergantungan, ini akan menyebabkan anak malu, bersalah dan
takut.
c. Perlukaan tubuh : konkrit tentang penyebab sakit.
d. Lingkungan baru, memulai sosialisasi lingkungan.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan tachipnea,
peningkatan produksi mukus, kekentalan sekresi dan bronchospasme.
b. Gangguan Pertukaran Gas b.d perubahan membran alveoli – kapiler
c. Defisit nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
faktor psikologis dan biologis yang mengurangi pemasukan makanan.
d. Hipertermi, dengan implementasi perawatan demam dan pengaturan
suhu.

3. Perencaaan Keperawatan

Rencana tindakan keperwatan merupakan tindakan yang dapat

mencapai tiap tujuan khusus, perencanaan keperawatan meliputi,

perumusan tujuan, tindakan dan rangkaian Asuhan Keperawatan pada

klien berdasarkan analisa pengkajian agar masalah kesehatan dan

keperawatan klien dapat diatasi ( Ali, Z, 2002).


Tabel 2.1
Perencanaan Keperawatan

No Diagnosa keperawatan NOC NIC

1 2 3 4
1. Bersihan Jalan Nafas tidak  Status Pernafasan (Kepetenan Jalan  · Manajemen Jalan Nafas (3140 )
efektf b.d tachipnea, Nafas) (410 ) 1. Identifikasi kebutuhan aktual / potensial pasien untuk
peningkatan produksi 1. Frekuensi pernafasan memasukkan alat membuka jalan nafas
mukus, kekentalan sekresi 2. Irama pernafasan 2. Buang sekret dengan emotivasi pasien untuk melakukan batuk
dan bronchospasme. 3. Kedalam inspirasi atau menyedot lendir
batasan karakteristik : 4. Kemampuan untuk mengeluarkan sekret 3. Auskultasi suara nafas, catat area yang ventilasinya menurun /
- suara nafas tambahan 5. Ansietas tidak ada dan adanya suara tambahan
- perubahan frekuensi nafas 6. Ketakutan 4. Lakukan penyedotan melalui endotrakea atau nasotrakea
- perubahan irama nafas 7. Tersedak sebagaimana mestinya

- sputum dalam jumlah 8. Suara nafas tambahan 5. Kelola pemberian bronkodilator sebagaimana mestinya

yang berlebihan 9. Pernafasan cuping hidung 6. Kelola pengobatan aerosol, sebagaimana mestinya

- gelisah 10. Mendesah 7. Kelola nebulier ultrasonik, sebagiamana mestinya


11. Batuk 8. Kelola udara atau oksigen yang dilembabkan, sebagaimana
mestinya
9. Posisikan untuk meringankan sesak nafas

2
6
1 2 3 4

 Monitor Pernafasan(3350 )
1. Monitor kecepatan, irama, kedalaman dan kesulitan bernafas
2. Catat pergerakan dada, catat ketidaksimetrisan
3. Monitor suara nafas tambahan ngorok atau mengi
4. Monitor pola nafas
5. Monitor kelelahan otot-otot diafragma pada pergerakan
parasoksikal
6. Auskultasi suara nafas
7. Monitor sekresi pernafasan pasien
8. Monitor keluhan sesak nafas pasien
Monitor suara serak pasien
2. Gangguan Pertukaran Gas  Status Pernafasan : Pertukaran Gas  Monitor Pernafasan(3350)
b.d perubahan membran (402) 1. Monitor kecepatan, irama, kedalaman dan kesulitan bernafas
alveoli – kapiler 1. Tekanan parsial oksigen didarah arteri 2. Catat pergerakan dada, catat ketidaksimetrisan
Batasan karakteristik: (PaO2) 3. Monitor suara nafas tambahan ngorok atau mengi
- Pernapasan abnormal 2. Tekanan parsial karbondioksida didarah 4. Monitor pola nafas
(mis, kecepatan, irama, (PaCO2) PH arteri 5. Auskultasi suara nafas
kedalaman) 3. Saturasi oksigen 6. Monitor sekresi pernafasan pasien
- Gelisah 4. Tidal karbondioksida akhir 7. Monitor keluhan sesak nafas pasien
- Warna kulit abnormal ( 5. Hasil rotgen dada 8. Monitor suara serak pasien
mis, pucat kehitaman ) 6. Keseimbangan ventilasi dan perfusi 9. Berikan bantuan terapi nafas jika diperlukan (misalnya:
7. Mengantu nebulizer)

2
6
1 2 3 4
 Manajemen Jalan Nafas (3140 )
1. Identifikasi kebutuhan aktual / potensial pasien untuk
memasukkan alat membuka jalan nafas
2. Buang sekret dengan emotivasi pasien untuk melakukan batuk
atau menyedot lendir
3. Auskultasi suara nafas, catat area yang ventilasinya menurun /
tidak ada dan adanya suara tambahan
4. Lakukan penyedotan melalui endotrakea atau nasotrakea
sebagaimana mestinya
5. Kelola pemberian bronkodilator sebagaimana mestinya
6. Kelola pengobatan aerosol,sebagaimana mestinya
7. Kelola nebulier ultrasonik,sebagiamana mestinya
8. Kelola udara atau oksigen yang dilembabkan,sebagaimana
mestinya
9. Posisikan untuk meringankan sesak nafas

 Terapi oksigen (3320)


1. Pertahankan kepatenan jalan nafas
2. Berikan oksigen tambahan seperti yang diperintahkan
3. Amati tanda-tanda hipoventilasi induksi oksigen
4. Monitor kerusakan kulit terhadap adanya gesekan perangkat
oksigen
5. Monitor peralatan oksigen untuk memastikan bahwa alat

2
6
1 2 3 4

3. Defisit nutrisi kurang dari  Status nutrisi (1004)  Manajemen nutrisi (1100)
kebutuhan berhubungan 1. Asupnan gizi
dengan ketidakmampuan 2. Asupan makanan 1. Tentukan status gizi pasien dan kemampuan pasien untuk
menelan makanan 3. Asupan cairan memenuhi kebutuhan gizi
Batasan karakteristik 4. Energy 2. Identifikasi adanya alergi atau intoleransi makanan yang di
- Kram abdomen 5. Rasio berat badan/tinggi badan miliki pasien
- Nyeri abdomen 6. Hidrasi 3. Tentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang di butuhkan
menghindari makan untuk memenuhi persyaratan gizi
- Diare Status nutrisi asupan nutrisi(1009) 4. Ciptakan lingkungan yang optimal pada saat mengkonsumsi

- Kurang makan 1. Asupan kalori makanan

- Penurunan berat badan 2. Asupan protein 5. Lakukan atau bantu pasien terkait dengan perawatan mulut

dengan asupan makan 3. Asupan lemak sebelum makan

adekuat 4. Asupan karbonhidrat 6. Anjurkan pasien untuk duduk pada posisi tegak di kursi,jika

- Membnran mukosa pucat 5. Asupan serat memungkinkan


6. Asupan vitamin 7. Pastiakan makanan yang di sajikan deng cara yang menarik dan
7. Asupan mineral pada suhu yang paling cocok
8. Asupam kalsium 8. Anjurkan keluarga membawa makanan yang disukai pasien
9. Tawarkan makanan ringan yang padat gizi
10. Pastikan diet mencakup makanan yang tinggi serat untuk
mencegah konstipasi

2
6
1 2 3 4

 Status nutrisi bayi (1020)  Manajemen gangguan makan (1030)


1. Intake nutrisi 1. Kolaborasi dengan tim kesehatan lainnya untuk mengembangkan
2. Pertumbuhan rencana perawatan
3. Intake mineral 2. Tentukan pencapain berat badan harian sesuai dengan keinginan
4. Intake cairan intravena 3. Dorong kien untuk mendiskusikan makanan yang di sukai
5. Intake vitamin bersama ahli gizi
4. Monitor asupan kaori makanan harian
5. Batasi aktifitas fisik sesuai kebutuhan untuk meningkatkan berat
badan
6. Monitor berat badan klien secara
H4ip4ertermia  Termoregulasi(0800)  Perawatan Demam (3740)
berhubungan dengan
peningkatan laju 1. Merasa merinding saat dingin 1. Pantau suhu dan tanda-tanda vital lainnya
metabolisme 2. Berkeringat saat panas 2. Monitor warna kulit dan suhu
Batasan karakteristik: 3. Menggigil saat dingin 3. Monitor asupan dan keluaran, sadari perubahan kehilangan
- Konvulsi
- Kulit kemerahan 4. Denyut nadi radialis cairan yang tak di rasakan
- Peningkatan suhu tubuh 5. Tingkat pernapasan 4. Beri obat atau cairan IV (misalnya: antipiretik, agen antibakteri,
diatas kisaran normal
6. Melaporkan kenyamanan suhu dan agen anti menggigil)
- Kejang
- Takikardi 7. Peningkatan suhu kulit 5. Jangan beri aspirin untuk anak-anak
- Takipnea 6. Tutup pasien dengan selimut atau pakaian ringan, tergantung
8. Penurunan suhu kulit
- Kulit terasa hangat
9. Hipertermia pada fase demam (yaitu : memberikan selimut hangat untuk
10. Hipotermia fase dingin : menyediakan pakaian atau linen tempat tidur
11. Sakit kepala ringan untuk demam dan fase bergejolak/flas
1 2 3 4

2
6
12. Sakit otot 7. Dorong konsumsi cairan
13. Sifat lekas marah 8. Fasilitasi istirahat, terapkan pembatasan aktivitas: jika di
14. Mengantuk perlukan
15. Perubahan warna kulit 9. Berikan oksigen, yang sesuai
16. Otot berkedut 10. Mandikan (pasien) dengan spons hangat dengan hati –hati
17. Dehidrasi (yaiut: berikan untuk pasien dengan suhu yang sangat tinggi,
18. Kram panas tidak memberikannya pada fase dingin, dan hindari agar pasien
19. Stroke panas tidak menggigil)
20. Radang dingin 11. Tingkatkan sirkulasi udara
12. Pantau komplikasi-komplikasi yang berhubungan dengan
demam serta tanda dan gejala kondisi penyebab demam
(misalnya, kejang, penurunan tingkat kesadaran, status
elektrolit abnormal, ketidakseimbangan asamm-basa, aritmia
jantung, dan perubahan abnormalitas sel)
13. Pastikan tanda lain dari infeksi yang terpantau pada orantua,
arena hanya menunjukkan demam ringan atau tidak demam
sama sekali selama proses infeksi
14. Pastikan langkah keamanan pasien yang gelisah atau mengalam
delirium
15. Lambabkan bibir dan mukosa hidung yang kering

2 3 4
1

2
6
Pengaturan Suhu(3900)
Monitor suhu paling tidak setiap 2 jam, sesuai kebutuhan
Pasang alat monitor suhu inti secara ontinu, sesuai kebutuhan
Monitor tekanan darah, nadi dan respirasi, sesuai kebutuhan
Monitor suhu dan warna kulit
Monitor dan laporkan adanya tanda dan gejala dari hipotermia dan hipertermia
Tingkatkan intake cairan dan nutrisi adekuat
Diskusikan pentingnya termoregulasi dan kemungkinan efek negative dari demam yang berlebihan, sesua kebutuhan
Gunakan matras pendingin, selimut yang mensirkulasikan air, mandi air hangat, kantong es atau bantalan jel, untuk menurunkan suhu
Sesuaikan suhu lingkungan untuk kebutuhan pasien
Berian medikasi yang tepat untuk mencegah atau mengontrol menggigil
Berikan pengobatan antipiretik, sesuai kebutuhan

2
6
DAFTAR PUSTAKA

Almazini, P. 2012. Bronchial Thermoplasty Pilihan Terapi Baru untuk Asma Berat. Jakrta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Carpenito, L.J. 2000. Diagnosa Keperawatan, Aplikasi pada Praktik Klinis, edisi 6. Jakarta:
EGC
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC.
GINA (Global Initiative for Asthma) 2006.; Pocket Guide for Asthma Management and
Prevension In Children. www. Dimuat dalam www.Ginaasthma.org
Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New
Jersey: Upper Saddle River
Linda Jual Carpenito, 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 . Jakarta: EGC
Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta: Media
Aesculapius
Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second Edition.
New Jersey: Upper Saddle River
Purnomo. 2008. Faktor Faktor Risiko Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Asma
Bronkial Pada Anak. Semarang: Universitas Diponegoro
Ruhyanudin, F. 2007. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Kardio
Vaskuler. Malang : Hak Terbit UMM Press
Saheb, A. 2011. Penyakit Asma. Bandung: CV medika
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima
Medika
Sundaru H. 2006 Apa yang Diketahui Tentang Asma, JakartaDepartemen Ilmu Penyakit
Dalam, FKUI/RSCM
Suriadi. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Edisi I.  Jakarta: Sagung Seto